Rubarubu #247
Outline of an Ecosophy:
Sebuah Gubuk di Ketinggian, Sebuah Pertanyaan yang Lebih Dalam
Di lereng sebuah gunung di Norwegia selatan berdiri gubuk kecil bernama Tvergastein, “batu-batu yang bersilang”. Filsuf Arne Næss membangunnya ketika masih berusia dua puluhan dan kembali ke sana sepanjang hidupnya untuk menulis, memanjat, dan berpikir (Environment-Ecology.com, n.d.; Bankston, 2022). Dari gubuk itulah lahir salah satu gagasan yang paling banyak diperdebatkan dalam filsafat lingkungan abad ke-20.
Næss pernah menjelaskan mengapa ia menyebutnya “dalam”: di pegunungan, katanya, orang menjadi kecil di hadapan pemandangan sehingga lebih mudah merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan gagasan tentang “diri” pun terasa “more vast and deeper” (Næss, dikutip dalam Environment-Ecology.com, n.d.), lebih luas dan lebih dalam. Kedalaman itu bukan soal kesalehan atau kerumitan bahasa. Ia soal seberapa jauh kita berani menelusuri akar sebuah persoalan sebelum menawarkan jalan keluar.
Buku yang kita baca di sini, Ecology, Community and Lifestyle: Outline of an Ecosophy adalah upaya Næss untuk menyusun kedalaman itu menjadi sebuah sistem. Sebuah upaya membaca Ekosofi Arne Næss, dari Intuisi tentang alam menuju kepemimpinan yang menjaga kehidupan.
Buku ini diterbitkan Cambridge University Press, 1989; cetakan paperback pertama 1990.
Ia merupakan terjemahan yang direvisi dan diperluas dari bukunya berbahasa Norwegia, Økologi, samfunn og livsstil, yang terbit pada 1970-an dan mengalami lima kali revisi. Edisi Inggrisnya memuat terjemahan sebagian bab dari edisi kelima terbitan Universitetsforlaget (1976), dan dikerjakan bersama David Rothenberg, yang menerjemahkan, merevisi, dan menulis pengantar panjang tentang bagaimana Næss bergerak dari intuisi menuju sistem (Næss, 1989; Bankston, 2022). Rothenberg, lahir 1962 dan kelak mengajar di New Jersey Institute of Technology, mengerjakan revisi itu bersama Næss di sejumlah tempat menyendiri di Norwegia, termasuk Tvergastein sendiri, di sela perjalanan Næss ke berbagai negeri (Bankston, 2022; Rothenberg, 2009). Halaman persembahannya berisi nama Peter Reed (1961–1987), yang bersama Rothenberg menyunting kumpulan tulisan Wisdom in the Open Air tentang akar Norwegia deep ecology (Næss, 1989; Bankston, 2022).
Pengantar Rothenberg layak dicatat karena memperlihatkan bahwa filsafat Næss sangat bergantung pada ketepatan kata. Daftar isinya memuat pembahasan enam istilah yang mudah tergelincir dalam terjemahan: milieu dan environment, realisasi-diri, derivasi, identifikasi, nilai intrinsik, dan kedalaman, ditambah pertanyaan di mana deep ecology harus ditempatkan (Næss, 1989). Pilihan antara “milieu” dan “environment”, misalnya, bukan soal gaya. Sejak 1973 Næss menolak citra “manusia-dalam-lingkungan” dan menggantinya dengan citra medan relasional total, yakni makhluk hidup sebagai simpul dalam jaring hubungan intrinsik (Næss, 1973). Kata yang menaruh manusia di tengah dan alam di sekelilingnya sudah menyelundupkan pandangan yang ia tolak.
Dua judul lain dalam pengantar itu, “beginning with intuitions” dan “interpretation and precisation”, menggambarkan gerak intelektual Næss: ia bertolak dari intuisi yang kuat, lalu menyusun ketepatan yang bertahap (Næss, 1989).
Untuk memahami siapa yang berbicara, ada baiknya melihat perjalanan hidup Næss. Arne Dekke Eide Næss lahir pada 27 Januari 1912 di Slemdal, Oslo, dan wafat di Oslo pada 12 Januari 2009 dalam usia sembilan puluh enam tahun. Pada usia dua puluh tujuh, tahun 1939, ia menjadi profesor filsafat termuda dalam sejarah Universitas Oslo, jabatan yang ia pegang hingga 1970. Ia belajar di Paris dan Wina. Titik baliknya datang dari beberapa arah sekaligus: kecintaannya pada gunung, bacaannya atas Baruch Spinoza (1632–1677), filsuf Belanda yang memandang Tuhan dan alam tidak terpisah, perkenalan dengan terutama Silent Spring (1962) karya Rachel Carson (1907–1964), ahli biologi kelautan Amerika yang membuka mata dunia pada bahaya pestisida.
Pada awal 1970-an ia bersama para aktivis merantai dirinya pada batu-batu di air terjun Mardal untuk menentang rencana bendungan, dan pemerintah Norwegia akhirnya membatalkannya (Grimes, 2009). Dari situ terbentuk pola yang menjadi ciri seluruh bukunya: pemikiran yang tidak pernah puas menjadi teori, dan tindakan yang tidak pernah puas menjadi protes tanpa dasar filosofis.
Tulisan ini tidak berniat menjadi ringkasan bab demi bab. Ia mencoba membaca buku itu sebagai satu cerita yang berjalan dalam tiga babak: bagaimana Næss memahami krisis dan menyusun cara berpikirnya, bagaimana ia menurunkan cara berpikir itu ke teknologi, ekonomi, dan politik, dan bagaimana ia memuncakkannya dalam Ekosofi T, filsafat pribadinya tentang kesatuan dan keragaman hidup. Lalu ia membawa cerita itu ke dunia 2026 dan bertanya apa artinya bagi masyarakat yang masih bergantung pada kapitalisme, bagi perusahaan yang didorong lebih manusiawi, dan bagi pemimpin yang harus lincah namun berani berpihak pada kehidupan. Satu catatan jujur perlu ditaruh di awal: yang saya pegang adalah daftar isi buku itu dan sumber-sumber sekunder yang dapat ditelusuri, bukan naskah lengkapnya. Batas ini dijelaskan di bagian akhir.
Krisis, Konsumsi, dan Pengetahuan yang Terbatas
Næss membuka bukunya dengan pertanyaan tentang seberapa gawat keadaan kita, dan dari sana ia langsung pindah ke sesuatu yang lebih tajam: bagaimana produksi dan konsumsi bekerja sebagai ideologi sekaligus praktik. Artinya, krisis lingkungan bukan sekadar kumpulan gejala teknis, tetapi hasil dari cara sebuah masyarakat menyebut apa yang baik, apa yang maju, dan apa yang layak dikejar. Bab pembuka itu kemudian mengingatkan hal yang jarang diucapkan para pemuja kemajuan: pengetahuan ekologis kita sangat terbatas, dan karena itu kebodohan kita punya akibat politik. Kalau kita tahu begitu sedikit tentang jaring kehidupan yang kita ubah, maka kehati-hatian bukan kelemahan, melainkan kejujuran epistemik.
Perbedaan pendekatan itu sudah ia rumuskan sejak makalahnya pada 1973, “The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement”, yang berasal dari ceramah pada Konferensi Riset Masa Depan Dunia di Bukares tahun 1972 dan terbit di jurnal Inquiry (Næss, 1973). Gerakan ekologi yang “dangkal”, tulisnya, berjuang melawan polusi dan menipisnya sumber daya, dengan tujuan utama kesehatan dan kemakmuran orang di negara maju. Gerakan yang “dalam” menyentuh keprihatinan yang lebih dasar tentang keragaman, kompleksitas, otonomi, desentralisasi, simbiosis, egalitarianisme, dan tiadanya kelas. Salah satu butirnya yang paling menarik adalah ajakan pada “complexity, not complication” (Næss, 1973), kerumitan yang hidup, bukan kerumitan yang mempersulit. Bagi pemimpin organisasi, ini sudah pelajaran manajemen: ekosistem yang sehat kaya keterhubungan, tetapi birokrasi yang berbelit hanya menyulitkan.
Buku ini kemudian merumuskan apa yang disebut platform gerakan ekologi dalam. Bersama ahli lingkungan Amerika George Sessions, Næss menyusun delapan butir pada 1984 ketika keduanya berkemah di gurun California, dan versi platform itu dimuat dalam edisi Inggris buku ini (Bankston, 2022; Rothenberg, 2009). Isinya sederhana namun radikal. Kesejahteraan dan mekarnya kehidupan manusia dan bukan manusia di bumi bernilai pada dirinya sendiri, terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Kekayaan dan keragaman bentuk kehidupan menyumbang bagi nilai-nilai itu dan juga bernilai pada dirinya. Manusia tidak berhak mengurangi kekayaan dan keragaman itu kecuali untuk memenuhi kebutuhan vital. Campur tangan manusia atas dunia bukan manusia sudah berlebihan dan makin memburuk. Kebijakan harus berubah, menyangkut struktur ekonomi, teknologi, dan ideologi. Perubahan ideologis terutama berupa penghargaan pada mutu hidup, bukan standar hidup yang terus naik, dengan kesadaran mendalam akan “the difference between big and great” (Næss & Sessions, 1984, dikutip dalam Encyclopaedia Britannica, n.d.), bedanya yang besar dan yang agung. Dan siapa pun yang menyetujuinya berkewajiban ikut mengusahakan perubahan itu.
Butir kelima platform itu, bahwa mekarnya kehidupan manusia dan budaya sesuai dengan penurunan jumlah penduduk yang cukup besar, dan mekarnya kehidupan bukan manusia membutuhkannya, adalah yang paling sering menuai kecaman, dan kita akan kembali padanya. Untuk sekarang, cukup dicatat bahwa Næss menyajikan platform ini bukan sebagai dogma, melainkan sebagai titik temu yang dapat disetujui orang dari beragam agama dan aliran filsafat, yang lalu bekerja sama untuk perubahan sosial (Rothenberg, 2009; Bankston, 2022). Karena itulah, dalam bukunya, platform tersebut dibedakan tegas dari filsafat pribadi Næss sendiri, Ekosofi T.
Cerita 2025 memberi bobot pada urgensi yang dirasakan Næss lima puluh tahun sebelumnya. Pada September 2025 Planetary Boundaries Science Lab di Potsdam Institute for Climate Impact Research menyimpulkan bahwa tujuh dari sembilan batas planet telah dilampaui, dengan pengasaman laut sebagai yang ketujuh: perubahan iklim, integritas biosfer, perubahan sistem lahan, air tawar, aliran biogeokimia, zat-zat baru, dan pengasaman laut, semuanya dengan tren memburuk; hanya penipisan ozon dan beban aerosol yang masih berada di zona aman (Stockholm Resilience Centre, 2025). Johan Rockström, direktur institut itu, mengatakan bahwa “More than three-quarters of the Earth’s support systems are not in the safe zone” (Rockström, dikutip dalam Potsdam Institute for Climate Impact Research, 2025).
Penilaian global IPBES pada 2019 sudah memperkirakan bahwa sekitar satu juta spesies terancam punah (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, 2019), dan Living Planet Report 2024 melaporkan penurunan rata-rata 73 persen ukuran populasi satwa liar yang dipantau antara 1970 dan 2020, angka yang menyangkut rata-rata perubahan populasi yang dipantau, bukan berarti 73 persen satwa lenyap (World Wildlife Fund, 2024). Pada Desember 2022, 196 pihak menyepakati Kerangka Keanekaragaman Hayati Kunming–Montreal dengan empat tujuan untuk 2050 dan 23 target untuk 2030, termasuk melindungi sedikitnya 30 persen daratan dan lautan (Convention on Biological Diversity, 2022). Semua itu adalah bentuk modern dari pertanyaan yang sama: apakah kita menanggapi gejala, atau akar?
Dari Ekologi ke Ekosofi: Cara Melihat yang Menentukan Cara Bertindak
Bab-bab tengah buku ini adalah bagian yang paling filosofis, dan paling sering dilewati pembaca yang tergesa-gesa. Padahal di sinilah Næss membangun alasan mengapa gerakan lingkungan tidak cukup hanya berbekal ilmu ekologi. Ia membedakan tiga hal. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekofilosofi adalah perpaduan ekologi dengan filsafat. Ekosofi, dari oikos (rumah) dan sophia (kearifan), adalah pandangan total yang bersifat pribadi tentang bagaimana kita harus hidup di rumah bersama itu, lengkap dengan norma dan hipotesisnya (Bankston, 2022; Næss, 1973). Ekosofi bukan monopoli Næss. Setiap orang dapat, dan seharusnya, mengembangkan ekosofinya sendiri, yang Næss namai secara pribadi Ekosofi T, sebagian besar komentator menafsirkan “T” sebagai Tvergastein (Bankston, 2022). Kemajemukan ini disengaja: pada tingkat platform orang dapat bersepakat, sementara pada tingkat filsafat terdalam mereka dapat berbeda, dan perbedaan itu tidak menghalangi kerja sama.
Salah satu peringatan Næss yang paling relevan hari ini adalah bahaya “ekologisme”, yakni menjadikan ekologi sebagai ilmu pamungkas. Dalam makalah 1973 ia sudah menulis bahwa di bawah nama ekologisme telah diperjuangkan berbagai penyimpangan dari gerakan yang dalam, terutama dengan penekanan sepihak pada polusi dan penipisan sumber daya (Næss, 1973). Bab kedua bukunya menjelaskan alasannya secara filosofis: sains yang objektif tidak dapat memberi prinsip untuk bertindak. Sains dapat mengatakan apa yang terjadi bila hutan ditebang; ia tidak dapat mengatakan apakah kita seharusnya melakukannya. Pernyataan tentang watak dunia adalah hipotesis, sedangkan pernyataan tentang sikap dan tindakan yang seharusnya kita ambil adalah norma, dan keduanya harus dipisahkan dengan jujur (Bankston, 2022). Nasihat Næss yang tampak sederhana, “umumkan prioritas nilaimu dengan tegas”, berakar di sini: kalau nilai tak dapat diturunkan dari fakta, maka tugas etis adalah menyatakannya terang-terangan, bukan menyembunyikannya di balik data.
Bagian yang paling tak lazim adalah teorinya tentang bagaimana kita mengalami alam. Filsafat modern sejak abad ke-17 membagi sifat benda menjadi sifat primer seperti ukuran, sifat sekunder seperti warna dan hangat, dan sifat tersier seperti keindahan, dengan anggapan bahwa yang terakhir hanya ada di kepala pengamat. Næss menolak pemisahan itu dan menawarkan apa yang ia sebut teori “baik-dan-juga” ala Protagoras: pikiran dan benda bukan dua hal terpisah, melainkan bagian dari satu medan relasi, sehingga warna, ukuran, dan keindahan adalah jenis-jenis hubungan di dalam medan itu (Bankston, 2022). Dari sini ia menurunkan pemikiran gestalt, yaitu kebiasaan melihat keseluruhan pola dan bukan potongan-potongannya. Emosi, dalam kerangka ini, bukan gangguan bagi rasionalitas, melainkan bagian dari medan yang sama, sumber nilai dasar yang kita pakai untuk menilai suatu keadaan. Keberatan emosional atas terputusnya manusia dari alam, dengan demikian, adalah data yang sahih, bukan sentimentalitas (Bankston, 2022).
Puncaknya adalah norma tertinggi dalam Ekosofi T: realisasi-diri (Self-realisation). Næss sendiri mengakui bahwa istilah ini kabur, dan ia memakainya sebagai titik tolak untuk menjadi makin tepat, proses yang ia namai precisation. Pada tingkat pertama, realisasi-diri berarti ego-realisasi: pemenuhan kepentingan dan ekspresi diri individu. Tetapi mengambil isyarat dari Spinoza, Næss berargumen bahwa keselamatan diri tak mungkin tercapai tanpa orang lain, sehingga ada realisasi-diri yang melampaui ego dan mencakup sesama. Deep ecology melangkah satu tahap lagi: diri kita tidak hanya diri sosial, melainkan tertanam dalam keterhubungan semua bentuk kehidupan. Pada tahap akhir, Diri dengan D besar berarti identifikasi dengan semua yang hidup, sesuatu yang oleh berbagai tradisi disebut diri universal atau yang mutlak, dan oleh Hinduisme disebut atman (Bankston, 2022). Di sinilah pergeseran terbesar dalam bukunya terjadi. Pertanyaan “bagaimana kita menjaga lingkungan?” berubah menjadi “siapa sebenarnya diri yang hendak kita realisasikan?” Jika batas diri kita luas, menjaga sungai tak lagi terasa sebagai pengorbanan, melainkan sebagai merawat bagian dari diri sendiri.
Teknologi, Gaya Hidup, dan Ekonomi yang Mengukur Hal yang Keliru
Jika bab-bab awal membangun cara melihat, bab-bab berikutnya bertanya bagaimana cara melihat itu turun ke kehidupan sehari-hari. Næss memulai dari kesadaran bahwa filsafat yang tidak mengubah gaya hidup hanyalah hiasan. Karena itu ia menaruh perhatian pada perubahan mentalitas dan pada bantuan timbal balik menuju gaya hidup ekosofis. Dalam bukunya ia menyebut gerakan Norwegia “The Future in Our Hands” (Framtiden i våre hender), yang lahir dari buku Erik Dammann (1931–2025), seorang penulis dan mantan pekerja periklanan yang pada 1972 menggugat pengejaran pertumbuhan dan konsumsi dan pada 1974 mendirikan gerakan dengan nama yang sama. Gerakan itu tumbuh hingga lebih dari 25.000 anggota pada 1970-an, dan Dammann menerima Right Livelihood Award pada 1982 karena menantang nilai dan gaya hidup Barat demi sikap yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan dunia ketiga (Right Livelihood Foundation, n.d.). Bagi Næss, gerakan semacam itu adalah bukti bahwa perubahan gaya hidup tidak harus menunggu perubahan undang-undang: ia dapat dimulai dari orang-orang yang saling membantu hidup lebih sederhana.
Keyakinan itu diringkas dalam sebuah frasa yang kemudian menjadi judul wawancara terkenal dengannya: “simple in means, rich in ends” (Bodian, 1995), sederhana dalam sarana, kaya dalam tujuan. Ini bukan panggilan menjadi miskin, melainkan menolak anggapan bahwa hidup yang baik selalu berarti memiliki lebih banyak. Dalam pandangan Næss, banyak orang justru mengalami kehidupan yang kaya lewat berjalan di alam terbuka, berkumpul dalam komunitas kecil, dan mengerjakan sesuatu dengan tangan sendiri, hal-hal yang hampir tak masuk hitungan ekonomi.
Teknologi mendapat pembahasan khusus. Næss menolak dua mitos sekaligus. Mitos pertama adalah bahwa ada kemajuan yang murni teknis, padahal setiap teknologi membawa serta pilihan nilai tentang siapa yang diuntungkan, siapa yang bekerja, dan siapa yang menanggung akibatnya. Mitos kedua adalah kalimat yang sering kita dengar bahwa “krisis lingkungan dapat diselesaikan secara teknis”, sesuatu yang ia perlakukan dengan tanda kutip dan tanda titik-titik dalam daftar isinya. Ia membedakan teknologi “lunak” dari teknologi “keras”, dan dalam kerangka ekosofinya teknologi keras cenderung merusak lingkungan dan berjarak dari warga (Bankston, 2022).
Dalam tafsir penulis tulisan ini, teknologi lunak adalah yang berskala manusiawi, dapat dipahami dan dikendalikan komunitas, dan selaras dengan sumber daya setempat, sedangkan teknologi keras bersifat jauh, terpusat, dan menuntut ketergantungan. Næss juga membahas “invasi” teknologi keras ke dunia ketiga, sebuah pilihan kata yang sudah menyiratkan penilaiannya (Næss, 1989). Menariknya, kekhawatiran ini terdengar bertahun-tahun sebelum kita bicara tentang kecerdasan buatan yang bergantung pada pusat data raksasa. Sukarno (1901–1970), presiden pertama Republik Indonesia, sudah menyampaikan kegelisahan serupa dalam bahasa politik pada 1955: bahwa “political skill of man has been far outstripped by technical skill” (Sukarno, 1955), keterampilan politik manusia jauh tertinggal dari keterampilan teknisnya. Ukuran kematangan sebuah peradaban, dalam pandangan Næss dan Sukarno, bukan seberapa canggih alatnya, melainkan seberapa bijak cara ia mengaturnya.
Bab ekonomi adalah salah satu bagian yang paling berani dari buku ini, dan paling relevan bagi pertanyaan kita tentang kapitalisme. Næss mengakui sesuatu yang jarang diakui para filsuf lingkungan, yakni bahwa gerakan ekologi dalam telah mengabaikan ekonomi. Ia lalu menyusun serangan sistematis terhadap Produk Nasional Bruto (PNB), dan pola argumennya patut dirangkum karena masih segar. PNB bukan ukuran kesejahteraan. Pertumbuhannya menguntungkan teknologi yang keras dan jauh. Ia mendorong pemenuhan keinginan, bukan kebutuhan. Ia mendiskriminasi orang yang bekerja di rumah, yang kerja perawatannya tidak dibayar dan karena itu tak tercatat. Pertumbuhannya menopang konsumsi sumber daya yang tak bertanggung jawab dan tak solider, serta pencemaran global. Dan akhirnya, seperti tampak dalam daftar isinya, ia menyoal ketidakrelevanan pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara industri serta upaya-upaya keliru untuk menyelamatkan PNB, termasuk lewat argumen lapangan kerja (Næss, 1989; Bankston, 2022).
Lalu ia menawarkan pengganti. Dari teori kesejahteraan ekonomi ia bergerak ke sistem normatif, dan dari kesejahteraan (W) menuju realisasi-diri (T), tempat kualitas hidup menjadi inti. Ia mengusulkan penelitian mutu hidup lewat wawancara mendalam, yakni bertanya kepada orang apa yang sungguh membuat hidup mereka bermakna alih-alih menebak dari angka konsumsi. Ia juga membahas shadow-pricing alam, yakni upaya memberi harga bayangan pada hal-hal yang tak dijual di pasar (Næss, 1989). Tesisnya jelas: kebahagiaan yang didefinisikan sebagai standar hidup yang terus meningkat harus digeser menjadi kebahagiaan sebagai mutu hidup; kebutuhan dasar dan kesehatan penduduk harus menggantikan maksimalisasi produksi dan konsumsi sebagai tujuan ekonomi (Bankston, 2022).
Menarik melihat betapa dekat dunia 2026 dengan proposal ini. Pada 7 Mei 2026, kelompok pakar tingkat tinggi independen yang ditunjuk Sekretaris Jenderal PBB merilis laporan Counting What Counts: A Compass of Progress for People and Planet, cetak biru global pertama untuk menilai kemajuan di luar Produk Domestik Bruto. Laporan itu mengusulkan dasbor 31 indikator dalam empat pilar: kesejahteraan saat ini, kesetaraan dan inklusi, keberlanjutan dan ketahanan, serta prinsip dasar seperti perdamaian, hak asasi manusia, dan penghormatan pada planet (United Nations, 2026; EFD Initiative, 2026).
Antonio Guterres menulis pengantarnya dengan satu kalimat yang pasti membuat Næss tersenyum: “what we measure shapes what we value” (Guterres, dikutip dalam UNCTAD, 2026), apa yang kita ukur membentuk apa yang kita hargai. Kate Raworth, ekonom Inggris penulis Doughnut Economics (2017), menerjemahkan gagasan serupa menjadi gambar donat: ekonomi yang sehat bergerak dalam “safe and just space for humanity” antara fondasi sosial dan langit-langit ekologis (Raworth, 2012). Næss tidak menolak pasar. Ia menolak menjadikan angka pertumbuhan sebagai tujuan, dan meminta agar kita bertanya untuk apa ekonomi ada.
Di sinilah pertanyaan tentang kapitalisme menjadi konkret. Kapitalisme telah menghasilkan inovasi, produktivitas, dan mobilitas sosial yang tak dapat diabaikan, dan sebagian besar dunia bergantung padanya. Namun laporan Oxfam pada Januari 2026 memperlihatkan sisi lain dari sistem ini: kekayaan miliarder dunia naik lebih dari 16 persen pada 2025 menjadi rekor US$18,3 triliun, tiga kali lebih cepat dari rata-rata lima tahun sebelumnya, sementara satu dari empat orang tidak selalu cukup makan (Oxfam International, 2026). Pertumbuhan yang tidak diarahkan, dengan kata lain, dapat berjalan berdampingan dengan kelangkaan. Kritik Næss atas PNB adalah kritik atas kompas, bukan atas mesin. Kompas yang keliru membuat mesin yang bagus pun membawa kita ke tempat yang salah.
Politik Hijau, Kekerasan yang Ditolak, dan Dunia yang Timpang
Næss tidak mengizinkan gerakannya bersembunyi di balik kemurnian. Bab politik dibuka dengan pengakuan bahwa gerakan ekologi tak dapat menghindari politik: segalanya relevan secara politik, walau tidak semuanya adalah politik, dan analisis kekuasaan diperlukan. Salah satu peringatannya adalah agar konservasi tidak dilepaskan dari arena politik. Ia menggambarkan segitiga politik dengan tiga kutub, biru, merah, dan hijau: biru adalah kaum pasar bebas, merah adalah pendukung negara kesejahteraan, dan hijau adalah gerakan ekologi. Hal yang patut dicatat adalah bahwa ia tidak menganjurkan hijau memusuhi dua lainnya.
Kaum hijau berbagi dengan kaum biru penekanan pada tanggung jawab pribadi dan penolakan terhadap birokrasi, dan berbagi dengan kaum merah komitmen pada tanggung jawab sosial serta penolakan terhadap ketimpangan. Dengan mengenali titik-titik tumpang tindih itu, gerakan hijau dapat menggeser partai-partai lain ke arah hijau (Bankston, 2022). Pelajaran organisasinya kentara: perubahan besar jarang dimenangkan dengan menaklukkan lawan, tetapi dengan menemukan kepentingan bersama di antara mereka yang tampaknya berlawanan.
Dari sana Næss menuntun pembaca ke daftar persoalan ekopolitik: polusi, sumber daya, dan penduduk; dilanjutkan dengan penguatan yang lokal dan yang global secara bersamaan. Ia menekankan penentuan nasib sendiri, kemandirian, dan perwujudan komunitas lokal. Masyarakat yang seimbang dengan dunia bukan manusia, dalam bayangannya, cenderung berskala kecil, mengambil keputusan lewat demokrasi langsung, menunjukkan sedikit ketimpangan kekayaan, dan sangat mandiri (Bankston, 2022). Ia juga menimbang secara kritis pendekatan Limits to Growth, menyoal apakah partai hijau diinginkan, menyinggung birokrasi, sosialisme dan ekosofi, dan hubungan gerakan ekologi dengan gerakan perdamaian, sebelum menutup dengan program hijau yang dapat dijalankan hari demi hari (Næss, 1989).
Di atas semuanya, pilihan Næss atas tanpa kekerasan (nonviolence) ala Gandhi adalah keputusan yang paling menentukan. Mengikuti ajaran Mohandas Gandhi (1869–1948), pemimpin kemerdekaan India, ia berpendapat bahwa aksi politik untuk mewujudkan komunitas dan kebijakan yang ramah ekologi harus bertumpu pada norma nirkekerasan: sedikit tindakan ilegal, dan hanya ketika perlu; dan ketika melanggar hukum, aktivis harus berusaha membangun kontak pribadi dengan lawan dan perlahan mengubah mereka menjadi pendukung (Bankston, 2022). Ia menulis buku Gandhi and Group Conflict (1974) dan pengalamannya merantai diri di Mardal menunjukkan bahwa ia melakukan apa yang ia ajarkan (Rothenberg, 2009; Grimes, 2009).
Menarik bahwa tradisi Muslim memiliki tokoh yang hampir seangkatan dengan Gandhi dan menempuh jalan yang sama. Khan Abdul Ghaffar Khan (sekitar 1890–1988), yang dikenal sebagai Badshah Khan atau “Gandhi dari Perbatasan”, mendirikan gerakan Khudai Khidmatgar, “Hamba-hamba Tuhan”, pada akhir 1920-an di wilayah Pashtun. Anggotanya, lebih dari seratus ribu orang, bersumpah bersikap sepenuhnya nirkekerasan, memaafkan penindas, dan melakukan kerja sosial dua jam setiap hari. Kepada mereka ia mengatakan bahwa senjata Nabi yang mereka lupakan adalah “patience and righteousness”, kesabaran dan kebenaran (Khan, dikutip dalam Abdul Ghaffar Khan, n.d.; Brehmer, n.d.). Ada kebetulan yang manis di sini: Tirich Mir, gunung yang didaki Næss pada 1950, menjulang di kawasan perbatasan barat laut Pakistan, tak jauh dari wilayah tempat Badshah Khan membangun tentara tanpa senjatanya. Dua manusia, satu seorang filsuf Norwegia, satu seorang pemimpin Muslim Pashtun, tidak pernah bekerja sama, tetapi keduanya menemukan bahwa perubahan yang bertahan tidak dibangun di atas kebencian.
Bab yang sama menempatkan hubungan antara negara kaya dan miskin sebagai persoalan keadilan ekologis, bukan amal. Næss berpendapat bahwa kemampuan negara miskin membalik degradasi lingkungan dilemahkan oleh eksploitasi negara kaya, yang kecanduan produksi dan konsumsi berlebih yang menghabiskan bahan baku negara miskin dan menjadikannya tempat pembuangan limbah. Karena itu perubahan ekonomi negara maju harus disertai pergeseran hubungan dengan dunia lain dari eksploitasi menuju bantuan timbal balik (Bankston, 2022). Bagi pembaca Indonesia, gema sejarahnya kuat. Pada pembukaan Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, Sukarno menolak penghiburan bahwa kolonialisme sudah mati: kolonialisme, katanya, “has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control” (Sukarno, 1955), pakaian modern berupa kendali ekonomi dan kendali intelektual.
Ekopolitik Næss dapat dibaca sebagai tambahan pada peringatan itu: kolonialisme juga dapat mengambil rupa ekstraksi sumber daya alam dan pembuangan limbah, dan karena itu pemulihan ekologis tidak terpisahkan dari dekolonisasi ekonomi.
Bab yang membahas gerakan perdamaian tampak aneh dalam buku ekologi hingga kita membaca data hari ini. Stockholm International Peace Research Institute melaporkan bahwa belanja militer dunia mencapai US$2.887 miliar pada 2025, tahun ke-11 berturut-turut naik, atau 2,5 persen dari produk domestik bruto dunia, tertinggi sejak 2009 (Stockholm International Peace Research Institute, 2026). Setiap dolar yang mengalir ke persenjataan adalah dolar yang tidak mengalir ke pemulihan tanah, air, dan kesehatan. Næss memahami keterkaitan itu: gerakan ekologi dan gerakan damai berbagi akar yang sama, yakni penolakan terhadap logika penguasaan.
Ekosofi T: Kesatuan dan Keragaman Hidup
Bab terakhir adalah tempat Næss menaruh seluruh pilihannya di meja. Ia memulai dengan klaim yang sederhana dan berat sekaligus: ada hak universal untuk menyingkap diri (self-unfolding), dan karena itu setiap bentuk kehidupan memiliki nilai intrinsik. Ekosofi, katanya, menyatukan semua kehidupan dan seluruh alam. Kehidupan adalah proses sejarah yang sangat besar, dan hak untuk hidup serta mekar berlaku pada semua yang hidup. Namun ia tidak memakai klaim ini untuk merendahkan manusia. Keunikan manusia, tegasnya, tidak boleh diremehkan. Di sinilah letak kepekaan filosofisnya: ia menolak antroposentrisme yang menjadikan manusia satu-satunya pemilik nilai, tetapi juga menolak anti-humanisme yang melupakan manusia.
Konsep kuncinya adalah identifikasi, kemampuan merasakan bahwa penderitaan dan kemekaran makhluk lain adalah sebagian dari diri kita. Næss membicarakan keterasingan dan gagasan tentang kesatuan dan keutuhan, hubungan identifikasi dengan realisasi-diri, serta sebuah pernyataan yang tampak antroposentris, bahwa yang tak bernilai bagi manusia mana pun tak bernilai sama sekali, yang ia telaah dan tempatkan dalam tanda kutip (Næss, 1989). Ia lalu menggeser pembicaraan ke friluftsliv, kata Norwegia untuk kehidupan yang meluap-luap di alam terbuka, dan ke kekejaman di alam, tragedi sekaligus komedi kehidupan. Judul-judul bagiannya saja sudah menunjukkan bahwa ia tidak romantis: alam bukan taman yang ramah, dan dalam pembacaan penulis tulisan ini, yang ia tawarkan adalah rasa hormat yang tak menuntut alam menjadi manis.
Dua bagian sejarah dalam bab ini penting bagi pembaca yang bertanya tentang agama. Bagian pertama menelusuri perspektif historis dari Alkitab dan bagian kedua dari Plotinus hingga Descartes. Latar yang menarik untuk diingat adalah esai sejarawan Lynn White Jr. (1907–1987) pada 1967, “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis“, yang di majalah Science menuding tradisi Kristen Barat turut membentuk sikap penguasaan atas alam (White, 1967). Penelusuran Næss atas Alkitab dan filsafat Barat berdiri dalam percakapan panjang itu. Ia juga membahas bahwa rasa hormat pada diri sendiri tidak hanya bersumber dari kepentingan kita, bahwa Bima Sakti pun menumbuhkan rasa hormat, dan bahwa filsafat kesatuan bertaut dengan nirkekerasan.
Puncak sistematisasi bab ini adalah usaha Næss menyusun norma dan hipotesis paling dasar Ekosofi T, dalam bentuk model hubungan logis. Ia merumuskan norma-hipotesis yang berasal dari ekologi, memaknai keragaman, kompleksitas, dan simbiosis dalam konteks realisasi-diri, dan menurunkan norma komunitas lokal. Ia membahas syarat minimum dan keadilan: kelas dan eksploitasi. Semuanya ditutup dengan gambaran ikhtisar dalam bentuk diagram, dan bab penutup tentang masa depan gerakan ekologi dalam. Bentuk sistem ini, model norma berupa piramida yang ia perkenalkan sejak bab ketiga, dalam pembacaan penulis tulisan ini memungkinkan setiap orang memeriksa norma turunan terhadap norma yang lebih dasar, sehingga ia dapat menemukan bagian mana yang ia setujui dan mana yang tidak. Itulah cara Næss menghormati kemajemukan tanpa kehilangan ketegasan.
Membaca bab ini dari sudut Islam membuka percakapan yang sangat kaya. Seyyed Hossein Nasr, filsuf Iran kelahiran Tehran (lahir 1933) yang meraih gelar sarjana dari MIT dan doktor dari Harvard, menyampaikan serangkaian kuliah di University of Chicago pada 1966 yang terbit pada 1968 sebagai The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Buku itu kerap disebut sebagai salah satu tulisan pertama dari pemikir Muslim yang mengakui krisis ekologis dan menggugatnya dari sudut spiritual, hampir bersamaan dengan Lynn White dan hanya empat tahun setelah Carson (Nasr, 1968; Restor Exchange, n.d.). Bagi Nasr krisis lingkungan berakar pada krisis spiritual manusia modern, yang memutus hubungan dengan asal-usul dirinya dan alam.
Al-Qur’an sendiri menempatkan manusia dalam rangkaian timbal balik ini. Tentang keseimbangan kosmis disebutkan: “Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan), agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu. Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu” (Kementerian Agama Republik Indonesia, n.d., QS 55:7–9). Tentang akibat ulah manusia: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS 30:41). Dan sebagai larangan: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik” (QS 7:56). Manusia di dalamnya bukan pemilik, melainkan khalifah, wakil atau pengelola di bumi (QS 2:30).
Pengarang Muslim kontemporer menafsirkan kata fasad dalam ayat Ar-Rum 41 bukan sekadar sebagai kemaksiatan abstrak, tetapi sebagai kerusakan konkret yang lahir dari perbuatan manusia yang eksploitatif dan destruktif, sebagaimana ditekankan Yusuf al-Qaradhawi dalam karyanya tentang pemeliharaan lingkungan dalam syariat Islam (Al-Qaradhawi, dikutip dalam Tafsiralquran.id, n.d.). Dan hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad memuat pesan yang tak dapat lebih tegas soal tindakan menanam: jika kiamat datang sementara di tangan salah seorang dari kalian ada tunas tanaman, dan masih mungkin menanamnya, “you should plant it” (Al-Bukhari, n.d., no. 479), hendaklah ia menanamnya. Tidak ada teologi yang lebih bersih tentang tindakan yang tetap bermakna tanpa jaminan hasil.
Kearifan lokal Nusantara punya padanannya. Di Bali, filsafat Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan tiga hubungan: manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Ia terwujud dalam subak, organisasi petani yang membagi air secara demokratis dan menjadikan pura air sebagai pusat spiritual sekaligus simpul distribusi, dan lanskap budaya itu ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2012 (Indonesia.Travel, n.d.). Dalam bahasa Næss, subak adalah contoh komunitas lokal yang mandiri, berskala manusiawi, dan memakai teknologi lunak selama berabad-abad. Sementara itu hukum modern mulai menerjemahkan nilai intrinsik menjadi hak.
Ekuador pada 2008 menjadi negara pertama yang mengakui hak alam dalam konstitusi, dengan pasal yang menyebut alam atau Pachamama berhak atas penghormatan penuh pada keberadaannya serta pemeliharaan dan regenerasi siklus hidupnya (Dawn, n.d.). Pada 2017 parlemen Selandia Baru mengesahkan Te Awa Tupua Act yang mengakui Sungai Whanganui sebagai “an indivisible and living whole” dengan hak dan kewajiban sebagai badan hukum (Christian Science Monitor, 2019). Aldo Leopold (1887–1948), rimbawan dan ahli ekologi Amerika, sudah merumuskan intinya pada 1949: sesuatu benar bila cenderung menjaga “integrity, stability, and beauty of the biotic community” (Leopold, 1949). Paus Fransiskus (1936–2025) menyatukan seluruhnya dalam satu kalimat pada Laudato Si’: kita menghadapi “one complex crisis which is both social and environmental” (Francis, 2015, par. 139), dan karena “everything is connected” (par. 91), kepedulian pada lingkungan harus bergabung dengan cinta pada sesama manusia. Ekosofi Næss bukan gagasan pinggiran. Ia adalah satu cabang dari pohon yang sangat besar.
Membaca Næ ss dengan Kritis
Agar pembacaan kita tidak menjadi puja-puji, buku ini perlu ditanya balik, dan para pengkritiknya tidak sedikit. Kritik pertama datang dari sudut mistik dan kepraktisan: sebagian pengulas menilai buku ini tidak konsisten, terlalu mistis, dan miskin program konkret untuk menyelesaikan persoalan lingkungan, sementara yang lain menyebutnya utopis dan tidak realistis (Bankston, 2022). Næss sendiri membela diri dengan kemajemukan: Ekosofi T adalah panduan pribadi, bukan perintah, dan ia ingin pembaca menyusun ekosofinya sendiri (Bankston, 2022).
Kritik kedua datang dari kiri, dari ekologi sosial. Murray Bookchin (1921–2006), pendiri gerakan ekologi sosial, menilai deep ecology terlalu spiritualistik dan mistis, misantropis karena menghargai dunia bukan manusia dengan merendahkan manusia, dan sebagai “wilderness cult” milik kaum berpunya yang tidak berkontribusi pada perjuangan kaum tertindas (Bookchin, 1990, dikutip dalam Bankston, 2022). Perhatikan bahwa keberatan ini menohok bagian paling sensitif dari platform: butir tentang penurunan jumlah penduduk. Di dunia yang konsumsinya sangat timpang, mereka yang paling sedikit menyumbang kerusakan sering kali paling mudah dituding sebagai “terlalu banyak”. Oxfam America (2026) mengingatkan bahwa dua belas orang terkaya kini memiliki lebih banyak kekayaan daripada separuh umat manusia, sehingga menyalahkan angka penduduk tanpa membicarakan konsumsi dan kekuasaan adalah salah alamat.
Kritik ketiga, dan barangkali yang paling tajam bagi pembaca Indonesia, datang dari Ramachandra Guha, sejarawan India (lahir 1958) yang pernah mengajar di Indian Institute of Science, Yale, dan Berkeley. Dalam esai yang terbit di Environmental Ethics pada 1989, “Radical American Environmentalism and Wilderness Preservation: A Third World Critique”, Guha menganalisis empat pokok deep ecology: pembedaan antroposentrisme-biosentrisme, fokus pada pelestarian hutan belantara, pemanfaatan tradisi Timur, dan klaim sebagai aliran paling radikal. Ia berargumen bahwa pembedaan pertama tak banyak membantu memahami dinamika kerusakan lingkungan, bahwa agenda hutan belantara menimbulkan perampasan yang serius di dunia ketiga, bahwa tafsir deep ecology atas tradisi Timur sangat selektif, dan bahwa di konteks lain, misalnya Jerman Barat dan India, radikalisme lingkungan tampil sangat berbeda dengan penekanan lebih besar pada kesetaraan dan keterpaduan ekologi dengan penghidupan. Kesimpulannya keras: meski mengklaim universal, deep ecology berakar kuat dalam sejarah Amerika dan “inappropriate when applied to the Third World” (Guha, 1989).
Kritik-kritik ini tidak menghapus buku Næss, tetapi menunjukkan di mana ia harus dibaca dengan hati-hati. Pertama, nilai intrinsik alam tidak boleh dijadikan alasan menyingkirkan masyarakat adat dan petani kecil dari tanah yang mereka jaga; kalau tidak, perlindungan alam menjadi bentuk baru dari kolonialisme. Kedua, keadilan sosial dan keadilan ekologis harus berjalan bersama, dan buku Næss sendiri memberi dasar untuk itu lewat pembahasannya tentang keadilan, kelas, dan eksploitasi. Ketiga, pembacaan Guha atas Barat versus Timur mengingatkan kita agar tidak memperlakukan tradisi non-Barat, termasuk Islam dan kearifan Nusantara, sebagai hiasan pelengkap filsafat Barat, melainkan sebagai sumber yang punya cara bertanyanya sendiri. Keempat, seperti pada semua sistem yang berani, nilai buku ini terletak pada pertanyaan yang ia paksa kita jawab, bukan pada ketuntasan jawabannya.
Kepemimpinan yang Menjaga Kehidupan
Bertanya lebih dalam sebelum bertindak lebih cepat
Pelajaran pertama Næss adalah tentang kedalaman bertanya. Gerakan yang “dangkal”, dalam rumusannya, berhenti pada polusi dan penipisan sumber daya demi kemakmuran negara maju; gerakan yang “dalam” menelusuri akar dalam cara kita berpikir tentang manusia, alam, dan nilai. Bagi pemimpin, ini sepadan dengan pembedaan Ronald Heifetz (1994) antara masalah teknis dan masalah adaptif. Masalah teknis punya solusi yang dikenal; masalah adaptif, seperti krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, konsentrasi kekuasaan, atau runtuhnya kepercayaan, menuntut manusia mengubah kebiasaan, kepentingan, bahkan identitasnya. Banyak organisasi gagal bukan karena bodoh, tetapi karena memperlakukan masalah adaptif sebagai masalah teknis: mengganti alat, padahal yang harus berubah adalah cara memandang. Kepemimpinan yang adaptif dan lincah dimulai dengan kesediaan bertanya lebih dalam dan lebih lama sebelum bergerak.
Platform bersama, bukan dogma
Pelajaran kedua adalah cara Næss membangun koalisi. Ia memisahkan platform bersama, delapan butir yang dapat disetujui orang dari agama dan aliran filsafat berbeda, dari filsafat pribadinya, dan menyerahkan filsafat pribadi itu pada tiap orang (Bankston, 2022; Rothenberg, 2009). Kepemimpinan yang bekerja dalam dunia yang terfragmentasi membutuhkan keterampilan yang sama: menemukan lapisan kesepakatan yang cukup dalam untuk menggerakkan tindakan, tanpa memaksa keseragaman pada lapisan yang lebih dalam. Kepiawaian yang sama tampak pada segitiga biru-merah-hijaunya: alih-alih memusuhi pasar dan negara, ia mencari kesamaan dengan keduanya, yakni tanggung jawab pribadi dan anti-birokrasi dengan kaum pasar bebas, tanggung jawab sosial dan penolakan ketimpangan dengan kaum kesejahteraan. Bagi organisasi yang bekerja di antara bisnis, masyarakat, dan lingkungan, ini pelajaran praktis: perubahan bertahan bila dibangun di atas titik temu, bukan kemenangan atas lawan.
Umumkan nilai, pisahkan fakta dari norma
Pelajaran ketiga menyangkut kejujuran. Karena fakta tidak dapat menghasilkan nilai dengan sendirinya, Næss menuntut agar prioritas nilai diumumkan dengan tegas dan agar hipotesis dipisahkan dari norma (Bankston, 2022). Di dunia korporasi dan kebijakan, godaan terbesar justru sebaliknya: menyembunyikan pilihan nilai di balik angka dan menyebutnya objektif. Organisasi yang jujur berkata, “inilah data kami, dan inilah nilai yang kami pakai untuk membacanya”. Ada tanda-tanda kemajuan pada sisi modal: 620 organisasi dari lebih dari lima puluh negara, yang mewakili sekitar US$20 triliun aset kelolaan, kini berkomitmen melaporkan risiko dan peluang terkait alam sesuai rekomendasi Taskforce on Nature-related Financial Disclosures, naik dari sekitar 420 organisasi dan US$15,9 triliun setahun sebelumnya (GOV.UK, 2025). Namun keterbukaan sejati bukan hanya laporan; ia adalah kesediaan menyatakan apa yang akan kita korbankan demi apa. Kerangka Kunming–Montreal menaruh angkanya di depan mata: kesenjangan pendanaan keanekaragaman hayati diperkirakan sekitar US$700 miliar per tahun, dengan sasaran mobilisasi US$200 miliar per tahun dari semua sumber serta pengurangan atau reformasi subsidi berbahaya US$500 miliar per tahun pada 2030 (GOV.UK, 2025).
Skala manusiawi, teknologi lunak, dan ukuran yang benar
Pelajaran keempat adalah tentang skala dan ukuran. Næss mengingatkan bahwa apa yang kita ukur menentukan apa yang kita kejar, dan bahwa teknologi bukan netral. Dalam dunia yang digerakkan algoritma dan modal, pertanyaannya menjadi siapa yang dapat memahami dan mengendalikan alat yang kita pakai. Organisasi yang sehat memilih teknologi yang dapat dimengerti dan diawasi penggunanya, memperkuat komunitas lokal, dan menolak ketergantungan yang tak perlu. Subak Bali memperlihatkan bahwa institusi yang berskala manusiawi dapat bertahan lebih dari seribu tahun (Indonesia.Travel, n.d.). Dan ukuran kemajuan sedang bergeser: dasbor 31 indikator PBB pada 2026 adalah pengakuan resmi bahwa produk domestik bruto saja tidak cukup (United Nations, 2026). Pemimpin masa depan akan dinilai dari kesediaannya melaporkan yang tak ikut terhitung: kesehatan sungai, martabat kerja, dan kepercayaan masyarakat.
Aktivis tanpa kebencian, dan diri yang meluas
Pelajaran kelima adalah tentang cara berjuang. Organisasi masa depan harus lincah dan sekaligus berani berpihak, aktivis dalam arti memakai kapasitasnya untuk memperbaiki dunia tanpa harus menjadi partisan. Næss, mengikuti Gandhi, dan tokoh Muslim Badshah Khan yang menyebut kesabaran dan kebenaran sebagai senjata Nabi (Khan, dikutip dalam Abdul Ghaffar Khan, n.d.), menunjukkan bahwa keberanian tidak identik dengan kekerasan. Aktivisme yang paling kuat sering kali yang mampu berbicara kepada lawannya, mengubah mereka menjadi pendukung, dan membangun alternatif sambil menolak yang salah. Di baliknya ada gagasan Næss yang paling dalam: realisasi-diri sebagai perluasan diri. Pemimpin yang batas dirinya sempit akan memperlakukan lingkungan, pekerja, dan komunitas sebagai sarana. Pemimpin yang batas dirinya luas merasakan kerusakan sungai sebagai lukanya sendiri, dan karena itu bertindak bukan karena kewajiban, melainkan karena kepedulian (Bankston, 2022). Hidup yang “simple in means, rich in ends” (Bodian, 1995) bukan hanya soal gaya hidup pribadi; ia adalah kredibilitas. Sulit mengajak orang mengurangi ketergantungan pada konsumsi berlebih ketika kita sendiri tak mengubah apa pun.
| Konsep Næss | Pertanyaan bagi pemimpin | Contoh praktik |
| Kedalaman | Apakah kami sedang memecahkan masalah teknis atau adaptif? | Menelusuri akar sebelum menetapkan program (Heifetz, 1994) |
| Platform bersama | Di lapisan mana kami dapat bersepakat dengan mitra yang berbeda? | Koalisi lintas pasar, negara, dan masyarakat sipil |
| Fakta dan norma | Nilai apa yang kami pakai untuk membaca data ini? | Pelaporan risiko alam dan pernyataan tujuan yang terbuka (GOV.UK, 2025) |
| Teknologi lunak | Siapa yang dapat memahami dan mengendalikan alat kami? | Teknologi dan tata kelola berskala manusiawi (Indonesia.Travel, n.d.) |
| Melampaui PDB | Apa yang kami ukur, dan apa yang tidak ikut terhitung? | Indikator kesejahteraan, kesetaraan, dan ketahanan (United Nations, 2026) |
| Nirkekerasan dan identifikasi | Bagaimana kami menolak tanpa membenci, dan menjaga tanpa menguasai? | Perlawanan yang membangun alternatif (Bankston, 2022) |
Platform menjelaskan bagaimana manusia bertemu. Kekuasaan menjelaskan siapa yang memutuskan. Kepemimpinan dan stewardship menjelaskan bagaimana kekuasaan itu digunakan. Ekosofi mengingatkan bahwa semua itu berlangsung di atas kehidupan yang bukan buatan kita, dengan batas-batas yang kini sebagian sudah terlampaui. Bagi organisasi pengetahuan dan keberlanjutan, seperti lembaga konsultansi, riset, dan sertifikasi, peran yang dibayangkan adalah jembatan: mempertemukan standar dengan praktik, perusahaan dengan masyarakat, bukti ilmiah dengan kebijakan, dan pengetahuan lokal dengan kerangka internasional, sambil terus menanyakan apakah ukuran yang dipakai sungguh mengukur kehidupan. Kekuatan yang dikumpulkan sebuah organisasi, dalam ekosofi, bukan tujuan, melainkan alat untuk menjaga rumah bersama, dan dalam bahasa platform Næss, bedanya yang besar dari yang agung.
Catatan Akhir: Kembali ke Gubuk di Ketinggian
Kembali ke Tvergastein. Næss wafat pada 12 Januari 2009, dan para pengulas mencatat bahwa ia pesimis tentang abad ke-21 tetapi optimis tentang abad ke-23 (Grimes, 2009). Sikap ini bukan gurauan. Ia mengandaikan bahwa perubahan terdalam memerlukan waktu lebih panjang daripada satu siklus politik atau satu siklus bisnis, dan bahwa pekerjaan kita adalah menanam untuk orang-orang yang tak akan kita temui. Di situlah hadis tentang tunas kurma bertemu dengan Næss: tanamlah, walau belum tentu kita yang menuai.
Buku ini menunjukkan tiga hal yang sama pentingnya. Pertama, krisis kita adalah krisis cara melihat, bukan hanya krisis teknis. Kedua, cara melihat itu dapat diubah lewat gaya hidup, ukuran ekonomi, dan pilihan politik yang lebih berani. Ketiga, perubahan itu memerlukan manusia yang sanggup memperluas dirinya, dari ego yang sempit menuju Diri yang mencakup sungai, hutan, dan sesama. Dunia tidak kekurangan orang yang ingin menjadi besar. Yang makin langka adalah orang yang bersedia menjadi agung, dalam arti menjaga kehidupan tanpa perlu dikenal namanya.
Bogor, 9 September 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Abdul Ghaffar Khan. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved September 19, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Bacha_Khan
Al-Bukhari. (n.d.). Al-Adab al-Mufrad (Hadis no. 479). Sunnah.com. https://sunnah.com/adab:479
Bankston, C. L. (2022). Ecology, community, and lifestyle by Arne Naess [Research starter]. EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/literature-and-writing/ecology-community-and-lifestyle-arne-naess
Bodian, S. (1995). Simple in means, rich in ends: An interview with Arne Naess. In G. Sessions (Ed.), Deep ecology for the twenty-first century. Shambhala.
Brehmer, M. (n.d.). Islam’s forgotten “Gandhi.” Qantara.de. https://en.qantara.de/node/8546
Carson, R. (1962). Silent spring. Houghton Mifflin.
Christian Science Monitor. (2019, March 21). Where nature has rights. https://csmonitor.com/Environment/2019/0321/Where-nature-has-rights
Convention on Biological Diversity. (2022). Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (Decision 15/4). https://www.cbd.int/biodiversityplan
Dawn. (n.d.). Rights of nature. https://www.dawn.com/news/amp/1961011
EFD Initiative. (2026). Beyond GDP: UN launches new global framework to measure what truly matters. https://efdinitiative.org/news/beyond-gdp-un-launches-new-global-framework-measure-what-truly-matters
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Deep ecology. https://www.britannica.com/topic/deep-ecology
Environment-Ecology.com. (n.d.). Deep green: The living mountain: Arne Naess 1912–2009. http://environment-ecology.com/deep-ecology/68-deep-green-arne-naess.html
Francis. (2015). Laudato si’: On care for our common home [Encyclical letter]. Libreria Editrice Vaticana. https://www.vatican.va/content/francesco/en/encyclicals/documents/papa-francesco_20150524_enciclica-laudato-si.html
GOV.UK. (2025, October 10). Biodiversity Finance Trends Dashboard 2025 (accessible version). https://www.gov.uk/government/publications/biodiversity-finance-trends-2025/biodiversity-finance-trends-dashboard-2025-accessible-version
Grimes, W. (2009, January 15). Arne Naess, Norwegian philosopher, dies at 96. The New York Times. (Dicetak ulang di Saving Iceland: https://www.savingiceland.org/2009/01/arne-naess-dies-at-age-96/)
Grist. (2009). Father of “deep ecology” dies at 96. https://grist.org/article/naess/
Guha, R. (1989). Radical American environmentalism and wilderness preservation: A Third World critique. Environmental Ethics, 11(1), 71–83. https://doi.org/10.5840/enviroethics198911123
Heifetz, R. A. (1994). Leadership without easy answers. Belknap Press of Harvard University Press.
Indonesia.Travel. (n.d.). Subak, UNESCO World Heritage: Preserving Bali’s harmony. https://www.indonesia.travel/gb/en/travel-ideas/heritage/subak-unesco-world-heritage-preserving-balis-harmony
Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services. (2019). Global assessment report on biodiversity and ecosystem services (E. S. Brondizio, J. Settele, S. Díaz, & H. T. Ngo, Eds.). IPBES Secretariat. https://ipbes.net/global-assessment
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya [Qur’an Kemenag]. https://quran.kemenag.go.id/ (QS 55:7–9 sebagaimana dimuat di https://quran.nu.or.id/ar-rahman)
Leopold, A. (1949). A Sand County almanac, and sketches here and there. Oxford University Press.
Næss, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement: A summary. Inquiry, 16(1–4), 95–100. https://doi.org/10.1080/00201747308601682
Næss, A. (1989). Ecology, community and lifestyle: Outline of an ecosophy (D. Rothenberg, Trans. & Ed.). Cambridge University Press. (Original work published 1976 as Økologi, samfunn og livsstil; first paperback edition 1990). https://www.worldcat.org/oclc/17621528
Nasr, S. H. (1968). The encounter of man and nature: The spiritual crisis of modern man. George Allen & Unwin. (Dicetak ulang sebagai Man and nature: The spiritual crisis of modern man, Unwin Hyman, 1990)
Oxfam America. (2026). Extreme inequality and poverty. https://www.oxfamamerica.org/explore/issues/economic-justice/extreme-inequality-and-poverty/
Oxfam International. (2026, January 19). Billionaire wealth jumps three times faster in 2025 to highest peak ever, sparking dangerous political inequality [Press release]. https://www.oxfam.org/en/press-releases/billionaire-wealth-jumps-three-times-faster-2025-highest-peak-ever-sparking
Potsdam Institute for Climate Impact Research. (2025, September 24). Seven of nine planetary boundaries now breached: Ocean acidification joins the danger zone. https://www.pik-potsdam.de/@@multilingual-selector/5ab1093625f74bf3aa292d3e21ec6689/en
Raworth, K. (2012). A safe and just space for humanity: Can we live within the doughnut? (Oxfam Discussion Paper). Oxfam. https://www.oxfam.org/en/research/safe-and-just-space-humanity
Raworth, K. (2017). Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist. Random House Business.
Restor Exchange. (n.d.). Man and nature: The spiritual crisis in modern man [Catalog entry]. https://restorexchange.org/s/ohio-state-senr/item/10303
Right Livelihood Foundation. (n.d.). Erik Dammann / Future in Our Hands. https://rightlivelihood.org/?p=2583
Rothenberg, D. (2009). Remembering Arne Naess (1912–2009). ISEE Newsletter. https://iseethics.wordpress.com/2009/06/10/remembering-arne-naess-1912-2009-2/
Stockholm International Peace Research Institute. (2026, April). Trends in world military expenditure, 2025 (SIPRI Fact Sheet). https://www.sipri.org/publications/2026/sipri-fact-sheets/trends-world-military-expenditure-2025
Stockholm Resilience Centre. (2025, September 24). Seven of nine planetary boundaries now breached. https://www.stockholmresilience.org/news–events/general-news/2025-09-24-seven-of-nine-planetary-boundaries-now-breached
Sukarno. (1955, April 18). Speech at the opening of the Bandung Conference (excerpts). Fordham University, Internet Modern History Sourcebook. https://sourcebooks.web.fordham.edu/mod/1955sukarno-bandong.asp
Tafsiralquran.id. (n.d.). Tafsir Surat Ar-Rum ayat 41: Menyoal manusia dan krisis ekologis. https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ar-rum-ayat-41-menyoal-manusia-dan-krisis-ekologis/
United Nations Conference on Trade and Development. (2026, May 4). Counting what counts: A compass of progress for people and planet [Foreword by A. Guterres]. https://unctad.org/publication/counting-what-counts-compass-progress-people-and-planet
United Nations. (2026, May 7). Secretary-General’s High-Level Expert Group sets out a set of indicators to put people and planet at the centre of decision-making [Press release]. https://www.un.org/en/node/242862
White, L., Jr. (1967). The historical roots of our ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207. https://doi.org/10.1126/science.155.3767.1203
World Wildlife Fund. (2024, October 10). Catastrophic 73% decline in the average size of global wildlife populations in just 50 years reveals a system in peril [Press release]. https://www.worldwildlife.org/press-releases/catastrophic-73-decline-in-the-average-size-of-global-wildlife-populations-in-just-50-years-reveals-a-system-in-peril






