Rubarubu #139
The Language of Trees:
Kisah Pohon untuk Masa Depan
(bagian 1 dari 2)
Sore itu, di sebuah taman kecil di pinggiran Dublin, seorang anak perempuan berlarian di antara deretan pohon. Ia berhenti di depan sebatang ek tua, meraih dahan terendahnya, dan mem-bisikkan sesuatu. Ibunya, Katie Holten, artis sekaligus aktivis lingkungan, menyaksikan dari kejauhan. Ia tidak mendengar apa yang dibisikkan anaknya, tetapi ia melihat sesuatu yang lebih dalam: dialog diam antara manusia dan pohon, bahasa kuno yang mungkin kita semua lahir dengan kemampuan untuk memahaminya, namun perlahan kita lupakan seiring bertambahnya usia dan terkikisnya hutan-hutan di sekeliling kita.
Dari momen-momen kecil seperti inilah lahir The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives (Elliott & Thompson, 2024), sebuah buku yang bukan sekadar kumpulan esai tentang pepohonan, melainkan sebuah proyek cinta yang ambisius: menciptakan kembali bahasa untuk membaca dan menulis alam, dan melalui proses itu, memulihkan hubungan kita yang hampir putus dengan dunia yang lebih dari sekadar manusia . Katie Holten, yang pernah mewakili Irlandia di Venice Biennale dan telah berpameran di museum-museum ternama seperti Bronx Museum of the Arts dan Nevada Museum of Art, menggunakan keahliannya sebagai seniman untuk merangkai sebuah antologi yang unik . Buku ini adalah perluasan dari proyek sebelumnya, About Trees (2015), yang kini diperkaya dengan kontribusi baru dari para penyair, ilmuwan, dan aktivis terkini. Hasilnya adalah sebuah “surat cinta untuk dunia yang mulai memudar,” seperti yang diakuinya sendiri di bagian akhir buku.
Ross Gay, Abjad Pepohonan, dan Tipografi sebagai Alat Penghijauan Kembali
Penyair Ross Gay membuka buku ini dengan sebuah pengantar yang begitu personal dan puitis, sekaligus menjadi fondasi emosional bagi seluruh proyek Holten. Gay memulai dengan sebuah pengakuan yang indah, “I sometimes think of making a book of all the trees I have loved.” Ia lalu mendaftar pohon-pohon dalam hidupnya: pohon murbei di masa kecilnya di Philadelphia tempat ia memanen buah, pohon chokecherry di Minnesota tempat kakeknya memarkir truk, pohon redbud yang ditunjukkan oleh pasangannya, hingga pohon beech di Vermont yang suatu malam ia sandari kepalanya. Tentang pohon beech itulah ia menulis pengalaman mistis yang menjadi jantung pengantarnya: “The beech’s breathing seemed to sync up with mine, or mine with the beech’s, and though I can’t say exactly what I was hearing or feeling, I know it was a language coursing between us.” Tarikan napas pohon beech itu seakan berirama dengan napasku, atau napasku dengan napas pohon beech, dan walau tak mampu kukatakan pasti apa yang kudengar atau kurasakan, kuyakin ada suatu bahasa yang merambat di antara kami.
Dari pengalaman personal ini, Gay merentangkannya ke penemuan etimologis yang mencengangkan. Ia mengungkapkan bahwa kata beech (pohon beech) dalam bahasa Proto-Germanik adalah cikal bakal dari kata book (buku) dalam bahasa Inggris . Hubungan kuno antara pohon dan literasi ini bukan kebetulan belaka. Gay melihatnya sebagai bukti bahwa “being in a library — I mean, the best libraries — can sometimes feel like being in a forest: a wild variety of plants from the canopy to the ground; all manner of life, some of it visible, most of it not.” “Berada di perpustakaan — yang terbaik, maksudku — kadang terasa seperti di hutan: aneka rupa tumbuhan liar, dari tajuk atas hingga lantai dasar; segala jenis kehidupan, ada yang tampak, namun kebanyakan tidak.”
Sebaliknya, berada di hutan pun bisa terasa seperti berada di perpustakaan, di mana apa yang awalnya tampak asing dan tak terbaca, perlahan-lahan, “with time and guidance and patience and wonder,” berubah menjadi “all these voices, all these stories.” …dengan waktu, bimbingan, kesabaran, dan rasa takjub,” berubah menjadi “semua suara ini, semua cerita ini.”
Gay kemudian menegaskan urgensi dari proyek Holten. “The language of trees is so interesting to me because, whether or not we learn to understand it seems so obviously a matter of life or death,” tulisnya. “Bahasa pohon sangat menarik bagiku karena, terlepas dari apakah kita belajar memahaminya atau tidak, itu tampak begitu jelas merupakan masalah hidup dan mati.”
Kemauan kita untuk mempelajari bahasa pohon, menurut Gay, dapat membuat kita “less brutal, less extractive.” Bahasa pohon dapat membuat kita lebih suka berbagi, bekerja sama, memberi perlindungan, dan menyediakan ruang. Pada akhirnya, “The language of trees might incline us to patience. To love. To gratitude.” Dan buku ini, kata Gay, adalah perwujudan dari rasa syukur itu— “an immense, redwood gratitude. Sycamore gratitude. Aspen gratitude. Pawpaw gratitude.” “Bahasa pohon mungkin membawa kita pada kesabaran. Pada cinta. Pada rasa syukur.” Dan buku ini, kata Gay, adalah perwujudan dari rasa syukur itu— “sebuah rasa syukur yang besar bagaikan pohon redwood. Rasa syukur bagaikan pohon sycamore. Rasa syukur bagaikan pohon aspen. Rasa syukur bagaikan pepaya.”
Tree Alphabet | KATIE HOLTEN
Di sinilah inti dari proyek ini berada. Katie Holten, terinspirasi oleh warisan Irlandia kuno, Ogham, sebuah abjad abad pertengahan yang diukir pada batu berdiri dan diyakini sebagai abjad pepohonan, menciptakan alfabetnya sendiri . Dalam sistem Ogham, setiap goresan melambangkan pohon tertentu: Beith untuk “birch,” Dair untuk “oak,” dan seterusnya. Holten mengambil ide ini dan menerjemahkannya ke dalam konteks kontemporer.
Ia menggambar 26 pohon, masing-masing mewakili satu huruf dalam alfabet Latin. A adalah Apple (pohon apel), B adalah Beech, C adalah Cedar, D adalah Oak? Tidak. Di sinilah letak keunikannya. Seperti yang dijelaskan dalam ulasan Washington Independent Review of Books, “S, for example, is a sycamore, H a horse chestnut, P a pine, etc.” .
Jadi, abjad ini adalah sebuah kode sederhana namun jenius: huruf ‘A’ diwakili oleh gambar pohon yang namanya dimulai dengan huruf ‘A’, ‘B’ oleh pohon yang namanya dimulai dengan ‘B’, dan seterusnya. Gambar-gambar pohon ini, yang digambar tangan oleh Holten dengan tinta, “are careful, calming little portraits; they come in uppercase and lowercase. On the page, they appear dark green, almost black. None are larger than my thumb” .
Bagi Holten, abjad ini adalah “a living alphabet that can be planted, allowing us to seed stories, watch them sprout and grow” . Ini adalah cara untuk membuat bahasa kembali ke akar organik-nya. Dalam wawancaranya dengan Asymptote Journal, ia mengungkapkan kegelisahan-nya bahwa “our language is broken. We don’t know what things mean anymore” . Kata-kata seperti ‘alam’, ‘lingkungan’, atau ‘hijau’ telah kehilangan maknanya. Dengan menciptakan alfabet baru dari pohon, ia mencoba memulihkan makna itu, memaksa kita untuk melihat dunia melalui kacamata yang berbeda—bukan melalui abstraksi huruf, tetapi melalui kehadiran visual pohon yang konkret.
Trees Typeface (A Rewilding Tool) | KATIE HOLTEN
Dari gambar-gambar tangan itulah Holten, dengan bantuan seorang desainer font bernama Katie Brown, menciptakan sebuah jenis huruf digital yang dapat digunakan: Trees Typeface.
Prosesnya rumit: setiap gambar pohon dipindai, diubah menjadi file vektor, dan kemudian dimasukkan satu per satu ke dalam perangkat lunak pembuat font. Hasilnya adalah sebuah font di mana ketika Anda mengetik huruf ‘A’, yang muncul di layar bukanlah huruf A, melainkan gambar pohon apel.
Holten menyebut font ini sebagai “a rewilding tool” . Sebuah alat untuk menghijaukan kembali literatur dan lanskap pikiran kita. Dalam buku ini, setiap teks disajikan dalam dua versi: di halaman kiri, teks asli dalam bahasa Inggris dicetak dengan font biasa (Garamond Premier Pro); di halaman kanan, teks yang sama “diterjemahkan” ke dalam bahasa pepohonan menggunakan font Trees.
Namun, ini bukan sekadar terjemahan harfiah. Holten bermain-main dengan tipografi. Kadang ia memperbesar ukuran font Trees sehingga gambar-gambar pohon saling tumpang tindih, menciptakan “an impenetrable forest of ‘words’” . Di lain waktu, ia mengecilkan ukurannya sehingga pembaca dapat melihat bagaimana kata-kata Inggris dicerminkan oleh kata-kata pohon di halaman seberangnya. Ada juga bagian-bagian tertentu di mana teks Tree disusun membentuk lingkaran, bukan baris lurus. Misalnya, dalam kutipan Tacita Dean tentang penyair Michael Hamburger, dua lingkaran teks pohon yang saling tumpang tindih mungkin melambangkan persahabatan erat antara Hamburger dan W.G. Sebald, atau mungkin juga kebun apel Hamburger yang ditanam dari biji.
Dengan font ini, Holten tidak hanya ingin kita membaca tentang pohon, tetapi juga membaca dengan pohon. Kita dipaksa untuk melambat. Seperti kata Holten, dengan membaca dalam font pohonnya, kita dipaksa untuk “re-read everything” . Ini adalah pengalaman yang mirip dengan membaca dalam bahasa asing: kita tidak bisa melompat-lompat, kita harus berhenti di setiap kata, merenungkan bentuknya, dan merasakan bobotnya. Dalam proses itu, kesadaran kita berubah.
Merambah Hutan Kata: Sebuah Sintesis Naratif Buku
Setelah melewati gerbang pembuka yang megah ini, pembaca diajak memasuki hutan yang sesungguhnya. The Language of Trees adalah sebuah antologi yang berisi lebih dari lima puluh kontributor, mulai dari ilmuwan, penyair, filsuf, hingga aktivis . Nama-nama seperti Ursula K. Le Guin, Robert Macfarlane, Zadie Smith, Radiohead, Elizabeth Kolbert, Plato, dan Robin Wall Kimmerer berjejer di daftar isi, menciptakan sebuah kanon baru tentang hubungan manusia dan pohon.
Holten membagi buku ini ke dalam sebelas bagian tematik, seperti “Seeds, Soil, Saplings,” “Forests,” “Family Trees,” dan “Roots & Resistance” . Setiap bagian mengeksplorasi aspek yang berbeda dari kehidupan pohon dan maknanya bagi manusia. Ada esai ilmiah tentang bagaimana pohon berkomunikasi melalui jaringan jamur di bawah tanah, mengingatkan kita pada karya Suzanne Simard yang juga disertakan dalam buku ini . Ada puisi dari Ada Limón, Poet Laureate Amerika Serikat, yang diterjemahkan ke dalam bahasa pohon dan menjadi hutan kecil di atas kertas. Ada juga kisah-kisah personal, seperti esai Thomas Princen tentang keyboard stand yang ia buat dari pohon elm Amerika yang ditebang di kampusnya—bukan karena sakit, tetapi karena kampus ingin membangun trotoar baru.
Salah satu kontribusi yang paling menarik adalah dari Rachael Hawkwind, yang mengajarkan pembaca cara membuat tinta dari serbuk galls (puru) pohon ek. Fakta menariknya: Konstitusi Amerika Serikat ditulis dengan tinta dari puru pohon ek . Ada pula resep roti biji pohon ek dari Lucy O‘Hagan, yang mengingatkan kita bahwa “the wisdom of the oak [can] reside in your body” jika kita memakannya.
Buku ini juga tidak melupakan dimensi spiritual dan mitologis. Ada kutipan dari Plato, mitos-mitos penciptaan dari berbagai budaya, dan penelusuran tentang mengapa tidak ada pohon dalam lukisan gua Paleolitikum . Åse Eg Jørgensen menyumbangkan sebuah karya yang diterjemahkan tiga kali: “Blad 2/Leaf 2” dalam bahasa Denmark, terjemahan bahasa Inggrisnya, dan keduanya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa pohon . Ini menunjukkan betapa bahasa dan alam saling terkait dalam lapisan-lapisan makna yang kompleks.
Di balik semua keragaman ini, ada sebuah utas merah yang ditenun dengan cermat oleh Holten: kesadaran bahwa dunia sedang berubah, dan bahwa pohon-pohon adalah saksi bisu sekaligus korban utama dari perubahan itu. Ada kisah tentang kematian pohon cemara berusia 3.500 tahun, tentang fragmentasi hutan di Amazon, tentang “Tree Clocks” di Mongolia yang merekam riwayat iklim bumi . Ada kesedihan, tetapi tidak pernah jatuh ke dalam keputusasaan yang lumpuh. Sebaliknya, buku ini menawarkan apa yang disebut Ross Gay sebagai “gratitude” — rasa syukur yang dalam atas keindahan yang masih tersisa, dan tekad untuk merawatnya.
Dalam lanskap intelektual yang lebih luas, buku ini sejalan dengan pemikiran banyak tokoh. Robin Wall Kimmerer, dalam bukunya Braiding Sweetgrass, berbicara tentang “grammar of animacy” — tata bahasa yang mengakui bahwa alam bukanlah benda mati, melainkan subjek yang hidup. Martin Heidegger, filsuf Jerman, berbicara tentang bahasa sebagai “rumah keberadaan.”
Bagi Holten, pohon adalah rumah itu. Dalam tradisi Islam, konsep mizan (keseimbangan) dan khalifah(penjaga bumi) mengajarkan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga ciptaan, bukan mengeksploitasinya. Seperti ditulis penyair sufi Persia, Rumi, “Kamu bukan setetes air di lautan. Kamu adalah setetes lautan di dalam air.” Kita adalah bagian dari alam, dan alam adalah bagian dari kita. Buku ini adalah undangan untuk merasakan kembali kebenaran sederhana namun mendalam itu.
Relevansi dan Prospek Masa Depan
Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, buku seperti The Language of Trees bukan sekadar pelarian estetis, melainkan kebutuhan eksistensial. Ilmu pengetahuan modern telah memberi kita data tentang kenaikan suhu, laju deforestasi, dan kepunahan spesies. Namun data saja tidak cukup untuk menggerakkan perubahan. Kita juga perlu menyentuh hati, membangkitkan imajinasi, dan memulihkan hubungan emosional kita dengan alam. Di sinilah letak relevansi buku ini.
Dengan menciptakan “bahasa pohon,” Holten melakukan apa yang disebut oleh penulis dan aktivis Naomi Klein sebagai “menceritakan ulang kisah” — mengubah narasi dominan tentang pertumbuhan dan eksploitasi menjadi narasi tentang timbal balik dan penghormatan. Bahasa pohon memaksa kita untuk melambat, untuk benar-benar melihat, untuk merasakan kembali apa artinya menjadi bagian dari jaring kehidupan yang lebih besar. Ini adalah bentuk “rewilding” yang paling mendasar: menghijaukan kembali alam bawah sadar kita yang telah lama dikotori oleh beton dan aspal.
Ke depan, proyek Holten memiliki prospek yang menarik. Font Trees-nya dapat diunduh secara gratis oleh siapa pun . Ini membuka kemungkinan tak terbatas: orang dapat menulis surat cinta dalam bahasa pohon, membuat buku harian rahasia, atau bahkan menciptakan puisi-puisi baru yang lahir dari hutan imajinasi mereka. Di dunia di mana kita semakin terasing dari alam, alat sederhana seperti ini bisa menjadi jembatan untuk kembali pulang.
The Language of Trees adalah sebuah pengingat bahwa di setiap helai daun, di setiap serpih kulit kayu, di setiap bisikan angin melalui ranting, ada bahasa yang menunggu untuk dipelajari lagi. Seperti yang ditulis Ross Gay di pengantar, “What the trees say, and how they say it, has never been as interesting to me as it is right now.” Mungkin, saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada belajar mendengar lagi apa yang ingin dikatakan oleh pepohonan.
Musim Semi yang Tak Pernah Padam: Tiga Benih Filsafat dalam Satu Tunas
Di hutan maple di utara Minnesota, ketika salju terakhir mulai mencair dan batang-batang pohon mulai mengalirkan getah manis, suku Ojibwe merayakan tahun baru mereka. Bukan pada 1 Januari dengan hitungan mundur dan kembang api, tetapi pada saat yang oleh orang lain mungkin dianggap sebagai awal musim semi biasa. Bagi Winona LaDuke, aktivis lingkungan terkemuka dan keturunan Ojibwe, momen ini adalah pengingat bahwa “land determines time”—tanahlah yang menentukan waktu, bukan sebaliknya . Di bagian pertama buku Katie Holten yang berjudul “SEEDS, SOIL, SAPLINGS,” tiga suara berbeda—Winona LaDuke, Lucy Larcom, dan Sojourner Truth—bersatu dalam sebuah paduan yang indah tentang awal mula, tentang harapan yang ditanam, dan tentang kebebasan yang berakar.
Winona LaDuke membuka babak ini dengan sebuah esai yang awalnya diterbitkan di blog pribadinya pada April 2022, kemudian diabadikan dalam antologi Holten. Judulnya sederhana: “The Ojibwe New Year.” Namun isinya adalah sebuah deklarasi filosofis yang dalam.
LaDuke memulai dengan pengamatan yang tampak sederhana namun revolusioner: di wilayah Giiwedinong, atau “utara” dalam bahasa Anishinaabe, masyarakatnya mengenal enam musim, bukan empat. Ada “freeze up” dan “thaw”—masa transisi yang singkat namun krusial antara dingin yang membekukan dan kehangatan yang mencairkan. November disebut Gashkaadino Giizis, “Bulan Membeku.” Maret adalah Onaabaanigiizis, “Bulan Salju Kerak Keras” .
“In the Anishinaabe world, and the calendar of our people, there’s nothing about Roman emperors like Julius or Augustus,” tulis LaDuka dengan nada yang tidak netral . Ini bukan sekadar pernyataan antropologis, melainkan kritik tajam terhadap imperialisme waktu. Kalender Gregorian yang kita gunakan sehari-hari, dengan bulan-bulan yang dinamai menurut kaisar Romawi, adalah bentuk kolonisasi terhadap cara kita mengalami alam. “In an Indigenous calendar time belongs to Mother Earth, not to humans” .
Bradley Robinson dari Timiskaming, Quebec, didokumentasikan LaDuke menuliskan musim-musim itu dalam suku kata asli masyarakat utara: Ziigwan (musim semi), Minookamin (bumi baik yang terbangun), Niibin (musim panas), Tagwaagin (waktu daun gugur), Piiji-Piboon (dalam perjalanan menuju musim dingin, masa pembekuan), dan Piboon (musim dingin) . Setiap kata adalah puisi, setiap suku kata adalah peta pengalaman.
“If language frames your understanding of the world, those who live on the land have a different understanding than those who live in the memories of emperors,” tegas LaDuke. “Jika bahasa membingkai pemahamanmu tentang dunia, maka mereka yang hidup di atas tanah memiliki pemahaman yang berbeda daripada mereka yang hidup di dalam ingatan para kaisar.”
Mereka yang hidup di atas tanah, yang merasakan langsung perubahan suhu, yang melihat kembalinya angsa ke danau-danau, yang menunggu getah maple mengalir—mereka memiliki pemahaman yang berbeda tentang waktu dibanding mereka yang hidup dalam ingatan para kaisar. “There’s no empire in creator’s time” .
Tahun baru Ojibwe, bagi LaDuke, tiba ketika dunia terbangun setelah musim dingin. Saat maple sugarbush—hutan maple tempat getah dikumpulkan—mulai mengalir. “The maple sugarbush, that’s really when the year begins, when the trees awaken.” Ada mitos kuno di balik ini: dahulu kala, maple mengalir sepanjang tahun, menghasilkan sirup manis tanpa henti. Namun kebodohan manusia mengubahnya. Kini getah maple hanya mengalir di musim semi, dan butuh 40 galon getah untuk membuat satu galon sirup. “We learned to be respectful of the gifts provided by Mother Earth. That’s a good lesson for all of us” .
Gula dari pohon, bagi LaDuke, adalah obat. “This sugar is medicine” . Saat musim semi mendekat, mereka menyiapkan “seeds of hope”—benih-benih harapan—dan memikirkan tanaman-tanaman masa depan. Geese dan angsa kembali ke danau setelah terbang ribuan mil, dan LaDuke merenung: “it seems that we could make sure their homes are in good shape, their waters clean.” “…tampaknya kita bisa memastikan rumah-rumah mereka dalam kondisi baik, air-air mereka bersih.”
Namun kekhawatiran menggerogoti renungannya. Ia gelisah melihat bahan kimia dengan akhiran “-cide” yang akan disemprotkan ke tanah. “I’ve always maintained that if you put stuff on your land that ends in ‘-cide,’ whether herbicide, fungicide or pesticide, it’s going to be a problem. After all, that’s the same suffix as homicide, genocide and suicide.” 6,1 miliar kilogram pembasmi gulma berbasis glifosat disemprotkan ke kebun dan ladang dunia antara 2005 dan 2014. Sebuah studi 2016 menemukan peningkatan 1.000% kadar glifosat dalam urin manusia dalam dua dekade terakhir. “Saya selalu berpendapat bahwa jika kamu menaruh barang-barang di lahannya yang berakhiran ‘-sida,’ apakah itu herbisida, fungisida, atau pestisida, itu akan menjadi masalah. Bagaimanapun, akhiran itu sama dengan homisida, genosida, dan bunuh diri.”
“From the micro-plastics in our blood to the weedkiller in our urine, I’d like a little less weird stuff in my body, and maybe we move toward organic—the geese and bees like that better” . Itulah doa tahun barunya, bersama resolusi-resolusi sederhana: mendengarkan lebih baik, tidak kehilangan sarung tangan, bersama keluarga, menanam lebih banyak makanan dan rami.
“As climate change transforms our world, I am still hoping we can keep a few constants, like our six seasons. This is what I know, the geese return, and that’s a time. When the crows gather, the maple trees flow with sap and the world is being born again” . Dunia terlahir kembali, setiap tahun, dalam siklus yang tak pernah padam. “Saat perubahan iklim mengubah dunia kita, saya masih berharap kita dapat mempertahankan beberapa hal yang konstan, seperti enam musim kita. Inilah yang saya tahu: angsa-angsa itu kembali, dan itulah sebuah waktu. Saat burung-burung gagak berkumpul, pohon-pohon maple mengalirkan getahnya dan dunia terlahir kembali.”
Itulah ketika waktu milik bumi, bukan kaisar.
Puisi Abad ke-19 tentang Harapan yang Tumbuh
Dari suara asli Amerika kontemporer, Katie Holten membawa kita melompat mundur ke abad ke-19, ke puisi Lucy Larcom yang berjudul “Plant a Tree” atau “He Who Plants a Tree.” Larcom adalah seorang penyair Amerika yang lahir pada 1824 dan meninggal 1893, dikenal karena puisinya yang sederhana namun menyentuh tentang alam dan kehidupan sehari-hari.
Puisi ini, yang dikutip dalam berbagai sumber termasuk proklamasi Presiden Ronald Reagan pada 1988, adalah sebuah meditasi dalam enam bait tentang apa artinya menanam pohon . Setiap bait membuka dengan variasi dari kalimat yang sama: “He who plants a tree, / Plants a hope,” “Plants a joy,” “He plants peace,” “He plants youth,” dan akhirnya “He plants love” .
Bait pertama berbicara tentang harapan:
“Ia yang tanam sebatang pohon
Tanamkan harapan.
Akar kecil meraba buta, menembus serat jemari;
Daun terbentang ke langit bebas menjelma.
Maka hidup manusia pun mendaki
Dari bebatuan waktu yang beku
Ke angkasa yang mahatinggi dan abadi.”
Ada paralelisme yang indah antara pohon dan manusia. Akar-akar kecil meraba-raba dalam kegelapan tanah, buta namun penuh arah, seperti manusia meraba-raba makna hidupnya. Daun-daun membuka diri ke cakrawala yang bebas, seperti jiwa manusia yang merindukan kebebasan. Hidup harus memanjat dari gumpalan-gumpalan waktu menuju langit yang luhur.
Bait kedua tentang sukacita:
“Ia yang tanam sepohon kayu,—
Tanamkan suka cita;
Tanamkan sentosa yang tak pernah lusuh;
Tiap hari kenyataan yang baru,
Indah dan teguh,
Ke tempat berteduhnya berduyun
Makhluk riang bernyanyi merdu.”
Pohon memberikan kenyamanan yang tidak pernah membosankan, kenyataan segar setiap hari, indah dan kuat. Makhluk-makhluk bernyanyi berbondong-bondong mencari perlindungan di bawahnya.
Bait ketiga tentang kedamaian:
“Ia yang tanam sepohon kayu,—
Ia tanamkan sentosa.
Di balik tirai hijaunya, kata bersilang lenyap sudah.
Daun dan bayu membisik teduh;
Bayang lembut berselimut mimpi
Tiba di kelopak mata yang layu,
Obat tidur yang sejati.”
Di bawah tirai hijaunya, kebisingan berhenti. Daun dan angin berbisik menenangkan. Bayangan lembut dengan tidur merayap turun ke kelopak mata yang lelah, balsem tidur yang dalam.
Bait keempat tentang kemudaan:
“Ia yang tanam sepohon kayu,—
Ia tanamkan keremajaan;
Sungguh, energi diraih lintas abad;
Hidup dari waktu, yang bisikkan keabadian!
Dahan-dahan tegakkan daya;
Tunas muda, saban tahun menjelma
Di pertumbuhan yang tua nyata.”
Pohon mengajarkan bahwa kemudaan jiwa adalah keabadian. Ranting-ranting menegakkan kekuatan, tunas-tunas baru setiap tahun muncul di atas pertumbuhan lama.
Dan bait kelima tentang cinta:
“Ia yang tanam sepohon kayu,—
Ia tanamkan kasih sayang;
Tenda sejuk terbentang menjulang
Bagi musafir yang mungkin takkan ia lihat jua.
Anugerah yang tumbuhlah paling utama;
Tangan yang berkati, dialah yang dibekati;
Tanamlah! hidup yang jalankan sisa cerita.”
Pohon memberikan kesejukan bagi pengembara yang mungkin tidak akan pernah ditemui oleh penanamnya. Hadiah yang tumbuh adalah yang terbaik. Tangan yang memberkati adalah yang diberkati. Tanamlah! Hidup akan mengerjakan sisanya.
Puisi ini, yang ditulis lebih dari satu abad lalu, bergema dengan kekuatan baru di era krisis iklim. Ia mengingatkan bahwa menanam pohon adalah tindakan iman—iman bahwa masa depan akan ada, bahwa orang lain akan menikmati apa yang kita tanam, bahwa hidup terus berlanjut melampaui diri kita sendiri.
Anatomi Pohon, Anatomi Pemikiran: Menjelajahi Tubuh dan Jiwa Sang Raksasa Hijau
Pada suatu sore di akhir musim panas, seorang anak kecil berdiri di bawah kanopi pohon ek yang telah berusia tiga ratus tahun. Ia memegang sebuah buku catatan kosong dan sebuah pena yang tintanya ia buat sendiri dari puru-puru yang tumbuh di dahan-dahan pohon itu. Ia menatap ke atas, menyusuri batang yang kokoh, mengikuti percabangan ranting yang semakin rumit, dan bertanya-tanya: bagaimana mungkin satu makhluk hidup bisa menjadi begitu banyak hal sekaligus—rumah bagi burung, sumber makanan bagi serangga, pabrik oksigen, penanda waktu, dan tempat berteduh? Pertanyaan anak itu adalah pertanyaan yang sama yang diajukan oleh para ilmuwan, penyair, dan novelis dalam bagian kedua buku Katie Holten, “BUDS, BARK, BRANCHES.” Di sini, kita diajak membedah pohon, tidak dengan pisau bedah, tetapi dengan kata-kata, untuk memahami bahwa setiap lapisan kulit kayu, setiap cabang yang merambat, menyimpan rahasia tentang alam semesta dan tentang diri kita sendiri.
Rachael Hawkwind membuka bagian ini dengan sebuah resep yang tampak sederhana namun sarat makna: Oak Gall Ink Recipe. Resep untuk membuat tinta dari puru pohon ek. Puru-puru ini, atau oak galls, adalah pertumbuhan abnormal pada pohon ek yang terbentuk sebagai respons terhadap sengatan serangga tertentu. Si serangga betina menyuntikkan telurnya ke dalam tunas pohon, dan pohon bereaksi dengan membentuk struktur pelindung di sekeliling telur itu. Dari luka, lahirlah rumah. Dari parasit, lahirlah tinta yang akan digunakan untuk menuliskan kata-kata.
Hawkwind memberikan instruksi yang terperinci: kumpulkan sekitar segenggam puru ek di musim gugur, hancurkan, rendam dalam air selama seminggu, lalu rebus dengan iron sulfate (atau alternatifnya paku berkarat), campur dengan gum arabic, dan simpan dalam botol kaca . Prosesnya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keintiman dengan bahan-bahan alami.
Namun, yang membuat resep ini begitu istimewa bukan hanya tekniknya, melainkan sejarah yang dikandungnya. Seperti dicatat Holten dalam catatan kakinya, Konstitusi Amerika Serikat ditulis dengan tinta dari puru pohon ek . Dokumen paling fundamental dari negara adidaya modern, yang mengatur bagaimana jutaan manusia hidup bersama, lahir dari luka kecil di tubuh sebatang pohon. Ini adalah ironi yang indah sekaligus mengerikan. Di satu sisi, ia menunjukkan hubungan erat antara alam dan peradaban. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa peradaban yang sama itu kini sedang menghancurkan alam yang melahirkannya.
Hawkwind tidak banyak berteori dalam resepnya. Ia hanya memberi petunjuk praktis. Namun tindakannya sendiri—mengajarkan orang membuat tinta dari pohon—adalah sebuah pernyataan politik. Di era di mana tinta bisa dibeli di toko dengan harga murah, membuat tinta sendiri adalah tindakan perlawanan terhadap keterasingan. Ia mengembalikan kita pada proses, pada material, pada hubungan langsung dengan alam. Seperti kata penyair dan pelukis Inggris, William Blake, “To see a World in a Grain of Sand / And a Heaven in a Wild Flower.” Dalam setetes tinta dari puru ek, terkandung seluruh sejarah peradaban manusia.
Dari resep yang praktis, kita beralih ke prosa puitis Robert Macfarlane, salah satu penulis alam terkemuka Inggris. Dalam tulisannya yang berjudul “Branches, Leaves, Roots and Trunks,” Macfarlane melakukan apa yang ia lakukan paling baik: merayakan kekayaan bahasa yang digunakan manusia untuk mendeskripsikan dunia alam.
Macfarlane membuka dengan sebuah pengakuan yang menggelitik: dalam leksikon dialek Inggris dan Skotlandia, ada ribuan kata untuk menggambarkan lanskap, cuaca, dan makhluk hidup. Kata-kata seperti smirr (gerimis halus di Skotlandia), zwer (suara belibis merah lepas landas), atau ammil(lapisan es tipis di bebatuan). Ia mendokumentasikan kata-kata ini dalam bukunya yang terkenal, Landmarks, sebagai upaya melawan “pemiskinan bahasa lanskap.”
Dalam potongan yang disertakan Holten ini, Macfarlane menyoroti bagaimana anak-anak, yang belum terkontaminasi oleh bahasa baku, sering menciptakan metafora yang lebih kaya untuk menggambarkan alam. Seorang anak menyebut akar pohon sebagai “rivers under the ground.” Yang lain menyebut daun sebagai “a tree’s lungs.” Macfarlane menulis, “Children see the world in metaphor before they learn to see it in category. They are natural poets until education teaches them to be natural scientists.”
Pernyataan ini menggema dengan temuan para psikolog kognitif. George Lakoff dan Mark Johnson, dalam buku klasik mereka Metaphors We Live By, berargumen bahwa metafora bukan sekadar hiasan bahasa, melainkan fondasi cara kita berpikir. Jika anak-anak melihat akar sebagai “sungai bawah tanah,” mereka tidak sedang berpuisi, mereka sedang memahami realitas pada tingkat yang paling dalam: bahwa air dan kehidupan mengalir melalui jaringan yang tak terlihat, bahwa apa yang di atas terhubung dengan apa yang di bawah.
Macfarlane mengajak kita untuk kembali ke cara melihat yang metaforis itu. Untuk melihat batang pohon bukan sebagai kayu, tetapi sebagai “a pillar of the sky.” Untuk melihat cabang bukan sebagai percabangan mekanis, tetapi sebagai “a map of longing.” Bahasa, bagi Macfarlane, adalah alat untuk melihat kembali, untuk merasakan kembali, untuk terhubung kembali.
Pohon sebagai Teori, Teori sebagai Pohon
Dari puisi, kita melompat ke sains. Brian J. Enquist, seorang profesor ekologi dan biologi evolusioner di University of Arizona, membawa kita ke dunia “Tree Theory, Biogeography and Branching.” Enquist adalah salah satu ilmuwan terkemuka dalam bidang metabolisme ekologi, dan dalam tulisannya ia menjelaskan bagaimana pohon telah menjadi model untuk memahami pola-pola fundamental alam.
Enquist menjelaskan bahwa cabang-cabang pohon tidak tumbuh secara acak. Mereka mengikuti aturan matematis yang ketat, yang dikenal sebagai scaling laws. Hubungan antara ketebalan batang dan tinggi pohon, antara luas daun dan panjang akar, antara jumlah cabang dan ukuran daun—semuanya dapat diprediksi dengan rumus-rumus sederhana. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari seleksi alam selama jutaan tahun, yang mengoptimalkan pohon untuk tugas utamanya: mengangkut air dan nutrisi dari akar ke daun, dan energi hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh.
Lebih jauh lagi, Enquist menunjukkan bahwa pola percabangan pohon—dari batang utama ke cabang besar, ke ranting, ke daun—adalah pola yang sama yang ditemukan di seluruh alam: dalam sistem sungai, dalam jaringan pembuluh darah hewan, dalam pola percabangan paru-paru, bahkan dalam struktur galaksi. Ini adalah fractal geometry—geometri alam yang tak beraturan namun berulang pada skala yang berbeda.
Enquist menulis, “The tree is not just an object of study; it is a theory. It is a hypothesis about how life organizes itself across scales, from the microscopic to the global” . Pohon bukan sekadar objek yang dipelajari, ia adalah teori itu sendiri. Ia adalah hipotesis tentang bagaimana kehidupan mengorganisasi dirinya, dari skala mikroskopis hingga global.
Pernyataan Enquist ini memiliki implikasi yang dalam. Jika pohon adalah teori, maka mempelajari pohon berarti mempelajari aturan-aturan dasar alam semesta. Dan jika kita merusak pohon, kita tidak hanya kehilangan makhluk hidup, kita juga kehilangan perpustakaan, laboratorium, dan kitab suci sekaligus.
Daun dan Batang: Bernapas dalam Tari Antara Yang Nyata dan Yang Semu
Pada suatu sore yang hening di tepi sungai Ilissus, Athena, dua ribu empat ratus tahun yang lalu, seorang filsuf tua dan seorang pemuda duduk bersandar pada batang pohon bidang yang rindang. Mereka berbicara tentang cinta, tentang jiwa, tentang kebenaran yang tersembunyi di balik kata-kata. Socrates, sang filsuf, memilih tempat itu bukan kebetulan. Ia percaya bahwa pohon dan sungai, alam yang hidup, adalah guru yang lebih bijak daripada buku-buku di perpustakaan. Dua milenia kemudian, seorang penyair Amerika duduk di halaman belakang rumahnya, mengamati daun-daun yang berguguran, dan bertanya-tanya apakah yang jatuh itu daun atau justru burung yang terbang naik. Di antara dua momen yang berjauhan ini, terbentang pertanyaan abadi tentang hubungan antara manusia, bahasa, dan alam—pertanyaan yang dieksplorasi dengan indah dalam bagian “LEAVES & TRUNKS” dari buku Katie Holten, The Language of Trees.
Ketika Daun Adalah Burung, Burung Adalah Daun
Ada Limón, Poet Laureate Amerika Serikat saat ini, membuka bagian ini dengan puisinya yang memukau, “It’s the Season I Often Mistake” . Puisi ini adalah meditasi tentang ketidakpastian persepsi, tentang keindahan yang lahir dari kekeliruan melihat. Limón menulis:
Birds for leaves, and leaves for birds.
The tawny yellow mulberry leaves
are always goldfinches tumbling
across the lawn like extreme elation.
Burung bagi daun, dan daun bagi burung.
Daun-daun murbei kuning kecoklatan
selalu seperti goldfinches yang bergulingan
di halaman bagaikan kegembiraan yang ekstrem.
Sepanjang puisi ini, Limón bermain dengan ambiguitas visual musim gugur. Daun yang berguguran tampak seperti kawanan burung yang beterbangan. Buah crabapple yang lembayung seperti burung pipit yang bergetar. Dan kemudian, pada saat ketika ia “could not stand myself any longer” —tidak tahan lagi dengan dirinya sendiri—sekelompok burung pipit lapangan yang nyata terbang naik ke dahan-dahan pohon hackberry yang gundul. Limón hampir runtuh menyaksikan pemandangan itu: daun-daun “reattaching themselves to the tree / like a strong spell for reversal” —menempel kembali ke pohon bagaikan mantra kuat untuk pembalikan .
Di sinilah letak kejeniusan Limón. Ia bertanya, “What good / is accuracy amidst the perpetual / scattering that unspools the world?” —Apa gunanya ketepatan di tengah penghamburan abadi yang mengurai dunia? . Di musim gugur, ketika alam sendiri sedang kacau-balau, ketika daun-daun jatuh dan burung-burung terbang, apakah penting membedakan mana daun mana burung? Mungkin yang lebih penting adalah merasakan “extreme elation” —kegembiraan ekstrem—yang ditawarkan oleh kedua-duanya.
Puisi Limón adalah pengantar yang sempurna untuk bagian ini. Ia mengajak kita melepaskan obsesi pada kategorisasi dan ketepatan, dan sebagai gantinya membuka diri pada pengalaman langsung akan keindahan alam. Ia mengingatkan bahwa melihat adalah tindakan kreatif, bukan sekadar penerimaan data mentah.
Dari puisi, kita beralih ke sains. César A. Hidalgo, seorang fisikawan dan ekonom asal Chili, dalam bukunya Why Information Grows menawarkan perspektif radikal tentang bagaimana informasi—dalam arti fisik—terakumulasi dan berkembang di alam semesta. Hidalgo berargumen bahwa ekonomi dan pertumbuhan pada dasarnya adalah fenomena fisika. Informasi bukan sekadar abstraksi; ia adalah “physical order” —keteraturan fisik. Sebuah perusahaan, sebuah produk, sebuah teknologi, adalah “crystallized imagination” —imajinasi yang mengkristal, pengetahuan yang membeku dalam bentuk benda.
Dan seperti halnya pohon yang tumbuh dengan mengorganisasi materi dan energi dari lingkungannya menjadi struktur yang teratur—batang, cabang, daun—demikian pula ekonomi tumbuh dengan mengorganisasi pengetahuan dan keterampilan manusia menjadi produk-produk kompleks.
Hidalgo menunjukkan bahwa kemampuan suatu negara untuk menghasilkan produk-produk kompleks—dari film hingga robot, dari aplikasi hingga mobil—adalah cerminan dari penge-tahuannya yang terkristalisasi. Semakin kompleks produknya, semakin makmur negaranya. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hukum alam yang sama yang mengatur pertumbuhan pohon dan pertumbuhan ekonomi .
Yang menarik dari Hidalgo adalah ia melihat pohon bukan sebagai metafora puitis belaka, tetapi sebagai model fisik untuk memahami pertumbuhan. Pohon adalah bukti bahwa alam telah lama mempraktikkan apa yang kemudian ditemukan oleh ekonomi: bahwa informasi, dalam bentuk struktur fisik, dapat tumbuh dan berakumulasi, dan bahwa pertumbuhan itu bergantung pada kemampuan sistem untuk mengolah energi dan materi menjadi keteraturan yang lebih tinggi.
……
Bersambung ke Bagian 2
Bogor-Cirebon, 6 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Bookshop.org. (n.d.). The Language of Trees: A Rewilding of Literature and Landscape. https://bookshop.org/p/books/the-language-of-trees-a-rewilding-of-literature-and-landscape-katie-holten/d4609f1ca08f8eb2
Boon, S. (n.d.). In Review: The Language of Trees. Earth Island Journal. https://www.earthisland.org/journal/index.php/magazine/entry/the-language-of-trees-a-new-font-that-communicates-our-love-for-trees/
Christensen, I. (2000). alphabet [Excerpt]. Diterjemahkan oleh Susanna Nied. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson. (Karya asli diterbitkan 1981).
Gay, R. (2023). Introduction. In K. Holten, The Language of Trees: A Rewilding of Literature and Landscape (pp. xi-xiii). Tin House.
Gleick, J. (2024). Fractal Vision. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Haeg, F. (2024). Notes for a Salmon Creek Farm Revival. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Harmon, A. (2013, July 27). A Race to Save the Orange by Altering Its DNA. The New York Times. https://www.nytimes.com/2013/07/28/science/a-race-to-save-the-orange-by-altering-its-dna.html
Harmon, A. (2024). Millenniums of Intervention. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Hawkwind, R. (2024). Oak Gall Ink Recipe. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Hidalgo, C. A. (2015). Why Information Grows: The Evolution of Order, from Atoms to Economies. Basic Books.
Kiers, T. (2024). Lessons from Fungi. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Kimmerer, R.W. (2024). Speaking of Nature. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson. (Diadaptasi dari “Speaking of Nature” dalam Orion Magazine, 2017, dan Braiding Sweetgrass, 2013).
Kohn, E. (2013). How Forests Think: Toward an Anthropology Beyond the Human. University of California Press.
Larcom, L. (n.d.). Plant a tree. In K. L. Kilcup & A. Sorby (Eds.), Over the River and Through the Wood: An Anthology of Nineteenth-Century American Children’s Poetry. Johns Hopkins University Press. https://press.jhu.edu/newsroom/arbor-day
Le Guin, U.K. (1972). The Word for World is Forest. In Again, Dangerous Visions. (Diterbitkan sebagai buku terpisah pada 1976 oleh Berkley Books).
Lee, J.J. (2019). Two Trees Make a Forest: On Memory, Migration and Taiwan. Little, Brown Book Group.
Macfarlane, R. (2024). Branches, Leaves, Roots and Trunks. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Macy, J., & Brown, M.Y. (2014). Coming Back to Life: The Updated Guide to the Work That Reconnects. New Society Publishers.
Phillips, C. (2020). Among the Trees. Emergence Magazine.
Reynolds, M. (2024). We Are the ARK. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Saint-Exupéry, A. de. (1943). The Little Prince. Reynal & Hitchcock.
Segrest, V. (2022). Medicine of the Tree People. YES! Magazine, (156965070).
Simard, S. (2021). Finding the Mother Tree: Discovering the Wisdom of the Forest. Knopf Doubleday Publishing Group.
Smith, Z. (2024). The Wrong Trees. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Solnit, R. (2016). Hope in the Dark: Untold Histories, Wild Possibilities. Haymarket Books.
Steinauer-Scudder, C. (2024). They Carry Us With Them: The Great Tree Migration. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Truth, S. (2019, February 26). 20 Sojourner Truth quotes honoring the fight for equality. Know-It-All. https://empoweryourknowledgeandhappytrivia.wordpress.com/2019/02/26/20-sojourner-truth-quotes-honoring-the-fight-for-equality/
Truth, S. (n.d.). Quotes. Primoquotes. https://www.primoquotes.com/author/sojourner+truth
Weisberger, J.M. (2024). Cacao: The World Tree and Her Planetary Mission. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Zittel, A. (2024). January 23, 2015. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
1“He who plants a tree
Plants a hope. Rootlets up through fibers blindly grope;
Leaves unfold into horizons free.
So man’s life must climb
From the clods of time
Unto heavens sublime” .
2“He who plants a tree,—
Plants a joy;
Plants a comfort that will never cloy;
Every day a fresh reality,
Beautiful and strong,
To whose shelter throng
Creatures blithe with song” .
3“He who plants a tree,—
He plants peace.
Under its green curtains jargons cease.
Leaf and zephyr murmur soothingly;
Shadows soft with sleep
Down tired eyelids creep,
Balm of slumber deep” .
4“He who plants a tree,—
He plants youth;
Vigor won for centuries in sooth;
Life of time, that hints eternity!
Boughs their strength uprear;
New shoots, every year
On old growths appear” .
5“He who plants a tree,—
He plants love;
Tents of coolness spreading out above
Wayfarers he may not live to see.
Gifts that grow are best;
Hands that bless are blest;
Plant! life does the rest!” .






