Rubarubu #157
Pedaling to Lunch:
Pengalaman Gowes ke Warung-warung Lokal
Bagiamana rasanya ketika bersepeda menjadi jembatan antara rasa, sejarah, dan perlawanan pada kecepatan. Ini pengalaman lama yang direkam pada 2009. Misalnya pada sebuah pagi di Ohio Timur Laut. Udara masih segar, matahari baru saja menyapa puncak-puncak pohon maple, dan seorang pria paruh baya bernama Stan Purdum sedang memompa ban sepedanya. Ia bukan atlet yang berlatih untuk balapan, bukan pula pesepeda yang bergegas ke kantor. Ia adalah seorang penulis, pendeta, dan pesepeda jarak jauh yang sedang bersiap untuk sebuah ritual mingguan yang telah menjadi filosofi hidupnya: bersepeda untuk mencari tempat makan siang yang enak.
Buku Pedaling to Lunch: Bike Rides and Bites in Northeast Ohio yang terbit pada tahun 2009 ini adalah catatan perjalanan dua puluh tur sepeda yang melintasi enam belas county di Ohio, sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Ohio adalah sebuah negara bagian di kawasan Midwest Amerika Serikat yang sering disebut sebagai “jantung Amerika” karena posisinya yang unik. Seperti yang diungkapkan oleh penulis pemenang Pulitzer asal Ohio, Louis Bromfield, “Ohio adalah wilayah paling barat dari timur, dan paling timur dari barat, paling utara dari selatan dan paling selatan dari utara.”
Salah satu aspek paling menarik dari Ohio adalah keragaman budayanya yang masih terlihat jelas hingga kini. Seperti yang didokumentasikan oleh sumber-sumber sejarah, pola pemukiman di Ohio sangat bervariasi menurut wilayah karena asal-usul pendatang yang berbeda. Bagian timur laut, yang dikenal sebagai Connecticut Western Reserve, dihuni terutama oleh orang-orang dari New England dan New York, yang membawa serta arsitektur Federal dan Greek Revival serta konsep tata kota dengan village green. Bagian selatan-tengah, sebaliknya, dihuni oleh para migran dari Virginia, Kentucky, dan Maryland, yang membawa pengaruh arsitektur Upland South. Kedatangan imigran Jerman dan Irlandia yang membangun kanal dan rel kereta api pada pertengahan abad ke-19, meninggalkan jejak yang mendalam. Tidak ketinggalan, Holmes County di Ohio saat ini memiliki komunitas Amish terbesar di dunia—sebuah fakta yang sangat relevan dengan Ride 15 dalam buku Purdum, di mana ia bersepeda melewati “Amish Country” yang tenang dan penuh tradisi.
Di setiap rute, Purdum tidak hanya menyajikan peta dan petunjuk arah yang presisi, tetapi juga merangkai narasi tentang tempat—bukan hanya sebagai lokasi di peta, tetapi sebagai palimpsest, lembaran-lembaran sejarah yang ditulis ulang oleh waktu. Ia membawa pembaca menyusuri jalan-jalan pedesaan, melintasi jembatan tertutup yang berderit, melewati sisa-sisa terusan kuno dan bekas jalan Lincoln Highway yang bersejarah.
Lebih dari Sekadar Sepeda: Petualangan Kuliner di Atas Dua Roda
Yang membuat buku ini unik adalah bahwa perjalanan bersepeda ini selalu memiliki tujuan kuliner. Di tengah setiap rute, Purdum telah menyiapkan rekomendasi tempat makan siang: kedai makan, tavern, atau kafe kecil yang menyajikan masakan khas kota kecil Ohio . Spread Eagle Tavern, Des Dutch Essenhaus, Sunrise Café—nama-nama ini bukan sekadar tempat mengisi perut, melainkan gerbang menuju budaya lokal. Purdum memahami bahwa makanan, ketika dinikmati setelah mengayuh sejauh tiga puluh atau empat puluh kilometer, terasa jauh lebih nikmat. Ada semacam keadilan ilahi dalam hal ini: keringat yang membasahi kemeja menjadi bumbu paling otentik untuk sepiring burger atau semangkuk sup kental.
Tetapi buku ini bukanlah sekadar panduan kuliner bersepeda. Ia adalah undangan untuk memperlambat. Di era ketika mobilitas seakan-akan hanya diukur dari seberapa cepat kita sampai, Purdum dengan santai namun tegas memilih jalan yang berbeda. Ia memilih jalan-jalan kecil di pedesaan di mana “arus kehidupan masih tenang dan lanskap belum berkembang” . Ia memilih untuk mendengarkan deru angin daripada klakson, merasakan tekstur aspal di bawah ban daripada getaran mesin.
Menjelajahi Lorong Waktu: Sejarah yang Hidup di Setiap Tikungan
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menyelipkan sejarah lokal yang kaya ke dalam narasi bersepeda yang ringan . Di setiap rute, Purdum berhenti tidak hanya untuk makan, tetapi juga untuk mengingat. Ia membawa pembaca ke situs eksperimen komunal utopis, tempat di mana sekelompok penduduk asli Amerika dibantai, atau ke sebuah lembah yang dihuni oleh karakter-karakter jahat yang bahkan para penegak hukum enggan memasukinya.
Ada rute yang melewati rumah masa kecil pengacara legendaris Clarence Darrow—pembela dalam Scopes Monkey Trial yang mengguncang Amerika. Ada pula tempat resor musim panas di mana Dean Martin, ikon hiburan Amerika, memulai kariernya . Purdum juga mengenang seorang pelempar bisbol wanita bernama Alta Weiss yang tumbuh di daerah tersebut dan mengingatkan bahwa sejarah sering ditulis oleh mereka yang berani melompati sekat-sekat gender.
Yang menarik, Purdum juga membawa pembaca ke titik paling utara yang pernah digerebek oleh pasukan Konfederasi selama Perang Saudara. Bayangkan: pasukan Selatan yang menjelajah jauh ke wilayah Utara, menciptakan gema perang di tanah yang seharusnya damai. Atau sisa-sisa dua terusan yang dulunya menjadi urat nadi perdagangan dan transportasi sebelum digantikan oleh rel kereta api, yang kemudian juga mulai terlupakan setelah mobil mengambil alih segalanya.
Dalam setiap pengamatan ini, Purdum sebenarnya sedang melakukan sebuah tindakan perlawanan yang halus. Ia menggunakan sepeda untuk terhubung dengan lapisan-lapisan sejarah yang sering terlewatkan oleh mereka yang melaju terlalu cepat dengan mobil. Ia mengingatkan kita bahwa ada cerita yang hanya bisa didengar ketika kita cukup lambat untuk mampir.
Dunia yang Haus Kecepatan dan Rindu Perlambatan
Sekarang, mari kita tarik benang merah ini ke tahun 2024, lebih dari satu dekade setelah buku ini terbit. Dunia saat ini justru semakin gila dalam perlombaan kecepatan. Ada mobil listrik yang melaju senyap tanpa emisi, skuter listrik yang bisa dilipat dan dibawa ke mana-mana, dan janji-janji tentang drone taksi yang akan mengangkut kita melintasi cakrawala kota. Godaan untuk “lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien” seolah-olah telah menjadi satu-satunya bahasa mobilitas yang sah.
Namun, di tengah gemuruh itu, sepeda kembali muncul sebagai ikon yang paradoks. Di satu sisi, ia dianggap “ketinggalan zaman”—sebuah alat yang tidak kompetitif dalam perlombaan kecepatan. Namun di sisi lain, ia justru semakin dicintai sebagai simbol slow living, sebagai jawaban atas kelelahan mental yang diakibatkan oleh tuntutan untuk terus bergerak cepat. Bersepeda mengajarkan bahwa ada keindahan dalam kecepatan yang manusiawi—sekitar 15 hingga 25 kilometer per jam—yang memungkinkan kita masih bisa melihat warna bunga di pinggir jalan, mendengar suara anak-anak bermain, dan merasakan perubahan suhu saat melewati lembah.
Kita bisa memetik hikmah dari buku Purdum bahwa tujuan perjalanan kita bukanlah satu-satunya yang penting; yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita sampai di sana. Ketika ia duduk di sebuah kedai kopi kecil setelah mengayuh puluhan kilometer, ia tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga merayakan usaha yang telah ia lakukan. Ini adalah pelajaran yang berharga di era on-demand di mana segala sesuatu—dari makanan hingga hiburan—bisa didapatkan tanpa usaha.
Dalam sebuah surat kepada putranya pada tahun 1930, Albert Einstein, yang terkenal dengan rambut acak-acakan dan kecintaannya pada sepeda, menulis: “Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, kamu harus terus bergerak.” Kata-kata ini, yang sering kita dengar, mengambil makna yang lebih dalam ketika kita membaca buku Purdum. “Terus bergerak” tidak berarti “terus cepat.” Yang dimaksud Einstein mungkin adalah bahwa stagnasi—berhenti belajar, berhenti merasa, berhenti peduli—adalah awal dari kejatuhan. Purdum, melalui buku ini, menunjukkan bahwa bergerak perlahan tapi penuh perhatian adalah bentuk keseimbangan yang jauh lebih langgeng.
Seorang filsuf modern dalam sebuah refleksi tentang kesabaran dan kesederhanaan pernah menulis, “Tidak perlu cepat, asalkan tetap di jalan yang benar” . Ini terdengar sangat mirip dengan filosofi Purdum: ia tidak pernah terburu-buru dalam tur sepedanya, tetapi ia selalu tepat—tepat dalam menemukan rute yang indah, tepat dalam menyelipkan sejarah yang relevan, tepat dalam memilih tempat makan yang autentik.
Sebelum seorang pesepeda benar-benar mengayuh sepedanya menuju restoran pertama di Northeast Ohio, Stan Purdum dengan bijak mengajak pembacanya untuk duduk sejenak dan membaca bagian pengantar. Introduction yang membuka buku ini bukanlah sekadar formalitas akademis. Di dalamnya, Purdum menjelaskan misi dari seluruh proyek ini: menggabungkan dua kesenangan sederhana namun mendalam—bersepeda dan makan. Ia menulis dengan nada ramah seperti seorang tetangga yang sudah lama tinggal di daerah itu, bersemangat menunjuk-kan rute-rute favoritnya sambil sesekali menyelipkan lelucon kering tentang tanjakan yang “membuat paha Anda berterima kasih nanti.”
Dalam pengantar ini, Purdum juga mengungkapkan bahwa buku ini adalah buah dari pengalam-an puluhan tahun menjelajahi Ohio Timur Laut dengan sepeda. Ia tidak sedang menulis tentang balapan atau rekor; ia sedang menulis tentang perlambatan. Setiap rute yang ia pilih adalah undangan untuk melihat pemandangan dari ketinggian sadel—sebuah perspektif yang me-mungkinkan seseorang melihat detail yang terlewat oleh kendaraan bermotor: bentuk daun maple di pinggir jalan, batu bata tua di dinding gudang yang terlupakan, atau senyum seorang petani yang melambai dari kejauhan.
Sebelum Anda Mengayuh: Nasihat Berharga dari Seorang Pengelana
Bagian Before You Ride yang mengikuti pengantar adalah panduan teknis yang disampaikan dengan gaya yang menghibur namun tetap bertanggung jawab. Purdum tidak ingin pembaca-nya tersesat, kehabisan energi, atau kecelakaan hanya karena kurang persiapan. Ia membahas segala sesuatu mulai dari jenis sepeda yang paling cocok untuk jalanan Ohio—yang kadang berbatu, kadang aspal mulus—hingga perlengkapan yang harus dibawa, termasuk tentu saja, uang untuk makan siang.
Yang menarik dari bagian ini adalah bagaimana Purdum menekankan etika bersepeda di jalan umum. Ia mengingatkan pembaca untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas, memberi isyarat tangan dengan jelas, dan bersikap ramah kepada pengendara mobil. Ada semangat conviviality yang kuat di sini: bahwa pesepeda dan pengemudi mobil adalah sesama pengguna jalan, bukan musuh. Purdum juga memberikan tip tentang bagaimana membaca peta rute yang ia susun, di mana ia menunjukkan arah, jarak, tingkat kesulitan, dan lokasi tempat makan siang yang menjadi tujuan akhir dari setiap perjalanan.
Lintasan Pertama: Pesisir Utara (Ride 1)
Dengan persiapan matang, pembaca akhirnya diajak memulai perjalanan. Ride 1: North Coastadalah pembuka yang sempurna. Rute ini membawa pesepeda menyusuri tepi Danau Erie, salah satu dari Great Lakes yang megah. Purdum menggambarkan pemandangan danau yang membentang biru ke kejauhan, ombak kecil yang memecah di dermaga, dan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma air tawar yang segar. Di sepanjang jalan, ia menunjukkan bangunan-bangunan bersejarah dari era ketika danau ini adalah jalur perdagangan vital bagi penduduk asli Amerika dan kemudian para pemukim Eropa. Ada mercusuar tua yang masih berfungsi, pabrik-pabrik yang sudah tutup namun bekas cerobong asapnya masih menjulang, dan taman-taman kecil tempat nelayan lokal duduk memancing di sore hari. Tempat makan siang di rute pertama ini, yang oleh Purdum dirahasiakan sedikit agar pembaca penasaran, adalah sebuah kedai ikan kecil yang menyajikan hasil tangkapan langsung dari danau—sebuah pengalaman kuliner yang hanya bisa diapresiasi setelah mengayuh sejauh tiga puluh kilometer melawan angin.
Melintasi Batas (Ride 2 dan 3) dan Masuk ke Lembah (Ride 4)
Ride 2: State Line mengajak pesepeda melintasi batas negara bagian, mungkin antara Ohio dan Pennsylvania atau Michigan, tergantung pada rute yang dipilih. Purdum dengan cerdik menggunakan batas administratif ini sebagai metafora tentang bagaimana sepeda—tidak seperti kendaraan bermotor yang melaju cepat—memungkinkan seseorang untuk benar-benar merasakantransisi dari satu wilayah ke wilayah lain. Perubahan jenis aspal, pemasangan rambu yang berbeda, bahkan aksen penduduk yang bergeser sedikit demi sedikit, semua menjadi terasa ketika bergerak dengan kecepatan sepeda.
Ride 3: Grand River Valley membawa pesepeda masuk ke lembah Sungai Grand, salah satu daerah paling subur di Ohio. Purdum melukiskan pemandangan kebun anggur yang terhampar, dengan barisan tanaman merambat yang rapi membentang hingga ke kaki bukit. Ini adalah wilayah penghasil anggur, dan Purdum tidak lupa menyebutkan beberapa kilang anggur lokal yang ramah pesepeda—tempat di mana seseorang boleh mampir untuk sekadar mencicipi tanpa harus merasa canggung. Sejarah lembah ini juga kaya: Purdum menceritakan tentang penduduk asli Amerika yang dulunya menghuni daerah ini, tentang pertempuran kecil yang terjadi antara suku-suku, dan tentang para misionaris yang datang kemudian untuk “membawa peradaban”—sebuah istilah yang ia gunakan dengan ironi yang halus.
Ride 4: Gorgeous Gorge mungkin adalah rute yang paling dramatis di antara yang disebutkan. Purdum membawa pembaca menyusuri tepi ngarai yang dalam, dengan tebing-tebing batu yang menjulang di kedua sisi. Suara air terjun yang jatuh dari ketinggian terdengar gemuruh di kejauhan sebelum akhirnya terlihat jelas saat pesepeda mencapai titik tertinggi dari rute ini. Purdum menggambarkan sensasi menuruni tanjakan curam dengan kecepatan terkendali, angin yang berdesing di telinga, dan getaran kecil dari ban yang mencengkeram aspal basah. Di dasar ngarai, ada sebuah penginapan tua yang kini berfungsi sebagai restoran, tempat para pesepeda bisa beristirahat sambil menikmati sup hangat dan roti buatan sendiri.
Memutar dan Menjelajah (Ride 6 dan 7) serta Pengembaraan Wayne (Ride 10)
Setelah melewati rute kelima yang tidak disebutkan secara detail dalam permintaan ini, kita tiba di Ride 6: Western Reserve Roundabout. Nama “Western Reserve” merujuk pada wilayah bersejarah di Ohio yang dulunya diklaim oleh Connecticut. Purdum dengan antusias menceritakan sejarah unik ini: bagaimana Connecticut, setelah Perang Revolusi, tidak melepaskan klaimnya atas tanah di sebelah barat Sungai Niagara, dan bagaimana “cadangan barat” ini kemudian dihuni oleh para pemukim dari New England yang membawa serta arsitektur, tata kota, dan sikap mental yang khas. Bersepeda melintasi Western Reserve adalah seperti berjalan melalui museum terbuka, dengan gereja-gereja berarsitektur ronggeng putih dan alun-alun kota yang terawat rapi. Rute ini berkelok-kelok, sesekali berputar di bundaran lalu lintas yang tenang, dan berakhir di sebuah kedai burger yang konon sudah beroperasi sejak zaman Depresi Besar.
Ride 7: Bicounty Byways mengajak pesepeda melintasi perbatasan dua county. Purdum menyukai rute ini karena keberagamannya: satu saat pesepeda melewati ladang jagung yang terbentang luas hingga ke cakrawala, saat berikutnya masuk ke hutan kecil yang rimbun, dan kemudian tiba-tiba muncul di sebuah kota kecil dengan satu jalan utama, satu toko serba ada, dan satu gereja. Purdum bercerita tentang bagaimana di daerah seperti ini, bersepeda adalah kejadian yang masih cukup langka sehingga penduduk setempat sering melambai atau mengangguk ketika melihat pesepeda lewat—sebuah keramahan yang sulit ditemukan di kota besar.
Akhirnya, Ride 10: Wayne’s Wander adalah salah satu rute favorit Purdum yang ia simpan untuk bagian akhir buku ini. Dinamai berdasarkan “Wayne” yang bisa merujuk pada Anthony Wayne, jenderal kontroversial dalam Perang Kemerdekaan Amerika, atau sekadar nama county. Rute ini berkelok-kelok melalui perbukitan yang lembut, melewati peternakan-peternakan tua yang terawat dengan lumbung merah yang ikonik. Purdum menggambarkan suasana sore yang tenang ketika matahari mulai condong ke barat, bayangan memanjang di jalanan aspal, dan tiba-tiba dari balik bukit muncul sebuah rumah makan keluarga yang sudah beroperasi selama tiga generasi. Di sanalah para pesepeda berhenti—bukan hanya untuk makan, tetapi untuk mendengarkan. Mendengarkan cerita pemilik restoran tentang bagaimana desa ini berubah, tentang anak-anaknya yang pindah ke kota, tentang harapannya bahwa suatu hari nanti akan lebih banyak pesepeda yang singgah.
Dari bagian pengantar hingga Ride 10, Purdum secara konsisten membangun narasi bahwa bersepeda bukanlah olahraga yang terpisah dari kehidupan—ia adalah bagian dari kehidupan. Setiap rute adalah alasan untuk keluar rumah, untuk menjelajahi yang tidak diketahui, untuk duduk bersama orang asing yang kemudian menjadi teman, dan untuk menghargai bahwa dunia ini penuh dengan keindahan yang tersembunyi di tikungan-tikungan yang jarang dilewati. Dan selalu, di akhir perjalanan, ada makanan—bukan makanan mewah, tetapi makanan yang jujur, dimasak dengan cinta, yang terasa seperti hadiah untuk otot-otot yang lelah dan jiwa yang haus akan petualangan.
Menaklukkan Bukit, Lembah, dan Warisan: Tujuh Rute Terakhir Purdum
Memasuki bagian akhir dari bukunya, Stan Purdum membawa para pesepeda ke medan yang semakin menantang namun juga semakin kaya akan cerita. Tujuh rute yang tersisa—dari Ride 11 hingga Ride 20—bukan lagi sekadar perjalanan santai di atas dua roda. Ini adalah ziarah ke jantung budaya Ohio, ujian ketahanan fisik, dan perjumpaan dengan komunitas-komunitas yang memegang teguh tradisi di tengah arus modernisasi.
Mendaki Tujuh Bukit dan Menuju Selatan (Ride 11 dan 12)
Ride 11: The Seven Hills adalah rute yang namanya saja sudah membuat paha para pesepeda bergidik antusias. Purdum dengan jujur mengakui di bagian ini bahwa rute ini bukan untuk pemula. Tujuh bukit yang dimaksud—mungkin merujuk pada tujuh puncak di wilayah tertentu Ohio—adalah serangkaian tanjakan yang berurutan, naik dan turun, seperti ombak di lautan darat. Namun, Purdum tidak pernah menyajikan tantangan tanpa imbalan. Di puncak setiap bukit, ia melakukan apa yang paling ia kuasai: ia berhenti, menarik napas, dan menunjuk ke arah pemandangan yang membentang luas di bawah. Lembah yang dipenuhi kabut tipis di pagi hari, sungai yang berkelok seperti pita perak, dan di kejauhan, menara gereja kecil yang muncul dari balik pepohonan.
Yang membuat rute ini istimewa adalah bagaimana Purdum menghubungkan medan fisik dengan medan sejarah. Ia bercerita tentang para imigran Italia dan Irlandia yang datang ke daerah ini pada abad ke-19 untuk bekerja di tambang batu bara dan pabrik baja. Mereka tinggal di lembah, tetapi setiap hari Minggu mereka mendaki bukit untuk pergi ke gereja. Sepeda yang dikayuh Purdum hari ini—dengan gigi rendah yang memudahkan tanjakan—terasa seperti kemewahan dibandingkan dengan perjalanan pejalan kaki para imigran itu. Di dasar bukit terakhir, ada sebuah restoran keluarga Italia yang sudah beroperasi sejak 1920-an, tempat di mana para pesepeda bisa mengisi energi dengan semangkuk pasta buatan tangan sambil mendengarkan cerita pemiliknya tentang kakek buyutnya yang dulu bekerja di tambang.
Ride berikutnya, Ride 12: Summit South, membawa pesepeda ke arah selatan menuju puncak-puncak yang lebih tinggi. “Summit” dalam nama rute ini bukan hanya deskripsi geografis tetapi juga referensi pada Summit County, salah satu wilayah bersejarah di Ohio. Purdum menjelaskan bagaimana daerah ini dulunya adalah pusat industri kanal, tempat di mana perahu-perahu ditarik oleh kuda melewati sistem kunci yang rumit. Hari ini, bekas jalur penarik kuda itu telah berubah menjadi jalur sepeda yang mulus—sebuah ironi manis yang tidak luput dari perhatian Purdum. Kanal yang dulu mengangkut batu bara dan bijih besi kini “mengangkut” pesepeda yang mencari ketenangan dan pemandangan. Di akhir rute, ada sebuah museum kecil yang didedikasikan untuk sejarah kanal, dan tepat di seberangnya, sebuah kedai kopi yang menyajikan kopi panggang lokal.
Mengelilingi Waduk dan Memasuki Negeri Amish (Ride 14 dan 15)
Ride 14: Reservoir Roundabout mengajak pesepeda mengitari waduk buatan yang besar, mungkin salah satu sumber air bersih bagi wilayah sekitarnya. Purdum menggambarkan waduk ini sebagai “laut kecil” dengan garis pantai yang berkelok-kelok, dipenuhi oleh tanjung-tanjung kecil dan teluk-teluk terpencil. Jalur sepeda di sini sebagian besar datar, sebuah istirahat yang disambut baik setelah rute berbukit sebelumnya. Namun, jangan salah: “datar” bukan berarti “membosankan”. Purdum justru menggunakan bagian datar ini untuk mengamati burung-burung air yang bersarang di tepian waduk, menunjuk bangau biru yang berdiri diam seperti patung, atau sekelompok bebek liar yang berenang dalam formasi rapi. Ia juga menyelipkan cerita tentang pembangunan waduk ini pada era Depresi Besar, ketika ribuan pekerja dipekerja-kan oleh pemerintahan Roosevelt dalam sebuah proyek infrastruktur massal. Hari ini, waduk ini tidak hanya menyediakan air tetapi juga ruang rekreasi yang vital, dilengkapi dengan area piknik di mana para pesepeda bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat makan siang: sebuah kedai kecil yang menyajikan sandwich ikan goreng segar.
Dari waduk yang tenang, Purdum membawa pembaca ke dunia yang sama sekali berbeda: Ride 15: Amish Country. Dari semua rute dalam buku ini, mungkin inilah yang paling eksotis bagi pesepeda perkotaan. Daerah Amish di Ohio adalah salah satu kantong terbesar komunitas Amish di Amerika Serikat, sebuah kelompok religius yang memilih hidup tanpa listrik, tanpa mobil, dan dengan ketaatan pada tradisi agraris yang telah dijalankan selama berabad-abad. Purdum memasuki wilayah ini bukan sebagai turis yang eksotis, tetapi sebagai sesama peng-guna jalan yang menghormati cara hidup mereka. Ia mengingatkan pembacanya bahwa ketika bersepeda di negara Amish, ada aturan tidak tertulis yang harus diikuti: jangan memotret mereka tanpa izin, jangan mengganggu kereta kuda yang lewat, dan hargai bahwa hari Minggu adalah hari ibadah mereka, bukan hari berdagang.
Jalan-jalan di negara Amish sebagian besar masih berupa tanah dan kerikil, tetapi Purdum justru menikmatinya. Ia menggambarkan sensasi roda sepeda yang berdecit di atas kerikil, aroma segar dari ladang jerami yang baru dipotong, dan pemandangan lumbung-lumbung merah yang menjulang di antara hamparan hijau. Toko-toko yang ia kunjungi di rute ini bukanlah restoran mewah, melainkan toko kelontong kecil yang dikelola keluarga Amish, tempat di mana mereka menjual selai buatan sendiri, roti gandum utuh, keju segar, dan kadang-kadang, pai apel yang masih hangat dari oven kayu. Purdum bercerita tentang seorang perempuan Amish tua yang tersenyum melihatnya basah oleh keringat: “Kamu berusaha keras untuk sampai ke sini,” katanya sambil menyodorkan segelas air lemon dingin. “Minumlah, Nak. Kamu pantas mendapatkannya.”
Benteng Tinggi, Kemah Anugerah, dan Kesenangan Nenek (Ride 17, 19, dan 20)
Tiga rute terakhir dalam permintaan ini—Ride 17, 19, dan 20—adalah klimaks dari seluruh perjalanan buku ini. Ride 17: High Fortress mengambil namanya dari sebuah struktur bersejarah yang terletak di puncak bukit, mungkin benteng atau pos militer peninggalan Perang tahun 1812 atau Perang Saudara. Purdum menggambarkan tanjakan terakhir menuju benteng ini sebagai “pengakuan dosa” bagi mereka yang selama ini menganggap diri mereka pesepeda tangguh. Tanjakannya curam, berkelok, dan terasa tak berujung. Namun, seperti semua tanjakan dalam hidup, ia berakhir. Dan di puncaknya, benteng itu berdiri megah, dengan tembok-tembok batu yang tebal dan meriam-meriam tua yang menghadap ke lembah di bawah. Purdum duduk di dinding benteng, meminum air dari botolnya, dan merenungkan ironi: benteng ini dulu dibangun untuk menaklukkan musuh. Hari ini, ia menjadi tujuan bagi para pesepeda yang berhasil menaklukkan diri mereka sendiri.
Ride 19: Tents of Grace adalah rute yang paling spiritual dalam buku ini. Nama “Tents of Grace”—Kemah Anugerah—merujuk pada sebuah pusat retret atau kamp musim panas religius yang terletak di tengah hutan. Purdum menggambarkan perjalanan menuju ke sana sebagai meditasi bergerak. Jalanan menyempit, kanopi pohon menutupi langit, dan hanya suara ranting patah di bawah ban serta kicauan burung yang menemani. Sesekali, ia melewati sebuah kapel kecil di pinggir jalan, dengan pintu terbuka dan bangku-bangku kayu di dalamnya. Purdum tidak pernah masuk—ia menganggap sepedanya sudah menjadi kapel baginya hari itu. Kemah Anugerah sendiri dikelilingi oleh padang rumput yang luas, dan di tengahnya berdiri sebuah tenda besar yang biasa digunakan untuk kebaktian musim panas. Di tenda itu, pada hari-hari tertentu, masih diadakan makan siang komunitas di mana semua orang—pesepeda, pejalan kaki, penduduk setempat—dipersilakan duduk bersama.
Akhirnya, Ride 20: Granny’s Delight adalah penutup yang sempurna untuk buku ini. Dengan judul yang hangat dan bersahaja, rute ini mungkin adalah rute terpendek dan termudah di antara ketujuhnya—sebuah hadiah bagi pesepeda yang telah menyelesaikan perjalanan panjang. “Granny” yang dimaksud adalah seorang nenek sungguhan, pendiri sebuah restoran kecil yang terletak di sebuah persimpangan jalan di pedesaan. Purdum menggambarkan restoran ini sebagai tempat di mana waktu berhenti: meja-meja kayu yang sudah usang, taplak kain kotak-kotak, dan foto-foto keluarga di dinding. Granny sendiri, yang di buku ini digambar-kan sebagai perempuan mungil dengan rambut putih dan senyum yang menenang-kan, masih memasak sendiri setiap hari. Menu spesialnya adalah sup ayam dan pangsit—resep keluarga yang diwariskan dari ibunya, yang diwariskan dari ibunya lagi.
Catatan Akhir: Dua Roda untuk Dunia yang Lebih Baik
Pedaling to Lunch adalah sebuah manifesto yang tenang namun kuat. Ia menolak narasi bahwa satu-satunya cara bergerak adalah dengan cepat. Ia menolak anggapan bahwa efisiensi adalah satu-satunya ukuran kemajuan. Sebaliknya, ia menawarkan sebuah alternatif: bahwa “mobilitas berkelanjutan” bukan hanya berarti ramah lingkungan, tetapi juga ramah jiwa. Sepeda bukan hanya solusi atas kemacetan dan polusi; ia adalah solusi atas keterasingan modern. Melalui bersepeda, kita terhubung kembali dengan tubuh kita, dengan lingkungan sekitar, dan dengan komunitas kecil yang sering terlupakan di pinggir jalan jurang.
Purdum mengajak kita untuk tidak hanya “pedaling to lunch,” tetapi juga pedaling to remember, pedaling to discover, and pedaling to savor life. Di dunia yang terus berputar semakin kencang, mungkin inilah jenis gerakan yang paling kita butuhkan saat ini—gerakan yang membawa kita pulang, bukan dengan cepat, tetapi dengan penuh makna.
Di akhir perjalanan, setelah sup habis dan piring-piring dibersihkan, Purdum duduk di beranda restoran, menatap jalanan yang sudah ia lalui. Ia tidak sedang memikirkan rekor atau prestasi. Ia sedang memikirkan tentang semua orang yang ia temui: imigran Italia di kedai pasta, kurator museum kanal, perempuan Amish dengan pai apelnya, dan Granny dengan sup ayamnya. Ia menyadari bahwa bersepeda, baginya, bukanlah tentang seberapa jauh ia melaju, tetapi tentang seberapa dekat ia dengan kehidupan—dengan kehidupan orang lain, dengan kehidupan alam, dan dengan kehidupannya sendiri.
Dan di sanalah buku ini berakhir: bukan dengan kesimpulan yang menggurui, tetapi dengan undangan yang tenang. “Sekarang giliranmu,” seolah Purdum berbisik dari halaman terakhir. “Temukan sepedamu, temukan jalannya, dan temukan makan siangmu. Cerita-cerita ini tidak akan pernah habis—karena selalu ada jalan baru yang menunggu untuk dijelajahi, dan selalu ada makanan yang menunggu untuk dinikmati.”
Cirebon, 15 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Purdum, S. (2009). Pedaling to lunch: Bike rides and bites in Northeast Ohio. University of Akron Press.
Einstein, A. (1930). Surat kepada Eduard Einstein, 5 Februari 1930. [sebagaimana dikutip dalam Pikiran Rakyat, 2026; VIVA.co.id, 2025]
Filsuf modern. (2025). “Tak Harus Cepat, Asal di Jalan yang Benar.” [sebagaimana dikutip dalam Lemon8, 2025]
Stan Purdum: Pendeta, Penulis, dan Pesepeda Jarak Jauh
Ada sebuah pemandangan yang mungkin tidak biasa Anda bayangkan: seorang pendeta berpakaian kasual, mengenakan helm sepeda dan sarung tangan, sedang mengayuh sepedanya melintasi jalanan pedesaan Ohio. Namun itulah Stan Purdum bagi banyak orang yang mengenalnya. Pria yang lahir dan besar di Ohio ini menjalani hidup yang unik—membagi waktunya antara mimbar gereja, meja redaksi, dan sadel sepeda. Selama 19 tahun, ia menjadi editor senior The Wired Word, dan untuk waktu yang lebih lama lagi, ia melayani sebagai pendeta di berbagai jemaat Methodist—baik secara penuh waktu maupun paruh waktu setelah “pensiun” .
Pendidikannya ditempuh di Youngstown State University untuk gelar pendidikan, kemudian melanjutkan ke Methodist Theological School in Ohio untuk meraih Master of Divinity, dan akhirnya menyelesaikan gelar Doctor of Ministry dari Drew University . Namun yang menarik, Purdum bukanlah tipe akademisi yang hanya berkutat di balik meja. Ia juga seorang “long-distance cyclist” sejati .
Pada usia 64 tahun ketika diwawancarai untuk promosi bukunya Pedaling to Lunch, Purdum telah bersepeda serius selama sekitar 25 tahun. Perjalanan bersepedanya bukan sekadar rekreasi keliling kompleks perumahan. Ia pernah menyeberangi Amerika dari pantai ke pantai, sebuah perjalanan yang kemudian ia catat dalam bukunya Roll Around Heaven All Day. Ia juga pernah menyusuri seluruh panjang U.S. Route 62—dari Air Terjun Niagara di New York hingga El Paso, Texas—sebuah petualangan epik yang menjadi bahan bukunya yang lain, Playing in Traffic . Buku ketiganya, Pedaling to Lunch, terbit pada tahun 2009 dari University of Akron Press, diikuti oleh buku keempatnya, Pedaling Along the North Coast, yang ditulis bersama Murray Fishel pada tahun 2011 .
Sebagai seorang penulis, Purdum memiliki jangkauan yang luar biasa luas. Mulai dari buku studi tentang kehidupan Yesus (He Walked in Galilee), buku kumpulan cerita pendek tentang anugerah Tuhan di gereja-gereja pedesaan Ohio (New Mercies I See), hingga narasi perjalanan bersepeda yang jenaka dan kaya akan sejarah lokal . Tidak heran jika seorang pengulas membandingkan tulisannya dengan karya Garrison Keillor—penuh humor, kedalaman jiwa, dan cerminan masyarakat pedesaan Amerika yang autentik .
Namun mungkin yang paling membedakan Stan Purdum adalah keyakinannya bahwa bersepeda bukan sekadar olahraga atau alat transportasi. “Saya pribadi bersepeda karena saya mencintainya dan karena itu baik untuk saya,” katanya dalam sebuah wawancara. “Saya pikir itu membantu menjaga kesehatan fisik dan mental saya. Jika saya mengalami kebuntuan dalam menulis, saya mengesampingkannya. Lalu saat saya bersepeda, pikiran saya membolak-balikkan masalah, dan tiba-tiba solusinya muncul pada saya” . Bagi Purdum, sepeda adalah ruang meditasi, tempat ide-ide lahir, dan jendela untuk melihat keindahan “Ohio sehari-hari dengan skala yang berbeda” .
Saat ini, Stan Purdum tinggal bersama istrinya, Jeanine, di Gallipolis, Ohio . Mereka memiliki tiga anak yang telah dewasa dan tiga cucu . Ia kini menulis kolom mingguan untuk situs RoadBikeRider.com, terus berbagi cerita dan pengalaman tentang hidup di atas dua roda . Melalui semua tulisannya—baik yang bersifat teologis maupun yang sekuler—Purdum telah menunjukkan bahwa perjalanan ke dalam diri, ke dalam komunitas, dan keindahan lanskap lokal seringkali paling baik dinikmati dengan kecepatan yang cukup lambat untuk benar-benar merasakannya.
Referensi
Bergmann, S. (2009, October 18). Peddling Pedaling books. Canton Repository. https://www.cantonrep.com/story/news/2009/10/18/peddling-pedaling-books/42622806007/
Bookshop.org. (n.d.). Books by Stan Purdum. https://bookshop.org/contributors/stan-purdum-126cf72c-35c3-444f-94a2-443fe6071e27
Homiletics Online Blog. (2025, April 15). Stan Purdum – Author. https://blog.homileticsonline.com/author/spurdum/
Thriftbooks.com. (n.d.). New Mercies I See book by Stan Purdum – Customer Reviews. https://www.thriftbooks.com/w/new-mercies-i-see_stan-purdum/1297476/
The University of Akron Press. (n.d.). Pedaling to Lunch by Stan Purdum. University of Akron. https://blogs.uakron.edu/uapress/product/pedaling-to-lunch/






