Rubarubu #136
City of Trees:
Dan Mendengarkan Cerita Mereka
Griffith Park, Los Angeles.
Seekor singa gunung yang oleh para ilmuwan diberi nama P-22 melintasi jalan bebas hambatan yang memisahkan habitatnya dari dunia liar yang semakin menyempit. Ia adalah hantu di kota, makhluk yang berhasil bertahan di tengah beton dan aspal, hidup sendirian di salah satu taman kota terbesar di Amerika, memangsa rusa dan beradaptasi dengan dunia yang tidak dirancang untuknya.
Ribuan mil jauhnya, di Melbourne, Australia, Sophie Cunningham duduk di bawah naungan pohon ara Moreton Bay yang telah menyaksikan sejarah kolonial, imigrasi, dan perubahan iklim selama lebih dari 150 tahun. Ia merenungkan dua ayah yang telah meninggal, sebuah benua yang terbakar, dan pertanyaan yang menghantuinya: bagaimana kita mencintai dunia yang sedang sekarat? Bagaimana kita menemukan hutan di kota yang terus tumbuh?
Dari persimpangan antara kisah pribadi dan refleksi ekologis inilah lahir City of Trees: Essays on Life, Death & the Need for a Forest (Text Publishing, 2019), sebuah kumpulan esai yang ditulis Sophie Cunningham—penulis, editor, dan salah satu pendiri Stella Prize—yang mengajak pembaca berjalan perlahan melalui lorong waktu dan ruang, dengan pepohonan sebagai pemandu setia.
Buku ini bukanlah buku panduan identifikasi pohon, juga bukan risalah ilmiah tentang kehutanan. Ia adalah sesuatu yang lebih jarang: sebuah memoir ekologis, sebuah catatan perjalanan yang melompat dari Los Angeles ke San Francisco, dari Peru ke pedalaman Australia, dengan akar yang kuat tertanam di Melbourne, kota tempat Cunningham tinggal.
Setiap esai diberi judul berdasarkan nama pohon—Coast Live Oak, Giant Sequoia, Ginkgo, Eucalyptus—dan setiap pohon menjadi pintu masuk untuk merenungkan tema-tema besar: kehilangan, perubahan iklim, kolonialisme, gentrifikasi, dan apa artinya menjadi bagian dari dunia yang lebih dari sekadar manusia . Dengan gaya yang mengalir seperti percakapan, kadang meditatif, kadang menghajar, Cunningham tidak pernah berpura-pura menjadi pengamat netral. Ia sadar bahwa dirinya—sebagai penulis, sebagai turis, sebagai warga kota—adalah bagian dari masalah yang ia coba pahami.
Mari kita mendengar cerita pohon-pohon yang menjadi pesan dalam City of Trees.
Coast Live Oak (Quercus agrifolia): Akar yang Menembus Waktu
Bagian ini membuka perjalanan Cunningham di California, tempat ia pertama kali berkenalan dengan Coast Live Oak, pohon ek yang tumbuh di sepanjang pantai Pasifik. Di sini, Cunningham mulai merajut narasi yang akan menjadi benang merah seluruh buku: hubungan antara pohon, tempat, dan ingatan. Ia menulis tentang bagaimana pohon ek ini telah menjadi saksi bisu bagi penduduk asli Tongva dan Chumash jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, bagaimana akarnya menembus tanah yang sama yang kini dibeton untuk jalan raya dan mal.
Dalam esai ini, Cunningham juga memperkenalkan P-22, singa gunung yang menjadi simbol perlawanan alam di tengah kota. P-22, yang diperkirakan lahir sekitar tahun 2010, berhasil menyeberangi dua jalan bebas hambatan—405 dan 101—untuk mencapai Griffith Park, sebuah pencapaian yang hampir mustahil bagi seekor kucing besar. Sejak saat itu, ia hidup sendirian di taman seluas 4.300 hektar itu, jauh dari wilayah jelajah normal pejantan yang bisa mencapai 200 mil persegi. “P-22 adalah hantu,” tulis Cunningham, “makhluk yang tidak seharusnya ada di sana, tetapi ada. Dan keberadaannya adalah pengingat bahwa alam tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya menunggu, bersembunyi di sela-sela.”
Kehadiran P-22 menjadi cermin bagi manusia modern: bagaimana kita bisa hidup dalam isolasi di tengah keramaian? Bagaimana kita mempertahankan “keliaran” ketika dunia di sekitar kita terus mendesak masuk? Pertanyaan-pertanyaan ini bergema dalam perjalanan pribadi Cunningham sendiri, yang pada saat yang sama sedang berduka atas kematian ayah-ayahnya—ayah kandung dan ayah tiri—dan merenungkan tentang warisan, kehilangan, dan apa yang ditinggalkan untuk generasi berikutnya.
The Fall: Jatuh, dalam Segala Artinya
Dalam “The Fall”, Cunningham merenungkan tentang kejatuhan—jatuhnya pohon, jatuhnya manusia, jatuhnya peradaban. Esai ini ditulis dengan latar belakang kebakaran hutan yang semakin sering melanda California dan Australia, fenomena yang oleh para ilmuwan dikaitkan langsung dengan perubahan iklim. Cunningham mengutip laporan-laporan ilmiah yang menunjukkan bahwa musim kebakaran kini lebih panjang, lebih intens, dan lebih sulit diprediksi daripada sebelumnya.
Namun “kejatuhan” juga bersifat personal. Cunningham menulis tentang ayahnya yang mengalami demensia, tentang proses “jatuh”-nya ingatan, tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri bahkan sebelum mati. Di sinilah Cunningham menunjukkan keahliannya menjalin yang personal dengan yang politis: kejatuhan kognitif seorang ayah menjadi metafora untuk kejatuhan ekologis sebuah planet. “Kita semua sedang jatuh,” tulisnya, “pertanyaannya bukan apakah kita akan mendarat, tetapi bagaimana kita jatuh—dan apakah kita bisa melindungi satu sama lain dalam prosesnya.”
Giant Sequoia (Sequoiadendron giganteum): Menatap yang Abadi
Perjalanan Cunningham kemudian membawanya ke Sierra Nevada, tempat Giant Sequoia berdiri sebagai makhluk hidup terbesar di Bumi. Pohon-pohon ini telah hidup selama lebih dari 3.000 tahun—mereka sudah tua ketika Kekaisaran Romawi runtuh, ketika Kristus lahir, ketika peradaban manusia masih meraba-raba dalam kegelapan prasejarah. Cunningham berdiri di bawah salah satu raksasa itu, merasakan kulitnya yang berserat tebal, menatap tajuknya yang menjulang jauh ke langit, dan merenungkan tentang apa artinya menjadi kecil.
Di sinilah Cunningham mengutip Donna Haraway, filsuf dan ilmuwan yang bukunya Staying with the Trouble menjadi salah satu referensi utama esai ini. Haraway, yang juga muncul dalam judul esai berikutnya, berargumen bahwa kita harus “tetap bersama masalah”—tidak lari ke fantasi solusi teknologis atau terjebak dalam keputusasaan yang melumpuhkan, tetapi hadir sepenuhnya dalam krisis, dengan segala kompleksitas dan ketidakpastiannya . “Berada di hadapan sequoia,” tulis Cunningham, “adalah latihan dalam ‘tetap bersama masalah’.
Pohon ini tidak peduli pada drama manusia sehari-hari. Ia tidak peduli pada politik identitas atau perang saudara atau pemilu. Ia hanya tumbuh, perlahan, selama ribuan tahun, dan dalam pertumbuhannya ia menyimpan catatan tentang iklim, tentang kebakaran, tentang kekeringan. Jika kita mau belajar darinya, ia bisa mengajarkan tentang kesabaran, tentang ketahanan, tentang hidup dalam skala waktu yang berbeda.”
Staying with the Trouble : Merayakan yang Rumit
Esai “Staying with the Trouble” adalah inti filosofis dari seluruh buku. Cunningham mengembangkan gagasan Haraway tentang “Chthulucene“—era di mana manusia tidak lagi menjadi pusat segalanya, tetapi hanya satu dari sekian banyak makhluk yang hidup dalam jaring hubungan yang kompleks. Alih-alih berlari ke narasi apokaliptik atau utopia teknologis, Haraway mengajak kita untuk “membuat kerabat”—membangun hubungan solidaritas lintas spesies, mengakui bahwa kita saling tergantung, dan bertanggung jawab atas satu sama lain.
Cunningham menerapkan gagasan ini pada konteks kota. Bagaimana kita bisa “membuat kerabat” dengan pohon-pohon di jalanan kita? Bagaimana kita bisa mengakui bahwa mereka bukan sekadar “infrastruktur hijau” yang ada untuk melayani kita, tetapi makhluk hidup dengan kebutuhan, sejarah, dan haknya sendiri?
Ia mengutip filsuf Australia Peter Singer, yang terkenal dengan argumennya tentang hak-hak hewan, untuk memperluas gagasan “personhood” ke ranah non-manusia. Ranee, gajah pertama yang dibawa ke Australia pada abad ke-19, menjadi contoh: ia adalah makhluk yang dipisahkan dari keluarganya, dikirim melintasi lautan, dan dipamerkan di kebun binatang.
Kesepiannya, penderitaannya, adalah luka yang tidak bisa diukur, tetapi nyata.
Ginkgo (Ginkgo biloba): Pohon yang Selamat dari Bencana
Dari California, Cunningham membawa kita ke Jepang dan Cina, tanah asal Ginkgo biloba. Ginkgo adalah fosil hidup—spesies yang telah ada sejak 270 juta tahun lalu, selamat dari kepunahan massal yang memusnahkan dinosaurus. Yang lebih mengesankan, pohon ginkgo di Hiroshima selamat dari bom atom pada 1945. Beberapa pohon yang hanya berjarak 1-2 kilometer dari hiposenter ledakan justru bertunas kembali tidak lama setelah kehancuran, menjadi simbol harapan dan ketahanan.
Cunningham menggunakan ginkgo untuk merenungkan tentang ketahanan dalam menghadapi bencana. “Ginkgo tidak bertahan dengan menjadi kuat,” tulisnya. “Ia bertahan dengan menjadi fleksibel, dengan beradaptasi, dengan menunggu. Daunnya yang khas, seperti kipas, adalah hasil dari evolusi jutaan tahun. Akarnya yang dalam memungkinkannya mencari air di mana pun tersedia. Ia tidak melawan api atau bom secara langsung; ia hanya bertahan, dan setelah semuanya reda, ia tumbuh lagi.”
Namun di balik kisah heroik ini, Cunningham juga melihat ironi pahit. Ginkgo, yang selamat dari bom atom, kini terancam oleh perubahan iklim yang disebabkan manusia. Suhu yang me-ningkat, kekeringan yang berkepanjangan, dan serangan hama baru menguji batas ketahanan-nya. “Kita mungkin bisa mengebom pohon dan pohon itu tetap hidup,” tulisnya getir, “tetapi kita tidak bisa memberikannya planet yang terlalu panas untuk ditinggali.”
Tourists Go Home: Menjadi Orang Asing di Tanah Sendiri
Dalam “Tourists Go Home“, Cunningham menghadapi pertanyaan yang tidak nyaman: apa haknya seorang turis, seorang pengunjung, untuk mencintai tempat yang bukan miliknya? Esai ini ditulis saat ia berada di San Francisco, menyaksikan langsung proses gentrifikasi yang mengusir penduduk Latinx dari lingkungan mereka, digantikan oleh orang-orang kaya baru yang bekerja di industri teknologi. Cunningham sadar bahwa dirinya, sebagai penulis Australia yang berkunjung, adalah bagian dari masalah itu.
Pohon menjadi jalan masuk untuk merenungkan tentang “keaslian” dan “kepemilikan”. Apa yang dimaksud dengan “pohon asli”? Siapa yang berhak menentukan apa yang “pantas” tumbuh di suatu tempat? Di Melbourne, pohon eucalyptus adalah ikon nasional, simbol Australia. Namun di California, eucalyptus yang didatangkan dari Australia pada abad ke-19 dianggap sebagai spesies invasif, mengancam ekosistem lokal. Apakah pohon bisa menjadi “imigran”? Apakah mereka bisa “pulang”?
Cunningham tidak menawarkan jawaban mudah. Ia hanya mengajak pembaca untuk duduk dalam ketidaknyamanan ini, untuk mengakui bahwa kategori “asli” dan “asing” selalu bermasalah, bahwa sejarah kolonial telah mengacaukan segalanya, dan bahwa kita semua—manusia dan pohon—adalah imigran di suatu tempat.
Eucalyptus: Simbol Nasional yang Kontroversial
Tidak ada pohon yang lebih Australia daripada eucalyptus. Ada lebih dari 700 spesies eucalyptus, hampir semuanya endemik di Australia. Mereka adalah pohon yang beradaptasi dengan kebakaran—kulit kayunya yang berserat justru mendorong api untuk menyebar, sementara tunas-tunasnya yang tersembunyi di bawah tanah atau di dalam batang siap bertunas begitu api reda.
Adaptasi ini, yang membuat eucalyptus begitu sukses di lingkungan Australia yang rawan kebakaran, justru menjadi masalah ketika pohon ini dibawa ke tempat lain.
Di California, eucalyptus yang ditanam sebagai sumber kayu dan penahan angin kini dianggap sebagai “bom bahan bakar”—pohon yang sangat mudah terbakar, yang justru memperparah kebakaran hutan. Di Afrika Selatan, eucalyptus dituduh menguras air tanah, mengeringkan sumber-sumber air. Di Portugal, ia menjadi monokultur yang mengancam keanekaragaman hayati.
Cunningham menulis tentang kontroversi ini dengan kejujuran yang menyakitkan: “Aku men-cintai pohon ini. Aku dibesarkan di bawah naungannya, aku bermain di antara batangnya yang mengelupas, aku mencium aroma khasnya setelah hujan. Tapi cintaku tidak membantah fakta: eucalyptus bisa menjadi masalah di tempat yang bukan rumahnya.”
Esai ini menjadi perenungan tentang cinta, kepemilikan, dan tanggung jawab. Mencintai se-suatu tidak berarti kita bisa mengabaikan dampaknya terhadap orang lain. Mencintai pohon tidak berarti kita bisa menanamnya di mana saja, tanpa memikirkan konsekuensi ekologisnya. Cinta, seperti eucalyptus, harus beradaptasi dengan konteks.
Escape to Alcatraz: Alam yang Tak Bisa Dikurung
Cunningham menulis esai tentang Alcatraz, bekas penjara paling terkenal di Amerika yang kini menjadi taman nasional. Cunningham mengunjungi pulau itu dan terpesona oleh bagaimana alam telah mengambil alih reruntuhan. Bunga-bunga liar tumbuh di celah-celah beton. Burung laut bersarang di sel-sel yang pernah menampung penjahat paling berbahaya. Taman yang ditanam oleh keluarga penjaga penjara kini menjadi hutan kecil yang rimbun.
Alcatraz, bagi Cunningham, adalah metafora untuk sesuatu yang lebih besar: bahwa alam pada akhirnya tidak bisa dikurung. Kita bisa membangun tembok, memasang jeruji besi, menuang beton—tetapi pada akhirnya, kehidupan akan menemukan jalannya. Akar pohon akan meretak-kan fondasi. Angin akan membawa benih ke tempat-tempat yang tak terduga. Burung akan terbang melewati pagar tertinggi sekalipun.
Namun metafora ini juga memiliki sisi gelap. Jika alam tidak bisa dikurung, ia juga tidak bisa dilindungi sepenuhnya. Kita tidak bisa membangun pagar di sekitar hutan dan berharap mereka aman. Polusi udara, perubahan iklim, spesies invasif—semua ini tidak mengenal batas. Alcatraz mengajarkan bahwa kebebasan dan kerentanan adalah dua sisi dari koin yang sama.
Moreton Bay Fig (Ficus macrophylla): Ketika Sejarah Tumbang
Esai “Moreton Bay Fig” adalah elegi untuk pohon yang menjadi ikon kota Melbourne. Cunningham menulis dengan kesedihan yang mendalam namun tidak melodramatis, menggambarkan bagaimana pohon ara Moreton Bay di Jalan Collins itu lebih dari sekadar tumbuhan. Ia adalah monumen hidup, tempat pertemuan, penanda waktu, dan rumah bagi burung-burung dan serangga. Selama 150 tahun, ia telah menyaksikan trem pertama melintas, tentara berangkat perang, demonstrasi mahasiswa, dan jutaan warga kota berlalu lalang di bawah naungannya .
Cunningham menelusuri sejarah pohon ini, dari asal-usulnya di Queensland utara hingga kedatangannya di Melbourne sebagai tanaman hias di era Victoria. Ia mengutip surat kabar lama yang menggambarkan upacara penanaman pohon ini pada tahun 1860-an, ketika Melbourne masih menjadi kota kolonial yang baru tumbuh. Pohon ini adalah saksi bisu dari ambisi, kemajuan, dan kadang-kadang, kebodohan manusia.
Ketika kabar penebangan diumumkan, protes bergulir. Para pegiat lingkungan, sejarawan, dan warga biasa bersatu menuntut agar pohon itu diselamatkan. Namun pemerintah dan pengembang kota tak tergoyahkan. Stasiun kereta bawah tanah lebih penting daripada sebatang pohon tua. Cunningham menulis dengan getir tentang ironi ini: “Kita membangun kota untuk manusia, tetapi dalam prosesnya, kita menghancurkan semua yang membuat kota layak huni.”
Pada hari penebangan, Cunningham berada di sana. Ia menggambarkan suara gergaji mesin yang memekakkan telinga, getaran tanah saat batang raksasa itu jatuh, dan keheningan aneh yang mengikuti. Kemudian, dalam keheningan itu, seseorang mulai bernyanyi. Yang lain bergabung. Mereka menyanyikan lagu-lagu lama, lagu-lagu yang tidak ada hubungannya dengan pohon, tetapi entah mengapa terasa tepat. “Kami bernyanyi untuk pohon itu,” tulis Cunningham, “tetapi sebenarnya kami bernyanyi untuk diri kami sendiri. Untuk kehilangan yang tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata.”
I Don’t Blame the Trees: Mencari Kambing Hitam
Dalam esai “I Don’t Blame the Trees“, Cunningham merenungkan tentang kecenderungan manusia untuk menyalahkan alam atas masalah yang kita ciptakan sendiri. Di California, kebakaran hutan yang semakin parah sering disalahkan pada pohon eucalyptus yang dianggap sebagai “bom bahan bakar” yang mudah terbakar. Di Australia, banjir bandang disalahkan pada penebangan hutan di hulu sungai. Di mana-mana, pohon menjadi kambing hitam yang mudah.
Namun Cunningham menolak penyederhanaan ini. “Saya tidak menyalahkan pohon,” tulisnya. “Saya menyalahkan kita.” Ia menelusuri sejarah kebijakan pengelolaan lahan yang salah, pembangunan di daerah rawan bencana, dan penolakan untuk mengakui peran perubahan iklim. Pohon, dalam pandangannya, adalah korban, bukan penyebab.
Esai ini juga merenungkan tentang konsep “bersalah” dan “tidak bersalah” dalam konteks ekologis. Apakah pohon eucalyptus di California “bersalah” karena mudah terbakar? Atau apakah ia hanya melakukan apa yang telah dilakukannya selama jutaan tahun—beradaptasi dengan lingkungan yang rawan api—dan kita yang salah menempatkannya di tempat yang salah? Cunningham tidak memberikan jawaban mudah, hanya pertanyaan-pertanyaan yang mengusik.
Mexican Fan Palm (Washingtonia robusta): Imigran di Negeri Orang
Dari Melbourne, Cunningham membawa kita ke California Selatan, tanah air Mexican Fan Palm. Pohon palem ini, dengan batangnya yang tinggi ramping dan tajuknya yang khas, telah menjadi ikon lanskap Los Angeles. Namun seperti kebanyakan penduduk LA, pohon ini adalah imigran. Ia didatangkan dari Meksiko pada abad ke-19 dan sejak itu tumbuh di mana-mana—di boulevard, di taman, di halaman belakang.
Cunningham merenungkan tentang status “imigran” pohon ini. Apakah ia “asli” atau “asing”? Di Meksiko, ia adalah spesies asli yang dilindungi. Di California, ia dianggap sebagai bagian dari lanskap, meskipun bukan asli. Kategori-kategori ini, bagi Cunningham, selalu bermasalah. Mereka mengandaikan bahwa ada keadaan “murni” yang bisa dikembalikan—padahal tidak ada. Ekosistem selalu berubah, selalu beradaptasi, selalu menerima pendatang baru.
Yang menarik dari esai ini adalah bagaimana Cunningham menghubungkan nasib pohon palem dengan nasib imigran manusia. Ia mengutip wawancara dengan seorang aktivis imigran Meksiko di Los Angeles yang mengatakan, “Mereka bilang kami harus pulang. Tapi di mana rumah? Saya lahir di sini, anak-anak saya lahir di sini. Ini rumah saya.” Pohon palem, seperti manusia, tidak selalu bisa “pulang.” Mereka telah berakar di tempat baru, dan mencabutnya berarti membunuh mereka.
In the Long Run the House Always Wins: Pohon di Tengah Judi Urban
Judul esai “In the Long Run the House Always Wins“ diambil dari slogan dunia perjudian—pengakuan bahwa meskipun pemain kadang menang, dalam jangka panjang bandar selalu unggul. Cunningham menggunakan metafora ini untuk menggambarkan hubungan antara pembangunan kota dan alam.
Di Melbourne, seperti di banyak kota besar lainnya, tekanan pembangunan terus meningkat. Setiap ruang kosong adalah peluang untuk apartemen mewah, mal, atau kantor. Pohon-pohon tua, yang telah ada selama puluhan bahkan ratusan tahun, harus rela tumbang untuk memberi jalan bagi “kemajuan.” Kota, seperti bandar judi, selalu menang dalam jangka panjang.
Namun Cunningham tidak sepenuhnya pesimis. Ia mencatat bahwa kesadaran publik tentang pentingnya pohon kota semakin meningkat. Protes terhadap penebangan pohon ara Moreton Bay adalah salah satu contohnya. Warga mulai menyadari bahwa pohon bukan sekadar “infrastruktur hijau” yang bisa diganti kapan saja. Mereka adalah bagian dari identitas kota, dari ingatan kolektif, dari kesejahteraan psikologis penduduknya.
Cunningham mengutip penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa keberadaan pohon di perkotaan mengurangi stres, meningkatkan kesehatan mental, dan bahkan menurunkan tingkat kejahatan. Data ini penting, tetapi baginya, ada sesuatu yang lebih dari sekadar manfaat utilitarian. Pohon membuat kota menjadi manusiawi. Mereka mengingatkan kita bahwa kita bukan satu-satunya makhluk di planet ini.
Yellowwood (Cladrastis kentukea): Pohon yang Hampir Punah
“Yellowwood“ adalah esai tentang kelangkaan dan kepunahan. Yellowwood adalah pohon asli Amerika Utara yang populasinya semakin menyusut akibat hilangnya habitat dan perubahan iklim. Cunningham menulis tentang bagaimana pohon ini hampir punah di alam liar, meskipun masih banyak ditanam di taman-taman dan kebun raya.
Paradoks ini—hidup di penangkaran tetapi hampir mati di alam liar—mengingatkan Cunningham pada situasi banyak spesies di era Antroposen. Kita bisa menyelamatkan mereka di kebun binatang dan kebun raya, tetapi tanpa habitat alami yang sehat, mereka tidak lebih dari mayat hidup, fosil berjalan yang menunggu waktu.
Cunningham merenungkan tentang apa artinya “menyelamatkan” spesies. Apakah cukup dengan menjaga beberapa individu tetap hidup di penangkaran? Ataukah kita perlu melindungi ekosistem tempat mereka hidup? Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak di tengah krisis kepunahan massal yang sedang berlangsung.
Fort. Da!: Permainan Kehadiran dan Ketidakhadiran
Judul “Fort. Da!” diambil dari istilah yang digunakan Sigmund Freud untuk menggambarkan permainan seorang anak kecil yang melempar gulungan benang dan menariknya kembali sambil berseru “fort” (pergi) dan “da” (kembali). Bagi Freud, permainan ini adalah cara anak mengatasi kecemasan akan kepergian ibunya—dengan mengendalikan secara simbolis kehadiran dan ketidakhadiran.
Cunningham menggunakan metafora ini untuk merenungkan tentang kehadiran dan ketidak-hadiran pohon dalam hidupnya. Pohon-pohon yang ia temui dalam perjalanan—ara Moreton Bay yang ditebang, sequoia raksasa di Sierra Nevada, ginkgo di Hiroshima, eucalyptus di California—semuanya hadir dalam ingatannya meskipun secara fisik mereka mungkin sudah tiada atau jauh di sana. “Fort. Da!” menjadi mantra untuk menghadapi kehilangan: kita melepas, kita menarik kembali, kita melepas lagi.
Esai ini juga merenungkan tentang kematian ayah-ayahnya. Kepergian mereka adalah “fort” yang tidak bisa diikuti “da.” Mereka tidak akan kembali. Namun dalam ingatan, dalam cerita, dalam tulisan, mereka tetap hadir. Seperti pohon yang ditebang tetapi tetap hidup dalam kenangan mereka yang mencintainya.
Olive Tree (Olea europaea): Pohon Pengungsian
“Olive Tree“ membawa kita ke Mediterania, tanah asal zaitun. Pohon zaitun, dengan batangnya yang berkerut dan daunnya yang keperakan, telah menjadi simbol perdamaian, umur panjang, dan ketahanan selama ribuan tahun. Di Yunani kuno, ranting zaitun diberikan kepada pemenang Olimpiade. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, burung merpati membawa ranting zaitun ke Bahtera Nuh sebagai tanda bahwa air bah telah surut. Dalam Al-Qur’an, pohon zaitun disebut sebagai pohon yang diberkati, yang minyaknya menerangi cahaya di atas cahaya (QS. An-Nur: 35).
Cunningham menulis tentang pohon zaitun di Palestina, beberapa di antaranya berusia lebih dari 1.000 tahun. Pohon-pohon ini telah menyaksikan perang dan pengungsian, penjajahan dan perlawanan, harapan dan keputusasaan. Mereka adalah saksi bisu dari salah satu konflik paling berkepanjangan di dunia modern.
Bagi pengungsi Palestina, pohon zaitun adalah simbol keterikatan pada tanah yang hilang. Kunci rumah yang mereka bawa ketika diusir pada tahun 1948 sering disimpan bersama dengan segenggam tanah dan daun zaitun. Pohon zaitun adalah janji bahwa suatu hari mereka akan kembali. Seperti yang ditulis penyair Palestina Mahmoud Darwish, “Bagi kami, tanah adalah ibu kami, dan pohon zaitun adalah mahkotanya.”
Cunningham, sebagai warga Australia yang tanahnya juga diambil dari penduduk asli, merenungkan tentang ironi ini. Ia menyadari bahwa cintanya pada pohon tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonial yang kejam. Pohon zaitun di Palestina, seperti pohon eucalyptus di Australia, adalah pengingat bahwa di balik keindahan selalu ada cerita tentang kekuasaan, kehilangan, dan perjuangan.
Biyala Stories: Sungai, Pohon, dan Ingatan Aborigin
Esai “Biyala Stories“ memenangkan Nature Writing Prize pada tahun 2017. Biyala adalah nama dalam bahasa Yorta Yorta untuk pohon River Red Gum(Eucalyptus camaldulensis) yang tumbuh di sepanjang sungai-sungai Australia. Esai ini adalah upaya Cunningham untuk memahami Melbourne—kota tempat ia tinggal—melalui pohon ini.
Cunningham berjalan menyusuri Sungai Yarra, yang oleh penduduk asli Kulin dikenal sebagai Birrarung. Di sepanjang tepiannya, pohon-pohon red gum berdiri tegak, beberapa berusia ratusan tahun. Mereka adalah saksi bisu dari sejarah panjang sebelum kedatangan bangsa Eropa—sejarah yang dihapus, dilupakan, atau sengaja diabaikan oleh penjajah.
Ia bertemu dengan para tetua Aborigin yang berbagi cerita tentang pohon ini. Bagi mereka, pohon bukan sekadar objek biologis. Mereka adalah leluhur, guru, dan tempat penyimpanan pengetahuan. Bekas-bekas penggalian akar untuk membuat kano, goresan di kulit kayu untuk membuat wadah, dan lubang-lubang tempat menyimpan benda keramat—semua ini adalah arsip hidup yang menunggu untuk dibaca.
Cunningham menulis dengan rendah hati tentang keterbatasannya sebagai orang non-Aborigin. Ia tidak bisa mengklaim pengetahuan ini sebagai miliknya. Yang bisa ia lakukan adalah mendengarkan, mencatat, dan menyebarkan. “Saya bukan pemilik cerita-cerita ini,” tulisnya. “Saya hanya penjaga sementara, yang bertugas menyampaikannya kepada generasi berikutnya.”
Esai ini adalah pengingat bahwa pohon tidak pernah hanya pohon. Mereka selalu terjalin dengan budaya, sejarah, dan spiritualitas. Memahami pohon berarti memahami hubungan manusia dengan tanah—hubungan yang kompleks, sering menyakitkan, tetapi tidak bisa dihindari.
Coolibah (Eucalyptus microtheca, E. coolabah): Pohon yang Tumbuh di Antara Banjir dan Kekeringan
Esai “Coolibah“ membawa Cunningham ke Northern Territory, ke negeri di mana pohon ini tumbuh di sepanjang sungai-sungai yang kadang meluap, kadang mengering. Coolibah adalah pohon yang akrab bagi siapa pun yang pernah mendengar lagu folk Australia “Waltzing Matilda”—di bawah pohon inilah pengembara mendirikan tenda, memasak teh di atas api unggun, dan bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik. Namun bagi Cunningham, coolibah lebih dari sekadar latar belakang pastoral putih. Ia adalah saksi bisu dari sejarah yang lebih panjang dan lebih kompleks.
Cunningham menulis tentang bagaimana pohon ini telah menjadi bagian dari kehidupan Aborigin selama puluhan ribu tahun. Mereka tahu kapan coolibah berbunga, kapan bijinya matang, kapan burung-burung tertentu datang untuk memakan nektarnya. Pengetahuan ini adalah peta hidup yang memandu pergerakan mereka melintasi lanskap yang keras. Namun seperti banyak hal lain, pengetahuan ini hampir punah ketika pemiliknya dibantai, diusir, atau dipaksa asimilasi.
Di sinilah Cunningham mulai merenungkan tentang apa yang disebutnya “History on Unthinking Feet“—sejarah yang berjalan tanpa dipikirkan, tanpa disadari, tanpa dipertanggung-jawabkan. Sejarah kolonial Australia adalah sejarah yang dilangkahi dengan kaki yang tidak berpikir, tidak merasakan, tidak bertanya. Para pendatang Eropa melihat coolibah dan hanya melihat kayu bakar, atau tempat berteduh, atau latar belakang yang indah untuk lukisan pastoral. Mereka tidak melihat ribuan tahun hubungan antara pohon ini dan manusia yang telah merawatnya.
History on Unthinking Feet: Melangkah di Atas Luka
Dalam esai “History on Unthinking Feet“, Cunningham mengembangkan metafora ini dengan kekuatan yang menghantam. Ia menulis tentang bagaimana kita berjalan di atas tanah ini setiap hari tanpa menyadari sejarah yang terkubur di bawah telapak kaki kita. Tanah Melbourne, tempat ia tinggal, adalah tanah Wurundjeri. Setiap langkahnya adalah langkah di atas tanah yang dirampas, di atas luka yang belum sembuh, di atas sejarah yang terus berdarah meskipun kita berpura-pura tidak melihat.
Cunningham tidak menulis dengan nada menghakimi yang mudah. Ia mengakui bahwa dirinya sendiri adalah bagian dari masalah ini. “Saya juga berjalan dengan kaki yang tidak berpikir,” tulisnya. “Saya juga menikmati kota ini tanpa setiap hari mengingat bahwa ia berdiri di atas tanah yang diambil dengan kekerasan.” Namun pengakuan ini bukan akhir, melainkan awal. Ia mengajak pembaca untuk mulai berpikir dengan kaki mereka—untuk merasakan tanah di bawah, untuk mendengar bisikan sejarah, untuk bertanya tentang siapa yang ada di sini sebelumnya.
Di sinilah coolibah kembali muncul. Pohon ini, yang telah hidup selama ratusan tahun, adalah saksi yang tidak bisa diusir, tidak bisa dibungkam. Ia melihat para pemburu Aborigin lewat, para penjelajah Eropa tersesat, para penggembala sapi mendirikan homestead, para turis berfoto selfie. Semua sejarah ini tersimpan dalam lingkar tahunnya, dalam akarnya yang menjalar jauh ke dalam tanah yang sama yang kita injak setiap hari. Jika kita mau mendengar, pohon ini bisa mengajarkan kita tentang sejarah—sejarah yang panjang, kompleks, dan sering menyakitkan.
367 Collins Street (Falco peregrinus): Pencakar Langit sebagai Tebing Buatan
Dari dataran banjir Northern Territory, Cunningham kembali ke Melbourne, ke jantung kota di mana gedung pencakar langit menjulang dan lalu lintas tak pernah berhenti. Di alamat 367 Collins Street, sebuah fenomena luar biasa terjadi: sepasang elang peregrine—Falco peregrinus—bersarang di tepi gedung perkantoran, 40 lantai di atas tanah. Burung ini, yang biasanya bersarang di tebing-tebing curam di alam liar, telah menemukan bahwa gedung-gedung modern adalah pengganti yang cocok. Mereka berburu merpati di taman-taman kota, kawin di balkon-balkon yang tidak terpakai, dan membesarkan anak-anak mereka di tengah gemuruh kota.
Cunningham terpesona oleh adaptasi ini. Ia menulis tentang bagaimana elang peregrine adalah contoh sempurna dari kemampuan alam untuk beradaptasi dengan kehadiran manusia. “Mereka tidak protes pada kota,” tulisnya. “Mereka tidak mengirim surat ke dewan kota. Mereka hanya menyesuaikan diri, menemukan ceruk baru di ekosistem baru yang kita ciptakan.” Namun di balik kekaguman ini, ada juga kesedihan. Elang-elang ini mungkin beradaptasi, tetapi pada biaya apa? Mereka hidup di dunia yang penuh dengan kaca, polusi, dan kebisingan. Mereka berburu merpati yang juga bukan asli. Mereka adalah imigran di kota yang tidak pernah dirancang untuk mereka.
The Age of Loneliness: Ranee dan Kesendirian di Penangkaran
Esai “The Age of Loneliness“ adalah salah satu yang paling mengharukan dalam seluruh buku. Cunningham menelusuri jejak Ranee, gajah India pertama yang dibawa ke Australia pada abad ke-19. Ranee tiba di Melbourne pada tahun 1884 sebagai hadiah untuk kebun binatang. Ia dipisahkan dari keluarganya, dikirim melintasi lautan dalam kurungan sempit, dan kemudian dipamerkan kepada ribuan pengunjung yang datang untuk menatap “makhluk eksotis” ini.
Ranee hidup sendirian selama puluhan tahun. Gajah adalah hewan sosial yang sangat kompleks, dengan ikatan keluarga yang bertahan seumur hidup. Di alam liar, mereka hidup dalam kelompok matriarkal yang terdiri dari ibu, anak, bibi, dan nenek. Ranee tidak memiliki semua itu. Ia hanya memiliki penjaga yang berganti-ganti, pengunjung yang datang dan pergi, dan kesepian yang tak terukur.
Cunningham mengutip filsuf Australia Peter Singer, yang terkenal dengan argumennya tentang hak-hak hewan. Singer berargumen bahwa kita harus memperluas konsep “personhood” ke makhluk non-manusia—bukan berarti mereka sama dengan manusia, tetapi bahwa mereka memiliki kepentingan yang harus kita pertimbangkan secara moral . Ranee, bagi Cunningham, adalah contoh sempurna dari kegagalan kita melakukan itu. Ia diperlakukan sebagai objek, sebagai tontonan, sebagai properti. Bukan sebagai makhluk hidup dengan perasaan, dengan kebutuhan, dengan hak untuk tidak kesepian.
Setelah mati pada tahun 1906, Ranee diawetkan dan disimpan di museum. Tubuhnya yang besar, yang pernah hidup dan bergerak dan merasakan, kini menjadi pajangan statis di balik kaca. Cunningham mengunjungi ruang penyimpanan museum, tempat bagian-bagian Ranee disimpan dalam kotak-kotak besar. “Aku meletakkan tanganku di atas kotak itu,” tulisnya, “dan untuk sesaat aku bisa merasakan kehadirannya. Bukan sebagai spesimen, tetapi sebagai makhluk yang pernah hidup, pernah bernapas, pernah kesepian.”
Ranee menjadi simbol dari “Age of Loneliness” yang kita semua—manusia dan hewan—alami di era modern. Kita hidup dalam kota-kota besar yang penuh dengan orang, tetapi lebih kesepian dari sebelumnya. Kita memutuskan hubungan dengan alam, dengan komunitas, dengan diri kita sendiri. Ranee, yang kesepian di kebun binatang, adalah cermin dari kesepian kita sendiri.
Mountain Ash (Eucalyptus regnans): Raksasa yang Rentan
Esai “Mountain Ash“ membawa Cunningham ke hutan-hutan Victoria, tempat pohon tertinggi di dunia—Eucalyptus regnans—tumbuh menjulang hingga lebih dari 100 meter. Pohon ini adalah keajaiban evolusi, beradaptasi dengan kebakaran hutan yang rutin melanda Australia. Kulit kayunya yang tebal melindungi jaringan hidup di dalamnya, dan bijinya hanya terbuka setelah terkena panas api. Mereka adalah pohon yang lahir dari api.
Namun bahkan raksasa ini pun rentan. Perubahan iklim membuat kebakaran semakin sering dan semakin intens. Pohon-pohon yang dulu bisa bertahan kini mati sebelum sempat beregenerasi. Spesies-spesies yang bergantung pada mereka—seperti possum Leadbeater yang terancam punah—kehilangan habitatnya. Cunningham menulis tentang ironi ini: pohon yang beradaptasi dengan api selama jutaan tahun, kini terancam oleh api yang terlalu sering, terlalu panas, terlalu cepat.
Di sinilah ia menyisipkan ekstrak dari bukunya sebelumnya, “Warning: The Story of Cyclone Tracy.“ Kutipan ini menggambarkan kehancuran yang dialami Darwin pada Malam Natal 1974—angin yang menderu, rumah-rumah yang roboh, orang-orang yang berlindung di kamar mandi sementara atap beterbangan. Cunningham tidak menyertakan kutipan ini secara kebetulan. Ia ingin menunjukkan bahwa kita hidup di era di mana bencana bukan lagi “luar biasa,” tetapi menjadi “normal baru.” Siklon Tracy, kebakaran hutan Victoria, banjir bandang Queensland—semua ini adalah gejala dari planet yang demam.
Ekstrak dari Warning: Ketika Kota Hancur dalam Semalam
Kutipan dari Warning yang disertakan di sini mungkin adalah bagian paling keras dalam seluruh buku. Cunningham menulis dengan gaya jurnalistik yang dingin, hampir klinis, menggambarkan fakta-fakta kehancuran: 71 orang tewas, 47.000 kehilangan tempat tinggal, 70 persen rumah hancur, 500 rumah tersisa layak huni dari 12.000 . Namun di balik angka-angka ini, ada kengerian yang tak terkatakan: orang-orang yang terjebak di rumah mereka saat atap roboh, keluarga yang terpisah dalam kegelapan, anak-anak yang menangis ketakutan sementara angin meraung seperti ribuan setan.
Yang membuat kutipan ini relevan dengan tema buku adalah pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah bencana. Ketika kota hancur, ketika aturan-aturan normal suspensi, ketika kelangsungan hidup menjadi prioritas utama, apa yang terjadi pada moralitas? Dalam artikel terpisah di Overland, Cunningham menulis tentang dilema “penjarahan” setelah Tracy: apakah mengambil makanan dari toko yang hancur adalah kejahatan, ataukah itu bertahan hidup? . Pertanyaan ini bergema dalam esai tentang pohon: ketika planet ini semakin tidak stabil, ketika bencana semakin sering, apa yang akan kita lakukan untuk bertahan? Dan apakah kita akan kehilangan kemanusiaan kita dalam prosesnya?
Relevansi Masa Depan
City of Trees adalah buku yang lahir dari kesedihan dan kekaguman sekaligus. Kesedihan atas hilangnya spesies, atas memudarnya hutan, atas kematian orang-orang tercinta. Kekaguman pada ketahanan pohon, pada keindahan daun yang gugur, pada kompleksitas ekosistem yang masih bertahan di tengah tekanan luar biasa. Cunningham tidak pernah berpura-pura memiliki jawaban. Ia hanya berjalan, mengamati, mencatat, dan merenung.
Relevansi buku ini di masa sekarang sulit dilebih-lebihkan. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, di tengah kebakaran hutan yang melanda Australia, California, Amazon, dan Siberia, di tengah kepunahan massal yang terjadi di depan mata kita, pertanyaan Cunningham bergema dengan kekuatan baru: bagaimana kita mencintai dunia yang sedang sekarat? Bagaimana kita tetap bersama masalah, tanpa lari ke fantasi atau keputusasaan?
Jawabannya, mungkin, ada dalam praktik “membuat kerabat” yang ia pinjam dari Haraway. Kita perlu melihat pohon di jalanan bukan sebagai infrastruktur, tetapi sebagai kerabat. Kita perlu mengakui bahwa P-22, singa gunung yang kesepian di Griffith Park, adalah warga kota yang sama sahnya dengan kita. Kita perlu belajar dari ginkgo tentang ketahanan, dari sequoia tentang kesabaran, dari eucalyptus tentang bahaya cinta yang buta konteks.
Rebecca Solnit, dalam bukunya Hope in the Dark, menulis bahwa “harapan adalah tentang melihat ada cahaya meskipun semua gelap.” Cunningham tidak selalu optimis, tetapi ia bertahan. Ia terus menulis, terus berjalan, terus mencintai. Dan dalam praktik itu sendiri—dalam perhatian yang tekun pada detail-detail kecil dunia—mungkin ada semacam harapan.
Seperti Ranee si gajah yang tetap hidup dalam ingatan meskipun tubuhnya diawetkan dan disimpan di gudang museum, seperti P-22 yang tetap bertahan di taman yang terlalu kecil untuknya, seperti ginkgo yang tetap tumbuh di Hiroshima—kita juga tetap di sini, hidup, di planet yang terluka ini. Dan selama kita masih di sini, masih bisa mencintai, masih bisa merawat, masih ada kemungkinan.
Catatan Akhir: Pohon-Pohon Kota, Akar yang Menembus Jiwa, Beton dan Waktu
Di tengah kota Melbourne yang sibuk, di mana gedung pencakar langit menjulang dan trem melintas tanpa henti, sebuah pohon ara Moreton Bay berdiri dengan tenang. Batangnya yang besar dan akar-akarnya yang menjalar ke segala arah telah menyaksikan lebih dari 150 tahun sejarah kolonial, gelombang imigrasi, dan perubahan iklim. Pada tahun 2016, sebuah keputusan kontroversial diumumkan: pohon ini akan ditebang untuk memberi jalan bagi pembangunan stasiun kereta bawah tanah baru. Penduduk Melbourne marah. Mereka berdiri melingkari pohon itu, menempelkan poster-poster di batangnya, menulis surat pembaca di koran-koran lokal. “Pohon ini adalah bagian dari kita,” kata mereka. “Ia adalah saksi bisu kehidupan kota ini.”
Namun protes mereka sia-sia. Pada suatu pagi yang dingin, gergaji mesin menderu, dan pohon ara Moreton Bay yang legendaris itu tumbang. Ratusan warga datang untuk memberi penghormatan terakhir, meninggalkan bunga dan catatan di tunggul yang tersisa. Sophie Cunningham, yang saat itu sedang menulis kumpulan esai tentang pohon, menyaksikan peristiwa ini dengan hati hancur. Dari kesedihan itu, lahirlah esai-esai yang menggugah dalam bagian ketiga buku City of Trees .
Jika kita merenungkan esai-esai bersama-sama, sebuah pola yang dalam muncul. Moreton Bay Fig adalah tentang kehilangan dan perlawanan . I Don’t Blame the Treesadalah tentang tanggung jawab dan kambing hitam. Mexican Fan Palm adalah tentang migrasi dan identitas. In the Long Run the House Always Wins adalah tentang kekuatan sistem yang menghancurkan alam. Yellowwood adalah tentang kepunahan dan apa artinya menyelamatkan. Fort. Da! adalah tentang kehadiran dan ketidakhadiran, tentang berduka dan mengingat. Olive Tree adalah tentang pengungsian dan perlawanan . Dan Biyala Stories adalah tentang hubungan Aborigin dengan tanah, tentang pengetahuan yang diwariskan melalui ribuan tahun.
Mereka semua berbicara tentang satu hal: bahwa pohon adalah cermin. Mereka mencerminkan keindahan dan keburukan kita, harapan dan ketakutan kita, cinta dan kehilangan kita. Di kota yang terus berubah, di dunia yang semakin panas, di tengah kepunahan massal yang terjadi di depan mata kita, pohon-pohon ini tetap berdiri—jika kita membiarkannya—sebagai pengingat bahwa hidup selalu lebih besar dari kita.
Seperti ditulis penyair Polandia, Czesław Miłosz, dalam puisinya “Pemberian”: “Begitu banyak yang tidak perlu kumiliki / Tidak ada yang perlu diingat / Akhirnya aku bisa melupakan diriku sendiri / Aku tenggelam dalam pemandangan yang terlihat.” Di bawah naungan pohon, kita bisa melupakan diri kita sendiri, tenggelam dalam pemandangan yang terlihat, dan untuk sesaat, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Itulah yang ditawarkan pohon kepada kota: kesempatan untuk keluar dari diri sendiri, untuk merasakan bahwa kita bukan pusat alam semesta, dan untuk menemukan kedamaian dalam keterhubungan.
Pohon-pohon itu seperti akar rumput dan puing. Ia berkisah tentang sejarah, kesendirian, dan bencana yang tak terlupakan.
Di bawah terik matahari Darwin yang membakar, pepohonan Coolibah berdiri dengan akar-akarnya yang terendam air selama berbulan-bulan setiap musim hujan. Pohon ini adalah ahli bertahan hidup di lingkungan yang paling ekstrem—dataran banjir yang berganti menjadi padang kering, tanah yang miskin nutrisi, dan angin panas yang bertiup tanpa ampun.
Namun pada Malam Natal 1974, ada sesuatu yang lebih ekstrem dari biasanya datang menghampiri. Siklon Tracy, dengan kecepatan angin mencapai 217 kilometer per jam sebelum anemometer-nya rusak, menghantam Darwin dan menghancurkan hampir 90 persen kota. Pohon-pohon tumbang seperti batang korek api. Rumah-rumah yang dulu kokoh berubah menjadi puing. Dan di tengah kehancuran itu, Sophie Cunningham menemukan benang merah yang menghubungkan pohon, sejarah, bencana, dan kesendirian—sebuah jalinan yang ia eksplorasi dalam tiga esai terakhir bukunya, City of Trees .
Jika kita merenungkan tentang pohon-pohon ini, sebuah pola yang mengharukan muncul. Coolibah adalah pohon yang bertahan di lingkungan ekstrem, saksi bisu sejarah kolonial yang kejam. Mountain Ash adalah raksasa yang rentan, yang beradaptasi dengan api tetapi tidak dengan api yang terlalu sering. Ranee adalah makhluk yang kesepian, simbol dari semua yang kita korbankan atas nama kemajuan. Dan elang peregrine adalah pengingat bahwa alam bisa beradaptasi, tetapi pada biaya yang tidak selalu kita pahami .
Semua ini terjadi di bawah bayang-bayang bencana—Siklon Tracy, kebakaran hutan, perubahan iklim. Cunningham tidak menawarkan solusi mudah. Ia hanya mengajak kita untuk merenungkan: apa artinya hidup di dunia yang rapuh? Apa artinya mencintai sesuatu yang bisa hancur dalam semalam? Apa artinya menjadi manusia di tengah krisis yang kita ciptakan sendiri?
Seperti Ranee yang kesepian di kebun binatang, seperti coolibah yang menyaksikan sejarah tanpa bisa bicara, seperti mountain ash yang terbakar sebelum sempat beregenerasi—kita semua rentan. Namun dalam kerentanan itu, ada juga kemungkinan untuk terhubung, untuk peduli, untuk bertindak. Bukan karena kita yakin akan berhasil, tetapi karena tidak bertindak berarti menyerah pada keputusasaan.
Di akhir esai tentang mountain ash, Cunningham mungkin merenungkan tentang kata-kata penyair Mary Oliver: “Tell me, what is it you plan to do with your one wild and precious life?” Bagi Cunningham, jawabannya mungkin sederhana: merawat pohon, mendengarkan cerita mereka, dan mengingat bahwa kita bukan satu-satunya makhluk di planet ini. Dalam perawatan itu, dalam perhatian itu, mungkin ada keselamatan—bukan untuk dunia, tetapi untuk jiwa kita sendiri.
Muara Enim, Sumatera, 29 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Arbuthnott, J. (2019, April 13). Book review: City of Trees by Sophie Cunningham. ArtsHub. https://www.artshub.com.au/news/reviews/book-review-city-of-trees-by-sophie-cunningham-257721-2362833/
Cunningham, S. (2012). Descended upon by looters. Overland, 209. https://overland.org.au/previous-issues/issue-209/feature-sophie-cunningham/
Cunningham, S. (2014). Warning: The story of Cyclone Tracy. Text Publishing.
Cunningham, S. (2019). City of trees: Essays on life, death & the need for a forest. Text Publishing.
Darwish, M. (2003). Unfortunately, It Was Paradise: Selected Poems. University of California Press.
Griffith Review. (2017). ‘Biyala stories’ wins essay prize. https://dev.griffithreview.com/biyala-stories-wins-essay-prize/
Haraway, D. J. (2016). Staying with the trouble: Making kin in the Chthulucene. Duke University Press.
Miłosz, C. (2001). *New and Collected Poems: 1931-2001*. Ecco Press.
Oliver, M. (1992). New and selected poems. Beacon Press.
RNZ. (2019, April 15). Sophie Cunningham: City of Trees. https://www.rnz.co.nz/national/programmes/ninetonoon/audio/2018691203/sophie-cunningham-city-of-trees
Singer, P. (1975). Animal liberation: A new ethics for our treatment of animals. HarperCollins.
Solnit, R. (2004). Hope in the dark: Untold histories, wild possibilities. Haymarket Books.






