Rubarubu #177
Mutualism:
Gerakan Perlawanan yang Konstruktif
Di tengah pusaran resesi ekonomi 2008, seorang penata rambut bernama Kelly di Brooklyn mengalami nasib yang sama dengan jutaan pekerja Amerika: jam kerjanya dipotong, pen-dapatannya merosot, dan jaring pengaman sosial nyaris tak terasa. Namun, Kelly tidak sendirian. Dia adalah bagian dari Freelancers Union, sebuah asosiasi yang dibangun bukan oleh perusahaan atau pemerintah, tetapi oleh sesama pekerja lepas. Melalui Union, Kelly mendapatkan akses ke asuransi kesehatan yang terjangkau, nasihat hukum, dan komunitas yang saling mendukung. Jaring pengamannya bukan berasal dari atas, tetapi dari samping—dari jaringan solidaritas horizontal sesama pekerja.
Inilah inti dari Mutualisme, sebuah filosofi ekonomi dan sosial yang diperjuangkan oleh Sara Horowitz dalam bukunya, Mutualism: Building the Next Economy from the Ground Up (2021). Buku ini bukan sekadar analisis ekonomi, tetapi sebuah peta jalan praktis untuk membangun ketahanan dari bawah dengan prinsip saling percaya, gotong royong, dan kepemilikan bersama. “Mutualisme adalah tentang membangun kekuatan bersama sebelum Anda membutuhkan-nya.” – Sara Horowitz. Ini adalah inti dari logika persiapan dan ketahanan proaktif.
Titik Balik Sejarah
Dalam prolognya, Horowitz menempatkan Mutualisme bukan sebagai ide baru, tetapi sebagai warisan yang terputus. Dia mengingatkan kita pada sejarah panjang asosiasi saling bantu di Amerika—dari benevolent societies abad ke-19, serikat kredit (credit unions), hingga koperasi pertanian. Ekonomi ini tumbuh subur di “ruang tengah” (the middle space) antara pasar dan negara, di mana orang-orang biasa mengumpulkan sumber daya mereka untuk menghadapi ketidakpastian hidup.
Namun, narasi dominan tentang “pasar bebas” versus “negara kesejahteraan” pada abad ke-20 telah meminggirkan model ketiga ini. Krisis 2008 dan kemudian pandemi COVID-19 telah membuktikan kegagalan kedua sistem dominan tersebut dalam melindungi rakyat kecil, sekaligus membuka jendela peluang untuk membangkitkan kembali ekonomi mutualisme. “Kita telah melupakan bahwa kita pernah membangun ekonomi kita sendiri,” tulis Horowitz, menyerukan pengingat sekaligus ajakan untuk bertindak.
Buku ini dibangun di atas premis bahwa ekonomi masa depan haruslah “dibangun dari bawah ”(from the ground up). Horowitz, sebagai pendiri Freelancers Union dan Freelancers Insurance Company, membagikan pelajaran praktis sekaligus kerangka filosofis. Buku ini mengelaborasi beberapa pilar utama: Pertama, Kekuatan Asosiasi dan “Ruang Tengah”: Ekonomi mutualisme tumbuh di ruang sosial di mana orang saling mengenal dan mempercayai. Ini bukan tentang amal dari atas ke bawah, melainkan tentang asosiasi sukarela yang memberikan manfaat nyata bagi anggotanya. Horowitz merinci bagaimana platform digital modern dapat memperkuat, bukan menggantikan, ikatan asosiasi ini untuk menyediakan layanan seperti asuransi, pensiun, dan pelatihan keterampilan yang biasanya hanya diakses melalui pekerjaan formal.
Kedua, Kepemilikan dan Ekonomi Pemangku Kepentingan: Mutualisme menolak ekstraksi nilai oleh pemegang saham eksternal. Sebaliknya, ia menganjurkan model kepemilikan yang mem-berikan kuasa kepada mereka yang terlibat langsung—pekerja, pengguna, dan komunitas. Koperasi, ESOPs (Employee Stock Ownership Plans), dan platform yang dimiliki pengguna adalah contohnya. “Jika kita menginginkan ekonomi yang lebih stabil dan adil, kita harus memiliki lebih banyak dari ekonomi itu sendiri,” tegas Horowitz.
“Pekerjaan kita adalah untuk menemukan kembali masa depan dengan menemukan kembali masa lalu kita yang saling membantu.” – Sara Horowitz. Gagasan ini beresonansi dengan ajaran Nurcholish Madjid (Cak Nur) tentang pentingnya menghidupkan kembali semangat “kebersamaan dan kepedulian sosial” (ukhuwah) dalam kehidupan ekonomi modern Indonesia, sebagai penyeimbang individualisme pasar.
Ketiga, Membangun Blok Ekonomi Baru: Buku ini menawarkan toolkit praktis: bagaimana membangun “jaring pengaman baru” berbasis asosiasi, merancang “sistem peringatan dini” komunitas untuk krisis ekonomi, dan menciptakan “mata uang sosial” berupa reputasi dan kepercayaan yang dapat dikonversi menjadi peluang ekonomi. Ini adalah upaya untuk men-demokratisasi alat-alat ketahanan ekonomi. Penyair dan aktivis Wiji Thukul pernah menulis, “Dan hanya satu kata: lawan!” Semangat perlawanan Wiji Thukul terhadap ketidakadil-an dapat dialirkan ke dalam bentuk konstruktif mutualisme: melawan marginalisasi ekonomi dengan membangun kekuatan kolektif dan otonomi dari bawah.
Keempat, Peran Kebijakan yang Memberdayakan: Horowitz tidak menolak peran negara. Sebaliknya, ia mendesain kebijakan yang bersifat “infrastruktural”—yang mempermudah rakyat untuk mengorganisir diri sendiri, misalnya dengan reformasi peraturan yang mengakui asosiasi pekerja nontradisional atau menyediakan modal awal untuk koperasi.
Secara global, buku ini sangat relevan di era gig economy, ketidakpastian kerja, dan krisis iklim. Ia menjawab kegelisahan generasi milenial dan Gen-Z yang mencari makna dan keberlanjutan di luar kapitalisme shareholder. Gerakan platform cooperativism dan komunitas energi ter-barukan berbasis warga adalah manifestasinya. Di Indonesia, semangat mutualisme bukanlah barang impor. Ia adalah napas dari gotong royong, arisan, dan koperasi. Namun, buku Horowitz memberikan bahasa dan kerangka kelembagaan modern untuk menghidupkan kembali dan mengadaptasi nilai-nilai leluhur tersebut menghadapi ekonomi digital.
Dapat menjadi panduan untuk memperkuat BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) agar benar-benar dimiliki dan dikelola untuk kemakmuran warga, bukan menjadi alat elite desa. Juga relevan untuk membangun asosiasi bagi jutaan pekerja informal dan platform (ojek online, driver, pekerja kreatif) untuk mendapatkan aksas ke perlindungan sosial dan advokasi kolektif. Tantangannya adalah mentalitas individualistik yang menguat dan regulasi yang belum sepenuhnya mendukung inovasi mutualisme. Peluangnya adalah kekayaan modal sosial, budaya gotong royong, dan momentum desentralisasi.
Prospek Masa Depan
Masa depan ekonomi tidak harus bipolar antara kapitalisme neoliberal dan sosialisme negara. Mutualisme menawarkan jalan ketiga yang organik dan terdesentralisasi. Prospeknya adalah munculnya ekosistem ekonomi yang lebih tangguh, demokratis, dan berakar pada komunitas. Ini adalah ekonomi di mana nilai diukur bukan hanya dengan pertumbuhan PDB, tetapi dengan kekuatan jaringan sosial, kepemilikan lokal, dan kapasitas komunitas untuk menghadapi guncangan.
Buku Horowitz bukan utopis; ia sangat praktis dan dibangun dari bukti keberhasilan. Ia mengajak kita untuk tidak lagi hanya menjadi konsumen atau karyawan yang pasrah, tetapi menjadi arsitek ekonomi kita sendiri—dengan mulai dari hal kecil, dari lingkungan terdekat, dan saling mempercayai. Dalam kata-kata Horowitz sendiri, “Tugas kita sekarang adalah mem-bangun blok-blok pembangun yang akan membentuk ekonomi kita yang berikutnya.”
Apa Itu Mutualisme? — Akar, Sejarah, dan DNA Organisasi. Bagian pembuka Mutualism karya Sara Horowitz tidak dimulai dengan teori abstrak atau data ekonomi. Ia dimulai dengan sebuah cerita keluarga—sebuah petik yang mendalam tentang bagaimana sebenarnya jaring pengaman itu dirajut, bukan oleh negara atau korporasi, tetapi oleh tangan-tangan pekerja yang saling bergandengan. Ini adalah upaya untuk menjawab pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya DNA dari ekonomi yang dibangun dari bawah, dan dari mana asal-usulnya?
Judul Bab 1: “Horowitz Says We Shall Make No More Brassieres” – Sejarah Keluarga dari Jaring Pengaman ini berasal dari sebuah protes legendaris yang dipimpin oleh kakek buyut Sara Horowitz, seorang pemimpin serikat pekerja pabrik pakaian dalam di New York awal abad ke-20.
Saat kondisi kerja menjadi tak tertahankan, serikatnya tidak hanya berdemonstrasi, tetapi mengambil alih pabrik dan menjalankannya sendiri—sebuah aksi yang membuktikan bahwa pekerja memahami operasi bisnis dan mampu mengelolanya. Kisah ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah fondasi pertama dari argumen Horowitz: “Jaring pengaman yang paling efektif sering kali berasal dari orang-orang yang paling rentan terhadap jatuh.”
Melalui narasi keluarganya yang terlibat dalam gerakan buruh Yahudi dan organisasi saling bantu (landsmanshaftn), Horowitz menunjukkan bahwa sebelum ada Medicare atau asuransi pengangguran negara, komunitas imigran telah membangun sistem mereka sendiri—dana pemakaman, pinjaman tanpa bunga, dukungan bagi yang sakit—berdasarkan kepercayaan dan solidaritas. Jaring pengaman ini bersifat organik, lokal, dan timbal balik. Bab ini dengan cerdas menggeser persepsi kita: bantuan sosial bukanlah inovasi negara abad ke-20, melainkan praktik komunitas yang sudah berusia berabad-abad yang kemudian diadopsi dan dipusatkan oleh negara.
Sementara itu pada Bab 2: Mutualisme Awal: Sang “-isme” yang Mendahului Kapitalisme
Horowitz mengajak pembaca melakukan perjalanan sejarah yang lebih panjang dan luas. Dia menunjukkan bahwa mutualisme bukanlah ide baru atau pinggiran.
Mutualisme adalah “sang -isme” yang mendahului dan hidup berdampingan dengan kapitalisme industrial. Dengan merujuk pada sejarah gerakan koperasi di Inggris (seperti Rochdale Pioneers), building societies (lembaga pembiayaan perumahan kolektif), dan serikat kredit (credit unions), dia membuktikan bahwa dorongan manusia untuk bersatu memenuhi kebutuhan bersama adalah sebuah kekuatan ekonomi yang tangguh dan rasional. Praktik-praktik ini berkembang sebagai respons langsung terhadap kegagalan pasar dan ketiadaan negara dalam menyediakan keamanan ekonomi dasar.
Filsuf dan ekonom Pierre-Joseph Proudhon, yang sering disebut sebagai bapak mutualisme anarkis, pernah menulis tentang gagasan “bank rakyat” dan asosiasi sukarela. Namun, Horowitz lebih fokus pada praktiknya daripada teorinya yang radikal. Dia menunjukkan bahwa mutualisme awal ini berhasil karena memenuhi tiga kebutuhan mendasar: mengelola risiko bersama, mengumpulkan modal dari dalam komunitas, dan menciptakan pasar yang adil bagi produsen skala kecil. Ini adalah kapitalisme rakyat yang berakar pada kepemilikan kolektif, bukan ekstraksi modal eksternal.
Setelah membangun landasan sejarah dan emosional, Horowitz beralih ke hal yang paling praktis: bagaimana sebenarnya mutualisme itu diorganisir? Apa aturan mainnya? Perbincangan itu dituliskan pada Bab 3: Organisasi Mutualis: Tiga Aturan Mutualisme
Dia menawarkan “Tiga Aturan Mutualisme” sebagai cetak biru operasional:
- Bangun dari Kelompok Kecil yang Terikat Kepercayaan (Start with a Small, Trust-Based Pod):Mutualisme tidak dimulai dengan skala besar. Ia dimulai dari kelompok kecil di mana orang saling mengenal, memiliki nilai yang sama, dan dapat saling meminta pertanggungjawaban. Ini bisa berupa sekelompok freelancer, petani di satu wilayah, atau tetangga di satu blok perumahan. Kepercayaan adalah mata uang utamanya.
- Buat Komitmen yang Jelas dan Saling Menguntungkan (Create Clear, Reciprocal Commitments): Ini bukan amal. Setiap anggota memberi dan menerima sesuai dengan aturan yang transparan. Horowitz menekankan pentingnya “kontribusi yang terlihat” dan manfaat yang langsung dirasakan. Dalam Freelancers Union, kontribusinya adalah iuran anggota, dan manfaatnya adalah akses ke asuransi kelompok yang lebih murah. Resiprositas ini yang menjaga keberlanjutan.
- Federasikan untuk Mencapai Skala (Federate to Achieve Scale): Aturan terakhir adalah tentang pertumbuhan yang sehat. Alih-alih menjadi hierarki raksasa yang kaku, kelompok-kelompok kecil mutualis (pod) dapat berjejaring dalam federasi. Model ini mempertahankan otonomi lokal dan akar kepercayaan, sekaligus mengumpulkan kekuatan kolektif untuk negosiasi yang lebih besar, pembelian bersama, atau pengembangan produk (seperti asuransi nasional). Prinsip ini menggemakan semangat “bersatu kita teguh” tetapi dalam struktur yang dirancang untuk mencegah birokrasi yang menjauhkan dari anggota.
Bagi Horowitz mutualisme adalah sebuah garis keturunan yang terputus, tetapi DNA-nya masih ada dan dapat dihidupkan kembali.
Horowitz seolah berkata: Lihatlah, kakek buyut saya melakukannya di pabrik pakaian dalam. Para perintis Rochdale melakukannya di toko kelontong. Mereka semua berpegang pada prinsip yang sama: kami akan menyelamatkan diri kami sendiri dengan mengandalkan satu sama lain. “Jaring pengaman terkuat terbuat dari banyak utas tipis kepercayaan yang ditenun bersama-sama,”tulisnya.
Bagian I ini berhasil mengubah mutualisme dari sebuah konsep akademis menjadi sebuah warisan keluarga yang dapat diwariskan dan sebuah toolkit organisasi yang dapat diterapkan oleh siapa saja—mulai dari sekelompok pekerja kreatif, komunitas penghuni apartemen, hingga koperasi produsen di pedesaan. Ini adalah pondasi yang kokoh untuk argumen selanjutnya: bahwa di tengah kegagalan pasar dan negara yang kelebihan beban, sudah waktunya untuk menggali kembali dan memodernisasi cetak biru ekonomi yang sudah teruji waktu ini.
Ekosistem dan Transformasi Mutualisme
Setelah menetapkan prinsip-prinsip dasar, Sara Horowitz membawa kita melangkah lebih jauh: bagaimana mutualisme bertumbuh dari kelompok-kelompok kecil menjadi kekuatan trans-formatif yang dapat mengubah lanskap ekonomi? Bagian ini menjawabnya dengan dua konsep kunci: ekosistem yang biodiverse dan transformasi melalui jembatan strategis.
Horowitz menggunakan metafora yang kuat dari biologi: ekonomi mutualis yang sehat tidak seperti monokultur pertanian industri yang rapuh, melainkan seperti hutan hujan yang kaya biodiversitas. Ia tidak tumbuh dengan kloning satu model sukses secara massal, tetapi dengan membiarkan berbagai bentuk organisasi—koperasi, serikat kredit, land trusts komunitas, asosiasi produsen, B Corporations—tumbuh saling terkait dan saling mendukung. Diuraikan dengan baik pada Bab 4: Ekosistem Mutualis—Membangun Skala yang Biodivers.
Di sini, Horowitz mengembangkan ide dari “Tiga Aturan” sebelumnya, khususnya aturan ketiga tentang “federasi.” Namun, federasi mutualis bukanlah merger yang menciptakan raksasa korporat baru. Ia lebih mirip jaringan mikoriza di bawah tanah hutan, di mana jamur menghu-bungkan akar pepohonan yang berbeda, memungkinkan mereka berbagi nutrisi dan peringatan bahaya. Demikian pula, ekosistem mutualis dibangun dari “jembatan kelembagaan” yang memungkinkan berbagai pod saling bertukar sumber daya, informasi, dan kapasitas.
Contoh nyata yang mungkin diajukan Horowitz adalah: sebuah koperasi petani lokal tidak hanya menjual ke pasar; ia terhubung dengan serikat kredit komunitas yang memberinya pembiayaan terjangkau, dengan land trust yang melindungi lahannya dari spekulasi, dan dengan koperasi konsumen di perkotaan yang menjadi pasar yang loyal. “Skala tidak harus berarti keseragam-an,”tegasnya. “Skala yang sesungguhnya dalam mutualisme adalah kekuatan jaringan—berapa banyak hubungan saling menguntungkan yang dapat Anda ciptakan di antara organisasi-organisasi yang tetap mandiri dan berakar lokal.” Pendekatan ini membangun ketahanan sistemik; jika satu bagian terganggu, jaringan yang lain dapat menopangnya.
Filsuf Skotlandia Adam Smith, sering hanya dikutip soal “tangan tak terlihat”, sebenarnya dalam The Theory of Moral Sentiments juga menekankan pentingnya “simpati” (empati) sebagai fondasi sosial bagi pasar. Mutualisme dapat dilihat sebagai institusionalisasi dari “simpati” Smithian tersebut.
Jika Bab 4 membahas struktur ekosistem, Bab 5, Transformasi Mutualis—Randolph dan Rustin, Membangun Jembatan Mutualis, membahas strategi politik dan sosial untuk menumbuhkan-nya. Horowitz mengambil pelajaran dari dua tokoh gerakan hak sipil Amerika yang kurang mendapat sorotan dalam narasi ekonomi mainstream: A. Philip Randolph dan Bayard Rustin.
Randolph, pemimpin Brotherhood of Sleeping Car Porters, bukan hanya seorang organisator serikat pekerja. Dia memahami bahwa kekuatan ekonomi adalah prasyarat untuk kekuatan politik. Serikatnya adalah pod mutualis yang kuat—memberikan asuransi, bantuan hukum, dan martabat ekonomi kepada pekerja kereta api kulit hitam di era Jim Crow. Dari basis kekuatan ekonomi inilah Randolph melancarkan ancaman mogok nasional yang memaksa Presiden Roosevelt mengeluarkan perintah eksekutif untuk melarang diskriminasi dalam industri pertahanan.
Bayard Rustin, sang strategis gerakan yang sering berada di belakang layar, adalah ahli “pembangun jembatan”. Dialah yang melihat bagaimana jaringan mutualis yang berbeda—serikat pekerja kulit hitam, gereja-gereja, organisasi perdamaian, kelompok sosialis—dapat dihubungkan untuk menciptakan koalisi yang lebih besar untuk March on Washington. “Rustin memahami bahwa transformasi sosial membutuhkan infrastruktur ekonomi dan sosial yang telah dibangun sebelumnya,” tulis Horowitz.
Dari dua tokoh ini, Horowitz menarik pelajaran transformatif untuk mutualisme modern:
- Kekuatan Dimulai dengan Basis Ekonomi: Sebelum menuntut perubahan di tingkat negara, bangunlah kekuatan ekonomi kolektif di tingkat komunitas. Koperasi, serikat pekerja, atau asosiasi yang memberikan manfaat nyata adalah sekolah demokrasi dan basis kekuatan yang tak tergoyahkan.
- Strategi Jembatan: Mutualisme tidak boleh terkotak-kotak. Untuk mengubah sistem, jaringan mutualis harus secara aktif membangun jembatan dengan gerakan sosial lain (lingkungan, keadilan rasial, kesetaraan gender), dengan sektor publik yang progresif, dan bahkan dengan elemen-elemen bisnis yang memiliki nilai sejalan. Ini adalah “federasi” dalam tingkat yang lebih luas dan politis.
- Dari Kebutuhan Menuju Visi: Organisasi mutualis sering lahir dari kebutuhan mendesak (kebutuhan akan asuransi, pinjaman, pasar). Randolph dan Rustin menunjukkan bagaimana kebutuhan ini dapat diabstraksikan menjadi visi yang lebih besar tentang demokrasi ekonomi dan keadilan sosial, yang pada gilirannya dapat menginspirasi aksi kolektif yang mengubah sejarah.
Dari Hutan Hujan ke Gerakan Sosial
Kedua bab ini bersama-sama menggambarkan jalur pertumbuhan mutualisme yang organik namun strategis. Pertama, ia tumbuh secara horizontal dengan membangun ekosistem yang saling terhubung (Bab 4)—sebuah “ekonomi hutan hujan” tempat berbagai bentuk kepemilikan bersama saling menguatkan. Kedua, ia bergerak vertikal dan politik dengan membangun jembatan transformatif (Bab 5)—menggunakan kekuatan ekonomi yang terakumulasi di ekosistem itu sebagai leverage untuk perubahan kebijakan dan pergeseran budaya yang lebih luas.
Horowitz seolah mengatakan: Jangan hanya membangun satu koperasi yang hebat. Tumbuhkan seluruh ekosistemnya. Dan jangan hanya melayani anggota Anda; gunakan kekuatan kolektif yang telah Anda bangun untuk mengubah aturan permainan bagi semua orang. Ini adalah visi mutualisme yang tidak lagi defensif atau hanya bertahan hidup, melainkan ofensif dan transformatif. Ia tidak ingin sekadar menjadi alternatif yang manis di pinggiran ekonomi, tetapi menjadi kekuatan yang mampu merekonfigurasi hubungan antara pasar, masyarakat, dan negara—sebuah warisan dari Randolph dan Rustin yang diterapkan pada ekonomi modern yang terfragmentasi dan tidak aman. Dengan kata lain, mutualisme bukan tujuan akhir, melainkan infrastruktur untuk membangun dunia yang lebih adil.
Bagian kedua dari Mutualism adalah sebuah peralihan dari fondasi historis dan prinsip organisasi menuju sebuah peta jalan transformatif yang ambisius. Sara Horowitz tidak hanya ingin kita memahami mutualisme; dia ingin kita membangunnya, dan untuk itu, dia merancang ulang pilar-pilar utama ekonomi modern—tenaga kerja, pemerintah, modal, dan bahkan diri kita sendiri—dengan lensa mutualisme.
Horowitz memulai dengan mendekonstruksi gagasan “tenaga kerja” di abad ke-21. Diuraikan pada Bab 6: Apa yang Diinginkan Tenaga Kerja? Atau, Kita Semua adalah Pekerja. Dalam ekonomi gig dan otomatisasi, garis antara karyawan penuh waktu, pekerja lepas, pengusaha mikro, dan bahkan konsumen menjadi kabur. “Kita semua adalah pekerja,” klaimnya, karena hampir semua orang kini mengandalkan penjualan waktu, keterampilan, atau data mereka untuk bertahan hidup. Pertanyaan klasik gerakan buruh—”Apa yang diinginkan tenaga kerja?”—kini harus dijawab dengan lebih luas: bukan hanya upah dan jam kerja, tetapi portabilitas manfaat (asuransi yang mengikuti individu, bukan pekerjaan), akses terhadap modal kerja, dan jaringan dukungan profesional.
Serikat pekerja tradisional yang berpusat pada pabrik tidak dirancang untuk realitas ini. Oleh karena itu, Horowitz membayangkan asosiasi pekerja baru yang bersifat horizontal, fleksibel, dan menyediakan “infrastruktur ketahanan” bagi semua jenis pekerja. Ini adalah panggilan untuk solidaritas baru yang mengakui nasib bersama kita dalam ekonomi yang semakin tidak stabil.
Bab 7: Masa Depan Tenaga Kerja: Mengorganisir yang Tidak Terorganisir adalah bab taktis. Jika kita semua adalah pekerja yang terfragmentasi, bagaimana cara mengorganisirnya? Horowitz menjawab: “Mulailah dengan kebutuhan, bukan dengan ideologi.”Alih-alih menuntut pengakuan formal sebagai serikat, organisasi mutualis modern dapat menarik anggota dengan menyediakan layanan langsung yang mereka butuhkan: platform asuransi kesehatan kelompok yang terjangkau, kursus upskilling, bantuan hukum kontrak, atau program tabungan pensiun mikro.
Freelancers Union adalah prototipenya. Dengan memenuhi kebutuhan praktis ini, asosiasi membangun kepercayaan dan mengumpulkan sumber daya. Dari basis kekuatan ekonomi inilah kemudian mereka dapat melakukan advokasi kolektif untuk hak-hak yang lebih besar, seperti pembayaran yang lebih adil dari platform digital atau perlindungan hukum baru. “Organisasi adalah produk sampingan dari pelayanan,” kira-kira begitu logikanya. Strategi ini adalah adaptasi mutualis dari model organisator legendaris Saul Alinsky, yang percaya pada “mendengarkan” dan membangun kekuatan dari isu-isu kongkrit yang langsung mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Horowitz tidak mengusulkan penghapusan negara. Sebaliknya, seperti diuraikan pada Bab 8: Masa Depan Pemerintah: Berikan Mutualis Pekerjaan dia membayangkan hubungan baru yang simbiosis antara pemerintah dan organisasi mutualis. Gagasan sentralnya adalah “Berikan mutualis sebuah pekerjaan.” Daripada birokrasi pemerintah yang besar dan sering kali kaku yang langsung memberikan layanan, pemerintah harus berperan sebagai pembeli layanan, fasilitator, dan pemberi mandat kepada ekosistem mutualis yang lincah dan berakar pada komunitas.
Contohnya: alih-alih menjalankan program pelatihan kerja sendiri, pemerintah dapat memberikan kontrak dan dana kepada koperasi pekerja atau asosiasi profesi untuk melatih anggotanya. Model ini lebih efisien, lebih responsif terhadap kebutuhan lokal, dan member-dayakan masyarakat sipil. Pemerintah bertugas menciptakan “tempat pembibitan kebijakan” (policy nurseries) yang memungkinkan model-model mutualis bereksperimen, serta merancang peraturan yang mendukung (misalnya, undang-undang yang mengakui asosiasi pekerja non-tradisional). Ini adalah visi negara yang “melayani sebagai infrastruktur demokratis” untuk ekonomi mutualis, bukan sebagai satu-satunya penyedia.
Modal bukanlah musuh dalam visi Horowitz, tetapi alat yang harus didemokratisasi. Bab 9: Masa Depan Modal: Pasar untuk Mutualisme ini menantang sistem keuangan yang hanya menguntungkan pemegang saham eksternal. Dia membayangkan “pasar untuk mutualisme”—sebuah ekosistem keuangan di mana aliran modal menguatkan kepemilikan kolektif. Ini mencakup: Investasi Pasien (Patient Capital): Dana yang bersedia mendapatkan pengembalian lebih rendah dengan imbalan dampak sosial dan keberlanjutan jangka panjang. Pembiayaan Berbasis Komunitas: Perluasan model serikat kredit dan crowdfunding reguler untuk mendanai koperasi, land trusts, dan usaha milik komunitas. Instrumen Keuangan Baru: Misalnya, obligasi sosial yang hasilnya digunakan untuk membangun infrastruktur mutualis. Intinya adalah mengalihkan modal dari ekstraksi jangka pendek menuju pemupukan ekonomi lokal dan kepemilikan bersama. “Kita perlu menciptakan pasar di mana kesuksesan diukur dengan seberapa baik kita membangun kekayaan bersama, bukan seberapa cepat kita mengekstraksinya,” tulis Horowitz.
Bab 10: Masa Depan Anda: Cara Membangun adalah bab penutup. Ini adalah sebuah seruan untuk bertindak yang personal dan langsung. Horowitz beralih dari analisis makro ke mikro: “Apa yang dapat ANDA lakukan besok?” Dia menawarkan langkah-langkah konkrit yang dimulai dari skala terkecil: Identifikasi Pod Anda: Siapa 5-10 orang dalam hidup Anda (rekan kerja, tetangga, teman satu profesi) yang berbagi nilai dan kebutuhan ekonomi dengan Anda? Mulailah percakapan.
Temukan Kebutuhan Bersama yang Kongkrit: Apakah itu pembelian bersama barang grosir, penitipan anak bergilir, atau berbagi alat? Mulailah dari proyek kecil yang memberikan manfaat langsung. Bangun Aturan dan Kepercayaan: Terapkan “Tiga Aturan Mutualisme” pada skala mikro ini. Dokumentasikan komitmen dengan jelas. Terhubung ke Jaringan yang Lebih Luas: Cari dan gabungkan dengan koperasi, serikat kredit, atau asosiasi yang sudah ada yang selaras dengan nilai Anda.
Intinya adalah: Jangan menunggu penyelamat atau kebijakan yang sempurna. Ekonomi baru dibangun satu hubungan, satu proyek bersama, pada satu waktu. Masa depan mutualis dimulai dari tindakan Anda untuk membangun ketahanan ekonomi secara kolektif, di sini dan sekarang.
Sebuah Ekonomi yang Dibangun Kembali dari Bawah
Secara kolektif, kelima bab ini membentuk sebuah cetak biru yang koheren. Horowitz membayangkan sebuah siklus vertuous mutualisme: Dimulai dari individu yang terhubung dalam pod (Bab 10), yang kemudian berkembang menjadi asosiasi yang menyediakan layanan dan kekuatan kolektif bagi pekerja (Bab 6 & 7). Asosiasi-asosiasi ini kemudian difederasikan menjadi ekosistem yang kuat (Bab 4), yang menarik modal bertanggung jawab (Bab 9) dan bermitra dengan pemerintah yang berperan sebagai enabler (Bab 8). Pada akhirnya, ini adalah proyek untuk mendesentralisasikan kekuatan ekonomi dan menempatkannya kembali di tangan mereka yang sebenarnya menciptakan nilai. Buku ini ditutup bukan dengan kesimpulan final, tetapi dengan sebuah awal—undangan terbuka untuk setiap pembaca untuk menjadi arsitek, tukang, dan penghuni ekonomi masa depan yang saling menopang ini. Masa depan itu tidak ditentukan dari atas, tetapi dirajut dari bawah, dari jutaan benang pilihan dan komitmen kita untuk saling percaya dan saling membantu.
Buku Mutualism Sara Horowitz, pada hakikatnya, bukan sekadar tawaran alternatif ekonomi. Ia adalah sebuah diagnosa sekaligus resep radikal untuk melawan logika inti dari sistem ekonomi kapitalis neoliberal yang sedang dalam keadaan krisis organik—sebuah sistem yang Horowitz gambarkan secara implisit sebagai mesin penghasil ketidakamanan, ekstraksi, dan atomisasi sosial yang pada akhirnya “membusukkan” tatanan hidup manusia dan bumi.
Konfrontasi dengan DNA Kapitalisme yang Sakit:
- Kepemilikan vs. Ekstraksi: Sistem ekonomi saat ini beroperasi dengan logika “shareholder primacy”, di mana nilai diekstraksi untuk pemilik modal eksternal, sering kali dengan mengorbankan pekerja, komunitas, dan ekosistem. Mutualisme menawarkan antitesis langsung: logika kepemilikan pemangku kepentingan (stakeholder ownership). Koperasi, serikat kredit, land trusts, dan BUMDes memastikan bahwa kekayaan yang dihasilkan tinggal dan berkembang di dalam komunitas yang menciptakannya. Di sini, modal bukan tuan, melainkan alat yang dimiliki kolektif untuk membangun ketahanan. Ini adalah perlawanan terhadap penghisapan dan pemiskinan sistematis.
- Transaksi vs. Relasi: Kapitalisme mereduksi interaksi manusia menjadi transaksi pasar yang anonym, kompetitif, dan berjangka pendek, yang melenyapkan rasa saling percaya dan tanggung jawab sosial. Mutualisme memulihkan dimensi relasional ekonomi. Ia dibangun dari “pod” berlandaskan kepercayaan (Bab 1, 3), di mana komitmen timbal balik dan reputasi adalah mata uang utama. Ekonomi mutualis adalah ekonomi wajah yang dikenal, bukan algoritma. Ini adalah penangkal langsung terhadap alienasi dan atomisasi yang membuat kita merasa sendirian dalam menghadapi krisis.
- Skala Monokultur vs. Ekosistem Biodivers: Kapitalisme cenderung menciptakan monopoli dan raksasa korporat yang seragam (monokultur), yang rentan runtuh dan menghancurkan keragaman ekonomi lokal. Mutualisme mengadvokasi “ekosistem yang biodivers” (Bab 4)—jaringan koperasi, asosiasi, dan usaha kecil yang saling terkait dan saling mendukung seperti hutan hujan. Struktur ini lebih tangguh (resilient), terdesentralisasi, dan mampu beradaptasi dengan guncangan. Ini adalah model anti-fragile yang berseberangan dengan “too big to fail” yang rapuh.
- Negara sebagai Penjaga vs. Negara sebagai Fasilitator: Dalam kapitalisme neoliberal, negara sering berperan sebagai “penjaga malam” yang melindungi hak properti dan kepentingan korporat besar, sementara jaring pengaman sosialnya tersisa, kaku, dan birokratis. Mutualisme membayangkan peran negara yang sama sekali berbeda: “fasilitator” dan “pembeli layanan” dari infrastruktur mutualis (Bab 8). Negara tidak lagi menjadi satu-satunya penyelamat dari atas, tetapi menjadi tukang kebun yang menyediakan tanah subur (regulasi, pendanaan awal, mandat) bagi benih-benih ekonomi mutualis untuk tumbuh dari bawah. Ini adalah transformasi dari negara yang melayani kapital menjadi negara yang melayani warga yang terorganisir.
- Pekerja sebagai Biaya vs. Pekerja sebagai Arsitek: Dalam paradigma saat ini, tenaga kerja adalah “biaya” yang harus diminimalkan, yang melahirkan prekariat, ekonomi gig, dan hilangnya hak. Mutualisme menyatakan “Kita Semua adalah Pekerja” (Bab 6) dan mengorganisir prekariatini bukan untuk sekadar menuntut upah, tetapi untuk secara kolektif memiliki alat produksi dan reproduksi sosial mereka sendiri—mulai dari asuransi kesehatan (Freelancers Union) hingga platform kerja yang dimiliki koperasi. Ini adalah gerakan dari “memperjuangkan kue” menuju “memiliki toko rotinya.”
Catatan AKhir: Mutualisme sebagai Gerakan Perlawanan yang Konstruktif
Inspirasi terbesar dari buku ini adalah bahwa perlawanan terhadap sistem yang membusuk tidak harus selalu destruktif atau sekadar retoris. Mutualisme adalah perlawanan dengan membangun (prefigurative politics). Sambil mengkritik sistem yang ada, ia secara paralel membangun institusi baru di cangkang dunia lama, berdasarkan nilai-nilai yang ingin dilihatnya di masa depan: solidaritas, demokrasi ekonomi, keberlanjutan, dan akar rumput.
- Ia melawan ketidakamanan dengan membangun jaring pengaman bersama yang organik.
- Ia melawan ketimpangan dengan membangun model kepemilikan kolektif.
- Ia melawan krisis ekologi dengan mendorong ekonomi lokal yang melingkar dan land trusts yang melindungi alam dari spekulasi.
- Ia melawan kekuasaan korporasi yang tak terbendung dengan membangun kekuatan tandingan dari federasi ekonomi rakyat.
Dalam konteks Indonesia, sintesis ini sangat relevan. Sistem ekonomi kita terjepit antara kapitalisme oligarkis yang mengekstrak sumber daya alam dan neoliberalisme yang meminggirkan rakyat kecil. Mutualisme—yang beresonansi dengan gotong royong dan semangat koperasi—menawarkan jalan keluar yang bukan jalan tengah, melainkan jalan ketiga yang radikal.
Ia adalah kerangka untuk mentransformasi BUMDes menjadi kekuatan ekonomi komunitas yang sejati, untuk mengorganisir driver ojol dan pekerja kreatif menjadi asosiasi yang memiliki bargaining power, dan untuk membentuk ekosistem lokal di mana koperasi produsen, serikat kredit desa, dan komunitas energi terbarukan saling menguatkan. Konsep “ruang tengah” Horowitz mengingatkan pada teori “masyarakat madani” (civil society) yang kuat sebagai pilar ketiga antara negara dan pasar, suatu gagasan yang juga diperjuangkan banyak intelektual Muslim seperti M. Dawam Rahardjo dalam konteks Indonesia.
Buku Horowitz pada akhirnya adalah sebuah proyek regenerasi. Dari pembusukan ke regenerasi. Jika ekonomi kapitalis saat ini adalah mesin pembusuk yang menghancurkan ikatan sosial dan ekologis, maka mutualisme adalah praktik pengomposan dan penanaman kembali. Ia mengambil potongan-potongan yang tercecer dari ekonomi yang rusak—pekerja yang terisolasi, komunitas yang terlantar, modal yang salah arah—dan mengembalikannya ke tanah, merajutnya kembali menjadi suatu tatanan organik yang hidup, bernapas, dan mampu menyuburkan dirinya sendiri.
Gerakan ini dimulai bukan dengan meneriakkan “Gulingkan sistem!”, tetapi dengan bertanya, “Dengan siapa saya akan membangun pod saling percaya saya hari ini?” Itulah kekuatannya: sebuah antitesis yang tidak menunggu revolusi besar, tetapi menyulutnya dari jutaan api unggun kecil ekonomi yang saling terhubung. Di situlah letak harapan untuk menghentikan pembusukan dan memulai regenerasi—dari tanah, dari komunitas, dari kita yang saling bergandengan tangan.
Cirebon-Bogor, 27 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi:
Horowitz, S., & Kifer, A. (2021). Mutualism: Building the next economy from the ground up. Random House.
Smith, A. (1759). The theory of moral sentiments. A. Millar.
Rahardjo, M. D. (1999). Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial. LP3ES.






