Rubarubu #123
Ancient Woods, Trees and Forests:
Panggilan Memahami yang Kuno
Di sebuah lereng Gunung Sandras, di Barat Daya Turki, seorang ahli kehutanan bernama Alper H. Çolak berjalan perlahan di antara pohon-pohon cedar kuno. Ia berhenti di depan satu pohon yang batangnya begitu besar hingga butuh lima orang dewasa untuk memeluknya. Kulitnya berkerut dalam, seperti wajah tertua yang pernah ia lihat. Di bawah pohon itu, ia menemukan pecahan tembikar kuno, sisa-sisa perapian, dan batu-batu yang tersusun rapi—tanda bahwa ribuan tahun lalu, manusia telah duduk di tempat yang sama, berlindung di bawah naungan pohon yang sama. Çolak merenung: pohon ini telah menyaksikan lahir dan runtuhnya kerajaan, datang dan perginya peradaban, sementara ia sendiri tetap tegak, mencatat waktu dalam lingkar tahunnya yang tak terhitung jumlahnya. Pengalaman di Sandras Mountain ini, yang kemudian ia tulis bersama Simay Kırca dan Ian D. Rotherham dalam buku Ancient Woods, Trees and Forests: Ecology, History and Management, menjadi inti dari sebuah pertanyaan besar yang menggerakkan seluruh proyek ini: bagaimana kita bisa memahami dan merawat warisan hidup yang telah bertahan jauh melampaui ingatan manusia?
Buku ini, yang diterbitkan oleh Pelagic Publishing pada tahun 2023, adalah kumpulan esai monumental yang disunting oleh tiga akademisi terkemuka: Alper H. Çolak dan Simay Kırca dari Istanbul University-Cerrahpaşa, serta Ian D. Rotherham dari Sheffield Hallam University . Dengan 22 bab yang ditulis oleh 28 pakar dari berbagai negara—termasuk nama-nama legendaris seperti Oliver Rackham, Frans Vera, George Peterken, dan Elisabeth Johann—buku ini adalah upaya komprehensif pertama dalam satu generasi untuk memahami hutan purba dari perspektif yang benar-benar multidisiplin . Lebih dari sekadar buku teks kehutanan, ia adalah perayaan, requiem, dan peta jalan sekaligus.
Panggilan dari Masa Lalu
Dalam Preface, para editor mungkin tidak sekadar memberi pengantar biasa. Mereka merenungkan tentang apa artinya menjadi manusia di tengah pepohonan yang telah hidup jauh lebih lama dari kita. Kata pengantar ini adalah undangan untuk melihat hutan purba bukan sebagai sumber daya, tetapi sebagai warisan budaya dan ekologis yang tak ternilai. Para editor menulis dengan kesadaran bahwa “primeval forests are only to be found at a few sites unreachable by humans, and even then they are affected by climate change, atmospheric pollution and species extinctions.” Hutan purba yang tersisa hanya sedikit, dan bahkan yang tersisa pun terancam oleh perubahan iklim, polusi udara, dan kepunahan spesies. Namun justru karena kelangkaannya, pemahaman tentang hutan purba menjadi semakin mendesak.
Mereka mungkin menceritakan tentang perjalanan panjang menyusun buku ini—tahun-tahun korespondensi dengan para kontributor, ekspedisi ke hutan-hutan di Inggris, Jerman, Austria, Denmark, dan Turki, serta percakapan dengan para ahli yang telah menghabiskan hidup mereka mempelajari pohon. Kata pengantar ini juga menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan makalah akademis, tetapi “a timely volume reflects on the importance of our oldest trees from a range of perspectives and varied geographical locations.” Dalam nada yang personal namun ilmiah, para editor mengajak pembaca untuk bergabung dalam perjalanan ini—perjalanan untuk memahami “the vital resources that they provide requires genuinely multidisciplinary research.” Mereka berharap buku ini akan “raise awareness, foster enthusiasm and inspire wonder.” Karena pada akhirnya, kekaguman adalah awal dari segala perlindungan.
Memahami yang Kuno: Konsep dan Praktik
Di sebuah lembah terpencil di Herefordshire, Inggris, seorang pria bernama George Peterken berjalan perlahan di antara pohon-pohon ek yang batangnya penuh dengan liken dan lumut. Ia berhenti di depan satu pohon yang tampak biasa bagi orang awam, tetapi baginya adalah dokumen hidup yang menyimpan sejarah ratusan tahun. Di tanah di bawahnya, ia menemukan bunga bluebell yang hanya tumbuh di hutan yang tak pernah terganggu selama berabad-abad. Di batang pohon, ia melihat bekas-bekas tebangan kuno—tanda bahwa manusia telah mengambil kayu dari pohon ini sejak zaman Tudor. Peterken tersenyum. Ia sedang berdiri di hutan purba, dan hutan itu sedang bercerita. hutan purba merupakan perpustakaan hidup yang menyimpan sejarah alam dan manusia.
Tujuh suara ahli—George Peterken, Ian D. Rotherham, Oliver Rackham, Graham Bathe, Jill Butler, Monika Wulf, dan tim dari Turki—bersatu untuk menjelaskan apa itu hutan purba, mengapa ia penting, dan bagaimana kita bisa mengenali serta melindunginya.
George Peterken membuka bagian ini dengan bab yang menjadi fondasi seluruh buku: “Ancient woodland in concept and practice” . Peterken, yang karyanya sejak 1970-an telah membentuk pemahaman kita tentang hutan purba di Inggris, memulai dengan pertanyaan yang tampak sederhana namun mendalam: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “hutan purba”?
Di Inggris, jawabannya relatif jelas: hutan purba adalah kawasan yang telah berhutan secara terus-menerus setidaknya sejak 1600 M, tahun pembuatan peta-peta awal yang cukup akurat untuk dijadikan acuan . Namun Peterken segera mengingatkan bahwa definisi ini tidak universal. Di Jerman, ambang batasnya sering 1800, menggunakan peta-peta Kadaster Bavaria . Di Amerika Utara, “old-growth forest” didefinisikan berdasarkan struktur ekologis, bukan sejarah dokumenter.
Yang lebih penting dari angka tahun, bagi Peterken, adalah konsep “kontinuitas.” Hutan purba bukan sekadar kumpulan pohon tua. Ia adalah tempat di mana tanahnya tidak pernah dibajak, di mana komunitas tumbuhan bawah telah berevolusi selama berabad-abad, di mana spesies-spesies tertentu—yang disebut “indikator hutan purba”—hanya ditemukan di tempat-tempat dengan sejarah panjang seperti ini .
Peterken menjelaskan bahwa hutan purba memiliki nilai yang tak ternilai untuk konservasi. Mereka adalah “perpustakaan genetik” yang menyimpan keanekaragaman hayati yang tidak dapat dipulihkan jika hilang. Mereka juga adalah laboratorium alami untuk memahami dinamika hutan dalam skala waktu panjang. Dan mereka adalah warisan budaya, menyimpan bukti interaksi manusia dengan alam selama ribuan tahun.
Namun Peterken juga realistis. Tidak semua hutan purba sama. Ada yang berupa “high forest”—hutan tinggi dengan pohon-pohon besar yang tumbuh dari biji. Ada yang berupa “coppice”—hutan yang dikelola dengan menebang pohon secara berkala untuk merangsang pertumbuhan tunas baru. Ada pula “wood-pasture”—padang rumput berpohon, di mana pohon tumbuh tersebar di lahan yang digembalai. Masing-masing memiliki nilai ekologis dan historis yang berbeda.
Peterken, salah satu otoritas terkemuka dalam ekologi hutan, mengajukan pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “hutan purba”? Apakah sekadar usia pohon, atau ada sesuatu yang lebih dalam? Peterken menjelaskan bahwa konsep hutan purba di Inggris berkembang sejak tahun 1970-an, ketika para konservasionis menyadari bahwa hutan yang telah ada secara terus-menerus sejak sebelum 1600 M memiliki nilai ekologis yang berbeda dari hutan yang baru ditanam . Di hutan purba, tanahnya belum pernah dibajak, komunitas tumbuhan bawahnya telah berevolusi selama berabad-abad, dan spesies-spesies tertentu hanya ditemukan di tempat-tempat seperti ini.
Namun Peterken juga mengingatkan bahwa konsep ini tidak kaku. Di benua Eropa, definisinya bisa berbeda. Di Jerman, misalnya, “ancient forests” didefinisikan sebagai hutan yang telah ada sejak sebelum 1800, dengan menggunakan peta-peta sejarah sebagai acuan . Yang penting bukanlah angka pastinya, tetapi kontinuitas—bahwa sebidang tanah telah menjadi hutan selama ratusan tahun, tanpa pernah berubah menjadi ladang atau padang rumput. Bab ini menjadi fondasi bagi seluruh buku, mengingatkan bahwa untuk melindungi sesuatu, kita harus memahami apa itu sesuatu. Dan seperti ditulis Peterken, hutan purba bukan sekadar kumpulan pohon tua; ia adalah ekosistem yang kompleks, dengan sejarah yang terukir di setiap lapisan tanahnya.
Warisan Budaya dan Arkeologi Pohon
Ian D. Rotherham, dalam bab “The cultural heritage of woods and forests,” memperluas cakrawala dengan menunjukkan bahwa hutan bukan hanya fenomena alam, tetapi juga fenomena budaya . Selama ribuan tahun, manusia telah membentuk hutan melalui praktik-praktik seperti coppicing (penebangan berkala untuk merangsang pertumbuhan tunas baru), pollarding (pemangkasan cabang atas untuk pakan ternak), dan penggembalaan. Rotherham, yang dikenal dengan karya-karyanya tentang sejarah lanskap dan ekologi, membawa pembaca menjelajahi bagaimana pohon-pohon telah “bekerja” selama berabad-abad. Bekas-bekas tebangan di batang pohon, bentuk-bentuk aneh yang dihasilkan dari pollarding berulang, bahkan nama-nama tempat yang mengandung kata “wood” atau “forest”—semua ini adalah arsip budaya yang menunggu untuk dibaca.
Bagi Ian D. Rotherham, hutan sebagai warisan budaya. Ia menunjukkan bahwa hutan bukan hanya fenomena alam, tetapi juga fenomena budaya . Rotherham, yang dikenal dengan karya-karyanya tentang sejarah lanskap, mengajak pembaca melihat bahwa selama ribuan tahun, manusia telah membentuk hutan melalui praktik-praktik seperti penebangan, penggembalaan, pembakaran, dan penanaman. Rotherham menelusuri bagaimana lanskap hutan di Eropa telah berubah seiring perubahan masyarakat. Di era Romawi, hutan dikelola untuk kayu dan hasil hutan lainnya. Di abad pertengahan, sistem “wood-pasture” berkembang, di mana pohon dan ternak hidup berdampingan dalam keseimbangan yang rumit. Di era industri, hutan dieksploi-tasi secara intensif untuk kayu dan bahan bakar. Setiap era meninggalkan jejaknya pada struktur dan komposisi hutan.
Yang menarik dari Rotherham adalah perhatiannya pada detail-detail kecil yang sering luput dari pengamat biasa. Bekas-bekas tebangan di batang pohon, bentuk-bentuk aneh yang dihasil-kan dari pollarding berulang, bahkan nama-nama tempat yang mengandung kata “wood” atau “forest”—semua ini adalah arsip budaya yang menunggu untuk dibaca. Dengan mem-pelajari jejak-jejak ini, kita bisa merekonstruksi sejarah pengelolaan lanskap dan memahami bagaimana nenek moyang kita berinteraksi dengan alam.
Rotherham juga menyentuh aspek spiritual dan simbolis. Pohon sering menjadi pusat ritual keagamaan, tempat pertemuan komunitas, dan simbol identitas lokal. Hutan adalah ruang sakral sekaligus profan, tempat kerja sekaligus tempat istirahat. Memahami dimensi budaya ini penting untuk konservasi yang holistik.
Arkeologi dari Pohon yang Hidup
Tidak ada yang lebih memahami arkeologi pohon selain Oliver Rackham, yang babnya “Archaeology of trees, woodland and wood-pasture” adalah salah satu karya terpenting dalam buku ini . Rackham, yang meninggal pada 2015, adalah figur legendaris dalam studi lanskap bersejarah. Ia mengajarkan bahwa pohon adalah dokumen hidup—bahwa dengan mempelajari bentuk, usia, dan bekas-bekas pada pohon, kita bisa merekonstruksi praktik pengelolaan masa lalu.
Rackham membedakan antara berbagai bentuk pohon berdasarkan sejarah pengelolaannya. Pohon yang tumbuh dari biji di hutan lebat akan tinggi dan lurus, dengan cabang hanya di bagian atas. Pohon yang tumbuh di ruang terbuka akan pendek dan bercabang lebar, dengan batang yang kokoh. Pohon yang pernah dipollard—cabang atasnya dipangkas untuk pakan ternak—akan memiliki batang pendek dengan cabang-cabang besar yang menjulur dari atas, seperti tangan raksasa yang terentang.
Setiap bekas tebangan, setiap luka yang sembuh, setiap cabang yang tumbuh kembali, adalah catatan tentang intervensi manusia. Dengan membaca catatan-catatan ini, Rackham dapat mengetahui kapan pohon terakhir ditebang, seberapa sering ia dipangkas, bahkan jenis ternak apa yang digembalakan di bawahnya. Di wood-pasture tua, ia dapat mengidentifikasi pohon-pohon yang telah hidup selama ribuan tahun, menyaksikan lahir dan runtuhnya kerajaan.
Rackham juga membahas tentang pentingnya “veteran trees”—pohon-pohon tua yang mungkin tidak terlalu tinggi, tidak terlalu besar, tetapi memiliki nilai ekologis dan historis yang luar biasa. Pohon veteran sering menjadi rumah bagi ratusan spesies serangga, lumut, dan jamur yang tidak dapat hidup di tempat lain. Mereka adalah “ekosistem mini” yang tak ternilai.
Oliver Rackham, yang karyanya dalam “Archaeology of trees, woodland and wood-pasture” menjadi salah satu bab paling penting dalam buku ini, membawa keahliannya yang legendaris dalam membaca sejarah dari pohon . Rackham, yang meninggal pada 2015, adalah figur raksasa dalam studi lanskap bersejarah. Ia mengajarkan bahwa pohon adalah dokumen hidup—bahwa dengan mempelajari bentuk, usia, dan bekas-bekas pada pohon, kita bisa merekonstruksi praktik pengelolaan masa lalu, bahkan hingga ribuan tahun lalu.
Rackham mungkin menulis tentang “wood-pasture”—bentang alam di mana pohon tumbuh tersebar di padang rumput yang digembalai. Bentang alam ini, yang sekarang langka, dulunya umum di seluruh Eropa. Pohon-pohon di wood-pasture sering berbentuk aneh, dengan batang pendek dan cabang-cabang besar yang menjulur ke samping—hasil dari pollarding selama berabad-abad. Dengan mempelajari pohon-pohon ini, Rackham dapat melacak praktik pengelolaan yang telah punah, dan bahkan mengidentifikasi spesies yang sekarang jarang ditemukan.
Hak, Hukum, dan Keadilan Hutan Kuno
Graham Bathe, dalam bab “Ancient rights in ancient forests,” membawa dimensi sosial-politik ke dalam diskusi. Hutan purba di Eropa tidak pernah menjadi “alam liar” yang tak tersentuh. Mereka selalu menjadi tempat di mana manusia memiliki hak—hak untuk mengambil kayu bakar, hak untuk menggembalakan ternak, hak untuk berburu, hak untuk mengambil hasil hutan lainnya. Bathe menelusuri sejarah “hak-hak hutan” ini dari abad pertengahan hingga sekarang. Ia menunjukkan bahwa banyak konflik konservasi modern berakar pada benturan antara hak-hak tradisional ini dengan upaya pemerintah atau swasta untuk mengontrol akses ke hutan. Di Inggris, misalnya, “rights of common” masih diakui secara hukum, meskipun seringkali sulit diterapkan dalam praktik.
Bagian ini mengingatkan bahwa konservasi hutan tidak bisa dilakukan tanpa mempertimbang-kan manusia yang hidup di dalam dan di sekitarnya. Mengabaikan hak-hak tradisional berarti mengulangi kesalahan kolonialisme, di mana masyarakat adat diusir dari tanah mereka atas nama konservasi.
Bathe, seorang ahli sejarah hukum dan lanskap, menunjukkan bahwa hutan purba di Eropa tidak pernah menjadi “alam liar” yang tak tersentuh. Mereka selalu menjadi tempat di mana manusia memiliki hak—hak untuk mengambil kayu bakar, hak untuk menggembalakan ternak, hak untuk berburu, hak untuk mengambil hasil hutan lainnya. Bathe menelusuri sejarah “hak-hak hutan” ini dari abad pertengahan hingga sekarang. Di Inggris, “rights of common” diatur dalam hukum adat yang kompleks, dengan variasi lokal yang luar biasa. Ada “common of pasture”—hak menggembalakan ternak di hutan. Ada “common of estovers”—hak mengambil kayu untuk perbaikan rumah dan pagar. Ada “common of turbary”—hak mengambil gambut untuk bahan bakar. Ada “pannage”—hak melepas babi ke hutan untuk memakan biji ek di musim gugur.
Hak-hak ini bukan sekadar formalitas hukum. Mereka adalah fondasi ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan selama berabad-abad. Tanpa akses ke hutan, petani kecil tidak bisa bertahan hidup. Tanpa penggembalaan di wood-pasture, ternak tidak bisa diberi makan. Tanpa kayu bakar, rumah tidak bisa dipanaskan.
Namun Bathe juga mencatat bahwa hak-hak ini sering menjadi sumber konflik. Pemilik tanah besar berusaha membatasi hak rakyat biasa. Pemerintah berusaha mengatur akses ke hutan untuk kepentingan nasional. Konservasionis modern kadang melihat hak-hak tradisional sebagai ancaman bagi keanekaragaman hayati. Bathe berargumen bahwa solusi terbaik adalah pendekatan yang menghormati hak-hak tradisional sambil tetap melindungi nilai ekologis hutan.
Pohon yang Tumbuh Terbuka: Dari Biji hingga Kuno
Ted Green, dalam bab “The importance of an open-grown tree: from seed to ancient,” mem-bawa kita ke level yang lebih detail: kehidupan satu pohon . Green, seorang ahli mikologi yang dikenal dengan karyanya tentang hubungan simbiotik antara pohon dan jamur, menjelas-kan bahwa pohon yang tumbuh di ruang terbuka—bukan di hutan lebat—memiliki bentuk dan ekologi yang sangat berbeda. Pohon yang tumbuh terbuka, seperti di padang rumput atau wood-pasture, mengembangkan cabang-cabang yang rendah dan menjulur ke samping, batang yang pendek dan kokoh, serta kanopi yang lebar. Mereka sering hidup lebih lama daripada pohon hutan, dan menyediakan habitat yang berbeda bagi berbagai spesies. Jamur mikoriza di akarnya juga berbeda, dan jaringan di bawah tanah yang mereka bangun bisa menjadi pusat kehidupan bagi pohon-pohon di sekitarnya.
Green, yang dijuluki “the Godfather of the ancient tree movement” oleh rekan-rekannya, menulis dengan kekaguman yang menular. Ia melihat setiap pohon tua sebagai individu yang unik, dengan kepribadian dan sejarahnya sendiri. Dan ia mengajarkan bahwa untuk memahami pohon tua, kita harus memahami seluruh jaringan kehidupan yang menopangnya—dari jamur di akar hingga burung di cabang.
Pohon sebagai Indikator Keanekaragaman Hayati
Jill Butler, dalam bab “Ancient and other trees of special interest: indicators of old-growth biodiversity and heritage,” memperkenalkan konsep pohon sebagai “indikator.” Butler, yang bekerja untuk Woodland Trust, telah menghabiskan puluhan tahun mengidentifikasi dan memetakan pohon-pohon penting di Inggris. Ia menjelaskan bahwa pohon tua sering menjadi rumah bagi spesies langka—lumut, liken, jamur, serangga—yang tidak dapat hidup di tempat lain. Keberadaan spesies-spesies ini adalah indikator bahwa suatu kawasan telah lama menjadi hutan, dan bahwa praktik pengelolaan tradisional telah menciptakan kondisi yang tepat bagi mereka. Dengan kata lain, pohon tua adalah “kapsul waktu” ekologis yang membawa informasi tentang masa lalu dan masa kini.
Butler juga membahas tentang bagaimana mengidentifikasi pohon-pohon yang penting, bahkan ketika mereka tidak terlalu tua. Sebuah pohon bisa menjadi penting karena bentuknya yang tidak biasa, karena posisinya dalam lanskap, karena nilai budayanya, atau karena sejarahnya yang terdokumentasi. Ia mengajak para konservasionis untuk tidak hanya fokus pada usia, tetapi juga pada nilai-nilai lain yang membuat pohon istimewa.
Butler menjelaskan bahwa pohon tua sering menjadi rumah bagi spesies langka—lumut, liken, jamur, serangga—yang tidak dapat hidup di tempat lain. Keberadaan spesies-spesies ini adalah indikator bahwa suatu kawasan telah lama menjadi hutan, dan bahwa praktik pengelolaan tradisional telah menciptakan kondisi yang tepat bagi mereka. Dengan kata lain, pohon tua adalah “kapsul waktu” ekologis yang membawa informasi tentang masa lalu dan masa kini.
Namun Butler juga membahas tentang bagaimana mengidentifikasi pohon-pohon yang penting, bahkan ketika mereka tidak terlalu tua. Sebuah pohon bisa menjadi penting karena bentuknya yang tidak biasa—misalnya, dengan batang yang berlubang besar, atau dengan cabang yang mati dalam jumlah banyak. Ia bisa penting karena posisinya dalam lanskap—misalnya, sebagai pohon batas yang disebut dalam dokumen kuno. Ia bisa penting karena nilai budayanya—misalnya, pohon tempat orang digantung di abad pertengahan. Ia bisa penting karena sejarah-nya yang terdokumentasi—misalnya, pohon yang ditanam untuk merayakan peristiwa tertentu.
Butler mengajak para konservasionis untuk tidak hanya fokus pada usia, tetapi juga pada nilai-nilai lain yang membuat pohon istimewa. Ia juga menekankan pentingnya survei dan pemetaan—kita tidak bisa melindungi apa yang tidak kita ketahui.
Pohon yang Bekerja: Jejak Intervensi Manusia
Ian D. Rotherham kembali dengan bab “Worked trees and ecological indicators in wooded landscapes,” yang mengeksplorasi bagaimana bekas-bekas intervensi manusia pada pohon dapat menjadi indikator ekologis . Rotherham menjelaskan bahwa praktik-praktik seperti coppicing, pollarding, dan shredding (memotong cabang untuk pakan ternak) meninggalkan jejak yang dapat dikenali pada pohon selama berabad-abad. Dengan mempelajari pohon-pohon yang “bekerja” ini, para ahli dapat merekonstruksi sejarah pengelolaan lanskap. Mereka dapat mengetahui jenis pohon apa yang dianggap berharga, bagaimana frekuensi pemanenan, dan bahkan perubahan ekonomi yang mempengaruhi praktik-praktik ini. Di Inggris, misalnya, penurunan pollarding pada abad ke-19 terkait dengan perubahan dalam sistem pertanian dan ketersediaan pakan alternatif.
Rotherham juga membahas tentang bagaimana pohon-pohon yang bekerja ini menjadi habitat bagi spesies tertentu. Lubang-lubang yang terbentuk di batang akibat pollarding berulang, misalnya, menjadi rumah bagi burung dan kelelawar. Kayu yang membusuk di bekas tebangan menjadi makanan bagi serangga langka. Dengan kata lain, intervensi manusia, jika dilakukan dengan cara tradisional, justru dapat meningkatkan keanekaragaman hayati.
Ian D. Rotherham mengeksplorasi bagaimana bekas-bekas intervensi manusia pada pohon dapat menjadi indikator ekologis . Rotherham menjelaskan bahwa praktik-praktik seperti coppicing, pollarding, dan shredding meninggalkan jejak yang dapat dikenali pada pohon selama berabad-abad.
Coppicing—menebang pohon dekat tanah untuk merangsang pertumbuhan tunas baru—menghasilkan pohon dengan banyak batang yang tumbuh dari satu pangkal. Pollarding—memotong cabang atas untuk pakan ternak—menghasilkan pohon dengan batang pendek dan cabang-cabang besar yang menjulur dari atas. Shredding—memotong cabang samping secara teratur—menghasilkan pohon dengan batang lurus dan bekas luka di sepanjang batang.
Dengan mempelajari pohon-pohon yang “bekerja” ini, para ahli dapat merekonstruksi sejarah pengelolaan lanskap. Mereka dapat mengetahui jenis pohon apa yang dianggap berharga, bagaimana frekuensi pemanenan, dan bahkan perubahan ekonomi yang mempengaruhi praktik-praktik ini. Di Inggris, misalnya, penurunan pollarding pada abad ke-19 terkait dengan perubahan dalam sistem pertanian dan ketersediaan pakan alternatif.
Rotherham juga membahas tentang bagaimana pohon-pohon yang bekerja ini menjadi habitat bagi spesies tertentu. Lubang-lubang yang terbentuk di batang akibat pollarding berulang, misalnya, menjadi rumah bagi burung dan kelelawar. Kayu yang membusuk di bekas tebangan menjadi makanan bagi serangga langka. Dengan kata lain, intervensi manusia, jika dilakukan dengan cara tradisional, justru dapat meningkatkan keanekaragaman hayati.
Hutan Purba di Jerman: Distribusi, Ancaman, dan Perlindungan
Monika Wulf membawa kita ke Jerman dengan bab “Ancient forests in Germany: distribution, importance for maintaining biodiversity, protection and threats” . Wulf, seorang ahli ekologi lanskap dari Leibniz Centre for Agricultural Landscape Research, telah mempelajari hutan purba Jerman selama puluhan tahun. Ia menjelaskan bahwa hutan purba di Jerman sangat langka—hanya sekitar 2% dari total hutan—dan tersebar dalam fragmen-fragmen kecil. Banyak dari mereka yang selamat hanya karena berada di lahan yang tidak cocok untuk pertanian, seperti lereng curam atau tanah berbatu. Namun bahkan fragmen-fragmen kecil ini memiliki nilai ekologis yang luar biasa, menjadi tempat perlindungan terakhir bagi spesies-spesies yang tidak dapat bertahan di hutan produksi.
Wulf juga membahas tentang ancaman terhadap hutan purba: fragmentasi, polusi nitrogen dari pertanian, perubahan iklim, dan kadang-kadang, kebijakan kehutanan yang tidak tepat. Ia menyerukan perlunya inventarisasi nasional yang komprehensif, perlindungan hukum yang lebih kuat, dan pengelolaan yang sensitif terhadap nilai-nilai ekologis hutan purba.
Wulf memaparkan hasil penelitiannya tentang distribusi hutan purba di Jerman. Ia mengguna-kan peta-peta historis dari abad ke-18 dan ke-19 untuk mengidentifikasi kawasan yang telah berhutan secara terus-menerus. Ia kemudian membandingkannya dengan peta modern untuk melihat perubahan tutupan hutan. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun luas hutan di Jerman secara keseluruhan meningkat dalam dua abad terakhir, hutan purba justru terus berkurang, digantikan oleh hutan tanaman dengan keanekaragaman hayati yang lebih rendah.
Wulf juga membahas tentang nilai ekologis hutan purba. Mereka adalah tempat perlindungan terakhir bagi spesies-spesies yang tidak dapat bertahan di hutan produksi—spesies yang membutuhkan kayu mati dalam jumlah besar, atau naungan yang stabil, atau mikroklimat yang khas. Mereka juga adalah sumber propagul untuk restorasi hutan di sekitarnya.
Namun hutan purba Jerman menghadapi ancaman serius: fragmentasi, polusi nitrogen dari pertanian, perubahan iklim, dan kadang-kadang, kebijakan kehutanan yang tidak tepat. Wulf menyerukan perlunya inventarisasi nasional yang komprehensif, perlindungan hukum yang lebih kuat, dan pengelolaan yang sensitif terhadap nilai-nilai ekologis hutan purba. Ia juga menekankan pentingnya konektivitas—menghubungkan fragmen-fragmen hutan purba melalui koridor ekologis sehingga spesies dapat berpindah dan beradaptasi dengan perubahan iklim.
Serangga Saproksilik: Kehidupan di Kayu Mati
Keith N.A. Alexander, dalam bab “Tree abundance, density and age structure: the key factors that determine species richness in saproxylic invertebrates,” membuka mata kita pada dunia tersembunyi serangga yang hidup di kayu mati . Alexander adalah salah satu otoritas terkemuka dalam entomologi konservasi, dan ia menulis dengan pengetahuan yang mendalam tentang kelompok serangga yang sering diabaikan ini. “Saproxylic” berarti tergantung pada kayu yang membusuk. Ribuan spesies kumbang, lalat, semut, dan serangga lain menghabiskan seluruh atau sebagian hidup mereka di kayu mati—di batang yang tumbang, di cabang yang patah, di lubang-lubang pelatuk, di kulit kayu yang mengelupas. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem hutan, mendaur ulang nutrisi, menyediakan makanan bagi burung dan mamalia, dan berkontribusi pada keanekaragaman hayati secara keseluruhan.
Alexander menjelaskan bahwa kekayaan spesies serangga saproksilik sangat tergantung pada tiga faktor: kelimpahan pohon, kepadatan pohon, dan struktur usia. Hutan dengan banyak pohon tua, dengan berbagai spesies, dan dengan berbagai tahap dekomposisi kayu, akan mendukung lebih banyak spesies. Ia juga membahas tentang pentingnya kontinuitas—bahwa populasi serangga ini hanya dapat bertahan jika kayu mati selalu tersedia secara konsisten selama berabad-abad.
Kayu Mati dan Konservasi di Hutan Produksi
Harald Schaich, Thomas A.M. Kaphegyi, Rudolf Lühl, Nicole Schmalfuß, Mattias Rupp, Thomas Waldenspuhl, dan Werner Konold bersama-sama menulis bab “Old growth and deadwood as key factors for nature conservation in managed forests” . Bab ini membahas tantangan mengintegrasikan konservasi ke dalam hutan yang dikelola untuk produksi kayu.
Para penulis menjelaskan bahwa hutan produksi konvensional cenderung menghilangkan kayu mati—dianggap sebagai limbah, sumber hama, atau bahaya kebakaran. Namun dari perspektif konservasi, kayu mati justru sangat berharga. Mereka mengusulkan pendekatan kompromi: meninggalkan beberapa pohon untuk menjadi tua dan mati secara alami, membiarkan kayu mati di tempat, dan menciptakan zona-zona di mana proses alami dibiarkan berlangsung tanpa intervensi. Bab ini juga membahas tentang tantangan praktis: bagaimana meyakinkan pemilik hutan bahwa kayu mati itu berharga? Bagaimana mengukur “cukup” kayu mati? Bagaimana menyeimbangkan produksi kayu dengan konservasi? Para penulis menawarkan contoh-contoh dari Jerman dan Swiss, di mana pendekatan-pendekatan inovatif telah dicoba dengan hasil yang menjanjikan.
Keanekaragaman Hutan Purba Austria
Elisabeth Johann, dalam bab “The diversity of ancient woodlands in Austria: historical developments and contemporary social importance,” membawa kita ke Austria, negara dengan tradisi kehutanan yang panjang . Johann adalah sejarawan kehutanan terkemuka, dan ia menulis dengan pemahaman yang dalam tentang interaksi antara manusia dan hutan selama berabad-abad. Austria memiliki keanekaragaman hutan purba yang luar biasa, dari hutan pegunungan Alpen hingga hutan dataran rendah di timur. Johann menjelaskan bagaimana sejarah pengelolaan—dari penggembalaan hutan di abad pertengahan hingga kehutanan ilmiah di abad ke-19—telah membentuk struktur dan komposisi hutan-hutan ini. Ia juga membahas tentang pentingnya sosial hutan bagi masyarakat Austria: sebagai tempat rekreasi, sebagai sumber identitas, sebagai warisan budaya.
Bab ini juga menyentuh tentang tantangan kontemporer: perubahan iklim, tekanan wisata, fragmentasi lanskap, dan konflik antara konservasi dan produksi. Johann menyerukan pendekatan terpadu yang mempertimbangkan semua aspek—ekologis, ekonomis, dan sosial—dalam pengelolaan hutan purba.
Wood-Pasture: Untuk Pangan, Kayu, dan Keanekaragaman Hayati
Frans Vera, dalam bab “Wood-pasture: for food, wood and biodiversity,” membahas salah satu bentang alam paling kontroversial dalam ekologi Eropa . Vera, yang bukunya Grazing Ecology and Forest History pada tahun 2000 mengguncang dunia akademis, berargumen bahwa hutan Eropa prasejarah bukanlah hutan lebat yang tertutup rapat, melainkan mozaik terbuka dengan padang rumput, semak belukar, dan pohon-pohon tersebar—diciptakan oleh penggembalaan besar seperti auroch, bison, dan kuda liar.
Dalam bab ini, Vera mengembangkan argumennya lebih lanjut. Ia menjelaskan bahwa wood-pasture—bentang alam di mana pohon dan padang rumput hidup berdampingan, dengan penggembalaan oleh ternak atau satwa liar—adalah model untuk memahami dinamika hutan prasejarah. Dan yang lebih penting, wood-pasture adalah habitat yang sangat kaya akan ke-anekaragaman hayati, mendukung spesies-spesies yang tidak dapat bertahan di hutan lebat atau padang rumput murni.
Vera juga membahas tentang tantangan mengelola wood-pasture di era modern. Banyak wood-pasture tradisional yang hilang karena perubahan praktik pertanian, atau karena ditinggalkan-nya penggembalaan. Memulihkan wood-pasture membutuhkan pendekatan yang kompleks, melibatkan penggembalaan dengan ternak yang tepat, perlindungan pohon muda dari herbivori berlebihan, dan penerimaan bahwa lanskap akan terus berubah.
Pengalaman Turki: Konsep Hutan Purba sebagai Alat Konservasi
Simay Kırca, Alper H. Çolak, dan Ian D. Rotherham bersama-sama menulis bab “The ancient woodland concept as a practical conservation tool: the Turkish experience” . Bab ini adalah salah satu yang paling orisinal dalam buku ini, karena menerapkan konsep yang dikembangkan di Eropa Barat ke konteks yang sama sekali berbeda: Turki. Turki memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, berada di persimpangan tiga kawasan biogeografis: Eropa-Siberia, Mediterania, dan Irano-Turanian. Hutan-hutannya mencakup berbagai tipe, dari hutan hujan Laut Hitam hingga hutan kering Mediterania. Namun konsep “hutan purba” belum banyak diterapkan dalam kebijakan konservasi Turki.
Para penulis menjelaskan upaya mereka untuk mengadaptasi konsep ini ke konteks Turki. Mereka memulai dengan pertanyaan mendasar: apa yang dimaksud dengan “purba” di Turki, di mana sejarah dokumenter tidak sepanjang di Eropa Barat? Jawabannya adalah kombinasi dari beberapa kriteria: keberadaan pohon-pohon sangat tua (dengan perkiraan usia berdasarkan lingkar batang), struktur hutan yang kompleks (dengan berbagai lapisan dan banyak kayu mati), keberadaan spesies indikator (terutama lumut dan jamur yang hanya ditemukan di hutan tua), dan bukti historis kontinuitas (dari sumber-sumber seperti catatan Ottoman, nama tempat, dan tradisi lisan).
Salah satu situs yang mereka pelajari secara mendalam adalah Sandras Mountain di barat daya Turki, tempat hutan cedar kuno tumbuh di lereng curam dengan pohon-pohon yang diperkira-kan berusia hingga 1.000 tahun. Di sini, mereka tidak hanya menemukan nilai ekologis yang luar biasa, tetapi juga bukti interaksi manusia selama ribuan tahun: pecahan tembikar dari periode Helenistik, sisa-sisa perapian dari penggembala nomaden Yörük, dan pengetahuan tradisional tentang penggunaan pohon untuk obat, makanan, dan kayu.
Para penulis berargumen bahwa konservasi hutan purba di Turki harus melibatkan masyarakat lokal. Mereka mengembangkan pendekatan partisipatif yang menghormati hak-hak tradisional dan melibatkan penduduk setempat dalam pengelolaan. Mereka juga bekerja sama dengan pemerintah dan LSM untuk mengadvokasi perlindungan hukum bagi situs-situs terpenting.
Bab ini adalah contoh bagus tentang bagaimana ide-ide konservasi dapat ditransfer melintasi batas, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi lokal. Seperti ditulis para penulis, konsep hutan purba bukanlah kotak kaku yang bisa diterapkan di mana saja, tetapi alat yang harus dikalibrasi ulang untuk setiap konteks. Yang universal adalah prinsip dasarnya: bahwa hutan dengan sejarah panjang kontinuitas memiliki nilai ekologis dan kultural yang tak ternilai, dan bahwa melindunginya adalah tanggung jawab kita bersama.
Serbuk Sari dan Model: Lanskap Prasejarah Denmark
Anne Brigitte Nielsen, dalam bab “Using pollen data and models to assess landscape structure and the role of grazers in pre-agricultural Denmark,” membawa kita ke masa lalu yang lebih dalam . Nielsen adalah ahli palinologi (ilmu tentang serbuk sari) yang menggunakan data fosil serbuk sari untuk merekonstruksi vegetasi masa lalu.
Dengan menganalisis serbuk sari yang terawetkan di danau dan rawa, para ilmuwan dapat mengetahui jenis tumbuhan apa yang tumbuh ribuan tahun lalu. Nielsen menggunakan data ini, dikombinasikan dengan model komputer, untuk menguji hipotesis Vera tentang lanskap terbuka prasejarah. Hasilnya mendukung gagasan bahwa lanskap sebelum kedatangan pertanian adalah mozaik, dengan area terbuka yang signifikan yang diciptakan oleh penggembala besar.
Bab ini juga membahas tentang perdebatan metodologis. Serbuk sari tidak jatuh secara merata; beberapa spesies menghasilkan lebih banyak serbuk sari daripada yang lain. Model harus memperhitungkan bias ini. Nielsen menjelaskan bagaimana para ilmuwan mengatasi tantangan ini, dan bagaimana model-model terbaru memberikan gambaran yang lebih akurat tentang lanskap masa lalu.
Pohon dan Industri: Pengaruh Penyamakan Kulit
Christine Handley dan Ian D. Rotherham, dalam bab “Tanneries and treescapes: the influence of the tanning industry on woodland management,” mengeksplorasi hubungan antara industri dan hutan . Penyamakan kulit, yang mengubah kulit hewan menjadi produk tahan lama, membutuhkan tanin—zat kimia yang ditemukan di kulit kayu pohon tertentu, terutama ek.
Permintaan besar akan kulit kayu ek untuk penyamakan menciptakan industri yang signifikan di Inggris dan Eropa. Hutan-hutan dikelola secara intensif untuk menghasilkan kulit kayu, dengan praktik coppicing yang dirancang untuk merangsang pertumbuhan tunas muda dengan kulit kayu kaya tanin. Pohon ditebang setiap 15-25 tahun, dan kulit kayunya dijual ke penyamakan.
Handley dan Rotherham menelusuri sejarah industri ini, dari puncaknya pada abad ke-18 hingga kemundurannya pada abad ke-19 ketika metode penyamakan baru menggunakan kromium menggantikan tanin nabati. Mereka juga membahas tentang warisan industri ini pada lanskap: hutan-hutan yang dulunya dikelola untuk kulit kayu masih menunjukkan struktur coppice yang khas, meskipun praktiknya telah lama ditinggalkan.
Harta Tersembunyi di Turki: Surga Tersembunyi bagi Keanekaragaman Hayati
Nicklas Jansson, Ogün Ç. Türkay, dan Mustafa Avcı, dalam bab “A hidden treasure in Turkey: old oaks of unique value,” melanjutkan tema Turki dengan fokus pada pohon ek . Jansson, seorang ahli entomologi Swedia, telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari serangga saproksilik di Turki, dan ia menyadari bahwa pohon ek tua di sana adalah harta karun yang tak ternilai.
Para penulis mendokumentasikan beberapa situs dengan konsentrasi pohon ek tua tertinggi, termasuk di Sandras Mountain dan Datça Peninsula. Mereka juga membahas tentang ancaman: pembukaan lahan, penebangan liar, perubahan iklim, dan kurangnya kesadaran tentang nilai pohon-pohon ini. Mereka menyerukan perlunya perlindungan hukum dan pengelolaan yang sensitif.
Turki memiliki keanekaragaman spesies ek yang luar biasa—lebih dari 18 spesies asli, dari Quercus cerris hingga Quercus infectoria, dari Quercus petraea hingga Quercus robur. Beberapa dari spesies ini adalah endemik, hanya ditemukan di Turki dan sekitarnya. Namun yang lebih mencengangkan adalah usia dan ukuran pohon-pohonnya. Di beberapa lokasi terpencil, para penulis menemukan pohon ek dengan lingkar batang lebih dari 10 meter—menunjukkan usia lebih dari 1.000 tahun.
Pohon-pohon tua ini, dengan batang besar yang penuh lubang dan cabang-cabang mati, adalah surga bagi serangga saproksilik—serangga yang bergantung pada kayu mati. Jansson, yang telah mempelajari kelompok serangga ini selama puluhan tahun, menjelaskan bahwa pohon ek tua di Turki mendukung keanekaragaman spesies yang luar biasa, termasuk banyak spesies yang telah punah atau sangat langka di Eropa Barat.
Mengapa Turki begitu kaya? Jawabannya terletak pada sejarah. Di Eropa Barat, praktik ke-hutanan intensif selama berabad-abad telah menghilangkan sebagian besar pohon tua dan kayu mati. Hutan dikelola untuk produksi kayu, dengan pohon ditebang sebelum mencapai usia tua. Akibatnya, spesies yang bergantung pada pohon tua dan kayu mati mengalami penurunan drastis. Di Turki, sebaliknya, banyak hutan yang tidak pernah dikelola secara intensif. Pohon dibiarkan tumbuh hingga usia sangat tua, mati secara alami, dan membusuk di tempat.
Para penulis mendokumentasikan beberapa situs dengan konsentrasi pohon ek tua tertinggi. Di Sandras Mountain, yang akan dibahas lebih lanjut di bab berikutnya, mereka menemukan populasi Quercus cerris yang luar biasa. Di Datça Peninsula, pohon Quercus infectoria berusia ratusan tahun tumbuh di lereng berbatu. Di Yenice Forests, salah satu hutan purba terbaik di Turki, pohon ek tua berdiri bersama pinus hitam, beech, dan hornbeam.
Namun harta karun ini terancam. Jansson dan rekan-rekannya mengidentifikasi beberapa ancaman utama: pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, penebangan liar, fragmentasi habitat, perubahan iklim, dan yang paling mendasar, kurangnya kesadaran tentang nilai pohon-pohon ini. Banyak pohon ek tua ditebang untuk kayu bakar, atau dibersihkan untuk membuka lahan, tanpa ada yang menyadari bahwa mereka adalah rumah bagi ratusan spesies yang tak ternilai.
Para penulis menyerukan perlunya inventarisasi nasional pohon ek tua, perlindungan hukum yang kuat, dan pengelolaan yang sensitif. Mereka juga menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut—masih banyak yang belum diketahui tentang distribusi, ekologi, dan status konservasi pohon ek tua di Turki. “These old oaks are a hidden treasure,” tulis mereka, “and like any treasure, they must be discovered, documented, and protected before it is too late” .
Antiquity of Ancient Woodlands and Cultures: Sandras Mountain
Alper H. Çolak, Simay Kırca, dan Ian D. Rotherham kembali dengan bab yang lebih dalam tentang Sandras Mountain, “Antiquity of ancient woodlands and cultures: the example of Sandras Mountain, Turkey” . Bab ini adalah inti dari pengalaman yang menggerakkan buku ini.
Sandras Mountain, di barat daya Turki, adalah tempat yang luar biasa. Di sini, hutan cedar kuno tumbuh di lereng curam, dengan pohon-pohon yang diperkirakan berusia hingga 1.000 tahun. Di bawah pohon-pohon ini, para penulis menemukan bukti keberadaan manusia selama ribuan tahun: pecahan tembikar dari periode Helenistik, sisa-sisa perapian dari penggembala nomaden, dan batu-batu yang mungkin digunakan untuk ritual.
Para penulis menelusuri sejarah panjang interaksi manusia dengan hutan ini. Mereka menunjukkan bahwa masyarakat lokal telah menggunakan hutan selama berabad-abad—untuk kayu bakar, untuk penggembalaan, untuk madu, untuk tanaman obat—tanpa merusaknya. Praktik-praktik tradisional ini justru menciptakan kondisi yang mendukung keanekaragaman hayati.
Bab ini adalah argumen kuat bahwa konservasi tidak bisa dilakukan tanpa manusia. Mengusir masyarakat lokal dari hutan, seperti yang sering dilakukan dalam konservasi gaya lama, justru kontraproduktif. Sebaliknya, kita harus bekerja sama dengan mereka, belajar dari pengetahuan tradisional mereka, dan melibatkan mereka dalam perlindungan.
Pohon di Pedesaan Anglo-Saxon
Della Hooke, dalam bab “Woods and trees in England’s Anglo-Saxon countryside,” membawa kita ke Inggris abad pertengahan awal . Hooke adalah sejarawan lanskap terkemuka, dan ia menggunakan dokumen-dokumen kuno—charters, undang-undang, catatan gereja—untuk merekonstruksi bagaimana pohon dilihat dan digunakan oleh orang Anglo-Saxon.
Dari dokumen-dokumen ini, kita belajar bahwa pohon individu sering menjadi penanda batas, disebutkan dalam charter tanah. Pohon juga menjadi tempat pertemuan pengadilan, tempat ritual keagamaan, dan sumber bahan bangunan dan kayu bakar. Beberapa pohon, seperti ek dan pohon yew, memiliki makna simbolis yang dalam.
Hooke juga menelusuri bagaimana lanskap hutan berubah selama periode Anglo-Saxon. Pembukaan lahan untuk pertanian, pertumbuhan pemukiman, dan perubahan dalam sistem kepemilikan tanah semuanya mempengaruhi tutupan hutan. Namun meskipun terjadi deforestasi signifikan, banyak hutan yang bertahan, dan pohon-pohon individu terus dihormati.
Kuno dan Modern: Konservasi di Dunia yang Berubah
Keith Kirby, dalam bab “Ancient and modern: the conservation of ancient woods and trees in a changing world,” membawa kita ke tantangan kontemporer . Kirby, yang bekerja untuk Natural England selama bertahun-tahun, adalah salah satu praktisi konservasi hutan paling berpengalaman di Inggris.
Kirby mengakui bahwa dunia sedang berubah dengan cepat. Perubahan iklim menggeser zona kesesuaian bagi spesies pohon. Polusi nitrogen mengubah komposisi tumbuhan bawah. Spesies invasif mengancam spesies asli. Tekanan untuk produksi kayu dan karbon terus meningkat. Dalam konteks ini, bagaimana kita bisa melindungi hutan purba? Kirby menawarkan pendekat-an pragmatis. Kita tidak bisa mengawetkan hutan dalam keadaan statis; mereka akan terus berubah. Namun kita bisa mempertahankan elemen-elemen kunci: struktur hutan yang kompleks, kayu mati, pohon tua, spesies indikator. Kita juga bisa menciptakan kondisi yang memungkinkan hutan beradaptasi, misalnya dengan meningkatkan konektivitas antar fragmen, mengurangi tekanan lain, dan memantau perubahan dengan cermat.
Kirby juga membahas tentang tantangan praktis: bagaimana mengukur keberhasilan konservasi? Bagaimana menyeimbangkan tujuan yang berbeda? Bagaimana melibatkan publik? Ia menawarkan contoh-contoh dari pengalamannya sendiri, termasuk keberhasilan dan kegagalan.
Melindungi Hutan Coppice: Tembok, Bank, dan Penjaga
Melvyn Jones, dalam bab “Walls, woodbanks and woodwards: the protection of coppice woods from trespassers, thieves and grazing animals,” mengeksplorasi aspek yang jarang dibahas: keamanan hutan . Jones adalah sejarawan lanskap yang telah mempelajari struktur-struktur fisik yang digunakan untuk melindungi hutan. Hutan coppice, yang dikelola secara intensif untuk produksi kayu, adalah aset berharga. Mereka perlu dilindungi dari pencuri kayu, dari ternak yang merusak tunas muda, dan dari penggembala ilegal. Untuk itu, orang membangun “woodbanks”—gundukan tanah dengan pagar atau tembok di atasnya—untuk menandai batas dan menghalangi masuk. Mereka juga mempekerjakan “woodwards”—penjaga hutan yang tugasnya memantau dan melaporkan pelanggaran.
Jones menelusuri sejarah perlindungan hutan ini dari abad pertengahan hingga era modern. Ia juga membahas tentang sisa-sisa fisik yang masih dapat dilihat di lanskap hari ini: gundukan batas yang ditumbuhi pohon, nama-nama tempat yang mengandung kata “woodward”, dan dokumen-dokumen pengadilan yang mencatat pelanggaran.
Karakter Alami Hutan Purba
Tom Williamson, dalam bab “The natural character of ancient woodland,” merenungkan tentang apa yang membuat hutan purba “alami” . Williamson, seorang arkeolog lanskap dari University of East Anglia, dikenal dengan pandangannya yang kritis tentang konsep “keaslian” dalam konservasi. Williamson berargumen bahwa tidak ada hutan di Eropa yang benar-benar alami, dalam arti tidak tersentuh manusia. Selama ribuan tahun, manusia telah membentuk hutan melalui penebangan, penggembalaan, pembakaran, dan penanaman. Bahkan hutan yang tampak “primitif” pun sering memiliki sejarah panjang intervensi manusia.
Namun ini tidak berarti bahwa semua hutan sama. Hutan purba memiliki “karakter alami” yang berbeda dari hutan baru. Karakter ini tidak hanya terletak pada komposisi spesies, tetapi juga pada struktur, pada tanah, pada pola distribusi, pada keseluruhan “rasa” tempat itu. Williamson mengajak para konservasionis untuk menghargai karakter ini, bahkan ketika mereka tidak dapat mendefinisikannya secara ilmiah.
Sejarah dan Pengelolaan Hutan Eropa
Bab penutup, “European woodland history and management: some concluding thoughts,” ditulis oleh Ian D. Rotherham, Alper Çolak, dan Simay Kırca . Ini adalah upaya untuk merangkum pelajaran dari 22 bab sebelumnya, dan untuk menawarkan visi ke depan.
Para editor menegaskan kembali bahwa hutan purba adalah warisan yang tak ternilai—secara ekologis, kultural, dan spiritual. Mereka adalah “perpustakaan hidup” yang menyimpan informasi tentang masa lalu dan potensi untuk masa depan. Kehilangan mereka adalah kehilangan yang tidak bisa diperbaiki.
Namun para editor juga realistis. Hutan purba menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya: perubahan iklim, polusi, fragmentasi, spesies invasif. Konservasi tidak bisa hanya mengandalkan pelestarian statis; harus ada adaptasi dan inovasi.
Mereka menyerukan pendekatan terpadu yang menggabungkan ilmu pengetahuan terbaik dengan kearifan lokal, yang melibatkan masyarakat dalam konservasi, dan yang mengakui bahwa hutan adalah sistem yang kompleks dan dinamis. Mereka juga menekankan pentingnya pendidikan dan advokasi—membangkitkan kesadaran dan kekaguman publik sehingga orang akan peduli untuk melindungi hutan purba.
Pada akhirnya, buku ini adalah undangan untuk melihat hutan dengan mata baru—bukan sebagai sumber daya kayu atau penyerap karbon, tetapi sebagai komunitas kehidupan yang kompleks, sebagai warisan sejarah yang hidup, sebagai sumber inspirasi dan keajaiban. Seperti ditulis para editor, “Given the urgent need to understand, conserve and restore ancient woodlands and trees, this book will do much raise awareness, foster enthusiasm and inspire wonder” .
Tujuh Suara, Satu Pesan
Jika kita merenungkan ketujuh bab ini bersama-sama, sebuah gambaran yang koheren muncul. Peterken memberi kita definisi dan konsep. Rotherham menambahkan dimensi budaya. Rackham mengajarkan cara membaca sejarah dari pohon itu sendiri. Bathe mengingat-kan bahwa hutan selalu menjadi tempat hak dan konflik . Butler menunjukkan bagaimana pohon bisa menjadi indikator keanekaragaman hayati. Rotherham kembali dengan analisis tentang pohon yang bekerja. Wulf membawa data dari Jerman tentang distribusi dan ancaman . Dan tim Turki menunjukkan bagaimana semua ini bisa diterapkan di konteks baru .
Mereka semua berbicara tentang satu kebenaran mendasar: bahwa hutan purba adalah perpustakaan hidup. Di dalamnya tersimpan sejarah alam dan sejarah manusia, terjalin dalam jaringan yang tak terpisahkan. Setiap pohon adalah buku, setiap bekas tebangan adalah catatan kaki, setiap spesies lumut adalah indeks. Membaca hutan purba membutuhkan keahlian dari berbagai disiplin—ekologi, sejarah, arkeologi, antropologi, hukum. Dan melindunginya membutuhkan kerjasama lintas sektor dan lintas budaya.
Di dunia yang berubah cepat, di mana hutan-hutan ditebang untuk perkebunan kelapa sawit, di mana perubahan iklim menggeser zona kesesuaian spesies, di mana spesies invasif mengancam yang asli, pesan ini semakin mendesak. Hutan purba tidak bisa digantikan. Begitu hilang, ia hilang selamanya—bersama dengan semua sejarah yang tersimpan di dalamnya.
Seperti ditulis George Peterken di awal babnya, “Ancient woodland is a finite resource. It cannot be created; it can only be destroyed” . Hutan purba adalah sumber daya yang terbatas. Ia tidak bisa diciptakan; ia hanya bisa dihancurkan. Tugas kita, sebagai generasi yang hidup di persimpangan jalan, adalah memastikan bahwa ia tidak dihancurkan di tangan kita.
Harta Karun di Puncak Gunung: Warisan Turki dan Refleksi untuk Masa Depan Eropa
Di puncak Gunung Sandras, di barat daya Turki, angin bertiup kencang membawa aroma resin dari pohon-pohon cedar yang telah berdiri selama lebih dari satu milenium. Di bawah tajuknya yang lebat, para penggembala nomaden Yörük telah mendirikan tenda selama ratusan tahun, meninggalkan jejak-jejak perapian dan pecahan tembikar yang kini menyatu dengan lumut dan akar. Di lereng yang lebih rendah, pohon-pohon ek tua menjulang dengan batang-batang besar yang penuh lubang—rumah bagi ratusan spesies kumbang yang tidak ditemukan di tempat lain di Eropa. Tempat ini adalah harta karun yang tersembunyi, dan tiga bab terakhir buku Ancient Woods, Trees and Forests mengajak kita menjelajahinya, sebelum merenungkan apa arti semua ini bagi masa depan konservasi di dunia yang berubah.
Gunung Sandras: Tempat Bertemunya Keantikan Alam dan Budaya
Alper H. Çolak, Simay Kırca, dan Ian D. Rotherham kemudian membawa kita ke jantung penemuan ini: Sandras Mountain, sebuah gunung di barat daya Turki yang menjadi laboratorium hidup untuk memahami hubungan antara keantikan alam dan budaya . Bab ini, “Antiquity of ancient woodlands and cultures: the example of Sandras Mountain, Turkey,” adalah inti dari pengalaman yang menggerakkan seluruh proyek buku ini.
Sandras Mountain, yang terletak di provinsi Muğla, adalah tempat yang luar biasa. Di sini, hutan cedar Lebanon (Cedrus libani) tumbuh di ketinggian 1.500-2.000 meter, dengan pohon-pohon yang diperkirakan berusia hingga 1.000 tahun. Di lereng yang lebih rendah, hutan ek dan pinus membentuk mozaik dengan padang rumput dan semak belukar. Di lembah-lembah, sungai-sungai jernih mengalir di antara bebatuan kapur.
Namun yang membuat Sandras Mountain benar-benar istimewa adalah bukti interaksi manusia yang panjang dengan hutan ini. Para penulis menemukan pecahan tembikar dari periode Helenistik (abad ke-4 hingga ke-1 SM) tersebar di bawah pohon-pohon cedar. Mereka menemu-kan sisa-sisa perapian yang digunakan oleh penggembala nomaden Yörük, yang telah meng-gembalakan ternak di gunung ini selama berabad-abad. Mereka menemukan batu-batu yang mungkin digunakan untuk ritual, dan nama-nama tempat dalam bahasa Turki kuno yang merujuk pada pohon dan hutan.
Yang menakjubkan, interaksi panjang ini tidak merusak hutan. Sebaliknya, ia justru mencipta-kan kondisi yang mendukung keanekaragaman hayati. Penggembalaan oleh ternak Yörük menjaga padang rumput tetap terbuka, mencegah invasi semak belukar. Pengambilan kayu secara selektif oleh penduduk lokal menciptakan struktur hutan yang bervariasi, dengan pohon dari berbagai usia. Kebakaran yang disengaja untuk memperbaiki padang rumput menciptakan habitat bagi spesies pionir.
Para penulis menelusuri sejarah panjang interaksi ini melalui berbagai sumber: catatan Ottoman dari abad ke-16 hingga ke-19, laporan perjalanan para naturalis Eropa abad ke-19, wawancara dengan penduduk lokal tertua, dan bukti arkeologis yang tersebar di lereng gunung. Mereka menemukan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan mendalam tentang ekologi hutan—mereka tahu kapan harus menebang pohon, di mana harus menggembalakan ternak, bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kesehatan hutan.
Bab ini adalah argumen kuat bahwa konservasi tidak bisa dilakukan tanpa manusia. Mengusir masyarakat lokal dari hutan, seperti yang sering dilakukan dalam konservasi gaya lama, justru kontraproduktif. Di Sandras Mountain, masyarakat lokal adalah bagian dari ekosistem. Mereka telah hidup berdampingan dengan hutan selama ribuan tahun, dan pengetahuan mereka sangat berharga untuk pengelolaan ke depan.
Namun tradisi ini terancam. Generasi muda Yörük semakin meninggalkan gaya hidup nomaden, pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Penggembalaan tradisional menurun, dan dengan itu, padang rumput terbuka mulai ditumbuhi semak. Pengetahuan tentang hutan yang diwariskan secara lisan mulai hilang. Para penulis menyerukan perlunya mendokumentasikan pengetahuan tradisional ini sebelum terlambat, dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan.
Kuno dan Modern: Konservasi di Dunia yang Berubah
Keith Kirby, dalam bab “Ancient and modern: the conservation of ancient woods and trees in a changing world,” membawa kita dari Turki kembali ke Inggris, dan dari masa lalu ke masa depan . Kirby, yang bekerja untuk Natural England selama bertahun-tahun, adalah salah satu praktisi konservasi hutan paling berpengalaman di Inggris. Ia membawa perspektif pragmatis dan realistis tentang tantangan yang dihadapi konservasi hutan purba di abad ke-21.
Kirby mengakui bahwa dunia sedang berubah dengan cepat. Perubahan iklim menggeser zona kesesuaian bagi spesies pohon. Spesies yang dulu tumbuh subur di suatu tempat mungkin tidak bisa bertahan di masa depan. Polusi nitrogen dari pertanian mengubah komposisi tumbuhan bawah, mendorong spesies nitrofili dan menekan spesies yang beradaptasi dengan tanah miskin. Spesies invasif, baik tumbuhan maupun hewan, mengancam spesies asli. Tekanan untuk produksi kayu dan penyerapan karbon terus meningkat.
Dalam konteks ini, bagaimana kita bisa melindungi hutan purba? Kirby menawarkan pendekatan pragmatis yang ia sebut “conservation in a changing world.” Ia berargumen bahwa kita tidak bisa mengawetkan hutan dalam keadaan statis, seperti mengawetkan lukisan di museum. Hutan adalah sistem yang dinamis, dan mereka akan terus berubah, baik dengan atau tanpa kita. Tugas kita adalah memastikan bahwa perubahan itu tidak menghancurkan nilai-nilai inti yang membuat hutan purba begitu berharga.
Apa nilai-nilai inti itu? Kirby mengidentifikasi beberapa: struktur hutan yang kompleks, dengan berbagai lapisan dan banyak pohon tua; kayu mati dalam jumlah besar, baik berdiri maupun tumbang; keberadaan spesies indikator yang hanya ditemukan di hutan purba; kontinuitas ekologis yang panjang; dan nilai-nilai budaya dan sejarah yang melekat.
Untuk mempertahankan nilai-nilai ini di tengah perubahan, Kirby menyarankan beberapa strategi. Pertama, kita perlu mempertahankan sebanyak mungkin elemen kunci hutan purba—pohon tua, kayu mati, spesies langka—bahkan ketika komposisi spesies pohon berubah. Kedua, kita perlu meningkatkan konektivitas antar fragmen hutan purba, sehingga spesies dapat berpindah mengikuti perubahan iklim. Ketiga, kita perlu mengurangi tekanan lain—polusi nitrogen, spesies invasif, fragmentasi—yang membuat hutan lebih rentan terhadap perubahan iklim. Keempat, kita perlu memantau perubahan dengan cermat, sehingga kita dapat menyesuaikan strategi pengelolaan jika diperlukan.
Kirby juga membahas tentang tantangan praktis dalam konservasi. Bagaimana mengukur keberhasilan konservasi? Bagaimana menyeimbangkan tujuan yang berbeda—misalnya, antara melindungi spesies tertentu dan membiarkan proses alami berlangsung? Bagaimana melibatkan publik dalam konservasi, terutama ketika publik semakin terpisah dari alam? Ia menawarkan contoh-contoh dari pengalamannya sendiri, termasuk keberhasilan dan kegagalan, untuk mengilustrasikan kompleksitas ini.
Yang paling penting, Kirby mengingatkan bahwa konservasi adalah proses jangka panjang. Tidak ada solusi cepat, tidak ada pil ajaib. Yang dibutuhkan adalah komitmen berkelanjutan, adaptasi terus-menerus, dan kerjasama lintas sektor dan lintas generasi. “We are not just conserving for ourselves,” tulisnya, “but for our children and grandchildren, and for all the species that share this planet with us” .
Karakter Alami Hutan Purba
Tom Williamson, dalam bab “The natural character of ancient woodland,” merenungkan tentang apa yang membuat hutan purba “alami” . Williamson, seorang arkeolog lanskap dari University of East Anglia, dikenal dengan pandangannya yang kritis tentang konsep “keaslian” dalam konservasi. Ia membawa perspektif sejarah yang dalam, mengingatkan bahwa lanskap yang kita lihat hari ini adalah hasil dari ribuan tahun interaksi manusia.
Williamson berargumen bahwa tidak ada hutan di Eropa yang benar-benar alami, dalam arti tidak tersentuh manusia. Sejak zaman Neolitikum, manusia telah membentuk hutan melalui penebangan, penggembalaan, pembakaran, dan penanaman. Hutan-hutan yang kita anggap “primitif” atau “liar” sering memiliki sejarah panjang intervensi manusia. Bahkan hutan-hutan di pegunungan terpencil pun mungkin telah digunakan oleh penggembala selama ribuan tahun.
Namun ini tidak berarti bahwa semua hutan sama. Hutan purba memiliki “karakter alami” yang berbeda dari hutan baru. Karakter ini tidak hanya terletak pada komposisi spesies, tetapi juga pada struktur, pada tanah, pada pola distribusi, pada keseluruhan “rasa” tempat itu. Hutan purba terasa berbeda—lebih kompleks, lebih berlapis, lebih kaya akan detail-detail kecil yang hanya muncul setelah berabad-abad pertumbuhan dan dekomposisi.
Williamson menelusuri bagaimana karakter alami ini terbentuk. Ia membahas tentang “soil memory”—bahwa tanah di hutan purba menyimpan sejarah panjang dalam profilnya, dalam komunitas mikrobanya, dalam benih-benih yang dorman. Ia membahas tentang “structural complexity”—bahwa hutan purba memiliki struktur vertikal dan horizontal yang kompleks, dengan pohon dari berbagai usia, kanopi yang tidak merata, dan banyak kayu mati. Ia membahas tentang “continuity”—bahwa proses-proses ekologis telah berlangsung tanpa gangguan selama berabad-abad, menciptakan kondisi yang mendukung spesies-spesies dengan kebutuhan khusus.
Yang paling penting, Williamson mengajak para konservasionis untuk menghargai karakter ini, bahkan ketika mereka tidak dapat mendefinisikannya secara ilmiah. Ada sesuatu yang tak terkatakan tentang hutan purba—sesuatu yang dirasakan oleh pengunjung, tetapi sulit diukur. “Ancient woodland has a presence,” tulisnya, “a depth, a resonance, that newer woods lack” . Mempertahankan karakter ini, bahkan ketika komposisi spesies berubah, adalah salah satu tantangan terbesar konservasi modern.
Catatan Akhir: Merajut Benang-Benang Sejarah untuk Masa Depan
Bab penutup, “European woodland history and management: some concluding thoughts,” ditulis oleh Ian D. Rotherham, Alper Çolak, dan Simay Kırca . Ini adalah upaya untuk merangkum pelajaran dari 22 bab sebelumnya, dan untuk menawarkan visi ke depan bagi konservasi hutan purba di Eropa dan sekitarnya.
Para editor memulai dengan merenungkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Dari hutan-hutan kuno di Inggris hingga hutan cedar di Turki, dari pohon ek berusia ribuan tahun hingga coppice yang dikelola selama berabad-abad, dari serangga saproksilik yang tersembunyi di kayu mati hingga hak-hak penggembala yang diakui dalam hukum abad pertengahan—semua benang ini, mereka tunjukkan, terjalin menjadi satu cerita besar tentang hubungan manusia dengan hutan.
Mereka menegaskan kembali bahwa hutan purba adalah warisan yang tak ternilai—secara ekologis, kultural, dan spiritual. Mereka adalah “perpustakaan hidup” yang menyimpan informasi tentang masa lalu dan potensi untuk masa depan. Kehilangan mereka adalah kehilangan yang tidak bisa diperbaiki. Seperti yang ditulis Oliver Rackham dalam salah satu karya terakhirnya sebelum meninggal, “Ancient woodland is a finite resource. It cannot be created; it can only be destroyed” .
Namun para editor juga realistis. Hutan purba menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya: perubahan iklim, polusi nitrogen, fragmentasi, spesies invasif, tekanan ekonomi. Konservasi tidak bisa hanya mengandalkan pelestarian statis; harus ada adaptasi dan inovasi. Seperti yang dibahas Keith Kirby, kita perlu mengelola hutan purba di dunia yang berubah, mempertahankan nilai-nilai inti sambil membiarkan proses alami berlangsung.
Para editor juga menekankan pentingnya pendekatan terpadu. Konservasi hutan purba tidak bisa dilakukan oleh satu disiplin saja. Ia membutuhkan kerjasama antara ekolog, sejarawan, arkeolog, antropolog, ahli hukum, dan praktisi kehutanan. Ia membutuhkan dialog antara ilmuwan dan masyarakat lokal, antara pembuat kebijakan dan aktivis akar rumput. Ia membutuhkan pemahaman bahwa hutan adalah sistem yang kompleks, di mana alam dan budaya, masa lalu dan masa kini, saling terkait erat.
Yang paling penting, para editor menyerukan perubahan paradigma dalam cara kita meman-dang hutan. Selama terlalu lama, hutan dilihat terutama sebagai sumber kayu—sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi. Bahkan dalam konservasi, hutan sering dilihat melalui lensa yang sempit: berapa banyak karbon yang diserap, berapa banyak spesies yang dilindungi. Kita lupa bahwa hutan juga memiliki nilai yang tidak dapat diukur—keindahan, misteri, keajaiban.
“Given the urgent need to understand, conserve and restore ancient woodlands and trees,” tulis para editor di kata pengantar, “this book will do much raise awareness, foster enthusiasm and inspire wonder” . Pada akhirnya, itulah tujuan buku ini: membangkitkan kesadaran, memupuk antusiasme, dan menginspirasi kekaguman. Karena hanya dengan kekaguman, kita akan termotivasi untuk melindungi. Hanya dengan cinta, kita akan rela berkorban.
Di Gunung Sandras, angin masih bertiup di antara pohon-pohon cedar berusia seribu tahun. Di bawahnya, pecahan tembikar Helenistik masih berserakan, menunggu untuk ditemukan oleh arkeolog masa depan. Di batang pohon ek tua, kumbang langka masih hidup, tidak menyadari betapa berharganya mereka bagi ilmuwan yang mempelajarinya. Hutan purba terus berdiri, seperti yang telah mereka lakukan selama ribuan tahun, menyimpan sejarah, mendukung kehidupan, dan menunggu untuk dihormati.
Terserah kita, generasi yang hidup di persimpangan jalan, apakah kita akan menghormati mereka atau menghancurkannya. Buku ini adalah undangan untuk memilih jalan yang pertama.
Bogor, 6 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Alexander, K. N. A. (2023). Tree abundance, density and age structure: The key factors that determine species richness in saproxylic invertebrates. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 9). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/YTZU1517
Bathe, G. (2023). Ancient rights in ancient forests. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 4). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/DOJP6570
Butler, J. (2023). Ancient and other trees of special interest: Indicators of old-growth biodiversity and heritage. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 6). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/QPIR5441
Çolak, A. H., Kırca, S., & Rotherham, I. D. (2023). Antiquity of ancient woodlands and cultures: The example of Sandras Mountain, Turkey. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 17). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/TBUH3838
Çolak, A. H., Kırca, S., & Rotherham, I. D. (Eds.). (2023). Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management. Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/KZAD4079
Green, T. (2023). The importance of an open-grown tree: From seed to ancient. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 5). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/ECPD7500
Handley, C., & Rotherham, I. D. (2023). Tanneries and treescapes: The influence of the tanning industry on woodland management. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 15). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/AWDF3771
Hooke, D. (2023). Woods and trees in England’s Anglo-Saxon countryside. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management(Chapter 18). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/HAIP6548
Jansson, N., Türkay, O. Ç., & Avcı, M. (2023). A hidden treasure in Turkey: Old oaks of unique value. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 16). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/XLQO8726
Johann, E. (2023). The diversity of ancient woodlands in Austria: Historical developments and contemporary social importance. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 11). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/VJCD1705
Jones, M. (2023). Walls, woodbanks and woodwards: The protection of coppice woods from trespassers, thieves and grazing animals. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 20). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/NTWP7769
Kırca, S., Çolak, A. H., & Rotherham, I. D. (2023). The ancient woodland concept as a practical conservation tool: The Turkish experience. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 13). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/RELM8043
Kirby, K. (2023). Ancient and modern: The conservation of ancient woods and trees in a changing world. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 19). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/MHEG9987
Nielsen, A. B. (2023). Using pollen data and models to assess landscape structure and the role of grazers in pre-agricultural Denmark. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 14). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/CMMF9310
Peterken, G. (2023). Ancient woodland in concept and practice. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 1). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/OAXD2280
Rackham, O. (2023). Archaeology of trees, woodland and wood-pasture. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management(Chapter 3). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/QRSC1119
Rotherham, I. D. (2023). The cultural heritage of woods and forests. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 2). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/EJGD2076
Rotherham, I. D. (2023). Worked trees and ecological indicators in wooded landscapes. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 7). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/JIAZ8834
Rotherham, I. D., Çolak, A. H., & Kırca, S. (2023). European woodland history and management: Some concluding thoughts. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 22). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/IZBN8755
Schaich, H., Kaphegyi, T. A. M., Lühl, R., Schmalfuß, N., Rupp, M., Waldenspuhl, T., & Konold, W. (2023). Old growth and deadwood as key factors for nature conservation in managed forests. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 10). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/FLGU3824
Vera, F. (2023). Wood-pasture: For food, wood and biodiversity. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 12). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/UYJK3460
Williamson, T. (2023). The natural character of ancient woodland. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 21). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/IFXZ8203
Wulf, M. (2023). Ancient forests in Germany: Distribution, importance for maintaining biodiversity, protection and threats. In A. H. Çolak, S. Kırca, & I. D. Rotherham (Eds.), Ancient woods, trees and forests: Ecology, history and management (Chapter 8). Pelagic Publishing. https://doi.org/10.53061/QZJB8157






