Rubarubu #210
Less is More:
Menuju Dunia yang Lebih Ringan
Bayangkan Anda berdiri di tepi sebuah hutan purba pada pagi hari. Kabut masih menyelimuti pepohonan, dan udara terasa segar di paru-paru. Namun jika Anda menyimak dengan saksama, hutan itu sedang berbisik—bukan bisik ketenangan, melainkan bisik keputusasaan. Pohon-pohon itu bercerita tentang saudara-saudara mereka yang tumbang, tentang tanah yang mulai kering, tentang langit yang terasa semakin panas dari tahun ke tahun.
Inilah dunia yang kita tinggali di abad ke-21. Para ilmuwan menyebutnya sebagai Antroposen—sebuah era geologis baru di mana aktivitas manusia telah menjadi kekuatan dominan yang membentuk wajah bumi. Namun berbeda dengan era-era sebelumnya yang ditandai oleh gempa bumi atau letusan gunung berapi, kekuatan perusak utama di Antroposen ini datang dari sesuatu yang dibuat sendiri oleh manusia: kapitalisme dan obsesinya terhadap pertumbuhan tanpa batas.
Jason Hickel, seorang antropolog ekonomi dan Fulbright Scholar, menulis buku Less is More: How Degrowth Will Save the World (William Heinemann, 2020) sebagai sebuah seruan yang berani dan menggugah. Buku ini bukan sekadar kritik terhadap sistem ekonomi yang ada; ia adalah sebuah undangan untuk membayangkan kembali apa artinya “hidup baik” di planet yang terbatas ini. Hickel memulainya dengan sesuatu yang jujur namun pahit: “The world has finally awoken to the reality of climate breakdown and ecological collapse. Now we must face up to its primary cause. Capitalism demands perpetual expansion, which is devastating the living world.”
Suara dari Extinction Rebellion
Sebelum kita menyelami argumen Hickel, ada baiknya kita mendengarkan lebih dulu dua suara yang berada di garis depan perlawanan terhadap krisis iklim. Kofi Klu dan Rupert Read, anggota Extinction Rebellion (XR), menulis kata pengantar untuk buku ini. Mereka adalah aktivis yang setiap hari menghadapi kenyataan pahit bahwa pemerintah dan korporasi tampaknya lebih peduli pada pertumbuhan ekonomi daripada kelangsungan hidup spesies mereka sendiri. Klu dan Read tidak menulis dengan nada akademis yang dingin. Mereka menulis dengan kemarahan yang membara namun terukur—kemarahan yang lahir dari keputusasaan yang mendalam namun juga dari harapan yang masih menyala. Mereka mengajak pembaca untuk melihat fakta-fakta yang selama ini diabaikan: bahwa kita telah melewati batas-batas planet yang aman, bahwa janji “pertumbuhan hijau” hanyalah ilusi, dan bahwa kita tidak punya banyak waktu tersisa. Kata pengantar ini seperti alarm yang tidak bisa diabaikan; ia membangunkan kita dari tidur panjang yang nyaman dan memaksa kita untuk membuka mata terhadap apa yang sebenarnya terjadi.
“If we continue to grow the economy at the projected rates, it will more than double in size by the middle of the century—that’s twice as much extraction and production and consumption than we are presently doing.” Kutipan ini, yang dirujuk oleh para peserta diskusi buku dari Institute and Faculty of Actuaries, merangkum kegilaan situasi kita. Kita tahu bahwa bumi sedang sakit. Namun alih-alih mengurangi tekanan, kita malah berencana untuk melipatgandakannya dalam waktu kurang dari tiga puluh tahun. Ini bukanlah solusi; ini adalah resep untuk bunuh diri kolektif.
Membongkar Mitos Pertumbuhan
Bayangkan Anda sedang berdiri di puncak sebuah bukit pada malam hari, memandang ke bawah ke sebuah kota yang gemerlap dengan lampu-lampu. Dari kejauhan, kota itu tampak megah, penuh kehidupan, sebuah monumen kebanggaan umat manusia. Namun jika Anda mendekat, jika Anda mengendus udaranya dan menyentuh tanahnya, Anda akan menemukan sesuatu yang mengerikan: kota itu berdiri di atas fondasi yang retak, di atas tanah yang mulai longsor, di atas sumber daya yang perlahan-lahan habis. Inilah metafora untuk dunia yang digambarkan Hickel di awal Bagian Pertama bukunya.
Setelah kata pengantar yang membakar semangat, Hickel membuka bab pengantar dengan judul yang terasa seperti sapaan yang ambigu: “Welcome to the Anthropocene”. Selamat datang di era manusia. Namun selamat datang yang mana? Apakah ini ucapan selamat untuk sebuah pencapaian, atau ironi pahit atas kehancuran yang kita ciptakan sendiri? Hickel melukiskan gambaran yang suram namun tidak berlebihan. Antroposen adalah era di mana manusia telah menjadi kekuatan geologis: kita telah mengubah komposisi atmosfer, mengasamkan lautan, menghancurkan hutan hujan, dan menyebabkan kepunahan massal keenam dalam sejarah bumi. Namun yang membuat Antroposen unik bukan hanya skala kerusakannya, melainkan penyebab utamanya: sebuah sistem ekonomi yang bergantung pada pertumbuhan eksponensial di planet yang terbatas.
Sejak Revolusi Industri, kita telah hidup dalam apa yang disebut Hickel sebagai “juggernaut”—sebuah mesin raksasa yang melaju semakin cepat tanpa rem yang efektif. Mesin ini adalah kapitalisme, dan bahan bakarnya adalah sumber daya alam yang semakin menipis. Yang membuatnya begitu berbahaya bukanlah keserakahan individu semata, melainkan sebuah keharusan struktural: dalam kapitalisme, ekonomi harus terus tumbuh atau akan runtuh. Tidak ada pilihan untuk berhenti, tidak ada pilihan untuk sekadar stabil. Hickel mengajukan sebuah pertanyaan mendasar yang mungkin terasa menghujat bagi para ekonom arus utama: apakah mungkin bagi kita untuk berhenti mengejar pertumbuhan? Bukan karena kita anti-kemajuan, tetapi karena pertumbuhan itu sendiri—setidaknya dalam bentuk materialnya—telah menjadi ancaman eksistensial.
Pertanyaan ini membawa kita pada konsep sentral buku ini: degrowth, atau “penurunan pertumbuhan”. Istilah ini memang terdengar kontroversial—banyak yang membayangkan kemiskinan, penderitaan, dan kemunduran peradaban. Namun Hickel dengan cepat meluruskan kesalahpahaman ini. Degrowth, baginya, bukanlah resesi yang dipaksakan; ia bukanlah penderitaan yang kita jalani dengan gigih menahan lapar. Sebaliknya, degrowth adalah pengurangan yang disengaja dan direncanakan dalam produksi dan konsumsi material di negara-negara kaya, untuk menciptakan ruang bagi keadilan ekologis dan sosial. Bayangkan sebuah kapal yang kelebihan muatan: jika Anda terus menambah beban, kapal itu akan tenggelam. Solusinya bukanlah membuang semua muatan ke laut secara sembarangan, tetapi secara cerdas dan adil mengurangi apa yang tidak perlu, sambil memastikan bahwa semua penumpang selamat. Degrowth adalah proses membuang beban berlebih—bukan sekadar “lebih sedikit”, tetapi “cukup”.
Tiga bab dalam bagian ini—“More is Less”, “Capitalism: A Creation Story”, dan “Rise of the Juggernaut: Will Technology Save Us?”—bekerja bersama seperti tiga bagian dari sebuah drama tragedi. Bab pertama menetapkan diagnosis: pertumbuhan ekonomi material yang tak terbatas adalah sebuah kemustahilan di planet yang terbatas. Bab kedua menelusuri sejarah: bagaimana kapitalisme lahir dan mengapa ia secara struktural tidak dapat berhenti tumbuh. Bab ketiga menguji solusi yang paling sering ditawarkan: apakah teknologi bisa menyelamatkan kita dari kehancuran yang kita ciptakan sendiri?
More is Less — Paradoks di Jantung Peradaban
Hickel memulai dengan sebuah pengamatan sederhana namun mendalam: setelah lima puluh tahun kampanye lingkungan global, setelah ribuan konferensi iklim, setelah jutaan artikel dan buku tentang keberlanjutan, keadaan bumi justru semakin memburuk. Emisi karbon terus naik. Laju kepunahan spesies semakin cepat. Hutan hujan Amazon, paru-paru dunia, terus menyusut. Samudra semakin panas dan asam. Lahan pertanian terdegradasi. Air bersih semakin langka.
Mengapa? Bukankah kita sudah tahu semua ini? Jawaban Hickel adalah bahwa kita telah salah mengidentifikasi akar masalah. Selama ini, kita berfokus pada hal-hal yang bersifat permukaan—mengganti bola lampu dengan LED, membawa tas belanja sendiri, mendaur ulang sampah—namun kita enggan menyentuh akar yang sesungguhnya: sistem ekonomi yang mendambakan pertumbuhan eksponensial. Hickel mengajak kita membayangkan pertumbuhan ekonomi seperti bakteri yang membelah diri setiap jam; dalam satu hari, satu bakteri akan menjadi 16 juta, dan dalam beberapa hari, ia akan memenuhi seluruh petri. Namun apa yang terjadi ketika petri itu sudah penuh? Bakteri itu tidak akan berhenti membelah diri secara sukarela; ia akan terus berusaha tumbuh hingga menghabiskan semua nutrisi dan akhirnya mati. Bumi adalah petri kita, dan kita telah mencapai batasnya.
Data yang disajikan Hickel sungguh mengerikan. Para ilmuwan telah mengidentifikasi sembilan “batas planet” (planetary boundaries) yang, jika dilampaui, akan menyebabkan bumi memasuki keadaan yang tidak stabil dan berbahaya bagi kehidupan manusia. Pada saat buku ini ditulis, kita telah melampaui setidaknya empat batas ini: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, gangguan siklus nitrogen dan fosfor, dan perubahan penggunaan lahan; batas-batas lainnya, seperti pengasaman laut dan polusi kimia, juga sedang mendekati titik kritis. Ironinya, semua ini terjadi pada saat yang sama ketika kita masih mendambakan lebih banyak pertumbuhan. Bank Dunia, IMF, dan pemerintah di seluruh dunia terus memproyeksikan pertumbuhan PDB tahunan sebesar 2–3%. Dalam skala waktu satu abad, ini berarti ekonomi global akan menjadi delapan hingga sepuluh kali lebih besar dari ukurannya saat ini. Di planet yang sumber dayanya terbatas, ini adalah sebuah kegilaan matematis.
Bab “More is Less” adalah pengantar yang menyakitkan tetapi jujur. Hickel tidak memberi kita harapan palsu. Yang ia lakukan adalah membongkar mitos yang selama ini kita pegang: bahwa pertumbuhan ekonomi selalu baik, bahwa teknologi akan menyelamatkan kita, bahwa kita bisa terus “tumbuh hijau” tanpa mengorbankan planet. Bab ini adalah panggilan untuk bangun dari mimpi buruk yang kita kira sebagai mimpi indah.
Capitalism — A Creation Story — Melacak Asal-Usul Juggernaut
Setelah menetapkan diagnosis bahwa pertumbuhan tak terbatas adalah akar masalah, Hickel beralih ke pertanyaan sejarah: bagaimana sistem yang menuntut pertumbuhan tak terbatas ini bisa muncul? Bab “Capitalism: A Creation Story” adalah sebuah narasi yang epik dan tragis sekaligus—sebuah kisah penciptaan yang berbeda dari mitos-mitos yang kita kenal selama ini. Hickel tidak memulai dengan Adam Smith dan “tangan tak terlihat” (invisible hand) yang sering dirayakan dalam buku teks ekonomi. Ia memulai dengan sesuatu yang jauh lebih gelap: proses “enclosure” di Inggris pada abad ke-16 hingga ke-18—proses di mana tanah-tanah komunal yang selama berabad-abad digunakan bersama oleh petani, untuk menggembalakan ternak, menanam pangan, mengumpulkan kayu bakar, secara paksa diprivatisasi dan diberikan kepada bangsawan pemilik tanah.
Bayangkan Anda seorang petani di pedesaan Inggris pada tahun 1600. Keluarga Anda telah hidup di tanah yang sama selama beberapa generasi. Anda memiliki hak untuk menggembala-kan sapi di padang rumput bersama, hak untuk mengambil kayu dari hutan komunal, hak untuk menanam gandum di ladang yang digilir bersama tetangga. Kemudian suatu hari, pagar-pagar didirikan; papan peringatan dipasang. Tanah itu sekarang menjadi “milik” seorang tuan tanah yang tinggal di London, dan Anda diusir dari tanah yang telah menjadi rumah keluarga Anda selama ratusan tahun. Inilah enclosure.
Konsekuensinya sangat besar: ribuan, lalu jutaan petani kehilangan akses ke tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka. Tanpa tanah, mereka tidak bisa menanam makanan sendiri; mereka terpaksa pindah ke kota-kota yang sedang berkembang, di mana mereka kemudian menjadi tenaga kerja upahan di pabrik-pabrik yang baru lahir. Kapitalisme tidak dimulai dengan kebebasan; ia dimulai dengan pengusiran paksa dan pemusnahan cara hidup komunal.
Hickel juga menyoroti dimensi global dari cerita ini. Sementara enclosure terjadi di Inggris, proses serupa—dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih kejam—terjadi di koloni-koloni. Di Amerika, penduduk asli diusir dari tanah mereka melalui pembantaian dan perjanjian palsu. Di India, sistem pertanian komunal dihancurkan oleh British East India Company. Di Afrika, tanah-tanah komunal diambil alih oleh kekuatan kolonial Eropa. Kapitalisme tidak lahir dalam ruang hampa; ia lahir dari darah, tanah, dan air mata. Dengan mengusir petani dari tanah, enclosure menciptakan dua hal yang diperlukan kapitalisme untuk berfungsi: tenaga kerja upahan (orang-orang yang tidak memiliki apa-apa selain kemampuannya untuk bekerja) dan keharusan untuk bekerja (karena tanpa tanah, mereka tidak bisa bertahan hidup tanpa menjual tenaga kerja mereka). Kapitalisme tidak bisa eksis tanpa “proletariat”—sekelompok orang yang terpaksa menjual waktu dan tenaganya hanya untuk bisa makan.
Pada saat yang sama, enclosure juga mengubah hubungan manusia dengan alam. Di bawah sistem komunal, petani memiliki insentif untuk menjaga kesehatan tanah dan hutan karena mereka akan mewariskannya kepada anak cucu. Di bawah kapitalisme, tanah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan, dieksploitasi untuk keuntungan maksimal dalam jangka pendek, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. Alam berubah dari “rumah” menjadi “sumber daya”—sesuatu yang diambil, bukan sesuatu yang dirawat. Bab ini adalah pengingat yang kuat bahwa kapitalisme bukanlah “sistem alamiah” atau satu-satunya cara untuk mengatur ekonomi; ia adalah konstruksi historis yang lahir dari kekerasan, pengusiran, dan eksploitasi. Dan karena ia lahir dari kekerasan, ia tidak akan mati dengan lembut—tetapi ia harus mati jika kita ingin menyelamatkan planet ini.
Salah satu wawasan paling menarik dari Hickel adalah bahwa kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi alam, tetapi juga mengeksploitasi manusia. Sistem ini bergantung pada apa yang disebut para ekonom feminis sebagai “lapisan perawatan” (caring layers) yang tidak dibayar dan tidak dihargai—pekerjaan merawat anak, orang tua, rumah tangga, dan komunitas yang sebagian besar dilakukan oleh perempuan. Sementara PDB melonjak karena produksi barang dan jasa yang dijual di pasar, pekerjaan perawatan yang paling penting untuk kelangsungan hidup manusia tidak masuk hitungan sama sekali.
Rise of the Juggernaut — Akankah Teknologi Menyelamatkan Kita?
Dari sejarah kelam kapitalisme, Hickel beralih ke pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para optimis teknologi: bukankah inovasi akan menyelamatkan kita? Bukankah tenaga surya, mobil listrik, pertanian vertikal, dan daging sintetis akan memungkinkan kita untuk terus tumbuh tanpa merusak planet? Judul bab ini (Bab 3), “Rise of the Juggernaut”, adalah metafora yang dipilih dengan cermat—kekuatan yang sangat besar, sangat kuat, dan tidak dapat dihentikan, seperti truk kontainer yang melaju kencang di jalan menurun tanpa rem yang berfungsi. Kapitalisme adalah juggernaut itu, dan pertanyaan “akankah teknologi menyelamatkan kita?” adalah pertanyaan yang salah karena ia mengasumsikan bahwa juggernaut bisa terus melaju tanpa batas.
Hickel memulai dengan mengkritik konsep “efisiensi”. Selama beberapa dekade, kita telah meningkatkan efisiensi energi dan sumber daya secara dramatis—mobil sekarang lebih hemat bahan bakar, kulkas menggunakan lebih sedikit listrik, lampu LED menggunakan 75% lebih sedikit energi daripada bola lampu pijar. Ini semua kabar baik, bukan? Namun Hickel menunjukkan sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek rebound atau paradoks Jevons, dinamai dari ekonom Inggris William Stanley Jevons yang pada tahun 1865 mengamati bahwa peningkatan efisiensi mesin uap justru menyebabkan peningkatan konsumsi batu bara, bukan penurunan. Mengapa ini terjadi? Karena ketika sesuatu menjadi lebih efisien—dan karena itu lebih murah—kita cenderung menggunakannya lebih banyak, bukan lebih sedikit. Lampu LED lebih efisien, jadi kita memasang lebih banyak lampu di rumah kita, meninggalkannya menyala lebih lama, dan akhirnya total konsumsi energi kita mungkin tidak berubah atau bahkan meningkat. Hal yang sama terjadi pada hampir semua teknologi: efisiensi yang lebih besar menyebabkan konsumsi yang lebih besar, bukan yang lebih kecil.
Inilah mengapa Hickel skeptis terhadap “green growth” atau “pertumbuhan hijau”—gagasan bahwa kita dapat memisahkan (decouple) pertumbuhan ekonomi dari dampak lingkungan, sehingga PDB bisa terus naik sementara emisi dan penggunaan sumber daya turun. Ia menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa bukti decoupling relatif (penurunan emisi per unit PDB), tidak ada bukti decoupling absolut yang cukup cepat untuk mencapai target-target iklim.
Sebuah studi oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: hingga tahun 2018, 101 dari 116 skenario yang digunakan IPCC mengandalkan teknologi emisi negatif yang belum terbukti keberhasilannya dalam skala yang dibutuhkan—seperti berencana mendarat di bulan tanpa pernah membuat roket. Bahkan dalam skenario yang paling optimis sekalipun, dengan adopsi teknologi terbarukan yang paling cepat, tingkat decoupling yang diperlukan untuk mencapai target Perjanjian Paris (membatasi pemanasan global di bawah 1,5°C) adalah sekitar 10 hingga 20 kali lebih cepat dari apa yang pernah dicapai oleh negara mana pun dalam sejarah.
Dengan kata lain, kita membutuhkan keajaiban teknologi yang tidak hanya belum ada, tetapi mungkin secara fisik tidak mungkin. Seperti dicatat seorang peserta diskusi buku dalam blog Institute and Faculty of Actuaries: “Our path of endless growth means any additional renewable energy investment is simply used to cater to additional demand.”
Hickel juga menyoroti masalah biaya energi untuk transisi itu sendiri. Membangun turbin angin, panel surya, baterai, dan infrastruktur untuk kendaraan listrik membutuhkan energi dan sumber daya yang sangat besar—termasuk mineral langka yang penambangannya sendiri merusak lingkungan. Jika kita mencoba melakukan transisi ini sambil tetap mengejar pertumbuhan ekonomi, kita akan menemukan diri kita dalam situasi di mana energi yang “dihasilkan” oleh teknologi terbarukan habis untuk membangun lebih banyak teknologi terbarukan, tanpa banyak tersisa untuk kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.
Namun Hickel tidak sepenuhnya pesimis tentang teknologi; ia tidak mengatakan bahwa kita harus meninggalkan teknologi modern dan kembali ke gua. Yang ia katakan adalah bahwa teknologi bukanlah solusi ajaib yang dapat menyelamatkan kita dari keharusan untuk mengurangi konsumsi kita secara absolut—teknologi dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi hanya jika kita juga bersedia mempertanyakan obsesi kita terhadap pertumbuhan itu sendiri.
Bagian pertama dari Less is More adalah sebuah peringatan yang disusun secara brilian. Hickel mengambil pembaca dalam sebuah perjalanan dari diagnosis (“More is Less”) ke penelusuran sejarah (“Capitalism: A Creation Story”) ke pengujian solusi populer (“Rise of the Juggernaut”). Setiap bab membangun bab sebelumnya, menciptakan argumen yang koheren dan hampir tak terbantahkan. Apa yang membuat argumen Hickel begitu kuat adalah bahwa ia tidak meng-andalkan kemarahan atau keputusasaan, melainkan logika, data, dan sejarah. Pembaca yang telah terbiasa dengan narasi ekonomi arus utama mungkin akan merasa tidak nyaman membaca bab-bab ini—Hickel merobek karpet yang selama ini kita pijak, menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai “kemajuan” mungkin sebenarnya adalah “kemunduran” dalam hal-hal yang paling mendasar. Namun justru ketidaknyamanan inilah yang diperlukan untuk memulai perubahan.
Salah satu kutipan yang paling berkesan dari bagian ini, yang dirujuk oleh para peserta diskusi buku dari Institute and Faculty of Actuaries, adalah pernyataan tentang kebutuhan untuk mengubah cara pandang kita: “We have been told that growth is the only way. But what if growth is the problem, not the solution? What if we have been asking the wrong question all along—not ‘how can we grow more?’ but ‘how can we live well within the means of the planet?’” Pertanyaan inilah yang akan dijawab Hickel di bagian-bagian selanjutnya. Setelah membongkar mitos pertumbuhan dan mengungkap sejarah kelam kapitalisme, ia menawarkan sebuah visi alternatif—degrowth sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan lebih buruk. Namun untuk sampai ke sana, kita harus terlebih dahulu jujur tentang di mana kita berada dan bagaimana kita sampai di sini.
Seperti yang ditulis pemikir Muslim Al-Ghazali berabad-abad yang lalu: “Dunia ini adalah ladang untuk akhirat. Apa yang kamu tanam di sini, akan kamu tuai di sana.” Mungkin, dalam konteks krisis ekologis, kita bisa memparafrasekannya: “Planet ini adalah satu-satunya rumah kita. Apa yang kita lakukan padanya, akan kita alami dalam hidup kita sendiri.” Dan apa yang sedang kita lakukan, seperti ditunjukkan Hickel dengan begitu meyakinkan, tidak dapat dipertahankan lagi.
Hikmah dari Tradisi Lain: Suara dari Islam
Dalam diskusi tentang kehidupan yang lebih sederhana dan tidak berlebihan, menarik untuk menyimak apa yang diajarkan oleh tradisi-tradisi lain. Dalam Islam, misalnya, terdapat konsep yang sangat relevan dengan gagasan degrowth: larangan terhadap isrāf (berlebih-lebihan) dan tabzīr (pemborosan). Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan umat manusia tentang bahaya konsumsi berlebihan. Dalam Surah Al-A’raf (7:31), Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Ayat ini bukan sekadar nasihat tentang pola makan; ia adalah prinsip universal tentang moderasi dalam segala aspek kehidupan.
Seorang filsuf Muslim kontemporer, Ibrahim Özdemir, menjelaskan bahwa pemborosan dalam pandangan Islam bukan hanya masalah penggunaan sumber daya yang ceroboh; ia adalah kegagalan moral dan spiritual—sebuah bentuk ketidaksyukuran kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan bumi sebagai amanah, bukan sebagai properti pribadi. “Wastefulness in the Islamic worldview isn’t just careless use of natural resources; it’s a moral and spiritual failing—a form of ingratitude toward the Creator, the Sustainer, and the Owner of all blessings. Wasting means forgetting that the earth and its bounty are divine trusts, not private possessions.”
Lebih lanjut, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal: banyak bicara tanpa manfaat, memboroskan harta, dan banyak bertanya” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini dengan tegas menempatkan pemborosan sebagai sesuatu yang tidak disukai oleh Tuhan, setara dengan omong kosong dan keingintahuan yang berlebihan.
Dalam konteks modern, para sarjana Muslim menerjemahkan larangan isrāf dan tabzīr ke dalam prinsip-prinsip ekologis yang konkret: menolak barang yang tidak perlu, mengurangi konsumsi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Ini bukan hanya tindakan yang bijak secara lingkungan; ia adalah tindakan ibadah, sebuah bentuk pengingatan (dhikr) kepada Tuhan yang telah menciptakan alam dalam keseimbangan (mīzān). Sebuah studi akademis yang diterbitkan dalam Journal of Agricultural and Environmental Ethics (2024) oleh Nielsen dan Gamborg menemukan bahwa “eco-shame” dan “eco-guilt”—jika dikelola dengan baik—dapat melampaui fokus individual dan memicu perubahan kolektif menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Perasaan malu karena berlebihan, dalam kerangka ini, sejalan dengan konsep al-haya’ (rasa malu) dalam Islam yang mencegah seseorang dari perilaku yang merusak diri sendiri, orang lain, dan alam.
Keselarasan antara pesan Hickel dan ajaran Islam ini menunjukkan bahwa gagasan tentang hidup sederhana, menghormati batas-batas alam, dan menolak konsumerisme berlebihan bukanlah ide baru yang radikal. Sebaliknya, ia adalah kearifan kuno yang telah dilupakan oleh peradaban modern yang terobsesi pada pertumbuhan.
Dari Diagnosis Menuju Terapi
Bayangkan Anda sedang berada di ruang tunggu seorang dokter setelah menerima diagnosis yang menghancurkan. Dokter itu baru saja memberi tahu Anda bahwa Anda sakit parah—bahwa organ-organ vital Anda mulai gagal karena gaya hidup yang tidak berkelanjutan. Anda merasa pusing, takut, dan marah. Namun kemudian dokter itu menarik kursi, duduk di hadapan Anda, dan berkata, “Ada kabar baik. Kita tahu apa yang salah, dan kita tahu apa yang harus dilakukan. Obatnya memang tidak mudah, tetapi ia ada.”
Inilah momen yang dialami pembaca ketika memasuki Bagian Kedua buku Hickel. Setelah menghabiskan Bagian Pertama untuk membongkar mitos pertumbuhan, mengungkap sejarah kelam kapitalisme, dan menunjukkan keterbatasan teknologi sebagai penyelamat, Hickel kini beralih ke pertanyaan yang paling mendesak: jika bukan pertumbuhan, lalu apa? Jika kapitalisme adalah penyakit, apa obatnya? Dan bagaimana kita bisa membayangkan dunia pasca-pertumbuhan yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga lebih adil dan lebih membahagiakan?
Tiga bab dalam bagian ini—“Less is More”, “Secrets of the Good Life: Pathways to a Post-Capitalist World”, dan “Everything is Connected”—adalah tanggapan Hickel terhadap keputusasaan yang mungkin dirasakan pembaca setelah membaca Bagian Pertama. Bab keempat membalikkan logika “more is less” menjadi sebuah proposisi yang berani: bahwa dengan mengambil lebih sedikit, kita sebenarnya bisa mendapatkan lebih banyak. Bab kelima menawarkan peta jalan konkret menuju dunia pasca-kapitalis, lengkap dengan contoh-contoh nyata dari gerakan-gerakan yang sudah berjuang di garis depan. Bab keenam menyatukan semuanya ke dalam sebuah visi holistik tentang keterhubungan—antara manusia dengan alam, antara ekonomi dengan ekologi, antara Utara dengan Selatan.
Less is More — Membalikkan Paradigma
Jika Bab Satu buku ini berjudul “More is Less” (lebih banyak menghasilkan lebih sedikit), maka Bab Empat adalah cerminnya: “Less is More” (lebih sedikit menghasilkan lebih banyak). Hickel tidak sekadar bermain-main dengan kata-kata; ia sedang melakukan sebuah revolusi konseptual. Ia mengajak pembaca untuk melihat bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai “kemajuan”—lebih banyak barang, lebih banyak uang, lebih banyak pertumbuhan—sebenarnya telah membuat kita kehilangan hal-hal yang benar-benar berharga: waktu, hubungan, kesehatan mental, dan koneksi dengan alam. Sebaliknya, dengan mengambil lebih sedikit, kita mungkin justru bisa mendapatkan lebih banyak dari apa yang benar-benar penting.
Hickel memulai bab ini dengan mengkritik gagasan bahwa “kesejahteraan” identik dengan “konsumsi”. Ia merujuk pada penelitian ekstensif tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup yang menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan dan konsumsi memiliki dampak yang semakin mengecil pada kebahagiaan. Di negara-negara kaya, orang-orang tidak menjadi lebih bahagia meskipun PDB mereka telah berlipat ganda atau tiga kali lipat dalam beberapa dekade terakhir; sebaliknya, tingkat depresi, kecemasan, dan kesepian justru meningkat.
Mengapa ini terjadi? Karena kapitalisme modern tidak hanya menjual barang; ia menjual janji kebahagiaan yang tidak pernah terpenuhi. Iklan, media, dan budaya konsumen terus-menerus memberi tahu kita bahwa kita tidak cukup baik, tidak cukup kaya, tidak cukup menarik, tidak cukup sukses—dan bahwa satu pembelian lagi akan mengisi kekosongan itu. Namun kekosongan itu tidak pernah terisi; setiap pembelian baru hanya menciptakan keinginan baru. Kita terjebak dalam “hedonic treadmill”—sebuah treadmill hedonis di mana kita terus berlari untuk mengejar kebahagiaan, tetapi tidak pernah sampai ke mana pun.
Apa solusinya? Hickel mengusulkan sesuatu yang radikal namun sederhana: berhenti berlari. Melepaskan diri dari perlombaan konsumsi yang tidak pernah berakhir. Menemukan kepuasan dalam hal-hal yang tidak dapat dibeli: hubungan sosial yang mendalam, partisipasi dalam kegiatan kreatif, waktu untuk merawat orang yang kita cintai, dan koneksi dengan alam. Namun Hickel tidak naif; ia tahu bahwa melepaskan diri dari konsumerisme tidaklah mudah di masyarakat yang telah dirancang untuk membuat kita terus membeli. Sistem periklanan, perencanaan kota yang bergantung pada mobil, pekerjaan yang menuntut waktu dan energi kita—semua ini adalah struktur yang membuat “hidup sederhana” menjadi sulit, bahkan bagi mereka yang menginginkannya. Karena itu, degrowth bukan hanya tentang perubahan perilaku individu; ia adalah tentang perubahan struktural kolektif.
Salah satu wawasan paling menarik dari bab ini adalah tentang pengurangan jam kerja. Hickel mengusulkan pengurangan jam kerja yang radikal—mungkin menjadi 15–20 jam per minggu—sebagai salah satu strategi utama degrowth. Mengapa? Karena dengan bekerja lebih sedikit, kita secara otomatis mengurangi produksi dan konsumsi, sekaligus memiliki lebih banyak waktu untuk kegiatan yang benar-benar bermakna: berkebun, bermain musik, mengajar anak-anak, merawat orang tua, atau sekadar berbincang dengan tetangga. Penelitian menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja tidak harus berarti penurunan kesejahteraan; di banyak negara Eropa, kebijakan kerja yang lebih pendek telah terbukti meningkatkan produktivitas per jam, mengurangi stres, dan meningkatkan kesehatan mental.
Hickel juga menyoroti dimensi gender dari pengurangan jam kerja. Dalam masyarakat kapitalis, perempuan secara tidak proporsional menanggung beban pekerjaan rumah tangga dan perawatan yang tidak dibayar—kembali pada apa yang disebut para ekonom feminis sebagai “lapisan perawatan” (caring layers) yang tidak pernah masuk hitungan PDB. Dengan mengurangi jam kerja berbayar, kita dapat mendistribusikan pekerjaan perawatan secara lebih merata antara laki-laki dan perempuan, sekaligus mengakui nilai dari pekerjaan yang selama ini diabaikan. PDB tidak menghitung ciuman selamat malam, tidak menghitung dongeng sebelum tidur, tidak menghitung sup hangat untuk tetangga yang sakit. Namun hal-hal inilah yang membuat hidup layak dijalani.
Secrets of the Good Life — Jalan Menuju Dunia Pasca-Kapitalis
Jika Bab Empat adalah tentang “mengapa” degrowth, maka Bab Lima adalah tentang “bagaimana”. Hickel menawarkan sebuah peta jalan menuju dunia pasca-kapitalis yang tidak abstrak dan utopis, tetapi konkret dan didasarkan pada praktik-praktik nyata yang sudah terjadi di berbagai belahan dunia.
Salah satu inspirasi utama Hickel adalah gerakan ekonomi solidaritas, khususnya di negara bagian Kerala, India—wilayah yang secara konsisten dipilih Program Pembangunan PBB sebagai contoh keberhasilan pembangunan manusia yang tinggi meskipun memiliki PDB per kapita yang relatif rendah. Kerala mencapainya dengan memprioritaskan layanan publik yang universal—pendidikan gratis, perawatan kesehatan gratis, perumahan yang terjangkau—dan dengan memperkuat ekonomi lokal yang berbasis pada koperasi dan usaha kecil, bukan korporasi raksasa.
Hickel juga menyoroti gerakan peri-urban farming (pertanian di pinggiran kota) yang berkembang di kota-kota Kuba. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, Kuba kehilangan akses ke bahan bakar fosil dan pupuk kimia yang selama ini menjadi tulang punggung pertaniannya. Dalam apa yang disebut “periode khusus”, rakyat Kuba terpaksa menemukan cara baru untuk memberi makan diri mereka sendiri; mereka mengubah setiap lahan kosong di kota menjadi kebun sayur, belajar bertani secara organik tanpa pestisida kimia, dan membangun sistem transportasi yang efisien dan hemat energi.
Hasilnya, Kuba tidak hanya bertahan; ia berkembang. Tingkat kesehatan dan pendidikan tetap tinggi, bahkan melampaui banyak negara kaya, dan jejak ekologis Kuba menjadi salah satu yang terendah di dunia. Apa yang terjadi di Kuba adalah sebuah “degrowth yang tidak direncanakan”—dipaksakan oleh keadaan, bukan dipilih secara sukarela. Namun ia membuktikan bahwa kehidupan yang layak dimungkinkan dengan tingkat konsumsi material yang jauh lebih rendah daripada yang biasa kita anggap “normal”. Bayangkan apa yang bisa kita capai jika kita merencanakan transisi ini secara sukarela dan demokratis, daripada menunggu hingga krisis memaksakannya kepada kita.
Hickel juga membahas pembangunan kembali “commons”—sumber daya bersama yang dikelola secara kolektif oleh masyarakat, bukan oleh negara atau pasar. Selama berabad-abad, kapitalisme telah merampas commons melalui proses enclosure. Hickel mengusulkan kebalikannya: “de-enclosure” atau “re-commons”, di mana kita mengambil kembali apa yang telah dirampas—bisa berupa tanah pertanian yang dikelola koperasi petani, hutan yang dijaga masyarakat adat, perangkat lunak open source, atau pengetahuan yang dibagikan secara bebas melalui internet. Salah satu contoh paling menggembirakan dari re-commons adalah gerakan Benih Pengetahuan (Seed of Knowledge) di India, di mana petani lokal mengumpulkan, melestarikan, dan membagikan benih-benih tradisional yang hampir punah karena agribisnis global. Dengan mengambil kembali kendali atas benih, para petani ini tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati; mereka juga membangun otonomi dan ketahanan terhadap fluktuasi pasar global.
Hickel juga menekankan pentingnya demokratisasi ekonomi. Dalam kapitalisme, keputusan tentang apa yang diproduksi, bagaimana memproduksinya, dan untuk siapa, semuanya ditentukan oleh mereka yang memiliki modal. Hickel mengusulkan sebuah model di mana keputusan-keputusan ini dibuat secara kolektif oleh para pekerja dan masyarakat yang terkena dampak—bisa berarti koperasi pekerja (worker cooperatives), di mana setiap karyawan memiliki satu suara dalam pengambilan keputusan perusahaan, atau nasionalisasi industri-industri kunci (energi, transportasi, perumahan) di bawah kontrol publik yang demokratis. Tujuan dari semua ini bukanlah untuk menciptakan ekonomi yang stagnan atau miskin, melainkan ekonomi yang stabil, berkelanjutan, dan adil—ekonomi yang melayani kebutuhan manusia dan ekologis, bukan sebaliknya. Hickel tidak mengusulkan bahwa kita harus menghentikan semua inovasi atau teknologi; ia hanya mengusulkan agar inovasi dan teknologi diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan, bukan untuk meningkatkan pertumbuhan PDB tanpa batas.
Everything is Connected — Menyatukan Visi
Bab keenam, “Everything is Connected” (Semuanya Terhubung), adalah klimaks dari argumen Hickel. Setelah membongkar yang lama dan membangun yang baru, ia mengajak pembaca untuk melihat gambaran besarnya: bahwa tidak ada yang berdiri sendiri. Krisis ekologis tidak terpisah dari krisis ekonomi. Degrowth tidak terpisah dari keadilan sosial. Perubahan lokal tidak terpisah dari transformasi global.
Hickel memulai dengan konsep hubungan ekologis fundamental yang menjadi inti bukunya: setiap aktivitas ekonomi manusia pada akhirnya bergantung pada alam. Kita makan dari alam, kita minum dari alam, kita bernapas berkat alam. Alam bukanlah “faktor produksi” yang dapat diganti atau diabaikan; ia adalah kondisi kemungkinan bagi segala sesuatu yang kita lakukan. Merusak alam berarti merusak fondasi kehidupan kita sendiri. Namun kapitalisme, dengan dorongannya untuk pertumbuhan tanpa batas, memperlakukan alam seolah-olah ia adalah sebuah “eksternalitas”—sesuatu di luar perhitungan ekonomi, yang dapat dieksploitasi tanpa biaya. Hickel mengutip ekonom ekologis Herman Daly yang terkenal dengan pernyataannya bahwa ekonomi adalah subsistem dari ekosistem, bukan sebaliknya. Kita tidak bisa memiliki ekonomi yang tak terbatas di dalam ekosistem yang terbatas—ini adalah hukum fisika, bukan opini.
Dari sini, Hickel beralih ke hubungan kolonial yang membentuk dunia modern. Negara-negara kaya di Utara Global tidak menjadi kaya hanya karena kerja keras dan inovasi mereka; mereka menjadi kaya karena mengeksploitasi sumber daya dan tenaga kerja dari Selatan Global selama berabad-abad—melalui perbudakan, kolonialisme, dan sekarang melalui mekanisme utang dan perdagangan yang tidak setara (unequal exchange). Hickel menghitung bahwa jika semua orang di dunia mengonsumsi pada tingkat rata-rata Eropa, kita akan membutuhkan tiga planet Bumi; jika semua orang mengonsumsi pada tingkat rata-rata Amerika Utara, kita akan membutuhkan lima planet Bumi. Pertumbuhan pun terbukti tidak “menetes ke bawah” (trickle-down) seperti yang dijanjikan—sebagian besar kekayaan baru disedot oleh segelintir orang di puncak, sementara biaya kerusakan lingkungan ditanggung oleh semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan paling rentan.
Ini berarti bahwa degrowth tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh dunia. Negara-negara Selatan Global masih memiliki hak untuk berkembang—untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk mereka yang belum terpenuhi. Degrowth harus diterapkan terutama di negara-negara kaya Utara Global, yang telah mengambil lebih dari porsi yang adil dari sumber daya planet ini, sementara negara-negara miskin diberi ruang untuk berkembang hingga mencapai tingkat kesejahteraan yang layak, setelah itu mereka juga dapat bergabung dalam transisi menuju ekonomi yang stabil. Inilah yang Hickel sebut sebagai “kondisionalitas degrowth”—yang kaya berkurang sehingga yang miskin dapat meningkat.
Hickel juga menyoroti hubungan antara degrowth dan gerakan-gerakan sosial lainnya. Ia melihat degrowth sebagai bagian dari sebuah konstelasi yang lebih besar dari gerakan-gerakan transformatif: gerakan keadilan rasial, gerakan feminis, gerakan hak-hak adat, gerakan perdamaian, gerakan makanan, gerakan perumahan. Semua gerakan ini, pada intinya, memperjuangkan hal yang sama: pembebasan dari logika kapitalis yang mengeksploitasi manusia dan alam. Salah satu aspek yang paling mengharukan dari bab ini adalah diskusi Hickel tentang pengetahuan adat (indigenous knowledge).
Selama ribuan tahun, masyarakat adat di seluruh dunia telah hidup dalam hubungan yang relatif harmonis dengan alam, memahami bahwa alam bukanlah musuh yang harus ditaklukkan atau sumber daya yang harus dieksploitasi, tetapi komunitas yang lebih besar di mana mereka menjadi bagiannya. Hickel mengutip kosmovisi Andes tentang Buen Vivir (Hidup Baik) atau Sumak Kawsay dalam bahasa Quechua, yang menekankan kesejahteraan kolektif dalam harmoni dengan alam, bukan akumulasi individu. Apa yang diajarkan pengetahuan adat kepada kita adalah bahwa alternatif untuk kapitalisme bukanlah kemiskinan atau kemunduran, melainkan sebuah cara hidup yang lebih kaya, lebih berhubungan, dan lebih memuaskan—sebuah cara hidup di mana manusia tidak lagi melihat diri mereka sebagai penguasa alam, tetapi sebagai bagian dari jaring kehidupan yang kompleks.
Hickel mengakhiri bagian ini dengan sebuah pengakuan yang jujur: transisi menuju degrowth tidak akan mudah. Mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan dalam sistem saat ini tidak akan melepaskannya dengan sukarela; akan ada perlawanan, konflik, dan mungkin kekerasan. Namun ia juga mengingatkan kita bahwa status quo tidak dapat dipertahankan. Jika kita terus seperti ini, kita akan menghadapi krisis yang jauh lebih buruk—kelaparan massal, perang karena sumber daya, pengungsian iklim, dan keruntuhan peradaban seperti yang kita kenal. Jalan degrowth mungkin sulit, tetapi alternatifnya adalah bencana.
Catatan Akhir: Arah, Bukan Jawaban Instan
Setelah membaca kata pengantar dari Kofi Klu dan Rupert Read, bab pengantar “Welcome to the Anthropocene”, hingga keenam babnya, kita mungkin merasa terombang-ambing antara keputusasaan dan harapan. Keputusasaan karena skala masalahnya sangat besar; harapan karena solusinya sebenarnya sangat jelas: kita harus berhenti mengejar pertumbuhan yang tak berkelanjutan. Hickel tidak menawarkan jawaban yang mudah—tidak ada pil ajaib yang bisa menyembuhkan krisis ini tanpa mengubah cara hidup kita. Namun ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga dari jawaban instan: ia menawarkan arah. Degrowth bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses—sebuah perjalanan menuju dunia di mana kita belajar lagi untuk hidup dalam keseimbangan dengan alam, di mana kita mengakui bahwa “cukup” adalah kata yang indah, di mana kita menemukan bahwa dengan mengambil lebih sedikit, kita justru menjadi lebih kaya dalam hal-hal yang benar-benar penting.
Seperti disimpulkan para peserta diskusi buku dari Institute and Faculty of Actuaries setelah membaca buku Hickel: “Degrowth begins as a process of taking less. But in the end, it opens up whole vistas of possibility. It moves us from scarcity to abundance, from extraction to regeneration, from dominion to reciprocity, and from loneliness and separation to connection with a world that’s fizzing with life.”
Apa yang membuat visi Hickel begitu kuat adalah bahwa ia tidak meminta kita untuk berkorban demi kebaikan abstrak di masa depan. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa degrowth sebenarnya menawarkan kehidupan yang lebih baik di sini dan sekarang: lebih banyak waktu, lebih sedikit stres, hubungan yang lebih erat, komunitas yang lebih kuat, dan tujuan yang lebih bermakna. Siapa yang tidak menginginkan hal-hal itu?
Seperti ditulis pemikir Muslim Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya The Encounter of Man and Nature: “Man cannot live apart from nature, for he is himself a part of it. The destruction of the natural environment is ultimately the destruction of man himself.”
Manusia tidak bisa hidup terpisah dari alam, karena ia sendiri adalah bagian darinya; penghancuran lingkungan alam pada akhirnya adalah penghancuran manusia itu sendiri. Hickel setuju. Dan ia menawarkan jalan keluar—sebuah jalan yang tidak melalui lebih banyak pertumbuhan, tetapi melalui lebih banyak kebijaksanaan, lebih banyak keadilan, dan pada akhirnya, lebih banyak kehidupan.
“If you’re looking for transformative ideas, this book is for you.” — Kate Raworth, ekonom dan penulis Doughnut Economics
Bogor, 17 Juli 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Hickel, J. (2020). Less is more: How degrowth will save the world. William Heinemann.
Hickel, J. (n.d.). Less is more. Jason Hickel. https://www.jasonhickel.org/less-is-more
Institute and Faculty of Actuaries. (2022, February 15). Sustainability book club — Less is more: How degrowth will save the world. IFoA Blog. https://blog.actuaries.org.uk/sustainability-book-club-less-is-more-how-degrowth-will-save-the-world/
Internet Archive. (2022). Less is more: How degrowth will save the world. https://archive.org/details/lessismorehowdeg0000hick
Nasr, S. H. (1968). The encounter of man and nature: The spiritual crisis of modern man. George Allen & Unwin.
Nielsen, R. S., & Gamborg, C. (2024). The moral potential of eco-guilt and eco-shame: Emotions that hinder or facilitate pro-environmental change? Journal of Agricultural and Environmental Ethics, 37(4). https://ouci.dntb.gov.ua/en/works/4Yq0qd34/
Özdemir, I. (n.d.). Not wasting the Earth’s resources. Kabarak University. https://kabarak.ac.ke/feb/not-wasting-the-earths-resources
Saputra, D. (2025). From hadith to ecological action: Translating the prohibition of isrāf and tabzīr to build a sustainable lifestyle. Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. https://conferences.uinsaid.ac.id/sarira/paper/view/303/185
Sawai, R. P., Jaafar, N., Noah, S. M., & Krauss, S. E. (2020). Inculcating the sense of modesty (Al-Haya’) in youth from the perspectives of the Quran and Sunnah. Universiti Sains Islam Malaysia. https://oarep.usim.edu.my/server/api/core/bitstreams/85643499-a2a2-4d36-9312-a5a0363e625f/content
Transnational Institute. (2026, March 16). Grappling with growth. https://www.tni.org/es/node/13538
Yarra Plenty Regional Library. (n.d.). Less is more: How degrowth will save the world. Library Link Network. https://yarraplenty.library.link/resource/blVxU5ELZ6A






