Rubarubu #174
The Road Headed West:
Bekal Keberanian 6.000 Mil Menuju Barat
(Bagian 1 dari 2)
Ada sebuah adegan di jembatan Brooklyn pada suatu pagi yang kelabu yang mungkin akan dikenang oleh Leon McCarron seumur hidupnya. Ia baru berusia 23 tahun, baru lulus kuliah, dan hampir tidak memiliki pengalaman bersepeda jarak jauh. Sepedanya terlalu berat, rutenya tidak jelas, dan di punggungnya ia membawa beban yang lebih berat dari sekadar perlengkapan berkemah: ia membawa rasa takut yang luar biasa akan kehidupan yang membosankan dan tanpa petualangan. “Honestly, by far the bravest thing I ever did was actually starting this,” McCarron kemudian mengakui dalam sebuah wawancara. “Because once I’d started it was very hard to get out of it.”
Ia tidak memiliki peta yang sempurna, tidak memiliki rencana cadangan yang matang, dan yang lebih mengkhawatirkan, ia hampir tidak tahu apa-apa tentang cara merawat sepeda. Ia adalah seorang pemuda Irlandia Utara yang putus asa untuk keluar dari “the cosy envirattacks of academia” dan mencari sesuatu yang nyata, sesuatu yang menantang, sesuatu yang akan membawanya berlutut lalu membangunnya kembali menjadi manusia yang berbeda .
Buku The Road Headed West—sebuah karya yang ditulis oleh Leon McCarron dan diterbitkan oleh Skyhorse Publishing pada tahun 2014, memaparkan pengalamannya mengayuh 6000 mil dengan hanya berbekal tekad dan keberanian. Ia tak banyak mengetahui apapun selain itu. Buku ini bukanlah panduan teknis bagi pesepeda ulung, juga bukan catatan perjalanan seorang ahli petualangan. Ia adalah kisah mentah, jujur, dan kadang lucu tentang seorang pemula yang memutuskan untuk menyeberangi Amerika dengan sepeda, dari New York ke Seattle, lalu turun ke selatan hingga perbatasan Meksiko—total 6.000 mil atau setara 9.656 km, dalam lima bulan.
Jujur tentang Ketidaktahuan: Daya Tarik yang Tak Terduga
Salah satu aspek paling menarik dari buku McCarron adalah kejujurannya yang brutal tentang betapa tidak siapnya ia. Ia tidak berpura-pura menjadi pahlawan. Ia tidak menyembunyikan ketakutannya. Sebaliknya, ia dengan rendah hati mengakui bahwa ia “as clueless as they come” tentang perjalanan asing yang berat, apalagi tentang seluk-beluk sepeda . Hari-hari pertamanya di luar New York adalah mimpi buruk: sepeda terlalu berat, tanjangan terlalu curam, dan pikirannya dipenuhi penyesalan.
Namun, justru dari ketidaktahuan itulah cerita menjadi hidup. McCarron belajar secara perlahan. Ia belajar bahwa hujan deras tidak akan membunuhnya, bahwa angin sakal bisa dilawan dengan gigi yang dikencangkan, dan bahwa orang-orang asing yang ia temui di sepanjang jalan—petani, mekanik, ibu-ibu yang baik hati—seringkali lebih peduli daripada keluarganya sendiri . Ia belajar bahwa ketika ia jatuh, ia harus bangun, bukan karena ia kuat, tetapi karena tidak ada pilihan lain.
“Time and a refusal to give in were all that were needed to transition,” tulis McCarron . Ia menggambarkan bagaimana ia secara perlahan menjadi “naturalized” terhadap gaya hidup barunya. Rumah bukan lagi gedung dengan dinding dan atap; rumah adalah sepeda, tas-tasnya, dan jalanan yang terus bergulir di bawah bannya. “Home became my bike and bags and the road—the reliable constants around which everything else changed.”
Dari Pemandangan yang Membosankan hingga Keajaiban Geologi
Rute yang dipilih McCarron tidak mudah. Ia melewati Midwestern Amerika yang olehnya digambarkan dengan jujur sebagai “mind-numbing dullness.” Bermil-mil ladang jagung dan kedelai, hamparan yang tampaknya tidak pernah berakhir, dan angin yang terus-menerus menentang. Ia tidak menghindar dari kebosanan itu; ia merangkulnya sebagai bagian dari pengalaman. Dalam bab-bab yang singkat dan mengalir, ia menulis tentang kesepian di dataran luas, tentang hiruk-pikuk truk-trek besar yang melintas hanya beberapa inci dari bahunya, dan tentang refleksi-refleksi sunyi yang hanya bisa terjadi ketika tidak ada yang menghibur selain roda yang terus berputar.
Namun kemudian, dengan imbalan yang setimpal, ia mencapai South Dakota, dan bumi mulai terlipat. Ia melintasi Badlands yang mirip bulan, melewati Black Hills yang berkelok-kelok, dan masuk ke Yellowstone—sebuah kawah super raksasa dengan kolam lumpur mendidih dan geyser yang menyemburkan uap ke langit. McCarron melukiskan lanskap-lanskap ini dengan gaya deskriptif yang membuat pembaca ikut merasakan dinginnya kabut pegunungan dan hangatnya matahari di padang pasir.
Puncaknya, tentu saja, adalah Pegunungan Rocky dan Cascades. Ia mendaki tanjakan-tanjakan yang menusuk awan, sesekali berhenti di puncak untuk melihat ke belakang, menyadari bahwa ia telah melintasi ribuan mil dengan kekuatan kakinya sendiri. Dan kemudian, akhirnya, setelah berminggu-minggu, ia mencapai Samudra Pasifik—”the great blue of the Pacific Ocean stretching out into the space beyond the horizon.” Inilah hadiah yang setimpal dengan semua keringat dan air mata.
Orang-Orang di Pinggir Jalan: Pelajaran tentang Kemanusiaan
Namun, sebagaimana McCarron sendiri mengakui, pemandangan yang indah hanyalah setengah dari cerita. Separuh lainnya, yang mungkin lebih penting, adalah pertemuan-pertemuannya dengan manusia Amerika . Ia singgah di kota-kota kecil yang namanya tidak akan pernah ia ingat, tetapi wajah dan cerita penghuninya akan melekat selamanya. Ada seorang mekanik bengkel yang membantunya memperbaiki sepeda dengan gratis, sekaligus memberi-nya kuliah tentang kerasnya hidup di pedesaan. Ada seorang ibu yang mengundangnya makan malam dan memaksanya tidur di sofa karena merasa kasihan melihat pemuda kurus yang kelelahan.
Dalam sebuah wawancara bertahun-tahun kemudian, saat menceritakan perjalanan kakinya melintasi Timur Tengah, McCarron merangkum esensi dari semua perjalanan panjangnya dengan satu kalimat: “Getting lost, or being vulnerable, often brings out the greatest kindnesses.” Di jalan raya Amerika, ia adalah makhluk yang rentan. Ia tidak memiliki pelindung, tidak memiliki kecepatan, tidak memiliki ketangguhan. Dan justru dalam kerentanannya itulah ia menemukan sisi terbaik dari orang-orang yang ia temui.
Ada bab yang berjudul “Kindred Spirits” di mana ia bertemu dengan para pesepeda lain yang juga sedang dalam perjalanan panjang. Ada kebahagiaan yang aneh dalam menemukan seseorang yang berbicara dalam bahasa yang sama—tentang rantai yang berdecit, tentang ban yang kempes, tentang kebebasan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang rela berkeringat. Persahabatan-persahabatan ini, meskipun singkat, menjadi sumber energi yang tak ternilai di hari-hari paling suram.
Dari Bocah menjadi Pria: Transformasi yang Tak Terhindarkan
Salah satu tema paling kuat dalam buku ini adalah transformasi. McCarron tidak pulang ke rumah sebagai orang yang sama ketika ia berangkat. Ia menulis, “It’s clear to me now that the man who pedalled into San Diego after 6000 miles was no longer the boy that had struggled to get over the Brooklyn Bridge 6 months previously” . Sepeda, sebagai alat transportasi yang lambat dan membutuhkan tenaga, memiliki kekuatan transformatif yang unik. Ia memaksa Anda untuk berhadapan dengan batas-batas fisik Anda, dengan rasa sakit, dengan kebosanan, dan pada akhirnya, dengan diri Anda sendiri.
“Cycling is an unavoidably transformative way to travel,” tegas McCarron. Ia bukan sekadar olahraga; ia adalah meditasi dalam gerakan. Ketika Anda mengayuh selama berjam-jam, tanpa suara mesin, tanpa musik, tanpa siapa pun untuk diajak bicara, pikiran Anda mulai berjalan ke tempat-tempat yang biasanya tersembunyi oleh kebisingan kehidupan modern. Anda merenungkan hubungan Anda dengan orangtua, dengan impian masa kecil, dengan rasa takut akan masa depan.
Seorang kritikus di Amazon menulis bahwa McCarron “combines accounts of his physical travels on the bike with insights into his internal journey as he struggles to come to terms with the challenge he has set himself.” Inilah yang membedakan buku ini dari buku perjalanan biasa. McCarron tidak hanya melaporkan apa yang ia lihat; ia melaporkan apa yang ia rasakan, apa yang ia pelajari, dan bagaimana ia berubah. Ia tidak takut untuk mengakui bahwa ada bagian dari perjalanan yang “demanding just because they were boring in the extreme,” dan ia juga tidak takut untuk menyelami “the emotional cost of leaving loved ones, family and friends behind to take on what might be described as a selfish dream.”
Sebuah Buku yang Menginspirasi, Bukan Menggurui
Setelah 6.000 mil, setelah badai, beruang, dan Buffalo, McCarron sampai di ujung Selatan. Namun ia tidak mengakhiri bukunya dengan kesimpulan heroik tentang bagaimana ia telah “menaklukkan” Amerika. Sebaliknya, ia mengakhiri dengan sebuah epilog yang rendah hati dan sebuah bagian “Cycle Touring: A How-to” yang praktis bagi mereka yang ingin mengikuti jejaknya . Ia tidak sedang menyombongkan diri; ia sedang berbagi pelajaran.
Sikap inilah yang membuat buku ini terasa sangat relevan dengan situasi dunia saat ini. Kita hidup di zaman yang didorong oleh kecepatan, efisiensi, dan kenyamanan instan. Kita ingin sampai di tujuan secepat mungkin, dengan sedikit usaha dan sedikit risiko. Sepeda, dalam narasi modern, sering dianggap sebagai alat yang “kuno,” terlalu lambat, terlalu melelahkan, dan terlalu berbahaya di jalan raya yang dipenuhi mobil. Namun McCarron membalik narasi itu. Ia menunjukkan bahwa bersepeda—terutama bersepeda jarak jauh—bukan tentang kemunduran, tetapi tentang kemajuan yang berbeda. Ini adalah kemajuan menuju kedalaman pengalaman, menuju koneksi yang autentik dengan lingkungan dan sesama manusia, dan menuju penemuan diri yang hanya bisa terjadi ketika Anda melambat.
Dalam sebuah wawancara dengan The Irish Times, McCarron menegaskan bahwa ia tidak menyarankan semua orang untuk bersepeda melintasi Amerika. “It’s not for everyone,” katanya . Namun ia menambahkan, dengan bijak, bahwa setiap orang harus menemukan “crazy” versi mereka sendiri. “I would really advise people to go off and do what they are passionate about. It’s not necessarily a big journey, a big physical endeavour. It’s just taking a risk; doing something different” .
Dunia yang Haus Energi dan Krisis Lingkungan
Di saat perang berkecamuk di Ukraina, Gaza, Sudan, dan berbagai titik konflik lainnya, di saat krisis energi global membuat harga BBM melonjak dan pasokan terganggu, buku McCarron tiba-tiba terasa sangat tepat waktu. Ia mengingatkan kita bahwa ada cara alternatif untuk bergerak—cara yang tidak bergantung pada geopolitik Timur Tengah atau keputusan OPEC. Sepeda, alat sederhana yang harganya hanya sepersekian persen dari harga sebuah mobil, dapat membawa Anda ribuan mil melintasi benua, asalkan Anda memiliki kemauan dan sedikit keberanian.
Lebih dari itu, buku McCarron adalah sebuah manifesto untuk slow living di tengah dunia yang serba cepat. Gerakan slow food, slow travel, dan slow living secara keseluruhan adalah respons terhadap kegilaan modernitas yang mengorbankan kualitas demi kuantitas. Bersepeda, dengan kecepatan 15-20 kilometer per jam, memaksa Anda untuk slow down. Anda tidak bisa terburu-buru di atas sepeda; Anda harus menerima bahwa perjalanan akan memakan waktu, bahwa Anda akan basah kuyup oleh hujan, bahwa Anda akan kelelahan di tanjakan. Namun dalam penerimaan itu, ada kebebasan yang aneh. Anda berhenti melawan waktu dan mulai hidup di dalamnya.
Seorang pembaca di Goodreads membandingkan buku McCarron dengan karya klasik Amerika seperti Travels with Charley karya John Steinbeck atau Blue Highways karya William Least Heat-Moon . Perbandingan ini bukanlah kebetulan. McCarron, seperti para pendahulunya, sedang dalam pencarian akan “real America”—bukan Amerika yang glamor di film-film Hollywood, tetapi Amerika yang sederhana, yang kadang membosankan, yang kadang kejam, tetapi juga yang kadang sangat baik hati .
Sebuah Catatan dan Sebuah Mimpi yang Mengganggu
Sebelum Leon McCarron mengayuh pedal pertamanya di jembatan Brooklyn, sebelum angin sakal Montana menerpa wajahnya, sebelum beruang-beruang Yellowstone membuatnya gemetar ketakutan, ia duduk dan menulis sebuah catatan penulis. Ini adalah tradisi yang lazim dalam buku-buku perjalanan—sebuah ruang kecil bagi penulis untuk menjelaskan mengapa ia menulis, apa yang ingin ia capai, dan kepada siapa ia berutang budi. Namun catatan McCarron terasa berbeda. Ia tidak ditulis dengan nada seorang ahli yang bijaksana, melainkan dengan nada seorang pemuda yang masih setengah percaya bahwa ia benar-benar akan melakukan apa yang ia rencanakan (McCarron, 2014, Author’s Note).
Dalam catatan singkat yang hanya beberapa paragraf ini, McCarron dengan rendah hati mengakui bahwa ia “tidak tahu apa-apa” tentang perjalanan panjang yang akan ia tempuh . Ia tidak memiliki pengalaman bersepeda jarak jauh, pengetahuannya tentang perbaikan sepeda sangat minim, dan ia hampir tidak memiliki rencana cadangan yang matang. Namun justru di situlah letak kejujuran yang membuat pembaca segera bersimpati. McCarron tidak mencoba menjadi pahlawan yang sempurna; ia mengundang kita untuk menyaksikan seorang pemula yang belajar dari kesalahan, jatuh, dan bangun lagi.
Yang paling menarik dari catatan penulis ini adalah pengakuannya bahwa buku ini ditulis “largely for selfish reasons” . Ia menulis untuk memahami apa yang baru saja ia alami, untuk mengabadikan kenangan yang akan luntur ditelan waktu, dan mungkin, untuk membujuk dirinya sendiri bahwa semua rasa sakit dan keraguan itu layak. McCarron mengingatkan bahwa pengalaman 6.000 mil di atas sepeda adalah sesuatu yang begitu besar sehingga ia harus menuangkannya ke dalam kata-kata agar bisa benar-benar meresap ke dalam jiwanya. “Some things are too big to keep inside,” demikian kira-kira semangat yang ia sampaikan .
Seorang Pemuda Berhenti di Tengah Jembatan
Namun permulaan yang sebenarnya, yang membuat jantung pembaca mulai berdegup kencang, ada di prolog. McCarron membuka prolognya bukan dengan deskripsi tentang persiapan rumit atau rencana perjalanan yang matang. Ia membuka dengan sebuah adegan yang jauh lebih mendasar: ia berhenti di tengah Jembatan Brooklyn pada hari pertama perjalanannya, keraguan menggerogoti setiap inci tubuhnya, dan ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang telah aku lakukan?” (McCarron, 2014, Prologue).
Prolog ini adalah sebuah kilas balik yang jenius. McCarron tidak menceritakan perjalanannya secara kronologis dari awal; ia melompat ke masa lalu, ke saat ketika ia masih tinggal di Belfast, masih terperangkap dalam kehidupan yang aman namun membosankan, dan mulai merasakan hasrat yang aneh dan mengganggu untuk melakukan sesuatu yang gila. “Something there, not quite an epiphany but maybe the first whisperings of one” —begitulah ia menggambarkan perasaan samar yang mulai tumbuh di dadanya . Ia membaca buku-buku petualangan, ia terobsesi pada peta, dan ia mulai bertanya-tanya apakah ia memiliki nyali untuk benar-benar melakukannya.
Keputusan untuk bersepeda melintasi Amerika tidak datang dalam kilatan cahaya. Ia datang perlahan, seperti kabut yang menebal, hingga pada suatu titik ia tidak bisa lagi mengabaikannya. McCarron menggambarkan bagaimana ia berbicara dengan teman-temannya, yang sebagian besar menganggap idenya gila. Ia berbicara dengan keluarganya, yang cemas tetapi tidak berani menghentikannya. Dan pada akhirnya, ia berbicara dengan dirinya sendiri, meyakinkan hatinya yang penakut bahwa ia harus mengambil risiko, bahwa ia harus keluar dari zona nyaman, bahwa “the only way to be truly happy was to take risks and dream big” .
Ada sebuah kutipan terkenal dari penulis petualangan, Hunter S. Thompson, yang sering dikutip oleh para pengambil risiko: “Buy the ticket, take the ride.” Melompat, dan berharap jaring akan muncul. McCarron, tanpa secara eksplisit mengutip Thompson, menunjukkan semangat yang sama. Ia membeli tiket pesawat ke New York, ia membeli sepeda yang tidak pernah ia coba sebelumnya, dan ia memulai perjalanan dengan keyakinan yang rapuh bahwa semuanya akan beres. “The more time that passed, the more committed I became, until there was no going back.”
Prolog ini berfungsi sebagai pintu gerbang menuju seluruh narasi buku. Ia memperkenalkan kita pada karakter utama—seorang pemuda yang tidak biasa, yang tidak terlalu berani, tetapi yang memiliki cukup rasa ingin tahu dan cukup kegilaan untuk mengayuh pedal meskipun kakinya gemetar. Ia juga memperkenalkan tema sentral buku ini: bahwa petualangan bukan tentang menjadi ahli, tetapi tentang memiliki keberanian untuk memulai. Orang yang paling siap sekalipun akan menemukan hal-hal yang tidak terduga di jalan; satu-satunya cara untuk benar-benar siap adalah dengan menerima bahwa Anda tidak akan pernah siap.
Pada akhir prolog, McCarron tidak lagi berdiri di jembatan Brooklyn, melainkan sudah berada di suatu tempat di pedalaman, dengan berjam-jam perjalanan di depannya. Namun ia meninggal-kan pembaca dengan rasa penasaran yang tertahan: apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah ia akan bertahan? Apakah sepedanya akan rusak? Apakah ia akan bertemu musuh atau teman? Kita mengetahui jawabannya karena kita memegang bukunya, tetapi McCarron, dengan gaya bercerita yang memikat, berhasil membuat kita seolah-olah baru pertama kali mendengar kisah ini.
Dalam falsafah Timur, ada konsep musafir yang sering diangkat dalam puisi-puisi Rumi dan para sufi lainnya. Seorang musafir adalah orang yang berjalan tanpa tujuan pasti, yang membiarkan jalan itu sendiri yang membentuknya. McCarron, pada hakekatnya, adalah seorang musafir modern. Ia tidak mengejar rekor, ia tidak sedang dalam misi kemanusiaan yang mulia. Ia hanya ingin merasakan apa artinya menjadi hidup, dan ia memutuskan bahwa cara terbaik untuk merasakannya adalah dengan berkeringat, kelelahan, dan sesekali, duduk di pinggir jalan untuk menyesap kopi sambil menyaksikan matahari terbenam di cakrawala yang luas.
Membangun Jembatan Antara Penulis dan Pembaca
Apa yang membuat catatan penulis dan prolog ini begitu efektif adalah kemampuannya untuk membangun hubungan emosional antara McCarron dan kita, para pembaca. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai pahlawan yang sempurna yang patut dikagumi dari kejauhan. Sebaliknya, ia membuka diri, mengakui ketakutannya, ketidaktahuannya, dan keraguannya. Ia mengundang kita untuk masuk ke dalam kepalanya, untuk merasakan apa yang ia rasakan, dan untuk bertanya pada diri sendiri: “Jika ia bisa melakukannya, mungkinkah aku juga?”
Dalam dunia yang semakin didorong oleh citra sempurna di media sosial, di mana setiap orang tampaknya hidup dalam petualangan yang luar biasa, McCarron menawarkan sesuatu yang menyegarkan: kejujuran. Ia tidak takut terlihat bodoh, tidak takut mengakui bahwa ia menangis di tendanya pada malam yang gelap, tidak takut mengatakan bahwa ada bagian dari perjalanan yang “sangat membosankan” . Integritas inilah, yang sudah terbangun sejak halaman pertama, yang membuat pembaca bertahan hingga halaman terakhir.
Seperti yang ditulis oleh seorang pengulas di Amazon, “McCarron combines accounts of his physical travels with insights into his internal journey” . Dan perjalanan internal itu dimulai bukan ketika ia mencapai puncak gunung atau tiba di Samudra Pasifik, tetapi ketika ia masih di Belfast, masih duduk di kamarnya, masih bergulat dengan pertanyaan: Haruskah aku melakukan ini?Jawabannya, seperti yang kita tahu, adalah ya. Dan kisah tentang bagaimana ia sampai pada jawaban “ya” itu, yang diceritakan dalam catatan penulis dan prolog, adalah awal dari sebuah epik yang akan terus menginspirasi pembaca lama setelah buku ini ditutup.
Sebuah Perpisahan yang Meregangkan Hati
Ada saat-saat dalam hidup ketika keberanian terbesar bukanlah menghadapi badai atau menaklukkan gunung, melainkan mengucapkan selamat tinggal. Leon McCarron, pada awal bagian pertama bukunya yang berjudul “Beginnings,” tidak memulai dengan adegan heroik atau pemandangan epik. Ia memulai dengan menggambarkan detik-detik terakhirnya di Belfast, ketika ia meninggalkan kehidupan yang aman—keluarga, teman-teman, dan segala sesuatu yang dikenal—untuk menuju ke sesuatu yang sama sekali tidak dikenal (McCarron, 2014, Chapter 1).
Ada rasa sedih yang menguar dari tulisannya, sebuah melankolis yang tidak bisa ia sembunyikan, yang ia akui sebagai “the Leaving of It All” —sebuah perpisahan yang mengoyak hatinya lebih dalam dari yang ia duga sebelumnya (McCarron, 2014, Chapter 2).
Ia menggambarkan bagaimana ia mengelilingi Belfast dengan sepedanya yang sarat muatan, bagaimana ia menyusuri jalan-jalan yang biasa ia lalui bersama orang-orang yang ia cintai, menyadari bahwa ini adalah kali terakhir dalam waktu yang lama. Rasa sedih ini, yang ia sebut sebagai melancholy, bukanlah pertanda bahwa ia ragu. Justru melankolis itu adalah bukti bahwa ia memiliki sesuatu yang berharga untuk ditinggalkan, dan bahwa apa yang ia lakukan adalah pengorbanan yang nyata, bukan pelarian yang dangkal (McCarron, 2014, Chapter 2).
Dari kesendirian Belfast, McCarron tiba di New York—kota yang olehnya digambarkan dengan jujur sebagai tempat yang menimbulkan “New York Blues” (McCarron, 2014, Chapter 3). Ia bukan wisatawan yang kagum pada kemegahan Manhattan. Ia adalah seorang pesepeda dengan sepeda berat yang mencoba mencari jalan keluar dari hiruk-pikuk kota yang membingungkan. Lalu lintasnya gila, truk-trek besar melengking di sudut-sudut, dan ia sudah mulai bertanya-tanya apakah ia benar-benar bisa melakukan ini. Namun di tengah kebingungan itu, ia merasakan sesuatu yang lebih dalam: sebuah rasa wanderlust yang sudah lama ia pendam, yang membawanya ke sini, dan yang menolak untuk dibungkam oleh logika (McCarron, 2014, Chapter 4).
Ia kemudian menceritakan proses perencanaan perjalanannya—“The Plan” —yang ternyata tidak terlalu rumit (McCarron, 2014, Chapter 5). McCarron dengan rendah hati mengakui bahwa ia tidak memiliki peta rute yang sempurna atau jadwal yang ketat. Ia hanya tahu bahwa ia ingin menyeberangi benua dari timur ke barat, dari Samudra Atlantik ke Samudra Pasifik, dan bahwa ia akan mencari jalan seiring perjalanan. Pendekatan longgar ini, yang mungkin membuat khawatir para perencana yang teliti, justru menjadi sumber kebebasan baginya.
Puncak dari bab-bab awal ini adalah ketika ia akhirnya mengayuh keluar dari New York, melintasi Jembatan George Washington menuju New Jersey—sebuah momen yang ia sebut sebagai “Bridge to the Other Side” (McCarron, 2014, Chapter 6). Di sisi lain jembatan itu, ia tidak lagi berada di rumah. Ia berada di jalan, di dunia yang tidak diketahui, dan tidak ada yang bisa menolongnya kecuali dirinya sendiri. “It was the first time I truly felt alone,” tulisnya, “and it was terrifying and exhilarating in equal measure” .
Mengarungi Negeri Bagian demi Bagian
Setelah meninggalkan New York, McCarron memasuki “The Empire State” —New York State—dan mulai merasakan ritme bersepeda jarak jauh yang sesungguhnya (McCarron, 2014, Chapter 7). Ia belajar bahwa peta dan kenyataan seringkali tidak cocok, bahwa tanjakan yang terlihat kecil di peta bisa terasa seperti gunung ketika lututnya sudah lelah, dan bahwa hujan deras adalah ujian mental yang tidak kalah beratnya dari tanjakan fisik.
Ia kemudian melanjutkan ke Pennsylvania, ke daerah yang disebut “Mon-Tah-Sell-Oh” (Monticello) dengan segala keindahan pedesaannya yang tenang (McCarron, 2014, Chapter 8). Di sinilah ia mulai menemukan salah satu tema sentral dari seluruh buku: kebaikan hati orang asing. Seorang tua yang ia temui di pinggir jalan tidak hanya memberinya minuman, tetapi juga duduk bersamanya, mendengarkan ceritanya, dan sejenak, kesendiriannya yang berat terasa lebih ringan (McCarron, 2014, Chapter 9).
Bab berjudul “A Man’s Best Friend” bercerita tentang pertemuannya dengan seekor anjing liar yang mengikutinya selama berjam-jam, ia sebut sebagai teman yang setia di saat ia sangat membutuhkan. Ini adalah pengingat bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk manusia; kadang ia datang dalam bentuk tatapan mata seekor anjing yang ingin menemani (McCarron, 2014, Chapter 9).
Seiring ia melintasi Pennsylvania, gelombang demi gelombang tanjakan Appalachia, McCarron mulai menyadari bahwa orang-orang yang ia temui di jalanlah yang membuat perjalanan ini berarti.
Di bab “An Irishman Abroad” , ia bercerita tentang bagaimana aksen Irlandia-Utaranya menjadi pembuka pintu diskusi dengan orang Amerika (McCarron, 2014, Chapter 10). Mereka penasaran dengan motivasinya, kagum dengan keberaniannya, dan seringkali, hanya karena ia “orang asing yang jauh dari rumah,” mereka mengundangnya makan malam atau menawarkannya tempat tidur.
Di “Monsters” , ia menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan beruang—atau setidaknya, dengan rasa takut akan beruang (McCarron, 2014, Chapter 11). Di hutan-hutan Pennsylvania, ia tidur dengan pisau di samping tendanya, terjaga setiap kali mendengar suara dahan patah, dan belajar bahwa kebanyakan monster yang kita takuti hidup di dalam kepala kita sendiri.
“Friends and Miles” adalah bab tentang persahabatan-persahabatan singkat di jalan (McCarron, 2014, Chapter 12). Ia bertemu dengan pesepeda lain, seorang veteran yang memberinya nasihat berharga tentang rintangan di depan. Persahabatan ini, meskipun hanya berlangsung beberapa jam atau beberapa hari, menjadi sumber energi yang sangat dibutuhkan. “Susie from the Solomon Islands” adalah salah satu bab yang paling mengharukan (McCarron, 2014, Chapter 13). ia bertemu dengan seorang wanita muda yang sedang bersepeda sendirian keliling dunia. Ia terinspirasi oleh keberaniannya, dan pertemuan singkat itu membuatnya percaya bahwa ia juga bisa bertahan.
“The Falls” membawanya ke Air Terjun Niagara, sebuah keajaiban alam yang membuatnya merenung tentang kekuatan air dan kekuatan tekadnya sendiri (McCarron, 2014, Chapter 14).
Menyeberang ke Utara dan Jatuh ke Palung
Ketika ia meninggalkan Amerika Serikat untuk sementara dan memasuki Kanada—“0 Canada” —ia merasa seolah baru memulai perjalanan yang sama sekali baru (McCarron, 2014, Chapter 15). Udara lebih dingin, pemandangan lebih terbuka, dan kesendirian terasa lebih pekat.
Namun kemudian, ia mengalami apa yang ia sebut sebagai “Down in the Dumps” (McCarron, 2014, Chapter 16). Ini adalah bab tentang titik terendahnya. Cuaca buruk berturut-turut, sepeda bermasalah, dan ia meragukan segalanya—tujuannya, kemampuannya, dan kewarasannya. Ia menulis jujur tentang betapa ia menangis di dalam tenda, betapa ia ingin pulang, dan betapa ia merasa bahwa semua ini adalah kesalahan besar. Namun ia tidak berhenti. Entah karena terlalu keras kepala atau terlalu takut untuk mengaku kalah, ia terus mengayuh.
“The Seat by the Door” melanjutkan tema ini, tetapi dari sudut pandang yang sedikit berbeda (McCarron, 2014, Chapter 17). Ia menggambarkan bagaimana ia mulai mencari kenyamanan dalam hal-hal kecil—sebuah kursi di restoran yang memungkinkannya melihat pintu keluar, sebuah secangkir kopi panas di pagi yang dingin. Ini adalah bab tentang strategi bertahan hidup psikologis di jalan yang panjang.
“The Great Fakes State” adalah sindiran halus pada salah satu negara bagian yang ia lalui (McCarron, 2014, Chapter 18). Ia tidak menyebutnya secara eksplisit, tetapi ia menggambarkan-nya sebagai tempat yang membosankan, di mana pemandangan tidak berubah bermil-mil, dan ia merasa terjebak dalam siklus tanpa akhir.
Namun kemudian, pada bab “Handsome Jack” , ia bertemu dengan seorang pria tua yang tinggal sendirian di sebuah kawasan terpencil (McCarron, 2014, Chapter 19). Jack, demikian nama pria itu, menerimanya dengan hangat, memberinya makan, dan mendengarkan cerita-ceritanya sepanjang malam. Dari Jack, ia belajar bahwa hidup sederhana di pinggir jalan, jauh dari keramaian, bisa menjadi pilihan yang bahagia. “Everyone is fighting their own battle,” kenang McCarron, “and sometimes, the kindest thing you can do is to sit and listen” .
Bagian “Beginnings” ini bukan hanya tentang mil-mil pertama perjalanan McCarron. Ia adalah tentang pendakian pertama menuju diri sendiri. Setiap rasa sakit di paha, setiap malam dalam kesendirian, setiap percakapan dengan orang asing, adalah penggilingan yang perlahan mengubah seorang pemuda yang penuh keraguan menjadi seorang petualang yang (sedikit) lebih tegar.
Dalam tradisi sufistik, perjalanan (safar) sering dianggap sebagai sarana untuk membersihkan jiwa. Dengan meninggalkan kenyamanan rumah, seorang musafir menghadapi dirinya sendiri dalam kejujuran yang paling telanjang. Tidak ada hiburan, tidak ada gangguan, tidak ada teman yang bisa mengalihkan perhatian. Yang tersisa hanyalah jalanan, sepeda, dan hembusan napas yang terus-menerus.
McCarron, tanpa mengaku sebagai seorang sufi, sebenarnya melakukan ziarah modern. Ia meninggalkan “dunia” yang dikenal untuk menuju ke “Kebenaran” tentang dirinya sendiri. Dan bagian pertama buku ini adalah catatan jujur tentang betapa beratnya meninggalkan “dunia” itu, betapa menyakitkannya proses pembersihan, dan betapa, pada akhirnya, ia menemukan secercah harapan dalam kebaikan orang asing dan kekuatan yang tidak ia sadari ada di dalam dirinya.
Pepatah Arab kuno mengatakan, “Barang siapa yang keluar mencari sesuatu, ia akan menemukannya atau setidaknya pulang dengan sesuatu yang setara.” McCarron, di akhir bagian ini, belum menemukan apa yang ia cari—mungkin karena ia belum tahu persis apa yang ia cari. Namun ia sudah pulang dengan sesuatu: rasa percaya diri yang baru, beberapa teman yang tak terduga, dan keyakinan bahwa ia bisa bertahan, setidaknya untuk hari ini. Mendaki tanjakan pertama menuju diri sendiri.
…..
bersambung pada bagian 2 dari 2 bagian.
Bogor, 22 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Humphreys, A. (2014, July 6). The Road Headed West. Alastair Humphreys Blog. https://alastairhumphreys.com/blog/road-headed-west/
Irish Times. (2014, August 6). Leon McCarron’s excellent adventures. The Irish Times. https://staging.irishtimes.com/culture/books/leon-mccarron-s-excellent-adventures-1.1889264
McCarron, L. (2014). Epilogue; Cycle touring: A how-to of bicycle travel. Dalam *The road headed west: A 6,000-mile cycling odyssey through North America* (hlm. 330-346). Skyhorse Publishing.
McCarron, L. (2014). Author’s note; Prologue. Dalam *The road headed west: A 6,000-mile cycling odyssey through North America* (hlm. 9-13). Skyhorse Publishing.
Toronto Public Library. (2015). *The road headed west: a 6,000-mile cycling odyssey through North America*. https://www.torontopubliclibrary.ca/detail.jsp?Entt=RDM3686865&R=3686865






