Rubarubu #131
A Livable Future is Possible:
Suara Chomsky dalam Bayangan Krisis Nyata
Di sebuah pagi di Jakarta, seorang nelayan tua di Muara Angke memandang laut yang tak lagi dikenalnya. Air yang dahulu jernih kini keruh oleh sedimentasi dan sampah plastik. Hasil tangkapan menyusut drastis, memaksa cucunya untuk meninggalkan tradisi keluarga dan mengadu nasib di pabrik. Ia tak tahu istilah “krisis iklim” atau “kapitalisme ekstraktif,” tetapi ia merasakan getarannya dalam setiap jala kosong dan dalam kabut asap yang menyelimuti langit ibu kota. Kisahnya adalah satu dari jutaan mozaik penderitaan manusia yang tercerabut dari akar kehidupannya oleh mesin pembangunan yang tak peduli batas—sebuah realitas yang menjadi jantung dari kritik Noam Chomsky dalam “A Livable Future is Possible: Confronting the Threats to Our Survival” (2024).
Buku ini, disunting dengan cermat oleh C. J. Polychroniou, bukan sekadar kumpulan esai, melainkan sebuah “peta navigasi kritis” untuk memahami ancaman eksistensial umat manusia dan merajut jalan keluar yang radikal. Chomsky, dengan ketajaman analitisnya yang legendaris, membedah tiga ancaman besar yang saling terkait: bahaya nuklir, krisis iklim yang memburuk, dan erosi demokrasi oleh kekuatan neoliberal. Namun, di balik diagnosa yang suram, judul buku ini menyimpan sebuah afirmasi: masa depan yang layak huni masih mungkin. Kuncinya terletak pada “Transisi yang Adil” (Just Transition)—sebuah pergeseran sistemik menuju tatanan sosial-ekonomi yang berpusat pada keadilan, kesetaraan, dan keberlanjutan ekologis, bukan pada akumulasi profit segelintir orang.
Chomsky memulai pembahasannya dengan ancaman yang paling langsung dan dahsyat: senjata nuklir. Ia mengutip Bulletin of the Atomic Scientists yang menempatkan Doomsday Clock pada 90 detik menuju tengah malam—titik terdekat dengan bencana global dalam sejarah (Bulletin of the Atomic Scientists, 2023). Ini bukan hanya metafora, tetapi cerminan dari meningkatnya ketegangan geopolitik, perlombaan senjata modern, dan melemahnya rezim non-proliferasi. Chomsky mengecam “kebodohan yang luar biasa” dari negara-negara adidaya yang terus mempertahankan dan memodernisasi arsenalnya, sambil mengabaikan janji dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) untuk pelucutan senjata secara penuh. Ia memperingatkan bahwa perang di Ukraina telah membawa dunia ke “tebing nuklir” yang paling berbahaya sejak Krisis Misil Kuba (Chomsky & Polychroniou, 2024, p. 42). Ia membongkar ancaman trilogi: nuklir, iklim, dan demokrasi yang tersandera.
Ancaman kedua, yang bergerak lebih lambat tetapi tak kalah mematikan, adalah bencana iklim. Chomsky menolak narasi yang menyebutnya sebagai “perubahan iklim” yang netral, dan dengan tegas menyebutnya “krisis iklim” atau bahkan “darurat peradaban”. Ia menghubungkan akarnya secara langsung pada logika kapitalisme neoliberal yang haus akan pertumbuhan tak terbatas dan ekstraksi sumber daya. Sistem ini, menurutnya, memperlakukan atmosfer sebagai “tempat pembuangan gratis” untuk emisi karbon (a free dumping ground), mengorbankan stabilitas planet untuk keuntungan jangka pendek korporasi energi fosil. Chomsky mengutip laporan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim) yang menyimpulkan bahwa kita telah membuang-buang waktu yang berharga dan tindakan drastis diperlukan sekarang (IPCC, 2023). Ia menyoroti ketidakadilan yang mencolok: komunitas termiskin dan paling rentan di Global South, yang paling sedikit menyumbang emisi, justru menanggung beban terberat dari kekeringan, banjir, dan kenaikan permukaan laut.
Ketiga, Chomsky mengidentifikasi kemerosotan demokrasi sebagai ancaman yang memper-parah dua yang pertama. Di bawah neoliberalisme, kekuasaan telah terkonsentrasi secara ekstrem di tangan oligarki korporat dan miliarder. Mereka membajak proses politik melalui lobi, pendanaan kampanye, dan kontrol media, memastikan kebijakan pemerintah melayani kepentingan mereka, bukan rakyat banyak. “Kita telah beralih dari demokrasi menuju plutokrasi,” tulisnya (Chomsky & Polychroniou, 2024, p. 118). Erosi ruang publik ini membuat mustahil untuk merumuskan respons kolektif yang rasional dan berani terhadap krisis nuklir dan iklim. Publik menjadi teralienasi, sinis, dan mudah diarahkan pada politik identitas dan perpecahan oleh para demagog.
“Transisi yang Adil”: Jalan Keluar dari Labirin
Di sinilah konsep “Transisi yang Adil” (Just Transition) muncul sebagai inti dari solusi Chomsky. Ini bukan sekadar beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Ini adalah transformasi menyeluruh dari struktur ekonomi dan sosial kita. Chomsky membayangkan:
- Demokratisasi Ekonomi: Pekerja dan komunitas harus memiliki suara dan kepemilikan dalam transisi energi. Ini berarti mendukung koperasi, kepemilikan publik atas utilitas penting, dan menciptakan pekerjaan hijau yang bermartabat. “Tidak ada yang boleh ditinggalkan,” tegasnya, merujuk pada pekerja di industri ekstraktif yang harus dijamin masa depannya.
- Mobilisasi Besar-besaran seperti Perang: Menghadapi krisis yang setara dengan perang dunia, diperlukan mobilisasi sumber daya publik yang masif—mirip dengan New Deal Roosevelt atau mobilisasi masa perang—untuk membangun infrastruktur energi bersih, transportasi umum, dan grid yang tangguh.
- Mengakhiri Imperialisme Ekologis: Negara-negara kaya Utara Global memiliki “utang ekologis”kepada Selatan Global karena eksploitasi historis sumber daya dan pemanfaatan ruang atmosfer yang tidak adil. Transisi yang adil mensyaratkan transfer teknologi dan pendanaan yang besar dan tanpa syarat untuk membantu negara berkembang melompati fase bahan bakar fosil.
- Memperkuat Solidaritas Internasional: Ancaman global membutuhkan solusi global. Chomsky menganjurkan revitalisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sistem multilateral, membebaskannya dari cengkeraman kekuatan adidaya, untuk mengoordinasikan pelucutan nuklir dan aksi iklim.
Dari Kata ke Aksi: Relevansi dan Prospek Gagasan Chomsky
Gagasan Chomsky dalam buku ini terdengar sangat relevan di Indonesia dan dunia saat ini. Di tanah air, kita menyaksikan konflik agraria, deforestasi untuk perkebunan skala besar, dan polusi dari industri ekstraktif—semuanya adalah manifestasi lokal dari sistem global yang dikritik Chomsky. Sementara pemerintah mengeluarkan jargon “ekonomi hijau” dan “net-zero emission,” realitas di lapangan seringkali masih didominasi oleh bisnis seperti biasa (business-as-usual). Chomsky mengingatkan kita bahwa tanpa mendobkar struktur kekuasaan yang memungkinkan korporasi mengendalikan kebijakan, janji-janji hijau hanya akan menjadi “greenwashing” belaka.
Prospek untuk mewujudkan “masa depan yang layak huni” ini suram tetapi bukan tanpa harapan. Chomsky sendiri, meski pesimis terhadap elit yang berkuasa, menyimpan keyakinan pada kekuatan gerakan sosial dari bawah. Ia sering mengutip kebangkitan gerakan buruh, perlawanan masyarakat adat, dan militansi kaum muda seperti dalam Global Climate Strike sebagai sumber harapan. “Tugas intelektual,” katanya, “adalah untuk mengatakan kebenaran dan mengungkap kebohongan” (Chomsky, 1989). Buku ini adalah pemenuhan tugas itu—sebuah upaya untuk menerangi jalan, seberapa gelap pun, menuju kemungkinan.
Gema dari Berbagai Suara: Perspektif Lintas Disiplin dan Budaya
Kritik Chomsky terhadap sistem yang merusak menemukan gema dalam suara-suara lain sepanjang zaman. Aktivis dan intelektual Muslim seperti Dr. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, dengan konsep “social business”-nya, juga menyerang akar keserakahan kapital-isme dengan menawarkan model bisnis yang berorientasi pada pemecahan masalah sosial dan lingkungan (Yunus, 2007). Dari kalangan filsuf, Naomi Klein dalam “This Changes Everything: Capitalism vs. The Climate” (2014) berargumen serupa bahwa krisis iklim adalah katalis terbaik untuk membangun gerakan yang menuntut dunia yang lebih adil. Sementara itu, penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono, dengan puisinya yang melankolis tentang alam yang terusir, mengungkapkan kehilangan yang personal akibat pembangunan yang tak berperasaan: “kabut pagi terakhir telah kau hirup, lalu pergi, dan tak kembali” (Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni).
Dari tradisi Islam, konsep “khalifah” (stewardship) di bumi menekankan tanggung jawab manusia untuk memelihara, bukan mengeksploitasi, alam semesta. Al-Ghazali, teolog dan filsuf besar, mengingatkan bahwa keadilan (‘adl) adalah fondasi segala sesuatu, dan ketidakadilan terhadap bumi dan sesama manusia adalah kezaliman yang akan merusak tatanan (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din). Pandangan ini selaras dengan seruan Chomsky untuk keadilan ekologis dan sosial.
Benang Kusut Mesin, Perang, dan Ancaman Demokrasi: Sintesis Peringatan Chomsky
Dalam labirin dunia modern yang semakin kompleks, Noam Chomsky, lewat kumpulan esai yang disunting C.J. Polychroniou, memetakan beberapa ancaman paling pelik yang menggerogoti fondasi masa depan kita. Analisisnya tidak berjalan di lorong yang terpisah, melainkan saling menjalin, membentuk gambaran suram tentang sebuah peradaban yang terjebak dalam paradoksnya sendiri: menciptakan alat yang bisa menghancurkan atau menyelamatkannya, sambil menggali kuburan bagi tatanan demokrasi yang seharusnya menjadi penjaga keputusan kolektif.
Salah satu paradoks paling mencolok itu hadir dalam wujud Kecerdasan Buatan (AI). Dalam bab “Artificial Intelligence: Myth, Reality, and Future,” Chomsky membedah dengan dingin euforia yang menyelimuti teknologi ini. Bagi banyak orang, AI adalah “mitos” dewa penyelamat baru—mesin yang akan memecahkan semua masalah kompleksitas manusia. Namun, Chomsky menelanjangi realitas di baliknya: AI kontemporer, khususnya model bahasa besar (Large Language Models), pada dasarnya adalah mesin statistik canggih yang mahir memprediksi dan menggabungkan pola, bukan entitas yang memahami atau bernalar. “Mereka adalah parodi dari kecerdasan,” kira-kira begitulah kritiknya, karena mereka mengabaikan prinsip sebab-akibat dan pembangunan pengetahuan yang sistematis, yang menjadi ciri kecerdasan manusia sesungguhnya.
Lebih mengkhawatirkan, kekuatan komputasi yang luar biasa ini justru berpotensi memper-dalam jurang ketidakadilan dan kendali. AI bisa menjadi alat surveilans dan manipulasi yang sempurna di tangan korporasi atau negara otoriter, mengikis privasi dan mempertajam bias sosial yang sudah ada. Di tengah krisis iklim yang mendesak, alokasi sumber daya dan perhatian publik yang masif ke dalam “lomba senjata AI” antar raksasa teknologi dan negara-negara adidaya dinilainya sebagai sebuah pengalihan yang berbahaya. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI bisa mencapai kecerdasan umum (Artificial General Intelligence), tetapi apakah kita, sebagai masyarakat, cukup cerdas untuk mengarahkan teknologi ini demi kebaikan bersama, dan mencegahnya menjadi alat penindas baru.
Namun, obsesi pada persaingan teknologi hanyalah satu gejala dari penyakit geopolitik yang lebih akut. Hal ini nyata dalam sorotan Chomsky terhadap Perang Rusia-Ukraina dan respons Barat dalam esai “A Stronger NATO Is the Last Thing We Need.” Setahun setelah invasi, narasi yang dominan di blok Barat adalah perlunya memperkuat NATO sebagai benteng pertahanan.
Chomsky menolak logika ini dengan keras. Memperkuat aliansi militer tertutup yang bersifat ekspansif, menurutnya, bukanlah jalan menuju perdamaian, melainkan resep untuk eskalsasi dan pembekuan konflik yang berbahaya. Ia melihat perang ini sebagai buah dari kegagalan diplomasi, ketidakmampuan serius untuk membangun arsitektur keamanan Eropa yang inklusif—satu yang memperhitungkan kepentingan dan kekhawatiran keamanan Rusia, betapa pun tidak dapat diterima agresinya. Solusi militer, baginya, hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, bahkan konfrontasi nuklir. Dalam bayangan perang inilah pertanyaan judul buku, “Is a Livable Future Still Possible?” bergema paling keras. Sebuah masa depan yang layak jelas mustahil jika dunia terus terjebak dalam dinamika permainan nol-sum dan perimbangan teror dari era Perang Dingin yang telah usang.
Ancaman terhadap “masa depan yang layak” tidak hanya datang dari perang konvensional atau mesin pintar, tetapi juga dari dalam rumah demokrasi itu sendiri. Bab “Right-Wing Insurrection in Brazil Held Strong Echoes of January 6” dengan jelas menunjukkan hal ini. Chomsky menarik garis paralel yang mengerikan antara serangan terhadap Capitol AS pada 6 Januari 2021 dan kerusuhan pendukung Bolsonaro di gedung-gedung pemerintahan Brasil pada Januari 2023. Keduanya bukanlah insiden spontan, melainkan puncak dari gunung es propaganda, politik kebencian, dan penolakan terhadap realitas yang sengaja dipupuk oleh figur otoriter populis dan jaringan media yang mendukungnya. Peristiwa-peristiwa ini membuktikan betapa rapuhnya institusi demokrasi ketika dihadapkan pada gerakan yang secara terang-terangan menolak legitimasi hasil pemilihan umum dan norma-norma dasar peradaban politik.
Gema antara Brasília dan Washington, D.C., menunjukkan bahwa virus politik ini adalah pandemi global. Virus ini menggerogoti kapasitas kolektif suatu bangsa untuk berpikir jernih, apalagi untuk bersatu menghadapi tantangan eksistensial seperti perubahan iklim atau ancaman perang nuklir. Bagaimana mungkin sebuah masyarakat dapat merancang “transisi yang adil” menuju energi bersih atau menegosiasikan pelucutan senjata, jika dasar percakapan rasional dan kepercayaan pada proses demokratis telah dihancurkan?
Dengan demikian, keempat bab ini saling berkait seperti sebuah lingkaran setan. Kecerdasan Buatan yang tak terkendali dapat menjadi alat untuk memanipulasi opini publik dan memecah belah. Eskalasi militer di Ukraina mengalihkan sumber daya dan perhatian dari krisis planet, sambil meningkatkan risiko katastropik. Sementara itu, kebangkitan sayap kanan otoriter meracuni sumur demokrasi, sehingga masyarakat menjadi lumpuh dan tidak mampu merumuskan respons yang rasional terhadap ancaman-ancaman tersebut. Chomsky, melalui analisis yang terhubung ini, mengajak kita melihat bahwa pertarungan untuk masa depan tidak terjadi di satu medan perang saja. Pertarungan itu terjadi secara simultan: di laboratorium algoritma, di meja perundingan (atau ketiadaan meja perundingan) geopolitik, dan di ruang publik yang semakin terpolarisasi. Masa depan yang layak huni hanya mungkin jika kita berhasil memenangkan pertarungan di semua lini ini secara bersamaan—mengendalikan teknologi kita, mendamaikan geopolitik kita, dan menyembuhkan demokrasi kita. Ini adalah tugas yang monumental, dan kesadaran akan keterkaitan tantangan inilah yang menjadi langkah pertama yang penting.
Dari Jalan Buntu ke Jalan Keluar: Sintesis Visi dan Resistensi Chomsky
Jika bagian-bagian sebelumnya dalam buku “A Livable Future is Possible” bagaikan diagnosis mendalam terhadap penyakit peradaban kita—krisis iklim, ancaman nuklir, erosi demokrasi—maka rangkaian esai yang dikutip ini berfungsi sebagai peta jalan terapi dan sekaligus sorotan terhadap infeksi yang paling akut. Di sini, Noam Chomsky tidak hanya mengutuk kegelapan, tetapi menyalakan sejumlah lilin harapan, sekaligus memperingatkan kita tentang betapa dekatnya jurang yang kita tepi.
Peringatan paling serius datang dari analisis politik domestik Amerika Serikat. Dalam “We’re on the Road to a Form of Neofascism” dan “Midterms Could Determine Whether US Joins Ominous Global Fascist Wave”, Chomsky menyoroti gejala yang mengkhawatirkan bukan hanya di Brasil, tetapi di jantung kekuatan demokrasi liberal itu sendiri. Ia melihat pola yang mengarah pada “neofasisme”—bukan tirani klasik abad ke-20, tetapi sebuah bentuk otoritarianisme yang memanfaatkan kerangka demokrasi untuk melumpuhkannya dari dalam.
Ciri-cirinya adalah: penolakan terhadap legitimasi pemilu, kultus pemimpin yang kuat, mobilisasi berdasarkan politik identitas dan ketakutan, serta serangan sistematis terhadap pers independen dan kebenaran faktual. Pemilihan paruh waktu (midterms) AS, baginya, bukan sekadar pergantian kursi di Kongres, melainkan sebuah referendum tentang apakah Amerika akan menolak atau merangkul gelombang global menuju otoritarianisme yang juga terlihat di negara-negara seperti Hungaria, India, dan Turki. Ini adalah pertahanan garis depan untuk ruang demokrasi yang menjadi prasyarat mutlak untuk mengatasi semua krisis lainnya.
Namun, kegagalan AS tidak hanya terlihat di dalam negeri. Kebijakan luar negerinya, sebagaimana dikritik dalam “US Sanctions on Iran Don’t Support the Protests, They Deepen Suffering” dan “Twenty Years after Iraq War Vote, US Continues to Flout International Law”, justru seringkali memperdalam siklus kekerasan dan penderitaan, serta mengikis tatanan global. Chomsky menegaskan bahwa sanksi ekonomi menyeluruh—seperti yang diterapkan pada Iran—adalah “instrumen perang ekonomi” yang kejam, yang dampak terberatnya justru ditanggung oleh rakyat biasa, bukan rezim yang menjadi target. Alih-alih mendukung aspirasi demokratis para pemrotes Iran, sanksi justru mempersulit hidup mereka dan memberi alat propaganda pada pemerintah untuk menyalahkan kesulitan ekonomi pada “musuh dari luar”.
Sementara itu, warisan invasi Irak 2003 masih membayangi: sebuah tindakan yang oleh Chomsky dianggap sebagai “kejahatan perang terburuk abad ke-21” yang dilakukan dengan mengabaikan hukum internasional. Kenyataan bahwa AS terus-menerus lolos dari akuntabilitas untuk tindakan semacam itu, menurutnya, merusak kredibilitasnya sebagai penjaga tatanan dan mendorong negara lain untuk juga berlaku semaunya.
Dua kegagalan besar ini—gerusan demokrasi dari dalam dan kebijakan luar negeri yang destruktif—secara langsung membajak kapasitas untuk menyelesaikan krisis global yang mendesak. Esai “Options for Diplomacy Decline as Russia’s War on Ukraine Escalates” menggambarkan konsekuensinya. Chomsky dengan pilu mencatat bagaimana jalan diplomasi semakin menyempit seiring dengan eskalasi militer dan retorik perang. Ia mengkritik blok Barat karena terlalu mengandalkan pemasokan senjata dan isolasi total Rusia, sementara hampir tidak ada upaya diplomatik serius yang diajukan untuk mengakhiri pertumpahan darah. Hilangnya saluran dialog ini, ditambah dengan politik dalam negeri yang semakin panas di berbagai negara, membuat dunia berjalan tertatih-tatih di tepi konflik yang lebih luas.
Lalu, di tengah kabar buruk yang bertubi-tubi ini, apakah benar “Another World Is Possible”, seperti yang ditegaskan judul satu esainya? Di sinilah Chomsky beralih dari kritik ke konstruksi. Jawabannya, ia yakini, adalah “ya”, tetapi dengan syarat. Harapan itu tidak datang dari elit yang berkuasa, melainkan dari kebangkitan gerakan sosial dari bawah. Dalam konteks krisis iklim, seperti yang dibahas dalam “Pushing a Viable Climate Project around COP27″, Chomsky melihat bahwa konferensi tingkat tinggi seperti COP seringkali dikooptasi oleh kepentingan korporasi fosil dan menghasilkan komitmen yang tidak memadai. “Proyek iklim yang layak” tidak akan lahir dari ruang ber-AC semata, tetapi dari tekanan publik yang terorganisir, pemogokan iklim kaum muda, perjuangan masyarakat adat, dan upaya lokal untuk transisi energi yang adil. Ini adalah politik harapan yang realistik—bukan berharap pada kemurahan hati penguasa, tetapi pada kekuatan rakyat yang terorganisir untuk memaksa perubahan.
Oleh karena itu, sintesis dari bab-bab ini adalah sebuah narasi dualitas: di satu sisi, kita berada di persimpangan yang berbahaya, di mana fasisme baru mengintai, kebijakan luar negeri yang arogan memperkeruh konflik, dan diplomasi sekarat. Di sisi lain, jalan alternatif itu ada dan sedang diperjuangkan. “Dunia lain” yang mungkin itu adalah dunia di mana kedaulatan hukum internasional ditegakkan, sanksi yang membunuh rakyat biasa diakhiri, dan konflik diselesaikan dengan negosiasi, bukan senjata. Dunia itu adalah dunia di mana demokrasi diperdalam, bukan dikhianati, dan transisi ekologis yang adil didorong oleh mobilisasi warga, bukan ditunda oleh lobi korporasi.
Chomsky mengajak kita untuk melihat kedua realitas ini sekaligus: melihat betapa dekatnya kita pada kegelapan, tetapi juga mengenali benang-benang cahaya yang ditenun oleh perlawanan dan solidaritas di seluruh penjuru dunia. Tugas kita, menurutnya, adalah untuk memperkuat benang-benang itu, merajutnya menjadi kekuatan yang tak terbendung, dan dengan demikian, benar-benar “mewujudkannya menjadi kenyataan”. Masa depan yang layak huni bukanlah takdir, melainkan pilihan—dan pilihan itu dibuat melalui setiap aksi kolektif yang menolak neofasisme, menuntut diplomasi, dan memperjuangkan keadilan iklim.
Tetapi ada juga paradoks kekuatan: ketika ketakutan akan kehilangan dominasi menjadi kendali politik. Dalam keseluruhan arsitektur analisis Noam Chomsky tentang dunia abad ke-21 di “A Livable Future is Possible”, terdapat satu penopang utama yang membentuk hampir seluruh bangunan kebijakan global—yakni ketakutan mendalam Amerika Serikat terhadap penurunan hegemoninya. Dan ketakutan ini, seperti sinar matahari yang dibiaskan melalui prisma, terpecah menjadi berbagai spektrum kebijakan yang sering kali kontradiktif dan berbahaya, terutama karena menyibukkan dunia dengan persaingan palsu sambil mengabaikan ancaman yang benar-benar eksistensial.
Spektrum yang paling terang dan paling menentukan adalah ketakutan akan kebangkitan China, yang menurut Chomsky dalam esai “Twenty-First-Century US Foreign Policy Is Shaped by Fears of China’s Rise”, menjadi poros utama kebijakan luar negeri AS di era ini. Ini bukan lagi persaingan ekonomi biasa, melainkan sebuah “containment” yang diselimuti narasi perang dingin baru. Washington melihat setiap langkah Beijing—dari ambisi teknologi “Made in China 2025” hingga inisiatif Belt and Road—sebagai ancaman langsung terhadap tatanan dunia yang dipimpin AS. Responsnya, seperti yang diuraikan dalam “The ‘Historic’ NATO Summit in Madrid Shored Up US Militarism”, adalah dengan memperkuat dan memperluas aliansi militer yang sudah ada. KTT NATO di Madrid 2022 dinilai Chomsky sebagai momen ketika aliansi yang seharusnya bertahan di Atlantik Utara itu secara resmi mengalihkan perhatiannya ke “Tantangan Sistematis” dari China di Indo-Pasifik. Bagi Chomsky, ini bukan langkah defensif, melainkan penegasan kembali militarisme AS yang berusaha mempertahankan dominasi globalnya dengan segala cara, memaksa sekutu-sekutu Eropa untuk mengikuti agendanya di kawasan yang bukan merupakan mandat historis mereka.
Ironisnya, obsesi ini terjadi di tengah kelumpuhan domestik AS dalam menghadapi ancaman yang jauh lebih nyata. Dalam “US Government’s Nonresponse to Climate Crisis Has Historical Precedent“, Chomsky menggali akar dari kelumpuhan ini. Ia menemukan pola yang sudah berulang: penolakan terhadap sains dan tindakan kolektif yang mendesak karena bertentangan dengan dogma pasar bebas dan kepentingan korporat. Sama seperti pemerintah AS pernah lama menyangkal bahaya asap rokok atau hujan asam, kini mereka—terlepas dari retorika—terus menunda tindakan nyata terhadap krisis iklim karena tekanan dari industri fosil dan komitmen ideologis pada pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas. Akibatnya, sebagaimana diperingatkan dalam “Humanity Faces Two Existential Threats. One Is Nearly Ignored”, dunia terfokus pada persaingan geopolitik AS-China (“ancaman nomor satu yang hampir diabaikan“), sambil mengabaikan percepatan bencana iklim yang sudah menghantam di depan mata. Ini adalah sebuah pengalihan perhatian yang membunuh secara kolektif.
Kelumpuhan dan obsesi yang sama terlihat dalam kebijakan di kawasan lain, yang menunjukkan konsistensi yang mengkhawatirkan terlepas dari pergantian presiden. “Biden’s Middle East Trip Contains Echoes of Trump’s Policies” mengungkap hal ini. Meskipun Biden datang dengan janji untuk mengembalikan nilai-nilai diplomasi dan hak asasi manusia, kunjungannya ke Timur Tengah pada kenyataannya justru memperkuat kemitraan dengan negara-negara otoriter seperti Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk mengamankan aliran minyak dan membangun aliansi anti-Iran, sebuah pola realpolitik yang persis seperti era Trump. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi ketakutan akan kehilangan pengaruh, logika hegemoni dan kepentingan strategis jangka pendek selalu mengalahkan prinsip-prinsip demokrasi dan stabilitas jangka panjang.
Dengan demikian, sintesis dari bagian-bagian ini menggambarkan sebuah lingkaran setan kekuasaan yang sedang panik. Ketakutan akan penurunan hegemoninya mendorong AS untuk memperkuat kaki militernya (memperluas NATO, bersekutu dengan rezim otoriter) dan memusatkan segala sumber daya pada persaingan dengan China. Obsesi ini, pada gilirannya, membutakan dan melumpuhkannya untuk bertindak terhadap ancaman eksistensial sejati seperti krisis iklim, yang justru membutuhkan kerja sama global, bukan kompetisi. Kebijakan luar negeri menjadi sebuah mesin yang terus mengonsumsi energi dan perhatian untuk mempertahankan status quo kekuasaan, sambil secara aktif mengabaikan badai besar yang mengancam akan menghancurkan panggung tempat persaingan itu berlangsung.
Chomsky pada dasarnya menunjukkan bahwa jalan menuju masa depan yang tidak layak huni sedang diaspal dengan batu bata ketakutan akan kehilangan dominasi. Ketika sebuah kekuatan adidaya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merencanakan perang dan aliansi melawan “saingan” daripada memobilisasi sumber dayanya untuk melawan krisis iklim, ia bukan hanya mengkhianati rakyatnya sendiri, tetapi juga mengutuk seluruh umat manusia pada sebuah permainan yang sia-sia—di mana kemenangan terakhir mungkin hanya berarti menjadi penguasa terakhir di atas puing-puing sebuah planet yang sudah tak lagi bisa dihuni.
Catatan Akhir: Sebuah Panggilan untuk Kesadaran dan Aksi Kolektif
A Livable Future is Possible bukanlah buku yang memberi kenyamanan. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah suram peradaban kita yang terpecah dan rakus. Namun, di dalam pantulan itu, Chomsky juga menunjukkan sebuah jalan keluar—jalan yang menuntut keberanian, solidaritas, dan imajinasi politik yang radikal. Nasib nelayan tua di Muara Angke dan masa depan cucunya tidak terpisah dari keputusan di forum G20 atau di ruang dewan perusahaan multinasional. Buku ini adalah panggilan untuk menyadari keterkaitan itu dan bertindak sebelum Doomsday Clock benar-benar mencapai tengah malam. Masa depan yang layak huni hanya mungkin jika kita, sebagai kolektivitas manusia, berani melakukan “transisi yang adil”—bukan hanya dalam sistem energi, tetapi dalam hati, pikiran, dan struktur kekuasaan kita. Tantangannya monumental, tetapi seperti kata pepatah yang sering dikutip dalam gerakan keadilan iklim, “Kita adalah orang-orang yang kita tunggu-tunggu”.
Bogor, 24 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Bulletin of the Atomic Scientists. (2023, January 24). Doomsday Clock set at 90 seconds to midnight. https://thebulletin.org/doomsday-clock/current-time/
Chomsky, N. (1989). Necessary illusions: Thought control in democratic societies. South End Press.
Chomsky, N., & Polychroniou, C. J. (2024). A livable future is possible: Confronting the threats to our survival. Haymarket Books.
IPCC. (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Core Writing Team, H. Lee & J. Romero (Eds.)]. IPCC. https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/
Klein, N. (2014). This changes everything: Capitalism vs. the climate. Simon & Schuster.
Sapardi Djoko Damono. (1994). Hujan Bulan Juni. Grasindo.
Yunus, M. (2007). Creating a world without poverty: Social business and the future of capitalism. PublicAffairs.






