Rubarubu #152
Richard’s 21st-Century Bicycle Book:
Warisan Seorang Visioner di Atas Dua Roda
Pada suatu sore di awal tahun 1970-an, di sebuah apartemen sempit di London, seorang pria Amerika bernama Richard Ballantine sedang mengetik dengan penuh semangat di mesin tiknya. Ia bukanlah mekanik sepeda profesional, bukan pula mantan pembalap. Ballantine adalah seorang jurnalis dan penerbit yang baru saja menyadari sesuatu yang mengubah hidupnya: bersepeda bukan sekadar olahraga atau rekreasi, melainkan sebuah filosofi hidup yang utuh.
Sekitar pukul setengah lima suatu pagi, ia terbangun dari tidurnya dengan sebuah kalimat yang terukir jelas di benaknya yang kemudian menjadi pembuka buku legendarisnya: “Get a Bike” .
Dari momen epifani itulah lahir Richard’s Bicycle Book pada tahun 1972—sebuah buku yang oleh The New York Times disebut sebagai “bacaan terbaik, satu-satunya buku bagus yang pernah ditulis untuk pesepeda amatir.” Hampir tiga dekade kemudian, pada tahun 2001, Ballantine—yang kini lebih tua, lebih bijaksana, tetapi dalam banyak hal juga “lebih muda” berkat semangatnya yang tak pernah padam—menghadirkan Richard’s 21st-Century Bicycle Book.
Ini bukan sekadar edisi revisi. Ini adalah kelahiran kembali sebuah manifesto untuk milenium baru, lengkap dengan ilustrasi dari John Batchelor, David Eccles, dan Peter Williams yang membuat setiap halamannya hidup.
Membuka Richard’s 21st-Century Bicycle Book bukan seperti membuka manual teknis biasa. Tidak ada diagram kering yang membuat mata mengantuk. Tidak ada daftar spesifikasi yang membosankan. Sebaliknya, Ballantine menyapa pembacanya seperti seorang teman lama yang duduk di seberang meja kopi—ramah, jenaka, dan penuh dengan cerita-cerita menarik yang membuat Anda ingin segera memompa ban sepeda dan melesat ke jalanan. “Consciousness, self-awareness and development are the prerequisites of a life worth living,” tulis Ballantine dengan nada yang hampir filosofis.
“[When cycling] you experience the tang of the air and the surge of power as you bite into the road. You’re vitalised. As you hum along you fully and gloriously experience the day, the sunshine, the clouds, the breezes. You’re alive!.”
Pendahuluan buku ini bukan sekadar pengantar teknis tentang apa yang akan dibahas. Ia adalah sebuah deklarasi perang terhadap budaya mobil yang mendominasi abad ke-20. Ballantine, dengan gayanya yang khas, tidak segan-segan melontarkan kritik tajam terhadap ketergantung-an berlebihan pada kendaraan bermotor. Ia pernah menyatakan bahwa menggunakan mobil untuk perjalanan pendek sama absurdnya dengan “menggunakan bom atom untuk membunuh seekor kenari” . Ini adalah bahasa yang provokatif, tetapi itulah Ballantine: ia tidak pernah takut untuk mengejutkan pembacanya demi menyadarkan mereka.
Buku tahun 2001 ini hadir pada momen yang menarik dalam sejarah bersepeda. Di satu sisi, ledakan popularitas sepeda gunung telah membawa jutaan orang kembali ke dua roda. Di sisi lain, dunia masih didominasi oleh mobil, dengan kota-kota yang dirancang untuk kecepatan, bukan untuk manusia. Ballantine melihat ini sebagai kegilaan kolektif. Baginya, sepeda bukanlah mainan atau alat olahraga akhir pekan; ia adalah alat transportasi yang sah, bahkan unggul, untuk kehidupan sehari-hari—sebuah gagasan yang pada tahun 1972 dianggap radikal, tetapi pada tahun 2001 mulai diterima secara luas, setidaknya oleh mereka yang mau mendengarkan.
Ballantine juga menulis tentang “politik bersepeda”—sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan perjuangan para pesepeda untuk mendapatkan ruang yang layak di jalan raya yang didominasi mobil. Ia mengajak pembacanya untuk tidak bersembunyi di pinggir jalan, tetapi untuk mengambil posisi di jalur lalu lintas seperti kendaraan lainnya. “Assertive urban cycling” adalah istilah yang kemudian populer berkat buku ini, meskipun Ballantine sendiri lebih suka menyebutnya sebagai “common sense“—Anda memiliki hak yang sama di jalan raya seperti mobil, dan Anda harus menggunakannya.
Spektrum Lengkap Kehidupan Bersepeda
Richard’s 21st-Century Bicycle Book terbagi menjadi dua bagian besar, dengan total 21 bab ditambah lampiran “Done” yang menutup buku.
Bagian pertama buku ini (Bab 1 hingga sekitar Bab 10) adalah tentang pemilihan, pembelian, dan penyesuaian sepeda. Ballantine memulai dengan pertanyaan paling mendasar: “What is a Bike?”—sebuah pertanyaan yang jawabannya, menurutnya, tidak sesederhana yang dibayang-kan banyak orang. Ia membahas berbagai jenis sepeda: dari sepeda balap ramping hingga sepeda lipat yang praktis untuk komuter kota, dari sepeda kargo yang mampu mengangkut barang hingga sepeda listrik yang pada tahun 2001 masih dianggap futuristik tetapi kini, dua dasawarsa kemudian, menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap perkotaan . Ada bab khusus tentang “Special Bikes and Trikes” yang menunjukkan betapa beragamnya dunia dua roda—dan bahkan tiga roda.
Setelah pembaca memiliki sepeda yang tepat, Ballantine membawa mereka ke bagian yang paling praktis: perawatan dan perbaikan. Inilah yang membuat buku ini benar-benar unik. Ballantine percaya bahwa setiap pesepeda—bahkan mereka yang paling awam sekalipun—harus mampu memperbaiki sepedanya sendiri. Ia menulis petunjuk perbaikan dalam bahasa yang sangat jelas dan mudah diikuti, dilengkapi dengan ilustrasi garis yang gamblang. Seorang pengguna LibraryThing dengan jujur mengakui bahwa bukunya “wonderfully dog-eared and oil-stained” (penuh lipatan dan noda oli) karena ia menggunakannya untuk belajar memperbaiki sepeda. Bagi Ballantine, kemampuan untuk memperbaiki sepeda sendiri bukan hanya soal menghemat uang; ia adalah bagian dari filosofi kemandirian yang lebih besar—sebuah penolak-an terhadap budaya “gunakan dan buang” yang didorong oleh masyarakat konsumen.
Bagian kedua buku ini (Bab 11 hingga Bab 20) adalah tentang berkendara: di kota, di pedesaan, di gunung, dan bahkan dalam kompetisi. Ballantine mengajarkan pembacanya cara membaca lalu lintas, cara bernegosiasi dengan pengemudi mobil, dan yang terpenting, cara tetap aman di jalan. Ada bab tentang “Urban Commuting” yang sangat relevan bagi mereka yang mengguna-kan sepeda sebagai alat transportasi utama. Ada bab tentang “Mountain Biking” yang pada tahun 2001 sedang berada di puncak popularitasnya. Ada bab tentang “Veteran and Classic” bagi para kolektor dan penggemar sepeda antik. Dan ada bab tentang “Working in Cycling“—sebuah bab yang tidak biasa dalam buku sepeda, tetapi sangat mencerminkan keyakinan Ballantine bahwa bersepeda bisa menjadi lebih dari sekadar hobi; ia bisa menjadi profesi, karier, dan gaya hidup.
Kisah-Kisah dan Fakta Menarik yang Menginspirasi
Salah satu aspek paling menghibur dari buku Ballantine adalah kemampuannya menyelipkan cerita-cerita aneh dan lucu di tengah padatnya informasi teknis. Bagian yang paling terkenal—dan paling kontroversial—adalah panduannya tentang cara menghadapi anjing yang agresif. “Dogs and other creatures of the field and air are a menace to the cyclist,” tulis Ballantine dengan serius, sebelum kemudian mengakui, “I was once attacked by a determined and large goose” . Cerita tentang serangan angsa ini, yang disampaikan dengan gaya khas Ballantine, membuat pembaca terpingkal-pingkal sekaligus bersyukur bahwa mereka hanya perlu khawatir tentang anjing, bukan unggas petarung.
Namun di balik humornya, Ballantine memberikan saran yang sangat praktis. Dalam kondisi ekstrem dan situasi yang sangat terdesak, menurutnya, seorang pesepeda dapat melumpuhkan anjing penyerang dengan cara yang kontroversial—termasuk menggunakan pompa sepeda sebagai alat pertahanan. Bagian ini kemudian dihapus dari edisi-edisi berikutnya karena di-anggap terlalu berbahaya, tetapi ia tetap menjadi salah satu bagian yang paling sering di-kenang oleh para pembaca setia Ballantine.
Yang tidak kalah menarik adalah cerita Ballantine tentang bagaimana ia menulis buku pertama-nya. Ia adalah seorang Amerika yang tinggal di London, dan pada awal 1970-an, budaya ber-sepeda di Inggris sedang berada di titik nadir. Margaret Thatcher belum berkuasa, tetapi semangat “car economy” sudah mulai menguat. Ballantine menulis bukunya di sebuah apartemen kecil, dengan mesin tik manual, dan tanpa dukungan dari penerbit besar. Ia nekat, idealis, dan sepenuhnya percaya bahwa apa yang ia tulis akan mengubah dunia.
Dan ia benar. Richard’s Bicycle Book terjual lebih dari satu juta kopi dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Ketika Kembali ke Dua Roda Menjadi Keniscayaan
Dua dasawarsa setelah penerbitan Richard’s 21st-Century Bicycle Book, dunia telah berubah secara dramatis. Kita hidup di era kendaraan listrik, mobil otonom, skuter sewaan, dan aplikasi ride-hailing yang menjanjikan kenyamanan tanpa batas. Di tengah semua ini, sepeda—yang dulu oleh Ballantine disebut sebagai “alat transportasi paling efisien di dunia”—seolah-olah terpinggirkan. Namun ironisnya, justru di saat godaan kecepatan dan kemudahan semakin menggila, bersepeda kembali naik daun.
Pandemi COVID-19 mempercepat tren ini: kota-kota di seluruh dunia membangun jalur sepeda darurat, dan jutaan orang yang sebelumnya tidak pernah memikirkan sepeda kini mengguna-kannya sebagai alat transportasi utama.
Pesan Ballantine tentang bersepeda sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari—bukan sekadar olahraga akhir pekan—kini terasa lebih relevan dari sebelumnya. Di Jakarta, misalnya, komunitas pesepeda seperti “Bike to Work” telah tumbuh menjadi gerakan massal yang melibatkan ribuan komuter setiap harinya. Di Bandung, “Bandung Bike Week” menjadi ajang tahunan yang merayakan budaya sepeda. Di Yogyakarta, sepeda ontel tua kembali fashionable, bukan karena nostalgia semata, tetapi karena ia menawarkan alternatif yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan di tengah kemacetan yang semakin parah.
Namun tantangannya juga semakin kompleks. Seperti yang diuraikan oleh Bruce D. Epperson dalam Bicycles in American Highway Planning, kebijakan publik untuk kemudahan dan keselamatan bersepeda tidak semudah mengayuh sepeda. Di Indonesia, infrastruktur sepeda masih sangat terbatas. Jalur sepeda seringkali terputus-putus, tidak terawat, atau bahkan digunakan oleh kendaraan bermotor. Bahkan di Bogor khususnya di Jalan Raya Pajajaran bagian Kampus Sekolah Bisnis IPB, terdapat jalur sepeda yang berada di tengah jalan. Dengan pembatas hanya berupa garis maka risiko kecelakaan akan sangat besar. Keselamatan pesepeda di jalan raya masih menjadi masalah serius, dengan angka kecelakaan yang terus meningkat setiap tahunnya.
Di sinilah letak nilai abadi dari buku Ballantine. Ia tidak hanya mengajarkan cara memperbaiki ban bocor atau memilih helm yang tepat. Ia mengajarkan mentalitas. Ia mengajarkan bahwa bersepeda adalah pernyataan politik: sebuah pilihan sadar untuk melawan budaya konsumsi yang boros energi, untuk mengambil kembali ruang publik yang telah direbut oleh mobil, dan untuk menjalani hidup dengan lebih lambat, lebih sadar, dan lebih terhubung dengan lingkungan sekitar.
Mungkin karena tabiat manusia yang cenderung tergesa-gesa maka dalam menggapai kesenanganpun dilakukan dengan tergesa-gesa. Akibatnya kesenangan yang didapat juga terburu-buru bahkan malah terlewati. Sepeda mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru. Ia mengajarkan kita bahwa perjalanan sama pentingnya dengan tujuan. Dan di sinilah Ballantine, dengan gayanya yang khas—campuran antara idealisme hippie, pragmatisme mekanik, dan kenakalan intelektual—tetap menjadi suara yang paling jernih.
Seorang aktivis lingkungan Indonesia, Dyna Herlina, pernah mengatakan bahwa “kota yang baik bukanlah kota yang cepat bagi mobil, tetapi kota yang nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda.” Kata-kata ini bisa menjadi penutup yang tepat untuk refleksi kita tentang buku Ballantine. Ia tidak menjanjikan dunia yang sempurna. Ia hanya menawarkan sebuah alat—sebuah sepeda—dan sebuah keyakinan bahwa dengan mengayuhnya, Anda sudah menjadi bagian dari perubahan. Apakah Anda akan bergabung?
Memulai Perjalanan: Keputusan Membeli Sepeda
Setelah membuka buku dengan semangat membara di pendahuluan, Richard Ballantine langsung mengajak pembaca untuk mengambil langkah pertama yang paling menentukan. “Get a Bike!” bukan sekadar judul bab pertama yang provokatif; ia adalah sebuah perintah. Ballantine dengan tegas menyatakan bahwa langkah pertama menuju kebebasan bersepeda adalah mengambil keputusan—bukan keputusan tentang merek atau harga, tetapi keputusan eksistensial bahwa Anda akan menjadi seorang pesepeda. Ia menulis dengan keyakinan bahwa menunda-nunda hanya akan mengubur mimpi. Belilah sepeda, katanya, dengan nada yang hampir seperti seorang pelatih yang membangkitkan semangat timnya sebelum pertandingan besar.
Dari keputusan itu, Ballantine membawa pembaca ke pertanyaan paling fundamental: “What is a Bike?” Di sini, ia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan oleh buku panduan lainnya. Ia tidak langsung memberikan daftar spesifikasi teknis yang membosankan. Sebaliknya, ia memulai dengan kisah evolusi sepeda—dari “hobi kuda” (hobby horse) awal abad ke-19 tanpa pedal, hingga velocipede beroda besar yang berbahaya, hingga akhirnya “sepeda keselamatan” (safety bicycle) dengan dua roda sama besar yang menjadi fondasi semua sepeda modern.
Ia mempersonifikasikan sepeda sebagai makhluk hidup yang telah berevolusi selama hampir dua abad untuk mencapai bentuknya yang sekarang. Bagi Ballantine, memahami sejarah sepeda bukan sekadar pengetahuan akademis; ia adalah cara untuk menghargai kejeniusan desain yang sering kita anggap remeh.
Setelah fondasi sejarah terbangun, Ballantine membawa pembaca masuk ke dalam keragaman dunia sepeda di bab “The Kinds of Cycles“. Di sini, ia dengan penuh semangat menguraikan berbagai jenis sepeda yang tersedia bagi para pesepeda modern—dari sepeda balap ramping dengan stang turun yang membuat pengendaranya membungkuk aerodinamis, hingga sepeda gunung kekar dengan suspensi yang mampu menaklukkan jalur tanah berbatu, dari sepeda lipat yang bisa dilipat menjadi ukuran kecil untuk komuter kereta api hingga sepeda kota Belanda yang kokoh dengan posisi duduk tegak dan fender lebar yang melindungi dari cipratan air hujan. Ia juga menyentuh sepeda touring yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh dengan rak bagasi yang kuat, serta sepeda jalan raya (road bike) yang menjadi primadona balap.
Ballantine tidak hanya mendeskripsikan perbedaan fisik di antara jenis-jenis ini, tetapi juga “karakter” masing-masing—bagaimana sepeda balap terasa “lapar akan kecepatan” sementara sepeda kota terasa “sabar dan stabil”.
Memasuki bab “What is a Good Bicycle?”, Ballantine mengajukan pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi ternyata rumit. Apa yang membuat sebuah sepeda “baik”? Apakah harga yang mahal? Apakah merek terkenal? Ballantine dengan tegas mengatakan: tidak. Sebuah sepeda yang baik adalah sepeda yang cocok untuk Anda, untuk tujuan Anda, untuk tubuh Anda, dan untuk jalanan yang akan Anda lalui. Ia memecah kerangka sepeda menjadi komponen-komponennya: rangka (frame), yang ia sebut sebagai “jiwa” sepeda karena menentukan karakter keseluruhan; roda dan ban, yang merupakan satu-satunya titik kontak antara sepeda dan jalan; sistem pengereman, yang bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati; sistem transmisi (gir dan rantai), yang mengubah tenaga kaki Anda menjadi gerakan; dan komponen-komponen lain seperti setang, sadel, dan pedal. Ballantine menjelaskan material rangka—dari baja kromol yang klasik hingga aluminium yang ringan, dari titanium yang mewah hingga serat karbon yang canggih—dengan gaya bahasa yang membuat perbedaan teknis terasa seperti perbedaan kepribadian antara berbagai jenis kuda.
Bab “Zzzwwaaaammo!” adalah salah satu yang paling aneh dan paling menghibur. Judulnya, yang sepertinya merupakan onomatope untuk suara sesuatu yang melesat dengan kecepatan tinggi, adalah tentang aerodinamika. Ballantine dengan antusias menjelaskan bagaimana hambatan udara (air resistance) adalah musuh utama pesepeda pada kecepatan di atas 15 mil per jam. Ia menulis tentang posisi tubuh yang aerodinamis, tentang pakaian ketat yang mengurangi gesekan, tentang helm berbentuk tetesan air mata, dan tentang roda gipsi (disc wheel) yang mengurangi turbulensi.
Namun ia juga mengingatkan bahwa bagi pesepeda biasa yang tidak sedang berusaha memecahkan rekor, obsesi terhadap aerodinamika bisa berlebihan. “Kecuali Anda sedang balapan,” kelakar Ballantine, “hanya sedikit dari kita yang perlu khawatir tentang apakah sepeda kita memiliki ‘drag coefficient‘ yang optimal.” Bagian ini adalah contoh sempurna dari gaya Ballantine: ia memberikan informasi mendalam tentang aspek teknis, tetapi selalu dengan perspektif yang proporsional dan seringkali dengan selera humor yang kering.
Bab “Special Bikes and Trikes” membuka mata pembaca tentang betapa beragamnya dunia sepeda. Ballantine memperkenalkan sepeda tandem di mana dua orang mengayuh bersama, sepeda lipat yang menjadi favorit komuter di Jepang dan Eropa, sepeda kargo yang mampu mengangkut muatan berat hingga seratus kilogram, dan sepeda roda tiga (tricycle) yang bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa dengan kebutuhan stabilitas khusus—termasuk para lansia dan penyandang disabilitas. Ia juga menyentuh sepeda rekumben (recumbent) di mana pengendara duduk bersandar seperti di kursi malas, dengan posisi kaki ke depan—desain yang sebenarnya lebih aerodinamis dan lebih nyaman untuk perjalanan jarak jauh, tetapi dilarang dalam balapan profesional. Ballantine menulis tentang sepeda-sepeda ini dengan kekaguman seorang kolektor sekaligus kepraktisan seorang mekanik.
Memasuki bab “Some Advice on Selecting a Bike“, Ballantine mulai memberikan nasihat yang lebih personal. Ia mengatakan bahwa memilih sepeda mirip dengan memilih pasangan: jangan terburu-buru, cobalah beberapa opsi, dan dengarkan insting Anda. Ia memberikan panduan tentang ukuran rangka yang tepat berdasarkan tinggi badan dan panjang tungkai, tentang posisi sadel yang ideal sehingga lutut tidak terlalu tertekuk atau terlalu lurus saat pedal di titik terendah, dan tentang setang yang harus memungkinkan Anda mencapai rem dengan nyaman tanpa meregangkan punggung secara berlebihan.
Dari sini, pembaca dibawa ke bab “Buying a Bike“—sebuah panduan langkah demi langkah tentang proses pembelian sepeda. Ballantine membahas apakah lebih baik membeli sepeda baru atau bekas (jawabannya tergantung pada anggaran dan pengetahuan mekanik Anda), apakah toko sepeda lokal lebih baik daripada toko rantai besar (toko lokal biasanya memberikan layanan purna jual yang lebih baik), dan apakah membeli secara daring itu bijaksana (di tahun 2001, ini masih kontroversial; Ballantine merekomendasikan untuk setidaknya mencoba sepeda secara fisik sebelum membeli). Ia juga mengingatkan pembaca untuk tidak tertipu oleh harga murah yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, dan untuk selalu menguji sepeda dengan perjalanan singkat—”test ride“—sebelum memutuskan.
Bab “Accessories” adalah tentang semua perlengkapan tambahan yang membuat bersepeda lebih aman, lebih nyaman, dan lebih menyenangkan. Ballantine dengan tegas mengatakan bahwa helm adalah aksesori yang paling penting—bukan karena ia membuat Anda terlihat seperti pembalap profesional, tetapi karena ia bisa menyelamatkan nyawa Anda dalam kecelakaan. Ia juga membahas lampu depan dan belakang (wajib hukum di banyak negara untuk berkendara di malam hari), bel atau klakson (untuk memberi tahu pejalan kaki dan pengendara lain bahwa Anda ada di dekat mereka), tas dan keranjang (untuk membawa barang belanjaan atau bekal makan siang), dan pompa ban (yang harus selalu Anda bawa bersama kit perbaikan ban bocor). Ballantine juga menyentuh pakaian bersepeda—bukan seragam ketat yang mahal, tetapi pakaian yang nyaman, terlihat terang agar mudah dilihat pengemudi mobil, dan yang melindungi Anda dari cuaca.
Bagian pertama buku ini ditutup dengan bab “Fitting and Gearing“—mungkin bab yang paling teknis tetapi juga paling penting. Ballantine menjelaskan bagaimana menyesuaikan sepeda dengan tubuh Anda: tinggi sadel, posisi setang, sudut pedal, dan semua penyesuaian kecil yang dapat membuat perbedaan antara perjalanan yang menyenangkan dan perjalanan yang menyiksa. Ia juga membahas sistem gir—bagaimana cara kerjanya, bagaimana memilih rasio gigi yang tepat untuk medan yang Anda hadapi, bagaimana merawat rantai dan derailleur, dan bagaimana mengetahui kapan saatnya mengganti komponen yang aus.
Ballantine menggunakan analogi yang sangat membantu: gir rendah seperti gigi satu di mobil—sulit untuk mencapai kecepatan tinggi tetapi memudahkan Anda menanjak; gir tinggi seperti gigi paling atas—memungkinkan Anda melesat di jalan datar tetapi akan membuat lutut Anda berteriak jika Anda mencoba menanjak dengannya. Memahami gir, menurut Ballantine, adalah “rite of passage” bagi setiap pesepeda yang serius. Setelah Anda menguasainya, dunia terbuka lebar—tidak ada tanjakan yang terlalu curam, tidak ada jarak yang terlalu jauh.
Dengan sepuluh bab pertama ini, Ballantine telah membekali pembacanya dengan hampir semua yang perlu diketahui sebelum benar-benar mengayuh sepeda keluar rumah. Ia telah mengajarkan tentang sejarah, jenis, material, aerodinamika, aksesori, penyesuaian, dan sistem gir. Yang tersisa sekarang—yang akan dibahas di bagian kedua buku—adalah “bagaimana cara benar-benar mengendarainya”. Tetapi bahkan tanpa memasuki bagian itu, pembaca sudah merasakan bahwa mereka telah diterima ke dalam sebuah persaudaraan: persaudaraan para pesepeda yang tahu bahwa sepeda bukan sekadar alat transportasi, tetapi sebuah jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Menjadi Pesepeda Sejati di Semua Medan
Setelah sepuluh bab pertama yang membekali pembaca dengan pengetahuan tentang memilih, membeli, dan menyesuaikan sepeda, Richard Ballantine kini mengajak kita memasuki inti sejati dari pengalaman bersepeda: berkendara itu sendiri. Bagian kedua buku ini, yang terbentang dari Bab 11 hingga Bab 22, adalah tentang transformasi dari seseorang yang memiliki sepeda menjadi seorang pesepeda—dalam arti kata yang paling utuh. Bagi Ballantine, memiliki sepeda hanyalah awal; yang jauh lebih penting adalah bagaimana Anda menggunakannya di dunia nyata, dengan segala lalu lintasnya, tanjakannya, cuacanya, dan kebahagiaannya.
Fondasi Berkendara dan Filosofi Kecepatan
Bab “Riding Basics” adalah tempat Ballantine memulai dengan hal-hal yang paling mendasar: bagaimana duduk di sadel dengan benar, bagaimana memegang setang tanpa membuat pergelangan tangan tegang, bagaimana mengayuh dengan efisien menggunakan otot paha dan betis secara bergantian, dan yang terpenting, bagaimana berhenti dan mulai dengan mulus. Ballantine mengingatkan bahwa banyak pesepeda pemula mengabaikan dasar-dasar ini dan kemudian mengembangkan kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Ia menulis dengan sabar namun tegas: belajar bersepeda dengan benar mungkin membutuhkan beberapa hari kesadaran penuh, tetapi manfaatnya akan Anda rasakan seumur hidup.
Namun, dari semua bab di bagian ini, mungkin yang paling kontroversial sekaligus paling penting adalah “Traffic: Fast is Safe.” Judulnya sendiri terdengar paradoks. Bukankah yang aman adalah lambat dan hati-hati? Ballantine membalik logika itu. Di jalan raya yang didominasi mobil, pesepeda yang bergerak terlalu lambat justru lebih berbahaya, karena ia menciptakan ketidaksesuaian kecepatan yang besar dengan arus lalu lintas, memaksa pengemudi mobil untuk melakukan gerakan menyalip yang berisiko. Ballantine berargumen bahwa pesepeda harus berusaha mempertahankan kecepatan yang mendekati kecepatan kendaraan lain—atau setidaknya, tidak terlalu lambat—sehingga mereka menjadi bagian yang terintegrasi dari arus lalu lintas, bukan penghalang yang mengganggu.
Ia juga mengajarkan teknik “mengambil jalur” (taking the lane)—posisi di mana pesepeda berada di tengah-tengah jalur, memaksa kendaraan di belakang untuk menunggu dan menyalip dengan aman ketika ada ruang yang cukup. Bagi Ballantine, bersepeda di lalu lintas bukanlah tentang menjadi penakut; ia adalah tentang menjadi “assertive” tanpa menjadi agresif—sebuah seni yang membutuhkan keberanian sekaligus kebijaksanaan.
Kehidupan di Kota dan Pedesaan
Dari lalu lintas perkotaan yang padat, Ballantine beralih ke “Urban Commuting“—bab yang ditujukan bagi jutaan orang yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama ke tempat kerja. Ia membahas rute mana yang harus dipilih (seringkali jalan kecil yang lebih panjang tetapi lebih aman lebih baik daripada jalan besar yang pendek tetapi berbahaya), bagaimana membawa pakaian kerja tanpa kusut (gulung dengan rapi di tas punggung), apa yang harus dilakukan saat hujan (jas hujan yang dilengkapi reflektor adalah investasi yang bijaksana), dan bagaimana mengamankan sepeda saat diparkir di stasiun atau kantor (gembok U yang kuat, dan jangan pernah meninggalkan sepeda semalam di tempat umum). Ballantine menulis dengan semangat seorang misionaris: komuter sepeda adalah pahlawan tanpa tanda jasa dari revolusi transportasi perkotaan.
Bab “Cargo Cycles and Trailers” mungkin terdengar khusus, tetapi bagi Ballantine, ia adalah tentang liberasi sejati dari mobil. Sepeda kargo dan trailer memungkinkan seorang pesepeda untuk membawa barang belanjaan mingguan, anak-anak ke sekolah, atau bahkan kayu bakar untuk perapian. Ballantine dengan antusias mendeskripsikan berbagai jenis sepeda kargo: dari sepeda bak terbuka (longtail) yang memanjang di bagian belakang, hingga sepeda dengan bak depan (box bike) yang populer di Belanda dan Denmark. Ia bercerita tentang seorang temannya yang menggunakan sepeda kargo untuk membawa tiga anak sekaligus—dua di bak depan dan satu di kursi belakang—sambil tetap tersenyum di tengah hujan London. Ini bukan nostalgia; ini adalah bukti bahwa sepeda bisa menjadi kendaraan keluarga yang serius.
“Musim semi” bagi generasi 1990-an, “Mountain Biking!” adalah bab yang paling energik dari seluruh buku. Ballantine mengenang bahwa pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, sepeda gunung meledak dalam popularitas, membawa jutaan orang ke jalur-jalur tanah di hutan dan pegunungan. Ia membahas perbedaan antara sepeda gunung hardtail (suspensi depan saja, lebih ringan dan efisien) dan full-suspension (suspensi depan dan belakang, lebih nyaman di medan ekstrem), tentang teknik menuruni bukit curam (steep descent) dengan posisi tubuh ke belakang, dan tentang etika di jalur: selalu memberi jalan kepada pejalan kaki, jangan merusak vegetasi, dan tutup gerbang yang Anda buka. Ballantine menulis dengan kegembiraan seorang anak laki-laki yang baru menemukan mainan favoritnya: bersepeda gunung adalah “crack cocaine” bagi jiwa petualang.
Dari Rekreasi hingga Profesi
Bagi mereka yang lebih menyukai kecepatan yang lebih santai, “Country Roads and Trails” adalah tentang keindahan bersepeda di pedesaan—di mana suara klakson digantikan oleh kicauan burung, di mana polusi digantikan oleh aroma jerami yang baru dipotong. Ballantine memberikan tips tentang merencanakan rute jarak jauh: bawa peta yang cukup detail (ini tahun 2001, jauh sebelum smartphone dan Google Maps), rencanakan tempat istirahat setiap 25-30 kilometer, dan selalu bawa bekal lebih dari yang Anda kira Anda butuhkan. Ia juga membahas tentang bersepeda di malam hari di pedesaan—pengalaman yang sangat berbeda dari kota, di mana kegelapan total dan ketiadaan lalu lintas menciptakan rasa kebebasan yang hampir mistis.
Bab “Riding for Fitness” ditulis dengan nada yang lebih serius. Ballantine, yang di usia tuanya tetap bersepeda setiap hari, menjelaskan bagaimana sepeda adalah latihan kardiovaskular yang sempurna: berdampak rendah pada sendi (tidak seperti lari), tetapi mampu membakar kalori sebanyak olahraga apa pun jika dilakukan dengan intensitas yang cukup. Ia juga memperingatkan tentang risiko overtraining dan pentingnya hari istirahat. Bagi Ballantine, bersepeda untuk kebugaran bukanlah tentang memiliki tubuh six-pack atau menyelesaikan maraton; ia adalah tentang memiliki energi yang cukup untuk menikmati hidup, setiap hari, hingga usia lanjut.
“Competition” adalah bab bagi mereka yang ingin mengadu kecepatan dengan orang lain. Ballantine membahas berbagai bentuk kompetisi: dari criterium di mana pembalap melesat di sirkuit pendek perkotaan, hingga road race jarak jauh yang bisa mencapai 200 kilometer, dari time trial di mana pembalap start satu per satu melawan waktu, hingga track cycling di velodrome dengan kemiringan 45 derajat. Ballantine, yang bukan mantan pembalap profesional, menulis dengan perspektif seorang pengamat yang tajam: kompetisi sepeda adalah tontonan yang indah, tetapi bagi sebagian besar pesepeda rekreasi, ia lebih menarik untuk ditonton daripada diikuti. Namun ia mendorong pembaca untuk setidaknya mencoba satu balapan amatir—bukan untuk menang, tetapi untuk merasakan adrenalin yang tidak bisa didapatkan dari bersepeda santai.
Warisan dan Profesi
Bab “Veteran and Classic” adalah penghormatan Ballantine kepada sepeda-sepeda tua. Ia menulis dengan nada yang hampir sentimental tentang pesepeda yang mengoleksi dan merestorasi sepeda klasik dari era 1950-an hingga 1970-an: sepeda balap Prancis dengan rangka baja yang dilas tangan, sepeda Italia dengan komponen Campagnolo yang berkilau, sepeda Inggris Raleigh dengan sadel Brooks yang telah berumur setengah abad namun masih nyaman. Ballantine mengerti bahwa bagi sebagian orang, memiliki sepeda klasik bukanlah tentang kepraktisan, tetapi tentang menghubungkan diri dengan sejarah—tentang merasakan bagaimana rasanya bersepeda di era sebelum karbon dan komputer.
Lebih menarik lagi adalah “Working in Cycling”—bab yang sangat tidak biasa dalam buku sepeda pada umumnya. Ballantine membahas berbagai profesi yang terkait dengan sepeda: menjadi mekanik di toko sepeda, menjadi pemandu tur bersepeda, menjadi jurnalis sepeda, menjadi desainer rangka, menjadi manajer tim balap, dan bahkan menjadi “bike messenger” di kota-kota besar. Ia memberikan nasihat praktis tentang bagaimana memulai: magang di toko sepeda lokal, membangun portofolio tulisan tentang sepeda, atau mengikuti kursus mekanik bersertifikat. Bagi Ballantine, bekerja di industri sepeda bukan sekadar mencari nafkah; ia adalah panggilan, sebuah kesempatan untuk menghabiskan hidup Anda dikelilingi oleh hal yang Anda cintai.
Catatan Akhir: Perawatan Sepeda
Sebelum buku ini berakhir, Ballantine memberikan bab “Bike Care”—panduan komprehensif tentang merawat sepeda agar tetap dalam kondisi prima. Ia membahas pembersihan rantai dan gir (lebih sering lebih baik), pelumasan komponen yang bergerak (jangan terlalu banyak, karena akan menarik debu), pengecekan tekanan ban setiap minggu (ban yang kurang angin adalah penyebab utama kebocoran), dan penyesuaian rem dan gir secara berkala. Ballantine juga memberikan instruksi langkah demi langkah untuk perbaikan yang paling ditakuti setiap pesepeda: mengganti ban bocor di pinggir jalan. Ia menulis dengan gaya yang menenangkan: ini tidak sesulit yang Anda bayangkan, dan setelah Anda melakukannya dua atau tiga kali, Anda akan bisa melakukannya dalam waktu lima menit sambil bercanda dengan teman.
Akhirnya, buku ini ditutup dengan bab “Done!”—sebuah judul yang terdengar seperti desahan lega sekaligus seruan kemenangan. Di sini, Ballantine merangkum semua yang telah ia tulis, tetapi tidak dengan cara mengulang. Ia merenungkan perjalanan panjang yang telah ia lalui, dari seorang pemula yang bingung memilih sepeda pertamanya hingga menjadi salah satu penulis paling berpengaruh di dunia persepedaan. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada pembacanya bukan dengan pesan moral yang menggurui, tetapi dengan sebuah undangan: “Sekarang, pergilah dan kayuh. Dunia menunggu Anda. Jalanan menunggu Anda. Dan di balik setiap tanjakan yang membuat lutut Anda bergetar, ada pemandangan yang tidak akan pernah Anda lupakan. Selamat bersepeda!”
Dari dasar-dasar berkendara hingga kompetisi profesional, dari jalanan kota yang padat hingga jalur gunung terpencil, dari merawat sepeda hingga menjadikannya profesi, Ballantine telah membawa pembaca dalam perjalanan yang lengkap. Ia tidak hanya mengajarkan cara mengendarai sepeda; ia mengajarkan cara menjadikan sepeda sebagai bagian integral dari kehidupan—sebuah alat untuk kebugaran, petualangan, hubungan sosial, dan bahkan makna hidup. Ini adalah warisan dari Richard Ballantine, seorang pria yang yakin bahwa dengan dua roda, dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Cirebon, 13 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Ballantine, R. (2001). *Richard’s 21st-century bicycle book* (J. Batchelor, D. Eccles, & P. Williams, Illus.). The Overlook Press.
The Guardian. (2013, June 7). Richard Ballantine obituary. https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2013/jun/07/richard-ballantine
The Times. (2013, June 1). Richard Ballantine: Author of Richard’s Bicycle Book, an influential guide to everything to do with cycling, from dealing with punctures to dangerous dogs. https://www.thetimes.com/travel/destinations/north-america-travel/us-travel/new-york-city/richard-ballantine-jvd9q79qqfh
World of Books. (n.d.). Richard’s 21st century bicycle book by Richard Ballantine. https://www.wob.com/en-gb/books/richard-ballantine/richard-s-21st-century-bicycle-book/9780330377171
Powell’s Books. (n.d.). Richard’s 21st century bicycle book by Richard Ballantine. https://www.powells.com/book/richards-21st-century-bicycle-book-9781585671120
Library of Congress. (2001). *Table of contents for Richard’s 21st-century bicycle book*. https://catdir.loc.gov/catdir/toc/fy0801/00051510.html
LibraryThing. (n.d.). Richard’s 21st century bicycle book by Richard Ballantine. https://www.librarycat.org/lib/cctesttc1/item/139286506






