Rubarubu #158
Biking Uphill in the Rain:
Kegigihan Kota di Atas Dua Roda
Apa jadinya jika sebuah kota yang terkenal dengan dua hal: curah hujan yang hampir tak pernah berhenti dan topografi berbukit yang membuat napas tersengal. Logika sederhana akan berkata: kota seperti itu tidak mungkin menjadi surga bagi pesepeda. Namun, Seattle justru dinobatkan sebagai best bike city in the United States oleh majalah Bicycling . Bagaimana ini bisa terjadi? Inilah pertanyaan yang coba dijawab oleh Tom Fucoloro dalam bukunya yang memikat, Biking Uphill in the Rain: The Story of Seattle from behind the Handlebars.
Fucoloro, pendiri Seattle Bike Blog yang dinobatkan sebagai salah satu “15 People Who Should Really Run Seattle” oleh majalah Seattle Met, bukanlah sejarawan yang duduk di menara gading . Ia adalah jurnalis yang tangannya kotor oleh jalanan, yang matanya menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan kota lahir dan mati, bagaimana komunitas terbentuk dan bertahan, dan bagaimana sepeda—yang sering dianggap remeh sebagai mainan anak-anak—sesungguhnya adalah alat perubahan sosial yang luar biasa.
Buku ini, yang menjadi finalis untuk Washington State Book Award 2024, bukan sekadar catatan peristiwa. Ia adalah perjalanan 130 tahun sejarah Seattle, dari kedatangan sepeda pertama di akhir abad ke-19 hingga para pengusaha bike-share di masa kini. Namun, seperti yang ditegaskan oleh Cascade Bicycle Club, nilai terbesar buku ini terletak pada pelajarannya untuk masa depan: “History’s greatest value is in the lessons it provides for the future.”
Sebuah Gagasan yang Lahir di Malam Hujan
Kisah kebangkitan budaya sepeda Seattle, dalam narasi Fucoloro yang hidup, dimulai dari sebuah momen yang tidak terduga. Hujan mengguyur sepanjang hari pada 16 November 1967—cuara yang sangat khas di Seattle—ketika seorang wanita bernama Mia Mann melangkah masuk ke dalam pertemuan rutin Dewan Komisaris Taman Kota. Mia bukanlah pesepeda. Ia aktif dalam berbagai dewan kota dan organisasi nirlaba, terutama dalam upaya mempercantik kota dan mendukung seni. Namun, ia membawa sebuah ide sederhana yang, tanpa disadarinya, akan mengubah kotanya selamanya.
Ia mengusulkan sebuah acara yang saat itu terdengar radikal: menutup jalan dari mobil untuk sementara waktu dan mengundang orang-orang untuk bersepeda dengan bebas. Idemu ditolak. Dinas Taman mencoba mengabaikannya. Kepala Dinas berkata tidak bisa karena akan meng-ganggu lalu lintas mobil. Namun Mia tidak menyerah. Ia melibatkan anggota Dewan Kota yang berpengaruh, Myrtle Edwards—wanita yang sama yang berjasa mengakuisisi lahan pabrik gas yang kelak menjadi Gas Works Park yang ikonis. Dengan dukungan Edwards, idenya akhirnya disetujui. Mereka setuju untuk mengadakan satu acara percobaan di musim semi.
Biayanya kurang dari lima ratus dolar. Rencananya sederhana: memasang tanda yang menutup jalan sepanjang dua mil di Lake Washington Boulevard untuk mobil, lalu mengundang orang-orang untuk bersepeda di sana tanpa rasa takut. “People have to get hold of their lives and get out in the open,” kata Mia kepada Seattle Post-Intelligencer sebelum acara pertama. “The automobile just isn’t doing this for us. I haven’t ridden a bike in years, but I’ll be out there.”
Pada 28 April 1968, tidak ada yang menduga apa yang akan terjadi. Sekitar lima ribu orang datang membawa sepeda mereka selama tujuh jam jalan ditutup. Dalam laporan-laporan berita, tidak ada yang memperkirakan jumlah sebesar itu. Dalam semalam, para pemimpin kota berlomba-lomba menunjukkan dukungan mereka untuk acara populer ini. Bicycle Sunday lahir, dan lebih dari setengah abad kemudian, Dinas Taman Seattle masih menyelenggarakan acara yang sama di jalur yang sama.
Namun Fucoloro menunjukkan bahwa Bicycle Sunday melakukan lebih dari sekadar mencipta-kan ruang yang menyenangkan untuk beberapa jam. Tindakan sederhana menendang mobil keluar dari jalan untuk sementara waktu mendemonstrasikan kepada orang-orang manfaat ruang publik tanpa mobil. Di kota yang budaya mobilnya begitu mengakar, bersepeda di jalan bebas mobil adalah pengalaman yang radikal. Orang-orang mulai melihat kemungkinan yang berbeda.
Dari Momen ke Gerakan: Rute dan Perlawanan
Bicycle Sunday adalah pesta keluar untuk kebangkitan sepeda Seattle. Politisi melihat bahwa banyak orang sangat tertarik pada sepeda. Orang-orang dengan sepeda menyadari bahwa mereka harus menggunakan jumlah mereka untuk terorganisir dan mulai meminta kondisi yang lebih baik. Dan orang-orang yang tidak bersepeda melihat kerumunan itu dan berpikir, “Itu tampak menyenangkan.”
Dalam beberapa minggu setelah acara pertama, seorang pria bernama Harry Coe—yang telah menjadi pelari untuk Tim AS pada Olimpiade London 1908 dan bersepeda keliling Seattle sebagai seorang anak—mulai menggalang dukungan politik untuk jaringan rute sepeda di seluruh kota. Signed bike routes mungkin tampak seperti langkah kecil, tetapi itu adalah pertama kalinya sejak pergantian abad kedua puluh bahwa Dinas Teknik kota ditugaskan untuk memikirkan bagaimana seseorang di atas sepeda bisa berkeliling kota.
Coe berusia delapan puluh tiga tahun pada tahun 1968 ketika kota mulai memasang tanda-tanda rute sepeda yang telah lama ia perjuangkan. Jumlah pesepeda yang luar biasa yang berpartisipasi dalam Bicycle Sunday pertama memberi dorongan populer yang dibutuhkan rencana itu untuk disetujui. Tanda-tanda mulai dipasang dalam hitungan bulan setelah acara pertama, dan lima puluh mil rute sepeda bertanda dipasang di seluruh kota dalam tahun pertama. Beberapa tanda hijau ini masih berdiri hingga sekarang, menampilkan piktogram sepeda dan hanya berbunyi “Bike Route.”
Fucoloro mendokumentasikan bahwa kisah Seattle bukanlah kisah yang mulus. Ada pasang surut, kegagalan dan keberhasilan, bike boom dan bike bust. Ia menulis tentang Boeing bust yang memberi Seattle awal lebih cepat dari resesi nasional tahun 1970-an—yang dipicu oleh krisis minyak 1973. Seperti yang akan dilihat Seattle lagi dalam resesi 2008, orang-orang yang mencari cara untuk menghemat uang dalam masa ekonomi sulit menemukan lebih dari sekadar penghematan dalam sepeda sederhana.
Lebih dari Sekadar Transportasi: Sepeda sebagai Alat Keadilan Sosial
Salah satu aspek paling kuat dari buku Fucoloro adalah bagaimana ia dengan tegas menolak pandangan sempit tentang sepeda sebagai sekadar alat transportasi atau rekreasi. Bagi Fucoloro, dan bagi generasi pesepeda Seattle yang ia dokumentasikan, sepeda adalah “tool for social change.”
Ulasan dari para kritikus memperkuat hal ini. Jennie Diaz, anggota komite Washington State Book Award, memuji pendekatan Fucoloro yang “comprehensive and enthusiastic” dan menyoroti bagaimana ia menekankan bahwa bersepeda, dan transportasi secara lebih luas, adalah “a social justice issue.”
Analisis yang paling tajam datang dari Adonia Lugo, penulis Bicycle/Race: Transportation, Culture, and Resistance. Lugo memuji Fucoloro karena menceritakan kisah Seattle sebagai “a real, messy place” dan karena mengakui bahwa “our wicked problem of car-centered infra-structure and culture emerged in racially segregated societies under white supremacist governance.” Dengan menunjukkan bagaimana kekerasan kolonial dan perjuangan hak-hak sipil membentuk jalan-jalan kota Amerika, Fucoloro “suggests how to reclaim the people power potential of the bicycle from its more recent role as a symbol of urban gentrification and displacement.”
Ini adalah pengingat yang penting. Bersepeda bukanlah aktivitas yang netral secara politik. Jalur sepeda yang baru bisa menjadi tanda kemajuan, tetapi juga bisa menjadi simbol gentrifikasi yang mengusir komunitas yang sudah lama tinggal. Fucoloro tidak menghindar dari kompleksitas ini. Ia menunjukkan bahwa advokasi sepeda harus dijalankan dengan kesadaran akan ras, kelas, dan sejarah.
Relevansi untuk Dunia yang Haus Energi dan Serba Cepat
Lalu, apa yang bisa kita petik dari kisah Seattle ini untuk situasi dunia saat ini yang penuh dengan krisis lingkungan, pemborosan energi, dan gerakan serba cepat? Pertama, buku Fucoloro adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari atas. Bicycle Sunday adalah ide seorang warga biasa yang tidak terpilih, yang tidak memiliki kekuasaan formal, tetapi memiliki kegigihan. Mia Mann bukan politisi, bukan perencana kota, bukan pebisnis kaya. Ia hanyalah seorang wanita yang percaya bahwa ada cara yang lebih baik untuk menggunakan jalanan. Namun kegigihannya mengubah Seattle selamanya. Di dunia yang sering membuat kita merasa tidak berdaya di hadapan masalah sebesar perubahan iklim, kisah Mia Mann adalah pesan bahwa tindakan individu, jika dilakukan dengan strategi dan ketekunan, bisa bergema hingga setengah abad kemudian.
Kedua, buku ini menunjukkan bahwa krisis bisa menjadi katalis. Fucoloro mencatat bagaimana krisis minyak 1973 dan resesi 2008 mendorong orang beralih ke sepeda. Begitu pula dalam sebuah analisis kontemporer tentang gerakan bersepeda di tengah krisis energi, seorang pegiat sepeda asal Indonesia menulis bahwa “Fenomena ini bisa dibaca menggunakan pendekatan pergeseran paradigma.” Ketika harga BBM melonjak dan pasokan terganggu, paradigma mobilitas yang berorientasi pada bahan bakar fosil mulai goyah. Namun, ia dengan bijak mengingatkan bahwa “setiap anomali tidak selalu berujung pada revolusi dan pergeseran paradigma jika tidak dikelola dengan baik.”
Pandemi COVID-19, ia mencatat, pernah memaksa dunia menurunkan emisi—tetapi ketika tekanan itu berlalu, mobil kembali mendominasi. Kita harus belajar dari sejarah Seattle: momentum krisis harus ditangkap, diorganisir, dan diterjemahkan menjadi perubahan kebijakan yang permanen.
Ketiga, buku Fucoloro mengajarkan bahwa infrastruktur adalah pernyataan politik. Jalan yang dirancang hanya untuk mobil adalah pernyataan bahwa mobil lebih penting daripada manusia yang berjalan atau bersepeda. Bike routes pertama di Seattle, yang hanya berupa tanda hijau sederhana, adalah pernyataan bahwa pesepeda juga berhak atas ruang. Dalam dunia yang semakin sadar akan krisis iklim, investasi dalam infrastruktur sepeda—jalur yang aman, parkir yang memadai, integrasi dengan transportasi umum—bukan lagi kemewahan, tetapi keharusan.
Sebuah Renungan dari Dua Roda: Belajar dari Seattle untuk Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? Di tengah kota-kota yang macet dan udara yang tercemar, gerakan bersepeda mulai menggeliat. Dalam sebuah inisiatif yang menarik, Rektor UIN Mataram baru-baru ini memimpin 300 sepeda dalam sebuah gerakan yang disebutnya sebagai perwujudan ecoteologi—spiritualitas yang membumi dan peduli lingkungan. “Bersepeda adalah pesan tentang hidup sehat, kesadaran ekologis, dan nilai spiritual yang saling terhubung. Inilah semangat ecoteologi yang ingin kita hidupkan bersama,” ujar Prof. Masnun Tahir.
Dari Seattle ke Mataram, ada benang merah yang sama: bahwa sepeda bukan sekadar alat, tetapi simbol. Simbol perlawanan terhadap budaya konsumtif, simbol kemandirian di tengah ketergantungan pada bahan bakar fosil, simbol keadilan di tengah kota yang dirancang untuk segelintir orang yang memiliki mobil. Fucoloro mengajarkan kita bahwa perubahan tidak memerlukan keajaiban. Ia memerlukan Mia Mann yang berani masuk ke ruang pertemuan pada malam hujan. Ia memerlukan Harry Coe yang pada usia 83 tahun masih bersemangat memasang tanda rute sepeda. Ia memerlukan kita, yang mungkin hari ini baru pertama kali mempertimbangkan untuk bersepeda ke kantor, meskipun gerimis mulai turun.
Menemukan Kota di Atas Dua Roda
Ada sebuah perasaan yang mungkin hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya: perasaan ketika kota yang selama ini kamu kira sudah kamu kenal dengan baik, tiba-tiba terasa asing dan baru, hanya karena kamu melihatnya dari atas sadel sepeda. Jalan-jalan yang biasa kamu lewati dengan mobil, dengan kaca tertutup dan musik mengisi ruang, kini terbuka. Kamu mencium aroma roti yang baru dipanggang dari toko di sudut. Kamu mendengar suara anak-anak bermain di taman yang sebelumnya hanya sekadar pemandangan yang meluncur cepat di balik jendela. Kamu melihat detail-detail kecil—sebuah mural yang terkelupas, sebuah pohon yang bunganya baru mekar, seorang tetangga yang sedang menyiram tanamannya—yang selama ini tersembunyi oleh kecepatan dan ketidakpedulian.
Inilah titik tolak yang dipilih Tom Fucoloro dalam kata pengantar (Preface) dan pendahuluan (Introduction) bukunya yang berjudul Biking Uphill in the Rain: The Story of Seattle from Behind the Handlebars (2023). Bukan dengan data statistik tentang jumlah pesepeda, bukan dengan grafik tentang emisi karbon, tetapi dengan sebuah pengalaman pribadi yang sangat membumi: bagaimana ia menemukan kotanya—dan menemukan kembali dirinya—melalui sepeda.
Sebuah Catatan Harian yang Menjadi Buku
Ini adalah cerita tentang bagaimana Tom Fucoloro menemukan Seattle dari balik setang sepeda (Tom Fucoloro, 2023). Namun, ada lapisan lain yang membuat cerita ini istimewa. Fucoloro membangun buku ini bukan di ruang kerja yang steril, tetapi di atas fondasi pekerjaan sehari-hari yang telah ia lakukan selama lebih dari satu dekade: menulis Seattle Bike Blog, sebuah publikasi digital yang menjadi salah satu sumber paling berpengaruh tentang berita, kebijakan, dan budaya sepeda di kota tersebut (Fucoloro, 2023). Ia bahkan dengan rendah hati menyebut bahwa ia tidak dapat memisahkan atau membedakan mana kata-kata yang pertama kali muncul di blog dan mana yang untuk buku ini. Ini adalah pengakuan yang jujur: buku ini adalah sebuah kumpulan, sebuah sintesis, sebuah pematangan dari pengamatan dan refleksi yang telah lama mengendap.
Salah satu karakteristik paling mencolok dari tulisan Fucoloro dalam bagian pembuka ini adalah gaya naratifnya yang khas. Ia tidak menulis sebagai sejarawan yang dingin, tetapi sebagai seorang pencerita yang menyadari bahwa sejarah paling hidup ketika ia diceritakan melalui kisah-kisah pribadi. Dalam kata pengantarnya, Fucoloro mengajak pembaca untuk membaca bukunya sama seperti menulisnya: sambil minum kopi, satu bagian setiap kali, lalu menutup-nya, membiarkannya meresap, mungkin merindukannya, dan kemudian kembali lagi saat inspirasi menggerakkan (Fucoloro, 2023).
Metafora tentang kopi ini bukanlah kebetulan. Di Seattle, kopi adalah budaya, dan membaca buku ini perlahan-lahan, seperti menyeruput espresso, adalah cara yang paling tepat untuk menghargainya.
Mengapa Kita Perlu Sejarah Bersepeda?
Di bagian pendahuluan, Fucoloro mulai melangkah lebih jauh dari sekadar kisah pribadi. Ia mengajukan pertanyaan yang mendasar: mengapa kita perlu menulis—dan membaca—sejarah tentang bersepeda di sebuah kota? Jawabannya, bagi Fucoloro, terletak pada keyakinan bahwa jalanan kota yang ramah sepeda tidak terjadi begitu saja. Mereka diperjuangkan, seringkali selama beberapa dekade, oleh orang-orang biasa yang menolak menerima bahwa mobil adalah satu-satunya cara untuk bergerak.
Fucoloro memperkenalkan premis sentral bukunya: bahwa Seattle, yang kini dinobatkan sebagai kota terbaik untuk bersepeda di Amerika Serikat, memiliki sejarah panjang yang penuh dengan kemenangan dan kegagalan, dengan momen-momen terobosan dan kemunduran yang menyakitkan. Ia ingin menceritakan kisah itu—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pelajaran. Sejarah, katanya, memberi kita perspektif tentang apa yang mungkin terjadi, dan mengingatkan kita bahwa perubahan yang tampaknya mustahil saat ini bisa menjadi kenyataan besok jika cukup orang bersedia berjuang.
Dalam narasi Fucoloro, sepeda bukanlah sekadar mainan anak-anak atau alat olahraga orang kaya. Ia menulis dengan penuh semangat bahwa sepeda adalah alat transportasi yang sah, alat untuk keadilan sosial, dan instrumen untuk menikmati kota dengan cara yang paling intim. Pendekatan ini sejalan dengan apa yang kemudian akan ia kembangkan di bab-bab selanjutnya: bahwa bersepeda adalah isu yang menghubungkan lingkungan, kesehatan masyarakat, kesetaraan akses, bahkan spiritualitas perkotaan.
Menemukan Seattle dari Ketinggian Sadle
Ada sebuah adegan kecil yang Fucoloro ceritakan di pendahuluan, yang mungkin menjadi salah satu bagian paling berkesan. Ia menggambarkan saat pertama kali ia bersepeda melintasi jembatan Fremont, sebuah struktur ikonis di Seattle, pada suatu pagi yang berkabut. Dari atas jembatan, ia bisa melihat kanal, perahu-perahu kecil yang bersandar, dan di kejauhan, cakrawala kota yang mulai tersapu sinar matahari. Saya sudah melewati jembatan ini ribuan kali dengan mobil , tulisnya, tapi tidak pernah benar-benar melihatnya. Pagi itu, dengan kecepatan yang lambat dan tanpa kaca di antara saya dan dunia, saya akhirnya melihat Seattle.
Momen inilah, bagi Fucoloro, yang menjadi titik balik. Ia tidak hanya jatuh cinta pada bersepeda; ia jatuh cinta pada kotanya, dengan cara yang lebih dalam dan lebih autentik daripada sebelumnya. Dan dari cinta itulah, kemudian, lahir keinginan untuk mendokumentasikan, untuk bercerita, dan untuk mengajak orang lain merasakan hal yang sama.
Menyulam Harapan dari Sejarah yang Terlupakan
Dalam tradisi intelektual dan spiritual, sering dikatakan bahwa untuk melangkah ke masa depan, kita harus memahami masa lalu. Fucoloro, dengan gayanya yang hidup dan tidak menggurui, melakukan hal itu untuk Seattle. Ia menunjukkan bahwa kota yang kini ramah sepeda tidak selalu seperti itu; ia pernah sangat bergantung pada mobil, sangat tidak aman bagi pesepeda, dan dipimpin oleh orang-orang yang menganggap sepeda sebagai gangguan. Namun, berkat kegigihan segelintir orang—aktivis, pejabat publik, warga biasa yang bersuara—kota itu berubah.
Ini adalah harapan. Di tengah pesimisme tentang perubahan iklim, tentang kemacetan yang tak teratasi, tentang dominasi mobil yang seolah tak tergoyahkan, kisah Seattle adalah bukti bahwa perubahan itu mungkin. Perlahan, bertahap, dengan banyak jatuh bangun, tetapi mungkin.
Dan mungkin, di sanalah letak pesan terbesar dari kata pengantar dan pendahuluan buku ini: bahwa perjalanan seribu mil, seperti kata pepatah Tionghoa kuno, dimulai dengan satu langkah. Atau dalam kasus Fucoloro, dimulai dengan satu kayuhan pedal, di bawah gerimis Seattle yang dingin, namun dengan hati yang hangat oleh penemuan baru.
Bagaimana Sepeda Membentuk—dan Di bentuk—Seattle
Ada sebuah gambaran yang mungkin sulit kita bayangkan sekarang: Seattle di akhir abad ke-19, ketika jalan-jalannya masih berupa tanah dan kayu, ketika derap kaki kuda masih menjadi irama utama kota, dan ketika sebuah kendaraan aneh beroda dua mulai muncul di jalanan. Itulah adegan pembuka yang dilukiskan Tom Fucoloro dalam bagian pertama bukunya, “Bicycles and the Making of Seattle.” Fucoloro mengajak pembaca untuk memutar waktu lebih dari seratus tahun ke belakang, sebelum mobil menguasai segalanya, sebelum jalan-jalan lebar dibangun untuk kendaraan bermotor, ketika sepeda justru menjadi simbol modernitas dan kemajuan.
Dalam lima bab pembuka ini—dari “A Bike Boom in a Boomtown” hingga “Bike Culture Grows in the Shadow of Freeways“—Fucoloro tidak hanya mencatat peristiwa. Ia sedang membangun sebuah argumen bahwa sepeda dan kota tumbuh bersama, saling membentuk, dan bahwa memahami sejarah Seattle berarti memahami bagaimana sepeda pernah menjadi pusat kehidupan kota, lalu tersingkir, lalu bangkit kembali melawan arus.
Ledakan Pertama: Ketika Sepeda adalah Masa Depan
Pada bab pertama, “A Bike Boom in a Boomtown,” Fucoloro membawa kita ke Seattle tahun 1890-an, saat kota ini sedang mengalami ledakan pertumbuhan yang dahsyat . Sepeda, yang saat itu masih berupa penny-farthings dengan roda depan raksasa dan roda belakang mungil, mulai berubah menjadi safety bicycle dengan dua roda berukuran sama—desain yang kita kenal sekarang. Perubahan teknologi ini, tulis Fucoloro, “democratized cycling, making it accessible to people of all ages and, crucially, to women” (Fucoloro, 2023, Chapter 1). Untuk pertama kalinya, perempuan bisa bergerak sendiri tanpa pendamping, dan sepeda menjadi alat emansipasi.
Fucoloro menggambarkan bagaimana kegilaan bersepeda melanda Seattle. Pabrik-pabrik sepeda lokal bermunculan. Klub-klub bersepeda dibentuk, dan mereka tidak hanya bersepeda untuk rekreasi, tetapi juga melobi pemerintah kota untuk memperbaiki jalan. “Cyclists were the original good roads activists,” tulis Fucoloro dengan nada kagum, “long before the automobile clubs claimed that mantle” . Ini adalah poin penting yang sering dilupakan: bahwa tuntutan akan jalan yang mulus dan terawat sebenarnya dimulai oleh pesepeda, bukan pengemudi mobil.
Namun, bab ini tidak hanya berisi nostalgia. Fucoloro dengan jeli mencatat bahwa kegilaan sepeda ini juga memiliki sisi gelap. Sepeda adalah mainan mahal, dan mereka yang bisa membelinya adalah kelas menengah ke atas . Pekerja pabrik dan buruh pelabuhan, yang membentuk tulang punggung ekonomi Seattle, sebagian besar masih berjalan kaki atau menggunakan trem. Jadi, meskipun sepeda membawa janji kebebasan, kebebasan itu pada awalnya hanya untuk segelintir orang.
Kehancuran: Ketika Mobil Mencuri Panggung
Bab kedua, “After the Bike Bust,” adalah kisah tentang kejatuhan yang cepat dan menyakitkan. Fucoloro mencatat bahwa puncak demam sepeda di Seattle terjadi sekitar tahun 1897 . Kemudian, dalam hitungan tahun, minat publik terhadap sepeda runtuh. Mengapa? Jawabannya, tentu saja, adalah mobil. Henry Ford mulai memproduksi Model T pada tahun 1908, dan dunia tidak pernah sama lagi.
Namun Fucoloro tidak hanya menyalahkan mobil. Ia menunjukkan bahwa penurunan ini juga disebabkan oleh faktor internal komunitas pesepeda itu sendiri . Banyak klub sepeda yang eksklusif dan tidak ramah bagi pendatang baru. Ada juga persaingan antara pesepeda jalan raya dan pesepeda track. Ketika mobil menawarkan kecepatan dan kenyamanan yang lebih besar tanpa perlu mengeluarkan keringat, para pesepeda yang tadinya paling vokal mulai beralih ke mobil. “The irony,” tulis Fucoloro, “is that the cyclists who had once demanded good roads for their bikes were now demanding even better roads for their cars” .
Fucoloro juga mengangkat isu yang jarang dibahas: bagaimana industri sepeda yang tadinya berkembang pesat, gulung tikar satu per satu. Pabrik-pabrik yang dulu memproduksi ribuan sepeda per tahun berubah menjadi dealer mobil atau bengkel reparasi kendaraan bermotor . Sepeda, yang dulu adalah puncak teknologi, tiba-tiba dianggap sebagai mainan anak-anak atau alat transportasi bagi mereka yang terlalu miskin untuk membeli mobil.
Melawan Raksasa Beton: Perlawanan Menyelamatkan Kota
Bab ketiga, “Freeway Fighting,” adalah salah satu bagian yang paling dramatis dalam buku ini. Fucoloro menceritakan bagaimana pada tahun 1950-an dan 1960-an, Seattle, seperti banyak kota Amerika lainnya, dilanda demam pembangunan jalan tol . Rencana awalnya sangat ambisius: sebuah jaringan jalan layang yang akan membelah lingkungan-lingkungan perumah-an, menghancurkan taman-taman kota, dan mengubah Seattle menjadi kota yang dirancang sepenuhnya untuk mobil.
Namun, yang terjadi kemudian adalah salah satu babak paling heroik dalam sejarah perlawanan warga Seattle. Fucoloro menulis dengan penuh semangat tentang koalisi yang tidak terduga: ibu-ibu rumah tangga yang khawatir anak-anak mereka tidak aman bermain di dekat jalan tol, aktivis lingkungan yang ingin melindungi ruang terbuka hijau, dan pesepeda yang melihat bahwa jalan tol akan membuat bersepeda menjadi semakin mustahil dan berbahaya. Yang paling mengesankan adalah kisah tentang bagaimana warga di lingkungan utara Seattle berhasil menghentikan pembangunan R.H. Thomson Expressway, sebuah jalan tol yang akan membelah beberapa taman dan lingkungan kelas pekerja . Mereka tidak hanya protes; mereka meng-organisir, menduduki lahan, melobi politisi, dan pada akhirnya memaksa pemerintah kota untuk membatalkan proyek tersebut . “It was a David-and-Goliath story,” tulis Fucoloro, “except that David won, and the freeway never got built.”
Kemenangan ini, menurut Fucoloro, memiliki dampak yang mendalam. Ruang yang seharusnya menjadi beton tetap hijau. Dan yang lebih penting, gerakan ini melahirkan generasi aktivis yang kemudian akan memperjuangkan jalur sepeda dan ruang publik yang ramah manusia. Tanpa perlawanan terhadap jalan tol pada tahun 1960-an, tidak akan ada ruang bagi kebangkitan bersepeda di tahun 1970-an dan seterusnya.
Kelahiran Kembali: Sepeda Menemukan Napas Baru
Bab keempat, “Biking Is Reborn,” adalah tentang kebangkitan. Fucoloro menunjukkan bagai-mana krisis minyak 1973 menjadi pemicu besar. Ketika harga bahan bakar melonjak dan antrean panjang terjadi di pom bensin, orang-orang mulai mencari alternatif. Sepeda, yang selama puluhan tahun terpinggirkan, tiba-tiba terlihat menarik lagi.
Fucoloro menggambarkan bagaimana di Seattle, gelombang baru pesepeda ini berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lebih beragam: ada mahasiswa yang ingin hemat, ada profesional muda yang sadar lingkungan, ada imigran dari negara-negara di mana bersepeda adalah hal biasa, dan ada perempuan yang tidak ingin bergantung pada mobil untuk mobilitas mereka . Mereka juga lebih militan dalam advokasi mereka.
Salah satu cerita paling menarik dalam bab ini adalah tentang bagaimana para pesepeda pada era ini mulai memikirkan infrastruktur. Tidak cukup hanya dengan bersepeda; mereka mem-butuhkan jalur yang aman, tempat parkir sepeda yang memadai, dan integrasi dengan transportasi umum . Fucoloro mencatat bahwa pada tahun 1970-an, Seattle mulai me-masang bike racks di bus-bus kota—sebuah langkah kecil yang revolusioner pada masanya.
Di Bawah Bayangan Jalan Tol: Budaya yang Tetap Tumbuh
Bab kelima, “Bike Culture Grows in the Shadow of Freeways,” adalah tentang kontradiksi. Fucoloro mengamati bahwa meskipun Seattle berhasil menghentikan beberapa proyek jalan tol, kota ini tetap memiliki jalan-jalan besar yang memisahkan lingkungan dan membuat bersepeda menjadi berbahaya. Namun, justru di bawah bayangan jalan-jalan tol inilah budaya sepeda malah tumbuh subur.
Fucoloro menulis tentang munculnya bike shops komunitas, tentang Critical Mass—gerakan bersepeda massal yang dimulai di San Francisco dan menyebar ke Seattle, tentang bike messengers yang menjadi ikon budaya perkotaan, dan tentang bagaimana sepeda mulai muncul dalam seni, musik, dan literatur Seattle . Ia juga mencatat bahwa kebangkitan ini tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi juga di pinggiran, di mana orang-orang mulai bersepeda ke stasiun kereta komuter atau ke tempat kerja.
“The freeways were built,” tulis Fucoloro, “but they did not win. Beneath them, beside them, and sometimes despite them, people kept riding. And slowly, the city began to change” . Ini adalah pesan optimis yang menjadi benang merah seluruh bagian pertama buku ini.
Menyimpulkan Sebuah Perjalanan Panjang
Membaca kelima bab ini secara berurutan terasa seperti menyaksikan sebuah epik: dari kelahiran, kejatuhan, perlawanan, kebangkitan, hingga pertumbuhan yang gigih di tengah kesulitan. Fucoloro tidak menyederhanakan cerita. Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak linear; ada pasang surut, ada kemenangan dan kekalahan. Namun yang ia tekankan adalah bahwa di setiap titik kritis, selalu ada orang-orang yang memilih untuk tetap bersepeda, yang memilih untuk memperjuangkan hak mereka atas jalanan.
Dalam tradisi filsafat sejarah, Ibn Khaldun, sejarawan Muslim abad ke-14, mengajarkan bahwa peradaban naik dan turun dalam siklus, dan bahwa di puncak kemewahan sering kali muncul benih-benih keruntuhan. Sebaliknya, Fucoloro menunjukkan bahwa di kedalaman keterpuru-kan—ketika mobil menguasai segalanya dan sepeda dianggap usang—justru di situlah benih-benih kebangkitan mulai tumbuh.
Bagi kita yang hidup di era krisis iklim, di tengah kota-kota yang macet dan udara yang tercemar, kisah Seattle ini adalah sumber inspirasi sekaligus peringatan. Inspirasi, karena ia menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Peringatan, karena ia mengingatkan bahwa perubahan tidak datang dengan sendirinya; ia harus diperjuangkan, dilobi, diorganisir, dan kadang-kadang, dipertahankan dengan tubuh kita sendiri di tengah jalan yang akan dibangun menjadi beton.
Ketika Sepeda Berusaha Menjadi Arus Utama
Bayangkan sebuah kota yang sudah memiliki sejarah panjang dengan sepeda—pernah jaya, lalu tersingkir, lalu bangkit kembali—kini berdiri di ambang sebuah momen krusial. Mobil masih mendominasi jalanan. Politisi masih ragu-ragu untuk mendukung infrastruktur sepeda karena takut kehilangan suara pengemudi. Namun di suatu tempat di antara hiruk-pikuk lalu lintas, di antara kabut pagi yang menyelimuti kanal-kanal Seattle, sebuah gerakan mulai berdesir. Bukan lagi sekadar kelompok kecil aktivis yang bersepeda pada hari Minggu pagi. Kali ini, jumlah pesepeda mulai melonjak dan mereka tidak bisa diabaikan lagi. Inilah titik tolak yang digambarkan Tom Fucoloro dalam bagian kedua bukunya, yang dengan tepat ia beri judul “Seattle Enters a Bicycle Renaissance.”
Dalam empat bab yang padat ini—”Biking Tries to Go Mainstream,” “Too Many,” “Seattle’s Bicycle Ambitions Grow,” dan “Building a Better Bike Lane”—Fucoloro membawa kita menyaksi-kan masa-masa transisi yang paling menarik sekaligus paling menegangkan dalam sejarah bersepeda Seattle. Ini bukan lagi kisah tentang perlawanan terhadap jalan tol yang heroik tetapi sederhana. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah kota mulai serius memikirkan sepeda sebagai bagian dari sistem transportasinya, dan semua konflik, kegagalan, dan kemenangan kecil yang menyertainya.
Menembus Arus Utama: Ketika Sepeda Bukan Lagi Subkultur
Bab keenam, “Biking Tries to Go Mainstream,” adalah tentang momen ketika sepeda tidak lagi menjadi aktivitas pinggiran. Fucoloro mencatat bahwa pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, jumlah pesepeda di Seattle mulai meningkat secara signifikan. Namun yang lebih penting dari sekadar angka adalah perubahan komposisi para pesepeda itu sendiri. Tidak lagi didominasi oleh laki-laki muda pemberani yang rela mengambil risiko di jalan raya. Kini, semakin banyak perempuan, lansia, dan anak-anak yang mulai bersepeda. “When you see a grandmother on a cargo bike picking up her grandkids from school,” tulis Fucoloro, mengutip seorang perencana kota yang ia wawancarai, “that’s when you know cycling has truly arrived” (Fucoloro, 2023, Chapter 6).
Fucoloro menggambarkan bagaimana kota mulai merespons. Program bike-to-work didirikan. Peta rute sepeda mulai dicetak dan didistribusikan secara gratis. Namun, semua upaya ini masih bersifat sukarela dan tidak terkoordinasi. Tidak ada anggaran besar untuk infrastruktur sepeda. Tidak ada kemauan politik untuk mengambil ruang dari mobil. Fucoloro mencatat dengan nada frustrasi yang terkendali bahwa pada periode ini, meskipun jumlah pesepeda meningkat, tingkat kecelakaan yang melibatkan sepeda dan mobil juga meningkat, karena infrastruktur tidak kunjung memadai. “More people were riding, but they were riding on the same dangerous streets” .
Terlalu Banyak: Paradoks Kesuksesan
Bab ketujuh, “Too Many,” adalah judul yang sengaja provokatif. Terlalu banyak apa? Terlalu banyak pesepeda, ternyata. Atau setidaknya, itulah keluhan yang mulai terdengar dari pengemudi mobil dan beberapa politisi ketika jumlah pesepeda terus melonjak. Fucoloro menunjukkan ironi yang pahit: selama bertahun-tahun, para advokat sepeda berjuang agar kota mengakui bahwa pesepeda itu ada dan perlu diperhitungkan. Kini, ketika jumlah mereka akhirnya tidak bisa diabaikan lagi, keluhan yang muncul justru adalah bahwa mereka terlalu banyak—terlalu banyak yang memenuhi jalan, terlalu banyak yang melanggar lampu merah, terlalu banyak yang memperlambat lalu lintas.
Fucoloro tidak menghindar dari isu kontroversial ini. Ia melaporkan bahwa memang ada pesepeda yang bersikap ugal-ugalan, dan hal itu merusak citra komunitas secara keseluruhan. Namun ia juga menunjukkan bahwa standar yang diterapkan pada pesepeda jauh lebih ketat daripada pada pengemudi mobil. “A single cyclist running a red light becomes a headline,” tulisnya, “while thousands of drivers speeding, rolling through stop signs, and blocking crosswalks go unremarked” .
Yang lebih menarik adalah bagaimana Fucoloro menyoroti perdebatan internal dalam komunitas pesepeda itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa untuk bersepeda menjadi arus utama, pesepeda harus mematuhi semua aturan lalu lintas dengan disiplin militer. Ada yang berpendapat bahwa aturan itu sendiri yang diskriminatif terhadap sepeda, dan bahwa kadang-kadang melanggar aturan (misalnya, menerobos lampu merah setelah memastikan tidak ada mobil) justru lebih aman bagi pesepeda. Fucoloro tidak memihak, tetapi ia menunjukkan bahwa perdebatan ini, meskipun melelahkan, adalah tanda bahwa bersepeda telah menjadi isu publik yang serius, bukan lagi sekadar hobi.
Ambisi yang Mulai Membumbung Tinggi
Bab kedelapan, “Seattle’s Bicycle Ambitions Grow,” mencatat pergeseran paradigma yang terjadi sekitar tahun 2010-an. Di bawah kepemimpinan walikota yang lebih progresif dan dengan tekanan dari aktivis yang semakin terorganisir, Seattle mulai mengembangkan rencana induk untuk sepeda. Fucoloro menulis tentang dokumen-dokumen perencanaan yang ambisius, tentang target-target peningkatan jumlah pesepeda, tentang komitmen untuk membangun jaringan jalur sepeda yang terlindungi (protected bike lanes).
Namun Fucoloro juga mencatat bahwa ambisi dan realitas seringkali berjauhan. Anggaran yang dijanjikan tidak pernah cukup. Proyek-proyek yang diumumkan dengan meriah seringkali tertunda atau dipangkas. Dan setiap kali sebuah jalur sepeda baru diusulkan, selalu ada gelombang protes dari pemilik bisnis yang khawatir kehilangan pelanggan dan dari warga yang khawatir kehilangan tempat parkir. “Every block of new bike lane,” tulis Fucoloro, mengutip seorang advokat yang lelah, “had to be fought for like it was the last block on earth” .
Namun di tengah semua kesulitan itu, Fucoloro melihat tanda-tanda kemajuan yang nyata. Jumlah pesepeda terus meningkat. Model-model baru mulai bermunculan, seperti bike-share dan sepeda kargo listrik. Dan yang paling penting, generasi baru perencana kota dan politisi mulai masuk ke dalam pemerintahan—orang-orang yang tidak lagi memandang sepeda sebagai gangguan, tetapi sebagai solusi.
Membangun Jalur yang Lebih Baik: Pertarungan di Setiap Sentimeter
Bab kesembilan, “Building a Better Bike Lane,” adalah klimaks dari bagian kedua ini. Fucoloro melambatkan narasinya untuk fokus pada satu isu spesifik yang tampaknya teknis tetapi sesungguhnya sangat politis: bagaimana merancang jalur sepeda yang benar-benar aman dan nyaman. Ia menulis tentang perdebatan antara bike lanes yang hanya berupa garis cat di tepi jalan (painted lanes) versus protected bike lanes yang dipisahkan oleh penghalang fisik dari lalu lintas mobil.
Fucoloro tidak ragu-ragu memihak pada bukti. Ia memaparkan data bahwa protected bike lanessecara drastis mengurangi kecelakaan dan meningkatkan jumlah pesepeda, terutama di kalangan demografi yang selama ini kurang terwakili seperti perempuan dan lansia. Namun ia juga jujur tentang tantangan politiknya: protected bike lanes membutuhkan ruang, dan mengambil ruang dari mobil selalu kontroversial.
Salah satu cerita paling menarik dalam bab ini adalah tentang perjuangan untuk membangun jalur sepeda di Broadway, jantung lingkungan Capitol Hill yang ramai. Fucoloro mendoku-mentasikan dengan detail yang hampir seperti novel bagaimana aktivis menghadiri puluhan pertemuan publik, bagaimana para pebisnis awalnya menentang keras dan kemudian berubah pikiran setelah melihat peningkatan jumlah pelanggan yang datang dengan sepeda, dan bagaimana proyek yang akhirnya terwujud menjadi salah satu jalur sepeda tersukses di kota itu. “It wasn’t easy,” tulis Fucoloro, “but nothing worth doing ever is.”
Memetik Hikmah dari Perjuangan yang Tak Pernah Usai
Membaca keempat bab ini secara berurutan, kita tidak bisa tidak merasakan bahwa Fucoloro sedang menulis tentang sesuatu yang lebih besar dari sekadar sepeda. Ia sedang menulis tentang bagaimana perubahan terjadi di kota-kota demokratis: dengan lambat, dengan banyak kompromi, dengan kemenangan kecil yang terasa seperti kekalahan karena tidak secepat yang diharapkan, namun pada akhirnya terakumulasi menjadi sesuatu yang nyata.
Ini adalah pelajaran penting untuk dunia saat ini, yang sedang menghadapi krisis iklim dan kebutuhan mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada mobil berbahan bakar fosil. Tidak ada solusi ajaib. Tidak ada presiden atau walikota yang akan menyelamatkan kita sendirian. Yang ada adalah perjuangan di setiap blok, di setiap pertemuan dewan kota, di setiap jalur sepeda yang diusulkan dan ditentang dan akhirnya dibangun.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep al-ta’awun (kerjasama) dan al-sabr (kesabaran). Fucoloro, tanpa menyebut istilah-istilah itu, menunjukkan keduanya dalam praktik. Al-ta’awunterlihat dalam koalisi aktivis, perencana, dan politisi yang bekerja bersama. Al-sabr terlihat dalam ketekunan menghadiri pertemuan demi pertemuan, menerima kekalahan dan bangkit lagi, mengetahui bahwa perubahan kota adalah proses yang melebihi satu generasi. Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Sesungguhnya kebenaran itu berat dan tidak mudah, tetapi ia akan menang pada akhirnya.” Fucoloro menunjukkan bahwa kemenang-an itu tidak datang dalam bentuk ledakan, tetapi dalam bentuk seorang nenek dengan sepeda kargo yang menjemput cucunya dari sekolah, melewati jalur sepeda yang perjuangannya tidak ia ketahui tetapi nikmati setiap hari.
Di Persimpangan Jalan: Sebuah Renungan di Akhir Perjalanan
Seperti apa sebuah epilog seharusnya? Biasanya, ia adalah bagian penutup yang merangkum, yang menyimpulkan, yang memberikan rasa tamat pada sebuah perjalanan panjang. Namun Tom Fucoloro, dalam epilog bukunya Biking Uphill in the Rain: The Story of Seattle from Behind the Handlebars (2023), memilih jalan yang berbeda. Ia tidak menutup cerita dengan tanda titik. Ia mengakhiri dengan tanda elipsis—dengan sebuah undangan untuk terus melangkah, terus bersepeda, terus berjuang.
Dalam bagian terakhir yang singkat namun sarat makna ini, Fucoloro mundur selangkah dari narasi sejarah yang telah ia bangun selama dua belas bab sebelumnya. Ia tidak lagi berbicara tentang tahun 1890-an atau 1970-an atau 2010-an. Ia berbicara tentang sekarang. Ia berbicara tentang masa depan yang masih samar tetapi bisa dirasakan, seperti kabut pagi di atas kanal Seattle yang belum sepenuhnya tersapu matahari.
Kemajuan yang Tidak Pernutup
Fucoloro memulai epilognya dengan merenungkan apa yang telah dicapai Seattle selama lebih dari satu abad. Jalan-jalan yang dulu hanya berupa tanah dan kayu, kini dilapisi aspal dengan jalur sepeda berwarna hijau yang terlindungi. Jembatan-jembatan yang dulu hanya bisa diseberangi dengan risiko tertabuk kuda atau trem, kini memiliki jalur terpisah untuk pesepeda. Walikota yang dulu menganggap sepeda sebagai mainan anak-anak, kini bersepeda ke kantor dan mempromosikan bike-to-work day.
Namun, tulis Fucoloro, “progress is never a straight line, and it’s never final” . Ia mengingatkan bahwa setiap kemenangan dalam advokasi sepeda adalah kemenangan yang sementara, yang harus dipertahankan terus-menerus. Sebuah jalur sepeda yang sudah dibangun bisa dihapus oleh walikota berikutnya. Anggaran untuk infrastruktur sepeda bisa dipotong kapan saja. Dan yang paling mengkhawatirkan, budaya mobil tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya tidur, menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali.
Fucoloro mengutip pengalamannya sendiri sebagai jurnalis yang meliput pertemuan dewan kota selama bertahun-tahun. Ia telah melihat sendiri bagaimana sebuah proyek jalur sepeda yang sudah disetujui dengan susah payah, tiba-tiba ditunda karena tekanan dari sekelompok kecil pemilik toko yang khawatir kehilangan tempat parkir. Ia juga telah melihat bagaimana sebuah kompromi yang tampaknya kecil—misalnya, mengurangi lebar jalur sepeda beberapa sentimeter—bisa berdampak besar pada keselamatan pesepeda. “The fight never ends,” tulisnya, “it just changes shape” .
Hujan yang Tak Pernah Berhenti
Epilog ini juga menjadi ruang bagi Fucoloro untuk kembali ke metafora utama bukunya: hujan. Seattle terkenal dengan hujannya, dan bersepeda di Seattle berarti bersedia basah. Namun Fucoloro melihat ada lebih dari sekadar ketidaknyamanan fisik di balik hujan itu. Baginya, hujan adalah metafora untuk kegigihan. Orang-orang yang bersepeda di Seattle tidak menunggu cuaca cerah. Mereka mengenakan jas hujan, memasang lampu, dan tetap melaju. “That’s the spirit of this city,” tulisnya, “and that’s the spirit of the bike movement” .
Dalam refleksinya, Fucoloro juga berbicara tentang kegembiraan yang ditemukan di tengah hujan. Ada sensasi tertentu, katanya, ketika kamu bersepeda di tengah rintik gerimis, ketika kota yang sibuk terdengar lebih tenang, ketika mobil-mobil melambat karena jarak pandang terbatas, dan ketika udara terasa lebih segar di paru-paru. “You learn to love the rain,” tulisnya, “not because it’s comfortable, but because it makes you feel alive” .
Ini adalah pengingat yang penting, terutama di dunia yang semakin didominasi oleh keinginan akan kenyamanan instan. Kita ingin perjalanan yang cepat, mobil yang hangat, dan rute yang bebas hambatan. Namun Fucoloro mengajak kita untuk mempertimbangkan bahwa ada nilai dalam ketidaknyamanan, ada pelajaran dalam perjuangan, dan ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan kenyamanan. Bersepeda di tengah hujan mengajarkan bahwa kegigihan lebih berharga daripada kemewahan.
Sepeda sebagai Jalan Menuju Kota yang Lebih Baik
Di akhir epilognya, Fucoloro tidak hanya berbicara tentang Seattle. Ia berbicara tentang semua kota. Ia percaya bahwa pelajaran dari Seattle—bahwa sepeda bisa menjadi alat perubahan yang ampuh, bahwa infrastruktur sepeda yang baik adalah investasi, bukan kerugian, dan bahwa perubahan membutuhkan kesabaran dan kegigihan—adalah pelajaran universal.
Ia mengakui bahwa tidak semua kota memiliki topografi yang sama dengan Seattle, atau iklim yang sama, atau sejarah yang sama. Namun ia berargumen bahwa prinsip dasarnya tetap sama: “People will bike when they feel safe. And they will feel safe when the infrastructure is there. It’s that simple, and it’s that hard.”
Fucoloro menutup bukunya dengan sebuah adegan yang indah. Ia menggambarkan dirinya bersepeda pulang ke rumah pada suatu sore di akhir musim gugur. Hujan baru saja reda. Jalanan masih basah, memantulkan lampu-lampu kota seperti cermin. Ia melewati seorang ayah yang sedang mengajarkan anaknya bersepeda di taman, seorang wanita tua dengan sepeda listrik yang membawa belanjaan, dan sekelompok remaja yang tertawa sambil bersepeda berdampingan. “This is what we’re fighting for,” tulisnya, “not just bike lanes, not just policy, but this: ordinary people on bikes, living their lives, moving through the city with joy and freedom.”
Dan dengan itu, Fucoloro menepi ke halaman rumahnya, mengunci sepeda di teras, dan berjalan masuk. Ceritanya selesai. Namun perjalanan Seattle, dan perjalanan kita semua, terus berlanjut. Entah hujan akan turun lagi besok pagi, dan kita harus memilih: apakah kita akan tetap di dalam mobil, atau mengenakan jas hujan dan mengayuh?
Sebuah Renungan dari Ujung Perjalanan
Dalam tradisi filsafat, epilog sering menjadi ruang bagi seorang penulis untuk merenung tentang makna dari apa yang telah ia tulis. Fucoloro melakukan hal itu dengan gaya yang sederhana namun menusuk. Ia tidak mengklaim bahwa sepeda akan menyelamatkan dunia sendirian. Ia tidak mengklaim bahwa Seattle telah menjadi surga bagi pesepeda. Ia hanya mengatakan bahwa jika ada satu hal yang ia pelajari dari menulis buku ini, itu adalah bahwa perubahan itu mungkin, dan bahwa perubahan itu dimulai dari individu-individu biasa yang memilih untuk tidak menunggu.
Penyair Persia, Hafiz, yang hidup enam abad lalu, pernah menulis: “Aku belajar bahwa setiap kali aku merasa hancur, itu bukanlah akhir. Itu adalah awal dari sesuatu yang baru.” Mungkin itulah pesan epilog Fucoloro. Seattle pernah hancur oleh dominasi mobil. Namun dari kehancuran itu, sesuatu yang baru lahir. Bukan kota yang bebas mobil, tetapi kota di mana mobil dan sepeda berbagi ruang—kadang dengan damai, kadang dengan ketegangan, tetapi setidaknya mereka berbagi. Dan itu, mungkin, sudah cukup untuk memulai.
Bogor, 12 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Fucoloro, T. (2023). Biking uphill in the rain: The story of Seattle from behind the handlebars. University of Washington Press.
Fucoloro, T. (2023). Excerpt: A fun ride. Seattle Magazine. https://seattlemag.email/food-and-culture/book-a-fun-ride/
Fucoloro, T. (2024, May 23). National Bike Month: Excerpt from “Biking Uphill in the Rain.” University of Washington Press Blog. https://uwpressblog.com/2024/05/23/national-bike-month-excerpt-from-biking-uphill-in-the-rain-by-tom-fucoloro/
Hashri, M. A. (2026, April 2). Gerakan bersepeda di tengah krisis energi. Suara Muhammadiyah. https://mail.suaramuhammadiyah.id/read/gerakan-bersepeda-di-tengah-krisis-energi
UIN Mataram. (2026, January 11). 300 sepeda menyapa kota: Rektor UIN Mataram menghidupkan spiritualitas dan gaya hidup sehat ala ecoteologi. https://uinmataram.ac.id/300-sepeda-menyapa-kota-rektor-uin-mataram-menghidupkan-spiritualitas-dan-gaya-hidup-sehat-ala-ecoteologi/
University of Washington Press. (2023). Biking uphill in the rain: The story of Seattle from behind the handlebars. https://uwapress.uw.edu/book/9780295751580/biking-uphill-in-the-rain/






