Rubarubu #125
The BICYCLE:
Mitos dan Keteguhan Berubah
Pada suatu pagi musim panas tahun 1888, seorang perempuan bernama Annie Londonderry mengayuh sepedanya meninggalkan Boston untuk mengelilingi dunia. Ia bukan atlet profesi-onal, bukan pula penjelajah yang disponsori kerajaan. Ia seorang ibu dua anak yang menerima tantangan—dan taruhan—bahwa seorang perempuan tidak mungkin menaklukkan bumi dengan dua roda. Perjalanannya, yang kemudian tercatat dalam sejarah sepeda modern, bukan hanya kisah petualangan, tetapi kisah tentang bagaimana sepeda menjadi simbol kebebasan, emansipasi, dan mitos tentang manusia yang bergerak melampaui batas. Kisah seperti inilah yang menjadi denyut nadi buku The BICYCLE: The Myth and the Passion karya Francesco Baroni (White Star S.p.A., 2008): sepeda bukan sekadar mesin, melainkan artefak budaya yang membentuk imajinasi modern.
Buku ini bergerak seperti kayuhan panjang melintasi waktu. Baroni memulai dengan kelahiran sepeda sebagai gagasan—dari draisine Karl Drais pada awal abad ke-19 hingga evolusi velocipede dan sepeda rantai yang membentuk prototipe modern. Ia tidak sekadar mencatat kronologi teknis, tetapi membingkai sepeda sebagai jawaban atas hasrat manusia untuk kecepatan dan kemandirian. Dalam halaman-halamannya, ilustrasi arsip, poster balap, dan foto-foto klasik menjadi saksi bahwa sepeda sejak awal adalah pertemuan antara teknologi dan imajinasi.
Memasuki akhir abad ke-19, buku ini menggambarkan “bicycle craze”—ledakan budaya bersepeda di Eropa dan Amerika. Di kota-kota seperti Paris dan Milan, sepeda menjadi ikon modernitas. Ia mempercepat mobilitas kelas pekerja, memperluas ruang sosial perempuan, dan bahkan memengaruhi mode pakaian. Sejarawan sosial seperti Susan B. Anthonypernah me-ngatakan bahwa sepeda “has done more to emancipate women than anything else in the world,” sebuah kutipan yang sering dirujuk dalam kajian sejarah mobilitas dan gender (Herlihy, 2004). Baroni menempatkan momen ini sebagai titik ketika sepeda melampaui fungsi utilitarian dan menjelma menjadi mitos kebebasan.
Bab-bab berikutnya membawa pembaca ke panggung balap dan heroisme. Balap klasik seperti Tour de France dan Giro d’Italia dipaparkan bukan hanya sebagai kompetisi olahraga, melainkan drama kolektif bangsa. Sosok seperti Fausto Coppi dan Gino Bartali muncul sebagai figur setengah mitologis—pahlawan yang membawa identitas nasional Italia di masa pascaperang. Dalam konteks ini, sepeda menjadi kendaraan narasi: tentang ketahanan, pengorbanan, dan kehormatan. Roland Barthes dalam esainya tentang Tour de France menyebut balap sepeda sebagai “epic spectacle,” sebuah mitologi modern di mana penderitaan fisik menjadi simbol kemuliaan (Barthes, 1957/1972).
Baroni juga menyingkap sisi estetika dan desain. Dari rangka baja klasik hingga serat karbon kontemporer, sepeda dibahas sebagai objek seni dan inovasi industri. Di sini, pembaca diajak melihat bagaimana merek, bengkel kecil Italia, dan insinyur visioner membentuk estetika global. Sepeda menjadi persilangan antara kerajinan tangan dan produksi massal—antara romantisisme bengkel dan logika kapitalisme.
Namun buku ini tidak berhenti pada nostalgia. Ia menyentuh transformasi sepeda dalam budaya urban kontemporer: kebangkitan sepeda kota, gerakan critical mass, dan kesadaran ekologis. Dalam dunia yang tercekik polusi dan kemacetan, sepeda kembali menjadi solusi sederhana namun radikal. Pemikir seperti Ivan Illich dalam Energy and Equityberargumen bahwa sepeda adalah teknologi yang “convivial,” memperkuat otonomi manusia alih-alih mengalienasinya. Gagasan ini sejalan dengan semangat Baroni: sepeda adalah teknologi humanis.
Dari perspektif filsafat, sepeda menyentuh tema eksistensial tentang gerak dan makna. Paul Bloom dalam The Sweet Spot (2021) menulis tentang “pleasures of suffering”—kenikmatan dalam usaha dan kesulitan—sesuatu yang sangat akrab bagi pesepeda jarak jauh. Sementara itu, dalam tradisi Muslim, pemikir seperti Muhammad Iqbal berbicara tentang khudi—penguatan diri melalui perjuangan dan gerak. Mengayuh sepeda, dalam kerangka ini, menjadi metafora spiritual: tubuh yang bergerak, jiwa yang tumbuh.
Relevansi buku ini hari ini semakin kuat. Di tengah krisis iklim global dan urbanisasi masif, sepeda kembali dipromosikan sebagai solusi mobilitas berkelanjutan. Kota-kota dunia mem-perluas jalur sepeda; industri sepeda listrik berkembang pesat. Masa depan sepeda tidak lagi sekadar olahraga atau rekreasi, tetapi bagian dari transisi energi dan kesehatan publik. Dalam konteks ini, buku Baroni terasa profetik—ia mengingatkan bahwa di balik baja dan rantai terdapat narasi panjang tentang kebebasan, solidaritas, dan ketahanan.
Prospeknya ke depan pun menjanjikan. Integrasi teknologi pintar, material ringan, dan kebijak-an kota hijau membuat sepeda semakin sentral dalam imajinasi masa depan. Namun, sebagai-mana digambarkan Baroni, kekuatan sejati sepeda bukan pada kecepatannya, melainkan pada kemampuannya menghubungkan manusia dengan ruang, tubuh, dan komunitas.
Pada akhirnya, The BICYCLE: The Myth and the Passion adalah elegi dan perayaan. Ia menutur-kan bagaimana dua roda sederhana mengubah sejarah sosial, politik, dan estetika modern. Sepeda adalah mesin kecil yang membawa mitos besar—mitos tentang manusia yang percaya bahwa dengan keseimbangan dan ketekunan, ia dapat terus bergerak maju.
Di halaman-halaman awal The BICYCLE: The Myth and the Passion, Francesco Baroni tidak langsung berbicara tentang baja, rantai, atau roda gigi. Ia membuka dengan nada reflektif—sebuah Foreword yang menempatkan sepeda sebagai lebih dari sekadar artefak teknis. Di sana, sepeda diperkenalkan sebagai “mitos modern,” suatu objek yang melampaui fungsinya dan hidup dalam imajinasi kolektif. Ia bukan hanya alat transportasi, tetapi simbol kebebasan, keberanian, dan hasrat manusia untuk bergerak melampaui batas tubuhnya sendiri. Dalam pengantar ini (hlm. 6), nada buku sudah jelas: pembaca diajak melihat sepeda sebagai fenomena budaya yang sarat makna emosional dan historis.
Baroni menggambarkan bagaimana dua roda yang tampak sederhana itu memuat lapisan pengalaman manusia—dari anak kecil yang belajar menjaga keseimbangan hingga atlet yang menaklukkan pegunungan dalam balap legendaris seperti Tour de France. Dalam Foreword, sepeda diposisikan sebagai mesin demokratis: ia dapat dimiliki siapa saja, melintasi batas kelas sosial, dan memungkinkan mobilitas yang sebelumnya tak terbayangkan. Nada ini sejalan dengan refleksi para sejarawan mobilitas seperti David V. Herlihy dalam Bicycle: The History (2004), yang menyebut sepeda sebagai teknologi yang “mengubah lanskap sosial modern.” Namun Baroni menambahkan sentuhan puitis—ia menekankan gairah (passion) yang menyertai sepeda, bukan hanya dampaknya yang rasional.
Memasuki Introduction (hlm. 10), narasi mengalir lebih luas dan lebih dalam. Di sini, Baroni membingkai sejarah sepeda sebagai perjalanan paralel dengan modernitas itu sendiri. Ia menelusuri kemunculan sepeda dari eksperimen awal abad ke-19 hingga transformasinya menjadi ikon budaya abad ke-20. Namun yang lebih penting, ia memperlihatkan bahwa setiap tahap evolusi teknis selalu disertai perubahan sosial dan simbolik. Sepeda tidak pernah netral; ia selalu hadir dalam konteks—entah sebagai lambang kemajuan industri, kebebasan perempuan, atau heroisme nasional.
Dalam pengantar ini, Baroni juga menekankan ambiguitas sepeda: ia sederhana namun revolusioner, personal namun kolektif. Ia menghubungkan individu dengan lanskap, tetapi juga membangun komunitas—klub sepeda, balap jalan raya, hingga subkultur urban. Dalam semangat ini, Baroni seolah menggemakan pemikiran Ivan Illich tentang teknologi yang convivial, yang memperluas otonomi manusia alih-alih mengurungnya dalam sistem besar yang anonim. Sepeda, dalam pengantar Baroni, tampil sebagai teknologi yang intim—ia meng-andalkan tenaga manusia, bukan bahan bakar fosil, dan karenanya menjaga relasi langsung antara tubuh dan ruang.
Yang paling menonjol dari sintesis Foreword dan Introduction adalah cara Baroni menyatukan fakta sejarah dengan aura mitologis. Ia tidak sekadar menyajikan kronologi; ia merangkai cerita tentang bagaimana sepeda membentuk identitas kolektif—khususnya di Italia, tempat figur seperti Fausto Coppi dan Gino Bartali menjadi pahlawan rakyat. Dalam konteks ini, sepeda menjadi panggung drama sosial, sebagaimana pernah ditulis Roland Barthes dalam Mythologies (1957/1972) bahwa balap sepeda adalah epos modern tempat penderitaan tubuh dipentaskan sebagai kebajikan.
Dengan demikian, bagian awal buku ini tidak hanya berfungsi sebagai pembuka, melainkan sebagai kerangka konseptual. Baroni menegaskan bahwa untuk memahami sepeda, kita harus melihatnya sebagai persilangan antara teknik, estetika, politik, dan emosi. Sepeda adalah mesin yang sederhana, tetapi mitos yang kompleks. Ia adalah objek yang bergerak, dan sekaligus menggerakkan—sejarah, masyarakat, dan imajinasi.
Dalam sintesisnya, Foreword dan Introduction membentuk fondasi naratif buku: sepeda sebagai simbol modernitas yang manusiawi. Dari keseimbangan pertama seorang anak hingga kayuhan terakhir seorang juara, dari jalan desa hingga boulevard kota besar, sepeda hadir sebagai metafora tentang gerak, kebebasan, dan hasrat untuk terus maju.
Pada bagian “Beginnings and Early Development” (hlm. 14), Francesco Baroni mengajak pembaca kembali ke masa ketika sepeda belum memiliki bentuk yang kita kenal hari ini. Ia membuka narasi bukan sekadar dengan kronologi teknis, melainkan dengan suasana zaman—Eropa yang sedang diguncang perubahan sosial dan teknologi pada awal abad ke-19. Di tengah revolusi industri dan krisis transportasi akibat gagal panen dan keterbatasan kuda sebagai sarana mobilitas, lahirlah eksperimen-eksperimen mekanis yang mencoba meniru gerak tubuh manusia. Dari sinilah muncul draisienne—kendaraan kayu tanpa pedal yang diasosiasikan dengan Karl Drais—sebuah tonggak awal yang oleh Baroni digambarkan sebagai “isyarat pertama” dari obsesi manusia terhadap keseimbangan dinamis.
Baroni menekankan bahwa fase awal ini bukan sekadar soal inovasi teknis, melainkan tentang imajinasi. Masyarakat menyambut dan sekaligus mencurigai kendaraan baru itu. Ia menjadi sensasi, lalu menghilang, lalu muncul kembali dalam bentuk yang diperbarui. Ketika pedal dan rantai diperkenalkan, sepeda mulai menemukan identitasnya sebagai mesin efisien yang mengubah tenaga manusia menjadi gerak linear yang stabil. Namun, sebagaimana dicatat Baroni dalam bagian ini, setiap inovasi teknis selalu membawa konsekuensi sosial: perubahan bentuk rangka dan roda bukan hanya persoalan mekanika, tetapi juga tentang siapa yang bisa mengendarainya, di jalan mana, dan dengan status sosial apa.
Narasi kemudian bergerak ke bagian “A Changing Cycle”, yang secara metaforis menunjukkan bahwa sepeda selalu berada dalam proses menjadi. Baroni menggambarkan transformasi dari high-wheeler atau penny-farthing—yang tinggi dan berbahaya—menuju safety bicycle dengan dua roda seimbang dan rantai penggerak belakang. Perubahan ini bukan hanya penyempurnaan desain; ia adalah revolusi demokratis. Sepeda menjadi lebih aman, lebih terjangkau, dan lebih inklusif, termasuk bagi perempuan. Di sinilah sepeda berubah dari simbol eksentrik kaum elit menjadi alat mobilitas massal. Baroni melihat momen ini sebagai titik balik: sepeda tidak lagi sekadar eksperimen teknis, tetapi fenomena sosial global.
Dalam bagian ini pula, ia menyiratkan bahwa perubahan teknologi sepeda berjalan seiring dengan perubahan identitas modern. Sepeda menjadi lambang kemandirian individu, terutama di akhir abad ke-19 ketika urbanisasi dan industrialisasi menciptakan jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja. Ia menyebut bahwa sepeda memberi manusia kendali atas ritme hidupnya sendiri—tidak tergantung jadwal kereta atau kuda sewaan. Dengan nada reflektif, Baroni menghubungkan evolusi sepeda dengan evolusi gagasan tentang kebebasan personal.
Bagian “Cycling’s Tailor’s Shop” memperluas narasi ke ranah budaya material. Di sini, Baroni menunjukkan bahwa ketika sepeda berkembang, begitu pula estetika dan gaya hidup yang menyertainya. Pakaian bersepeda, desain rangka, hingga aksesori menjadi bagian dari identitas pengendara. Ia menulis tentang bagaimana penjahit dan perancang mulai menciptakan busana khusus untuk pesepeda—bloomers untuk perempuan, jaket dan topi khas untuk pria—yang tidak hanya praktis tetapi juga simbol status dan keberanian melanggar norma sosial. Dalam konteks ini, sepeda menjadi arena negosiasi antara tubuh, mode, dan moralitas publik.
Baroni tidak memisahkan aspek teknis dari aspek simbolik. Ia memperlihatkan bagaimana bengkel sepeda dan rumah mode sama-sama menjadi ruang inovasi. Sepeda diperlakukan seperti karya seni bergerak—dirancang, dipoles, dan dipersonalisasi. Di sinilah mitos sepeda sebagai objek hasrat mulai terbentuk: ia bukan hanya alat, melainkan ekspresi diri.
Transformasi teknis memicu transformasi sosial; perubahan roda dan rangka menciptakan perubahan cara berpakaian, cara bergerak, bahkan cara masyarakat memandang peran gender.
Secara sintesis, tiga bagian ini membentuk satu alur naratif tentang kelahiran dan metamorfosis sepeda. Dari eksperimen kayu tanpa pedal hingga mesin presisi yang aman dan elegan, dari objek aneh hingga ikon gaya hidup, sepeda tumbuh bersama modernitas itu sendiri. Baroni memperlihatkan bahwa sejarah sepeda adalah sejarah tentang perubahan—tentang bagaimana inovasi kecil dalam desain dapat memicu pergeseran besar dalam struktur sosial dan imajinasi kolektif.
Dengan demikian, Beginnings and Early Development, A Changing Cycle, dan Cycling’s Tailor’s Shop bukan sekadar bab-bab teknis. Mereka adalah kisah tentang bagaimana dua roda seder-hana mengubah cara manusia memahami tubuh, ruang, dan kebebasan. Sepeda lahir dari kebutuhan, berkembang melalui kreativitas, dan kemudian menjelma menjadi simbol—sebuah mesin kecil yang membawa serta impian besar tentang gerak dan kemungkinan.
Dalam bagian “Made in the USA: An American Revolution” dan “Twenty Years of Turmoil”, Francesco Baroni membawa pembaca menyeberangi Atlantik, ke sebuah babak ketika sepeda bukan lagi sekadar inovasi Eropa, melainkan menjadi simbol dinamika industri dan budaya Amerika. Jika di Eropa sepeda lahir dari eksperimen aristokrat dan pengrajin, di Amerika ia menjelma menjadi mesin demokrasi industri—diproduksi massal, dipasarkan agresif, dan dikaitkan dengan mimpi mobilitas tanpa batas.
Baroni menggambarkan akhir abad ke-19 sebagai masa ketika Amerika Serikat menyambut sepeda dengan energi revolusioner. Kota-kota tumbuh pesat, kelas menengah menguat, dan industri manufaktur berkembang dengan prinsip efisiensi dan standarisasi. Dalam konteks inilah perusahaan-perusahaan sepeda Amerika mulai mengubah cara produksi: presisi mekanik, suku cadang yang dapat dipertukarkan, serta sistem distribusi nasional. Sepeda menjadi komoditas modern. Ia bukan lagi barang eksklusif, melainkan produk industri yang melambangkan semangat self-made man dan kebebasan individu.
Baroni menekankan bahwa “revolusi Amerika” ini bukan hanya revolusi teknologi, tetapi juga revolusi budaya. Sepeda di Amerika menjadi kendaraan emansipasi perempuan dan simbol kebebasan generasi muda. Ia mencatat bagaimana ruang publik—jalan raya, taman kota, lintasan balap—menjadi arena baru bagi ekspresi diri. Dalam lanskap yang luas dan terbuka, sepeda mencerminkan mentalitas ekspansi dan gerak maju yang menjadi ciri khas masyarakat Amerika pada pergantian abad.
Namun euforia itu tidak berlangsung tanpa gejolak. Di bagian “Twenty Years of Turmoil”, Baroni mengubah nada narasinya menjadi lebih reflektif dan kritis. Dua dekade awal abad ke-20 menghadirkan turbulensi yang mengguncang industri sepeda global. Munculnya mobil ber-mesin pembakaran dalam, industrialisasi besar-besaran, Perang Dunia, dan krisis ekonomi menyebabkan sepeda kehilangan posisi dominannya. Di Amerika, khususnya, mobil menjadi simbol status dan kemajuan, mendorong sepeda ke pinggiran.
Baroni melihat periode ini sebagai masa ujian identitas. Sepeda harus bernegosiasi dengan modernitas baru yang lebih cepat dan lebih bertenaga. Banyak pabrikan gulung tikar atau beralih produksi. Namun di balik krisis itu, ia juga mencatat adanya ketahanan yang unik: sepeda tetap bertahan sebagai alat transportasi rakyat, terutama di masa sulit ketika bahan bakar langka dan ekonomi melemah. Dalam situasi perang dan depresi, sepeda kembali ke akar fungsionalnya—sederhana, hemat, dan dapat diandalkan.
Narasi Baroni dalam dua bagian ini mengalir seperti grafik naik-turun. Ia menunjukkan bagai-mana sepeda di Amerika sempat menjadi ikon kemajuan industri, lalu terdesak oleh kendaraan bermotor, namun tidak pernah benar-benar hilang. Justru dalam “dua puluh tahun kekacauan” itulah sepeda menemukan dimensi baru: bukan sekadar simbol gaya hidup modern, melainkan alat bertahan hidup dan sarana mobilitas alternatif.
Melalui sintesis kedua bagian tersebut, Baroni menyampaikan bahwa sejarah sepeda di Amerika mencerminkan dinamika kapitalisme modern—ledakan produksi, euforia konsumsi, krisis struktural, dan adaptasi. Sepeda bukan korban pasif perubahan zaman; ia adalah bagian dari percakapan panjang antara teknologi, pasar, dan budaya. Revolusi industri Amerika memberinya skala; masa turbulensi memberinya kedalaman.
Dengan demikian, “Made in the USA: An American Revolution” dan “Twenty Years of Turmoil” membentuk satu kesatuan naratif tentang ambisi dan ketahanan. Sepeda, dalam pandangan Baroni, menjadi cermin dari masyarakat yang menghasilkannya: penuh semangat inovasi, terguncang oleh perubahan, tetapi terus mencari cara untuk bergerak maju di atas dua roda yang sederhana namun tangguh.
Dalam bagian “The New Millennium” dan “Visions of the Future”, Francesco Baroni mengajak pembaca memasuki abad ke-21 dengan pertanyaan yang tenang namun mendesak: setelah dua abad pasang-surut sejarahnya, akan menjadi apa sepeda di zaman yang dipenuhi teknologi digital, urbanisasi ekstrem, dan krisis ekologis?
Jika pada abad ke-19 sepeda adalah simbol modernitas, dan pada abad ke-20 ia harus bertahan di bawah bayang-bayang mobil, maka dalam milenium baru—sebagaimana digambarkan Baroni —sepeda justru kembali menemukan relevansi yang nyaris profetik. Ia mencatat bahwa me-masuki tahun 2000-an, kota-kota besar dunia mulai menyadari batas pertumbuhan berbasis kendaraan bermotor: kemacetan permanen, polusi udara, perubahan iklim, dan krisis kesehat-an akibat gaya hidup sedentari. Dalam konteks inilah sepeda tidak lagi dipandang sebagai nostalgia atau olahraga semata, melainkan sebagai solusi.
Dalam “The New Millennium”, Baroni melihat kebangkitan sepeda sebagai bagian dari kesadar-an baru tentang keberlanjutan. Kota-kota Eropa memperluas jalur sepeda; program bike-sharing bermunculan; desain sepeda berkembang pesat dengan material karbon, geometri aerodinamis, dan inovasi teknis yang memadukan estetika serta efisiensi. Ia menekankan bahwa sepeda modern bukan sekadar alat, melainkan ekspresi gaya hidup urban yang sadar lingkungan. Ada transformasi simbolik: dari kendaraan orang miskin menjadi pilihan sadar kelas kreatif dan profesional muda.
Namun Baroni tidak berhenti pada deskripsi fenomena. Dalam “Visions of the Future”, ia me-langkah lebih jauh, membayangkan arah yang mungkin ditempuh sepeda di masa depan. Di sini narasinya menjadi reflektif dan spekulatif. Ia berbicara tentang integrasi teknologi—sepeda listrik (e-bike), sistem transmisi canggih, konektivitas digital—tanpa kehilangan esensi mekanis-nya yang sederhana. Masa depan sepeda, menurut Baroni, bukanlah pengingkaran terhadap asal-usulnya, melainkan evolusi yang setia pada prinsip dasar: efisiensi energi manusia.
Baroni juga mengisyaratkan bahwa masa depan sepeda terkait erat dengan masa depan kota. Ia membayangkan ruang urban yang lebih manusiawi—kota yang dirancang untuk pergerakan lambat, interaksi sosial, dan kualitas hidup, bukan sekadar kecepatan dan konsumsi bahan bakar. Dalam visi ini, sepeda menjadi alat rekonstruksi peradaban urban: mengurangi jarak sosial, memperlambat ritme hidup, dan mengembalikan tubuh manusia ke pusat pengalaman mobilitas.
Menariknya, dalam kedua bagian ini Baroni memperlihatkan kesinambungan historis. Ia tidak menganggap kebangkitan sepeda di milenium baru sebagai tren sesaat, melainkan sebagai siklus panjang. Sepeda, yang pernah menjadi pionir revolusi industri ringan, kini berpotensi menjadi pionir revolusi ekologis. Dengan nada optimistis, ia menyiratkan bahwa kendaraan dua roda ini mungkin justru lebih relevan di abad ke-21 dibanding abad ke-20.
Sintesis dari “The New Millennium” dan “Visions of the Future” memperlihatkan satu gagasan utama: sepeda selalu menemukan cara untuk bertahan karena ia selaras dengan kebutuhan mendasar manusia—mobilitas, kebebasan, dan keseimbangan dengan lingkungan. Jika abad sebelumnya ditandai oleh dominasi mesin besar dan bahan bakar fosil, maka milenium baru membuka kemungkinan kembali pada kesederhanaan yang cerdas.
Di tangan Baroni, masa depan sepeda bukanlah utopia romantik, melainkan proyeksi realistis atas perubahan sosial, ekologis, dan teknologi. Ia menutup refleksinya dengan keyakinan implisit bahwa selama manusia masih menghargai gerak yang lahir dari tenaga sendiri dan hubungan intim dengan ruang, sepeda akan terus berputar—bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai kendaraan masa depan.
Catatan Akhir: Sejarah yang Terus Berjalan
Sepeda telah berevolusi secara luar biasa dalam lebih dari dua ratus tahun terakhir; dan selain fakta bahwa sepeda masih memiliki dua roda, tidak mudah menemukan titik persamaan yang menghubungkan model-model paling awal — celerifere tahun 1790 dan draisine yang muncul sekitar 25 tahun kemudian — dengan model-model masa kini. Bahkan jika kita hanya melihat 120 tahun terakhir, ketika bentuk dasar sepeda relatif stabil, desainnya terus dimodifikasi dan menjadi semakin canggih.
Rangka berlian (diamond frame), misalnya, muncul pada akhir abad ke-17, tetapi hanya mirip dengan model saat ini dari segi bentuknya saja; selebihnya, penggunaan material baru, ter-utama serat komposit, membawa produk ini ke ranah yang sama sekali berbeda dibanding versi-versi sebelumnya.
Tambahkan pula teknik-teknik baru dalam pembuatan rangka — pengelasan TIG dan pe-ngembangan sambungan epoksi — serta revolusi yang dipicu oleh pengenalan mekanisme perpindahan gigi — dan orang tak bisa tidak merasa takjub atas perubahan radikal yang telah dialami sepeda. Perubahan-perubahan ini bukan hanya meningkatkan kualitas kendaraan, tetapi juga memperluas batas kemampuan manusia saat mengendarainya.
Namun sejarah sepeda tidak pernah berhenti; meskipun telah mengalami perkembangan yang mengesankan, evolusinya hampir pasti tidak akan pernah berakhir, berkat perusahaan-perusahaan yang percaya pada penelitian dan pengembangan dan terus berinvestasi dalam perbaikan nyata — bukan sekadar peningkatan citra lini produk mereka sendiri. Seperti dalam bidang lain mana pun, betapapun dihormatinya, dorongan pionir tetaplah fundamental. Tanpa riset yang berkelanjutan, jalan-jalan baru tidak akan pernah ditempuh, dan tak seorang pun akan menemukan solusi-solusi inovatif yang, dari satu generasi ke generasi berikutnya, mendorong kemajuan. Sepeda masih memiliki potensi luar biasa yang belum tergali.
Untungnya, merek-merek besar semakin terbuka terhadap jenis kolaborasi yang menghasilkan kemajuan; misalnya kolaborasi Giant dengan Michael Young pada model Citystorm-nya; serta munculnya kompetisi publik di universitas dan sekolah desain untuk menemukan bentuk-bentuk baru bagi kendaraan baru, menemukan kembali sistem-sistem yang sempat ditinggalkan, merasionalisasi teknik lama, atau menggantinya dengan yang baru.
Salah satu aksesori yang masih menuntut lompatan besar ke depan adalah sistem gigi. “El Dorado” barunya adalah gigi elektronik, yang sudah diperkenalkan (sebagai prototipe) pada tahun 1974 oleh Browning Research. Sepanjang 1990-an, model-model dari perusahaan Prancis Mavic mulai dikenal luas, demikian pula sistem gigi elektronik yang diuji oleh Campagnolo pada tahun 2005, tetapi pembaruan aksesori ini kini hampir secara teratur muncul dalam kompetisi balap, pada sepeda para profesional tertentu. Hingga saat ini, bagaimanapun, belum ada yang mampu menjamin standar kinerja yang cukup untuk menjadikan perangkat ini layak dipasarkan secara luas. Namun kemungkinan besar, seiring waktu, sistem ini akan dibuat cukup andal untuk segala kondisi dan akan menempatkan dirinya berdampingan dengan atau bahkan menggantikan versi mekanis.
Sepeda utilitarian untuk penggunaan sehari-hari juga terus berkembang melalui standarisasi inovasi yang pertama kali diperkenalkan pada sepeda balap dan kemudian pada sepeda gunung. Kelompok model ini, yang selama lebih dari satu abad hidup di bawah bayang-bayang model kompetisi, akhirnya memperoleh kehidupan baru dan semacam emansipasi dari “saudari-saudari tuanya,” sebagaimana orang Italia menyebutnya, berkat kemacetan perkotaan dan meningkatnya popularitas sepeda sebagai kendaraan tercepat untuk berkeliling di kota-kota besar dunia. Secara lebih spesifik, bentuk-bentuk inovatif yang secara khusus didedikasi-kan untuk penggunaan kota sedang dikembangkan, selain penggunaan berbagai material mulai dari aluminium hingga karbonium. Gagasan sistem transmisi untuk menggantikan rantai sepeda juga sedang dikembangkan di beberapa tempat, dengan pengujian yang mengarah pada solusi yang memanfaatkan roda gigi, sabuk, poros cardan, bahkan sistem hidrolik.
Di kantor penelitian dan pengembangan merek-merek besar, serta di studio desain, semakin mudah ditemukan rancangan atau prototipe yang mencerminkan perkembangan gagasan yang lebih baru lagi: sepeda “cerdas,” yang sesuai dengan kebutuhan berbagai jenis pesepeda, efektif tidak hanya untuk rekreasi tetapi juga untuk mobilitas perkotaan dalam tugas pekerjaan. Terlepas dari variasi model dan komponen, tugas membawa sepeda ke masa depan adalah sebuah taruhan yang tak terelakkan harus memperhitungkan tradisi panjang yang dihormati oleh kendaraan yang demokratis dan populer ini — sebuah kendaraan yang, hanya dengan dua roda, telah membawa banyak dari kita menapaki sejarah pribadi kita sendiri.
Dasar-dasar desain kendaraan semacam itu tentu berpusat pada dinamisme dan efisiensi, karena produk akhirnya harus dapat beradaptasi baik untuk situasi kehidupan sehari-hari, seperti pergi bekerja, maupun untuk perjalanan akhir pekan yang lebih panjang. Sepeda-sepeda ini ditandai oleh suspensi yang efisien untuk meredam guncangan akibat kontur medan, sistem pengereman yang presisi dan aman, serta sistem bongkar-pasang atau pengunci inovatif yang membuatnya dapat dilipat — solusi yang sangat diperlukan untuk memudahkan membawanya dalam transportasi umum (kereta, kereta bawah tanah, dan sebagainya) atau di bagasi mobil. Bab ini kemudian menyajikan serangkaian sepeda konsep yang direalisasikan dalam beberapa tahun terakhir oleh para desainer ternama: visi-visi masa depan yang menunjukkan bagaimana kendaraan paling sederhana pun dapat tampil sebagai contoh teknik avant-garde terbaik.
Bogor, 20 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Baroni, F. (2008). The bicycle: The myth and the passion. White Star S.p.A.
Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Original work published 1957).
Bloom, P. (2021). The sweet spot: The pleasures of suffering and the search for meaning. HarperCollins.
Herlihy, D. V. (2004). Bicycle: The history. Yale University Press.
Illich, I. (1974). Energy and equity. Harper & Row.
Iqbal, M. (1930). The reconstruction of religious thought in Islam. Oxford University Press.
Londonderry, A. (1895). Accounts of round-the-world bicycle journey (archival travel reports and contemporary newspaper coverage).






