Rubarubu #142
Alone Time:
Kesunyian sebagai Seni Hidup Modern
Suatu pagi musim gugur di Paris, Stephanie Rosenbloom duduk sendirian di sebuah kafe kecil, memandang lalu-lalang orang asing tanpa keharusan untuk berbicara dengan siapa pun. Tidak ada pasangan di seberang meja, tidak ada percakapan yang harus dipertahankan. Yang ada hanyalah secangkir kopi, buku catatan, dan waktu yang bergerak pelan. Dalam momen itulah, Rosenbloom menyadari sesuatu yang sederhana namun radikal dalam dunia modern: kesendirian bukanlah kekurangan, melainkan sebuah kemewahan yang jarang dihargai.
Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus keberanian pribadi penulis—seorang jurnalis perjalanan—yang memilih melakukan perjalanan seorang diri ke empat kota besar dunia, masing-masing pada musim yang berbeda: Paris (musim gugur), Istanbul (musim dingin), New York (musim semi), dan Tokyo (musim panas). Namun Alone Time bukanlah travel writing konvensional. Ia adalah meditasi panjang tentang kesendirian (solitude), bukan sebagai isolasi sosial, tetapi sebagai ruang refleksi, pemulihan, dan kebebasan eksistensial.
Kesendirian di Tengah Kota: Sebuah Paradoks Modern
Rosenbloom, penulis Alone Time: Four Seasons, Four Cities, and the Pleasures of Solitude (Viking, Penguin Random House, 2018) memulai bukunya dengan pengakuan: dalam budaya modern—terutama budaya urban Barat—pergi sendirian sering dipandang sebagai sesuatu yang menyedihkan atau mencurigakan. Makan sendiri, berjalan sendiri, atau bepergian sendiri kerap dibaca sebagai tanda kegagalan sosial. Namun justru dari stigma inilah buku ini bergerak.
Mengutip penelitian psikologi dan sosiologi, Rosenbloom menunjukkan bahwa solitude berbeda secara mendasar dari loneliness. Kesepian adalah kondisi kekurangan relasi, sedangkan ke-sendirian adalah pilihan sadar untuk memberi ruang pada diri sendiri. Psikolog Reed Larson, misalnya, menyebut solitude sebagai kondisi yang memungkinkan “restorative experiences” dan peningkatan kreativitas (Larson, 1990). “Solitude matters, and for many people, it is the air that allows creativity to breathe.” —Susan Cain, Quiet (2012)
Dalam perjalanan-perjalanannya, Rosenbloom tidak mencari tempat terpencil atau alam liar. Ia justru memilih kota-kota besar, ruang paling ramai di dunia modern, untuk mengalami kesendirian. Di sinilah paradoks buku ini menguat: kita bisa sendirian tanpa harus terisolasi.
Ia mengembara di empat kota, empat musim, empat cara menyepi. Mari kita mengikuti perjalanan menuju kesendirian Rosenbloom.
Di Paris, musim gugur, Rosenbloom menemukan kesendirian yang kontemplatif. Ia berjalan di museum sendirian, duduk lama di taman, dan menikmati anonimitas kota yang membiarkan orang sendirian tanpa interogasi sosial. Paris mengajarinya bahwa kesendirian bisa menjadi bentuk kehadiran penuh—mengamati detail kecil, arsitektur, bahasa tubuh, dan ritme kota. Ia meng-ingatkan pada pemikiran Walter Benjamin tentang flâneur—pejalan kota yang menyerap makna dunia tanpa tujuan praktis.
Pada musin dingin ia berada di Istanbul, dengan cuaca dingin dan lanskap budaya yang kompleks, menghadirkan kesendirian yang lebih keras namun reflektif. Di kota ini, Rosenbloom merasakan bagaimana kesendirian sering kali memperbesar kesadaran akan diri: rasa takut, kerentanan, sekaligus keberanian. Ia mengaitkan pengalaman ini dengan tradisi spiritual Timur, termasuk sufisme, di mana khalwat (menyendiri) dipandang sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada makna hidup. “Kesunyian adalah bahasa Tuhan, segala sesuatu yang lain adalah terjemahan yang buruk.”—Rumi
Di New York—kota asalnya— pada musim semi, kesendirian menjadi lebih personal. Di sini di rumah sendiri, Rosenbloom merefleksikan bagaimana kesendirian tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh. Bahkan di rumah sendiri, seseorang bisa menciptakan ruang kesendirian yang bermakna, melawan tuntutan produktivitas dan konektivitas tanpa henti. Ia mengkritik budaya “busy-ness” modern yang memandang waktu sendiri sebagai pemborosan.
Tokyo menjadi klimaks filosofis buku ini. Dalam budaya Jepang, Rosenbloom menemukan bahwa kesendirian tidak selalu distigmatisasi. Fenomena seperti restoran satu orang, kapsul hotel, dan budaya hitori (sendiri) menunjukkan bahwa masyarakat dapat merancang ruang publik yang ramah bagi individu. Di sini, musim panas, kesendirian bukan perlawanan terhadap masyarakat, melainkan bagian dari tatanan sosial itu sendiri.
Secara implisit, Alone Time adalah kritik terhadap kapitalisme sosial yang menuntut keter-hubungan terus-menerus: media sosial, kerja kolaboratif tanpa henti, dan budaya eksposur diri. Rosenbloom menunjukkan bahwa dunia modern semakin sulit menyediakan ruang untuk diam. Kesendirian baginya adalah sebagai kritik budaya modern.
Pemikir seperti Byung-Chul Han menyebut kondisi ini sebagai “masyarakat kelelahan”, di mana individu kehilangan kemampuan untuk berhenti dan mendengarkan diri sendiri (The Burnout Society, 2015). Dalam konteks Islam, kesendirian memiliki resonansi dalam praktik tafakkur dan uzlah, bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk kembali ke dunia dengan kesadaran yang lebih jernih.
Witches and Shamans — Kesendirian sebagai Pengetahuan yang Disingkirkan
Rosenbloom membuka Alone Time dengan metafora yang tak lazim: penyihir dan dukun. Dalam banyak kebudayaan, ia mengingatkan, figur-figur ini adalah mereka yang hidup di tepi masyarakat—sering sendirian, sering dianggap aneh, dan kerap dicurigai. Namun justru dari posisi menyendiri itulah mereka memperoleh pengetahuan: tentang tubuh, alam, musim, dan batin manusia. Kesendirian, dalam sejarah panjang peradaban, bukanlah tanda kelemahan, melainkan sumber kebijaksanaan yang berbahaya bagi tatanan sosial yang terlalu seragam.
Rosenbloom secara halus menarik garis antara figur-figur itu dan kondisi manusia modern.
Di dunia kontemporer yang dipenuhi notifikasi, jadwal, dan kewajiban sosial, orang yang memilih menyendiri sering dianggap tidak normal—terlalu dingin, terlalu aneh, atau bahkan menyedihkan. Ia mengutip riset psikologi sosial yang menunjukkan bahwa banyak orang lebih memilih kejutan listrik ringan daripada duduk sendirian dengan pikiran mereka sendiri selama beberapa menit. Data ini (dari penelitian Timothy Wilson dan koleganya di Science, 2014) menjadi penanda betapa asingnya kesendirian bagi manusia modern.
Namun Rosenbloom tidak menulis untuk mengutuk dunia, melainkan untuk menghidupkan kembali tradisi pengetahuan yang lahir dari solitude. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai pertapa heroik, tetapi sebagai perempuan urban biasa yang ingin tahu: apa yang sebenarnya terjadi jika kita memberi waktu pada diri sendiri, di tengah kota, tanpa agenda sosial?
Dari sinilah Paris menjadi panggung pertama.
Musim Semi (Spring): Paris — Kesendirian yang Mekar
Musim semi di Paris adalah pilihan simbolik. Kota ini sering diasosiasikan dengan cinta, pasangan, dan romantisisme. Namun justru di tempat yang begitu “berpasangan” itulah Rosenbloom menguji kesendirian. Ia datang sendiri, berjalan sendiri, makan sendiri, dan belajar untuk tidak menjelaskan keberadaannya kepada siapa pun. Paris memberinya pelajaran pertama: kesendirian tidak selalu harus dibela; kadang ia cukup dijalani dengan tenang.
Di Paris, makanan bukan sekadar konsumsi; ia adalah ritual sosial. Rosenbloom memasuki dunia ini sendirian, dengan sedikit kecemasan yang sangat manusiawi: bagaimana rasanya duduk sendiri di kafe Paris, dikelilingi pasangan dan kelompok teman?
Di sebuah kafe kecil, ia duduk menghadap jendela saat hujan turun pelan. Dalam esai “Café et Pluie—Coffee and Rain”, ia mengaitkan pengalaman ini dengan sains tentang savoring: kemampuan untuk memperlambat waktu dan benar-benar merasakan pengalaman. Psikolog Fred Bryant menyebut savoring sebagai keterampilan emosional yang meningkatkan kesejahteraan—dan kesendirian, Rosenbloom temukan, adalah kondisi ideal untuk itu.
Tanpa percakapan yang memecah perhatian, kopi terasa lebih pahit dan lebih hangat; suara hujan lebih ritmis; waktu terasa mengembang. Ia menyadari bahwa makan sendiri bukan kekurangan interaksi, tetapi kelebihan kehadiran.
Dalam refleksi tentang anggur dan makanan, ia menulis bahwa budaya Prancis tidak sepenuhnya memusuhi kesendirian. Seorang pelayan tidak mengasihaninya; ia dilayani dengan profesionalisme yang sama. Di sini, Rosenbloom menemukan perbedaan budaya yang penting: kesendirian tidak selalu harus dijelaskan.
Ketika ia memesan segelas Chablis dan sepiring tiram, Rosenbloom menolak anggapan bahwa kenikmatan membutuhkan saksi. Ia menulis dengan jujur tentang momen-momen kekecewaan —tiram yang tidak segar, anggur yang tidak istimewa—namun justru dari situlah ia belajar: kesendirian mengajarkan kejujuran pada selera sendiri. Tanpa harus menyenangkan orang lain, ia bisa mengakui apa yang ia suka dan tidak suka. Ini tampak sepele, tetapi Rosenbloom menempatkannya sebagai latihan etis: mengenal diri tanpa cermin sosial. Life is too short to drink bad wine — seperti sebuah etika merawat diri.
Di Taman Luxembourg, Rosenbloom membawa makanan sederhana dan duduk sendirian di bangku. Ia menolak meja restoran—ruang yang terlalu terstruktur—dan memilih ruang publik yang lebih cair. Piknik untuk satu orang menjadi simbol kecil perlawanan terhadap norma sosial yang mengikat kenikmatan pada kebersamaan.
Di sini, kesendirian tidak tertutup, melainkan terbuka dan berbaur. Orang lalu-lalang, anak-anak bermain, pasangan bercengkerama—dan ia tetap sendiri, tanpa merasa terasing. Rosenbloom mencatat bahwa kesendirian tidak harus berarti pemisahan total; ia bisa menjadi cara berada-di-dunia dengan jarak yang sehat.
Bagian “Beauty” membawa Rosenbloom ke museum. Di Musée de la Vie Romantique, ia berjalan perlahan, berhenti lama di depan lukisan yang mungkin dilewati cepat oleh pengunjung lain. Tanpa percakapan atau kompromi, ia membiarkan ketertarikannya sendiri memimpin.
Ia mengutip penelitian tentang pengalaman museum yang menunjukkan bahwa pengunjung yang datang sendirian cenderung menghabiskan waktu lebih lama pada karya yang mereka sukai dan mengingatnya lebih baik. Kesendirian, di sini, bukan isolasi intelektual, melainkan pendalaman estetis.
Dalam bagian “Window-Licking”, Rosenbloom menggunakan istilah slang museum untuk meng-gambarkan praktik memandang karya seni tanpa rasa malu, tanpa harus terlihat “pintar”. Kesendirian membebaskannya dari performativitas budaya—tidak perlu berkomentar cerdas, tidak perlu foto bersama, tidak perlu validasi.
Istilah “window-licking” ia gunakan dengan sengaja—istilah yang biasanya bernada merendah-kan—untuk menegaskan hak seseorang untuk terpukau tanpa rasa malu. Di depan etalase toko, jendela galeri, atau bahkan apartemen tua Paris, Rosenbloom berhenti, mengamati, dan membiarkan pikirannya berkelana.
Ia mencatat bahwa ketika sendiri, ia tidak perlu menyesuaikan rasa kagum dengan selera orang lain. Ia bisa tertarik pada detail kecil: pantulan cahaya di kaca, susunan buku di rak, tirai yang sedikit terbuka. Kesendirian membebaskannya dari hierarki budaya—apa yang layak dikagumi dan apa yang tidak. Di sini, Rosenbloom secara implisit mengkritik budaya pariwisata modern yang berorientasi pada daftar dan dokumentasi. Paris baginya bukan kota untuk “ditaklukkan”, tetapi kota untuk dihuni secara sementara, dengan ritme yang tidak harus efisien.
Ia menemukan muse bukan dalam percakapan, tetapi dalam keheningan yang penuh perhatian.
Pada akhirnya, Paris di musim semi mengajarkan Rosenbloom satu hal mendasar: kesendirian bukanlah absennya relasi, melainkan relasi yang berbeda dengan dunia. Paris sebagai guru kesendirian. Melalui kopi, hujan, makanan, taman, dan museum, ia belajar bahwa menjadi sendiri adalah keterampilan yang bisa dipelajari—dan dilatih.
Di kota yang sering dipuja sebagai simbol cinta romantis, Rosenbloom menemukan cinta yang lebih sunyi namun tahan lama: cinta pada pengalaman yang dijalani sepenuhnya, tanpa saksi. Dalam kelanjutan musim semi Paris, Rosenbloom semakin menyadari bahwa keindahan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang spektakuler. Ia justru muncul dalam kebebasan untuk melihat tanpa kewajiban berbagi makna. Museum, jalan kecil, jendela toko, dan wajah-wajah asing menjadi ruang kontemplasi yang sunyi namun hidup.
Di Musée de la Vie Romantique, ia menemukan ironi yang halus: sebuah museum tentang romantisisme—gerakan yang sering dipahami sebagai perayaan cinta dan gairah—justru memberinya ruang kesendirian yang mendalam. Ia berdiri lama di depan lukisan dan benda-benda personal George Sand, seorang perempuan yang hidupnya sendiri adalah bentuk perlawanan terhadap norma sosial abad ke-19. Rosenbloom membaca hidup Sand sebagai contoh awal perempuan yang menegosiasikan kesendirian bukan sebagai pengasingan, melainkan sebagai kondisi kebebasan intelektual.
Berjalan sendiri di museum mengubah cara waktu bekerja. Tidak ada dorongan untuk menyamakan langkah, tidak ada keharusan menyimpulkan. Ia bisa kembali ke satu lukisan dua atau tiga kali, membiarkan resonansinya berubah seiring suasana batin. Di sinilah Rosenbloom menyadari bahwa kesendirian memungkinkan estetika yang lambat, sesuatu yang hampir mustahil di dunia yang serba cepat dan sosial.
Dalam refleksinya, ia mengaitkan pengalaman ini dengan riset neurologi tentang perhatian: ketika seseorang tidak terganggu oleh percakapan atau tuntutan sosial, otak memiliki kapasitas lebih besar untuk asosiasi bebas dan empati imajinatif. Keindahan tidak lagi menjadi objek yang dikonsumsi, melainkan peristiwa batin.
Ritme Kota — Berjalan Mengikuti Tubuh, Bukan Agenda
Seiring hari-hari berlalu, Rosenbloom mulai menyesuaikan diri dengan ritme Paris yang khas. Ia berjalan tanpa tujuan pasti, mengikuti arus pejalan kaki, berhenti ketika tubuhnya meminta. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada rasa bersalah karena “tidak produktif”.
Ia menyadari bahwa kota ini mengajarkan bentuk perhatian yang berbeda: duduk lama di bangku taman tidak dianggap aneh; membaca di kafe selama berjam-jam bukan pelanggaran sosial. Ritme Paris, setidaknya dalam pengalamannya, memberi ruang bagi kehadiran yang tidak performatif.
Kesendirian membuatnya lebih peka terhadap suara kota: sepatu di trotoar, percakapan setengah terdengar, lonceng sepeda, dan dentingan cangkir. Ia mencatat bagaimana suara-suara ini membentuk semacam musik latar yang menenangkan. Tanpa harus berbicara, ia tetap merasa terhubung—bukan pada individu tertentu, tetapi pada kehidupan kota sebagai organisme kolektif.
Dalam momen-momen ini, Rosenbloom sampai pada pemahaman penting: kesendirian di kota besar bukan kontradiksi. Justru kota, dengan anonimitasnya, memungkinkan bentuk kesendiri-an yang aman dan subur. Tidak seperti di komunitas kecil yang penuh pengawasan, kota memberi kebebasan untuk menjadi tidak terlihat—dan dari situlah muncul rasa lega.
Rosenbloom tidak menyimpulkan dengan pernyataan besar. Ia hanya mencatat perubahan halus dalam dirinya: kecemasan sosial berkurang, perhatian meningkat, dan kepercayaan pada intuisi pribadi tumbuh. Kesendirian tidak membuatnya merasa kosong; sebaliknya, ia merasa lebih berisi, tetapi tidak penuh sesak. Paris mengajarkannya bahwa kesendirian bukan sesuatu yang harus ditunggu di tempat sunyi atau terpencil. Ia bisa dipraktikkan di tengah keramaian, selama seseorang bersedia memperlambat langkah dan berhenti menjelaskan dirinya pada dunia.
Musim semi berakhir bukan dengan klimaks, melainkan dengan kesiapan: kesiapan untuk membawa keterampilan kesendirian ini ke kota-kota lain, musim lain, dan tantangan batin yang lebih dalam. Paris hanyalah awal—sebuah pengantar lembut menuju bentuk-bentuk kesendirian yang akan semakin kompleks.
Musim Panas (Summer) – Istanbul
Jika Paris mengajarkan kesendirian sebagai kenikmatan yang lambat dan estetis, maka Istanbul menghadirkannya sebagai ujian saraf dan kepekaan. Musim panas di kota ini terasa lebih keras, lebih padat, lebih kontradiktif. Di sinilah Rosenbloom mulai menyadari bahwa kesendirian bukan hanya soal memilih untuk sendiri, tetapi juga soal bertahan sendirian di tengah ketidakpastian.
Istanbul bukan kota yang menenangkan dengan segera. Ia bergerak cepat dan bertumpuk: suara, sejarah, agama, politik, dan emosi bercampur tanpa jarak. Rosenbloom datang bukan untuk menaklukkan kompleksitas itu, melainkan untuk belajar tinggal di dalamnya tanpa pegangan sosial.
Nerve
Di Üsküdar, kawasan di sisi Asia Istanbul, Rosenbloom belajar tentang menunggu. Menunggu feri, menunggu matahari terbit di balik Bosphorus, menunggu dirinya sendiri merasa aman. Kesendirian di sini bukan kesendirian yang pasif, melainkan kesendirian yang waspada.
Ia mencatat bagaimana tubuhnya terus-menerus membaca lingkungan: tatapan orang lain, jarak fisik, nada suara. Sebagai perempuan asing yang sendirian, ia tidak bisa sepenuhnya larut tanpa kesadaran diri. Namun justru dari kewaspadaan inilah muncul bentuk keberanian baru—bukan keberanian yang keras, tetapi keberanian untuk tetap hadir tanpa menarik diri.
Menunggu feri menjadi metafora penting. Antisipasi bukan sekadar jeda, melainkan keterampilan. Dalam kesendirian, ia belajar membiarkan sesuatu datang kepadanya, alih-alih memaksakan pengalaman. Istanbul mengajarkannya bahwa tidak semua makna harus segera dipahami; beberapa cukup ditunggu. Di Üsküdar ia belajar The Art of Anticipation.
Pengalaman di Hamam menjadi titik balik emosional. Masuk sendirian ke ruang ritual tubuh yang asing, dengan bahasa yang terbatas dan aturan yang tidak sepenuhnya ia pahami, membuat Rosenbloom berada dalam kondisi rentan yang ekstrem. Di sini, kesendirian menjadi sangat fisik. Tubuhnya disentuh, diarahkan, dimurnikan oleh tangan orang asing. Ia tidak bisa mengandalkan percakapan atau humor sebagai pelindung. Yang tersisa hanyalah kepercayaan.
Pengalaman ini membuatnya merefleksikan bagaimana kesendirian sering disalahpahami sebagai penarikan diri dari dunia. Padahal, di Hamam, ia justru masuk sepenuhnya ke dalam pengalaman sosial, tanpa perantara orang terdekat. The Hamam — The Importance of Trying New Things
Ia belajar bahwa mencoba hal baru sendirian memperbesar rasa takut—tetapi juga memperluas rasa hidup.
Lima kali sehari, suara azan membelah ruang dan waktu Istanbul. Awalnya, Rosenbloom menganggapnya sebagai latar budaya. Namun lama-kelamaan, ia mulai mendengarkan—bukan untuk memahami makna religiusnya secara doktrinal, melainkan sebagai ritme kolektif.
Sendirian di kota Muslim, ia menyadari bahwa mendengar adalah tindakan etis. Ia tidak perlu menyetujui atau ikut serta untuk menghormati. Kesendirian memberinya jarak yang tepat: cukup dekat untuk merasakan getarannya, cukup jauh untuk tidak mengklaimnya sebagai milik.
Azan mengajarkannya bahwa tidak semua suara ditujukan kepadanya. Dan itu membebaskan. Dalam dunia yang sering menuntut respons instan, mendengar tanpa harus menanggapi menjadi bentuk kesendirian yang matang. Suara kumandang Azan membuatnya belajar untuk mendengar.
Jika bagian “Nerve” berbicara tentang keberanian, maka bagian “Loss” membawa Rosenbloom pada kesadaran akan kefanaan—bahwa kesendirian juga membuka ruang duka yang tidak dibagi.
Tangga pelangi di Beyoğlu, yang dicat warga sebagai simbol kebebasan dan keberagaman, menjadi lambang keindahan yang rapuh. Rosenbloom menyaksikan bagaimana warna-warna itu dirayakan, lalu dihapus, lalu dicat kembali. Kesendirian membuatnya lebih peka terhadap siklus ini.
Ia merenungkan bagaimana apresiasi sering datang terlambat—setelah sesuatu terancam atau hilang. Berjalan sendiri di depan tangga itu, ia merasa keindahan tidak selalu memberi rasa bahagia, tetapi kadang justru rasa sedih yang lembut. Kesendirian memungkinkan emosi campuran ini hadir tanpa harus dirapikan. Tidak ada kebutuhan untuk “menghibur diri” atau “mengalihkan perhatian”. Ia belajar membiarkan rasa kagum dan kehilangan hidup berdampingan.
Di Istanbul, Rosenbloom semakin sadar bahwa kota ini terus berubah—bangunan hilang, ruang publik menyempit, kebebasan dinegosiasikan ulang. Kesendirian membuat perubahan ini terasa personal, seolah ia kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki sepenuhnya. Ia menulis tentang berjalan sendirian di tempat-tempat yang mungkin tidak akan ada lagi pada kunjungan berikutnya. Kesendirian memperkuat rasa kehadiran, tetapi juga memperdalam rasa kehilangan. Namun justru di sinilah muncul pelajaran penting: mencintai sesuatu tanpa memiliki atau menjamin keberlangsungannya.
Istanbul mengajarkannya bahwa kesendirian bukan pelarian dari dunia yang rapuh, melainkan cara untuk menatap kerapuhan itu dengan jujur. Tidak semua yang berharga bisa diselamatkan. Beberapa hanya bisa disaksikan dengan penuh perhatian—sebelum hilang.
Ketika musim panas berakhir, Rosenbloom meninggalkan Istanbul dengan tubuh yang lebih berani dan hati yang lebih sensitif. Kesendirian di sini tidak selalu menyenangkan, tetapi mem-bentuk daya tahan batin. Ia belajar bahwa sendirian tidak berarti aman dari kehilangan—justru sering kali sebaliknya. Namun dari saraf yang tegang dan rasa kehilangan itulah, kesendirian berkembang dari sekadar kenikmatan menjadi praktik kedewasaan emosional.
Musim Gugur (Fall) – Florence
Musim gugur membawa Rosenbloom ke Florence, kota yang tidak perlu membuktikan apa pun. Tidak seperti Paris yang memikat, atau Istanbul yang mengguncang, Florence menunggu dengan kesabaran batu tua. Di sini, kesendirian tidak lagi terasa seperti eksperimen sosial atau tantangan psikologis, melainkan seperti disiplin batin.
Florence adalah kota yang telah lama berdamai dengan masa lalunya. Seni, gereja, lorong, dan patung tidak meminta perhatian; mereka mengandaikan kehadiran yang pelan. Kesendirian di kota ini menuntut sesuatu yang berbeda: diam, melihat, dan membiarkan diri tidak tergesa-gesa memahami.
Di Florence, Rosenbloom mulai bermain permainan kecil sendirian—mengikuti panah di jalan, mencari simbol malaikat di fasad bangunan, memperhatikan detail yang nyaris tak terlihat. Permainan ini tidak menghasilkan skor atau prestasi; nilainya terletak pada ketekunan memperhatikan.
Ia menyadari bahwa kesendirian memungkinkan bentuk permainan yang tidak kompetitif. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan mengapa ia berhenti mendadak di sudut jalan, atau mengapa ia kembali ke tempat yang sama berulang kali. Waktu menjadi lentur, dan kota membuka dirinya melalui pola-pola kecil. Keheningan Florence tidak kosong. Ia padat oleh sejarah, tetapi tidak berisik. Dalam kesendirian, Rosenbloom belajar bahwa diam bukan ketiadaan suara, melainkan ketiadaan tuntutan.
Menghadapi karya seni sendirian—terutama Venus—Rosenbloom merasakan perbedaan mendasar antara melihat dan “mengonsumsi” seni. Tanpa teman untuk berbagi reaksi, tanpa kamera untuk membuktikan kehadiran, ia berdiri lebih lama, membiarkan tatapan berlangsung tanpa kesimpulan cepat. Kesendirian mengubah relasinya dengan keindahan. Ia tidak perlu segera menyukai atau memahami. Ia cukup hadir di hadapan sesuatu yang lebih besar darinya, tanpa rasa perlu menguasainya.
Ia menulis bahwa sendirian di museum membuatnya lebih jujur pada responsnya sendiri. Tidak ada tawa sopan, tidak ada komentar cerdas yang harus disiapkan. Yang ada hanyalah dialog sunyi antara mata, tubuh, dan waktu. Florence mengajarkannya bahwa melihat adalah tindakan etis: memberi waktu, memberi ruang, dan tidak menuntut balasan instan.
Salah satu momen paling simbolik dalam bagian ini adalah ketika Rosenbloom menelusuri koridor rahasia—ruang tersembunyi yang menghubungkan kekuasaan, seni, dan sejarah. Lorong ini menjadi metafora bagi pendidikan nonformal yang lahir dari kesendirian.
Ia menyadari bahwa bepergian sendirian memaksanya menjadi murid bagi dirinya sendiri. Tidak ada pemandu pribadi yang mengarahkan interpretasi, tidak ada teman yang menentukan agenda. Ia harus memilih apa yang ingin ia ketahui, sejauh apa ia ingin menggali, dan kapan ia ingin berhenti.
Kesendirian mengubah pengetahuan dari akumulasi informasi menjadi proses pembentukan kepekaan. Ia belajar membaca kota seperti teks yang tidak selalu jelas strukturnya, tetapi kaya makna bagi mereka yang sabar. Florence, dengan universitas, biara, dan arsipnya, mengajarkan bahwa belajar tidak selalu berarti bergerak maju. Kadang belajar berarti tinggal lebih lama di satu tempat, mengulang, dan menerima bahwa tidak semua pemahaman datang sekaligus.
Di Florence, kesendirian mencapai bentuk yang paling hening dan matang. Tidak ada lagi kebutuhan untuk membuktikan keberanian atau merayakan kebebasan. Kesendirian menjadi cara hidup sementara—ritme pelan yang memungkinkan penglihatan lebih jernih dan pengetahuan yang lebih dalam.
Jika Paris mengajarkan bagaimana menikmati diri sendiri, dan Istanbul mengajarkan bagaimana bertahan, maka Florence mengajarkan bagaimana belajar tanpa keramaian, bagaimana membiarkan dunia mendidik kita tanpa suara keras.
Kesendirian di sini bukan lagi jarak dari orang lain, melainkan kedekatan dengan apa yang sungguh-sungguh penting.
Musim Dingin (Winter) – New York
Musim dingin membawa Rosenbloom kembali ke New York, kota yang paling ia kenal sekaligus paling menantang. Setelah berbulan-bulan mengasah kesendirian di kota-kota asing, ia kembali ke ruang yang sarat memori, rutinitas, dan tuntutan sosial. Namun kepulangan ini tidak seder-hana. New York tidak menyambut dengan kelembutan; ia menyambut dengan intensitas yang tak pernah benar-benar padam, bahkan di tengah salju.
Di sini, kesendirian diuji bukan oleh keterasingan, melainkan oleh kedekatan berlebihan—orang, pekerjaan, ambisi, dan sejarah pribadi yang saling bertabrakan.
New York adalah kota yang selalu menuntut produktivitas. Rosenbloom kembali bukan sebagai turis, melainkan sebagai jurnalis—“on assignment”—dan peran ini membuat batas antara kerja dan hidup menjadi kabur. Kesendirian di New York tidak romantis; ia fungsional, kadang melelahkan, kadang membebaskan.
Ia menyadari perbedaan mendasar antara kesendirian yang dipilih dan kesendirian yang dituntut oleh ritme kota. Di New York, seseorang bisa sendirian di tengah keramaian tanpa benar-benar merasa sendiri, atau sebaliknya: merasa kesepian meski dikelilingi orang.
Namun pengalaman di kota-kota lain memberinya jarak batin. Ia tidak lagi merasa harus selalu “mengikuti arus”. Kesendirian menjadi alat navigasi, bukan kondisi darurat.
Di musim dingin, “rumah” tidak lagi abstrak. Ia menjadi kebutuhan fisik dan emosional. Rosenbloom mulai melihat rumah bukan sebagai alamat tetap, melainkan sebagai jaringan tempat perlindungan: kafe kecil, perpustakaan, taman yang sepi, apartemen teman, bahkan bangku tertentu di kereta bawah tanah.
Ia belajar bahwa rumah dapat “dirancang” melalui kebiasaan, ritme, dan pilihan sadar. Kesendirian membantu proses ini karena ia memaksa seseorang bertanya: ruang mana yang membuatku tenang? Di mana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa performa? Menariknya, orang asing juga menjadi bagian dari rumah—bukan melalui kedekatan mendalam, melainkan melalui keakraban singkat: barista yang mengenali pesanan, penjaga toko yang menyapa, tetangga yang tak bertanya terlalu banyak. Kesendirian di kota besar tidak meniadakan relasi; ia mengubah bentuknya.
West Village menjadi simbol kepulangan Rosenbloom. Lingkungan ini, dengan jalan-jalan kecil yang tidak mengikuti grid Manhattan, menawarkan resistensi halus terhadap keteraturan kota. Ia berjalan tanpa tujuan, membiarkan ingatan dan pengamatan saling bertaut. Di sini, kesendirian terasa tidak mengancam. Ia adalah bagian dari lanskap. Rosenbloom menulis tentang kegembiraan kecil: berjalan tanpa agenda, duduk sendirian di kafe, mengamati kehidupan tanpa perlu ikut campur.
West Village menjadi metafora bahwa rumah tidak selalu besar atau tetap. Kadang ia hadir sebagai rasa dikenali oleh ruang, bukan oleh orang.
Buku ini tidak ditulis sebagai panduan teknis yang kaku, melainkan sebagai undangan lembut. Rosenbloom membagikan refleksi praktis tentang bagaimana menjalani kesendirian dengan niat, bukan ketakutan.
Ia menekankan pentingnya rasa ingin tahu, kesabaran, dan keberanian untuk tidak selalu “mengisi” waktu. Kesendirian bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan tentang mengatur ulang hubungan dengan dunia—kapan mendekat, kapan mundur. Ia juga mengingatkan bahwa kesendirian bukan solusi universal. Ada hari-hari ketika kita perlu orang lain, dan itu bukan kegagalan. Kesendirian yang sehat justru membuat relasi menjadi lebih jujur, karena tidak lahir dari ketergantungan. New York menutup perjalanan Rosenbloom dengan cara yang paling jujur: tidak memberikan jawaban final, tetapi memperlihatkan bagaimana kesendirian dapat hidup berdampingan dengan keramaian.
Jika buku ini dimulai dengan pertanyaan tentang apakah kita bisa sendirian, ia berakhir dengan pertanyaan yang lebih matang: bagaimana kita ingin hadir—sendiri atau bersama—di dunia yang terus bergerak cepat?
Kesendirian, dalam Alone Time, bukan pelarian. Ia adalah keterampilan hidup, sebuah cara untuk kembali ke dunia dengan mata yang lebih jernih dan hati yang lebih lapang.
Catatan Akhir: Kesendirian sebagai Etika Hidup
Kita hidup di zaman ketika kesendirian menjadi sesuatu yang harus dijelaskan, bahkan dipertanggungjawabkan. Duduk sendiri di kafe, bepergian sendiri, atau makan sendiri sering dianggap sebagai tanda kekurangan—kesepian, kegagalan sosial, atau keterasingan. Di era hiper-sosial, ketika konektivitas menjadi norma moral dan kehadiran digital menjadi ukuran eksistensi, kesendirian tampak seperti penyimpangan. Namun Alone Time mengajukan tesis yang pelan tapi radikal: kesendirian bukan defisit, melainkan praktik etis.
Stephanie Rosenbloom tidak menulis manifesto anti-sosial. Ia justru memperlihatkan bahwa kesendirian adalah cara untuk memulihkan relasi dengan diri, dengan ruang, dan akhirnya dengan orang lain. Kesendirian di sini bukan penarikan diri dari dunia, melainkan latihan keberadaan yang jujur—sebuah ethos hidup di tengah dunia yang terlalu ramai, terlalu cepat, dan terlalu menuntut.
Dalam dunia yang menuntut keterlibatan terus-menerus—updates, likes, produktivitas tanpa jeda—kesendirian menjadi bentuk perlawanan yang hampir tak terlihat. Ia tidak berteriak, tidak memobilisasi massa, tetapi menarik rem secara sadar. Kesendirian berkata: tidak semua waktu harus berguna, tidak semua pengalaman harus dibagikan, tidak semua kehadiran harus diakui.
Paris mengajarkan Rosenbloom seni menikmati tanpa saksi. Istanbul mengajarkannya ketegang-an menunggu tanpa kepastian. Florence memberinya pelajaran tentang melihat tanpa ber-bicara. New York, akhirnya, mempertemukannya dengan paradoks terbesar: bagaimana tetap sendiri di tengah keramaian total.
Kesendirian dalam buku ini selalu bersifat kontekstual. Ia tidak ideal, tidak selalu nyaman. Kadang ia membosankan, kadang menyakitkan. Justru di situlah nilai etisnya: kesendirian melatih kita untuk tinggal bersama diri sendiri tanpa ilusi hiburan terus-menerus.
Dari kesendirian ke kehadiran. Salah satu sumbangan filosofis terbesar Alone Time adalah redefinisi kehadiran. Rosenbloom menunjukkan bahwa kesendirian bukan soal absensi dari relasi, tetapi tentang kehadiran penuh dalam momen. Ia menolak budaya “mengisi waktu” dan memilih “mengalami waktu”.
Kesendirian membuka ruang bagi:
- perhatian yang lebih tajam,
- pendengaran yang lebih dalam,
- dan relasi yang lebih jujur.
Dalam hamam Istanbul, di museum Paris, di lorong rahasia Florence, Rosenbloom belajar bahwa kehadiran tidak membutuhkan audiens. Justru ketika sendirian, seseorang bisa hadir sepenuhnya—tanpa performa, tanpa penyesuaian, tanpa topeng sosial. Ironisnya, buku ini menunjukkan bahwa kesendirian yang matang justru memperbaiki hubungan sosial. Orang yang mampu sendirian tidak mencari orang lain untuk mengisi kekosongan, tetapi untuk berbagi kelimpahan pengalaman. Relasi menjadi pilihan, bukan pelarian.
Dalam pengertian ini, kesendirian adalah etika relasional:
- Ia mencegah ketergantungan emosional berlebihan.
- Ia menolak relasi instrumental.
- Ia memungkinkan pertemuan yang setara.
Kesendirian mengajarkan kita batas—kapan mendekat, kapan menjaga jarak. Dalam dunia hiper-sosial yang sering melanggar batas, ini adalah kebijaksanaan yang semakin langka.
Jika Alone Time dibaca sebagai panduan hidup, maka ia menawarkan bukan langkah-langkah praktis semata, melainkan orientasi eksistensial untuk manusia modern. Pertama, ia mengajar-kan bahwa makna tidak selalu lahir dari intensitas, tetapi dari attentiveness. Kedua, ia me-nunjukkan bahwa rumah bukan sekadar tempat, melainkan praktik—serangkaian ritual kecil yang menciptakan rasa aman di mana pun kita berada. Ketiga, ia membebaskan kesendirian dari stigma dan mengembalikannya sebagai hak eksistensial.
Buku ini tidak meminta kita menjadi penyendiri, tetapi menjadi manusia yang tidak takut pada keheningan. Ia tidak mengajarkan pelarian dari dunia, melainkan cara kembali ke dunia dengan kesadaran yang lebih utuh. Di era krisis perhatian, krisis iklim, dan krisis makna, kesendirian yang dipilih dengan sadar menjadi bentuk perawatan—care of the self, sekaligus care of the world. Orang yang mampu berhenti, mendengarkan, dan hadir secara utuh adalah orang yang tidak mudah terseret arus destruktif.
Alone Time akhirnya mengajarkan bahwa kesendirian bukan akhir dari relasi, melainkan fondasinya. Ia adalah ruang di mana manusia belajar menjadi cukup—sebelum meminta dunia melengkapinya. Dalam dunia yang terus berkata “terhubunglah”, buku ini berani berbisik:
“berdiam sebentar.” Dan mungkin, di sanalah kita kembali menjadi manusia.
Di kota-kota Indonesia hari ini, kesendirian bukanlah keadaan yang mudah dipilih. Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Makassar—semuanya dibangun atas logika keramaian: kepadatan, kebersamaan, kebisingan, dan keterhubungan yang nyaris tanpa jeda. Kota seolah curiga pada orang yang sendiri. Duduk sendiri terlalu lama di warung kopi bisa memancing pertanyaan; berjalan sendiri tanpa tujuan dianggap aneh; diam tanpa gawai sering disalahartikan sebagai kosong. Dalam budaya yang menjunjung rame sebagai tanda hidup, kesendirian sering dibaca sebagai kekurangan.
Namun justru di tengah kota-kota yang tidak pernah benar-benar tidur inilah, kesendirian menjadi praktik yang paling politis sekaligus paling rapuh.
Kesendirian di Tengah Kepadatan
Kota Indonesia adalah kota tanpa jarak. Rumah berhimpitan, suara bocor dari dinding ke dinding, tubuh bertemu tubuh di KRL, Transjakarta, angkot, dan ojek daring. Di ruang publik, kita selalu ditemani—oleh orang lain, oleh suara mesin, oleh notifikasi. Bahkan ketika sendirian secara fisik, pikiran jarang benar-benar sendiri.
Kesendirian di kota seperti ini bukan soal menyepi, melainkan menciptakan jarak batin. Ia sering hadir dalam bentuk-bentuk kecil dan sementara: duduk diam di pojok masjid selepas subuh, berjalan kaki tanpa tujuan di gang-gang lama, mengayuh sepeda sendirian sebelum kota benar-benar bangun, atau sekadar mematikan ponsel selama satu jam. Kesendirian menjadi sesuatu yang diselipkan, bukan disediakan. Di sini, kesendirian bukan kemewahan—ia adalah keterampilan bertahan hidup.
Budaya Indonesia sangat menghargai kebersamaan. Silaturahmi, gotong royong, kumpul keluarga, arisan, rapat RT—semuanya membentuk moral sosial yang kuat. Tetapi dalam praktik kota modern, moral kebersamaan sering berubah menjadi tuntutan kehadiran tanpa ruang refleksi. Orang yang menarik diri dianggap tidak solid, tidak ramah, bahkan tidak bersyukur.
Dalam konteks ini, memilih kesendirian adalah tindakan yang harus dinegosiasikan secara sosial. Ia perlu alasan: lelah, kerja, ibadah, atau “butuh waktu sendiri”. Tanpa alasan itu, kesendirian mudah disalahpahami sebagai penolakan.
Padahal, kesendirian yang matang justru memperkuat kebersamaan. Ia memberi ruang bagi seseorang untuk kembali ke relasi tanpa keletihan, tanpa amarah laten, tanpa keharusan tampil.
Kesendirian di kota Indonesia juga sangat ditentukan oleh kelas. Mereka yang memiliki ruang—kamar sendiri, akses taman, waktu luang—lebih mudah memilih kesendirian. Sementara bagi banyak warga kota, terutama pekerja informal dan kelas menengah bawah, kesendirian nyaris tidak tersedia. Waktu dan ruang selalu dibagi, dinegosiasikan, atau direbut. Di kampung kota, kesendirian sering hanya hadir pada jam-jam ganjil: larut malam, dini hari, atau ketika hujan turun deras dan orang-orang berdiam. Kesendirian bukan kondisi permanen, melainkan celah temporal.
Karena itu, berbicara tentang etika kesendirian di Indonesia juga berarti berbicara tentang keadilan ruang dan waktu. Kota yang sehat bukan hanya menyediakan ruang berkumpul, tetapi juga ruang untuk diam—tanpa harus membeli apa pun.
Indonesia memiliki tradisi panjang tentang kesendirian spiritual: khalwat, tirakat, semedi, lelaku. Tetapi di kota modern, praktik-praktik ini sering tereduksi menjadi ritual formal atau pengalaman wisata rohani. Kesendirian sebagai laku sehari-hari—yang sederhana, tidak heroik—jarang dibicarakan.
Padahal, kesendirian di kota bisa menjadi bentuk spiritualitas paling membumi: berjalan sendiri menyusuri trotoar yang rusak, mendengar azan dari kejauhan tanpa tergesa, duduk diam di halte tanpa tujuan. Kesendirian seperti ini tidak menjanjikan pencerahan instan, tetapi melatih.
Dalam kota yang bergerak terlalu cepat, kesendirian mengajarkan kita untuk tidak selalu mengejar.
Kesendirian sebagai Hak Kota
Catatan ini tidak memuja kesendirian sebagai solusi universal. Kota Indonesia tetap membutuh-kan kebersamaan, solidaritas, dan ruang kolektif. Tetapi di tengah krisis kesehatan mental, kelelahan sosial, dan ekonomi perhatian yang semakin agresif, kesendirian perlu diakui sebagai hak kota, bukan penyimpangan.
Kesendirian yang dipilih dengan sadar adalah cara warga kota menjaga kewarasan, martabat, dan keutuhan diri. Ia adalah jeda kecil yang memungkinkan kota tetap manusiawi. Mungkin, kota yang adil bukan hanya kota yang ramai dan produktif, tetapi kota yang mengizinkan warganya berkata tanpa rasa bersalah: “Hari ini, saya ingin sendiri.”
Dan di kota yang mengizinkan itu, kita mungkin akhirnya belajar hidup bersama—dengan lebih pelan, lebih jujur, dan lebih utuh.
Pada akhirnya, Alone Time bukan sekadar kisah perjalanan, melainkan manifesto halus tentang hak untuk menyendiri. Rosenbloom tidak mengidealkan isolasi total, tetapi menawarkan keseimbangan: relasi yang sehat membutuhkan individu yang utuh, dan individu yang utuh membutuhkan waktu sendiri.
Buku ini mengajak pembaca untuk bertanya:
- Kapan terakhir kali kita benar-benar sendirian tanpa distraksi?
- Apakah kita takut pada kesendirian, atau justru takut mendengar diri sendiri?
Dalam dunia yang semakin bising, Alone Time mengingatkan bahwa kesunyian bukan kehampaan, melainkan ruang tempat makna tumbuh.
Bogor-Cirebon, 9 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi (APA)
Cain, S. (2012). Quiet: The power of introverts in a world that can’t stop talking. Crown Publishers.
Han, B.-C. (2015). The burnout society (E. Butler, Trans.). Stanford University Press.
Larson, R. W. (1990). The solitary side of life: An examination of the time people spend alone from childhood to old age. Developmental Review, 10(2), 155–183.
https://doi.org/10.1016/0273-2297(90)90008-R
Rosenbloom, S. (2018). Alone time: Four seasons, four cities, and the pleasures of solitude. Viking.
Rumi. (2004). The essential Rumi (C. Barks, Trans.). HarperCollins.





