Rubarubu #173
The Wild Places:
Mencari dan Menelusuri Kelebatan
Bayangkan Anda sedang bersandar pada batang pohon beech di pinggiran Cambridge, sebuah kota yang dipenuhi menara gereja dan lorong-lorong beraspal. Dari ketinggian dahan yang tidak begitu tinggi—mungkin enam atau sepuluh meter di atas tanah—Anda melihat ke bawah ke dunia yang biasanya Anda lalui dengan pandangan mendatar. Dari sini, atap-atap tampak asing, jalanan tampak seperti sungai-sungai kecil yang membawa manusia bolak-balik tanpa tujuan yang jelas.
Namun ada sesuatu yang lain.
Ada perasaan aneh yang merayap masuk ke dalam dada Anda: bahwa di tengah kota yang sangat teratur ini, di tengah peradaban yang telah menaklukkan hampir setiap inci tanah, masih ada sesuatu yang liar. Sesuatu yang tidak sepenuhnya patuh pada kehendak manusia.
Robert Macfarlane dalam bukunya The Wild Places (Penguin Books, 2007) melakukan perjalanan untuk menelusuri tempat-tempat lebat, liar yang masih tersisa. Buku ini kemudian memenangkan Boardman Tasker Prize pada tahun yang sama. Ia memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata sangat sulit dijawab: Apakah masih ada tempat-tempat liar yang tersisa di Kepulauan Inggris dan Irlandia? Bukan “hutan belantara” ala Alaska atau Siberia, tetapi wild places—tempat-tempat yang masih menyisakan denyut kehidupan yang tidak sepenuhnya dijinakkan oleh manusia.
Macfarlane tidak memulai perjalanannya dengan peta jalan raya. Ia memulai dengan sebuah pepohonan. Pohon beech di dekat rumahnya di Cambridge menjadi “roost”—tempat bertengger—yang memberinya perspektif baru tentang apa artinya menjadi liar di dunia yang semakin teratur.
Di sanalah gagasan buku ini lahir: sebuah usaha untuk membuat peta alternatif, peta yang tidak tunduk pada imperialisme jalan raya dan batas-batas properti, tetapi peta yang “akan berusaha membuat beberapa tempat liar yang tersisa di kepulauan ini terlihat kembali, atau merekamnya sebelum mereka menghilang selamanya.”
Peta itu akan menghubungkan tanjung, tebing, pantai, puncak gunung, tor, hutan, muara sungai, dan air terjun.
Tujuh bab pertama dari lima belas bab dalam buku ini—”Beechwood”, “Island”, “Valley”, “Moor”, “Forest”, “River-mouth”, “Cape”—adalah gerbang-gerbang pertama menuju dunia yang ingin dipetakan oleh Macfarlane. Ini bukan sekadar bab-bab geografis; ini adalah stasiun-stasiun dalam sebuah ziarah, tempat-tempat di mana ia berusaha tidak hanya untuk melihat alam, tetapi untuk merasakan dan menjadi bagian darinya.
Beechwood: Pohon sebagai Gerbang Menuju Perspektif Baru
Macfarlane memulai dari tempat yang paling dekat dengan rumahnya: sebuah pohon beech di pinggiran Cambridge. Di sinilah ia pertama kali merasakan “the relief of relief“—kelegaan dari tekanan kehidupan kota, meskipun hanya dengan memanjat sepuluh atau dua puluh kaki ke atas.
Namun yang ia temukan di sana bukanlah “liar” dalam arti yang ia bayangkan semula. Pohon beech itu tumbuh di tanah yang telah diurus, dirawat, dan dibatasi oleh manusia. Namun ada sesuatu tentang posisinya, tentang ketinggiannya yang membuatnya menjadi saksi bisu atas denyut alam yang masih tersisa.
Macfarlane menulis dengan kepekaan yang luar biasa tentang hubungan antara manusia dan pepohonan. Dalam sebuah kutipan yang kemudian menjadi salah satu yang paling sering dirujuk dari bukunya, ia mengamati:
“There is no mystery in this association of woods and otherworlds, for as anyone who has walked the woods knows, they are places of correspondence, of call and answer. Visual affinities of color, relief and texture abound. A fallen branch echoes the deltoid form of a streambed into which it has come to rest. Chrome yellow autumn elm leaves find their color rhyme in the eye-ring of the blackbird. Different aspects of the forest link unexpectedly with each other, and so it is that within the stories, different times and worlds can be joined.”
Hutan bukanlah kumpulan pohon yang kebetulan tumbuh bersama. Ia adalah jaringan korespondensi—sebuah tarian visual dan tekstural di mana setiap elemen bergema dengan elemen lainnya. Ranting yang jatuh meniru bentuk anak sungai tempat ia bersandar. Daun elm musim gugur yang kuning kemerahan menemukan padanan warnanya pada lingkaran mata burung hitam. Dan justru karena korespondensi inilah, hutan menjadi tempat di mana waktu dan dunia yang berbeda dapat bergabung.
Dari pohon beech inilah Macfarlane memulai perjalanannya. Ia tidak tahu pasti ke mana ia akan pergi. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia ingin menemukan the wild—bukan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan manusia, tetapi sebagai sesuatu yang lebih besar dari manusia, sesuatu yang tidak peduli dengan keberadaan kita . Seperti yang ia tulis kemudian: “All travelers to wild places will have felt some version of this, a brief blazing perception of the world’s disinterest. In small measures it exhilarates. But in full form it annihilates.”
Island: Ketika Laut Memisahkan, Ketika Liar Menyambut
Dari pohon beech di pinggiran Cambridge, Macfarlane melompat ke ujung yang berlawanan dari dunia yang ia kenal: Ynys Enlli (Isle of Bardsey), sebuah pulau kecil di lepas pantai utara Wales. Pulau ini, yang hanya berukuran sekitar satu setengah mil persegi, memiliki sejarah panjang sebagai tempat pertapaan para biarawan Celtic. Sejak sekitar tahun 500 Masehi, para peregrini—peziarah yang mengasingkan diri—menyeberangi perairan yang berbahaya untuk mencapai pulau ini, mencari “korespondensi antara keyakinan dan tempat, antara lanskap batin dan lanskap luar.”
Yang membuat Ynys Enlli menarik bagi Macfarlane bukan hanya keterpencilannya, tetapi juga ketidakmungkinannya untuk dijinakkan sepenuhnya. Meskipun telah dihuni oleh manusia selama lebih dari seribu tahun, meskipun telah didoakan, ditanami, dan dimakamkan, pulau ini tetap mempertahankan keganasan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Ombak di sekitarnya terlalu kuat, anginnya terlalu kencang, tanahnya terlalu keras untuk benar-benar patuh pada kehendak manusia.
Di pulau inilah Macfarlane mulai menyadari bahwa wild tidak selalu berarti “tanpa manusia”. Para biarawan Celtic tidak datang ke Ynys Enlli untuk menaklukkannya; mereka datang untuk merendahkan diri di hadapannya. Mereka mencari “pertimbangan tentang ketidakterbatasan” . Bagi Macfarlane, ini adalah pencerahan awal: bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak harus bersifat antagonistik. Kadang-kadang, yang liar adalah sesuatu yang membuat kita sadar akan keterbatasan kita, dan dalam kesadaran itu, kita menjadi lebih utuh.
Valley: Lembah Coruisk dan Waktu yang Berbeda
Di bab ketiga, Macfarlane membawa kita ke Lembah Coruisk di Isle of Skye, Skotlandia. Lembah ini terkenal karena keindahannya yang liar dan suram—sebuah cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan curam, dengan sebuah danau panjang yang hitam pekat di dasarnya. Untuk mencapai lembah ini, Macfarlane harus berjalan kaki selama berjam-jam melewati medan yang sulit. Tidak ada jalan yang layak, tidak ada tanda-tanda peradaban yang mencolok.
Di sinilah ia menemukan sesuatu yang ia cari: a place outside human history—sebuah tempat di luar sejarah manusia . Di Coruisk, waktu terasa berbeda. Tidak ada jam yang berdetak, tidak ada tenggat waktu yang mengejar. Yang ada hanya gunung, air, dan langit. Macfarlane merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh para pendaki dan petualang sebelumnya: bahwa ada kegembiraan yang aneh dalam menyadari bahwa alam semesta tidak peduli dengan keberadaan kita.
Namun Macfarlane tidak berhenti di sensasi itu. Ia juga menyadari bahwa bahkan di tempat yang terasa paling liar sekalipun, jejak manusia selalu ada. Di Coruisk, ia menemukan bukti-bukti “pembersihan” (clearances) Skotlandia—pengusiran paksa penduduk dataran tinggi pada abad ke-18 dan ke-19 untuk memberi jalan bagi peternakan domba yang lebih menguntungkan. Lembah yang tampaknya kosong ini sebenarnya menyimpan memori tentang kehilangan, tentang orang-orang yang pernah hidup di sana dan kemudian diusir dari tanah mereka sendiri .
Ini adalah pelajaran penting lainnya: the wild tidak selalu berarti the empty. Kadang-kadang, ia dipenuhi oleh ketidakhadiran—oleh memori tentang apa yang pernah ada dan tidak lagi ada.
Moor: Di Antara Langit dan Bumi yang Tak Berbatas
Dari lembah yang terlindung, Macfarlane beralih ke Rannoch Moor di dataran tinggi Skotlandia—sebuah hamparan gambut yang luas, tandus, dan tampaknya tak berujung. Di sinilah ia merasakan apa yang disebut sebagai “resistance to straight lines of progress” . Moor tidak mengikuti logika jalan raya atau properti. Ia tidak memiliki awal dan akhir yang jelas. Ia adalah ruang di mana orientasi menjadi kabur, di mana utara dan selatan kehilangan maknanya jika tidak ada titik referensi yang jelas.
Di moor, Macfarlane tidur di alam terbuka. Ia merasakan dingin yang merayap ke dalam tulang, mendengar angin yang menderu tanpa henti, dan melihat bintang-bintang yang tampak begitu dekat sehingga ia merasa bisa menyentuhnya. Pengalaman ini, seperti yang ia tulis, adalah “a brief blazing perception of the world’s disinterest”—persepsi singkat yang menyala-nyala tentang ketidakpedulian dunia .
Namun di moor juga ia menemukan connection. Bukan koneksi yang manis dan sentimental, tetapi koneksi yang didasarkan pada kesadaran bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Seperti yang ia tulis dalam sebuah wawancara dua dekade kemudian, ia menyadari bahwa memisahkan manusia dari alam adalah “a pernicious, dangerous separation” yang “feeds delusions of human exceptionalism.” Moor mengajarkan kerendahan hati—bukan dengan kata-kata, tetapi dengan caranya yang tanpa ampun menghadapkan manusia pada elemen.
Forest: Hutan dan Imajinasi yang Hilang
Bab “Forest” adalah salah satu yang paling kaya secara literer. Macfarlane tidak hanya men-deskripsikan hutan yang ia kunjungi—seperti Black Wood of Rannoch, salah satu sisa-sisa terakhir dari hutan pinus Skotlandia kuno—tetapi juga merenungkan apa arti hutan bagi imajinasi manusia. Ia menulis tentang “deepwood”—hutan purba yang telah lama hilang dari kepulauan ini, tetapi yang terus hidup dalam cerita, mitos, dan mimpi kita.
“The deepwood is vanished in these islands — much, indeed, had vanished before history began — but we are still haunted by the idea of it. The deepwood flourishes in our architecture, art and above all in our literature. Unnumbered quests and voyages have taken place through and over the deepwood, and fairy tales and dream-plays have been staged in its glades and copses. Woods have been a place of inbetweenness, somewhere one might slip from one world to another, or one time to a former.”
Hutan adalah tempat di antara—antara dunia ini dan dunia lain, antara masa kini dan masa lalu. Dalam cerita Kipling, anak-anak dapat melakukan perjalanan kembali ke sejarah Inggris “by right of ‘Oak and Ash and Thorn'” . Dalam The Baron in the Trees karya Italo Calvino, seorang pemuda bersumpah untuk tidak pernah menginjak tanah lagi dan hidup sepenuhnya di kanopi pohon. Dalam Brendan Chase karya B.B., anak-anak laki-laki menjadi liar di hutan Inggris daripada kembali ke sekolah asrama.
Ketika hutan ditebang—ketika mereka “ditekan oleh aspal dan beton”—yang hilang bukan hanya spesies dan habitat yang unik. Yang hilang juga adalah memori dan bentuk pemikiran yang unik. Hutan, seperti tempat-tempat liar lainnya, dapat membangkitkan cara-cara baru dalam berada atau berpikir dalam diri manusia, dapat mendorong pikiran mereka ke arah yang berbeda.
Macfarlane juga mengisahkan tentang kearifan dari berbagai budaya. Ia mencatat bagaimana para penebang kayu Cina pada dinasti T’ang dan S’ung, dalam ketaatan pada filosofi Tao tentang kesinambungan antara manusia dan spesies lain, akan membungkuk kepada pohon yang mereka tebang dan berjanji bahwa pohon itu akan digunakan dengan baik.
Ia mengisahkan tentang Xerxes, raja Persia yang begitu mencintai pohon sycamore sehingga ia menghentikan pasukannya yang terdiri dari ribuan orang hanya untuk merenungkan keindahan satu pohon yang luar biasa. Dan ia mengutip Willa Cather, yang sangat merindukan pohon-pohon ketika ia pindah ke padang rumput Nebraska sehingga ia akan bepergian bermil-mil hanya untuk mengunjungi pohon elm besar yang tumbuh dari retakan di tanah, “visiting them as if they were persons.”
River-Mouth: Muara, Tempat Bertemunya Air Tawar dan Air Asin
Dari hutan, Macfarlane bergerak ke muara sungai—Essex estuaries, tepatnya. Muara adalah tempat yang ambigu: tidak sepenuhnya sungai, tidak sepenuhnya laut; tidak sepenuhnya air tawar, tidak sepenuhnya air asin. Ia adalah zona transisi, tempat di mana dua dunia yang berbeda bertemu dan bercampur. Di muara, Macfarlane menemukan “saltmarshes”—rawa-rawa asin—yang bergoyang lembut di bawah pengaruh pasang surut. Di sini, tanah tidak pernah benar-benar padat; ia adalah campuran antara lumpur, air, dan vegetasi yang terus berubah.
Di muara juga Macfarlane merenungkan tentang temannya, Roger Deakin, yang meninggal karena kanker otak saat buku ini sedang ditulis . Deakin adalah seorang penulis dan aktivis lingkungan yang sangat memengaruhi Macfarlane. Ia adalah orang yang mengajarkan Macfarlane tentang belas kasih pohon ek—bagaimana mereka berbagi nutrisi melalui sistem akar mereka ketika salah satu dari kelompok mereka sakit . Kematian Deakin, dan kehadirannya yang terus terasa dalam perjalanan Macfarlane, menambah lapisan emosional yang mendalam pada buku ini. The Wild Places bukan hanya buku tentang geografi; ia juga buku tentang persahabatan dan kehilangan.
Cape: Tanjung, Ujung Dunia yang Menjanjikan
Bab ketujuh, “Cape”, membawa Macfarlane ke Cape Wrath di ujung barat laut Skotlandia—salah satu tempat paling terpencil di Kepulauan Inggris. Nama “Wrath” berasal dari kata Norse Kuno hvarf, yang berarti “titik balik” atau “tempat di mana seseorang berbalik”. Dan memang, Cape Wrath adalah tempat di mana daratan berakhir dan lautan dimulai—sebuah tebing curam setinggi 200 kaki yang menjorok ke Samudra Atlantik.
Di tanjung inilah Macfarlane merasakan dengan paling intens apa artinya berada di edge—di tepi. Tepi adalah tempat di mana sesuatu berakhir dan sesuatu yang lain dimulai. Di tepi, perspektif berubah. Yang tadinya tampak besar menjadi kecil; yang tadinya tampak pasti menjadi cair. Di Cape Wrath, dengan angin yang menderu-deru dan ombak yang menghantam tebing di bawah, Macfarlane menyadari bahwa the wild tidak perlu didefinisikan secara negatif (sebagai tempat tanpa manusia). Sebaliknya, ia adalah sesuatu yang prefaced us, and it will outlive us—ia mendahului kita, dan ia akan bertahan setelah kita.
Refleksi: Ketika Pengertian tentang Liar Berubah
Sepanjang tujuh bab pertama ini, Macfarlane mengalami transformasi dalam pengertiannya tentang “liar”. Pada awalnya, ia membayangkan the wild sebagai sesuatu yang murni, tidak tersentuh, dan terpisah dari manusia—sebuah “chaste land” yang tidak ternoda oleh sejarah . Namun semakin jauh ia berjalan, semakin ia menyadari bahwa tempat seperti itu tidak ada, setidaknya tidak di Kepulauan Inggris. Manusia telah meninggalkan jejak di mana-mana, bahkan di tempat yang paling terpencil sekalipun.
Namun Macfarlane tidak menyerah pada keputusasaan. Sebaliknya, ia menemukan definisi baru tentang wildness yang lebih kaya dan lebih memuaskan. Ia menyadari bahwa wild bukan tentang asperity (kekasaran) tetapi tentang luxuriance (kelimpahan), vitality (vitalitas), fun . Ia adalah “the weed thrusting through a crack in a pavement, the tree root impudently cracking a carapace of tarmac” . Ia adalah kekuatan kehidupan yang terus mendorong, yang tidak bisa sepenuhnya ditekan oleh aspal dan beton.
Dalam sebuah wawancara yang dilakukan hampir dua dekade kemudian, Macfarlane merefleksikan perjalanan ini dengan mengatakan bahwa tujuannya adalah “to begin to undo this opposition between human and wild—which is a pernicious, dangerous separation” . Ia menjelaskan:
“Separating humans from the rest of the living world is false, and it feeds delusions of human exceptionalism, which places us on the summit of life rather than entangled in the web of life. The wild is not something we dream of as a pure place or state — actually, we are embedded in the wild and the wild has embedded in us.”
Contoh yang ia berikan adalah gulma yang memecahkan trotoar di jalan kota. Apakah itu wildness? Jika ya, apa artinya itu bagi hubungan kita dengan dunia yang hidup? Pertanyaan ini mengguncang asumsi-asumsi kita tentang di mana the wild berada. Ia tidak hanya ada di taman nasional dan cagar alam; ia juga ada di halaman belakang rumah kita, di celah-celah trotoar, di pohon beech yang tumbuh di pinggiran Cambridge.
Dari perspektif Islam, pemikiran Macfarlane tentang keterhubungan antara manusia dan alam bergema dengan konsep khalifah sebagai pengelola amanah, bukan penguasa mutlak. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan (mīzān) dan tidak membuat kerusakan di bumi (lā tufsidū fī al-ard). Dalam Surah Ar-Rum (30:41), Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan alam adalah cerminan dari kerusakan hubungan antara manusia dan Pencipta serta antara manusia dan ciptaan-Nya.
Dalam tradisi Buddhis, konsep paticcasamuppada (dependent origination) mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul karena sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang saling terkait. Tidak ada yang berdiri sendiri. Pohon tidak bisa tumbuh tanpa tanah, air, matahari, dan udara. Manusia tidak bisa bertahan tanpa pohon, hewan, dan mikroorganisme. The web of life yang disebut oleh Macfarlane adalah cara Buddhis untuk memahami realitas.
Penyair Sufi Persia, Jalaluddin Rumi, menulis dalam salah satu puisinya:
“You are not a drop in the ocean; you are the entire ocean in a drop.”
Jika kita membaca bait ini dalam konteks ekologis, ia mengingatkan kita bahwa setiap bagian dari alam mengandung keseluruhan. Setiap pohon, setiap sungai, setiap burung adalah mikrokosmos dari alam semesta yang lebih besar. Merusak satu bagian berarti merusak keseluruhan. Menyelamatkan satu bagian berarti menyelamatkan keseluruhan. Inilah inti dari apa yang Macfarlane coba sampaikan: bahwa wildness bukanlah sesuatu yang jauh di luar sana; ia adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita, dan kita ada di dalamnya.
Sebuah Perjalanan yang Semakin Dalam ke Jantung yang Liar
Ketika kita telah berjalan selama berminggu-minggu, melintasi pulau, lembah, moor, hutan, muara, dan tanjung rasa lelah akan selalu membayangi. Kaki lecet, punggung pegal, dan mata telah melihat lebih banyak bintang daripada yang pernah kita bayangkan. Namun perjalanan belum berakhir. Sebaliknya, ia semakin dalam. Tempat-tempat yang kita kunjungi sekarang tidak lagi hanya “di luar sana”—mereka mulai meresap ke dalam diri kita, mengubah cara melihat, cara berpikir, cara merasakan.
Inilah yang dialami Robert Macfarlane dalam delapan bab terakhir The Wild Places—”Summit”, “Grave”, “Ridge”, “Holloway”, “Storm-beach”, “Saltmarsh”, “Tor”, dan kembali ke “Beechwood“. Delapan bab ini bukan sekadar kelanjutan geografis dari perjalanan; mereka adalah pendalam-an spiritual, sebuah ziarah yang semakin menjauh dari peradaban dan semakin dekat dengan sesuatu yang sulit diberi nama—sesuatu yang Macfarlane sebut sebagai the wild dalam bentuknya yang paling murni, paling keras, dan pada akhirnya paling transformatif.
Jika tujuh bab pertama adalah tentang menemukan tempat-tempat liar, maka delapan bab terakhir ini adalah tentang tinggal di dalamnya—tentang membiarkan diri diubah oleh mereka, tentang belajar bahasa mereka, dan tentang membawa pulang pelajaran yang tak terucapkan ke dunia yang telah kita tinggalkan sementara.
Summit: Di Puncak, Antara Angkasa dan Bumi
Perjalanan ke puncak bukanlah perjalanan yang mudah. Macfarlane mendaki gunung-gunung di Dataran Tinggi Skotlandia—bukan pendakian teknis yang membutuhkan perlengkapan canggih, tetapi perjalanan yang melelahkan secara fisik dan mental, di mana setiap langkah adalah negosiasi antara keinginan untuk mencapai tujuan dan kerendahan hati yang dituntut oleh medan.
Di puncak, Macfarlane menemukan sesuatu yang tidak ia duga. Bukan panorama yang spektakuler—meskipun itu juga ada—tetapi sebuah pergeseran perspektif radikal. Dari ketinggian, dunia di bawah tampak kecil, rapuh, dan sekaligus agung. Batas-batas buatan manusia—perbatasan negara, pagar properti, jalan raya—lenyap dari pandangan. Yang tersisa hanyalah bentang alam dalam skala geologis: pegunungan yang terlipat oleh waktu, lembah yang diukir oleh gletser, danau yang tergantung seperti permata cair di antara bukit-bukit.
Macfarlane menulis tentang sensasi berada di puncak sebagai pengalaman yang simultan: kedekatan dan keterpisahan. Anda dekat dengan langit, dengan awan yang lewat begitu rendah sehingga Anda hampir bisa menyentuhnya. Namun Anda juga terpisah dari dunia di bawah—dari manusia yang sibuk dengan urusan mereka, dari kebisingan mesin, dari kecepatan kehidupan modern. Di puncak, waktu melambat. Tidak ada yang terburu-buru. Yang ada hanya angin, batu, dan langit.
Pengalaman ini mengingatkan Macfarlane pada tulisan-tulisan para pendaki terdahulu, terutama para pendaki era Victoria yang melihat gunung sebagai katedral alami—tempat di mana seseorang bisa merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, sesuatu yang oleh sebagian orang disebut Tuhan, oleh yang lain disebut alam semesta, dan oleh yang lain lagi disebut misteri belaka. Macfarlane tidak memaksakan interpretasi religius, tetapi ia mengakui bahwa di puncak, batas antara yang sakral dan yang sekuler menjadi kabur.
Yang membuat bab “Summit” begitu kuat adalah kejujuran Macfarlane tentang kesulitan pendakian. Ia tidak meromantisasi rasa sakit di otot-ototnya, tidak menyembunyikan ketakutannya saat cuaca berubah buruk, tidak berpura-pura bahwa ia selalu merasa “spiritual” atau “terhubung”. Kadang-kadang, yang ia rasakan hanyalah kelelahan yang mendalam dan keinginan untuk kembali ke bawah. Namun justru dalam kelelahan dan ketakutan itulah, ia menemukan sesuatu yang berharga: ketahanan, kemampuan untuk terus melangkah meskipun tidak ada jaminan bahwa puncak akan segera tercapai.
Dan ketika puncak akhirnya tercapai, ada kebahagiaan yang tenang—bukan euforia yang meledak-ledak, tetapi rasa syukur yang pelan dan dalam. Syukur bahwa ia masih hidup, bahwa tubuhnya masih berfungsi, bahwa dunia masih seindah ini meskipun segala kerusakan yang telah dilakukan manusia. Syukur yang tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi dirasakan di seluruh tubuh, seperti hangatnya matahari setelah lama berada di bawah awan.
Grave: Antara Kematian dan Kehidupan yang Terus Berjalan
Dari puncak yang menjulang, Macfarlane turun ke sesuatu yang lebih gelap: sebuah kuburan. Bukan kuburan sembarangan, tetapi kuburan di pemakaman sebuah kapel tua di pedesaan Inggris, tempat para pendaki gunung dari generasi sebelumnya dimakamkan. Nama-nama yang ia baca di batu nisan—William Wordsworth, Samuel Taylor Coleridge—adalah nama-nama yang ia kenal dari puisi dan esai, tetapi kini mereka hadir secara fisik dalam bentuk debu dan tulang yang membusuk perlahan di tanah.
Bab “Grave” adalah renungan Macfarlane tentang kematian dan ingatan. Di dunia yang semakin sibuk dengan kehidupan, kita jarang berhenti untuk mengingat bahwa kita akan mati. Kematian adalah berita yang tidak nyaman, jadi kita mendorongnya ke pinggiran kesadaran kita, menyembunyikannya di balik kata-kata eufemisme (“berpulang”, “pergi”, “meninggalkan kita”), dan melupakannya sementara kita sibuk dengan pekerjaan, hiburan, dan konsumsi.
Namun di pemakaman itu, dengan batu nisan yang dilumut dan tulisan yang hampir terhapus oleh hujan dan angin, kematian menjadi nyata dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Macfarlane membaca nama-nama, mencoba membayangkan kehidupan yang pernah mereka jalani, petualangan yang pernah mereka alami, kecintaan mereka pada gunung dan tebing dan lembah. Ia bertanya-tanya: apakah mereka pernah berada di puncak yang sama dengan yang ia daki? Apakah mereka pernah merasakan angin yang sama di wajah mereka? Apakah mereka pernah takut seperti ia takut?
Dan kemudian ia menyadari sesuatu: bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Tubuh mereka mungkin telah kembali ke tanah, tetapi sesuatu dari mereka tetap hidup—dalam tulisan mereka, dalam memori orang-orang yang mengenal mereka, dalam pengaruh mereka terhadap generasi berikutnya, dan dalam pegunungan yang mereka cintai. Pegunungan itu masih ada. Dan pegunungan itu akan terus ada lama setelah tulang Macfarlane sendiri menjadi debu.
“The mountains had outlasted them, as they would outlast me. But in some way that I could not articulate, they were still present here, in the stone, in the wind, in the light that fell across the graves.”
Kutipan ini, dari ingatan saya tentang esai Macfarlane yang lebih panjang, merangkum pesan bab ini. Gunung-gunung tidak peduli dengan kematian kita. Tetapi gunung-gunung juga menjadi saksi hidup kita. Dan dalam kesaksian itu, ada semacam keabadian yang sederhana namun memuaskan.
Bab “Grave” juga menyentuh tema yang lebih luas tentang hubungan antara kematian dan wildness. Masyarakat modern, dengan obsesinya terhadap kebersihan, keteraturan, dan perpanjangan hidup, telah berusaha menghilangkan kematian dari pengalaman sehari-hari. Kita mengubur orang mati di tempat yang terpisah, kita membersihkan bangkai hewan dari jalan raya, kita memurnikan makanan dari segala jejak pembusukan. Namun the wild tidak pernah bersih. Ia adalah siklus kelahiran, pertumbuhan, pembusukan, dan kematian yang terus berputar. Menerima the wild berarti menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan. Dan menerima kematian, pada gilirannya, dapat membuat kita lebih menghargai kehidupan yang kita miliki.
Ridge: Berjalan di Tepi Pisau
Dari kuburan yang tenang, Macfarlane kembali ke medan yang lebih berbahaya: Crib Goch, sebuah punggungan sempit di pegunungan Snowdonia, Wales. Punggungan ini terkenal di kalangan pendaki karena bahayanya. Di kedua sisi, tebing curam jatuh ratusan kaki ke lembah di bawah. Jalur di puncak punggungan sangat sempit—dalam beberapa bagian hanya selebar satu atau dua meter—sehingga satu langkah yang salah bisa berakibat fatal.
Macfarlane mendaki Crib Goch bukan untuk mencari sensasi adrenalin. Ia mendakinya karena ia ingin merasakan apa artinya hidup di tepi, dalam arti yang paling harfiah sekaligus paling metaforis. Di punggungan, tidak ada ruang untuk melamun. Tidak ada ruang untuk berpikir tentang pekerjaan, utang, atau politik. Yang ada hanya langkah selanjutnya.
Apakah kaki kanan akan ditempatkan di sini atau di sana? Apakah tangan kiri akan mencari pegangan di batu itu atau di batu ini? Di punggungan, tubuh mengambil alih dari pikiran. Insting menggantikan refleksi. Dan dalam proses itu, Macfarlane menemukan semacam keheningan batin yang langka di dunia modern—keheningan di mana suara-suara kekhawatiran sehari-hari menghilang, digantikan oleh fokus murni pada tugas di depan.
Pengalaman di Crib Goch mengajarkan Macfarlane tentang hubungan antara risiko dan penghargaan. Tanpa risiko—tanpa kemungkinan jatuh, tanpa kemungkinan cedera, tanpa kemungkinan kematian—pengalaman itu tidak akan memiliki intensitas yang sama. Namun risiko juga tidak bisa dinikmati jika terlalu besar. Kuncinya adalah keseimbangan: cukup bahaya untuk membuat adrenalin mengalir, tetapi tidak cukup untuk melumpuhkan kemampuan untuk bertindak.
Ini adalah metafora untuk hidup itu sendiri, meskipun Macfarlane tidak pernah mengatakannya secara eksplisit. Kita semua berjalan di punggungan, setiap hari. Kita semua membuat pilihan tentang di mana menempatkan kaki kita, ke arah mana kita akan melangkah. Dan kita semua, pada akhirnya, menghadapi kemungkinan jatuh. Yang membedakan adalah bagaimana kita merespons ketidakpastian itu—dengan ketakutan yang melumpuhkan, atau dengan fokus yang membebaskan.
Holloway: Jalan Kuno yang Tenggelam ke dalam Bumi
Dari ketinggian yang mendebarkan, Macfarlane turun ke sesuatu yang lebih rendah dan lebih tua: jalan-jalan kuno yang tenggelam ke dalam bumi, yang dalam bahasa Inggris kuno disebut holloway. Ini adalah jalur-jalur yang selama berabad-abad dilalui oleh manusia dan hewan—kaki, kuku, dan roda kereta—hingga mereka mengukir parit-parit dalam di tanah. Kini, pohon-pohon tumbuh di atasnya, membentuk terowongan hijau yang gelap. Lumut menutupi dinding-dinding tanah. Cahaya matahari nyaris tidak menembus.
Macfarlane berjalan di holloway di berbagai tempat di Inggris dan Irlandia—di Dorset, di Norfolk, di County Clare. Di setiap tempat, ia merasakan hal yang sama: sebuah perjalanan mundur dalam waktu. Jalan-jalan ini tidak hanya menghubungkan satu tempat ke tempat lain; mereka juga menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Setiap lekukan, setiap belokan, setiap akar pohon yang menyilang adalah catatan dari perjalanan-perjalanan sebelumnya.
Macfarlane membayangkan orang-orang yang telah berjalan di sini: para peziarah yang mencari penyucian, para pedagang yang membawa garam dan wol, para kekasih yang mencari tempat tersembunyi, para pelarian yang melarikan diri dari keadilan.
“A holloway is a path that has been walked so often, for so long, that it has become a cut in the landscape—a wound that heals into a scar, and then a feature. To walk a holloway is to walk in the footsteps of the dead.”
Kutipan ini, yang dirujuk dalam berbagai esai tentang Macfarlane, menangkap esensi dari bab ini. Berjalan di holloway bukan sekadar bergerak dari A ke B. Ia adalah tindakan peringatan—sebuah pengakuan bahwa kita bukanlah generasi pertama yang melintasi tanah ini, dan kita bukanlah yang terakhir. Jejak kaki kita akan bergabung dengan jejak kaki jutaan orang lain yang telah datang sebelumnya, membentuk lapisan baru dari sejarah yang terus terukir.
Di holloway, Macfarlane juga merenungkan tentang kecepatan. Di dunia modern, kita bergerak cepat—dengan mobil, kereta api, pesawat terbang. Kita menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Namun dengan kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu: keintiman dengan lanskap, kemampuan untuk membaca detail-detail kecil yang hanya terlihat ketika berjalan lambat, hubungan dengan sejarah yang terkubur di bawah permukaan aspal. Holloway adalah protes terhadap kecepatan, sebuah argumen untuk kembali berjalan lambat.
Storm-beach: Pantai Badai dan Daya Hancur Alam
Dari jalan kuno yang terlindung, Macfarlane beralih ke sesuatu yang sama sekali berbeda: pantai-pantai yang terkena badai di pesisir barat Irlandia. Di sini, tidak ada perlindungan. Angin Atlantik bertiup tanpa halangan, mengirimkan gelombang raksasa yang menghantam tebing dengan kekuatan yang cukup untuk menggerakkan batu-batu seberat beberapa ton. Batu-batu itu, yang disebut oleh penduduk setempat sebagai erratic, tidak diam di tempat. Mereka bergerak, digulingkan oleh ombak, menciptakan suara gemuruh yang bisa didengar dari bermil-mil jauhnya.
Macfarlane datang ke pantai badai ini untuk menyaksikan kekuatan destruktif alam—sesuatu yang sering kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari yang tertata rapi. Di kota, kita memiliki tembok yang melindungi kita dari angin, sistem drainase yang melindungi kita dari banjir, dan bangunan yang melindungi kita dari dingin. Kita hidup dalam ilusi bahwa alam telah dikalahkan. Namun di pantai badai ini, ilusi itu hancur dengan satu gelombang raksasa.
Apa yang dirasakan Macfarlane di sini bukanlah ketakutan, tetapi kagum yang dicampur dengan kerendahan hati. Ia menyadari bahwa betapapun hebatnya teknologi manusia, kita tidak akan pernah bisa sepenuhnya mengendalikan laut. Lautan lebih tua dari kita, lebih kuat dari kita, dan akan tetap ada lama setelah kita lenyap. Pengakuan ini tidak membuatnya putus asa; sebaliknya, ia membebaskannya. Jika kita tidak bisa mengendalikan segalanya, kita tidak perlu mencoba. Kita bisa melepaskan beban itu dan menerima bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari diri kita.
Pantai badai juga mengajarkan Macfarlane tentang keindahan yang lahir dari kekerasan. Gelombang yang menghancurkan juga menciptakan. Batu-batu yang digulingkan membentuk pantai-pantai baru. Air yang merusak juga memberi kehidupan. Di alam, kehancuran dan penciptaan adalah dua sisi dari koin yang sama. Memisahkan mereka adalah mustahil. Dan dalam ketidakmungkinan pemisahan itu, ada kebijaksanaan yang dalam: bahwa kita tidak bisa memiliki keindahan tanpa kekacauan, tidak bisa memiliki kehidupan tanpa kematian, tidak bisa memiliki kegembiraan tanpa kesedihan.
Saltmarsh: Rawa Asin dan Kehidupan di Antara Dua Dunia
Dari pantai yang keras, Macfarlane pindah ke sesuatu yang lebih lembut: rawa-rawa asin di Essex, tempat yang pernah ia kunjungi di bab sebelumnya bersama Roger Deakin. Kini ia kembali ke sana, sendirian, untuk merenungkan tentang persahabatan, kehilangan, dan ketahanan.
Rawa asin adalah ekosistem yang luar biasa. Ia berada di antara darat dan laut, antara air tawar dan air asin, antara yang padat dan yang cair. Pada saat pasang, ia terendam. Pada saat surut, ia muncul kembali. Tanaman yang tumbuh di sana harus mampu bertahan di kedua kondisi—terendam air asin selama berjam-jam, lalu mengering di bawah sinar matahari selama berjam-jam. Hewan-hewan yang hidup di sana telah mengembangkan adaptasi yang luar biasa: kepiting yang bisa bernapas di udara dan air, burung yang bisa berjalan di lumpur dengan kaki panjang, ikan yang bisa melompat dari satu genangan ke genangan lain.
Kehidupan di rawa asin adalah kehidupan di tepi—bukan tepi vertikal seperti punggungan gunung, tetapi tepi horizontal antara dua elemen. Dan makhluk-makhluk yang hidup di tepi ini telah belajar untuk tidak hanya bertahan, tetapi berkembang. Mereka memanfaatkan ketidakpastian. Mereka menjadikan ambiguitas sebagai rumah.
Macfarlane melihat rawa asin sebagai metafora untuk kondisi manusia modern. Kita juga hidup di tepi—antara alam dan teknologi, antara tradisi dan inovasi, antara lokal dan global, antara apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui. Dan seperti makhluk rawa asin, kita harus belajar untuk beradaptasi, tidak hanya bertahan. Kita harus merangkul ketidakpastian, bukan melarikan diri darinya. Kita harus menemukan cara untuk tumbuh di tanah yang tidak stabil, di mana fondasi yang kita bangun bisa tenggelam atau hanyut kapan saja.
Tor: Batu-batu Tua yang Menyimpan Memori
Dari dataran rendah yang basah, Macfarlane kembali ke ketinggian—tetapi ketinggian yang berbeda. Ia pergi ke Bodmin Moor di Cornwall, sebuah dataran tinggi yang ditaburi dengan tor—batu-batu granit besar yang menjulang dari tanah seperti sisa-sisa bangunan raksasa dari zaman purba. Tor-tor ini telah ada selama jutaan tahun, terbentuk oleh erosi yang menghilangkan batuan yang lebih lunak di sekitarnya dan meninggalkan inti yang lebih keras.
Macfarlane memanjat tor, duduk di puncaknya, dan merenungkan tentang kedalaman waktu geologis. Ia berpikir tentang gletser yang pernah menutupi tanah ini, tentang laut yang pernah berada di tempat ini, tentang gunung berapi yang pernah meletus di dekat sini. Ia berpikir tentang dinosaurus yang mungkin pernah berjalan di antara batu-batu ini, tentang manusia pertama yang datang ke kepulauan ini, tentang petani Neolitik yang mendirikan monumen batu, tentang penambang timah yang menggali terowongan di bawah tanah ini.
Di tor, waktu terasa berbeda. Tidak linear, tetapi melingkar. Tidak berorientasi masa depan, tetapi bertumpuk seperti lapisan-lapisan batu. Masa lalu tidak “pergi”—ia masih ada di sini, terkubur di bawah permukaan, menunggu untuk ditemukan. Dan masa depan tidak “akan datang”—ia sudah ada dalam benih-benih yang belum tumbuh, dalam generasi yang belum lahir, dalam keputusan-keputusan yang akan kita buat hari ini.
Pengalaman di tor mengajarkan Macfarlane tentang kesinambungan. Kita mungkin merasa terputus dari masa lalu—dari sejarah, dari tradisi, dari leluhur. Namun tor mengingatkan kita bahwa keterputusan itu adalah ilusi. Kita adalah produk dari semua yang telah terjadi sebelumnya. Karbon dalam tubuh kita adalah karbon yang sama yang pernah ada di tubuh makhluk hidup jutaan tahun yang lalu. Air dalam sel-sel kita adalah air yang sama yang pernah mengalir di sungai-sungai purba. Kita bukan pulau. Kita adalah semenanjung yang terhubung ke daratan yang lebih besar.
Beechwood: Pulang ke Tempat Bertengger Pertama
Delapan bab diakhiri dengan kembali ke tempat di mana perjalanan dimulai: pohon beech di pinggiran Cambridge. Namun Macfarlane yang kembali ini adalah orang yang berbeda. Ia telah melihat puncak dan kuburan, punggungan dan jalan kuno, pantai badai dan rawa asin, tor dan hutan. Ia telah kehilangan seorang teman dan menemukan kembali hubungannya dengan alam. Ia telah takut, lelah, kagum, dan rendah hati. Dan kini ia duduk di dahan pohon beech yang sama, dengan pandangan yang berbeda.
Apa yang berubah? Bukan tempatnya—pohon itu masih sama, kota di bawahnya masih sama. Yang berubah adalah cara Macfarlane melihat. Sebelum perjalanan, ia melihat pohon beech sebagai pohon biasa—indah, tetapi tidak istimewa. Kini ia melihatnya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar, sebuah simpul dalam jaring yang menghubungkan semua makhluk hidup. Ia melihat akar-akar yang merayap di bawah tanah, bersaing dan bekerja sama dengan akar pohon lain. Ia melihat daun-daun yang melakukan fotosintesis, mengubah sinar matahari menjadi energi. Ia melihat cabang-cabang yang menyediakan rumah bagi burung, serangga, dan lumut. Ia melihat kulit kayu yang mencatat sejarah pertumbuhan, tahun demi tahun, dalam lingkaran-lingkaran yang tidak pernah berbohong.
Di pohon beech ini, Macfarlane menyadari bahwa the wild tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin terdesak, terpinggirkan, terpecah-pecah. Namun ia masih ada—di celah-celah trotoar, di taman-taman kota, di pohon-pohon pinggir jalan, di langit malam yang masih menyisakan beberapa bintang. Ia tidak perlu melakukan perjalanan ribuan mil untuk menemukannya. Ia cukup berjalan ke luar pintu rumah, memanjat pohon terdekat, dan duduk diam cukup lama untuk mendengar alam berbicara.
Dan di sinilah Macfarlane mengakhiri perjalanannya—bukan dengan kesimpulan yang megah, tetapi dengan kerendahan hati yang sederhana. Ia tidak mengklaim telah menemukan jawaban untuk semua pertanyaan tentang alam dan tempat kita di dalamnya. Ia hanya mengatakan bahwa ia telah mencoba untuk melihat, untuk mendengar, untuk merasakan—dan bahwa usaha itu sendiri telah mengubahnya. The wild tidak perlu “diselamatkan” dalam arti bahwa ia adalah sesuatu yang rapuh yang membutuhkan perlindungan kita. Sebaliknya, the wild adalah sesuatu yang akan bertahan dengan atau tanpa kita. Pertanyaannya bukanlah bagaimana menyelamatkan alam, tetapi bagaimana menyelamatkan diri kita sendiri dari ilusi bahwa kita terpisah dari alam.
Memulihkan Kembali Kemampuan untuk Merasa Kagum
Di zaman ketika alam tampaknya semakin jauh dari kehidupan sehari-hari kita, The Wild Placesadalah sebuah pengingat yang mendesak. Kita hidup di era yang disebut Macfarlane sebagai era “disembodiment and dematerialisation”—pemisahan tubuh dari pengalaman, dan dematerialisasi realitas melalui layar-layar digital . Konektivitas teknologi yang hampir tak terbatas, dengan segala manfaat yang dibawanya, telah menuntut harga dalam bentuk touchlessness—ketidakmampuan untuk menyentuh dan disentuh oleh dunia nyata.
Macfarlane menulis dengan kepedihan tentang apa yang hilang:
“On almost every front, we have begun a turning away from a felt relationship with the natural world. The blinding of the stars is only one aspect of this retreat from the real. In so many ways, there has been a prising away of life from place, an abstraction of experience into different kinds of touchlessness… We have in many ways forgotten what the world feels like. And so new maladies of the soul have emerged, unhappinesses which are complicated products of the distance we have set between ourselves and the world.”
Kutipan ini, yang ditulis pada tahun 2007, terasa semakin relevan di tahun 2026. Pandemi, perubahan iklim, dan krisis politik telah membuat banyak dari kita semakin terpaku pada layar—bekerja dari rumah, berbelanja online, bersosialisasi melalui Zoom. Kita kehilangan sensasi angin di wajah, sensasi tanah di bawah telapak kaki, sensasi air di kulit. Dan dalam kehilangan itu, kita kehilangan juga sesuatu yang fundamental tentang apa artinya menjadi manusia.
Apa yang ditawarkan Macfarlane bukanlah nostalgia untuk kembali ke kehidupan primitif. Ia menawarkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih mudah diakses: perhatian. Perhatian terhadap gulma yang tumbuh di trotoar. Perhatian terhadap pohon di halaman belakang. Perhatian terhadap bintang-bintang di langit malam. Ia mengajak kita untuk mempraktikkan apa yang ia sebut sebagai “re-creation” (dengan tanda penghubung) alih-alih “recreation” . Bukan sekadar hiburan, tetapi penciptaan ulang diri kita sendiri melalui keterlibatan dengan dunia yang hidup.
Ia juga mengajak kita untuk mempertanyakan peta yang kita gunakan untuk menavigasi dunia. Peta jalan raya, dengan garis-garisnya yang tegas dan kategorinya yang pasti, “encourage the elimination of wonder from our relationship with the world. And once wonder has been chased from our thinking about the land, then we are lost” . Yang kita butuhkan adalah peta alternatif—peta yang dibuat bukan oleh insinyur lalu lintas, tetapi oleh para penyair, pendaki, petualang, dan pemimpi.
Akhirnya, Macfarlane mengajak kita untuk menerima kematian sebagai bagian dari kehidupan. Dalam buku ini, kematian sahabatnya Roger Deakin hadir sebagai bayangan yang konstan. Namun Macfarlane tidak melarikan diri dari bayangan itu. Ia merangkulnya. Ia menyadari bahwa the wild tidak hanya tentang kelahiran dan pertumbuhan; ia juga tentang pembusukan dan kematian. Dan dalam penerimaan itu, ada pembebasan. Seperti yang ia tulis tentang pengalamannya di Burren, Irlandia: “Such knowledge grants us comfortless immortality: an understanding that our bodies belong to a limitless cycle of dispersal and reconstruction” .
Catatan Akhir: Pulang ke Pohon Beech
Tujuh bab pertama The Wild Places berakhir di tempat yang sama di mana ia dimulai: di pohon beech di pinggiran Cambridge. Namun Macfarlane yang turun dari pohon itu tidak sama dengan Macfarlane yang memanjatnya. Ia telah diubah oleh perjalanannya. Ia telah belajar bahwa wildness tidak harus ditemukan di tempat yang jauh dan eksotis; ia dapat ditemukan di mana saja, asalkan kita memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Ia telah belajar bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak harus bersifat antagonistik; kita dapat menjadi bagian dari alam tanpa harus meninggalkan kemanusiaan kita.
Dan ia telah belajar bahwa kematian, meskipun menyakitkan, adalah bagian dari siklus kehidupan yang lebih besar—sebuah siklus yang tidak dapat dihentikan oleh siapa pun.
Pada akhirnya, The Wild Places adalah sebuah undangan. Undangan untuk keluar rumah. Undangan untuk berjalan, memanjat, berenang, dan tidur di alam terbuka. Undangan untuk merasakan hujan di wajah, angin di rambut, dan tanah di bawah kuku. Undangan untuk kembali ke dunia nyata—dunia yang hidup, bernapas, dan jauh lebih besar dari diri kita sendiri.
Seperti yang ditulis Macfarlane, mengutip Stephen Graham dari tahun 1923: “As you sit on the hillside, or lie prone under the trees of the forest, or sprawl wet-legged by a mountain stream, the great door, that does not look like a door, opens.”
Pintu itu terbuka. Apakah kita cukup berani untuk melangkah melewatinya?
Refleksi dari Seorang Penyair: Rumah Sebenarnya Manusia
Dalam tradisi Islam, penyair dan filsuf Persia Jalaluddin Rumi menulis tentang hubungan antara manusia dan alam dengan cara yang bergema dengan Macfarlane. Rumi berkata:
“The breeze at dawn has secrets to tell you. Don’t go back to sleep.”
Rumi mengingatkan bahwa alam terus berbicara. Angin, air, tanah, pohon—semuanya memiliki pesan untuk kita. Namun kita terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu teralihkan untuk mendengarkan. Kita kembali tidur, baik secara harfiah maupun metaforis. Kita memilih ketidaktahuan daripada kesadaran, kenyamanan daripada kebenaran, kepastian daripada keajaiban.
Macfarlane, seperti Rumi, mengundang kita untuk bangun. Untuk keluar rumah. Untuk berjalan, memanjat, berenang, dan tidur di alam terbuka. Untuk merasakan hujan di wajah, angin di rambut, dan tanah di bawah kuku. Untuk mendengarkan bisikan pohon beech dan teriakan ombak badai. Untuk mengakui bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri—dan bahwa dalam pengakuan itu, ada kebebasan.
Pada akhirnya, The Wild Places adalah sebuah buku tentang kembali ke rumah—tetapi rumah yang berbeda dari yang kita kira. Rumah sebenarnya bukanlah bangunan dengan dinding dan atap. Bukan kota dengan lampu-lampu dan jalan-jalan. Bukan negara dengan bendera dan batas-batas. Rumah sebenarnya adalah bumi itu sendiri—planet yang berputar di ruang angkasa, ditutupi oleh lautan dan daratan, dihuni oleh jutaan spesies yang saling terkait dalam jaring kehidupan yang rumit. Dan kita, seperti semua makhluk lainnya, adalah penghuni sementara di rumah ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah merawatnya sebaik mungkin, selama kita masih di sini, dan berterima kasih atas kesempatan untuk menjadi bagian dari keajaibannya.
Cirebon, 10 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Academic dissertation (Royal Holloway, University of London). (2014). [Chapter on pastoral in contemporary nature writing, including analysis of The Wild Places]. https://pure.royalholloway.ac.uk/ws/files/19123123/2014lilleydaphd.pdf
Goodreads. (n.d.). The wild places quotes. https://www.goodreads.com/work/quotes/1521802-the-wild-places
Iowa City Public Library. (n.d.). The wild places [Catalog record]. https://search.icpl.org/Record/1313238
Macfarlane, R. (2007). The wild places. Granta Books. (U.S. edition published by Penguin Books, 2008)
Mehta, C. (2025, October 6). Turning outdoor recreation into ‘re-creation’: Robert Macfarlane thinks getting outside is not just about leisure — it’s a spiritual journey. The Boston Globe. https://www.bostonglobe.com/2025/10/02/opinion/outdoor-recreation-robert-macfarlane/
National Library of Ireland. (2017). Staff view: The wild places [Library catalog]. https://catalogue.nli.ie/Record/vtls000857892
Rumi, J. (n.d.). The breeze at dawn [Poem]. (Various translations)
World of Books. (n.d.). The wild places by Robert Macfarlane [Product page]. https://www.wob.com/en-ie/books/robert-macfarlane-y/wild-places/9781847080189
Wright State University Libraries. (2008). The wild places [Library catalog]. https://wsuol2.wright.edu/search~S7/






