Rubarubu #248
Seventeen Contradictions and the End of Capitalism:
Mesin yang Tak Pernah Berhenti
Menara yang Lampunya Tak Pernah Menyala
Mari kita berdiri di puncak sebuah menara apartemen mewah yang baru selesai dibangun, di sebuah kota yang sedang berlomba menambah cakrawalanya. Lift berkilau, lobi berlapis marmer, papan pemasaran menjanjikan gaya hidup kelas dunia. Malam hari, hampir semua jendelanya gelap. Tak seorang pun tinggal di sana. Unit-unit itu dibeli sebagai tempat menyimpan uang, bukan sebagai tempat menyimpan kehidupan. David Harvey menulis dengan getir bahwa kita sebaiknya memanjat salah satu menara semacam itu, di Dubai atau di mana pun, lalu membentangkan spanduk bertuliskan “THIS IS INSANE”, ini gila (Harvey, 2015).
Kegilaan itu, katanya, dulu hanya sesekali dan disadari sebagai kegilaan; kini ia menjadi norma. Dan ia punya penjelasan yang sederhana namun mengganggu: ke mana lagi kapital yang terus menumpuk itu harus pergi?
Pertanyaan itulah yang dijawab Seventeen Contradictions and the End of Capitalism, buku yang terbit pada 2014 dari Profile Books di London dan Oxford University Press di New York. Harvey menulisnya di tengah sisa-sisa krisis 2007–2008, ketika dunia baru saja menyaksikan sistem keuangan yang ditopang oleh rumah-rumah yang tak sanggup dibayar penghuninya. Buku itu bukan jilid pertama dari upaya panjangnya. Ia menyebut karyanya selama satu setengah dekade terakhir sebagai “Marx Project”, rangkaian buku yang mencoba membuat Marx lebih mudah dibaca sekaligus dipakai untuk membaca dunia yang berubah, dari imperialisme baru, neoliberalisme, ketimpangan geografis, krisis 2008 dalam The Enigma of Capital, hingga kota (Harvey, 2015).
Di dalam proyek itu, Seventeen Contradictions memiliki dua tujuan yang ia nyatakan terang: pertama, mendefinisikan apa sesungguhnya yang bisa dimaksud dengan “antikapitalisme”, karena banyak orang mengaku memegangnya tanpa jelas maknanya; kedua, memberi alasan rasional untuk menjadi antikapitalis dalam keadaan dunia sekarang (Harvey, 2015).
Siapa Harvey? David William Harvey lahir pada 31 Oktober 1935 di Gillingham, Kent, Inggris, dan belajar di St John’s College, Cambridge, tempat ia meraih gelar doktor pada 1961 dengan disertasi tentang perubahan pertanian dan pedesaan di Kent pada abad ke-19 (David Harvey, n.d.). Ia mulai sebagai geograf yang percaya pada metode kuantitatif, dan Explanation in Geography (1969) menjadi karya metodologis yang dirujuk disiplin itu. Lalu ia pindah ke Johns Hopkins di Baltimore. Di sana, pada usia tiga puluh lima tahun, ia untuk pertama kali membaca Capital karya Marx, dan sejak 1971 hampir setiap tahun ia mengajarkan jilid pertamanya, kadang tiga kali setahun di dalam maupun di luar kampus (Harvey, 2015). Perhatiannya bergeser dari sains spasial ke keadilan sosial dan kemiskinan kota, dan Social Justice and the City (1973) menandai pergeseran itu.
Perjalanan berikutnya membawanya ke London School of Economics sebagai Miliband Fellow, ke Oxford sebagai Halford Mackinder Professor of Geography hingga 1993, kembali ke Johns Hopkins hingga 2001, dan sejak 2001 ke Graduate Center, City University of New York (CUNY), sebagai Distinguished Professor antropologi dan geografi (SITAC, n.d.; University of Galway, n.d.). Ia sendiri menyebut kepindahan ke CUNY sebagai langkah karier terbaiknya: dari Johns Hopkins yang ia rasakan makin elitis dan menyendiri, ke universitas publik raksasa yang riuh dan bermuatan politik, dengan mahasiswa doktoral yang mendesaknya merekam kuliah Capital yang kini dapat diakses siapa saja.
Judul buku ini menipu. Ia terdengar seperti nubuat bahwa kapitalisme akan segera tamat. Tetapi Harvey sendiri, dalam komentarnya sesudah buku terbit, menolak membayangkan skenario kiamat dan mengakui betapa adaptifnya kapital terhadap batas lingkungan dan sumber daya. Ia bahkan menulis bahwa ia mengagumi, meski tak pernah tanpa kritik, banyak hal yang dihasilkan kapital, tidak hanya dalam teknologi. Yang ia tawarkan adalah sesuatu yang lebih rumit: sebuah peta dari kontradiksi-kontradiksi di dalam mesin ekonomi, dengan pertanyaan apakah beberapa di antaranya mulai melampaui yang dapat dikelola. Penerbit menyimpulkannya begini: banyak kontradiksi dapat dikelola, tetapi beberapa fatal, yakni tekanan pada pertumbuhan majemuk tanpa akhir, keharusan mengeksploitasi alam sampai batasnya, dan kecenderungan pada alienasi universal (Oxford University Press, n.d.).
Salah satu kunci membaca buku ini ada pada satu pembedaan. Harvey menulis bahwa yang ia cari adalah pemahaman yang lebih baik tentang “the contradictions of capital, not of capitalism” (dikutip dalam Oxford University Press, n.d.): kontradiksi dalam kapital, bukan seluruh fenomena sosial yang disebut kapitalisme. Bayangkan sebuah kapal. Di atas dek ada penumpang, budaya, agama, politik, gender, ras, dan seluruh kehidupan yang riuh. Di lambung kapal ada mesin yang, dalam kata Harvey, “pounds away day and night” (dikutip dalam Holgersen, 2014, hlm. 9), berdentam siang dan malam menggerakkan segalanya. Harvey ingin membongkar mesin itu: mengapa ia perlu terus tumbuh, terus mencari pasar, terus membutuhkan tenaga kerja dan alam, dan mengapa ia dapat menghancurkan kondisi yang membuat dirinya mungkin.
Ia mengakui bahwa itu abstraksi dan abstraksi selalu melakukan semacam kekerasan terhadap kenyataan, sehingga bukunya tidak menyatakan bahwa ras, gender, agama, atau nasionalisme dapat direduksi menjadi fungsi dari kontradiksi kapital (Harvey, 2015). Angka tujuh belas pun bukan klaim bahwa hanya ada tujuh belas. Setelah menelusuri Marx, terutama Grundrisse, ia harus mengurangi daftarnya menjadi struktur yang dapat dikelola, dan ia mempersilakan orang lain memilih yang berbeda. Harvey ingin kata “kontradiksi” berubah dari pemutus percakapan, “ah, ini kontradiksi khas kapital!”, menjadi pemantik percakapan.
Di bagian bawah tulisan ini kita akan berjalan melalui tiga kelompok yang ia susun: kontradiksi fondasi, yang menjadi kerangka setiap perekonomian kapitalis; kontradiksi bergerak, yang selalu berubah bentuk; dan tiga kontradiksi berbahaya. Kita tidak akan membahasnya bab demi bab. Kita akan membacanya sebagai satu cerita tentang sebuah mesin yang tidak pernah boleh berhenti, lalu bertanya apa artinya bagi dunia 2026, bagi perusahaan yang diminta lebih manusiawi, dan bagi pemimpin yang harus adaptif. Satu catatan sejak awal: Harvey sendiri berhati-hati terhadap gagasan “perusahaan manusiawi”, dan ketegangan itu akan kita hadapi terang-terangan pada bagian keenam.
Mesin di Bawah Dek Kapal: Kontradiksi-Kontradiksi Fondasi
Cerita mesin itu dimulai dari sesuatu yang tampak remeh: rumah. Sebuah rumah punya nilai guna (use value), yaitu tempat berteduh, membesarkan anak, menyimpan kenangan. Ia juga punya nilai tukar (exchange value), yaitu harga yang dapat diperolehnya di pasar. Dua sisi itu bisa berjalan seiring. Masalah muncul ketika nilai tukar mulai menelan nilai guna, dan rumah menjadi aset, tanah menjadi investasi, hutan menjadi kayu, karbon, dan konsesi, sungai menjadi sumber air yang dapat diperdagangkan. Menara yang lampunya tak pernah menyala tadi hanyalah puncak dari proses itu.
Karl Polanyi (1886–1964), sejarawan ekonomi kelahiran Hungaria yang menulis The Great Transformation pada 1944, memperingatkan bahwa tanah, tenaga kerja, dan uang bukan komoditas sejati karena tidak diproduksi untuk dijual, dan bahwa membiarkan mekanisme pasar menjadi penentu tunggal nasib manusia dan lingkungannya akan berujung pada “demolition of society” (Polanyi, 1944/2001). Harvey mewarisi kegelisahan itu, dan dalam pasal-pasal terakhir bukunya ia menaruh satu tuntutan yang sangat sederhana: penyediaan langsung nilai guna yang memadai bagi semua orang, seperti perumahan, pendidikan, dan ketahanan pangan, harus didahulukan daripada penyediaannya lewat pasar yang memusatkan nilai tukar di tangan segelintir orang dan membagikan barang menurut kemampuan membayar (Harvey, 2014b).
Untuk membandingkan hal-hal yang tak sebanding, seperti sejam kerja konsultan, seorang perawat, satu hektare hutan, satu unit rumah, atau satu klik, sistem membutuhkan bahasa bersama, dan bahasa itu adalah uang. Di sini Harvey mengikuti Marx, yang memulai Capital dengan komoditas karena, sebagaimana ditegaskan Harvey, pasar mengabstraksi semua identitas selain pembeli dan penjual yang didukung hak milik pribadi. Uang membuat dunia dapat dihitung, dan karena itu juga membuat sebagian dunia tak terhitung. Seorang ibu yang merawat anak, seorang warga yang menjaga sungai, seorang guru yang sabar, sebuah komunitas yang mempertahankan pengetahuan lokal: semuanya punya nilai yang sebagian besarnya tak muncul sebagai harga. Shoshana Zuboff, profesor emerita Harvard Business School, menunjukkan bentuk ekstrem dari abstraksi ini dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019): pengalaman manusia diekstraksi menjadi data, dan data menjadi sumber nilai (Zuboff, 2019).
Berikutnya Harvey menunjuk pasangan yang tampak bermusuhan tetapi sebenarnya saling menopang: kepemilikan pribadi dan negara kapitalis. Kapitalisme sering dibayangkan sebagai pasar bebas, padahal pasar membutuhkan negara untuk menetapkan hukum kepemilikan, menjamin kontrak, membangun jalan, mengatur tenaga kerja, dan, ketika krisis datang, menyelamatkan sistem keuangan yang berada di ambang runtuh. Krisis 2008 memberi ilustrasi yang dramatis. Harvey sendiri menegaskan bahwa ia tidak sedang menulis teori umum tentang negara kapitalis (Holgersen, 2014, hlm. 47) dan hanya ingin menunjukkan bahwa kapital tak mungkin hidup tanpa institusi publik yang menopang kondisi operasinya. Pertanyaan demokratis segera menyusul: siapa yang memengaruhi negara, dan kepentingan siapa yang paling kuat menentukan aturan mainnya? Dalam sejarah Indonesia, para perumus konstitusi menjawabnya dengan Pasal 33 UUD 1945, yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam “dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (Hukumonline, 2024). Bunyi pasal itu tak menyelesaikan kontradiksi, tetapi ia memperlihatkan bahwa pertanyaan Harvey sudah lama ada di ruang publik kita.
Kontradiksi keempat membawa kita ke sungai. Airnya mengalir melewati banyak desa; sebuah perusahaan mengambilnya untuk produk dan memperoleh pendapatan, sementara warga di hilir menanggung pencemaran atau menurunnya debit. Kapital mengambil nilai dari sesuatu yang dibangun atau dipelihara bersama, dan itulah maksud pertentangan antara apropriasi privat dan kekayaan bersama. Elinor Ostrom (1933–2012), ilmuwan politik Amerika yang pada 2009 menjadi perempuan pertama yang memenangi Nobel Ekonomi, mengoreksi dua ekstrem yang sering dipertentangkan, yakni semuanya milik privat atau semuanya dikendalikan negara. Lewat Governing the Commons (1990) ia menunjukkan bahwa komunitas dapat mengembangkan aturan sendiri untuk mengelola sumber daya bersama secara berkelanjutan.
Tradisi Islam menyimpan intuisi yang sangat dekat. Sebuah hadis yang dinilai sahih oleh al-Albani menyebut bahwa kaum Muslimin adalah sekutu dalam tiga hal, yaitu rumput, air, dan api (Abu Dawud, n.d., no. 3477), yang dapat dibaca sebagai landasan bagi sumber daya yang tak semestinya dimonopoli. Harvey menutup bukunya dengan gagasan yang sejalan: hak-hak bersama, dengan penekanan khusus pada pengetahuan manusia dan tanah sebagai commons terpenting, yang penciptaan dan perlindungannya berada di tangan majelis dan perkumpulan rakyat (Harvey, 2014b). Pertanyaan bagi dunia sustainability jadi terang: apa yang boleh dimiliki secara privat, dan apa yang harus dijaga sebagai kekayaan bersama?
Kemudian Harvey turun ke jantung Capital: hubungan antara kapital dan tenaga kerja. Kapital membutuhkan pekerja untuk menghasilkan barang dan jasa, tetapi juga punya insentif untuk menekan biaya pekerja, karena semakin rendah biayanya semakin besar margin. Ia melengkapinya dengan pembacaan yang paling khas dari seluruh bukunya, bahwa kapital bukan benda melainkan proses. Uang bukan kapital hanya karena ia uang, mesin bukan kapital hanya karena ia mesin. Kapital menjadi kapital ketika semuanya masuk ke dalam lingkaran akumulasi nilai: uang membeli tenaga kerja dan alat, produksi menghasilkan komoditas, komoditas dijual, uang kembali dalam jumlah lebih besar, lalu lingkaran dimulai lagi. Kapital harus bergerak, dan ia tak nyaman dalam keadaan diam. Marx sudah menulisnya dengan nada yang nyaris seperti khotbah: “Accumulate, accumulate! That is Moses and the prophets!” (Marx, 1867/n.d., bab 24).
Karl Marx (1818–1883), filsuf dan ekonom kelahiran Trier yang hidup dalam pengasingan di London, menerbitkan jilid pertama Capital pada 1867; jilid kedua yang tak rampung, dan bahkan tampak dijahit dari potongan-potongan naskah, baru terbit sesudah wafatnya (Harvey, 2015). Keharusan bergerak itu menjelaskan mengapa perusahaan tidak hanya ingin bertahan; ia didorong untuk tumbuh, mencari pasar baru, produk baru, wilayah baru, konsumen baru, hingga pertumbuhan menjadi semacam kebutuhan biologis sistem.
Kontradiksi ketujuh, yang oleh Harvey (mengikuti Grundrisse Marx) disebut kesatuan kontradiktif antara produksi dan realisasi, memuat salah satu penjelasannya yang paling penting tentang krisis. Harvey mengingatkan bahwa jilid pertama Capital bercerita tentang produksi nilai dan nilai lebih, dengan asumsi bahwa semua komoditas dapat dijual sebesar nilainya. Jilid kedua, sebaliknya, menganggap produksi tak bermasalah dan bertanya apakah nilai yang diproduksi dapat direalisasikan di pasar, yang membutuhkan permintaan efektif dari para pekerja itu sendiri.
Kedua jilid menyingkap pertentangan serius antara pemiskinan yang meningkat dan upah yang cukup untuk menopang permintaan pasar (Harvey, 2015). Kapital menginginkan tenaga kerja murah, tetapi juga membutuhkan pembeli yang berdaya beli. Harvey menelusuri sejarahnya: ekonomi berbasis permintaan yang dipengaruhi Keynes mendominasi dunia kapitalis sesudah 1945, tetapi menggerus kondisi produksi nilai lebih pada 1960-an; lalu sejak pertengahan 1970-an ekonomi sisi-penawaran ala Friedman dan Hayek mengambil alih, dan represi upah dikompensasi dengan kredit dan kartu kredit hingga meledak dalam krisis 2007–2008. Ruang pun ikut bicara. Harvey memberi contoh bahwa komputer Apple yang dirakit di Tiongkok memberi Foxconn laba sekitar 3 persen, sementara Apple meraup margin sekitar 27 persen ketika menjualnya di Amerika Serikat, sehingga di mana nilai diproduksi bisa sangat jauh dari tempat ia direalisasikan. Utang, dalam bacaan ini, bukan terutama kategori moral, seperti yang sering ditampilkan dalam buku populer, tetapi kebutuhan teknis agar aliran kapital tak macet, dan karena itu juga titik yang paling rentan ketika gelembungnya pecah.
Manusia yang Bisa Dibuang: Teknologi, Kerja, dan Monopoli
Memasuki bagian kedua, kontradiksi-kontradiksi tak lagi diam. Harvey menyebutnya kontradiksi yang bergerak, karena satu-satunya yang konstan pada mereka adalah bahwa mereka terus berubah bentuk. Teknologi adalah contoh paling terang. Sebuah mesin dapat membebaskan manusia dari kerja berat, dan mesin yang sama dapat membuat manusia tak lagi diperlukan. John Maynard Keynes (1883–1946), ekonom Inggris yang pemikirannya mengarahkan dunia sesudah Perang Dunia II, membayangkan dalam esai “Economic Possibilities for our Grandchildren” (1930) bahwa satu abad kemudian produktivitas akan sedemikian tinggi sehingga kerja sekitar lima belas jam seminggu sudah memadai (Keynes, 1930/2010).
Abad itu hampir genap, dan kita bekerja lebih panjang daripada yang ia kira. Charlie Chaplin (1889–1977) sudah menampilkan sisi lain gagasan itu dalam Modern Times (1936), ketika sang pekerja tersedot ke dalam roda gigi jalur perakitan (Chaplin, 1936). Harvey tidak menolak teknologi; dalam rumusan akhirnya ia justru menginginkan otomasi, robotisasi, dan kecerdasan buatan dipakai untuk mengurangi pembagian kerja teknis, meringankan beban semua bentuk kerja sosial, dan membebaskan waktu untuk kegiatan bebas (Harvey, 2014b). Pertanyaannya adalah siapa yang menikmati produktivitas itu, dan apakah kita mengorganisasikan ekonomi agar produktivitas menghasilkan waktu luang atau hanya lebih banyak barang.
Pertanyaan itu kini konkret. Laporan Employment and Social Trends 2026 dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebut pengangguran global stabil di 4,9 persen atau sekitar 186 juta orang, tetapi stabilitas itu menyembunyikan kegagalan mutu pekerjaan: hampir 300 juta pekerja hidup dalam kemiskinan ekstrem dengan penghasilan di bawah US$3 per hari, dan 2,1 miliar orang diperkirakan bekerja secara informal tanpa perlindungan sosial yang memadai. ILO juga memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan otomasi dapat memperberat nasib para pemuda terdidik di negara berpendapatan tinggi yang memasuki pasar kerja (International Labour Organization, 2026a). Dalam bahasa Harvey, sebuah sistem yang menuntut biaya kerja serendah mungkin sekaligus membutuhkan konsumen yang berdaya beli akan terus berjalan di tepi kontradiksinya, dan setiap gelombang teknologi menggesernya dari satu bentuk ke bentuk lain.
Di belakang itu ada kontradiksi yang lebih tua: pembagian kerja. Pembagian kerja meningkatkan produktivitas, tetapi makin terpecah pekerjaan, makin mudah manusia kehilangan gambaran tentang keseluruhan. Setiap orang mengerjakan serpihan kecil, sistem menghasilkan sesuatu yang sangat kompleks, dan tak seorang pun benar-benar melihatnya utuh. Itulah alienasi dalam pengertian Marx: terasing dari hasil kerja, dari proses kerja, dari sesama, dan dari diri. Harvey kemudian menegaskan bahwa alienasi hari ini ada di hampir semua tempat, di tempat kerja, di rumah dalam konsumsi, dan dalam politik serta kehidupan sehari-hari, dan bahwa ia diperparah oleh penerapan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Harvey, 2018). Seorang pengemudi platform tak tahu siapa pemilik algoritmanya; seorang moderator konten tak pernah melihat dampak penuh pekerjaannya; seorang analis mengoptimalkan sistem yang keseluruhan tujuannya tak ia pahami.
Lalu ada dansa lama antara kompetisi dan monopoli. Kapitalisme membutuhkan kompetisi, tetapi kompetisi yang berhasil melahirkan pemenang, pemenang membeli pesaing dan menguasai data, dan konsentrasi itu menghasilkan bentuk kompetisi baru antarraksasa. Platform digital menggandakannya dengan efek jaringan: makin banyak pengguna, makin bernilai platform. Sekali lagi, kita perlu menggeser pertanyaan dari “apakah platform efisien?” ke “bagaimana kekuasaan platform diatur agar efisiensi tak berubah menjadi dominasi?” Dunia sedang mencoba menjawabnya.
Pada Juni 2026 Konferensi Perburuhan Internasional mengesahkan Konvensi ILO No. 193 tentang kerja layak dalam ekonomi platform, konvensi pertama yang secara khusus mengatur pekerjaan platform (International Labour Organization, 2026b). Di Indonesia, pemerintah menetapkan batas komisi ojek daring sebesar 8 persen yang berlaku sejak 1 Juli 2026 (Hukumonline, 2026). Kedua langkah itu, betapapun terbatasnya, menegaskan tesis Harvey tentang negara: pasar yang tampak bebas dibentuk, dibatasi, dan dikoreksi oleh institusi publik, dan pertarungan tentang siapa yang membentuknya belum selesai.
Ruang, Uang, dan Rumah yang Tak Terlihat
Sebagai seorang geograf, Harvey menaruh perhatian khusus pada ruang. Kapital tidak hanya bergerak dalam waktu; ia bergerak dalam ruang. Ketika laba menurun di satu tempat, modal berpindah: pabrik dipindahkan, pelabuhan diperluas, kota dibangun, wilayah baru dibuka. Harvey menamai salah satu mekanismenya spatial fix, upaya mengatasi kontradiksi dengan memperluas geografi sistem sehingga mencakup bangsa dan orang yang sebelumnya berada di luarnya. Itulah salah satu alasan globalisasi begitu penting bagi kapital, dan alasan pembangunannya begitu tidak merata. Ada kota yang menjadi pusat finansial, wilayah yang menjadi pusat produksi, negara yang menjadi pemasok bahan mentah, dan masyarakat yang menanggung dampak ekologisnya. Ketimpangan itu, menurut Harvey, bukan kecelakaan geografis. Sukarno (1901–1970), presiden pertama Indonesia, sudah mengingatkan di Bandung pada 1955 bahwa kolonialisme “has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control” (Sukarno, 1955), kolonialisme yang berpakaian modern, berupa kendali ekonomi dan kendali intelektual.
Harvey menulis dalam kesimpulan bukunya bahwa deskripsi kondisi hidup kelas pekerja di Lisbon, São Paulo, dan Jakarta dapat diletakkan di samping deskripsi klasik Engels tahun 1844 tentang kelas pekerja Inggris tanpa banyak perbedaan berarti (Harvey, 2014b). Utang adalah salah satu bentuk kontemporer dari geografi tak merata itu. UNCTAD mencatat utang publik dunia mencapai rekor US$102 triliun pada 2024, dan 3,4 miliar orang hidup di negara yang membayar bunga utang lebih besar daripada anggaran kesehatan atau pendidikan (United Nations Conference on Trade and Development, 2025a).
Ketimpangan, dalam pembacaan Harvey, bukan hanya soal moral. Ia juga persoalan ekonomi, karena sistem yang membutuhkan konsumsi massal sulit bekerja ketika kemampuan mengonsumsi terkonsentrasi pada segelintir orang. Oxfam melaporkan pada Januari 2026 bahwa kekayaan miliarder dunia naik lebih dari 16 persen pada 2025 menjadi rekor US$18,3 triliun, tiga kali lebih cepat dari rata-rata lima tahun sebelumnya (Oxfam International, 2026). Harvey sendiri menulis bahwa oligarki dunia menggandakan kekayaan dan kekuasaannya dalam beberapa tahun sekali di tengah stagnasi ekonomi, dan ia menyoroti “jurang empati” antara oligarki dan sisanya, ketika orang mengira penghasilan yang lebih tinggi sama dengan martabat yang lebih tinggi (Harvey, 2014b). Ibn Khaldun (1332–1406), yang menulis tentang naik-turunnya peradaban dalam Muqaddimah, menaruh solidaritas sosial (asabiyyah) dan keadilan sebagai fondasinya; ia tak bicara tentang kapitalisme modern, tetapi pertanyaannya tetap relevan: dapatkah sebuah masyarakat menjadi terlalu kaya secara material dan terlalu miskin dalam rasa saling memiliki (Ibn Khaldūn, 2015)?
Di balik ekonomi resmi ada ekonomi yang tak terlihat. Siapa yang membesarkan anak, merawat orang tua, memasak, menjaga rumah, dan merawat pekerja yang sakit, sehingga tenaga kerja dapat kembali ke pabrik keesokan harinya? Harvey memasukkan reproduksi sosial sebagai kontradiksi tersendiri, dan mandatnya menghendaki batas antara kerja “yang diperlukan untuk orang lain yang jauh” dan kerja untuk reproduksi diri, rumah tangga, dan komunitas dihapus perlahan, sehingga kerja rumah tangga dan komunal menjadi bentuk utama kerja sosial yang tak teralienasi dan tak dimoneterisasi (Harvey, 2014b). Angka-angkanya menakjubkan.
ILO memperkirakan 16,4 miliar jam per hari dihabiskan untuk kerja perawatan tak berbayar, setara dengan 2 miliar orang bekerja delapan jam tanpa upah; bila dinilai dengan upah minimum, nilainya sekitar 9 persen dari PDB dunia. Perempuan menanggung 76,2 persen jam itu, dan di Asia-Pasifik bagian perempuan mencapai 80 persen (International Labour Organization, 2018). Silvia Federici, pemikir feminis kelahiran Italia (lahir 1942) yang menulis Caliban and the Witch (2004), menunjukkan bahwa akumulasi kapital sejak awal bertumpu pada kerja reproduktif perempuan yang tak dibayar (Federici, 2004). Nancy Fraser, filsuf Amerika, memberi rumusan yang cocok dengan kerangka Harvey: kapitalisme membutuhkan kerja perawatan sekaligus terus menggerus kondisi yang memungkinkannya, sehingga ia mengandung kontradiksi antara kapital dan perawatan. Maka ketika perusahaan berkata “kami menggaji karyawan dengan baik”, pertanyaan yang lebih luas adalah apakah sistem memungkinkan pekerja itu hidup sebagai manusia utuh, punya waktu untuk keluarga, beristirahat, dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Kontradiksi terakhir dalam kelompok ini adalah yang paling licin: kebebasan dan dominasi. Kapitalisme modern sangat dekat dengan bahasa kebebasan, yaitu kebebasan memilih, berusaha, memiliki, berkontrak, dan mengonsumsi. Tetapi Harvey bertanya seberapa bebas seseorang yang tak punya pilihan ekonomi lain. Secara formal seorang pekerja bebas menjual tenaganya; jika alternatifnya kelaparan, maknanya berbeda. Secara formal konsumen bebas memilih; algoritma dapat membentuk apa yang mereka lihat.
Secara formal perusahaan kecil bebas berkompetisi; tetapi ia berhadapan dengan raksasa digital yang memiliki modal, data, dan jaringan jauh lebih besar. Janji kebebasan dan kesetaraan dalam teori liberal, tulis Harvey merujuk Marx, menyembunyikan kenyataan yang lebih dalam tentang eksploitasi tenaga kerja yang didukung akumulasi lewat perampasan (Harvey, 2015). Kebebasan dan dominasi dapat hidup dalam hubungan yang sama. Maka persoalannya bukan menolak kebebasan, melainkan memperluas kondisi material agar kebebasan menjadi nyata.
Tiga Kontradiksi yang Berbahaya
Di bagian ketiga bukunya Harvey menurunkan nada. Ketiga kontradiksi yang ia pilih, tulisnya, adalah yang paling berbahaya pada masa kini, bukan hanya bagi kemampuan mesin ekonomi untuk terus berfungsi, tetapi bagi “the reproduction of human life under even minimally reasonable conditions” (dikutip dalam CPI(ML) Liberation, 2014), reproduksi kehidupan manusia dalam kondisi yang paling minimal pun masih masuk akal. Ketiganya saling menguatkan: pertumbuhan majemuk tanpa akhir, hubungan kapital dengan alam, dan alienasi universal. Dalam komentarnya sesudah buku terbit, Harvey memilih kata yang keras: buku ini, katanya, adalah buku paling berbahaya yang pernah ia tulis, karena tiga kontradiksi itu, menurut penilaiannya, menutup perkara bagi perlawanan yang tak kenal kompromi terhadap akumulasi kapital tanpa akhir (Harvey, 2015). Namun ia tetap berhati-hati. Ia enggan memakai skenario kiamat dan mengakui betapa adaptifnya kapital terhadap batas lingkungan sepanjang sejarah.
Pertumbuhan majemuk adalah kontradiksi yang paling mudah dimengerti dan paling sulit dibayangkan akibatnya. Kapital membutuhkan pertumbuhan. Jika ekonomi tumbuh tiga persen per tahun, nilainya berlipat dua kira-kira setiap dua puluh tiga tahun, dan dalam beberapa dekade perbedaannya menjadi raksasa. Marx menulis pada abad ke-19, ketika sebagian besar dunia masih terbuka bagi bisnis; kini Tiongkok, India, Rusia, Brasil, dan Afrika Selatan sudah tersedot ke dalam logika akumulasi tanpa akhir, sehingga satu abad lagi pertumbuhan majemuk seperti itu, tulis Harvey, tak terbayangkan.
Kalimat penutup komentarnya lebih pendek dan lebih tajam: “Compound growth for ever is simply impossible” (Harvey, 2015). Ia menyebut pertumbuhan tiga persen selamanya sebagai tekanan yang makin berat seiring kurva eksponensial melesat naik (Harvey, 2018). Data material memberi bobot pada kalimat itu. Panel Sumber Daya Internasional UNEP mencatat bahwa ekstraksi sumber daya bumi tiga kali lipat dalam lima dekade, dari 30 miliar ton pada 1970 menjadi 106 miliar ton pada 2020, dan dapat naik 60 persen lagi pada 2060; negara kaya memakai enam kali lebih banyak sumber daya dan menimbulkan sepuluh kali dampak iklim daripada negara berpendapatan rendah (International Resource Panel, 2024). Pertanyaan Harvey karena itu bukan apakah pertumbuhan dapat berlangsung, tetapi pertumbuhan apa, untuk siapa, dengan biaya apa, dan sampai kapan.
Ironi transisi energi memperlihatkan bahwa kita tak keluar dari kontradiksi; kita memindahkannya. Kita membutuhkan teknologi hijau; teknologi hijau membutuhkan litium, kobalt, nikel, dan tanah jarang; mineral itu membutuhkan pertambangan, lahan, dan energi. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengingatkan bahwa “the race to net zero cannot trample over the poor” (dikutip dalam United Nations Conference on Trade and Development, n.d.), dan laporan World Economic Situation and Prospects 2025 menandai bahwa permintaan mineral kritis menawarkan peluang bagi negara berkembang kaya sumber daya sekaligus risiko tata kelola buruk, praktik kerja tak aman, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan pada pasar komoditas yang bergejolak (United Nations Conference on Trade and Development, 2025b). Bagi Indonesia, yang kaya nikel dan sedang mengejar nilai tambah lewat hilirisasi, dilema itu bukan teori.
Kontradiksi kelima belas menyeret kita ke kontradiksi keenam belas: hubungan kapital dengan alam. Kapital tidak berada di luar alam; ia adalah bagian dari sistem ekologis. Perusahaan membutuhkan air, energi, tanah, mineral, keanekaragaman hayati, stabilitas iklim, dan manusia yang sehat. Namun dalam kalkulasi ekonomi alam sering muncul sebagai eksternalitas: sungai sebagai saluran pembuangan, hutan sebagai bahan baku, atmosfer sebagai tempat membuang emisi. Harvey ingin membalik cara pandang itu. Alam bukan latar produksi; ia kondisi material produksi.
Ketika kondisi itu rusak, kapital merusak fondasinya sendiri. Data terbaru membuat argumen ini tak lagi abstrak. Organisasi Meteorologi Dunia melaporkan pada Maret 2026 bahwa 2015–2025 adalah sebelas tahun terpanas dalam catatan pengamatan; 2025 sekitar 1,43 derajat Celsius di atas rata-rata 1850–1900, dan ketidakseimbangan energi bumi mencapai rekor tertinggi (World Meteorological Organization, 2026). UNEP memperkirakan dunia tetap menuju pemanasan 2,3–2,5 derajat bila seluruh janji nasional dilaksanakan, dan sekitar 2,8 derajat dengan kebijakan sekarang (United Nations Environment Programme, 2025). Tujuh dari sembilan batas planet telah dilampaui (Stockholm Resilience Centre, 2025), sekitar satu juta spesies terancam punah (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, 2019), dan populasi satwa liar yang dipantau turun rata-rata 73 persen antara 1970 dan 2020 (World Wildlife Fund, 2024). Al-Qur’an menyatakannya dalam bahasa moral yang sederhana: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia” (Kementerian Agama Republik Indonesia, n.d., QS 30:41; lihat tafsir dalam Tafsiralquran.id, n.d.).
Sejumlah pengulas mencatat kelemahan konseptual di sini yang layak disebut. Ståle Holgersen (2014) menunjuk bahwa pembedaan Harvey antara kapital dan kapitalisme menjadi kabur begitu ia memasuki kontradiksi-kontradiksi tertentu, bahwa metafora mesin kapal memberi kesan determinisme ekonomi yang berlawanan dengan tradisi humanis yang ia klaim, dan bahwa tak jelas mengapa alam dianggap internal bagi kapital sementara gender dan ras dianggap eksternal (Holgersen, 2014). Harvey sendiri menjawab bahwa ia sengaja melakukan abstraksi dan tahu abstraksi melukai kenyataan (Harvey, 2015). Kritik semacam ini tidak membatalkan buku itu; ia menyarankan cara memakainya, yaitu sebagai lensa, bukan sebagai hukum.
Kontradiksi terakhir adalah yang paling manusiawi. Harvey menamainya alienasi universal, pemberontakan sifat manusia. Gambaran yang muncul adalah manusia yang sangat produktif tetapi kehilangan makna, sangat terhubung tetapi kesepian, sangat kaya tetapi tak merasa cukup, dengan sangat banyak pilihan tetapi tak tahu apa yang diinginkan. Ia menulis bahwa tanda-tandanya kian mengkhawatirkan di seluruh dunia: hilangnya makna dan kemungkinan masa depan di rumah maupun di tempat kerja melahirkan bentuk-bentuk kebersamaan dan pemberontakan yang liar, dari menjamurnya fundamentalisme agama sampai ancaman kembalinya fasisme, sementara aparat negara yang serba militer tampak satu-satunya kekuatan yang dapat mengendalikannya dengan kekerasan dan teknologi pengawasan (Harvey, 2015).
Tiga tahun kemudian ia menambahkan bahwa ini terlihat pada naiknya partai nasionalis sayap kanan dan populisme otoriter. Angka-angka kesehatan masyarakat memberi gema. Komisi Koneksi Sosial WHO melaporkan pada Juni 2025 bahwa satu dari enam orang di dunia terdampak kesepian, dan bahwa kesepian dikaitkan dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahun, atau seratus kematian setiap jam (World Health Organization, 2025). Ini bukan bukti langsung teori Harvey, karena kesepian tidak persis sama dengan alienasi dalam pengertian Marx, tetapi ia menunjukkan bahwa keterhubungan teknis dan keterhubungan manusiawi tak identik.
Erich Fromm (1900–1980), psikoanalis Jerman-Amerika yang mengungsi dari Nazi, membedakan dua cara hidup dalam To Have or To Be? (1976): orientasi memiliki, yang mengukur diri dari apa yang dimiliki, dan orientasi menjadi, yang mengukur diri dari kualitas hidup yang dijalani (Fromm, 1976). Masyarakat yang terobsesi pada memiliki akhirnya kehilangan kemampuan mengalami menjadi. Islam menaruh peringatan yang sangat dekat dalam bahasa yang lebih tua. Nabi bersabda bahwa seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia akan ingin memiliki dua lembah, karena tak ada yang memenuhi mulutnya selain tanah, dan Allah menerima tobat siapa yang bertobat (Al-Bukhari, n.d., no. 6439).
Dalam riwayat lain, Ubayy bin Ka’b menyatakan bahwa para sahabat semula menganggap ucapan itu bagian dari Al-Qur’an sampai turun surah At-Takatsur, yang berbicara tentang berlomba-lomba menumpuk kekayaan yang melalaikan manusia hingga ia masuk kubur (Al-Bukhari, n.d., no. 6438). Harvey dan hadis itu berbeda dalam segalanya kecuali satu: keduanya menolak menganggap akumulasi tak terbatas sebagai kodrat yang tak dapat dipertanyakan. Bedanya, hadis itu menutupnya dengan pintu tobat, dan Harvey menutupnya dengan politik.
Humanisme Revolusioner, dan Sebuah Peringatan bagi Perusahaan yang Ingin Manusiawi
Bagian penutup buku Harvey berjudul “Prospects for a Happy but Contested Future: The Promise of Revolutionary Humanism”, dan ia dibuka dengan kalimat yang nyaris seperti dongeng: sejak dahulu kala ada manusia yang percaya bahwa mereka dapat membangun, sendiri atau bersama, dunia yang lebih baik daripada yang mereka warisi, dan sebagian dari mereka percaya bahwa dalam prosesnya mereka dapat membentuk ulang diri sebagai manusia yang berbeda (Harvey, 2014b). Harvey menghitung dirinya di antara mereka. Kepercayaan bahwa lewat pikiran dan tindakan sadar kita dapat mengubah dunia sekaligus diri sendiri, tulisnya, mendefinisikan tradisi humanis, dan versi sekulernya bertumpang tindih dengan ajaran agama tentang martabat, toleransi, kasih sayang, dan penghormatan (Harvey, 2014b). Holgersen (2014) mencatat bahwa gagasan ini adalah unsur paling baru dalam buku, terinspirasi André Gorz, Frantz Fanon, dan Antonio Gramsci, dan bahwa maksudnya ialah perubahan sosial tak dapat direduksi menjadi hukum besi ekonomi atau teknologi.
Namun Harvey tidak romantis terhadap humanisme. Ia mencatat dua sisi gelapnya. Yang pertama, klaim universal humanisme selalu rentan dibajak untuk kepentingan kelompok tertentu: filantropi yang berubah menjadi kolonialisme, kosmopolitanisme Kant yang dipelintir menjadi alat dominasi budaya, hak asasi manusia yang mengistimewakan hak individu dan properti pribadi di atas hubungan kolektif. Yang kedua, penegakan sistem hak apa pun selalu membutuhkan kekuasaan disipliner, biasanya negara, yang sering kali justru pelanggar pertama (Harvey, 2014b). Humanisme borjuis, katanya, gagal menginternalisasi kontradiksinya sendiri, terutama antara kebebasan dan dominasi, sehingga jatuh menjadi apa yang Frantz Fanon sebut humanitarianisme yang hambar.
Frantz Fanon (1925–1961), psikiater kelahiran Martinik yang bertugas di rumah sakit di tengah perang kemerdekaan Aljazair, adalah tokoh kunci bagi Harvey karena ia bertanya bagaimana memulihkan rasa kemanusiaan di atas pengalaman yang justru merendahkan kemanusiaan (Fanon, 1963; Harvey, 2014b). Bagi Fanon, revolusi bukan sekadar pemindahan kekuasaan; ia adalah penciptaan manusia baru, dan nasionalisme yang tak diperdalam menjadi kesadaran sosial dan politik, menjadi humanisme, berujung buntu (Fanon, 1963). Harvey menegaskan bahwa ia mengangkat soal kekerasan bukan karena menyetujuinya, melainkan karena logika situasi manusia sering merosot ke titik ketika tak ada opsi lain, dan bahwa humanisme revolusioner harus punya jawaban filosofis atas kesulitan itu (Harvey, 2014b). Ia juga menyerukan agar humanisme revolusioner sekuler bersekutu dengan humanisme berbasis agama, dari teologi pembebasan Protestan dan Katolik sampai gerakan sejenis dalam budaya Hindu, Islam, Yahudi, dan masyarakat adat, untuk melawan alienasi dalam pelbagai bentuknya (Harvey, 2014b). Alih-alih menolak agama, ia mengundangnya menjadi sekutu.
Ketika “Kapitalisme Sadar” Bertemu Kontradiksi
Sekarang kita tiba pada bagian yang paling menguji tulisan ini, karena kerangka permintaan Anda, yakni kapitalisme tetap penting bagi masyarakat, dan perusahaan-perusahaan didorong menjadi lebih manusiawi, tidak sepenuhnya searah dengan kesimpulan Harvey. Dalam kesimpulan bukunya ia menyebut dengan jelas upaya, yang ia nilai sia-sia, untuk mengenakan pakaian humanis pada kapital itu sendiri, yakni apa yang dinamai sebagian pemimpin korporasi Kapitalisme Sadar (Conscious Capitalism), sebagai sebentuk etika kewirausahaan yang curiganya menyerupai “conscience laundering” (Harvey, 2014b), pencucian nurani.
Semua hal buruk yang terjadi, dalam logika itu, diserap sebagai kerusakan sampingan yang tak disengaja dalam sistem yang digerakkan niat etis terbaik. Dalam komentarnya kemudian ia bahkan menyebut istilah semacam kapitalisme berhati nurani atau kapitalisme etis sebagai oksimoron, dan lebih memilih menjaga definisi kapital yang tunggal dan holistik (Harvey, 2015). Ia tak berhenti pada korporasi. Mengutip esai Peter Buffett, musisi dan anak investor Warren Buffett, di The New York Times pada 2013 tentang “kompleks industri amal”, Harvey menilai bahwa organisasi antikemiskinan bekerja secara struktural tanpa pernah menyentuh akumulasi kekayaan yang menopang hidup mereka, dan bahwa kalau semua orang di dalamnya berubah menjadi antikekayaan, sangat sedikit donor yang akan mendanai (Harvey, 2014b).
Bagaimana kita menimbang ini? Ada tiga cara membaca yang jujur. Pertama, Harvey tidak menutup kemungkinan bahwa orang di dalam perusahaan bertindak dengan niat tulus, ia mengakui banyak individu di dunia LSM yang ingin mengubah keadaan tetapi tak bisa (Harvey, 2014b). Yang ia persoalkan adalah struktur: niat baik tidak cukup selama insentif sistem memaksa orang kembali ke akumulasi. Kedua, bukti terbaru memperlihatkan bahwa struktur itu memang menarik kembali langkah-langkah “kemanusiaan” ketika tekanan naik.
Pada 16 Desember 2025 Parlemen Eropa mengesahkan paket penyederhanaan Omnibus I yang mempersempit kewajiban pelaporan keberlanjutan (CSRD) hanya untuk perusahaan dengan lebih dari 1.000 karyawan dan omzet di atas €450 juta, membatasi kewajiban uji tuntas rantai nilai (CSDDD) untuk perusahaan dengan lebih dari 5.000 karyawan dan omzet lebih dari €1,5 miliar, menunda penerapannya hingga Juli 2029, dan menghapus kewajiban rencana transisi iklim dari CSDDD (Principles for Responsible Investment, 2025; Latham & Watkins, n.d.). Pada awal 2025 BlackRock keluar dari inisiatif iklim Net Zero Asset Managers, yang sempat menangguhkan kegiatannya sebelum dibuka kembali dalam bentuk yang lebih longgar (ESG Today, 2026).
Ketiga, di sisi lain ada tanda bahwa ukuran keberhasilan sedang bergeser, seperti Counting What Counts, kerangka PBB untuk menilai kemajuan di luar PDB (United Nations, 2026), dan komitmen 620 organisasi bernilai sekitar US$20 triliun terhadap pengungkapan risiko terkait alam (GOV.UK, 2025), serta Konvensi ILO No. 193 tentang kerja platform (International Labour Organization, 2026b). Semuanya belum cukup, dan tak satu pun menjamin.
Apa yang dapat dipetik? Harvey memberi kita sebuah uji, dan uji itu berguna bahkan bagi mereka yang tak setuju dengan kesimpulannya. Perusahaan yang mengaku manusiawi dapat ditanya: apakah ia mengubah cara nilai guna disediakan dan dibagi, atau hanya mengubah kemasannya? Apakah ia mengubah siapa yang memegang kendali, termasuk suara pekerja, komunitas, dan pengelolaan commons, atau hanya menambah program tanggung jawab sosial? Apakah ia menerima batas pada logika pertumbuhannya dan pada pemindahan biaya ke alam dan masyarakat? Apakah ia akan tetap melakukannya bila tidak menguntungkan, dan apakah ia bersedia diatur? Perusahaan yang menjawab ya pada sebagian pertanyaan itu bukan lagi sekadar mencuci nurani.
Dan perusahaan yang tak sanggup menjawabnya, betapapun indah laporan keberlanjutannya, patut dibaca dengan kacamata Harvey. Ursula K. Le Guin (1929–2018), penulis fiksi ilmiah yang menerima Medali Yayasan Buku Nasional Amerika pada 2014, mengingatkan bahwa kekuasaan kapitalisme tampak tak terelakkan, “but then, so did the divine right of kings” (Le Guin, 2014): yang tampak kodrat sering hanya kebiasaan yang panjang. Pada saat yang sama, membuang seluruh upaya perbaikan sebagai pencucian nurani berisiko mengabaikan orang yang bekerja di dalam sistem dan manusia yang nasibnya bergantung padanya. Sikap yang jujur mungkin memegang keduanya: perbaikan yang terukur bukan kosmetik, dan kesadaran bahwa perbaikan tak menggantikan perubahan struktural.
Tujuh Belas Gagasan bagi Praksis
Harvey menutup bukunya dengan epilog pendek, hanya sekitar empat halaman menurut Holgersen (2014), berjudul “Ideas for Political Praxis”: tujuh belas mandat, satu untuk setiap kontradiksi, tentang dunia macam apa yang layak diperjuangkan (Harvey, 2014b). Kesan yang tertinggal darinya bukan program partai, melainkan lukisan tentang dunia yang bergerak searah. Nilai guna, seperti rumah, pendidikan, dan pangan, disediakan langsung untuk semua, bukan lewat pasar yang menimbun nilai tukar. Uang tetap memfasilitasi pertukaran tetapi tak lagi menjadi sarana individu menumpuk kekuasaan sosial.
Oposisi antara kepemilikan privat dan kekuasaan negara digantikan sebanyak mungkin oleh rezim hak bersama, dengan pengetahuan dan tanah sebagai commons terpenting. Kehidupan sehari-hari diperlambat agar tersisa waktu bagi kegiatan bebas di lingkungan yang stabil dan terawat. Teknologi baru meringankan beban kerja sosial dan mengurangi jejak ekologis. Ekonomi bergerak menuju pertumbuhan nol, dengan pengembangan terbesar kapasitas manusia dan pencarian kebaruan yang abadi menggantikan kegilaan pada pertumbuhan majemuk. Alam dimanfaatkan dengan memerhatikan ekosistem dan dengan rasa terpesona kembali pada keindahan dunia alami. Dan pada ujungnya, lahir manusia yang tak teralienasi, dengan rasa diri yang baru dan yakin, yang menganggap setiap orang layak mendapat martabat dan hormat, meski konflik tentang makna kehidupan yang baik tetap berkecamuk (Harvey, 2014b).
Harvey menambahkan satu penegasan penting: tak satu pun dari mandat itu menggantikan pentingnya berperang melawan segala bentuk diskriminasi, penindasan, dan represi di dalam kapitalisme secara keseluruhan; dan sebaliknya, tak satu pun perjuangan lain boleh mengesampingkan perjuangan melawan kapital dan kontradiksinya. Aliansi kepentingan, simpulnya, jelas dibutuhkan (Harvey, 2014b). Harvey juga tak menawarkan peta jalan yang mulus. Ia sendiri mengakui bahwa antikapitalisme hari ini menghadapi kelemahan sayap kiri yang belum pernah separah ini dan kesulitan mempertahankan perjuangan melampaui letupan sesaat (Harvey, 2015).
Para pengulas menimbang bukunya dengan beragam nada. Ulasan di Marx and Philosophy Review of Books mencatat bahwa Harvey menolak menyusun kontradiksi secara hierarkis, yang mungkin dikritik sarjana Marxis lain (Marx and Philosophy Review of Books, 2014). Vergara Ovando (2015) menilai buku ini cepat dan jernih dibaca, meski penyederhanaannya bisa dianggap kelemahan oleh pembaca yang sudah akrab dengan temanya. Holgersen (2014) menyimpulkan bahwa buku ini lebih orisinal dalam bentuk daripada isi, tetapi merupakan pengantar yang menarik dan panduan untuk bertindak, sekaligus menekankan bahwa usulan-usulan Harvey tak menyentuh dawai apa pun di kalangan elite. Di ujung yang lain, sebuah tinjauan menilai bahwa ada ketegangan antara humanisme revolusioner Harvey dan kepatuhannya pada ortodoksi Marxis lama, serta godaan katastrofisme (Review of Seventeen Contradictions, 2016). Semua itu menunjukkan cara membaca buku ini yang sehat: sebagai alat untuk melihat, bukan sebagai kitab jawaban.
Hikmah: Mengelola Kontradiksi, Bukan Menyangkalnya
Salah satu pelajaran terbesar Harvey justru bukan tentang kapitalisme, melainkan tentang cara berpikir. Kontradiksi, dalam pembacaannya, tak pernah benar-benar dipecahkan di dalam kapitalisme; ia dipindahkan dalam waktu dan ruang (Holgersen, 2014, hlm. 4): utang menunda persoalan daya beli, ekspansi geografis menunda persoalan laba, teknologi baru menunda persoalan sumber daya. Krisis, dengan demikian, sering kali bukan akhir, melainkan cara sistem memperbarui dirinya. Krisis 1929 melahirkan transformasi, krisis 1970-an melahirkan restrukturisasi neoliberal, krisis 2008 melahirkan intervensi moneter dan regulasi baru, dan pandemi serta kecerdasan buatan kini mengubah struktur kerja dan pengetahuan. Tetapi jangan mengira krisis otomatis menghasilkan perubahan sistem. Ia dapat melahirkan reformasi sosial dan dapat melahirkan konsentrasi kekuasaan; dapat memperkuat solidaritas dan dapat memperkuat nasionalisme yang eksklusif; dapat menghasilkan inovasi dan dapat melebarkan ketimpangan. Krisis adalah medan politik, dan siapa yang mengorganisasikan responsnya menentukan masa depan.
Di titik inilah buku Harvey bertemu dengan kepemimpinan adaptif. Ronald Heifetz, pendiri Center for Public Leadership di Harvard Kennedy School, membedakan masalah teknis, yang punya solusi yang sudah dikenal, dari masalah adaptif, yang menuntut manusia mengubah kebiasaan, kepentingan, dan bahkan identitas (Heifetz, 1994; Heifetz et al., 2009). Kontradiksi yang dipetakan Harvey hampir semuanya bersifat adaptif. Pemimpin tak dapat menghapusnya; ia dapat mengelolanya secara sadar. Peter Senge, pengajar di MIT Sloan, menyebut organisasi yang mampu bertahan sebagai organisasi pembelajar yang terus memperluas kapasitasnya menciptakan masa depan yang diinginkan (Senge, 1990/2006). Dalam dunia yang penuh kontradiksi, organisasi yang percaya bahwa setiap masalah memiliki satu solusi biasanya menjadi yang paling rapuh. Kepemimpinan bukan seni menghilangkan kontradiksi, melainkan kemampuan membuatnya produktif.
| Kontradiksi | Cara membacanya yang keliru | Cara mengelolanya secara adaptif |
| Pertumbuhan dan keberlanjutan | Tumbuh dulu, bersih-bersih kemudian | Menanyakan pertumbuhan apa, untuk siapa, dan dengan biaya apa; menumbuhkan pengetahuan dan dampak, bukan volume material |
| Efisiensi dan ketangguhan | Memangkas semua kelonggaran | Menyisakan ruang belajar dan cadangan untuk asumsi yang keliru |
| Teknologi dan pekerjaan | Otomasi demi biaya, atau menolak teknologi | Membagi hasil produktivitas lewat upah, waktu, pendidikan, dan jaminan; menjaga pertimbangan manusia pada keputusan penting |
| Milik privat dan commons | Semuanya dijual, atau semuanya dikuasai negara | Memilah apa yang menjadi pasar, apa yang menjadi milik publik, dan apa yang dijaga bersama |
| Kebebasan dan regulasi | Regulasi sebagai musuh inovasi | Aturan yang memperluas kebebasan nyata bagi pihak yang lebih lemah |
| Keuntungan dan tujuan | Keuntungan sebagai satu-satunya ukuran | Keuntungan sebagai syarat kelangsungan, dengan tujuan yang menetapkan batas moralnya |
| Kecepatan dan refleksi | Bergerak cepat tanpa arah | Kelincahan sebagai kemampuan belajar lebih cepat daripada perubahan lingkungan |
Ada tiga pergeseran cara pandang yang dapat dipetik untuk masa depan. Pertama, dari pertumbuhan sebagai agama menuju pertumbuhan sebagai alat. Harvey memaksa kita memikirkan ulang kata yang sangat kita sukai. Pertumbuhan tak selalu buruk; negara miskin masih membutuhkannya, dan pertumbuhan ekonomi meningkatkan kesejahteraan. Tetapi ketika ia menjadi tujuan tanpa batas, kita berhadapan dengan tiga kontradiksi berbahaya tadi. Barangkali masa depan membutuhkan rumusan yang lebih halus: tumbuh di mana dibutuhkan, cukup di mana mungkin, memulihkan di mana perlu.
Kate Raworth, ekonom Oxford penulis Doughnut Economics, menggambarkan ruang aman itu sebagai “safe and just space for humanity”, di antara fondasi sosial yang tak boleh gagal dan langit-langit ekologis yang tak boleh dilampaui (Raworth, 2012, 2017). Laporan Counting What Counts menambahkan alat ukurnya, dan Guterres menulis dengan singkat: “what we measure shapes what we value” (dikutip dalam United Nations Conference on Trade and Development, 2026).
Kedua, dari aktivisme sebagai resistensi menuju aktivisme sebagai rekonstruksi. Harvey tak ingin bukunya berhenti sebagai kritik. Organisasi aktivis masa depan tak cukup menjadi pemrotes; ia harus menjadi pembangun. Ia mengkritik, mengorganisasi, menghasilkan pengetahuan, membangun alternatif, menciptakan institusi, menguji model, dan memperluas jaringan, mengubah kritik menjadi energi untuk membangun.
Mahatma Gandhi (1869–1948) sering dikutip mengatakan “be the change you wish to see”, tetapi penelusuran sejarah kutipan menunjukkan bahwa kalimat itu tak ada dalam tulisannya; yang paling dekat adalah tulisan tahun 1913: “If we could change ourselves, the tendencies in the world would also change” (dikutip dalam Quote Investigator, 2017). Gagasan itu tetap cocok dengan Harvey dalam satu pengertian: humanisme revolusioner menuntut perubahan sistem sekaligus perubahan manusia yang menjalankannya. Kita dapat mengganti struktur organisasi tetapi mempertahankan budaya lama, mengganti pemimpin tetapi mempertahankan mentalitas komando, membuat departemen ESG tetapi tetap menjadikan laba sebagai satu-satunya ukuran. Transformasi sejati bersifat ganda: institusional dan manusiawi.
Ketiga, dari pertanyaan “kapitalisme atau sosialisme?” menuju pertanyaan tentang pembagian wilayah kehidupan: apa yang sebaiknya menjadi pasar, apa yang sebaiknya menjadi milik publik, dan apa yang harus dijaga sebagai commons, seperti udara, air, keanekaragaman hayati, pengetahuan tertentu, ruang publik, kesehatan, pendidikan, dan dalam beberapa konteks bahkan data. Pertanyaan itu jauh lebih produktif, dan ia sudah lama hadir dalam etika kita: sabda tentang sekutu dalam rumput, air, dan api (Abu Dawud, n.d.), dan Pasal 33 UUD 1945 yang menaruh kekayaan alam dalam horizon kemakmuran rakyat (Hukumonline, 2024). Al-Qur’an juga menaruh kekayaan dalam horizon distribusi: agar harta jangan hanya beredar di kalangan orang kaya di antara kamu (Kementerian Agama Republik Indonesia, n.d., QS 59:7). Ayat itu berbicara tentang pembagian fay’ dan tak tepat dijadikan teori ekonomi modern secara langsung, tetapi prinsip moralnya jelas: kekayaan tak boleh membentuk sirkuit tertutup yang hanya menguntungkan yang sudah memiliki.
Ada satu ketegangan yang layak dinyatakan terang di sini. Pembacaan atas Harvey dapat berujung dua kesimpulan yang berbeda. Kesimpulan pertama, sejalan dengan Harvey sendiri, adalah bahwa kontradiksi-kontradiksi itu pada akhirnya menuntut penggantian kapital sebagai cara mengorganisasikan produksi. Kesimpulan kedua, yang dipegang banyak praktisi, adalah bahwa kemampuan produktif kapitalisme dapat diarahkan lewat perubahan insentif, institusi, budaya ekonomi, dan kepemimpinan, sehingga ia bekerja bagi kesejahteraan manusia dan kesehatan planet.
Tulisan ini tak berpura-pura menyelesaikan perdebatan itu. Yang dapat dikatakan dengan lebih pasti adalah bahwa diagnosis Harvey berguna bagi keduanya, karena ia memaksa siapa pun yang menempuh jalan kedua bertanya jujur apakah perubahannya menyentuh struktur atau hanya permukaan. Ada risiko lain yang perlu dijaga dari sisi sebaliknya: kritik terhadap kapitalisme dapat tergelincir menjadi romantisisme anti-pasar. Pasar melakukan hal-hal nyata; perusahaan menciptakan produk, pengusaha mengambil risiko, investasi membiayai inovasi, perdagangan menghubungkan masyarakat. Harvey sendiri mengaku mengagumi banyak yang dihasilkan kapital (Harvey, 2015). Kita tak perlu memilih antara menyangkal masalah dan menyangkal manfaat.
Kalau begitu, apa yang mungkin sungguh-sungguh berakhir? Bukan kapitalisme sebagai institusi ekonomi dalam waktu dekat. Yang mungkin berakhir adalah bentuk-bentuk tertentu darinya: kapitalisme berbasis energi fosil; yang menganggap pertumbuhan material tanpa batas sebagai keniscayaan; yang menganggap alam sebagai eksternalitas dan manusia sebagai biaya; yang menjadikan perhatian manusia komoditas; yang membatasi tanggung jawab perusahaan hanya kepada pemegang saham; dan yang mengukur keberhasilan hanya sebagai akumulasi. Jika bentuk-bentuk itu berubah, kita mungkin tidak menyaksikan “akhir kapitalisme”, tetapi transformasinya.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang membentuk transformasi itu? Jawabannya bukan hanya pemerintah, pasar, perusahaan, LSM, atau aktivis. Perubahan datang dari ekosistem: perusahaan dan investor yang berubah, konsumen dan pemerintah yang berubah, komunitas yang mengorganisasi diri, universitas yang menghasilkan pengetahuan baru, teknologi yang diarahkan pada kepentingan publik, dan organisasi masyarakat sipil yang mampu menghubungkan semuanya. Karena itu kepemimpinan yang dibutuhkan bukan pemimpin yang berdiri di depan rombongan, tetapi pemimpin yang menciptakan kondisi agar banyak pihak dapat bergerak bersama.
Dari sini kita dapat merumuskan satu konsep kerja yang menerjemahkan Harvey ke dalam bahasa organisasi, adaptive stewardship, dengan lima unsur. Awareness, kemampuan membaca kontradiksi sebelum menjadi krisis. Learning, kemampuan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan. Agility, kemampuan mengubah cara kerja tanpa kehilangan tujuan. Humanity, kemampuan memastikan teknologi, ekonomi, dan organisasi tetap melayani kehidupan manusia. Dan stewardship, kemampuan menjaga kepentingan generasi dan ekosistem yang lebih besar daripada organisasi itu sendiri. Kelima-limanya bukan resep menghindari kontradiksi; ia cara hidup di dalamnya tanpa kehilangan arah. Dalam rangkaian bacaan yang lebih besar, Harvey mengisi satu mata rantai: platform menjelaskan koneksi, raksasa modal menjelaskan kekuasaan, Roberts menjelaskan ketakutan, Harvey menjelaskan kontradiksi, Senge menjelaskan pembelajaran, kepemimpinan adaptif menjelaskan perubahan, dan stewardship menjelaskan tanggung jawab: untuk siapa, untuk apa, dan untuk berapa lama.
Berbagai organisasi, LSM atau konsultan sering dihadapkan pada persimpangan antara kapital, alam, masyarakat, dan pengetahuan, dan dalam ekonomi masa depan pengetahuan adalah bentuk kekuasaan. Harvey membantu melihat bahwa persimpangan itu tidak netral.
Lima pergeseran dapat dirumuskan. Pertama, dari konsultansi yang dipimpin pendiri menjadi organisasi pengetahuan yang dipimpin institusi: pendiri tetap penting, tetapi sebagai penjaga tujuan (steward of purpose), dan ujian sukses suksesi bukan apakah generasi berikutnya dapat menggantikan saya, melainkan apakah organisasi tetap menciptakan nilai ketika saya tak lagi berada di pusatnya. Kedua, dari modal intelektual pribadi menuju kecerdasan organisasi: Harvey mengingatkan bahwa kapital bergerak, dan pengetahuan pun harus bergerak, dari kepala beberapa senior menjadi sistem dan institusi, sehingga setiap proyek meninggalkan metodologi, studi kasus, pelajaran, basis data, perangkat, bahan pelatihan, dan kerangka keputusan. Konsultan senior yang membuat lima orang lain menjadi lebih pintar sedang membangun modal institusional.
Ketiga, dari efisiensi menuju kelincahan adaptif: hari ini RSPO, FSC, ISCC, ISPO, HCV/HCS, dan SIA; besok transisi positif-alam, TNFD, pengungkapan biodiversitas, rantai pasok bebas deforestasi, integritas karbon, jaminan berbantuan AI, ketertelusuran digital, dan transisi yang adil. Yang harus permanen bukan layanan hari ini, melainkan kapasitas belajar. Keempat, dari konsultan menjadi penata ekosistem yang menghubungkan universitas, LSM, komunitas, pemerintah, lembaga sertifikasi, investor, ilmu data, ekologi, antropologi, hukum, dan keuangan. Kelima, dari layanan keberlanjutan menuju kecerdasan keberlanjutan: konsultansi tradisional menjual jam kali keahlian, sedangkan organisasi pengetahuan masa depan dapat menghasilkan pengetahuan kali jaringan kali teknologi kali kepercayaan kali dampak, dengan nilai terletak pada peningkatan kualitas keputusan klien.
Harvey juga mengajarkan bahwa kontradiksi sebaiknya dijadikan sumber desain, bukan dihapus. Kebebasan berwirausaha harus berjalan bersama akuntabilitas institusional. Keahlian individu harus dihargai tanpa membuat pengetahuan menjadi milik pribadi. Laba diperlukan, tetapi tujuan menentukan batas moralnya. Pertumbuhan diperlukan, tetapi tidak dengan mengorbankan manusia dan alam. Kecepatan harus disertai tata kelola. Kecerdasan buatan dipakai, tetapi keputusan penting tetap memerlukan pertimbangan manusia. Warisan pendiri dihormati, tetapi generasi baru diberi ruang membentuk masa depannya sendiri. Koreksi yang ditambahkan Harvey adalah kewaspadaan terhadap satu risiko yang khas bagi organisasi seperti ini.
Konsultansi keberlanjutan hidup dari klien yang membayar, dan dalam kerangka Harvey posisi itu rawan menjadi pencucian nurani bila laporan yang bagus tak mengubah praktik. Beberapa pertanyaan dapat menjadi pagar: apakah metodologi dan pengetahuan dibuka sebagai milik bersama sejauh mungkin, sejalan dengan gagasan pengetahuan sebagai commons; apakah ada kesediaan menolak atau menghentikan pekerjaan yang hanya menghias; apakah suara komunitas terdampak benar-benar memengaruhi hasil; dan apakah ukuran keberhasilan dilaporkan dalam dampak, bukan hanya volume.
Dengan cara ini lima tahun 2026–2031 dapat menjadi laboratorium: apakah sebuah perusahaan dapat tetap menguntungkan sekaligus berpusat pada manusia, apakah pendiri dapat menyerahkan sebagian kekuasaan tanpa kehilangan tujuan, apakah pengetahuan dapat menjadi aset organisasi bersama, dan apakah sebuah perusahaan dapat hidup lebih lama daripada pendirinya tanpa kehilangan alasan mengapa ia didirikan.
Catatan Akhir: Kapitalisme Mungkin Belum Berakhir, tetapi Cara Kita Memahaminya Harus Berubah
David Harvey tidak memberi kita kenyamanan. Ia memaksa kita melihat apa yang sering ingin kita abaikan: bahwa kapitalisme sangat produktif dan sangat destruktif; sangat adaptif, tetapi adaptasi tak selalu berarti kemajuan; menghasilkan kekayaan sekaligus ketimpangan; menciptakan teknologi tetapi dapat membuat manusia kehilangan pekerjaan dan makna; membangun pasar global tetapi juga ketergantungan dan ketidaksetaraan geografis; membutuhkan alam tetapi terus menekan batas ekologis; menawarkan kebebasan yang dapat hidup berdampingan dengan dominasi. Harvey menulis bahwa masa depan sebagian besar sudah hadir di dunia di sekitar kita (dikutip dalam Holgersen, 2014), yakni dalam bentuk kontradiksi-kontradiksi itu sendiri, tempat orang dapat mencari peluang perubahan. Maka pertanyaan yang lebih penting daripada “apakah kapitalisme akan berakhir?” adalah: peradaban ekonomi macam apa yang ingin kita bangun setelah kita memahami kontradiksi-kontradiksinya?
Kita tak perlu menunggu kapitalisme runtuh untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Kita dapat mulai sekarang, di perusahaan, kota, komunitas, pasar, organisasi sipil, universitas, pemerintahan, keluarga, dan dalam cara kita mendefinisikan keberhasilan.
Mungkin masa depan tak membutuhkan dunia tanpa bisnis, melainkan bisnis yang memahami batas; tak membutuhkan dunia tanpa teknologi, melainkan teknologi yang tunduk kepada kemanusiaan; tak membutuhkan dunia tanpa pasar, melainkan pasar yang hidup di dalam masyarakat, bukan masyarakat yang hidup sepenuhnya untuk pasar; tak membutuhkan perusahaan tanpa laba, melainkan perusahaan yang memahami bahwa laba adalah syarat keberlanjutan, bukan alasan keberadaan.
Dan ia tak membutuhkan pemimpin yang mampu mengendalikan segalanya; ia membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka miliki. Itulah stewardship. Dan barangkali di situlah jawaban yang paling sederhana bagi menara yang lampunya tak pernah menyala: sebuah kota, dan sebuah ekonomi, yang dibangun agar manusia dapat tinggal di dalamnya.
Bogor, 11 Oktober 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Abu Dawud. (n.d.). Sunan Abi Dawud (Hadis no. 3477). Sunnah.com. https://sunnah.com/abudawud:3477
Al-Bukhari. (n.d.). Sahih al-Bukhari (Hadis no. 6438–6439). Sunnah.com. https://sunnah.com/urn/60540 dan https://dev.ihadis.com/en/bukhari/hadith/6439
Chaplin, C. (Director). (1936). Modern times [Film]. Charles Chaplin Productions.
CPI(ML) Liberation. (2014, July). David Harvey: Seventeen contradictions and the end of capitalism [Review]. https://www.cpiml.net/liberation/2014/07/david-harvey-seventeen-contradictions-and-end-capitalism
David Harvey. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved September 19, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/David_Harvey
ESG Today. (2026, February 25). Net Zero Asset Managers initiative relaunches. https://www.esgtoday.com/net-zero-asset-managers-initiative-relaunches/
Fanon, F. (1963). The wretched of the earth (C. Farrington, Trans.). Grove Press. (Original work published 1961)
Federici, S. (2004). Caliban and the witch: Women, the body and primitive accumulation. Autonomedia.
Fraser, N. (2016). Contradictions of capital and care. New Left Review, 100, 99–117. https://newleftreview.org/issues/ii100/articles/nancy-fraser-contradictions-of-capital-and-care
Fromm, E. (1976). To have or to be? Harper & Row.
GOV.UK. (2025, October 10). Biodiversity Finance Trends Dashboard 2025 (accessible version). https://www.gov.uk/government/publications/biodiversity-finance-trends-2025/biodiversity-finance-trends-dashboard-2025-accessible-version
Harvey, D. (2014a). Seventeen contradictions and the end of capitalism. Profile Books; Oxford University Press. https://global.oup.com/academic/product/seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism-9780190230852
Harvey, D. (2014b, April). Prospects for a happy but contested future: The promise of revolutionary humanism; Ideas for political praxis [Excerpt, final two chapters of Seventeen contradictions and the end of capitalism]. The White Review. https://www.thewhitereview.org/feature/seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism/
Harvey, D. (2015, May 19). “The most dangerous book I have ever written”: A commentary on Seventeen contradictions and the end of capitalism. Reading Marx’s Capital with David Harvey. https://davidharvey.org/2015/05/the-most-dangerous-book-i-have-ever-written-a-commentary-on-seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism/
Harvey, D. (2018). Universal alienation. tripleC: Communication, Capitalism & Critique, 16(2), 424–439. https://doi.org/10.31269/triplec.v16i2.1026
Heifetz, R. A. (1994). Leadership without easy answers. Belknap Press of Harvard University Press.
Heifetz, R. A., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The practice of adaptive leadership: Tools and tactics for changing your organization and the world. Harvard Business Press.
Holgersen, S. (2014, August 31). Seventeen contradictions and the end of capitalism by David Harvey [Book review]. Society and Space. https://www.societyandspace.org/articles/seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism-by-david-harvey
Hukumonline. (2024). Bunyi dan makna Pasal 33 UUD 1945. https://www.hukumonline.com/berita/a/bunyi-dan-makna-pasal-33-uud-1945-lt66a1c0b348b25/
Hukumonline. (2026). Aturan potongan komisi 8 persen untuk ojol, Gojek dan Grab bakal berlakukan 1 Juli 2026. https://www.hukumonline.com/berita/a/aturan-potongan-komisi-8-persen-untuk-ojol–gojek-dan-grab-bakal-berlakukan-1-juli-2026-lt6a3b7b353ff0e/
Ibn Khaldūn. (2015). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal, Trans.; N. J. Dawood, Ed.). Princeton University Press. (Original work published 1377).
Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services. (2019). Global assessment report on biodiversity and ecosystem services (E. S. Brondizio, J. Settele, S. Díaz, & H. T. Ngo, Eds.). IPBES Secretariat. https://ipbes.net/global-assessment
International Labour Organization. (2018, June 27). ILO: Women do 4 times more unpaid care work than men in Asia and the Pacific [News release on Care work and care jobs for the future of decent work]. https://www.ilo.org/asia/media-centre/news/WCMS_633284/lang–en/index.htm
International Labour Organization. (2026, January 22). Global employment in 2026: A fragile stability [Podcast episode 81, on the Employment and Social Trends 2026 report]. ILO Future of Work Podcast. https://voices.ilo.org/podcast/global-employment-in-2026-a-fragile-stability
International Labour Organization. (2026, June). International Labour Conference ends with adoption of first Convention on decent work in the platform economy. https://www.ilo.org/resource/news/ilc/ilc114/international-labour-conference-ends-adoption-first-convention-decent-work
International Resource Panel. (2024, March 1). Global resources outlook 2024 [Press release: Rich countries use six times more resources, generate 10 times the climate impacts than low-income ones]. UNEP. https://www.unep.org/news-and-stories/press-release/rich-countries-use-six-times-more-resources-generate-10-times
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya [Qur’an Kemenag]. https://quran.kemenag.go.id/ (QS 30:41; QS 59:7)
Keynes, J. M. (2010). Economic possibilities for our grandchildren. In Essays in persuasion (pp. 321–332). Palgrave Macmillan. (Original work published 1930)
Larousse. (n.d.). David Harvey. Encyclopédie Larousse. https://www.larousse.fr/encyclopedie/personnage/Harvey/149680
Latham & Watkins. (n.d.). EU Sustainability Omnibus published in the Official Journal. https://www.lw.com/en/insights/eu-sustainability-omnibus-published-in-the-official-journal
Le Guin, U. K. (2014, November 19). Speech in acceptance of the National Book Foundation Medal for Distinguished Contribution to American Letters. https://www.ursulakleguin.com/nbf-medal
Marx, K. (n.d.). Capital: A critique of political economy, Volume I (S. Moore & E. Aveling, Trans.). Marxists Internet Archive. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1867-c1/ch24.htm (Original work published 1867)
Marx and Philosophy Review of Books. (2014, June 19). Seventeen contradictions and the end of capitalism [Review]. https://marxandphilosophy.org.uk/reviews/7906_seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism-review-by-anon/
Mohn, E. (2024). David Harvey [Research starter]. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/biography/david-harvey
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.
Oxfam International. (2026, January 19). Billionaire wealth jumps three times faster in 2025 to highest peak ever, sparking dangerous political inequality [Press release]. https://www.oxfam.org/en/press-releases/billionaire-wealth-jumps-three-times-faster-2025-highest-peak-ever-sparking
Oxford University Press. (n.d.). Seventeen contradictions and the end of capitalism [Deskripsi penerbit]. https://global.oup.com/academic/product/seventeen-contradictions-and-the-end-of-capitalism-9780190230852
Polanyi, K. (2001). The great transformation: The political and economic origins of our time. Beacon Press. (Original work published 1944)
Principles for Responsible Investment. (2025, December 16). PRI responds to final agreement on the EU Omnibus proposal. https://public.unpri.org/consultations-and-letters/pri-responds-to-final-agreement-on-the-eu-omnibus-proposal/13571.article
Quote Investigator. (2017, October 23). Be the change you wish to see in the world. https://quoteinvestigator.com/2017/10/23/be-change/
Raworth, K. (2012). A safe and just space for humanity: Can we live within the doughnut? (Oxfam Discussion Paper). Oxfam. https://www.oxfam.org/en/research/safe-and-just-space-humanity
Raworth, K. (2017). Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist. Random House Business.
Review of “Seventeen contradictions and the end of capitalism” by David Harvey. (2016). [Ulasan]. Academia.edu. https://www.academia.edu/26879886/Review_of_Seventeen_Contradictions_and_the_End_of_Capitalism_by_David_Harvey
Senge, P. M. (2006). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization (Rev. ed.). Doubleday. (Original work published 1990)
SITAC. (n.d.). David Harvey. https://sitac.org/en/people/david-harvey
Stockholm Resilience Centre. (2025, September 24). Seven of nine planetary boundaries now breached. https://www.stockholmresilience.org/news–events/general-news/2025-09-24-seven-of-nine-planetary-boundaries-now-breached
Sukarno. (1955, April 18). Speech at the opening of the Bandung Conference (excerpts). Fordham University, Internet Modern History Sourcebook. https://sourcebooks.web.fordham.edu/mod/1955sukarno-bandong.asp
Tafsiralquran.id. (n.d.). Tafsir Surat Ar-Rum ayat 41: Menyoal manusia dan krisis ekologis. https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ar-rum-ayat-41-menyoal-manusia-dan-krisis-ekologis/
United Nations. (2026, May 7). Secretary-General’s High-Level Expert Group sets out a set of indicators to put people and planet at the centre of decision-making [Press release]. https://www.un.org/en/node/242862
United Nations Conference on Trade and Development. (2025a, June 26). Global public debt hit record $102 trillion in 2024, striking developing countries hardest [A world of debt 2025]. https://unctad.org/news/global-public-debt-hit-record-102-trillion-2024-striking-developing-countries-hardest
United Nations Conference on Trade and Development. (2025b). World economic situation and prospects 2025. United Nations. https://unctad.org/publication/world-economic-situation-and-prospects-2025
United Nations Conference on Trade and Development. (2026, May 4). Counting what counts: A compass of progress for people and planet [Foreword by A. Guterres]. https://unctad.org/publication/counting-what-counts-compass-progress-people-and-planet
United Nations Conference on Trade and Development. (n.d.). Critical minerals [Web page]. https://unctad.org/fr/node/44887
United Nations Environment Programme. (2025). Emissions gap report 2025: Off target. https://www.unep.org/resources/emissions-gap-report-2025-target
University of Galway. (n.d.). Interview with David Harvey [Transcript, Conference of Irish Geographers, 2013]. Research Repository. https://researchrepository.universityofgalway.ie/server/api/core/bitstreams/81081c10-5fcf-4358-8727-d3b50d3a0695/content
Vergara Ovando, F. A. (2015). [Reseña de] Harvey, D. (2014), Seventeen contradictions and the end of capitalism. Investigaciones Geográficas, 88, 165–166. https://www.redalyc.org/pdf/569/56943187013.pdf
World Health Organization. (2025, June 30). Social connection linked to improved health and reduced risk of early death [News release]. https://www.who.int/news/item/30-06-2025-social-connection-linked-to-improved-heath-and-reduced-risk-of-early-death
World Meteorological Organization. (2026, March 23). Earth’s climate swings increasingly out of balance [Press release on the State of the Global Climate 2025]. https://wmo.int/news/media-centre/earths-climate-swings-increasingly-out-of-balance
World Wildlife Fund. (2024, October 10). Catastrophic 73% decline in the average size of global wildlife populations in just 50 years reveals a system in peril [Press release]. https://www.worldwildlife.org/press-releases/catastrophic-73-decline-in-the-average-size-of-global-wildlife-populations-in-just-50-years-reveals-a-system-in-peril
Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism: The fight for a human future at the new frontier of power. PublicAffairs.






