Rubarubu #238
1% Leadership:
Keunggulan Yang Terakumulasi
Pada April 2023, Hachette Books menerbitkan sebuah buku kepemimpinan yang, sejak halaman-halaman awalnya, secara terang-terangan menolak dua cacat yang menurut penulisnya menjangkiti hampir seluruh genre literatur kepemimpinan. Cacat pertama adalah hagiografi—buku yang menceritakan biografi seorang pemimpin hebat sembari berpura-pura ada satu trik rahasia yang bisa ditiru pembaca. Cacat kedua adalah pemborosan kata—pelajaran yang sebenarnya cukup ditulis dalam satu kicauan (tweet) sepanjang 280 karakter, namun dipaksakan menjadi 300 halaman berbelit (Ellis, 2023a). 1% Leadership: Master the Small, Daily Improvements That Set Great Leaders Apart karya Andy Ellis hadir sebagai penawar bagi kedua cacat tersebut.
Andy Ellis bukan sosok yang datang dari dunia konsultasi manajemen konvensional. Ia adalah lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan mantan perwira Angkatan Udara Amerika Serikat yang bertugas di 609th Information Warfare Squadron (All American Speakers, n.d.). Selama dua puluh tahun—dari 2000 hingga 2021—ia menjabat sebagai Chief Security Officer pertama Akamai Technologies, perusahaan jaringan pengiriman konten yang di bawah kepemimpinannya bertransformasi memiliki lini bisnis keamanan siber bernilai lebih dari satu miliar dolar AS (Duha, n.d.). Ia membangun tim keamanan informasi Akamai dari tiga orang menjadi sembilan puluh lima orang, dengan lebih dari 40 persen di antaranya perempuan—sebuah pencapaian inklusi yang jarang ditemukan di industri keamanan siber yang secara historis didominasi laki-laki (Ellis, n.d.-b). Pada 2021, ia dilantik ke dalam IDG CSO Hall of Fame, salah satu penghargaan tertinggi bagi para pemimpin keamanan siber dunia (All American Speakers, n.d.).
Setelah meninggalkan Akamai, Ellis mendirikan Duha, sebuah perusahaan pelatihan kepemimpinan yang ia kelola bersama istrinya, Gisele Ellis, juga lulusan MIT dengan latar belakang manajemen program rekayasa (Duha, n.d.).
Latar belakang inilah yang membentuk nada khas buku ini: bukan filsafat abstrak, melainkan pelajaran yang ditempa dari dua dekade mengambil keputusan sulit di tengah krisis keamanan dunia nyata—dari serangan siber berskala masif hingga negosiasi anggaran, dari konflik antartim hingga tekanan menjaga budaya inklusif di industri yang keras. Sebagaimana ditulis Ellis sendiri, tidak ada “hukum besi” kepemimpinan atau kekuasaan; tidak ada rahasia tunggal (Hachette Book Group, n.d.). Buku ini karenanya tidak menawarkan satu jalan menuju kepemimpinan, melainkan puluhan pelajaran praktis yang dapat digunakan siapa pun, pada tahap karier apa pun, untuk terus-menerus membuat perbaikan kecil “1 persen demi 1 persen”.
Matematika Sederhana dari Perbaikan Kecil
Judul buku ini merujuk pada sebuah wawasan matematis sekaligus psikologis yang sederhana namun radikal. Resolusi Tahun Baru pada umumnya gagal justru karena terlalu ambisius—perubahan besar yang dipaksakan sekaligus, yang antusiasmenya memudar begitu realitas menghantam. Ellis menawarkan pendekatan yang jauh lebih rendah hati: alih-alih mengejar transformasi 100 persen dalam semalam, pemimpin yang bijak mengejar perbaikan-perbaikan kecil, konsisten, yang terakumulasi seiring waktu—satu persen demi satu persen (Goodreads, n.d.-a). Perbaikan-perbaikan kecil itu, jika dijalankan hari demi hari, minggu demi minggu, pada akhirnya sanggup mentransformasi sebuah organisasi dan seluruh manusia di dalamnya (ASIS International, 2023).
Wawasan ini bukan hal baru dalam sejarah pemikiran manusia. Filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu, dalam Tao Te Ching, telah lama mengajarkan bahwa perjalanan seribu li dimulai dari satu langkah kaki—sebuah kearifan yang menegaskan bahwa perubahan besar selalu berakar pada tindakan kecil yang konsisten. Dalam kalimat tersebut, li (里) adalah satuan jarak tradisional Tiongkok yang digunakan sejak zaman kuno. Satu li tidak memiliki nilai yangselalu sama sepanjang sejarah, karena ukurannya berubah menurut periode dan penggunaannya. Dalam ukuran modern yang lazim dipakai di Tiongkok, 1 li = 500 meter. Dengan demikian, seribu li setara dengan sekitar 500 kilometer. Namun, dalam ungkapan Lao Tzu, “perjalanan seribu li dimulai dari satu langkah.”
Filsuf Yunani, Aristoteles, dalam Etika Nikomakea, juga menegaskan gagasan serupa dari sudut yang berbeda: keunggulan bukanlah tindakan tunggal, melainkan kebiasaan yang berulang. Dalam tradisi Islam, sebuah hadis yang diriwayatkan Aisyah menyebutkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten dilakukan, sekalipun sedikit—sebuah prinsip yang, jika diterjemahkan ke ranah organisasi, menjadi persis argumen inti buku Ellis.
Bahkan dalam wacana pengembangan diri kontemporer, penulis James Clear dalam bukunya yang sangat populer, Atomic Habits (2018), merumuskan gagasan serupa: seseorang tidak naik ke level tujuan mereka, melainkan turun ke level sistem yang mereka jalankan setiap hari. Yang membedakan Ellis dari genre “kebiasaan atomik” ini adalah fokusnya yang tegas pada kepemimpinan dalam konteks organisasi dan tim, bukan pengembangan diri personal semata.
Buku ini tersusun dari 54 bab yang berdiri sendiri-sendiri, masing-masing rata-rata kurang dari 800 kata, mencakup ranah kepemimpinan individu, tim, dan organisasi (Ellis, 2023a; Goodreads, n.d.-a). Setiap bab diberi judul yang secara sengaja dirancang sepadat kicauan—pelajaran itu sendiri menjadi judul babnya. Dengan demikian, daftar isi buku ini berfungsi sebagai semacam buku rujukan cepat yang bisa dibuka kapan pun seorang pemimpin membutuhkan pengingat spesifik (Ellis, 2023a). Salah satu pembaca di Goodreads menggambarkannya sebagai format yang “mudah diikuti, baik untuk dijadikan rujukan, dan judul bab yang mudah diingat” (Goodreads, n.d.-b).
Enam Disiplin Kepemimpinan: Kerangka di Balik 54 Pelajaran
Untuk memahami bagaimana 54 pelajaran yang tampak terpisah-pisah itu sesungguhnya saling terhubung, penting menelusuri kerangka konseptual yang mendasari seluruh karya Ellis—sebuah definisi yang ia rumuskan sendiri tentang apa itu bekerja dan apa itu memimpin. Bagi Ellis, bekerja adalah proses mengonversi energi (dari manusia) menjadi nilai (bagi organisasi)—definisi yang berlaku sama baiknya bagi perusahaan, organisasi nirlaba, komunitas keagamaan, bahkan keluarga. Kepemimpinan, dalam kerangka ini, adalah aktivitas yang memengaruhi proses konversi tersebut—idealnya menjadi lebih baik, namun terlampau sering justru menjadi lebih buruk (Ellis, 2023b).
Sebagian besar kegagalan kepemimpinan, tegas Ellis, sesungguhnya adalah bentuk “penghancuran nilai” (destroying value) karena pemimpin menyia-nyiakan energi tim mereka tanpa disadari.
Dari definisi inilah lahir enam disiplin yang harus dilatih seorang pemimpin agar tidak menghancurkan nilai timnya: Wellness (kesejahteraan), Inclusion (inklusi), Inspiration (inspirasi), Development (pengembangan), Planning (perencanaan), dan Alignment (penyelarasan) (Ellis, 2023b). Ellis menekankan bahwa keenam disiplin ini harus dijaga seimbang—kelemahan pada satu disiplin saja sudah cukup untuk menghancurkan nilai yang diciptakan oleh lima disiplin lainnya, sehingga seorang pemimpin tidak boleh terlalu mengkhususkan diri hanya pada kekuatannya (Ellis, 2023b).
Wellness: Kesejahteraan sebagai Aset Strategis
Salah satu bab yang paling sering disebut pembaca sebagai titik balik emosional dalam buku ini adalah Bab 13, berjudul “Your wellness is one of the greatest assets you control“—kesejahteraanmu adalah salah satu aset terbesar yang berada dalam kendalimu (The Cyber Ranch Podcast, 2023). Dalam sesi podcast bersama pembawa acara Allan Alford, Ellis membahas bab ini dengan kedalaman emosional yang menurut Alford “menghantam perasaan secara langsung” (The Cyber Ranch Podcast, 2023). Argumennya sederhana namun sering diabaikan dunia korporat: pemimpin yang mengabaikan kesehatan fisik dan mental dirinya sendiri pada akhirnya akan menghancurkan kapasitasnya untuk memimpin orang lain secara efektif.
Salah satu ringkasan pelajaran dari buku ini menegaskan bahwa proses pengembangan kinerja semestinya diterapkan kepada setiap anggota tim—bukan hanya digunakan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan kinerja buruk (Barnes & Noble, n.d.).
Gema pelajaran ini dapat ditemukan pula dalam tradisi filsafat Stoa Romawi. Kaisar-filsuf Marcus Aurelius, dalam catatan pribadinya yang kelak dikenal sebagai Meditations, berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa menjaga ketenangan batin bukan kemewahan, melainkan prasyarat untuk memerintah dengan adil. Dalam khazanah Islam, konsep menjaga amanah atas diri sendiri—termasuk kesehatan jasmani dan ruhani—juga ditegaskan sebagai bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin sebelum ia dapat menunaikan amanah kepada orang lain.
Inclusion: Ruang bagi Setiap Orang untuk Merasa Diterima
Bab 24, “People need to see versions of themselves to feel welcome” (The Cyber Ranch Podcast, 2023), menegaskan argumen bahwa inklusi bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan kebutuhan psikologis mendasar: manusia perlu melihat representasi dirinya sendiri dalam sebuah lingkungan untuk merasa benar-benar diterima di dalamnya. Prinsip ini bukan retorika kosong bagi Ellis—selama dua dekade memimpin tim keamanan informasi di Akamai, ia secara sengaja membangun budaya yang berhasil meningkatkan representasi perempuan dalam timnya hingga lebih dari 40 persen, jauh di atas rata-rata industri keamanan siber (All American Speakers, n.d.). Definisi Ellis sendiri tentang inklusi dalam kerangka Enam Disiplin adalah mengurangi “biaya energi” yang harus dibayar seseorang hanya untuk hadir dan eksis dalam suatu ruang (Ellis, 2023b)—sebuah cara pandang yang mengubah inklusi dari sekadar isu moral menjadi isu efisiensi organisasi yang konkret.
Inspiration: Kebaikan yang Tak Terduga dan Permintaan Maaf yang Membebaskan
Dua bab yang paling sering dikutip pembaca sebagai favorit adalah Bab 6, “Gift kindness where it isn’t expected”—hadiahkanlah kebaikan di tempat yang tidak diduga—dan Bab 8, “An uncompelled apology unburdens everyone“—permintaan maaf yang tidak dipaksakan membebaskan semua orang (The Cyber Ranch Podcast, 2023). Kedua bab ini menangkap sesuatu yang jarang dibahas secara eksplisit dalam literatur manajemen: bahwa tindakan kecil kebaikan dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dilakukan secara sukarela tanpa tekanan eksternal, memiliki daya ungkit emosional yang jauh melampaui ukurannya yang tampak sepele.
Penyair sufi Persia, Jalaluddin Rumi, menulis bahwa kebaikan yang ditaburkan tanpa pamrih akan kembali kepada pemberinya berlipat ganda—sebuah gagasan yang menggemakan semangat Bab 6. Sementara itu, tokoh perdamaian Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, yang memimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pasca-apartheid, menegaskan bahwa pengampunan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan tertinggi seorang pemimpin—sebuah prinsip yang bergema kuat dalam argumen Ellis tentang kekuatan pembebasan dari permintaan maaf yang tulus.
Development: Perbaikan Diri sebagai Prasyarat Memimpin Orang Lain
Bab pembuka buku ini, Bab 1, menegaskan tesis fondasional seluruh karya: “Personal improvement is a prerequisite to leading professionally”—perbaikan personal adalah prasyarat untuk memimpin secara profesional (The Cyber Ranch Podcast, 2023). Argumen ini menempatkan buku Ellis dalam garis keturunan yang sama dengan banyak tradisi kebijaksanaan lama: seorang pemimpin tidak dapat membawa timnya ke tempat yang belum pernah ia jelajahi sendiri dalam dirinya. Filsuf Yunani kuno, Socrates, dengan seruannya yang termasyhur untuk “mengenal dirimu sendiri,” menjadi fondasi filosofis yang sama tuanya dengan argumen pembuka Ellis ini—bahwa kepemimpinan yang otentik selalu dimulai dari kejujuran radikal terhadap diri sendiri sebelum menuntut perubahan dari orang lain.
Planning dan Alignment: Kesabaran Strategis dan Seni Berbicara dengan Tepat
Salah satu pelajaran yang dikutip dari buku ini menegaskan bahwa empat hari kerja hebat sekarang jarang lebih penting dibanding empat bulan kerja baik di masa mendatang (Barnes & Noble, n.d.)—sebuah peringatan tegas terhadap godaan heroisme jangka pendek yang mengorbankan keberlanjutan jangka panjang. Pelajaran lain menyatakan bahwa untuk benar-benar terlibat dengan masa kini, seorang pemimpin perlu memegang dua pikiran sekaligus tentang masa depan: mengkhawatirkan kegagalan justru membuat kegagalan itu semakin mungkin terjadi, dan hanya dengan menyisihkan kekhawatiran itulah jalan menuju keberhasilan dapat ditemukan (Barnes & Noble, n.d.).
Sementara itu, dari sisi Alignment, salah satu bab paling mengejutkan sekaligus paling sering dibicarakan pembaca adalah Bab 35, “In general, be vague“—secara umum, bersikaplah samar (The Cyber Ranch Podcast, 2023). Ini terdengar bertentangan dengan nasihat komunikasi konvensional yang selalu menuntut kejelasan mutlak. Namun argumen Ellis justru berangkat dari pengalaman nyata seorang pemimpin keamanan siber: kejelasan yang terlalu dini dan terlalu spesifik, dalam situasi yang masih penuh ketidakpastian, justru dapat mengunci tim pada keputusan yang keliru sebelum informasi yang cukup terkumpul. Kesamaran yang disengaja, dalam konteks tertentu, adalah bentuk kerendahan hati epistemik—pengakuan jujur bahwa belum semua jawaban diketahui.
1% Leadership di Tengah Dunia Pasca-Kebenaran
Jika dibandingkan dengan buku-buku kepemimpinan yang menjual kepastian mutlak dan formula ajaib, penolakan tegas Ellis terhadap gagasan “hukum besi” atau “rahasia tunggal” kepemimpinan (Hachette Book Group, n.d.) justru menjadi kian relevan di tengah dunia yang kini dibanjiri klaim-klaim pasti tanpa dasar. Era pasca-kebenaran ditandai bukan sekadar oleh kebohongan, melainkan oleh proliferasi kepastian-kepastian palsu: politisi yang menjanjikan solusi instan bagi persoalan kompleks, pemimpin bisnis yang menjual visi transformasional dalam semalam, algoritma media sosial yang menghadiahkan kepastian ekstrem dengan lebih banyak perhatian dibanding nuansa dan kerendahan hati intelektual.
Filsuf sains Karl Popper pernah menegaskan bahwa ciri utama pengetahuan ilmiah sejati adalah kesediaannya untuk terus-menerus diuji dan dikoreksi—sebuah semangat epistemik yang secara mengejutkan dekat dengan pendekatan “1 persen” milik Ellis: kebenaran kepemimpinan bukan dogma yang diwahyukan sekali dan selamanya, melainkan hasil pengujian dan penyesuaian yang tak berkesudahan.
Bab 35 tentang kesengajaan bersikap samar juga menawarkan wawasan penting bagi dunia yang bergulat dengan disinformasi. Berbeda dari kebohongan yang menyamarkan fakta demi keuntungan sepihak, kesamaran yang direkomendasikan Ellis justru adalah bentuk kejujuran tentang ketidakpastian itu sendiri—pengakuan terbuka bahwa jawaban pasti belum tersedia, ketimbang memaksakan kepastian palsu demi terlihat kompeten. Ini adalah pembalikan menarik dari logika pasca-kebenaran, di mana para demagog justru menjual kepastian palsu dengan nada paling meyakinkan justru ketika bukti paling lemah.
Dramawan dan negarawan Ceko, Vaclav Havel, dalam refleksinya tentang hidup di bawah rezim totaliter, menulis bahwa kekuasaan yang dibangun di atas ideologi tertutup menuntut kepastian mutlak dari setiap pengikutnya—sementara kepemimpinan yang jujur justru harus berani hidup dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Latar belakang Ellis sebagai praktisi keamanan siber selama dua dekade juga memberi buku ini otoritas khusus untuk berbicara tentang salah satu tantangan terbesar era pasca-kebenaran: disinformasi digital dan manipulasi algoritmik. Ia memimpin transformasi Akamai menuju arsitektur zero-trust—sebuah filosofi keamanan yang menolak mempercayai apa pun secara default dan menuntut verifikasi berkelanjutan atas setiap klaim akses (Ellis, n.d.-a). Prinsip zero-trust dalam keamanan siber ini memiliki paralel epistemik yang mencolok dengan kebutuhan dunia pasca-kebenaran akan verifikasi berkelanjutan atas klaim-klaim publik, alih-alih kepercayaan buta pada otoritas atau algoritma.
Hikmah bagi Dunia yang Kian Rumit: Teknologi, Krisis Ekologis, dan Kepemimpinan yang Berkelanjutan
Dunia yang dihadapi pembaca 1% Leadership hari ini bergerak dengan kecepatan yang jauh melampaui kapasitas manusia untuk mencerna perubahan secara reflektif. Disrupsi kecerdasan buatan generatif mengubah lanskap kerja dalam hitungan bulan, bukan dekade. Krisis kehilangan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim menuntut respons kolektif berskala global yang belum pernah dicapai peradaban manusia. Ketimpangan global warisan kolonialisme terus membentuk siapa yang menanggung beban terberat dari krisis-krisis ini.
Dalam lanskap sekompleks ini, pendekatan “1 persen” Ellis menawarkan sesuatu yang mungkin terdengar terlalu sederhana pada pandangan pertama, namun justru menyimpan kearifan mendalam: bahwa institusi-institusi besar—perusahaan multinasional, lembaga pemerintahan, organisasi masyarakat sipil—yang berusaha melakukan transformasi radikal sekaligus, tanpa fondasi kebiasaan kecil yang konsisten, hampir selalu gagal mempertahankan perubahan itu melampaui satu siklus berita.
Aktivis lingkungan Kenya, Wangari Maathai, peraih Nobel Perdamaian yang memimpin Gerakan Sabuk Hijau menanam puluhan juta pohon di Afrika, membuktikan wawasan yang sangat dekat dengan filosofi Ellis: perubahan besar dalam skala planet sesungguhnya dibangun dari tindakan kecil, konsisten, yang dilakukan berulang oleh banyak tangan—satu pohon, kemudian satu pohon lagi. Prinsip wellness dan development dalam kerangka Enam Disiplin Ellis pun menemukan relevansi baru menghadapi krisis kelelahan (burnout) global yang meluas seiring tekanan ekonomi digital yang tak pernah berhenti—sebuah pengingat bahwa keberlanjutan institusi, seperti keberlanjutan ekologis, tidak dapat dipaksakan tanpa memperhitungkan pemulihan dan regenerasi.
Sementara itu, prinsip inclusion yang dibuktikan Ellis secara konkret dalam kariernya di Akamai menjadi rujukan penting di tengah kemunduran sebagian wacana keberagaman di berbagai belahan dunia akibat polarisasi politik. Bahwa inklusi, bagi Ellis, bukan sekadar kebijakan kepatuhan melainkan strategi mengurangi pemborosan energi kolektif (Ellis, 2023b) adalah argumen yang berbasis pragmatisme organisasi, bukan sekadar retorika moral—sebuah pendekatan yang barangkali lebih tahan terhadap gelombang skeptisisme politik yang tengah melanda wacana keberagaman di berbagai negara.
Namun demikian, penting pula dicatat secara jujur keterbatasan pendekatan buku ini. Sebagaimana disinggung sejumlah ulasan, format 54 pelajaran terpisah, meski sangat praktis dan mudah dicerna, berisiko kehilangan kedalaman analitis yang bisa didapat dari eksplorasi tunggal yang lebih mendalam terhadap satu persoalan kompleks. Pendekatan inkremental “1 persen” pun, jika diterapkan tanpa disertai keberanian menghadapi perubahan struktural yang lebih besar—dalam kebijakan iklim, tata kelola teknologi, atau ketimpangan global—berisiko menjadi pembenaran bagi kelambanan institusional yang sesungguhnya membutuhkan langkah tegas dan cepat. Buku ini, sebagaimana buku-buku kepemimpinan lain yang telah kita ulas, paling kuat dipahami sebagai satu perangkat penting di antara banyak perangkat lain yang dibutuhkan dunia—bukan jawaban tunggal atas kompleksitas zaman.
Filosofi Dasar: Filosofi Perbaikan Satu Persen
Inti dari buku ini adalah keyakinan bahwa perubahan besar tidak terjadi melalui terobosan dramatis, melainkan melalui akumulasi perbaikan kecil yang konsisten. “Instead of trying to make that 100 percent change on New Year’s Day, those small improvements, done day after day, week after week, can create real change” . Para pembaca didorong untuk meluangkan waktu beberapa menit setiap Senin pagi untuk fokus pada satu pelajaran—sebuah praktik yang hanya meningkatkan kinerja satu persen, namun “those accumulated 1% improvements that separate the best leaders from everyone else” .
Buku ini disusun dalam 54 bab pendek, masing-masing dua hingga tiga halaman, yang mencakup berbagai aspek kepemimpinan, mulai dari pengembangan diri hingga dampak pada tim dan seluruh organisasi . Struktur ini bukanlah kebetulan; ia mencerminkan filosofi bahwa kepemimpinan bukanlah tujuan yang bisa dicapai sekaligus, melainkan perjalanan yang terus berlanjut. “It is not a book to be read once, but is a reference book that should be on everyone’s desk.”
Tiga Jalur Pengembangan: Dari Diri Sendiri hingga Organisasi
Buku ini mengorganisir 54 pelajarannya ke dalam tiga jalur besar, sebuah struktur yang memungkinkan pembaca untuk berkembang secara bertahap.
Pertama, tingkatkan diri Anda sendiri. Ellis percaya bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam. Ini adalah tentang bagaimana memilih sikap, belajar dari kegagalan, dan menjaga kesehatan diri. Dalam dunia yang semakin bising, kemampuan untuk tetap tenang dan fokus adalah fondasi dari segalanya. Ellis mengajarkan bahwa “worrying about failure will make success even more unlikely. Only by engaging in the present with that worry set aside can we find the path to success” .
Salah satu teknik yang diajarkan Ellis adalah “berlatih untuk masa depan.” Ia mendorong pembaca untuk membayangkan skenario terburuk—dipecat, ditolak, dibenci—dan melatih respons mereka hingga ketakutan itu kehilangan kekuatannya . Ini bukanlah latihan untuk menjadi pesimis, melainkan untuk membangun ketenangan. “If the positive possibility manifests, you have success—financial wealth, a championship, or a life goal—and that is worth celebrating. But failure is not the destruction of your self-worth” . Dengan membiasakan diri menghadapi kemungkinan terburuk, kita membebaskan diri untuk bertindak tanpa lumpuh oleh kecemasan.
Kedua, kembangkan tim Anda. Setelah fondasi diri kokoh, Ellis mengajak pembaca untuk memperluas pengaruh ke tim. Ini adalah tentang bagaimana mendengarkan, memberi umpan balik, membangun kepercayaan, dan menciptakan “psychological safety” di tempat kerja. Ellis menekankan bahwa “performance development should be applied to every person on your team. Rather than treating the performance process as a way to identify and document poor performers, create a process that aims to improve and develop every person on your team” .
Ini adalah pendekatan yang radikal dalam budaya kerja yang sering kali hanya fokus pada “bintang” atau “pecundang.” Ellis mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin yang baik tidak hanya peduli pada hasil, tetapi pada pertumbuhan setiap individu yang ia pimpin.
Ketiga, pengaruhi organisasi Anda. Tahap terakhir adalah tentang membangun budaya, merancang sistem, dan berani mengambil risiko. Inilah di mana kepemimpinan tidak lagi hanya tentang hubungan satu-satu, tetapi tentang menciptakan perubahan struktural. “Real leaders will use such an approach, and those leaders will find a great resource in this valuable and insightful book” .
Relevansi di Era Post-Truth: Kepemimpinan sebagai Obat Penawar
Buku ini menjadi semakin relevan jika kita membacanya dalam konteks tantangan post-truth yang sedang kita hadapi. Di era di mana kebenaran sering menjadi korban narasi, di mana janji-janji besar para politisi dan pemimpin sering menguap begitu saja, pendekatan Ellis menawarkan sebuah alternatif yang segar: kepemimpinan yang tidak berbicara besar, tetapi bertindak kecil.
Dalam konteks politik dan kebijakan, buku ini mengingatkan kita bahwa kepercayaan publik tidak dibangun melalui retorika yang memukau, melainkan melalui konsistensi tindakan kecil yang dapat diandalkan. Dalam sebuah dunia yang “pulling apart“—seperti yang digambarkan Noreena Hertz dalam The Lonely Century—kemampuan untuk membangun hubungan yang tulus dan dapat dipercaya menjadi semakin langka dan berharga.
Seorang pemikir Muslim seperti Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah-nya, menekankan pentingnya ‘asabiyyah—solidaritas sosial—sebagai fondasi peradaban. Ellis menawarkan cara modern untuk membangun solidaritas itu: melalui perbaikan-perbaikan kecil yang menunjukkan bahwa pemimpin benar-benar peduli, bukan hanya pada hasil, tetapi pada orang-orang yang ia pimpin. “Ellis compellingly urges us to aspire to lead with kindness, grace, and humility,” tulis Jonathan Zittrain dari Harvard University .
Pelajaran untuk Masa Depan: Menghadapi Kompleksitas dengan Kesederhanaan
Apa yang bisa kita petik dari buku ini untuk masa depan yang semakin kompleks? Pertama, di tengah krisis lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perang, kita tidak perlu menunggu solusi besar yang sempurna. Kita bisa memulai dengan langkah satu persen: mengurangi konsumsi, mendukung kebijakan ramah lingkungan, atau memulai percakapan yang sulit dengan orang-orang yang berbeda pandangan.
Kedua, dalam dunia bisnis yang sering didorong oleh tekanan untuk memberikan hasil instan, 1% Leadership mengingatkan bahwa “four days of great work now are rarely more important than four months of good work down the road. Show that long-term wellness matters” . Pemimpin yang baik adalah mereka yang memikirkan keberlanjutan, bukan hanya keuntungan jangka pendek.
Ketiga, buku ini menekankan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang gelar. “Influence is not given by a title, nor is it an innate talent, but it is the small choices you make every day” . Ini adalah pesan yang memberdayakan, terutama bagi generasi muda yang mungkin merasa tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah dunia. Ellis menunjukkan bahwa setiap orang, di mana pun mereka berada, dapat menjadi pemimpin dengan mempengaruhi lingkungan terdekat mereka.
Pada akhirnya, 1% Leadership adalah buku tentang harapan yang praktis. Ia tidak menjanjikan transformasi ajaib, tetapi menawarkan jalan yang dapat ditempuh. Ia mengingatkan kita bahwa perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama, dan bahwa langkah-langkah kecil, jika dilakukan dengan konsisten, dapat mengubah bukan hanya diri kita, tetapi juga dunia di sekitar kita. Di tengah kebisingan dan kekacauan abad ke-21, mungkin inilah jenis kepemimpinan yang paling kita butuhkan: yang rendah hati, sabar, dan tak kenal lelah dalam melakukan perbaikan kecil setiap hari.
Catatan Akhir: Kepemimpinan sebagai Latihan Harian, Bukan Pencapaian Sekali Jadi
Pada akhirnya, 1% Leadership mengajak pembacanya meninggalkan fantasi tentang pemimpin sempurna yang lahir dari satu momen pencerahan besar, dan menggantikannya dengan gambaran yang jauh lebih jujur namun juga lebih dapat dijangkau siapa pun: kepemimpinan sebagai latihan harian yang tak pernah benar-benar selesai. Andy Ellis menutup argumennya dengan penegasan bahwa perbaikan satu persen, betapapun kecil kelihatannya pada satu hari tertentu, adalah satu-satunya jalan yang benar-benar terbukti membedakan pemimpin-pemimpin hebat dari yang lainnya dalam jangka panjang (Amazon Kindle Store, n.d.).
Penyair sufi Rumi pernah menuliskan bahwa cahaya yang engkau cari sesungguhnya sudah bersinar di dalam dirimu sejak semula—yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk terus-menerus membuka jalan baginya, sedikit demi sedikit, hari demi hari. Barangkali di situlah letak sumbangan sejati buku ini: bukan menjanjikan jalan pintas menuju kepemimpinan yang hebat, melainkan mengingatkan bahwa keunggulan sejati selalu, tanpa kecuali, adalah hasil akumulasi—dari kebaikan yang dihadiahkan tanpa diminta, dari permintaan maaf yang diucapkan tanpa dipaksa, dari kesejahteraan yang dijaga dengan disiplin, dan dari keberanian untuk terus belajar bahwa tidak ada satu pun dari kita yang pernah benar-benar selesai menjadi pemimpin.
1% Leadership: Ketika Perbaikan Kecil Menjadi Kekuatan Besar di Tengah Kebisingan Dunia
Bayangkan Anda berada di sebuah ruang rapat yang sunyi. Anda baru saja menyampaikan ide brilian, namun hanya diam yang menjawab. Atau mungkin Anda adalah seorang manajer yang merasa tim Anda tidak pernah benar-benar mendengar apa yang Anda katakan. Atau, lebih jauh lagi, Anda adalah seorang warga negara yang lelah dengan janji-janji kosong para pemimpin di panggung politik. Inilah realitas kepemimpinan di abad ke-21—sebuah medan yang, menurut Andy Ellis, “messy and complicated; it rarely fits into an acronym or a dogmatic overarching philosophy.”
Andy Ellis bukanlah seorang profesor kepemimpinan yang tinggal di menara gading. Ia adalah mantan Chief Security Officer (CSO) Akamai, perusahaan teknologi raksasa di balik infrastruktur internet global, tempat ia berkontribusi membangun bisnis keamanan siber senilai miliaran dolar. Lulusan MIT dan mantan perwira Angkatan Udara AS , Ellis menghabiskan dua puluh tahun memimpin tim di garis depan pertempuran digital—sebuah pengalaman yang mengajarinya bahwa tidak ada “hukum kepemimpinan yang tak terbantahkan” dan tidak ada satu pun formula ajaib.
Dari pengalaman inilah lahir 1% Leadership: Master the Small, Daily Improvements That Set Great Leaders Apart (2023), sebuah buku yang menawarkan pendekatan yang berbeda: bukan resep besar yang bombastis, melainkan 54 pelajaran kecil yang dapat diterapkan satu per satu, setiap hari.
Bogor, 7 Oktober 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
All American Speakers. (n.d.). Andy Ellis biography. https://www.allamericanspeakers.com/celebritytalentbios/Andy+Ellis/422078
Amazon.com. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart [Product listing]. https://www.amazon.com/1-Leadership-Master-Improvements-Leaders/dp/0306830817
Amazon Kindle Store. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart [Kindle edition listing]. https://www.amazon.com/1-Leadership-Master-Improvements-Leaders-ebook/dp/B0B8YXJ2H1
ASIS International. (2023, December). Book review: 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart (B. Rothke, Reviewer). Security Management Magazine. https://www.asisonline.org/security-management-magazine/articles/2023/12/book-review-1-leadership/
Barnes & Noble. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart. https://www.barnesandnoble.com/w/1-leadership-andy-ellis/1141978801
Blackstone Library. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart. https://blackstonelibrary.com/
Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. Avery.
Duke University Libraries. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart[Library catalog record].
Duha. (n.d.). About us. https://www.duha.co/about/
Ellis, A. (n.d.-a). Andy Ellis [Biography]. Leadership in Security. https://www.csoandy.com/bio/
Ellis, A. (n.d.-b). CV. https://origin.csoandy.com/bio/cv.html
Ellis, A. (2023a). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart. Hachette Books.
Ellis, A. (2023b, June 19). Stop destroying value: Six leadership disciplines. Leadership in Security. https://www.csoandy.com/files/leadership-disciplines-html/
Goodreads. (n.d.-a). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart by Andy Ellis. https://www.goodreads.com/book/show/61918510-1-leadership
Goodreads. (n.d.-b). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart [Reviews]. https://www.goodreads.com/book/show/61918547
Google Books. (n.d.). 1% leadership: Master the small, daily improvements that set great leaders apart [Book listing].
Hachette Book Group. (n.d.). 1% leadership by Andy Ellis. https://www.hachettebookgroup.com/titles/andy-ellis/1-leadership/9780306830815/
The Cyber Ranch Podcast. (2023, May 31). 1% leadership with Andy Ellis [Audio podcast episode]. https://thecyberranchpodcast.podbean.com/e/1-leadership-with-andy-ellis/






