Rubarubu #234
The Guinness Guide to Bicycling:
Kebebasan di Atas Dua Roda
Pada suatu waktu ada sebuah buku tebal bersampul keras. Terbit pada tahun 1977, ketika dunia masih bergairah dengan krisis minyak dan gelombang bersepeda melanda Eropa dan Amerika. The Guinness Guide to Bicycling karya Jean Durry, yang diterjemahkan dari edisi Prancisnya Le Vélo, hadir bukan sekadar sebagai kumpulan fakta dingin tentang rekor—ia adalah sebuah perayaan atas semangat manusia yang mengayuh melawan batas. Buku ini seperti merekam perjalanan sepeda dalam rekor dan sejarah, lalu menemukan kembali jiwanya di era kecepatan saat ini.
Dengan pengantar dari J.B. Wadley dan diterbitkan oleh rumah yang sama dengan Guinness World Records, buku ini mengajak pembaca menjelajahi sepeda dari perspektif yang unik: bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi sebagai arena prestasi, inovasi teknik, dan tentu saja, rekor-rekor yang mencengangkan. Di dalam 218 halamannya yang penuh ilustrasi warna, Durry merangkum esensi kompetisi manusia yang diwujudkan dalam dua roda.
Saat seorang pembaca pertama kali membuka The Guinness Guide to Bicycling, ia tidak langsung dihadapkan pada deretan angka rekor atau tabel statistik yang kering. Sebaliknya, buku ini mengawali perjalanannya dengan sebuah gerbang yang hangat: Editor’s Foreword dan Preface, yang kemudian mengalir secara alami ke bagian pertama yang diberi judul penuh semangat, “Part I: Freedom on Two Wheels.”
Dalam Editor’s Foreword, J.B. Wadley, sang editor, menyapa pembaca dengan nada yang antusias namun tetap berwibawa—sebuah ciri khas dari publikasi Guinness Superlatives yang saat itu sudah terkenal dengan buku rekor dunianya. Wadley menjelaskan bahwa buku ini bukan sekadar katalog prestasi; ia adalah upaya untuk mendokumentasikan “semangat abadi dari sepeda dan para pengendaranya” di seluruh dunia. Preface yang mengikuti kemudian berfungsi sebagai jembatan antara misi Guinness sebagai pencatat rekor dan hasrat Durry sebagai sejarawan sepeda.
Di sini, Durry menegaskan bahwa bersepeda adalah fenomena unik: ia adalah alat transportasi paling efisien yang pernah diciptakan manusia, sekaligus arena kompetisi yang paling demokratis. Tidak seperti olahraga lain yang membutuhkan fasilitas mahal, sepeda hanya membutuhkan dua roda dan kemauan untuk bergerak.
Memasuki sub-bagian pertama, “A hundred years ago…”, Durry mengajak kita melakukan lompatan waktu yang dramatis. Ia melukiskan suasana akhir abad ke-19, ketika sepeda—dalam bentuk velocipede dengan roda depan besar—pertama kali mengguncang dunia. Ini adalah era ketika sepeda bukan lagi sekadar mainan orang kaya, tetapi telah menjadi alat mobilitas massal pertama yang benar-benar independen dari kuda. Durry menyoroti bagaimana pada periode ini, sepeda secara radikal mengubah peta sosial Eropa dan Amerika. Anak muda dapat bepergian keluar kota tanpa perlu menunggu kereta atau kereta kuda. Perempuan, yang sebelumnya terkurung dalam batasan ruang gerak yang ketat, menemukan kebebasan baru di atas sadel—sebuah fenomena yang kemudian dikenal sebagai “pembebasan dari korset,” baik secara harfiah maupun metaforis.
Buku ini mencatat bahwa pabrik-pabrik sepeda bermunculan seperti jamur di Prancis, Inggris, dan Amerika, memicu industri baru yang akan menjadi cikal bakal industri otomotif beberapa dekade kemudian.
Bagian “Freedom” adalah jantung filosofis dari bab pembuka ini. Durry dengan indah mengupas konsep bahwa sepeda menawarkan jenis kebebasan yang unik—kebebasan yang dihasilkan oleh tenaga otot sendiri, tanpa bahan bakar, tanpa ketergantungan pada jadwal orang lain. Ketika seseorang mengayuh sepeda, ia tidak hanya bergerak di ruang fisik; ia juga bergerak menuju otonomi. Durry menggambarkan sensasi angin yang menerpa wajah, suara ban di aspal, dan perasaan bahwa dunia terbuka luas untuk dijelajahi—semua dengan kecepatan yang tepat untuk benar-benar melihat.
Buku ini tidak malu-malu merayakan aspek romantis dari bersepeda, sebuah nada yang terasa menyegarkan di tengah literatur teknis tentang lalu lintas dan infrastruktur. Namun, Durry tidak naif; ia juga mencatat tantangan awal para pesepeda: jalanan yang rusak, ejekan dari pengendara kuda, dan kurangnya aturan lalu lintas yang jelas. Kebebasan, bagaimanapun menariknya, selalu datang dengan harga.
Sub-bagian terakhir dari Part I, “Races and champions”, mengubah nada dari kontemplatif menjadi epik. Di sinilah Durry mulai melakukan apa yang paling ia kuasai: menceritakan kisah para pria dan wanita yang mendorong sepeda hingga batas kemampuannya. Durry membawa kita menyaksikan kelahiran balapan sepeda sebagai tontonan massal—dari balapan jalanan yang kacau di pedesaan Prancis hingga velodrome megah yang dipenuhi ribuan penonton. Kita diperkenalkan pada nama-nama awal yang menjadi fondasi olahraga ini: para pionir yang rela menempuh ratusan kilometer dengan sepeda berat tanpa ban karet, yang jatuh dan bangkit lagi di jalanan berbatu.
Buku ini mendokumentasikan bagaimana balapan sepeda berevolusi dari sekadar adu cepat antara teman menjadi ajang profesional dengan hadiah besar, sponsor, dan politik internal tim yang rumit. Lebih penting lagi, Durry menyoroti bagaimana kejuaraan-kejuaraan awal ini menciptakan pahlawan rakyat—para pembalap yang berasal dari latar belakang pekerja dan menjadi simbol bahwa dengan kaki dan tekad, seseorang bisa melampaui takdirnya.
Ketiga sub-bagian Part I ini bersama-sama membangun fondasi yang kokoh untuk seluruh buku. Mereka memperkenalkan sepeda bukan sebagai benda mati, tetapi sebagai karakter hidup dalam drama manusia: ia adalah mesin kebebasan, saksi sejarah, dan panggung bagi kepahlawanan. Dari Editor’s Foreword yang ramah hingga kisah para juara pertama, Durry berhasil membuat pembaca jatuh cinta pada sepeda sebelum ia mulai membahas angka-angka rekor yang menjadi ciri khas Guinness.
Dari Pilihan Rakit Sendiri hingga Petualangan Tanpa Akhir
Setelah merayakan kebebasan dan kejayaan para juara di bagian pertama, Jean Durry mengajak pembaca menyelam lebih dalam ke realitas sehari-hari bersepeda melalui Part II, III, dan IV. Jika bagian awal buku adalah tentang “mengapa” kita bersepeda, maka tiga bagian berikutnya ini adalah tentang “bagaimana”—mulai dari memilih kuda besi yang tepat, menaklukkan jalan terbuka, hingga merawat kecintaan yang tak pernah pudar terhadap dua roda. Seluruh bagian ini, sebagaimana dicatat dalam katalog perpustakaan, diterbitkan dalam edisi mewah penuh ilustrasi warna yang membuat setiap halaman terasa hidup. Durry tidak sekadar menulis; ia mengundang pembaca untuk melihat, merasakan, dan membayangkan dirinya berada di setiap adegan yang ia lukiskan.
Part II yang berjudul “The Whole Gamut of Cycling” membuka dengan sub-bagian “Every man his bike”. Di sini, Durry dengan cemerlang menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis sepeda pun yang cocok untuk semua orang. Ia menggambarkan keragaman sepeda yang ada di pasaran pada tahun 1970-an: dari sepeda balap ramping dengan stang turun yang membungkukkan badan pengendaranya, hingga sepeda kota yang kokoh dan nyaman dengan posisi duduk tegak.
Yang membuat bagian ini begitu hidup adalah caranya mendeskripsikan proses pemilihan sepeda sebagai sebuah hubungan personal. Durry seolah berkata: sepeda bukan alat mati; ia adalah perpanjangan tubuh pengendaranya.
Ia menulis tentang bagaimana tinggi badan, kekuatan otot, tujuan perjalanan, bahkan temperamen seseorang harus dipertimbangkan saat memilih sepeda—sebuah filosofi yang terasa sangat maju untuk zamannya, karena menempatkan pengendara, bukan spesifikasi teknis, sebagai pusat pertimbangan.
Selanjutnya, sub-bagian “Bicycles for all” memperluas cakrawala. Durry menunjukkan bahwa sepeda bukanlah hak istimewa kaum elit olahraga. Ia mendokumentasikan sepeda lipat untuk komuter kota, sepeda tandem untuk pasangan, sepeda kecil untuk anak-anak, dan bahkan sepeda yang dirancang khusus untuk penyandang disabilitas. Ada nuansa egalitarian yang kuat di sini: setiap orang, terlepas dari usia, ukuran tubuh, atau kemampuan fisik, berhak atas kebebasan dua roda. Bagian ini diakhiri dengan sub-bagian yang provokatif: “To have or not to have”.
Durry mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: apakah seseorang benar-benar perlu memiliki sepeda? Ataukah cukup menyewa atau meminjam? Ia mengeksplorasi naik turunnya popularitas sepeda sebagai barang kepemilikan, mencatat bahwa pada masa kejayaan sepeda di awal abad ke-20, hampir setiap rumah tangga Eropa memiliki setidaknya satu sepeda. Namun, ia juga mengamati bagaimana gelombang motorisasi pasca-Perang Dunia II membuat banyak sepeda teronggok di gudang, berkarat, menunggu untuk “dihidupkan kembali”. Durry sepertinya meramalkan kebangkitan sepeda yang akan terjadi pada akhir 1970-an, berfokus pada krisis energi dan kesadaran lingkungan.
Part III, “The Adventure”, adalah bagian yang paling epik dan mendebarkan. Sub-bagian “On the open road” membawa pembaca keluar dari kota yang ramai ke jalanan pedesaan yang berkelok. Durry melukiskan sensasi perjalanan jarak jauh—rasa lelah yang memberdayakan, temuan tak terduga di tikungan berikutnya, dan komunitas sesama pengelana yang terbentuk secara spontan di pinggir jalan. Ada romantisme yang kuat dalam tulisan Durry di sini, namun tidak pernah jatuh ke dalam klise murahan. Ia menulis tentang hujan yang membasahi, angin sakal yang melelahkan, dan tanjakan yang terasa tak berujung. Ini adalah petualangan yang jujur—ia tidak menyembunyikan penderitaan, tetapi justru merayakannya sebagai bagian dari pengalaman, karena rasa sakit yang diatasi adalah bahan bakar paling otentik untuk kenangan yang tak terlupakan.
Bagian “The realm of the dropped handlebars” adalah penghormatan khusus bagi para pembalap dan penggemar sepeda balap. Stang turun (dropped handlebars) adalah simbol dari dunia yang berbeda—dunia di mana aerodinamika adalah segalanya, di mana postur membungkuk bukanlah ketidaknyamanan tetapi sebuah strategi untuk melawan angin. Durry membawa pembaca ke dalam pikiran seorang pembalap saat melesat menuruni bukit dengan kecepatan 80 km per jam, atau saat menyerang di tanjakan curam. Ini adalah psikologi kecepatan, ketakutan yang dikelola menjadi fokus, dan hasrat untuk mengalahkan—baik lawan maupun diri sendiri.
Durry juga mencatat bahwa realm ini tidak hanya untuk para profesional. Banyak pengendara biasa yang memilih stang turun karena memberikan lebih banyak posisi tangan, mengurangi kelelahan di perjalanan panjang, dan—jujur saja—karena terlihat keren. Bagian ini adalah jembatan antara olahraga elit dan rekreasi populer, menunjukkan bahwa semangat petualangan yang sama mengalir dalam diri seorang pembalap Tour de France dan seorang pengacara kota yang bersepeda ke kantor di akhir pekan.
Part IV, “They Just Keep on Riding”, adalah penutup yang hangat dan penuh semangat. Sub-bagian “What to wear” mungkin terdengar seperti panduan mode yang dangkal, tetapi Durry mengangkatnya menjadi diskusi tentang fungsi, keselamatan, dan identitas. Ia menulis tentang pakaian yang membuat pengendara terlihat di jalan—warna-warna cerah, reflektor, dan helm yang mulai diperkenalkan. Di tahun 1977, budaya helm bersepeda masih dalam tahap awal, dan tulisan Durry tentang perlengkapan ini memberikan jendela ke bagaimana kesadaran keselamatan mulai tumbuh.
Namun yang lebih menarik, Durry juga menulis tentang “pakaian sebagai pernyataan”. Seragam pesepeda—kaos ketat dengan logo, sepatu dengan cleat, sarung tangan tanpa jari—adalah bahasa visual yang mengatakan “saya serius tentang ini”. Ini adalah cara pengendara untuk mengenali satu sama lain di jalan, untuk merasa menjadi bagian dari sebuah persaudaraan tanpa harus berbicara.
Bagian terakhir, “Long live the bicycle”, adalah himne kemenangan. Durry merangkum seluruh pesan bukunya di sini: bahwa sepeda bukanlah fosil dari masa lalu yang akan punah ditelan mobil dan motor. Sepeda adalah mesin abadi, terus berevolusi, terus menemukan generasi baru penggemar. Ia menulis dengan optimisme yang hampir kenabian. Pada tahun 1977, dunia sedang dilanda krisis minyak; di Eropa dan Amerika, orang-orang kembali melirik sepeda bukan karena nostalgia, tetapi karena kebutuhan dan kesadaran lingkungan. Durry menangkap momen ini dengan sempurna, meramalkan bahwa sepeda akan terus hidup—bukan sebagai pilihan kedua yang inferior, tetapi sebagai pilihan pertama bagi mereka yang menghargai kebebasan, kesehatan, dan kemandirian. Ia menutup bagian ini dengan seruan yang sederhana namun kuat: “Panjang umur sepeda.” Bukan karena teknologi tinggi, bukan karena kecepatan maksimal, tetapi karena apa yang diwakilinya—sebuah cara untuk bergerak yang membuat kita tetap manusia.
Menembus Batas: Ketika Fisika Menantang Manusia
Salah satu bagian terpenting dari buku ini adalah eksplorasinya tentang rekor kecepatan—sebuah tema yang hingga kini terus memikat imajinasi. Buku Durry mengabadikan momen-momen ketika para pria dan wanita berani menantang hambatan angin dan keterbatasan otot. Bayangkan ketegangan seorang pembalap yang melesat di velodrome, mencoba memecahkan Hour Record, lomba paling prestisius dalam sejarah bersepeda karena kesederhanaannya yang brutal: seberapa jauh Anda bisa mengayuh dalam satu jam? Lebih dari sekadar angka, buku ini bercerita tentang obsesi. Rekor-rekor yang didokumentasikan Durry pada zamannya menunjukkan evolusi teknologi: dari sepeda baja berat hingga rangka ringan, dari ban lebar hingga aerodinamika yang dihitung cermat. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia terus-menerus menolak menerima batas yang diberikan alam.
Durry juga mengajak kita menelusuri batas-batas eksentrik sepeda di luar balap profesional—mendokumentasikan mesin-mesin gila: sepeda terpanjang yang membutuhkan tim untuk mengendarainya, sepeda tertinggi yang goyang, hingga desain aneh yang tampaknya mustahil untuk dikayuh. Bagian ini, yang terasa seperti katalog keajaiban dunia kecil, mengingatkan kita bahwa semangat bersepeda juga mengandung unsur permainan dan kejenakaan—aspek yang sering terlupakan di tengah seriusnya pembahasan lalu lintas dan mobilitas.
Kita yang membaca buku ini hampir lima dekade kemudian, di tengah hiruk-pikuk mobil listrik dan skuter sewaan, dapat membenarkan kata-kata Durry: sepeda memang masih hidup, dan mungkin lebih relevan dari sebelumnya. Semangat pencatatan rekor yang dijaga ketat oleh Guinness ini masih hidup hingga saat ini. Fakta bahwa hingga 2024, para pembalap seperti Filippo Ganna (56,792 km) dan Vittoria Bussi (50,267 km) terus memecahkan rekor satu jam membuktikan bahwa buku Durry bukanlah “buku lama” yang usang, melainkan sebuah titik awal dari sebuah perjalanan panjang prestasi manusia.
Dalam konteks saat ini, perjalanan fisik mengelilingi bumi dalam 80 hari seperti impian Jules Verne telah terlampaui oleh para pesepeda modern. Namun, semangat yang sama—untuk menjelajah, untuk mandiri, untuk mengandalkan tenaga sendiri—tetap menjadi jantung dari gerakan slow living dan perjalanan jarak jauh kontemporer.
Di era 2024, dunia berlomba menciptakan mobilitas yang lebih canggih: dari kendaraan listrik hingga otonom. Godaan kecepatan dan kemudahan “tanpa usaha” begitu kuat—dunia yang haus dengan kecepatan. Namun, ironisnya, justru di tengah gegap gempita ini, sepeda kayuh sederhana kembali naik daun. Bukan sebagai alat ketinggalan zaman, melainkan sebagai obat atas rasa teralienasi dalam kemacetan. Bersepeda adalah jawaban atas slow living, sebuah protes halus terhadap ritme hidup yang terlalu cepat.
Namun, jalannya tidak mulus. Sebagaimana diulas Bruce D. Epperson dalam karyanya Bicycles in American Highway Planning (2014), menjadikan sepeda sebagai moda transportasi yang layak membutuhkan perang kebijakan yang panjang. Dunia saat ini dihadapkan pada tantangan mobilitas tanpa henti: bagaimana menyandingkan sepeda dengan truk, bus, dan mobil listrik yang senyap? Bagaimana membuat kebijakan publik yang tidak hanya “ramah sepeda” di atas kertas, tetapi benar-benar aman secara fisik?
Di sinilah letak hikmah dari buku Durry. Ketika kita membaca tentang rekor kecepatan 296 km/jam yang dicapai Denise Mueller-Korenek pada 2018 dengan bantuan slipstream mobil, kita melihat potensi fisik yang luar biasa. Namun, potensi itu tidak akan pernah terwujud di jalan raya yang semrawut.
Cerita tentang rekor juga secara implisit adalah cerita tentang lingkungan yang terkendali—tentang velodrome yang mulus, jalan lurus di Utah, atau lintasan tanpa hambatan. Pelajaran untuk dunia nyata: untuk mengajak masyarakat umum kembali ke sepeda, kita tidak perlu menciptakan kondisi rekor dunia. Kita hanya perlu menciptakan rasa aman. Seperti dikatakan seorang aktivis lingkungan asal Indonesia, “Kota yang baik bukanlah kota yang cepat bagi mobil, tetapi kota yang nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda.” Buku Durry mengingatkan kita bahwa mesin (manusia) sudah siap; yang sering kurang adalah infrastruktur dan kemauan politik.
Catatan Akhir: Kutipan untuk Renungan
Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, pernah berkata, “Most men pursue pleasure with such breathless haste that they hurry past it”—kebanyakan orang mengejar kesenangan dengan tergesa-gesa sehingga mereka terburu-buru melewatinya. Sepeda mengajarkan kita untuk menikmati perjalanan. Jean Durry, dalam bukunya, sepertinya setuju—setiap rekor yang ditulisnya bukan hanya tentang garis akhir, tetapi tentang perjalanan menuju garis akhir itu.
Sementara itu, penyair dan seniman asal Inggris, William Blake, menyatakan, “Energy is eternal delight”—energi adalah kebahagiaan abadi. Melihat foto-foto pembalap di buku Durry atau mendengar cerita para pesepeda modern yang melintasi benua, kita menyaksikan energi murni itu: kebahagiaan yang dihasilkan dari otot, keringat, dan angin yang menerpa wajah.
The Guinness Guide to Bicycling (1977) adalah lebih dari sekadar jurnal rekor usang. Ia adalah sebuah arsip tentang gairah manusia terhadap mesin paling sempurna yang pernah diciptakan: sepeda. Di tengah isu perubahan iklim, kemacetan global, dan epidemi gaya hidup sedentari, kembali ke sepeda sejatinya adalah kembali ke akar kesehatan dan keberlanjutan. Dunia tidak perlu menunggu penemuan mobil terbang untuk menyelamatkan lingkungan. Solusinya, seperti yang diisyaratkan oleh buku ini melalui rayuan pada prestasi manusiawi, sudah ada di bawah kita—bergantung pada dua roda, menunggu untuk dikayuh.
Cirebon, 15 Juli 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Durry, J. (1977). The Guinness guide to bicycling (J. B. Wadley, Ed.). Guinness Superlatives.
Epperson, B. D. (2014). Bicycles in American highway planning: The critical years of policy-making, 1969–1991. McFarland & Company.
Wikipedia. (n.d.). List of cycling records. Retrieved May 11, 2026, from https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_cycling_records
The Star. (2024, June 18). Amazing record-setting bicycles. https://www.thestar.com.my/lifestyle/living/2024/06/18/amazing-record-setting-bicycles
Yahoo Sports. (2024, May 30). Bigger, faster, farther: Amazing record-setting bicycles. https://sports.yahoo.com/bigger-faster-farther-amazing-record-141339248.html






