Rubarubu #159
Mountain Biking, Culture and Society:
Lebih dari Sekadar Gowes di Tanah Terjal
Gerakannya begitu lekas dan sigap. Berkelebat dan lenggak lenggok diantara kekar pepohonan. Deras meluncur dengan debu yang mengepul di belakang roda sepeda saat meluncur menuruni lereng, semburat senja menyelinap di sela-sela pepohonan, dan detak jantung yang berpacu seirama dengan getaran tanah. Itulah gambaran romantik bersepeda gunung. Bagi Jim Cherrington dan tiga belas lebih kontributor dalam bukunya yang berjudul Mountain Biking, Culture and Society (2024), aktivitas ini bukan sekadar pelarian sesaat dari hiruk-pikuk kota. Lebih dari itu, sepeda gunung adalah cermin yang memantulkan gelombang besar pergulatan sosial, politik, dan lingkungan yang sedang membentuk—atau bahkan mengancam—wajah peradaban kita saat ini.
Buku ini hadir di tengah “badai sempurna” krisis iklim dan konsumerisme. Dalam esai reflektif ini, kita akan menyelami argumen-argumen kunci dari Cherrington dan kawan-kawan, mencari relevansinya dengan dunia yang kepanasan dan “boros energi”, serta bertanya: dari balik setang sepeda yang berlumpur, hikmah apa yang bisa kita petik untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik?
Memotret Kultur yang Kompleks dan Kontradiktif
Cherrington mengawali bukunya dengan proklamasi berani: bahwa budaya sepeda gunung itu kompleks dan penuh kontradiksi. Tidak ada satu narasi tunggal tentang “pesepeda gunung”. Melalui empat bagian besar yang terbagi rapi—Identitas, Tubuh, Lingkungan, dan Politik Budaya—buku ini membedah realitas yang sering terlewatkan di balik euforia olahraga ekstrem ini.
Pada bagian pertama tentang Identitas, kita diajak bertanya siapa sebenarnya yang duduk di atas sadel itu. Lesley Ingram-Sills, misalnya, mengupas tuntas identitas pengguna e-mountain bike. Apakah mereka “pengkhianat” olahraga sejati atau justru pintu masuk bagi generasi baru yang sadar lingkungan? Dalam bab ini, terlihat jelas bagaimana buku ini tidak takut menyentuh titik paling sensitif sekalipun dalam komunitas tersebut.
Bagian kedua beralih ke “Tubuh”, yang paling menarik adalah sumbangsih Mike Lloyd tentang A sociology of how things go wrong in mountain biking: falling into place (Sosiologi tentang bagaimana sesuatu menjadi kacau dalam bersepeda gunung: jatuh pada tempatnya). Lloyd tidak melihat kecelakaan sebagai kegagalan teknis semata, melainkan sebuah momen sosiologis yang mendefinisikan ulang batas antara kemampuan manusia dan materialitas sepeda . Bersama dengan eksplorasi Benjamin Moreland tentang rasa sakit, bagian ini menegaskan bahwa bersepeda gunung adalah pengalaman yang sangat membumi—secara harfiah dan kiasan.
Bagian paling krusial untuk pembahasan kita adalah bagian ketiga: Mountain biking environments. Di sinilah buku ini mulai berdarah. Tom Campbell mengajukan pendekatan holistik untuk jalur sepeda yang lestari, sementara Liam Healy mengingatkan kita pada filosofi dasar no dig, no ride—bahwa merawat jalur adalah bagian tak terpisahkan dari bersepeda . Clare Nattress bahkan membawa kita ke ranah yang lebih kelam dengan konsep “polusi udara sebagai kekerasan lambat” dalam perjalanan multi-hari. Ini adalah pengingat bahwa bahkan di alam terbuka, kita tidak bisa lepas dari racun peradaban industri.
Terakhir, bagian tentang Politik Budaya membedah isu sosial yang membara, mulai dari hambatan bagi perempuan (The impossible climb) hingga hubungan antara jalur sepeda dengan komunitas adat di British Columbia, di mana Tavis Smith dan rekannya mengajak kita untuk ride, (re)connect and (re)build.
Buku ini pada intinya adalah panggilan untuk melihat sepeda gunung sebagai sebuah ‘structure of feeling’ (struktur perasaan)—sebuah istilah klasik dari Raymond Williams yang digunakan Cherrington . Ini adalah cara bagi masyarakat kontemporer untuk merasakan, merundingkan, dan terkadang melawan tekanan dari kapitalisme, perubahan iklim, dan ketidaksetaraan.
Ketika Roda Berputar di Atas “Waktu yang Terbatas”
Lantas, apa relevansi buku ini dengan situasi dunia saat ini yang penuh dengan “tantangan krisis lingkungan dan boros energi”? Jawabannya sangat gamblang: buku ini menempatkan olahraga yang kita cintai tepat di garis depan medan perang ideologi antara eksploitasi dan konservasi.
Jakun kita mungkin tersedak saat membaca laporan dari dunia nyata bahwa industri sepeda global pun tidak luput dari pola konsumtif take-make-waste. Seperti diulas dalam majalah Mountain Biking UK, fantasi kita tentang hidup sehat bisa menjadi ironi pahit; pembuatan rangka aluminium untuk satu model sepeda saja mengonsumsi listrik setara konsumsi kota besar seperti New York selama hampir lima setengah hari.
Namun, buku Cherrington tidak hanya menyajikan data kelam. Buku ini menunjukkan bahwa kesadaran sedang berubah. Upaya-upaya seperti yang dilakukan Bike Glendhu di Selandia Baru—beroperasi sepenuhnya di luar jaringan listrik (off-grid) dan berkomitmen menanam 30.000 tanaman asli—adalah bukti bahwa model regeneratif itu mungkin . Demikian pula, penyelenggaraan UCI Mountain Bike World Cup yang netral karbon di Val di Sole, Italia, menunjukkan bahwa bahkan ajang olahraga besar pun bisa bertanggung jawab.
Buku ini mengajarkan bahwa krisis energi bukanlah akhir dari kegembiraan, melainkan akhir dari kegembiraan yang picik. Dalam bab “Repairing and caring for DIY designed mountain bike and BMX trails” (Memperbaiki dan Merawat Jalur Sepeda Gunung dan BMX Rancangan Sendiri), Liam Healy menekankan etos no dig, no ride. Jika tidak ikut menggali dan merawat, jangan menuntut untuk bisa bersepeda. Ini adalah metafora sempurna untuk krisis iklim: jika kita tidak merawat Bumi, jangan harap kita layak hidup di atasnya.
Dari pertemuan antara kebijaksanaan buku ini dan gempita krisis dunia, setidaknya ada tiga hikmah besar yang bisa kita petik untuk masa depan yang lebih baik.
Pertama, pergeseran dari kepemilikan ke pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh aktivis lingkungan Mike Nickerson dalam esainya yang menginspirasi, “More Fun, Less Stuff” . Kita tidak perlu sepeda karbon termahal dengan komponen baru setiap musim. Buku Cherrington secara implisit mengkritik industri yang didorong oleh maskulinitas toksik dan teknologi. Kebahagiaan sejati dalam bersepeda gunung tidak terletak pada apa yang kita kendarai, melainkan pada bagaimana tubuh kita berinteraksi dengan tanah. Ini sejalan dengan pemikiran filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, yang mengatakan, “All truly great thoughts are conceived while walking.” (Semua pemikiran yang benar-benar hebat dikandung saat berjalan). Kita ganti “walking” dengan “riding”, dan maknanya tetap sama: alam adalah ruang kontemplasi, bukan pameran barang.
Kedua, mengakui hutang pada bumi dan sejarah. Tavis Smith dalam bab tentang British Columbia mengingatkan bahwa tanah tempat kita bersepeda adalah wilayah adat yang memiliki luka sejarah . Ini mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati. Di tengah krisis lingkungan, kita tidak bisa lagi bersikap seperti penakluk alam. Kita harus menjadi penjaga. Seperti kata bijak dari International Olympic Committee (mengutip semangat Pierre de Coubertin), kita harus menggunakan olahraga untuk “melindungi bumi dan melahirkan hati manusia yang baik” .
Ketiga, ritual perawatan sebagai bentuk perlawanan. Krisis energi sering terasa terlalu besar untuk dihadapi seorang diri. Namun, tindakan merawat—memperbaiki rantai sepeda sendiri, membersihkan jalur dari sampah, atau bergabung dengan komunitas membangun trail—adalah tindakan politik yang konkret. Ini adalah bentuk “perawatan” yang oleh para aktivis lingkungan disebut sebagai slow activism (aktivisme lambat). Buku ini memberi kita izin untuk memulai dari hal kecil.
Ada sebuah adegan kecil yang mungkin akrab bagi siapa pun yang pernah terjun ke dunia sepeda gunung. Dua orang pesepeda bertemu di persimpangan jalur. Yang satu mengendarai sepeda listrik berat dengan ban gemuk, jaket teknis mengilat, dan komputer di setang yang merekam setiap detak jantung. Yang satu lagi mengayuh sepeda tua tanpa suspensi, rantai berkarat, dan wajah bersimbah keringat. Mereka saling melirik. Tatapan mereka mengandung campuran rasa curiga, penghormatan, dan kadangkala, penghinaan halus. Siapa yang lebih “nyata”? Siapa yang layak disebut pesepeda gunung sejati?
Dalam pengantar bukunya yang berjudul Mountain Biking, Culture and Society (2024), Jim Cherrington memulai dengan menyadari sebuah kebenaran mendasar yang sering kali luput dari perhatian: bahwa budaya sepeda gunung itu rumit, cair, dan penuh dengan ketegangan internal. Tidak ada satu entitas homogen yang bisa kita sebut “komunitas sepeda gunung”. Yang ada adalah kumpulan suara yang sering kali saling berbenturan. Dan buku ini, tegas Cherrington, adalah upaya untuk mendengarkan semua suara itu dengan saksama.
Meminjam Sayap Raymond Williams
Cherrington membuka tulisannya dengan sebuah pengakuan intelektual yang jujur. Ia meminjam sebuah konsep kunci dari pemikir budaya asal Wales, Raymond Williams, yaitu structure of feeling (struktur perasaan). Namun, dengan rendah hati ia mengakui bahwa ia tidak akan menggunakan konsep tersebut secara kaku seperti yang mungkin diinginkan Williams. Sebaliknya, Cherrington melihatnya sebagai sebuah “titik awal yang produktif” untuk memahami bagaimana sepeda gunung telah berkembang menjadi fenomena budaya global yang begitu beragam.
Apa itu structure of feeling? Dalam benak Cherrington, konsep ini merujuk pada “nilai-nilai yang muncul, makna-makna yang dialami secara pra-linguistik, dan ketegangan-ketegangan struktural yang mendefinisikan momen historis tertentu.” Dengan kata lain, sepeda gunung bukan sekadar olahraga. Ia adalah sebuah perasaan yang hidup di udara—campuran antara euforia kebebasan, ketegangan maskulinitas, kerinduan akan alam, dan kecemasan akan komodifikasi. Ia adalah sesuatu yang “belum sepenuhnya terbentuk” tetapi sudah bisa dirasakan oleh siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Cherrington dengan cerdik menolak untuk membungkam keragaman yang ada. Ia tidak berusaha menciptakan definisi tunggal tentang apa itu bersepeda gunung. Sebaliknya, ia mengundang para kontributor dalam bukunya untuk mengeksplorasi tempat-tempat di mana makna-makna ini diciptakan, dinegosiasikan, dan ditentang. Dari jalur-jalur tersembunyi di hutan hingga arena kompetisi internasional, dari bengkel-bengkel komunitas hingga ruang-ruang virtual media sosial, buku ini bergerak lincah untuk menangkap denyut nadi sebuah budaya yang terus berubah.
Polemik yang Hidup: E-MTB dan Seterusnya
Salah satu isu paling menghangatkan yang diangkat Cherrington adalah perdebatan seputar sepeda gunung listrik atau e-mountain bike (e-MTB). Di sini, ia merujuk pada karya Lesley Ingram-Sills yang menjadi salah satu bab dalam buku ini. Ingram-Sills, kata Cherrington, mengupas tuntas bagaimana e-MTB “merusak pemahaman tradisional tentang sepeda gunung dengan memperkenalkan dinamika inklusi-eksklusi yang baru.”
Perdebatan ini menarik karena menunjukkan betapa rapuhnya batas-batas identitas dalam budaya sepeda gunung. Para puris berpendapat bahwa menggunakan motor adalah “kecurangan”, bahwa bersepeda gunung haruslah tentang usaha otot murni, tentang keringat dan pengorbanan. Sementara para pendukung e-MTB berdalih bahwa teknologi ini membuka pintu bagi mereka yang mungkin tidak lagi muda, atau yang memiliki keterbatasan fisik, atau yang hanya ingin menikmati alam tanpa harus kehabisan napas di tanjakan pertama.
Cherrington tidak memihak. Sebagai editor, ia bertindak seperti seorang konduktor yang membiarkan setiap instrumen berbicara dengan nadanya sendiri. Namun, ia menyadari bahwa perdebatan semacam ini bukanlah sekadar soal preferensi teknis. Ia adalah cerminan dari pergulatan yang lebih besar tentang apa artinya “autentik”, tentang siapa yang berhak disebut sebagai bagian dari komunitas, dan tentang bagaimana teknologi mengubah hubungan kita dengan tubuh, alam, dan satu sama lain.
Menghadapi “Titik Buta” Kolektif
Salah satu kualitas paling menarik dari pengantar Cherrington adalah keberaniannya untuk menunjuk pada apa yang tidak dibahas secara memadai dalam literatur yang ada. Ia menyebutnya sebagai “lantunan atau titik buta” . Di sini, Cherrington mengakui bahwa budaya sepeda gunung, seperti banyak budaya olahraga lainnya, memiliki kecenderungan untuk mengabaikan isu-isu tertentu—mungkin karena isu-isu itu tidak nyaman, atau karena isu-isu itu mengancam narasi heroik yang selama ini dibangun.
Namun, daripada menghindari titik-titik buta ini, Cherrington justru menjadikannya sebagai pusat perhatian. Buku ini, tegasnya, akan berusaha menyoroti “isu-isu historis dan kontemporer seputar marginalisasi, dominasi, komodifikasi, dan banyak lagi” . Ia mengajak kita untuk tidak hanya menikmati keindahan jalur setapak, tetapi juga bertanya: Siapa yang membangun jalur ini? Siapa yang tidak diundang untuk bersepeda di sini? Bagaimana industri ini berkontribusi pada kerusakan lingkungan yang justru ingin kita nikmati?
Di sinilah pengantar Cherrington menjadi lebih dari sekadar pengantar biasa. Ia menjadi sebuah deklarasi etis. Buku ini tidak akan menjadi buku pujian bagi kehebatan sepeda gunung. Ia akan menjadi buku yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan sulit, yang membongkar mitos-mitos yang nyaman, dan yang mendorong pembaca untuk melihat aktivitas yang mereka cintai dengan mata yang lebih kritis.
Sebagai seorang editor yang cakap, Cherrington tidak hanya memperkenalkan tema-tema besar, tetapi juga menata panggung untuk para kontributor yang akan berbicara di bab-bab selanjutnya. Ia dengan apik merangkum sumbangsih dari para penulis seperti Mike Lloyd yang membahas sosiologi tentang “sesuatu yang menjadi kacau” saat bersepeda, atau Tom Campbell dengan pendekatan holistiknya terhadap jalur sepeda yang berkelanjutan. Ia juga menyebut Clare Nattress yang membawa isu polusi udara sebagai “kekerasan lambat” dalam konteks perjalanan multi-hari, serta Liam Healy yang mengingatkan pada etos “no dig, no ride” .
Setiap kontributor, dalam penggambaran Cherrington, membawa perspektif unik yang bersama-sama membentuk sebuah mozaik kompleks tentang kehidupan di atas dua roda. Tidak ada suara yang dominan. Tidak ada klaim kebenaran mutlak. Yang ada adalah dialog—kadang harmonis, kadang takut-takut—tentang bagaimana kita bergerak di dunia, bagaimana kita merasakan tanah di bawah ban, dan bagaimana kita bernegosiasi dengan tekanan-tekanan budaya yang lebih besar.
Siapa Kita di Atas Sadel? Sebuah Perjalanan Menelusuri Identitas
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah mengganggu benak setiap pesepeda gunung di suatu malam, ketika ia selesai membersihkan lumpur dari rantai dan mulai merefleksikan hari yang telah dilalui: Siapa sebenarnya aku ini? Apakah aku seorang atlet sejati yang terukur denyut nadinya, seorang petualang romantik yang merindukan kebebasan, atau sekadar konsumen lain yang termakan bujuk rayu industri yang haus keuntungan? Mungkin, jawabannya adalah ketiga-tiganya sekaligus. Dan di sinilah buku Mountain Biking, Culture and Society (2024) memulai penggaliannya yang paling personal: pada bagian pertama yang berjudul “Mountain Biking Identities”. Di sini, tiga tim peneliti—Thomas Leeder dan Lee Beaumont, kemudian Kieren McEwan bersama Neil Weston dan Paul Gorczynski, serta Lesley Ingram-Sills—masing-masing membawa pisau bedah sosiologis untuk membedah lapisan-lapisan jiwa yang tersembunyi di balik helm dan kacamata hitam.
Yang menarik dari ketiga bab ini adalah keberanian mereka untuk tidak memberikan jawaban yang mudah. Bersepeda gunung, ternyata, bukanlah sekadar pelarian dari rutinitas. Ia adalah panggung di mana kita memainkan berbagai peran—kadang heroik, kadang rapuh, dan seringkali penuh kontradiksi.
Antara Dapur dan Jalur: Dunia Pelatih yang Tak Terlihat
Perjalanan identitas ini dimulai dari sebuah tempat yang jarang mendapat sorotan: benak para pelatih sepeda gunung. Thomas Leeder dan Lee Beaumont (2024) memilih metode yang tidak biasa—story completion atau “menyelesaikan cerita”—untuk mengakses dunia batin para pelatih. Mereka memberikan skenario terbuka dan meminta para pelatih untuk menyelesaikannya dengan imajinasi mereka sendiri. Hasilnya sungguh menarik. Leeder dan Beaumont menemukan bahwa di benak para pelatih, proses kepelatihan bukanlah sekadar transfer keterampilan teknis. Ia adalah sebuah narasi yang sarat dengan harapan, ketakutan, dan mimpi tentang “bahagia selamanya” —sebuah cita-cita bahwa apa yang mereka lakukan akan membawa dampak positif jangka panjang bagi para atlet binaan.
Namun, di balik romantisme itu, ada kecemasan yang menggerogoti. Para pelatih dalam studi ini mengungkapkan rasa tidak aman tentang kompetensi mereka sendiri, tentang apakah metode mereka benar, tentang apakah mereka cukup baik untuk disebut “pelatih sejati”. Ini adalah pengingat yang menyentuh bahwa identitas dalam olahraga tidak pernah statis. Bahkan mereka yang bertugas membentuk identitas orang lain pun sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan identitas mereka sendiri.
Kompetisi yang Berbisik di Bawah Kulit
Dari ranah kepelatihan, kita kemudian dibawa lebih dalam ke dalam karakter individual para pesepeda itu sendiri. Kieren McEwan, Neil Weston, dan Paul Gorczynski (2024) memfokuskan perhatian pada satu aspek psikologis yang sering dianggap remeh: daya saing sebagai sifat kepribadian. Mereka tidak berbicara tentang siapa yang menang atau kalah dalam sebuah balapan. Yang mereka tanyakan lebih mendasar: seberapa besar sifat kompetitif itu sudah mendarah daging dalam diri seseorang, bahkan sebelum ia mengayuh pedal?
Penelitian mereka yang melibatkan sejumlah pesepeda gunung ini mengungkapkan bahwa daya saing bukanlah sesuatu yang muncul hanya saat start balapan dikumandangkan. Ia adalah “kepribadian yang tersembunyi” yang mempengaruhi bagaimana seseorang memilih jalur, bagaimana ia bereaksi ketika disalip, bahkan bagaimana ia menikmati pemandangan di sela-sela bersepeda. Ada pesepeda yang secara intrinsik terdorong untuk mengalahkan orang lain—catatan waktu, posisi, status. Namun ada juga yang daya saingnya lebih halus: mereka bersaing dengan diri sendiri hari kemarin, atau dengan tanjakan yang sebelumnya tak tertaklukkan. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa identitas sepeda gunung tidak bisa digeneralisasi. Ada spektrum yang lebar antara “pemburu podium” dan “penikmat senja”, dan masing-masing titik di spektrum itu memiliki klaim keasliannya sendiri.
Ketika Motor Masuk ke Hutan: E-MTB dan Perang Dingin Identitas
Namun, bab yang paling bergema—dan mungkin paling kontroversial—dalam bagian ini adalah sumbangsih Lesley Ingram-Sills (2024) tentang pengguna e-mountain bike (e-MTB). Ingram-Sills dengan cemerlang menunjukkan bahwa kehadiran motor kecil di sepeda gunung tidak hanya mengubah cara orang bersepeda, tetapi juga mengguncang fondasi identitas kolektif komunitas ini. Ia menyebut fenomena ini sebagai perubahan “dinamika inklusi-eksklusi” —siapa yang dianggap “masuk” sebagai pesepeda gunung sejati dan siapa yang “dikeluarkan”.
Yang menarik dari temuan Ingram-Sills adalah bahwa pengguna e-MTB sendiri tidak memiliki identitas tunggal. Ada yang menggunakan sepeda listrik karena cedera atau usia, sehingga e-MTB menjadi “pintu belakang” untuk tetap terhubung dengan dunia yang mereka cintai. Ada yang menggunakannya karena ingin menempuh jarak lebih jauh dan melihat lebih banyak alam dalam waktu terbatas—sebuah argumen yang, ironisnya, sangat ekologis. Namun ada juga yang sekadar menginginkan sensasi tanpa keringat, dan kelompok inilah yang paling sering menjadi sasaran kritik dari para puris.
Ingram-Sills tidak menutup mata pada ketegangan ini. Ia dengan jujur melaporkan bahwa banyak pengguna e-MTB merasa “asing” di komunitasnya sendiri. Mereka kadang menyembunyikan fakta bahwa sepeda mereka memiliki motor, atau memilih waktu bersepeda di jam-jam sepi untuk menghindari tatapan sinis. Namun di sisi lain, ia juga menemukan potongan-potongan harapan: komunitas-komunitas lokal yang mulai menerima e-MTB sebagai bagian dari keragaman, bukan ancaman. Ada proses negosiasi yang sedang berlangsung, dan hasilnya belum jelas.
Merangkai Kembali Identitas yang Bertebaran
Apa yang bisa kita petik dari tiga bab ini jika kita membacanya secara bersamaan, sebagai sebuah simfoni yang utuh? Pertama, bahwa identitas dalam sepeda gunung bersifat cair dan multidimensi. Leeder dan Beaumont mengingatkan bahwa bahkan pelatih—yang seharusnya menjadi figur otoritas—merasa rapuh. McEwan dan kawan-kawan menunjukkan bahwa sifat kompetitif bukanlah garis tegas antara “yang keras” dan “yang santai”, melainkan spektrum yang kompleks. Dan Ingram-Sills membawa kita pada kesadaran bahwa teknologi baru tidak hanya mengubah peralatan, tetapi juga mengubah hati dan hubungan antarmanusia.
Kedua, ketiga bab ini secara kolektif menolak narasi tunggal tentang “pesepeda gunung sejati”. Tidak ada tes kimia yang bisa menentukan siapa yang masuk dan siapa yang tidak. Yang ada adalah serangkaian praktik, cerita, dan perasaan yang saling tumpang tindih. Seorang pelatih yang ragu-ragu, seorang pesepeda yang sangat kompetitif namun tetap mencintai alam, seorang pengguna e-MTB yang sebelumnya adalah atlet sejati—semua mereka adalah bagian dari mozaik yang sama.
Pada titik ini, kita mungkin perlu mendengar suara dari luar tradisi akademik Barat. Jalaluddin Rumi, penyair sufi abad ke-13, pernah menulis: “Kamu bukan hanya setetes air di lautan. Kamu adalah seluruh lautan dalam setetes air.”
Dalam konteks identitas sepeda gunung, kutipan ini terasa sangat relevan. Setiap pesepeda—apakah ia pelatih, pembalap, atau pengguna e-MTB—membawa seluruh kompleksitas dunia di dalam dirinya. Tidak ada yang layak diabaikan atau dihakimi hanya karena ia berbeda. Mungkin, kebijaksanaan sejati dalam bersepeda gunung bukanlah tentang seberapa cepat kita menanjak, tetapi tentang seberapa lapang hati kita untuk menerima bahwa di jalur yang sama, orang lain sedang mengayuh dengan cerita yang berbeda.
Sebuah Meditasi Tubuh dalam Bersepeda Gunung
Ada sebuah detik yang tidak pernah bisa diprediksi oleh siapa pun. Detik ketika ban depan mulai kehilangan cengkeramannya di atas akar pohon yang licin, ketika gravitasi tiba-tiba mengingatkan bahwa ia adalah hukum yang tak bisa ditawar, ketika tubuh yang tadinya terasa begitu lincah dan terkendali berubah menjadi sekantung daging yang tak berdaya di udara sebelum akhirnya membentur tanah. Detik itu, dalam kesaksian setiap pesepeda gunung, terasa seperti selamanya namun juga seperti sekejap. Inilah yang oleh Mike Lloyd (2024) dalam bab pembuka Bagian II buku Mountain Biking, Culture and Society disebut sebagai momen ketika “sesuatu menjadi kacau”—sebuah frasa sederhana untuk pengalaman yang sangat kompleks, sangat membumi, dan sangat manusiawi.
Bagian kedua dari buku ini, yang diberi judul “Mountain Biking Bodies”, adalah sebuah eksplorasi yang berani dan segar tentang apa artinya memiliki tubuh saat bersepeda di medan yang tidak pernah bersahabat. Tiga bab—karya Lloyd, kemudian Benjamin Moreland, dan terakhir David Gibbs bersama Lewis Holloway—secara kolektif membawa pembaca pada sebuah perjalanan kesadaran bahwa bersepeda gunung pada hakikatnya adalah dialog yang intens antara daging, tulang, saraf, dan tanah. Bukan dialog yang lembut, melainkan yang sering kali keras, berdarah, dan penuh dengan kejutan.
Sosiologi dari Sebuah Kejatuhan
Mike Lloyd, seorang sosiolog yang telah lama menekuni kajian tentang risiko dan olahraga ekstrem, memulai babnya dengan sebuah tesis yang mengagetkan: bahwa kejatuhan dalam bersepeda gunung bukanlah sekadar kegagalan individu atau kurangnya keterampilan. Ia adalah fenomena sosial yang sarat makna. Lloyd (2024) dengan cemerlang menunjukkan bahwa ketika seorang pesepeda jatuh, ia sebenarnya sedang “jatuh pada tempatnya” (falling into place)—sebuah permainan kata yang jenius sekaligus mendalam.
Maksudnya begini. Dalam budaya sepeda gunung, ada semacam hierarki tersembunyi tentang bagaimana seseorang jatuh. Ada jatuh yang “wajar”—jatuh yang terjadi saat seseorang sedang mencoba sesuatu yang sulit, yang justru menjadi tanda keberanian. Ada juga jatuh yang “memalukan”—jatuh di tempat yang mudah, atau karena kelalaian bodoh, yang menjadi bahan olok-olok di warung kopi usai bersepeda. Lloyd mengajak kita untuk melihat bahwa bahkan dalam momen jatuh sekalipun, kita sedang bermain peran sosial. Tubuh yang terpental dan terguling di tanah sebenarnya sedang “berbicara” tentang status, tentang reputasi, tentang di mana seseorang berdiri dalam peta sosial komunitasnya.
Lebih dari itu, Lloyd juga menyoroti bagaimana narasi tentang kejatuhan diceritakan ulang, dibesar-besarkan, atau disembunyikan di ruang-ruang digital seperti Strava atau grup WhatsApp. Sebuah kejatuhan yang dramatis bisa menjadi legenda; sebaliknya, kejatuhan yang memalukan bisa dihapus dari ingatan kolektif. Ini mengingatkan kita pada kata-kata filsuf eksistensialis Perancis, Maurice Merleau-Ponty, yang pernah mengatakan bahwa “tubuh adalah kendaraan kita untuk berada di dunia”. Lloyd menambahkan: dan ketika kendaraan itu tergelincir, seluruh dunia ikut bergoncang.
Rasa Sakit yang Berbisik dari Setiap Sendi
Jika Lloyd berbicara tentang kejatuhan sebagai fenomena eksternal yang bisa dilihat orang lain, maka Benjamin Moreland (2024) mengambil perspektif yang sebaliknya: ia masuk ke dalam, ke dalam jaringan saraf yang terbakar, ke dalam sensasi paling privat dan tak terbagikan yang disebut rasa sakit. Bab Moreland tentang “pengalaman sensoris rasa sakit” adalah sebuah upaya untuk memberikan bahasa pada sesuatu yang seringkali tidak terkatakan.
Moreland berargumen bahwa rasa sakit dalam bersepeda gunung bukan sekadar efek samping yang mengganggu. Ia adalah bagian integral dari pengalaman itu sendiri. Ada rasa sakit yang “baik”—misalnya otot-otot paha yang terbakar setelah tanjakan panjang; rasa sakit ini justru menjadi penanda bahwa kita telah berusaha, bahwa kita layak disebut sebagai “pesepeda”. Ada juga rasa sakit yang “buruk”—patah tulang, ligamen putus, atau memar yang mengganggu tidur berminggu-minggu. Namun Moreland menemukan bahwa para pesepeda sering kali mengaburkan batas antara keduanya. Mereka membanggakan rasa sakit yang “baik” dan merendahkan mereka yang mengeluh tentang rasa sakit yang “buruk”. Ini adalah sebuah wacana tentang maskulinitas, tentang ketahanan, tentang siapa yang kuat dan siapa yang lemah.
Yang paling menarik dari bab Moreland adalah bagaimana ia menyelami aspek “sensoris” dari rasa sakit—bukan hanya intensitasnya, tetapi juga tekstur, warnanya, bahkan suaranya dalam benak seseorang. Seorang pesepeda yang diwawancarai menggambarkan rasa sakit di lututnya seperti “pisau dingin yang diputar perlahan”. Yang lain menyebut rasa sakit di punggung sebagai “bunyi gitar yang tidak pernah harmonis”. Moreland menunjukkan bahwa rasa sakit tidak hanya dirasakan, tetapi juga di-imaji-kan, diciutkan, dan kadang-kadang, dirayakan.
Lanskap yang Berbisik pada Tubuh
Dari tubuh yang jatuh dan tubuh yang sakit, kita kemudian diajak oleh David Gibbs dan Lewis Holloway (2024) untuk melihat bagaimana tubuh itu berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas—yang mereka sebut sebagai “pusat-pusat jalur sepeda gunung” (trail centre spaces). Bab Gibbs dan Holloway adalah sebuah studi fenomenologis tentang bagaimana pesepeda “menghadapi lanskap” (encounters with landscape), dan bagaimana lanskap itu bukanlah latar belakang pasif, melainkan aktor aktif dalam drama pengalaman bersepeda.
Gibbs dan Holloway (2024) memperkenalkan istilah yang indah: experience landscapes—lanskap yang dialami, bukan hanya dilihat. Ketika seorang pesepeda meluncur di jalur buatan di pusat-pusat seperti Wharncliffe atau Dalby Forest di Inggris, ia tidak sekadar “melewati” pohon dan bebatuan. Ia sedang dalam sebuah tarian. Tanjakannya mendorong tubuh untuk membungkuk; turunannya memaksa tubuh untuk mundur ke belakang; akar-akarnya menguji kelenturan pergelangan tangan; tikungan tajamnya menantang kemampuan mata untuk membaca lintasan. Setiap elemen lanskap adalah sebuah ajakan, sebuah tantangan, sebuah undangan untuk merespons dengan tubuh.
Yang menarik, Gibbs dan Holloway juga mencatat bahwa pusat-pusat jalur ini adalah lanskap yang telah dirancang, dikomersialkan, dan dikelola. Tidak seperti jalur alam liar yang organik, jalur di pusat-pusat ini memiliki tanda peringatan, kelas kesulitan, dan bahkan kafe di akhir perjalanan. Ini menciptakan pengalaman yang berbeda: tubuh menjadi lebih tenang karena risiko sudah dihitung, tetapi di sisi lain, ada rasa “dijinakkan” yang membuat sebagian pesepeda merasa kehilangan sensasi petualangan sejati. Gibbs dan Holloway tidak mengambil sikap yang mana yang lebih baik; mereka hanya menunjukkan bahwa setiap lanskap menghasilkan tarian tubuh yang berbeda.
Tubuh sebagai Medan Perang dan Medan Doa
Jika kita merenungkan ketiga bab ini secara bersamaan, satu kesimpulan besar muncul: bahwa bersepeda gunung adalah praktik yang mengingatkan kita pada fakta paling mendasar tentang keberadaan kita, yaitu bahwa kita memiliki tubuh dan pada saat yang sama kita adalah tubuh. Lloyd mengingatkan bahwa bahkan saat tubuh gagal dan jatuh, ia sedang menuliskan sejarah sosial. Moreland menunjukkan bahwa rasa sakit—yang sering kita usahakan untuk dihilangkan—sebenarnya adalah guru yang jujur. Dan Gibbs dengan Holloway mengajak kita untuk melihat bahwa tanah, bebatuan, dan akar pohon bukanlah musuh; mereka adalah mitra dialog yang tak tergantikan.
Dalam tradisi filsafat Islam, ada sebuah konsep yang disebut tadabbur—merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui pengamatan terhadap alam dan diri sendiri. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, seorang ulama besar abad ke-14, pernah menulis bahwa “di dalam tubuh manusia ada pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir.” Mungkin, bersepeda gunung adalah salah satu bentuk tadabburmodern. Setiap jatuh mengajarkan kerendahan hati. Setiap rasa sakit mengajarkan kesabaran. Setiap interaksi dengan lanskap mengajarkan bahwa kita bukan penguasa alam, melainkan tamu yang harus belajar tata krama.
Pada akhirnya, bagian kedua buku ini adalah sebuah undangan untuk berdamai dengan kerapuhan. Karena di atas sepeda gunung, tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang selalu tegak. Yang ada hanyalah tubuh yang terus belajar, tanah yang terus menerima, dan siklus yang tak pernah berhenti antara jatuh dan bangkit, antara sakit dan pulih, antara lupa dan mengingat bahwa kita, pada akhirnya, adalah makhluk yang sangat membumi. Dan mungkin, di situlah pesan terdalam dari semua ini: bahwa untuk benar-benar bersepeda, seseorang harus rela menjadi tanah itu sendiri—siap diinjak, siap terluka, namun juga siap menumbuhkan sesuatu yang baru di musim berikutnya.
Sebuah Kisah Lingkungan dari Dunia Sepeda Gunung
Saat ban menyentuh bumi yang rapuh, ada sebuah ironi yang mungkin tidak pernah kita sadari saat meluncur di jalur hijau yang dikelilingi pepohonan rimbun. Kita berpikir bahwa kita sedang “kembali ke alam”, bahwa napas yang terengah-engah menghirup udara segar, bahwa setiap putaran roda adalah sebuah perayaan akan kehidupan di luar tembok beton. Namun, Clare Nattress (2024) dalam babnya di buku Mountain Biking, Culture and Society mengajak kita untuk membuka mata: di udara yang kita hirup itu, mungkin ada partikel-partikel tak kasat mata dari knalpot kendaraan bermotor yang merambat masuk hingga ke pelosok hutan sekalipun. Ia menyebutnya sebagai “kekerasan lambat”—sebuah pembunuhan yang terjadi begitu perlahan sehingga kita tidak merasakannya, tidak melihatnya, dan dengan demikian, tidak pernah cukup marah untuk menghentikannya.
Bagian ketiga dari buku ini, “Mountain Biking Environments”, adalah sebuah pertemuan antara roda dan bumi, antara kegembiraan dan tanggung jawab, antara hasrat untuk melaju dan kesadaran bahwa setiap jejak ban meninggalkan cerita—kadang cerita tentang perawatan, kadang tentang kehancuran. Empat bab dalam bagian ini, karya Jacob Bustad dan Oliver Rick, kemudian Tom Campbell, lalu Liam Healy, dan terakhir Clare Nattress, secara kolektif membangun sebuah narasi yang tak nyaman namun sangat diperlukan: bahwa bersepeda gunung, seperti semua aktivitas manusia modern, berada dalam tegangan antara menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah.
Ketika Malaikat Merah Turun ke Perkotaan
Jacob Bustad dan Oliver Rick (2024) memulai bagian ini dengan sebuah studi kasus yang mengejutkan. Mereka mengamati sebuah fenomena yang mungkin tampak aneh di mata mereka yang membayangkan sepeda gunung identik dengan hutan dan pegunungan: turunannya sepeda gunung (downhill MTB) yang dilakukan bukan di hutan, melainkan di tengah kota, dalam sebuah acara yang disponsori oleh Red Bull—perusahaan minuman energi yang identik dengan warna merah dan sayap-sayap metaforis di punggung para atlet ekstrem.
Apa yang dilakukan Red Bull? Mereka mengubah ruang-ruang perkotaan yang mati—gedung parkir kosong, lorong-lorong belakang, tangga-tangga beton—menjadi arena perlombaan yang spektakuler. Dengan kamera-kamera drone, siaran langsung di media sosial, dan narasi heroik tentang “melawan batas kota”, Red Bull menciptakan sebuah bentuk DIY urbanism yang baru: bukan lagi warga kota yang membangun taman sendiri, melainkan korporasi global yang mendefinisikan ulang apa artinya “liar” di tengah peradaban.
Bustad dan Rick (2024) dengan cermat membedah bagaimana Red Bull tidak hanya menjual minuman, tetapi juga menjual imajinasi. Mereka menjual mimpi bahwa meskipun kita hidup di kota yang membosankan, kita bisa melompati pagar-pagarnya. Mereka menjual gagasan bahwa sepeda gunung adalah kendaraan untuk melarikan diri dari jeratan ruang perkotaan yang terukur dan teratur. Namun, di balik kemasan yang menginspirasi, Bustad dan Rick juga mempertanyakan: apakah ini benar-benar sebuah gerakan akar rumput, atau hanya sebuah bentuk baru dari komodifikasi petualangan? Ketika Red Bull mengubah tangga beton menjadi arena, apakah ia sedang membebaskan kota, atau justru menjadikan kota sebagai latar belakang iklan yang lebih besar?
Membangun Jalur yang Tidak Membunuh Bumi
Dari hiruk-pikuk kota, kita kemudian diajak masuk ke dalam hutan oleh Tom Campbell (2024). Bab Campbell, yang berjudul “Sustainable mountain bike trails: towards a holistic approach”, adalah sebuah manifesto teknis sekaligus filosofis tentang bagaimana seharusnya manusia membangun jalur untuk bersepeda. Campbell tidak puas dengan sekadar mengatakan “buat jalur yang ramah lingkungan”. Ia ingin kita memahami bahwa keberlanjutan bukanlah fitur tambahan yang bisa dipasang setelah jalur selesai; ia adalah fondasi yang harus ada sejak awal.
Campbell (2024) mengkritik pendekatan konvensional yang seringkali hanya memikirkan aspek teknis—seberapa curam tikungan, seberapa besar gundukan, seberapa cepat air bisa mengalir—tanpa mempertimbangkan ekosistem yang lebih luas. Ia mengajukan pendekatan “holistik” yang mempertimbangkan tanah, air, vegetasi, satwa liar, serta kebutuhan manusia secara bersamaan. Sebuah jalur yang baik, menurut Campbell, bukan hanya yang menyenangkan untuk dilalui, tetapi juga yang tidak menyebabkan erosi, tidak mengganggu jalur migrasi hewan, dan tidak mencemari sumber air di sekitarnya.
Yang menarik dari bab ini adalah bagaimana Campbell tidak melihat alam sebagai musuh yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai mitra yang harus dipahami. Ia menulis tentang pentingnya membaca topografi, memahami jenis tanah, dan meramalkan bagaimana hujan akan mengubah jalur setahun kemudian. Ini adalah sebuah pengetahuan yang lambat di era yang serba cepat. Dan di sinilah relevansinya dengan krisis lingkungan saat ini: Campbell mengingatkan bahwa tidak ada jalan pintas menuju keberlanjutan. Jika kita ingin bersepeda di alam, kita harus belajar dari alam—termasuk dari cara alam mengingatkan kita ketika kita melakukan kesalahan.
No Dig, No Ride: Etos Perlawanan dari Bawah
Dari pendekatan holistik Campbell yang terstruktur dan ilmiah, kita kemudian disuguhi sebuah perspektif yang lebih mentah, lebih “kotor”, namun tidak kalah pentingnya: tulisan Liam Healy (2024) tentang “No dig, no ride”. Healy mengangkat sebuah frase yang mungkin sudah akrab di telinga para pesepeda gunung yang paling setia, tetapi jarang dipahami kedalamannya oleh mereka yang baru bergabung. No dig, no ride secara harfiah berarti “jika tidak menggali, jangan bersepeda”—sebuah kode etik yang menegaskan bahwa hak untuk menikmati jalur tidak diberikan secara cuma-cuma; ia harus diperoleh melalui kerja nyata membangun dan merawat.
Healy (2024) membawa kita ke dunia jalur-jalur yang DIY designed—jalur yang tidak dibangun oleh pemerintah daerah atau pengembang properti, tetapi oleh sekelompok kecil pesepeda lokal yang rela membawa sekop, cangkul, dan keringat mereka ke tengah hutan pada hari Minggu pagi. Jalur-jalur ini seringkali memiliki karakter yang unik, tidak terstandarisasi, dan penuh dengan kejutan—baik yang menyenangkan maupun yang menantang. Namun, mereka juga rapuh. Tanpa perawatan rutin, mereka akan ditelan kembali oleh semak belukar, atau hanyut oleh air hujan.
Yang paling berharga dari etos no dig, no ride adalah bahwa ia mengajarkan sebuah nilai yang langka di zaman konsumerisme: perawatan. Healy (2024) menunjukkan bahwa ketika seseorang ikut membangun jalur, ia mengembangkan hubungan yang berbeda dengan tanah. Ia tidak lagi melihat jalur sebagai “produk” yang dikonsumsi, melainkan sebagai “hubungan” yang dipelihara. Ia akan lebih berhati-hati saat bersepeda, lebih peka terhadap tanda-tanda kerusakan, dan lebih bersedia untuk turun dari sepeda dan memperbaiki apa yang rusak. Dalam dunia yang didorong oleh logika take-make-waste, etos ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang senyap namun kuat.
Kekerasan Lambat di Udara yang Kita Hirup
Dan akhirnya, kita sampai pada bab yang paling meresahkan: Clare Nattress (2024) tentang polusi udara sebagai “kekerasan lambat”. Nattress memulai dengan sebuah skenario yang mungkin pernah dialami banyak pesepeda gunung: perjalanan multi-hari yang melewati jalur-jalur indah, jauh dari kota. Namun, ia kemudian mengajak kita untuk bertanya: seberapa “jauh” sebenarnya kita? Polusi udara dari pabrik-pabrik, dari jalan raya yang ramai, dari pembangkit listrik batu bara—ia tidak mengenal batas wilayah. Partikel-partikel PM2.5 dapat terbang ratusan kilometer dan tetap berbahaya saat dihirup.
Nattress (2024) memperkenalkan konsep “kekerasan lambat” (slow violence) yang dipopulerkan oleh Rob Nixon, seorang sarjana lingkungan. Ini adalah kekerasan yang tidak dramatis—tidak ada ledakan, tidak ada darah, tidak ada tangisan yang bisa direkam oleh kamera berita. Namun, ia membunuh secara perlahan, melalui akumulasi yang diam-diam. Seorang pesepeda yang menghirup udara tercemar selama perjalanan tujuh hari mungkin tidak akan langsung jatuh sakit. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika paru-parunya bermasalah, ia mungkin tidak akan pernah menghubungkannya dengan petualangan di gunung yang dulu.
Nattress tidak hanya menyajikan data suram. Ia juga menunjukkan bahwa kesadaran akan kekerasan lambat ini bisa menjadi titik awal untuk perubahan. Beberapa pesepeda dalam studinya mulai membawa masker khusus, memantau kualitas udara sebelum berangkat, atau bahkan menjadi aktivis yang mendesak pemerintah daerah untuk mengurangi emisi. Nattress mengajak kita untuk melihat bahwa bersepeda gunung, sebagai aktivitas yang sangat bergantung pada kualitas lingkungan, bisa menjadi sebuah “sensor hidup” bagi kesehatan bumi. Ketika pesepeda mulai sakit, itu adalah tanda bahwa ada yang salah dengan cara kita memperlakukan planet ini.
Merangkai Harapan dari Tanah yang Terluka
Membaca keempat bab ini secara bersamaan, satu pesan besar muncul dengan jelas: bahwa bersepeda gunung tidak bisa lagi pura-pura tidak peduli. Bustad dan Rick mengingatkan kita bahwa bahkan petualangan paling “liar” sekalipun bisa menjadi alat pemasaran korporasi. Campbell mengajarkan bahwa membangun jalur yang baik membutuhkan lebih dari sekadar semangat—ia membutuhkan pengetahuan, kesabaran, dan rasa hormat terhadap ekosistem. Healy menunjukkan bahwa perawatan adalah kunci; tanpa itu, bahkan kegembiraan paling tulus sekalipun akan merusak apa yang dicintainya. Dan Nattress membuka mata kita pada bahaya yang tidak terlihat namun sangat nyata.
Dalam tradisi intelektual muslim, ada sebuah konsep yang disebut khalifah—tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi, bukan pemiliknya. Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf lingkungan asal Iran, pernah menulis bahwa “krisis ekologi modern adalah krisis spiritual yang berakar pada pelupaan akan sifat sakral alam.” Buku ini, terutama bagian ketiganya, adalah sebuah panggilan untuk mengingat kembali. Ia mengingatkan bahwa setiap kali kita mengayuh pedal, kita sedang membuat pernyataan tentang hubungan kita dengan bumi—apakah kita menjadi khalifahyang baik, atau sebaliknya.
Pada akhirnya, bagian Mountain Biking Environments adalah sebuah undangan untuk bertransformasi. Dari sekadar “pengguna jalur” menjadi “perawat jalur”. Dari pencari sensasi menjadi penjaga lingkungan. Dari pecinta alam menjadi pelindung alam. Transformasi ini tidak mudah. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita, dengan sepeda-sepeda kita, bisa juga menjadi bagian dari masalah. Namun, di situlah letak harapan: karena jika kita bisa menjadi masalah, kita juga bisa menjadi solusi. Dan mungkin, itulah definisi paling indah dari bersepeda gunung yang dewasa: bukan lagi tentang seberapa cepat kita turun dari gunung, tetapi tentang seberapa baik kita menjaga gunung itu tetap berdiri untuk generasi yang akan datang.
Sebuah Gugatan atas Budaya Sepeda Gunung
Ada sebuah kebohongan halus yang selama ini kita percaya bersama. Kebohongan bahwa ketika kita meluncur ke dalam hutan dengan sepeda gunung, kita memasuki ruang yang bebas dari segala tekanan sosial. Di sanalah, di antara pepohonan dan semburat matahari, kita bisa menjadi “diri kita yang sebenarnya” —terbebas dari hiruk-pikuk kota, dari tuntutan karier, dari jerat status sosial. Namun, bab keempat dan terakhir dalam buku Mountain Biking, Culture and Society (2024) yang diberi judul “The Cultural Politics of Mountain Biking” datang seperti tamparan halus yang membangunkan kita dari mimpi indah itu.
Empat bab dalam bagian ini—karya Louise Bordelon, kemudian Benjamin Moreland bersama Alice Lemkes, Jenni Myers, dan Jack Reed, lalu Jeff Warren dengan John Reid-Hresko, dan terakhir Tavis Smith bersama Patrick Lucas, Tom Eustache, dan Thomas Schoen—secara kolektif membongkar keyakinan bahwa jalur setapak adalah zona bebas politik. Mereka menunjukkan sebaliknya: bahwa tanah, nama, bahkan napas di atas sepeda gunung sarat dengan muatan kekuasaan, eksklusi, dan sejarah luka yang tak terselesaikan.
Tembok Tak Terlihat yang Menahan Perempuan
Louise Bordelon (2024) memulai bagian ini dengan sebuah metafora yang langsung menusuk kesadaran: ia menyebut partisipasi perempuan dalam sepeda gunung sebagai the impossible climb—sebuah pendakian yang mustahil. Bukan karena perempuan tidak memiliki kekuatan fisik atau keterampilan teknis untuk bersepeda, tetapi karena ada serangkaian hambatan sosial yang terakumulasi dan menciptakan tebing yang nyaris tak terpanjat.
Bordelon dengan jeli memetakan hambatan-hambatan ini. Pertama, ada hambatan material: sepeda dan perlengkapan yang didominasi oleh ukuran dan desain tubuh laki-laki, toko-toko yang seringkali membuat perempuan merasa tidak nyaman, dan kurangnya pakaian pelindung yang benar-benar pas untuk anatomi perempuan. Kedua, ada hambatan simbolik: citra sepeda gunung yang sangat melekat dengan maskulinitas—tentang keberanian, pengambilan risiko, dan dominasi atas alam. Perempuan yang masuk ke ruang ini sering dihadapkan pada stereotip bahwa mereka “perlu dilindungi” atau bahwa mereka “tidak sekencang” rekan laki-laki mereka. Ketiga, ada hambatan kelembagaan: bahkan dalam grup-grup bersepeda yang mengaku inklusif, seringkali perempuan menjadi satu-satunya atau hanya sedikit, sehingga mereka harus menanggung beban representasi selain juga beban fisik bersepeda itu sendiri.
Namun, yang paling menggugah dari tulisan Bordelon adalah bagaimana ia tidak hanya menyajikan keputusasaan. Ia juga merekam suara-suara perempuan yang tetap bertahan, yang membentuk grup sendiri, yang melatih satu sama lain, dan yang secara perlahan membuka jalan bagi generasi berikutnya. Pendakian yang mustahil, demikian Bordelon menyiratkan, bukan berarti tidak ada yang pernah mencapai puncak. Hanya saja, mereka yang berhasil harus membawa beban yang tidak pernah diminta untuk dipikul.
Di Balik Setiap Nama Jalur, Ada Cerita yang Bersembunyi
Dari hambatan partisipasi, kita kemudian dibawa ke sebuah ranah yang tampaknya sepele namun ternyata sarat makna: penamaan jalur. Benjamin Moreland bersama Alice Lemkes, Jenni Myers, dan Jack Reed (2024) melakukan sebuah penyelidikan yang brilian tentang praktik penamaan jalur sepeda gunung. Siapa sangka bahwa nama-nama seperti “Widowmaker”, “Ball Breaker”, atau “Screaming Orgasm” —yang sering dianggap sebagai bagian dari “budaya edgy” komunitas sepeda gunung—sebenarnya adalah cerminan dari apa yang mereka sebut sebagai hegemonic masculinity (maskulinitas hegemonik) dan sexualisation (seksualisasi) yang tidak hanya mengeksklusi, tetapi juga menormalisasikan kekerasan simbolik terhadap perempuan.
Tim peneliti ini mengumpulkan dan menganalisis ratusan nama jalur dari berbagai pusat sepeda gunung di beberapa negara. Temuan mereka mengkhawatirkan. Sejumlah besar nama jalur merujuk pada kekerasan, bagian tubuh yang “hancur”, atau kematian—semuanya dalam bingkai yang maskulin dan agresif. Nama-nama lain secara eksplisit seksual, seringkali dengan konotasi yang merendahkan perempuan. Yang menarik, para peneliti juga mewawancarai pengelola jalur dan pesepeda tentang praktik ini. Sebagian besar menganggapnya sebagai “bagian dari budaya” atau “hanya bercanda”. Namun, Moreland dan koleganya berargumen bahwa lelucon tidak pernah netral. Lelucon adalah wacana; ia menciptakan dunia di mana kelompok tertentu merasa “di rumah” dan kelompok lain merasa “asing” atau bahkan terancam.
Penamaan jalur, demikian kesimpulan mereka, adalah tindakan politik yang tidak disadari. Setiap kali seorang pesepeda menyebut nama jalur, ia sedang mengulang sebuah narasi, memperkuat sebuah dominasi, atau—jika ia menolaknya—melakukan sebuah perlawanan kecil.
Lari ke Hutan, atau Lari dari Diri?
Jika dua bab pertama bagian ini membahas politika sosial di dalam komunitas, maka Jeff Warren dan John Reid-Hresko (2024) mengarahkan pandangan ke luar: bagaimana media dan industri sepeda gunung membentuk imajinasi kolektif tentang “otentisitas”. Mereka meneliti berbagai produk multimedia—film sepeda, konten YouTube, iklan, dan media sosial—yang menggambarkan sepeda gunung sebagai “pelarian untuk menemukan diri sendiri” (escaping to find yourself).
Warren dan Reid-Hresko dengan tajam mengkritik narasi ini. Mereka menunjukkan bahwa citra tentang “pria sendirian di alam liar” yang begitu dominan dalam pemasaran sepeda gunung bukanlah representasi netral, melainkan sebuah konstruksi ideologis yang berakar pada romantisme Barat tentang “padang belantara” dan “individualisme heroik”. Lebih buruk lagi, narasi ini mengaburkan realitas bahwa sebagian besar pesepeda gunung sesungguhnya bersepeda di jalur yang dibangun oleh kerja kolektif sukarelawan, di properti publik yang dirawat dengan dana pajak, dan dengan peralatan yang diproduksi oleh rantai pasok global yang seringkali tidak berkelanjutan.
Yang paling tajam dari kritik mereka adalah bahwa “pelarian” yang dijanjikan oleh industri ini seringkali adalah pelarian dari tanggung jawab. Dengan membingkai sepeda gunung sebagai aktivitas individualistis yang murni untuk “kesejahteraan diri”, narasi ini membebaskan pesepeda dari pertanyaan-pertanyaan sulit tentang keadilan sosial, dampak lingkungan, dan hubungan dengan komunitas lokal. Warren dan Reid-Hresko tidak sedang menyerukan penghentian bersepeda gunung. Mereka hanya mengingatkan bahwa “melarikan diri” sesekali tidak boleh menjadi alasan untuk “melupakan” bahwa kita semua terhubung dalam jaring sosial, ekonomi, dan ekologis yang kompleks.
Luka Sejarah di Bawah Ban
Bagian ini ditutup dengan sebuah bab yang paling luas cakrawalanya sekaligus paling menusuk hati. Tavis Smith bersama Patrick Lucas, Tom Eustache, dan Thomas Schoen (2024) membawa pembaca ke British Columbia, Kanada, sebuah wilayah yang dikenal sebagai surga sepeda gunung dengan jalur-jalurnya yang spektakuler. Namun, di balik keindahan itu, ada luka sejarah yang belum dirawat: tanah-tanah tempat jalur sepeda dibangun adalah wilayah tradisional masyarakat adiluhung (indigenous), khususnya bangsa Squamish, Tsleil-Waututh, dan Musqueam. Sebagian besar pesepeda gunung, baik lokal maupun wisatawan, meluncur di atas tanah itu tanpa pernah bertanya: dengan hak apa kita berada di sini?
Tim peneliti ini dengan rendah hati tidak mengklaim berbicara untuk masyarakat adiluhung. Sebaliknya, mereka merekam dialog, negosiasi, dan upaya-upaya rekonsiliasi yang sedang berlangsung. Mereka mengusung slogan yang kuat: ride, (re)connect, and (re)build—bersepeda, (terhubung kembali), dan (membangun kembali). Ini bukan sekadar kata-kata manis, tetapi sebuah agenda. Bersepeda di tanah adiluhung harus dimulai dengan mengakui bahwa tanah itu adalah tanah adiluhung. Ini berarti belajar sejarah yang selama ini diabaikan, mendengarkan suara-suara yang selama ini dibungkam, dan yang paling penting, membangun kembali hubungan yang rusak oleh kolonialisme.
Salah satu poin paling menggugah dari bab ini adalah ketika para penulis merefleksikan ironi bahwa banyak pesepeda gunung sangat peduli pada “etika jalur” —tidak memotong tikungan, tidak bersepeda saat jalur basah, merawat permukaan tanah—namun mengabaikan etika yang lebih fundamental tentang kepemilikan dan hak atas tanah. Mereka bertanya: bagaimana mungkin seseorang begitu teliti tentang bekas ban di tanah, tetapi buta terhadap bekas sejarah yang terukir di tanah yang sama?
Politik di Setiap Kayuhan
Membaca keempat bab ini secara utuh terasa seperti membuka mata setelah sekian lama berjalan dalam kabut. Louise Bordelon mengingatkan bahwa bahkan sebelum seorang perempuan bisa mengayuh pedal, ia sudah harus melawan tembok tak terlihat. Moreland dan koleganya menunjukkan bahwa bahasa—dalam nama jalur sekalipun—bukanlah netral; ia adalah medan perang simbolik. Warren dan Reid-Hresko membongkar mitos “pelarian individu” sebagai narasi yang nyaman untuk menghindari tanggung jawab kolektif. Dan Smith bersama rekan-rekannya mengajak kita untuk melihat ke bawah, ke tanah yang kita lewati, dan bertanya tentang sejarah yang terinjak-injak setiap hari.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep hisbah—mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang sering diartikan sebagai tanggung jawab kolektif untuk menegakkan keadilan. Cendekiawan Muslim kontemporer, Khaled Abou El Fadl, menulis bahwa “Justice is not a destination, but a way of traveling through the world” (Keadilan bukanlah tujuan, melainkan cara berjalan melintasi dunia). Mungkin, inilah pesan dari bagian keempat buku ini: bahwa bersepeda gunung bisa menjadi praktik keadilan—jika kita bersedia melihat, mendengar, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, tidak ada jalur yang benar-benar liar. Setiap inci tanah yang kita lewati telah dibentuk oleh sejarah, dimaknai oleh budaya, dan diperebutkan oleh kepentingan. Pertanyaannya bukanlah apakah kita ingin berpolitik atau tidak—karena sudah pasti kita selalu sudah berada di dalam politik. Pertanyaannya adalah: politik macam apa yang akan kita bawa saat kita mengayuh meninggalkan parkiran menuju hutan?
Catatan Akhir: Menggowes di Zona Senja
Cherrington mengakhiri pengantarnya bukan dengan kesimpulan yang mengunci, melainkan dengan sebuah undangan. Ia mengajak pembaca untuk memasuki bab-bab berikutnya dengan pikiran terbuka, untuk tidak takut pada kompleksitas, dan untuk menerima bahwa budaya sepeda gunung, seperti semua budaya manusia, adalah sesuatu yang “hidup, bernapas, dan terus menjadi” .
Pada akhirnya, pengantar ini mengingatkan kita pada sebuah bait puisi karya penyair sufi asal Persia, Rumi, yang berbunyi:
“Di luar gagasan tentang benar dan salah, ada sebuah padang. Aku akan menemuimu di sana.”
Cherrington, dengan caranya sendiri, mengajak kita ke padang itu. Sebuah padang di mana tidak ada klaim siapa pesepeda sejati, di mana e-MTB dan sepeda tua bisa berbagi jalur, di mana pertanyaan-pertanyaan sulit tentang lingkungan dan keadilan tidak lagi dihindari. Di padang itulah, mungkin, kita bisa mulai merasakan “struktur perasaan” yang sebenarnya—bahwa bersepeda gunung pada hakikatnya adalah tentang kerendahan hati di hadapan alam, tentang kebersamaan di atas perbedaan, dan tentang keberanian untuk terus mengayuh meski jalan terjal.
Mountain Biking, Culture and Society bukanlah buku yang hanya ditujukan untuk pesepeda. Ini adalah buku untuk siapa saja yang ingin memahami bagaimana sebuah kegiatan rekreasi bisa menjadi titik tumpu untuk mengungkit perubahan budaya. Cherrington dan kawan-kawan berhasil menunjukkan bahwa di balik gemerincing rantai dan deru angin di telinga, ada suara-suara yang memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan kehidupan berkelanjutan.
Di saat dunia seakan berputar terlalu cepat menuju jurang kepunahan massal, buku ini mengingatkan kita untuk melambat, atau setidaknya, mengayuh dengan kesadaran penuh. Masa depan tidak selalu tentang menemukan hal baru yang speedy, melainkan merawat kembali jalan setapak lama yang telah ada. Mungkin, di situlah letak kebahagiaan sejati yang selama ini kita tunggangi.
Bogor, 12 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Bordelon, L. (2024). Women and barriers to participation in mountain biking: The impossible climb. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 173-187). Routledge.
Bustad, J. J., & Rick, O. J. C. (2024). Downhill MTB, digital media, and DIY urbanism: Riding with Red Bull. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 113-124). Routledge.
Campbell, T. (2024). Sustainable mountain bike trails: Towards a holistic approach. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 125-140). Routledge.
Cherrington, J. (2024). Introduction: Mountain bike culture as a ‘structure of feeling’. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 1-8). Routledge.
Cherrington, J. (Ed.). (2024). Mountain biking, culture and society. Routledge.
Coubertin Speaks. (n.d.). Quote for Jul 17. https://coubertinspeaks.com/quotes/jul/17
Gibbs, D., & Holloway, L. (2024). Encounters with mountain bike trail centre spaces: Experience landscapes. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 95-111). Routledge.
Healy, L. (2024). No dig, no ride: Repairing and caring for DIY-designed mountain bike and BMX trails. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 141-156). Routledge.
Ingram-Sills, L. (2024). The motivations, identities, and environmental sensibilities of contemporary e-mountain bike users: The people behind the power. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 53-71). Routledge.
Lake Wanaka Tourism. (2025). The Path to Sustainability for Bike Glendhu. https://business.wanaka.co.nz/case-study/the-path-to-sustainability-for-bike-glendhu/
Leeder, T. M., & Beaumont, L. C. (2024). Exploring mountain bike coaches’ perceptions towards learning to coach through story completion: Coaching happily ever after? Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 17-34). Routledge.
Lloyd, M. (2024). A sociology of how things go wrong in mountain biking: Falling into place. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 65-81). Routledge.
MBR. (2021, June 2). How green is the mountain bike industry? Mountain Biking UK. https://www.mbr.co.uk/news/how-green-is-mountain-bike-industry-407541
McEwan, K., Weston, N., & Gorczynski, P. (2024). Evaluating competitiveness as a personality trait among a sample of mountain bikers. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 35-52). Routledge.
Moreland, B. (2024). An exploration into the sensory experience of pain in mountain biking. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 82-94). Routledge.
Moreland, B., Lemkes, A., Myers, J., & Reed, J. (2024). Hegemonic masculinity and sexualisation in mountain bike trail naming practices: What’s in a name? Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 188-201). Routledge.
Nattress, C. (2024). Air pollution as ‘slow violence’ during multi-day mountain bike trips. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 157-174). Routledge.
Nickerson, M. (2024). An Up-Side for the Time Ahead–More Fun, Less Stuff. Canadian Association for the Club of Rome.
Smith, T., Lucas, P., Eustache, T., & Schoen, T. (2024). Reflections on trails, mountain biking, and indigenous-settler relations in British Columbia: Ride, (re)connect, and (re)build. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 216-231). Routledge.
Sohu Sports. (2010, April 22). 萨翁语录:用体育来保护地球孕育人类美好心灵 [Samaranch quotes: Using sports to protect the earth and nurture the beautiful hearts of humanity]. https://sports.sohu.com/20100422/n271663335.shtml
Union Cycliste Internationale (UCI). (2022). *Carbon-neutral 2022 Mercedes-Benz UCI Mountain Bike World Cup Final in Val di Sole*. https://www.uci.org/article/carbon-neutral-2022-mercedes-benz-uci-mountain-bike-world-cup-final-in-val/3MCY7LBGcMJQFCOFCB6OUP
Warren, J. R., & Reid-Hresko, J. (2024). Portrayals of ideals of authenticity in mountain biking multimedia: Escaping to find yourself. Dalam J. Cherrington (Ed.), Mountain biking, culture and society (hlm. 202-215). Routledge.






