Rubarubu #149
Old Wheelways:
Melacak Para Landseeērs
Pada tahun 1894, sekelompok pesepeda Baltimore membentuk sebuah perkumpulan bernama The Thirteen Cyclers, dengan harapan dapat menjelajahi sebanyak mungkin wilayah baru, sejauh yang memungkinkan oleh topografi pedesaan di sekitarnya dan waktu luang para anggotanya. Perjalanan mereka tercatat dalam dua jilid kecil tulisan tangan berjudul Route Book dan Book of Runs; keduanya menjadi arsip yang merayakan penemuan—dan secara mencolok berbeda dari catatan banyak klub sepeda lainnya, karena entri-entrinya hampir tidak memuat rujukan pada kegiatan sosial atau laporan balap.
Charles Rhodes menjabat sebagai kapten, dan surat akhir tahunnya—ditulis menjelang perjalan-an ulang tahun klub pada April 1895—menjadi semacam pernyataan tujuan pendirian klub. Setelah mencatat bahwa mereka telah menempuh banyak wilayah yang sebelumnya kurang dikenal di kalangan pesepeda, Rhodes menguraikan rencana ambisius untuk tahun berikutnya, sebuah rute yang membentang hampir ke seluruh Maryland dan mengarah ke Pennsylvania, mencapai Steelton dan Gettysburg.
Rhodes mengamati bahwa kesulitan terbesar dalam bertualang di daerah baru adalah menemukan tempat makan yang layak. Namun, dalam lebih dari satu kesempatan, kelompok itu juga tersesat —menyusuri jalur sapi yang meragukan ujungnya, masuk ke hutan lebat, melintasi ladang berumput tinggi, atau menerobos kantong-kantong pasir dalam. Walau beberapa catatan meng-gambarkan daya tarik perjalanan khusus—misalnya, perjalanan malam hari “gaya lama” ke Ridgeville—atau menyinggung ciri lanskap yang unik, seperti sinyal penyeberangan feri di Sungai Little Choptank yang menyerupai kincir angin (bilah merah untuk penumpang dan putih untuk kereta), nilai terbesar buku-buku itu terletak pada kesan perjalanan yang polos dan langsung tentang bersepeda pada akhir abad ke-19—yang paling baik dibaca dengan kesediaan untuk berlama-lama membayangkan perjalanan tersebut.
Dengan kesadaran tinggi terhadap lingkungan sekitar dan tergerak oleh unsur-unsur komposisi-onal dalam lanskap, para pesepeda Baltimore ini telah menjadi landseeërs yang tajam.
Secara umum, kata seer merujuk pada seseorang atau mistikus yang memiliki wawasan spiritual mendalam atau menerima wahyu ilahi melalui penglihatan. Namun, beberapa penulis mengubah ejaannya menjadi seeër untuk menghindari tafsir mistik tersebut. Istilah itu kemudian digunakan untuk menyebut orang-orang yang memiliki daya penglihatan tajam dan memanfaatkannya untuk mencapai pemahaman melalui perenungan atau imajinasi. Misalnya, ketika membahas tulisan romantik Sir Walter Scott, Robert Louis Stevenson menyebut Scott sebagai “seorang pelamun besar, seorang seeër dari penglihatan-penglihatan yang tepat, indah, dan jenaka.”
Kata landseeër sangat tepat untuk pesepeda akhir abad ke-19 yang, setelah menguasai sarana kemandirian yang baru direkayasa, terbangun terhadap lingkungan sekitarnya dengan rasa antisipasi dan mampu mengamati lanskap dari perspektif segar. Sering kali para landseeërs ini bersepeda tidak jauh dari rumah, sehingga maknanya tidak hanya mencakup perjalanan eksotis, tetapi juga keakraban baru terhadap hal-hal terdekat yang selama ini terabaikan. Charles Pratt, salah satu pendiri League of American Wheelmen (LAW) pada tahun 1880 dan kontributor tetap literatur wisata bersepeda, mengingatkan para pembacanya bahwa meskipun jarak memberi pesona, pesona sejati tidak selalu jauh: “Sembilan dari sepuluh kemungkinan Anda, Pembaca, kecuali Anda seorang pesepeda, tidak mengenal wilayah Anda sendiri.”
Sebagai landseeërs, pesepeda melihat apa yang tak terlihat oleh orang lain—namun penjelasannya bukanlah mistik. Dalam bukunya Outside Lies Magic, sejarawan lanskap John Stilgoe mencatat bahwa pejalan kaki yang melintas di depan pagar kayu hanya melihat potongan-potongan sempit dari apa yang ada di baliknya dan sulit membayangkan gambaran utuh. Sebaliknya, pesepeda, bergerak dengan kecepatan yang pas, mampu menyatukan kilasan-kilasan itu secara mental menjadi pandangan komposit yang utuh. Kemampuan bergerak dengan ritme khas ini memungkinkan pesepeda merekam citra mental berbagai fitur lanskap, mengingat dan menghubungkannya secara kreatif, membentuk panorama yang tak terlihat oleh mereka yang hanya mendapat pandangan sekilas.
Kini, landseeërs modern dapat mengenali jejak sejarah yang diabaikan orang lain dalam lingkungan binaan dan kultural kita, serta membayangkan cara-cara kreatif untuk merebut kembali tempat-tempat yang terlupakan itu.
Sisa-sisa warisan bersepeda abad ke-19 yang memudar menjadi titik awal yang baik untuk proses penemuan tersebut. Selama sekitar dua dekade, 1880–1900, sepeda dan para pesepedanya membentuk dan membentuk ulang sejarah sosial, budaya, ekonomi, dan industri Amerika; memperkenalkan sarana perjalanan darat yang mandiri dan andal; mendorong kampanye perbaikan jaringan jalan nasional yang memprihatinkan; memengaruhi rupa kota; memengaruhi perencana taman; serta memicu teknologi mesin modern yang penting bagi perkembangan mobil dan pesawat terbang.
Para wheelmen dan wheelwomen juga menghasilkan kumpulan literatur geografis, ilustrasi, fotografi, dan deskripsi tempat-tempat Amerika yang kaya—yang kini sangat kurang dimanfaat-kan—menjadikan mereka pengamat lanskap suburban dan rural yang tajam serta landseeërs terampil. Mereka juga mendanai dan membangun jaringan jalur sepeda yang luas—lebih dari dua ribu mil hanya di Negara Bagian New York—dalam waktu kurang dari satu dekade, pencapaian luar biasa dibandingkan proyek jalur lima atau enam mil masa kini yang memerlukan perencanaan bertahun-tahun dan biaya besar.
Sayangnya, kini hanya sedikit penanda atau monumen yang mengingatkan publik pada kontribusi penting para pesepeda tersebut. Disiplin yang berbicara tentang lingkungan binaan dan budaya seharusnya memperbaiki kurangnya pengakuan ini.
Dengan pemikiran itu, penulis menelusuri sebanyak mungkin jurnal bersepeda—yang jumlah-nya sangat banyak—untuk melacak arah pengembaraan pesepeda abad ke-19 dan awal abad ke-20; mencari jejak, penanda, atau sisa perjalanan lama mereka; dan bila memungkin-kan, merebut kembali jalur, wheelways, atau bekas jejak tipis ban sepeda yang dahulu mem-bentuk sistem koridor perjalanan bercabang seperti dendrit yang memungkinkan country riding. Jalur-jalur itu bukanlah rintisan di wilayah liar, melainkan tanda awal pencarian di medan lain yang tak terpetakan: wilayah urban, suburban, dan rural tempat sepeda dapat berfungsi aman sebagai sarana rekreasi maupun transportasi.
Penulis membatasi penelitian secara geografis pada empat belas negara bagian—enam negara bagian New England, New York, New Jersey, Pennsylvania, Delaware, Maryland, Ohio, Indiana, dan sebagian kecil Kentucky—selama sekitar dua belas tahun. Secara temporal, kajian dimulai sebelum Pameran Centennial Philadelphia 1876, ketika publik Amerika pertama kali melihat sepeda roda tinggi buatan Inggris, dan berakhir dengan pecahnya Perang Dunia II, ketika kebangkitan minat pada sepeda dan jalurnya tertunda oleh konflik tersebut.
Karya ini berupaya mempertemukan sejarawan lanskap—yang merenungkan jalinan halus tempat, waktu, dan memori publik—dengan sejarawan sepeda yang mengkaji pengaruh luas salah satu penemuan terbesar manusia. Dari dialog itu diharapkan lahir percakapan lintas disiplin: geografer budaya, sejarawan kota, perencana kota, pelestari sejarah, ekolog, sejarawan pariwisata, hingga insinyur transportasi yang tercerahkan.
Walaupun berakar kuat pada sejarah sepeda, sudut pandangnya selalu menekankan bagaimana sepeda membentuk lanskap Amerika dan merekam kesan tempat-tempat itu. Tema mobilitas, eksplorasi geografis, serta peran pesepeda sebagai penjelajah dan pembangun jalur menyatu-kan bab-babnya. Sepeda menjadi wahana lintas disiplin yang menautkan studi lanskap Amerika.
Pesepeda masa kini dapat mewarisi keterampilan abad ke-19 itu, menjadi landseeërs yang merebut kembali ruang-ruang terabaikan atau pembangun jalur yang merancang rute berguna bagi kota dan pedesaan.
Salah satu aspek paling menyedihkan dari sejarah pembangunan jalur sepeda akhir abad ke-19 adalah bahwa kampanye-kampanye awal itu menjadi prolog bagi hampir semua hambatan yang dihadapi pembangun jalur sepeda masa kini. Lebih dari satu abad berlalu, konflik penggunaan jalan umum antara sepeda dan kendaraan lain belum terselesaikan—mobil hanyalah kendaraan terbaru dan paling berbahaya dalam daftar panjang tersebut.
Menariknya, beberapa gagasan kreatif yang diajukan pesepeda kala itu—seperti koridor transportasi yang menggabungkan moda berbeda namun kompatibel (trem dan sepeda)—tetap relevan hari ini. Rencana abad ke-19 itu dapat diadaptasi menjadi parkway alternatif masa depan yang mengintegrasikan kereta ringan, sepeda, dan pejalan kaki, dipisahkan secara cermat namun tetap menyatu dalam koridor transportasi terpadu yang juga menggabungkan sumber daya budaya dan alam ke dalam pengalaman perjalanan sehari-hari: parkway masa depan kita.
Pada suatu pagi yang hening di pedesaan New England, seorang pesepeda berhenti di tepi jalan makadam tua yang kini hampir tak digunakan. Di sela rerumputan, ia melihat sisa-sisa per-kerasan batu yang rapi—terlalu rapi untuk sekadar jalan tani biasa. Itulah salah satu jejak “wheelway,” jalur sepeda akhir abad ke-19 yang pernah menjadi simbol modernitas. Peman-dangan seperti inilah yang menggerakkan Robert L. McCullough menulis Old Wheelways: sebuah upaya membaca lanskap sebagai arsip terbuka sejarah bersepeda.
Buku ini berangkat dari gagasan sederhana namun radikal: sejarah sepeda tidak hanya ter-simpan dalam arsip, poster, atau laporan penjualan, tetapi juga tertanam dalam tanah, batu, dan pola tata ruang kota. Dalam Preface: Bicycle Landseers, McCullough memperkenalkan istilah “landseers”—mereka yang membaca lanskap seperti teks. Ia mengajak pembaca melihat jalan, jembatan kecil, trotoar awal, bahkan boulevard rindang sebagai hasil intervensi gerakan pesepeda abad ke-19. Para pesepeda bukan hanya pengguna jalan; mereka adalah reformis infrastruktur. Mereka menuntut permukaan jalan yang halus, drainase yang baik, dan penanda rute yang jelas—tuntutan yang kemudian menjadi fondasi sistem jalan modern.
Narasi buku ini mengalir dari era Good Roads Movement pada 1880–1890-an, ketika organisasi seperti League of American Wheelmen memperjuangkan perbaikan jalan demi kenyamanan sepeda beroda tinggi dan kemudian sepeda keselamatan. McCullough menunjukkan bahwa sebelum mobil menjadi simbol kebebasan Amerika, sepeda lebih dulu mereformasi cara negara membangun jalan. Ia memaparkan bagaimana kampanye untuk jalan beraspal dan standar teknik sipil banyak dipelopori oleh pesepeda—sebuah ironi sejarah ketika kemudian mobil “mewarisi” infrastruktur itu dan mendominasi ruang publik.
McCullough menelusuri berbagai lokasi—jalur sepeda eksperimental, taman kota dengan lintasan khusus, dan jalan pedesaan yang diperkeras atas dorongan klub sepeda. Ia mengurai-kan bagaimana jalur-jalur ini sering kali terlupakan atau diubah fungsi, tetapi masih menyisakan pola spasial yang bisa dibaca. Ia menulis dengan sensibilitas sejarawan lanskap: menggabung-kan arsip, peta lama, foto, dan observasi lapangan. Dengan cara itu, ia memperlihatkan bahwa modernitas transportasi bukanlah garis lurus dari sepeda ke mobil, melainkan dialog kompleks antara teknologi, politik, dan ruang.
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya mengaitkan sejarah sepeda dengan perkembangan tata kota dan rekreasi publik. McCullough menyoroti bagaimana boulevard yang indah dan taman linear pada akhir abad ke-19 dirancang tidak hanya untuk kereta kuda, tetapi juga untuk pesepeda yang mencari pengalaman estetis—sebuah praktik yang menggabungkan mobilitas dan kontemplasi. Dalam konteks ini, sepeda menjadi instrumen demokratisasi ruang: lebih murah dari kuda, lebih bebas dari jadwal kereta api.
Relevansi historis buku ini terasa kuat pada abad ke-21. Ketika kota-kota dunia kembali membangun jalur sepeda dan greenways, kita menyaksikan apa yang oleh sebagian peneliti disebut sebagai “recycling of infrastructure memory.” McCullough mengingatkan bahwa gelombang ini bukanlah fenomena baru, melainkan kebangkitan tradisi lama. Dalam kerangka ini, pernyataan Ivan Illich dalam Energy and Equity (1974) menjadi relevan: “The bicycle is the perfect transducer to match man’s metabolic energy to the impedance of locomotion” (Illich, 1974). Illich melihat sepeda sebagai teknologi yang selaras dengan tubuh dan lingkungan—perspektif yang sejalan dengan visi McCullough tentang lanskap yang manusiawi.
Demikian pula, aktivis perkotaan seperti Jane Jacobs menekankan pentingnya jalan sebagai ruang sosial, bukan sekadar koridor kendaraan bermotor. Dalam cahaya pemikiran Jacobs, jejak wheelways yang dibahas McCullough dapat dibaca sebagai eksperimen awal dalam mencipta-kan jalan yang inklusif. Dari perspektif lain, pemikir Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr meng-kritik modernitas teknologis yang terputus dari keseimbangan ekologis; sepeda—dan jejak historisnya—dapat dilihat sebagai bentuk teknologi yang lebih harmonis dengan alam (Nasr, 1996).
McCullough juga menyinggung bagaimana dominasi mobil pada abad ke-20 menghapus atau mengabaikan banyak jejak sepeda. Namun ia tidak menulis dengan nada nostalgia semata. Ia menunjukkan bahwa lanskap selalu berubah, dan bahwa pemahaman sejarah memberi kita alat untuk merancang masa depan yang lebih sadar. Ketika kota-kota seperti Amsterdam atau Portland membangun kembali jaringan sepeda, mereka—secara sadar atau tidak—menghidup-kan kembali semangat abad ke-19.
Prospek masa depan yang tersirat dalam buku ini adalah pentingnya membaca ruang sebagai memori kolektif. Dalam era krisis iklim dan urbanisasi cepat, memahami bahwa sepeda pernah menjadi kekuatan reformasi infrastruktur memberi legitimasi historis pada kebijakan trans-portasi berkelanjutan. Seperti ditulis McCullough, lanskap bukan sekadar latar; ia adalah “palimpsest” yang menyimpan lapisan-lapisan mobilitas.
Dengan gaya naratif yang menggabungkan perjalanan lapangan dan riset arsip, Old Wheelways mengajak pembaca berjalan—atau bersepeda—melintasi waktu. Ia menunjukkan bahwa setiap batu perkerasan tua bisa menjadi pintu menuju sejarah yang lebih luas tentang demokrasi, teknologi, dan ruang publik. Di tengah kebangkitan global bersepeda, buku ini menjadi peng-ingat bahwa masa depan sering kali tertanam dalam jejak roda masa lalu.
Dalam Old Wheelways, Robert L. McCullough tidak menyusun sejarah sepeda sebagai kronologi teknologi, melainkan sebagai perjalanan membaca ruang. Bagian-bagian seperti A Wheel, Wheeling Large, Imagining Place, Straightaway, dan Country Riding mengalir sebagai satu narasi besar tentang bagaimana satu lingkaran sederhana—roda—mengubah cara manusia memahami lanskap modern.
Ia memulai dengan roda sebagai bentuk dasar—A Wheel—sebuah geometri yang sederhana namun revolusioner. Roda bukan sekadar komponen mekanis; ia adalah metafora mobilitas modern. McCullough menelusuri bagaimana kemunculan sepeda keselamatan pada akhir abad ke-19 menjadikan roda sebagai simbol kebebasan individual yang terjangkau. Dari titik ini, ia memperlihatkan bagaimana teknologi kecil itu mulai meninggalkan jejak besar di tanah: per-ubahan tekstur jalan, kebutuhan akan permukaan yang lebih halus, hingga tuntutan standar teknik baru. Dalam pembacaan McCullough, roda adalah agen sejarah—ia memaksa negara dan kota untuk merespons.
Narasi kemudian “membesar” dalam Wheeling Large. Di sini McCullough memperluas fokus dari objek sepeda ke gerakan sosial yang melingkupinya. Organisasi seperti League of American Wheelmen tidak sekadar klub rekreasi; mereka adalah pelobi infrastruktur. Mereka menerbit-kan peta, mengadvokasi perkerasan jalan, dan membentuk opini publik tentang pentingnya “good roads.” McCullough menunjukkan bahwa sebelum mobil mengambil alih panggung, para pesepeda telah lebih dahulu membangun bahasa modernitas jalan raya. Jalan yang rata dan lurus bukanlah takdir alamiah, melainkan hasil tekanan sosial dari komunitas beroda dua. Di sini ia menyiratkan bahwa mobilitas selalu bersifat politis—ia membentuk dan dibentuk oleh kekuasaan.
Dalam Imagining Place, buku ini bergerak lebih reflektif. McCullough berargumen bahwa sepeda tidak hanya mengubah jalan, tetapi juga imajinasi tentang tempat. Pesepeda akhir abad ke-19 mulai melihat pedesaan bukan sebagai ruang kerja semata, melainkan sebagai lanskap rekreasi. Panduan rute dan peta klub sepeda menciptakan “cara baru melihat”—menghubung-kan kota dan desa dalam jaringan pengalaman. Ia membaca taman kota, boulevard rindang, dan jalur sungai sebagai ruang yang diproduksi oleh imajinasi mobilitas baru ini. Tempat menjadi sesuatu yang bisa dijangkau secara personal, bukan hanya dilintasi secara kolektif melalui kereta api. Sepeda, tulisnya, memungkinkan pengalaman ruang yang intim namun luas—sebuah paradoks yang membentuk modernitas awal.
Ketika sampai pada Straightaway, McCullough menyoroti obsesi terhadap kelurusan dan kecepatan. Jalan lurus menjadi simbol efisiensi, kemajuan, bahkan moralitas teknis. Namun ia juga mengingatkan bahwa ideal ini lahir dari kebutuhan praktis pesepeda akan permukaan yang konsisten dan bebas hambatan. Dari lintasan balap hingga boulevard kota, garis lurus menjadi bahasa visual modernitas. Ironisnya, bahasa ini kemudian diapropriasi oleh mobil dan peren-canaan jalan raya abad ke-20. Dalam pembacaan McCullough, “straightaway” bukan hanya bentuk geometris, tetapi pergeseran epistemologis: dunia dipahami sebagai koridor yang harus dioptimalkan.
Akhirnya, dalam Country Riding, buku ini kembali ke pengalaman personal. McCullough menggambarkan bagaimana pesepeda awal menjelajahi pedesaan, mencatat tekstur tanah, tanjakan, dan tikungan. Ia membaca arsip perjalanan dan memadukannya dengan observasi lapangan kontemporer, memperlihatkan bahwa banyak jalur tua masih bisa dikenali jika kita tahu cara melihatnya. Di sinilah konsep “landseer” menjadi nyata: sejarawan sebagai pengendara yang membaca lanskap seperti teks berlapis. Pedesaan bukan sekadar latar romantik; ia adalah ruang negosiasi antara teknologi, ekonomi, dan estetika.
Disintesis bersama, bagian-bagian ini membentuk satu argumen besar: sepeda adalah kekuatan pembentuk lanskap modern. Dari roda tunggal hingga jaringan jalan nasional, dari imajinasi tempat hingga pengalaman pedesaan, McCullough menunjukkan bahwa sejarah mobilitas tertulis di tanah itu sendiri. Ia tidak meratapi dominasi mobil, tetapi mengungkap bahwa fondasi infrastruktur modern memiliki akar beroda dua. Dengan membaca jejak wheelways, kita menemukan bahwa modernitas transportasi bukanlah cerita tentang mesin yang makin besar, melainkan tentang bagaimana manusia dan ruang saling membentuk melalui teknologi yang tampak sederhana.
Melalui gaya naratif yang tenang namun argumentatif, McCullough mengajak pembaca memahami bahwa setiap jalan memiliki silsilah. Di bawah aspal dan marka modern, masih tersimpan gema roda yang pertama kali menuntut kelancaran, kelurusan, dan kebebasan bergerak.
Dalam bagian-bagian akhir Old Wheelways—Good Roads and Good Sidepaths, Sidepath, Park Privileges, Parkway, dan Wheelways—Robert L. McCullough memperlihatkan bagaimana sejarah sepeda bukan sekadar sejarah kendaraan, melainkan sejarah politik ruang publik. Narasinya bergerak dari tuntutan akan jalan yang lebih baik menuju pertanyaan yang lebih subtil: siapa yang berhak atas ruang itu, dan bagaimana hak tersebut diinstitusikan atau dicabut.
Ia memulai dengan gerakan Good Roads, yang pada akhir abad ke-19 digerakkan secara kuat oleh komunitas pesepeda seperti League of American Wheelmen. McCullough menunjukkan bahwa tuntutan akan permukaan jalan yang halus bukan hanya soal kenyamanan berkendara, melainkan klaim modern atas mobilitas sebagai hak sipil. Jalan tanah berlumpur dianggap sebagai hambatan kemajuan; jalan beraspal adalah simbol rasionalitas dan demokrasi teknis. Namun di saat yang sama, muncul gagasan good sidepaths—jalur samping khusus pesepeda—yang memperlihatkan ambivalensi: apakah sepeda harus berbagi ruang dengan lalu lintas lain, atau justru dipisahkan?
Dalam Sidepath, McCullough menelusuri eksperimen jalur khusus yang dibangun di berbagai kota dan koridor antar-kota. Jalur-jalur ini sering kali didanai melalui lisensi atau iuran pesepeda, sehingga secara hukum dan sosial menjadi ruang semi-eksklusif. Ia membaca sidepath sebagai ruang paradoks: di satu sisi melindungi pesepeda dari bahaya, di sisi lain mengisyaratkan marginalisasi—bahwa mereka bukan bagian utama dari jalan raya. Di sini, McCullough memperlihatkan bahwa perdebatan kontemporer tentang segregasi jalur sepeda sudah memiliki akar panjang dalam sejarah Amerika. Infrastruktur bukan hanya persoalan teknik, tetapi keputusan tentang siapa yang dianggap pengguna “utama.”
Ketegangan ini berlanjut dalam Park Privileges. Ketika sepeda memasuki taman-taman kota, terutama taman besar yang dirancang dalam tradisi lanskap seperti karya Frederick Law Olmsted, muncul perdebatan tentang hak akses dan etika penggunaan ruang hijau. McCullough menunjukkan bahwa taman bukan ruang netral; ia adalah arena negosiasi antara rekreasi, estetika, dan kontrol sosial. Pesepeda awal sering kali harus memperjuangkan izin untuk melintas, menghadapi kekhawatiran tentang keselamatan pejalan kaki dan “ketertiban.” Dalam analisisnya, “privilege” bukan sekadar izin administratif, melainkan cerminan hierarki sosial yang tertanam dalam desain ruang publik.
Bab Parkway memperluas diskusi ini ke skala yang lebih besar. Parkway—jalan lanskap yang dirancang untuk pengalaman visual dan rekreasi—menjadi ruang transisi antara taman dan jalan raya. McCullough memperlihatkan bagaimana parkway awalnya mengakomodasi pesepeda sebagai bagian dari visi mobilitas santai dan estetis. Namun ketika mobil mendominasi, parkway berubah fungsi menjadi koridor kendaraan bermotor berkecepatan tinggi. Di sini ia menggarisbawahi ironi sejarah: infrastruktur yang dirancang untuk pengalaman lanskap perlahan kehilangan dimensi humanisnya. Jalan yang dulu menawarkan ritme dan kedekatan berubah menjadi jalur efisiensi.
Semua alur ini bermuara pada Wheelways, konsep yang merangkum gagasan utama McCullough: bahwa jejak sepeda masih tertanam di lanskap, meski sering tak terlihat. Wheelways bukan hanya jalur fisik, melainkan lapisan sejarah yang membentuk cara kita bergerak hari ini. Ia mengajak pembaca menjadi “pembaca lanskap,” mengenali bekas sidepath yang tersisa, struktur parkway yang teradaptasi, dan prinsip good roads yang menjadi fondasi sistem jalan modern. Dalam sintesis ini, McCullough menegaskan bahwa mobilitas modern lahir dari negosiasi panjang antara inklusi dan eksklusi, antara kebebasan dan regulasi.
Secara keseluruhan, bagian-bagian ini memperlihatkan bahwa perjuangan pesepeda abad ke-19 dan awal abad ke-20 bukan sekadar episode romantik, melainkan fondasi politik infrastruktur modern. Good roads mencerminkan aspirasi demokratis; sidepath mengungkap dilema segregasi; park privileges menyoroti hierarki akses; parkway menggambarkan transformasi estetika menjadi utilitarian; dan wheelways mengingatkan bahwa sejarah selalu meninggalkan bekas. Melalui narasi yang tenang namun kritis, McCullough menunjukkan bahwa setiap jalan memiliki silsilah—dan dalam silsilah itu, roda sepeda berputar lebih lama daripada yang kita sadari.
Catatan Akhir: Menelusuri masa lalu untuk menata masa depan
Dalam bagian penutup Afterword: Revival dari Old Wheelways, Robert L. McCullough tidak sekadar menambahkan epilog historis, melainkan menghadirkan refleksi tentang kebangkitan—sebuah revival—yang bersifat kultural sekaligus spasial. Setelah menelusuri jejak-jejak sepeda yang hampir terlupakan di lanskap Amerika, ia menutup dengan pertanyaan: apakah roda yang dulu membentuk jalan-jalan modern kini kembali menuntut tempatnya?
McCullough menggambarkan kebangkitan ini bukan sebagai ledakan tiba-tiba, tetapi sebagai reaktivasi memori ruang. Jejak sidepath, parkway, dan gerakan good roads yang ia paparkan di bab-bab sebelumnya ternyata menyediakan fondasi bagi gerakan bersepeda kontemporer. Ketika kota-kota modern mulai kembali membangun jalur sepeda, greenways, dan koridor rekreasi, McCullough melihatnya sebagai pengakuan terselubung bahwa sejarah belum benar-benar hilang—ia hanya tertimbun aspal dan dominasi mobil. “Revival” di sini berarti membaca ulang lanskap dan menyadari bahwa banyak solusi masa kini pernah diuji di masa lalu.
Dalam refleksinya, kebangkitan ini juga terkait perubahan paradigma mobilitas. Sepeda kembali dipandang sebagai simbol keberlanjutan, kesehatan publik, dan rekoneksi dengan ruang. McCullough menekankan bahwa kebangkitan ini berbeda dari “boom” sesaat; ia lebih menyerupai koreksi historis—sebuah usaha mengembalikan keseimbangan antara kendaraan bermotor dan pengguna jalan lainnya. Namun ia juga mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan pola siklus: antusiasme dapat meredup jika tidak diinstitusikan dalam kebijakan dan desain permanen.
Narasi Afterword memperlihatkan bagaimana lanskap menyimpan potensi laten. Bekas rel kereta menjadi rail-trails, koridor parkway diadaptasi untuk sepeda dan pejalan kaki, dan kota-kota mulai mengintegrasikan kembali prinsip konektivitas manusiawi yang pernah diperjuangkan oleh komunitas pesepeda abad ke-19. McCullough menyiratkan bahwa revival ini bukan nostalgia, melainkan pembacaan kritis terhadap masa lalu untuk menata masa depan.
Dengan demikian, Revival berfungsi sebagai simpul tematik: sejarah sepeda adalah sejarah tentang klaim atas ruang, tentang demokratisasi mobilitas, dan tentang ketahanan gagasan yang tampak kalah namun tidak pernah sepenuhnya hilang. Di akhir buku, McCullough seolah mengajak pembaca melihat jalan bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi sebagai arsip terbuka—dan dalam arsip itu, suara roda dua kembali terdengar.
Belitung-Bogor-CIrebon, Januari-Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Illich, I. (1974). Energy and Equity. Harper & Row.
Jacobs, J. (1961). The Death and Life of Great American Cities. Random House.
McCullough, R. L. (2015). Old Wheelways: Traces of Bicycle History on the Land. MIT Press.
Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. Oxford University Press.






