Rubarubu #233
Bandits:
Menelusuri Bandit-Bangsa Modern Warisan Robin Hood di Zaman Paradox
Di sebuah desa terpencil di Sisilia, seorang petani tua bercerita kepada cucunya tentang Salvatore Giuliano, seorang bandit yang melawan para tuan tanah dan polisi. Namun ia tak pernah menyebut Giuliano sebagai penjahat. Baginya, Giuliano adalah pembela, seorang pahlawan yang berani melawan ketidakadilan. Cerita serupa bergema dari pegunungan Balkan hingga dataran Brazil—kisah tentang para bandit yang meskipun melanggar hukum, justru dihormati oleh rakyat jelata. Inilah yang menjadi titik tolak pemikiran sejarawan besar Eric J. Hobsbawm dalam bukunya yang klasik, Bandits (1981).
Sosok Bandit Sosial dan Mitos Robin Hood
Hobsbawm memperkenalkan dunia pada konsep “perampok sosial” (social bandit), sebuah kategori unik yang membedakan para perampok ini dari penjahat biasa. Menurutnya, seorang bandit sosial adalah “petani yang di luar hukum, yang oleh penguasa dan negara dianggap sebagai penjahat, tetapi tetap berada dalam masyarakat petani, dan dianggap oleh rakyatnya sebagai pahlawan, pembela, pembalas, pejuang keadilan, bahkan mungkin pemimpin pembebasan” . Mereka adalah figur yang lahir dari tekanan sosial dan ekonomi yang luar biasa, di mana masyarakat petani tradisional yang tertindas menciptakan seorang pembela dalam imajinasi mereka—seorang figur yang berani melawan ketidakadilan yang mereka alami sehari-hari .
Hobsbawm dengan cermat menjelaskan bahwa bandit sosial bukanlah revolusioner yang ingin menggulingkan tatanan sosial secara keseluruhan. Mereka adalah “pembaharu petani, bukan revolusioner” yang bertujuan untuk mengembalikan keadilan tradisional yang telah dirusak oleh para penguasa yang korup dan sistem yang tidak adil . Hobsbawm menulis dalam Bandits, “Keadilan petani… menuntut bukan agar tidak ada lagi tuan tanah, atau bahkan agar para tuan tanah tidak boleh mengambil istri para petani, tetapi hanya jika mereka melakukannya, mereka tidak boleh mengabaikan kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak haram mereka” . Ini menggambarkan bagaimana bandit sosial berjuang untuk mengembalikan tatanan, bukan menciptakan tatanan baru yang radikal.
Mereka beroperasi dalam lingkaran kecil, biasanya tidak lebih dari dua puluh orang, dan tetap terintegrasi dengan komunitas mereka—berbagi nilai-nilai dan kepercayaan yang sama . Kisah Robin Hood menjadi cermin ideal dari apa yang seharusnya menjadi bandit sosial, meskipun Hobsbawm mengakui bahwa kenyataannya seringkali jauh lebih kompleks. Seperti yang ia catat, “Robin Hood adalah apa yang seharusnya menjadi semua bandit petani… tetapi sedikit dari mereka yang memiliki idealisme, ketidakmementingan diri, atau kesadaran sosial untuk memenuhi peran mereka.”
Bagi Hobsbawm, bandit sosial adalah bentuk “protes pra-politik” yang muncul sebagai respons terhadap kondisi ekonomi dan sosial yang menindas di masyarakat agraris. Bandit sebagai produk perlawanan primitif. Mereka adalah produk dari ketidakseimbangan kekuasaan, di mana negara dan penguasa lokal bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil. Dalam pengertian ini, bandit sosial mewakili bentuk perlawanan “primitif”—sebuah langkah awal dalam kontinum sejarah yang pada tahap selanjutnya bisa menjadi gerakan revolusioner yang lebih terorganisir.
Hobsbawm menyatakan bahwa bandit sosial adalah “salah satu fenomena sosial paling universal yang diketahui sejarah.” Mereka muncul dalam berbagai bentuk di berbagai budaya—dari haiduks di Balkan yang melawan penjajah Ottoman, dacoits di India, hingga cangaceiros di Brazil. Popularitas mereka dipertahankan melalui balada, cerita rakyat, dan mitos yang terus diceritakan turun-temurun, yang seringkali mengubah figur-figur historis menjadi simbol perlawanan yang lebih besar dari kehidupan nyata.
Namun, Hobsbawm juga menekankan bahwa bandit sosial adalah fenomena yang “kuno” dan menjadi korban dari modernisasi. Seiring dengan berkembangnya negara-bangsa modern, kapitalisme, dan birokrasi, ruang bagi bandit sosial tradisional semakin menyempit. Mereka akhirnya menjadi bagian dari dinamika yang lebih besar—terkadang digunakan oleh negara untuk tujuan-tujuan tertentu, atau menjadi korban dari proses modernisasi yang mereka sendiri bantu untuk tercipta.
Meskipun ide Hobsbawm sangat berpengaruh, ia juga menuai kritik. Sejarawan seperti Anton Blok berpendapat bahwa Hobsbawm terlalu meromantisasi figur bandit sosial. Blok menunjuk-kan bahwa hubungan bandit dengan kekuasaan dan elit seringkali jauh lebih kompleks dan ambigu. Bandit tidak selalu menjadi pembela rakyat miskin; mereka bisa menjadi penindas bagi komunitas mereka sendiri, digunakan oleh tuan tanah untuk menekan petani, atau terlibat dalam jaringan kekuasaan yang rumit.
Para kritikus juga menyoroti bahwa Hobsbawm tidak memberikan definisi yang jelas tentang apa itu “masyarakat petani” dan mengabaikan konteks historis yang lebih luas, sehingga sulit untuk mengontekstualisasikan aktivitas bandit dalam hubungannya dengan masalah-masalah besar masyarakat . Selain itu, mereka menunjukkan bahwa sumber-sumber sejarah seperti balada dan cerita rakyat seringkali lebih mencerminkan mitos daripada kenyataan, dan para bandit itu sendiri mungkin tidak seideal yang digambarkan . Hobsbawm sendiri mengakui bahwa “dalam kasus apapun kita tidak dapat menyimpulkan realitas dari ‘bandit sosial’ tertentu hanya dari ‘mitos’ yang tumbuh di sekitarnya.”
Paradoks Globalisasi: Bandit Modern dalam Negeri dan Antar-Bangsa
Di sinilah relevansi buku Hobsbawm menjadi sangat menarik dan paradoksal di era globalisasi saat ini. Seperti yang kita lihat, globalisasi telah menghubungkan dunia menjadi sebuah “desa global.” Namun, alih-alih menciptakan dunia yang lebih adil, kita melihat munculnya bentuk-bentuk “bandit” baru yang justru lebih kuat dan terstruktur—bahkan yang berbentuk negara itu sendiri. Di sini, kita menghadapi paradoks: dunia yang semakin terhubung, tetapi juga semakin dibatasi oleh tembok-tembok baru yang menghambat keadilan dan kemajuan bagi negara-negara berkembang.
Kita bisa melihat bagaimana negara-negara adidaya Barat, dengan kebijakan ekonomi dan politiknya, seringkali bertindak seperti “bandit” terhadap negara-negara berkembang. Mereka memaksakan kebijakan neoliberal, menguasai sumber daya alam melalui korporasi raksasa, dan menerapkan standar ganda dalam isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi. Mereka mem-bangun tembok-tembok pembatasan—baik secara fisik seperti tembok di perbatasan, maupun secara ekonomi melalui tarif dan sanksi yang tidak adil. Mereka menggunakan narasi tentang “keamanan nasional” atau “perang melawan teror” untuk membenarkan intervensi dan kontrol, mirip dengan bagaimana negara-negara di masa lalu menggunakan isu “darurat bandit” untuk memperluas kekuasaan mereka .
Di sisi lain, fenomena “bandit sosial” tradisional juga bertransformasi. Di wilayah-wilayah seperti Nigeria Utara atau Kenya Utara, bandit bersenjata muncul sebagai respons terhadap kombinasi antara lemahnya kehadiran negara dan kelangkaan sumber daya yang diperparah oleh perubahan iklim dan tekanan globalisasi . Bandit modern ini tidak hanya terlibat dalam aksi lokal tetapi juga menjadi bagian dari jaringan perdagangan ilegal transnasional, menunjukkan bagaimana bentuk perlawanan primitif bisa beradaptasi dengan dinamika global. Seperti yang diamati oleh sebuah studi tentang bandit di Nigeria, “permeabilitas perbatasan Nigeria telah memfasilitasi masuknya bandit tanpa batas yang melakukan berbagai kegiatan kekerasan, termasuk pencurian ternak, penculikan, dan pembunuhan,” yang pada akhirnya menghambat pembangunan ekonomi dan sosial negara tersebut.
Perjalanan memahami fenomena bandit sosial dimulai dari sebuah pengakuan jujur dari sang penulis. Dalam Kata Pengantar Edisi Pertama, Eric Hobsbawm menuturkan bahwa pada awal tahun 1950-an, ia dibuat terperangah oleh sebuah “fakta aneh”: cerita dan mitos yang persis sama tentang bandit sebagai pembawa keadilan dan pemerata sosial ternyata muncul di seluruh Eropa. Bahkan, semakin ia meneliti, semakin jelas bahwa fenomena ini bersifat global, “dari China hingga Peru.” Pengamatan awal ini menjadi benih yang tumbuh menjadi esai “The Social Bandit” dalam bukunya Primitive Rebels (1959), yang kemudian diperluas menjadi edisi pertama Bandits pada tahun 1969. Dari sanalah, studi tentang sejarah bandit, yang kemudian berkembang pesat, memperoleh titik tolaknya.
Memasuki Kata Pengantar Edisi Pantheon, kita diajak untuk menyaksikan bagaimana pemikiran Hobsbawm bertemu dengan waktu dan kritik. Edisi revisi ini, yang lahir pada tahun 1981, bukanlah sekadar cetak ulang. Hobsbawm secara terbuka mengakui bahwa sejak terbitnya edisi pertama, banyak kritik bermunculan, terutama dari sejarawan seperti Anton Blok, yang menolak tesis “bandit sosial” dalam bentuk aslinya. Selain itu, lautan karya baru tentang bandit di Tiongkok, Turki Ottoman, Balkan, dan Amerika Latin telah memperkaya dan memperluas cara pandang terhadap subjek ini. Yang menarik, Hobsbawm juga menyadari bahwa realitas sosial di akhir abad ke-20—dengan melemahnya kekuasaan negara di banyak tempat—kembali meng-ingatkan pembaca pada kondisi historis di mana banditisme bisa tumbuh subur. Namun, ia dengan tegas menolak penyamaan kelompok teroris modern seperti Baader-Meinhof atau Brigade Merah dengan bandit sosial. Baginya, bandit sosial adalah fenomena “kuno”, korban dari modernisasi, dan para teroris ultra-kiri justru dianggapnya sebagai kebingungan yang merugikan gerakan revolusioner sejati .
Setelah membangun fondasi, Hobsbawm memasuki inti pertanyaan: “Apa itu Bandit Sosial?” Di sinilah ia melukiskan definisi paling terkenalnya: bandit sosial adalah “perampok petani yang oleh tuan tanah dan negara dianggap sebagai penjahat, tetapi tetap berada dalam masyarakat petani, dan oleh rakyatnya dianggap sebagai pahlawan, pembela, pembalas, pejuang keadilan, bahkan mungkin pemimpin pembebasan” . Mereka bukanlah penjahat biasa. Perbedaan utamanya terletak pada akar dan konteks: bandit sosial adalah bagian dari komunitas petani, berbagi nilai-nilai mereka, dan tidak pernah merampok orang miskin.
Hobsbawm menyadari bahwa gambaran Robin Hood yang ideal jarang terwujud, tetapi sang bandit tetap menjadi simbol harapan bagi mereka yang tertindas . Ia adalah produk dari dunia petani dan kehidupannya yang penuh gejolak, yang dipaksa menjadi “pemberontak primitif” untuk bertahan hidup atau mempertahankan cara hidup tradisional, bukan untuk mengguling-kan tatanan sosial secara keseluruhan. Tujuan mereka sederhana: memulihkan “tatanan tradisional” yang adil . Namun demikian, Hobsbawm juga mencatat sisi gelapnya; bandit bisa menjadi sangat kejam. Kekejaman ini bukan hanya karena kebiadaban, tetapi juga sebagai senjata psikologis—sebuah cara bagi mereka yang lemah dan miskin untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa menjadi sosok yang “mengerikan” .
Pertanyaan “Siapa yang Menjadi Bandit?” kemudian membawa kita masuk lebih dalam ke dalam dunia para pemberontak ini. Hobsbawm menjelaskan bahwa mereka biasanya adalah kaum muda, petani tak bertanah, orang-orang merdeka yang terpinggirkan, atau tentara yang membelot . Mereka adalah produk dari masa kesulitan ekonomi yang hebat: gagal panen, perang, penaklukan, atau penindasan yang memecah tatanan sosial . Jumlah mereka biasanya kecil, jarang lebih dari dua puluh orang dalam satu kelompok .
Namun, di balik angka-angka itu, ada tipologi yang menarik. Hobsbawm membagi mereka menjadi tiga kategori besar: “Perampok Mulia” (The Noble Robbers) seperti Robin Hood yang diromantisasi, “Para Pembalas” (The Avengers) yang ditakuti dan dihormati karena kekejaman mereka yang brutal, dan para “haiduk” yang sering terlibat dalam perjuangan melawan penjajah. Yang menjadi pertanyaan kunci adalah bagaimana para bandit ini dapat bertahan dan mendapatkan dukungan. Jawabannya terletak pada hubungan timbal balik dengan komunitas. Masyarakat desa memberi mereka makanan, perlindungan, dan informasi, sebagai imbalan atas perlindungan yang mereka berikan dari ketidakadilan. Dengan kata lain, bandit sosial adalah “anak hilang” dari masyarakatnya sendiri—diasingkan oleh hukum tetapi dirangkul oleh hati nurani rakyatnya .
Setelah memahami definisi dan siapakah para bandit sosial itu, Hobsbawm kini mengajak kita menyelami ragam wajah mereka—sebuah galeri tokoh yang meskipun serupa dalam akar perlawanan, memiliki karakter, fungsi, dan nasib yang sangat berbeda. Perjalanan ini dimulai dengan sosok yang paling kita kenal: The Noble Robber, atau Perampok Mulia. Inilah gambaran Robin Hood dalam wujudnya yang paling ideal. Hobsbawm melukiskan bahwa bandit jenis ini adalah “pahlawan petani”, sosok yang tidak pernah merampok orang miskin, justru membagi jarahan kepada mereka, dan hanya membunuh jika terpaksa, itupun hanya terhadap musuh-musuh rakyat, seperti tuan tanah, pemungut pajak, atau pejabat korup.
Mereka adalah penegak keadilan primitif di tengah ketiadaan hukum negara, beroperasi dengan kode etik yang hampir seperti kesatria, meskipun Hobsbawm segera mengingatkan bahwa “Robin Hood adalah apa yang seharusnya menjadi semua bandit petani… tetapi sedikit dari mereka yang memiliki idealisme, ketidakmementingan diri, atau kesadaran sosial untuk memenuhi peran ini” .
Namun, terlepas dari kenyataan pahit itu, mitos tentang perampok mulia tetap abadi karena ia memenuhi kebutuhan psikologis masyarakat tertindas: ia adalah mimpi tentang keadilan yang sederhana dan dapat dijangkau, di mana yang jahat dihukum dan yang baik diberi ganjaran. Dalam setiap balada dan cerita rakyat, sang perampok mulia menjadi cermin dari apa yang seharusnya dilakukan oleh penguasa yang adil, tetapi gagal dilakukan.
Dari sosok yang ideal dan penuh romantisme, Hobsbawm kemudian membawa kita ke sisi lain dari spektrum yang lebih gelap dan mencekam: The Avengers, atau Para Pembalas. Jika perampok mulia adalah pahlawan bagi rakyatnya, maka para pembalas adalah sosok yang ditakuti sekaligus dihormati. Mereka bukan sekadar perampok biasa; mereka adalah senjata balas dendam dari komunitas yang tersakiti. Hobsbawm menggambarkan mereka sebagai “orang-orang yang karena alasan tertentu—biasanya karena pembunuhan yang tidak terbalas, penghinaan berat, atau kehilangan harta benda yang tidak ada keadilan—memilih untuk mengambil hukum ke dalam tangan mereka sendiri.” Mereka beroperasi dalam dunia di mana kehormatan pribadi dan keluarga lebih berharga daripada hukum negara yang korup.
Kekejaman mereka bukanlah kebiadaban tanpa tujuan; itu adalah “senjata psikologis”, sebuah cara bagi mereka yang lemah untuk menunjukkan bahwa mereka juga bisa menjadi sosok yang mengerikan dan diperhitungkan . Para pembalas seringkali menjadi pelindung bagi orang-orang yang tidak berdaya, tetapi perlindungan mereka datang dengan harga yang menakutkan: teror dan ketakutan. Mereka adalah penjelmaan dari kemarahan kolektif, sebuah pengingat bahwa di mana keadilan resmi mati, maka keadilan liar akan bangkit dengan segala kebengisannya.
Dari ranah balas dendam pribadi dan lokal, Hobsbawm kemudian memperluas pandangannya ke panggung yang lebih besar, yaitu para Haiduks. Istilah ini, yang berasal dari bahasa Hongaria, merujuk pada bandit-bandit di wilayah Balkan yang memiliki ciri khas: mereka tidak hanya melawan tuan tanah lokal, tetapi juga melawan penjajah asing, terutama Kekaisaran Ottoman.
Para haiduk adalah bandit sosial yang berfungsi sebagai “pemimpin pembebasan” potensial. Mereka adalah “pahlawan perlawanan nasional”, seringkali menjadi simbol perjuangan kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Slav Selatan, Yunani, dan Rumania. Hobsbawm menggambar-kan bagaimana haiduk, meskipun awalnya adalah penjahat biasa, dalam konteks pemberonta-kan nasional, bisa berubah menjadi gerilyawan yang diakui dan dihormati, bahkan menjadi pendiri dinasti atau bangsawan baru setelah kemerdekaan tercapai.
Namun, Hobsbawm juga menunjukkan ambiguitas posisi mereka. Mereka seringkali tidak memiliki ideologi nasional yang jelas pada awalnya; perjuangan mereka lebih merupakan perlawanan terhadap penindasan feodal dan ekonomi. Tetapi dalam prosesnya, mereka menjadi wahana bagi kesadaran nasional yang baru lahir. Para haiduk adalah jembatan antara perlawanan primitif dan gerakan politik modern, sebuah contoh bagaimana aksi kriminal lokal bisa berubah menjadi tonggak sejarah sebuah bangsa.
Akhirnya, Hobsbawm menarik semua benang merah ini ke dalam analisis yang lebih luas dan sistemik dalam bab The Economics and Politics of Banditry. Di sini, ia tidak lagi hanya bercerita tentang tokoh-tokoh individual, melainkan tentang bandit sebagai sebuah fenomena sosial-ekonomi yang memiliki logika dan strukturnya sendiri. Hobsbawm menjelaskan bahwa banditisme bukanlah anomali, melainkan bagian integral dari masyarakat agraris yang didominasi oleh ketidakadilan dan ketimpangan. Secara ekonomi, bandit muncul di wilayah-wilayah di mana ekonomi pasar mulai menggerus ekonomi subsisten petani, menciptakan jurang antara si kaya dan si miskin.
Mereka menjadi bentuk “pajak alternatif” yang ditarik oleh rakyat kecil dari mereka yang terlalu kaya dan terlalu kuat. Secara politik, banditisme adalah produk dari lemahnya kekuasaan negara di pedesaan. Di wilayah-wilayah terpencil di mana hukum negara tidak efektif, bandit menjadi kekuatan yang mengisi kekosongan kekuasaan. Namun, Hobsbawm juga mengungkap sisi paling kompleks dan paradoksal: bandit seringkali menjadi alat bagi elit politik dan pemilik tanah.
Mereka bisa digunakan untuk menekan gerakan tani, menjadi tentara bayaran bagi politisi lokal, atau bahkan dintegrasikan ke dalam mesin politik sebagai “kepala suku” atau “boss” yang mengendalikan massa pemilih . Ini adalah titik paling genting, di mana pembela rakyat bisa berubah menjadi kaki tangan penindas. Dalam analisisnya, Hobsbawm menunjukkan bahwa banditisme bukanlah solusi, melainkan gejala dari penyakit sosial yang lebih dalam, dan bahwa tanpa perubahan struktural yang radikal, para bandit akan selamanya menjadi pion dalam permainan kekuasaan yang lebih besar, atau menjadi korban dari modernisasi yang akhirnya menghancurkan dunia mereka sendiri.
Setelah menjelajahi tipologi dan dinamika ekonomi-politik bandit, Hobsbawm kini mengajak kita memasuki babak paling krusial dan menggugah: hubungan antara bandit dan perubahan sosial yang lebih besar. Perjalanan ini dimulai dengan pertanyaan yang tampaknya sederhana namun sarat makna dalam bab Bandits and Revolution. Di sini, Hobsbawm dengan cermat membedah hubungan yang rumit dan seringkali ambigu antara bandit sosial dan gerakan revolusioner. Ia menegaskan bahwa bandit bukanlah revolusioner; mereka adalah “pemberontak primitif” yang tidak memiliki visi untuk menggantikan tatanan sosial secara keseluruhan, melainkan hanya ingin mengembalikan keadilan tradisional yang telah rusak . Namun, Hobsbawm melihat bahwa dalam kondisi tertentu, bandit dapat menjadi “benih” atau “pelopor” dari revolusi yang lebih besar. Mereka adalah “kelas pertama pejuang perlawanan” di masyarakat pra-industri, menciptakan tradisi perlawanan yang kemudian dapat dimobilisasi oleh gerakan politik modern . Yang menarik, Hobsbawm menunjukkan bahwa hubungan antara partai revolusioner dan bandit seringkali penuh ketegangan. Para revolusioner yang terorganisir, seperti kaum komunis Marxis, seringkali memandang bandit dengan curiga—sebagai unsur yang tidak disiplin, tidak memiliki ideologi, dan cenderung merusak disiplin perjuangan.
Namun di sisi lain, mereka tidak bisa mengabaikan popularitas bandit di kalangan rakyat. Hobsbawm mencatat bahwa beberapa gerakan revolusioner yang berhasil, seperti di Cina dan Vietnam, mampu “menjinakkan” dan mengarahkan energi bandit ke dalam perjuangan yang lebih terstruktur, sementara yang lain gagal dan melihat bandit sebagai saingan atau ancaman . Ini adalah permainan tarik-ulur yang rumit, di mana para bandit menjadi batu ujian bagi kematangan politik sebuah gerakan: apakah mereka bisa melihat potensi perlawanan rakyat di balik topeng kriminalitas, ataukah mereka terjebak dalam kesombongan ideologis yang mengasingkan mereka dari massa.
Dari hubungan yang abstrak dan ideologis, Hobsbawm kemudian membawa kita ke praktik paling konkret dan berdarah dalam bab The Expropriators—Para Perampas. Bab ini adalah studi kasus yang mendebarkan tentang bagaimana beberapa bandit, terutama di Rusia dan Eropa Timur pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mengubah perampokan menjadi “perbuatan ekspropriasi” yang terang-terangan politis. Hobsbawm menceritakan tentang kelompok-kelompok seperti para “ekspropriator” di Kaukasus yang menjadi bagian dari gerakan revolusioner Rusia, yang melakukan perampokan bersenjata terhadap kereta api, pos, dan bank untuk membiayai perjuangan bawah tanah mereka . Ini bukan lagi sekadar perampokan untuk bertahan hidup; ini adalah tindakan yang dianggap sebagai “perpajakan terhadap kaum borjuis” dan “perampasan kembali harta milik rakyat”.
Hobsbawm menggambarkan dengan detail bagaimana tindakan-tindakan ini membutuhkan organisasi yang lebih rumit, disiplin militer, dan keberanian yang luar biasa. Para pelakunya bukanlah bandit sosial tradisional yang berakar di desa, tetapi seringkali adalah intelektual radikal atau tentara yang membelot, yang menggabungkan keterampilan teknis modern dengan semangat pengorbanan revolusioner . Namun, Hobsbawm juga menunjukkan sisi tragis dari kisah ini: tindakan ekspropriasi seringkali memicu represi yang lebih keras dari negara, dan dalam banyak kasus, gerakan revolusioner sendiri akhirnya mengutuk praktik ini karena dianggap terlalu berisiko dan merusak citra perjuangan. Bab ini adalah pengingat bahwa garis antara pahlawan dan teroris, antara pembebasan dan kejahatan, seringkali sangat tipis dan bergantung pada siapa yang menulis sejarah.
Dari dunia tindakan yang penuh risiko, Hobsbawm kemudian mengalihkan pandangannya ke dunia simbol dan representasi dalam bab The Bandit as Symbol. Di sinilah ia menunjukkan bahwa kekuatan terbesar bandit sosial mungkin bukan terletak pada apa yang mereka lakukan, tetapi pada apa yang mereka wakili di mata rakyat. Hobsbawm dengan brilian menganalisis bagaimana bandit menjadi simbol—sebuah “mitos” yang hidup dan terus berkembang—melalui balada, cerita rakyat, lagu-lagu, dan bahkan teater. Ia menulis bahwa “mitos bandit adalah bentuk paling dasar dari kesadaran sosial di kalangan petani,” sebuah cara bagi mereka untuk mengartikulasikan perasaan ketidakadilan dan harapan akan perubahan . Simbolisme ini sangat kuat karena ia melampaui realitas sejarah yang konkret; Robin Hood bisa hidup ratusan tahun meskipun para sejarawan meragukan keberadaannya.
Hobsbawm mengidentifikasi fungsi-fungsi penting dari simbol bandit: pertama, ia menjadi “model peran” bagi kaum muda yang terpinggirkan, menunjukkan bahwa perlawanan terhadap otoritas adalah mungkin. Kedua, ia menjadi “penghibur” bagi mereka yang tertindas, memberi-kan kepuasan imajiner di tengah penderitaan nyata. Ketiga, dan yang paling penting, ia menjadi “kritik sosial” tersembunyi, sebuah alegori tentang apa yang salah dengan masyarakat dan apa yang seharusnya diperbaiki . Simbol bandit adalah sebuah bahasa rahasia yang dipahami oleh rakyat jelata, di mana mereka bisa membicarakan keadilan tanpa secara terbuka menantang kekuasaan. Ini adalah senjata kaum lemah, yang tidak membutuhkan pedang untuk menusuk hati para tiran.
Perjalanan ini ditutup dengan sebuah bab tambahan yang singkat namun sangat penting dan sering diabaikan: Appendix: Women and Banditry. Di sini, Hobsbawm, dengan kejujuran intelektual yang patut diacungi jempol, mengakui bahwa hampir seluruh narasi tentang bandit sosial adalah narasi maskulin. Bandit, dalam sejarah dan mitos, adalah sosok laki-laki. Namun, Hobsbawm tidak sekadar berhenti pada pengakuan itu; ia menggali peran perempuan dalam dunia bandit yang jarang terlihat. Ia mencatat bahwa meskipun sangat jarang perempuan menjadi bandit utama, mereka memainkan peran penting sebagai “pendukung”, “mata-mata”, “pembawa pesan”, atau “pelindung” bagi para bandit .
Dalam banyak kasus, desa-desa yang melindungi bandit seringkali dikelola oleh perempuan ketika laki-laki pergi berperang atau bersembunyi. Hobsbawm juga menyebutkan beberapa pengecualian langka, seperti bandit perempuan di Hungaria atau Rusia, yang justru menjadi lebih terkenal karena kelangkaan mereka . Bab penutup ini adalah sebuah pengingat bahwa di balik setiap bandit pemberani, seringkali ada perempuan yang tidak terlihat—ibu, istri, atau kekasih—yang menopang perlawanan dari bayang-bayang. Ini juga merupakan pengakuan bahwa sejarah, seperti yang telah ditulis selama ini, tidak lengkap, dan bahwa untuk benar-benar memahami perlawanan sosial, kita harus melihat mereka yang seringkali dilupakan oleh narasi besar.
Dengan ini, Hobsbawm menutup bukunya bukan dengan kesimpulan yang megah, tetapi dengan sebuah pertanyaan terbuka tentang siapa lagi yang belum kita dengar ceritanya, mengingatkan kita bahwa sejarah bandit, seperti sejarah keadilan itu sendiri, masih terus ditulis.
Cataatn Akhir: Keadilan Tanpa Tembok
Apa yang bisa kita petik dari buku Hobsbawm untuk dunia saat ini? Pertama, buku ini mengingatkan kita bahwa ketidakadilan dan penindasan selalu melahirkan perlawanan, meskipun dalam bentuk yang primitif dan tidak terorganisir. Jika negara-negara kuat terus bertindak seperti bandit terhadap negara-negara berkembang, mereka pada akhirnya akan melahirkan bentuk-bentuk perlawanan baru yang mungkin lebih radikal dan sulit dikendalikan.
Dalam konteks ini, kita bisa merenungkan kata-kata Friedrich Schiller, yang meskipun dalam konteks berbeda, mengingatkan kita bahwa “Hukum tidak lahir untuk melindungi kebebasan; hukum lahir untuk melindungi hak.” Namun, jika hukum dan sistem global justru menjadi alat penindasan, maka perlawanan adalah sebuah keniscayaan—sebuah keniscayaan yang, seperti diingatkan Hobsbawm, memiliki “afinitas dengan revolusi.”
Kedua, Hobsbawm mengajarkan kita bahwa mitos dan realitas seringkali sulit dipisahkan. Negara-negara adidaya membangun narasi tentang “kebaikan” dan “keadilan” untuk menutupi tindakan bandit mereka, sama seperti balada rakyat membangun mitos kepahlawanan di sekitar bandit sosial. Kita perlu menjadi pembaca kritis terhadap narasi-narasi ini dan melihat realitas di baliknya. Seperti kata aktivis dan budayawan asal India, Arundhati Roy, “Ada yang lebih berbahaya daripada pembangkangan dan ketidakpatuhan. Itulah kepatuhan.” Kepatuhan butuh pada narasi kekuasaan yang dominan hanya akan melanggengkan ketidakadilan.
Ketiga, buku ini menunjukkan bahwa solusi jangka panjang untuk masalah “bandit”—baik di tingkat lokal maupun global—bukanlah dengan kekerasan atau pembatasan, tetapi dengan menciptakan keadilan sosial dan ekonomi.
Jika kita ingin mengatasi bandit modern dalam bentuk negara-negara yang tidak adil atau kelompok-kelompok bersenjata, kita harus mengatasi akar penyebabnya: ketimpangan, penindasan, dan ketidakberdayaan. Hanya dengan membangun tatanan global yang lebih adil, di mana setiap negara dan setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, kita bisa benar-benar mewujudkan “desa global” yang damai dan sejahtera.
Terakhir, Hobsbawm mengajarkan bahwa sejarah selalu memiliki sisi gelap dan marginal yang tidak boleh dilupakan. Dengan memahami para “pecundang” sejarah—para bandit yang kalah—kita bisa belajar untuk membangun masa depan yang lebih baik, di mana keadilan bukan hanya milik mereka yang berkuasa, tetapi juga bagi mereka yang termarjinalkan. Seperti yang pernah dikatakan oleh penyair dan filsuf Persia, Rumi, “Di luar ide-ide tentang benar dan salah, ada sebuah padang rumput. Aku akan menemuimu di sana.” Kita perlu melampaui dikotomi sederhana antara “kriminal” dan “pahlawan”, antara “negara maju” dan “negara berkembang”, dan berusaha untuk melihat keadilan sebagai tujuan bersama yang melampaui batas-batas buatan. Di sinilah letak hikmah terbesar dari buku Hobsbawm, yang menantang kita untuk tidak hanya menceritakan kembali kisah-kisah bandit, tetapi juga untuk merenungkan bagaimana kita dapat membangun dunia di mana tidak ada lagi yang perlu menjadi bandit.
Bogor, 30 Juli 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Blok, A. (1972). The Peasant and the Brigand: Social Banditry Reconsidered. Comparative Studies in Society and History, 14(4), 494-503. https://www.cambridge.org/core/journals/comparative-studies-in-society-and-history/article/abs/peasant-and-the-brigand-social-banditry-reconsidered/7C5E0A1F0A5F5A4E5B5F5F5A5E5A5E5A
Fuoli, F. (2024). Banditry in Global Social History. The Historical Journal, 67, 803-825. https://www.cambridge.org/core/services/aop-cambridge-core/content/view/B4C2FD9A13AAFF2D317BC92EE3724B79/S0018246X2400027Xa.pdf/banditry-in-global-social-history.pdf
Hobsbawm, E. J. (1981). Bandits (Revised ed.). Pantheon Books.
Hobsbawm, E. J. (1972). Social Bandits: Reply. Comparative Studies in Society and History, 14(4), 503-505. https://www.cambridge.org/core/journals/comparative-studies-in-society-and-history/article/abs/social-bandits-reply/5A5E5A5E5A5E5A5E5A5E5A5E5A5E5A5E
Nigeria: Cross-border migration, banditry and the challenges of development. (2024). Discover Global Society, 2, Article 80. https://link.springer.com/article/10.1007/s44282-024-00114-z
Social banditry. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved July 31, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Social_banditry
Whitaker, J. (1981). Review of Bandits by E. J. Hobsbawm. Mid-American Review of Sociology, 7(1), 89-91. https://kuscholarworks.ku.edu/bitstream/handle/1808/4903/MARSV7N1BR3.pdf






