Rubarubu #140
The Splendid Book of the Bicycle:
Sistem Hidup yang Selalu Dirakit Ulang
Pada suatu pagi musim panas di akhir abad ke-19, seorang pegawai kantor di London meninggalkan meja kerjanya lebih awal, menggulung lengan kemeja, lalu menuntun sepedanya ke jalan berbatu. Dalam hitungan menit, ia berubah dari roda kecil dalam mesin industri menjadi penjelajah bebas, meluncur ke pedesaan dengan wajah diterpa angin. Adegan-adegan seperti inilah—sederhana namun revolusioner—yang menghidupi semangat The Splendid Book of the Bicycle karya Daniel Tatarsky (Portico, 2016). Buku ini bukan sekadar sejarah alat transportasi; ia adalah perayaan tentang bagaimana dua roda mengubah cara manusia bergerak, memandang dunia, dan memaknai kebebasan.
Dalam bagian pembuka bertajuk “The Joy of Cycling”, Tatarsky menelusuri pengalaman batin yang sulit diukur tetapi mudah dikenali: kegembiraan yang muncul ketika tubuh, mesin, dan lanskap menyatu dalam irama yang hampir musikal. Ia menggemakan pengamatan klasik dari H. G. Wells yang pernah menulis, “Every time I see an adult on a bicycle, I no longer despair for the future of the human race.” Kutipan ini, yang kerap dikaitkan dengan esai Wells “A Vision of the Past” (1902), menjadi semacam motto kultural bagi buku Tatarsky—bahwa sepeda bukan hanya kendaraan, melainkan simbol harapan modernitas yang lebih manusiawi.
“Ada sejumlah momen yang menjadi penanda dalam kehidupan setiap orang. Kenangan masa kecil pertama, hari pertama di sekolah, sebuah ciuman, pernikahan, kelahiran seorang anak. Namun di antara semua kenangan itu, ada satu yang tetap tak terhapuskan – hari ketika Anda pertama kali belajar mengendarai sepeda,” tulis Tatarsky mengenang masa kecilnya. “Itu adalah momen yang menakjubkan ketika keseimbangan tiba-tiba terwujud, rasa takut menghilang, dan Anda seolah-olah dipindahkan secara ajaib melintasi ruang dan waktu. Itu adalah momen pendewasaan – ketika Anda menyingkirkan roda penyeimbang masa kanak-kanak. Tetapi itu juga merupakan saat ketika masa kanak-kanak kedua dimulai. Setiap orang merasa lebih muda, lebih bahagia, dan lebih bebas di atas sepeda. Dibandingkan dengan rutinitas melelahkan berjalan kaki, atau kerumitan mengendarai mobil, sepeda menawarkan bentuk pesona sederhana dalam keseharian. Siapa sangka bahwa sedikit logam, sedikit karet, dan sebuah rantai dapat memberikan hasil yang begitu luar biasa, di mana mengayuh bukanlah beban melainkan kegembiraan.
Dan sementara beberapa penemuan telah tersisih – kereta uap, mungkin sebentar lagi mesin pembakaran dalam – sepeda terus bertahan. Bahkan semakin kuat. Jika produksi mobil dan sepeda berjalan beriringan hingga sekitar tahun 1965, dengan masing-masing sekitar 20 juta unit diproduksi setiap tahun, sejak saat itu sepeda melesat meninggalkan yang lain. Sejak 2003 lebih dari 100 juta sepeda diproduksi setiap tahun, lebih dari dua kali jumlah mobil. Lebih jauh lagi, sepeda tidak pernah benar-benar mati. Sementara mobil segera menjadi usang dan dihancurkan demi memberi jalan bagi model-model baru, sepeda setiap hari direstorasi oleh para penggemar. Ban bocornya ditambal, rantainya dilumasi, setangnya dipoles: terlahir kembali dan kembali pada kejayaannya semula, dan mampu bersaing dengan yang terbaik di antaranya.
Meskipun sederhana, dunia sepeda sama menakjubkan dan seluas kehidupan itu sendiri. Maka selamat datang di The Splendid Book of the Bicycle. Di sini Anda akan belajar bukan hanya tentang sepeda, tetapi juga sejarahnya, pencapaiannya, dan apa yang mungkin akan menjadi wujudnya suatu hari nanti. Anda akan menjelajahi sepeda di masa perang, aerodinamika sepeda, sepeda dalam film, dan para petualang sepeda terbesar sepanjang masa. The Splendid Book of the Bicycle adalah pendamping bagi sahabat terbesar umat manusia (selain anjingnya) – sepedanya.”
Tatarsky merajut kisah dari masa “hobby horse” dan velocipede hingga ledakan sepeda keselamatan (safety bicycle) pada 1890-an—era ketika teknologi rantai dan roda berdiameter seimbang akhirnya menjadikan sepeda stabil, terjangkau, dan demokratis. Ia menempatkan sepeda sebagai mesin revolusioner yang tidak berisik, tidak berasap, dan tidak hierarkis. Berbeda dengan mobil yang kelak mendominasi kota, sepeda tidak menciptakan jarak sosial yang kaku; ia justru membuka ruang pertemuan. Dalam konteks ini, Tatarsky sejalan dengan sejarawan transportasi seperti David V. Herlihy yang dalam The Bicycle: The History menekankan bagaimana sepeda mempercepat mobilitas personal sebelum otomotif mengambil alih.
“The Joy of Cycling” bukan hanya nostalgia. Tatarsky menekankan bahwa kegembiraan bersepeda adalah pengalaman fenomenologis: sensasi meluncur, keseimbangan dinamis, dan keterhubungan dengan topografi jalan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak terpisah dari lingkungan, melainkan menjadi bagian darinya. Pemikir seperti Ivan Illich dalam Energy and Equity (1974) menyebut sepeda sebagai “alat konvivial” yang memperluas otonomi manusia tanpa memperbudaknya pada sistem energi besar. Gagasan Illich membantu menerangi argumen implisit Tatarsky: bahwa sepeda menghadirkan kebebasan yang proporsional—cukup cepat untuk menjangkau dunia, cukup lambat untuk tetap merasakannya.
Secara keseluruhan, The Splendid Book of the Bicycle bergerak lincah antara sejarah teknologi, budaya populer, balap profesional, desain, dan subkultur urban. Tatarsky mengangkat tokoh-tokoh eksentrik, klub sepeda Victoria, hingga demam balap yang melahirkan ikon-ikon seperti Eddy Merckx. Namun ia tidak terjebak dalam kronologi semata; ia memerlihatkan bagaimana sepeda menjadi bagian dari seni, sastra, dan politik tubuh. Ia menyinggung bagaimana sepeda berkontribusi pada emansipasi perempuan di akhir abad ke-19—sejalan dengan pernyataan Susan B. Anthony yang menyebut sepeda telah “done more to emancipate women than anything else in the world.” Dalam lanskap modern, sepeda menjadi simbol keberlanjutan, kota ramah manusia, dan perlawanan halus terhadap dominasi kendaraan bermotor.
Tatarsky juga merayakan estetika sepeda—rangka baja ramping, kilau krom, bunyi klik halus freewheel—sebagai objek desain. Di sini ia beresonansi dengan tradisi apresiasi terhadap mesin sebagai karya seni, seperti yang pernah disinggung oleh Roland Barthes ketika membahas Citroën DS sebagai “katedral modern.” Jika mobil dapat menjadi katedral industri, sepeda dalam buku Tatarsky adalah kapel kecil yang intim—ruang hening tempat manusia dan teknologi berdamai.
Relevansi buku ini pada masa kini semakin kuat. Di tengah krisis iklim dan kemacetan urban, kota-kota dunia—dari Amsterdam hingga Bogotá—menghidupkan kembali infrastruktur sepeda sebagai tulang punggung mobilitas berkelanjutan. Penelitian kontemporer tentang urbanisme berkelanjutan menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan sepeda berkorelasi dengan kualitas udara yang lebih baik dan kesehatan publik yang meningkat (Pucher & Buehler, 2012). Dalam konteks ini, narasi Tatarsky tidak berhenti sebagai sejarah; ia menjadi argumen kultural untuk masa depan.
Prospeknya pun menjanjikan. Sepeda listrik (e-bike) memperluas akses bagi kelompok usia dan jarak yang lebih beragam. Namun, seperti diingatkan oleh Illich, tantangannya adalah menjaga agar teknologi tetap konvivial—tidak menjauhkan manusia dari pengalaman langsung akan ruang dan tubuhnya. Masa depan sepeda, sebagaimana digambarkan secara implisit oleh Tatarsky, bukan hanya tentang inovasi material, tetapi tentang etika mobilitas: bagaimana bergerak tanpa merusak, tanpa mendominasi, dan tanpa kehilangan rasa takjub.
Pada akhirnya, The Splendid Book of the Bicycle adalah ode pada gerak yang sadar. Ia mengajak pembaca mengingat bahwa di antara deru mesin dan percepatan tanpa henti, masih ada cara bergerak yang mengandung kegembiraan sederhana—dua roda, satu tubuh, dan jalan terbuka. Seperti yang ditulis penyair Muslim abad ke-13 Jalaluddin Rumi, “Why do you stay in prison when the door is so wide open?” Sepeda, dalam tafsir Tatarsky, adalah pintu itu—terbuka, ringan, dan menunggu untuk dikayuh.
Pushing Off… dan Meluncur
Dalam bagian awal The Splendid Book of the Bicycle, Daniel Tatarsky mengajak pembaca “pushing off”—sebuah gerakan kecil yang menjadi metafora bagi seluruh sejarah sepeda. Dorongan pertama itu, ketika satu kaki menekan pedal dan tubuh menemukan keseimbangan, adalah momen transisi: dari diam ke gerak, dari ragu ke percaya diri. Dalam “The Joy of Cycling”, Tatarsky melihat pengalaman ini bukan sekadar teknik, tetapi ritus inisiasi. Setiap pesepeda, baik anak kecil di gang sempit maupun komuter di kota besar, mengulang kembali drama kecil modernitas—menguji gravitasi, menemukan irama, dan merasakan kebebasan yang lahir dari keseimbangan dinamis.
Narasi kemudian bergerak mundur ke awal abad ke-19, ketika “hobby horse” atau draisine—ciptaan Karl von Drais—muncul sebagai eksperimen aneh: dua roda sejajar tanpa pedal, digerakkan dengan menjejak tanah. Tatarsky menggambarkannya sebagai mesin peralihan, separuh mainan, separuh wahana eksperimental. Dari sana, evolusi menuju velocipede berpedal—yang dijuluki “boneshaker” karena rangka besi dan roda kayunya yang menghentak jalan berbatu—menandai babak baru. Dalam bagian “Hobby Horse to Boneshaker”, ia menekankan bahwa inovasi teknis selalu beriringan dengan sensasi tubuh: kenyamanan, getaran, risiko jatuh. Sepeda, sejak awal, adalah dialog antara rekayasa dan pengalaman inderawi.
Ledakan berikutnya hadir dalam era “Penny Farthing” atau ordinary bicycle—roda depan raksasa, roda belakang kecil—ikon visual dari 1870–1880-an. Tatarsky membaca bentuk ekstrem ini sebagai simbol ambisi zaman Victoria: semakin besar roda, semakin cepat laju; semakin tinggi posisi pengendara, semakin besar risiko. Dalam bagian “Penny Farthing or Ordinary Bicycle”, ia menyoroti paradoksnya: kendaraan ini memancarkan prestise sekaligus bahaya. Pengendara duduk tinggi di atas poros roda depan, rentan terjungkal dalam “header” yang mencederakan. Sepeda menjadi arena maskulinitas, sportivitas, dan keberanian.
Namun revolusi sejati datang dalam “The Birth of the Safety Bicycle”. Dengan dua roda berukuran sama, rantai penggerak ke roda belakang, dan pusat gravitasi lebih rendah, sepeda keselamatan (safety bicycle) menghadirkan stabilitas yang demokratis. Tatarsky memandang momen ini sebagai titik balik sosial: sepeda menjadi terjangkau dan inklusif, membuka jalan bagi perempuan dan kelas pekerja untuk merasakan mobilitas independen. Dalam alur ini, ia sejalan dengan para sejarawan seperti David V. Herlihy yang melihat safety bicycle sebagai fondasi bagi ledakan “bicycle boom” 1890-an. Transformasi teknis berujung pada transformasi kultural.
Bagian “What Makes a Bike: The Naming of Parts” memperlambat narasi, mengajak pembaca mengamati anatomi sepeda—rangka, fork, crank, chainring, derailleur—seolah-olah membedah organisme hidup. Tatarsky menunjukkan bahwa bahasa teknis bukan sekadar terminologi; ia adalah cara memahami relasi antarbagian yang membentuk harmoni mekanis. Sepeda menjadi sistem yang elegan: sederhana, efisien, hampir minimalis. Keindahan ini diperkuat oleh eksperimen ban angin dalam “Pneumatic Experiments: Dunlop and the Cushioned Ride”. Dengan inovasi ban pneumatik oleh John Boyd Dunlop pada 1888, pengalaman berkendara berubah drastis—dari guncangan keras boneshaker menjadi luncuran empuk. Tatarsky menggambarkan pergeseran ini sebagai revolusi kenyamanan yang mengukuhkan sepeda sebagai moda transportasi praktis sekaligus menyenangkan.
Sementara itu, dalam “Victorian Trick Cyclists”, ia menampilkan sisi teatrikal: para pesepeda akrobat yang mempertunjukkan keseimbangan ekstrem di panggung dan arena. Di sini sepeda menjadi alat hiburan dan tontonan modern, mencerminkan obsesi publik terhadap kecepatan dan keterampilan. Tatarsky tidak hanya melihat mereka sebagai penghibur, tetapi sebagai pionir eksplorasi batas tubuh dan mesin—bayangan awal dari budaya stunt dan BMX masa kini.
Narasi mencapai resonansi kontemporer ketika membahas “Iconic Bikes: The Moulton and Dawes Galaxy”. Moulton bicycle dengan roda kecil dan desain inovatifnya pada 1960-an menantang konvensi ukuran roda besar, menggabungkan teknik modern dengan visi futuristik. Sementara Dawes Galaxy menjadi simbol sepeda touring tangguh—kendaraan jarak jauh yang setia menemani penjelajahan lintas benua. Tatarsky memaknai keduanya sebagai bukti bahwa sepeda selalu berevolusi tanpa kehilangan esensinya: keseimbangan antara fungsi, kenyamanan, dan identitas.
Secara mengalir, seluruh bagian ini membentuk satu argumen implisit: sejarah sepeda adalah sejarah penyempurnaan pengalaman manusia atas ruang dan gerak. Dari hobby horse yang kikuk hingga safety bicycle yang elegan, dari ban keras hingga pneumatik empuk, dari sirkus Victoria hingga touring modern—semuanya menegaskan bahwa inovasi teknis selalu diarahkan pada satu tujuan: memperhalus momen “pushing off”, membuat kebebasan lebih mudah diakses.
Tatarsky tidak menyusunnya sebagai katalog kronologis semata, melainkan sebagai kisah tentang kegembiraan yang bertahan lintas zaman. Sepeda, dalam sintesisnya, adalah mesin yang sederhana namun sarat makna—alat yang menjembatani tubuh dan lanskap, teknologi dan imajinasi. Dan setiap kali seseorang kembali mendorong pedalnya untuk pertama kali setelah lama berhenti, seluruh sejarah itu—boneshaker, penny farthing, safety bicycle, ban Dunlop, hingga Galaxy—seakan berbisik dalam putaran roda yang sama.
Momen Heroik
Dalam bagian “Boldly Going” dari The Splendid Book of the Bicycle, Daniel Tatarsky menggeser fokus dari evolusi mesin ke perluasan cakrawala manusia. Sepeda tidak lagi sekadar objek teknis atau simbol gaya hidup, melainkan kendaraan penjelajahan—alat untuk menembus batas geografis dan mental. Narasi ini mencapai puncaknya dalam kisah “Around the World on a Bicycle: The Extraordinary Thomas Stevens”, yang oleh Tatarsky dibingkai sebagai momen heroik sekaligus eksentrik dalam sejarah mobilitas modern.
Pada 1884, Thomas Stevens berangkat dari San Francisco dengan sebuah penny farthing—kendaraan tinggi dan rapuh yang bahkan di jalan kota pun berisiko. Tatarsky menekankan keberanian nyaris nekat dari perjalanan ini: melintasi Amerika Serikat, menyeberang lautan, dan terus mengayuh melalui Eropa, Timur Tengah, India, hingga Asia Timur. Dunia pada akhir abad ke-19 belumlah terpetakan secara mudah bagi pelancong individu; perjalanan Stevens bukan hanya soal jarak, tetapi juga negosiasi budaya, bahasa, dan politik kolonial. Dalam sintesis Tatarsky, Stevens bukan sekadar atlet atau petualang, melainkan figur yang menandai lahirnya pesepeda sebagai “global citizen”—individu modern yang memercayakan nasibnya pada dua roda dan tekad pribadi.
Dari sini, bagian “Across Asia by Bicycle: American Innocents Abroad” memperluas perspektif itu. Tatarsky menampilkan para pesepeda Amerika yang menjelajah Asia dengan semangat campuran antara rasa ingin tahu dan kepolosan khas zaman imperium. Judulnya menggemakan ironi: “innocents abroad” bukan berarti tanpa konsekuensi. Dalam narasi ini, sepeda menjadi alat perjumpaan lintas budaya, tetapi juga cermin pandangan Barat terhadap Timur. Tatarsky tidak menghakimi, namun menyiratkan bahwa setiap perjalanan membawa bias zamannya. Sepeda membuka akses, namun tidak otomatis menghapus prasangka.
Di sinilah muncul gagasan “Cycle Touring: On the Road to Nowhere in Particular”. Jika Stevens melambangkan ambisi epik, maka touring justru merayakan ketidakbertujuan. Tatarsky melihat keindahan dalam perjalanan tanpa target heroik—mengayuh demi pengalaman itu sendiri. Jalan desa, angin samping, percakapan singkat di kedai kecil—semuanya menjadi inti makna. Touring adalah bentuk kebebasan yang lebih sunyi: bukan menaklukkan dunia, tetapi berdamai dengannya. Dalam gaya deskriptifnya, Tatarsky menegaskan bahwa sepeda memberi kecepatan yang “cukup lambat untuk melihat, cukup cepat untuk melampaui”—irama yang memungkin-kan refleksi tanpa stagnasi.
Bagian “The Art of the Bicycle” kemudian menyempurnakan sintesis ini dengan menunjukkan bahwa sepeda tidak hanya mengubah geografi, tetapi juga imajinasi visual dan estetika modern. Poster-poster Art Nouveau, ilustrasi majalah, hingga fotografi awal menempatkan sepeda sebagai ikon kemajuan. Tatarsky memandangnya sebagai objek seni sekaligus subjek seni: desain rangka yang bersih, roda simetris, dan siluet pengendara menjadi metafora keseimbangan dan harmoni. Sepeda masuk ke kanvas dan lensa, menjadi simbol kebebasan, emansipasi, bahkan sensualitas gerak.
Jika seluruh bagian ini dirajut menjadi satu alur, terlihat bahwa Tatarsky ingin menunjukkan transformasi makna sepeda dari mesin ke mitos. “Boldly Going” berbicara tentang keberanian individual; Stevens menjadi arketipe pengembara modern. “Across Asia” memperlihatkan kompleksitas perjumpaan global; sepeda sebagai jembatan sekaligus cermin bias. “On the Road to Nowhere in Particular” menekankan nilai perjalanan sebagai tujuan itu sendiri; sepeda sebagai medium kontemplasi. Dan “The Art of the Bicycle” mengukuhkan bahwa semua itu—petualangan, refleksi, estetika—terjalin dalam satu simbol budaya yang lentur.
Dalam sintesis Tatarsky, sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan perangkat naratif: ia menggerakkan cerita. Setiap putaran roda menyimpan kemungkinan—untuk menantang batas, untuk tersesat dengan sengaja, untuk melihat dunia sebagai lanskap estetis. Dari jalan berbatu yang dilalui Stevens hingga jalur pedesaan tanpa nama, sepeda menghadirkan dunia dalam skala manusia. Dan di situlah, menurut alur pemikiran bagian-bagian ini, terletak daya tahannya: dua roda yang sederhana, namun mampu membawa imajinasi sejauh cakrawala.
Sepeda dan Masyarakat
Dalam bagian “Bikes and Society” dari The Splendid Book of the Bicycle, Daniel Tatarsky mengajak pembaca keluar dari bengkel dan arena balap, lalu masuk ke jantung kehidupan sosial. Sepeda di sini bukan lagi sekadar mesin elegan atau wahana petualangan, melainkan infrastruktur kultural—alat kerja, simbol emansipasi, instrumen perang, dan bahkan guru kesabaran sehari-hari.
Dalam “Getting Around: The Bicycle Across the Globe”, Tatarsky memetakan bagaimana sepeda berakar dalam konteks yang sangat berbeda-beda. Di kota-kota Eropa, ia menjadi simbol transportasi beradab dan ramah lingkungan; di Tiongkok dan Asia Tenggara, ia pernah menjadi tulang punggung mobilitas massal; di Afrika dan Amerika Latin, ia berfungsi sebagai alat ekonomi—mengangkut air, hasil panen, atau keluarga. Narasi Tatarsky menekankan universalitas sepeda: dua roda yang sama, tetapi maknanya ditentukan oleh lanskap sosial yang dilaluinya. Ia menunjukkan bahwa sepeda bertahan bukan karena romantisme semata, melainkan karena efisiensi dan adaptabilitasnya dalam menghadapi ketimpangan infrastruktur global.
Namun kehidupan sosial sepeda tidak selalu heroik. Dalam “Zen and the Art of Puncture Repair”, Tatarsky menyelipkan humor sekaligus filsafat keseharian. Ban bocor—gangguan kecil yang hampir pasti dialami setiap pesepeda—menjadi metafora tentang ketahanan dan perhatian. Memperbaiki tusukan kecil pada ban memerlukan kesabaran, keterampilan, dan penerimaan bahwa perjalanan selalu rentan. Tatarsky menggarisbawahi dimensi meditatif dari tindakan ini: sepeda mendidik penggunanya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada sistem eksternal, melainkan memahami dan merawat mesinnya sendiri. Dalam ritme itu, sepeda menjadi sekolah kemandirian.
Kontras yang tajam muncul dalam “Bicycles on the Warpath”. Tatarsky mengingatkan bahwa sepeda tidak selalu hadir sebagai simbol damai. Pada akhir abad ke-19 hingga Perang Dunia, sepeda digunakan militer untuk mobilitas cepat dan senyap. Unit infanteri bersepeda dapat bergerak tanpa suara mesin, membawa pesan atau logistik dengan efisiensi tinggi. Dalam sintesisnya, Tatarsky memperlihatkan ambiguitas teknologi: alat yang sama yang membebaskan individu juga dapat dimobilisasi untuk konflik. Sepeda, seperti banyak inovasi modern, tidak netral; ia mengikuti arah nilai yang mengendalikannya.
Sementara itu, dalam “Smart Lad Wanted’: Delivery Boys, Bobbies and Posties”, sepeda tampil sebagai kendaraan kelas pekerja dan pelayanan publik. Tatarsky menggambarkan bagaimana kurir, polisi (“bobbies”), dan tukang pos menjadikan sepeda bagian dari rutinitas profesional mereka. Iklan lowongan kerja yang meminta “smart lad” menyiratkan bukan hanya kecakapan fisik, tetapi juga keandalan dan disiplin. Sepeda memungkinkan distribusi barang dan pesan dengan kecepatan yang sebelumnya tak terbayangkan, mempercepat denyut kota modern. Ia menjadi tulang punggung logistik urban sebelum kendaraan bermotor mengambil alih.
Dimensi emansipatoris mencapai puncaknya dalam kisah “‘Elastic and Active’: Annie Londonderry and Rational Clothing”. Di sini Tatarsky menghadirkan Annie Londonderry sebagai figur revolusioner. Pada 1894, Annie bersepeda mengelilingi dunia—sebuah tindakan yang mengguncang norma gender zamannya. Ia meninggalkan rok berat tradisional demi pakaian “rasional” yang lebih praktis dan fungsional. Tatarsky menafsirkan langkah ini bukan sekadar pilihan busana, tetapi pernyataan politik: tubuh perempuan menuntut ruang gerak. Sepeda memberi perempuan kebebasan mobilitas, sekaligus mempercepat perdebatan tentang pakaian, hak, dan identitas. Dalam kisah Annie, dua roda menjadi alat negosiasi antara tradisi dan modernitas.
Jika keseluruhan bagian ini dirajut menjadi satu alur, terlihat bahwa Tatarsky sedang menyusun potret sepeda sebagai agen sosial yang lentur dan penuh paradoks. Ia menghubungkan desa dan kota, perang dan damai, kerja dan kebebasan, rutinitas dan petualangan. Sepeda bisa menjadi alat negara atau simbol pembebasan; bisa menjadi instrumen ekonomi atau medium meditasi pribadi.
Dalam sintesis Tatarsky, kekuatan sepeda terletak pada kesederhanaannya. Karena ia tidak terlalu mahal, tidak terlalu kompleks, dan tidak terlalu cepat, sepeda mudah diadopsi oleh berbagai kelas dan budaya. Ia menyelinap ke dalam struktur masyarakat dan mengubahnya secara halus. Dari ban bocor yang diperbaiki dengan sabar hingga perjalanan keliling dunia yang menantang norma, sepeda membentuk masyarakat sekaligus dibentuk olehnya.
Dengan demikian, “Bikes and Society” menegaskan bahwa sejarah sepeda adalah sejarah relasi—antara individu dan kota, antara teknologi dan etika, antara tubuh dan kebebasan. Tatarsky menunjukkan bahwa di balik rangka baja yang sederhana, tersembunyi kisah tentang kerja keras, perlawanan, disiplin, dan harapan. Dua roda itu terus berputar, dan bersama putarannya, masyarakat pun ikut berubah.
Dalam bagian “Science and Technology” dari The Splendid Book of the Bicycle, Daniel Tatarsky menggeser perhatian dari sejarah sosial menuju laboratorium, velodrom, dan tubuh manusia. Namun seperti pada bagian-bagian sebelumnya, ia tidak memperlakukan sains sebagai wilayah dingin dan terpisah. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi justru memperdalam drama manusia yang melekat pada dua roda.
Pada “Balance: Einstein-a-go-go”, Tatarsky mengangkat paradoks sederhana yang memesona: mengapa sepeda tidak jatuh ketika bergerak? Ia menyebut anekdot populer tentang Albert Einstein yang konon gemar bersepeda, lalu menautkannya pada misteri keseimbangan dinamis. Sepeda berdiri bukan semata karena giroskop atau putaran roda, melainkan karena interaksi kompleks antara geometri rangka, distribusi massa, dan refleks pengendara. Dalam narasi Tatarsky, keseimbangan sepeda menjadi metafora modernitas: stabilitas lahir dari gerak, bukan dari diam. Sains di sini bukan sekadar rumus, tetapi kekaguman pada kecerdikan desain yang tampak sederhana.
Dari keseimbangan, ia beralih ke kecepatan dalam “Aerodynamics: Shaving off the Seconds” dan “The Hour: It’s Only 3,600 Seconds”. Di arena balap, setiap detik—atau bahkan sepersekian detik—menjadi medan pertempuran ilmiah. Posisi tubuh ditundukkan serendah mungkin untuk menembus hambatan udara; material rangka berevolusi dari baja ke aluminium hingga serat karbon. Tatarsky menggambarkan obsesi terhadap “jam”—rekor satu jam di velodrom—sebagai ujian kemurnian: 3.600 detik yang memadatkan seluruh ambisi teknologi dan fisiologi manusia. Dalam ruang tertutup itu, hukum fisika dan kapasitas paru-paru bernegosiasi tanpa ampun.
Namun Tatarsky menegaskan dalam “Fitness: It’s Not Only About the Bike” bahwa mesin secanggih apa pun tak berarti tanpa tubuh yang terlatih. Sepeda menjadi perpanjangan metabolisme manusia. Ia mengurai bagaimana latihan, nutrisi, dan pemulihan menjadi bagian integral dari performa, sehingga sains olahraga berjalan beriringan dengan inovasi teknik. Tubuh bukan sekadar pengendara; ia adalah mesin biologis yang harus dipahami dengan ketelitian yang sama seperti rangka atau roda.
Teknologi juga mengajarkan kerendahan hati, sebagaimana tergambar dalam “Wipeout: Falling off Safely”. Jatuh adalah bagian tak terhindarkan dari sejarah sepeda. Dari sini lahir helm modern, material penyerap benturan, dan desain rangka yang lebih aman. Tatarsky melihat bahwa kemajuan sering lahir dari kegagalan: setiap luka dan kecelakaan menjadi pelajaran desain. Sepeda, yang tampak ringan dan lincah, ternyata mengandung kalkulasi serius tentang risiko dan perlindungan.
Dalam “Recycle and Revolution”, ia menyoroti bagaimana sepeda menjadi ikon keberlanjutan. Di tengah krisis lingkungan, dua roda kembali dipandang sebagai revolusi sunyi—teknologi rendah emisi yang justru futuristik. Tatarsky menempatkan sepeda sebagai alternatif terhadap ketergantungan bahan bakar fosil, menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti kompleksitas; kadang ia berarti kembali pada kesederhanaan yang efisien.
Narasi berlanjut pada “The Reinvention of the Wheel: Folding Bikes”. Di kota-kota padat, sepeda lipat menjadi jawaban atas keterbatasan ruang dan kebutuhan mobilitas multimoda. Tatarsky memandangnya sebagai bukti bahwa desain sepeda terus berevolusi mengikuti bentuk kota modern. Roda yang dapat dilipat adalah kompromi cerdas antara kecepatan dan portabilitas—teknologi yang beradaptasi dengan ritme urban.
Sementara itu, dalam “Getting Fixated: Retrospectives on Spokes”, ia merenungkan kembali komponen paling sederhana: jari-jari roda. Spokes yang tipis namun tegang itu menopang beban luar biasa, menjadi simbol elegansi struktural. Tatarsky memperlihatkan bagaimana inovasi sering tersembunyi dalam detail kecil yang jarang diperhatikan, tetapi menentukan kekuatan keseluruhan.
Bagian ini ditutup dengan “Iconic Bikes: The Chopper”, di mana sepeda tak lagi hanya soal efisiensi atau sains, melainkan gaya dan identitas. Raleigh Chopper tampil sebagai simbol budaya populer 1960-an dan 1970-an—dengan setang tinggi dan sadel panjang yang mencerminkan pengaruh motor chopper Amerika. Tatarsky menafsirkan Chopper sebagai pertemuan antara teknologi dan imajinasi anak-anak: mesin yang bukan dibuat untuk memecahkan rekor, melainkan untuk membangun mimpi.
Jika dirajut menjadi satu, keseluruhan bagian “Science and Technology” memperlihatkan bagaimana sepeda berdiri di persimpangan antara hukum fisika dan aspirasi manusia. Ia adalah objek yang tunduk pada gravitasi, hambatan udara, dan batas fisiologis, namun sekaligus memantik kreativitas, keberanian, dan gaya hidup baru. Tatarsky menunjukkan bahwa dalam dua roda yang terus berputar, ilmu pengetahuan tidak pernah terpisah dari hasrat—dan bahwa bahkan dalam 3.600 detik di velodrom atau dalam satu ban bocor di jalan sepi, sains dan kemanusiaan bergerak bersama.
Catatan Akhir: Sistem Hidup yang Selalu Dirakit Ulang
Pada bagian penutup yang visioner dalam The Splendid Book of the Bicycle, Daniel Tatarsky membawa pembaca melampaui sejarah dan teknologi konvensional menuju wilayah imajinasi: sepeda yang melayang, sepeda masa depan, dan batas-batas definisi tentang apa itu “sepeda” sebenarnya. Namun seperti khasnya, Tatarsky tidak terjebak pada fantasi kosong. Ia menautkan setiap spekulasi dengan jejak sejarah eksperimen manusia terhadap mobilitas.
Dalam “To Infinity and Beyond: Floating, Flying and Future Bikes”, ia mengurai obsesi lama manusia untuk membebaskan sepeda dari tanah. Sejak awal, sepeda adalah mesin gravitasi—ia berdiri karena gerak dan jatuh bila berhenti. Maka gagasan tentang sepeda terbang, sepeda melayang magnetik, atau kendaraan hibrida antara sepeda dan pesawat ringan bukan sekadar khayalan modern, melainkan kelanjutan dari dorongan lama untuk menaklukkan batas fisik. Tatarsky menempatkan eksperimen-eksperimen ini sebagai bagian dari tradisi panjang inovasi yang dulu juga melahirkan safety bicycle, ban pneumatik, dan rangka ringan. Masa depan sepeda, dalam pandangannya, bukan sekadar soal teknologi canggih, melainkan tentang memperluas definisi kebebasan bergerak.
Namun pertanyaan paling provokatif muncul dalam “When Is a Bicycle Not a Bicycle? Steam, Petrol and Electric Power”. Di sini Tatarsky mempertanyakan inti identitas sepeda. Jika sepeda digerakkan oleh uap, bensin, atau listrik—apakah ia masih sepeda? Sejarah mencatat bahwa sebelum sepeda motor mapan sebagai kategori tersendiri, berbagai eksperimen menggabung-kan pedal dengan mesin kecil. Dari mesin uap abad ke-19 hingga motor bensin awal, batas antara sepeda dan sepeda motor sangat tipis. Di era modern, pertanyaan itu muncul kembali melalui sepeda listrik. Apakah bantuan motor listrik mengurangi “kemurnian” pengalaman bersepeda, atau justru memperluas akses bagi lansia, komuter jarak jauh, dan masyarakat urban?
Tatarsky tidak memberikan jawaban dogmatis. Ia justru menunjukkan bahwa sepeda selalu berevolusi bersama teknologi. Seperti dahulu ban pneumatik dianggap radikal, kini motor listrik menjadi bagian dari percakapan mobilitas berkelanjutan. Dalam konteks krisis iklim dan kemacetan kota, sepeda listrik bisa dipandang bukan sebagai pengkhianatan terhadap tradisi pedal, tetapi sebagai adaptasi cerdas terhadap kebutuhan zaman. Dengan demikian, identitas sepeda bukanlah benda statis, melainkan spektrum—selama ia mempertahankan prinsip kesederhanaan, efisiensi, dan keterlibatan manusia dalam geraknya.
Bagian “Bits that Fell off My Bike” membawa narasi kembali ke ranah personal dan reflektif. Tatarsky menuliskan dengan nada ringan tentang bagian-bagian kecil yang lepas—mur, baut, aksesori, bahkan komponen yang terlupakan—sebagai metafora dari perjalanan panjang sepeda dalam sejarah. Setiap bagian yang “jatuh” menyimpan cerita tentang eksperimen, kegagalan, dan pembaruan. Sepeda, seperti budaya, dibangun dari komponen yang terus diperbaiki dan diganti. Ia bukan monumen beku, melainkan sistem hidup yang selalu dirakit ulang.
Dalam sintesis keseluruhan bagian ini, Tatarsky seakan mengatakan bahwa masa depan sepeda tidak terletak pada satu bentuk final. Ia bisa melipat, melayang, bertenaga listrik, atau tetap setia pada pedal sederhana. Yang membuatnya tetap sepeda bukan hanya mekanisme teknisnya, tetapi relasi intim antara manusia dan gerak—antara tenaga, keseimbangan, dan kebebasan. Dari eksperimen uap abad ke-19 hingga e-bike abad ke-21, sepeda tetap menjadi cermin imajinasi manusia tentang mobilitas yang lebih ringan, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.
Dengan demikian, bagian penutup ini tidak sekadar menatap masa depan; ia merangkum seluruh buku sebagai perjalanan tanpa titik akhir. Sepeda mungkin berubah bentuk, tetapi semangatnya—untuk bergerak dengan tenaga sendiri, atau setidaknya dengan keterlibatan sadar manusia—terus melaju.
Cirebon, 22 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi (Format APA)
Anthony, S. B. (1896). Interview in The New York World, February 2, 1896.
Herlihy, D. V. (2004). The Bicycle: The History. Yale University Press.
Illich, I. (1974). Energy and Equity. Harper & Row.
Pucher, J., & Buehler, R. (2012). City Cycling. MIT Press.
Tatarsky, D. (2016). The Splendid Book of the Bicycle. Portico.
Wells, H. G. (1902). “A Vision of the Past.” In Certain Personal Matters.





