Rubarubu #237
The Insect Crisis:
Krisis Serangga dan Krisis Makna Modernitas
Hanya ada beberapa jalur untuk masuk dan keluar dari Distrik Jumla, Nepal. Jalan Raya Karnali, yang dianggap sebagai salah satu jalan paling berbahaya di dunia, merupakan satu-satunya jalur penghubung darat. Jalan ini membelah Pegunungan Himalaya dan menghubungkan lembah-lembah bertingkat di Jumla dengan wilayah Nepal lainnya. Karena itu, sekitar 120.000 orang yang tinggal di sana hampir sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri, dengan sebagian besar penduduk mengonsumsi dan menjual hasil yang mereka tanam.1
Lebah liar menurun, padahal tanaman pangan dan bunga bergantung pada mereka untuk bertahan hidup—akibatnya, zat gizi penting akan hilang dari pola makan kita, tulis Gloria Dickie dalam The Guardian itu.
Kehidupan mereka sangat rentan, dibayangi oleh kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Dalam beberapa tahun terakhir, para peternak lebah setempat mengeluhkan kondisi sarang yang semakin memburuk dan produksi madu yang terus menurun. Mereka mengamati bahwa kira-kira separuh lebah mereka tampaknya telah menghilang selama satu dekade terakhir. Namun, kekhawatiran tersebut mengabaikan dampak lain yang jauh lebih tersembunyi.
“Mereka memandang lebah-lebah ini berharga karena menghasilkan madu, tetapi mereka tidak benar-benar menyadari bahwa lebah juga sangat penting untuk mendukung produksi tanaman pangan mereka,” kata Thomas Timberlake, seorang ekolog dari University of York, yang dikutip Dickie.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu di jurnal Nature, Timberlake dan rekan-rekannya berupaya mengukur seberapa penting penyerbuk di wilayah tersebut bagi kesehatan penduduk yang tinggal di 10 desa terpencil di Jumla.2
Hilangnya keanekaragaman hayati mengancam kesehatan dan kesejahteraan manusia melalui penurunan kualitas jasa ekosistem, seperti penyerbukan.3,4,5 Namun, tanpa keterkaitan mekanistis yang jelas antara ekosistem dan manusia, jasa-jasa tersebut dapat tetap menjadi sesuatu yang abstrak dan tidak berwujud. Akibatnya, sulit untuk memperkirakan dampak kerusakan lingkungan terhadap kesejahteraan manusia atau mengidentifikasi intervensi ekologis yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Dalam penelitian ini, para peneliti mencatat pola makan individu, hasil panen, pendapatan pertanian, dan interaksi antara tanaman pangan dan penyerbuk pada sejumlah komunitas petani kecil di Nepal yang diteliti secara berulang. Tujuannya adalah mengukur hubungan antara serangga penyerbuk, tanaman pangan, asupan zat gizi, dan pendapatan masing-masing keluarga.
Serangga penyerbuk secara langsung menyumbang 44% pendapatan pertanian penduduk serta lebih dari 20% asupan vitamin A, folat, dan vitamin E mereka. Mereka menunjukkan bahwa penurunan spesies penyerbuk setempat diperkirakan akan memperburuk tingkat kemiskinan dan kekurangan zat gizi mikro di komunitas rentan seperti komunitas yang diteliti dalam penelitian ini.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pengelolaan jasa penyerbukan setempat dapat meningkatkan gizi manusia dan pendapatan rumah tangga. Penyerbuk yang melimpah, seperti lebah madu asli, lebah kumbang/klanceng (bumble bee), dan lalat bunga (hoverfly), merupakan kelompok yang paling penting untuk mempertahankan dan meningkatkan aliran zat gizi.
Jika diterapkan secara lebih luas, pendekatan yang menghubungkan keanekaragaman hayati dengan kesehatan dan mata pencaharian manusia ini dapat mengungkap jalur-jalur baru yang berkelanjutan untuk meningkatkan kehidupan jutaan petani kecil di seluruh dunia.
Keanekaragaman hayati menopang hampir setiap aspek kesehatan manusia. Udara bersih, air tawar, pengendalian penyakit, dan produksi pangan semuanya bergantung pada berfungsinya ekosistem yang sehat.6,7 Oleh karena itu, hilangnya habitat dan spesies secara cepat serta terganggunya interaksi ekologis membahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia, khususnya di wilayah berpendapatan rendah, tempat angka kesakitan dan kemiskinan sudah tinggi 2,5,6. Untuk mengatasi risiko ini, kita harus memahami dan memanfaatkan jalur-jalur yang menghubungkan keanekaragaman hayati dengan kesehatan manusia.8
Penyerbukan merupakan salah satu contoh hubungan penting antara ekosistem dan kesehatan manusia yang mengalami penurunan akibat perubahan lingkungan dan tekanan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia.9,10,11 Penyerbukan mendukung produksi 75% spesies tanaman pangan dunia, termasuk banyak tanaman pangan paling bergizi yang menyediakan sebagian besar zat gizi mikro penting bagi kita, seperti vitamin A, vitamin C, dan folat.12,13
Asupan zat gizi mikro yang tidak memadai meningkatkan angka kematian akibat penyakit menular dan cacat lahir, serta menghambat perkembangan fisik dan kognitif. Secara bersama-sama, dampak tersebut berkontribusi terhadap siklus kemiskinan dan kesehatan buruk yang berlangsung antargenerasi. 14 Saat ini, seperempat penduduk dunia mengalami apa yang disebut sebagai kelaparan tersembunyi (hidden hunger). 15
Penurunan spesies penyerbuk yang terus berlangsung diperkirakan akan semakin memperburuk kesehatan global dengan mengurangi hasil panen dan konsumsi tanaman pangan kaya zat gizi mikro yang bergantung pada penyerbuk. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan angka kematian dan penyakit.
Berkurangnya jasa penyerbukan juga akan mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar 19, yang diperkirakan semakin memperburuk kekurangan gizi 20. Tekanan ini akan paling berat dirasakan oleh dua miliar petani kecil di negara-negara berpendapatan rendah, tempat kemiskinan dan kekurangan gizi tinggi serta ketergantungan pada tanaman pangan yang memerlukan penyerbukan juga paling besar.16
Jasa ekosistem merupakan hasil aktivitas organisme individual—misalnya, ketika seekor serangga memindahkan serbuk sari tanaman pangan—dan penerima manfaat jasa tersebut adalah manusia secara individual. Namun, tanpa mempelajari rangkaian interaksi yang menghubungkan organisme dengan manusia, konsep jasa ekosistem dapat tetap menjadi sesuatu yang abstrak dan tidak berwujud. Akibatnya, sulit memperkirakan dampak nyata kerusakan lingkungan terhadap kesehatan manusia atau mengidentifikasi intervensi praktis yang dapat meningkatkan jasa ekosistem dengan cara yang mengoptimalkan kesehatan manusia.
Untuk melakukannya, mereka memantau pola makan penduduk, hasil panen, dan pendapatan pertanian selama satu tahun, sekaligus mengamati interaksi antara penyerbuk dan tanaman pangan mereka. Pengamatan tersebut mencakup proses yang sangat teliti, yaitu menghitung butiran serbuk sari pada tubuh lebah yang berbulu.
Hasilnya menunjukkan bahwa penyerbuk secara langsung menyumbang lebih dari 20% asupan vitamin A, vitamin E, dan folat penduduk, serta 44% pendapatan pertanian mereka. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang memberikan bukti langsung mengenai hubungan antara penyerbuk dan kesehatan manusia.
“Komunitas seperti ini sangat rentan karena mereka terisolasi secara geografis. Hubungan perdagangan ke wilayah tersebut tidak berjalan dengan baik, dan penduduknya sangat miskin,” kata Timberlake, seperti ditulis The Guardian. “Jika hasil buah-buahan dan sayuran setempat menurun, mereka tidak akan mampu menggantinya dengan membeli bahan pangan impor. Mereka benar-benar tidak akan mengonsumsi buah-buahan dan sayuran tersebut.”
Para ekolog telah lama menekankan pentingnya penyerbuk bagi kesehatan manusia. Namun, pengukuran manfaat langsung penyerbuk terhadap kesejahteraan kita masih merupakan bidang penelitian yang terus berkembang. Bidang ini juga semakin mendesak ketika padang rumput menjadi sunyi dan dengungan lebah yang dahulu terdengar nyaring kini memudar menjadi bisikan. Selama satu dekade terakhir, para ilmuwan berupaya mengungkap secara tepat bagaimana penyerbuk membantu meningkatkan kualitas gizi, sekaligus menyingkap dampak tersembunyi penurunan populasi penyerbuk terhadap kesehatan.
Meskipun burung, kelelawar, dan kupu-kupu semuanya termasuk penyerbuk, hanya sedikit kelompok yang memberikan kontribusi sebesar lebah bagi bunga dan tanaman pangan dunia. Lebah madu dan lebah liar merupakan penyerbuk yang paling aktif. Dengan mudah, mereka memindahkan serbuk sari dari kepala sari jantan pada bunga ke kepala putik betina. Proses ini membuahi tanaman sehingga dapat berkembang biak dan menghasilkan biji serta buah. Sekitar tiga perempat dari seluruh tanaman pertanian bergantung pada jasa penyerbukan.
Para ahli mengatakan bahwa keadaan tersebut seharusnya menimbulkan kekhawatiran karena penyerbuk di seluruh dunia berada dalam kondisi terancam. Ketika hutan, padang rumput, dan padang bunga liar dialihfungsikan menjadi pertanian berskala industri dan kawasan pembangunan, lebah serta kupu-kupu kehilangan sumber makanan dan tempat bersarang. Pestisida—terutama neonicotinoid, yang mengganggu sistem saraf lebah—juga menimbulkan dampak buruk, bersamaan dengan krisis iklim dan penyebaran spesies invasif.
Ketika IPBES, platform antarpemerintah yang menangani ilmu pengetahuan tentang keanekaragaman hayati, terakhir kali mengevaluasi populasi penyerbuk pada 2016, lembaga tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 40% spesies lebah mungkin terancam secara global, meskipun data populasi untuk banyak spesies masih belum memadai.
“Gambaran besarnya masih sama,” kata Simon Potts, seorang ahli biologi dari University of Reading yang menjadi ketua bersama dalam penyusunan penilaian tersebut. “Bukti menunjukkan bahwa, di wilayah yang memiliki data, sebagian besar kelompok penyerbuk liar benar-benar mengalami penurunan. Seperti yang selalu terjadi, bukti dan data terbaik berasal dari Amerika Utara dan Eropa.”
Pada 2025, Daftar Merah Spesies Terancam milik Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menemukan bahwa sedikitnya 172 spesies lebah di Eropa berisiko menghilang.
Potts mengingatkan bahwa meskipun penurunan tajam telah terdokumentasi pada penyerbuk liar, penting untuk membedakan kelompok ini dari lebah yang dikelola manusia ketika membahas kekhawatiran tentang penurunan penyerbukan. Sekitar separuh tanaman pangan dunia diserbuki oleh lebah—sering kali lebah madu—yang dipelihara dalam sarang buatan dan diperlakukan lebih menyerupai ternak untuk mendukung produksi pertanian komersial. Populasi lebah yang dikelola manusia ini relatif stabil, meskipun populasi spesies liar telah merosot tajam.
“Mudah-mudahan, para pengambil keputusan akan mulai mengkaji praktik terbaik untuk memastikan populasi penyerbuk tetap sehat sebagai bagian dari upaya memastikan populasi manusia tetap sehat.”
Meskipun demikian, penurunan populasi penyerbuk liar sudah cukup untuk menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan. Secara global, sekitar 3–5% produksi sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan hilang akibat penyerbukan yang tidak memadai, menurut temuan penelitian tahun 2022 yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives.
Penelitian yang dipimpin oleh Myers tersebut mengamati bahwa lebah madu yang dikelola manusia “belum mampu mengimbangi hilangnya penyerbuk liar ataupun mengimbangi pertumbuhan tanaman pangan yang bergantung pada penyerbuk”. Menurut penelitian itu, penggunaan lebah yang dikelola manusia merupakan solusi berisiko untuk menggantikan penyerbuk liar yang hilang.
Dalam banyak hal, Jumla mencerminkan perubahan yang sedang berlangsung di negara-negara berkembang. Para peternak lebah di Nepal bagian barat menyebut krisis iklim dan hilangnya bunga sebagai penyebab utama penurunan populasi lebah di dalam sarang. Nepal juga sedang mengalami fase intensifikasi pertanian yang berlangsung cepat.
“Habitat penyerbuk menghilang dengan cepat akibat perluasan pertanian monokultur dan penggunaan pestisida baru,” kata Timberlake.
Jika populasi lebah terus menurun dan hasil panen setempat berkurang, “masyarakat akan mulai lebih banyak mengonsumsi bahan pangan yang tidak bergantung pada penyerbuk, seperti biji-bijian dan serealia, yang tidak mengandung zat gizi penting tersebut,” katanya.
Lebah tidak hanya membantu penyerbukan tanaman yang kita makan, tetapi juga tanaman yang kita gunakan sebagai obat. Sebagian besar penelitian mengenai kesehatan dan penyerbuk selama ini berfokus pada zat gizi yang berasal dari pangan. Namun, menurut sebuah penelitian tahun 2022, sekitar 80% penduduk dunia juga mengandalkan obat herbal untuk pelayanan kesehatan primer. Para ekolog memperkirakan bahwa sekitar 28.000 tanaman obat, termasuk echinacea yang digunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan kamomil untuk mengatasi gangguan tidur, diserbuki oleh serangga.
Lebah dan kupu-kupu juga membantu penyerbukan ruang hijau yang bermanfaat bagi kesehatan mental kita dan meningkatkan kualitas lingkungan, kata Lucas Garibaldi, direktur sebuah lembaga agroekologi dan pembangunan perdesaan di Argentina.
Garibaldi mengatakan bahwa menghubungkan kesehatan manusia dengan kesehatan penyerbuk secara jelas masih merupakan tantangan. Empat tahun lalu, ia berupaya menilai berapa banyak peneliti yang telah mengkaji hubungan tersebut. Hasilnya, ia hanya menemukan dua penelitian pemodelan yang telah melalui penelaahan sejawat.
“Kesehatan manusia bergantung pada banyak faktor,” katanya. Bahkan ketika hasil panen menurun, sebagian orang masih mampu membeli pangan dengan mudah, sementara yang lain tidak. Selain itu, dalam menilai gizi, “sangat sulit untuk memisahkan secara tepat pangan yang berasal dari penyerbuk tertentu”.
Intervensi sederhana, seperti menanam bunga liar, menyediakan tempat bersarang bagi lebah, dan mengurangi penggunaan pestisida, dapat membantu memulihkan populasi penyerbuk serta meningkatkan hasil panen.
Meskipun kebanyakan orang menyadari bahwa lingkungan yang sehat berkaitan dengan kesejahteraan mereka sendiri, Garibaldi mengatakan bahwa mengukur manfaat kesehatan dari penyerbuk dapat membantu menjelaskan secara lebih jelas kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan lebah.
Myers juga melihat bahwa penelitian mengenai manfaat tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan publik. Mengukur manfaat ekonomi dan kesehatan dari intervensi konservasi dapat mendukung tindakan pemerintah.
“Mudah-mudahan, para pengambil keputusan akan mulai mengkaji praktik terbaik untuk memastikan populasi penyerbuk tetap sehat sebagai bagian dari upaya memastikan populasi manusia tetap sehat.”
Setidaknya di Nepal, kata Timberlake, organisasi-organisasi nonpemerintah kini bekerja sama dengan pemerintah untuk menyusun strategi penyerbuk nasional. Penelitiannya menemukan bahwa intervensi sederhana, seperti menanam bunga liar, menyediakan tempat bersarang bagi lebah, dan mengurangi penggunaan pestisida, dapat membantu meningkatkan pendapatan petani hingga 30%. Pola makan penduduk juga dapat membaik hingga memungkinkan 9% penduduk keluar dari kondisi kekurangan zat gizi.
Dunia yang Terlalu Senyap
Bayangkan pagi yang tidak lagi diiringi dengung lebah, lapangan yang sepi tanpa hingar jangkrik, taman kota tanpa kilauan sayap kupu-kupu. Oliver Milman membuka The Insect Crisis: The Fall of the Tiny Empires That Run the World dengan gambaran yang bergema seperti fiksi distopia: tempat yang dulu hidup kini mencipta keheningan ekologis yang menakutkan, bukan karena perang atau bencana tunggal, tetapi akibat hilangnya “imperium kecil” yang menjalankan dunia—serangga. Milman melukiskan bahwa tiga perempat dari semua spesies hewan yang diketahui di bumi adalah serangga, namun kelompok ini kini mengalami krisis eksistensial paling mematikan dalam 400 juta tahun sejarahnya sebab populasinya merosot drastis di berbagai belahan dunia.
Milman membuka buku ini dengan pengalaman lapangan dan kesaksian para entomolog yang mengamati sesuatu yang terasa “aneh tetapi mengkhawatirkan”: hilangnya suara dan gerak kecil yang dulu begitu biasa. Kaca depan mobil yang dahulu penuh bangkai serangga kini nyaris bersih; malam musim panas yang dulu riuh oleh ngengat kini sunyi. Pendahuluan ini menegas-kan tesis utama buku: krisis serangga bukan metafora, melainkan fenomena empiris global.
Milman menolak narasi nostalgia romantik. Ia menunjukkan bahwa kesunyian ini bukan sekadar perubahan estetika, melainkan indikator runtuhnya sistem ekologis. Serangga disebut sebagai tiny empires karena jumlah, keragaman, dan fungsi mereka menopang hampir seluruh kehidupan darat. Pendahuluan menyiapkan pembaca untuk satu kesimpulan mendasar: jika serangga runtuh, peradaban manusia ikut goyah.
Milman juga menegaskan bahwa popularitas ikon besar—gajah, badak, singa—membuat kita mudah peduli pada yang besar, sementara serangga yang “lebih kecil dari ujung jari” sering diabaikan atau dipandang menjijikkan. Namun, seperti ditunjukkan oleh para peneliti yang ia temui, ketika serangga menghilang, efeknya mendalam dan berlapis terhadap seluruh jaringan kehidupan.
Menghitung yang Hilang — Bukti Penurunan Serangga ini berfokus pada evidensi ilmiah. Milman mengulas studi jangka panjang di Jerman (studi Krefeld), Inggris, Amerika Serikat, dan Amerika Latin yang menunjukkan penurunan biomassa serangga hingga 70–80% dalam beberapa dekade. Salah satu ilustrasi paling menggugah datang dari seorang ahli entomologi di Denmark yang sejak 1997 mengukur jumlah serangga yang menempel di kaca depan mobilnya—yang kini turun hingga 97%. Angka sederhana ini menjadi simbol betapa drastis penurunan tersebut, dan betapa dekatnya krisis ini dengan pengalaman sehari-hari yang jarang kita sadari.
Milman menekankan bahwa krisis ini bukan lokal atau kebetulan, melainkan lintas benua dan lintas habitat. Ia juga membahas keterbatasan metodologis—kurangnya data historis yang sistematis—namun menunjukkan bahwa konsistensi temuan dari berbagai metode dan lokasi membuat kesimpulan penurunan hampir tak terbantahkan. Bab ini penting karena membantah klaim skeptis bahwa “kita hanya belum cukup mengamati.” Justru sebaliknya, kita terlambat mengamati.
Mengapa Kita Tak Peduli pada Serangga? Ini sebuah pertanyaan penting yang diajukan Milman. Di sini Milman masuk ke dimensi psikologis dan kultural. Mengapa kepunahan serangga tidak memicu empati seperti panda atau gajah? Jawabannya: serangga dianggap menjijikkan, mengganggu, dan tidak “karismatik”. Milman mengaitkan hal ini dengan bias evolusioner manusia—kita cenderung takut pada makhluk kecil yang bergerak cepat dan tak terprediksi. Akibatnya, hilangnya serangga tidak menimbulkan rasa kehilangan emosional, padahal dampaknya sangat besar. Bab ini memperlihatkan bahwa krisis serangga bukan hanya masalah ekologi, tetapi krisis imajinasi moral manusia.
Pestisida — Racun Modern yang Sistemik
Bab ini adalah salah satu yang paling kuat dan politis. Milman membahas neonicotinoid dan pestisida modern lain yang bersifat sistemik: menyerap ke seluruh jaringan tanaman dan bertahan lama di tanah dan air. Beberapa penelitian yang dikutip menunjukkan bahwa neonicotinoid ditemukan dalam 75% sampel madu global, menunjukkan paparan luas yang bisa menyebabkan gangguan neurologis pada lebah. Ia menggambarkan bagaimana pestisida membunuh serangga target maupun non-target, merusak sistem saraf lebah, serta mengganggu navigasi dan reproduksi mereka.
Milman menyoroti relasi kuasa antara industri kimia, regulator, dan sains. Banyak regulasi tertinggal dari bukti ilmiah. Bab ini mengungkap bahwa krisis serangga bukan akibat “ketidaktahuan,” melainkan keputusan ekonomi dan politik yang sadar risiko.
Hilangnya Habitat — Dunia yang Terfragmentasi
Di bab ini, Milman menjelaskan bagaimana urbanisasi, pertanian intensif, dan infrastruktur memecah habitat menjadi potongan kecil yang tak lagi berfungsi. Serangga membutuhkan kontinuitas ruang dan waktu: padang bunga, tepi sungai, tanah yang tidak diracuni. Fragmentasi habitat menciptakan ecological traps—tempat yang tampak layak tetapi mematikan. Bab ini menunjukkan bahwa bahkan konservasi yang setengah hati sering gagal karena tidak memahami kebutuhan ekologis serangga secara menyeluruh.
Milman membahas dampak perubahan iklim bukan sebagai ancaman masa depan, tetapi realitas kini. Kenaikan suhu memengaruhi metabolisme serangga, mempercepat atau mengacaukan siklus hidup mereka. Fenomena phenological mismatch—ketika waktu mekarnya bunga tidak lagi sinkron dengan kehadiran penyerbuk—menjadi contoh kunci. Bab ini menegaskan bahwa perubahan iklim mempercepat dan memperparah semua tekanan lain yang telah dibahas sebelumnya.
Bab 6: Mengapa Serangga Penting bagi Kehidupan Manusia bersifat sintesis ekologis. Milman menjelaskan fungsi serangga sebagai penyerbuk, pengurai, pengendali hama alami, dan fondasi rantai makanan. Sebagian besar tanaman berbunga liar dan sekitar sepertiga tanaman pangan manusia diyakini membutuhkan penyerbukan hewan, terutama serangga—tanpa mereka, produksi buah, sayur, kacang, dan bahkan cokelat akan runtuh. Bahkan “tanpa serangga tidak ada cokelat,” menurut salah satu entomolog yang dikutip buku ini, karena serangga kecil seperti midges yang tak disukai banyak orang adalah penyerbuk penting tanaman kakao.
Serangga juga menjadi sumber makanan penting bagi reptil kecil, amfibi, burung, dan mamalia; ketika serangga berkurang drastis, seluruh rantai makanan ikut runtuh—Milman menceritakan penurunan populasi burung pemakan serangga yang memicu efek berantai pada predator yang lebih tinggi. Serangga pengurai seperti kumbang kotoran (dung beetles) pun memainkan peran besar dalam mendekomposisi limbah organik, menyuburkan tanah, dan menjaga kesuburan ekosistem. Milman menekankan bahwa nilai serangga bukan hanya ekonomi, tetapi struktural: mereka menjaga stabilitas ekosistem, dan tanpa mereka, sistem menjadi rapuh dan mudah kolaps.
Milman menunjukkan ironi besar: sistem pertanian modern yang dimaksudkan untuk meningkatkan hasil justru merusak fondasi ekologis produksi pangan itu sendiri. Pertanian modern membawa paradoks produksi. Monokultur dan penggunaan bahan kimia merusak keberagaman tanaman dan mikrohabitat yang dibutuhkan banyak spesies serangga untuk berkembang; tumbuhan sederhana yang dulu memberi makanan beragam kini digantikan oleh ladang pangan tunggal yang tidak cukup mendukung jalinan kehidupan serangga. Input kimia tinggi dan efisiensi jangka pendek menciptakan ketergantungan yang makin dalam pada teknologi yang justru mempercepat degradasi ekosistem.
Apakah ini bisa dihentikan? Tanya Milman sebagai sebuah refleksi dan menawarkan harapan yang berhati-hati. Milman membahas pertanian regeneratif, pelarangan pestisida tertentu, restorasi habitat mikro, dan perubahan kebijakan. Namun ia menegaskan: tidak ada solusi tunggal. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma tentang hubungan manusia dengan alam.
Melampaui delapan bab ini, Milman memperluas skop analisisnya dari sekadar kehilangan serangga menjadi krisis keberlanjutan yang sistemik. Ia berpendapat bahwa konsekuensi penurunan serangga dapat setara, atau bahkan lebih parah, daripada dampak perubahan iklim—menghancurkan ekosistem dan ketahanan pangan global. Dengan hilangnya serangga, produksi pangan menurun, keanekaragaman hayati ambruk, dan hubungan ekologis yang telah berevolusi selama ratusan juta tahun mengalami distorsi yang tidak bisa diubah dengan cepat. Milman menyuarakan peringatan keras bahwa ketergantungan manusia pada serangga jauh lebih mendalam daripada yang kita sadari—seperti analogi internet yang digambarkan para ilmuwan: ketika bagian jaringan terputus, sedikit demi sedikit jaringan itu “berhenti bekerja.”
Untuk memperkaya konteks ini dalam ranah pemikiran budaya dan manusia, kita bisa menarik kutipan biolog Edward O. Wilson: “… jika serangga dan artropoda darat lenyap, seluruh ekosistem dunia akan runtuh.” Ide Wilson ini selaras dengan pandangan filsuf ekologi seperti Arne Naess, yang menekankan pentingnya penghormatan terhadap semua bentuk kehidupan sebagai bagian dari jaringan yang saling terkait—bukan hanya yang tampak megah atau karismatik. Dalam tradisi pemikiran Islam, ada gagasan tawhid al-bi’ah (kesatuan lingkungan), yang menyiratkan bahwa “makhluk kecil” pun adalah bagian dari keharmonisan alam yang lebih besar—tanpa mereka, keseimbangan dunia terganggu.
Milman menutup buku dengan nada moral yang kuat: krisis serangga adalah cermin peradaban manusia. Kita telah membangun dunia yang efisien bagi kita sendiri, tetapi mematikan bagi jaringan kehidupan yang menopang kita.
Analisis Kritis Ekologis-Etis
Kritik terhadap antroposentrisme. Buku ini secara implisit mengkritik antroposentrisme modern: nilai alam diukur sejauh ia berguna bagi manusia. Milman menunjukkan bahwa cara pandang ini gagal, karena serangga tidak “bernilai” secara kasat mata sampai mereka hilang. Dalam etika lingkungan, ini sejalan dengan deep ecology (Arne Naess) dan biocentrism (Paul Taylor): makhluk hidup memiliki nilai intrinsik, bukan instrumental semata.
Etika tanggung jawab antargenerasi. Krisis serangga menimbulkan pertanyaan etis mendalam: hak siapa yang kita korbankan demi kenyamanan hari ini? Milman secara tidak langsung mengajukan etika Hans Jonas tentang responsibility for the future. Menghilangkan serangga berarti mewariskan dunia yang lebih miskin secara ekologis dan moral kepada generasi mendatang.
Keadilan ekologis dan politik pengetahuan. Milman memperlihatkan ketimpangan global: negara maju menikmati manfaat pertanian intensif, sementara kerusakan ekologis sering ditanggung oleh wilayah periferal. Ini selaras dengan kritik political ecology dan environmental justice: krisis ekologis bukan netral, tetapi terdistribusi tidak adil.
Resonansi dengan etika Islam. Dalam perspektif Islam, krisis ini dapat dibaca sebagai pelanggaran terhadap khalifah (amanah menjaga bumi), mizan (keseimbangan), dan larangan israf (eksploitasi berlebihan). Serangga, sekecil apa pun, adalah umam amthalukum—komunitas seperti manusia (QS Al-An’am: 38).
Keterbatasan buku. Secara kritis, buku ini lebih kuat sebagai diagnosis daripada peta trans-formasi sistemik; ia kurang mengeksplorasi alternatif ekonomi-politik pascakapitalisme, dan masih berangkat dari paradigma Barat liberal. Namun kekuatan utamanya adalah kejujuran ilmiah dan kejelasan moral.
Krisis Serangga dan Krisis Makna Modernitas
Keheningan sebagai gejala zaman. Ada jenis keheningan yang berbeda dari sekadar ketiadaan suara. Ia bukan sunyi malam yang menenangkan, melainkan sunyi yang terasa ganjil—seperti sesuatu yang seharusnya hadir, tetapi tidak lagi ada. Hilangnya dengung lebah, kupu-kupu yang jarang terlihat, atau kaca depan mobil yang tak lagi dipenuhi serangga bukan sekadar perubah-an ekologis; ia adalah tanda peradaban yang kehilangan sesuatu pada tingkat yang lebih dalam: makna. Krisis serangga, sebagaimana digambarkan Oliver Milman, bukan hanya persoalan kepunahan spesies. Ia adalah simptom dari krisis modernitas itu sendiri—sebuah cara hidup, cara mengetahui, dan cara memaknai dunia yang telah memutus hubungan manusia dengan jalinan kehidupan yang menopangnya.
Modernitas dan ilusi penguasaan. Modernitas dibangun di atas janji besar: bahwa manusia, melalui rasio, sains, dan teknologi, dapat menguasai alam demi kesejahteraannya. Proyek ini, sejak Descartes hingga Bacon, memposisikan alam sebagai objek, bukan sebagai komunitas kehidupan—sesuatu yang “diukur, dikendalikan, dan dieksploitasi.” Dalam kerangka ini, serangga tidak pernah hadir sebagai sesama, melainkan sebagai hama, gangguan, atau variabel teknis dalam sistem produksi. Modernitas tidak membenci serangga; ia tidak menganggap mereka penting. Dan di sinilah letak tragedinya. Seperti dikatakan Hannah Arendt, kejahatan paling berbahaya sering bukan berasal dari niat jahat, melainkan dari ketidakmampuan untuk berpikir secara mendalam tentang konsekuensi tindakan kita. Krisis serangga adalah hasil dari rasionalitas instrumental yang ekstrem: dunia direduksi menjadi sarana bagi tujuan ekonomi manusia. Ketika pestisida membunuh lebah, itu bukan kesalahan; itu adalah fungsi dari sistem yang dirancang tanpa makna ekologis.
Yang kecil, yang tak terlihat, dan buta moral. Salah satu ciri modernitas adalah ketakmampuan moral untuk merespons yang kecil dan tak spektakuler. Kita peduli pada paus, harimau, dan hutan hujan karena mereka besar, indah, dan simbolis. Serangga, sebaliknya, bekerja dalam diam. Filsuf Emmanuel Levinas menekankan bahwa etika lahir dari perjumpaan dengan “wajah yang lain.” Namun serangga tidak memiliki wajah yang dapat kita kenali secara moral; mereka tidak menatap balik. Akibatnya, mereka tersingkir dari horizon etika kita. Padahal justru yang kecil itulah fondasi kehidupan. Krisis serangga mengungkap paradoks modernitas: kita mem-bangun sistem raksasa di atas entitas paling rapuh, lalu terkejut ketika fondasinya runtuh.
Ekologi sebagai kritik terhadap subjek modern. Ekologi modern mengoreksi asumsi dasar modernitas: bahwa dunia tersusun dari entitas terpisah yang dapat dimanipulasi secara independen. Serangga menunjukkan bahwa realitas adalah relasional—lebah tidak “berguna” secara individual, kumbang kotoran tidak “produktif” secara ekonomi, tetapi tanpa mereka, sistem kolaps. Pandangan ini selaras dengan kritik Martin Heidegger terhadap Gestell—cara modern melihat dunia sebagai “cadangan sumber daya.” Serangga tidak pernah masuk kategori ini karena nilainya tidak langsung terlihat, sehingga mereka dieliminasi tanpa rasa bersalah. Krisis serangga menyingkap kegagalan ontologis modernitas: kegagalan memahami bahwa keberadaan selalu bersifat saling bergantung.
Kapitalisme, kecepatan, dan pemiskinan makna. Krisis ini juga tak terpisahkan dari logika kapitalisme global, yang menuntut efisiensi, percepatan, dan standardisasi. Serangga mem-butuhkan kebalikannya: keragaman, ketidakteraturan, dan waktu ekologis yang lambat. Walter Benjamin pernah memperingatkan bahwa modernitas bergerak terlalu cepat untuk mengenali kehancuran yang ia tinggalkan. Dalam pertanian industri, ladang yang “bersih” dari gulma dan serangga dianggap sukses, padahal secara ekologis ia mati. Krisis serangga adalah manifestasi dari pemiskinan makna hidup: hidup direduksi menjadi output, bukan relasi; keberlanjutan direduksi menjadi pertumbuhan.
Perspektif Islam: kehilangan mizan. Dalam kosmologi Islam, alam bukan sekadar ciptaan pasif, melainkan ayat-ayat Tuhan—tanda yang mengandung makna. Al-Qur’an menyebut bahwa semua makhluk adalah umam amthalukum (komunitas seperti kalian). Serangga, dengan demikian, bukan objek, tetapi subjek kosmik. Krisis serangga dapat dibaca sebagai hilangnya mizan (keseimbangan). Manusia, yang diberi amanah sebagai khalifah, gagal menjaga batas. Eksploitasi yang melampaui kebutuhan (israf) bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kesalahan moral dan spiritual. Dalam perspektif ini, krisis serangga adalah krisis amanah—pengkhianatan terhadap tanggung jawab kosmik manusia.
Krisis serangga sebagai krisis makna. Mengapa krisis ini terasa begitu sunyi? Karena modernitas telah kehilangan bahasa untuk meratapi yang tak ekonomis. Kita tidak tahu bagaimana berkabung atas serangga yang hilang. Albert Camus menulis bahwa absurditas lahir ketika manusia mencari makna dalam dunia yang tidak merespons. Krisis serangga memper-lihatkan absurditas sebaliknya: dunia memberi sinyal kehancuran, tetapi kita tidak lagi mampu memaknainya. Hilangnya serangga bukan hanya kerugian ekologis; ia adalah kehilangan relasi simbolik manusia dengan kehidupan.
Menuju etika kerendahan dan perhatian. Jika krisis serangga adalah krisis makna modernitas, maka solusinya bukan hanya teknologi hijau atau regulasi baru, melainkan pergeseran etis dan eksistensial. Kita memerlukan etika perhatian (ethics of care), kerendahan ontologis, dan kesediaan untuk hidup bersama yang kecil dan tak kita kuasai. Simone Weil menyebut perhatian sebagai bentuk tertinggi dari cinta. Mungkin krisis serangga adalah panggilan untuk belajar kembali memperhatikan yang kecil, yang selama ini menopang kita tanpa kita sadari.
Catatan Akhir: Belajar Mendengar Kembali Dengung Kehidupan
The Insect Crisis adalah seruan pembangun kesadaran yang menggabungkan data ilmiah, wawancara ilmuwan, narasi lapangan, dan refleksi etis untuk menunjukkan bahwa kehilangan serangga bukan sekadar “isu lingkungan lain,” tetapi krisis eksistensial yang merombak tatanan kehidupan di bumi. Milman berhasil menjelaskan bahwa serangga adalah pilar jaringan ekologis, penurunan mereka bersifat global dan cepat, penyebabnya terutama berasal dari aktivitas manusia, dan konsekuensinya menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Buku ini bukan hanya peringatan, melainkan pengakuan atas kerentanan peradaban manusia dan panggilan untuk bertindak sebelum jaringan yang menopang kehidupan benar-benar runtuh.
Krisis serangga bukan akhir dunia, tetapi ia bisa menjadi akhir dari dunia modern seperti yang kita kenal. Ia memaksa kita bertanya: apakah kemajuan yang mematikan fondasi kehidupan masih layak disebut kemajuan? Jika modernitas ingin diselamatkan, ia harus belajar mendengar kembali dengung yang selama ini ia anggap remeh. Dalam suara kecil itulah tersimpan ingatan tentang keterhubungan, kerendahan, dan makna hidup. Tanpa itu, dunia mungkin tetap berfungsi secara teknis—tetapi ia akan kehilangan jiwanya. Ia mengajarkan bahwa kehancuran sering dimulai dari yang kecil, dari makhluk yang tidak kita anggap penting. Buku ini bukan hanya tentang serangga, tetapi tentang siapa kita sebagai manusia di dalam jaring kehidupan.
Bogor, 28 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Milman, O. (2022). The insect crisis: The fall of the tiny empires that run the world. Atlantic Books.
2 https://www.nature.com/articles/s41586-026-10421-x#ref-CR2
3 Smith, M. R., Singh, G. M., Arian, D. M. & Myers, S. S. Effects of decreases of animal pollinators on human nutrition and global health: a modelling analysis. Lancet 386, 1964–1972 (2015).
4 Myers, S. S. et al. Human health impacts of ecosystem alteration. Proc. Natl Acad. Sci. USA 110, 18753–18760 (2013).
5 Marselle, M. R. et al. Pathways linking biodiversity to human health: a conceptual framework. Environ. Int. 150, 106420 (2021).
6 Marselle, M. R. et al. Pathways linking biodiversity to human health: a conceptual framework. Environ. Int. 150, 106420 (2021).
7 Mahon, M. B. et al. A meta-analysis on global change drivers and the risk of infectious disease. Nature 629, 830–836 (2024).
8 Naeem, S., Chazdon, R., Duffy, J. E., Prager, C. & Worm, B. Biodiversity and human well-being: an essential link for sustainable development. Proc. R. Soc. B Biol. Sci. 283, 20162091 (2016).
9 Potts, S. G. et al. Global pollinator declines: trends, impacts and drivers. Trends Ecol. Evol. 25, 345–353 (2010).
10 Goulson, D., Nicholls, E., Botias, C. & Rotheray, E. L. Bee declines driven by combined stress from parasites, pesticides, and lack of flowers. Science 347, 1435 (2015).
11 Potts, S. G. et al. The Assessment Report on Pollinators, Pollination and Food Production: Summary for Policymakers (Secretariat of the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), 2016).
12 Klein, A. M. et al. Importance of pollinators in changing landscapes for world crops. Proc. R. Soc B Biol. Sci. 274, 303–313 (2007).
13 Eilers, E. J., Kremen, C., Greenleaf, S. S., Garber, A. K. & Klein, A. M. Contribution of pollinator-mediated crops to nutrients in the human food supply. PLoS ONEhttps://doi.org/10.1371/journal.pone.0021363 (2011).
14 Rogers, L. M. et al. Global folate status in women of reproductive age: a systematic review with emphasis on methodological issues. Ann. NY Acad. Sci. 1431, 35–57 (2018).
15 Ritchie, H. & Roser, M. Micronutrient Deficiency (Our World in Data, 2024).
16 Millard, J. et al. Key tropical crops at risk from pollinator loss due to climate change and land use. Sci. Adv. https://doi.org/10.1126/sciadv.adh0756 (2023).






