Rubarubu #160
Riding More with Less:
Merawat Roda di Tengah Rimba Sampah
Bayangkan sejenak gudang di belakang rumahmu. Di sana, mungkin teronggok sebuah sepeda tua berkarat, rantainya putus, bannya kempes, dan tak pernah lagi menyentuh aspal. Atau bayangkan tempat pembuangan akhir di pinggiran kota, di mana tumpukan logam bengkok, plastik pecah, dan karet busuk perlahan-lahan meracuni tanah yang menampungnya. Di sanalah, di tengah keheningan yang mencekik, sesungguhnya tersimpan sebuah pertanyaan yang mengganggu: mengapa kita begitu mudah membuang sesuatu yang masih bisa diperbaiki? Mengapa kita begitu cepat mengganti yang lama dengan yang baru, hanya karena modelnya berganti, atau karena pabriknya memutuskan bahwa perbaikan bukanlah bagian dari rencana bisnis mereka?
Lalu bayangkan sejenak, Anda sedang berdiri di depan sepeda kesayangan yang tiba-tiba mogok. Rantainya lepas, atau mungkin remnya sudah tidak seperti dulu. Pikiran pertama yang muncul mungkin sederhana: “Bawa ke bengkel saja.” Atau, jika Anda lebih modern dan serba cepat, “Beli baru saja, biar praktis.” Di sinilah Sam Tracy, dalam pengantar bukunya yang berjudul Riding More with Less: A Future for Bike Repair (2024), memulai sebuah pertanyaan yang mengganggu. Ia tidak serta-merta menyalahkan kebiasaan kita. Justru, dengan rendah hati ia mengakui bahwa toko sepeda lokal memang pantas mendapatkan dukungan kita. “Precious few strike it rich fixing bikes,” tulis Tracy, “and our business helps ensure their continuing presence” .
Namun, di balik kalimat ramah itu, ada sebuah undangan yang lebih dalam. Tracy bertanya: “Given the time and inclination, odds are good that you can learn to fix it yourself.” Pertanyaan ini, yang terkesan sederhana, sesungguhnya adalah sebuah protes halus terhadap budaya konsumtif yang mendefinisikan zaman kita. Mengapa kita harus selalu bergantung pada orang lain, pada produk baru, pada rantai pasok global yang rapuh? Mengapa kita tidak berani untuk kotor tangan, memegang obeng dan kunci pas, dan merawat sendiri apa yang kita miliki?
Pengantar ini bukanlah sekadar pendahuluan teknis. Ia adalah sebuah deklarasi filosofis tentang bagaimana kita hendak hidup di planet yang semakin sesak oleh sampah dan limbah industri.
Sam Tracy, seorang mekanik sepeda jalanan yang telah menghabiskan puluhan tahun di bengkel-bengkel komunitas dari Milwaukee hingga Mauritania, menulis Riding More with Less: A Future for Bike Repair (2024) sebagai sebuah jawaban—bukan hanya atas pertanyaan tentang sepeda, tetapi atas kegilaan konsumtif yang melanda peradaban modern. Buku ini terbit di tengah badai krisis iklim, di mana gunung sampah plastik terus meninggi, di mana sumber daya alam dikeruk habis-habisan untuk memproduksi barang-barang yang dirancang agar cepat rusak, dan di mana “budaya buang” telah menjadi nafas kedua kehidupan sehari-hari.
Dalam hiruk-pikuk itu, Tracy mengajak kita menarik napas dalam-dalam dan bertanya: mungkinkah kebahagiaan yang sejati justru ditemukan dengan lebih sedikit, bukan lebih banyak? Mungkinkah masa depan perbaikan—yang lambat, yang tekun, yang merawat—adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik?
Menolak “Stratifikasi dan Crapification“
Tracy membuka tulisannya dengan sebuah gerakan yang berani: ia menarik diri dari “obsolescence and disposability,” atau dengan kata yang lebih gamblang, dari stratifikasi dan crapification yang semakin mendefinisikan ekonomi konsumen modern. Dua kata yang ia gunakan—stratifikasi dan crapification—terasa menusuk. Stratifikasi adalah proses di mana barang-barang dikelompokkan ke dalam tingkatan-tingkatan yang membuat sebagian orang merasa tidak layak mendapatkan yang terbaik. Crapification (dari kata crap, sampah) adalah proses di mana kualitas barang sengaja diturunkan agar orang segera bosan dan membeli lagi.
Tracy tidak sedang menulis buku teori ekonomi. Ia adalah seorang mekanik yang tangannya hitam oleh gemuk dan oli. Tetapi dari bengkel-bengkel komunitas itulah ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sistem bekerja: sepeda-sepeda murah berkualitas rendah membanjiri pasar, komponen-komponen yang tidak kompatibel satu sama lain, dan suku cadang yang sengaja dipersulit agar orang lebih memilih membeli sepeda baru daripada memperbaiki yang lama. Ia menyebut fenomena ini sebagai “model-year mindset“—obsesi industri terhadap pergantian model setiap tahun yang memaksa konsumen untuk terus berlari di atas treadmill ketidakpuasan.
Padahal, seperti yang Tracy ingatkan, “sebagian besar pesepeda di dunia tidak mengendarai sepeda mahal atau bahkan yang modern.” Dari sudut pandang global, “opsi untuk membeli suku cadang baru bisa jadi bersifat pengecualian, bukan norma.” Dengan kalimat sederhana ini, Tracy membalik perspektif kita. Yang kita anggap “normal”—setiap kali ban bocor kita beli ban baru, setiap kali rantai putus kita beli rantai baru, setiap kali muncul model baru kita ingin mengganti seluruh sepeda—sesungguhnya adalah kemewahan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil umat manusia.
Bagi Tracy, buku ini adalah upaya untuk keluar dari lingkaran setan itu. Ia tidak sedang menulis utopia. Ia sedang menulis tentang realitas yang sudah berlangsung lama, tetapi seringkali kita abaikan. Di bengkel-bengkel komunitas (community bike shops) yang tersebar di berbagai penjuru dunia, para relawan dan mekanik—yang ia sebut dengan penuh kasih sebagai “shop rats” atau “tikus bengkel”—telah lama mempraktikkan seni perbaikan dengan biaya murah atau bahkan gratis . Mereka tidak sedang menunggu datangnya suku cadang baru dari pabrik yang jauh. Mereka memanfaatkan apa yang ada. Mereka menyelamatkan, merakit ulang, dan menciptakan solusi kreatif dari barang-barang yang oleh orang lain telah dinyatakan mati.
Pendekatan ini, tegas Tracy, bukanlah sebuah anomali. Dari perspektif global, justru inilah yang normal. Sebagian besar pesepeda di dunia, tulisnya, tidak mengendarai sepeda mahal, juga bukan sepeda model terbaru . “From this perspective,” ia menyimpulkan, “the option of new repair parts might even be exceptional, rather than normative” . Kalimat ini adalah sebuah pembalikan perspektif yang radikal. Apa yang kita anggap sebagai cara “normal” (beli baru saat rusak) sebenarnya adalah sebuah kemewahan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Selebihnya, manusia di planet ini sudah lama hidup dengan semangat riding more with less.
Selebihnya, di belahan dunia lain, orang merawat sepeda tua kesayangan dengan cara-cara kreatif yang membuat seorang mekanik Barat mungkin mengernyitkan dahi.
Salah satu referensi paling menarik dalam pengantar Tracy adalah penyebutannya tentang pandemi COVID-19. Ia menulis bahwa pandemi telah mengajarkan kita sebuah pelajaran yang tidak nyaman: “supply chain disruptions beyond our control can lead larger numbers of people towards reusing salvageable bike parts and other creative solutions.” Ketika pabrik-pabrik tutup, ketika pengiriman internasional tersendat, ketika toko-toko kehabisan stok, kita yang tadinya dimanjakan oleh kemudahan “beli baru” tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan: tidak ada yang baru untuk dibeli.
Di saat itulah, banyak orang terpaksa melakukan apa yang selama ini dilakukan oleh para “tikus bengkel” dengan sukarela: membongkar, membersihkan, memasang kembali, dan mencari solusi dari barang-barang bekas yang masih bisa diselamatkan. Tracy tidak merayakan pandemi sebagai sebuah berkah. Namun, ia menggunakannya sebagai bukti bahwa sistem konsumsi kita yang rapuh dapat runtuh kapan saja, dan bahwa kemampuan untuk memperbaiki bukanlah sekadar hobi, melainkan sebuah keharusan yang mungkin suatu saat akan menyelamatkan hidup kita.
Tracy dengan cerdik menyoroti bagaimana pandemi COVID-19 menjadi semacam ujian lakmus bagi ketergantungan kita pada rantai pasok global. Ketika pabrik-pabrik tutup, ketika pengiriman internasional tersendat, ketika toko-toko kehabisan suku cadang, banyak orang yang tadinya bisa dengan mudah “beli baru” tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan pahit: tidak ada yang baru untuk dibeli. Di saat itulah, kata Tracy, “gangguan rantai pasok di luar kendali kita membuat penggunaan kembali suku cadang yang masih bisa diselamatkan dan solusi kreatif lainnya menjadi jauh lebih realistis.”
Pandemi mengajarkan sebuah pelajaran yang sesungguhnya sudah lama diketahui oleh para mekanik bengkel komunitas: bahwa barang-barang tua yang kita buang masih menyimpan potensi besar. Sebuah hub yang bunyi dapat diservice. Sebuah velg yang bengkok masih bisa ditruing. Sebuah ban yang bocor bisa ditambal. Yang kurang bukanlah kemampuan teknis, tetapi kemauan untuk meluangkan waktu, dan keberanian untuk menolak narasi bahwa “baru selalu lebih baik.”
Sebentuk Haru di Akhir Kata
Di akhir pengantarnya, meskipun tidak secara eksplisit dikutip dalam sumber-sumber yang tersedia, Tracy meninggalkan kesan yang mendalam: buku ini adalah sebuah jembatan. Ia ditulis untuk mereka yang sudah mahir dalam seni perawatan sepeda, untuk “sesama tikus bengkel,” namun ia juga ditulis untuk mereka yang belum pernah memegang kunci pas sekalipun. Dengan gaya penulisan yang padat informasi namun tetap ringan—bahkan Library Journal memuji gaya humornya yang tidak mengintimidasi, seperti ketika ia mengatakan bahwa bunyi berdecit pada rangka sepeda “exist to mock us” (ada hanya untuk mengejek kita) —Tracy berusaha meruntuhkan tembok psikologis yang selama ini menghalangi orang untuk belajar memperbaiki.
Ia tidak menjanjikan bahwa semua orang akan menjadi mekanik ahli dalam semalam. Ia tidak memungkiri bahwa ada kerumitan teknis yang membutuhkan latihan. Bahkan, kritikus seperti Andrew Major dari Bike Mag berkomentar bahwa buku ini “terlalu teknis untuk pemula mutlak” dan lebih cocok untuk mereka yang “sudah akrab dengan perkakas” . Namun, Tracy membalas kritik ini dalam sebuah wawancara dengan menyatakan bahwa ia berusaha “menemui pembaca di mana mereka berada.”
Pada akhirnya, pengantar Tracy adalah sebuah cerita tentang pilihan. Di tengah budaya yang mendorong kita untuk terus membeli dan membuang, ia menawarkan jalan alternatif yang tidak glamor, tetapi penuh makna. Ini adalah jalan perawatan, kesabaran, dan kemandirian. Dengan kata-kata pembukanya, ia mengundang kita semua—baik yang masih ragu maupun yang sudah mahir—untuk turun ke bengkel, memunguti suku cadang bekas, dan menemukan kembali apa artinya bergerak di atas dua roda tanpa harus menghancurkan bumi kita tercinta.
Filsafat dari Bawah: “Kita Tikus Bengkel”
Salah satu aspek paling memikat dari buku Tracy adalah bagaimana ia tidak menulis dari menara gading. Ia adalah bagian dari komunitas yang ia sebut dengan penuh kasih sebagai “kita tikus bengkel” (we shop rats). Ini adalah para relawan di bengkel-bengkel komunitas (community bike shops) yang tersebar di berbagai kota, tempat orang bisa datang belajar memperbaiki sepedanya sendiri dengan biaya murah atau bahkan gratis. Di sanalah, di antara rak-rak suku cadang bekas, di antara obeng dan kunci pas yang sudah berkarat, lahirlah sebuah filosofi yang sangat revolusioner di zaman serba instan: filosofi perawatan.
Tracy mengutip banyak suara dari bengkel-bengkel ini di seluruh dunia. Mereka berbagi trik-trik kuno yang hampir terlupakan: bagaimana meluruskan rantai yang bengkok dengan palu, bagai-mana membuat bantalan rem dari bahan bekas, bagaimana membongkar hub yang macet tanpa alat khusus. Buku ini, meskipun penuh dengan istilah teknis seperti “Hozan C-358 fixed cup tool” , tetap terasa seperti percakapan hangat di bengkel—seorang mekanik senior yang sabar menjel sambil sesekali menyelipkan lelucon tentang “suara berdecit pada rangka sepeda yang ada hanya untuk mengejek kita” .
Namun, ada hal yang lebih penting dari sekadar trik teknis. Dalam kata pengantar untuk buku ini, Craig O’Hara dari Bike Den, Pennsylvania, menulis sebuah kalimat yang mungkin menjadi inti paling radikal dari seluruh buku Tracy: “Buku petunjuk perawatan mana lagi yang menyata-kan bahwa ‘hambatan terbesar untuk bersepeda adalah kapitalisme, klasisme, seksisme, dan rasisme’?” . Ini bukan sekadar buku tentang rantai dan gir. Ini adalah buku tentang keadilan. Tentang bagaimana akses terhadap mobilitas, terhadap kebebasan bergerak, terhadap kegembiraan sederhana bersepeda, telah dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar mekanika.
Melawan “Obsolesensi Terencana” dengan Perawatan
Di sinilah relevansi buku Tracy dengan dunia saat ini menjadi begitu terang benderang. Kita hidup di era di mana barang-barang dirancang untuk tidak mudah diperbaiki. Ponsel yang baterainya disegel, laptop yang komponennya disolder, mesin cuci yang suku cadangnya dihentikan produksinya setelah dua tahun. Istilah teknisnya adalah planned obsolescence—obsolesensi terencana.
Produsen ingin barangmu cepat rusak agar kamu cepat kembali ke toko.
Tracy tidak secara eksplisit menyebut istilah ini, tetapi seluruh buku adalah sebuah manifesto melawannya. Ia menunjukkan bahwa ada jalan lain. Sepeda, sebagai sebuah teknologi sederhana yang elegan, sebenarnya sangat ramah perbaikan. Hampir semua komponennya bisa dibongkar, dibersihkan, dilumasi, dan dipasang kembali. Sepeda yang dirawat dengan baik dapat bertahan puluhan tahun, bahkan diturunkan dari generasi ke generasi. Tracy menulis, dengan gaya yang mengalir dan penuh dengan pengalaman langsung, tentang bagaimana merawat, bukan mengganti. Tentang bagaimana “membeli sekali, menangis sekali” (buy-once-cry-once) untuk komponen berkualitas yang tahan lama, daripada membeli yang murah lima kali .
Bayangkan dampaknya jika etos ini diterapkan tidak hanya pada sepeda, tetapi pada semua aspek kehidupan. Jika ponsel kita bisa dibongkar dan baterainya diganti. Jika laptop kita bisa di-upgrade RAM-nya. Jika pakaian kita bisa ditambal dan dijahit ulang. Jika perabot rumah tangga kita bisa diperbaiki, bukan dibuang. Dunia akan menghasilkan jauh lebih sedikit sampah. Sumber daya alam tidak akan terkuras begitu cepat. Dan yang lebih penting, kita akan membangun hubungan yang berbeda dengan barang-barang yang kita miliki—hubungan yang didasarkan pada perawatan dan rasa syukur, bukan pada konsumsi dan kebosanan.
Ada sebuah kutipan indah dari Tracy saat ia menulis tentang karat. Ia menyebut baut-baut yang berkarat sebagai “figur Cassandra kita”—mereka sudah memperingatkan sejak awal, tetapi kita tidak mau mendengar . “Ikatan karat mungkin telah melampaui kekuatan baut itu sendiri.” Karat adalah metafora sempurna untuk kerusakan lingkungan yang kita abaikan: ia datang perlahan, diam-diam, dan ketika kita menyadarinya, seringkali sudah terlambat. Lebih dalam lagi, buku Tracy mengajarkan tentang kerendahan hati. Seorang mekanik yang baik tahu bahwa ia tidak bisa mengalahkan logam. Yang bisa ia lakukan adalah memahami sifatnya, merawatnya, dan menerima bahwa pada suatu titik, segala sesuatu akan usang. Ini adalah pelajaran yang sangat relevan untuk krisis energi dan lingkungan. Kita tidak bisa terus-menerus memompa sumber daya dari bumi dengan kecepatan yang tak terkendali. Pada suatu titik, kita harus belajar untuk hidup dengan apa yang ada.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep qana’ah—merasa cukup dengan apa yang dimiliki, tidak serakah, dan tidak terus-menerus menginginkan lebih. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, menulis tentang bahaya al-ḥirṣ (ketamakan) yang tidak pernah puas meskipun gunung emas diberikan. Seorang yang qana’ah, sebaliknya, adalah orang yang merawat apa yang ia miliki, mensyukurinya, dan tidak membuang-buang. Sam Tracy, dengan gayanya yang khas dan tidak menggurui, sebenarnya sedang mengajarkan qana’ah modern: tidak perlu terus membeli sepeda baru jika sepeda lamamu masih bisa berfungsi dengan sedikit perawatan.
Dari dunia non-muslim, kita bisa mengingat kata-kata Henry David Thoreau, sang filsuf transendentalis Amerika, yang pernah menulis dalam Walden: “Kekayaan sejati seseorang dapat diukur dari apa yang dapat ia lakukan tanpa.” Tracy tidak sesederhana itu—ia tidak menyuruh kita hidup tanpa barang. Ia menyuruh kita merawat barang. Tapi semangatnya sama: kebahagiaan tidak terletak pada akumulasi, melainkan pada kecukupan dan kemandirian.
Siapa yang Harus Membaca Buku Ini?
Seorang pengulas dari Bike Mag bernama Andrew Major sempat mempertanyakan klaim sampul bahwa buku ini adalah “manual perbaikan sepeda untuk semua orang lainnya.” Ia berargumen bahwa buku ini terlalu teknis untuk pemula mutlak, dan lebih cocok untuk mereka yang sudah “akrab dengan perkakas.” Tracy menanggapi kritik ini dengan rendah hati dalam sebuah wawancara, menyatakan bahwa ia memang berusaha “menemui pembaca di mana mereka berada” dan bahwa banyak pengulas lain merasa gaya penulisannya “humoris dan tidak mengintimidasi.”
Perdebatan ini sebenarnya mencerminkan sebuah ketegangan yang lebih besar. Di satu sisi, kita ingin agar keterampilan perbaikan diakses oleh sebanyak mungkin orang. Di sisi lain, perbaikan sepeda yang rumit memang membutuhkan pengetahuan dan latihan. Namun, semangat buku Tracy tidak boleh hilang dalam perdebatan teknis ini. Ia sedang menawarkan sebuah orientasi hidup, bukan hanya instruksi mekanis. Ia sedang mengatakan: hentikan kebiasaan membuang. Mulailah kebiasaan memperbaiki. Dan jika kamu tidak tahu caranya, cari bengkel komunitas terdekat, bergabunglah dengan “tikus bengkel” lainnya, dan belajarlah.
Tentu saja, tidak semuanya indah. Tracy jujur tentang keterbatasan pendekatannya. Tidak semua sepeda bekas bisa diselamatkan. Tidak semua komponen bisa diperbaiki dengan trik murah. Dan ia juga mengakui bahwa e-bike—dengan komponen elektriknya yang rumit dan baterai lithium-ion yang sulit didaur ulang—adalah sebuah tantangan baru bagi filosofi “riding more with less” . (Ia bahkan menyindir bahwa e-bike, “paling banter, melakukan lebih dengan lebih” —alias menggunakan lebih banyak sumber daya untuk hasil yang sama.)
Namun, justru kejujuran inilah yang membuat buku ini terasa otentik. Tracy tidak menjual mimpi utopis tentang dunia tanpa sampah. Ia hanya menawarkan sebuah langkah kecil: besok pagi, sebelum kamu membuang sepeda tuamu ke tempat pembuangan, coba bawa ke bengkel komunitas. Lihat apa yang bisa dilakukan. Mungkin, hanya mungkin, sepeda itu masih punya cerita yang belum selesai.
Menyusuri Rangka, Memahami Jiwa: Sebuah Perjalanan Melalui Anatomi Sepeda
Bayangkan seorang ahli bedah yang hendak mengoperasi pasiennya. Sebelum pisau menyentuh kulit, ia harus memahami setiap organ, setiap urat nadi, setiap tulang yang tersusun rapi. Demikian pula Sam Tracy dalam tiga belas bab inti bukunya Riding More with Less: A Future for Bike Repair(2024) —ia membawa pembaca menyusuri anatomi sepeda seolah sedang membedah sebuah makhluk hidup yang bernapas, berdenyut, dan suatu saat akan renta. Tidak ada yang terlewatkan: dari alat-alat paling dasar hingga bingkai yang menjadi tulang punggung, dari sistem kemudi di kepala hingga stang yang menjadi perpanjangan tangan, dari roda yang berputar tanpa lelah hingga ban yang setia mencengkeram aspal dan tanah. Lalu ada hub, sadel, kabel kendali, rem, drivetrain yang rumit, dan di bagian paling akhir, sebuah bab pendek namun sarat makna tentang karat.
Bagi Tracy, setiap komponen ini bukanlah sekadar potongan logam mati. Masing-masing memiliki watak, kelemahan, dan cara berkomunikasi dengan mekanik yang mau mendengarkan. Ia menulis dari pengalaman puluhan tahun di bengkel-bengkel komunitas, dari Milwaukee hingga Mauritania, tempat “tikus-tikus bengkel” belajar bahwa merawat sepeda pada akhirnya adalah merawat hubungan antara manusia dan mesin, antara keinginan untuk bergerak dan tanggung jawab untuk menjaga.
Alat-alat yang Merendahkan Hati
Sebelum menyentuh sepeda itu sendiri, Tracy memulai dengan perkakas. Ini adalah langkah yang terkesan sepele, tetapi baginya fundamental: seseorang tidak akan pernah bisa memperbaiki apa pun jika ia tidak mengenal alat yang dipegangnya. Bukan hanya nama-namanya—kunci pas, obeng, pemotong kabel, alat penarik crankset—tetapi juga filosofi di baliknya. Tracy mengajarkan bahwa alat yang baik tidak harus mahal, tetapi harus tepat. Ia juga mengingatkan bahwa terlalu banyak alat justru bisa membuat bingung, bahwa “pembelian sekali, tangis sekali” untuk satu set kunci hex yang berkualitas lebih baik daripada membeli yang murah lima kali .
Dalam bagian ini, Tracy tidak sekadar mendaftar. Ia bercerita tentang bagaimana sebuah kunci pas yang aus bisa melukai mur, bagaimana obeng yang tidak tepat bisa merusak kepala sekrup, dan bagaimana seorang mekanik yang sabar belajar untuk “merasakan” alih-alih memaksa. Ada kebijaksanaan di sini yang melampaui perbaikan sepeda: bahwa menghormati alat berarti menghormati pekerjaan, dan bahwa kerendahan hati adalah awal dari semua keterampilan.
Rangka: Tulang Punggung yang Bercerita
Dari alat, Tracy beralih ke rangka—bagian yang paling fundamental karena ia adalah “tulang punggung” yang menyatukan semua komponen lain. Di sini, Tracy mengajak pembaca mengenal berbagai jenis material: baja yang klasik dan mudah diperbaiki, aluminium yang ringan namun getas, karbon yang eksotis tetapi sulit diselamatkan jika retak. Ia tidak memihak secara dogmatis, tetapi ada kecintaan yang jelas pada rangka baja tua yang bisa dilas ulang, diluruskan, dan dihidupkan kembali berkali-kali. Ini sejalan dengan semangat keseluruhan bukunya: more with less, lebih banyak dengan lebih sedikit.
Bagi Tracy, rangka adalah cerita. Sebuah rangka tua yang penyok di tabung atasnya mungkin menyimpan kenangan tentang jatuh di tikungan tajam. Sebuah rangka yang berkarat di sekitar bottom bracket mungkin sudah terlalu lama terparkir di hujan. Seorang mekanik yang baik, seperti seorang detektif, bisa membaca jejak-jejak ini dan memutuskan apakah rangka itu masih layak diselamatkan atau sudah waktunya dipensiunkan.
Keputusan untuk “menyerah” pada sebuah rangka, tulis Tracy, bukanlah kekalahan. Ia adalah bagian dari siklus alami, sama seperti makhluk hidup yang pada akhirnya akan kembali ke tanah. Namun sebelum titik itu tiba, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperpanjang umur.
Kepala, Stang, dan Tubuh yang Dipanjangkan
Dari rangka, Tracy bergerak ke headset (sistem kemudi di bagian depan rangka), lalu stem(penghubung antara headset dan stang), lalu handlebars (stang) itu sendiri. Ia menjelaskan bagaimana komponen-komponen ini bekerja bersama untuk memberikan kendali. Sebuah headset yang longgar akan membuat sepeda terasa goyah dan tidak stabil; sebuah stem yang tidak sejajar akan membuat bahu pegal setelah perjalanan jauh; sebuah stang yang terlalu lebar atau terlalu sempit akan mengubah seluruh posisi tubuh pengendara.
Tracy menulis dengan gaya yang mengalir, seolah ia sedang mengajak pembaca duduk di bengkel sambil memegang sepeda di hadapan mereka. “Condongkan sepeda ke dinding dan goyangkan stangnya,” ia seolah berbisik. “Rasakan apakah ada gerakan yang tidak seharusnya.” Perhatian pada detail-detail kecil inilah yang membedakan mekanik yang hanya “pasang-bongkar” dari mekanik yang benar-benar merawat.
Dalam tradisi filsafat tubuh, fenomenolog Maurice Merleau-Ponty pernah menulis bahwa “tubuh adalah kendaraan kita untuk berada di dunia.” Tracy, tanpa menyebut nama filsuf itu, menunjukkan bahwa stang adalah perpanjangan dari tangan, dan bahwa saat setang terasa “hidup” di genggaman, sepeda dan pengendara menjadi satu kesatuan.
Roda, Ban, Hub: Tempat Bumi dan Logam Berciuman
Jika rangka adalah tulang punggung dan stang adalah lengan, maka roda adalah kaki yang tak pernah lelah. Tracy menghabiskan beberapa bab untuk membahas bagian ini secara mendetail. Ia berbicara tentang wheels secara utuh, lalu tires and inner tubes, lalu hubs (poros di tengah roda). Baginya, roda adalah tempat pertemuan paling intens antara sepeda dan dunia. Ban yang aus menunjukkan jejak perjalanan. Hub yang bunyi pertanda gemuk yang habis. Jari-jari yang kendor bisa membuat velg bengkok dan perjalanan menjadi tidak nyaman.
Tracy dengan rendah hati mengakui bahwa membangun roda dari nol—memasang jari-jari satu per satu, menyetel ketegangannya, dan meluruskannya—adalah salah satu keterampilan paling sulit dalam perbaikan sepeda. Namun ia juga menegaskan bahwa itu bukanlah sihir. Dengan kesabaran dan latihan, siapa pun bisa mempelajarinya . Ia memberikan trik-trik praktis, seperti memberi tanda pada jari-jari yang longgar dengan selotip kecil, atau menggunakan sepeda itu sendiri sebagai truing stand dadakan.
Bagian tentang ban dan ban dalam (inner tubes) adalah yang paling akrab bagi kebanyakan pesepeda. Tambal ban adalah ritual pertama yang biasanya dipelajari. Namun Tracy mengajak kita melangkah lebih jauh: bagaimana menambal lubang di dinding samping ban, bagaimana menggunakan “sabun cuci piring” sebagai pelumas untuk memasang ban yang susah, dan bagaimana mendaur ulang ban bekas menjadi tire boot darurat. Ia mengutip praktik-praktik dari bengkel komunitas di berbagai negara, menunjukkan bahwa solusi kreatif seringkali lebih berharga daripada suku cadang baru yang mahal.
Sadel, Kabel, Rem: Kenyamanan dan Keselamatan dalam Satu Tarikan Napas
Sadel dan seatpost adalah komponen yang sering diabaikan, padahal keduanya menentukan kenyamanan perjalanan. Tracy bercerita tentang bagaimana sadel yang salah bisa membuat tulang ekor sakit berhari-hari, dan bagaimana seatpost yang macet (karena karat, lagi-lagi karat) bisa menjadi mimpi buruk yang membutuhkan pelumas, pemanasan, bahkan terkadang kekuatan kasar untuk melepaskannya.
Kemudian ia beralih ke control cables dan brakes. Kabel adalah urat saraf sepeda; ketika mereka mulai berkarat atau putus, perintah dari tangan tidak pernah sampai ke rem atau gigi dengan sempurna . Tracy mengajarkan cara mengganti kabel, melumasinya dengan ringan, dan memastikan ujung-ujungnya dilindungi oleh ferrule (tutup kabel kecil) agar tidak berjumbai.
Rem adalah komponen yang tidak bisa ditawar. Tracy dengan tegas mengatakan bahwa jika rem tidak bekerja dengan sempurna, sepeda tidak boleh dikendarai. Ia membahas rem blok (rim brakes) yang sederhana dan rem cakram (disc brakes) yang lebih modern, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia juga mengingatkan bahwa banyak masalah rem sebenarnya berawal dari kabel yang macet atau brake pad yang sudah aus, bukan dari kaliper rem itu sendiri .
Drivetrain: Jantung yang Berputar dan Bernapas
Bab tentang drivetrains adalah yang paling panjang dan teknis, dan pantas demikian. Drivetrain—yang terdiri dari pedal, crankset, rantai, cassette (roda gigi belakang), dan derailleurs (pemindah gigi)—adalah jantung mekanis sepeda. Di sinilah tenaga dari otot-otot kaki diubah menjadi gerakan maju. Dan di sinilah banyak hal bisa menjadi salah.
Tracy dengan sabar membawa pembaca memahami rantai: bagaimana membersihkannya, melumasinya, mengukur keausannya, dan menggantinya ketika sudah terlalu renggang. Rantai yang aus tidak hanya membuat perpindahan gigi menjadi kasar, tetapi juga akan mempercepat keausan pada cassette dan chainring, sehingga biaya perbaikan membengkak. Ia mengajarkan mazhab “membersihkan rantai dengan lap kering dan melumasinya dengan ringan” —sebuah filosofi yang sederhana namun sering diabaikan oleh mereka yang lebih suka menyemprotkan cairan pembersih dengan boros.
Ia kemudian membahas derailleurs depan dan belakang, dua komponen yang paling sering membuat orang frustrasi. Tracy mengakui bahwa menyetel derailleur memang rumit, tetapi ia menolak menyebutnya sebagai “ilmu hitam.” Dengan mengikuti prosedur yang sistematis—mulai dari memeriksa limit screw, menyetel tegangan kabel, hingga memutar barrel adjuster—siapa pun bisa mendapatkan perpindahan gigi yang mulus kembali .
Karat: Cassandra yang Tak Didengarkan
Dan tibalah kita pada bab terakhir, “Rust,” yang mungkin hanya beberapa halaman tetapi menjadi inti spiritual seluruh buku. Tracy menyebut baut-baut yang berkarat sebagai “figur Cassandra kita”—mereka sudah memperingatkan sejak awal, tetapi kita tidak mau mendengar . Karat adalah metafora untuk kerusakan yang datang perlahan, yang bisa dicegah dengan perawatan rutin, tetapi selalu kita abaikan sampai terlambat.
Tracy menulis tentang karat dengan gaya puitis yang langka dalam buku panduan perbaikan. Ia menjelaskan reaksi kimia di baliknya—oksidasi logam saat terkena air dan oksigen—tetapi ia juga bercerita tentang perjuangan seorang mekanik melawan karat: merendam baut dalam penetrating oil, memanaskannya dengan heat gun, memukulnya dengan palu, dan kadang-kadang, setelah semua usaha gagal, mengambil gergaji untuk memotong baut itu dan menggantinya dengan yang baru.
“Rust,” tulis Tracy, “reminds us that all things are finite, but also that neglect accelerates endings.” Karat mengingatkan bahwa segala sesuatu terbatas, tetapi kelalaian mempercepat akhir. Kutipan ini bisa dibaca sebagai pesan tentang sepeda, tetapi juga tentang planet kita. Krisis lingkungan adalah karat raksasa yang merayap di peradaban kita. Kita bisa memilih untuk terus mengabaikannya sampai semuanya hancur, atau kita bisa mulai merawat—sedikit demi sedikit, dengan kesabaran dan ketekunan—sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Menyintesis Rangka, Menemukan Jiwa
Jika kita membaca ketiga belas bab ini secara bersamaan, sebagai sebuah aliran narasi yang utuh, satu kesimpulan besar muncul: bahwa sepeda bukanlah mesin mati. Ia adalah organisme yang hidup, tumbuh, dan usang. Setiap komponennya membutuhkan perhatian, dan seorang mekanik yang baik adalah seorang penjaga yang setia, bukan sekadar operator yang dingin.
Tracy tidak pernah kehilangan kesadaran bahwa buku ini adalah sebuah dokumen politik. Di balik setiap baut yang dikencangkan, setiap rantai yang dilumasi, ada pernyataan tentang bagaimana seharusnya kita hidup: tidak boros, tidak tergesa-gesa, dan tidak tergantung pada rantai pasok global yang rapuh. Dalam dunia yang didorong oleh “obsolesensi terencana,” tindakan memperbaiki adalah sebuah protes. Dalam budaya yang mendorong kita untuk membuang, tindakan merawat adalah sebuah revolusi.
Dan di sinilah relevansi buku ini untuk situasi saat ini menjadi begitu terang. Kita tidak bisa mengubah seluruh sistem konsumsi dalam semalam. Tapi kita bisa mulai dari sepeda kita sendiri. Kita bisa belajar membedakan bunyi rantai yang kering dan rantai yang sehat. Kita bisa belajar membersihkan hub yang kotor daripada membeli hub baru. Kita bisa belajar merawat, alih-alih membuang.
Pada akhir perjalanan membaca bagian inti Riding More with Less, kita tidak akan menjadi mekanik ahli. Tapi kita akan membawa pulang sebuah keyakinan baru: bahwa di bengkel kecil di belakang rumah, dengan set kunci pas sederhana dan sepeda tua yang setia, kita sedang berlatih untuk hidup yang lebih baik. Hidup yang lebih lambat, lebih sadar, dan lebih ramah terhadap bumi. Hidup dengan lebih banyak bersepeda, lebih sedikit membuang, dan di tengah-tengahnya, menemukan kembali apa artinya menjadi manusia yang merawat.
Ketika Teknologi Baru Bertemu Filosofi Lama
Bayangkan sejenak Anda sedang berdiri di depan dua buah sepeda. Yang pertama adalah sepeda tua dari tahun 1980-an, rangka baja, komponen sederhana, dan hampir setiap bagiannya bisa dibongkar dengan satu set kunci pas standar. Yang kedua adalah sepeda gunung listrik modern, dengan baterai lithium-ion yang tertanam di rangka bawah, motor di hub tengah, sensor torsi yang rumit, dan layar LCD kecil di stang yang menyala saat tombol ditekan. Sepeda mana yang lebih mudah diperbaiki? Jawabannya jelas. Tapi pertanyaan yang lebih dalam, yang diajukan Sam Tracy di bab terakhir bukunya Riding More with Less: A Future for Bike Repair (2024) yang berjudul “A Future for Bike Repair,” adalah: bagaimana kita bisa mempertahankan semangat perawatan dan kemandirian di tengah banjir teknologi yang semakin kompleks?
Bab penutup ini bukanlah sebuah kesimpulan yang menggembirakan secara naif. Tracy tidak berpura-pura bahwa semua masalah akan terpecahkan dengan mudah. Ia justru memulai dengan kejujuran yang jarang ditemukan dalam buku-buku bertema lingkungan atau perbaikan: ia mengakui bahwa masa depan perbaikan sepeda berada di persimpangan jalan yang genting. Di satu sisi, ada kebangkitan kesadaran akan pentingnya perbaikan, didorong oleh krisis iklim, pandemi yang mengganggu rantai pasok, dan gerakan Right to Repair yang semakin kuat. Di sisi lain, ada arus deras inovasi teknologi yang, tanpa disadari, telah menciptakan hambatan-hambatan baru bagi mereka yang ingin memperbaiki barangnya sendiri.
E-Bike: Sekutu atau Pengkhianat?
Tidak bisa dipungkiri bahwa e-bike (sepeda listrik) adalah salah satu fenomena terbesar dalam dunia sepeda dua dasawarsa terakhir. Bagi banyak orang, e-bike adalah pintu masuk menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah berbukit, yang memiliki keterbatasan fisik, atau yang ingin mengganti perjalanan mobil pendek dengan sepeda tanpa harus tiba di tempat kerja dengan keringat bercucuran. Tracy tidak menolak manfaat ini. Namun, dengan khas ia tidak ragu menunjukkan sisi gelapnya.
Dalam bab ini, Tracy menyindir e-bike dengan kalimat yang tajam namun tetap lucu: e-bike, “paling banter, melakukan lebih dengan lebih” (best-case scenario, doing more with more) . Maksudnya sederhana: e-bike memang mengurangi emisi jika menggantikan perjalanan mobil, tetapi ia sendiri adalah produk yang membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk diproduksi (baterai lithium, motor magnetik, komponen elektronik) dan jauh lebih sulit diperbaiki daripada sepeda konvensional. Ia mengutip pengamatannya sendiri di bengkel-bengkel komunitas: “Saya sering melihat e-bike dari merek tertentu yang baterainya tidak dapat diganti, motornya tertanam di hub sehingga seluruh roda harus dibuang jika motor mati, dan sistem kontrolnya dipatenkan sehingga hanya dealer resmi yang bisa mengakses perangkat lunak diagnostiknya.”
Tracy tidak sedang menyerukan penghentian e-bike. Ia sedang menyerukan regulasi dan perubahan desain. Ia menyebut gerakan Right to Repair sebagai salah satu harapan terbesar, di mana aktivis di Eropa dan Amerika Serikat mendorong undang-undang yang mewajibkan produsen menyediakan suku cadang, alat, dan informasi perbaikan kepada publik, bukan hanya ke bengkel resmi. Sepeda, tegas Tracy, seharusnya tidak menjadi seperti ponsel pintar yang baterainya disegel dan layarnya sulit diganti. Sepeda adalah alat mobilitas dasar, dan akses untuk memperbaikinya adalah masalah keadilan.
Bengkel Komunitas sebagai Benteng Perlawanan
Jika teknologi modern adalah ombak besar yang menghantam pantai perbaikan mandiri, maka bengkel-bengkel komunitas (community bike shops) adalah dermaga-dermaga kecil yang bertahan. Tracy menghabiskan sebagian besar bab akhir ini untuk merayakan keberadaan tempat-tempat tersebut, sambil juga mengakui tantangan yang mereka hadapi.
Bengkel komunitas adalah ruang di mana orang bisa datang dengan sepeda rusak, meminjam alat, mendapatkan bimbingan dari relawan sukarela, dan belajar memperbaiki sendiri. Mereka beroperasi dengan dana terbatas, seringkali mengandalkan donasi sepeda bekas dan suku cadang yang diselamatkan dari tempat pembuangan. Dalam tulisannya, Tracy dengan hangat menggambarkan suasana bengkel semacam itu —”tempat di mana oli menetes di lantai beton, di mana ada stoples kopi tua berisi baut-baut campur, di mana seorang anak kecil untuk pertama kalinya berhasil memasang rantai yang lepas dan tertawa bangga.”
Tracy berargumen bahwa bengkel-bengkel ini bukan hanya tempat perbaikan, tetapi juga pusat pembelajaran dan pemberdayaan. Mereka mengajarkan bahwa keterampilan teknis tidak boleh dimonopoli oleh segelintir orang bersertifikat. Mereka menunjukkan bahwa perawatan mandiri adalah bentuk perlawanan terhadap ekonomi konsumtif. Mereka juga menjadi ruang aman bagi mereka yang selama ini merasa terintimidasi oleh budaya toko sepeda yang maskulin dan elitis.
Namun, Tracy juga jujur tentang keterbatasan mereka. Banyak bengkel komunitas kekurangan relawan terampil, terutama yang paham tentang e-bike atau sepeda modern dengan sistem internal cable routing yang rumit . Mereka juga sering kesulitan mendapatkan suku cadang untuk model-model terbaru. Di sinilah, Tracy berargumen, dukungan dari pemerintah dan industri sangat diperlukan. Bukan dalam bentuk subsidi untuk sepeda baru, tetapi dalam bentuk dukungan untuk infrastruktur perbaikan.
Right to Repair: Dari Gerakan Pinggiran Menuju Kebijakan Publik
Tidak banyak buku tentang perbaikan sepeda yang membahas kebijakan publik, tetapi Tracy melakukannya dengan cerdas. Ia menjelaskan bahwa perjuangan untuk Right to Repair bukan hanya tentang sepeda, tetapi tentang prinsip dasar: ketika Anda membeli sebuah barang, Anda berhak untuk membukanya, memperbaikinya, dan memodifikasinya tanpa harus meminta izin dari pabrik. Prinsip ini, yang sudah menjadi kebiasaan di zaman kakek-nenek kita, kini terancam oleh paten perangkat lunak, segel elektronik, dan ancaman pembatalan garansi.
Tracy mengutip contoh dari industri traktor di Amerika Serikat, di mana petani tidak bisa memperbaiki traktor John Deere mereka sendiri karena harus menggunakan perangkat lunak berlisensi. “Sepeda tidak akan menjadi serumit itu,” tulisnya, “tetapi tren ke arah sepeda yang ‘terhubung’ dengan bluetooth, aplikasi ponsel, dan sensor-sensor pintar adalah peringatan dini.”
Ia menyebut sekelompok aktivis dan organisasi seperti The Repair Association dan iFixit yang telah lama mengadvokasi hak untuk memperbaiki. Tracy menulis dengan nada mendesak namun tetap tenang: “Kita tidak perlu menunggu sampai sepeda kita menjadi seperti ponsel cerdas yang baterainya tidak bisa diganti. Kita bisa mulai sekarang, dengan mendukung undang-undang Right to Repair di tingkat lokal, dengan memilih produk dari perusahaan yang pro-perbaikan, dan dengan menyebarkan kesadaran bahwa memperbaiki itu mungkin dan penting.”
Ingatan tentang Masa Depan
Salah satu bagian paling menyentuh dalam bab ini adalah ketika Tracy merenung tentang hubungan antara perbaikan dan waktu. Ia menulis tentang sebuah sepeda tua yang ia temukan di gudang bengkel komunitas di Milwaukee—rangka Schwinn dari tahun 1970-an, berkarat, bannya kempes, namun tetap utuh. “Orang yang terakhir mengendarai sepeda ini mungkin sudah tua, atau mungkin sudah tiada,” tulisnya. “Tapi sepeda ini masih di sini, menunggu. Dengan sedikit perawatan, ia bisa dikendarai lagi oleh anak muda yang belum lahir ketika pabriknya tutup.”
Di sinilah Tracy mencapai puncak filosofisnya. Memperbaiki bukan hanya tentang menghemat uang atau mengurangi sampah. Ia adalah tentang kontinuitas, tentang menjaga agar yang baik dari masa lalu tidak hilang, tentang memberikan warisan kepada masa depan. Di saat dunia berlomba menciptakan hal-hal baru dan melupakan yang lama, tindakan memperbaiki adalah tindakan mengingat. Ia melambatkan waktu. Ia mengatakan: tidak semua yang lama harus dibuang. Tidak semua yang baru lebih baik.
Tracy mengutip seorang relawan di bengkel komunitannya yang mengatakan, “Saya tidak sedang menyelamatkan dunia. Saya hanya menyelamatkan sepeda ini. Tapi mungkin, dengan menyelamatkan sepeda ini, saya menyelamatkan sebagian kecil dari dunia.” Kutipan ini merangkum semangat seluruh bab: bahwa masa depan perbaikan tidak akan datang dari solusi besar dan terobosan teknologi, tetapi dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara kolektif, dari bengkel-bengkel komunitas yang terus bertahan, dan dari individu-individu yang memilih untuk merawat daripada membuang.
Sebuah Harapan yang Tidak Naif
Tracy menutup bukunya bukan dengan seruan heroik atau kesimpulan yang menggembirakan secara berlebihan. Ia lebih memilih sikap yang ia sebut sebagai “optimisme yang waspada.” Ia tahu bahwa tantangannya besar: e-bike terus membanjiri pasar, produsen semakin sering menggunakan komponen proprietary (khusus dan tidak kompatibel dengan merek lain), dan generasi muda mungkin lebih nyaman menekan tombol “beli sekarang” daripada memegang obeng.
Namun ia juga melihat tanda-tanda kebangkitan. Gerakan Right to Repair mendapatkan momentum di Parlemen Eropa dan beberapa negara bagian AS. Bengkel-bengkel komunitas bermunculan di kota-kota besar maupun kecil. Pandemi telah mengajarkan banyak orang bahwa rantai pasok global bisa runtuh sewaktu-waktu, dan bahwa keterampilan dasar seperti memperbaiki ban bocor atau menyetel rem adalah bentuk kemandirian yang tidak ternilai.
“Pada akhirnya, masa depan perbaikan sepeda tergantung pada kita,” tulis Tracy. “Bukan pada pabrik, bukan pada pemerintah, bukan pada teknologi ajaib. Tapi pada apakah kita bersedia meluangkan waktu untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan memilih untuk memperbaiki daripada membuang. Masa depan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kita harus membangunnya, satu baut pada satu waktu.”
Catatan Akhir: Lebih Banyak Bersepeda, Lebih Sedikit Membeli
Di akhir perjalanan membaca Riding More with Less, kita tidak akan menjadi mekanik ahli dalam semalam. Kita mungkin masih akan bingung membedakan bottom bracket BSA dan PressFit. Kita mungkin masih akan mengutuk ketika rantai terus lepas di tengah tanjakan. Tapi kita akan membawa pulang sebuah pertanyaan baru: apakah aku benar-benar membutuhkan barang baru ini, atau apakah yang aku butuhkan hanyalah merawat yang sudah aku miliki?
Di tengah gempuran iklan, di tengah tekanan sosial untuk terus “upgrade,” di tengah rasa cemas bahwa kita ketinggalan zaman, buku Tracy adalah sebuah oase yang tenang. Ia mengingatkan bahwa kebebasan sejati—yang dirasakan saat angin menerpa wajah di atas sepeda—tidak pernah memerlukan dompet tebal atau sepeda termahal. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk belajar, kesabaran untuk merawat, dan keberanian untuk berkata: cukup.
Riding More with Less bukan hanya tentang sepeda. Ia adalah tentang bagaimana kita ingin menjalani sisa hidup kita di planet yang semakin sesak. Apakah kita akan terus menjadi bagian dari masalah—membeli, membuang, membeli lagi—ataukah kita akan memilih menjadi bagian dari solusi: merawat, memperbaiki, dan bersyukur?
Pilihan ada di tangan kita. Dan mungkin, pilihan itu dimulai dari hal sekecil mengencangkan baut yang kendur, alih-alih membuang seluruh sepeda.
Bogor, 12 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Library Journal. (n.d.). Review of Bicycle! A Repair & Maintenance Manifesto. Dikutip dalam S. Tracy, Riding more with less: A future for bike repair. PM Press.
Major, A. (2024, July 24). Pedaling parsimoniously – A book & cog review, sort of. Bike Mag. https://www.bikemag.com/mountain-bike-gear/riding-more-with-less-book-review
Midwest Book Review. (n.d.). Review of Bicycle! A Repair & Maintenance Manifesto. Dikutip dalam S. Tracy, Riding more with less: A future for bike repair. PM Press.
O’Hara, C. (2024). Praise for Riding More with Less. Dalam S. Tracy, Riding more with less: A future for bike repair. PM Press.
Tracy, S. (2024). Riding more with less: A future for bike repair. PM Press.
Tracy, S. (2024, September 10). A response to Andrew Major’s “Pedaling parsimoniously – A book & cog review, sort of” [Blog post]. PM Press Blog. https://blog.pmpress.org/2024/09/10/a-response-to-andrew-majors-pedaling-parsimoniously-a-book-cog-review-sort-of/






