Logo-Remark-Asia-WhiteLogo – Re-Mark AsiaLogo-Remark-Asia-WhiteLogo-Remark-Asia-White
  • Home
  • Who we are
    • Brief history
    • Career with us
    • Clients
    • Legalities
    • Networking and partnership
    • Purpose and vision
    • Management
    • Our experience
    • Our Team
  • What we offer
    • Consultancy Services
      • Carbon Stock Assessment
      • Free Prior and Informed Consent
      • High Carbon Stock
      • High Conservation Value
      • Land Use Change Analysis
      • Participatory Mapping
      • Social Impact Assessment
    • Sustainability Audit
    • HCVN ALS Report
  • AiKnow
    • About AiKnow
    • Our Trainers
    • Courses
      • Top Courses
        • HCV ALS Lead Assessor Training
        • High Carbon Stock Training
        • Social Impact Assessment Training (SIAT)
      • HCV Concept Learning
      • HCV + HCS Integrated Lead Assessor Training Course
      • FPIC Concept Learning
      • Facilitator Training
      • In-house Training
    • Training & Activity
      • Training Calendar
      • Training Activity
      • Fieldtrip Activity
      • In-House Training
    • Quarterly Discussion
    • Program Mitra-AiKnow
      • Tokopedia
        • Prakerja
          • Sertifikat
    • Register
    • Contact Us
  • Knowledge
    • Bincang Buku
    • Catatan dari atas Sadel
    • Halaman DRM
    • Juru Buku
    • Membumi Lestari
    • Rubarubu
    • Sustainability 17A
  • Media & news
    • News
    • Galeri
    • Downloads
✕

Sustainability17A #70- Sumak Kawsay: Ketika Kehidupan yang “Cukup” di Andes

  • Home
  • Media & news
  • News
  • Sustainability 17A
  • Sustainability17A #70- Sumak Kawsay: Ketika Kehidupan yang “Cukup” di Andes
Published by remarker at Monday August 10th, 2026
Categories
  • Sustainability 17A
Tags
  • carbon accounting
  • carbon assessment
  • ISCC assessment
  • ISCC technical assistant
  • ISPO
  • ISPO technical assistant
  • konsultan ISPO
  • konsultan SEIA/SIA
  • remark asia
  • remarkasia

Sustainability 17A # 70

Sumak Kawsay : Ketika Kehidupan yang “Cukup” di Andes


Dwi R. Muhtaman, 
Sustainability Partner

“..hubungan dengan alam adalah hubungan timbal balik,

bukan hubungan satu arah…”

Konsep ayni komunitas Andes tradisional,

yakni tentang saling membantu

tanpa perhitungan yang ketat.

Di ketinggian 3.600 meter, sebuah pertanyaan tentang “hidup baik” seperti bintang kejora yang menyala.

Di dataran tinggi Altiplano, Bolivia, angin dingin membawa aroma tanah basah dan rerumputan ikal. Di sebuah desa kecil di dekat Danau Titicaca—danau tertinggi di dunia yang dapat dilayari—seorang perempuan Aymara berdiri di ambang pintu rumahnya yang terbuat dari batu dan jerami.

Di tangannya, ia menggenggam segenggam kentang—kentang yang bukan hasil dari bibit unggul atau pupuk kimia, tetapi dari pengetahuan tentang tanah yang diwarisi dari nenek buyutnya, dari pengamatan tentang hujan yang turun, dari ritme matahari yang terbit dan tenggelam.

Di kejauhan, di kota La Paz, para pejabat pemerintah sedang menghitung angka pertumbuhan ekonomi. Berapa persen PDB naik tahun ini. Berapa banyak tambangan litium yang bisa diekspor ke Tiongkok. Berapa banyak investasi asing yang masuk.

Dua dunia. Dua ukuran “kemajuan.”  Dua pengertian tentang apa artinya “hidup baik.”

Bagi pemerintah dan investor, hidup baik berarti lebih: lebih banyak barang, lebih banyak uang, lebih banyak pertumbuhan. Bagi perempuan Aymara di tepi Danau Titicaca, hidup baik berarti sesuatu yang lain.

Bukan “lebih”, tetapi cukup.

Cukup untuk dimakan, cukup untuk dibagi dengan tetangga, cukup untuk diwariskan kepada anak cucu. Tidak lebih dari yang bumi bisa berikan. Tidak kurang dari yang diperlukan untuk hidup bermartabat.

Perempuan itu mungkin tidak pernah mendengar istilah “Sumak Kawsay.” Tapi ia hidup di dalamnya setiap hari. Ia adalah penjaga sebuah filosofi yang telah berusia ribuan tahun, yang baru dalam dua dekade terakhir mulai didengar oleh dunia—ketika ia dituliskan dalam konstitusi Ekuador dan Bolivia, ketika para intelektual dan aktivis mulai membicarakannya sebagai alternatif bagi pembangunan yang serakah.

Selamat datang di dunia Sumak Kawsay—atau dalam bahasa Spanyol, Buen Vivir. Sebuah dunia di mana “hidup baik” tidak diukur dari seberapa banyak yang Anda miliki, tetapi dari seberapa harmonis Anda dengan alam, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Sebuah kritik terhadap kapitalisme yang tidak hanya bersuara lantang, tetapi telah menjadi hukum dasar di dua negara Amerika Latin.

Sebuah undangan untuk keluar dari perlombaan tanpa akhir menuju “lebih” dan kembali ke pertanyaan paling sederhana: apa sebenarnya yang membuat hidup layak dijalani?

Sumak Kawsay menjadi perlawanan terhadap keserakahan.  Inilah sebuah perjalanan ke jantung filosofi andes tentang keseimbangan dan kebersamaan.

Akar yang Menembus Waktu — Dari Lembah Andes hingga Gedung Parlemen

Gagasan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya, bukanlah penemuan baru. Ia telah ada selama ribuan tahun dalam kosmovisi masyarakat adat di Amerika Latin—jauh sebelum kata “kapitalisme” diciptakan, jauh sebelum Revolusi Industri, jauh sebelum manusia mulai mengukur kemajuan dengan tonase bahan galian yang diekstraksi dari perut bumi.  Ribuan tahun sebelum “pembangunan.”

Bagi masyarakat Quechua di Andes, alam bukanlah “sumber daya” yang bisa dieksploitasi sekehendak hati. Alam adalah Pachamama—Ibu Bumi. Dan hubungan manusia dengan Ibu Bumi bukanlah hubungan tuan dan budak, melainkan hubungan anak dan ibu. Seorang anak tidak mengambil semua yang ia mau dari ibunya; ia mengambil secukupnya, dengan hormat, dan ia memberi kembali.

Ribuan tahun sebelum para ilmuwan memperingatkan tentang perubahan iklim, para tetua Quechua telah mengajarkan bahwa alam memiliki batas. Bahwa mengambil lebih dari yang diperlukan adalah pelanggaran terhadap keseimbangan kosmik. Bahwa keserakahan adalah dosa—bukan dosa agama, tetapi dosa terhadap kehidupan itu sendiri.

Dalam pandangan dunia ini, konsep “kemajuan” sebagai akumulasi tanpa batas adalah sesuatu yang asing, bahkan menggelikan. Bagaimana mungkin sesuatu bisa “maju” dengan terus mengambil tanpa pernah memberi? Bagaimana mungkin “kemakmuran” diukur dengan timbunan barang yang membuat orang lain kekurangan? Bagaimana mungkin “kehidupan baik” didefinisikan oleh orang-orang yang tidak pernah hidup dalam harmoni dengan alam? 

Filosofi ini memiliki banyak nama, tergantung pada bahasa dan komunitas yang mengucapkannya. Kata-kata yang melintasi bahasa.

Setiap nama adalah jendela yang berbeda menuju pemandangan yang sama :

  • Sumak Kawsay (Quechua, Ekuador): “kehidupan yang harmonis dan indah” atau “kehidupan dalam kelimpahan yang tidak berlebihan”. Sumak berarti “penuh, agung, indah, baik”; Kawsay berarti “kehidupan, keberadaan.” 
  • Suma Qamaña (Aymara, Bolivia): “hidup dengan baik” atau “hidup dalam kedamaian dan keseimbangan”. Dalam tradisi Aymara, suma qamaña bukan hanya tentang manusia, tetapi tentang seluruh komunitas kehidupan—termasuk gunung, sungai, dan bintang.
  • Ñande Reko (Guaraní, Paraguay-Brasil-Argentina): “cara kita hidup” atau “keberadaan yang baik”. Bagi suku Guaraní, ñande reko adalah tentang hidup sesuai dengan aturan alam, tentang berjalan dengan ringan di atas bumi, tentang mendengarkan apa yang dikatakan oleh hutan.
  • Küme Mongen (Mapuche, Chili-Argentina): “hidup yang baik” atau “hidup yang indah”. Dalam tradisi Mapuche, küme mongen adalah tentang keseimbangan antara dunia material dan spiritual, antara manusia dan alam, antara individu dan komunitas.
  • Shiir Waras (Achuar, Ekuador-Peru): “kehidupan yang tenang dan harmonis”. Suku Achuar di Amazon percaya bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tidak tergesa-gesa, yang mendengarkan suara-suara hutan, yang tidak mengambil lebih dari yang diperlukan.

Dalam bahasa Spanyol, semua istilah ini diterjemahkan sebagai Buen Vivir (Hidup Baik) atau Vivir Bien (Hidup dengan Baik). Namun terjemahan ini, seperti semua terjemahan dari kata-kata yang lahir dari pengalaman hidup yang berbeda, tidak pernah sepenuhnya tepat. 

Buen Vivir terdengar seperti “standar hidup yang layak” bagi telinga Barat. Tapi sumak kawsay bukan tentang “standar”—ia tentang hubungan. Tentang bagaimana Anda berhubungan dengan tanah yang Anda injak, dengan air yang Anda minum, dengan tetangga yang duduk di samping Anda, dengan generasi yang akan datang setelah Anda .

Dari Perlawanan ke Konstitusi: Sejarah yang Baru Berusia Tiga Dekade

Meskipun akar filosofisnya kuno, sumak kawsay sebagai sebuah konsep politik—sebagai sebuah tawaran alternatif terhadap pembangunan—adalah fenomena yang relatif baru.

Para peneliti menelusuri awal mula konsep ini diangkat ke ranah publik ke tahun 1990-an, ketika organisasi-organisasi masyarakat adat di Ekuador dan Bolivia mulai mencari bahasa untuk mengartikulasikan visi mereka tentang masa depan yang berbeda dari model pembangunan yang diekstraktif dan neoliberal.

Di Ekuador, salah satu tonggak penting adalah ketika Organisasi Masyarakat Adat Pastaza (OPIP) mulai menggunakan istilah sumak kawsay untuk menggambarkan cara hidup mereka di hutan hujan Amazon—cara hidup yang menolak eksploitasi minyak dan penebangan liar.

Pada tahun 2000, kata sumak kawsay pertama kali muncul di media massa ketika masyarakat adat Ekuador memprotes proyek-proyek ekstraktif di tanah mereka. Ini adalah momen ketika filosofi yang selama berabad-abad hanya hidup di komunitas-komunitas terpencil, tiba-tiba berbicara dengan suara yang lebih keras.

Lompatan besar berikutnya terjadi pada tahun 2008 dan 2009, ketika Ekuador dan Bolivia—negara dengan populasi adat yang signifikan dan pemerintahan yang relatif progresif—memutuskan untuk memasukkan prinsip buen vivir ke dalam konstitusi mereka.

Ekuador, 2008. Pasal 71 Konstitusi Ekuador menuliskan kalimat yang revolusioner: “Alam, atau Pachamama, tempat di mana kehidupan berlangsung dan bereproduksi, memiliki hak untuk dihormati atas keberadaan, pemeliharaan, dan regenerasi siklus hidup, struktur, fungsi, dan proses evolusinya.” Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah konstitusi negara mengakui bahwa alam bukanlah objek, tetapi subjek hukum—sesuatu yang memiliki hak, yang dapat dilanggar, yang dapat diperjuangkan di pengadilan.

Bolivia, 2009. Konstitusi Bolivia mendeklarasikan negara sebagai Estado Unitario Social de Derecho Plurinacional Comunitario—sebuah konsep yang mengakui bahwa Bolivia bukanlah satu bangsa, tetapi banyak bangsa (36 bangsa asli) yang hidup bersama dalam satu negara. Prinsip suma qamaña (vivir bien) diangkat sebagai etika dasar yang harus membimbing kebijakan publik. “Kita tidak ingin hidup lebih baik dari nenek moyang kita,” kata Presiden Evo Morales saat itu, “tetapi kita ingin hidup dengan baik—yang berarti hidup dalam harmoni dengan sesama manusia dan dengan alam.” 

Antara Cita dan Realita: Kontradiksi yang Tak Terhindarkan

Namun tidak ada kisah yang sempurna. Dan kisah sumak kawsay di Ekuador dan Bolivia juga penuh dengan kontradiksi pahit.

Ketika para aktivis lingkungan membaca Konstitusi Ekuador, mereka bersukacita. Akhirnya, setelah berabad-abad alam diperlakukan sebagai objek mati, ia diakui sebagai subjek hidup dengan hak-haknya sendiri. Namun ketika mereka melihat apa yang terjadi di lapangan, sukacita itu berubah menjadi kekecewaan. Pemerintah Ekuador, di bawah Presiden Rafael Correa, terus memberikan izin eksplorasi minyak di Amazon—bahkan di Taman Nasional Yasuní, salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Di bawah tanah Yasuní, ada sekitar 850 juta barel minyak. Nilainya: miliaran dolar. Dan pemerintah, yang mengklaim memperjuangkan buen vivir, memilih untuk mengambilnya.

Di Bolivia, kisah yang sama terulang. Presiden Evo Morales, seorang pemimpin Aymara yang sebelumnya menjadi aktivis lingkungan, tiba-tiba membuka pintu bagi eksploitasi litium di gurun garam Uyuni—sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk baterai mobil listrik global.

“Saya lebih memilih menerima tawaran investasi dari Jerman, Prancis, dan Jepang daripada membiarkan orang miskin tetap miskin,” kata Morales suatu ketika, mencoba membela kebijakannya.

Inilah ironi yang menyakitkan: negara yang mengklaim memperjuangkan buen vivir adalah juga negara yang melanjutkan eksploitasi sumber daya alam untuk pendapatan jangka pendek. Para akademisi menyebut ini sebagai “ekstraktivisme progresif” —sebuah model di mana negara tetap mengekstrak sumber daya alam, tetapi keuntungannya didistribusikan kepada masyarakat miskin melalui program-program sosial.

Bagi para puris, ini adalah pengkhianatan terhadap semangat sumak kawsay. “Anda tidak bisa mengambil minyak dari perut Pachamama dan tetap mengklaim menghormati hak-hak alam,” kata Alberto Acosta, ekonom Ekuador yang pernah menjadi presiden Majelis Konstituante 2008 . “Itu adalah kontradiksi yang tidak dapat dibenarkan.”

Namun bagi yang lain, ini adalah realitas politik. “Kita hidup di dunia yang tidak sempurna,” kata seorang aktivis Bolivia. “Kita harus memilih antara mengizinkan ekstraksi dengan kontrol negara, atau membiarkan perusahaan multinasional melakukannya tanpa kontrol sama sekali. Mana yang lebih dekat dengan buen vivir?” 

Apakah ini sumak kawsay? Jelas tidak.

Perdebatan ini belum selesai. Dan mungkin tidak akan selesai dalam waktu dekat. Yang jelas, sumak kawsay tidak hanya tentang alam dan komunitas; ia juga tentang kekuasaan—tentang siapa yang berhak mendefinisikan apa itu “hidup baik”, dan siapa yang berhak mengambil keputusan tentang sumber daya alam.

Filosofi di Balik Sumak Kawsay

Apa sebenarnya isi dari filosofi ini? Bukanlah sebuah doktrin yang kaku dengan 10 perintah yang harus diikuti. Ia lebih merupakan sebuah cara melihat dunia—sebuah perspektif yang membedah realitas dengan pisau bedah yang berbeda dari pisau bedah kapitalisme.  Sumak Kawsay jaring kehidupan yang tak terputus.

Dalam pandangan dunia Barat modern, kita cenderung melihat realitas sebagai kumpulan objek yang berdiri sendiri. Ada saya, ada Anda. Ada manusia, ada alam. Ada ekonomi, ada lingkungan. Mereka adalah entitas yang terpisah, yang bisa dianalisis satu per satu.

Dalam sumak kawsay, batas-batas itu kabur. Tidak ada yang berdiri sendiri. Seorang petani Quechua tidak melihat dirinya sebagai “individu” yang terpisah dari ladang kentangnya, dari hujan yang turun, dari matahari yang bersinar, dari tetangganya yang membantu membajak sawah. Semuanya terhubung dalam sebuah jaring kehidupan yang tak terputus.

Jika ladang kentang itu rusak, petani itu tidak hanya kehilangan “aset.” Ia kehilangan bagian dari dirinya. Jika hujan tidak turun, itu bukan sekadar “kekeringan”—itu adalah ketidakharmonisan antara manusia dan alam semesta. Jika seorang tetangga jatuh miskin, itu bukan urusannya sendiri—itu adalah luka pada seluruh komunitas.

Prinsip relasionalitas ini memiliki konsekuensi radikal. Jika segala sesuatu terhubung, maka tidak ada yang bisa diperlakukan sebagai “eksternalitas”—sebagai efek samping yang bisa diabaikan. Polusi bukan hanya “kerusakan lingkungan”; ia adalah kerusakan pada jaring kehidupan yang meliputi manusia yang menghirup udara beracun. Eksploitasi bukan hanya “ketidakadilan sosial”; ia adalah luka pada komunitas yang melukai semua anggotanya.

Saling Melengkapi (Ch’ulla): Oposisi yang Harmonis

Dalam logika Barat, oposisi adalah konflik. Dingin vs panas. Siang vs malam. Pria vs wanita. Kaya vs miskin. Satu sisi harus menang, sisi lain harus kalah. Sejarah, bagi Hegel dan Marx, adalah sejarah konflik antar kelas yang akhirnya dimenangkan oleh satu pihak.

Dalam kosmovisi Andes, oposisi adalah komplementaritas. Dingin dan panas tidak berperang; mereka bergantian, melengkapi satu sama lain, menciptakan keseimbangan. Siang dan malam tidak bertarung; mereka adalah dua sisi dari siklus yang sama. Pria dan wanita tidak bersaing; mereka adalah pasangan yang saling membutuhkan untuk menciptakan kehidupan.

Prinsip ini disebut ch’ulla dalam bahasa Aymara—atau yanantin dalam Quechua. Ini adalah pengakuan bahwa realitas tidak hitam-putih, bahwa oposisi bisa menjadi sumber kekuatan, bukan kelemahan.

Dalam konteks politik dan ekonomi, prinsip ini menolak dikotomi “sosialisme vs kapitalisme” yang kaku. Bukan berarti sumak kawsay “di tengah-tengah” dalam arti kompromi yang hambar. Tetapi ia menolak gagasan bahwa satu sistem harus menang dan yang lain kalah. Ia meng-undang kita untuk berpikir tentang sintesis, bukan konflik.

Timbal Balik (Ayni): Memberi dan Menerima dalam Siklus Tak Berujung

Mungkin prinsip paling konkret dari sumak kawsay adalah ayni—sistem timbal balik yang mengatur hubungan antar manusia dan antara manusia dengan alam.  Dalam komunitas Andes tradisional, ayni adalah tentang saling membantu tanpa perhitungan yang ketat. Anda mem-bantu tetangga Anda membangun rumahnya hari ini, bukan karena ia akan membayar Anda, tetapi karena suatu hari nanti, Anda akan membutuhkan bantuannya. Bukan hutang yang harus dilunasi dengan bunga, tetapi siklus pemberian dan penerimaan yang menjaga komunitas tetap utuh.

Ayni juga berlaku untuk hubungan manusia dengan alam. Anda tidak boleh mengambil dari Pachamama tanpa memberi kembali. Petani Quechua akan melakukan ritual pachamama untuk “memberi makan” bumi—mempersembahkan daun koka, chicha (minuman fermentasi jagung), dan makanan sebagai tanda terima kasih. Bukan karena mereka percaya bumi benar-benar makan, tetapi karena mereka mengakui bahwa setiap pemberian harus dibalas—bahwa hubungan dengan alam adalah hubungan timbal balik, bukan hubungan satu arah.

Dalam konteks modern, ayni adalah kritik terhadap logika uutang kapitalis yang membuat orang terjerat dalam bunga dan tenggat waktu. Ia adalah ingatan bahwa ada bentuk-bentuk pertukaran lain yang tidak didasarkan pada akumulasi dan eksploitasi.

Kecukupan: Filosofi “Tidak Lebih dari yang Dibutuhkan”

Prinsip terakhir yang paling langsung menantang kapitalisme adalah kecukupan—gagasan bahwa kebutuhan manusia terbatas, dan bahwa mengambil lebih dari yang diperlukan adalah pelanggaran terhadap keseimbangan.

Dalam kapitalisme, kebutuhan tidak pernah terbatas. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, kebutuhan baru diciptakan. Iklan-iklan terus-menerus membisikkan bahwa kita belum cukup: belum cukup kaya, belum cukup cantik, belum cukup sukses, belum cukup bahagia. Solusinya selalu sama: beli lebih. Kapitalisme tidak bisa berhenti; ia harus terus tumbuh, terus mencipta-kan kebutuhan baru, terus mengekstrak sumber daya baru.

Sumak kawsay menolak logika ini. Ia mengajarkan bahwa cukup itu cukup. Bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi—setelah kita memiliki makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan hubungan sosial yang bermakna—tambahan kekayaan tidak akan membuat kita lebih bahagia. Bahwa keinginan untuk “lebih” bukanlah naluri alami, tetapi konstruksi sosial yang bisa dilawan.

Ini bukan ajakan untuk menjadi miskin atau primitif. Ini adalah pengakuan bahwa ada batas-batas yang tidak boleh dilampaui—batas-batas yang ditetapkan oleh alam, oleh komunitas, oleh kewarasan.

Seperti yang dikatakan oleh seorang tetua Quechua: “Kita mengambil dari Pachamama hanya apa yang kita butuhkan. Kita tidak mengambil lebih, karena lebih tidak akan membuat kita lebih bahagia. Lebih hanya akan membuat kita serakah. Dan keserakahan adalah penyakit jiwa.”

Sumak Kawsay dalam Praktik — Antara Mimpi dan Kenyataan

Jika filosofi adalah mimpi, maka praktik adalah ketika mimpi itu dihadapkan pada realitas yang keras. Bagaimana sumak kawsay dijalankan di tingkat komunitas? Dan bagaimana ia dihadap-kan pada tekanan ekstraktivisme negara?

Pada tingkat komunitas terjadi harmoni yang hidup setiap hari.  Di ribuan desa di Andes dan Amazon, sumak kawsay bukanlah konsep abstrak yang diperdebatkan di ruang seminar. Ia adalah rutinitas harian.

Di Desa Cayambe, Ekuador, di kaki Gunung Cayambe yang tertutup salju abadi, komunitas Kichwa Kayambi telah berusaha menjalankan prinsip-prinsip sumak kawsay dalam pemerintah-an lokal mereka. Selama masa jabatan walikota asli pertama dalam sejarah kanton (2014-2019), kebijakan publik diarahkan untuk memperkuat ekonomi komunal, melindungi sumber daya air, dan membangun hubungan yang setara antara masyarakat adat dan non-adat.

Apa artinya ini secara konkret? Misalnya, alih-alih memprioritaskan investasi asing untuk membangun tambang, pemerintah lokal fokus pada proyek-proyek yang dikelola bersama oleh komunitas. Alih-alih memaksa semua anak untuk bersekolah dengan kurikulum nasional yang mengabaikan pengetahuan lokal, mereka mengembangkan kurikulum bilingual yang menghormati bahasa Quechua dan pengetahuan tradisional tentang pertanian dan pengobatan.

Ini bukanlah revolusi yang sempurna. Ketegangan masih ada. Tekanan untuk mengekstrak sumber daya tetap kuat. Namun di tingkat lokal, di mana hubungan antar manusia masih bisa disentuh, sumak kawsay menjadi sesuatu yang nyata .

Hak Alam di Pengadilan: Ketika Sungai Bisa Menggugat

Salah satu pencapaian paling konkret dari gerakan buen vivir adalah pengakuan bahwa alam memiliki hak—dan hak itu bisa ditegakkan di pengadilan.

Di Ekuador, Pasal 71-74 Konstitusi memberikan hak kepada alam untuk “dihormati atas keberadaan, pemeliharaan, dan regenerasi siklus hidup.” Ini bukan sekadar kata-kata indah. Pada tahun 2011, sebuah pengadilan di Ekuador memutuskan bahwa proyek pembangunan jalan yang mengancam Sungai Vilcabamba telah melanggar hak-hak sungai. Sungai, sebagai entitas yang hidup, berhak untuk tidak terganggu.

Di Bolivia, Undang-Undang Hak-Hak Bumi (Ley de Derechos de la Madre Tierra) yang disahkan pada tahun 2010 memberikan pengakuan serupa. Bumi didefinisikan sebagai “sistem hidup yang dinamis yang terdiri dari komunitas makhluk hidup yang tak terpisahkan, saling terkait, saling tergantung, dan saling melengkapi.” 

Di tingkat global, gagasan ini mulai menyebar. Selandia Baru mengakui Sungai Whanganui sebagai entitas hukum pada tahun 2017. India mengakui Sungai Ganges dan Yamuna pada tahun yang sama. Bangladesh mengakui semua sungainya pada tahun 2019.

Ini mungkin adalah warisan paling abadi dari sumak kawsay: bahwa alam, yang selama ratusan tahun diperlakukan sebagai objek mati yang bisa dieksploitasi sekehendak hati, kini mulai diakui sebagai subjek hidup yang memiliki hak untuk dilindungi. Sebuah revolusi diam-diam yang sedang berlangsung di ruang-ruang pengadilan di seluruh dunia.

Apa yang Bisa Kita Teladani dari Sumak Kawsay?

Pelajaran pertama dari sumak kawsay adalah: berhenti berlari.  Kapitalisme adalah mesin yang tidak pernah berhenti. Ia terus berputar, terus menuntut lebih, terus membuat kita merasa tidak pernah cukup. Kita berlari menuju promosi berikutnya, rumah berikutnya, liburan berikutnya. Dan ketika kita sampai di sana, kita berlari lagi. Karena janji kapitalisme adalah bahwa kebahagiaan selalu di depan—tidak pernah di sini, tidak pernah sekarang.

Sumak kawsay mengundang kita untuk berhenti. Untuk bertanya: apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah tambahan barang ini akan membuat saya lebih bahagia? Ataukah ia hanya akan mengisi ruang yang sebenarnya kosong karena hubungan yang tidak pernah cukup dekat, karena alam yang tidak pernah cukup kita sentuh, karena diri kita yang tidak pernah cukup kita kenal? 

Ingat bahwa kita bagian dari alam, bukan penguasanya.  Pelajaran kedua: kita bukan tuan atas alam.

Selama 500 tahun terakhir, peradaban Barat telah membangun narasi bahwa manusia adalah pusat alam semesta, bahwa alam adalah objek yang harus dikuasai, bahwa “kemajuan” berarti kemampuan untuk menaklukkan alam. Francis Bacon, bapak empirisme modern, mengatakan bahwa tujuan sains adalah “memaksa alam untuk melayani kepentingan manusia.” Descartes mengatakan bahwa hewan adalah mesin tanpa jiwa.

Sumak kawsay membalik narasi ini. Ia mengajarkan bahwa kita adalah bagian dari alam, bukan penguasanya. Bahwa kita tidak lebih tinggi dari pohon atau sungai atau gunung. Bahwa kita bergantung pada mereka untuk hidup—bahkan lebih dari mereka bergantung pada kita. Seperti yang dikatakan oleh Evo Morales: “Bumi dapat hidup tanpa manusia, tetapi manusia tidak dapat hidup tanpa Bumi” .

Ini bukan ajakan untuk kembali ke gua. Ini adalah ajakan untuk kerendahan hati ekologis—untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, bahwa alam memiliki kebijaksanaan yang tidak bisa kita gantikan dengan teknologi, bahwa ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati.

Komunitas lebih dari individu.  Pelajaran ketiga: kita tidak bisa bahagia sendirian. Kapitalisme adalah sistem yang individualistis. Ia mendorong kita untuk bersaing, untuk mengalahkan orang lain, untuk mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Kebahagiaan diukur dari seberapa banyak yang kita miliki dibandingkan dengan tetangga kita. Ini adalah perlombaan di mana hanya ada satu pemenang, dan semua yang lain adalah pecundang.

Sumak kawsay menawarkan alternatif: kebersamaan. Ia mengajarkan bahwa kesejahteraan individu tidak mungkin tercapai tanpa kesejahteraan komunitas. Bahwa jika tetangga Anda lapar, Anda tidak bisa benar-benar kenyang. Bahwa jika sungai yang mengalir di desa Anda tercemar, Anda tidak bisa benar-benar sehat. Bahwa jika alam di sekitar Anda rusak, Anda tidak bisa benar-benar damai.

Ini bukan anti-individualisme yang menekan potensi pribadi. Ini adalah pengakuan bahwa potensi pribadi hanya bisa berkembang di dalam komunitas yang sehat—bahwa kita membutuhkan satu sama lain, bahwa saling ketergantungan bukanlah kelemahan tetapi kekuatan.

Cukup itu cukup. Pelajaran keempat: cukup itu cukup.  Ini mungkin pelajaran yang paling sulit—dan paling radikal. Karena kita telah diajari bahwa “cukup” adalah kata yang buruk. “Cukup” berarti tidak ambisius. “Cukup” berarti puas dengan yang biasa-biasa saja. “Cukup” adalah musuh dari “lebih baik”.

Sumak kawsay membalik logika ini. Ia mengajarkan bahwa mengetahui kapan harus berhenti adalah kebijaksanaan, bukan kelemahan. Bahwa ada titik di mana “lebih” tidak lagi membuat hidup lebih baik, hanya lebih rumit. Bahwa pada titik tertentu, akumulasi berubah menjadi keserakahan, dan keserakahan adalah penyakit .

Ini bukan ajakan untuk menjadi malas atau tidak bercita-cita. Ini adalah ajakan untuk mendefinisikan ulang cita-cita—dari akumulasi barang menjadi akumulasi hubungan, dari pertumbuhan ekonomi menjadi pertumbuhan kebahagiaan, dari kompetisi menjadi kolaborasi.

Epilog: Sebuah Tawaran untuk Dunia yang Haus

Sumak kawsay bukanlah solusi ajaib untuk semua masalah dunia. Ia bukan cetak biru yang bisa langsung diterapkan di setiap negara. Ia lahir dari konteks spesifik—dari pegunungan Andes, dari komunitas adat yang berjuang untuk bertahan, dari sejarah kolonialisme dan perlawanan yang panjang.

Tetapi ia adalah tawaran—sebuah tawaran untuk melihat dunia dengan mata yang berbeda. Mata yang tidak melihat alam sebagai tambang, tetapi sebagai ibu. Mata yang tidak melihat tetangga sebagai pesaing, tetapi sebagai saudara. Mata yang tidak melihat hidup sebagai perlombaan untuk mati dengan mainan terbanyak, tetapi sebagai kesempatan untuk hidup dengan harmoni.

Di dunia yang semakin panas, semakin kering, semakin konfliktual, tawaran ini terasa semakin mendesak. Kita tidak bisa terus hidup seperti ini. Kita tidak bisa terus mengekstrak tanpa batas dari planet yang terbatas. Kita tidak bisa terus mengorbankan hubungan demi keuntungan. Kita tidak bisa terus lari tanpa tahu ke mana.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti. Duduk. Menghirup udara. Melihat langit. Dan bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya arti “hidup baik”?

Bukan jawaban yang akan ditemukan dalam statistik PDB atau jumlah barang di gudang. Bukan jawaban yang akan diberikan oleh iklan atau media sosial. Tetapi mungkin, di dalam diam, di dalam hubungan dengan alam, di dalam kebersamaan dengan orang lain, kita akan menemukan sesuatu yang selama ini kita cari.

Bukan “lebih”. Tapi cukup. Dan dalam kecukupan itu, kedamaian yang selama ini tidak pernah kita temukan.

Sumak kawsay. Mungkin kata-kata itu asing di telinga kita. Tapi pengalaman yang ia tunjuk—kehidupan yang harmonis, hubungan yang saling memberi, kecukupan yang membahagiakan—adalah kerinduan universal. Dan mungkin, dengan mendengarkan suara dari Andes ini, kita bisa mulai membayangkan dunia yang berbeda. Dunia di mana “hidup baik” bukan milik segelintir orang kaya, tetapi hak bagi semua makhluk—manusia, hewan, pohon, sungai, gunung.

Karena pada akhirnya, seperti yang diajarkan oleh para tetua Quechua: Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita. Dan utang yang paling tidak bisa dibayar adalah utang kepada generasi yang belum lahir.

Niru, Muara Enim, Sumatera Selatan, 30 April 2026

Dwi Rahmad Muhtaman

Daftar Pustaka
  1. Vanhulst, J. (2015). El laberinto de los discursos del Buen vivir: entre Sumak Kawsay y Socialismo del siglo XXI. Polis, Revista Latinoamericana, (41). https://journals.openedition.org/polis/10727 
  2. Lang, M. (2022). Entre sumak kawsay y modernización selectiva. e-cadernos CES, (38). https://journals.openedition.org/eces/7664 
  3. Barragán, L. A. (2020). El Buen vivir y el Sumak Kawsay: dos filosofías en disputa. Pacha. Revista de Estudios Contemporáneos del Sur Global, (3), 9-24. 
  4. Cortez, D. (2011). La construcción social del “Buen Vivir” (Sumak Kawsay) en Ecuador. Aportes Andinos, (28). Universidad Andina Simón Bolívar. http://www.socioeco.org/bdf_fiche-document-3877_en.html 
  5. Wikipedia contributors. (2024). Sumak kawsay. In Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://es.wikipedia.org/wiki/Buen_Vivir 
  6. González Tanco, E., & Arcila Calderón, C. (2022). Buen Vivir as a Critique of Communication for Development. In The Routledge Companion to Media and Development. Taylor & Francis. 
  7. Revista Fórum. (2025, June 3). Sumak Kawsay: entenda o conceito de ‘bem viver’ para as comunidades originárias dos Andes. https://revistaforum.com.br/cultura/sumak-kawsay-entenda-o-conceito-de-bem-viver-para-as-comunidades-originarias-dos-andes/ 

García García, A. (2023). Las visiones indianista y ecologista del sumak kawsay/buen vivir y la lectura revisionista de los socialismos (Tesis doctoral). Universidad de Granada. https://digibug.ugr.es/handle/10481/96694 

Share
0

Related posts

Wednesday April 22nd, 2026

Sustainability17A #69- Marayakan Parasmu:  Empat Milyar Tahun Bumi   


Read more
Tuesday April 21st, 2026

Sustainability17A #68- Membongkar Logika dan Ketidakadilan Proyek Karbon


Read more
Monday April 20th, 2026

Sustainability17A #67- Wajah Bumi: Seratus Tahun yang Lalu,Seratus Tahun Mendatang


Read more
Thursday November 13th, 2025

Sustainability17A #66- Kota Tanpa Mobil


Read more
© Copyright 2026 - Re-Mark Asia | All Rights Reserved
      Previous April 22, 2026
      Sustainability17A #69- Marayakan Parasmu:  Empat Milyar Tahun Bumi   

      Sustainability 17A #69 Marayakan Parasmu:  Empat Milyar Tahun Bumi    Dwi R. Muhtaman, Sustainability Partner "..... dan aku akan lebih tidak peduli…

      Random July 24, 2026
      Rubarubu #191 - Team Human: Membangun Kembali Ruang Bersama

      Rubarubu #191 Team Human: Membangun Kembali Ruang Bersama Di sebuah ruang rapat di Silicon Valley, beberapa tahun lalu, seorang insinyur…