Sustainability 17A #69
Marayakan Parasmu: Empat Milyar Tahun Bumi
Dwi R. Muhtaman,
Sustainability Partner
“….. dan aku akan lebih tidak peduli
aku mau hidup seribu tahun lagi!”
Chairil Anwar, Aku.
Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima.
Langit berselaput awan cendawan berbisa.
Ketika memburai awan ini, bumi laksana ditimpa hujan
salju yang ganas.
Gedung-gedung beton runtuh.
Aspal-aspal jalan terbakar menyala.
Bumi retak-retak berdebu, di segala penjuru.
Dan beribu tubuh manusia meleleh, tewas atau terluka.
Seekor kuda paling binal,
berbulu putih dan berambut kuduk tergerai,
berlari di pusat kota,
Jakarta!
Tidak peduli pada yang ada,
sekelilingnya,
juga tidak pada manusia.
Dia meringkik alangkah dahsyatnya,
menapak dan menyepak alangkah merdekanya.
Dunia ini,
seolah cuma menjadi miliknya!
Dan sekaligus seolah dia
bicara:
— kalau sampai waktuku
kumau tak seorang ‘kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang —
Gaung suara ini
seolah membelah langit,
membelah bumi.
Membelah juga rel kereta api
di pinggir kota.
Akhirnya juga membelah
peron stasiun yang
berpagar kawat duri.
Tapi sang kuda binal
melompat tidak peduli.
Sepotong ujung kawat duri
menggores perut
menggores juga paha.
Darah segar menyembur keluar.
Membuat noktah-noktah merah,
di bulunya yang putih.
Tapi dia cuma menengadah ke udara,
dan meringkik lagi:
— biar peluru menembus kulitku
aku akan meradang menerjang
luka dan bisa kubawa berlari,
berlari
hingga hilang pedih perih…. –
Sampai juga sang kuda melayang
di atas gerbong kereta dan gubuk-gubuk liar, gerbong dan gubuk
busuk, milik perempuan-perempuan berdaki.
Meneteslah darah segar,
ketika kuda melayang di atas sana.
Dan jatuh menimpa sebuah wajah dari:
Lelaki kurus berambut panjang,
bermata cekung tapi tajam,
berdada telanjang dan kurus bertulang-tulang.
Tapi dialah lelaki resah,
berwajah gelisah dan mata merah.
Lelaki yang baru saja keluar dari pintu reyot
sebuah gubuk yang basah.
Lelaki itu terkejut seketika,
memandang langit sambil mengusap mukanya.
Dia cuma menemukan langit kosong
di ujung-ujung atap gubuk yang menyesak.
Langit yang kerut-merut tanpa cahaya.
Sedang di kejauhan,
mash tinggal tersisa
sepotong ringkikan sang kuda:
— dan aku akan lebih tidak peduli
aku mau hidup seribu tahun lagi! –
Lelaki ini masih tegak di sana
di antara gubuk-gubuk rombeng
dan gerbong-gerbong kereta yang alangkah mesumnya.
Di atas tanah becek dan bersampah.
Lelaki ini masih menatap langit
seperti semula,
dengan hati masih resah
dan mata merah.
Wajah dan mata yang ini,
tiba-tiba tampil berlipat ganda.
Mula-mula satu,
kemudian dua,
tiga,
sampai menjadi enam memenuhi ruang.
Sesudah itu diam tiba-tiba, seolah mati,
beku.
Maka,
pada saat yang ini
timbul di permukaan ruang sebuah judul:
a k u
Langit pun lantas pelan-pelan menghitam
gelap di mana-mana.
***
Teks itu saya kutip dari skrips skenario film yang rencana akan dibuat. Adegan-adegan film yang tergambar dalam skenario ini tak sempat diwujudkan oleh sang penulis sekaligus sutradara, Sjumandjaya. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair besar yang dikaguminya, Chairil Anwar, bagi para penikmat sinema tak pernah direalisasikan. Namun, tak dapat disangkal bahwa skenario ini merupakan salah satu karya terpenting Sjumandjaya yang menempatkannya di jajaran para seniman besar Indonesia.1
Teks ini, seperti tertulis pada paragraf pertama, mengambil inspirasi dari bencana peradaban paling mengerikan dalam sejarah manusia modern: Bom Nuklir yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat ke Kota Nagasaki dan Hiroshima, Jepang.
Buku Aku sejatinya adalah sebuah biografi, meski tidak biasa. Kutipan atas buku Aku ini dimaksudkan untuk membayangkan semangat “Si Binatang Jalang” yang ingin hidup seribu tahun lagi–masa yang bagi bumi dan manusia yang menghidupi pasti akan menghadapi berbagai tantangan antargenerasi yang luar biasa.
***
Kita saat ini ada di Bumi, sebuah planet yang berusia empat milyar tahun. Aku berdiri di sini. Di Bumi. Parasku dan paras Bumi bertemu. Binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Debu yang berserakan.
“The face you see in the mirror may be decades old, but it is made of elements formed billions of years ago in ancient stars” (Wajah atau paras yang Anda lihat di cermin mungkin baru berusia beberapa dekade, tetapi ia terbuat dari unsur-unsur yang terbentuk miliaran tahun yang lalu di bintang-bintang kuno).
Di sini Anda berdiri. Di bawah kaki Anda ada tanah, di atas kepala Anda ada langit, dan di sekeliling Anda ada kehidupan yang begitu rumit sehingga tak pernah habis untuk dikagumi. Namun, pernahkah Anda bertanya: bagaimana semua ini bisa ada? Bagaimana planet yang dulunya hanya segumpal batu panas dan beracun ini berubah menjadi taman yang menghijau, dipenuhi dengan makhluk yang bernapas, bergerak, dan berpikir—termasuk Anda yang sedang membaca kalimat ini?
Inilah undangan yang dilontarkan oleh Andrew H. Knoll, seorang ahli geologi ternama dari Universitas Harvard, dalam bukunya yang berjudul A Brief History of Earth: Four Billion Years in Eight Chapters. 2 3
Buku tipis ini, yang oleh Booklist disebut sebagai “kronik agung planet kita,” bukanlah sekadar tumpukan fakta tentang batuan dan fosil.4 Ini adalah sebuah biografi—sebuah kisah tentang rumah kita, Bumi, yang penuh dengan tikungan plot yang lebih mendebarkan daripada film laga mana pun.5 6
Sebuah Undangan
Bayangkan sebuah tebing curam di pinggir laut. Lapisan-lapisan batuan terlihat jelas, seperti halaman-halaman buku yang terbuka. Itulah yang dilihat oleh Knoll setiap kali ia melakukan riset lapangan.
Baginya, tebing itu adalah “perpustakaan alam,” dan batuan adalah volume-volume usang yang mencatat sejarah planet ini sejak awal mulanya.7
Knoll tidak langsung melemparkan Anda ke dalam jurang waktu 4,6 miliar tahun yang lalu. Ia memulainya dengan sebuah pertanyaan reflektif tentang apa yang kita pijak saat ini. “Kemungkinannya,” tulisnya, “tempat Anda berdiri saat ini dulunya pernah mendidih di bawah lautan lava yang bergolak, dihancurkan oleh lapisan es yang menjulang, diguncang oleh hantaman meteor, atau mungkin dicekik oleh gas beracun, tenggelam di dasar samudra, bertengger di puncak pegunungan, atau dijelajahi oleh monster-monster mengerikan.” 8 9
“Earth writes its history with one hand and erases it with the other, and as we go further back in time, erasure gains the upper hand” (Bumi menulis sejarahnya dengan satu tangan dan menghapusnya dengan tangan yang lain, dan semakin kita mundur ke masa lalu, penghapusan semakin mendominasi).
Di sinilah Knoll menunjukkan kedalaman waktu geologis (deep time). Kita terbiasa berpikir dalam skala tahun, dekade, atau abad. Namun, untuk memahami Bumi, kita harus belajar berpikir dalam skala miliaran tahun. Ini adalah perspektif yang merendahkan hati sekaligus membebaskan.
Merendahkan hati karena kita menyadari bahwa peradaban manusia hanyalah sekejap mata dalam napas panjang Bumi. Membebaskan karena kita mulai melihat pola-pola besar: bagaimana bencana—letusan gunung berapi raksasa, tumbukan asteroid—telah mengubah arah evolusi, memusnahkan yang dominan dan memberi ruang bagi yang baru.
Dengan undangan ini, Knoll mengajak kita untuk melangkah masuk ke dalam perpustakaan alam tersebut, memulai perjalanan dari awal mula segalanya: dari debu bintang hingga menjadi daging, dari lautan purba hingga kota metropolitan. “Kita akan melestarikan apa yang kita cintai, mencintai apa yang kita pahami, dan memahami apa yang kita pelajari,” tulisnya.10 Dan prolog ini adalah langkah pertama untuk memahami.
Knoll dengan cemerlang membagi perjalanan 4,6 miliar tahun ini menjadi delapan bab yang tematik, bukan sekadar kronologis, delapan bab perjalanan yang menembus waktu. Ia me-mulainya dari yang paling dasar: kimia.
1. Bumi Kimiawi (Chemical Earth). Pada bab ini, Knoll menjelaskan bagaimana Bumi terbentuk dari piringan debu dan gas di sekitar matahari muda. Pada masa-masa awal, Bumi adalah neraka yang cair. Namun secara perlahan, ia mendingin. Lapisan-lapisannya terpisah: inti besi yang padat, mantel batuan cair, dan kerak tipis tempat kita berpijak. Knoll mengutip baris puisinya sendiri: “Wajah yang Anda lihat di cermin mungkin baru berusia beberapa dekade, tetapi ia terbuat dari unsur-unsur yang terbentuk miliaran tahun yang lalu di bintang-bintang kuno.” Ini adalah fondasi: tanpa karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen yang datang dari ledakan bintang, kita tidak akan pernah ada.
2. Bumi Fisik (Physical Earth). Dari komposisi kimia, ia beralih ke mesin penggerak planet: tektonik lempeng. Benua tidak diam; mereka mengapung, bertabrakan, dan terbelah. Knoll menjelaskan bagaimana proses fisik ini—gunung yang terangkat, lempeng yang menunjam—mengatur siklus karbon jangka panjang. Ketika batuan basalt terpapar udara, ia bereaksi dengan CO2, menarik gas rumah kaca dari atmosfer dan menyimpannya di dasar laut. Inilah termostat alami Bumi yang bekerja dalam skala jutaan tahun.
3. Bumi Biologis (Biological Earth). Di sinilah kehidupan masuk ke dalam panggung. Knoll, seorang ahli paleontologi, membawa kita menyelam ke samudra purba. Kehidupan pertama bukanlah ikan atau dinosaurus, melainkan mikroba sederhana yang tidak memiliki inti sel (prokariota). Ia menjelaskan bagaimana kehidupan mungkin muncul dari “sup primordial” di ventilasi hidrotermal dasar laut.
4. Bumi Oksigen (Oxygen Earth). Ini adalah titik balik terbesar dalam sejarah planet kita. Sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, sekelompok mikroba kecil yang disebut cyanobacteria menemukan trik revolusioner: fotosintesis yang menghasilkan oksigen . Oksigen adalah racun bagi banyak organisme anaerobik yang dominan saat itu. Terjadilah “Bencana Oksigen” atau Great Oxidation Event. Namun, oksigen juga merupakan sumber energi yang jauh lebih efisien. Dengan oksigen, sel-sel dapat berevolusi menjadi lebih besar, lebih kompleks, dan pada akhirnya, membentuk organisme multiseluler.
5. Bumi Hewan (Animal Earth). Dengan oksigen yang cukup, kehidupan meledak dalam peristiwa yang dikenal sebagai Cambrian Explosion (sekitar 541 juta tahun lalu). Tiba-tiba, nenek moyang dari hampir semua kelompok hewan modern muncul di catatan fosil: trilobita, moluska, dan makhluk aneh lainnya. Knoll membawa kita berjalan di dasar laut purba, tempat makhluk-makhluk ini “berdesir, menggali, dan memangsa” untuk pertama kalinya .
6. Bumi Hijau (Green Earth). Tanaman mengubah segalanya. Knoll menjelaskan bagaimana tumbuhan darat pertama, yang masih primitif, kemudian berevolusi menjadi hutan-hutan raksasa di era Karbon. Pohon-pohon ini menyerap CO2 dalam jumlah besar, mengubur karbon dalam gambut yang jutaan tahun kemudian berubah menjadi batu bara. Inilah asal muasal bahan bakar fosil yang menjadi momok di abad ke-21.
7. Bumi Bencana (Catastrophic Earth). Ini adalah bab yang paling gelap namun paling penting untuk dipahami. Knoll tidak hanya berfokus pada asteroid yang membunuh dinosaurus. Ia mengajak kita melihat empat kepunahan massal lainnya yang lebih dahsyat, terutama Kepunahan Permian-Trias (The Great Dying) 252 juta tahun lalu, di mana 90% kehidupan laut musnah . Penyebabnya? Bukan asteroid, melainkan letusan gunung berapi super di Siberia yang melepaskan CO2 dalam jumlah luar biasa. Akibatnya, Bumi memanas secara drastis, laut kehilangan oksigen dan menjadi asam. “Trio pembunuh” ini—pemanasan, pengasaman, dan deoksigenasi—mengulang kembali sejarah di abad ke-21, namun kali ini dalangnya bukan gunung berapi, melainkan manusia .
8. Bumi Manusia (Human Earth). Tibalah kita di bab terakhir, yang paling pendek namun paling berat. Knoll menyebut periode kita saat ini sebagai Antroposen—zaman di mana satu spesies, Homo sapiens, menjadi kekuatan geologis yang dominan. Dalam sekejap mata geologis, kita telah melepaskan karbon yang terkubur selama jutaan tahun kembali ke atmosfer. Knoll menyajikan data yang dingin namun menusuk: “Pada abad ke-21, manusia menyumbangkan 100 kali lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer daripada semua gunung berapi di dunia jika digabungkan.” Ia membandingkan situasi ini dengan kepunahan Permian. Polanya sama. Bedanya, di masa lalu, Bumi butuh ribuan tahun untuk pulih. Kini, perubahan terjadi dalam hitungan dekade. “Jika Anda berusia dua puluh tahun,” peringat Knoll, “kita sedang membicarakan perubahan besar dalam masa hidup Anda; jika Anda berusia enam puluh tahun, itu adalah dunia yang akan dihadapi cucu Anda.”
Di tengah berita tentang kebakaran hutan, banjir bandang, dan rekor suhu terpanas, membaca A Brief History of Earth terasa seperti membaca lembaran diagnosis dari seorang dokter yang jujur. Knoll tidak menakut-nakuti secara berlebihan; ia hanya menyajikan fakta geologis. Namun, fakta itu lebih menakutkan dari fiksi mana pun.
Buku ini sangat relevan karena ia menghancurkan ilusi “normalitas.” Kita sering menganggap bahwa iklim dan kondisi Bumi saat ini adalah sesuatu yang permanen. Knoll menunjukkan bahwa perubahan adalah satu-satunya konstanta. “Tidak ada perubahan” adalah skenario yang paling tidak mungkin terjadi di abad ini. Kesadaran ini penting untuk perencanaan bisnis jangka panjang.
Knoll mengajarkan bahwa ketahanan (resilience) adalah kunci keberlangsungan hidup. Spesies yang bertahan saat kepunahan massal bukanlah yang terkuat, tetapi yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan kimia laut dan atmosfer. Dalam konteks bisnis, ini berarti perusahaan harus meninggalkan model linier (ambil-buat-buang) dan beralih ke model sirkular. Jika Bumi menjalankan sistem daur ulang karbon selama miliaran tahun, mengapa bisnis kita tidak bisa melakukan hal yang sama?
Knoll juga mengingatkan bahwa aksi kolektif adalah satu-satunya jalan. Ia mencatat dengan getir bahwa meskipun ilmuwan seperti Roger Revelle telah memperingatkan tentang bahaya CO2 sejak tahun 1957, respons manusia hingga saat ini “sangat tidak memadai.” Bagi para pemimpin bisnis, ini adalah peringatan bahwa greenwashing atau proyek karbon yang hanya bersifat kosmetik tidak akan cukup. Kita membutuhkan transformasi fundamental, bukan hanya karena itu baik untuk PR, tetapi karena itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan pasar (dan umat manusia) masih ada 100 tahun lagi.
Bukan Warisan, Melainkan Tanggung Jawab
Buku ini ditutup dengan sebuah adegan yang kontras. Knoll membayangkan seekor mammoth berbulu yang berdiri teguh di dataran dingin zaman es, dan seekor dinosaurus yang berjalan di hutan purba. “Dulu itu adalah dunia mereka, dan sekarang ini adalah dunia Anda,” tulisnya. “Perbedaan antara kita dan dinosaurus, tentu saja, adalah bahwa Anda dapat memahami masa lalu dan membayangkan masa depan,” tulis Knoll. “Dunia yang Anda warisi bukan hanya milik Anda, itu adalah tanggung jawab Anda. Apa yang terjadi selanjutnya terserah pada Anda” .
A Brief History of Earth bukanlah bacaan yang menenangkan. Ia adalah alarm yang berbunyi keras. Namun, di tengah kegelisahan itu, ada secercah harapan. Karena dengan memahami kisah batu, air, dan napas selama empat miliar tahun terakhir, kita—hanya dalam satu generasi ini—memiliki kesempatan untuk memastikan bahwa bab selanjutnya dari biografi planet ini tidak berakhir sebagai tragedi, melainkan sebagai bab kebangkitan kesadaran.
Andrew H. Knoll, seorang ahli geologi dari Universitas Harvard, setiap kali ia melakukan riset lapangan, ia lapisan-lapisan batuan terpampang jelas di hadapannya, seperti halaman-halaman buku raksasa yang terbuka.
Mari kita renungkan dan baca sekali lagi.
Baginya, tebing itu adalah sebuah perpustakaan, dan ia adalah seorang pustakawan yang mencoba membaca cerita yang tertulis dalam bahasa batu, mineral, dan fosil. Empat bab pertama dari A Brief History of Earth—Chemical Earth, Physical Earth, Biological Earth, dan Oxygen Earth—adalah catatan dari babak-babak awal drama terbesar yang pernah ada: bagaimana sebuah bola batu panas dan beracun berubah menjadi planet biru yang bernapas.
Perjalanan ini dimulai dari sesuatu yang sangat kecil dan sangat jauh. Knoll mengajak kita untuk melompat mundur 4,6 miliar tahun, ke saat Bumi belum terbentuk. Yang ada hanyalah awan debu dan gas yang berputar mengelilingi matahari muda. Secara perlahan, gravitasi menyatukan debu-debu itu. Tabrakan demi tabrakan terjadi, panas akibat benturan mengakibatkan Bumi muda menjadi lautan lava yang mendidih. Ini adalah Bumi Kimiawi.
Pada masa ini, tidak ada samudra, tidak ada daratan, yang ada hanyalah diferensiasi elementer. Besi yang berat tenggelam ke pusat membentuk inti planet, sementara silikat yang lebih ringan naik ke permukaan membentuk kerak purba. Knoll menulis dengan puitis, “Wajah yang Anda lihat di cermin mungkin baru berusia beberapa dekade, tetapi ia terbuat dari unsur-unsur yang terbentuk miliaran tahun yang lalu di bintang-bintang kuno” . Tubuh kita, dengan kata lain, adalah debu bintang yang telah belajar untuk berpikir. Karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen—semua bahan dasar kehidupan ini tidak lahir di Bumi, melainkan dikirim oleh bintang-bintang yang meledak di kejauhan.
Dari komposisi kimia, Knoll kemudian beralih ke mesin penggerak planet: Bumi Fisik. Setelah kerak mulai mengeras, planet kita tidak menjadi diam. Ia justru hidup dengan gerakan yang dahsyat. Inti besi yang panas menciptakan medan magnet yang melindungi atmosfer dari angin matahari yang mematikan. Sementara itu, panas dari dalam bumi mendorong lempeng-lempeng kerak untuk bergerak—sebuah proses yang disebut tektonik lempeng. Lempeng-lempeng ini bertabrakan, menciptakan gunung; mereka saling menjauh, membuka dasar samudra. Knoll menjelaskan bahwa tektonik lempeng adalah termostat alami Bumi.
Ketika batuan basalt terpapar udara, ia bereaksi dengan karbon dioksida, menarik gas rumah kaca dari atmosfer dan menyimpannya di dasar laut. Dalam skala jutaan tahun, siklus ini menjaga suhu Bumi tetap stabil, tidak terlalu panas seperti Venus dan tidak terlalu dingin seperti Mars. Inilah fondasi fisik yang memungkinkan kehidupan memiliki panggung untuk bermain.
Namun, untuk waktu yang sangat lama, panggung itu kosong. Kemudian, sekitar 3,8 miliar tahun yang lalu, terjadilah keajaiban. Di dasar samudra yang gelap, di sekitar ventilasi hidrotermal yang menyemburkan air panas kaya mineral, atau mungkin di kolam-kolam dangkal yang terkena sinar ultraviolet, molekul-molekul mulai mengatur dirinya sendiri. Lahirlah kehidupan pertama: makhluk bersel satu yang sangat sederhana, tidak memiliki inti sel, yang disebut prokariota. Inilah awal dari Bumi Biologis.
Knoll menggambarkan periode ini sebagai “dunia mikroba” yang berlangsung selama miliaran tahun. Bukan dinosaurus atau tumbuhan raksasa yang mendominasi, melainkan lapisan-lapisan lendir mikroba yang disebut stromatolit. Kehidupan ini tidak mengubah dunia secara dramatis, ia hanya bertahan, bereproduksi, dan perlahan-lahan mengubah kimiawi lautan.
Sampai akhirnya, sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu, sebuah revolusi senyap terjadi. Sekelompok mikroba kecil yang disebut cyanobacteria menemukan trik yang cerdik: mereka belajar menggunakan sinar matahari untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Hidrogen mereka gunakan untuk membuat makanan, dan oksigen mereka buang sebagai limbah. Pada awalnya, oksigen ini diserap oleh besi yang larut di lautan, menyebabkan lautan berkarat dan membentuk formasi besi-berselang (banded iron formations) yang masih kita tambang hingga saat ini.
Namun, setelah besi di lautan habis, oksigen mulai menumpuk di atmosfer. Inilah yang disebut sebagai Bumi Oksigen, atau Great Oxidation Event. Bagi kita yang membutuhkan oksigen untuk bernapas, ini adalah kabar baik. Namun bagi sebagian besar kehidupan saat itu, oksigen adalah racun yang mematikan. Knoll menyebut periode ini sebagai “bencana oksigen.” Kepunahan massal pertama dalam sejarah Bumi terjadi, menghabisi sebagian besar organisme anaerobik yang tidak dapat beradaptasi.
Namun, seperti yang selalu terjadi dalam sejarah Bumi, bencana bagi satu kelompok adalah peluang bagi kelompok lain. Oksigen adalah sumber energi yang jauh lebih efisien. Dengan adanya oksigen di atmosfer, sel-sel dapat berevolusi menjadi lebih besar dan lebih kompleks. Mereka mulai memiliki inti sel (eukariota). Mereka mulai bergabung, membentuk organisme multiseluler.
Panggung sudah disiapkan, pencahayaan sudah diatur, dan napas pertama sudah terhirup. Dunia tidak akan pernah sama lagi. Dari debu bintang, dari gerakan lempeng yang tak kenal lelah, dari kumpulan lendir mikroba, dan dari racun yang berubah menjadi napas—kita sedang berjalan menuju ledakan kehidupan yang akan mengubah segalanya. Dan itu, seperti yang akan diceritakan Knoll di bab-bab berikutnya, adalah awal dari kisah kita.
Babak Terakhir Sejarah Bumi
Setelah miliaran tahun didominasi oleh mikroba dan ganggang sederhana, panggung kehidupan akhirnya siap untuk para aktor yang lebih kompleks. Andrew H. Knoll, dalam empat bab terakhir bukunya, membawa kita menyaksikan ledakan kreativitas evolusioner yang tak terduga, kehijauan yang mengubah atmosfer, bencana yang menghancurkan hampir segalanya, dan pada akhirnya, kemunculan spesies paling aneh yang pernah ada: manusia yang sadar akan dirinya sendiri.
Perjalanan ini dimulai sekitar 541 juta tahun yang lalu, pada sebuah periode yang disebut para ahli geologi sebagai Kambrium. Sebelum era ini, dasar lautan terasa sunyi. Namun tiba-tiba, dalam rentang waktu yang relatif singkat (dalam skala geologis), hampir semua kelompok hewan utama yang kita kenal saat ini muncul di catatan fosil. Knoll menyebut ini sebagai “Animal Earth.”
Trilobita dengan mata majemuk yang canggih merangkak di dasar laut. Makhluk aneh seperti Anomalocaris, predator puncak dengan mata bertangkai dan mulut melingkar bergerigi, berenang di air. Knoll menggambarkan periode ini dengan penuh kekaguman: “Bagi mata yang tidak terlatih, lanskap Kambrium akan tampak asing, bahkan mengancam. Namun di situlah nenek moyang kita—makhluk kecil seperti cacing yang bersembunyi di lumpur—berjuang untuk bertahan hidup.”
Ledakan Kambrium terjadi karena kombinasi faktor: kadar oksigen di atmosfer telah mencapai tingkat kritis, dan predator telah berevolusi, menciptakan perlombaan senjata evolusioner yang memacu keragaman bentuk.
Namun, kehidupan di laut hanyalah babak pertama. Babak berikutnya, “Green Earth” , adalah tentang bagaimana kehidupan merangkak ke darat. Dimulai dari ganggang hijau yang hidup di tepian air, kemudian tumbuhan sederhana seperti lumut, hingga akhirnya hutan-hutan raksasa muncul pada periode Devon dan Karbon. Knoll menjelaskan bahwa invasi tumbuhan ke darat adalah salah satu peristiwa paling transformatif dalam sejarah Bumi. Akar-akar pohon mulai melapukkan batuan, menciptakan tanah.
Proses fotosintesis tumbuhan menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, menurunkan efek rumah kaca secara drastis, dan memicu zaman es di akhir periode Karbon. Lebih penting lagi, bangkai pohon-pohon di hutan rawa purba tidak terurai sempurna karena belum ada mikroba yang mampu mencerna lignin. Bangkai ini terkubur, dan selama jutaan tahun, tekanan serta panas mengubahnya menjadi batu bara. “Setiap kali Anda menyalakan lampu atau menstarter mobil,” tulis Knoll, “Anda membakar hutan purba yang tumbuh 300 juta tahun yang lalu” .
Tumbuhan membawa oksigen, yang memungkinkan hewan darat berevolusi menjadi raksasa. Periode Mesozoikum adalah era reptil, termasuk dinosaurus yang kita kenal. Namun, semua kejayaan itu berakhir dengan tiba-tiba. Pada bab “Catastrophic Earth” , Knoll mengajak kita menghadapi sisi tergelap sejarah planet kita. Bumi tidak hanya berubah secara perlahan; ia kadang-kadang dihantam oleh kekacauan yang tiba-tiba dan dahsyat.
Ada lima kepunahan massal dalam sejarah, dan Knoll secara khusus menyoroti dua yang paling ekstrem. Pertama adalah Kepunahan Permian-Trias (The Great Dying) 252 juta tahun lalu, di mana 90% kehidupan laut dan 70% kehidupan darat musnah. Penyebabnya bukan asteroid, melainkan letusan gunung berapi super di Siberia yang berlangsung selama satu juta tahun. Lava yang keluar bukan hanya membakar segalanya, tetapi juga melepaskan karbon dioksida dan metana dalam jumlah luar biasa. Akibatnya, Bumi memanas secara drastis, laut kehilangan oksigen (menjadi zona mati), dan air laut menjadi asam karena menyerap CO2. “Trio pembunuh ini—pemanasan, deoksigenasi, dan pengasaman—adalah formula yang sama yang kita aktifkan saat ini,” peringat Knoll.
“That’s right, the trio of killers set in motion by end-Permian volcanism will return in force during the twenty-first century. It’s already begun” (Itu benar, trio pembunuh yang dipicu oleh letusan gunung berapi di akhir zaman Permian akan kembali dengan kuat selama abad ke-21. Ini sudah dimulai).
Kepunahan besar kedua adalah yang lebih populer: asteroid yang menghantam Bumi 66 juta tahun lalu, mengakhiri masa kekuasaan dinosaurus (kecuali nenek moyang burung). Sebuah batu seukuran gunung menabrak Semenanjung Yucatan, menciptakan kawah Chicxulub. Debu dan jelaga menutupi matahari selama bertahun-tahun, menyebabkan musim dingin global yang menghancurkan fotosintesis. Dinosaurus punah, tetapi mamalia kecil yang bersembunyi di liang-liang selamat. “Keberuntungan bagi kita,” tulis Knoll ironis, “bahwa dinosaurus tidak memiliki rencana darurat” .
Ini membawa kita ke bab terakhir, “Human Earth.” Dibandingkan dengan bab-bab sebelumnya yang membentang miliaran tahun, bab ini sangat pendek—sebuah pengakuan jujur bahwa dominasi manusia di Bumi baru berlangsung sekejap mata. Namun dalam sekejap itu, kita telah mengubah planet ini secara fundamental. Knoll menyebut periode kita saat ini sebagai Antroposen—zaman manusia.
Kita telah melepaskan karbon yang terkubur selama 300 juta tahun (batu bara, minyak, gas) kembali ke atmosfer hanya dalam hitungan beberapa generasi. Knoll membandingkannya dengan letusan gunung berapi di Siberia yang menyebabkan The Great Dying: “Pada abad ke-21, manusia menyumbangkan 100 kali lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer daripada semua gunung berapi di dunia jika digabungkan” .
Lebih mengkhawatirkan, pola yang terjadi saat ini—pemanasan global, pengasaman laut, hilangnya oksigen di lautan—adalah pola yang sama persis dengan yang terjadi sebelum kepunahan massal di masa lalu. Knoll tidak meramalkan kiamat besok pagi, tetapi ia memperingatkan bahwa kita sedang bermain api. “Jika Anda berusia dua puluh tahun,” tulisnya, “kita sedang membicarakan perubahan besar dalam masa hidup Anda; jika Anda berusia enam puluh tahun, itu adalah dunia yang akan dihadapi cucu Anda.”
Namun, di akhir buku yang gelap ini, Knoll menyisakan secercah harapan. Perbedaan antara kita dan dinosaurus adalah bahwa kita dapat membaca buku sejarah. Kita dapat melihat peringatan yang tertulis dalam batu. Kita memiliki kesempatan, meskipun sempit, untuk mengubah arah. “Dunia yang Anda warisi bukan hanya milik Anda, itu adalah tanggung jawab Anda,” tulisnya di paragraf penutup . “Apa yang terjadi selanjutnya terserah pada Anda” .
Dari mata majemuk trilobita di lautan Kambrium, dari akar-akar pohon yang menciptakan tanah pertama, dari abu gunung berapi Siberia yang memusnahkan 90% kehidupan, hingga kesadaran manusia yang melihat ke bintang dan ke dalam dirinya sendiri—itulah kisah Bumi. Dan bab selanjutnya, untuk pertama kalinya dalam 4,6 miliar tahun, sedang ditulis oleh salah satu ciptaannya sendiri.
Hari Bumi 2026: “Our Power, Our Planet” dan Kesempatan Terakhir untuk Bertindak
Setiap tahun pada tanggal 22 April, dunia memperingati Hari Bumi. Namun, peringatan pada tahun 2026 ini terasa berbeda. Ia tidak lagi sekadar seremoni tahunan atau ajang foto bersama dengan latar belakang pepohonan. Ia adalah sebuah seruan yang membawa getaran yang lebih dalam, lebih mendesak, dan lebih penuh makna. Tema yang diusung oleh Earth Day Network tahun ini adalah “Our Power, Our Planet“ (Kekuatan Kita, Planet Kita). 11 12 13
Tema ini bukan sekadar slogan yang indah. Ia adalah cermin yang memantulkan realitas pahit bahwa kita berada di titik kritis. Kita tidak bisa lagi menunggu perintah dari atas atau berharap pada janji-janji politik yang tak kunjung tiba. Kekuatan untuk menyelamatkan planet ini, menurut tema tersebut, tidak bergantung pada satu pemerintahan atau kebijakan tertentu, tetapi pada tindakan sehari-hari dari komunitas, pendidik, pekerja, dan keluarga yang melindungi tempat tinggal dan ruang hidup mereka.14 15
Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus jujur mengakui kondisi bumi saat ini. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan bahwa iklim bumi “lebih tidak seimbang daripada waktu mana pun dalam sejarah yang tercatat.”16 Periode 11 tahun dari 2015 hingga 2025 tercatat sebagai periode terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1850 . Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, bahkan menyatakan bahwa iklim global berada dalam “keadaan darurat” . “Planet Bumi didorong melampaui batasnya,” katanya, “setiap indikator iklim utama bersinar merah.” 17
Planet kita kehilangan 10 juta hektar hutan setiap tahun—area yang lebih luas dari Islandia—dan sekitar satu juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah . Ini adalah fakta-fakta yang tidak bisa kita abaikan. Inilah latar belakang mengapa Hari Bumi 2026 menjadi begitu penting.
Makna “Our Power, Our Planet“: Kembali ke Akar Kekuatan
Tema ini mengajak kita untuk merenungkan satu pertanyaan mendasar: di manakah letak kekuatan sejati untuk menyelamatkan bumi? Selama ini, kita mungkin terlalu sering menggantungkan harapan pada negosiasi tingkat tinggi, pada pertemuan-pertemuan COP yang berlarut-larut, atau pada janji-janji para pemimpin dunia untuk mengurangi emisi. Namun, kenyataannya, banyak dari janji itu hanya tinggal janji. Pada Januari 2026, Amerika Serikat, penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia, justru menarik diri dari Perjanjian Paris. 18
Tema “Our Power, Our Planet” hadir sebagai sebuah jawaban. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan sebenarnya ada di tangan kita—masyarakat sipil, komunitas lokal, individu-individu yang peduli. Ia menekankan bahwa kemajuan dalam perlindungan lingkungan tidak bergantung pada satu pemerintahan atau pemilu tertentu, tetapi dipertahankan oleh tindakan sehari-hari dari komunitas, pendidik, pekerja, dan keluarga yang melindungi tempat tinggal dan ruang hidup mereka. 19
Earth Day Network menjelaskan bahwa tema ini mencerminkan peran masyarakat dan komunitas di seluruh dunia dalam mempertahankan perlindungan lingkungan yang memengaruhi biaya hidup, kesehatan masyarakat, keandalan infrastruktur, dan stabilitas jangka panjang.20 Dengan kata lain, ketika pemerintah goyah atau gagal bertindak, masyarakatlah yang harus mengambil alih kendali.
Dalam momen yang penuh makna ini, setiap pemangku kepentingan—pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan individu—memiliki peran krusial yang tidak bisa diwakilkan. Berikut adalah analisis tentang apa yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak sebagai bagian dari perayaan dan perjuangan Hari Bumi 2026.
1. Untuk Pemerintah: Dari Retorika Menuju Aksi Nyata dan Akuntabilitas
Tantangan terbesar bagi pemerintah saat ini adalah kredibilitas. Rakyat sudah lelah dengan janji-janji kosong. Pemerintah harus berani mengambil langkah-langkah konkret yang mungkin tidak populer di kalangan industri berat, tetapi sangat penting untuk masa depan.
Pemerintah harus segera menghentikan semua subsidi untuk bahan bakar fosil dan mengalihkannya ke energi terbarukan yang lebih bersih dan terjangkau. Mereka harus menetapkan target pengurangan emisi yang ambisius dan, yang lebih penting, mengikatnya dalam hukum yang memiliki sanksi tegas bagi pelanggar.
Selain itu, mereka harus memfasilitasi, bukan menghambat, gerakan akar rumput. Seperti yang disampaikan Ilyas Assaad, Deputi Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup, peran pemerintah adalah sebagai fasilitator, sementara masyarakatlah yang bertindak.21
Pemerintah juga harus serius dalam penegakan hukum lingkungan. Banyak kerusakan lingkungan terjadi karena lemahnya pengawasan dan ringannya hukuman bagi korporasi yang mencemari. Hari Bumi 2026 harus menjadi momentum untuk membersihkan birokrasi dari kepentingan-kepentingan yang merusak alam.
2. Untuk Sektor Swasta dan Korporasi: Akhiri Eksploitasi, Mulai Regenerasi
Sektor swasta adalah salah satu aktor terbesar dalam kerusakan planet, tetapi ia juga memiliki potensi terbesar untuk menjadi bagian dari solusi. Tidak cukup lagi hanya melakukan greenwashing atau proyek karbon yang hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain.
Korporasi harus secara radikal mengubah model bisnis mereka dari ekstraktif menjadi regeneratif. Artinya, mereka tidak hanya berhenti merusak, tetapi juga aktif memulihkan ekosistem yang telah mereka rusak. Mereka harus menerapkan prinsip ekonomi sirkular di mana limbah tidak ada, dan setiap produk dirancang untuk dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dikembalikan ke alam dengan aman.
Lebih dari itu, mereka harus transparan mengenai rantai pasok mereka. Tidak ada lagi eksploitasi tersembunyi di negara berkembang di mana limbah beracun dibuang dan masyarakat adat diusir dari tanah mereka untuk proyek “hijau” seperti penanaman pohon untuk kompensasi karbon. Korporasi harus memastikan bahwa upaya mereka menuju netralitas karbon tidak dilakukan dengan mengorbankan hak asasi manusia dan keanekaragaman hayati di belahan dunia lain.
3. Untuk Masyarakat Sipil dan Komunitas Lokal: Kekuatan yang Sebenarnya
Di sinilah inti dari tema “Our Power, Our Planet” bersinar paling terang. Earth Day Network telah mencatat ribuan aksi yang direncanakan di lebih dari 180 negara untuk menyambut Hari Bumi 2026.22 Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi pasif.
Masyarakat dapat melakukan berbagai tindakan nyata. Mulai dari aksi demonstrasi damai dan pawai untuk menekan pengambil kebijakan, bergabung dalam The Great Global Cleanup untuk membersihkan lingkungan dari sampah plastik, hingga menyelenggarakan teach-ins di sekolah-sekolah dan universitas untuk meningkatkan literasi iklim. 23 24 Seperti yang dilakukan oleh MNC Peduli di Indonesia, mengedukasi anak-anak sekolah dasar tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengajak mereka membuat tanaman vertikal dari barang bekas adalah langkah kecil yang sangat berarti.25
Komunitas lokal juga bisa menjadi pelopor dalam membangun ketahanan pangan melalui pertanian perkotaan, menginisiasi bank sampah, atau membangun pembangkit listrik tenaga surya komunal. Seperti yang dikatakan oleh Khairudin, Ketua Tani Lingkungan Hidup Sanggabuana, siapa yang ingin mengerjakan harus bertindak langsung, jangan hanya melalui omongan, karena alam ini bukan warisan tetapi titipan anak cucu .
4. Untuk Individu: Perubahan Gaya Hidup dan Kesadaran Sehari-hari
Tidak bisa dipungkiri, perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Setiap individu memiliki “kekuatan” untuk memilih. Memilih untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai, memilih transportasi umum atau bersepeda, memilih produk lokal yang tidak menggunakan kemasan berlebihan, mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan.
Ini adalah bentuk nyata dari Our Power. Ketika jutaan individu membuat pilihan yang sama, ia menciptakan gelombang perubahan yang tidak bisa diabaikan oleh pasar dan pemerintah. Para ahli lingkungan mendorong perubahan perilaku ramah lingkungan seperti membatasi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang dan memilih teknologi yang ramah lingkungan .
Portal Menuju Masa Depan
Peringatan Hari Bumi pada 22 April 2026 bukanlah sekadar seremoni. Ia adalah sebuah seruan untuk bangun dari tidur panjang kita. Ia adalah pengakuan bahwa meskipun kita mungkin kecewa dengan kegagalan diplomasi global dan kerakusan sistem ekonomi, kita tidak boleh kehilangan harapan.
Seperti yang dikatakan oleh Arundhati Roy, krisis adalah sebuah portal, sebuah gerbang menuju dunia baru. Kita bisa memilih untuk tetap berada di sisi portal yang lama—di mana kita hanya menjadi penonton yang pasif, atau kita bisa melangkah melewatinya. Di sisi lain portal itu, ada dunia di mana komunitas lokal memegang kendali atas sumber daya mereka, di mana energi bersih bukanlah komoditas mahal, di mana keadilan iklim bukanlah mimpi.
Tema “Our Power, Our Planet” adalah peta menuju sisi portal itu. Ia mengingatkan kita bahwa dalam setiap tetes keringat relawan yang membersihkan pantai, dalam setiap suara demonstran yang menuntut keadilan, dalam setiap pilihan sadar seorang ibu rumah tangga untuk membawa tas belanja sendiri—di situlah kekuatan sejati berada. Kekuatan untuk menyelamatkan rumah kita bersama. Kekuatan kita. Planet kita.
Mari kita jadikan Hari Bumi 2026 bukan sebagai peringatan terakhir yang sia-sia, tetapi sebagai langkah pertama dari babak baru sejarah manusia yang lebih bijaksana, lebih adil, dan lebih hidup berdampingan dengan alam.
Waktunya adalah sekarang.
Bogor, 22 April 2026
Daftar Pustaka
Canadian Jesuits International. (2026, April 9). Earth Day 2026: Our responsibility to protect our common home. https://www.canadianjesuitsinternational.ca/earth-day-2026-our-responsibility-to-protect-our-common-home/
detikNews. (2026, April 18). Hari Bumi 22 April 2026, Simak Makna Tema dan Cara Merayakannya. https://news.detik.com/berita/d-8449831/hari-bumi-22-april-2026-simak-makna-tema-dan-cara-merayakannya
EARTHDAY.ORG. (2026, February 3). Decoding Earth Day 2026: Our Power, Our Planet. https://www.earthday.org/decoding-earth-day-2026-our-power-our-planet/
EARTHDAY.ORG. (2026). Earth Day 2026 | Theme, Activities, Events & Resources. https://www.earthday.org/earth-day-2026/
EARTHDAY.ORG. (2026, March 24). EARTHDAY.ORG Tracking Nationwide, Globe-Spanning Actions in Face of Historic Environmental Attacks. https://www.earthday.org/press-release/tracking-historic-environmental-attacks/
Freile, V. E. (2026, April 17). When is Earth Day 2026? Here’s the date this year and what it means. Democrat and Chronicle. https://www.democratandchronicle.com/story/news/2026/04/17/when-is-earth-day-2026-date-what-it-means/89642233007/
iNews.ID. (2026, April 18). Peringati Hari Bumi, MNC Peduli Edukasi Lingkungan ke Siswa SD. https://www.inews.id/news/nasional/peringati-hari-bumi-mnc-peduli-edukasi-lingkungan-ke-siswa-sd
Kidd, K. (2023, December 27). Review of A Brief History of Earth. The Denver Post.
Kirkus Reviews. (2021). Review of A Brief History of Earth.
Knoll, A. H. (2021). A brief history of earth: four billion years in eight chapters. Custom House.
Shaw, J. (2021, April 6). Andrew Knoll on the planet’s past—and fraught future. Harvard Magazine. https://www.harvardmagazine.com/2021/04/montage-andrew-knoll
Tribunsumsel.com. (2026, April 17). Sejarah Hari Bumi Internasional Diperingati 22 April 2026, Angkat Tema: Our Power Our Planet. https://sumsel.tribunnews.com/lifestyle/1013954/sejarah-hari-bumi-internasional-diperingati-22-april-2026-angkat-tema-our-power-our-planet
1 Sjumandjaya, 1987. Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair: Chairil Anwar. Grafiti Pers.
2 https://www.harvardmagazine.com/2021/04/montage-andrew-knoll
3 https://science.fas.harvard.edu/event/harvard-science-book-talk-andrew-knoll-earth
4 https://www.kpl.gov/catalog/item/?i=ent://ERC_215_348/0/215_348:OVERDRIVE:8e5d7db8-ea84-4860-b427-029cca91d946
5 https://www.kpl.gov/catalog/item/?i=ent://ERC_215_348/0/215_348:OVERDRIVE:8e5d7db8-ea84-4860-b427-029cca91d946
6 https://titlepeek.follettsoftware.com/title-details.html?isbn=9780062853912&customerNumber=3101175
7 https://www.harvardmagazine.com/2021/04/montage-andrew-knoll
8 https://www.kpl.gov/catalog/item/?i=ent://ERC_215_348/0/215_348:OVERDRIVE:8e5d7db8-ea84-4860-b427-029cca91d946
9 https://titlepeek.follettsoftware.com/title-details.html?isbn=9780062853912&customerNumber=3101175
10 https://www.goodreads.com/author/quotes/101034.Andrew_H_Knoll
11 detikNews. (2026, April 18). Hari Bumi 22 April 2026, Simak Makna Tema dan Cara Merayakannya. https://news.detik.com/berita/d-8449831/hari-bumi-22-april-2026-simak-makna-tema-dan-cara-merayakannya
12 Freile, V. E. (2026, April 17). When is Earth Day 2026? Here’s the date this year and what it means. Democrat and Chronicle. https://www.democratandchronicle.com/story/news/2026/04/17/when-is-earth-day-2026-date-what-it-means/89642233007/
13 EARTHDAY.ORG. (2026, February 3). Decoding Earth Day 2026: Our Power, Our Planet. https://www.earthday.org/decoding-earth-day-2026-our-power-our-planet/
14 detikNews. (2026, April 18). Hari Bumi 22 April 2026, Simak Makna Tema dan Cara Merayakannya. https://news.detik.com/berita/d-8449831/hari-bumi-22-april-2026-simak-makna-tema-dan-cara-merayakannya
15 EARTHDAY.ORG. (2026). Earth Day 2026 | Theme, Activities, Events & Resources. https://www.earthday.org/earth-day-2026/
16 Canadian Jesuits International. (2026, April 9). Earth Day 2026: Our responsibility to protect our common home. https://www.canadianjesuitsinternational.ca/earth-day-2026-our-responsibility-to-protect-our-common-home/
17 Canadian Jesuits International. (2026, April 9). Earth Day 2026: Our responsibility to protect our common home. https://www.canadianjesuitsinternational.ca/earth-day-2026-our-responsibility-to-protect-our-common-home/
18 Canadian Jesuits International. (2026, April 9). Earth Day 2026: Our responsibility to protect our common home. https://www.canadianjesuitsinternational.ca/earth-day-2026-our-responsibility-to-protect-our-common-home/
19 EARTHDAY.ORG. (2026). Earth Day 2026 | Theme, Activities, Events & Resources. https://www.earthday.org/earth-day-2026/
20 EARTHDAY.ORG. (2026, February 3). Decoding Earth Day 2026: Our Power, Our Planet. https://www.earthday.org/decoding-earth-day-2026-our-power-our-planet/
21 https://beritalingkungan.com/saatnya-menerapkan-perilaku-ramah-lingkungan/#content
22 EARTHDAY.ORG. (2026, March 24). EARTHDAY.ORG Tracking Nationwide, Globe-Spanning Actions in Face of Historic Environmental Attacks. https://www.earthday.org/press-release/tracking-historic-environmental-attacks/
23 EARTHDAY.ORG. (2026, February 3). Decoding Earth Day 2026: Our Power, Our Planet. https://www.earthday.org/decoding-earth-day-2026-our-power-our-planet/
24 EARTHDAY.ORG. (2026, March 24). EARTHDAY.ORG Tracking Nationwide, Globe-Spanning Actions in Face of Historic Environmental Attacks. https://www.earthday.org/press-release/tracking-historic-environmental-attacks/
25 iNews.ID. (2026, April 18). Peringati Hari Bumi, MNC Peduli Edukasi Lingkungan ke Siswa SD. https://www.inews.id/news/nasional/peringati-hari-bumi-mnc-peduli-edukasi-lingkungan-ke-siswa-sd






