Rubarubu #124
Nomads of the Dawn:
Tragedi di Ujung Hutan
Di tengah gemuruh gergaji mesin dan ambruknya pohon-pohon raksasa yang telah berusia berabad-abad, seorang lelaki Penan berdiri di jalan tanah yang baru dibuka. Di belakangnya, hutan yang menjadi rumahnya sejak lahir—tempat ia belajar membaca jejak babi hutan, tempat ia tahu persis di mana sagu paling empuk tumbuh, tempat roh-roh leluhurnya berbisik dalam desau angin—sedang dilumatkan. Di hadapannya, truk-truk pengangkut kayu gelondongan berbaris panjang, siap membawa kekayaan itu ke pelabuhan dan kemudian ke pabrik-pabrik di negeri jauh. Lelaki itu tidak mengangkat parang, tidak melemparkan sumpitan. Ia hanya berdiri, sebuah tubuh kecil di hadapan mesin-mesin raksasa, sebagai simbol perlawanan yang sunyi namun dahsyat. Ia adalah penjaga terakhir dari dunia yang sekarat.
Adegan ini, yang terekam dalam foto-foto mengharukan dalam buku Nomads of the Dawn: The Penan of the Borneo Rain Forest karya Wade Davis, Ian MacKenzie, dan Shane Kennedy (1995), bukan sekadar dokumentasi etnografis biasa. Buku ini adalah sebuah requiem, sebuah elegi, sekaligus sebuah perlawanan. Diterbitkan oleh Pomegranate Artbooks dengan format besar yang memungkinkan foto-foto MacKenzie dan David Hiser berbicara sekuat teksnya, buku ini membawa pembaca menyelami dunia Penan—salah satu komunitas pemburu-peramu nomaden terakhir di muka bumi—pada saat yang paling kritis dalam sejarah mereka. Seperti yang tertulis dalam sinopsisnya, “The Penan, one of the few remaining nomadic peoples of the rain forest, live in a place of indescribable beauty — and all around them the forest is coming down at an alarming pace” . Di Sarawak, Malaysia Timur, laju penebangan kayu saat itu adalah salah satu yang tertinggi yang pernah diketahui dunia.
Wade Davis, etnobotanis Harvard yang sebelumnya terkenal dengan penelitiannya tentang zombie di Haiti dan perjalanannya melintasi Darién, membawa keahliannya sebagai pen-dongeng ulung ke dalam buku ini. Bersama fotografer Ian MacKenzie dan Shane Kennedy, ia tidak hanya mencatat apa yang dilihatnya, tetapi meresapi cara hidup yang telah berlangsung selama ribuan tahun namun terancam punah dalam hitungan dekade. Seperti yang dijelaskan dalam profilnya, Davis menghabiskan lebih dari tiga tahun di Amazon dan Andes, hidup dengan lima belas kelompok masyarakat asli di delapan negara Amerika Latin . Pengalaman mendalam ini membentuk pendekatannya terhadap Penan: bukan sebagai objek kajian yang dingin, tetapi sebagai guru yang mengajarkan cara hidup yang berbeda, yang lebih selaras dengan irama alam.
Memories and Origins: Menyusuri Jejak Leluhur
Bagian pertama buku ini, Memories and Origins, adalah sebuah undangan untuk memasuki kesadaran Penan. Di sini, Davis dan tim tidak hanya menyajikan data antropologis tentang asal-usul migrasi atau klasifikasi linguistik, melainkan membiarkan orang-orang Penan sendiri yang bercerita. Kita diajak mendengar bisikan zaman purba melalui tuturan para tetua, melalui mitos penciptaan, melalui lagu-lagu yang dinyanyikan di sekitar api unggun ketika malam turun di pedalaman Borneo.
Bagi Penan, hutan bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah perpustakaan, apotek, supermarket, dan kuil sekaligus. Setiap pohon memiliki nama, setiap tanaman merambat memiliki kegunaan, setiap jejak binatang memiliki cerita. Dalam kosmologi Penan, tidak ada dikotomi tajam antara alam dan budaya, antara sakral dan profan. Roh-roh leluhur bersemayam di pohon-pohon besar, di jeram-jeram sungai, di puncak-puncak bukit. Hidup adalah negosiasi terus-menerus antara dunia kasat mata dan dunia tak kasat mata, antara manusia dan makhluk-makhluk halus yang juga berbagi ruang kehidupan yang sama.
Fotografer Ian MacKenzie berhasil menangkap esensi ini dalam gambar-gambarnya yang dramatis hitam-putih maupun warna . Ada potret seorang ibu Penan dengan anaknya yang digendong dalam selendang anyaman, matanya tenang namun tajam, seperti rusa yang selalu waspada di tengah hutan. Ada gambar para pemburu yang kembali dengan hasil buruan, sumpitannya terselip di punggung, sementara tubuh mereka masih basah keringat setelah berjam-jam mengintai di balik dedaunan. Ada pula pemandangan hutan Borneo yang berkabut di pagi hari, dengan tajuk-tajuk pohon yang menjulang tinggi bagai katedral alami, tempat sinar matahari menembus dalam garis-garis keemasan.
Bagian ini juga mengungkapkan bagaimana pengetahuan ekologi Penan terbangun selama ribuan tahun melalui pengamatan cermat dan adaptasi terus-menerus. Mereka tahu persis kapan musim buah tertentu tiba, ke mana kawanan babi hutan akan berpindah, bagaimana membuat api tanpa korek dari bambu yang digesekkan, dan tanaman mana yang bisa meng-obati luka atau menetralkan racun ikan. Pengetahuan ini, yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, adalah kekayaan intelektual yang tak ternilai. Ia adalah bukti bahwa ada cara lain untuk hidup di bumi ini—cara yang tidak merusak, tidak serakah, tidak menghancur-kan rumahnya sendiri.
Dalam konteks pemikiran yang lebih luas, apa yang dilakukan Davis sejalan dengan gagasan Vandana Shiva tentang “kekerasan epistemik” yang dialami pengetahuan tradisional di tangan sains modern. Bagi Shiva, seperti ditulisnya dalam berbagai karyanya, pengetahuan masyarakat asli bukanlah takhayul yang harus digantikan oleh ilmu pengetahuan Barat. Ia adalah sistem pengetahuan yang utuh, yang telah teruji selama ribuan tahun, dan memiliki kontribusi penting bagi keberlanjutan planet. Atau seperti kata penyair Gary Snyder, “Nature is not a place to visit. It is home.” Bagi Penan, hutan adalah rumah dalam arti yang paling harfiah sekaligus paling puitis.
In the Shelter of Forest: Anatomi Kehidupan Nomaden
Bagian kedua, In the Shelter of Forest, mengajak pembaca menyelami kehidupan sehari-hari Penan dengan lebih mendalam. Di sini kita belajar bahwa hidup sebagai pemburu-peramu bukanlah hidup yang primitif atau kekurangan, sebagaimana sering digambarkan oleh para pengembang yang ingin membersihkan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Justru sebaliknya: ini adalah hidup yang berkelimpahan dalam arti yang sesungguhnya.
Davis, dengan latar belakang etnobotaninya, menjelaskan secara rinci bagaimana hutan hujan tropis menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan Penan. Sagu dari pohon rumbia menjadi sumber karbohidrat utama. Berbagai jenis buah-buahan liar—durian hutan, manggis, rambai—tersedia bergantian sepanjang tahun. Hewan buruan seperti babi hutan, rusa, dan kijang memberikan protein. Sungai-sungai menyediakan ikan dan udang air tawar. Lebih dari itu, hutan juga menyediakan bahan untuk membuat atap dari daun bertam, tali dari serat rotan, obat-obatan dari kulit kayu dan akar-akaran, serta racun panah dari getah pohon ipoh.
Yang menarik, Penan tidak mengeksploitasi sumber daya ini secara sembarangan. Mereka memiliki etika lingkungan yang mendalam, yang diatur oleh serangkaian tabu (tuloi) dan pantangan. Tidak boleh menebang pohon buah-buahan, karena itu berarti merampas makanan generasi mendatang. Tidak boleh membunuh hewan betina yang sedang hamil. Tidak boleh mengambil lebih dari yang dibutuhkan. Konsep kepemilikan pribadi atas tanah tidak dikenal, tetapi setiap kelompok memiliki wilayah jelajah adat yang dihormati oleh kelompok lain. Jika suatu kelompok ingin melewati wilayah kelompok lain, mereka harus meminta izin dan biasanya membawa oleh-oleh hasil buruan atau damar.
Gaya hidup nomaden mereka juga bukan tanpa alasan. Perpindahan dari satu tempat ke tempat lain mengikuti ketersediaan sumber daya. Ketika sagu di satu tempat mulai menipis, mereka pindah ke tempat lain. Ketika musim buah tiba di lereng bukit tertentu, mereka berkemah di sana. Perpindahan ini juga memungkinkan hutan untuk pulih, mencegah eksploitasi berlebihan di satu lokasi. Ini adalah bentuk pengelolaan sumber daya yang canggih, yang terbukti berkelanjutan selama ribuan tahun.
Fotografer Ian MacKenzie dan David Hiser menangkap momen-momen intim ini dengan kamera mereka. Ada gambar proses menokok sagu—pekerjaan berat yang biasanya dilakukan oleh kaum pria, di mana batang sagu yang sudah tua ditokok hingga hancur, lalu dicuci untuk diambil patinya. Ada gambar para perempuan yang menenun tikar dari daun pandan atau membuat kalung dari manik-manik. Ada gambar anak-anak yang bermain di sungai, melompat dari batu ke batu, tubuh cokelat mereka berkilau terkena sinar matahari. Ini adalah potret kehidupan yang sederhana namun kaya, jauh dari hiruk-pikuk dunia modern yang penuh tekanan.
From the Forest We Get Our Life: Ekonomi Moral Penan
Bagian ketiga, From the Forest We Get Our Life, memperdalam pemahaman tentang hubungan simbiotik antara Penan dan hutan. Judulnya sendiri sudah merupakan pernyataan filosofis: hutan bukan sekadar sumber daya ekonomi, ia adalah sumber kehidupan dalam arti yang paling fundamental. Bahasa Penan sendiri mencerminkan hal ini. Ada ratusan kata untuk berbagai jenis pohon, berbagai bagian tumbuhan, berbagai kondisi hutan. Pengetahuan ini tidak diajarkan di sekolah formal, tetapi ditransmisikan melalui praktik sehari-hari, melalui dongeng sebelum tidur, melalui pengamatan langsung sejak kecil.
Dalam bagian ini, Davis juga menyentuh aspek spiritual dari hubungan manusia-hutan. Bagi Penan, hutan dihuni oleh berbagai roh—baik yang baik maupun yang jahat. Ada balei, roh penjaga yang bisa menolong manusia jika diperlakukan dengan hormat. Ada sawa, makhluk halus yang bisa menyebabkan penyakit jika diganggu tempat tinggalnya. Ada juga roh-roh leluhur yang kadang-kadang muncul dalam mimpi untuk memberi petunjuk. Sebelum memulai perburuan besar atau membuka lahan baru, biasanya dilakukan upacara kecil untuk meminta izin dan perlindungan dari roh-roh ini.
Sistem kepercayaan ini bukan sekadar takhayul. Ia berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan ekologi. Tabu terhadap penebangan pohon buah-buahan, misalnya, diperkuat oleh keyakinan bahwa melakukannya akan mendatangkan kesialan atau penyakit. Dengan cara ini, nilai-nilai konservasi tertanam dalam struktur kosmologis masyarakat, bukan sekadar aturan rasional yang bisa dilanggar jika ada keuntungan jangka pendek.
Dalam wawancaranya dengan South China Morning Post, George Ulan, seorang Penan dari Long Kerong, menjelaskan bagaimana generasinya masih mempertahankan pengetahuan ini meskipun tekanan modernisasi semakin kuat. Saat mendaki Bukit Layuk, ia menunjukkan tanaman-tanaman berguna, jamur-jamur yang bisa dimakan, jejak-jejak binatang seperti landak dan beruang madu. Enam jam pendakian yang melelahkan bagi wartawan, bagi George adalah jalan pulang yang dikenalnya sejak kecil . Ini adalah bukti bahwa pengetahuan itu masih hidup, meskipun cara hidup yang menopangnya sedang terancam.
Spiderhunter Bird, Send Out Wild Boar: Dialog dengan Alam
Bagian keempat dengan judul puitis Spiderhunter Bird, Send Out Wild Boar mengajak kita merenungkan cara Penan berkomunikasi dengan alam. Mereka percaya bahwa alam dapat diajak bicara, dapat dimintai tolong, dapat diyakinkan. Sebelum berburu, seorang pemburu mungkin akan memanggil burung-burung tertentu atau mengirimkan doa-doa sederhana agar babi hutan keluar dari persembunyiannya. Ini bukan sihir dalam pengertian negatif, melainkan bentuk pengakuan bahwa manusia bukanlah satu-satunya agen di alam semesta ini.
Burung-burung tertentu dianggap sebagai pembawa pesan atau pertanda. Kicauan burung di sebelah kiri atau kanan, pada waktu-waktu tertentu, bisa diinterpretasikan sebagai petunjuk apakah perburuan akan berhasil atau sebaiknya ditunda. Ini adalah sistem pengetahuan yang kompleks, yang membutuhkan kepekaan tinggi terhadap lingkungan dan kemampuan mem-baca tanda-tanda halus. Sistem serupa ditemukan di berbagai masyarakat asli di seluruh dunia, dari pemburu Karo di Sumatra hingga suku Cree di Kanada.
Dalam bagian ini, Davis juga menjelaskan tentang molong—sistem pengelolaan sumber daya yang menjadi kunci keberlanjutan Penan. Molong berarti “menjaga” atau “memelihara”. Ketika seseorang menemukan pohon sagu yang bagus atau pohon buah-buahan liar, ia tidak langsung mengambil semuanya atau menandainya sebagai milik pribadi yang eksklusif. Ia akan molong pohon itu—merawatnya, membersihkan semak-semak di sekitarnya, dan mengambil secukup-nya saja, sehingga pohon itu bisa terus hidup dan menghasilkan untuk generasi mendatang. Prinsip ini diterapkan juga pada sumber daya lainnya. Molong adalah kebalikan dari mentalitas eksploitasi yang mendorong krisis lingkungan saat ini.
Seperti yang diungkapkan oleh aktivis lingkungan dan penulis, George Monbiot, dalam berbagai tulisannya, masyarakat adat sering kali memiliki praktik pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan daripada negara modern atau korporasi. Mereka tidak memiliki konsep akumulasi tanpa batas, tidak terobsesi dengan pertumbuhan ekonomi, dan tidak melihat alam sebagai objek yang harus didominasi. Sebaliknya, mereka melihat diri mereka sebagai bagian dari jaring kehidupan yang lebih besar, dengan tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan.
Kingfisher, Give Me Much Sago: Spiritualitas dan Subsistensi
Bagian kelima, Kingfisher, Give Me Much Sago, melanjutkan tema hubungan spiritual dengan alam. Rajawali atau burung kingfisher yang disebut dalam judul adalah salah satu dari sekian banyak makhluk yang dianggap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi ketersediaan sagu, makanan pokok Penan. Ada ritual-ritual tertentu yang dilakukan untuk memastikan panen sagu yang baik, atau untuk mengucapkan terima kasih setelah mendapatkan hasil yang melimpah.
Dalam bagian ini, pembaca diajak melihat bagaimana spiritualitas dan subsistensi terjalin erat dalam kehidupan sehari-hari Penan. Tidak ada pemisahan tegas antara yang sakral dan yang profan. Mengambil sagu dari hutan adalah tindakan sakral sekaligus profan. Berburu babi hutan adalah tindakan profan sekaligus sakral. Setiap aktivitas memiliki dimensi spiritualnya sendiri, yang harus dihormati melalui ritual-ritual sederhana: membisikkan doa, menyisihkan sedikit hasil buruan untuk roh-roh, atau tidak berbicara sembarangan di tempat-tempat yang dianggap angker.
Davis juga menggambarkan bagaimana sistem kepercayaan ini memberikan ketahanan psikologis bagi Penan di tengah tekanan luar biasa. Ketika hutan mereka dihancurkan, ketika sungai-sungai tercemar limbah sawit, ketika hewan buruan menghilang, keyakinan bahwa roh-roh masih menjaga mereka memberikan kekuatan untuk bertahan dan melawan. Ini adalah aspek yang sering diabaikan dalam diskusi tentang pembangunan dan modernisasi: dimensi spiritual dari perlawanan masyarakat adat.
Dalam tradisi intelektual Muslim, kita bisa membandingkannya dengan konsep tawakkul—berserah diri kepada Tuhan setelah melakukan ikhtiar maksimal. Bagi Penan, berserah diri kepada roh-roh hutan bukanlah fatalisme pasif, melainkan pengakuan bahwa ada kekuatan di luar kendali manusia yang juga berperan dalam menentukan hasil usaha. Ini mengajarkan kerendahan hati, sebuah kualitas yang semakin langka di era antroposen di mana manusia merasa bisa mengendalikan segalanya.
Red Earth: Penetrasi dan Perubahan
Bagian keenam, Red Earth, menandai titik balik dalam narasi buku ini. Jika bagian-bagian sebelumnya menggambarkan keindahan dan kearifan hidup Penan, maka Red Earth mulai memperkenalkan elemen gangguan. “Tanah merah” di sini merujuk pada tanah yang terbuka setelah hutan ditebang, yang teroksidasi dan berubah warna menjadi merah karat. Ini adalah metafora visual yang kuat: hijau yang subur digantikan oleh merah yang tandus, kehidupan digantikan oleh kematian.
Davis dan tim mulai mendokumentasikan kedatangan perusahaan-perusahaan penebangan kayu ke wilayah Penan. Dengan bulldozer dan chainsaw, mereka membuka jalan ke jantung hutan, mengekstraksi kayu-kayu keras bernilai tinggi seperti meranti dan kapur. Bagi Penan, ini bukan sekadar kerusakan lingkungan. Ini adalah penghancuran rumah, perusakan tempat suci, pemutusan hubungan dengan leluhur. Pohon-pohon besar yang selama berabad-abad menjadi penanda wilayah, tempat roh bersemayam, sumber pangan dan obat-obatan, tumbang dalam hitungan menit.
Fotografer berhasil menangkap kontras yang menyayat hati. Di satu halaman, kita melihat keindahan hutan yang masih utuh, dengan sungai jernih dan kanopi hijau yang rapat. Di halaman berikutnya, kita disuguhi pemandangan tanah gundul yang berlumpur, tunggul-tunggul pohon berserakan, truk-truk pengangkut kayu yang berjejal, dan asap hitam dari pembakaran lahan. Ini adalah dua wajah Borneo yang sama, hanya dipisahkan oleh waktu dan kebijakan.
Dalam bagian ini, Davis juga menyoroti kebijakan pembangunan pemerintah Malaysia saat itu, yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan ekspor kayu dengan mengorbankan masyarakat adat dan lingkungan. Hutan dianggap sebagai “tanah kosong” yang perlu “dibangunkan” untuk memberikan manfaat ekonomi bagi negara. Pandangan ini, yang berakar pada ideologi pembangunan kolonial, mengabaikan fakta bahwa hutan sudah dihuni oleh manusia selama ribuan tahun, dan bahwa ada cara hidup yang sah di luar model ekonomi modern.
Seperti diungkapkan dalam buku Beyond the Green Myth yang disunting oleh Peter Sercombe dan Bernard Sellato, kebijakan pembangunan ini seringkali didasarkan pada mitos bahwa masyarakat pemburu-peramu itu “terbelakang” dan perlu “dimajukan” . Padahal, seperti ditunjukkan oleh Davis, mereka memiliki sistem pengetahuan dan etika lingkungan yang justru lebih berkelanjutan daripada model pembangunan yang diterapkan pemerintah. Ironisnya, proyek “pembangunan” yang mengatasnamakan kemajuan ini justru menghancurkan basis kehidupan masyarakat yang telah bertahan selama ribuan tahun.
Promises and Betrayal: Luka Pengkhianatan
Bagian ketujuh, Promises and Betrayal, adalah yang paling memilukan. Di sini, Davis mendokumentasikan bagaimana pemerintah dan perusahaan-perusahaan kayu berulang kali membuat janji-janji palsu kepada Penan. Mereka berjanji akan membangun sekolah, klinik, jalan, dan memberikan kompensasi yang adil jika Penan bersedia melepaskan hak atas tanah adat mereka. Namun setelah kayu-kayu berharga diangkut keluar, janji-janji itu seringkali dilupakan. Sekolah yang dibangun mungkin hanya satu ruang kelas tanpa guru, klinik tanpa perawat, jalan yang tidak terawat. Sementara itu, hutan yang menjadi sumber kehidupan telah musnah.
Pengkhianatan ini meninggalkan luka mendalam dalam jiwa Penan. Mereka yang sebelumnya hidup mandiri dan bermartabat, tiba-tiba menjadi pengemis di tanah mereka sendiri. Mereka yang dulu bisa membaca jejak binatang, kini harus belajar membaca huruf di sekolah yang asing. Mereka yang dulu bisa menyembuhkan penyakit dengan ramuan hutan, kini harus antre di klinik yang jauh. Mereka yang dulu hidup dalam kelimpahan, kini bergantung pada bantuan beras dari pemerintah.
Davis dengan cermat menggambarkan proses proletarisasi ini—bagaimana pemburu-peramu yang mandiri dipaksa menjadi buruh tani atau buruh perkebunan dengan upah rendah. Mereka kehilangan tidak hanya tanah dan hutan, tetapi juga harga diri dan identitas. Anak-anak mereka tumbuh dalam kebingungan, tidak lagi mewarisi pengetahuan leluhur tetapi juga tidak sepenuhnya terintegrasi ke dalam dunia modern. Ini adalah biaya pembangunan yang jarang dihitung dalam laporan ekonomi, tetapi membekas dalam jiwa generasi.
Dalam konteks pemikiran dekolonial, apa yang dialami Penan adalah contoh klasik dari apa yang disebut Frantz Fanon sebagai “kekerasan kolonial” yang berlanjut dalam bentuk baru pasca-kemerdekaan. Negara-negara baru, dengan ambisi modernisasinya, seringkali melanjutkan proyek kolonial untuk “membangunkan” masyarakat adat, tanpa menyadari bahwa mereka justru menghancurkan kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal yang tak ternilai.
Resistance and Tragedy: Ketika Hati Nurani Bersuara
Bagian terakhir, Resistance and Tragedy, mencatat babak heroik dan tragis dalam perjuangan Penan. Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, ketika penghancuran hutan mencapai puncaknya, Penan mulai melakukan perlawanan terbuka. Mereka mendirikan blokade-blokade di jalan-jalan logging, duduk di hadapan buldoser dan truk-truk kayu. Mereka tidak membawa senjata, hanya keberanian dan keputusasaan. Mereka dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Utong, salah satu kepala suku yang paling vokal menentang penebangan hutan.
Gambar-gambar blokade ini menjadi ikon gerakan lingkungan global. Seorang perempuan Penan tua duduk di jalan tanah, tangan terlipat, matanya menatap tajam ke arah operator buldoser yang ragu-ragu untuk maju. Sekelompok pemuda Penan berdiri bergandengan tangan di hadapan truk-truk kayu. Spanduk-spanduk sederhana bertuliskan tuntutan dalam bahasa Melayu. Ini adalah gambaran tentang keberanian yang lahir dari keputusasaan, tentang orang-orang yang tidak punya apa-apa selain tanah mereka dan rela mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankannya.
Perlawanan Penan menarik perhatian internasional. Aktivis lingkungan dari berbagai negara datang untuk mendukung mereka. Yang paling terkenal adalah Bruno Manser, seorang aktivis Swiss yang tinggal bersama Penan selama bertahun-tahun, belajar bahasa dan adat mereka, dan menjadi juru bicara mereka di forum internasional. Manser mendokumentasikan kerusakan hutan, memotret blokade-blokade, dan melobi pemerintah Malaysia serta perusahaan-perusahaan kayu. Ia menjadi pahlawan bagi Penan, tetapi musuh besar bagi pemerintah dan industri kayu .
Tragedi kemudian menghampiri. Bruno Manser menghilang secara misterius pada tahun 2000 saat melakukan perjalanan di Kalimantan. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Banyak yang menduga ia dibunuh oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bisnis kayu. Namun, semangat perjuangannya tetap hidup. Yayasan Bruno Manser (Bruno Manser Fund) yang didirikannya terus memperjuangkan hak-hak Penan dan perlindungan hutan hujan Borneo hingga hari ini .
Relevansi dan Prospek Masa Depan
Dua puluh lima tahun setelah buku ini diterbitkan, perjuangan Penan masih berlanjut. Berita-berita terbaru menunjukkan bahwa blokade manusia masih dilakukan oleh komunitas Penan untuk menghentikan penebangan liar di hutan adat mereka. Pada Juni 2025, Penan di daerah Baram, Sarawak, kembali mendirikan blokade di tiga desa—Ba’Data Bila, Long Benali, dan Ba’Pengiran Kelian—untuk menghentikan operasi penebangan yang mereka klaim dilakukan tanpa izin dan konsultasi .
Laporan dari The Vibes menyebutkan bahwa setiap hari, puluhan truk kayu meninggalkan hutan milik Penan, dengan nilai kayu yang diekstraksi mencapai sekitar RM9 juta per bulan . Ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada berbagai kampanye dan advokasi, tekanan terhadap hutan dan masyarakat adat tidak pernah berhenti. Bahkan, dengan naiknya harga minyak sawit dan kebutuhan akan lahan perkebunan, tekanan ini semakin meningkat .
Namun, ada juga secercah harapan. Beberapa komunitas Penan mulai beradaptasi dengan cara-cara baru tanpa sepenuhnya kehilangan identitas. Di Long Kerong, desa tempat George Ulan dibesarkan, penduduknya kini hidup semi-menetap, memiliki kebun-kebun kecil, mengirim anak-anak ke sekolah, bahkan mengakses internet. Namun mereka masih pergi ke hutan untuk berburu dan mengumpulkan hasil hutan, masih mempraktikkan molong, masih menuturkan dongeng-dongeng lama kepada anak-cucu .
Yang menarik, globalisasi dan internet justru menjadi alat baru bagi perjuangan Penan. Mereka bisa mendokumentasikan kerusakan hutan dengan ponsel, mengirimkan foto dan video ke aktivis di kota, mengorganisir kampanye internasional melalui media sosial. Pengetahuan tradisional yang dulu dianggap “primitif” kini mulai diapresiasi sebagai kearifan ekologis yang relevan untuk mengatasi krisis iklim. Para ilmuwan, aktivis, dan pembuat kebijakan mulai belajar dari masyarakat adat tentang pengelolaan hutan berkelanjutan, tentang etika lingkungan, tentang cara hidup yang tidak didasarkan pada akumulasi tanpa batas.
Buku Nomads of the Dawn adalah dokumen penting dalam sejarah perjuangan ini. Ia tidak hanya mendokumentasikan apa yang hampir punah, tetapi juga menginspirasi generasi baru untuk melanjutkan perjuangan. Foto-foto MacKenzie dan Hiser yang dramatis, narasi Davis yang puitis namun tajam, serta kutipan-kutipan langsung dari orang-orang Penan, menjadikan buku ini lebih dari sekadar buku antropologi biasa. Ia adalah monumen bagi keberanian, bagi kearifan, bagi cinta pada tanah air dalam arti yang paling hakiki.
Seperti kata John Berger, kritikus seni dan novelis, “Never before have we had so little time to prepare a place for ourselves in what is to come.” Buku ini adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan pembangunan, ada suara-suara lain yang patut didengar, ada cara hidup lain yang patut dihormati, ada dunia lain yang patut diselamatkan. Karena ketika pohon terakhir ditebang, sungai terakhir tercemar, dan burung terakhir dibungkam, kita akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan, dan peradaban yang melupakan akarnya akan layu sebelum berkembang.
Di Bawah Naungan Hutan, Kami Mendapatkan Kehidupan
Matahari baru saja menyembul di ufuk timur ketika kabut tipis masih menyelimuti tajuk-tajuk pohon tertinggi di pedalaman Borneo. Dari balik dinding hijau yang rapat itu, terdengar suara parang menokok batang sagu, tawa anak-anak yang bermain di sungai, dan nyanyian burung-burung yang menyambut siang. Inilah pemandangan yang diabadikan Wade Davis, Ian MacKenzie, dan Shane Kennedy dalam dua bagian paling hidup dari buku Nomads of the Dawn: In the Shelter of the Forest dan From the Forest We Get Our Life. Dua bagian ini, jika dibaca berurutan, bagaikan memasuki dunia yang telah berlangsung selama ribuan tahun namun terasa begitu akrab—sebuah dunia di mana hutan bukan sekadar latar belakang kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri.
Jantung yang Berdetak di Balik Pepohonan
In the Shelter of the Forest mengajak pembaca merasakan denyut nadi kehidupan sehari-hari Penan. Davis, dengan keahliannya sebagai etnobotanis, tidak hanya mendeskripsikan apa yang dilihatnya, tetapi meresapi bagaimana hutan hujan tropis yang rimbun itu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk hidup baik. Di sini, hutan adalah supermarket raksasa yang tidak pernah tutup, apotek lengkap dengan ribuan ramuan, perpustakaan tempat pengetahuan leluhur tersimpan dalam setiap helai daun dan setiap jejak binatang.
Sagu dari pohon rumbia menjadi fondasi kehidupan. Davis menjelaskan dengan rinci proses panjang mengubah batang sagu yang keras menjadi tepung putih yang mengenyangkan. Pekerjaan berat ini biasanya dilakukan oleh kaum pria: batang yang sudah tua ditebang, dibelah, lalu ditokok dengan alat khusus hingga hancur. Seratnya kemudian dicuci berulang kali di sungai hingga patinya mengendap. Hasilnya—tepung sagu yang bisa diolah menjadi berbagai makanan—adalah bukti bagaimana kerja keras dan pengetahuan tradisional berpadu menghasilkan kehidupan dari alam.
Namun sagu hanyalah satu dari sekian banyak karunia hutan. Buah-buahan liar berlimpah sepanjang tahun jika tahu di mana mencarinya: durian hutan dengan aroma yang lebih kuat dari durian kebun, manggis liar yang manisnya tak tertandingi, rambai yang asam segar, dan puluhan jenis buah lain yang tidak pernah masuk ke pasar kota. Hewan buruan seperti babi hutan, rusa, kijang, dan berbagai jenis primata menyediakan protein. Sungai-sungai jernih yang mengalir di antara perbukitan menyimpan ikan air tawar, udang, dan kepiting. Rotan yang melilit di batang-batang pohon bisa diambil seratnya untuk tali dan anyaman. Daun bertam yang lebar menjadi atap yang tahan air dan mudah diganti.
Yang membuat deskripsi Davis begitu hidup adalah kemampuannya menangkap detail-detail kecil yang luput dari pengamat biasa. Ia mencatat bagaimana para pemburu Penan bisa membaca jejak babi hutan di tanah lembap, membedakan jejak yang baru dibuat beberapa jam lalu dari yang sudah semalam. Mereka tahu persis kapan musim kawin rusa, ke mana kawanan babi akan berpindah ketika buah-buahan tertentu masak, dan tanaman apa yang sedang berbunga di lereng bukit mana. Pengetahuan ini, yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, adalah peta hidup yang memungkinkan mereka bergerak melalui hutan tanpa tersesat dan selalu kembali dengan membawa hasil.
Etika di Balik Kelimpahan
From the Forest We Get Our Life mengambil judulnya dari pernyataan langsung seorang Penan yang menegaskan hubungan eksistensial antara komunitasnya dan hutan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi. Ia adalah ibu yang melahirkan, merawat, dan melindungi. Pernyataan ini bukan sekadar metafora puitis, melainkan realitas ontologis yang tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka.
Di sinilah Davis memperkenalkan konsep molong—sistem pengelolaan sumber daya yang menjadi inti etika lingkungan Penan. Molong berarti “menjaga”, “memelihara”, atau “merawat”. Ketika seorang Penan menemukan pohon sagu yang baik, ia tidak langsung menebangnya atau menandainya sebagai milik pribadi. Ia akan molong pohon itu: membersihkan semak-semak di sekitarnya, memastikan tidak ada yang merusaknya, dan mengambil hanya secukupnya sehingga pohon itu bisa terus hidup dan menghasilkan untuk generasi mendatang. Prinsip yang sama diterapkan pada pohon buah-buahan liar, pada rotan, pada sumber daya lainnya.
Yang menarik, molong tidak didasarkan pada konsep kepemilikan pribadi seperti dalam hukum modern. Seseorang yang molong sebatang pohon tidak berarti pohon itu menjadi miliknya secara eksklusif. Orang lain tetap boleh mengambil hasilnya, tetapi dengan etika yang sama: tidak berlebihan, tidak merusak, dan tetap menjaga kelangsungan hidup pohon itu. Ini adalah bentuk kepemilikan bersama yang diatur oleh tanggung jawab, bukan hak eksklusif.
Davis juga menggambarkan bagaimana sistem tabu (tuloi) memperkuat etika lingkungan ini. Dilarang menebang pohon buah-buahan, karena itu berarti merampas makanan anak cucu. Dilarang membunuh hewan betina yang sedang hamil atau masih menyusui. Dilarang mengambil lebih dari yang dibutuhkan untuk sehari-hari. Larangan-larangan ini tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga diperkuat oleh keyakinan spiritual: melanggarnya akan mendatangkan kesialan, penyakit, atau kemarahan roh-roh hutan.
Ketika Hutan Berbicara
Sepanjang dua bagian ini, Davis dengan cermat menunjukkan bahwa bagi Penan, alam tidak pernah bisu. Hutan penuh dengan tanda-tanda yang bisa dibaca oleh mereka yang memiliki kepekaan. Kicauan burung di sebelah kiri atau kanan, pada waktu-waktu tertentu, bisa menjadi petunjuk apakah perburuan akan berhasil atau sebaiknya ditunda. Pergerakan awan, arah angin, warna air sungai—semuanya membawa pesan bagi yang tahu membacanya.
Fotografer Ian MacKenzie dan David Hiser berhasil menangkap momen-momen intim ini dalam gambar-gambar yang tak kalah berbicara dibanding teks Davis. Ada foto seorang pemburu Penan yang sedang mengasah anak sumpitnya, matanya fokus pada ujung bambu yang diruncingkan, sementara latar belakangnya adalah kabut tipis yang menyelimuti hutan. Ada foto para perempuan yang sedang menenun tikar dari daun pandan, jari-jari mereka bergerak cepat dan pasti, sementara anak-anak bermain di sekitar mereka. Ada foto seorang tetua yang duduk di depan pondoknya, tatapannya menerawang jauh ke dalam hutan, seolah sedang berdialog dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata biasa.
Foto-foto ini bukan sekadar ilustrasi. Mereka adalah dokumen visual tentang cara hidup yang telah berlangsung selama ribuan tahun, tentang hubungan manusia dengan alam yang tidak didasarkan pada dominasi dan eksploitasi, melainkan pada timbal balik dan penghormatan. Melalui foto-foto ini, pembaca diajak tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi juga merasakan secara emosional apa artinya hidup sebagai bagian dari hutan.
Kearifan yang Terancam
Namun, di balik keindahan deskripsi ini, Davis juga menyisipkan nada-nada prihatin yang halus namun menusuk. Ia tahu bahwa dunia yang dilukiskannya ini sedang berada di ambang kepunahan. Truk-truk pengangkut kayu sudah mulai memasuki wilayah-wilayah terpencil. Pohon-pohon besar yang menjadi penanda wilayah dan tempat bersemayam roh mulai tumbang. Sungai-sungai yang dulu jernih mulai keruh oleh lumpur dan limbah.
Ironisnya, di saat para ilmuwan dan aktivis lingkungan mulai menyadari betapa berharganya pengetahuan ekologi masyarakat adat untuk mengatasi krisis iklim, justru di saat itulah pengetahuan itu sedang dihancurkan oleh proyek-proyek “pembangunan” yang mengatas-namakan kemajuan. Hutan yang menjadi perpustakaan hidup Penan sedang dilibas, dan dengan hilangnya hutan, hilang pula pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Seperti yang diungkap-kan oleh seorang tetua Penan dalam buku ini: “Jika hutan ini habis, kami juga akan habis. Tidak ada lagi Penan.”
Dua bagian dari Nomads of the Dawn ini, In the Shelter of the Forest dan From the Forest We Get Our Life, adalah undangan untuk merenungkan kembali apa artinya hidup baik. Bukan dalam arti memiliki banyak barang, bukan dalam arti mengonsumsi sebanyak-banyaknya, tetapi dalam arti hidup dalam hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan dengan alam. Penan mengajarkan bahwa kelimpahan sejati bukan diukur dari akumulasi materi, melainkan dari kecukupan: memiliki cukup untuk hari ini dan yakin bahwa esok juga akan cukup, selama kita menjaga dan merawat.
Di tengah krisis ekologis yang semakin dalam, di tengah kesadaran bahwa model pembangunan yang kita anut selama ini tidak berkelanjutan, suara-suara dari pinggiran seperti suara Penan ini menjadi semakin relevan. Mereka adalah pengingat bahwa ada cara lain untuk hidup di bumi ini—cara yang tidak merusak, tidak serakah, tidak menghancurkan rumah kita sendiri. Dan buku ini, dengan segala keindahan narasi dan fotografinya, adalah monumen bagi cara hidup yang hampir punah itu, sekaligus seruan untuk bertindak sebelum semuanya terlambat.
Dialog dengan Alam, Menjelang Keruntuhan
Malam turun perlahan di pedalaman Borneo. Di sebuah perkemahan sementara, beberapa pria Penan duduk melingkar di sekitar api unggun. Salah seorang dari mereka mulai bersenandung, suaranya pelan namun mantap, memanggil roh-roh hutan. Ia memanggil burung Spiderhunter—pengicau kecil yang lincah—untuk mengirimkan babi hutan keluar dari persembunyiannya. Ia memanggil Kingfisher, si pemburu sungai yang berwarna biru cemerlang, untuk memberikan banyak sagu. Ritual ini, yang terdengar asing di telinga modern, adalah inti dari hubungan Penan dengan alam: hubungan yang tidak pernah monolog, selalu dialog, dan penuh dengan rasa hormat yang mendalam.
Bahasa Burung dan Nyanyian Perburuan
Spiderhunter Bird, Send Out Wild Boar adalah bagian yang mungkin paling puitis sekaligus paling dalam dalam buku Nomads of the Dawn. Wade Davis, dengan kepekaannya sebagai etnografer sekaligus pendongeng, mengajak pembaca menyelami dunia spiritual Penan yang tidak terpisahkan dari dunia material. Bagi Penan, burung-burung bukan sekadar hewan yang kebetulan ada di hutan. Mereka adalah perantara, pembawa pesan, bahkan penentu nasib.
Burung Spiderhunter—dengan paruh panjangnya yang khas dan kicauan yang nyaring—dianggap memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keberhasilan perburuan. Seorang pemburu, sebelum berangkat ke hutan, mungkin akan berdiri sejenak di ambang pondoknya, mendengar-kan ke mana arah kicauan burung itu berasal. Jika kicauan datang dari arah yang dianggap baik, ia akan berangkat dengan penuh keyakinan. Jika dari arah yang buruk, ia mungkin akan menunda perburuan atau mengubah rute perjalanannya.
Davis menjelaskan bahwa sistem ini bukan sekadar takhayul primitif. Ia adalah cara canggih untuk membaca lingkungan, yang menggabungkan pengamatan empiris dengan kerangka spiritual. Selama ribuan tahun, Penan telah mengamati korelasi antara perilaku burung dan kondisi hutan, antara kicauan tertentu dan keberadaan hewan buruan. Pengetahuan ini, yang dibungkus dalam bahasa mitos dan ritual, adalah cara mereka menyimpan dan mewariskan data ekologis yang kompleks.
Yang lebih dalam lagi, praktik ini menegaskan bahwa dalam kosmologi Penan, manusia bukanlah satu-satunya agen di alam semesta. Hewan, tumbuhan, sungai, gunung—semua memiliki kehendak, semua dapat diajak berkomunikasi, semua harus dihormati. Keberhasilan berburu tidak hanya tergantung pada keterampilan manusia, tetapi juga pada kemurahan hati roh-roh dan kesediaan hewan untuk menyerahkan diri. Ada etika timbal balik yang dalam di sini: manusia tidak mengambil, mereka menerima pemberian.
Memohon Kelimpahan Sagu
Kingfisher, Give Me Much Sagu melanjutkan tema yang sama, kali ini berfokus pada sagu—makanan pokok Penan. Burung Kingfisher, dengan kemampuannya menyelam cepat ke air untuk menangkap ikan, dianggap sebagai simbol kelimpahan. Dalam ritual-ritual tertentu, Penan memanggil Kingfisher untuk memberkati pohon-pohon sagu agar menghasilkan banyak pati.
Davis menggambarkan bagaimana ritual meminta sagu ini dilakukan dengan penuh kesungguh-an. Sebelum menebang pohon sagu, seorang Penan mungkin akan membisikkan doa-doa pendek, menyisihkan sedikit sirih atau tembakau sebagai persembahan, atau melakukan gerakan-gerakan simbolis yang telah diwariskan turun-temurun. Ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah pengakuan bahwa sagu, seperti semua karunia hutan, bukan milik manusia secara otomatis. Ia adalah pemberian yang harus diterima dengan rasa syukur dan hormat.
Di sinilah konsep molong yang telah dijelaskan sebelumnya mendapatkan dimensi spiritual-nya. Molong—menjaga dan merawat pohon sagu—bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga tindakan religius. Dengan merawat pohon, seseorang sedang memelihara hubungan dengan roh yang mendiaminya, sedang memastikan bahwa kelimpahan akan terus mengalir. Ada kontrak tak tertulis antara manusia dan alam: manusia merawat, alam memberi. Jika manusia lalai atau serakah, alam akan menarik pemberiannya.
Bagian ini juga mengungkapkan betapa dalamnya pengetahuan botani Penan. Mereka tidak hanya tahu mana pohon sagu yang baik, tetapi juga bisa membaca dari penampakan luar apakah pati di dalamnya sudah optimal untuk dipanen. Mereka tahu pohon mana yang harus ditebang dan pohon mana yang harus dibiarkan tumbuh lebih lama. Mereka tahu bahwa menebang terlalu banyak di satu area akan mengganggu keseimbangan hutan. Pengetahuan ini, yang diperoleh dari pengalaman ribuan tahun, adalah bentuk ilmu pengetahuan yang sama sahihnya dengan ilmu pengetahuan modern, hanya dengan metodologi yang berbeda.
Ketika Hijau Berganti Merah
Jika dua bagian sebelumnya adalah pujian bagi kehidupan, maka The Red Earth adalah elegi bagi kehancuran. Judulnya sendiri sudah merupakan metafora yang kuat: “tanah merah” merujuk pada tanah yang terbuka setelah hutan ditebang, yang teroksidasi dan berubah warna menjadi merah karat—warna kematian, warna luka.
Davis, MacKenzie, dan Kennedy dengan jujur mendokumentasikan apa yang terjadi ketika perusahaan-perusahaan penebangan kayu memasuki wilayah Penan. Buldoser-buldoser raksasa membuka jalan ke jantung hutan. Gergaji mesin meraung sepanjang hari, menumbangkan pohon-pohon yang telah berdiri selama berabad-abad. Truk-truk pengangkut kayu berjejal di jalan-jalan tanah yang baru dibuka, membawa batang-batang raksasa ke pelabuhan untuk dikapalkan ke negeri-negeri jauh.
Fotografer berhasil menangkap kontras yang menyayat hati. Di satu halaman, kita masih melihat keindahan hutan yang utuh, dengan sungai jernih dan kanopi hijau yang rapat. Di halaman berikutnya, tanah gundul berlumpur, tunggul-tunggul pohon berserakan bagai kuburan massal, asap hitam membumbung dari pembakaran lahan. Ini adalah dua wajah Borneo yang sama, hanya dipisahkan oleh waktu dan kebijakan.
Davis mencatat dengan pedih apa yang dirasakan Penan melihat pemandangan ini. Hutan yang selama ribuan tahun menjadi rumah, perpustakaan, apotek, dan kuil mereka, sedang dilumat-kan dalam hitungan bulan. Pohon-pohon besar yang menjadi penanda wilayah—tempat mereka dilahirkan, tempat orang tua mereka dikuburkan, tempat roh-roh leluhur bersemayam —tumbang satu per satu. Sungai yang dulu jernih, tempat mereka mandi dan menangkap ikan, berubah keruh oleh lumpur dan limbah. Hewan-hewan buruan menghilang, kabur ke tempat yang lebih aman atau mati karena kehilangan habitat.
Yang paling menyakitkan, seperti diungkapkan Davis, adalah pengkhianatan yang mereka rasakan. Pemerintah dan perusahaan berjanji akan membawa “pembangunan”—sekolah, klinik, jalan, listrik. Namun setelah kayu-kayu berharga diangkut keluar, janji-janji itu seringkali dilupakan. Yang tersisa hanyalah tanah merah yang tandus, sungai yang mati, dan komunitas yang hancur. Seperti yang dikatakan seorang tetua Penan dalam buku ini: “Mereka mengambil kayu kami, mereka menghancurkan hutan kami, dan mereka meninggalkan kami dengan tanah merah yang tidak bisa ditanami apa-apa.”
Tiga Narasi, Satu Perjalanan
Jika direnungkan, ketiga bagian ini—Spiderhunter Bird, Kingfisher, dan Red Earth—membentuk satu alur narasi yang tragis namun penting. Dua bagian pertama melukiskan dunia yang utuh, di mana manusia hidup dalam dialog konstan dengan alam, di mana ritual dan penghormatan menjadi perekat hubungan, di mana kelimpahan datang dari keseimbangan. Bagian ketiga menunjukkan bagaimana dunia itu dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan dari luar yang tidak memahami, atau tidak peduli, pada keindahan dan kearifan yang ada.
Davis tidak pernah menggambarkan Penan sebagai korban pasif yang hanya bisa meratap. Sepanjang bagian-bagian ini, ia menunjukkan kegigihan mereka mempertahankan cara hidup, kemampuan mereka beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, dan keberanian mereka melawan ketidakadilan. Namun ia juga tidak menutup mata pada kenyataan pahit: bahwa kekuatan yang mereka hadapi jauh lebih besar, bahwa pertempuran ini tidak seimbang, bahwa pada akhirnya mungkin mereka akan kalah.
Namun, buku ini sendiri adalah bentuk perlawanan. Dengan mendokumentasikan secara indah dan mendalam kehidupan Penan, Davis, MacKenzie, dan Kennedy memastikan bahwa dunia ini tidak akan dilupakan begitu saja. Foto-foto MacKenzie dan Hiser yang dramatis, narasi Davis yang puitis, kutipan-kutipan langsung dari orang-orang Penan—semua ini adalah monumen bagi cara hidup yang hampir punah, sekaligus seruan kepada dunia untuk peduli.
Seperti kata penyair WS Merwin, “I want to tell you what the forests were like / I will have to speak in a forgotten language.” Buku ini adalah upaya untuk berbicara dalam bahasa yang hampir terlupakan itu, untuk menceritakan apa yang telah hilang, untuk mengingatkan bahwa ketika hutan terakhir tumbang, kita semua akan kehilangan sesuatu yang tak ternilai—bukan hanya kayu, bukan hanya biodiversitas, tetapi juga sebuah cara untuk menjadi manusia yang berbeda, yang lebih rendah hati, yang lebih selaras dengan alam.
Janji di Atas Luka, Perlawanan di Tengah Runtuh
Seorang tetua Penan duduk di atas tunggul pohon meranti yang baru saja tumbang. Di sekelilingnya, hutan yang menjadi rumahnya selama lebih dari enam puluh tahun telah berubah menjadi ladang pembalakan yang gundul. Ia memegang secarik kertas usang—dokumen yang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah beberapa tahun lalu, berjanji bahwa tanahnya akan dihormati, bahwa kompensasi akan dibayarkan, bahwa hidupnya akan lebih baik. Kertas itu kini hanya sampah basah di tengah lumpur merah. Janji telah menjadi pengkhianatan. Dan dari kedalaman pengkhianatan itu, lahirlah perlawanan.
Janji-Janji yang Sirna
Promises and Betrayal adalah bagian paling memilukan dalam buku Nomads of the Dawn. Wade Davis dengan cermat mendokumentasikan bagaimana pemerintah Malaysia dan perusahaan-perusahaan penebangan kayu mendekati komunitas Penan dengan senyum dan janji manis. Mereka datang bukan sebagai perampok dengan parang terhunus, tetapi sebagai “pembangun” dengan brosur berwarna-warni dan kontrak-kontrak berstempel.
Janji-janji itu selalu sama: sekolah untuk anak-anak, klinik untuk yang sakit, jalan untuk memudahkan transportasi, listrik untuk menerangi malam, dan uang kompensasi yang akan membuat hidup lebih baik. Kepada masyarakat yang selama ribuan tahun hidup dalam kecukupan di hutan, janji-janji modernitas ini terdengar seperti surga. Apalagi disampaikan oleh orang-orang berjas rapi yang datang dengan mobil besar dan membawa foto-foto gedung-gedung megah di kota.
Davis mencatat dengan ironi yang pahit: perusahaan-perusahaan ini pandai memanfaatkan keramahan dan kepercayaan Penan. Dalam budaya Penan, jika seseorang datang dengan niat baik, ia akan disambut dengan tangan terbuka. Konsep bahwa ada orang yang bisa tersenyum sambil menusuk dari belakang adalah hal asing bagi mereka. Mereka tidak siap menghadapi tipu daya yang dirancang di meja-meja rapat jauh di kota.
Setelah kayu-kayu berharga diangkut keluar, janji-janji itu perlahan menguap. Sekolah yang dibangun mungkin hanya satu ruang kelas tanpa guru tetap, dengan buku-buku yang tidak pernah datang. Klinik yang dijanjikan adalah sebuah pondok kecil yang dikunjungi perawat sebulan sekali. Jalan yang dibangun ternyata hanya jalan logging, yang setelah proyek selesai dibiarkan rusak dan berlumpur. Listrik tidak pernah menyala. Uang kompensasi—jika ada—hanyalah pecahan kecil dari nilai kayu yang diangkut keluar dari tanah mereka.
Yang lebih menyakitkan, seperti diungkapkan Davis, adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan. Penan telah membuka hati mereka, menerima orang asing sebagai tamu, dan percaya bahwa janji adalah janji. Ketika pengkhianatan itu terungkap, luka yang ditinggalkan bukan hanya luka material, tetapi luka batin yang dalam. Seperti dikatakan seorang perempuan Penan dalam buku ini: “Mereka mengambil pohon kami, mereka mengambil hutan kami, tapi yang paling sakit, mereka mengambil kepercayaan kami pada manusia.”
Fotografer Ian MacKenzie menangkap momen-momen pengkhianatan ini dalam gambar-gambar yang berbicara lebih keras dari kata-kata. Ada foto para tetua yang duduk melingkar, memegang dokumen-dokumen yang tidak bisa mereka baca, wajah mereka campuran antara harapan dan kebingungan. Ada foto pemukiman Penan yang dikelilingi oleh tanah gundul, dengan truk-truk kayu lewat di depan pondok mereka, membawa kekayaan yang seharusnya menjadi milik bersama. Ada foto seorang ibu yang menggendong anaknya, matanya kosong menatap kehancuran di sekelilingnya.
Ketika Kesabaran Berakhir
Resistance and Tragedy mencatat babak berikutnya: ketika kesabaran mencapai batasnya, dan perlawanan menjadi satu-satunya pilihan. Davis menggambarkan dengan detail bagaimana Penan, yang terkenal sebagai masyarakat paling damai di Borneo, mulai mengorganisir diri untuk melawan mesin penghancur yang merampas rumah mereka.
Tahun 1987 menjadi titik balik. Di wilayah Baram, Sarawak, puluhan Penan turun ke jalan-jalan logging yang baru dibuka. Mereka duduk di hadapan buldoser dan truk-truk kayu, menutup akses dengan tubuh mereka sendiri. Mereka tidak membawa senjata—hanya sumpitan yang tergantung di punggung sebagai simbol identitas, bukan sebagai alat perang. Mereka hanya duduk, dengan tangan terlipat, mata menatap tajam ke arah operator alat berat yang ragu-ragu untuk maju.
Gambar-gambar blokade ini menjadi ikon gerakan lingkungan global. Seorang perempuan tua Penan—rambut putih, kulit keriput, tubuh ringkih—duduk sendirian di tengah jalan tanah yang lebar, sementara di belakangnya berjejer truk-truk kayu yang tak bisa bergerak. Seorang pemuda Penan berdiri tegak di hadapan buldoser raksasa, tubuh kecilnya kontras dengan mesin besi yang cukup besar untuk melindasnya. Spanduk-spanduk sederhana bertuliskan tuntutan dalam bahasa Melayu: “Hutan kami adalah hidup kami”, “Hentikan pembalakan”, “Hormati hak kami”.
Davis mencatat bahwa perlawanan ini lahir bukan dari kebencian, tetapi dari cinta yang dalam pada tanah leluhur. Para Penan yang memblokade jalan tidak membayangkan diri mereka sebagai pahlawan atau pejuang. Mereka hanya ayah dan ibu, kakek dan nenek, yang melihat rumah mereka dihancurkan dan merasa wajib melindungi apa yang tersisa untuk anak cucu. Seperti yang dikatakan salah seorang pemimpin blokade: “Kami tidak benci perusahaan. Kami hanya cinta hutan kami.”
Perlawanan Penan menarik perhatian internasional. Aktivis lingkungan dari berbagai negara datang ke Sarawak untuk mendukung mereka. LSM-LSM lingkungan mengirimkan tim dokumentasi. Media internasional meliput blokade-blokade itu. Tiba-tiba, nama “Penan” yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi simbol perjuangan masyarakat adat melawan eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali.
Yang paling terkenal di antara para pendukung ini adalah Bruno Manser, seorang aktivis asal Swiss yang datang ke Borneo pada tahun 1984 dan tinggal bersama Penan selama bertahun-tahun. Manser belajar bahasa Penan, hidup seperti mereka, tidur di pondok mereka, makan sagu bersama mereka. Ia mendokumentasikan kerusakan hutan, memotret blokade-blokade, dan menjadi juru bicara Penan di forum-forum internasional. Davis menggambarkan Manser sebagai sosok yang unik: bukan antropolog yang menjaga jarak, tetapi manusia yang sepenuhnya menyerap diri ke dalam komunitas yang ia bela. Ia menjadi Penan, dalam arti yang paling dalam.
Catatan Akhir: Tragedi di Ujung Jalan
Namun, perlawanan tidak pernah berjalan mulus. Davis dengan jujur mencatat harga yang harus dibayar Penan untuk keberanian mereka. Pemerintah Malaysia merespons blokade-blokade itu dengan tangan besi. Pemimpin-pemimpin blokade ditangkap, dipenjarakan tanpa pengadilan yang adil. Komunitas-komunitas yang terlibat dalam perlawanan mendapat tekanan terus-menerus: izin mereka untuk memasuki hutan dicabut, bantuan pemerintah dihentikan, anak-anak mereka dikeluarkan dari sekolah.
Yang lebih kejam, perusahaan-perusahaan kayu menggunakan taktik “pecah belah”. Mereka mendekati beberapa orang Penan dengan tawaran uang, pekerjaan, atau barang-barang modern, menciptakan perpecahan di dalam komunitas. Beberapa Penan yang dulunya satu suku, satu bahasa, satu adat, tiba-tiba berada di pihak yang berseberangan: yang satu mempertahankan hutan, yang lain bekerja untuk perusahaan yang menghancurkannya. Ini adalah luka sosial yang sulit disembuhkan.
Tragedi terbesar datang dengan hilangnya Bruno Manser. Pada tahun 2000, setelah bertahun-tahun menjadi target intelijen Malaysia dan dikejar-kejar oleh pihak berwenang, Manser melakukan perjalanan terakhirnya ke Kalimantan. Ia tidak pernah kembali. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Banyak yang menduga ia dibunuh oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan bisnis kayu. Bagi Penan, kehilangan Manser adalah pukulan telak. Mereka kehilangan tidak hanya seorang pembela, tetapi seorang saudara, seorang yang telah menjadi bagian dari keluarga mereka.
Davis menulis tentang Manser dengan hormat yang mendalam, tetapi juga dengan kesedihan. Ia melihat dalam diri Manser gambaran tentang apa yang bisa dilakukan satu orang ketika hatinya benar-benar terpanggil. Namun ia juga melihat bahwa pengorbanan individu, betapapun heroiknya, tidak cukup untuk menghentikan mesin raksasa industri kayu yang didukung oleh kekuasaan negara dan modal global.
Membaca dua bagian ini secara berurutan, Promises and Betrayal dan Resistance and Tragedy, adalah seperti menyaksikan sebuah drama klasik tentang kejatuhan: kepercayaan dikhianati, perlawanan dilancarkan, dan tragedi menghampiri. Menjadi luka yang membekas. Namun Davis tidak membiarkan pembaca tenggelam dalam keputusasaan. Di balik semua luka dan kehilangan, ia masih melihat kilau harapan—dalam kegigihan para tetua yang tetap bertahan, dalam semangat anak-anak muda yang mulai belajar menulis dan membaca untuk memper-juangkan hak-hak mereka dengan cara baru, dalam solidaritas internasional yang mulai tumbuh.
Buku ini sendiri adalah bukti bahwa suara Penan tidak sepenuhnya dibungkam. Melalui foto-foto MacKenzie yang memukau dan narasi Davis yang tajam, cerita tentang pengkhianatan dan perlawanan ini terus hidup, menginspirasi generasi baru untuk tidak tinggal diam ketika ketidakadilan terjadi. Seperti kata pepatah Afrika yang sering dikutip dalam gerakan sosial, “Sampai singa mempunyai sejarawannya sendiri, kisah perburuan akan selalu memuji pemburu.” Buku ini adalah upaya untuk memberi suara pada singa-singa itu, untuk mencatat sejarah dari sudut pandang mereka yang selama ini hanya menjadi objek, bukan subjek, dari narasi pembangunan.
Dua puluh lima tahun setelah buku ini diterbitkan, perjuangan Penan masih berlanjut. Blokade-blokade masih dilakukan. Kayu-kayu masih diangkut. Janji-janji masih diingkari. Tapi perlawanan juga masih hidup. Dan selama masih ada Penan yang duduk di jalan logging, menatap buldoser dengan mata yang tak kenal takut, maka harapan belum sepenuhnya padam. Karena pada akhirnya, seperti yang diajarkan hutan kepada mereka, hidup selalu menemukan jalan—bahkan di tanah merah yang paling tandus sekalipun.
Bogor, 8 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Davis, W., MacKenzie, I., & Kennedy, S. (1995). Nomads of the Dawn: The Penan of the Borneo Rain Forest. Pomegranate Artbooks.
Davis, W., & Henley, T. (1990). Penan: Voice for the Borneo Rainforest. Western Canada Wilderness Committee / Wild Campaign.
Sercombe, P. G., & Sellato, B. (Eds.). (2007). Beyond the Green Myth: Hunter-Gatherers of Borneo in the Twenty-First Century. Nordic Institute of Asian Studies.
Then, S. (2025, June 5). Penan communities mount human blockades to halt logging in ancestral forests. The Vibes. https://www.thevibes.com/articles/news/109018/penan-communities-mount-human-blockades-to-halt-logging-in-ancestral-forests
Lim, A. (2025, May 24). Walking with the Penan people of Borneo’s Sarawak rainforests. South China Morning Post. https://www.scmp.com/postmag/travel/article/3311300/walking-penan-people-borneos-sarawak-rainforests
Indigenous groups demand probe into Belaga forest clearing, cite MSPO violations. (2025, August 21). Borneo Post. https://www.theborneopost.com/2025/08/21/indigenous-groups-demand-probe-into-belaga-forest-clearing-cite-mspo-violations/
Amazon Aid. (2018). Wade Davis. https://amazonaid.org/artistas-para-el-amazonas/wade-davis/






