Sustainability 17A #67
Wajah Bumi: Seratus Tahun yang Lalu,
Seratus Tahun Mendatang
Dwi R. Muhtaman,
Sustainability Partner
…..Kau buat kepahlawanan sulit diraih;
Kau buat keunggulan mahal harganya;
Kau tak berbelas kasih pada mereka yang layak menerima belas kasih.”
“….Hari ini aku berdiri di hadapanmu tanpa ilusi:
Aku tidak meminta di pintumu keabadian…” 1
Bayangkan Anda berdiri di tepi Sungai Amazon pada tahun 1926. Airnya sangat surut, jauh di bawah permukaan normal. Di Manaus, kota yang biasanya diapit oleh air raksasa, dasar sungai terlihat seperti luka menganga. Para penduduk setempat, yang terbiasa dengan naik turunnya air, tidak pernah melihat yang seperti ini. Ini adalah “kemarau abad ini,” demikian para ilmuwan kemudian menyebutnya. Di sisi lain planet, di Semenanjung Malaya yang saat itu masih dijajah Inggris, hujan turun tanpa ampun pada Desember 1926. Banjir bandang meluluhlantakkan perkebunan karet dan tambang timah, mengubur desa-desa dalam lumpur, dan menewaskan ratusan orang.2 3
Dua peristiwa yang tampak berlawanan ini—kemarau ekstrem di satu tempat dan banjir dahsyat di tempat lain—sebenarnya memiliki akar yang sama. Tahun 1926 adalah tahun El Niño yang sangat kuat, sebuah gangguan iklim alami yang disebabkan oleh osilasi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.4
Namun, ada sesuatu yang berbeda dari banjir di Malaya. Para pejabat kolonial Inggris, dalam laporan mereka, mencatat sebuah fakta yang mengganggu: banjir itu tidak hanya disebabkan oleh hujan. Ia diperparah oleh ulah manusia sendiri. Hutan-hutan yang ditebang untuk perkebunan karet dan tambang timah tidak lagi mampu menahan air. Sungai-sungai yang tersumbat limbah tambang meluap lebih cepat. Untuk pertama kalinya dalam skala besar, manusia menyadari bahwa mereka tidak hanya menjadi korban alam, tetapi juga turut menciptakan bencana mereka sendiri. 5
1926: Dunia di Ambang Perubahan
Tahun 1926 adalah tahun yang aneh. Secara politis, dunia masih berguncang oleh sisa-sisa Perang Besar (Perang Dunia I) dan menuju Depresi Besar. Namun secara intelektual, tahun itu adalah momen penting yang sering dilupakan.
Pada tahun yang sama, seorang ilmuwan Rusia bernama Vladimir Vernadsky menerbitkan pemikiran-pemikirannya tentang apa yang kemudian disebutnya sebagai “noosfer”—lapisan pemikiran yang menyelimuti bumi, sebuah kekuatan baru yang muncul dari aktivitas intelektual manusia yang mulai membentuk masa depan planet itu sendiri. Vernadsky menulis, “Arah di mana proses evolusi harus berlangsung adalah menuju peningkatan kesadaran dan pemikiran, serta menuju bentuk-bentuk yang memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap lingkungan mereka.” 6
Pemikiran Vernadsky ini luar biasa visioner. Namun, ia tidak sendirian. Lima puluh tiga tahun sebelumnya, pada tahun 1873, seorang ahli geologi Italia bernama Antonio Stoppani telah berbicara tentang “era antropozoik”—sebuah zaman geologi baru yang ditandai oleh kemunculan “kekuatan tellurik baru” yang berasal dari manusia, yang dalam kekuatan dan universalitasnya dapat dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan besar bumi.7 8
Stoppani dan Vernadsky adalah para “nabi” yang tidak didengarkan. Dunia pada tahun 1926 masih sibuk dengan urusannya sendiri: perang, kolonialisme, industrialisasi. Mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan peringatan tentang batas-batas planet.
Kalau ditinjau secara lingkungan, tahun itu adalah sebuah peringatan dini yang hampir tidak ada yang dengar.
Para ilmuwan iklim kemudian merekonstruksi bahwa periode 1920-an hingga 1940-an adalah masa yang kacau secara iklim, dengan serangkaian El Niño dan La Niña yang ekstrem. 9 10 Namun, yang lebih penting, tahun 1926 adalah bagian dari akhir dari sebuah era. Sebuah era di mana meskipun eksploitasi sumber daya alam sudah berlangsung sejak Revolusi Industri abad ke-18, dampaknya terhadap sistem Bumi secara keseluruhan masih bersifat lokal.
Di Malaya, banjir 1926 menjadi “katalis untuk perubahan.” 11 Pemerintah kolonial akhirnya membangun sistem pengendalian banjir yang lebih baik. Mereka belajar bahwa eksploitasi tanpa perencanaan adalah bunuh diri. Di Amazon, kekeringan 1926 menjadi catatan bagi para ilmuwan tentang kerentanan hutan hujan terbesar di dunia terhadap perubahan iklim.
Tetapi ironisnya, pelajaran itu tidak cukup mengubah arah sejarah. Justru pada tahun-tahun setelah 1926, manusia mulai melompat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seperti yang ditulis oleh sejarawan lingkungan J. R. McNeill dalam bukunya The Great Acceleration, periode setelah 1945—dimulai dengan ledakan konsumsi pasca Perang Dunia II—adalah saat “manusia menyaingi kekuatan alam dalam membentuk Bumi.” 12
Populasi meledak, energi fosil dikonsumsi secara massal, dan polusi menyebar ke seluruh penjuru planet. Ini adalah awal dari apa yang kemudian disebut para ilmuwan sebagai Anthropocene—sebuah zaman geologi baru yang ditandai oleh dominasi manusia terhadap sistem Bumi.
Langkah-langkah apa yang diambil pada masa itu? Sayangnya, sangat sedikit. Kesadaran yang muncul di kalangan ilmuwan tidak diterjemahkan menjadi kebijakan global. Tidak ada Protokol Kyoto, tidak ada IPCC, tidak ada Earth Summit. Yang ada hanyalah eksploitasi sumber daya yang semakin intensif.
Pada tahun 1926, konsumsi bahan bakar fosil terus melonjak. Populasi manusia, yang telah tumbuh sepuluh kali lipat selama tiga abad sebelumnya, terus meningkat.13 Di Malaya, setelah banjir 1926, pemerintah kolonial memang membangun sistem pengendalian banjir yang lebih baik. Namun, itu adalah solusi teknis lokal, bukan perubahan paradigma global. Pelajaran yang dipetik adalah “bagaimana mengelola dampak,” bukan “bagaimana mengubah penyebab.”
Para pemikir lain pada masa itu juga mulai merenungkan nasib planet. Teilhard de Chardin, seorang filsuf dan teolog Jesuit Prancis, bersama Vernadsky mengembangkan konsep noosfer sebagai tahap evolusi selanjutnya—sebuah kesadaran kolektif planet yang muncul dari interaksi manusia yang semakin kompleks. Namun, optimisme Teilhard tentang masa depan umat manusia tidak diimbangi oleh kesadaran akan keterbatasan ekologis. Baginya, noosfer adalah puncak evolusi, bukan sebuah peringatan. 14
Jika kita melihat ke belakang dari tahun 2026, kita bisa bertanya: apa yang terjadi jika dunia pada tahun 1926 benar-benar mendengarkan Vernadsky? Apa yang terjadi jika kesadaran bahwa manusia telah menjadi kekuatan geologis diterjemahkan ke dalam tindakan kolektif pada awal abad ke-20, sebelum ledakan konsumsi pasca-Perang Dunia II?
Mungkin sejarah akan berbeda. Mungkin kita tidak akan berada di ambang bencana saat ini. Tetapi sejarah tidak mengenal “jika”. Yang kita miliki hanyalah jejak-jejak peringatan yang terabaikan, dan konsekuensinya yang kini kita hidupi.
2026: Titik Kritis yang Terlewati
Sekarang, pada tahun 2026, kita hidup di dalam Anthropocene. Kita tidak lagi hanya menebang hutan atau mencemari sungai. Kita telah mengubah komposisi kimia atmosfer, mengasamkan lautan, dan memicu kepunahan massal keenam dalam sejarah Bumi. Keputusan-keputusan yang diambil—atau tidak diambil—pada dekade-dekade setelah 1926 telah membawa kita ke titik ini.
Tahun 2026 adalah tahun yang penuh dengan rekor-rekor buruk. Suhu global terus meningkat. Gelombang panas yang dulu terjadi sekali dalam seratus tahun kini terjadi setiap tahun. Bencana hidrometeorologi—banjir, kekeringan, badai—telah menjadi “normal” baru. Para ilmuwan dalam laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) yang menjadi dasar kebijakan global memperingatkan bahwa kita telah melewati beberapa “titik kritis” (tipping points), seperti mencairnya es di Greenland dan Antartika Barat, yang akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang tidak dapat dihindari selama berabad-abad. 15 16
Dalam sebuah model sederhana yang diterbitkan oleh para peneliti di Max Planck Institute untuk memahami ko-evolusi masyarakat dan alam, ditemukan bahwa “lintasan dengan keadaan asimtotik yang berbeda secara fundamental mungkin masih hampir tidak dapat dibedakan bahkan selama fase transisi yang berlangsung berabad-abad.”
Artinya, pada tahun 1926, pilihan antara “bisnis seperti biasa” dan “keberlanjutan” masih terlihat serupa. Pada tahun 2026, perbedaannya menjadi jelas dan mengerikan. Kita berada di jalur menuju dunia yang 3 hingga 4 derajat Celsius lebih hangat pada tahun 2100, sebuah dunia yang oleh para ilmuwan digambarkan sebagai “sangat sulit untuk dihuni” bagi sebagian besar umat manusia. 17
Sekarang, tepat seratus tahun setelah Vernadsky menulis tentang noosfer, kita hidup di dalam kenyataan yang ia ramalkan. Namun, kenyataan itu jauh dari mimpinya tentang kesadaran kolektif yang harmonis. Kita hidup di Antroposen—sebuah zaman geologi baru yang ditandai oleh dominasi manusia terhadap sistem Bumi. Dan dominasi itu, seperti yang kini kita sadari dengan sangat menyakitkan, tidak berarti kendali. Ia berarti kekacauan.
Namun, perubahan iklim hanyalah satu dari sembilan batas planet (Planetary Boundaries) yang telah diidentifikasi oleh para ilmuwan. Kerangka kerja yang dikembangkan oleh Johan Rockström dan timnya ini mendefinisikan “ruang operasi yang aman” bagi peradaban manusia—batas-batas ekologis yang tidak boleh dilanggar jika kita ingin bumi tetap berada dalam kondisi stabil seperti selama 11.000 tahun terakhir (periode Holosen).18 Dan kabar buruknya: enam dari sembilan batas itu kini telah dilampaui.
Mari kita lihat satu per satu. Batas perubahan iklim, diukur dengan konsentrasi CO2 di atmosfer, telah lama terlampaui. Batas integritas biosfer—laju kepunahan spesies—kini berada pada tingkat 100 hingga 1.000 kali lebih tinggi dari rata-rata alami. Batas aliran biogeokimia (fosfor dan nitrogen, terutama dari pupuk pertanian) juga telah terlampaui, menyebabkan zona mati di lautan. Batas perubahan sistem lahan, terutama deforestasi hutan hujan tropis, juga telah dilanggar. Batas air tawar, baik air biru (sungai, danau) maupun air hijau (kelembaban tanah), kini berada di zona ketidakpastian yang berbahaya. Batas entitas baru (novel entities)—termasuk plastik, bahan kimia sintetis, dan polutan abadi—juga telah dilampaui. 19
Langkah-langkah apa yang telah diambil sejak tahun 1926 untuk mencegah hal ini? Selama seratus tahun terakhir, upaya-upaya memang ada, tetapi selalu terlambat dan seringkali tidak memadai. Setelah Perang Dunia II, ledakan konsumsi yang dikenal sebagai “Akselerasi Besar” (The Great Acceleration) terjadi. Populasi manusia melonjak dari 2,5 miliar pada tahun 1950 menjadi lebih dari 8 miliar saat ini. Konsumsi energi meningkat enam belas kali lipat selama abad ke-20 . Emisi karbon dioksida, yang mulai meningkat sejak Revolusi Industri, melonjak tajam setelah tahun 1950.
Kesadaran global mulai muncul pada tahun 1970-an, dengan diadakannya Konferensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup Manusia pada tahun 1972. Protokol Montreal tentang zat perusak ozon (1987) adalah salah satu keberhasilan terbesar diplomasi lingkungan global. Namun, upaya untuk mengatasi perubahan iklim melalui Protokol Kyoto (1997) dan Perjanjian Paris (2015) belum cukup untuk membendung laju emisi. Mengapa? Karena akar masalahnya bukan hanya teknis, tetapi juga politis dan ekonomis. Sistem kapitalisme global, dengan logika pertumbuhan tanpa batas, bertentangan secara fundamental dengan realitas planet yang terbatas.
Seperti yang ditunjukkan oleh model konseptual yang dikembangkan oleh para peneliti di Max Planck Institute untuk memahami ko-evolusi masyarakat dan alam, “lintasan dengan keadaan asimtotik yang berbeda secara fundamental mungkin masih hampir tidak dapat dibedakan bahkan selama fase transisi yang berlangsung berabad-abad.” 20 Artinya, pada tahun 1926, pilihan antara “bisnis seperti biasa” dan “keberlanjutan” masih terlihat serupa. Pada tahun 2026, perbedaannya menjadi jelas dan mengerikan. Kita berada di jalur menuju dunia yang 3 hingga 4 derajat Celsius lebih hangat pada tahun 2100, sebuah dunia yang oleh para ilmuwan digambarkan sebagai “sangat sulit untuk dihuni” bagi sebagian besar umat manusia.
Seorang filsuf dan aktivis lingkungan asal Indonesia, Mochtar Lubis, pernah menulis dalam catatan hariannya pada tahun 1970-an, yang dikutipnya dari sumber lain: “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita; kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Pepatah ini, yang sering dikaitkan dengan berbagai budaya, menjadi sangat relevan saat ini. Pada tahun 2026, kita tidak hanya meminjam bumi dari anak cucu kita; kita telah mengambil hipotek yang tidak mungkin mereka lunasi. Dan kita terus mengambil pinjaman baru setiap hari, dengan bunga yang makin mencekik.
Sementara itu, kesenjangan dalam kapasitas adaptasi antara negara maju dan berkembang semakin melebar. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di npj Climate Action pada tahun 2026 menemukan bahwa meskipun pemerintah di negara berkembang mungkin memiliki akses yang lebih terbatas ke sumber daya, mereka seringkali memberikan dukungan adaptasi yang lebih responsif secara lokal dibandingkan dengan negara maju yang birokrasinya kaku.21 Namun, secara keseluruhan, “lingkungan yang memungkinkan” (enabling environment) untuk adaptasi di negara berkembang masih jauh lebih lemah. Ini berarti bahwa mereka yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim—petani kecil, nelayan, masyarakat pesisir—seringkali paling sedikit mendapatkan dukungan.
Dalam situasi seperti ini, muncullah berbagai suara yang menolak narasi teknologi sebagai penyelamat. Sebuah buku baru berjudul Incomputable Earth, yang diterbitkan pada tahun 2026, menantang asumsi bahwa krisis iklim dapat dipecahkan melalui optimalisasi algoritmik atau manajemen planet yang cybernetic.22 Buku ini berargumen bahwa masalahnya secara fundamental tidak dapat dihitung—ia terlalu kompleks, terlalu penuh dengan ketidakpastian, dan terlalu terkait dengan ketidakadilan historis untuk dapat diselesaikan dengan solusi teknis semata. Sebaliknya, yang diperlukan adalah transformasi radikal dalam cara kita berpikir tentang “manusia,” “alam,” dan “teknologi”—sebuah proyek epistemologis dan politik, bukan hanya rekayasa.
Di tengah semua keputusasaan ini, ada juga upaya-upaya untuk membangun ketahanan (resilience). European Union, misalnya, telah menetapkan target untuk menjadi masyarakat yang tahan iklim pada tahun 2050. Studi tentang jalur pembangunan tahan iklim (Climate-Resilient Development Pathways/CRDP) di Italia menunjukkan bahwa keberhasilan membutuhkan pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai tingkat pemerintahan, dari lokal hingga nasional, serta berbagai sektor—air, ekosistem, pertanian, energi, dan infrastruktur.23 Ini bukanlah solusi ajaib, tetapi setidaknya ini adalah langkah ke arah yang benar.
2126: Seratus Tahun Mendatang—Skenario yang Mungkin
Mari kita melompat seratus tahun ke depan, ke tahun 2126. Apa yang akan ditemukan oleh seorang sejarawan lingkungan yang hidup pada masa itu ketika ia menelusuri catatan-catatan awal abad ke-21? Jawabannya tergantung pada pilihan yang kita buat—dan yang tidak kita buat—dalam dekade-dekade kritis antara 2026 dan 2050. Para ilmuwan telah mengidentifikasi beberapa skenario yang mungkin, yang berkisar dari yang terbaik hingga yang terburuk.
Dalam skenario emisi tinggi (high-emission scenario) yang sering diproyeksikan oleh model-model iklim, dunia tahun 2126 akan sangat berbeda dari dunia kita saat ini. Suhu global rata-rata mungkin telah meningkat sebesar 4 hingga 5 derajat Celsius, atau bahkan lebih. Ini bukanlah dunia yang “lebih hangat” dalam arti yang nyaman; ini adalah dunia yang bermusuhan. Bukan hanya karena teknologi, tetapi karena fondasi fisik planet ini telah bergeser.
Lautan yang Berubah. Permukaan laut, menurut proyeksi IPCC, dapat naik hingga hampir dua meter pada tahun 2100, dan akan terus naik setelahnya . Pada tahun 2126, kota-kota pesisir besar seperti Jakarta, Shanghai, Lagos, dan Miami mungkin telah ditinggalkan atau menjadi semacam Venesia modern dengan kanal-kanal yang beracun. Negara kepulauan seperti Maladewa dan Kiribati kemungkinan besar telah tenggelam, penduduknya menjadi pengungsi iklim pertama dalam sejarah.
Lautan, yang telah menyerap sebagian besar panas berlebih, akan terus mengasam. Keasaman laut yang ekstrem akan melarutkan cangkang organisme laut kecil yang menjadi dasar rantai makanan. Terumbu karang, yang telah mengalami pemutihan massal berulang kali sejak 1980-an, mungkin telah punah secara fungsional di sebagian besar lautan. Perikanan global, yang sudah menurun drastis pada tahun 2026, akan runtuh total. Miliaran orang yang bergantung pada protein laut akan kehilangan sumber makanan utama mereka.
Permukaan laut, menurut proyeksi IPCC, dapat naik hingga hampir dua meter pada tahun 2100, dan akan terus naik setelahnya. Pada tahun 2126, kenaikan mungkin telah mencapai tiga hingga empat meter, atau bahkan lebih jika lapisan es Antartika Barat runtuh secara tidak stabil. Kota-kota pesisir besar seperti Jakarta (yang sebagian sudah tenggelam pada tahun 2026), Shanghai, Lagos, Mumbai, dan New York akan berada di bawah air atau harus dilindungi oleh tanggul raksasa yang sangat mahal. Negara kepulauan seperti Maladewa, Kiribati, dan Tuvalu kemungkinan besar telah tenggelam sepenuhnya, penduduknya menjadi pengungsi iklim pertama dalam sejarah. Jumlah pengungsi iklim global pada tahun 2126 mungkin mencapai miliaran.
Cuaca yang Gila. Gelombang panas yang dulu disebut “ekstrem” akan menjadi rutinitas musim panas. Di daerah tropis dan subtropis, suhu di atas 50 derajat Celsius akan biasa terjadi. Pertanian seperti yang kita kenal akan runtuh di banyak wilayah. Lembah Mediterania, yang merupakan lumbung pangan kuno, akan menjadi gurun. 24 Sementara itu, wilayah lain akan dihantam badai dahsyat dan banjir bandang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Model-model menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem yang sebelumnya terjadi setiap 100 tahun akan terjadi setiap tahun.25
Ekosistem yang Kolaps. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pada tahun 2100, lautan akan kehilangan 80% area yang tidak terpengaruh oleh perubahan iklim.26 Terumbu karang, yang merupakan “hutan hujan laut,” kemungkinan telah punah secara fungsional. Di darat, hutan hujan Amazon, yang pernah mengalami kekeringan parah pada tahun 1926, mungkin telah melewati titik kritisnya dan berubah menjadi sabana yang kering, melepaskan miliaran ton karbon ke atmosfer dan mempercepat pemanasan lebih lanjut.
Di darat, hutan hujan Amazon, yang telah melewati titik kritisnya, mungkin telah berubah menjadi sabana yang kering. Transformasi ini, yang akan melepaskan miliaran ton karbon ke atmosfer, akan menciptakan lingkaran umpan balik positif yang mempercepat pemanasan lebih lanjut. Permafrost di Siberia dan Kanada, yang mencair dengan cepat, akan melepaskan metana dalam jumlah besar—gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat daripada CO2.
Gelombang panas yang dulu disebut “ekstrem” akan menjadi rutinitas musim panas. Di daerah tropis dan subtropis, suhu di atas 50 derajat Celsius akan biasa terjadi. Pada suhu ini, aktivitas di luar ruangan menjadi tidak mungkin dilakukan tanpa perlindungan khusus. Pertanian seperti yang kita kenal akan runtuh di banyak wilayah. Lembah Mediterania, yang merupakan lumbung pangan kuno, akan menjadi gurun. Lahan pertanian di daerah beriklim sedang mungkin masih dapat ditanami, tetapi dengan hasil yang jauh lebih rendah dan biaya yang jauh lebih tinggi karena kebutuhan irigasi dan perlindungan dari hama baru.
Model-model menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem yang sebelumnya terjadi setiap 100 tahun akan terjadi setiap tahun, atau bahkan lebih sering. Badai kategori 5, yang pada tahun 2026 masih dianggap langka, akan menjadi kejadian tahunan di beberapa wilayah. Banjir bandang, kekeringan berkepanjangan, kebakaran hutan yang tidak terkendali—semua ini akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat yang Terfragmentasi. Namun, ada satu skenario lain yang mungkin. Tahun 2026 hingga 2050-an mungkin tercatat sebagai dekade “Kejatuhan Besar” atau “Transformasi Besar”. Dalam model Max Planck, ada kemungkinan menuju “keadaan asimtotik yang berkelanjutan” jika intensitas penggunaan biomassa dan kontribusi jasa ekosistem terhadap kesejahteraan manusia menjadi prioritas utama, dan jika energi terbarukan menggantikan bahan bakar fosil secara massal.27
Jika transisi ini berhasil, tahun 2126 mungkin menjadi tahun awal dari pemulihan yang lambat dan menyakitkan. Masyarakat akan lebih kecil, lebih lokal, dan lebih sederhana secara teknologi. Energi akan sangat berharga. Makanan akan ditanam dengan cara yang sangat berbeda, mungkin di laboratorium atau di pertanian vertikal dalam ruangan. Dunia tidak akan kembali seperti tahun 1926, tetapi ia mungkin telah menemukan keseimbangan baru yang rapuh.
Bagaimana dengan masyarakat manusia itu sendiri? Dalam skenario terburuk, peradaban mungkin telah terfragmentasi. Negara-bangsa mungkin masih ada, tetapi dengan kapasitas yang sangat terbatas untuk memerintah. Konflik atas sumber daya yang semakin langka—air, makanan, energi—akan menjadi hal biasa. Perang iklim mungkin telah terjadi di berbagai belahan dunia. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin akan semakin melebar, dengan kantong-kantong masyarakat kaya yang terlindungi di balik tembok dan sistem pendukung kehidupan buatan, sementara miliaran orang lainnya berjuang untuk bertahan hidup di dunia yang semakin bermusuhan.
Sebuah puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda, seorang penyair Indonesia, pernah menggambar-kan keadaan seperti ini: “Ketika bumi tak lagi ibu, ketika langit tak lagi bapak, ke mana anak-anak berpulang?” Pada tahun 2126, dalam skenario terburuk, pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban.
Skenario Terbaik: Dunia yang Berbeda
Namun, ada skenario lain yang mungkin. Skenario ini tidak optimis secara naif, tetapi didasarkan pada kemungkinan bahwa transformasi besar-besaran terjadi antara tahun 2026 dan 2050—sebuah periode yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “dekade-dekade kritis.”
Dalam skenario ini, dunia pada tahun 2050-an mencapai emisi nol bersih (net-zero). Transisi ini tidak terjadi secara alami atau otomatis; ia adalah hasil dari tekanan politik massal, inovasi teknologi yang terobosan, dan perubahan mendasar dalam nilai-nilai budaya. Energi terbarukan—surya, angin, mungkin fusi—menggantikan bahan bakar fosil sepenuhnya. Sistem pangan global bertransformasi, dengan pengurangan drastis konsumsi daging dan pertanian regeneratif yang memulihkan kesehatan tanah.
Pada tahun 2126, dunia telah stabil pada suhu yang sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Meskipun ini masih merupakan dunia yang lebih hangat—dengan permukaan laut yang lebih tinggi, terumbu karang yang punah, dan lebih banyak peristiwa cuaca ekstrem—ia masih dapat dihuni. Kenaikan permukaan laut, yang tidak dapat dihindari karena inersia sistem iklim, mungkin telah mencapai sekitar satu meter. Beberapa kota pesisir telah ditinggalkan, tetapi yang lain telah beradaptasi dengan tanggul dan sistem pengelolaan air yang canggih.
Yang lebih penting, masyarakat manusia telah berubah secara fundamental. Kesadaran akan batas-batas planet telah meresap ke dalam semua aspek kehidupan. Ekonomi tidak lagi berorientasi pada pertumbuhan GDP tanpa batas, tetapi pada kesejahteraan manusia di dalam “ruang operasi yang aman” yang didefinisikan oleh Planetary Boundaries.28 Konsep “Doughnut Economics” yang dikembangkan oleh Kate Raworth—di mana kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar semua orang (bagian bawah donat) tanpa melampaui batas ekologis planet (bagian luar donat)—mungkin telah menjadi kerangka kerja utama bagi kebijakan ekonomi global.
Dalam model Max Planck Institute, skenario ini membutuhkan “penggunaan biomassa yang intensitasnya rendah dan kontribusi jasa ekosistem terhadap kesejahteraan manusia yang tinggi.” 29 Dengan kata lain, kita harus belajar untuk hidup dengan apa yang diberikan alam kepada kita, bukan terus-menerus mengambil lebih dari yang dapat dipulihkan. Model ini juga menekankan bahwa “selain mengurangi permintaan global akan energi, hanya penggunaan energi terbarukan secara ekstensif yang dapat membuka jalan menuju masa depan yang berkelanjutan.” 30
Skenario terbaik bukanlah kembalinya ke dunia tahun 1926 atau bahkan tahun 2026. Ia adalah dunia yang baru, yang dalam banyak hal lebih sederhana, lebih lokal, dan lebih terhubung dengan alam. Teknologi mungkin masih ada, tetapi ia akan digunakan secara lebih bijaksana—untuk memulihkan ekosistem, bukan mengeksploitasinya; untuk meningkatkan ketahanan, bukan konsumsi. Masyarakat mungkin lebih kecil dan lebih terdesentralisasi. Perjalanan jarak jauh mungkin menjadi langka dan mahal, mendorong orang untuk membangun komunitas lokal yang lebih kuat.
Namun, bahkan dalam skenario terbaik, dunia tahun 2126 tidak akan bebas dari tantangan. Keadilan iklim akan menjadi isu sentral: negara-negara maju, yang secara historis bertanggung jawab atas sebagian besar emisi, harus menyediakan sumber daya yang sangat besar untuk membantu negara-negara berkembang beradaptasi dan bertransformasi . Konflik atas sumber daya mungkin masih terjadi, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. Dan kita harus terus waspada terhadap bahaya melampaui batas-batas planet lainnya, seperti yang telah kita lakukan dengan nitrogen dan keanekaragaman hayati.
Antara 2026 dan 2126: Apakah yang Dilakukan Sekarang Dapat Mencegah Bencana?
Pertanyaan ini adalah inti dari segalanya. Apakah yang kita lakukan hari ini—kebijakan yang kita buat, teknologi yang kita kembangkan, nilai-nilai yang kita anut—akan cukup untuk mengarahkan kita menuju skenario terbaik, atau kita sudah terlalu jauh di jal menuju skenario terburuk?
Jawabannya tidak sederhana, tetapi ada alasan untuk tidak menyerah pada keputusasaan. Seperti yang ditunjukkan oleh model Max Planck, lintasan menuju keadaan yang berbeda secara fundamental “mungkin masih hampir tidak dapat dibedakan bahkan selama fase transisi yang berlangsung berabad-abad.” Artinya, bahkan pada tahun 2026, mungkin masih belum terlambat untuk mengubah arah. Namun, jendela kesempatan semakin sempit. Setiap tahun yang berlalu tanpa pengurangan emisi yang signifikan, setiap batas planet yang terus kita langgar, membawa kita lebih dekat ke titik di mana perubahan tidak dapat dihindari.
Apa yang harus dilakukan? Ada tiga bidang tindakan yang sangat penting.
Pertama, pengurangan emisi drastis dan segera. Dunia harus mencapai emisi nol bersih paling lambat pada tahun 2050, dan lebih cepat jika memungkinkan. Ini berarti menghentikan penggunaan batu bara, minyak, dan gas secara bertahap; mengubah sistem transportasi, pemanas bangunan, dan proses industri; serta mengakhiri deforestasi. Target-target ini telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris, tetapi implementasinya masih jauh dari yang dibutuhkan. Negara-negara G20, yang bertanggung jawab atas sekitar 80% emisi global, harus memimpin.
Kedua, investasi besar-besaran dalam adaptasi dan ketahanan. Bahkan jika kita berhasil mengurangi emisi secara drastis, sejumlah perubahan iklim tidak dapat dihindari karena emisi masa lalu. Kita harus beradaptasi. Ini berarti membangun infrastruktur yang tahan terhadap banjir dan gelombang panas; mengembangkan sistem peringatan dini untuk bencana; menciptakan varietas tanaman yang tahan kekeringan; dan melindungi serta memulihkan ekosistem alami yang berfungsi sebagai penyerap karbon dan pelindung dari badai. Studi tentang jalur pembangunan tahan iklim di Italia menunjukkan bahwa adaptasi yang efektif membutuhkan pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai tingkat pemerintahan dan berbagai sektor.31
Ketiga, dan mungkin yang paling sulit, transformasi sistemik. Akar dari krisis planet bukan hanya teknis, tetapi juga politis, ekonomis, dan budaya. Sistem ekonomi global yang berbasis pada pertumbuhan tanpa batas tidak kompatibel dengan planet yang terbatas. Kita perlu membayangkan dan membangun model ekonomi baru yang mengutamakan kesejahteraan manusia dan kesehatan ekologis di atas akumulasi modal. Ini adalah proyek transformatif yang menantang struktur kekuasaan yang telah mapan selama berabad-abad.
Para ilmuwan di EGU General Assembly 2026 menyerukan pengembangan “teori Antroposen yang multi-, inter-, dan transdisipliner”—sebuah kerangka berpikir yang dapat menjembatani ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora untuk memahami kompleksitas tantangan kita.32 Mereka berargumen bahwa transformasi teoritis diperlukan untuk mendukung transformasi praktis. Dengan kata lain, kita perlu mengubah cara kita berpikir sebelum kita dapat mengubah cara kita bertindak.
Dalam upaya ini, kita dapat belajar dari berbagai tradisi pemikiran. Vernadsky dan Teilhard de Chardin mengajarkan kita tentang potensi kesadaran kolektif—noosfer—sebagai kekuatan evolusioner.33 Namun, kita harus menambahkan dimensi etis dan ekologis yang tidak mereka antisipasi. Johan Rockström dan para ilmuwan Planetary Boundaries mengajarkan kita tentang batas-batas fisik yang tidak dapat kita langgar. 34 Para pemikir dekolonial dan feminis, seperti yang diwakili dalam buku Incomputable Earth, mengingatkan kita bahwa solusi teknis seringkali membawa asumsi-asumsi tersembunyi tentang kekuasaan dan pengetahuan yang perlu dipertanyakan .
Seorang filsuf Muslim kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, telah lama menulis tentang krisis ekologis sebagai krisis spiritual. Dalam bukunya The Encounter of Man and Nature (1968), ia berargumen bahwa sekularisasi dan hilangnya dimensi sakral dalam hubungan manusia dengan alam adalah akar dari eksploitasi yang merusak. Ia menulis: “Manusia modern tidak melihat alam sebagai cerminan dari realitas ilahi, tetapi sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi untuk kepuasan keinginannya.” Pemulihan hubungan yang hormat dengan alam, dalam pandangan Nasr, membutuhkan pemulihan kesadaran spiritual.
Dari tradisi lain, penyair Jerman Friedrich Hölderlin, yang hidup pada pergantian abad ke-19, menulis dalam puisinya Patmos: “Wo aber Gefahr ist, wächst das Rettende auch.” — “Namun di mana bahaya berada, di situ pula tumbuh apa yang menyelamatkan.” Pada tahun 2026, bahaya belum pernah sebesar ini. Tetapi di dalam kesadaran akan bahaya itulah, benih-benih penyelamatan dapat tumbuh. Gerakan akar rumput, inovasi energi hijau, perubahan kebijakan, dan yang paling penting, transformasi etika untuk melihat diri kita bukan sebagai penguasa alam tetapi sebagai bagian dari alam—semua ini adalah tanda-tanda bahwa penyelamatan masih mungkin.
Seorang aktivis lingkungan yang pendiri Sokola Institute, program pendidikan bagi daerah terpencil di Indonesia, Butet Manurung, yang dikenal karena karyanya dengan masyarakat adat, pernah berkata: “Hutan tidak perlu manusia, tetapi manusia membutuhkan hutan. Kesombongan terbesar kita adalah berpikir bahwa kita bisa mengelola alam lebih baik daripada alam mengelola dirinya sendiri.” Pada tahun 2126, apakah anak cucu kita akan hidup di dunia di mana kita telah belajar merendahkan hati dan mendengarkan alam, atau di dunia di mana kesombongan kita telah menghancurkan fondasi kehidupan itu sendiri?
Jawabannya sedang kita tulis saat ini, dengan setiap kebijakan yang kita dukung, dengan setiap watt energi yang kita konsumsi, dengan setiap pilihan yang kita buat sebagai konsumen, sebagai warga negara, sebagai manusia. Seratus tahun adalah waktu yang lama, tetapi juga sangat singkat dalam skala geologis. Bumi akan bertahan, dengan atau tanpa kita. Pertanyaannya adalah: apakah peradaban manusia—dengan segala seni, sains, dan spiritualitasnya—akan masih ada pada tahun 2126 untuk merayakan seratus tahun lagi, atau akankah ia menjadi catatan kaki dalam sejarah geologi planet yang terluka ini?
Kita belum tahu. Namun, seperti yang dikatakan oleh penyair Taufiq Ismail dalam salah satu puisinya: “Aku memilih jalan ini, bukan karena aku tahu ujungnya, tetapi karena aku yakin akan arahnya.” Arahnya harus menuju keberlanjutan, keadilan, dan kehidupan. Tidak ada pilihan lain.
Antara Peluru dan Harapan
Kisah dari tahun 1926, 2026, dan 2126 mengajarkan kita satu hal: sejarah lingkungan bukanlah takdir yang tergariskan, tetapi rangkaian pilihan yang bertumpuk. Banjir di Malaya pada 1926 menunjukkan bahwa bencana alam seringkali merupakan bencana manusia yang tertunda. Era Antroposen mengajarkan bahwa kekuatan kita begitu besar sehingga kita dapat mengubah iklim planet dalam hitungan beberapa generasi.
Namun, seperti yang dikatakan oleh filsuf dan feminis Amerika, Donna Haraway, kita harus “tinggal dengan masalah” (stay with the trouble).35 Kita tidak bisa lari dari kenyataan, dan kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi ajaib untuk menyelamatkan kita. Jalan menuju tahun 2126 masih bisa kita pilih, meskipun pilihannya semakin sempit.
Kita bisa memetik hikmah dari penyair Jerman abad ke-19, Friedrich Hölderlin, yang puisinya sering dikutip dalam diskusi tentang krisis: “Wo aber Gefahr ist, wächst das Rettende auch.” (Namun di mana bahaya berada, di situ pula tumbuh apa yang menyelamatkan). Bahaya tahun 2026 adalah nyata dan mengerikan. Tetapi di dalam kesadaran akan bahaya itulah, benih-benih penyelamatan dapat tumbuh: dalam bentuk gerakan akar rumput, inovasi energi hijau, perubahan kebijakan global, dan yang paling penting, dalam transformasi etika kita untuk melihat diri kita bukan sebagai penguasa alam, tetapi sebagai bagian dari alam itu sendiri.
Pada tanggal 22 April 2026 kita sekali lagi merayakan Hari Bumi, apa yang akan kita lakukan? Dengan tema “Our Power, Our Planet” (Kekuatan Kita, Planet Kita), mau kemana kekuatan akan diarahkan?
Bogor, 20 April 2026
Daftar Pustaka
Crutzen, P. J. (2002). Geology of mankind. Nature, *415*(6867), 23. https://doi.org/10.1038/415023a
Crutzen, P. J. (2009, June 15). Can we survive the “anthropocene” period? WELT. https://www.welt.de/english-news/article3933164/Can-we-survive-the-anthropocene-period.html
Earle Williams, A. D. (2005). The drought of the century in the Amazon Basin: An analysis of the regional variation of rainfall in South America in 1926. Acta Amazonica, *35*(2). http://old.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0044-59672005000200013
Favretto, N., & Stringer, L. C. (2026). Evidence-based steps towards climate resilient development pathways: Insights across levels and sectors. Global Environmental Change, *87*. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959378026000191
Flint, K., McCurdy, M., & Nielsen, K. A. M. (2024, October 22). A new human epoch. The Huntington. https://www.huntington.org/verso/new-human-epoch
Ganopolski, A. (2025). Anthropocene. In Quaternary Climate Dynamics: Integrating Paleoclimate Data, Modeling and Theory (pp. 202–228). Cambridge University Press. https://www.cambridge.org/core/books/abs/quaternary-climate-dynamics/anthropocene/62749CDC21753143414991C7CE77E5FF
Kluiving, S. J., van der Linde, L., & Lont, J. (2026). Towards a multi- to inter- to transdisciplinary theory of the Anthropocene. EGU General Assembly 2026. https://doi.org/10.5194/egusphere-egu26-22330
Max Planck Institute for Biogeochemistry. (2026, April 8). Sustainability, collapse and oscillations in a simple World-Earth model. Biomedical Physics Group. https://www.bmp.ds.mpg.de/publication/item-2471957/
McNeill, J. R., & Engelke, P. (2014). The great acceleration: An environmental history of the Anthropocene since 1945. The Belknap Press of Harvard University Press. https://eresources.loc.gov/record=b4517432~S3
Nature Publishing Group. (2026). Incomputable Earth: Technology and the Anthropocene hypothesis. Bloomsbury Academic.
Rockström, J., & Richardson, K. (2026). Navigating humanity’s future on Earth. Vega Symposium 2026. https://ssag.se/english/vega-symposium/
Sustainability Directory. (2026). Long-term veto power. Term → Sustainability Directory. https://term.sustainability-directory.com/term/long-term-veto-power/
Sustainability for All. (n.d.). What will the world look like in 2100? The IPCC responds. Activesustainability.com. Retrieved April 17, 2026, from https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
Taylor, A. (2026, February 9). Differences in government support for private sector climate change adaptation in developing versus developed countries. npj Climate Action, *5*(20). https://www.nature.com/articles/s44168-026-00343-9
Williamson, F. (2016). The “great flood” of 1926: Environmental change and post-disaster management in British Malaya. Ecosystem Health and Sustainability, *2*(11). https://spj.science.org/doi/10.1002/ehs2.1248
1 Puisi ini berjudul Earth yang ditulis oleh Rabindranath Tagore. Puisi ini bukanlah kidung manis yang meromantisisasi alam. Tagore menyajikan Bumi dalam segala dualitasnya yang keras dan nyata: keindahan sekaligus kekejaman, pemberi kehidupan sekaligus penghancur.
Beberapa bait yang paling menggugah, terutama ketika kita membaca dalam konteks krisis lingkungan abad ke-21, adalah:
“Kau buat kepahlawanan sulit diraih;
Kau buat keunggulan mahal harganya;
Kau tak berbelas kasih pada mereka yang layak menerima belas kasih.”
Bait ini terasa seperti kritik pedas pada kondisi dunia saat ini, di mana upaya penyelamatan bumi harus dibayar mahal, sementara kerusakan terus berlanjut.
Dan pada bagian akhir, Tagore merendahkan hati:
“Hari ini aku berdiri di hadapanmu tanpa ilusi:
Aku tidak meminta di pintumu keabadian…”
Ada pengakuan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari perjalanan Bumi yang maha dahsyat—sebuah perspektif yang merendahkan hati, namun justru membebaskan.
Puisi ini sempurna untuk dibaca pada peringatan Hari Bumi, karena ia mengajak kita untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga merenungkan tanggung jawab kita di hadapan kekuatan alam yang tak terbantahkan.
Tagore, R. (2005). Selected Poems of Rabindranath Tagore (W. Radice, Ed. & Trans.). Penguin Group.
2 https://spj.science.org/doi/10.1002/ehs2.1248
3 https://agris.fao.org/search/zh/records/65de336f0f3e94b9e5cbd74c
4 https://www.oasisbr.ibict.br/vufind/Record/INPA-3_e3aaca9075fdd420bc4ddd51454b4412?lng=en
5 https://spj.science.org/doi/10.1002/ehs2.1248
6 Crutzen, P. J. (2002). Geology of mankind. Nature, 415(6867),23. https://doi.org/10.1038/415023a
7 https://www.welt.de/english-news/article3933164/Environment-Can-we-survive-the-anthropocene-period.html
8 Crutzen, P. J. (2002). Geology of mankind. Nature, 415(6867),23. https://doi.org/10.1038/415023a
9 https://www.oasisbr.ibict.br/vufind/Record/INPA-3_e3aaca9075fdd420bc4ddd51454b4412?lng=en
10 https://spj.science.org/doi/10.1002/ehs2.1248
11 https://agris.fao.org/search/zh/records/65de336f0f3e94b9e5cbd74c
12 https://www.huntington.org/watch-read-listen/verso/new-human-epoch
13 https://www.welt.de/english-news/article3933164/Environment-Can-we-survive-the-anthropocene-period.html
14 Crutzen, P. J. (2002). Geology of mankind. Nature, 415(6867), 23. https://doi.org/10.1038/415023a
15 https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
16 https://www.cambridge.org/core/books/abs/quaternary-climate-dynamics/anthropocene/62749CDC21753143414991C7CE77E5FF
17 https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
18 https://term.sustainability-directory.com/term/long-term-veto-power
19 https://term.sustainability-directory.com/term/long-term-veto-power
20 https://www.bmp.ds.mpg.de/publication/item-2471957
21 https://www.nature.com/articles/s44168-026-00343-9
22 https://bookline.hu/product/home.action?_v=Incomputable_Earth&type=200&id=6616430
23 https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959378026000191
24 https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
25 https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
26 https://www.activesustainability.com/climate-change/ipcc-inform-climate-change
27 https://www.bmp.ds.mpg.de/publication/item-2471957
28 https://term.sustainability-directory.com/term/long-term-veto-power
29 https://www.bmp.ds.mpg.de/publication/item-2471957
30 https://www.bmp.ds.mpg.de/publication/item-2471957
31 https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0959378026000191
32 https://meetingorganizer.copernicus.org/EGU26/EGU26-22330.html
33 https://preview-www.nature.com/articles/415023a
34 https://ssag.se/english/vega-symposium/
35 https://www.huntington.org/watch-read-listen/verso/new-human-epoch






