Rubarubu #185
Overheated:
Kegagalan Pasa, Kegagalan Kapitalisme
Pada bulan September 2020, di tengah pandemi yang melumpuhkan, asap kebakaran hutan dari Pantai Barat Amerika Serikat mencapai Kota New York, mengubah langit siang menjadi jingga suram yang apokaliptik. Fenomena itu bukanlah kesalahan alam semata, melainkan konsekuensi dari sebuah sistem ekonomi yang telah mendorong planet ini melampaui batas-batasnya. Dalam momen itulah Kate Aronoff menyelesaikan bukunya, Overheated: How Capitalism Broke the Planet — and How We Fight Back.
Bagi Aronoff, langit jingga di atas Manhattan adalah metafora yang sempurna: kapitalisme fosil tidak hanya memanaskan atmosfer, tetapi juga memanaskan—overheating—seluruh tatanan sosial-politik kita, menciptakan krisis yang bertumpuk dan saling memperkuat. Buku ini adalah diagnosa yang tajam dan rencana perlawanan yang konkret terhadap sistem yang telah “memanaskan” Bumi hingga titik didihnya.
Overheated adalah sebuah karya jurnalisme investigatif yang dibangun di atas fondasi teori politik ekonomi yang solid. Aronoff, seorang jurnalis iklim ternama, tidak puas dengan narasi dominan yang menyederhanakan krisis iklim sebagai masalah teknis atau kegagalan kebijakan individu. Ia menelusuri akar masalahnya hingga ke jantung logika pertumbuhan kapitalis yang berbasis ekstraksi dan eksploitasi, yang ia sebut sebagai “kapitalisme fosil”. Buku ini ber-argumen bahwa untuk memecahkan krisis iklim, kita harus terlebih dahulu memecahkan krisis politik dan ekonomi yang melahirkannya.
From Great Acceleration to Great Transformation
Dalam pengantar yang provokatif, Aronoff memperkenalkan konsep kunci “Akselerasi Besar” (Great Acceleration)—periode pasca-Perang Dunia II di mana konsumsi energi, produksi material, dan dampak manusia terhadap planet ini melesat secara eksponensial. Namun, ia dengan cepat menegaskan bahwa akselerasi ini bukanlah kecelakaan atau hasil “kodrat manusia”, melainkan “proyek politik yang disengaja” (Aronoff, 2021, p. 5) yang didorong oleh koalisi korporasi, pemerintah, dan lembaga keuangan untuk menciptakan ekonomi global yang bergantung pada bahan bakar fosil dan konsumsi tak terbatas.
Aronoff menolak solusi-solusi teknokratis yang populer, seperti skema penetapan harga karbon atau geoengineering. Ia berargumen bahwa pendekatan ini justru “memperpanjang usia sistem yang menyebabkan masalah” dengan menciptakan pasar dan teknologi baru untuk dikapitalisasi, alih-alih mengubah sistem itu sendiri.
Sebagai gantinya, ia menyerukan “Transformasi Besar” (Great Transformation)—sebuah reorganisasi mendasar dari ekonomi dan politik kita yang terinspirasi oleh konsep ekonom Polandia Karl Polanyi. Transformasi ini harus demokratis, berkeadilan, dan bertujuan untuk menciptakan ekonomi yang melayani kebutuhan manusia dan batas-batas planet, bukan logika akumulasi modal. “Masa depan yang layak dipertahankan,” tulis Aronoff, “tidak akan lahir dari tweak terhadap status quo, tetapi dari pergolakan yang membangun sesuatu yang baru secara radikal” (Aronoff, 2021, p. 12).
Buku ini dibangun dengan menelusuri bagaimana kapitalisme fosil mengkonsolidasikan kekuasaannya dan bagaimana gerakan iklim dapat melawannya.
- Mitos Netralitas Pasar: Aronoff membongkar mitos bahwa pasar bebas adalah cara yang netral dan efisien untuk mengalokasikan sumber daya. Ia menunjukkan bagaimana negara secara aktif menciptakan dan mensubsidi industri fosil, dari tanah yang diserahkan kepada perusahaan kereta api pada abad ke-19 hingga bailout bank-bank besar pada tahun 2008. “Kapitalisme fosil adalah anak kandung negara,” simpulnya.
- Kebuntuan Politik Hijau: Buku ini mengkritik tajam para politisi dan LSM yang menerima logika sistem. Aronoff menganalisis kegagalan kebijakan seperti cap-and-trade dan kemitraan publik-swasta untuk energi hijau, yang seringkali hanya mengalihkan polusi dan mengkonsentrasikan kekayaan, alih-alih menguranginya. Ini mengingatkan pada kritik intelektual Muslim Tariq Ramadan terhadap sistem yang hanya mengakomodasi perubahan kosmetik: “Reformasi sejati bukanlah mengadaptasi agama agar sesuai dengan zaman, tetapi mengubah zaman dengan prinsip-prinsip agama.” Dalam konteks Aronoff, “prinsip” tersebut adalah keadilan ekologis dan sosial.
- Kekuatan Gerakan Sosial: Bagian terpenting buku ini adalah peta jalan perlawanan. Aronoff menyoroti perjuangan-perjuangan akar rumput yang efektif, seperti kampanye Divest-Invest yang membuat lembaga keuangan menarik dana dari fosil, gerakan Green New Deal yang memadukan aksi iklim dengan penciptaan lap kerja dan keadilan rasial, dan aksi Blockadia yang menghalang secara fisik proyek infrastruktur fosil. Kekuatan, menurutnya, terletak pada “koalisi luas yang menghubungkan serikat buruh, gerakan keadilan rasial, organisasi keadilan iklim, dan komunitas yang berdiri di garis depan” (Aronoff, 2021, p. 158).
- Membayangkan Ekonomi Pasca-Pertumbuhan: Aronoff memandang krisis iklim sebagai peluang untuk membayangkan ulang ekonomi kita. Ia mendukung gagasan “Green New Deal” bukan sebagai paket stimulus hijau belaka, melainkan sebagai batu loncatan menuju ekonomi yang berfokus pada perawatan (care), regenerasi, dan kesejahteraan kolektif, bukan pertumbuhan GDP. Penyair dan aktivis Wendell Berry pernah menulis, “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita; kita meminjamnya dari anak-anak kita.” Aronoff membawa etika peminjaman ini ke ranah politik, menuntut sistem ekonomi yang mengakui utang ekologis dan sosial kita.
Gagasan Aronoff semakin mendesak di tengah gelombang panas ekstrem, banjir, dan krisis pangan yang semakin sering. Buku ini relevan karena menawarkan kerangka analisis yang sistemik di saat wacana publik sering terfragmentasi pada solusi individu atau teknologi ajaib. Ia menjelaskan mengapa, meski ilmu pengetahuan sudah jelas dan teknologi energi terbarukan sudah matang, transisi tidak kunjung terjadi: karena ada kekuatan politik dan ekonomi yang terorganisir dengan kepentingan vested dalam status quo.
Prospek masa depan yang ditawarkan Overheated adalah jalan yang sulit namun mungkin: mobilisasi politik massal untuk merebut kembali kekuasaan negara dan mengarahkan kapasitasnya untuk mengatur ekonomi demi kepentingan publik dan planet. Ini bukan tentang menghancurkan negara, tetapi tentang mendemokratisasikannya secara radikal.
Di dunia Muslim, gerakan seperti “Ekonomi Madani” yang digagas oleh aktivis seperti Chandra Muzaffar menawarkan visi serupa—sebuah ekonomi yang berlandaskan keadilan, keberlanjut-an, dan tanggung jawab sosial, bukan akumulasi tanpa batas. Masa depan, bagi Aronoff, bergantung pada kemampuan kita untuk membangun “kekuatan tandingan” (counter-power) yang dapat menantang hegemonikapitalisme fosil dan mewujudkan Transformasi Besar yang ia bayangkan. Tanpa itu, kita hanya akan mendapatkan lebih banyak “solusi” yang justru memanaskan segalanya lebih jauh.
Penyangkalan Baru untuk Ideologi Lama
Dalam pembukaan analisisnya yang tajam, Kate Aronoff tidak membuka dengan serangan terhadap penyangkal iklim tradisional—para tokoh yang secara terang-terangan menyangkal ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ia mencatat sebuah pergeseran paradoksal: Penyangkalan iklam gaya lama, secara terbuka dan vulgar, telah mati. Kematiannya bukan karena kemenangan sains, melainkan karena taktik yang lebih canggih dan berbahaya telah matang untuk menggantikannya.
Bagian pertama bukunya ini menelusuri metamorfosis bahaya, dari penyangkalan fakta menuju penyangkalan solusi—sebuah evolusi yang dirancang untuk melindungi inti dari sistem yang menyebabkan krisis.
Narasi dimulai dengan bab “Climate Denial Is Dead”. Aronoff mengakui bahwa dalam wacana publik arus utama, argumen bahwa perubahan iklim tidak terjadi atau bukan ulah manusia telah kehilangan kredibilitasnya. Perusahaan minyak raksasa seperti ExxonMobil dan Shell sekarang secara retoris mengakui realitas krisis. Namun, Aronoff memperingatkan bahwa ini adalah “kemenangan pirus”.
Kematian penyangkalan kasar hanyalah tanda bahwa pertahanan kapitalisme fosil telah bergerak ke medan pertempuran yang baru. Fokusnya bukan lagi pada apakah krisis itu nyata, tetapi pada bagaimana—atau lebih tepatnya, apakah mungkin—kita mengatasinya tanpa mengganggu tatanan ekonomi yang ada. “Mereka tidak lagi menyangkal sains,” tulis Aronoff, ” mereka menyangkal politik—kemungkinan bahwa kita dapat mengatur ekonomi dengan cara yang berbeda” (Aronoff, 2021, p. 25).
Ini adalah konsesi taktis untuk mempertahankan benteng ideologis yang lebih penting: keyakinan bahwa tidak ada alternatif bagi kapitalisme pasar bebas. Dari reruntuhan penyang-kalan lama, muncullah monster baru yang lebih licik, yang diurai dalam bab “Long Live Climate Denial!”. Di sini, Aronoff memperkenalkan konsep inti: “Penyangkalan Baru” (New Denial). Bentuk penyangkalan ini tidak lagi berdebat tentang data suhu, tetapi tentang kelayakan dan keinginan dari setiap solusi transformatif.
Narasi “Penyangkalan Baru” ini memiliki banyak wajah:
- Tekno-Optimisme Ajaib: Keyakinan bahwa inovasi teknologi—seperti penangkapan karbon, geoengineering, atau energi fusi—akan muncul tepat waktu untuk menyelamatkan kita, sehingga kita tidak perlu mengubah pola konsumsi atau struktur ekonomi. Ini adalah bentuk “penyangkalan melalui penundaan”.
- Fatalisme Ekonomi: Argumentasi bahwa tindakan iklim yang berarti (seperti menghentikan subsidi fosil atau mengatur perusahaan) akan terlalu mahal, menghancurkan pertumbuhan ekonomi, dan merugikan rakyat biasa. Narasi ini, seperti ditunjukkan Aronoff, sering dipromosikan oleh think tank yang didanai oleh industri fosil sendiri.
- Individualisme Moral: Pengalihan tanggung jawab ke pilihan konsumen individu (daur ulang, lampu LED, diet tanpa daging), yang sengaja mengaburkan skala sistemik dari krisis dan kekuatan korporasi yang sesungguhnya.
Aronoff berargumen bahwa “Penyangkalan Baru” ini justru lebih berbahaya karena diterima oleh para politisi arus utama, media, dan bahkan beberapa LSM lingkungan. Ia mengutip filosof Slavoj Žižek yang membedakan antara penyangkalan sinis (saya tahu sangat well sistem ini merusak, tapi saya tetap berpartisipasi) dan ideologi yang sebenarnya beroperasi dalam keyakinan kita yang paling dianggap wajar. “Penyangkalan Baru” bekerja pada level ideologi ini—ia merasuki asumsi kita tentang apa yang mungkin dan wajar dalam mengorganisir masyarakat.
Lebih jauh, Aronoff menghubungkan “Penyangkalan Baru” ini dengan ideologi neoliberal lamayang telah mendominasi sejak era Reagan-Thatcher. Logika yang sama yang menyata-kan “Tidak Ada Masyarakat, yang ada hanya individu” (Margaret Thatcher) dan “Tidak Ada Alternatif” (TINA, There Is No Alternative) untuk kapitalisme pasar, kini dimobilisasi untuk mengatakan tidak ada alternatif untuk pendekatan yang lamban, berbasis pasar, dan teknokratis terhadap krisis iklim. Dengan demikian, pertarungan melawan perubahan iklim menjadi pertarungan melawan warisan ideologis yang telah melucuti imajinasi politik kita selama puluhan tahun.
Dari sintesis kedua bab ini, Aronoff menyimpulkan bahwa medan pertempuran telah bergeser. Musuhnya bukan lagi orang yang membantah grafik NASA, tetapi para arsitek narasi yang membatasi cakrawala solusi kita. Mereka yang bersikeras bahwa kita harus “realistis”—yang realisme mereka didefinisikan oleh batasan yang ditetapkan oleh sistem yang sedang sekarat. Melawan “Penyangkalan Baru” karenanya membutuhkan lebih dari sekadar fakta sains; ia membutuhkan “restorasi imajinasi politik” dan keberanian untuk menawarkan visi alternatif yang radikal dan meyakinkan tentang masa depan—sebuah visi yang akan ia jelajahi sebagai “Transformasi Besar” di bagian-bagian selanjutnya buku.
Tragedi, Dunia Paralel, dan Skenario-Skenario Baru
Setelah membedah anatomi “Penyangkalan Baru”, Kate Aronoff memutar lensa waktunya untuk menelusuri asal-usul historis dan logika masa depan yang terkunci oleh sistem ini. Trilogi bab berikutnya—“First as Tragedy”, “Parallel Worlds”, dan “New Scenarios”—membentuk sebuah narasi yang menunjukkan bagaimana kapitalisme fosil berulang kali mengubah krisis menjadi peluang bagi akumulasi modal, membangun dunia paralel yang terpisah dari penderitaan yang ditimbulkannya, dan akhirnya, memaksakan narasi masa depannya yang sempit kepada kita semua.
Kisah kita bergerak mundur ke titik awal sebuah pola dengan “First as Tragedy”. Di sini, Aronoff menerapkan pemikiran Marxis tentang sejarah yang berulang—”pertama sebagai tragedi, kemudian sebagai farce”—pada krisis ekologis. Ia menunjukkan bagaimana respons terhadap bencana lingkungan besar, seperti tumpahan minyak Deepwater Horizon tahun 2010 atau badai Katrina tahun 2005, justru menjadi peluang untuk “restrukturisasi neoliberal” dan perluasan logika pasar.
Dari itu mengarah pada pengawasan publik atau transisi dari bahan bakar fosil, krisis-krisis ini justru dimanfaatkan untuk melonggarkan regulasi, memprivatisasi aset publik, dan memajukan “solusi” pasar seperti perdagangan karbon. Bencana ekologis, dengan kata lain, “telah dikapitalisasi”. Aronoff mengutip sosiolog Naomi Klein yang menyebutnya “doctrine of shock“: menggunakan guncangan krisis untuk mendorong kebijakan yang tidak populer yang semakin memperkuat kekuatan korporasi. Ini adalah tragedi pertama: ketika penderitaan manusia dan alam dimanfaatkan untuk mengokohkan sistem yang menyebabkan penderitaan itu sendiri.
Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana sistem ini bertahan meski terus menghasilkan krisis? Jawabannya, menurut Aronoff dalam bab “Parallel Worlds”, terletak pada kemampuan-nya membangun dunia paralel yang terpisah. Bab ini mengungkap bagaimana elit politik dan ekonomi yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim justru membangun benteng fisik dan sosial untuk melindungi diri dari konsekuensinya.
Aronoff menggambarkan “geografi ketidaksetaraan iklim”: komunitas-komunitas kaya yang membangun tembok laut pribadi, membeli lahan di dataran tinggi sebagai “real estate iklim”, mengandalkan sistem AC sentral yang boros energi, dan bahkan merencanakan perlindungan pribadi dengan membayar pasukan keamanan swasta.
Di sisi lain, masyarakat miskin, komunitas kulit berwarna, dan Global South yang paling sedikit menyumbang emisi justru paling terpapar banjir, gelombang panas, dan badai. Ini menciptakan dua realitas yang semakin terpisah: satu dunia yang terus hidup dalam ilusi pengendalian dan kekebalan, dan dunia lainnya yang menanggung beban sebenarnya dari sistem yang overheated.
Pemikir Muslim kontemporer Hamza Yusuf sering mengkritik kesenjangan global ini dengan merujuk pada konsep Islam tentang “keadilan” (‘adl) dan “kepengurusan” (khalifah) yang dilanggar ketika segelintir orang menghabiskan sumber daya dunia dan mengorbankan yang lain.
Namun, dunia paralel ini tidak hanya bersifat fisik. Ia juga bersifat naratif. Inilah yang dibongkar Aronoff dalam bab penutup bagian ini, “New Scenarios”. Ia menganalisis bagaimana lembaga think tank, perusahaan konsultan, dan institusi keuangan yang berkuasa—seperti McKinsey & Company dan BlackRock—telah menjadi “arsitek narasi masa depan”.
Melalui laporan, skenario, dan saran kebijakan mereka, mereka secara aktif membentuk pemahaman pembuat keputusan dan publik tentang apa saja kemungkinan yang “realistis” untuk ditangani. Skenario mereka, seperti yang diungkap Aronoff, hampir selalu mengasumsi-kan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, keberlanjutan teknologi geoengineering, dan kemampuan pasar untuk beradaptasi.
Mereka secara sistematis mengecualikan skenario yang melibatkan regulasi ketat, penurunan produksi bahan bakar fosil yang terkelola, atau transformasi ekonomi yang mendasar. Dengan demikian, mereka memenjarakan imajinasi politik dalam “kurungan realisme” yang mereka definisikan sendiri. “Masa depan,” tulis Aronoff, “telah disubkontrakkan kepada konsultan manajemen” (Aronoff, 2021, p. 108). Ini adalah bentuk paling halus dari “Penyangkalan Baru”: penyangkalan terhadap kemungkinan adanya masa depan yang benar-benar berbeda dari perpanjangan status quo yang sedikit dihijaukan.
Secara bersama, ketiga bab ini menunjukkan siklus pertahanan diri kapitalisme fosil yang berbahaya: 1) Memanfaatkan Krisis (“First as Tragedy“) untuk memperkuat cengkeramannya; 2) Melarikan Diri dari Konsekuensi (“Parallel Worlds“) dengan membangun ketidaksetaraan adaptasi; dan 3) Memonopoli Imajinasi (“New Scenarios“) untuk memastikan tidak ada alternatif yang kredibel yang muncul. Aronoff menggambarkan sebuah sistem yang bukan hanya merusak planet, tetapi juga secara aktif membongkar kemampuan kolektif kita untuk membayangkan dan membangun jalan keluar darinya.
Bagian pertama ini berakhir dengan sebuah tantangan yang jelas: untuk melawan overheating planet, kita harus terlebih dahulu memecahkan overheating narasi yang mendominasi—kita harus merebut kembali hak untuk membayangkan dan merancang masa depan kita sendiri. Inilah jembatan menuju bagian kedua buku, di mana Aronoff mulai memetakan perlawanan dan alternatif.
Mimpi Hijau Melawan Apartheid Ekologis
Setelah membongkar mesin politik dan naratif yang mempertahankan status quo, Kate Aronoff dalam Bagian 2 bukunya beralih dari diagnosis ke pertempuran. Di sini, ia memetakan medan pertempuran yang sebenarnya dalam transisi energi, mengungkap kontradiksi tajam antara janji “ekonomi hijau” yang inklusif dan kenyataan baru “apartheid ekologis” yang sedang muncul. Bagian ini adalah investigasi kritis terhadap bagaimana logika kapitalis yang sama yang memecah belah dan mengekstraksi dapat—jika tidak dilawan—membajak masa depan hijau yang kita butuhkan.
Narasi dimulai dengan bab provokatif “Pick Good! Be Smart!”. Di sini, Aronoff mengkritik inti dari strategi perubahan iklim liberal: etika konsumen. Kampanye yang mendesak individu untuk “memilih yang baik” dengan membeli produk hijau, berinvestasi di ETF ramah lingkungan, atau mengadopsi gaya hidup rendah karbon. Meski tampaknya memberdayakan, Aronoff ber-argumen bahwa pendekatan ini justru “memprivatisasi tanggung jawab politik” dan me-ngalihkan perhatian dari perlunya aksi kolektif dan regulasi yang mengikat.
Ia menunjukkan bagaimana perusahaan bahan bakar fosil dengan senang hati mempromosikan jejak karbon pribadi, karena hal itu mengubah tekanan dari kebijakan mereka ke pilihan individu. Yang lebih jahat, model ini membangun “kewarganegaraan hijau” yang elitis, yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki pendapatan cukup untuk membeli mobil listrik mahal atau memasang panel surya atap. “Gerakan iklim,” tulis Aronoff, “tidak bisa dimenang-kan di lorong supermarket organik” (Aronoff, 2021, p. 135). Ia menggemakan kritik intelektual Muslim seperti Tariq Ramadan terhadap kapitalisme etis, yang memperingatkan bahwa “membeli dengan hati nurani tanpa menantang struktur ketidakadilan hanyalah cara untuk menenangkan hati nurani itu sendiri.”
Namun, Aronoff tidak berhenti pada kritik terhadap individualisme. Dalam “Planning for a Good Crisis”, ia mengungkap bagaimana logika yang sama—menguntungkan swasta, mengorbankan publik—telah membentuk respons negara terhadap krisis. Bab ini menganalisis momen-momen seperti pemulihan pasca-resesi 2008 atau paket stimulus pandemi COVID-19. Alih-alih menjadi peluang untuk “membangun kembali dengan lebih baik” secara radikal, momen-momen ini justru digunakan untuk “memperkuat oligarki hijau”.
Aronoff menggambarkan bagaimana dana talangan dan insentif publik yang masif mengalir ke perusahaan energi “bersih” besar dan proyek infrastruktur teknologis tinggi, sementara program penciptaan lapangan kerja massal, nasionalisasi grid energi, atau investasi dalam transportasi umum yang terjangkau diabaikan. Ini adalah “perencanaan untuk krisis yang baik” dari perspektif modal: menggunakan keadaan darurat untuk mengalirkan kekayaan publik ke swasta dan mengkonsolidasikan model transisi yang terkonsentrasi, teknokratis, dan tidak demokratis. Ini menciptakan jalan menuju “Ekonomi Hijau 1%”, yang memecah belah.
Pembelahan itulah yang menjadi fokus bab penutup yang kuat, “Power to the People”. Di sinilah Aronoff sepenuhnya mengartikulasikan ancaman “eco-apartheid”. Ia menggambarkan sebuah masa depan—yang sudah mulai terwujud—di mana manfaat transisi hijau (energi murah, udara bersih, pekerjaan baru) dinikmati oleh segelintir orang, sementara biayanya (polusi dari tambang mineral untuk baterai, pemindahan paksa untuk pembangkit listrik tenaga air atau panel surya skala besar, kenaikan tarif listrik) ditanggung oleh komunitas miskin, kulit berwarna, dan Global South.
Ini adalah apartheid ekologis: pemisahan fisik dan ekonomi berdasarkan akses terhadap lingkungan yang aman dan manfaat energi bersih. Aronoff mengutip perjuangan di tempat-tempat seperti Lithium Triangle di Amerika Selatan atau kawasan kobalt di Kongo, di mana ekstraksi untuk “teknologi hijau” mereproduksi pola kolonial kekerasan dan perampasan.
Visi ini berhadapan langsung dengan prinsip keadilan lingkungan (environmental justice) yang berakar pada gerakan masyarakat adat dan komunitas kulit berwarna. Pemikir dan aktivis Muslim seperti Vandana Shivatelah lama memperingatkan hal ini, menulis bahwa “monokultur pikiran menciptakan monokultur di ladang, dan keduanya melayani logika kolonial yang sama.”
Tetapi “Power to the People” bukanlah sekadar gambaran suram. Ini adalah seruan untuk bentuk kekuasaan yang berbeda. Aronoff berargumen bahwa satu-satunya penangkal terhadap apartheid ekologis adalah demokratisasi radikal dari transisi itu sendiri.
Ini berarti:
- Kekuasaan Komunitas atas Sumber Daya: Kepemilikan publik dan kontrol demokratis terhadap energi terbarukan, seperti koperasi energi milik masyarakat.
- Keadilan dalam Transisi: Program yang menjamin pekerjaan yang baik, pelatihan ulang, dan keamanan ekonomi bagi pekerja di industri fosil, dipimpin oleh serikat pekerja.
- Sovereignty Pangan dan Air: Perjuangan melawan privatisasi dan untuk mengontrol sumber daya vital secara kolektif.
Dengan demikian, Bagian 2 ini adalah sebuah peringatan dan sekaligus kompas. Aronoff menunjukkan bahwa tanpa perjuangan politik yang eksplisit untuk keadilan dan demokrasi, “transisi hijau” yang didorong pasar akan menghasilkan dunia yang sama timpang dan eksploitatifnya dengan dunia bahan bakar fosil—hanya dengan catatan emisi yang lebih baik. Jalan keluar tidak terletak pada membeli lebih banyak produk hijau atau menunggu kesadaran para elit, tetapi pada membangun kekuatan rakyat dari bawah yang dapat merebut proses transisi dan mengarahkannya untuk memenuhi kebutuhan banyak orang, bukan keuntungan segelintir orang. Inilah pertarungan sejati antara mimpi hijau yang inklusif dan kenyataan apartheid ekologis.
Dari Oligarki Hijau ke Internasionalisme Darurat
Setelah memetakan medan berbahaya antara mimpi hijau dan apartheid ekologis, Kate Aronoff dalam bab-bab penutup Bagian 2 ini mulai merajut benang-benang alternatif. Di sini, ia bergerak dari kritik ke konstruksi, meski konstruksi itu realistis tentang betapa beratnya perlawanan. Ia membayangkan institusi politik baru, logika ekonomi yang berbeda, strategi konfrontasi, dan solidaritas global yang diperlukan untuk tidak hanya mencegah dunia yang terpecah, tetapi membangun yang lebih adil.
Perjalanan dimulai dengan visi institusional yang radikal: “A Postcarbon Democracy”. Aronoff menolak anggapan bahwa demokrasi liberal seperti yang kita kenal—dengan siklus pemilu pendek, pengaruh uang yang besar, dan lembaga yang lemah—mampu mengatasi krisis yang membutuhkan perencanaan jangka panjang dan langkah-langkah berani yang bertentangan dengan kepentingan korporasi yang mapan. Sebagai gantinya, ia membayangkan demokrasi pascakarbon yang diperdalam dan diperluas.
Ini berarti lembaga-lembaga seperti “majelis iklim warga” (citizens’ assemblies) yang dipilih secara acak dan diberi wewenang untuk merancang kebijakan iklim; penguatan serikat pekerja dan koperasi sebagai pusat kekuatan ekonomi-demokratis; dan kontrol publik langsung atas sektor-sektor penting seperti energi dan transportasi.
Tujuannya adalah untuk “mendemokratisasikan alat-alat kelangsungan hidup”. Ini adalah jawaban langsung terhadap “kekuasaan untuk rakyat”—bukan sekadar slogan, melainkan arsitektur politik baru. Dalam tradisi pemikiran Islam, konsep “shura” (musyawarah) sebagai metode kolektif untuk mencapai keputusan yang adil dan bijaksana, memberikan resonansi dengan gagasan majelis warga yang inklusif ini.
Namun, demokrasi yang diperdalam membutuhkan fondasi ekonomi yang berbeda. Inilah yang diuraikan dalam “Toward a Nonviolent Economy”. Aronoff di sini tidak hanya berbicara tentang ekonomi tanpa karbon, tetapi tentang ekonomi yang “tidak melakukan kekerasan”—terhadap manusia dan alam. Ini adalah kritik terhadap logika ekstraktif dan eksploitatif yang menjadi inti kapitalisme fosil.
Ekonomi non-kekerasan akan diukur bukan oleh Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB), tetapi oleh indikator seperti kesejahteraan, keberlanjutan ekologis, dan pengurangan ketimpangan. Ini akan melibatkan pengurangan sektor-sektor yang merusak (seperti industri fosil dan senjata), sekaligus memperluas “ekonomi perawatan” (care economy)—kesehatan, pendidikan, perawatan anak dan lansia—dan ekonomi regeneratif seperti pertanian agroekologis.
Aronoff mengakui ini terdengar utopis, tetapi ia berargumen bahwa ekonomi kekerasanlah yang sebenarnya tidak realistis dalam planet yang terbatas. Pemikir ekofeminis Muslim seperti Riffat Hassan telah lama menghubungkan eksploitasi perempuan dengan eksploitasi alam, dan membayangkan ekonomi yang berdasarkan pada etika perawatan dan kesalingtergantungan, bukan dominasi.
Lantas, bagaimana mencapainya di dunia yang dikuasai oleh kekuatan yang justru menguntung-kan dari “pengelolaan” krisis? Bab “Managing Eco-Apartheid” memberikan analisis yang suram namun penting. Aronoff memprediksi bahwa jika gerakan keadilan iklim gagal, elit global tidak akan diam. Alih-alih, mereka akan semakin mengandalkan “manajemen apartheid ekologis” melalui teknologi pengawasan, perbatasan yang diperketat, kekuatan keamanan swasta, dan narasi yang menyalahkan korban (seperti “pengungsi iklim”).
Ini adalah dunia di mana benteng komunitas kaya dijaga dengan ketat sementara sebagian besar umat manusia dibiarkan berjuang sendiri. Bab ini berfungsi sebagai peringatan: masa depan yang terpecah dan otoriter bukanlah khayalan, melainkan logis dari arah yang kita tuju sekarang jika kekuatan pasar dan represi negara dibiarkan tanpa pengekangan.
Oleh karena itu, satu-satunya penangkal adalah solidaritas yang melampaui batas-batas nasional. Inilah tema penutup yang penuh semangat: “Emergency Internationalism”. Aronoff menolak nasionalisme “America First” dari kebijakan iklim tertentu dan menyerukan “internasionalisme darurat” baru.
Ini bukan sekadar bantuan dari Utara ke Selatan, melainkan pengakuan bahwa krisis iklim adalah krisis sistem global dan membutuhkan solusi global yang adil. Ini berarti mendukung tuntutan “utang iklim” (climate debt)—di mana negara-negara industri Utara membayar reparasi ke negara-negara Selatan untuk kerusakan historis dan biaya transisi. Ini berarti solidaritas langsung dengan perjuangan masyarakat adat melawan ekstraksi dan dengan gerakan buruh di seluruh dunia yang memperjuangkan “transisi yang adil”.
Aronoff melihat percikan ini dalam mobilisasi seperti “Fridays for Future” yang global dan dalam tekanan untuk membatalkan utang negara-negara berkembang selama pandemi. Internasional-isme ini, ia berargumen, adalah “praktik politik yang vital” dan satu-satunya cara untuk mem-bangun kekuatan yang cukup untuk melawan oligarki fosil global dan mencegah pengelolaan apartheid yang brutal.
Dengan demikian, kuartet penutup ini menyempurnakan argumen Bagian 2. Aronoff beralih dari mengidentifikasi masalah apartheid ekologis ke membayangkan jalan keluar yang positif tetapi berat: sebuah demokrasi yang lebih dalam untuk mengambil keputusan kolektif; sebuah ekonomi non-kekerasan sebagai fondasinya; sebuah kesadaran akan ancaman manajemen otoriter; dan sebuah solidaritas global sebagai skala tindakan yang diperlukan.
Ia tidak memberikan blueprint yang rapi, tetapi sebuah peta jalan perlawanan dan rekon-struksi yang mengakui bahwa pertempuran melawan overheating planet adalah pertempuran untuk menentukan siapa kita sebagai masyarakat global: apakah kita akan mengelola kehancur-an bersama secara adil, atau mengatur kepunahan secara terpisah-pisah.
We Can Have Nice Things
Dalam kesimpulan yang menggabungkan ketajaman analitis dengan seruan moral yang kuat, Kate Aronoff menegaskan kembali tesis inti bukunya dengan nada yang penuh tantangan dan harapan. Judulnya, “We Can Have Nice Things“, adalah sanggahan langsung terhadap narasi kelangkaan dan pengorbanan yang sering menyertai wacana iklim. Aronoff berargumen bahwa krisis ini bukan tentang kita harus mengurangi kualitas hidup, tetapi tentang kita akhirnya bisa membangun dunia di mana ‘hal-hal yang baik’—udara bersih, energi murah, pekerjaan yang bermartabat, waktu luang, komunitas yang kokoh, dan alam yang berkembang—didistribusikan secara adil dan dinikmati oleh semua, bukan hanya oleh segelintir elite.
Namun, jalan menuju sana membutuhkan penolakan tegas terhadap ilusi bahwa “hal-hal baik” ini dapat diraih melalui reformasi tambal sulam atau teknokratis dalam kerangka kapitalisme. “Kita tidak bisa membeli jalan keluar dari krisis yang diciptakan oleh budaya membeli kita,” tegasnya (Aronoff, 2021, p. 285). Solusi sejati terletak pada rekonstruksi politik dan ekonomi kita dari bawah.
Ini berarti memperjuangkan Green New Deal yang benar-benar transformatif sebagai batu loncatan; memperdalam demokrasi melalui majelis warga dan kekuatan serikat pekerja; dan membangun ekonomi yang berpusat pada perawatan dan regenerasi, bukan ekstraksi dan akumulasi.
Aronoff mengakhiri dengan sebuah visi yang membumi: masa depan yang layak diperjuangkan bukanlah mimpi utopis atau distopia otoriter, melainkan “dunia yang dibangun dari bawah oleh orang-orang yang menuntut—dan membangun—sesuatu yang lebih baik”. Kuncinya, ia menekankan, ada pada kekuatan kolektif yang terorganisir. Perjuangan melawan overheating planet adalah, pada akhirnya, perjuangan untuk demokratisasi radikal atas sumber daya dan masa depan kita bersama.
Catatan Akhir: Awal Dunia Baru
Overheated adalah sebuah diagnosis politik ekonomi yang brilian dan peta jalan perlawanan terhadap krisis iklim. Kate Aronoff menolak analisis yang menyederhanakan krisis sebagai masalah teknis atau kegagalan kebijakan individu. Sebaliknya, ia melacak akarnya hingga ke jantung logika kapitalisme fosil—sistem yang bergantung pada pertumbuhan tak terbatas, ekstraksi tanpa henti, dan ketimpangan struktural untuk bertahan hidup.
Alur Argumen Utama:
Penyangkalan Telah Berevolusi: Pertarungan telah bergeser dari penyangkalan sains (old denial) ke “penyangkalan baru” (new denial)—penyangkalan terhadap kemungkinan solusi transfor-matif yang mengganggu status quo. Narasi ini dipromosikan oleh think tank, konsultan, dan lembaga keuangan yang membatasi imajinasi politik kita dengan skenario masa depan yang pro-pasar dan teknokratis.
Siklus Krisis dan Akumulasi: Kapitalisme fosil terbukti tangguh dengan mengkapitalisasi krisis(seperti badai atau pandemi) untuk memperkuat cengkeramannya melalui deregulasi, privatisasi, dan aliran kekayaan publik ke swasta, sekaligus membangun “dunia paralel” perlindungan bagi elite yang mengisolasi mereka dari konsekuensi terburuk.
Jebakan Transisi Hijau yang Tidak Adil: Tanpa perjuangan politik yang eksplisit untuk keadilan, transisi energi yang digerakkan oleh pasar berisiko menghasilkan “apartheid ekologis”—sebuah dunia di mana manfaat energi bersih dinikmati oleh segelintir orang, sementara biaya ekstraksi, polusi, dan pemindahan ditanggung oleh komunitas miskin, kulit berwarna, dan Global South.
Solusi individualistik (“beli produk hijau!”) justru mengaburkan ketidakadilan sistemik ini.
Jalan Keluar: Kekuatan Rakyat dan Transformasi Sistem: Satu-satunya penangkal adalah mobilisasi politik massal untuk merebut kembali kekuasaan negara dan mengarahkannya untuk kepentingan publik. Aronoff membayangkan:
- Demokrasi Pascakarbon yang diperdalam (majelis warga, kontrol publik atas energi).
- Ekonomi Non-Kekerasan yang berpusat pada perawatan dan regenerasi, bukan PDB.
- Internasionalisme Darurat yang didasarkan pada solidaritas global, keadilan iklim, dan pengakuan utang ekologis negara-negara Utara.
Buku ini sangat relevan di tengah meningkatnya bencana iklim dan respons pemerintah yang sering kali tidak memadai. Aronoff mengingatkan kita bahwa krisis iklim adalah krisis politik. Teknologi energi terbarukan sudah ada, dan uangnya juga ada. Yang kurang adalah kemauan politik yang dibangkitkan oleh kekuatan rakyat yang terorganisir untuk menantang kekuatan korporasi fosil dan logika ekonomi yang menghancurkan planet. “Krisis iklim adalah kegagalan pasar. Lebih tepatnya, ini adalah kesuksesan pasar—dalam mengekstraksi kekayaan dari bumi dan tenaga kerja dengan mengorbankan segalanya yang lain.” (p. 45)
Pesan akhir Aronoff jelas: Kita memang bisa memiliki “hal-hal yang baik”—masa depan yang aman, adil, dan makmur. Tetapi kita tidak akan mendapatkannya dengan berbelanja. Kita akan mendapatkannya dengan berjuang. Masa depan itu harus direbut melalui perjuangan kolektif untuk transformasi sistemik, atau kita akan terjerumus ke dalam dunia yang terpecah dan semakin otoriter yang dikelola oleh para penyintas yang egois. Overheated adalah seruan untuk memilih perjuangan tersebut.
“Green New Deal bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal dari sebuah proyek untuk membangun dunia baru di dalam cangkang dunia lama yang sekarat.” (p. 192)
Cirebon, 24 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Aronoff, K. (2021). Overheated: How capitalism broke the planet — and how we fight back. Bold Type Books.
Berry, W. (1990). What are people for? North Point Press.
Bullard, R. D. (1990). Dumping in Dixie: Race, class, and environmental quality. Westview Press.
Hassan, R. (1996). Feminist theology and ecological ethics. Dalam F. Khalid & J. O’Brien (Eds.), Islam and ecology (pp. 155-169). Cassell.
Klein, N. (2007). The shock doctrine: The rise of disaster capitalism. Metropolitan Books.
Klein, N. (2014). This changes everything: Capitalism vs. the climate. Simon & Schuster.
Marx, K. (1852). The eighteenth brumaire of Louis Bonaparte. Die Revolution.
Muzaffar, C. (2021). Beyond the crisis: The promise of civilizational renewal. Islamic Book Trust.
Persatuan Bangsa-Bangsa. (2015). Perjanjian Paris [The Paris Agreement]. https://unfccc.int/sites/default/files/english_paris_agreement.pdf
Polanyi, K. (1944). The great transformation: The political and economic origins of our time. Beacon Press.
Ramadan, T. (2009). Radical reform: Islamic ethics and liberation. Oxford University Press.
Shiva, V. (1993). Monocultures of the mind: Perspectives on biodiversity and biotechnology. Zed Books.
Thatcher, M. (1987, October 31). Interview for Woman’s Own (“no such thing as society”). Margaret Thatcher Foundation. https://www.margaretthatcher.org/document/106689
Yusuf, H. (2019). Caesar’s messiah: The Roman conspiracy to invent Jesus. CreateSpace Independent Publishing Platform.
Žižek, S. (1989). The sublime object of ideology. Verso.






