Rubarubu #249
Bringing Sustainability to the Ground Level:
Berdiri di Tepi Sebuah Sungai
Kebanyakan buku tentang keberlanjutan dimulai dari angka besar, dari diagram tiga lingkaran, atau dari sebuah konferensi internasional. Buku Susan Gilbertz dan Damon Hall, Bringing Sustainability to the Ground Level: Competing Demands in the Yellowstone River Valley, justru mengajak kita berdiri di tepi sebuah sungai. Sungai itu Yellowstone, yang mengalir sekitar 692 mil dari Wyoming melintasi Montana sampai bertemu Sungai Missouri di North Dakota, dan oleh Dinas Taman Nasional Amerika disebut sungai terpanjang tanpa bendungan di 48 negara bagian bawah (National Park Service, n.d.; American Rivers, n.d.). Di sepanjang aliran itu hidup peternak yang mengairi ladang, pemandu wisata yang mengantar tamu memancing trout, pekerja ladang minyak yang datang dari negara bagian lain, warga kota yang meminum air dari sungai yang sama, dan komunitas masyarakat adat yang sejarahnya jauh lebih tua daripada semua batas administrasi yang kini mengaturnya. Semua orang itu menuntut sesuatu dari sungai yang sama pada saat yang sama. Itulah maksud anak judul buku ini: competing demands, tuntutan yang bersaing.
Alasan penerbit menerbitkannya pun sederhana. Keberlanjutan, tulis deskripsi buku itu, sering diajarkan secara abstrak dan terputus-putus, sehingga Lembah Sungai Yellowstone di Montana dipakai sebagai latar untuk memperkenalkan isu, teori, dan sains keberlanjutan lewat kehidupan orang-orang di lembah itu: profitabilitas bisnis, proses fisik lingkungan, satwa liar, kebijakan publik, dan hak masyarakat adat Amerika (Business Expert Press, n.d.). Buku ini ditujukan pertama-tama bagi mahasiswa bisnis dan ilmu lingkungan; ia dirancang sebagai studi kasus yang dapat dijadikan anak tangga pertama menuju pengumpulan data, analisis, dan pengambilan keputusan, dan sebagian besar isinya diuji secara empiris lewat pendanaan percontohan dari National Science Foundation (Gilbertz & Hall, 2022, deskripsi). Namun siapa pun yang mengelola lanskap, perusahaan, atau organisasi dapat membacanya sebagai cermin. Richard Stedman dari Cornell menyebut buku ini kaya akan suara-suara lokal dan mampu menghindari kepicikan karena selalu menghubungkan yang setempat dengan prinsip yang lebih luas (Gilbertz & Hall, 2022, testimoni); Paul Robbins, dekan Nelson Institute di University of Wisconsin–Madison, menulis bahwa keberlanjutan hanya masuk akal bila berpijak pada tempat, grounded in place.
Pengantar buku itu ditulis Andrew J. Hoffman, Holcim (US) Professor of Sustainable Enterprise di University of Michigan (Montana State University Billings, n.d.). Hoffman, doktor gabungan manajemen dan teknik sipil-lingkungan dari MIT yang sebelum berkarier di kampus bekerja di Badan Perlindungan Lingkungan Amerika dan perusahaan minyak Amoco, penerima Aldo Leopold Fellowship pada 2011, membuka pengantarnya dengan angka yang membuat napas tertahan. Ketika ia lahir pada 1961, bumi dihuni tiga miliar orang yang bergantung pada produk domestik bruto dunia sebesar US$1,4 triliun; kini 7,7 miliar orang bergantung pada US$80 triliun, dan pada 2050 diperkirakan 9,8 miliar orang serta US$135 triliun.
Di balik pertumbuhan itu, tulisnya, ekonomi bertumpu pada bahan bakar fosil, air bersih kian terbatas, nitrogen dan fosfor dibuang ke tanah dan air, laut menghangat dan mengasam, dan spesies punah dalam jumlah besar, sementara kesenjangan kekayaan mencapai tingkat yang menurut dia tak terlihat di sebagian dunia sejak 1929 (Hoffman, 2022). Lalu ia mengutip Charles Kettering, kepala riset General Motors: “A problem well stated is half solved,” masalah yang dirumuskan dengan baik sudah setengah terpecahkan. Dan ia menyandingkannya dengan Thomas Berry, teolog lingkungan yang menyebut tugas setiap zaman sebagai The Great Work: mengisi peran yang dibebankan sejarah kepada generasi yang hidup di dalamnya (Hoffman, 2022; Berry, 2000).
Dua Banjir, Satu Perkara di Pengadilan, dan Empat Ratus Lima Puluh Tiga Suara
Buku ini lahir dari sebuah sengketa yang tampak teknis. Pada 1996 dan 1997, dua banjir bersejarah menghantam Yellowstone. Para pemilik tanah di tepi sungai meminta izin memperkuat tebing mereka, dan Korps Insinyur Angkatan Darat Amerika (USACE) mengabulkan izin-izin itu, sehingga di sepanjang sungai tumbuh struktur penahan tebing seperti riprap, tumpukan batu yang dipasang untuk menahan erosi. Persoalannya, tak ada yang benar-benar menghitung bagaimana rangkaian struktur itu memengaruhi cara sungai bekerja dan pemanfaatan lain atas sungai, termasuk memancing dengan umpan lalat yang menjadi tulang punggung ekonomi setempat. Setelah digugat ke pengadilan, USACE mulai mempelajari sungai dari semua sisi: geologi, hidrologi, ekosistem. Dari sinilah, menurut penuturan Universitas Missouri, lahir penelitian panjang Gilbertz dan Hall untuk USACE di sepanjang sungai sepanjang hampir 700 mil itu, penelitian lima belas tahun yang menjadi bahan buku (University of Missouri, 2021).
Susan Gilbertz tumbuh di peternakan sapi di pedesaan Wyoming. Ia meraih sarjana dan magister komunikasi di University of Wyoming, lalu doktor geografi dari Texas A&M pada 2002, dan mengabdikan karier riset pada satu pertanyaan: bagaimana orang terikat pada suatu tempat, dan bagaimana ikatan itu membentuk filsafat lingkungan, kolaborasi, dan tindakan mereka (Montana Institute on Ecosystems, n.d.; O’Reilly Media, n.d.). Ia memimpin Program Studi Lingkungan di Montana State University Billings pada 2003–2009, dan sebelum buku ini ia menulis, bersama Trudy Milburn, tentang wacana warga dalam pembersihan Superfund atas air tercemar di Milltown, Montana.
Damon Hall datang dari arah lain: magister komunikasi dari Purdue dan doktor Ilmu Satwa Liar dan Perikanan dari Texas A&M, pada saat buku terbit ia asisten profesor ilmu keberlanjutan di University of Missouri, dan kini ia guru besar madya di Northeastern University yang memimpin program magister ilmu dan kebijakan lingkungan (Northeastern University, n.d.-a). Premis kerjanya dinyatakan blak-blakan: bagian-bagian masyarakat yang berbeda hanya memperhatikan masalah lingkungan ketika masalah itu mengganggu sesuatu yang sudah mereka pedulikan (Northeastern University, n.d.-b). Bila Gilbertz membawa geografi, tempat, dan sejarah sosial, Hall membawa ilmu keberlanjutan, tata kelola, dan partisipasi.
Pada 2006, Gilbertz dan Hall mewawancarai 313 pemilik tanah, petani, pemimpin sipil, dan pemilik usaha di sepanjang lembah. Satu dasawarsa kemudian, setelah banjir baru dan tumpahan minyak, mereka kembali dan menambah 140 percakapan lagi (University of Missouri, 2021). Totalnya 453 wawancara yang dikenal sebagai Yellowstone River Cultural Inventory, penelitian kualitatif longitudinal yang datanya dipakai USACE, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika, dan Departemen Sumber Daya Alam Montana (Northeastern University, n.d.-b). Pada 2010 Gilbertz bahkan diminta USACE menghubungi kembali peserta 2006 untuk meminta izin membuka rekaman asli kepada publik, dan lebih dari dua ratus orang mengizinkannya masuk arsip permanen di Western Heritage Center; pada 2012 ia mengumpulkan wawancara baru yang berfokus pada banjir dan tumpahan minyak 2011 (Montana Institute on Ecosystems, n.d.). Ini bukan sekadar teknik pengumpulan data. Ia pernyataan epistemologis: orang yang hidup di suatu tempat mengetahui sesuatu tentang tempat itu yang tak tertangkap model.
Hall menjelaskan mengapa wawancara satu per satu itu penting. Di lembah itu banyak konflik antar pengguna sungai, ujarnya, tetapi kesepakatan dasarnya adalah “We all love the Yellowstone River,” dan dari sanalah orang harus mulai (dikutip dalam University of Missouri, 2021). Cinta itu tak menghapus perbedaan. Ia hanya mengatakan bahwa orang yang berbeda kepentingan dapat memulai dari hal yang sama: mereka ingin terus memakai sungai untuk irigasi dan rekreasi dengan cara yang tak merugikan orang lain, bukan hanya sekarang tetapi seratus tahun lagi. Ia juga menyatakan bahwa demi kenyamanan, biaya, atau efisiensi, suara lokal sering dihapus dari naskah, dan mereka ingin mengembalikannya, sebab “di situlah semuanya dimulai dan berhenti” (University of Missouri, 2021). Jennie Stephens dari Northeastern menyebut hasilnya sebagai buku yang menunjukkan warisan ketidakadilan dan ketimpangan lingkungan sambil menginspirasi perubahan lewat sains keberlanjutan dan tindakan kolektif (Gilbertz & Hall, 2022, testimoni).
Thin dan Thick: Dari Rumus Hafalan ke Pertanyaan Tentang Sungai Ini
Gagasan yang paling mudah dibawa pulang dari buku ini adalah pembedaan antara thin sustainability dan thick sustainability. Yang pertama abstrak dan luas: kesejahteraan manusia, lingkungan, generasi mendatang. Ia penting karena memberi horizon moral, tetapi ia gagal menjawab pertanyaan paling praktis: apa yang harus dilakukan besok pagi, oleh siapa, dengan sumber daya yang mana. Yang kedua, thick, menurunkan keberlanjutan ke masalah tertentu, aktor tertentu, tempat tertentu, dan hubungan antar-sistem yang tertentu.
Hoffman, dalam pengantar itu, menyebut pergeseran inilah yang dilakukan buku ini: dari keberlanjutan yang tipis menuju yang tebal, dengan menempatkan analisis di koridor Sungai Yellowstone dan di tengah orang-orang yang hidup dan mencari nafkah di ekosistem itu. Marty Matlock, ahli teknik ekologi dari University of Arkansas, merumuskannya begini: keberlanjutan adalah soal bagaimana kita hidup bersama sekarang dan ke masa depan, “how we live together now and into the future.”
Pengantar itu juga menantang hafalan yang menjadi klise dalam dunia bisnis: triple bottom line, yaitu Manusia, Planet, Profit atau Ekuitas, Lingkungan, Ekonomi, serta definisi Komisi Brundtland 1987 tentang pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang. Kita semua dapat melafalkannya, tulis Hoffman, tetapi apa maknanya dalam praktik? Bagaimana mengukur tiga P itu, menjumlahkannya, mempertukarkannya, dan menerbitkan keputusan kebijakan yang spesifik? Semua itu, katanya, tak dapat dijawab secara agregat atau teoretis; hanya dalam kekhususan (Hoffman, 2022). Ironisnya, kritik itu kemudian datang dari penemunya sendiri.
John Elkington, yang menciptakan istilah triple bottom line pada 1994, pada 2018 menyatakan penarikan kembali konsepnya seperti pabrik menarik mobil yang cacat, sebab ia gagal mengubur paradigma satu-garis-dasar, padahal tujuan awalnya adalah perubahan sistem, transformasi kapitalisme: “It was never supposed to be just an accounting system” (Elkington, 2018). Dari sini terlihat mengapa buku ini penting bagi dunia korporasi: bila tiga kolom di lembar sebar itu tak menghasilkan perubahan, mungkin masalahnya bukan pada perusahaan yang kurang niat, melainkan pada cara berpikir yang memecah sebuah kehidupan menjadi tiga kolom.
Hoffman sendiri mengajukan istilah lain yang ia pinjam dari John Ehrenfeld: keberlanjutan, atau lebih tepat flourishing, tak akan dipahami maupun dicapai bila tak dibawa ke tingkat lokal tempat manusia, ekonomi, dan ekosistem sungguh berada; dan setiap upaya pelaksanaan harus dijalankan bersama orang-orang yang memahami, harus hidup dengannya, dan mampu melaksanakannya (Hoffman, 2022). Ini sejalan dengan tradisi pemikiran ekonomi yang belakangan menemukan kembali tempat sebagai batas. Kate Raworth, ekonom Oxford, menggambar ekonomi yang aman dan adil sebagai ruang di antara fondasi sosial, kebutuhan dasar manusia, dan langit-langit ekologis yang tak boleh ditembus (Raworth, 2017).
Yellowstone memberi bentuk geografis yang sangat konkret pada gambar itu. Petani membutuhkan pendapatan, kota membutuhkan air, industri energi membutuhkan izin beroperasi, wisatawan membutuhkan akses, masyarakat adat membutuhkan pengakuan hak, ikan membutuhkan aliran, hutan membutuhkan banjir. Tak satu pun dapat dihapus dari persamaan.
Tiga Ekonomi dalam Satu Lembah: Ladang, Wisata, dan Minyak
Bagian ekonomi buku ini bekerja dengan cara yang memikat: ia menampilkan tiga cara hidup yang masing-masing sah dan masing-masing bergantung pada sungai. Pertanian dan peternakan adalah fondasi tertua. Sistem irigasi seperti Proyek Lower Yellowstone, yang diotorisasi sejak 1904, mengairi sekitar 54.000 acre pada sekitar 400 pertanian di Montana dan North Dakota lewat satu bendung pengalih di dekat Glendive. Bagi para produsen itu, konservasi dan produksi tidak selalu bertentangan. Identitas sebagai produsen dapat menjadi pintu masuk bagi identitas sebagai konservasionis: menjaga tanah dan air berarti menjaga kemampuan berproduksi bagi generasi berikutnya. Stereotip “petani lawan lingkungan” menjadi terlalu sederhana. Petani mencintai tanah karena ia sumber hidup; konservasionis mencintainya karena ia rumah bagi spesies lain; keduanya dapat bertemu, tetapi pertemuan itu tak terjadi otomatis. Ia membutuhkan dialog, pengetahuan, kepercayaan, dan tata kelola yang baik.
Ekonomi kedua adalah pariwisata. Yellowstone adalah magnet global; satwa liar, sungai, dan lanskap menghasilkan pekerjaan dan nilai. Di sini muncul paradoks klasik: semakin berhasil sebuah tempat menarik pengunjung, semakin besar tekanan yang ditimbulkan keberhasilan itu. Pada Agustus 2016, kerapuhan itu tampak telanjang. Dinas Perikanan, Satwa Liar, dan Taman Montana menutup 183 mil Sungai Yellowstone dan anak-anak sungainya bagi semua kegiatan rekreasi, karena penyakit ginjal proliferatif (PKD) membunuh ribuan ikan mountain whitefish dan mulai menyerang trout; wabah itu diperparah oleh suhu air tinggi dan debit sungai yang hampir mencapai rekor terendah (Snow, 2016; Associated Press, 2016).
Pemandu dan toko peralatan pancing kehilangan puncak musim mereka. Direktur dinas itu mengakui dampak keputusannya bagi banyak orang, tetapi menegaskan bahwa lembaganya harus bertindak melindungi sumber daya publik ini bagi generasi kini dan mendatang (Associated Press, 2016). Kalimat itu adalah definisi kerja keberlanjutan yang paling ringkas, dan ia diucapkan bukan oleh akademisi melainkan oleh seorang pejabat yang terpaksa menghentikan musim ekonomi terpenting daerahnya. Daya dukung (carrying capacity), dengan demikian, bukan hanya angka ekologis; ia juga persoalan sosial, ekonomi, dan politik, sebab siapa yang menentukan batas turut menentukan siapa yang menanggung akibatnya.
Ekonomi ketiga, minyak dan gas, membawa kita ke wilayah hilir dan ke jantung dilema kapitalisme. Hoffman menyebut permintaan yang meningkat atas bahan bakar fosil dari formasi Bakken di bawah North Dakota barat dan Montana timur laut, yang ekstraksinya membutuhkan lebih banyak air, sementara pasokan air regional sudah dialokasikan melebihi ketersediaannya (Hoffman, 2022). Risiko itu sudah beberapa kali menjadi kenyataan. Pada 1 Juli 2011, saat sungai meluap hingga sekitar 65.000 kaki kubik per detik, pipa Silvertip milik ExxonMobil di dekat Laurel pecah dan melepaskan sekitar 1.500 barel minyak, kira-kira 63.000 galon, yang tersebar di tebing dan ladang selama puluhan mil di sekitar banjir bersejarah
Pada Januari 2015, pipa Poplar milik Bridger di dekat Glendive bocor di bawah sungai yang tertutup es; minyak mencapai sekitar pengambilan air minum kota itu, dan warga diminta tak minum atau memasak dengan air keran ketika benzena terdeteksi (Alvey, 2016; Inside Energy, 2015). Dua kejadian dalam kurang dari empat tahun, di sungai yang sama, di lembah yang sama.
Buku ini menolak jawaban murahan. Minyak dan gas menyediakan pekerjaan, pendapatan, energi; sebagian besar dari kita menjalani hidup dengan produk-produknya. Slogan “industri itu buruk” sama miskinnya dengan “industri itu baik”. Pertanyaan yang lebih dewasa adalah bagaimana sebuah masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa menghancurkan basis ekologis dan sosial yang memungkinkan manfaat itu ada. Di sinilah kapitalisme dapat dibaca secara lebih produktif. Kemampuannya berinvestasi, berinovasi, berwirausaha, dan menciptakan pekerjaan nyata; masalahnya muncul ketika keberhasilan diukur terlalu sempit.
Ketika sebuah perusahaan hanya menghitung laba, sementara masyarakat menanggung biaya pencemaran, hilangnya biodiversitas, kerusakan kesehatan, konflik sosial, atau hilangnya sumber air, keuntungan itu tak mencerminkan seluruh biaya sistem. Karl Polanyi telah lama mengingatkan bahwa tanah dan alam bukan barang yang diproduksi untuk dijual; memperlakukannya sebagai komoditas fiktif membuat masyarakat menanggung dampaknya (Polanyi, 1944/2001). Yellowstone menampilkan peringatan itu dengan nama tempat, tanggal, dan volume galon.
Ikan Purba, Hutan Kapas, dan Sungai yang Bernapas
Bagian lingkungan buku ini dibuka dengan dua tokoh yang tak dapat bersuara: pallid sturgeon, ikan purba bermoncong sekop yang oleh Dinas Perikanan dan Satwa Liar Amerika dimasukkan ke daftar spesies terancam punah pada 1990, dan hutan cottonwood, pohon kapas yang tumbuh di dataran banjir (Bureau of Reclamation, n.d.; The Case Centre, n.d.). Pertanyaan yang dipertaruhkan lewat mereka sebenarnya seluruh persoalan keberlanjutan: apakah sungai hanya saluran air untuk kepentingan manusia, atau ekosistem hidup yang punya nilai lebih luas? Kisah sturgeon menjadi salah satu bagian terkuat karena ia menempatkan dua kepentingan yang sah berhadap-hadapan.
Bendung pengalih Intake, dekat Glendive, menyalurkan air ke sistem irigasi yang menghidupi ratusan pertanian, sekaligus menghalangi ikan itu bermigrasi ke hulu untuk bertelur; pemerintah menemukan dua masalah pokok, yaitu ikan terseret masuk saluran irigasi dan kegagalan melewati bendung (Bureau of Reclamation, n.d.). Lembaga-lembaga federal memilih membangun saluran pintas sepanjang 11.150 kaki plus bendung pengganti pada 2016, sementara Defenders of Wildlife dan NRDC menilai keputusan itu bertumpu pada solusi yang belum terbukti bagi sturgeon (Defenders of Wildlife, 2016).
Kisah ini punya bab lanjutan yang terjadi setelah buku terbit, dan ia mengajarkan sesuatu yang tak dapat diajarkan teori. Saluran pintas sepanjang 2,1 mil senilai US$44 juta itu selesai pada April 2022, dengan bendung baru rampung Desember 2021; pada 5 Mei 2022, seekor sturgeon jantan berkode “1997 HOPS” menjadi ikan pertama yang berenang melewati saluran itu ke hulu, menembus bendung yang selama puluhan tahun menghentikan leluhurnya, membuka sekitar 165 mil sungai sebagai habitat pemijahan potensial (Bureau of Reclamation, 2022; RoundupWeb, 2022; Bureau of Reclamation & U.S. Army Corps of Engineers, 2024). Ini kabar baik, tetapi bukan akhir cerita: pemulihan spesies menunggu apakah ikan itu benar-benar bertelur dan larvanya bertahan.
Yang penting dari kisah ini bagi pembaca bisnis adalah polanya. Konflik antara irigasi dan spesies terancam tak diselesaikan dengan memenangkan satu pihak; ia diselesaikan lewat rekayasa yang menjaga pasokan air pertanian sekaligus membuka jalan ikan, dengan rencana pengelolaan adaptif dan pemantauan yang mengikutinya (Bureau of Reclamation, n.d.). Itu adalah keberlanjutan yang tebal: satu tempat, satu ikan, satu bendung, satu komunitas petani, satu pilihan desain.
Cerita hutan cottonwood dan tebing yang diperkuat batu memperlihatkan sifat khas wicked problems: solusi bagi satu bagian sistem menjadi masalah bagi bagian lain. Pengelolaan banjir tampak seperti perlindungan bagi manusia dan properti, tetapi banjir juga adalah cara sungai melakukan pekerjaan ekologisnya: memindahkan tebing, membuka gosong kerikil, dan menyiapkan tempat semai bagi cottonwood. Kajian Analisis Efek Kumulatif Yellowstone, yang berawal dari gugatan enam organisasi lingkungan pada 1999 karena Korps Insinyur melipatgandakan izin penahan tebing pada 1995–1997 tanpa memahami akibat gabungannya, menyajikan gambaran yang sukar ditolak (U.S. Army Corps of Engineers & Yellowstone River Conservation District Council, 2015). Di sungai yang tampak liar itu, di bawah pertemuan dengan Sungai Bighorn saluran sungai menyusut sekitar 4.460 acre sejak 1950 dan gosong kerikil berkurang, yang berarti berkurang pula tempat semai cottonwood; sementara di antara Springdale dan muara lebih dari 21.000 acre dataran banjir tak lagi tergenang pada banjir seratus tahunan, dengan penyebab tunggal terbesar berupa berkurangnya aliran (sekitar 8.600 acre), di samping tanggul dan faktor lain (Yellowtail Issues Group, 2015). Perlu dicatat bahwa kajian itu lahir dari gugatan, tetapi disusun dan dipimpin bersama oleh dewan distrik konservasi lokal dan Korps Insinyur, dan menghasilkan rekomendasi yang bersifat sukarela. Di sini tata kelola lokal bekerja: pemilik tanah dan lembaga federal bersepakat mempelajari akibat gabungan tindakan mereka.
Zona riparian, tepian sungai berpohon yang sering dianggap sekadar “pinggir sungai”, menyaring polutan, menahan erosi, mendinginkan air, menyediakan habitat, dan menyerap energi banjir. Nilai-nilai ini jarang muncul dalam neraca perusahaan mana pun karena tak punya harga pasar. Sebuah sungai dapat bernilai jutaan dolar bagi industri, tetapi fungsi ekologisnya tak pernah tercatat, sampai tepian itu rusak dan biaya pengolahan air, erosi, dan hilangnya habitat menagihnya.
Aldo Leopold (1887–1948), rimbawan dan ekolog Amerika yang Sand County Almanac-nya terbit setahun setelah ia wafat, telah menuliskan sikap dasar yang diperlukan: etika tanah mengubah peran manusia dari penakluk komunitas tanah menjadi anggota biasa dan warganya, “plain member and citizen of it” (Leopold, 1949). Penakluk, katanya, sampai pada akhirnya akan kalah oleh penaklukannya sendiri, sebab dalam peran itu tersirat klaim bahwa ia tahu persis apa yang membuat komunitas itu berdetak. Sungai Yellowstone mengajar hal yang sama dengan bahasa hidrologi.
Siapa yang Berhak atas Air? Keadilan, Sejarah, dan Meja Musyawarah
Bagian sosial buku ini menggeser pertanyaan dari “apa yang ada di sungai” menjadi “siapa yang mendapat apa dari sungai, dan mengapa”. Di sinilah muncul istilah equality, equity, dan environmental justice. Kerusakan lingkungan tak pernah tersebar merata, dan begitu pula manfaat ekonomi. Perlakuan yang sama belum tentu adil ketika sejarah, kepemilikan tanah, kekayaan, dan kekuasaan mempengaruhi kemampuan orang memanfaatkan sumber daya. Robert Bullard, yang sering disebut bapak gerakan keadilan lingkungan Amerika, menunjukkan sejak Dumping in Dixie (1990) bahwa tempat pembuangan limbah beracun cenderung ditempatkan di komunitas yang miskin dan berkulit hitam; pelajarannya berlaku lebih luas, bahwa beban dan manfaat lingkungan ditentukan oleh siapa yang punya suara (Bullard, 1990). Jika sebuah proyek menghasilkan laba besar sementara warga setempat menanggung pencemaran, kehilangan akses air, atau risiko kesehatan, masalahnya bukan lagi manajemen lingkungan; ia adalah keadilan.
Yellowstone bukan ruang kosong yang “ditemukan” masyarakat modern. Perjanjian Fort Laramie 1868 mendirikan Reservasi Crow, dan tanggal 7 Mei 1868 itu menjadi prioritas hak air paling senior di seluruh daerah aliran Yellowstone, jauh di atas semua pengguna yang datang kemudian (Tweeten, 2008). Dalam hukum air Barat Amerika yang menganut doktrin prior appropriation, “yang pertama menggunakan, yang pertama berhak”, tanggal prioritas itu berarti hak yang mendahului semua pihak lain, termasuk pertanian dan kota yang kini bergantung pada sungai (Beck Consulting, 2014). Namun hak di atas kertas tak sama dengan air di saluran. Montana membentuk Komisi Kompak Hak Air Cadangan untuk berunding, bukan berperkara; kompak dengan Northern Cheyenne disepakati awal 1990-an, sementara kompak Crow diratifikasi legislatif negara bagian pada Juni 1999, disahkan Kongres pada akhir 2010, disetujui referendum suku pada Maret 2011, dan baru diterima Pengadilan Air Montana pada 2015 dengan keberatan yang dibuang pada 2016 (Montana Department of Natural Resources and Conservation, n.d.; Tweeten, 2008). Paket penyelesaiannya memberi suku itu 500.000 acre-kaki air dari Sungai Bighorn dan 300.000 acre-kaki dari waduk Bighorn Lake serta dana US$460 juta untuk infrastruktur, walau sebagian anggota suku memandangnya dengan skeptis karena kendali yang menyertainya (High Country News, 2011). Hampir dua dasawarsa sejak Suku Crow mengajukan usulan penyelesaian kepada gubernur pada musim gugur 1998 hingga air itu sah sepenuhnya: itulah jarak antara keadilan dan waktu.
Kyle Powys Whyte, pemikir dari Potawatomi Nation, mengingatkan bahwa narasi krisis lingkungan sering menghapus masyarakat adat yang sudah lama hidup dalam apa yang bagi orang lain masih berupa ramalan buruk; bagi mereka, sejarah kolonial adalah pengalaman perubahan iklim dan perubahan lanskap yang dipaksakan (Whyte, 2018). Dengan cara serupa, sejarah tanah dan air di Yellowstone tak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa reservasi Crow yang asli jauh lebih luas daripada yang kini tersisa (Tweeten, 2008), sehingga hak air hari ini penuh muatan sejarah. Karena itu pertanyaan sustainability yang matang bukan hanya “bagaimana mengelola sumber daya secara efisien”, melainkan “siapa yang sejak awal berhak menentukan apa yang disebut sumber daya”.
Pembaca Indonesia akan mengenali kedalaman pertanyaan ini. Pada 16 Mei 2013, Mahkamah Konstitusi lewat Putusan 35/PUU-X/2012, atas permohonan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara bersama komunitas Kenegerian Kuntu di Riau dan Kasepuhan Cisitu di Banten, menyatakan bahwa hutan adat bukan lagi hutan negara, melainkan hutan hak masyarakat adat; namun pengakuannya bersyarat pada peraturan daerah yang lambat lahir, sehingga implementasinya tersendat (Mongabay Indonesia, 2018). Air Yellowstone dan hutan adat Nusantara mengajukan soal yang sama: pengakuan hukum baru berarti bila diikuti kapasitas untuk menjalankannya.
Bagaimana keputusan tentang air dapat dibuat bersama? Buku ini menjawabnya dengan pengalaman Yellowstone Basin Advisory Council (YBAC). Pada 2013, Departemen Sumber Daya Alam dan Konservasi Montana melibatkan dua puluh warga dengan kepentingan air yang beragam, dari pertanian, industri, suku, dan konservasi, untuk memberi rekomendasi bagi pembaruan rencana air di cekungan itu, dalam proses tiga tahap selama sekitar delapan belas bulan (Gilbertz et al., 2019; Beck Consulting, 2014). Tim Gilbertz dan Hall mencatat seberapa jauh informasi ilmiah dan teknis masuk ke dalam musyawarah.
Temuannya menarik dan jujur: para peserta bekerja sebagai pragmatis yang menciptakan ruang musyawarah di mana ketegangan antar tujuan dan nilai tak perlu dihadapi frontal; pragmatisme ini menyingkirkan sebagian isu ilmiah ke pinggir, dan itu membantu kelompok menghindari kebuntuan sehingga proses kolaborasi selamat, tetapi di sisi lain meminggirkan beberapa isu ilmiah penting (Gilbertz et al., 2019). Pelajarannya tajam. Demokrasi lingkungan tak cukup dengan konsultasi; konsultasi berarti “kami mendengar Anda”, musyawarah berarti “kami berpikir bersama Anda”, dan produksi bersama pengetahuan berarti “kita membangun pengetahuan bersama”. Dan keberhasilan proses harus dinilai dua kali: apakah kelompok itu sepakat, dan apakah ia tetap jujur kepada bukti.
Elinor Ostrom (1933–2012), peraih Nobel Ekonomi 2009, memperlihatkan bahwa sumber daya bersama tak harus dikelola oleh negara atau diprivatisasi agar terjaga; komunitas dapat merancang institusi sendiri, asalkan ada aturan yang jelas, pemantauan, sanksi bertingkat, mekanisme penyelesaian konflik, dan kemampuan beradaptasi (Ostrom, 1990). Air Yellowstone adalah commons semacam itu, tak sepenuhnya privat dan tak sepenuhnya publik. Tradisi Islam telah mengenali watak air sebagai milik bersama: Nabi bersabda bahwa kaum Muslimin bersekutu dalam tiga hal, yaitu rumput, air, dan api (Abu Dawud, n.d., no. 3477; dinilai sahih oleh al-Albani). Sebagai prinsip, kalimat itu sederhana; sebagai desain kelembagaan, ia menuntut semua yang dibutuhkan Ostrom: aturan, legitimasi, pemantauan, dan cara mengelola konflik.
Kompleksitas, Ketahanan, dan Banjir yang Datang Setelah Buku Terbit
Bab-bab akhir buku ini mengubah nada dari deskripsi menjadi refleksi: apa artinya semua ini bagi cara kita memahami keberlanjutan? Jawabannya, tersirat dalam deskripsi buku dan dalam judul bab kelimanya, adalah kompleksitas. Detail kasus Yellowstone, tulis deskripsi buku itu, memperlihatkan betapa rumitnya memperbaiki ketahanan komunitas (Gilbertz & Hall, 2022, deskripsi). Ekonomi bergantung pada ekologi; ekologi dipengaruhi keputusan sosial; keputusan sosial dibentuk institusi politik; politik dibentuk kekuasaan; dan kekuasaan dibentuk sejarah tentang siapa yang mendapat akses ke tanah dan air. Kita tak menghadapi ekonomi ditambah lingkungan ditambah masyarakat. Kita menghadapi satu sistem sosial-ekologis-ekonomi yang tak dapat dipilah menjadi tiga kolom. Dan sistem itu, seperti dicatat Hoffman, mempunyai masalah yang dapat kita lihat datang, misalnya pasokan air yang telah dialokasikan melebihi ketersediaan, dan masalah yang belum sepenuhnya dikenal: seorang petani cemas lebah menghilang akibat bahan kimia, seorang pemandu wisata cemas akan masa depan pariwisata ketika permintaan naik sementara akses ke sungai menyempit, para ilmuwan cemas curah hujan dan pencairan salju akibat iklim (Hoffman, 2022).
Kecemasan itu menjadi kenyataan pada Juni 2022, hanya beberapa bulan setelah buku terbit. Hujan lebat yang bertemu salju yang mencair cepat mengangkat Sungai Yellowstone ke tingkat bersejarah; jalan dan jembatan di taman nasional hanyut, ratusan rumah di kota-kota sekitarnya terendam, dan Yellowstone National Park ditutup. Di hilir, Billings, kota terbesar Montana, terpaksa mematikan instalasi pengolahan air karena sungai meluap, sehingga persediaan air bersih menyusut hingga cukup untuk 24 sampai 36 jam. “None of us planned a 500-year flood event on the Yellowstone,” kata direktur pekerjaan umum kota itu (dikutip dalam Associated Press, 2022): tak seorang pun dari kami merencanakan banjir lima abad. Kalimat itu adalah pengakuan jujur yang mengandung seluruh persoalan ketahanan. Infrastruktur dirancang berdasarkan masa lalu yang tak lagi dapat diandalkan, sementara cuaca menampilkan ekstrem yang dulu langka.
Di sinilah konsep ketahanan (resilience) perlu dibaca dengan cermat. Ia sering disalahpahami sebagai kemampuan bertahan atas segalanya, bounce back. Padahal ada saatnya sistem tak boleh sekadar bertahan; ia harus berubah. Sistem pertanian perlu berubah karena iklim, kota perlu berubah karena banjir, perusahaan perlu berubah karena teknologi, tata kelola perlu berubah karena struktur sosial berubah. Ronald Heifetz membedakan masalah teknis, yang dapat diselesaikan pakar dengan pengetahuan yang sudah ada, dari masalah adaptif, yang menuntut perubahan nilai, kebiasaan, dan cara orang melihat diri mereka sendiri (Heifetz, 1994; Heifetz et al., 2009). Keberlanjutan hampir selalu adaptif. Karena itu, sebagaimana ditekankan lampiran Anda dalam membaca buku ini, komunitas ilmuwan dan masyarakat perlu bekerja bersama menjadikan ketahanan dasar bagi tindakan: ilmu tentang keberlanjutan harus menjadi ilmu untuk keberlanjutan, dan ilmu bersama masyarakat.
Skala global memperlihatkan Yellowstone sebagai miniatur. Komisi Global tentang Ekonomi Air melaporkan pada Oktober 2024 bahwa permintaan air tawar akan melampaui pasokan sebesar 40 persen pada akhir dasawarsa ini, bahwa siklus air global terganggu oleh deforestasi, urbanisasi, dan hilangnya lahan basah, dan bahwa lebih dari separuh produksi pangan dunia berisiko dalam dua puluh lima tahun ke depan bila tak ada tindakan; komisi itu menyerukan agar air dipandang sebagai barang bersama global (The Guardian, 2024; Global Commission on the Economics of Water, 2024). Organisasi Meteorologi Dunia mencatat bahwa 2025 sekitar 1,43 derajat di atas rata-rata praindustri (World Meteorological Organization, 2026); Stockholm Resilience Centre menyimpulkan bahwa tujuh dari sembilan batas planet telah dilampaui (Stockholm Resilience Centre, 2025); dan Global Tipping Points Report 2025 menyatakan terumbu karang perairan hangat hampir pasti telah melewati titik kritisnya (Global Tipping Points Report, 2025).
Kerangka Kunming–Montreal menargetkan restorasi sedikitnya 30 persen ekosistem terdegradasi dan perlindungan efektif 30 persen daratan, perairan darat, pesisir, dan laut pada 2030, dengan pengakuan atas hak masyarakat adat dan komunitas lokal (Convention on Biological Diversity, 2022). Laporan foresight UNEP bersama Dewan Sains Internasional pada 2024 menyebut delapan pergeseran global, dari degradasi alam, teknologi seperti AI, persaingan sumber daya, hingga ketimpangan dan menurunnya kepercayaan pada institusi, yang mempercepat krisis planet rangkap tiga, dan mengusulkan kontrak sosial baru serta tata kelola yang gesit dan adaptif (United Nations Environment Programme & International Science Council, 2024). Semua itu sedang terjadi di setiap lembah sungai. Yang membedakan hanyalah nama tempatnya.
Kapitalisme yang Dituntut Turun ke Tanah
Di titik ini buku Gilbertz dan Hall memberi cara membicarakan kapitalisme yang lebih produktif daripada perdebatan lama antara pujian dan kutukan. Kapitalisme tetap punya peran penting: ia mengorganisasi modal, inovasi, produksi, dan pekerjaan dalam skala yang tak tertandingi sistem lain. Tetapi ia perlu diletakkan di dalam sistem kehidupan, bukan di atasnya. Setiap perusahaan hidup bergantung pada pekerja, konsumen, infrastruktur, air, energi, biodiversitas, stabilitas sosial, institusi, dan kepercayaan. Tak ada perusahaan yang berdiri sendiri. Kesenjangan antara kemampuan kapital berpindah dan ketidakmampuan tempat berpindah adalah kunci: modal, investasi, dan perusahaan dapat pergi, sedangkan sungai, gunung, hutan, dan komunitas tertentu tetap di sana. Karena itu tempat mempunyai memori, dan keberlanjutan yang serius harus memperhatikan memori itu.
Dorongan agar perusahaan lebih manusiawi kini berada di persimpangan, dan data terkini memperlihatkan keduanya. Di satu sisi, ketimpangan tetap tajam: Oxfam melaporkan bahwa kekayaan miliarder dunia naik lebih dari 16 persen pada 2025 menjadi rekor US$18,3 triliun (Oxfam International, 2026), sementara Forum Ekonomi Dunia menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai risiko teratas 2026 dan risiko lingkungan sebagai yang terparah dalam sepuluh tahun (World Economic Forum, 2026). Di sisi lain, pelonggaran terjadi pada aturan yang seharusnya mengikat: pada Desember 2025 paket Omnibus I Uni Eropa mempersempit kewajiban pelaporan keberlanjutan dan uji tuntas rantai nilai serta menghapus kewajiban rencana transisi iklim dari CSDDD (Principles for Responsible Investment, 2025; Latham & Watkins, n.d.), dan BlackRock keluar dari inisiatif Net Zero Asset Managers pada awal 2025 (ESG Today, 2026). Tetapi ada juga penanda kemajuan: 620 organisasi bernilai sekitar US$20 triliun berkomitmen melaporkan risiko dan peluang terkait alam sesuai TNFD (GOV.UK, 2025), dan PBB menyusun indikator untuk menilai kemajuan di luar PDB (United Nations, 2026).
Dalam situasi campur aduk seperti ini, buku Yellowstone menawarkan ukuran yang tak dapat digeser oleh siklus regulasi: apakah tempat ini tetap hidup, apakah manusia di dalamnya dapat hidup layak, apakah bisnis dapat terus berjalan, dan apakah ekosistemnya masih menopang semua itu.
Bila kita ringkas menjadi ujian yang dapat diajukan kepada perusahaan yang mengaku manusiawi, ada empat pertanyaan yang bersifat tebal, bukan tipis. Pertama, apakah ia mengenal tempatnya: sungai apa, daerah aliran mana, komunitas siapa, sejarah apa, hak siapa atas air dan tanah yang ia pakai. Kedua, siapa yang menanggung risiko bila ia keliru, dan apakah mereka ikut menentukan keputusan. Ketiga, apakah tiga kolom laporan keberlanjutannya bersatu dalam satu keputusan yang mengorbankan sesuatu yang dapat ditunjuk, atau tiga kolom itu sekadar berdampingan. Keempat, apakah sungainya membaik, bukan hanya laporan tahunannya.
Ujian keempat sejalan dengan kritik Elkington bahwa akuntansi tiga garis dasar tak boleh menggantikan perubahan sistem (Elkington, 2018). Bagi perusahaan, ini berarti perpindahan dari CSR ke stewardship. Dalam model CSR lama, perusahaan menghasilkan keuntungan lalu memberikan sebagian kepada masyarakat. Dalam stewardship, yang dipertanyakan adalah model bisnisnya sendiri: apakah rantai pasoknya adil, apakah produksinya merusak ekosistem, apakah pekerjanya hidup layak, apakah komunitas mempunyai suara, dan apakah kehadirannya memperkuat ketahanan wilayah.
Pelajaran ini berlaku di Indonesia tanpa banyak penerjemahan. UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Farhani & Chandranegara, 2019), dan hasil amandemen menambahkan bahwa perekonomian diselenggarakan dengan prinsip yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Universitas Islam Riau, n.d.). Kalimat-kalimat itu adalah versi Indonesia dari kegelisahan Yellowstone. Setiap DAS, dari Citarum sampai Kapuas, dari Mahakam sampai Batanghari dan Bengawan Solo, mengajukan pertanyaan yang sama: siapa yang memakai air, untuk apa, berapa, siapa yang menikmati manfaat, siapa yang menanggung biaya, dan bagaimana perubahan iklim mengubah semuanya. Dan pertanyaan yang lebih dalam menyusul: bila kita perlu melakukan cultural inventory kita sendiri di sebuah DAS, siapa yang akan kita wawancarai, dan sudah berapa lama sejak kita terakhir mendengarkan mereka?
Kemajuan, Warisan, dan Ukuran yang Lebih Tua daripada Laporan Tahunan
Judul bab terakhir buku ini, Progress of Sustainability and Sustainability as Progress, mengandung permainan makna yang layak direnungkan. Selama dua abad kemajuan sering berarti lebih banyak produksi, konsumsi, infrastruktur, ekstraksi, dan kecepatan. Tetapi ukuran itu tak lagi memadai ketika Hoffman sendiri mencatat bahwa dunia bertumbuh dari tiga miliar orang dan US$1,4 triliun menjadi 7,7 miliar orang dan US$80 triliun dalam satu masa hidup manusia (Hoffman, 2022). Kemajuan yang layak dinamai kemajuan adalah kemampuan hidup lebih baik tanpa membuat bumi lebih buruk: ekonomi membaik dan sungai juga membaik, teknologi meningkat tanpa merendahkan martabat manusia, perusahaan tumbuh dan komunitas menguat, kota berkembang tanpa biodiversitas hilang. Itulah keberlanjutan sebagai kemajuan, bukan keberlanjutan sebagai rem.
Ukuran semacam itu, anehnya, lebih tua daripada laporan tahunan mana pun. Lampiran Anda menuturkan kisah seorang petani di dekat Miles City yang, ditanya tentang masa depan, tak berbicara tentang aset atau target melainkan tentang harapan bahwa beberapa generasi sesudahnya anak cucunya masih dapat berdiri di tepi sungai yang sama dan menemukannya utuh; ia menyebutnya warisan. Kisah itu tak dapat saya verifikasi dari teks buku, tetapi ia sejalan dengan yang dikatakan Hall tentang para narasumbernya: mereka ingin memakai sungai, dan menginginkannya tetap ada seratus tahun lagi (University of Missouri, 2021).
Novelis Montana, Norman Maclean (1902–1990), yang tumbuh di pegunungan barat Montana, bekerja di kamp penebangan dan dinas kehutanan sebelum menjadi guru besar di University of Chicago, menutup novelanya A River Runs Through It dengan kalimat pendek yang menangkap apa yang tak dapat ditangkap neraca: “I am haunted by waters” (Maclean, 1976). Orang tak melindungi tempat karena spreadsheet; ia melindunginya karena tempat itu adalah bagian dari siapa dirinya. Keberlanjutan membutuhkan sains, tetapi juga rasa memiliki dan kasih sayang pada yang setempat.
Tradisi Islam memberi bahasa etis yang berdekatan untuk gagasan cukup dan tak merusak. Al-Qur’an memerintahkan, “makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan,” sebab Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS Al-A’raf [7]:31, terjemahan Kementerian Agama RI, n.d.). Ia juga menyatakan bahwa dari air Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup (QS Al-Anbiya’ [21]:30) dan bahwa air diturunkan dari langit menurut suatu ukuran (QS Al-Mu’minun [23]:18), dua ayat yang mengaitkan air dengan kehidupan dan dengan takaran (Kementerian Agama RI, n.d.; Tafsir Al-Qur’an, n.d.). Bila ukuran itu dilanggar, kata ahli tafsir kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi yang dikutip tafsiralquran.id, krisis air bukan tak mungkin. Ini bukan teori keberlanjutan modern, tetapi dua gagasan yang sangat relevan bagi buku ini: cukup, dan tidak merusak. Masalah keberlanjutan modern muncul persis ketika kemampuan manusia mengambil jauh melampaui kemampuan alam memulihkan.
Hikmah: Dari Organisasi yang Patuh Menjadi Organisasi yang Tebal
Apa yang dapat dipetik untuk situasi kini dan masa depan, ketika teknologi, konsumerisme, pemerintahan, bisnis, politik, dan peradaban bertambah kompleks, ketika mutu lingkungan memburuk, biodiversitas hilang lebih cepat, perang berkecamuk, dan warisan kolonialisme belum selesai? Pertama, bahwa keberlanjutan tak dimulai dari kerangka global, melainkan dari sebuah tempat: sebuah DAS, lanskap, pesisir, atau desa. Semua orang hidup di dalam sebuah daerah aliran sungai; semua hidup di tempat tertentu dengan tetangga tertentu dan sejarah tertentu. Kedua, bahwa pengetahuan lokal bukan romantisme dan sains bukan mahkota; keduanya memberi hal yang berbeda. Sains memberi metode, data, dan model; masyarakat memberi pengalaman, konteks, dan makna; tata kelola mengubah semuanya menjadi keputusan. Ketiga, bahwa konflik tak dihapus tetapi dikelola agar produktif. Petani, kota, ikan, industri, dan lingkungan semuanya memerlukan air, dan semuanya sah; tujuan tata kelola bukan menghapus konflik melainkan menjadikannya ruang menguji asumsi, memperjelas kepentingan, dan menemukan pilihan baru. Keempat, bahwa keberhasilan proses dinilai dua kali, oleh kesepakatan dan oleh kejujuran terhadap bukti, seperti diperlihatkan kisah dewan penasihat air Montana.
| Pergeseran | Pertanyaan yang diajukan | Praktik dalam organisasi adaptif dan aktivis |
| Dari abstrak ke berbasis tempat | Sungai, lanskap, dan komunitas mana yang sesungguhnya terdampak? | Profil tempat (sejarah, hak, ekologi, ekonomi, pemangku kepentingan) sebelum program atau investasi dirancang |
| Dari tiga pilar ke sistem terpadu | Apa yang dikorbankan oleh keputusan ini, dan siapa yang menanggungnya? | Trade-off yang ditulis eksplisit, bukan tiga kolom laporan yang berdampingan |
| Dari pakar saja ke ko-produksi pengetahuan | Siapa yang mengetahui hal ini selain kami? | Inventaris budaya dan wawancara longitudinal dengan warga; hasilnya dikembalikan kepada mereka |
| Dari konsultasi ke musyawarah | Apakah kami berpikir bersama mereka, atau hanya mendengar? | Forum deliberatif; catatan tentang isu ilmiah yang tersingkir demi kesepakatan |
| Dari menghindari konflik ke konflik produktif | Kepentingan sah mana yang bertabrakan? | Peta kepentingan dan aturan main sebelum sengketa, bukan sesudahnya |
| Dari kepatuhan ke stewardship | Apakah tempat ini membaik, bukan hanya laporan kami? | Indikator kondisi sungai, hutan, air, dan komunitas yang dilaporkan bersama pemilik tempat |
| Dari statis ke adaptif | Apa yang akan membuat kami mengubah rencana? | Pengelolaan adaptif dengan pemantauan, seperti rencana pemantauan pada saluran pintas ikan di Yellowstone |
| Dari data ke infrastruktur pengetahuan | Apakah pengetahuan kami masih hidup ketika orangnya pergi? | Arsip wawancara, ingatan institusional, dan data yang dapat diperiksa pihak lain |
Dari sini lahir cara memandang kepemimpinan yang tak heroik. Pemimpin yang dibutuhkan bukan yang datang membawa jawaban, tetapi yang bertanya sebelum memutuskan, mendengar sebelum berbicara, memahami sistem sebelum mengintervensi, menghormati pengetahuan lokal tanpa meninggalkan sains, mengakui konflik kepentingan tanpa menjadikannya alasan untuk tak bertindak, membangun ruang dialog, dan menghubungkan orang yang sebelumnya tak berbicara. Ini dekat dengan gagasan Heifetz tentang kepemimpinan adaptif dan dengan konsep Senge tentang organisasi pembelajar yang terus memperluas kapasitasnya menciptakan masa depan yang diinginkan (Heifetz, 1994; Senge, 1990/2006). Bila organisasi agile mampu bergerak cepat, organisasi adaptif mampu belajar, dan organisasi aktivis ikut mengubah sistem, maka stewardship menambahkan pertanyaan tentang untuk siapa perubahan itu dilayani. Bagi organisasi masyarakat sipil, ini berarti tak cukup menjadi pengawas; ia perlu menjadi peneliti, penerjemah ilmu, fasilitator, penghubung komunitas, pembangun jaringan, pengembang alternatif, dan penjaga kepentingan generasi mendatang. Aktivisme yang matang tak berhenti pada kata “jangan”; ia mampu berkata: “beginilah alternatifnya.”
Teknologi memperkuat pentingnya tempat, bukan menggantikannya. Kecerdasan buatan dapat membaca jutaan dokumen, menganalisis citra satelit, memetakan risiko, dan memprediksi perubahan. Tetapi ia tak otomatis mengetahui apa arti sungai bagi seorang petani yang hidup di sana tujuh puluh tahun. Karena itu masa depan keberlanjutan bukan AI melawan pengetahuan lokal, melainkan AI, sains, pengetahuan lokal, musyawarah, dan etika yang bekerja bersama.
Hall menyebut asas dasar kerjanya: pelajaran dari lembah itu adalah bahwa sebuah masalah lingkungan yang dikira teknis sering ternyata sosial (Northeastern University, n.d.-b). Dan jika buku sebelumnya dalam rangkaian bacaan ini, Superforecasting, mengajarkan cara berpikir jernih di tengah ketidakpastian, maka buku Yellowstone mengajarkan ke mana pemikiran itu harus dijejakkan. Kalimat penghubungnya dapat dirumuskan sebagaimana usulan lampiran Anda: meramalkan masa depan, tetapi bertindak di sebuah tempat; memahami sistem, tetapi mendengarkan orangnya; mengubah organisasi, tetapi menjaga sistem yang hidup.
Lampiran Anda merumuskan rangkaian yang memadatkan semuanya: tempat, manusia, ekologi, ekonomi, kekuasaan, dialog, pembelajaran, adaptasi, stewardship. Mulailah dari tempat. Dengarkan manusia. Pahami ekologi dan ekonomi. Kenali kekuasaan. Bangun dialog. Belajar. Beradaptasi. Kemudian bertindak sebagai penjaga. Urutan ini penting karena kebanyakan program keberlanjutan yang gagal bermula dari ujung sebaliknya: dimulai dengan solusi, baru mencari tempat untuk memasangnya.
Catatan Akhir: Sungai yang Tetap di Sana
Pada akhirnya buku ini menuntun kita ke pertanyaan yang lebih besar daripada lingkungan: peradaban macam apa yang sedang kita bangun? Peradaban yang menganggap alam gudang, atau rumah? Yang mengukur keberhasilan dari ekstraksi, atau dari kemampuan regenerasi? Yang melihat manusia sebagai konsumen, atau sebagai warga dan penjaga? Leopold telah menjawab dari sisi filsafat: kita bukan penakluk komunitas tempat kita hidup, kita anggotanya (Leopold, 1949). Petani, pemandu, insinyur Korps, hakim air, pemimpin suku, dan seekor ikan purba di Yellowstone mengajukan jawaban yang sama, dengan bahasa masing-masing.
Banjir yang lebih besar akan datang. Regulasi akan naik dan turun. Laporan keberlanjutan akan menjadi lebih rapi dan mungkin lebih kosong. Yang tak berubah adalah bahwa sungai tetap di sana, gunung tetap di sana, hutan dan komunitas tetap di sana. Keberlanjutan sebagai sebuah kata besar akan terus diperdebatkan di konferensi-konferensi. Keberlanjutan sebagai cara hidup akan diuji di tepi sungai tertentu, ketika seorang pemimpin harus memilih antara tenggat kuartalan dan air minum kota. Buku Gilbertz dan Hall meninggalkan kita dengan satu tugas yang sederhana dan sukar: turunlah ke tanah, dan dengarkan.
Bogor, 23 September 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Abu Dawud. (n.d.). Sunan Abi Dawud (Hadis no. 3477). Sunnah.com. https://sunnah.com/abudawud:3477
Alvey, L. (2016, March 3). Overview and comparison of two major oil spills in the Yellowstone River [Presentasi]. North Dakota Water Quality Monitoring Conference; Montana Department of Environmental Quality. https://deq.nd.gov/publications/WQ/3_WM/WQMonit/Presentations/2016_Conference/5_Thursday130/4_Alvey_TwoMajorSpills.pdf
American Rivers. (n.d.). Yellowstone River. https://www.americanrivers.org/river/yellowstone-river/
Associated Press. (2016, August 19). Montana closes Yellowstone River after thousands of fish die. https://www.foxnews.com/us/montana-closes-yellowstone-river-after-thousands-of-fish-die
Associated Press. (2022, June 16). Yellowstone floodwaters threaten water supplies in Montana. https://wlos.com/news/nation-world/yellowstone-floodwaters-threaten-water-supplies-in-montana-06-16-2022
Beck Consulting. (2014, June 3). Yellowstone Basin Advisory Council: Recommendation development report (2015 Montana Water Supply Initiative). https://archive.legmt.gov/content/Committees/Interim/2013-2014/Water-Policy/Meetings/July-2014/basinrecommendations3.pdf
Berry, T. (2000). The great work: Our way into the future. Bell Tower.
Bullard, R. D. (1990). Dumping in Dixie: Race, class, and environmental quality. Westview Press.
Bureau of Reclamation & U.S. Army Corps of Engineers. (2024, February). State of the infrastructure. https://usbr.gov/assetmanagement/docs/infrastructureReport-2024.pdf
Bureau of Reclamation. (2015). Intake Diversion Dam modification, Lower Yellowstone Project, Montana: Supplemental environmental assessment. https://www.usbr.gov/gp/mtao/loweryellowstone/EIS/2015_ea.pdf
Bureau of Reclamation. (2022, April 20). New fish bypass channel open at intake; Yellowstone River, Montana [News release]. https://www.usbr.gov/newsroom/news-release/4180
Bureau of Reclamation. (n.d.). Lower Yellowstone Project. https://www.usbr.gov/gp/mtao/loweryellowstone/
Business Expert Press. (n.d.). Bringing sustainability to the ground level: Competing demands in the Yellowstone River Valley. https://www.businessexpertpress.com/books/bringing-sustainability-to-the-ground-level-competing-demands-in-the-yellowstone-river-valley/
Center for Positive Organizations. (n.d.). Andrew J. Hoffman. University of Michigan. https://positiveorgs.bus.umich.edu/people/andrew-j-hoffman/
Convention on Biological Diversity. (2022). Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (Decision 15/4). https://www.cbd.int/gbf
Defenders of Wildlife. (2016, December 5). Record of decision on Yellowstone River dam and fish bypass a record of failure for pallid sturgeon [Siaran pers]. https://defenders.org/newsroom/record-of-decision-yellowstone-river-dam-and-fish-bypass-record-of-failure-pallid-sturgeon
Elkington, J. (2018, June 25). 25 years ago I coined the phrase “triple bottom line.” Here’s why it’s time to rethink it. Harvard Business Review. https://hbr.org/2018/06/25-years-ago-i-coined-the-phrase-triple-bottom-line-heres-why-im-giving-up-on-it
Environmental Protection Agency. (n.d.). Silvertip pipeline spill: Yellowstone River. https://response.epa.gov/ExxonMobilPipelineSpillYellowstoneRiver
ESG Today. (2026, February 25). Net Zero Asset Managers initiative relaunches. https://www.esgtoday.com/net-zero-asset-managers-initiative-relaunches/
Farhani, A., & Chandranegara, I. S. (2019). Penguasaan negara terhadap pemanfaatan sumber daya alam ruang angkasa menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jurnal Konstitusi. https://jurnalkonstitusi.mkri.id/index.php/jk/article/download/1622/pdf/2706
Gilbertz, S. J., & Hall, D. M. (2022). Bringing sustainability to the ground level: Competing demands in the Yellowstone River Valley. Business Expert Press. (Deskripsi, testimoni, dan pratinjau: https://www.everand.com/book/551415969/Bringing-Sustainability-to-the-Ground-Level-Competing-Demands-in-the-Yellowstone-River-Valley)
Gilbertz, S. J., Hall, D. M., Ward, L. C., & Anderson, M. B. (2019). Science on the sideline: Pragmatism and the Yellowstone River Basin Advisory Council. Water Resources Management, 33(4), 1411–1424. https://doi.org/10.1007/s11269-019-02207-w
Global Commission on the Economics of Water. (2024). Report of the Global Commission on the Economics of Water. https://watercommission.org/
Global Tipping Points Report. (2025). Global tipping points report 2025. University of Exeter. https://publications.pik-potsdam.de/pubman/item/item_34056
GOV.UK. (2025, October 10). Biodiversity Finance Trends Dashboard 2025 (accessible version). https://www.gov.uk/government/publications/biodiversity-finance-trends-2025/biodiversity-finance-trends-dashboard-2025-accessible-version
Heifetz, R. A. (1994). Leadership without easy answers. Belknap Press of Harvard University Press.
Heifetz, R. A., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The practice of adaptive leadership: Tools and tactics for changing your organization and the world. Harvard Business Press.
High Country News. (2011). Crow Tribe to vote on water compact. https://www.hcn.org/blogs/goat/crow-tribe-to-vote-on-water-compact/
Hoffman, A. J. (2022). Foreword. In S. J. Gilbertz & D. M. Hall, Bringing sustainability to the ground level: Competing demands in the Yellowstone River Valley. Business Expert Press. (Pratinjau: https://www.everand.com/book/551415969/Bringing-Sustainability-to-the-Ground-Level-Competing-Demands-in-the-Yellowstone-River-Valley)
Horton, C., Hall, D. M., Gilbertz, S. J., & Peterson, T. R. (2017). Voice as entry to agriculturalists’ conservationist identity: A cultural inventory of the Yellowstone River. Environmental Communication, 11(5). https://doi.org/10.1080/17524032.2016.1157505
Inside Energy. (2015, January 22). Bridger Pipeline’s oil spill on the Yellowstone River near Glendive. https://insideenergy.org/2015/01/22/bridger-pipelines-oil-spill-on-the-yellowstone-river-near-glendive/
Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahannya (QS 7:31 dan 21:30 sebagaimana dimuat di https://quran.nu.or.id/al-a’raf/31 dan https://quran.nu.or.id/al-anbiya/30). https://quran.kemenag.go.id/
Latham & Watkins. (n.d.). EU Sustainability Omnibus published in the Official Journal. https://www.lw.com/en/insights/eu-sustainability-omnibus-published-in-the-official-journal
Leopold, A. (1949). A Sand County almanac, and sketches here and there. Oxford University Press.
Maclean, N. (1976). A river runs through it and other stories. University of Chicago Press.
Mongabay Indonesia. (2018, July 2). Pengakuan bersyarat hambat implementasi hutan adat. https://mongabay.co.id/2018/07/02/pengakuan-bersyarat-hambat-implementasi-hutan-adat/
Montana Department of Natural Resources and Conservation. (n.d.). Crow Tribe–Montana Water Rights Compact. https://prod-dnrc.mt.gov/Water-Resources/Compacts/Crow
Montana Institute on Ecosystems. (n.d.). Gilbertz, Susan [Profil fakultas afiliasi]. https://montanaioe.org/about/people/affiliated/gilbertz-susan
Montana State University Billings. (n.d.). Sabbaticals 2020–2021. https://msubillings.edu/provost/sabbaticals-2020-2021.htm
National Park Service. (n.d.). Yellowstone River. Yellowstone National Park. https://www.nps.gov/yell/learn/nature/yellowstone-river.htm
Northeastern University. (n.d.-a). Damon Hall [Profil fakultas]. https://cssh.northeastern.edu/faculty/damon-hall-2/
Northeastern University. (n.d.-b). Damon Hall [Profil College of Science]. https://cos.northeastern.edu/people/damon-hall/
O’Reilly Media. (n.d.). Bringing sustainability to the ground level: Tentang para penulis [Bagian belakang buku]. https://oreilly.com/library/view/bringing-sustainability-to/9781637421482/text/backmatter03.xhtml
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.
Oxfam International. (2026, January 19). Billionaire wealth jumps three times faster in 2025 to highest peak ever, sparking dangerous political inequality [Press release]. https://www.oxfam.org/en/press-releases/billionaire-wealth-jumps-three-times-faster-2025-highest-peak-ever-sparking
Polanyi, K. (2001). The great transformation: The political and economic origins of our time (2nd ed.). Beacon Press. (Original work published 1944)
Principles for Responsible Investment. (2025, December 16). PRI responds to final agreement on the EU Omnibus proposal. https://public.unpri.org/consultations-and-letters/pri-responds-to-final-agreement-on-the-eu-omnibus-proposal/13571.article
Raworth, K. (2017). Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist. Chelsea Green Publishing.
RoundupWeb. (2022, May 25). Pallid sturgeons make their way through the bypass channel at Intake Diversion Dam. https://roundupweb.com/story/2022/05/25/news/pallid-sturgeons-make-their-way-through-the-bypass-channel-at-intake-diversion-dam/17090.html
Senge, P. M. (2006). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization (Rev. ed.). Doubleday. (Original work published 1990)
Snow, J. B. (2016, August 20). Massive Yellowstone fish kill leads to unprecedented river closure. Outdoor Life. https://www.outdoorlife.com/articles/fishing/2016/08/massive-yellowstone-fish-kill-leads-unprecedented-river-closure/
Stockholm Resilience Centre. (2025, September 24). Seven of nine planetary boundaries now breached. https://www.stockholmresilience.org/news–events/general-news/2025-09-24-seven-of-nine-planetary-boundaries-now-breached
Tafsir Al-Qur’an. (n.d.). Air: Anugerah Ilahi dan etika manusia terhadapnya. https://tafsiralquran.id/air-anugerah-ilahi-dan-etika-manusia-terhadapnya/
The Case Centre. (n.d.). Chapter 3: Environmental well-being in the Yellowstone River Valley (BEP11007). https://www.thecasecentre.org/products/view?id=182068
The Conference Board. (n.d.). Andrew Hoffman [Biografi]. https://www.conference-board.org/bio/index.cfm?bioid=1641
The Guardian. (2024, October 16). Global water crisis leaves half of world food production at risk in next 25 years. https://www.theguardian.com/environment/2024/oct/16/global-water-crisis-food-production-at-risk
Tweeten, C. D. (2008, September). Testimony of Chris D. Tweeten [S. 3355, Crow Tribe Water Rights Settlement Act]. U.S. House of Representatives, Committee on Natural Resources. https://naturalresources.house.gov/UploadedFiles/Testimony_of_Chris_D_Tweeten_Final_9_08_S3355.pdf
U.S. Army Corps of Engineers & Yellowstone River Conservation District Council. (2015, December). Yellowstone River cumulative effects analysis (Final). U.S. Army Corps of Engineers, Omaha District. https://ftpgeoinfo.msl.mt.gov/Documents/Projects/Yellowstone_River_Clearinghouse/Yellowstone-River-Cumulative-Effects-Study.pdf
United Nations. (2026, May 7). Secretary-General’s High-Level Expert Group sets out a set of indicators to put people and planet at the centre of decision-making [Press release]. https://www.un.org/en/node/242862
United Nations Environment Programme & International Science Council. (2024). Navigating new horizons: A global foresight report on planetary health and human wellbeing. UNEP. https://civil-protection-knowledge-network.europa.eu/media/navigating-new-horizons-global-foresight-report-planetary-health-and-human-wellbeing
Universitas Islam Riau. (n.d.). Bab I [Kutipan Pasal 33 UUD 1945 hasil amandemen]. https://repository.uir.ac.id/3982/4/f.%20BAB%20I.pdf
University of Missouri College of Engineering. (2021, November 10). Sustainability starts at the local level, new book shows. https://engineering.missouri.edu/?p=3895
Whyte, K. P. (2018). Indigenous science (fiction) for the Anthropocene: Ancestral dystopias and fantasies of climate change crises. Environment and Planning E: Nature and Space, 1(1–2), 224–242. https://doi.org/10.1177/2514848618777621
World Economic Forum. (2026, January 14). Global risks report 2026: Geopolitical and economic risks rise in new age of competition [Press release]. https://www.weforum.org/press/2026/01/global-risks-report-2026-geopolitical-and-economic-risks-rise-in-new-age-of-competition/
World Meteorological Organization. (2026, March 23). Earth’s climate swings increasingly out of balance [Press release on the State of the Global Climate 2025]. https://wmo.int/news/media-centre/earths-climate-swings-increasingly-out-of-balance
Yellowtail Issues Group. (2015, November 5). Yellowstone River cumulative effects analysis [Presentasi]. Bureau of Reclamation. https://www.usbr.gov/gp/mtao/yellowtail/issues_group/2016_meetings/yellowstone_river_cea_2015_11_05.pdf






