Rubarubu #170
Follow the Flock:
Antara Eksploitasi dan Kesadaran Baru
Di suatu desa terpencil di pegunungan Yorkshire, domba-domba merumput di antara batu-batu tua dan ladang hijau yang telah diolah manusia selama ribuan tahun. Sally Coulthard memulai Follow the Flock: How Sheep Shaped Human Civilization (Pegasus Books, 2021) dengan kisah sederhana seperti ini—hubungan tak terputus antara manusia dan domba, yang ternyata menjadi benang merah peradaban manusia. Dari kulit dan wol hingga makanan dan mitos, Coulthard menunjukkan bahwa domba bukan sekadar hewan ternak, melainkan “makhluk penggerak sejarah.” Ia menulis, “Sheep are our quiet companions through the ages; their bleats echo in the story of civilization.” Buku ini adalah perjalanan lintas waktu yang melacak bagaimana hewan lembut ini membentuk ekonomi, teknologi, budaya, bahkan politik dunia.
Asal-usul domestikasi dan revolusi pertanian
Coulthard menelusuri asal-usul domestikasi domba sekitar 10.000 tahun lalu di daerah yang kini disebut Mesopotamia. Domba adalah simbol awal kemampuan manusia menjinakkan alam. Ia menulis bahwa tanpa domba, manusia mungkin tak akan mengenal konsep kepemilikan tanah, pertanian menetap, dan perdagangan jarak jauh. Wol menjadi komoditas pertama yang menandai lahirnya ekonomi pra-modern. Penemuan alat pemintal dan tenun dari wol mengubah wajah kehidupan perempuan dan komunitas, sementara perdagangan bulu domba menjadi pemicu rute dagang lintas benua. Seperti yang dikatakan antropolog Tim Ingold, “To domesticate is to become entangled with another species.” Dalam konteks ini, manusia dan domba tumbuh dalam simbiosis kebudayaan.
Bagian tengah buku menyoroti kehadiran domba dalam mitos dan spiritualitas manusia. Domba bagian penting dalam mitologi dan agama. Coulthard mengutip kisah Golden Fleece dalam mitologi Yunani, simbol kekuasaan dan kekayaan; juga kisah domba kurban dalam tradisi Ibrahimik yang menggambarkan ketaatan dan kasih. Dalam konteks ini, domba menjadi metafora etis bagi hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Coulthard menulis, “The lamb became not only a sacrifice but a symbol of purity, patience, and our uneasy stewardship of life.” Refleksi ini bergaung dengan pemikiran filosof Muslim seperti Al-Ghazali yang menyebut bahwa “manusia adalah gembala bagi ciptaan Tuhan—dan setiap gembala akan dimintai pertanggungjawaban.”
Domba dan ekonomi dunia
Coulthard kemudian menelusuri bagaimana perdagangan wol mendorong lahirnya kapitalisme awal di Eropa. Pada abad ke-14 hingga ke-17, Inggris menjadi kekuatan ekonomi global karena ekspor wol. “The backs of sheep built the British Empire,” tulisnya. Dari keuntungan wol lahirlah universitas, gereja batu, dan kota industri. Namun di balik kemakmuran itu, ada tragedi: pengusiran petani dari tanah mereka (enclosure movement) demi padang rumput domba. Domba, yang dulu menjadi sumber kehidupan, berubah menjadi alat kolonialisme ekonomi. Fanon pernah berkata, “Colonialism is not satisfied merely with holding a people in its grip… it turns to the past of the oppressed.” Coulthard seolah menghidupkan ulang peringatan ini melalui sejarah domba sebagai instrumen kekuasaan.
Dalam bab-bab berikutnya, Coulthard menunjukkan bagaimana domba menjadi simbol ekspansi global Eropa. Mereka dikirim ke Australia, Selandia Baru, Amerika Latin, dan Afrika untuk mengubah padang gersang menjadi mesin ekonomi kolonial. Di sinilah muncul dimensi ekologis buku ini: penyebaran domba sering berarti perusakan ekosistem lokal dan marginalisasi masyarakat adat. Domba Eropa membawa serta penyakit, perubahan tanah, dan sistem pertanian yang tak berkelanjutan. Namun, di sisi lain, mereka juga menjadi penghubung antarbudaya, memperkenalkan teknik pengolahan baru dan jaringan perdagangan global yang membentuk dunia modern.
Coulthard menyoroti peran domba dalam revolusi industri dan munculnya mode global. Wol menjadi bahan dasar pakaian tentara dan aristokrat, lalu diubah menjadi produk massal oleh mesin-mesin pemintal di Manchester. Namun, modernitas ini datang dengan harga mahal: eksploitasi buruh dan eksploitasi alam. Dalam konteks ini, Follow the Flock mengajak pembaca merenungkan hubungan etis antara konsumsi, produksi, dan makhluk hidup. Seperti yang dikatakan filsuf Prancis Michel Serres, “We have made a contract with death, not with nature.” Coulthard menawarkan pembalikan—mengusulkan “kontrak baru dengan bumi” melalui penghargaan terhadap domba sebagai simbol keberlanjutan.
Dalam konteks dunia saat ini, Follow the Flock berbicara tentang pentingnya relasi ekologis yang adil. Di tengah krisis iklim, deforestasi, dan kapitalisme global, domba menjadi simbol dari “siklus keberlanjutan yang terlupakan.” Di Indonesia, kisah ini menemukan resonansi dalam praktik peternakan rakyat, sistem agroekologi, dan komunitas adat yang hidup selaras dengan alam. Keberlanjutan bukan sekadar teknologi hijau, melainkan etika hidup. Coulthard mengingatkan, “To follow the flock is not to conform, but to remember that survival depends on care.”
Bab yang menarik untuk kita bahas adalah Bab 3 — “Why Some Sheep Are So Rooed: A Mummy’s Tattoos, the Invention of Scissors, and a Ram on the Run.” Penulis membawa kita ke masa purba, ketika manusia pertama kali menjinakkan domba dan menemukan bahwa hewan berbulu lembut ini bukan hanya sumber daging, tetapi juga sumber kehangatan, simbol status, dan cikal bakal industri tekstil dunia. Coulthard memulai dengan kisah mengejutkan: tato pada tubuh mumi Ötzi, manusia es dari Zaman Batu (sekitar 5.300 tahun lalu), yang ditemukan di Pegunungan Alpen dengan pakaian dari wol dan kulit domba. Ini bukan sekadar anekdot arkeologis; bagi Coulthard, kisah ini menunjukkan betapa awalnya manusia menyadari potensi “kolaborasi biologis” dengan hewan.
Istilah rooing berarti proses alami ketika domba menggugurkan bulunya tanpa harus digunting. Sebelum adanya gunting, manusia memanfaatkan masa “rooing season” untuk mengumpulkan wol yang rontok. Dari sinilah, menurut Coulthard, muncul ide awal alat pemotong — cikal bakal gunting. Ia menulis: “From the first plucked tufts to the invention of shears, our hands learned patience from sheep.”
Coulthard memadukan antropologi, arkeologi, dan imajinasi untuk menunjukkan bahwa wol adalah jembatan antara alam dan teknologi. Penemuan gunting (sekitar 1000 SM di Mesir) menandai perubahan mendalam: manusia mulai mengaturalam, bukan sekadar mengikuti ritmenya. Namun ia tidak menulis ini dengan nada muram, melainkan reflektif — bahwa setiap inovasi lahir dari hubungan intim antara kebutuhan dan kasih sayang terhadap alam.
Salah satu kisah menarik dalam bab ini adalah tentang seekor domba yang “kabur” dari peternakan di Selandia Baru, yang kemudian hidup liar bertahun-tahun hingga bulunya tumbuh luar biasa tebal. Domba itu — yang kemudian dinamai Shrek — menjadi ikon media pada tahun 2004. Coulthard melihat kisah ini bukan sekadar kelucuan, melainkan simbol: “Even when domesticated, nature always keeps its own counsel.” Domba Shrek menjadi metafora tentang kebebasan, ketahanan, dan keseimbangan antara ketergantungan dan kebebasan alamiah.
Secara filosofis, bab ini menyingkap ambiguitas peradaban manusia: kita berkembang melalui eksploitasi yang lembut terhadap makhluk lain, namun di balik setiap kemajuan terdapat pengingat bahwa kita juga bagian dari jaringan kehidupan yang tak bisa dikontrol sepenuhnya. Di sini Coulthard seperti berbisik: sejarah manusia adalah sejarah bulu domba — lembut, hangat, tapi mudah kusut jika disisir dengan keserakahan.
Pada bagian “Knit for Victory: The World’s Oldest Socks, Workhouses, and How Wool Helped Win the War” Coulthard bergerak cepat ke era modern, menunjukkan bagaimana wol dan rajutan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sosial dan politik dunia. Coulthard membuka bab ini dengan penemuan kaus kaki wol tertua di dunia, yang ditemukan di Mesir dan diperkirakan berasal dari abad ke-3 M. Dengan teknik rajut “split-toe”, kaus kaki ini menunjukkan betapa lama manusia telah mengandalkan domba untuk kenyamanan dan fungsi. Dari sinilah, ia melompat ke Eropa abad ke-19 dan ke masa perang dunia abad ke-20.
Di tengah Perang Dunia I dan II, knitting menjadi bentuk patriotisme dan solidaritas. Slogan “Knit for Victory!” menggema di Inggris dan Amerika — perempuan, anak-anak, bahkan tahanan ikut merajut untuk tentara di garis depan. Wol menjadi simbol daya tahan nasional. Coulthard menulis: “In every stitch lay a prayer, in every sock a mother’s hope that her son would return.”
Namun bab ini tidak berhenti pada romantisme perang. Ia juga menyingkap sisi gelap ekonomi wol — pekerja pabrik tekstil dan “workhouses” di Inggris — tempat ribuan buruh miskin, termasuk anak-anak, dipaksa bekerja di bawah kondisi mengerikan untuk menghasilkan wol dan pakaian murah. Bagi Coulthard, wol adalah benang yang mengikat kasih dan penderitaan manusia dalam satu kain sejarah.
Di sini ia menyentuh paradoks besar: wol menyatukan dunia dalam empati (melalui rajutan perang dan bantuan sosial), tetapi juga dalam eksploitasi (melalui kolonialisme industri wol Inggris yang memiskinkan koloni seperti India). Seperti kata Mahatma Gandhi, yang dikutip Coulthard, “Khadi is not just a cloth, it is the freedom of the soul.” Gandhi menentang dominasi ekonomi Inggris lewat kain buatan tangan — simbol perlawanan terhadap imperialisme tekstil.
Bab ini memperlihatkan bahwa wol bukan hanya bahan, melainkan bahasa kekuasaan dan solidaritas. Dalam konteks kontemporer, “knitting for victory” bisa dibaca ulang sebagai ajakan untuk menenun kembali dunia yang tercerai-berai oleh ketimpangan global — dunia yang memerlukan “rajutan etis” antara manusia, alam, dan kerja.
Sebagai penutup, Follow the Flock adalah renungan mendalam tentang saling keterikatan manusia dan makhluk lain. Coulthard mengubah domba dari sekadar hewan menjadi cermin bagi kemanusiaan—tentang kerakusan, kreativitas, dan kasih sayang. Dalam semangat Rumi, “Everything in nature whispers the secrets of love; even the bleating of sheep is a call to remembrance.” Buku ini mengajarkan bahwa memahami sejarah domba berarti memahami sejarah moral manusia—tentang bagaimana kita memperlakukan yang lemah, dan bagaimana kita dapat memperbaiki relasi dengan bumi.
Catatan Akhir: Antara Eksploitasi dan Kesadaran Baru
Dua bab ini, jika dibaca bersama, membentuk lengkungan sejarah: dari penjinakan domba prasejarah hingga industrialisasi global. Dari bulu yang rontok alami menjadi mesin perang ekonomi. Coulthard mengajak pembacanya untuk melihat kembali asal-usul peradaban, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menyadari ketergantungan manusia terhadap kerapuhan kehidupan lain. Follow the Flock: How Sheep Shaped Human Civilization karya Sally Coulthard, merupakan karya menarik untuk dibaca ulang dan diperbincangkan dalam koteks etika ekologis Islam dan pemikiran posthumanisme kontemporer seperti Donna Haraway dan Bruno Latour.
Domba merupakan cermin kemanusiaan. Dalam Follow the Flock, Sally Coulthard menulis kisah domba bukan sebagai sejarah zoologi, melainkan sebagai cermin peradaban manusia. Domba tidak sekadar hewan penghasil wol, melainkan simbol dari bagaimana manusia membentuk dan sekaligus merusak dunia. Coulthard mengingatkan: “To follow the flock is to understand our own story—of creation, control, and compassion.”
Kehadiran domba dalam kisah ini mengungkap hubungan mendasar antara manusia dan makhluk hidup lain, hubungan yang sering kali diabaikan dalam narasi modernitas. Dalam tradisi Islam, konsep khalifah fil ard (wakil Tuhan di bumi) menempatkan manusia bukan sebagai penguasa absolut, tetapi sebagai penjaga keseimbangan. Ibn Arabi menyebut bahwa manusia adalah “cermin dari ciptaan,” bukan tuannya. Maka, memperlakukan domba (dan alam) dengan adil berarti mengakui keterikatan spiritual antara segala bentuk kehidupan.
Pemikiran Coulthard memiliki resonansi kuat dengan ide Donna Haraway tentang sympoiesis—bahwa semua makhluk hidup “membuat dunia bersama.” Haraway menulis dalam Staying with the Trouble (2016): “Nothing makes itself; we become with each other or not at all.” Coulthard tidak memakai istilah itu secara eksplisit, tetapi narasi bukunya menghidupkannya secara praksis: manusia menjadi manusia melalui domba, dan domba menjadi bagian dari kebudayaan melalui manusia. Relasi ini adalah bentuk simbiosis ontologis, bukan sekadar ekonomi atau biologis. Di sini, Follow the Flock menantang paradigma antroposentris yang memisahkan “kita” dan “mereka.” Ia mengajak pembaca mengakui bahwa peradaban bukan hanya karya manusia, tetapi hasil kolaborasi multispecies.
Coulthard juga sejalan dengan gagasan Bruno Latour dalam Politics of Nature (2004), yang menuntut agar makhluk bukan-manusia mendapat “suara” dalam politik. Domba dalam buku Coulthard bisa dilihat sebagai metafora dari makhluk yang suaranya diabaikan—mereka dipelihara, dieksploitasi, diperdagangkan, bahkan disembelih demi kepentingan ekonomi, tanpa pernah menjadi subjek etika. Namun Coulthard dengan lembut membalikkan narasi itu: ia menulis sejarah dari sudut pandang yang empatik, seolah domba-lah yang mengamati manusia. Dalam semangat Latour, ia memperluas definisi “politik” menjadi jaringan kehidupan yang melibatkan manusia, hewan, dan lingkungan—sebuah “parlemen kehidupan.”
Etika ekologis Islam memberi kerangka spiritual yang selaras dengan visi Coulthard–sebuah etika ekologis Islam: Rahmah bagi Alam. Dalam Al-Qur’an (Al-An’am: 38), disebutkan bahwa “Tidak ada seekor binatang pun di bumi dan tidak seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat seperti kamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa setiap makhluk memiliki martabat dan komunitasnya sendiri. Dalam konteks ini, domba bukan sekadar objek kepemilikan, tetapi sesama penghuni bumi yang memiliki hak untuk hidup dan berkembang. Ulama besar seperti Seyyed Hossein Nasr mengingatkan bahwa krisis ekologi modern lahir dari krisis spiritualitas manusia—ketika manusia memisahkan dirinya dari alam dan menganggap dirinya pusat semesta. Coulthard, lewat kisah domba, mengajarkan cara untuk kembali “mendengar” alam—sebuah dzikir ekologis.
Dalam Follow the Flock, Coulthard memperlihatkan bagaimana domba membangun peradaban sekaligus menderita karenanya. Mereka menjadi korban logika kapitalisme dan kolonialisme—dari Enclosure Act di Inggris hingga industrialisasi di Australia. Namun ia juga melihat secercah harapan dalam gerakan pertanian regeneratif, peternakan etis, dan kesadaran konsumen baru.
Hal ini mencerminkan gagasan eco-humanism: bahwa penyembuhan bumi hanya mungkin jika manusia menyembuhkan hubungannya dengan makhluk lain. Seperti ditulis filsuf Muslim Ali Shariati, “Revolusi sejati bukan hanya melawan penindasan manusia atas manusia, tetapi juga penindasan manusia atas alam.”
Dalam konteks Indonesia, refleksi Coulthard sangat relevan. Peternakan rakyat di Nusa Tenggara, Jawa, dan Sulawesi masih mengandalkan keseimbangan ekologis antara manusia, ternak, dan tanah. Namun industrialisasi pangan dan urbanisasi telah mengikis kearifan itu. Kisah domba dalam buku ini menjadi pengingat agar Indonesia tidak kehilangan “filosofi gembala” — sikap rendah hati terhadap alam.
Konsep gotong royong dalam budaya Nusantara sebenarnya mencerminkan bentuk sympoiesis lokal, di mana keberlanjutan lahir dari kerja sama antarmakhluk, bukan dominasi satu pihak. Di sinilah nilai-nilai lokal dan Islam bertemu dengan ekofilosofi global yang ditawarkan Coulthard, Haraway, dan Latour.
Coulthard menulis dengan kepekaan spiritual yang halus. Dalam setiap bab, ada rasa syukur dan hormat terhadap kehidupan. Ia mengingatkan pembaca bahwa dunia ini dibangun dari kesabar-an seekor domba—dari serat-serat wol yang dipintal menjadi sejarah. Dalam tafsir Sufi, hal ini beresonansi dengan gagasan bahwa “setiap helai rambut adalah tanda dari kehadiran Ilahi.” Rumi menulis, “The entire world is a mirror; see yourself in the sheep’s eye and find God grazing there.” Pesan ini menjadi bentuk ekoteologi lembut—menemukan Tuhan bukan hanya dalam doa, tapi juga dalam keheningan padang rumput.
Pada akhirnya, Follow the Flock mengajak kita menjadi “penggembala yang baru”—bukan untuk menguasai, tetapi menjaga. Coulthard menulis, “To understand sheep is to rediscover humility.” Di tengah krisis iklim dan ketidakadilan global, kita diundang untuk kembali ke relasi paling dasar: merawat, mendengar, dan hidup berdampingan. Dalam dunia pasca-antropogenik, kesadaran semacam ini bukan nostalgia, tetapi strategi bertahan hidup. Seperti kata Haraway, “We must learn to stay with the trouble, not to flee it.” Coulthard mengajarkan cara untuk tetap tinggal—bersama domba, bersama bumi, bersama sejarah yang lembut namun abadi.
Dalam konteks Indonesia, refleksi ini terasa kuat. Di pedesaan, tradisi menenun, memelihara kambing dan domba, serta membuat pakaian rajut masih hidup sebagai warisan perempuan dan petani. Namun industrialisasi tekstil global (terutama “fast fashion”) telah memutuskan rantai ekologis dan spiritual itu. Membaca Coulthard berarti mengingat bahwa pakaian yang kita kenakan menyimpan sejarah panjang — dari padang rumput hingga pabrik, dari bulu domba hingga politik dunia. Seperti dikatakan penyair Jalaluddin Rumi: “The thread has been lost, but the hand still remembers how to weave.”
Dan seperti diingatkan filsuf kontemporer Timothy Morton dalam Being Ecological (2018): “The ecological thought begins when we realize that everything is connected—even the wool on your back.”
Coulthard mengajarkan hal yang sama, tetapi dengan kelembutan: bahwa di balik sehelai benang ada seluruh kisah umat manusia — dan seekor domba yang diam, menatap kita dengan mata yang sabar.
Bogor, 5 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Al-Ghazali. (n.d.). Ihya Ulum al-Din [The Revival of the Religious Sciences].
Coulthard, S. (2021). Follow the Flock: How Sheep Shaped Human Civilization. New York & London: Pegasus Books.
Fanon, F. (1961). The Wretched of the Earth. Grove Press.
Gandhi, M. (1927). Young India: Khadi and Swaraj. Navajivan.
Haraway, D. (2016). Staying with the Trouble: Making Kin in the Chthulucene. Duke University Press.
Ibn Arabi. (1980). Fusus al-Hikam [The Bezels of Wisdom].
Ingold, T. (2000). The Perception of the Environment: Essays on Livelihood, Dwelling and Skill. Routledge.
Latour, B. (2004). Politics of Nature: How to Bring the Sciences into Democracy. Harvard University Press.
Morton, T. (2018). Being Ecological. MIT Press.
Nasr, S. H. (1968). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Allen & Unwin.
Rumi, J. al-Din. (1999). The Essential Rumi (C. Barks, Penerj.). HarperCollins.
Serres, M. (1995). The Natural Contract. University of Michigan Press.
Shariati, A. (1980). On the Sociology of Islam. Mizan Press.





