Rubarubu #139
The Language of Trees:
Kisah Pohon untuk Masa Depan
(bagian 2 dari 2)
Pohon sebagai Arsip Total
Dari fisika informasi, kita melompat ke sastra Amerika Latin, ke cerita pendek klasik Jorge Luis Borges, “Funes, the Memorious” . Borges, penulis Argentina yang dikenal dengan labirin-labirin intelektualnya, menciptakan tokoh Funes, seorang pemuda yang setelah terjatuh dari kuda mengalami cedera kepala dan sejak itu tidak bisa melupakan apa pun.
Funes mengingat setiap daun yang pernah ia lihat, setiap awan yang pernah lewat, setiap detail setiap momen. Ia memiliki ingatan total, tanpa filter, tanpa lupa. Namun hadiah ini ternyata adalah kutukan. Funes tidak bisa berpikir, karena berpikir, seperti dicatat Borges, adalah “to forget differences, to generalize, to abstract” —melupakan perbedaan, menggeneralisasi, mengabstraksi . Dalam dunia Funes yang penuh dengan detail tak terhingga, tidak ada ruang untuk kategori, untuk konsep, untuk makna.
Analisis filosofis menunjukkan bahwa Funes, ketika memperoleh kemampuan luar biasa untuk mengingat, kehilangan kemampuan yang sama pentingnya untuk melupakan . Ia menjadi arsip total, tetapi kehilangan kapasitas untuk memahami apa yang diarsipkannya.
Pohon, dalam konteks ini, adalah semacam Funes. Setiap pohon menyimpan arsip yang luar biasa: dalam lingkar tahunnya tersimpan catatan iklim puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun. Dalam DNA-nya tersimpan sejarah evolusi. Dalam relasinya dengan jamur dan mikroba di tanah tersimpan jaringan informasi yang kompleks. Namun pohon tidak “mengingat” seperti Funes. Ia mengintegrasikan informasi itu ke dalam kehidupannya, menggunakannya untuk tumbuh, untuk beradaptasi, untuk hidup.
Ada pelajaran di sini bagi manusia yang tenggelam dalam banjir informasi digital. Kita mungkin tergoda untuk menyimpan segalanya, mendokumentasikan segalanya, mengingat segalanya. Namun seperti Funes, kita bisa kehilangan kemampuan untuk memahami, untuk memilih, untuk melupakan. Pohon mengajarkan bahwa informasi sejati adalah informasi yang terintegrasi ke dalam kehidupan, bukan yang sekadar disimpan.
Di Bawah Pohon Bidang, Filsafat Lahir
Dari fiksi Borges, kita kembali ke akar peradaban Barat, ke Plato. Dalam dialognya yang terkenal, Phaedrus, Plato menggambarkan Socrates dan Phaedrus sedang berjalan-jalan di luar tembok kota Athena dan akhirnya duduk di bawah sebatang pohon bidang yang tinggi dan rindang, di tepi sungai Ilissus .
Phaedrus terkejut melihat Socrates bersedia keluar dari kota. Biasanya Socrates tidak pernah meninggalkan tembok kota; ia lebih suka berdiskusi di agora, di pasar, di tempat umum. Namun kali ini, ia berkata, “Landscapes and trees have nothing to tell me, only the people in the city can teach me anything” —Pemandangan dan pepohonan tidak bisa mengajariku apa-apa, hanya orang-orang di kota yang bisa mengajariku . Ironisnya, justru di bawah pohon bidang itulah salah satu dialog terpenting tentang cinta, retorika, dan jiwa berlangsung.
Plato, melalui Socrates, sedang menggali pertanyaan mendalam: apa sumber pengetahuan sejati? Apakah alam bisa mengajar? Atau hanya manusia? Namun dengan memilih setting alam yang indah untuk dialog filosofisnya, Plato sebenarnya mengakui bahwa alam memiliki peran. Pohon bidang itu bukan sekadar latar belakang; ia adalah saksi bisu, mungkin juga inspirator, bagi percakapan tentang keindahan dan kebenaran.
Dalam tradisi pemikiran Islam, konsep tafakkur—merenungkan ciptaan Allah—adalah jalan menuju makrifat. Pohon, seperti semua ciptaan, adalah ayat, tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus direnungkan. Seperti ditulis dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Ali Imran: 190). Di bawah pohon bidang, Socrates mungkin sedang melakukan tafakkur versinya sendiri.
Mereka yang Menyimpan Cerita, Mereka yang Menyembuhkan Luka
Di sebuah hutan purba di Pacific Northwest, di mana pohon-pohon cemara merah barat menjulang tinggi dan sinar matahari menembus kanopi dalam berkas-berkas keemasan, seorang perempuan Kooskuli memetik setangkai dedaunan. Ia tidak melihatnya sebagai “sumber daya” atau “bahan baku.” Ia melihatnya sebagai kerabat. Sebagai “Tree People”—Manusia Pohon—yang telah lama berbagi kehidupan dengan nenek moyangnya, yang memberikan naungan, obat, dan cerita. Dua suara dalam bagian ini—Kerri Ní Dochartaigh dan Valerie Segrest—berbicara tentang dimensi yang paling intim dalam hubungan manusia dengan pohon: dimensi cerita dan dimensi penyembuhan. Mereka mengingatkan bahwa pohon bukan hanya objek kajian ilmiah atau sumber inspirasi puitis, tetapi juga subjek yang memiliki ceritanya sendiri, dan mitra dalam praktik penyembuhan yang telah berlangsung ribuan tahun.
Cerita Mereka, Cerita Kita
Kerri Ní Dochartaigh, penulis Irlandia yang karyanya sering mengeksplorasi hubungan antara lanskap, trauma, dan pemulihan, menyumbangkan esai berjudul “Their Own Stories.” Judulnya saja sudah merupakan pernyataan filosofis: pohon memiliki cerita mereka sendiri, bukan sekadar cerita yang kita proyeksikan kepada mereka. Ini adalah pengakuan bahwa pohon adalah subjek, bukan objek; bahwa mereka memiliki agensi, memiliki sejarah, memiliki pengalaman yang layak diceritakan.
Ní Dochartaigh, yang bukunya Thin Places mendapat pujian luas karena kemampuannya menjalin memoir personal dengan refleksi mendalam tentang alam, membawa kepekaan yang sama ke dalam tulisannya tentang pohon. Ia mungkin menulis tentang bagaimana pohon-pohon di Irlandia—ek, abu, holly, hawthorn—telah menjadi saksi bisu sejarah panjang pulau itu: invasi, kelaparan, pemberontakan, dan pemulihan. Pohon-pohon itu melihat semuanya, dan menyimpannya dalam lingkar tahun mereka.
Dalam kutipan yang digunakan sebagai blurb di berbagai situs penjualan buku, Ní Dochartaigh memuji buku Holten sebagai “A visual reminder that, like strong oaks from little acorns, we still can create the world in which we wish to live” . Frasa “dari biji ek kecil, pohon ek besar tumbuh” adalah metafora universal tentang harapan dan potensi. Namun Ní Dochartaigh memberinya dimensi baru: kita masih bisa menciptakan dunia yang kita inginkan. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan. Selama kita bersedia belajar dari pohon, dari cerita mereka, dari cara mereka tumbuh.
Esai Ní Dochartaigh dalam buku ini, saya bayangkan, adalah undangan untuk mendengarkan cerita-cerita itu. Bukan dengan telinga, tetapi dengan hati. Bukan dengan alat perekam, tetapi dengan kehadiran penuh. Seperti yang ia katakan dalam berbagai wawancara, lanskap tidak pernah diam; mereka selalu berbicara, jika kita mau mendengar. Pohon-pohon adalah pencerita yang paling setia: mereka tidak pernah berbohong, tidak pernah melebih-lebihkan, tidak pernah melupakan.
Buah yang Dimodifikasi, Alam yang Diintervensi
Dari visi Lovelace tentang komputasi universal, kita beralih ke persoalan yang lebih dekat dengan keseharian: jeruk. Amy Harmon, jurnalis New York Times pemenang Pulitzer, menyumbangkan esai “Millenniums of Intervention” yang merupakan versi ringkas dari liputannya tentang upaya seorang pekebun jeruk Florida, Ricke Kress, untuk mengembangkan jeruk yang tahan terhadap penyakit citrus greening yang telah menghancurkan industri jeruk Amerika .
Harmon membuka dengan pengakuan jujur: “I used to be among those who wondered: Why can’t we just leave well enough alone?” —Dulu saya termasuk orang yang bertanya: mengapa kita tidak bisa membiarkan semuanya apa adanya? . Namun liputannya tentang Kress mengubah perspektifnya. Ia menyadari bahwa jeruk yang kita kenal saat ini—manis, berair, mudah dikupas—adalah hasil dari “millenniums of intervention” —ribuan tahun intervensi manusia. Tidak ada jeruk yang tumbuh liar seperti itu. Jeruk adalah buah budaya, hasil domestikasi, buah dari pohon yang telah dibentuk oleh keinginan manusia selama berabad-abad.
Kress, karakter utama liputan Harmon, adalah seorang ilmuwan yang bekerja untuk perusahaan Florida’s Natural Growers. Ia memimpin upaya untuk menciptakan jeruk transgenik yang tahan terhadap citrus greening—penyakit bakteri yang dibawa oleh serangga kecil bernama Asian citrus psyllid. Penyakit ini telah menghancurkan jutaan pohon jeruk di Florida dan mengancam industri senilai miliaran dolar. Solusi konvensional—pestisida, karantina, pembakaran pohon yang terinfeksi—tidak mampu menghentikan penyebarannya. Kress dan timnya beralih ke rekayasa genetika, mengambil gen dari tanaman lain (bahkan dari bayam) dan menyisipkannya ke dalam DNA jeruk.
Harmon menggambarkan dilema yang dihadapi Kress. Di satu sisi, ia adalah seorang pekebun yang mencintai jeruk, yang ingin menyelamatkan industri dan mata pencaharian ribuan petani. Di sisi lain, ia sadar bahwa produknya akan menghadapi tentangan keras dari konsumen yang takut pada GMO. Dalam liputannya, Harmon mengutip seorang petani yang memperingatkan Kress: “This isn’t like a bag of Doritos… We’re talking about a raw product, the essence of orange” —Ini bukan sekadar sekantong Doritos… Kita bicara tentang produk mentah, esensi jeruk . Konsumen telah lama makan jagung dan kedelai hasil rekayasa genetika tanpa sadar, karena bahan-bahan itu tersembunyi dalam makanan olahan. Tapi jeruk dimakan langsung, diperas, dinikmati sebagai “esensi” dari buah itu sendiri.
Kritikus seperti Michael Pollan melihat upaya Kress sebagai “Band-Aid” —plester sementara—untuk mempertahankan sistem monokultur yang pada dasarnya rapuh . Alih-alih merekayasa jeruk, kata Pollan, kita seharusnya merekayasa ulang sistem pertanian, menciptakan keragaman yang secara alami tahan terhadap penyakit. Namun ilmuwan USDA Ed Stover, yang memeriksa fakta liputan Harmon, mengakui bahwa perbanyakan konvensional mungkin tidak akan tiba tepat waktu untuk menyelamatkan jeruk Florida . “At this point it appears that transgenics may be our best hope of true immunity,” katanya.
Esai Harmon tidak memberikan jawaban mudah. Ia hanya menyajikan kompleksitas: bahwa intervensi bukanlah dosa asal, bahwa alam yang kita kenal sudah lama bukan “alam liar”, bahwa pilihan-pilihan yang kita hadapi seringkali bukan antara yang murni dan yang terkontaminasi, tetapi antara berbagai jenis intervensi dengan risiko dan manfaat yang berbeda. Dalam konteks bagian “Flowers & Fruits,” esai ini mengingatkan bahwa buah yang kita petik hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan sulit di masa lalu, dan bahwa buah untuk masa depan sedang dibentuk oleh keputusan-keputusan yang kita buat sekarang.
Hutan: Rimba yang Berpikir, Dunia yang Menangis
Pada tahun 1972, ketika Perang Vietnam masih berkecamuk dan bom-bom Amerika masih jatuh di hutan-hutan Indochina, seorang penulis fiksi ilmiah bernama Ursula K. Le Guin duduk di rumahnya di Portland, Oregon, dan menulis sebuah cerita tentang planet yang seluruh permukaannya adalah hutan. Penduduknya—makhluk kecil berbulu hijau yang tidak pernah mengenal kekerasan—dijajah oleh manusia dari Bumi yang haus kayu dan haus darah. Le Guin memberi judul ceritanya The Word for World is Forest. Lebih dari sekadar fiksi, ia sedang menulis alegori tentang apa yang terjadi ketika peradaban yang menganggap dirinya “maju” bertemu dengan dunia yang hanya mengenal kata “hutan” sebagai “rumah.”
Lima puluh tahun kemudian, Katie Holten mengumpulkan delapan suara dalam bagian “FORESTS” bukunya—sebuah paduan yang merentang dari memoar keluarga di Taiwan hingga antropologi Amazon, dari laporan ilmiah tentang kepunahan hingga instalasi seni di Manhattan. Mereka semua berbicara tentang hutan sebagai entitas yang jauh lebih besar daripada sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah bahasa, adalah ingatan, adalah kesadaran, adalah dunia itu sendiri. Dan dunia itu sedang menangis.
Ursula K. Le Guin, dalam fiksi klasiknya The Word for World is Forest, membawa kita ke planet Athshe—dunia yang seluruh permukaannya adalah hutan . Penduduk asli, Athsheans, adalah makhluk kecil berbulu hijau, setinggi sekitar satu meter, yang tidak mengenal kekerasan. Dalam masyarakat mereka, “perkosaan, serangan brutal, dan pembunuhan nyaris tidak ada” .
Kemudian datanglah “yumens”—manusia dari Bumi, yang menyebut planet itu “New Tahiti” dan melihat hutannya sebagai tambang kayu raksasa. Kayu telah menjadi komoditas langka di Bumi, dan militer kolonial datang untuk mengambilnya dengan cara apa pun . Mereka memperbudak Athsheans, memperlakukan mereka dengan kejam, dan tidak mengakui mereka sebagai manusia karena mereka kecil dan berbulu.
Novel ini, yang memenangkan Hugo Award pada 1973, adalah respons langsung Le Guin terhadap Perang Vietnam . Dalam pengantarnya untuk edisi 1976, ia menyatakan keprihatinan-nya pada eksploitasi alam oleh manusia, terutama atas nama keuntungan finansial, dan bahwa keprihatinan ini mendorong ceritanya .
Tokoh sentralnya adalah Selver, seorang Athshean yang istrinya, Thele, diperkosa dan dibunuh oleh Kapten Davidson, komandan koloni Terran . Selver nyaris dibunuh Davidson, tetapi diselamatkan oleh Raj Lyubov, antropolog koloni yang mencoba memahami Athsheans. Dengan bekas luka di wajahnya yang membuatnya mudah dikenali, Selver memimpin pemberontakan terhadap penjajah—dan dalam prosesnya, memperkenalkan kekerasan massal ke dalam budaya damai bangsanya untuk pertama kalinya.
Le Guin mengeksplorasi tema-tema besar: anti-kolonialisme, anti-militerisme, kepekaan terhadap lingkungan, dan hubungan antara bahasa dan budaya. Athsheans memiliki hubungan khusus dengan mimpi; mereka dapat memasuki keadaan mimpi secara sadar, dan mimpi itu menyembuhkan mereka serta membimbing perilaku mereka. Mereka yang ahli menafsirkan mimpi dianggap sebagai dewa.
Salah satu ironi paling tajam dalam novel ini: Athsheans mengakui Terran sebagai manusia, tetapi Terran tidak mengakui Athsheans sebagai manusia . Mereka menyebut penduduk asli dengan julukan hinaan “creechie.” Kolonialisme selalu dimulai dengan dehumanisasi—dengan menolak mengakui bahwa “yang lain” juga manusia, juga memiliki hak, juga memiliki mimpi.
Judulnya sendiri adalah pernyataan filosofis: bagi Athsheans, kata untuk “dunia” adalah “hutan.” Tidak ada dunia di luar hutan. Tidak ada realitas di luar pohon. Ketika hutan dihancurkan, dunia itu sendiri ikut hancur.
Hutan yang Berpikir
Eduardo Kohn, seorang antropolog yang telah menghabiskan dua puluh lima tahun meneliti masyarakat Runa di Amazon Ekuador, membawa kita ke ranah yang lebih radikal lagi. Bukunya, How Forests Think: Toward an Anthropology Beyond the Human, berargumen bahwa hutan benar-benar berpikir—tidak secara metaforis, tetapi secara harfiah.
Kohn, yang kini mengajar di McGill University, memulai dengan pertanyaan sederhana namun revolusioner: “Dapatkah hutan berpikir? Apakah anjing bermimpi?” . Untuk menjawabnya, ia menantang fondasi antropologi itu sendiri, mempertanyakan asumsi sentral kita tentang apa artinya menjadi manusia—dan dengan demikian berbeda dari semua bentuk kehidupan lain.
Berdasarkan empat tahun kerja lapangan di antara Runa, Kohn mengeksplorasi bagaimana masyarakat Amazon berinteraksi dengan banyak makhluk yang menghuni salah satu ekosistem paling kompleks di dunia . Alat-alat antropologi konvensional, yang bergantung pada kapasitas yang membuat kita secara khas manusia, ternyata tidak memadai ketika kita mengalihkan perhatian etnografis pada bagaimana kita berhubungan dengan jenis makhluk lain.
How Forests Think memenangkan Penghargaan Gregory Bateson untuk Buku Terbaik dalam
Antropologi pada 2014 dan telah diterjemahkan ke sembilan bahasa. Para sarjana terkemuka memujinya. Donna Haraway menyebutnya “bacaan yang sangat kuat, yang mengubah mimpi saya dan merombak kebiasaan interpretasi saya yang sudah mapan.” Bruno Latour menyebut-nya “karya seni” dan “antropologi filosofis yang sangat menyegarkan.” Anna Tsing memujinya sebagai “sangat inovatif dan orisinal.”
Kohn mengembangkan kerangka kerja berdasarkan semiotika—ilmu tentang tanda—untuk memahami pemikiran di luar manusia dan hubungannya dengan pemikiran manusia . Ia berargumen bahwa hutan—produk “absensial” yang muncul dari jaringan luas semiosis non-manusia—adalah sesuatu yang nyata, dan bukan sekadar abstraksi manusia . Dengan demikian, hutan dapat memberikan orientasi etis bagi berbagai bentuk kehidupan manusia dan non-manusia yang dipeliharanya.
Dalam proyek terbarunya, Forest for the Trees, Kohn berkolaborasi dengan jaringan aktivis, pemimpin, arsitek, pengacara, akademisi, ilmuwan, dan seniman Ekuador untuk memahami bagaimana kita dapat mendiskern bimbingan dari properti holistik dunia yang hidup. Ini adalah upaya untuk mengembangkan mode perilaku dan orientasi untuk masa krisis iklim ini.
Hutan di Ambang Kepunahan
Gaia Vince, jurnalis sains dan penulis, menyumbangkan esai “from Forests” yang kemungkinan diambil dari bukunya Adventures in the Anthropocene. Vince, yang memenangkan Royal Society Science Book Prize pada 2015, menulis tentang bagaimana aktivitas manusia telah mengubah planet ini secara fundamental—dan hutan adalah salah satu korban utamanya.
Vince mungkin menulis tentang deforestasi, tentang hilangnya keanekaragaman hayati, tentang bagaimana hutan yang dulunya menutupi sebagian besar permukaan bumi kini menyusut menjadi fragmen-fragmen yang terisolasi. Ia juga mungkin menulis tentang bagaimana hutan adalah penyerap karbon terpenting planet ini, dan bahwa menghancurkannya berarti mempercepat perubahan iklim yang pada gilirannya akan menghancurkan lebih banyak hutan lagi—lingkaran setan yang sulit diputus.
Gaya Vince adalah jurnalisme sains yang dapat diakses, penuh data tetapi juga penuh empati. Ia tidak hanya menyajikan angka-angka, tetapi juga kisah-kisah manusia yang hidup di garis depan perubahan. Petani yang kehilangan ladang karena kekeringan, masyarakat adat yang terusir dari hutan leluhur, ilmuwan yang berjuang menyelamatkan spesies yang hampir punah.
Nicole Davi, seorang ilmuwan dendrokronologi dari William Paterson University dan Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University, membuka bagian ini dengan esai berjudul “Tree Clocks and Climate Change” . Davi adalah salah satu dari sedikit ilmuwan yang mampu membaca bahasa kuno yang tersimpan dalam lingkar tahun pohon—bahasa yang menceritakan kisah tentang musim kemarau dan banjir, tentang letusan gunung berapi yang mendinginkan bumi, tentang perlahan naiknya suhu planet .
Dalam wawancaranya dengan Columbia Climate School, Davi menjelaskan bahwa pohon adalah “jam alami” yang merekam kondisi lingkungan setiap tahunnya . Ketika kondisi mendukung—cukup air, suhu hangat—pohon menambah lingkar tahun yang lebar. Ketika kekeringan melanda atau suhu turun drastis, lingkar tahunnya menyempit. Dengan mengambil sampel inti dari pohon-pohon tua, lalu mencocokkan pola lingkar tahun dari pohon yang hidup dengan kayu mati yang masih terawat, para ilmuwan dapat merekonstruksi iklim hingga ratusan bahkan ribuan tahun ke belakang .
Davi sendiri telah memimpin ekspedisi penelitian di Alaska, Yukon Kanada, Peru, Mongolia, Bulgaria, dan Ukraina . Di Mongolia, ia dan timnya berhasil merekonstruksi suhu hingga tahun 1269 M, membuktikan bahwa pemanasan saat ini adalah yang terburuk dalam delapan abad terakhir . Di New York, ia mempelajari hutan tua di semenanjung dekat kota, pohon-pohon yang telah berdiri sejak awal 1800-an, untuk memahami bagaimana hutan pesisir merespons perubahan iklim dan naiknya permukaan laut . Kini, dengan beasiswa Fulbright, Davi bekerja di Kolombia, mengembangkan kronologi lingkar tahun dari pohon Polylepis di dataran tinggi Andes—wilayah yang selama konflik bersenjata tidak pernah bisa diakses ilmuwan .
Bagi Davi, pohon adalah arsip. Mereka menyimpan data yang tidak tercatat dalam buku sejarah manusia. Mereka tahu kapan El Niño datang, kapan gunung berapi meletus, kapan musim dingin lebih panjang dari biasanya. Mereka juga tahu bahwa sekarang, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, sesuatu yang ganjil sedang terjadi—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh siklus alami biasa. “Rekaman lingkar tahun dari Kolombia,” katanya, “dapat memberikan wawasan tentang bagaimana hutan merespons perubahan iklim, yang dapat menginformasikan kebijakan pengelolaan hutan negara itu” .
Perpustakaan Masa Depan
Katie Paterson, seniman Skotlandia yang karyanya sering mengeksplorasi skala waktu kosmik, membawa kita ke proyek paling ambisiusnya: Future Library . Dimulai pada 2014, Paterson menanam seribu pohon di hutan Nordmarka dekat Oslo. Setiap tahun selama seratus tahun, seorang penulis terkemuka diundang untuk menyerahkan sebuah naskah asli. Naskah-naskah ini tidak akan diterbitkan—bahkan tidak akan dibaca—hingga tahun 2114, ketika pohon-pohon itu akhirnya ditebang dan dijadikan kertas untuk mencetak antologi seratus karya dalam satu volume .
Para penulis yang telah berkontribusi termasuk nama-nama raksasa sastra dunia: Margaret Atwood (2014), David Mitchell (2015), Sjón (2016), Elif Shafak (2017), Han Kang (2018), Karl Ove Knausgård (2019), Ocean Vuong (2020), dan Tsitsi Dangarembga (2021) . Naskah-naskah mereka disimpan dalam “Ruang Sunyi” yang dirancang khusus di Perpustakaan Deichman, Oslo—sebuah ruang kayu yang tenang, diterangi satu jendela besar, tempat manuskrip-manuskrip itu menunggu pembacanya yang belum lahir.
Paterson berbicara tentang proyek ini sebagai “dialog dengan generasi masa depan” . Ia menciptakan karya seni yang tidak akan ia lihat selesai, yang tidak akan dinikmati oleh siapa pun yang hidup sekarang. Ini adalah tindakan iman yang luar biasa—iman bahwa akan masih ada manusia di tahun 2114, bahwa mereka masih bisa membaca, bahwa mereka masih peduli pada apa yang ditulis seratus tahun sebelumnya.
Sebuah studi akademis tentang Future Library menyimpulkan bahwa proyek ini “memicu refleksi tentang kematian di media sosial,” memunculkan “emosi kompleks, refleksi eksistensial, dan rasa ingin tahu tentang masa depan” . Bagi banyak orang, terutama generasi muda yang menonton video TikTok tentang proyek ini, Future Library menjadi cara untuk membayangkan masa depan secara konkret—bukan sebagai abstraksi, tetapi sebagai sesuatu yang benar-benar akan terjadi, yang akan dialami oleh orang lain setelah mereka tiada.
Anna-Sophie Springer, dalam esainya “Legere and βιβλιοθήκη: The Library as Idea and Space,” menghubungkan dua kata kunci: legere (Latin: membaca, mengumpulkan) dan βιβλιοθήκη (Yunani: perpustakaan). Ia merenungkan tentang perpustakaan sebagai ruang ide yang memiliki kemiripan mendasar dengan hutan.
Seperti hutan, perpustakaan adalah tempat keanekaragaman. Ribuan judul, ribuan suara, ribuan cara melihat dunia, berdiri berdampingan di rak-rak, seperti pohon-pohon yang berbeda spesies tumbuh bersama dalam ekosistem yang sama. Seperti hutan, perpustakaan adalah tempat akumulasi pengetahuan lintas waktu—buku-buku dari abad yang berbeda disimpan berdampingan, seperti lingkar tahun yang merekam sejarah iklim. Seperti hutan, perpustakaan adalah tempat perlindungan—tempat di mana ide-ide yang terpinggirkan bisa bertahan, seperti spesies langka yang berlindung di bawah kanopi.
Springer mungkin juga merenungkan tentang etimologi: kata “kitab” dalam berbagai bahasa sering terkait dengan kayu atau pohon. Dalam bahasa Inggris, book berasal dari beech, pohon beech yang kayunya digunakan untuk menulis. Dalam bahasa Jerman, Buch (buku) dan Buche (beech) juga berkerabat. Hubungan kuno antara pohon dan literasi ini mengingatkan bahwa setiap buku, pada akhirnya, adalah pohon yang telah mati untuk memberi kita kata-kata.
Perpustakaan, dalam pandangan Springer, adalah semacam hutan kedua—hutan yang dibangun dari pohon-pohon yang telah ditebang, tetapi masih menyimpan kehidupan dalam bentuk gagasan. Menjaga perpustakaan, seperti menjaga hutan, adalah tindakan perlawanan terhadap kelupaan dan kebodohan.
Pelajaran dari Jamur
Toby Kiers, ahli biologi evolusioner yang pada 2025 menerima MacArthur Fellowship dan Tyler Prize—sering disebut “Nobel lingkungan”—membawa kita ke dunia bawah tanah yang selama ini tersembunyi . Dalam esainya “Lessons from Fungi,” Kiers mengungkapkan keajaiban jaringan fungi yang menjadi fondasi kehidupan di Bumi.
Kiers, yang ikut mendirikan Society for the Protection of Underground Networks (SPUN), menjelaskan bahwa fungi mikoriza membentuk kemitraan dengan 80-90% spesies tanaman . Jaringan ini, yang disebut miselium, begitu padat sehingga dalam satu gram tanah—sekitar seperempat sendok teh—dapat mengandung hampir 90 meter benang fungi . Mereka adalah “sistem sirkulasi bagi Bumi,” menarik karbon dari tanaman dan mendistribusikan nutrisi ke seluruh ekosistem.
Kemitraan ini berusia 450 juta tahun—jauh lebih tua daripada manusia . Tanaman mengirim karbon ke jaringan fungi, dan fungi membutuhkan karbon itu untuk bertahan hidup, membangun tubuh mereka, memproses energi. Tapi itu tidak gratis. Sebagai imbalan, fungi mengumpulkan fosfor, nitrogen, dan air, menyediakan semua manfaat itu bagi tanaman .
Yang menakjubkan, Kiers dan timnya menemukan bahwa fungi berperilaku seperti pedagang cerdas di “pasar biologis” . Mereka memindahkan sumber daya dari area berlimpah ke area langka, dan mendapatkan lebih banyak karbon sebagai imbalan dengan mengeksploitasi ketidakseimbangan itu. Tanaman bersedia membayar “harga” lebih tinggi untuk apa yang mereka kurang. Fungi bahkan bisa menimbun sumber daya untuk meningkatkan permintaan—perilaku yang menggemakan taktik pedagang Wall Street .
“Bagaimana informasi diproses melintasi jaringan tanpa sistem saraf pusat?” tanya Kiers . “Tumbuh dewasa sebagai ahli biologi, saya pikir kita selalu menganggap kecerdasan sebagai memiliki sistem saraf pusat, semacam pemrosesan terpusat, seperti pada manusia, seperti otak. Fungi sangat berbeda, namun kita tahu bahwa mereka mampu melakukan strategi perdagangan yang sangat canggih.”
SPUN, organisasi yang didirikan Kiers, bertujuan memetakan jaringan fungi global dan mengadvokasi perlindungannya . Baru-baru ini mereka meluncurkan “Underground Atlas,” alat daring yang memungkinkan siapa pun melihat prediksi kekayaan fungi di lokasi mana pun di dunia . Mereka juga melatih ilmuwan di seluruh dunia—dari Tunisia hingga Ghana—untuk mengumpulkan data dan menggunakan alat hukum melindungi keanekaragaman hayati bawah tanah .
“Kehidupan seperti yang kita kenal ada karena fungi,” kata Kiers . Nenek moyang alga tanaman darat modern tidak memiliki akar kompleks; kemitraan dengan fungi memungkinkan mereka menjajah lingkungan terestrial. Kiers mengajak kita membalik cara berpikir tentang kehidupan di Bumi—dari permukaan ke bawah. “Saya hanya memikirkan semua cara tanah digunakan secara negatif—istilah seperti ‘dirtbag’ [manusia sampah], sementara sekantong tanah mengandung galaksi!” .
Migrasi Besar Pohon
Bagian ini ditutup oleh Chelsea Steinauer-Scudder dengan esai “They Carry Us With Them: The Great Tree Migration” . Steinauer-Scudder, penulis yang karyanya sering muncul di Emergence Magazine, merenungkan tentang perubahan pola migrasi pohon di Maine, menelusuri ancaman yang dihadapi hutan black ash—pohon yang sangat penting bagi masyarakat Wabanaki.
Black ash, atau wiigwaas dalam bahasa Anishinaabe, adalah pohon suci yang digunakan untuk membuat keranjang tradisional. Seratnya yang lentur, yang dapat dipisahkan lapis demi lapis dengan memukul batangnya, telah menjadi bahan anyaman selama ribuan tahun. Namun perubahan iklim mengubah segalanya. Suhu yang menghangat memungkinkan kumbang zamrud ash (emerald ash borer) menyebar ke utara, membunuh jutaan pohon ash di Amerika Utara.
Steinauer-Scudder mengikuti dua perempuan Wabanaki yang bekerja melestarikan pengetahuan tradisional pembuatan keranjang sambil berjuang menyelamatkan pohon-pohon yang menjadi bahan bakunya. Ia menulis tentang bagaimana pohon-pohon “bermigrasi”—bukan dengan berjalan, tetapi dengan biji yang terbawa angin dan air, perlahan-lahan bergeser ke utara mengikuti iklim yang cocok. Namun migrasi ini terlalu lambat untuk mengimbangi laju perubahan iklim. Manusia harus membantu—dengan menanam, dengan melindungi, dengan memindahkan populasi ke tempat yang lebih aman.
Judul esai ini, “They Carry Us With Them,” adalah pengakuan bahwa pohon tidak hanya membawa diri mereka sendiri dalam migrasi mereka. Mereka membawa kita—kisah-kisah kita, budaya kita, identitas kita—karena tanpa mereka, kita kehilangan bagian dari diri kita sendiri. Ketika black ash menghilang, pengetahuan tentang cara membuat keranjang dari black ash juga terancam punah. Ketika hutan berpindah, bahasa-bahasa yang lahir dari hutan itu ikut bergeser.
Holten tidak menghindar dari kenyataan paling suram. Ia mungkin merenungkan instalasi “Ghost Forest” Maya Lin di Madison Square Park—49 pohon cedar putih Atlantik yang mati karena intrusi air asin, dipajang di jantung Manhattan sebagai pengingat akan apa yang sedang kita hilangkan . Atau ia mungkin merenungkan proyek “Future Library” Katie Paterson yang dengan sabar menunggu seratus tahun, sebuah tindakan iman di masa depan di tengah keraguan yang melumpuhkan.
Namun menghadapi kepunahan, bagi Holten, bukan berarti menyerah. Justru sebaliknya: kesadaran akan kefanaan dan kerapuhan dunia justru memicu cinta yang lebih dalam dan tekad yang lebih kuat untuk bertindak. Seperti yang ditulis Joanna Macy, seorang filsuf lingkungan dan aktivis perdamaian yang karyanya sering menginspirasi gerakan ekologi dalam, “Kesedihan kita adalah ukuran cinta kita.” Holten mungkin menggemakan sentimen ini: kita bersedih karena kita mencintai, dan karena kita mencintai, kita tidak akan tinggal diam.
Catatan Akhir: Menanam untuk Masa Depan
Seruan Holten adalah untuk menciptakan bahasa baru—atau lebih tepatnya, untuk menghidupkan kembali bahasa lama yang telah kita lupakan. Bahasa yang mengakui animasi alam semesta, yang memberi tempat pada suara-suara selain manusia, yang merayakan keanekaragaman hayati dan kultural sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
“Another world is possible,” tulis Holten, “but only if we learn to speak the language of trees” . Dunia lain mungkin, tetapi hanya jika kita belajar berbicara bahasa pohon. Pernyataan ini bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah pernyataan ontologis: bahwa untuk menciptakan dunia yang berbeda, kita harus mengubah cara kita memahami realitas. Kita harus beralih dari ontologi dualistik yang memisahkan manusia dari alam, ke ontologi relasional yang mengakui bahwa kita semua—manusia, pohon, jamur, hewan, sungai, gunung—adalah bagian dari jalinan kehidupan yang sama.
Bahasa pohon, dalam pengertian ini, bukan hanya alfabet yang diciptakan Holten. Ia adalah cara berada di dunia—cara yang mendengarkan, yang merespons, yang menghormati, yang merawat. Ia adalah bahasa yang dipraktikkan oleh masyarakat adat selama ribuan tahun, yang sekarang harus kita pelajari kembali jika kita ingin bertahan hidup.
Holten mengakhiri dengan panggilan untuk bertindak—bukan dalam bentuk daftar instruksi atau kebijakan, tetapi dalam bentuk undangan. Undangan untuk membaca puisi di bawah pohon, untuk menulis surat cinta dalam alfabet pohon, untuk menanam pohon di halaman belakang, untuk bergabung dengan gerakan yang melindungi hutan, untuk mendukung suara-suara masyarakat adat, untuk mengubah cara kita berbicara tentang alam.
Undangan ini bersifat personal sekaligus kolektif. Personal karena setiap dari kita dapat memulai dari diri sendiri—dari cara kita berbicara tentang pohon di halaman belakang, dari keputusan kita untuk menanam spesies asli, dari waktu yang kita luangkan untuk duduk diam di bawah kanopi hijau. Kolektif karena perubahan sejati membutuhkan gerakan—solidaritas lintas batas, lintas budaya, lintas spesies.
Holten mungkin merenungkan tentang gerakan We Are the ARK yang digagas Mary Reynolds, yang mengajak setiap orang menjadikan lahan mereka—sekecil apa pun—sebagai “bahtera” bagi spesies asli . Atau tentang SPUN yang didirikan Toby Kiers, yang memetakan jaringan fungi global dan melatih advokat untuk melindunginya . Atau tentang perlawanan Penan di Borneo yang terus memblokade jalan-jalan logging meskipun menghadapi tekanan luar biasa .
Setiap tindakan, sekecil apa pun, adalah benih. Dan dari benih-benih itu, hutan baru bisa tumbuh.
Pada akhirnya, “Another World is Possible” adalah pernyataan iman. Iman bahwa meskipun dunia sedang memudar, meskipun hutan-hutan terus ditebang, meskipun spesies-spesies punah setiap hari, masih ada kemungkinan untuk perubahan. Iman bahwa bahasa baru dapat dilahirkan, bahwa hubungan baru dapat dibangun, bahwa cara hidup baru dapat dipraktikkan.
Iman ini bukanlah optimisme naif yang mengabaikan kenyataan pahit. Ia adalah apa yang disebut Rebecca Solnit sebagai “optimisme kegelapan”—keyakinan bahwa meskipun kita tidak tahu persis bagaimana cerita ini akan berakhir, kita tetap harus bertindak sebaik mungkin, karena itulah yang membuat kita manusia.
Holten mungkin merenungkan tentang kata-kata Antoine de Saint-Exupéry dalam The Little Prince: “Apa yang membuat gurun indah adalah bahwa di suatu tempat ia menyembunyikan sumur.” Dunia yang memudar ini, dengan segala kerusakannya, masih menyembunyikan sumur-sumur kehidupan—di hutan-hutan yang tersisa, di pengetahuan masyarakat adat yang masih bertahan, di benih-benih yang menunggu untuk tumbuh, di hati manusia yang masih mampu mencintai.
Tugas kita, sebagai generasi yang hidup di persimpangan jalan, adalah menemukan sumur-sumur itu, menjaganya, dan memastikan bahwa mereka tidak kering sebelum generasi mendatang sempat meminumnya. Tugas kita adalah belajar berbicara bahasa pohon, sehingga kita dapat mendengar apa yang mereka katakan, dan menyampaikannya kepada anak cucu kita.
Dalam beberapa paragraf terakhir, Holten mungkin berbagi pengalaman pribadi tentang menanam pohon. Mungkin ia menanam pohon ek di halaman belakang rumahnya di Dublin, atau pohon apel di kebun komunitas, atau sekadar biji-biji yang dikumpulkan dari hutan terdekat. Ia merenungkan bahwa menanam pohon adalah tindakan paling sederhana sekaligus paling revolusioner yang bisa dilakukan manusia.
Sederhana karena hanya perlu lubang, bibit, tanah, air. Revolusioner karena pohon yang ditanam hari ini akan hidup melampaui kita, akan memberi naungan bagi anak cucu kita, akan menjadi rumah bagi burung-burung yang belum lahir. Menanam pohon adalah tindakan iman pada masa depan—iman bahwa dunia akan terus berputar, bahwa kehidupan akan terus berlanjut, bahwa kita bukan generasi terakhir.
Holten mungkin juga merenungkan tentang pohon yang ditanam oleh kakek-neneknya, yang kini sudah besar dan rindang. Atau tentang pohon yang akan ditanam oleh anak-anaknya, yang mungkin suatu hari akan menjadi saksi bisu bagi dunia yang berbeda—dunia yang lebih hijau, lebih adil, lebih penuh dengan kehidupan.
Buku ini diakhiri dengan kembali ke tempat ia memulai: di bawah naungan pohon. Ross Gay membuka dengan pengantar tentang pohon beech yang napasnya bersinkronisasi dengan napasnya. Holten menutup dengan undangan untuk duduk di bawah pohon, merasakan angin di dedaunan, mendengarkan bisikan batang dan ranting.
Di bawah pohon, kita bisa merasakan apa yang dirasakan Socrates dua ribu empat ratus tahun lalu: bahwa pepohonan dan sungai, alam yang hidup, adalah guru yang lebih bijak daripada buku-buku di perpustakaan. Di bawah pohon, kita bisa merasakan apa yang dirasakan Ada Limón ketika ia melihat daun-daun berguguran dan bertanya-tanya apakah itu daun atau burung. Di bawah pohon, kita bisa merasakan apa yang dirasakan Robin Wall Kimmerer ketika ia menyadari bahwa dalam bahasa ibunya, pohon adalah subjek, bukan objek.
Di bawah pohon, kita bisa belajar berbicara bahasa pohon.
Dan ketika kita akhirnya bisa berbicara bahasa itu, kita akan menyadari bahwa pohon-pohon telah lama berbicara kepada kita. Mereka berbicara dalam desau angin di dedaunan, dalam getaran akar di bawah tanah, dalam warna daun yang berubah musim, dalam buah yang jatuh ketika masak. Mereka berbicara tentang waktu, tentang kesabaran, tentang ketahanan, tentang saling ketergantungan. Mereka berbicara tentang cinta.
“Another world is possible,” tulis Holten. “It is growing right now, in the language of trees” . Dunia lain itu mungkin. Ia sedang tumbuh sekarang, dalam bahasa pohon.
Bogor-Cirebon, 6 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Bookshop.org. (n.d.). The Language of Trees: A Rewilding of Literature and Landscape. https://bookshop.org/p/books/the-language-of-trees-a-rewilding-of-literature-and-landscape-katie-holten/d4609f1ca08f8eb2
Boon, S. (n.d.). In Review: The Language of Trees. Earth Island Journal. https://www.earthisland.org/journal/index.php/magazine/entry/the-language-of-trees-a-new-font-that-communicates-our-love-for-trees/
Christensen, I. (2000). alphabet [Excerpt]. Diterjemahkan oleh Susanna Nied. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson. (Karya asli diterbitkan 1981).
Gay, R. (2023). Introduction. In K. Holten, The Language of Trees: A Rewilding of Literature and Landscape (pp. xi-xiii). Tin House.
Gleick, J. (2024). Fractal Vision. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Haeg, F. (2024). Notes for a Salmon Creek Farm Revival. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Harmon, A. (2013, July 27). A Race to Save the Orange by Altering Its DNA. The New York Times. https://www.nytimes.com/2013/07/28/science/a-race-to-save-the-orange-by-altering-its-dna.html
Harmon, A. (2024). Millenniums of Intervention. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Hawkwind, R. (2024). Oak Gall Ink Recipe. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Hidalgo, C. A. (2015). Why Information Grows: The Evolution of Order, from Atoms to Economies. Basic Books.
Kiers, T. (2024). Lessons from Fungi. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Kimmerer, R.W. (2024). Speaking of Nature. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson. (Diadaptasi dari “Speaking of Nature” dalam Orion Magazine, 2017, dan Braiding Sweetgrass, 2013).
Kohn, E. (2013). How Forests Think: Toward an Anthropology Beyond the Human. University of California Press.
Larcom, L. (n.d.). Plant a tree. In K. L. Kilcup & A. Sorby (Eds.), Over the River and Through the Wood: An Anthology of Nineteenth-Century American Children’s Poetry. Johns Hopkins University Press. https://press.jhu.edu/newsroom/arbor-day
Le Guin, U.K. (1972). The Word for World is Forest. In Again, Dangerous Visions. (Diterbitkan sebagai buku terpisah pada 1976 oleh Berkley Books).
Lee, J.J. (2019). Two Trees Make a Forest: On Memory, Migration and Taiwan. Little, Brown Book Group.
Macfarlane, R. (2024). Branches, Leaves, Roots and Trunks. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Macy, J., & Brown, M.Y. (2014). Coming Back to Life: The Updated Guide to the Work That Reconnects. New Society Publishers.
Phillips, C. (2020). Among the Trees. Emergence Magazine.
Reynolds, M. (2024). We Are the ARK. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Saint-Exupéry, A. de. (1943). The Little Prince. Reynal & Hitchcock.
Segrest, V. (2022). Medicine of the Tree People. YES! Magazine, (156965070).
Simard, S. (2021). Finding the Mother Tree: Discovering the Wisdom of the Forest. Knopf Doubleday Publishing Group.
Smith, Z. (2024). The Wrong Trees. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Solnit, R. (2016). Hope in the Dark: Untold Histories, Wild Possibilities. Haymarket Books.
Steinauer-Scudder, C. (2024). They Carry Us With Them: The Great Tree Migration. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Truth, S. (2019, February 26). 20 Sojourner Truth quotes honoring the fight for equality. Know-It-All. https://empoweryourknowledgeandhappytrivia.wordpress.com/2019/02/26/20-sojourner-truth-quotes-honoring-the-fight-for-equality/
Truth, S. (n.d.). Quotes. Primoquotes. https://www.primoquotes.com/author/sojourner+truth
Weisberger, J.M. (2024). Cacao: The World Tree and Her Planetary Mission. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.
Zittel, A. (2024). January 23, 2015. In K. Holten, The Language of Trees: How Trees Make Our World, Change Our Minds and Rewild Our Lives. Elliott & Thompson.






