Rubarubu #165
The Poetic Species:
Dua Spesies, Satu Percakapan
Desember tahun 2012. Sebuah ruangan di American Museum of Natural History di New York, pada malam itu kursi-kursi terisi penuh. Orang-orang datang dari berbagai penjuru kota. Ada ilmuwan dengan jas laboratorium yang masih terlihat baru saja dipakai, ada penyair dengan buku catatan di pangkuan mereka, ada mahasiswa, pensiunan, aktivis lingkungan, dan ibu-ibu yang membawa anak remaja mereka.
Mereka semua datang untuk satu alasan: menyaksikan pertemuan antara dua spesies manusia yang langka. Di atas panggung, dua kursi telah disiapkan, dan dua lampu sorot menyala lembut menunggu kedatangan para penghuninya.
Lee Briccetti, Direktur Eksekutif Poets House dan penulis kata pengantar buku The Poetic Species ini, berdiri di hadapan mereka. Ia adalah wanita yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mempertemukan puisi dengan publik. Dan malam itu, ia mempertemukan puisi dengan sains.
Lee Briccetti adalah seorang penyair, editor, dan administrator seni yang telah memainkan peran penting dalam membangun infrastruktur puisi di Amerika Serikat. Lahir di Italia dan dibesarkan di Amerika Serikat, tulisannya mengeksplorasi isu-isu tentang tempat, alam, dan pembangunan komunitas untuk keadilan.
Briccetti meraih gelar B.A. dari Sarah Lawrence College dan M.F.A. dalam bidang penulisan kreatif dari Iowa Writers’ Workshop, salah satu program penulisan paling bergengsi di dunia . Ia telah menerima sejumlah penghargaan, termasuk New York Foundation for the Arts Fellowship for Poetry dan beasiswa puisi dari Fine Arts Work Center di Provincetown. Ia juga telah menerima residensi di MacDowell, Millay Colony, dan American Academy di Roma.
Dari tahun 1989 hingga 2021, Briccetti menjabat sebagai Direktur Eksekutif Poets House, sebuah pusat sastra dan perpustakaan puisi nasional di New York City. Selama masa kepemimpinannya yang panjang—lebih dari tiga dekade—ia mengubah Poets House dari sebuah ide menjadi salah satu pusat sastra terkemuka di Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinannya, Poets House memperoleh rumah permanen di Lower Manhattan pada tahun 2009, dan lebih dari 80.000 orang melintasi ambang pintunya setiap tahun.
Dalam kata pengantarnya malam itu, yang singkat namun kuat, ia menetapkan nada untuk percakapan yang akan terjadi: ini bukan debat, bukan kuliah, bukan kompetisi untuk menentukan mana yang lebih penting antara sains dan seni. Ini adalah percakapan—sebuah kata yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat langka di zaman di mana setiap orang lebih suka berbicara daripada mendengarkan, lebih suka berargumen daripada bertanya.
Briccetti memperkenalkan dua tokoh yang akan berbicara malam itu.
Yang pertama adalah Edward O. Wilson, seseorang yang disebut sebagai Darwin Modern” yang mengubah cara kita memahami kehidupan, seorang biolog, naturalis, dan penulis yang telah menerima lebih dari seratus penghargaan dari seluruh dunia, termasuk Pulitzer Prize. Ia adalah profesor emeritus di Harvard University, seorang pria yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya membungkuk di atas sarang semut, mempelajari bahasa kimia mereka, dan dari sana, menyusun teori-teori tentang evolusi, altruisme, dan sifat manusia.
Pada usia tujuh tahun ia kehilangan penglihatan di satu mata akibat kecelakaan memancing, tetapi justru karena keterbatasan itu ia mengembangkan fokus yang luar biasa pada hal-hal yang sangat kecil—semut. Inilah awal mula perjalanan Edward Osborne Wilson, yang kelak akan dikenal sebagai salah satu biolog paling berpengaruh di abad kedua puluh, pewaris intelektual Charles Darwin, dan suara paling vokal untuk konservasi keanekaragaman hayati.
Lahir di Birmingham, Alabama, pada 10 Juni 1929, Wilson tumbuh dengan kecintaan yang mendalam pada alam liar di Amerika Serikat bagian selatan. Ia meraih gelar Bachelor of Science dan Master of Science dari University of Alabama sebelum menyelesaikan gelar Ph.D. dalam bidang biologi dari Harvard University pada tahun 1955. Di Harvard itulah ia menghabiskan sebagian besar kariernya, akhirnya menjadi profesor emeritus dan kurator kehormatan dalam bidang entomologi.
Keahlian khusus Wilson adalah myrmecology—studi tentang semut. Ia menghabiskan puluhan tahun membungkuk di atas sarang semut, mempelajari bahasa kimia feromon yang mereka gunakan untuk berkomunikasi. Namun dari pengamatan pada serangga kecil ini, ia membangun teori-teori besar tentang evolusi, perilaku sosial, dan sifat manusia yang mengguncang dunia ilmiah.
Wilson dikenal sebagai pendiri sosiobiologi, sebuah cabang ilmu yang berusaha menjelaskan perilaku sosial—termasuk perilaku manusia—dalam kerangka evolusi. Buku monumentalnya, Sociobiology: The New Synthesis (1975), memicu perdebatan sengit yang berlangsung selama beberapa dekade tentang hubungan antara gen, perilaku, dan budaya .
Sepanjang kariernya, Wilson menerima lebih dari seratus penghargaan bergengsi, termasuk dua Pulitzer Prize—satu untuk On Human Nature (1979) dan satu lagi untuk The Ants (1991, ditulis bersama Bert Hölldobler). Ia juga menerima Crafoord Prize dari Royal Swedish Academy of Sciences pada tahun 1990, sebuah penghargaan yang sering dianggap setara dengan Nobel di bidang-bidang yang tidak dicakup oleh Nobel.
Wilson meninggal dunia pada 26 Desember 2021, di Burlington, Massachusetts, pada usia 92 tahun. Ia meninggalkan warisan lebih dari tiga puluh buku dan pengaruh yang tak terhitung dalam biologi, konservasi, dan cara kita memahami tempat manusia di alam semesta.
Yang kedua adalah Robert Hass, seorang penyair yang pernah menjabat sebagai Poet Laureate of the United States. “Penyair Laureate yang membawa puisi ke tempat-tempat yang tak pernah dikunjungi penyair.”
Kredo-nya sebagai penyair penyair adalah “imagination makes communities“—imajinasi membangun komunitas. Puisi-puisinya berakar pada lanskap California utara tempat ia dibesarkan. Ia telah menerima MacArthur “Genius” Fellowship, National Book Critics Circle Award (dua kali), Pulitzer Prize, dan National Book Award. Ia juga adalah salah satu pendiri River of Words, sebuah program pendidikan lingkungan untuk anak-anak.
Robert L. Hass lahir di San Francisco pada 1 Maret 1941, dan dibesarkan di San Rafael, California. Masa kecilnya tidak mudah—ia tumbuh dengan seorang ibu yang mengalami masalah alkoholisme, sebuah tema yang kemudian menjadi pusat dalam koleksi puisinya Sun Under Wood (1996). Namun dari kesulitan itu, ia menemukan pelarian dalam puisi, terpesona oleh para penyair Bay Area seperti Gary Snyder dan Allen Ginsberg, serta oleh teknik-teknik sastra Asia Timur seperti haiku yang mulai mempengaruhi puisinya.
Hass meraih gelar B.A. dari Saint Mary’s College di Moraga, California pada tahun 1963, kemudian melanjutkan ke Stanford University untuk meraih gelar M.A. (1965) dan Ph.D. (1971) dalam bidang bahasa Inggris . Ia kemudian mengajar di berbagai institusi, termasuk University of California at Berkeley, University of Buffalo, dan Iowa Writers’ Workshop.
Debut puisinya, Field Guide, terpilih oleh Stanley Kunitz untuk Yale Series of Younger Poets pada tahun 1972. Kunitz memuji karya ini sebagai “buku yang besar, berhati kuat, dan membumi, dalam tradisi epik Amerika Whitman dan Neruda.” Sejak itu, Hass terus menulis puisi yang dikenal karena kejelasan gaya, citra yang presisi, dan perhatiannya yang mendalam pada alam.
Puncak pengakuan atas karya puisinya datang pada tahun 2007, ketika koleksinya Time and Materials: Poems 1997–2005 memenangkan National Book Award dan, pada tahun berikutnya, Pulitzer Prize for Poetry. Ia juga menerima MacArthur “Genius” Fellowship pada tahun 1984.
Dari tahun 1995 hingga 1997, Hass menjabat sebagai Poet Laureate of the United States, melayani dua masa jabatan yang luar biasa. Selama masa ini, ia mendefinisikan ulang peran tersebut sebagai jembatan antara puisi dan aktivisme. Ia melakukan perjalanan ke “tempat-tempat yang tidak pernah dikunjungi penyair”—dari ruang dewan korporat hingga kelompok-kelompok masyarakat sipil—membawa puisi ke audiens yang tidak biasa. Ia juga menye-lenggarakan konferensi penulis alam Amerika di Library of Congress, yang merayakan hubungan antara sastra dan lingkungan.
Bersama penulis dan aktivis Pamela Michael, Hass mendirikan River of Words, sebuah organisasi nirlaba untuk pendidikan eko-literasi yang menyelenggarakan kompetisi puisi dan seni untuk anak-anak di seluruh dunia. Ia juga dikenal sebagai penerjemah utama karya penyair Polandia dan peraih Nobel Czesław Miłosz, serta menerjemahkan haiku dari Bashō, Buson, dan Issa.
Hass menikah dengan penyair dan aktivis anti-perang Brenda Hillman, dan mereka tinggal di California. “Shorthand” yang sering ia gunakan merangkum keyakinannya tentang hubungan antara puisi dan kebijakan: “Wordsworth membaca seorang filsuf Jerman yang menulis tentang gunung, Thoreau membaca Wordsworth, Muir membaca Thoreau, Teddy Roosevelt membaca Muir, dan begitulah kita mendapatkan Yellowstone dan Yosemite.”
Briccetti menggambarkan Wilson sebagai seseorang yang sangat peduli dengan keaneka-ragaman hayati dan sistem alam. Dan ia menggambarkan Hass sebagai seseorang yang kerap frustrasi dengan keterbatasan sains, tetapi juga dengan keterbatasan puisi. Dua manusia yang berbeda. Dua cara mengetahui yang berbeda. Namun malam itu, mereka duduk berdampingan, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai teman yang sama-sama mencari kebenaran.
Dalam kata pengantar yang elegan ini, Briccetti menyentuh inti dari apa yang membuat buku ini begitu istimewa. Ia mengingatkan kita bahwa di dunia yang semakin terpecah—antara ilmuwan dan humanis, antara fakta dan perasaan, antara utilitarian yang melihat alam sebagai sumber daya dan spiritualis yang melihat alam sebagai sesuatu yang sakral—masih ada ruang untuk percakapan yang tulus. Ruang di mana kita bisa duduk, saling mendengarkan, saling belajar, dan bersama-sama mencari jalan keluar dari krisis yang kita hadapi.
Dan kemudian, dengan sedikit gerakan tangan, Briccetti mempersilakan kedua pembicara untuk memulai.
Lampu sorot menjadi lebih terang.
Penonton bertepuk tangan.
Dan percakapan dimulai.
The Conversation: Antara Sarang Semut dan Sajak
Tidak ada yang lebih mempesona daripada menyaksikan dua pikiran besar bekerja dalam harmoni yang tidak dipaksakan. Percakapan antara Wilson dan Hass, yang kemudian dibukukan menjadi The Poetic Species, adalah salah satu momen langka itu. Buku setebal 95 halaman ini bukanlah buku yang panjang, tetapi ia padat dengan ide-ide yang mengubah cara kita melihat dunia—dan tempat kita di dalamnya.
Mereka memulai dari sesuatu yang sangat mendasar: mengapa kita ada di sini? Bukan dalam arti filosofis yang abstrak, tetapi dalam arti biologis yang konkret. Wilson, dengan keyakinannya pada consilience—kesatuan pengetahuan, gagasan bahwa semua cabang pengetahuan pada akhirnya dapat dihubungkan—membawa percakapan ke dalam wilayah evolusi. Ia berbicara tentang bagaimana seleksi alam telah membentuk tidak hanya tubuh kita, tetapi juga pikiran kita, emosi kita, dan bahkan kecenderungan kita untuk menciptakan seni.
Hass, sebagai penyair, tidak menolak gagasan ini. Namun ia mendorong Wilson untuk melangkah lebih jauh. “Jika imajinasi adalah produk evolusi,” ia bertanya, “lalu apa yang istimewa dari imajinasi?” Jawaban Wilson menggabungkan biologi dan keajaiban: imajinasi, katanya, adalah kemampuan untuk mensimulasikan realitas di dalam kepala kita, untuk mencoba-coba solusi tanpa mengambil risiko fisik. Ini adalah alat yang sangat adaptif.
Namun Hass menambahkan lapisan lain: imajinasi juga adalah apa yang memungkinkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan makhluk lain—untuk berempati, untuk peduli, untuk bertindak melampaui kepentingan diri sendiri.
Di sinilah letak inti dari percakapan mereka. Bukan untuk menentukan siapa yang benar, tetapi untuk menemukan di mana titik temu antara kedua cara mengetahui ini.
Biophilia: Kecintaan Bawaan terhadap Kehidupan
Salah satu kontribusi paling terkenal dari Edward O. Wilson adalah hipotesis biofilia—gagasan bahwa manusia secara evolusioner memiliki kecenderungan bawaan untuk mencari hubungan dengan alam dan bentuk kehidupan lainnya. Dalam bukunya Biophilia (1984), Wilson menulis dengan cara yang sangat puitis untuk seorang ilmuwan:
“Kemanusiaan dimuliakan bukan karena kita begitu jauh di atas makhluk hidup lainnya, tetapi karena mengenal mereka dengan baik akan meninggikan konsep kehidupan itu sendiri.”
Dan dalam bagian lain yang sangat indah, ia menulis:
“Saya telah berargumen dalam buku ini bahwa kita menjadi manusia sebagian besar karena cara khusus kita berafiliasi dengan organisme lain. Mereka adalah matriks di mana pikiran manusia berasal dan secara permanen berakar, dan mereka menawarkan tantangan dan kebebasan yang secara naluriah dicari. Sampai pada tingkat di mana setiap orang dapat merasa seperti seorang naturalis, kegembiraan lama dari dunia yang tidak terbatas akan kembali. Saya menawarkan ini sebagai formula untuk reenchantment guna menghidupkan kembali puisi dan mitos: makhluk hidup yang misterius dan sedikit dikenal hidup dalam jarak berjalan kaki dari tempat Anda duduk. Kemegahan menanti dalam proporsi yang sangat kecil.”
Kutipan-kutipan ini bukan hanya pernyataan ilmiah; mereka adalah puisi prosa, sebuah undangan untuk melihat dunia dengan mata yang baru. Wilson tidak hanya mengatakan bahwa kita harusmencintai alam. Ia mengatakan bahwa kita sudah mencintai alam—bahwa cinta itu telah tertulis dalam gen kita, dalam cara otak kita terbentuk, dalam denyut nadi kita yang berdetak lebih cepat ketika kita melihat pemandangan yang hijau dan air yang mengalir.
Namun di dunia modern, cinta bawaan ini telah dipadamkan. Kita menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, di depan layar, di antara beton dan baja. Kita telah melupakan bahasa alam, dan alam, pada gilirannya, menjadi bisu di telinga kita. Wilson dan Hass, dalam percakapan mereka, berdua setuju bahwa ini adalah tragedi—bukan hanya bagi alam, tetapi bagi jiwa manusia itu sendiri.
Hass membawa perspektif ini ke dalam ranah puisi. Ia berbicara tentang bagaimana puisi-puisi besar selalu memiliki kesadaran ekologis—bahkan sebelum kata “ekologi” ditemukan. Puisi adalah cara untuk mendengarkan—untuk menangkap suara-suara yang biasanya tidak terdengar di tengah kebisingan kehidupan modern. Dan dalam mendengarkan itu, puisi dapat membangunkan kembali biofilia yang tertidur di dalam diri kita.
Dua Cara Mengetahui: Perselisihan yang Produktif
Tidak semua momen dalam percakapan ini berjalan mulus. Ada ketegangan—ketegangan yang sehat, yang produktif—antara cara Wilson dan Hass memahami dunia. Wilson, sebagai ilmuwan, percaya bahwa pada akhirnya, segala sesuatu dapat dijelaskan oleh hukum-hukum alam. Ia adalah seorang materialis, seorang determinis (dalam batas-batas tertentu), seorang yang percaya bahwa bahkan fenomena spiritual pun dapat direduksi menjadi aktivitas saraf dan kimia otak. Baginya, consilience berarti bahwa tidak ada tembok pemisah antara sains dan humaniora; pada akhirnya, fisika dapat menjelaskan kimia, kimia dapat menjelaskan biologi, biologi dapat menjelaskan psikologi, dan psikologi dapat menjelaskan seni.
Hass, sebagai penyair, tidak sepenuhnya menolak pandangan ini. Namun ia lebih tertarik pada apa yang tidak dapat dijelaskan—atau setidaknya, apa yang kehilangan maknanya jika dijelas-kan secara reduktif. Ia berbicara tentang pengalaman keindahan, tentang air mata yang jatuh ketika mendengar puisi tertentu, tentang sensasi berdiri di tepi laut dan merasa sangat kecil dan sangat besar pada saat yang bersamaan. Apakah semua ini dapat direduksi menjadi dopamin dan serotonin? Mungkin. Tetapi apakah reduksi itu membantu kita? Apakah ia memperkayapengalaman, atau justru memiskinkannya?
Ryder W. Miller, dalam tinjauannya untuk Electronic Green Journal, mencatat bahwa buku ini “cenderung berpihak kepada para penyair” —bahwa Hass, dengan kemampuannya untuk merangkai kata-kata dengan cara yang memukau, seringkali meninggalkan kesan yang lebih mendalam daripada Wilson yang lebih hati-hati dan kuantitatif. Namun ini bukanlah kekalahan bagi Wilson. Ini adalah pengakuan bahwa dalam percakapan ini, kedua belah pihak sama-sama dibutuhkan. Sains memberi kita fakta, data, dan solusi. Puisi memberi kita motivasi, makna, dan alasan untuk peduli. Tanpa sains, kita buta. Tanpa puisi, kita tuli.
Konsiliensi: Menyatukan Kembali Dua Budaya
Istilah consilience yang sangat disukai Wilson diambil dari kata Latin yang berarti “melompat bersama.” Ia mengacu pada gagasan bahwa berbagai cabang pengetahuan—dari fisika hingga sosiologi, dari biologi hingga kritik sastra—pada akhirnya dapat disatukan di bawah satu kerangka penjelasan yang koheren. Ini adalah gagasan yang ambisius, bahkan mungkin terlalu ambisius bagi sebagian orang. Namun bagi Wilson, ini adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari “krisis dua budaya” yang telah memisahkan ilmuwan dan humanis sejak zaman C.P. Snow.
Dalam percakapan ini, Wilson dan Hass mencoba untuk melompat bersama—untuk menunjuk-kan bahwa sains dan puisi tidak harus menjadi musuh. Mereka dapat menjadi sekutu. Wilson mengajak para penyair untuk “menjajah sains”—untuk mengambil ide-ide dari biologi, ekologi, dan fisika, dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk imajinasi mereka. Sebaliknya, Hass mengajak para ilmuwan untuk membaca puisi—bukan untuk mencari data, tetapi untuk mencari kebijaksanaan tentang apa artinya menjadi manusia di dunia yang rapuh ini.
Nature: International Weekly Journal of Science, dalam ulasannya tentang buku ini, menulis bahwa “prinsip konsiliensi, atau kesatuan pengetahuan, mengalir dalam percakapan antara biolog E.O. Wilson dan penyair Robert Hass. Duo terkemuka ini mengeksplorasi gema dan paralel di bidang masing-masing dengan keringkasan yang fasih, dari saran Wilson kepada para penyair (‘Jajah sains’) hingga renungan Hass tentang interaksi antara gen egois dan imperatif sosial dalam imajinasi.”
Seruan untuk Konservasi: Mengapa Ini Mendesak
Di tengah percakapan yang kadang-kadang melayang ke ranah abstrak, Wilson dan Hass tidak pernah kehilangan pijakan pada realitas yang paling mendesak: krisis keanekaragaman hayati.
Wilson telah lama menjadi suara yang vokal tentang bahaya kepunahan massal keenam yang sedang terjadi di planet ini. Dalam sebuah artikel di The Economist (2013), ia memperingatkan tentang “Age of Loneliness“—Zaman Kesepian, di mana manusia akan menjadi semakin terisolasi dari makhluk hidup lain, dan jiwa kita akan semakin miskin karenanya.
Dalam percakapan ini, ia mengulangi peringatan itu dengan cara yang lebih puitis. Ia berbicara tentang keajaiban dunia alam—tentang semut yang dapat membangun jembatan hidup dengan tubuh mereka sendiri, tentang burung yang bermigrasi ribuan mil tanpa peta, tentang pohon yang berkomunikasi melalui jaringan akar di bawah tanah.
Dan ia bertanya: apakah kita rela kehilangan semua ini? Apakah kita rela menjadi generasi yang membiarkan keajaiban-keajaiban ini punah, hanya karena kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi?
Hass, di pihaknya, membawa perspektif budaya. Ia berbicara tentang bagaimana puisi-puisi besar selalu merayakan alam—bukan karena alam itu “berguna”, tetapi karena alam itu indah. Dan keindahan, katanya, memiliki nilainya sendiri. Ia tidak perlu dibenarkan dengan utilitas. Ia cukup menjadi dirinya sendiri. Dan ketika keindahan itu punah, ada bagian dari jiwa manusia yang juga punah.
Buku ini, seperti yang dicatat oleh World Literature Today, adalah “sebuah seruan yang penuh gairah untuk konservasi semua spesies di planet ini.” Namun seruan ini tidak datang dalam bentuk angka-angka dan grafik. Ia datang dalam bentuk percakapan—dalam bentuk dua orang yang duduk bersama dan berbicara tentang apa yang mereka cintai, dan mengapa kita semua harus peduli.
Imajinasi Membangun Komunitas
Slogan Robert Hass sebagai poet laureate—“imagination makes communities”—bergema di seluruh buku ini. Imajinasi, baginya, bukan sekadar kemampuan untuk membayangkan hal-hal yang tidak nyata. Ia adalah kemampuan untuk membangun jembatan—antara diri sendiri dan orang lain, antara manusia dan alam, antara masa kini dan masa depan.
Tanpa imajinasi, kita tidak akan pernah bisa membayangkan dunia yang berbeda dari dunia yang kita tinggali saat ini. Tanpa imajinasi, kita tidak akan pernah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh generasi mendatang ketika mereka mewarisi planet yang hancur. Tanpa imajinasi, kita tidak akan pernah bisa peduli.
Wilson setuju. Meskipun ia seorang ilmuwan yang berpegang pada data, ia mengakui bahwa data saja tidak pernah cukup untuk menggerakkan hati manusia. Kita tidak bertindak karena kita tahu; kita bertindak karena kita peduli. Dan untuk peduli, kita membutuhkan cerita, puisi, gambar, musik—semua hal yang dibangun oleh imajinasi.
Dalam satu momen yang sangat kuat dalam percakapan mereka, Hass berkata bahwa tugas penyair adalah “to give names to what we love”—memberi nama pada apa yang kita cintai. Karena tanpa nama, sesuatu tidak benar-benar ada di dalam kesadaran kita. Dan tanpa keberadaan di dalam kesadaran, ia tidak dapat kita lindungi. Wilson, yang telah menghabiskan hidupnya memberi nama pada spesies semut yang tak terhitung jumlahnya, mengangguk setuju. Nama adalah bentuk cinta. Taksonomi adalah bentuk puisi.
Sebuah Refleksi untuk Zaman yang Kehilangan Arah
Apa yang membuat buku ini begitu relevan untuk dunia saat ini, hampir satu dekade setelah penerbitannya, dan di tahun 2026 ketika kita membaca ringkasan ini?
Jawabannya, saya percaya, terletak pada fakta bahwa krisis yang dihadapi Wilson dan Hass pada tahun 2012—krisis keanekaragaman hayati, krisis iklim, krisis hubungan antara manusia dan alam—tidak hanya belum terselesaikan, tetapi bahkan semakin parah.
Kita masih kehilangan spesies dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Kita masih membakar hutan hujan. Kita masih mencemari lautan. Kita masih, seperti yang dikatakan Wilson, menuju “Age of Loneliness.”
Namun ada juga krisis baru yang tidak mereka antisipasi sepenuhnya: krisis perhatian. Di zaman media sosial dan algoritma yang dirancang untuk membuat kita terus-menerus teralihkan, kemampuan untuk duduk diam, membaca buku, atau sekadar merenung semakin langka. Kita kehilangan kapasitas untuk memperhatikan—dan tanpa perhatian, tidak ada rasa kagum. Tanpa rasa kagum, tidak ada cinta. Tanpa cinta, tidak ada konservasi.
Dalam konteks inilah buku setipis 95 halaman ini menjadi semakin berharga. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak. Untuk duduk. Untuk mendengarkan. Untuk membiarkan dua pikiran besar ini berbicara kepada kita, bukan dengan keras dan memaksa, tetapi dengan lembut dan mengundang. Ini adalah antidot terhadap kebisingan dunia modern.
Dari perspektif Islam, ada konsep yang disebut tafakkur—merenungkan ciptaan Tuhan sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk melihat langit, bumi, gunung, laut, dan semua makhluk yang ada di dalamnya, dan untuk merenungkan bagaimana semua itu adalah tanda-tanda kebesaran Pencipta. Dalam Surah Ali ‘Imran (3:190-191), Allah berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.'”
Tafakkur, dalam pengertian ini, adalah bentuk perhatian yang mendalam—sebuah latihan spiritual yang membuka mata hati terhadap keindahan dan keteraturan alam, dan yang pada gilirannya membangkitkan rasa syukur dan tanggung jawab. Ini sangat sejalan dengan seruan Wilson dan Hass: bahwa untuk menyelamatkan alam, kita harus terlebih dahulu memperhati-kan alam. Dan untuk memperhatikan alam, kita membutuhkan waktu, keheningan, dan kerendahan hati.
Dalam tradisi penyair Amerika, Mary Oliver menulis dalam puisinya “Wild Geese”:
“You do not have to be good. / You do not have to walk on your knees / for a hundred miles through the desert, repenting. / You only have to let the soft animal of your body / love what it loves.”
Kutipan ini bergema dengan pesan Wilson tentang biofilia: bahwa cinta pada alam bukanlah sesuatu yang harus kita paksakan; ia sudah ada di dalam diri kita, sebagai bagian dari “hewan lembut” dari tubuh kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah membiarkannya mencintai apa yang dicintainya—dan kemudian, dengan keberanian, bertindak berdasarkan cinta itu.
Rainer Maria Rilke, dalam Letters to a Young Poet, menulis tentang perlunya “hidup di dalam pertanyaan-pertanyaan”—untuk tidak terburu-buru mencari jawaban, tetapi untuk membiar-kan pertanyaan-pertanyaan itu hidup di dalam diri kita, dan pada akhirnya, “hidup ke dalam jawaban-jawaban.” Wilson dan Hass, dalam percakapan mereka, melakukan hal itu.
Mereka tidak mengklaim memiliki semua jawaban. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar—tentang alam, tentang sifat manusia, tentang seni, tentang kewajiban—dan mereka mengundang kita untuk hidup di dalam pertanyaan-pertanyaan itu bersama mereka.
Hikmah untuk Masa Depan
Apa yang dapat kita petik dari buku ini untuk masa depan?
Pertama, kita perlu memulihkan percakapan antara sains dan humaniora. Di universitas, kedua bidang ini sering dipisahkan oleh tembok yang tebal. Ilmuwan memandang humanis sebagai tidak serius; humanis memandang ilmuwan sebagai tidak peka. Wilson dan Hass menunjukkan bahwa ini adalah kesalahan besar. Kita membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan fakta sains untuk memahami masalah, dan kita membutuhkan kebijaksanaan humaniora untuk memotivasi tindakan.
Kedua, kita perlu memberi nama pada apa yang kita cintai. Nama adalah bentuk perhatian. Ketika kita belajar nama sebuah pohon, seekor burung, atau sebuah bintang, kita tidak lagi melihatnya sebagai objek anonim. Ia menjadi bagian dari dunia kita, sesuatu yang kita kenal, sesuatu yang kita sayangi. Gerakan konservasi tidak akan berhasil tanpa langkah pertama ini: pengenalan. Dan pengenalan membutuhkan waktu, perhatian, dan keinginan untuk belajar.
Ketiga, kita perlu mengakui bahwa kita adalah makhluk yang berbagi planet ini dengan jutaan spesies lain. Wilson menyebut ini sebagai “demokrasi spesies”—gagasan bahwa setiap makhluk, sekecil apa pun, memiliki hak untuk ada. Ini bukan hanya argumen etis; ini juga argumen pragmatis. Keanekaragaman hayati adalah jaring pengaman kita, sistem pendukung kehidupan yang tanpanya kita tidak dapat bertahan. Setiap spesies yang punah adalah sebuah lubang di jaring itu.
Keempat, kita perlu menyadari bahwa krisis ekologis adalah juga krisis spiritual. Kita tidak dapat menyelesaikan masalah teknis dengan solusi teknis saja. Kita membutuhkan perubahan dalam cara kita melihat dunia, dalam apa yang kita hargai, dalam apa yang kita anggap suci. Ini adalah wilayah agama, filsafat, dan puisi. Dan tidak ada yang lebih baik daripada puisi dalam membuka pintu-pintu persepsi yang selama ini tertutup.
Kelima, dan yang terakhir, kita perlu memulai percakapan. Percakapan seperti yang dilakukan Wilson dan Hass ini—jujur, rendah hati, penuh rasa ingin tahu—adalah model untuk bagaimana kita harus berhubungan satu sama lain, dan bagaimana kita harus berhubungan dengan alam. Bukan dengan sikap menghakimi, bukan dengan kepastian yang kaku, tetapi dengan keinginan untuk belajar, untuk mendengarkan, dan untuk berubah.
Catatan Akhir: Spesies Puitis
Mengapa judul buku ini adalah The Poetic Species? Mengapa bukan The Rational Species? Atau The Tool-Making Species?
Jawabannya, saya percaya, terletak pada keyakinan Wilson dan Hass bahwa apa yang paling membedakan manusia dari makhluk lain bukanlah akal, bukan teknologi, tetapi imajinasi dan kemampuan untuk terpesona. Kita adalah spesies yang menciptakan mitos, yang menulis puisi, yang menyanyikan lagu, yang menatap bintang-bintang dan bertanya-tanya dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Inilah yang membuat kita puitis. Dan inilah yang, pada akhirnya, dapat menyelamatkan kita—atau, jika kita salah menggunakannya, menghancurkan kita.
Seperti yang dikatakan oleh Maria Popova dalam ulasannya yang terkenal: “The Poetic Species is a wonderful read in its entirety, short yet infinitely simulating.” Ini adalah buku yang singkat—Anda dapat membacanya dalam satu atau dua jam—tetapi ia akan tinggal bersama Anda jauh setelah Anda menutup sampulnya.
Wilson meninggal pada bulan Desember 2021, pada usia 92 tahun. Ia meninggalkan warisan yang luar biasa: lebih dari seratus penghargaan, puluhan buku, dan penemuan ilmiah yang mengubah cara kita memahami dunia sosial serangga dan evolusi perilaku manusia. Namun mungkin warisan terbesarnya adalah ajakan untuk merawat—untuk merawat planet ini, untuk merawat spesies-spesies yang tidak dapat berbicara untuk diri mereka sendiri, dan untuk merawat jiwa kita sendiri dengan menghabiskan waktu di alam.
Hass masih hidup dan terus menulis. Ia masih mengajar di University of California-Berkeley, dan masih bekerja dengan River of Words, mengajak anak-anak untuk menulis puisi tentang alam di sekitar mereka. Ia adalah bukti hidup bahwa imajinasi dapat membangun komunitas—dan bahwa komunitas itu, pada gilirannya, dapat menyelamatkan dunia.
Dan kita? Kita adalah pembaca buku ini, penerima warisan mereka. Kita adalah spesies puitis juga. Pertanyaannya bukanlah apakah kita dapat menggunakan imajinasi kita untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pertanyaannya adalah apakah kita akan melakukannya.
Seperti yang ditulis oleh Wilson dalam Biophilia, lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, dan yang masih terasa segar hingga hari ini:
“The one process now going on that will take millions of years to correct is the loss of genetic and species diversity by the destruction of natural habitats. This is the folly our descendants are least likely to forgive us for.”
Kita tidak ingin menjadi generasi yang tidak dimaafkan. Kita ingin menjadi generasi yang bertindak. Dan untuk bertindak, kita harus terlebih dahulu mendengarkan—percakapan antara dua spesies puitis yang duduk bersama di atas panggung, di American Museum of Natural History, pada suatu malam di bulan Desember, berbicara tentang hal-hal yang benar-benar penting.
Cirebon, 15 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Barnes & Noble. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass [Hardcover description]. https://www.barnesandnoble.com/w/the-poetic-species-edward-o-wilson/1114937646
Briccetti, L. (2018). Blue guide. Four Way Books.
Britannica. (n.d.). E.O. Wilson. Encyclopaedia Britannica. https://www.britannica.com/contributor/Edward-O-Wilson/12354665
City Lights Bookstore. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass. https://citylights.com/poetry-criticism-biographies/poetic-species-a-conversation/
Google Books. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass. https://books.google.com.sg/books?id=OpBimgEACAAJ
Hass, R., & Wilson, E. O. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass. Bellevue Literary Press.
LibraryThing. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass[Reviews]. https://www.librarything.com/work/14731911/reviews/223407406
MacDowell. (n.d.). Lee Briccetti. https://www.macdowell.org/artists/lee-briccetti
Millay Arts. (2024). Lee Briccetti. https://www.millayarts.org/artist/lee-briccetti
Miller, R. W. (2015). Review of The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass. Electronic Green Journal, *1*(38). https://doi.org/10.5070/G313826253
Penguin Random House Canada. (n.d.). Edward O. Wilson. https://www.penguinrandomhouse.ca/authors/33383/edward-o-wilson
Smith College. (n.d.). Robert Hass. https://new.smith.edu/people/robert-hass
University of Pennsylvania Library. (2014). The poetic species: A conversation with Edward O. Wilson and Robert Hass [Catalog record]. https://franklin.library.upenn.edu/catalog/FRANKLIN_9979236774503681
Wilderdom. (2004). Edward O. Wilson’s biophilia hypothesis. https://webarchiveweb.wayback.bac-lac.canada.ca/web/20060908200801/http://www.wilderdom.com/evolution/BiophiliaHypothesis.html
Wikipedia. (n.d.). Edward O. Wilson. https://no.wikipedia.org/wiki/Edward_O._Wilson
Wikipedia. (n.d.). Robert Hass. https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Haas_(poet)
Wilson, E. O. (2013, November 18). Beware the age of loneliness. The Economist. https://www.economist.com/news/2013/11/18/beware-the-age-of-loneliness
W. W. Norton & Company. (n.d.). Edward O. Wilson. https://wwnorton.co.uk/authors/1149/Edward%20O.%20Wilson
Edward O. Wilson (1929–2021)
Karya-Karya Penting Edward O. Wilson

Robert Hass (1941– )
Karya-Karya Penting Robert Hass

Sebagai Penerjemah:
- The Separate Notebooks (Czesław Miłosz, 1984)
- The Essential Haiku: Versions of Bashō, Buson, and Issa (1994)
- Road-Side Dog (Czesław Miłosz, 1998)
Lee Briccetti
“Penjaga Rumah Puisi Amerika”
Karya-Karya Penting Lee Briccetti







