Rubarubu #171
Moods of Future Joys:
Keberanian Sejati untuk Bergerak Maju
Pada suatu pagi yang kelabu di Yorkshire, seorang pemuda Inggris mendorong sepedanya keluar dari halaman rumah, membawa lebih banyak keraguan daripada kepastian. Ia belum terkenal, belum menjadi National Geographic Adventurer of the Year, belum dikenal sebagai penggerak gerakan microadventure. Ia hanya seorang lulusan muda yang gelisah oleh rutinitas dan rasa takut menjadi “normal.” Pemuda itu adalah Alastair Humphreys, dan momen keberangkatannya itulah yang kemudian menjadi inti kisah dalam Moods of Future Joys: Around the World by Bike – From England to South Africa, Part One (Eye Books, 2014).
Ini bukan sekadar catatan perjalanan sepeda dari Inggris menuju Afrika Selatan. Ia adalah narasi tentang keberanian melampaui ketakutan, tentang kerentanan di jalanan asing, dan tentang bagaimana kebahagiaan masa depan seringkali hanya bisa dirasakan sebagai “mood”—sebuah suasana samar yang menggerakkan langkah, bukan janji pasti.
Petualangan sebagai Panggilan
Dalam bagian Foreword, Humphreys menulis dari posisi reflektif, bertahun-tahun setelah perjalanan itu selesai. Ia mengakui bahwa proyek bersepeda keliling dunia selama empat tahun bukanlah tindakan heroik tanpa rasa takut, melainkan keputusan yang lahir dari kebingungan seorang pemuda yang tak ingin hidupnya dirancang oleh ekspektasi sosial.
Dari awal buku ini ingin menunjukkan sebuah memoar tentang ketidaksiapan dan proses belajar. Humphreys tidak memosisikan dirinya sebagai penakluk dunia, melainkan sebagai seseorang yang terus-menerus berada di ambang kegagalan. Ia menyiratkan bahwa perjalanan panjang bukan tentang jarak, tetapi tentang daya tahan batin.
Henry David Thoreau (1817–1862), seorang filsuf, esais, naturalis, dan tokoh Transendentalis Amerika dalam Walden pernah mengatakan bahwa “the mass of men lead lives of quiet desperation” (1854). “Sebagian besar manusia menjalani hidup dalam keputusasaan yang sunyi.” Kalimat itu muncul dalam bukunya yang sangat berpengaruh, Walden, tepatnya pada bab Economy (1854).
Humphreys menolak “quiet desperation” itu dengan memilih jalan yang tidak aman, tidak stabil, tetapi hidup.
The Road Ahead: Antara Mimpi dan Ketidakpastian
Bagian The Road Ahead menampilkan fase perencanaan—atau lebih tepatnya, ketidakjelasan rencana. Humphreys menggambarkan bagaimana gagasan bersepeda keliling dunia tumbuh dari obsesi membaca kisah-kisah penjelajah. Namun berbeda dari ekspedisi klasik abad ke-19, perjalanannya dilakukan tanpa sponsor besar, tanpa tim logistik, dan tanpa peta yang benar-benar meyakinkan.
Sepeda menjadi simbol kebebasan sekaligus keterbatasan. Dengan kecepatan yang lambat, ia menyerap lanskap dan budaya secara intim. Ia memasuki Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika, bukan sebagai turis cepat, tetapi sebagai tubuh yang rentan di atas dua roda.
Humphreys menuliskan bahwa hari-hari awal dipenuhi kecemasan: tentang uang yang menipis, tentang visa, tentang keamanan. Namun justru di sanalah makna perjalanan lahir. Ia menemukan bahwa keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan keputusan untuk bergerak meskipun takut.
Pemikir Muslim seperti Ibn Battuta pernah menulis dalam Rihla bahwa perjalanan “leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” “Perjalanan membuatmu kehilangan kata-kata, lalu mengubahmu menjadi seorang pencerita.” Humphreys berdiri dalam tradisi itu—mengalami kebisuan di hadapan dunia luas, lalu menuliskannya sebagai kisah.
Beginning: Dari Inggris ke Afrika – Kerentanan di Jalan
Bagian Beginning merekam langkah-langkah pertama meninggalkan Inggris menuju Eropa daratan. Ia menyeberangi Prancis, Jerman, Eropa Timur, Turki, dan memasuki Timur Tengah. Humphreys menghadirkan detail kecil: tidur di ladang, diterpa hujan tanpa perlindungan, keramahan orang asing, juga kecurigaan aparat perbatasan.
Di Eropa Timur, ia menyadari bahwa peta politik berbeda dari peta manusia. Media Barat menggambarkan kawasan tertentu sebagai berbahaya; di lapangan ia justru menemukan kebaikan sederhana. Namun ada pula ancaman nyata—anjing liar, jalan rusak, dan konflik regional.
Narasi bergerak perlahan menuju Afrika. Transisi benua itu bukan hanya geografis, tetapi psikologis. Afrika hadir sebagai ruang ketidakpastian total—panas ekstrem, jarak tanpa kota, dan risiko kesehatan. Humphreys tidak meromantisasi penderitaan; ia mengakui kelelahan dan rasa sepi.
Judul Moods of Future Joys sendiri merujuk pada ide bahwa kebahagiaan seringkali hadir sebagai antisipasi, bukan kepemilikan. Dalam banyak bagian, Humphreys menulis tentang kesulitan yang pada saat itu terasa berat, tetapi kemudian dikenang sebagai momen pembentukan karakter.
Ini mengingatkan kita pada Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus (1942): bahwa perjuangan itu sendiri cukup untuk memenuhi hati manusia. Humphreys menemukan makna bukan di garis akhir Cape Town, tetapi di hari-hari panjang yang monoton.
Tema Besar: Sepeda sebagai Medium Etis
Buku ini memperlihatkan sepeda bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium etis. Dengan sepeda, Humphreys bergerak cukup lambat untuk melihat, cukup cepat untuk maju. Ia bergantung pada kemurahan hati orang asing—makan malam yang diundang, halaman rumah untuk mendirikan tenda. Ketergantungan ini menumbuhkan kerendahan hati.
Dalam konteks sejarah perjalanan, Humphreys mewarisi tradisi petualang sepeda seperti Thomas Stevens yang pada 1880-an menjadi orang pertama mengelilingi dunia dengan sepeda. Namun Humphreys melakukannya di era globalisasi—dengan visa yang lebih rumit, geopolitik pasca-9/11, dan dunia yang lebih terkoneksi namun tetap terpecah.
Di era media sosial dan perjalanan instan, Moods of Future Joys menawarkan antitesis terhadap budaya serba cepat. Humphreys kemudian dikenal dengan konsep microadventure—petualangan kecil yang bisa dilakukan siapa pun tanpa harus menunggu “waktu yang sempurna.” Buku ini menjadi fondasi filosofinya: bahwa petualangan bukan tentang jarak, tetapi tentang sikap.
Relevansinya hari ini semakin kuat ketika isu krisis iklim, keberlanjutan, dan kesehatan mental menjadi perhatian global. Sepeda kembali dipandang sebagai simbol mobilitas rendah karbon dan kebebasan pribadi. Humphreys menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari keputusan sederhana untuk mengayuh.
Seperti dikatakan Rumi, “As you start to walk on the way, the way appears.” Humphreys mengayuh, dan jalan itu muncul—secara harfiah dan metaforis.
Buku ini memberi kontribusi pada wacana perjalanan modern: dari eksplorasi kolonial menuju eksplorasi reflektif. Masa depan petualangan tidak lagi tentang menaklukkan puncak, tetapi tentang memperdalam pengalaman.
Jika abad ke-19 adalah era penjelajahan geografis, dan abad ke-20 era eksplorasi ekstrem, maka karya Humphreys menandai abad ke-21 sebagai era eksplorasi eksistensial—di mana sepeda menjadi alat untuk memahami diri dan dunia secara lebih pelan, lebih etis, dan lebih manusiawi.
Moods of Future Joys pada akhirnya adalah kisah tentang keberanian untuk memulai sebelum merasa siap. Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Humphreys, kebahagiaan terbesar bukanlah tiba di tujuan, melainkan keberanian untuk mengayuh menuju yang belum diketahui.
Dalam bagian-bagian awal Moods of Future Joys, Alastair Humphreys tidak membangun citra seorang petualang yang gagah berani dan penuh keyakinan. Justru sebaliknya: ia memulai dengan pengakuan tentang kekurangan keberanian—Short on Boldness. Di sini ia menggambarkan dirinya sebagai pemuda yang tidak merasa luar biasa, tidak merasa heroik, bahkan cenderung ragu-ragu. Ia menekankan bahwa keputusan bersepeda keliling dunia bukanlah buah keberanian murni, melainkan respons terhadap kegelisahan hidup yang terasa terlalu sempit. Nada reflektif ini, sebagaimana ia tuliskan dalam bagian tersebut, menjadi fondasi emosional seluruh perjalanan: petualangan bukan dimulai oleh keberanian besar, melainkan oleh ketidakpuasan yang tak lagi bisa ditahan.
Dari sana, kisah bergerak ke The Single Step, yang merujuk secara implisit pada pepatah Laozi tentang perjalanan seribu mil yang dimulai dengan satu langkah. Humphreys menyadari bahwa gagasan “keliling dunia” terlalu besar untuk dipeluk sekaligus. Ia memilih memecahnya menjadi satu kayuhan, satu perbatasan, satu hari. Dalam bagian ini ia menulis bahwa yang terpenting bukanlah garis akhir, melainkan keberanian untuk benar-benar meninggalkan rumah. Tindakan konkret itu—mendorong sepeda keluar halaman—menjadi simbol transisi dari mimpi menjadi realitas.
Namun sebelum langkah itu terjadi, ada fase Foolish Preparation. Humphreys menggambarkan persiapannya sebagai campuran antara keseriusan dan kebodohan: daftar perlengkapan yang terlalu panjang, kekhawatiran yang berlebihan, dan sekaligus ketidaksiapan mental menghadapi dunia nyata. Ia mengakui dalam bagian ini bahwa tidak ada jumlah perencanaan yang benar-benar bisa menghapus ketidakpastian. Justru, persiapan yang terlalu matang kadang menjadi alasan untuk menunda. Maka perjalanan akhirnya dimulai bukan karena ia sudah siap, melainkan karena ia lelah menunggu kesiapan sempurna.
Ketika ia sampai pada bab Turn Right for Africa, arah perjalanan menjadi simbolik. Belokan itu bukan sekadar arah geografis menuju selatan, tetapi keputusan untuk memasuki wilayah yang dalam imajinasi Barat sering dilabeli sebagai “liar” atau “berbahaya”. Humphreys menulis tentang momen memilih jalan itu dengan campuran kegembiraan dan kecemasan. Afrika, dalam bayangannya, adalah ujian kedewasaan. Ia sadar bahwa sejak saat itu perjalanan bukan lagi permainan Eropa yang relatif aman, tetapi ekspedisi yang menuntut daya tahan fisik dan psikologis yang lebih besar.
Dalam bab Morning, ia mengembangkan refleksi tentang rutinitas pagi di jalan. Pagi menjadi waktu paling jujur—ketika dingin menusuk, ketika tubuh masih pegal, ketika jarak hari itu terasa tak berujung. Namun justru di pagi hari ia merasakan kejernihan tujuan. Ia menulis bahwa setiap pagi di atas sepeda seperti kelahiran kembali kecil: kesempatan memulai lagi tanpa beban hari sebelumnya. Di sini perjalanan berubah dari proyek besar menjadi disiplin harian.
Tema ketakutan muncul secara eksplisit dalam War and Terror?. Melintasi kawasan yang oleh media digambarkan penuh konflik, Humphreys mempertanyakan narasi ketakutan global. Ia mencatat bagaimana persepsi tentang bahaya sering kali dibentuk oleh berita, bukan pengalaman langsung. Ia tidak menafikan risiko nyata, tetapi ia juga menekankan bahwa keramahan manusia lebih sering ia temui daripada permusuhan. Dalam bagian ini ia menunjukkan bagaimana perjalanan lambat membuka ruang untuk melihat kompleksitas, bukan stereotip.
Kontras antara kenyamanan dan penderitaan menjadi pusat refleksi dalam Self-Chosen Pain. Humphreys menyadari bahwa rasa sakit yang ia alami—angin melawan, panas terik, kelaparan sesaat—adalah penderitaan yang ia pilih sendiri. Ia membedakannya dari penderitaan struktural yang dialami banyak orang yang ia temui di perjalanan. Pilihan untuk menanggung rasa sakit itu memberinya perspektif baru tentang kebebasan. Ia menulis bahwa penderitaan sukarela memiliki dimensi pembebasan karena ia selalu bisa berhenti—meski ia memilih untuk tidak berhenti.
Dalam Camping, pengalaman tidur di alam terbuka menjadi metafora kerentanan. Setiap malam ia harus mencari tempat aman, menegakkan tenda, dan menerima ketidakpastian. Ia menggambarkan suara malam, ketakutan samar, dan juga rasa damai melihat langit penuh bintang. Berkemah bukan sekadar solusi murah, melainkan cara hidup yang menempatkannya langsung di bawah langit dunia, tanpa atap selain kain tipis.
Akhirnya, Hues of Youth menyelimuti semua bagian sebelumnya dengan warna nostalgia. Humphreys melihat perjalanan itu sebagai ekspresi masa muda—masa ketika keberanian bercampur dengan kenekatan. Ia menyadari bahwa energi dan kebebasan untuk mengambil risiko adalah warna khas usia tersebut. Namun ia juga menulis dengan kesadaran bahwa warna-warna itu tak akan selamanya sama; perjalanan ini menjadi penanda transisi menuju kedewasaan.
Kisah perjalanan dengan berpseda yang dituturkan Humphreys penuh alur emosional: dari keraguan menuju langkah pertama, dari persiapan yang canggung menuju tindakan, dari rasa takut terhadap dunia menuju kepercayaan pada manusia, dari penderitaan yang dipilih menuju makna yang ditemukan. Humphreys tidak membangun narasi tentang kemenangan spektakuler, melainkan tentang transformasi batin yang perlahan. Dalam keseluruhan bagian ini, sebagaimana ia nyatakan berulang kali, perjalanan bukanlah tentang mencapai Afrika Selatan, tetapi tentang menjadi seseorang yang sanggup mengayuh menuju yang tak diketahui—meskipun ia memulai dalam keadaan “short on boldness.”
Dalam lanjutan kisah Moods of Future Joys, Alastair Humphreys semakin menanggalkan romantisme perjalanan dan menggantinya dengan pengalaman yang lebih mentah, lebih ambigu, dan lebih jujur. Bagian-bagian seperti No, I Don’t Want a Camel Ride! hingga No Time for Romance memperlihatkan bagaimana Afrika—yang sebelumnya hadir sebagai imaji eksotik dan penuh harapan—menjadi ruang pertemuan antara stereotip, realitas keras, humor, kelelahan, dan momen-momen kebahagiaan yang tak terduga.
Dalam No, I Don’t Want a Camel Ride!, Humphreys menggambarkan benturan pertama antara dirinya sebagai pengembara Barat dan ekspektasi lokal tentang turis. Tawaran naik unta yang berulang-ulang ia tolak bukan sekadar anekdot lucu, melainkan simbol kesalahpahaman budaya. Ia menulis bahwa orang-orang sering melihatnya sebagai “petualang kaya” yang sedang mencari pengalaman eksotis, sementara ia sendiri merasa lebih dekat pada sosok pengembara minimalis yang berusaha hidup sederhana. Dari sudut pandangnya, pengalaman ini menunjukkan bagaimana identitas di perjalanan selalu dinegosiasikan—kita tidak sepenuhnya menentukan bagaimana dunia melihat kita.
Tema persiapan kembali muncul dalam Packing, tetapi kali ini bukan sebagai daftar perlengkapan, melainkan sebagai refleksi tentang beban—secara harfiah dan metaforis. Humphreys mengakui bahwa setiap barang yang dibawa adalah kompromi antara rasa aman dan kebebasan. Terlalu banyak membawa berarti memperlambat; terlalu sedikit berarti mempertaruhkan kenyamanan. Ia menyiratkan bahwa pelajaran terbesar dari berkemas bukan tentang efisiensi teknis, tetapi tentang belajar melepaskan. Semakin jauh ia mengayuh, semakin ia memahami bahwa kebebasan di jalan sering kali sebanding dengan kesediaan untuk hidup dengan lebih sedikit.
Nada reflektif yang lebih spiritual muncul dalam Laughing with Allah. Di sini Humphreys menceritakan interaksinya dengan masyarakat Muslim di Afrika Utara dan Timur, terutama bagaimana humor dan keramahan menembus batas bahasa. Ia menggambarkan momen-momen ketika percakapan tentang iman dilakukan dengan ringan, diselingi tawa, bukan debat. Pengalamannya membuatnya menyadari bahwa agama, yang di Barat sering dibingkai dalam wacana konflik, di banyak tempat justru hadir sebagai sumber komunitas dan kebaikan sehari-hari. Dari perspektifnya, tawa bersama menjadi jembatan lintas keyakinan—pengingat bahwa kesamaan manusia lebih mendasar daripada perbedaan teologis.
Namun perjalanan tidak selalu bersahabat. Dalam Miles not Smiles, Humphreys menuliskan fase ketika ia terjebak dalam obsesi jarak tempuh. Alih-alih menikmati lanskap atau perjumpaan, ia mulai menghitung kilometer seperti angka-angka target. Ia mengakui bahwa ambisi untuk “maju terus” kadang mengikis kebahagiaan. Bagian ini menjadi kritik halus terhadap mentalitas produktivitas—bahwa bahkan dalam petualangan pun seseorang bisa terjebak dalam logika pencapaian. Menurut pengakuannya sendiri, saat ia lebih fokus pada mil daripada senyum, perjalanan kehilangan rohnya.
Pertanyaan moral dan sosial muncul lebih tajam dalam A Beautiful Place to be Born?. Humphreys merenungkan keindahan alam Afrika yang memukau sekaligus realitas kemiskinan yang nyata. Ia menggambarkan lanskap yang agung—gurun, savana, desa-desa yang hidup dalam ritme tradisional—dan pada saat yang sama bertanya tentang keadilan global: apakah keindahan tempat cukup untuk menebus keterbatasan kesempatan hidup? Refleksi ini tidak disampaikan dengan nada menggurui, melainkan sebagai kegelisahan pribadi seorang pengelana yang menyadari privilese paspornya.
Di tengah kerasnya jalan, ia menemukan momen-momen Golden Joys. Humphreys menggambarkan kebahagiaan sederhana: secangkir teh manis setelah hari yang panjang, anak-anak yang berlari mengejar sepedanya sambil tertawa, matahari terbenam yang membakar cakrawala dengan warna emas. Kebahagiaan ini tidak spektakuler, tetapi intens. Ia menulis bahwa rasa syukur di perjalanan sering lahir dari hal-hal kecil yang dalam kehidupan sehari-hari mudah terlewat. Dalam pengalaman-pengalaman inilah ia merasa paling selaras dengan alasan awalnya berangkat.
Dalam Africa as I Had Hoped, Humphreys merefleksikan sejauh mana realitas sesuai dengan impiannya. Ia menemukan Afrika yang keras namun hangat, penuh tantangan tetapi juga penuh kemurahan hati. Ia mengakui bahwa sebagian imajinasinya memang romantis, tetapi ia juga merasa bersyukur karena banyak momen benar-benar memenuhi harapannya tentang kedalaman pengalaman manusia dan luasnya lanskap. Afrika, menurutnya, bukan sekadar tempat geografis, melainkan ujian terhadap prasangka yang ia bawa.
Namun dalam No Time for Romance, ia menutup rangkaian refleksi ini dengan nada lebih realistis. Perjalanan jarak jauh, tulisnya, jarang memberi ruang untuk romansa dalam arti sentimental. Kelelahan, panas, logistik, dan fokus pada bertahan hidup sering kali mengalahkan keinginan untuk larut dalam perasaan puitis. Ia menyadari bahwa narasi petualangan sering dibumbui romantisme, padahal di lapangan lebih banyak keringat daripada puisi. Bagi Humphreys, justru kejujuran tentang sisi tidak glamor inilah yang membuat perjalanan bermakna.
Jika disatukan, bagian-bagian ini membentuk satu lengkung naratif tentang dekonstruksi mimpi. Humphreys berangkat dengan bayangan Afrika sebagai ruang eksotik dan transformatif; di jalan ia menemukan realitas yang lebih kompleks—kadang lucu, kadang melelahkan, kadang menyentuh secara spiritual. Ia belajar bahwa perjalanan bukanlah panggung untuk membuktikan keberanian atau mengumpulkan kisah heroik, melainkan proses membongkar ekspektasi dan membangun pemahaman yang lebih rendah hati. Dalam suaranya sendiri yang reflektif dan jujur, Afrika bukan latar belakang bagi petualangan seorang Barat, tetapi guru yang pelan-pelan mengajarinya melihat dunia—dan dirinya sendiri—dengan lebih jernih.
Menjelang akhir Moods of Future Joys, perjalanan Alastair Humphreys memasuki wilayah yang semakin kompleks secara politik dan emosional. Jika pada bagian-bagian sebelumnya Afrika hadir sebagai ruang pembelajaran personal dan kejutan-kejutan hangat, kini lanskap itu dibayangi oleh krisis, ketegangan rasial, dan pertanyaan-pertanyaan moral yang lebih berat. Namun justru dalam fase inilah perjalanan berubah dari sekadar ekspedisi fisik menjadi pengujian batin.
Dalam bagian yang ia bingkai sebagai Large Problems in Zimbabwe, Humphreys menghadapi realitas negara yang tengah dilanda krisis ekonomi dan politik. Ia menggambarkan antrean panjang untuk bahan bakar, kelangkaan kebutuhan pokok, serta suasana waspada yang terasa di kota-kota. Ia tidak mengklaim diri sebagai analis politik, tetapi sebagai pengendara sepeda yang bergerak perlahan ia merasakan langsung bagaimana kebijakan dan konflik berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Menurut refleksinya, krisis bukanlah headline abstrak; ia hadir dalam percakapan sunyi di warung, dalam wajah-wajah letih, dalam harga roti yang melonjak. Di sini nada Humphreys lebih kontemplatif—ia menyadari keterbatasan posisinya sebagai pengamat luar yang bisa melintas dan pergi.
Ketegangan sejarah dan identitas rasial muncul lebih jelas dalam bagian yang ia sebut Behind the Boerewors Curtain. Dengan metafora yang merujuk pada budaya Afrikaner dan bayang-bayang kolonialisme, ia memasuki ruang-ruang komunitas kulit putih Afrika Selatan dan wilayah sekitarnya. Humphreys mencatat perasaan ambivalen: keramahan personal sering berjalan berdampingan dengan narasi nostalgia terhadap masa lalu yang kontroversial. Ia menuliskan kesan tentang perbincangan di peternakan-peternakan luas, tentang ketakutan terhadap perubahan, tentang memori yang belum sepenuhnya selesai. Dari sudut pandangnya, Afrika bagian selatan bukanlah hitam-putih; ia adalah ruang pertemuan trauma sejarah dan upaya bertahan hidup.
Dalam Indifference or Despair, nada buku menjadi lebih introspektif. Humphreys bertanya pada dirinya sendiri: apakah sikap orang-orang yang tampak pasrah adalah bentuk ketidakpedulian, atau justru strategi bertahan di tengah situasi yang sulit? Ia mulai menyadari bahwa sebagai pengelana, ia kerap tergoda menilai cepat. Namun perjalanan panjang mengajarinya bahwa keheningan seseorang bisa menyimpan lapisan-lapisan pengalaman yang tak kasat mata. Ia juga mengakui momen-momen ketika dirinya sendiri hampir jatuh pada kelelahan emosional—antara ingin peduli pada semua yang ia lihat dan kebutuhan untuk terus mengayuh. Di sinilah perjalanan menjadi dialog batin tentang batas empati.
Catatan Akhir: keberanian sejati untuk bergerak maju
Bagian The End of the Beginning menandai pergeseran makna. Secara geografis ia mendekati akhir etape—ujung selatan Afrika—namun secara eksistensial ia merasa baru memulai. Humphreys menyadari bahwa ribuan kilometer yang telah ditempuh bukanlah klimaks, melainkan fondasi. Ia menulis dengan kesadaran bahwa perjalanan keliling dunia yang lebih besar masih terbentang. Sensasi mencapai titik selatan Afrika bukan kemenangan dramatis, melainkan jeda reflektif: ia telah membuktikan bahwa ia mampu hidup di jalan, dan itu mengubah cara ia memandang masa depan.
Menariknya, setelah rangkaian pengalaman berat itu, ia menyisipkan Recipes from the Road. Di sini ia mengingat makanan-makanan sederhana yang ia masak di kompor kecilnya atau yang ia terima dari keluarga-keluarga yang menampungnya. Resep-resep itu bukan sekadar instruksi kuliner; ia adalah arsip kehangatan. Setiap hidangan membawa cerita tentang keramahan, tentang percakapan lintas bahasa, tentang tawa yang dibagi. Humphreys seakan ingin mengatakan bahwa perjalanan tidak hanya diukur dalam jarak, tetapi juga dalam rasa—secara harfiah dan metaforis.
Bagian Photographs memperkuat kesadaran akan memori. Ia merefleksikan bagaimana foto-foto perjalanan sering kali menangkap momen puncak—pemandangan dramatis, senyum anak-anak, cakrawala luas—tetapi jarang merekam kelelahan, kesepian, atau ketakutan. Menurutnya, fotografi adalah seleksi, dan seleksi membentuk narasi. Ia mengajak pembaca menyadari bahwa setiap gambar adalah potongan kecil dari pengalaman yang jauh lebih kompleks.
Dalam Afterword, Humphreys menoleh ke belakang dengan nada lebih dewasa. Ia mengakui bahwa perjalanan dari Inggris ke Afrika Selatan telah mengikis banyak ilusi awalnya tentang kepahlawanan petualangan. Ia menemukan bahwa keberanian sering kali berarti kesediaan untuk tampak bodoh, untuk meminta bantuan, untuk mengakui ketakutan. Ia juga menyadari bahwa apa yang ia sebut “future joys”—kebahagiaan masa depan—tidak selalu berupa euforia besar, melainkan akumulasi momen kecil yang memberi makna pada hari-hari panjang di jalan.
Jika disintesiskan, bagian-bagian akhir ini menunjukkan transformasi perspektif.
Dari menghadapi krisis Zimbabwe hingga menembus lapisan-lapisan sejarah Afrika Selatan, dari mempertanyakan keputusasaan hingga merayakan resep sederhana, Humphreys bergerak dari pengembara yang mencari pengalaman menuju pengamat yang lebih rendah hati. Perjalanan fisik hampir selesai, tetapi perjalanan pemahaman baru saja dimulai. Afrika, dalam kisahnya, bukan sekadar latar eksotik, melainkan cermin yang memantulkan kompleksitas dunia—dan keterbatasan dirinya sendiri dalam memahaminya sepenuhnya.
Dalam bagian berjudul Five Finger Rapids dari Moods of Future Joys, Alastair Humphreys menggeser lanskap dari panas dan debu Afrika bagian selatan menuju ruang yang sama sekali berbeda: utara yang liar, dingin, dan berair deras. Jika etape Afrika adalah ujian ketahanan dalam jarak panjang dan kompleksitas sosial-politik, maka bagian ini menjadi metafora tentang bagaimana perjalanan hidup berubah menjadi lebih cair, tak terduga, dan berbahaya dalam sekejap.
Five Finger Rapids merujuk pada jeram terkenal di Sungai Yukon—arus yang berpecah menjadi lima saluran sempit di antara batu-batu besar, menciptakan pusaran dan gelombang yang dapat dengan mudah menelan perahu yang kurang waspada. Humphreys menggambarkan momen mendekati jeram itu dengan ketegangan yang sunyi. Di atas sepeda, ia terbiasa mengukur risiko dengan tanjakan dan lalu lintas; di atas air, ia harus menyerahkan sebagian kendali pada arus. Ia merasakan campuran antara ketakutan dan ketertarikan—perasaan yang sepanjang buku menjadi ciri khasnya ketika menghadapi ambang baru.
Narasinya tidak hanya memaparkan detail fisik jeram—arus yang menghantam lambung perahu, suara air yang bergemuruh seperti gempa cair, konsentrasi yang memadat pada satu garis sempit di depan—tetapi juga memaknai momen itu sebagai simbol. Lima “jari” jeram seakan menjadi gambaran pilihan-pilihan hidup: satu jalur aman namun sempit, satu jalur cepat namun berisiko, satu jalur yang tampak tenang tetapi menyembunyikan batu. Humphreys mengakui bahwa di banyak titik perjalanan, ia tidak pernah benar-benar tahu apakah ia memilih jalur terbaik. Ia hanya memilih, lalu berkomitmen sepenuhnya.
Ketika ia akhirnya menembus jeram itu—tegang, fokus, dan hampir tanpa napas—ia merasakan euforia yang berbeda dari kemenangan atas tanjakan gunung atau perbatasan negara. Ini bukan soal jarak yang ditempuh, melainkan soal keberanian untuk mempercayai diri sendiri dalam momen yang singkat dan menentukan. Ia menyadari bahwa sebagian besar kehidupan petualang bukanlah drama besar yang terus-menerus, melainkan rangkaian detik-detik kecil yang menuntut kehadiran total.
Bagian ini juga memperlihatkan bagaimana Humphreys semakin matang dalam melihat risiko. Di awal buku, bahaya sering terasa romantis—sesuatu yang membuktikan ketangguhan. Dalam Five Finger Rapids, ia tidak lagi mencari bahaya sebagai simbol heroisme. Ia menghormatinya. Ia memahami bahwa alam tidak peduli pada narasi pribadi siapa pun. Sungai mengalir tanpa memperhatikan impian seorang pengelana Inggris.
Secara tematik, jeram ini menjadi cermin dari keseluruhan perjalanan dalam Moods of Future Joys. Petualangan bukanlah garis lurus, melainkan arus bercabang yang kadang memaksa kita mengambil keputusan cepat dengan informasi terbatas. Humphreys menunjukkan bahwa keberanian sejati bukanlah absennya rasa takut, tetapi kemampuan untuk bergerak maju bersamanya.
Dengan demikian, Five Finger Rapids bukan sekadar episode geografis; ia adalah alegori. Setelah ribuan kilometer dan berbagai krisis—dari Zimbabwe hingga batas-batas batin sendiri—Humphreys kini menghadapi bentuk lain dari ketidakpastian. Dan seperti sungai itu, hidup terus bergerak. Tidak ada jeda panjang untuk merayakan. Hanya arus berikutnya, pilihan berikutnya, dan keberanian untuk kembali mengayuh—atau mendayung—menuju “future joys” yang belum terlihat di tikungan berikutnya.
Bogor-Cirebon, 29 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Camus, A. (1942). The Myth of Sisyphus. Gallimard.
Humphreys, A. (2014). Moods of Future Joys: Around the World by Bike – From England to South Africa, Part One. Eye Books.
Stevens, T. (1887). Around the World on a Bicycle.
Thoreau, H. D. (1854). Walden.
Ibn Battuta. (1325–1354). The Rihla.
Withers, J., & Shea, D. (Eds.). (2016). Culture on Two Wheels. University of Nebraska Press.






