Rubarubu #235
The Age of Extremes:
Tiga Zaman yang Membentuk Dunia
Dalam sejarah panjang peradaban manusia, abad kedua puluh adalah sebuah anomali yang mengguncang keyakinan akan kemajuan itu sendiri. Eric Hobsbawm, seorang sejarawan yang hidupnya nyaris sepanjang abad itu, menulis sebuah magnum opus yang ia beri judul The Age of Extremes: The Short Twentieth Century, 1914–1991 . Baginya, abad ini bukanlah rentang waktu seratus tahun seperti kalender biasa, melainkan sebuah “abad singkat” yang dibatasi oleh dua peristiwa besar: pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 dan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 . Di antara dua titik ekstrem itulah terhampar kisah tentang puncak pencapaian manusia dan sekaligus jurang kehancuran terendahnya.
Hobsbawm membagi narasi besarnya menjadi tiga bagian yang saling bertautan, seperti babak-babak dalam sebuah tragedi besar. Babak pertama adalah Zaman Bencana (The Age of Catastrophe), yang membentang dari 1914 hingga 1945 . Ini adalah masa ketika dunia terjebak dalam perang dan persiapan perang yang tak henti. Dua perang dunia, yang pertama di parit-parit lumpur yang dipenuhi tikus dan kutu, dan yang kedua dengan skala kehancuran yang tak terbayangkan, menjadi bukti sisi gelap kemajuan material dan ilmiah manusia . Depresi Besar melumpuhkan ekonomi global, sementara fascisme dan komunisme muncul sebagai ideologi-ideologi yang saling bertarung memperebutkan jiwa umat manusia. Hobsbawm menggambar-kan era ini sebagai masa ketika dunia lama runtuh dan belum ada yang pasti tentang apa yang akan menggantikannya.
Namun, dari puing-puing kehancuran itulah lahir sebuah kejutan: Zaman Keemasan (The Golden Age), yang berlangsung dari 1945 hingga 1973 . Ini adalah periode yang disebut orang Prancis sebagai les trente glorieuses, tiga puluh tahun yang penuh kemakmuran. Di negara-negara kapitalis maju, standar hidup melonjak drastis. Barang-barang yang dulu mewah kini menjadi konsumsi massa. Sistem kesejahteraan (welfare state) dibangun, dan ada keyakinan bahwa kemajuan ekonomi akan terus berlanjut tanpa hambatan.
Zaman Keemasan yang Mengubah Dunia
Eric Hobsbawm menyebut periode antara berakhirnya Perang Dunia II hingga sekitar awal 1970-an sebagai The Golden Age—masa ketika dunia mengalami pertumbuhan ekonomi tercepat dalam sejarah manusia. Namun, di balik istilah “zaman keemasan” itu, Hobsbawm tidak sedang merayakan sebuah kemenangan mutlak. Ia justru mengajak pembaca melihat paradoks besar: masa paling makmur dalam sejarah modern ternyata sekaligus melahirkan perubahan sosial dan budaya yang begitu radikal sehingga mengubah wajah peradaban secara permanen.
Menurut Hobsbawm, keberhasilan ekonomi pascaperang tidak dapat dipisahkan dari konfigurasi politik global yang lahir setelah 1945.
Negara-negara industri Barat membangun sistem ekonomi yang menggabungkan kapitalisme dengan intervensi negara melalui kebijakan kesejahteraan, investasi publik, perlindungan tenaga kerja, dan perluasan pendidikan. Di sisi lain, blok sosialis di bawah Uni Soviet menciptakan model pembangunan yang berbeda tetapi sama-sama mengandalkan negara sebagai motor transformasi ekonomi. Persaingan antara dua sistem ini, menurut Hobsbawm, justru menghasilkan insentif bagi keduanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Dalam suasana kemakmuran inilah revolusi sosial berlangsung hampir tanpa disadari. Hobsbawm menunjukkan bahwa perubahan terbesar bukan sekadar kenaikan pendapatan, melainkan perubahan struktur masyarakat itu sendiri. Dunia petani yang selama ribuan tahun menjadi fondasi peradaban mulai menghilang.
Urbanisasi berlangsung sangat cepat. Jutaan orang meninggalkan desa menuju kota, sementara sektor industri dan jasa menggantikan pertanian sebagai pusat kehidupan ekonomi. Perubahan ini tidak hanya mengubah pekerjaan manusia, tetapi juga cara manusia memahami dirinya. Keluarga besar perlahan tergantikan oleh keluarga inti. Ikatan komunal melemah, sementara individu menjadi semakin mandiri dari struktur tradisional seperti keluarga besar, agama, atau komunitas lokal. Mobilitas sosial meningkat, pendidikan menjadi jauh lebih terbuka, dan generasi muda memperoleh kesempatan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya.
Dalam pembacaan Hobsbawm, revolusi sosial tersebut merupakan salah satu perubahan antropologis terbesar sejak Revolusi Neolitik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebagian besar manusia tidak lagi hidup sebagai petani.
Transformasi ekonomi kemudian melahirkan revolusi kedua: revolusi budaya. Hobsbawm menggambarkan dekade 1960-an sebagai titik balik budaya dunia modern. Jika revolusi sosial mengubah tempat manusia hidup, revolusi budaya mengubah cara manusia berpikir. Budaya yang sebelumnya diwariskan secara vertikal dari orang tua kepada anak berubah menjadi budaya yang diproduksi oleh generasi muda sendiri. Fenomena ini muncul melalui musik populer, televisi, film, mode pakaian, dan kemudian media massa global. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kaum muda menjadi pencipta budaya, bukan sekadar penerima tradisi.
Budaya konsumsi menjadi bahasa universal baru. Barang-barang seperti televisi, mobil pribadi, kulkas, mesin cuci, hingga musik rock menjadi simbol kehidupan modern. Hobsbawm melihat bahwa masyarakat industri bukan hanya memproduksi barang, tetapi juga memproduksi identitas melalui konsumsi.
Perubahan tersebut juga disertai perubahan nilai yang mendalam. Hubungan laki-laki dan perempuan mengalami redefinisi melalui gerakan feminisme. Seksualitas menjadi semakin terbuka. Otoritas keluarga, sekolah, gereja, bahkan negara mulai dipertanyakan. Demonstrasi mahasiswa tahun 1968 di Paris, Berkeley, Berlin, Roma, hingga Meksiko bukan hanya gerakan politik, melainkan simbol lahirnya generasi yang menolak seluruh struktur otoritas lama.
Dalam pandangan Hobsbawm, revolusi budaya bukanlah sekadar perubahan gaya hidup, melainkan pergeseran mendasar dari masyarakat yang dibangun atas kewajiban menuju masyarakat yang dibangun atas pilihan individual.
Namun “zaman keemasan” tersebut tidak dinikmati secara merata. Sementara negara-negara industri menikmati pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, sebagian besar dunia justru sedang mengalami pergolakan yang sangat berbeda. Hobsbawm menyebut kawasan ini sebagai The Third World—istilah yang pada masa itu merujuk kepada negara-negara yang baru memperoleh kemerdekaan dari kolonialisme.
Bagi banyak bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin, kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis menghasilkan kemerdekaan ekonomi. Struktur ekonomi kolonial tetap bertahan dalam bentuk baru. Negara-negara berkembang tetap bergantung pada ekspor bahan mentah, sementara teknologi, modal, perdagangan, dan sistem keuangan internasional masih dikendalikan negara-negara industri.
Karena itu, perjuangan Dunia Ketiga setelah kolonialisme bergeser dari perjuangan melawan penjajahan politik menuju perjuangan melawan ketergantungan ekonomi. Dalam konteks inilah muncul berbagai strategi pembangunan nasional. Sebagian memilih industrialisasi yang dipimpin negara, sebagian mengadopsi sosialisme, sementara sebagian lainnya berusaha mencari jalan ketiga melalui Gerakan Non-Blok. Tokoh-tokoh seperti Jawaharlal Nehru, Gamal Abdel Nasser, Josip Broz Tito, Sukarno, Kwame Nkrumah, dan Julius Nyerere menjadi simbol upaya membangun dunia yang tidak tunduk sepenuhnya kepada Washington maupun Moskwa.
Hobsbawm menilai bahwa optimisme pembangunan Dunia Ketiga sangat besar pada 1950–1970-an, tetapi banyak negara kemudian terjebak dalam krisis utang, pemerintahan otoriter, konflik internal, dan ketergantungan baru terhadap lembaga-lembaga keuangan internasional. Dengan demikian, dekolonisasi ternyata tidak mengakhiri hubungan kekuasaan global, melainkan hanya mengubah bentuknya.
Paradoks yang sama juga tampak dalam dunia sosialisme. Hobsbawm menggunakan istilah Real Socialism untuk menggambarkan sosialisme yang benar-benar ada, bukan sosialisme sebagai-mana dibayangkan Marx. Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur berhasil melakukan industrialisasi cepat, memperluas pendidikan, layanan kesehatan, dan menciptakan tingkat pemerataan sosial yang relatif tinggi dibanding banyak negara berkembang.
Namun keberhasilan ekonomi tersebut dibayar dengan mahal melalui birokrasi yang sangat sentralistik, pembatasan kebebasan politik, lemahnya inovasi, dan ketidakmampuan sistem untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Menurut Hobsbawm, masalah terbesar sosialisme bukan semata-mata ekonomi, melainkan hilangnya kemampuan belajar. Ketika negara menjadi terlalu dominan, masyarakat kehilangan ruang untuk mengoreksi kesalahan sistem. Perencanaan yang sangat terpusat memang efektif pada tahap industrialisasi awal, tetapi menjadi beban ketika ekonomi memasuki era inovasi, informasi, dan fleksibilitas.
Menjelang dekade 1980-an, stagnasi ekonomi semakin nyata. Produktivitas melambat, teknologi tertinggal dari Barat, sementara biaya mempertahankan perlombaan senjata Perang Dingin semakin berat. Reformasi Gorbachev melalui glasnost dan perestroika datang ketika fondasi sistem sudah terlalu rapuh untuk diselamatkan.
Meskipun demikian, Hobsbawm menolak melihat keruntuhan Uni Soviet sebagai kemenangan mutlak kapitalisme. Ia justru mengingatkan bahwa keberadaan sosialisme selama beberapa dekade telah memaksa kapitalisme melakukan reformasi besar-besaran: memperluas negara kesejahteraan, meningkatkan perlindungan buruh, dan mengurangi ketimpangan ekstrem. Dengan kata lain, bahkan ketika sosialisme runtuh, warisannya tetap hidup di dalam kapitalisme modern.
Dari seluruh sintesis Bagian II ini muncul satu gagasan besar yang sangat khas Hobsbawm. Ia melihat sejarah bukan sebagai perjalanan kemenangan satu ideologi atas ideologi lain, melainkan sebagai proses transformasi panjang yang penuh kontradiksi. Kemakmuran melahirkan individualisme; industrialisasi menghapus dunia agraris; modernisasi memperluas kebebasan sekaligus menciptakan keterasingan; dekolonisasi menghasilkan negara-negara merdeka tetapi belum sepenuhnya bebas; dan sosialisme yang gagal justru membantu membentuk kapitalisme yang lebih manusiawi.
Karena itu, “The Golden Age” bukanlah masa ketika dunia mencapai kesempurnaan, melainkan masa ketika fondasi masyarakat kontemporer dibangun—fondasi yang hingga hari ini masih menentukan cara kita bekerja, mengonsumsi, berpolitik, membangun identitas, dan memahami hubungan antara negara, pasar, serta masyarakat. Dalam pembacaan Hobsbawm, sejarah paruh kedua abad kedua puluh adalah sejarah tentang lahirnya dunia yang kita huni sekarang: dunia yang lebih makmur daripada sebelumnya, tetapi juga lebih kompleks, lebih saling bergantung, dan penuh paradoks yang belum selesai.
Hobsbawm, seorang sejarawan Marxis, melihat ada paradoks di sini. Ia berpendapat bahwa Zaman Keemasan ini sebagian besar merupakan “anomali”—sebuah hasil tak terduga dari persaingan antara blok kapitalis dan komunis. Ketakutan akan pengaruh Soviet, kata Hobsbawm, menjadi “insentif ketakutan” yang mendorong kapitalisme untuk mereformasi dirinya menjadi lebih adil dan inklusif . Bahkan, ia dengan berani menyatakan bahwa “tanpa Uni Soviet, dunia Barat saat ini mungkin akan terdiri dari variasi-variasi tema otoriter dan fasis, bukan variasi-variasi dari tema parlementer liberal” . Bagi Hobsbawm, kemenangan atas Nazisme pada dasarnya dimenangkan, dan hanya bisa dimenangkan, oleh Tentara Merah . Ini adalah ironi terbesar abad ini: revolusi yang bertujuan menggulingkan kapitalisme justru menyelamatkannya.
Namun, Zaman Keemasan tidak bisa bertahan selamanya. Babak ketiga adalah Zaman Longsor (The Landslide), dimulai pada tahun 1973 dan berakhir pada 1991 . Dunia kehilangan pijakan-nya dan meluncur ke dalam ketidakstabilan dan krisis. Sistem ekonomi mulai tersendat, baik di blok kapitalis maupun komunis. Di Barat, neoliberalisme muncul, merombak sistem kesejah-teraan dan menggantikan kapitalisme produksi dengan kapitalisme sewa (rentier capitalism) . Di Timur, Uni Soviet akhirnya runtuh karena ketidakmampuan sistemnya yang kaku dan paranoid untuk beradaptasi . Pada tahun 1991, “abad singkat” berakhir. Namun, alih-alih membawa kejelasan, akhir ini malah meninggalkan dunia dalam kebingungan, tanpa mekanisme yang jelas untuk mengendalikan kekacauan yang ada.
Dunia yang Kehilangan Kepastian: Membaca “The Landslide” Eric Hobsbawm
Jika paruh pertama abad kedua puluh merupakan zaman peperangan, dan tiga dekade setelah Perang Dunia II menjadi masa yang oleh Eric Hobsbawm disebut sebagai The Golden Age, maka dekade-dekade terakhir abad itu adalah sebuah tanah longsor sejarah. Judul yang dipilih Hobsbawm—The Landslide—bukanlah metafora yang berlebihan. Yang runtuh bukan hanya sistem ekonomi atau pemerintahan tertentu, tetapi hampir seluruh kepastian yang selama puluhan tahun menopang kehidupan dunia modern.
Menurut Hobsbawm, dunia memasuki krisis sejak awal dekade 1970-an. Krisis minyak tahun 1973 hanyalah tanda pertama dari sesuatu yang jauh lebih besar. Pertumbuhan ekonomi yang selama seperempat abad tampak seolah-olah tidak pernah akan berhenti tiba-tiba melambat. Inflasi melonjak bersamaan dengan meningkatnya pengangguran, menghasilkan gejala yang pada waktu itu bahkan sulit dijelaskan oleh teori ekonomi klasik: stagflation. Negara kesejah-teraan yang sebelumnya dianggap sebagai solusi mulai dipertanyakan. Kapitalisme yang tampak stabil ternyata memiliki kerentanan struktural yang selama masa kemakmuran tersembunyi di balik pertumbuhan.
Hobsbawm melihat bahwa krisis tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan krisis terhadap keseluruhan paradigma pembangunan abad kedua puluh. Hampir semua negara—baik kapitalis maupun sosialis—dibangun atas keyakinan bahwa produksi industri, pertumbuh-an ekonomi, dan kemajuan teknologi akan terus meningkat tanpa batas. Ketika mesin pertumbuhan itu mulai tersendat, berbagai institusi sosial yang bergantung kepadanya ikut goyah.
Di sinilah Hobsbawm memperlihatkan salah satu kekuatan analisisnya. Ia tidak melihat perubahan sebagai kegagalan satu kebijakan ekonomi tertentu, tetapi sebagai berakhirnya satu siklus sejarah yang telah dimulai sejak Revolusi Industri. Dunia memasuki fase ketika globalisasi, liberalisasi keuangan, revolusi informasi, dan mobilitas modal mulai mengikis kemampuan negara untuk mengendalikan ekonominya sendiri.
Dalam suasana yang penuh ketidakpastian itu, negara-negara Dunia Ketiga menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Optimisme dekolonisasi yang memenuhi Asia, Afrika, dan Amerika Latin pada dekade 1950-an dan 1960-an mulai memudar. Hobsbawm menunjukkan bahwa kemerdekaan politik ternyata tidak otomatis membawa kedaulatan ekonomi. Sebagian besar negara baru masih bergantung pada ekspor komoditas primer, sementara harga komoditas dunia terus berfluktuasi. Krisis minyak, kenaikan suku bunga internasional, dan membengkaknya utang luar negeri membuat banyak negara berkembang kehilangan ruang untuk membangun model ekonominya sendiri.
Banyak pemerintahan yang lahir dari perjuangan antikolonial kemudian berubah menjadi rezim militer atau pemerintahan satu partai. Di Amerika Latin muncul kediktatoran militer; di Afrika berbagai negara terseret perang saudara; di Asia sejumlah pemerintahan memperkuat kontrol negara demi menjaga stabilitas pembangunan. Revolusi yang dahulu menjanjikan pembebasan rakyat sering kali berubah menjadi birokrasi baru yang tidak kalah represif dibanding rezim yang mereka gantikan.
Namun Hobsbawm tidak memandang semua revolusi sebagai kegagalan. Ia menunjukkan bahwa revolusi tetap menjadi bahasa politik utama bagi Dunia Ketiga sepanjang dekade tersebut. Revolusi Kuba, Vietnam, Mozambik, Angola, Nikaragua, Ethiopia, hingga Iran memperlihatkan bahwa perjuangan melawan dominasi global masih menjadi aspirasi yang kuat. Hanya saja, menurut Hobsbawm, dunia internasional yang semakin terintegrasi membuat ruang bagi revolusi nasional menjadi semakin sempit. Hampir semua revolusi akhirnya harus berhadapan dengan kekuatan pasar dunia, utang internasional, dan geopolitik Perang Dingin.
Jika Dunia Ketiga kehilangan optimisme pembangunan, maka blok Timur kehilangan fondasi ideologinya sendiri. Salah satu bagian paling reflektif dalam The Landslide adalah pembacaan Hobsbawm mengenai berakhirnya sosialisme negara. Sebagai seorang Marxis yang sepanjang hidupnya bersimpati pada tradisi kiri, Hobsbawm tidak menulis keruntuhan Uni Soviet dengan nada kemenangan maupun penyesalan sentimental. Ia justru mencoba menjelaskan mengapa sistem tersebut akhirnya tidak mampu bertahan.
Menurutnya, kelemahan utama sosialisme bukan terletak pada cita-citanya tentang keadilan sosial, melainkan pada mekanisme organisasinya. Negara yang terlalu dominan memang efektif dalam melakukan industrialisasi cepat dan mobilisasi sumber daya, tetapi sangat tidak fleksibel ketika memasuki ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi. Sistem perencanaan terpusat mampu menentukan berapa ton baja yang harus diproduksi, tetapi gagal merespons perubahan teknologi, selera konsumen, maupun kreativitas ilmiah yang berkembang begitu cepat sejak dekade 1970-an.
Hobsbawm juga menunjukkan paradoks yang menarik. Pada saat sosialisme runtuh, kapitalisme justru mulai mengadopsi banyak unsur yang sebelumnya diperjuangkan gerakan buruh: perlindungan sosial, pendidikan publik, layanan kesehatan, dan regulasi ketenagakerjaan. Dengan demikian, kekalahan sosialisme secara politik tidak berarti kekalahan seluruh gagasan sosialisme. Banyak nilai yang dahulu dianggap radikal justru telah menjadi bagian dari negara modern.
Keruntuhan Uni Soviet pada 1991, menurut Hobsbawm, bukan sekadar berakhirnya satu negara adidaya. Peristiwa itu mengakhiri struktur dunia bipolar yang selama hampir setengah abad membentuk hubungan internasional. Dunia memasuki situasi yang belum pernah dialami sebelumnya: satu kekuatan global mendominasi hampir seluruh tatanan internasional, sementara mekanisme penyeimbang menghilang.
Di tengah perubahan politik dan ekonomi tersebut, kebudayaan juga mengalami transformasi yang tidak kalah dramatis.
Hobsbawm melihat bahwa sejak pertengahan abad kedua puluh seni semakin kehilangan posisi sentralnya sebagai pelopor perubahan sosial. Tradisi avant-garde yang dahulu begitu ber-pengaruh—mulai dari kubisme, futurisme, dadaisme, surealisme hingga berbagai eksperimen modernisme—perlahan kehilangan daya gugatnya. Ketika seluruh bentuk ekspresi artistik telah diterima pasar, maka tidak ada lagi karya yang benar-benar mampu mengejutkan masyarakat.
Pasar kemudian mengambil alih peran yang sebelumnya dimainkan oleh gerakan artistik. Musik, sastra, lukisan, film, bahkan pemberontakan budaya berubah menjadi komoditas global. Kebudayaan tidak lagi terutama diproduksi untuk mengubah masyarakat, melainkan untuk dikonsumsi. Perbedaan antara seni tinggi (high culture) dan budaya populer semakin kabur. Televisi satelit, industri rekaman, dan kemudian teknologi digital mulai membangun budaya global yang melampaui batas negara.
Dalam pembacaan Hobsbawm, ini bukan berarti kreativitas manusia menghilang, tetapi fungsi sosial seni berubah. Seniman tidak lagi memimpin zaman; mereka menjadi bagian dari industri budaya.
Ironisnya, ketika politik kehilangan kepastian dan seni kehilangan otoritas moralnya, ilmu pengetahuan justru memasuki masa revolusi terbesar sepanjang sejarah manusia.
Hobsbawm menggambarkan perkembangan sains pascaperang sebagai kekuatan yang hampir menyerupai sihir. Fisika nuklir, biologi molekuler, genetika, komputer, teknologi luar angkasa, mikroelektronika, hingga komunikasi digital mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia hanya dalam beberapa dekade.
Namun di balik kekaguman tersebut tersimpan kegelisahan yang mendalam. Ilmu pengetahuan berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan moral manusia untuk mengelolanya. Penemuan yang sama dapat menyelamatkan jutaan manusia melalui vaksin dan antibiotik, tetapi juga dapat menghasilkan bom nuklir yang mampu memusnahkan peradaban. Rekayasa genetika membuka harapan baru bagi pertanian dan kesehatan, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan etis yang belum pernah dihadapi umat manusia sebelumnya.
Hobsbawm mengingatkan bahwa manusia modern semakin mampu mengendalikan alam, tetapi semakin sulit mengendalikan konsekuensi dari kemampuannya sendiri. Dalam arti tertentu, umat manusia menjadi “penyihir” yang sering kali tidak memahami sepenuhnya kekuatan yang telah dibangunnya.
Semua perubahan tersebut bermuara pada satu kenyataan yang menurut Hobsbawm menjadi ciri paling menonjol menjelang pergantian milenium: hilangnya kepastian sejarah. Sepanjang abad kesembilan belas dan sebagian besar abad kedua puluh, manusia hidup dengan keyakinan bahwa sejarah bergerak menuju arah tertentu—menuju kemajuan, sosialisme, kapitalisme, demokrasi, atau modernitas. Menjelang tahun 1990-an keyakinan itu menghilang. Tidak ada lagi ideologi besar yang benar-benar dipercaya mampu menjelaskan masa depan dunia.
Globalisasi mempercepat arus modal, manusia, barang, informasi, dan budaya melintasi batas negara. Negara nasional kehilangan sebagian kekuasaan ekonominya kepada pasar global. Ketimpangan meningkat bersamaan dengan kemajuan teknologi. Identitas etnis dan agama yang sebelumnya diperkirakan akan memudar justru bangkit kembali dalam berbagai konflik baru. Perubahan iklim mulai tampak sebagai ancaman global, sementara revolusi digital sedang membuka dunia yang sama sekali baru.
Dalam refleksi penutupnya, Hobsbawm tidak menawarkan optimisme sederhana maupun pesimisme mutlak. Ia justru memperingatkan bahwa umat manusia telah memasuki zaman ketika keberhasilan teknologinya tidak lagi diimbangi oleh kemampuan politik dan moral untuk mengelolanya. Dunia menjadi jauh lebih kaya, jauh lebih terhubung, dan jauh lebih canggih daripada sebelumnya, tetapi juga jauh lebih rapuh.
Membaca keseluruhan The Landslide, kita menemukan tesis besar Hobsbawm yang mengikat seluruh bukunya. Abad kedua puluh bukanlah kisah linear tentang kemenangan demokrasi, kapitalisme, sosialisme, ataupun modernitas. Ia adalah abad kontradiksi. Setiap keberhasilan melahirkan persoalan baru; setiap revolusi membuka kemungkinan sekaligus krisis; setiap kemajuan teknologi membawa manfaat sekaligus ancaman.
Karena itu, menurut Hobsbawm, tantangan terbesar manusia memasuki abad kedua puluh satu bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan pertumbuhan ekonomi atau menciptakan teknologi baru. Tantangannya adalah bagaimana membangun kembali institusi sosial, politik, dan moral yang mampu mengendalikan kekuatan-kekuatan yang telah diciptakan oleh peradaban modern. Tanpa kemampuan tersebut, dunia berisiko memasuki abad baru dengan kemajuan material yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi dengan fondasi sosial yang semakin rapuh.
Hobsbawm dan Masa Depan yang Gelap
Apa yang membuat buku ini begitu menggugah adalah bukan hanya analisisnya yang tajam, melainkan juga sikap Hobsbawm sendiri di akhir narasinya. Meskipun ia adalah seorang komunis seumur hidup, ia bukanlah seorang yang merayakan kematian Uni Soviet. Baginya, itu adalah sebuah duka, bukan kemenangan . Dalam kata penutupnya, ia menulis dengan nada yang mengkhawatirkan: “Kita tidak tahu ke mana kita pergi… Jika umat manusia ingin memiliki masa depan yang bisa dikenali, masa depan itu tidak bisa dicapai dengan memperpanjang masa lalu atau masa kini. Jika kita mencoba membangun milenium ketiga di atas fondasi itu, kita akan gagal. Dan harga dari kegagalan, yaitu alternatif dari masyarakat yang berubah, adalah kegelapan” .
Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan bahwa pernyataan ini adalah formulasi lain dari tesis Rosa Luxemburg yang terkenal: pilihan antara sosialisme atau barbarisme . Bagi Hobsbawm, kegagalan proyek sosialisme ala Soviet tidak berarti proyek itu sendiri tidak mungkin dilakukan. Dunia yang lebih adil masih bisa diwujudkan, tetapi bukan dengan cara yang sama seperti di masa lalu.
Untuk memahami kedalaman kegelisahan Hobsbawm, kita perlu melihat bagaimana ia memandang salah satu tragedi terbesar abad ini. Kritikus sering menyoroti bahwa buku ini hanya menyebut Auschwitz secara sepintas, atau bahkan mengabaikan Shoah . Hobsbawm tidak membela diri dengan lemah. Ia mengakui kekurangannya, tetapi dengan penjelasan yang kompleks. Ia merasa bahwa sebagai seorang sejarawan Yahudi, tidak ada keraguan tentang apa yang dirasakannya terhadap genosida Nazi. Namun, sebagai seorang sejarawan Marxis, ia merasa perlu untuk secara eksplisit menolak kengerian yang dilakukan atas nama gerakannya sendiri, yaitu kekejaman Stalin dan Mao. Ia menulis: “Pembaca The Age of Extremes mungkin memperhatikan bahwa saya sebenarnya menghabiskan lebih banyak ruang untuk hal-hal mengerikan yang dilakukan oleh Stalin dan Mao daripada kengerian Hitler.
Tidak diragukan lagi ini karena tidak ada keraguan tentang apa yang dirasakan seorang sejarawan Yahudi tentang genosida Nazi, sedangkan seorang sejarawan Marxis mungkin disalahpahami jika ia tidak dengan jelas mencatat penolakannya terhadap kengerian yang dilakukan atas nama perjuangannya sendiri.” Namun, ada juga yang melihat bahwa ketidak-mampuan Marxisme untuk sepenuhnya memahami Auschwitz sebagai “lubang hitam” peradab-an adalah sebuah kelemahan mendasar . Hobsbawm sendiri sepertinya merasakan hal ini, karena ia mengakui bahwa kengerian semacam itu “tidak mungkin diekspresikan secara memadai dengan kata-kata.”
Relevansi di Zaman yang Terhubung dan Terbelah
Kini, tiga dekade setelah buku ini ditulis, dunia menghadapi paradoks yang bahkan mungkin lebih ekstrem dari yang dibayangkan Hobsbawm. Globalisasi telah menghubungkan manusia dan negara menjadi sebuah desa global, di mana informasi dan modal mengalir lintas batas dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Namun, di sisi lain, tembok-tembok baru justru dibangun—bukan hanya tembok fisik, tetapi tembok kebijakan, sanksi ekonomi, dan narasi “keamanan nasional” yang kerap digunakan untuk menghambat konektivitas dan hak-hak negara berkembang untuk maju. Ironi yang diangkat Hobsbawm tentang kapitalisme yang diselamatkan oleh lawannya kini berbalik: dunia berkembang, yang menjadi “korban” dari berbagai kebijakan negara adidaya, seringkali harus berjuang melawan sistem yang mereka sendiri bantu bangun dan pertahankan.
Di sinilah letak hikmah dari The Age of Extremes. Pertama, buku ini mengingatkan kita bahwa kemajuan tidaklah linear. Zaman Keemasan yang dinikmati oleh segelintir negara bukanlah sebuah keniscayaan, melainkan hasil dari keseimbangan kekuatan yang genting dan kebijakan yang mungkin tidak akan terulang. Ketika negara-negara kuat bertindak seperti “bandit” terhadap negara-negara berkembang, mereka sedang menabur benih-benih kebencian dan ketidakstabilan yang suatu hari akan meledak, sebagaimana iajarkan oleh sejarah para bandit sosial yang ia tulis. Kedua, kita perlu merenungkan kata-kata Hobsbawm tentang “kegagalan semua program, lama dan baru, untuk mengelola atau memperbaiki urusan umat manusia” . Ini bukan ajakan untuk putus asa, melainkan untuk berpikir di luar kotak. Solusi atas ketimpangan dan krisis ekologi bukanlah dengan memperpanjang logika kapitalisme neoliberal yang terus berubah, tetapi dengan berani membayangkan sebuah tatanan baru yang lebih adil dan berkelanjutan—sebuah “masyarakat yang berbeda” yang ia maksudkan .
Seperti yang pernah ditulis oleh filsuf dan teolog pembebasan Leonardo Boff, mengutip Hobsbawm sendiri, “Kita berada dalam perahu yang sama, entah kita semua selamat atau tidak ada yang selamat” . Di era di mana krisis iklim, pandemi, dan perang proxy menjadi isu sehari-hari, pilihan antara sosialisme dan barbarisme yang diutarakan Hobsbawm terasa lebih nyata dari sebelumnya. Dan di sinilah, di tengah keputusasaan, ada secercah harapan: kesadaran bahwa kita tidak bisa kembali ke masa lalu, dan bahwa kegelapan bukanlah satu-satunya alternatif, asalkan kita berani untuk berubah . The Age of Extremes adalah sebuah peringatan keras, tetapi juga sebuah undangan untuk merenungkan jalan yang belum ditempuh, sebuah jalan yang mungkin akan membawa kita keluar dari kegel menuju cahaya yang lebih adil.
Buku The Age of Extremes dibuka dengan sebuah pernyataan yang langsung menggugah cara pandang kita terhadap sejarah. Hobsbawm memperkenalkan gagasan tentang “Abad Singkat” (Short Twentieth Century) yang terbentang dari tahun 1914 hingga 1991, bukan dari 1900 hingga 1999 . Baginya, periode inilah yang membentuk satu kesatuan sejarah yang koheren, sebuah “triptych” atau roti lapis sejarah yang terdiri dari tiga bagian . Pertama adalah Zaman Bencana (Age of Catastrophe) dari 1914 hingga akhir Perang Dunia Kedua, yang diikuti oleh sekitar 25 hingga 30 tahun pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial yang luar biasa—sebuah Zaman Keemasan (Golden Age)—yang berakhir pada awal 1970-an. Bagian terakhir adalah era dekomposisi, ketidakpastian, dan krisis yang berlanjut hingga runtuhnya Uni Soviet pada 1991 .
Dari perspektif burung inilah Hobsbawm kemudian menyelami lebih dalam bab pertama dari Zaman Bencana: Revolusi Dunia (The World Revolution). Revolusi, baginya, adalah anak dari perang abad kedua puluh, terutama Revolusi Rusia 1917 yang melahirkan Uni Soviet . Perang total modern memberikan tekanan yang begitu dahsyat kepada negara dan rakyatnya sehingga hampir dapat dipastikan akan mendorong mereka ke titik puncak krisis dan kehancuran, tidak seperti perang di masa lalu di mana monarki bisa bertahan dari kekalahan demi kekalahan .
Dunia lama, dengan sistem ekonomi dan politiknya, telah “kehilangan mandat surga” dan umat manusia menunggu sebuah alternatif . Revolusi Bolshevik memberikan sinyal itu. Hobsbawm menegaskan bahwa Revolusi Oktober adalah peristiwa sentral bagi sejarah abad ini, sama seperti Revolusi Prancis bagi abad kesembilan belas. Bahkan, sejarah “Abad Singkat” hampir sepenuhnya bertepatan dengan masa hidup negara yang lahir dari revolusi tersebut. Dampak-nya bersifat global dan lebih mendalam daripada pendahulunya: hanya dalam 30-40 tahun, sepertiga umat manusia hidup di bawah rezim yang secara langsung berasal dari “Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia” karya John Reed dan model organisasi Lenin . Soviet-komunisme mengklaim diri sebagai sistem alternatif yang unggul secara historis dan tak terbantahkan .
Bagi Hobsbawm, politik internasional setelah 1917 hingga akhir abad ini sebagian besar dapat dipahami sebagai perjuangan panjang antara tatanan lama dan subversi sosial yang diwujudkan oleh Uni Soviet .
Selanjutnya, Hobsbawm mengupas Keruntuhan Liberalisme (The Fall of Liberalism), mungkin bagian yang paling menyakitkan bagi para penyintas abad kesembilan belas. Kejutan terbesar dari Zaman Bencana adalah runtuhnya nilai-nilai dan institusi peradaban liberal yang kemajuan-nya dianggap tak terelakkan . Nilai-nilai tersebut meliputi keyakinan pada pemerintahan konstitusional, kebebasan sipil, rasionalitas, sains, dan kemajuan manusia.
Meskipun secara politik institusi demokrasi liberal tampak maju pesat setelah Perang Dunia I, dengan hampir semua negara Eropa baru berbentuk negara parlementer, kenyataannya justru sebaliknya . Antara pawai Mussolini ke Roma dan puncak kesuksesan Poros dalam Perang Dunia II, terjadi kemunduran besar-besaran. Jumlah negara dengan pemerintahan konstitusional dan terpilih merosot drastis, dari sekitar 35 negara pada 1920 menjadi hanya sekitar 12 dari 64 negara di dunia pada 1944 . Hobsbawm mencatat sebuah pengamatan penting: pada masa ini, ancaman terhadap institusi liberal datang semata-mata dari politik sayap kanan, berbeda dengan persepsi setelah 1945 yang menganggap ancaman utama berasal dari komunisme .
Dengan kata lain, “fasisme dan nazisme” adalah buah dari krisis liberalisme itu sendiri, yang menggantikan rezim liberal dengan model hukum dan politik baru yang otoriter dan mobilisasi massa .
Selanjutnya, untuk memahami dinamika intelektual dan kultural yang menyertai periode penuh gejolak ini, penting untuk menengok Seni 1914–1945 (The Arts 1914–45). Hobsbawm berpendapat bahwa pada tahun 1914, praktis segala sesuatu yang dapat disebut sebagai ‘modernisme’ telah siap: kubisme, ekspresionisme, abstraksionisme, fungsionalisme, hingga penolakan nada suara dalam musik . Namun, setelah perang, modernisme pecah menjadi berbagai gerakan avant-garde. Dadaisme menekankan kedekatan dan instanitas; surealisme menggali subjektivitas sebagai ruang ekspansi kreatif pikiran manusia, sebuah kontribusi otentik yang bahkan membuat para anggota avant-garde yang lebih tua terkadang tertawa canggung .
Di sisi lain, konstruktivisme mencari gaya minimalis dan industrial, dengan arsitektur bentuk geometris yang netral. Dunia di luar Eropa menyaksikan munculnya realisme sebagai gerakan perlawanan dan protes terhadap kekerasan yang dialami bangsa terjajah . Ide tentang ‘pelaporan’ (reportage) dan fotografi jurnalistik menjadi suara kebenaran bagi rakyat, mewujudkan hasrat akan dokumentasi yang nyata dan dapat diakses. Hobsbawm merangkum semangat zaman ini dengan menyatakan bahwa semakin jelas bahwa abad kedua puluh adalah abad manusia biasa, dan seni produksi massa untuk dan tentang mereka menjadi dominan, dengan kamera dan laporan sebagai instrumen kuncinya.
Teknologi seperti pers, film, dan radio menciptakan hegemoni budaya baru yang, meskipun tampak merangkul kesetaraan, seringkali hanya dapat diakses dan dipahami sepenuhnya oleh segelintir elit.
Puncak dari “Zaman Bencana” dan sekaligus jembatan menuju dunia baru adalah Akhir Kekaisaran (End of Empires). Ketika Hobsbawm lahir pada 1917, hampir semua orang Eropa dan seluruh penghuni Afrika, Pasifik, dan sebagian besar Asia hidup di bawah kekaisaran. Namun, selama masa hidupnya, semuanya lenyap. Perang Dunia I menghancurkan Kekaisaran Habsburg dan Ottoman, serta sangat melemahkan Kekaisaran Rusia dan Jerman. Perang Dunia II menghancurkan ambisi imperial Jerman dan, yang lebih penting, melenyapkan kerajaan kolonial Inggris, Prancis, Jepang, Belanda, Portugal, dan Belgia. Runtuhnya komunisme pada akhir abad ini juga mengakhiri Uni Soviet sebagai entitas multinasional dan Kekaisaran Soviet di Eropa Timur.
Namun, dunia pasca-kekaisaran yang kita huni sekarang bukannya lebih teratur. Jumlah negara merdeka melonjak empat kali lipat sejak 1913, tetapi teori tentang dunia negara-bangsa yang bebas telah berubah menjadi praktik ketidakstabilan global yang dalam, baik di tingkat internasional maupun di dalam negeri. Konflik tak terkendali dan pembersihan etnis telah menjadi endemik di banyak kawasan . Hobsbawm menutup refleksinya tentang kekaisaran dengan sebuah peringatan yang menggugah: nostalgia selektif terhadap masa lalu imperium adalah berbahaya, karena realitas kekaisaran tidak boleh berada di tangan nostalgia semata. Namun, ia juga mengamati bahwa klaim diam-diam akan superioritas moral Barat tetap bertahan—keyakinan bahwa nilai-nilai dan institusi kita lebih unggul dan mungkin, bahkan harus, dipaksakan untuk kebaikan mereka, jika perlu dengan kekuatan senjata .
Itulah sebabnya The Age of Extremes berakhir bukan dengan sebuah perayaan atas berakhirnya Perang Dingin, melainkan dengan sebuah peringatan. Hobsbawm menulis bahwa jika umat manusia ingin memiliki masa depan yang layak, maka ia tidak dapat lagi mengandalkan resep-resep lama. Dunia baru memerlukan imajinasi politik, etika global, dan solidaritas yang sama sekali baru—sebuah pesan yang, lebih dari tiga dekade setelah buku ini diterbitkan, terasa semakin relevan di tengah krisis iklim, ketimpangan global, dan perubahan geopolitik yang kembali mengguncang dunia.
Catatan Akhir: Dari “The Age of Extremes” menuju Krisis Peradaban Global
Hobsbawm meninggal pada 2012, sebelum melihat krisis iklim, AI, pandemi COVID-19, perang Ukraina, Gaza, kebangkitan Global South, maupun fragmentasi geopolitik mutakhir. Namun seluruh kerangka berpikirnya sesungguhnya mengarah ke sana: krisis peradaban abad ke-21 (Crisis of Global Civilization).
“Abad kedua puluh telah berakhir, tetapi kontradiksi-kontradiksinya belum.” Itulah kesan yang tertinggal setelah menutup halaman terakhir The Age of Extremes. Eric Hobsbawm memang mengakhiri kisahnya pada tahun 1991, namun sesungguhnya ia sedang membuka pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah peradaban modern mampu bertahan terhadap keberhasilannya sendiri?
Sepanjang buku tersebut, Hobsbawm memperlihatkan bagaimana Revolusi Industri, kapitalisme, sosialisme, kolonialisme, negara-bangsa, dan globalisasi membentuk dunia modern. Namun menjelang akhir abad kedua puluh, semua fondasi itu mulai mengalami retakan. Pertumbuhan ekonomi tidak lagi menghasilkan kesejahteraan yang merata. Negara kehilangan sebagian kemampuan mengendalikan pasar. Teknologi berkembang lebih cepat daripada etika. Kemajuan ilmu pengetahuan justru melahirkan ancaman yang bersifat global.
Apa yang bagi Hobsbawm merupakan “tanah longsor sejarah” kini berkembang menjadi sesuatu yang lebih mendasar: krisis peradaban.
Salah seorang yang paling awal membaca perubahan ini adalah Ulrich Beck. Dalam Risk Society (1986), Beck berpendapat bahwa masyarakat industri telah memasuki tahap baru yang tidak lagi terutama menghasilkan kekayaan (wealth production), tetapi menghasilkan risiko (risk production).
Berbeda dengan masyarakat abad ke-19 yang menghadapi ancaman kelaparan, penyakit, dan perang yang bersifat lokal, masyarakat modern menciptakan ancaman yang justru berasal dari keberhasilan teknologinya sendiri. Nuklir. Perubahan iklim. Pencemaran plastik. Kehilangan biodiversitas. Pandemi global. Kecerdasan buatan. Manipulasi genetika.
Semuanya merupakan produk kemajuan manusia sendiri. Jika Hobsbawm melihat krisis ekonomi dan politik sebagai ciri akhir abad kedua puluh, Beck menunjukkan bahwa abad kedua puluh satu adalah zaman ketika manusia hidup dalam bayang-bayang risiko global yang tidak mengenal batas negara. Dengan kata lain, modernitas mulai memakan hasil ciptaannya sendiri.
Pemikiran Beck kemudian diperdalam oleh Anthony Giddens. Dalam The Consequences of Modernity (1990), Giddens menjelaskan bahwa modernitas bukanlah suatu keadaan yang stabil, melainkan proses yang terus bergerak. Globalisasi mempercepat hubungan antarmanusia sehingga tindakan yang dilakukan di satu tempat segera menghasilkan dampak di tempat lain. Sebuah virus di Wuhan dapat menghentikan ekonomi dunia. Krisis perbankan di New York dapat menghancurkan tabungan masyarakat di Asia. Kebakaran hutan Amazon memengaruhi iklim Afrika.
Modernitas, menurut Giddens, telah menciptakan dunia yang saling terhubung secara luar biasa. Namun dalam Modernity and Self-Identity (1991), ia menunjukkan sisi lain dari perubahan tersebut. Ketika tradisi melemah, agama kehilangan sebagian otoritasnya, keluarga berubah, dan pekerjaan menjadi tidak pasti, manusia dipaksa membangun identitasnya sendiri secara terus-menerus.
Modernitas menghasilkan kebebasan sekaligus kecemasan. Kemudian, setelah keruntuhan sosialisme, Giddens mencoba menawarkan jalan politik baru melalui The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998). Gagasan ini—yang kemudian memengaruhi pemerintah-an Tony Blair di Inggris dan sejumlah pemerintahan sosial-demokrat lainnya—berusaha mencari jalan tengah antara neoliberalisme pasar bebas dan sosialisme negara. Menurut Giddens, negara tidak lagi dapat mengendalikan ekonomi seperti era Keynesian, tetapi juga tidak boleh menyerahkan seluruh kehidupan kepada pasar. Negara harus menjadi enabling state: memperkuat kapasitas warga, melindungi kelompok rentan, dan menginvestasikan pendidikan, inovasi, serta kohesi sosial. Dalam konteks sekarang, banyak kritik menyebut Jalan Ketiga terlalu akomodatif terhadap neoliberalisme, tetapi ia tetap menjadi tonggak penting dalam upaya merumuskan ulang tata kelola masyarakat pasca-Perang Dingin.
Perubahan berikutnya dijelaskan oleh Manuel Castells. Dalam trilogi The Information Age (1996–1998), khususnya The Rise of the Network Society, Castells berpendapat bahwa pusat kekuasaan dunia tidak lagi berada pada negara, melainkan pada jaringan (networks). Jaringan keuangan. Jaringan informasi. Jaringan media. Jaringan logistik. Jaringan internet.
Perusahaan global seperti Google, Apple, Amazon, Microsoft, Meta, Nvidia, Alibaba, Tencent, memiliki kekuatan ekonomi yang melampaui banyak negara. Castells menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak lagi terutama diorganisasikan oleh wilayah (territory), melainkan oleh aliran (flows). Modal mengalir. Data mengalir. Informasi mengalir. Bahkan identitas manusia ikut mengalir.
Negara tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya pusat kekuasaan.
Neoliberalisme sebagai Restorasi Kekuasaan
Jika Castells menjelaskan perubahan struktur masyarakat, David Harvey menjelaskan siapa yang paling diuntungkan. Dalam A Brief History of Neoliberalism (2005), Harvey menunjukkan bahwa neoliberalisme bukan sekadar teori ekonomi mengenai pasar bebas. Ia adalah proyek politik. Tujuan utamanya bukan sekadar meningkatkan efisiensi ekonomi, melainkan memulih-kan kekuasaan kelas-kelas pemilik modal setelah krisis 1970-an. Privatisasi. Deregulasi. Liberalisasi perdagangan. Pengurangan pajak. Pengurangan peran negara. Seluruh kebijakan tersebut, menurut Harvey, pada akhirnya menghasilkan konsentrasi kekayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis keuangan 2008 memperlihatkan paradoks besar itu. Keuntungan diprivatisasi. Kerugian disosialisasikan.
Negara diminta menyelamatkan lembaga-lembaga keuangan yang selama puluhan tahun menolak campur tangan negara. Dalam konteks ini Harvey sesungguhnya melanjutkan pertanyaan Hobsbawm mengenai berakhirnya “Golden Age”.
Lebih jauh lagi, Immanuel Wallerstein mengingatkan bahwa seluruh perkembangan tersebut tidak dapat dipahami melalui negara secara individual. Dalam teori World-System, dunia modern merupakan satu sistem ekonomi tunggal sejak abad keenam belas. Negara-negara inti (core) menguasai teknologi, modal, dan perdagangan. Negara semi-periferi menjadi penyangga.
Negara periferi memasok bahan mentah, tenaga kerja murah, dan ruang eksploitasi.
Bagi Wallerstein, kolonialisme tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berganti bentuk.
Imperialisme berubah menjadi ketergantungan ekonomi. Dominasi militer berubah menjadi dominasi keuangan. Pendudukan wilayah berubah menjadi penguasaan rantai pasok global.
Pandangan ini sangat relevan ketika membaca isu-isu kontemporer seperti green colonialism, perdagangan karbon, ekstraksi mineral kritis, transisi energi, maupun perebutan logam tanah jarang. Dunia tidak pernah benar-benar terpisah.
Kapitalisme sebagai Cara Mengorganisasi Alam
Perkembangan paling menarik beberapa dekade terakhir muncul dari pemikiran Jason W. Moore. Moore mengkritik istilah Anthropocene, yang menyalahkan seluruh umat manusia atas krisis ekologis. Menurut Moore, bukan “manusia” yang menciptakan krisis bumi. Yang menciptakannya adalah sistem ekonomi tertentu. Karena itu ia memperkenalkan istilah Capitalocene.
Dalam pandangannya, kapitalisme sejak abad ke-15 tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja.
Ia juga mengeksploitasi alam. Hutan. Tanah. Air. Laut. Atmosfer. Bahkan tubuh manusia.
Kapitalisme bekerja dengan mencari apa yang disebut Moore sebagai cheap nature—alam yang dibuat murah agar akumulasi modal terus berlangsung. Dengan demikian krisis iklim bukan sekadar masalah lingkungan. Ia adalah krisis cara peradaban mengorganisasi hubungan antara manusia dan alam.
Dari Donut Menuju Peradaban Regeneratif
Jika Moore menjelaskan sumber krisis, Kate Raworth menawarkan arah baru. Melalui Donut Economics (2017), Raworth berargumentasi bahwa ekonomi selama ini terjebak dalam obsesi terhadap pertumbuhan tanpa batas. Padahal bumi memiliki batas ekologis. Di sisi lain manusia memiliki kebutuhan sosial minimum. Ekonomi yang sehat harus menjaga keduanya sekaligus.
Tidak melampaui batas ekologis.
Tidak membiarkan manusia hidup di bawah batas kesejahteraan. Model “donat” ini bukan hanya teori ekonomi, tetapi kerangka baru bagi pembangunan, kota, perusahaan, bahkan kebijakan publik. Dalam konteks keberlanjutan, Raworth menggeser fokus dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi regeneratif dan distributif. Gagasan ini beresonansi dengan ekonomi sirkular, restorasi ekosistem, dan pendekatan yang kini mulai diadopsi oleh berbagai kota dan organisasi internasional.
Menuju Sebuah Ekologi Peradaban
Apabila semua pemikiran tersebut disatukan, tampak sebuah benang merah yang kuat.
Hobsbawm menunjukkan bagaimana abad kedua puluh menghasilkan kontradiksi-kontradiksi besar modernitas.
Beck memperlihatkan bahwa modernitas kini memproduksi risiko global. Giddens menjelaskan bahwa dunia menjadi semakin saling terhubung dan menuntut tata kelola baru melalui refleksivitas dan, secara politik, menawarkan Jalan Ketiga sebagai upaya pembaruan sosial-demokrasi. Castells menunjukkan bahwa jaringan informasi menggantikan negara sebagai struktur dominan.
Harvey menjelaskan bagaimana neoliberalisme memperdalam ketimpangan dan mengon-sentrasikan kekuasaan ekonomi. Wallerstein mengingatkan bahwa ketimpangan tersebut merupakan bagian dari sistem dunia yang telah berlangsung berabad-abad. Moore me-nunjukkan bahwa akar krisis ekologis berada pada logika akumulasi kapital. Raworth menawarkan paradigma ekonomi yang berupaya hidup dalam batas-batas planet sekaligus memenuhi kebutuhan manusia.
Jika dirangkaikan, semuanya membawa kita pada sebuah kesimpulan: krisis yang kita hadapi bukan sekadar krisis ekonomi, krisis politik, atau krisis lingkungan secara terpisah, melainkan krisis peradaban. Krisis ini menyangkut cara kita memahami kemajuan, mengorganisasi ekonomi, mendistribusikan kekuasaan, memanfaatkan alam, dan membayangkan masa depan.
Dari sinilah lahir gagasan yang dapat Anda kembangkan lebih jauh sebagai Ecology of Civilization (Ekologi Peradaban): suatu kerangka yang melihat masyarakat, ekonomi, teknologi, budaya, dan alam sebagai satu sistem kehidupan yang saling bergantung. Dalam kerangka ini, keberlanjutan bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi proyek peradaban baru—sebuah upaya merekonsiliasi manusia dengan sesamanya, dengan institusi yang mereka bangun, dan dengan bumi yang menopang seluruh kehidupan.
Bogor, 1 Agustus 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity. Sage.
Boff, L. (2025, November 11). Die Wurzeln aus unserer eigenen Quelle bewässern. https://leonardoboff.org/2025/11/11/die-wurzeln-aus-unserer-eigenen-quelle-bewassern/
Castells, M. (1996). The rise of the network society. Blackwell.
Ciaurriz, M. (2022). The question of violence in Eric Hobsbawm’s historical thought [Doctoral dissertation, University of Edinburgh]. Edinburgh Research Archive. https://era.ed.ac.uk/bitstream/handle/1842/39110/Ciaurriz2022.pdf
Fukuyama, F. (1992). The end of history and the last man. Free Press.
Giddens, A. (1990). The consequences of modernity. Polity Press.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Polity Press.
Giddens, A. (1998). The third way: The renewal of social democracy. Polity Press.
Giddens, A. (1999). Runaway world: How globalisation is reshaping our lives. Profile Books.
Hanagan, M., Grande, L., Mohajer, N., & Moazami, B. (1995). History in the “Age of Extremes”: A conversation with Eric Hobsbawm. International Labor and Working-Class History, 48, 1–18.
Harvey, D. (2005). A brief history of neoliberalism. Oxford University Press.
Hobsbawm, E. (1994). The age of empire: 1875–1914. Vintage.
Hobsbawm, E. (1995). The age of extremes: The short twentieth century, 1914–1991. Abacus.
Hobsbawm, E. (1996a). The age of capital: 1848–1875. Vintage.
Hobsbawm, E. (1996b). The age of revolution: 1789–1848. Vintage.
Judt, T. (2005). Postwar: A history of Europe since 1945. Penguin.
Kirkus Reviews. (1995, January 30). The age of extremes [Review of the book The age of extremes: The short twentieth century, 1914–1991, by E. Hobsbawm]. https://www.kirkusreviews.com/book-reviews/eric-hobsbawm/the-age-of-extremes/
Mazower, M. (1998). Dark continent: Europe’s twentieth century. Penguin.
Moore, J. W. (2015). Capitalism in the web of life: Ecology and the accumulation of capital. Verso.
Polanyi, K. (2001). The great transformation: The political and economic origins of our time. Beacon Press. (Original work published 1944)
Raworth, K. (2017). Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist. Chelsea Green Publishing.
Rosenberg, J. (1995, June). Hobsbawm’s century. Monthly Review. https://monthlyreview.org/articles/hobsbawms-century/
Shepley, N. (Host). (2026, May 9). Hobsbawm’s Age of extremes—The golden age, the fall of communism, and the crisis of social democracy (No. 12) [Audio podcast episode]. In Explaining History. Podscan. https://podscan.fm/podcasts/explaining-history/episodes/hobsbawms-age-of-extremes-the-golden-age-the-fall-of-communism-and-the-crisis-of-social-democracy-1
Wallerstein, I. (2004). World-systems analysis: An introduction. Duke University Press.






