Rubarubu #211
Building the Future:
Membangun Masa Depan sebagai Praktik Moral
Musim gugur 2008, di sebuah kota kecil bernama Paredes, tak jauh dari Porto, Portugal, seorang wali kota bernama Celso Ferreira menerima tamu yang datang dengan gagasan yang terdengar berlebihan: membangun kota baru dari nol, dengan seperempat juta penduduk, yang setiap gedung, jalan, dan salurannya dikendalikan oleh satu sistem operasi digital. Tamu itu adalah Steve Lewis, bersama rekannya Malcolm Hutchinson, pendiri sebuah start-up bernama Living PlanIT. Ferreira, yang sedang mencari cara menghidupkan kembali lahan bekas kawasan industri tekstil di kotanya, menyambut gagasan itu dan menawarkan lahan dengan syarat yang sangat lunak.
Dari pertemuan inilah lahir proyek yang kelak dikenal sebagai PlanIT Valley—sebuah kota pintar yang belum pernah dibangun dalam sejarah manusia dengan skala dan cara seperti itu. Namun kisah ini bukan sekadar anekdot pembuka. Ia adalah miniatur dari persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana manusia, dengan segala keterbatasan kelembagaan dan psikologisnya, membangun sesuatu yang melampaui kapasitas satu organisasi atau satu negara.
Kisah inilah yang menjadi jantung dari Building the Future: Big Teaming for Audacious Innovation, buku yang ditulis oleh Amy C. Edmondson—profesor kepemimpinan di Harvard Business School yang dikenal luas lewat karyanya tentang psychological safety—bersama jurnalis Susan Salter Reynolds. Dalam kata pengantar buku ini, kedua penulis menjelaskan kegelisahan intelektual yang melatarbelakanginya: dunia modern menghadapi masalah yang bersifat “audacious”—perubahan iklim, infrastruktur berkelanjutan, energi bersih, kesehatan global—namun pendekatan organisasi yang tersedia masih sering mengandalkan struktur lama: hierarki kaku, silo institusional, dan kepemimpinan komando.
Dari kegelisahan itulah lahir istilah yang menjadi judul buku ini: big teaming—kemampuan bekerja secara kolaboratif dalam skala besar, cepat, lintas disiplin, lintas organisasi, dan lintas budaya, sering kali tanpa sejarah kerja bersama sebelumnya. Bagi Edmondson dan Reynolds, big teaming bukan pilihan gaya manajemen, melainkan keniscayaan sejarah: dunia tidak lagi dapat diselamatkan atau dibangun oleh satu institusi, satu negara, atau satu disiplin ilmu. Tantangan masa depan bersifat sistemik, maka kolaborasinya pun harus sistemik. Sebagai epigraf, mereka mengutip Machiavelli, yang berabad-abad silam sudah mengingatkan betapa berbahayanya memimpin lahirnya tatanan baru—sebuah peringatan yang, seperti akan terbukti di sepanjang buku, sangat relevan bagi siapa pun yang mencoba membangun sesuatu yang benar-benar baru dari reruntuhan cara lama.
Inovasi semacam ini, oleh Edmondson dan Reynolds, diberi nama audacious innovation—inovasi yang nekat, ambisius, dan sistemik. Bedanya dengan inovasi produk yang lazim dibicarakan di dunia bisnis (aplikasi baru, gawai baru, cara baru memesan makanan) terletak pada skalanya: audacious innovation menuntut “many things that have to change in a coordinated manner” (hal. 10)—banyak hal harus berubah secara serentak dan saling terkoordinasi. Untuk menjelaskan hal ini, kedua penulis mengajak pembaca membayangkan dua inovasi yang mengubah sejarah namun kini dianggap remeh: alat-alat di dapur rumah tangga modern. Kompor gas dan lemari es tidak lahir dari satu penemuan tunggal, melainkan dari perubahan serentak pada jaringan listrik, industri manufaktur, standar keselamatan, dan kebiasaan domestik. Begitu pula membangun kota masa depan: dibutuhkan bukan satu terobosan teknologi, melainkan koordinasi dari puluhan aktor yang tidak pernah bekerja sama sebelumnya, dan sering kali tidak saling percaya.
Bab pertama, “Building the Future”, meletakkan pernyataan mendasar yang menjadi benang merah seluruh buku: masa depan tidak “datang” dengan sendirinya, melainkan dibangun secara sadar oleh manusia melalui kerja kolektif dalam kondisi ketidakpastian tinggi. Edmondson menolak narasi futuristik yang memuja teknologi semata; ia mengajak pembaca melihat masa depan sebagai hasil dari keputusan, interaksi, dan pembelajaran bersama yang berlangsung hari ini—sering kali dalam proyek besar yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan, orang yang tidak saling mengenal. Di sinilah lanskap persoalan industri properti dan konstruksi global diperkenalkan—industri yang menurut Edmondson termasuk yang paling lambat berinovasi meski dampaknya terhadap emisi karbon dan kualitas hidup manusia sangat besar. Tantangan utamanya, tegasnya, bukan kekurangan kecerdasan atau modal, melainkan ketidakmampuan manusia untuk bekerja lintas batas secara efektif.
Dari fondasi ini, bab kedua, “Glimpsing the Future”, mengajak pembaca “mengintip” masa depan bukan lewat prediksi futuristik, melainkan lewat eksperimen yang sedang berlangsung—dalam hal ini, asal-usul Living PlanIT itu sendiri: bagaimana Steve Lewis dan Malcolm Hutchinson, dua orang dengan latar belakang teknologi dan bukan konstruksi, sampai pada gagasan bahwa kota bisa dibangun seperti perangkat lunak, dengan arsitektur, protokol, dan sistem operasinya sendiri. “Glimpsing” di sini berarti belajar membaca sinyal lemah—bagaimana cara baru bekerja mulai muncul ketika aktor-aktor berbeda dipaksa bekerja bersama oleh kompleksitas masalah.
Namun Edmondson menegaskan bahwa melihat masa depan tidak berarti memahaminya sepenuhnya. Justru karena masa depan tidak dapat dipastikan, kemampuan untuk belajar bersama menjadi lebih penting daripada kemampuan untuk mengendalikan. Dalam konteks ini, kepemimpinan berubah makna: pemimpin bukan peramal, melainkan perancang kondisi agar pembelajaran kolektif dapat terjadi.
Ketegangan antara teknologi dan manusia semakin terasa pada bab ketiga, “Bits and Bytes”, tempat gagasan inti Living PlanIT dibahas lebih jauh: Urban Operating System (UOS), sebuah lapisan digital yang menghubungkan sensor-sensor di seluruh kota untuk mengelola energi, air, transportasi, dan bangunan secara real time. Di sinilah Edmondson menunjukkan kejelian yang menjadi ciri khasnya sebagai peneliti psychological safety: ia secara konsisten menghindari determinisme teknologi. Bits and bytes memang mempercepat koordinasi dan memungkinkan kolaborasi lintas jarak, tetapi teknologi hanya efektif sejauh manusia mampu menggunakannya dalam relasi yang saling percaya.
Kegagalan banyak proyek teknologi besar, tunjuk Edmondson, bukan disebabkan oleh kurangnya kecanggihan sistem, melainkan oleh ketidakmampuan tim lintas organisasi untuk berbagi informasi secara terbuka—data tidak mengalir karena ketakutan, ego institusional, atau budaya saling menyalahkan. UOS secanggih apa pun tidak akan berarti apa-apa jika insinyur perangkat lunak dan insinyur sipil tidak mau, atau tidak mampu, berbagi informasi secara jujur satu sama lain. Di sinilah big teaming menjadi jembatan antara dunia digital dan dunia manusia.
Mengapa harus Paredes, kota kecil yang nyaris tak dikenal dunia? Pertanyaan ini dijawab pada bab keempat, “Location, Location, Innovation”, plesetan dari jargon lama dunia properti “location, location, location”.
Edmondson mengingatkan bahwa inovasi selalu terjadi di suatu tempat—kota, wilayah, komunitas—dan tempat bukan sekadar latar, melainkan aktor aktif dalam proses inovasi. Kedekatan geografis, desain ruang kerja, dan ekosistem lokal memengaruhi bagaimana orang bertemu, berbagi ide, dan membangun kepercayaan. Lahan murah, wali kota yang berani mengambil risiko politik, serta jarak dari pusat-pusat kekuasaan lama justru menjadi kekuatan Living PlanIT untuk bereksperimen tanpa terlalu banyak birokrasi yang menghambat.
Kota-kota inovatif, tulis Edmondson, bukan hanya yang memiliki teknologi canggih, tetapi yang mampu menghubungkan aktor-aktor berbeda: pemerintah, swasta, universitas, komunitas warga—sebuah kritik implisit terhadap pendekatan pembangunan yang terfragmentasi, yang menjalankan proyek besar tanpa memperhatikan jaringan sosial dan budaya lokal tempat proyek itu berpijak.
Kedekatan dengan pemerintah kota inilah yang kemudian dibedah lebih jauh pada bab kelima, “Rethinking City Hall”. Sosok Celso Ferreira digambarkan sebagai figur yang harus menegosiasikan ulang perannya: dari birokrat yang biasa mengatur dan mengendalikan, menjadi fasilitator eksperimen yang hasilnya tidak dapat ia jamin sepenuhnya. City Hall—sebagai simbol pemerintahan kota—tidak lagi dapat berfungsi hanya sebagai pengatur dan pengendali.
Tantangan urban modern seperti transportasi, perumahan, energi, dan iklim terlalu kompleks untuk ditangani birokrasi secara hierarkis semata. Pemerintah yang efektif di masa depan, bagi Edmondson, adalah pemerintah yang mampu menciptakan ruang aman untuk eksperimen, dialog, dan kegagalan yang produktif—dengan kata lain, City Hall harus menjadi bagian dari learning system, bukan sekadar pusat otoritas. Jika kelima bab pembuka ini disatukan, mereka membentuk satu alur pemikiran yang konsisten: masa depan dibangun melalui kolaborasi manusia yang dimediasi oleh teknologi, berakar pada tempat, dan difasilitasi oleh institusi publik yang belajar.
Sebelum masuk lebih dalam ke persoalan manusia dan organisasi, Edmondson dan Reynolds menyisipkan jeda reflektif berjudul “A Citizen of the World”—potret tentang para profesional yang bekerja lintas negara dan lintas sistem dalam proyek ini: insinyur, arsitek, perencana kota, pemimpin proyek global, yang perlahan tidak lagi mengandalkan identitas institusional semata, melainkan mulai memandang diri mereka sebagai warga dunia. Big teaming, tunjuk kedua penulis di sini, menuntut pergeseran identitas: dari “saya mewakili organisasi X” menjadi “saya bertanggung jawab pada masa depan bersama.” Ini bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan etika kolaborasi global—gagasan yang selaras dengan pemikiran Hannah Arendt tentang responsibility for the world, maupun dengan pandangan Islam tentang amanah—bahwa manusia memikul tanggung jawab kolektif atas bumi dan sesama. Pergeseran identitas inilah yang menjadi jembatan menuju bagian paling manusiawi dari buku: siapa sebenarnya orang-orang yang berani memimpin proyek seambisius ini?
Jawabannya dimulai pada bab keenam, “Grounded Visionaries”, yang secara terang-terangan menjadikan Steve Lewis sebagai studi kasus utama sekaligus membongkar mitos visioner sebagai figur heroik yang hidup di awang-awang ide besar. Bagi Edmondson, para pembangun masa depan justru adalah visionaries who stay grounded—orang-orang yang memiliki imajinasi jauh ke depan, tetapi kaki mereka tertanam kuat pada realitas organisasi, keterbatasan sumber daya, dan dinamika manusia sehari-hari.
Lewis digambarkan terus-menerus bergerak di antara dua kutub: imajinasi nyaris tanpa batas tentang kota masa depan, dan kenyataan pahit rapat demi rapat di ruang pertemuan Hotel Central di Paredes, tempat ia harus meyakinkan investor, birokrat, dan mitra teknis yang skeptis. Para grounded visionaries tidak mengandalkan karisma atau otoritas formal semata; mereka bekerja melalui percakapan, eksperimen kecil, dan kemampuan mendengarkan. Visi mereka tidak hadir sebagai cetak biru final, melainkan sebagai arah yang terus disesuaikan melalui pembelajaran kolektif. Dalam big teaming, visi bukan alat kontrol, melainkan undangan untuk berpartisipasi—bentuk kepemimpinan yang rendah hati secara epistemik, yang menyadari bahwa masa depan terlalu kompleks untuk dipahami oleh satu pikiran saja.
Namun visi seorang pendiri saja tidak cukup untuk mengelola organisasi yang tumbuh cepat dan menarik orang-orang dari dunia yang sangat berbeda. Bab ketujuh, “The Organization Man Revisited”, meninjau ulang figur klasik era 1950-an tentang karyawan yang loyal, patuh, dan terikat kuat pada struktur birokrasi. Dalam dunia big teaming, tipe manusia ini tidak lagi memadai: tantangan masa depan menuntut individu yang mampu berpindah peran, berkolaborasi lintas batas, dan mengambil inisiatif tanpa menunggu perintah—sebagaimana dialami anak-anak muda idealis yang bergabung dengan Living PlanIT, banyak di antaranya insinyur perangkat lunak yang terbiasa dengan ritme kerja start-up teknologi, namun kini harus bernegosiasi dengan budaya kerja mitra-mitra korporasi raksasa seperti Cisco dan Microsoft, sekaligus dengan dunia konstruksi dan real estat yang jauh lebih konservatif, seperti diwakili perusahaan teknik BuroHappold atau pengembang properti Quintain.
Meski demikian, Edmondson tidak merayakan individualisme bebas nilai. Ia menunjukkan ketegangan nyata antara kebutuhan akan stabilitas organisasi dan kebutuhan akan fleksibilitas. Organization man tidak sepenuhnya mati; ia berevolusi. Yang dibutuhkan adalah organisasi yang memungkinkan loyalitas ganda—pada institusi dan pada misi bersama lintas institusi. Individu masa depan adalah mereka yang mampu menjaga integritas profesional sambil tetap adaptif dalam jaringan kerja sementara.
Ketika individu dan organisasi bergerak lintas batas, benturan tak terelakkan muncul. Bab kedelapan, “Confronting Culture Clash”, menggambarkan dengan tajam bagaimana kolaborasi besar sering kali gagal bukan karena perbedaan tujuan, melainkan karena perbedaan budaya kerja yang tidak diakui. Budaya di sini bukan sekadar nilai abstrak, melainkan kebiasaan konkret: cara mengambil keputusan, menafsirkan waktu, mengelola konflik, dan mendefinisikan keberhasilan. Contoh paling tajam datang dari insinyur Formula 1 di McLaren Electronic Systems, yang terbiasa dengan presisi milidetik dan iterasi cepat, harus duduk satu meja dengan kontraktor bangunan yang mengukur waktu proyek dalam hitungan tahun dan toleransi risiko dalam skala yang sama sekali berbeda. Edmondson menolak pendekatan yang menganggap budaya sebagai hambatan yang harus “diperbaiki”.
Sebaliknya, ia melihat culture clash sebagai sinyal penting dari keberagaman perspektif. Tantangan kepemimpinan bukan meniadakan perbedaan, melainkan menciptakan ruang aman di mana perbedaan dapat dinegosiasikan. Dalam big teaming, keberhasilan justru lahir ketika ketegangan budaya dikelola sebagai sumber pembelajaran, bukan ancaman terhadap harmoni semu.
Namun pembelajaran dan budaya tidak berlangsung dalam ruang hampa. Di balik semua kolaborasi, selalu ada kekuasaan dan pengaruh. Bab kesembilan, “Balancing Influence and Innovation”, menutup rangkaian ini dengan refleksi kritis tentang bagaimana inovasi besar membutuhkan pengaruh, tetapi pengaruh yang berlebihan dapat mematikan inovasi itu sendiri. Dalam kasus Living PlanIT, dilema ini terasa nyata: investor, pemerintah kota, dan mitra teknologi masing-masing memiliki kepentingan dan otoritas yang tumpang tindih, dan mereka yang memiliki otoritas sering kali paling mampu menggerakkan sumber daya, tetapi juga paling berisiko menciptakan ketakutan dan kepatuhan pasif.
Dalam konteks ini, kepemimpinan masa depan bukan soal menghilangkan kekuasaan, melainkan menggunakannya secara cermat dan etis. Pengaruh perlu diarahkan untuk membuka ruang eksperimen, bukan menutupnya; inovasi membutuhkan perlindungan dari tekanan politik, target jangka pendek, dan logika reputasi. Pemimpin big teaming adalah mereka yang mampu menahan diri—menggunakan pengaruhnya untuk memperkuat suara kolektif, bukan menenggelamkannya.
Sepanjang perjalanan proyek ini pula, para pemimpinnya dan mitra-mitranya melewati apa yang oleh penulis digambarkan sebagai “cycles of hope, exhaustion, disillusionment, pragmatism, and renewal”—siklus harapan, kelelahan, kekecewaan, pragmatisme, dan kebangkitan kembali yang berulang, sebuah pola emosional yang menurut Edmondson khas dari setiap upaya membangun sesuatu yang benar-benar baru. Jika disatukan, Bab 6 hingga 9 membentuk narasi tentang transformasi manusia dan organisasi dalam menghadapi kompleksitas masa depan: masa depan tidak dibangun oleh visi abstrak, struktur lama, atau teknologi semata, melainkan oleh visioner yang membumi, individu organisasi yang berevolusi, kemampuan menghadapi benturan budaya secara dewasa, dan keseimbangan etis antara pengaruh dan inovasi.
Dalam epilog, “What the Future Holds”, Amy Edmondson tidak menawarkan ramalan teknologis atau skenario futuristik yang spekulatif. Ia justru melakukan sesuatu yang lebih sulit dan lebih jujur: menempatkan masa depan sebagai tanggung jawab kolektif yang sedang berlangsung. Masa depan, dalam kerangka Building the Future, bukan sesuatu yang “akan datang” dengan sendirinya, melainkan sesuatu yang dibangun—pelan, rapuh, dan melalui kerja sama lintas batas yang terus-menerus.
Nada epilog ini konsisten dengan seluruh buku: rendah hati secara epistemik, namun tegas secara etis. Dunia, tegas Edmondson, sedang bergerak ke arah tantangan yang semakin interdependent: perubahan iklim, urbanisasi masif, krisis kesehatan global, ketimpangan sosial, dan disrupsi teknologi. Tidak satu pun dari masalah ini dapat diselesaikan oleh satu organisasi, satu negara, atau satu disiplin.
Pembaca yang menelusuri riwayat PlanIT Valley setelah buku ini terbit akan menemukan kenyataan pahit: kota impian seluas itu pada akhirnya tidak pernah selesai dibangun sesuai visi awalnya. Namun kenyataan ini, alih-alih membatalkan tesis buku, justru menegaskannya—audacious innovation memang setinggi itu risikonya, dan kegagalan sebagian dari suatu visi besar bukan bukti bahwa upaya big teaming itu sia-sia, melainkan bukti betapa sulitnya benar-benar mengoordinasikan begitu banyak aktor, kepentingan, dan ketidakpastian sekaligus.
Bab demi bab sebelumnya—dari kota sebagai laboratorium masa depan, teknologi sebagai enabler, birokrasi publik, manusia organisasi, benturan budaya, hingga dinamika kekuasaan—semuanya bermuara pada satu kesimpulan: kapasitas kita untuk belajar bersama lebih menentukan masa depan dibanding kecanggihan teknologi itu sendiri. Kegagalan terbesar, tunjuk Edmondson, justru terjadi ketika inovasi tidak disertai dengan keamanan psikologis, kepercayaan lintas institusi, dan kepemimpinan yang berani membuka ruang ketidaktahuan.
Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk berkata “kita belum tahu, mari kita pelajari bersama” menjadi kompetensi strategis. Epilog ini juga mengikat kembali gagasan tentang kepemimpinan non-heroik yang tersebar di seluruh buku: masa depan tidak membutuhkan pahlawan tunggal, melainkan arsitek sosial—pemimpin, profesional, dan warga yang mampu menjembatani perbedaan, mengelola konflik produktif, dan menahan godaan kontrol berlebihan. Inilah kepemimpinan yang tidak memonopoli pengaruh, tetapi mendistribusikannya, agar inovasi dapat tumbuh dari banyak arah.
Relevansi bagi Krisis Keberlanjutan Global
Buku ini sangat relevan dengan krisis keberlanjutan planet. Perubahan iklim, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan adalah contoh klasik tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu aktor tunggal. Big teaming menawarkan kerangka praktis sekaligus etis untuk kolaborasi lintas negara dalam proyek iklim dan energi bersih, integrasi pengetahuan ilmiah, lokal, dan kebijakan publik, serta pengelolaan risiko dan ketidakpastian dalam inovasi hijau. Edmondson secara implisit menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, melainkan soal cara manusia bekerja bersama.
Bagi siapa pun yang bekerja di ranah keberlanjutan—penilaian HCV, kepatuhan FSC dan RSPO, atau program transisi energi—kisah Living PlanIT terasa akrab meski settingnya jauh berbeda. Proyek karbon, sertifikasi rantai pasok, atau rehabilitasi lanskap gambut sama-sama menuntut koordinasi lintas aktor yang tidak pernah bekerja bersama sebelumnya: perusahaan, pemerintah daerah, masyarakat adat, ilmuwan, dan lembaga sertifikasi internasional, masing-masing dengan bahasa, ritme kerja, dan definisi keberhasilan yang berbeda. Big teaming, dalam pengertian Edmondson, bukan sekadar metafora manajemen, melainkan kerangka kerja yang sangat konkret untuk memahami mengapa begitu banyak proyek keberlanjutan berskala besar berjalan lambat atau macet di tengah jalan—bukan karena kekurangan dana atau teknologi, melainkan karena kegagalan membangun kepercayaan lintas batas kelembagaan.
Dalam konteks Indonesia, gagasan big teaming sangat relevan di negeri kepulauan ini. Indonesia menghadapi tantangan besar: deforestasi, transisi energi, ketimpangan wilayah, dan urbanisasi cepat. Semua ini menuntut kolaborasi lintas kementerian, swasta, komunitas lokal, akademisi, dan masyarakat adat. Tradisi gotong royong pada dasarnya adalah bentuk kuno dari big teaming kultural—kerja bersama lintas kepentingan demi tujuan yang melampaui kepentingan individu.
Namun buku ini menjadi pengingat bahwa gotong royong tradisional, yang biasanya beroperasi dalam skala komunitas yang saling kenal, perlu dilengkapi dengan struktur pembelajaran formal, kepemimpinan adaptif, dan keamanan psikologis, agar mampu beroperasi dalam skala proyek nasional dan global yang melibatkan aktor-aktor asing dan birokrasi berlapis—sebagaimana dialami sehari-hari dalam proyek HCV-HCS, program smallholder inclusion, atau kemitraan dekarbonisasi rantai pasok sawit.
Resonansi dengan Pemikir Lain
Gagasan Edmondson bergema dengan banyak pemikir lintas tradisi: John Dewey, yang memandang pembelajaran sebagai proses sosial, bukan aktivitas individual; Paulo Freire, dengan dialog sebagai dasar transformasi; Elinor Ostrom, dalam pengelolaan sumber daya bersama, yang menunjukkan bahwa sumber daya kolektif dapat dikelola tanpa jatuh pada “tragedy of the commons” jika institusi lokalnya dirancang dengan baik; Peter Senge, tentang learning organizations; serta Fritjof Capra, tentang sistem hidup dan jaringan kolaborasi. Dalam tradisi Islam, konsep syura (musyawarah) dan ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan) menegaskan hal yang sama: bahwa kerja besar hanya sah dan berkelanjutan jika dijalankan melalui musyawarah lintas perbedaan, bukan komando sepihak.
Buku Edmondson juga sepatutnya dibaca berdampingan dengan kritik-kritik atas gerakan smart city itu sendiri—termasuk pertanyaan yang diajukan sejumlah peneliti urban tentang siapa sesungguhnya yang diuntungkan ketika sebuah kota dirancang dari atas oleh perusahaan teknologi, bukan tumbuh dari kebutuhan warganya. Ketegangan itu, secara tersirat, justru hadir dalam kisah PlanIT Valley sendiri—antara visi teknokratis Living PlanIT dan realitas politik-ekonomi kota Paredes yang jauh lebih rumit daripada sekadar lahan kosong yang siap dibangun. Semua ini menegaskan bahwa big teaming bukan sekadar teknik manajemen, melainkan cara baru menjadi manusia di dunia yang saling terhubung.
Catatan Akhir: Membangun Masa Depan sebagai Praktik Moral
Secara menyeluruh, Building the Future dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap cara lama membangun organisasi dan dunia. Edmondson menunjukkan bahwa model hierarkis, silo institusional, dan budaya “know-it-all” tidak lagi memadai. Tantangan masa depan menuntut organisasi pembelajar lintas batas—organisasi yang mampu berkolaborasi secara sementara namun intens, mengintegrasikan pengetahuan teknis dan lokal, mengelola ketegangan budaya tanpa menyingkirkannya, dan menggunakan kekuasaan untuk membuka, bukan menutup, kemungkinan. Dalam konteks ini, big teaming bukan sekadar strategi inovasi, tetapi etika kerja sama. Ia menuntut keberanian untuk rentan, kesediaan untuk gagal secara cerdas, dan komitmen pada tujuan bersama yang melampaui kepentingan jangka pendek.
Kisah Living PlanIT dan PlanIT Valley menjadi cermin yang jujur atas semua itu: penuh kemenangan kecil, kesalahpahaman, negosiasi alot, dan harapan yang berulang kali diuji. Edmondson dan Reynolds tidak mengidealkan kolaborasi sebagai solusi ajaib. Mereka menunjukkan bahwa big teaming adalah kerja yang melelahkan, penuh gesekan, dan tidak pernah benar-benar selesai—namun justru di situlah letak harapannya. Dalam dunia yang dihadapkan pada krisis keberlanjutan—iklim, kesehatan, pangan, energi—pesan Edmondson menjadi semakin relevan.
Organisasi masa depan, baik perusahaan, pemerintah, maupun komunitas sipil, tidak cukup hanya menjadi efisien; mereka harus menjadi inklusif secara kognitif dan bertanggung jawab secara sosial. Bagi perusahaan, ini berarti bergeser dari inovasi tertutup menuju ekosistem kolaboratif. Bagi negara dan kota, ini berarti memandang warga bukan sebagai objek kebijakan, melainkan mitra pembelajaran. Dan bagi masyarakat global, ini berarti mengakui bahwa tidak ada solusi universal—hanya proses bersama yang terus diperbaiki.
Building the Future pada akhirnya adalah buku tentang harapan yang bersyarat. Ia tidak mengidealkan kolaborasi, tetapi menunjukkan bahwa masa depan hanya dapat dibangun melalui kerja bersama yang sadar, reflektif, dan berani belajar dari kegagalan—bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan belajar hidup dan bekerja di dalamnya. Dalam dunia yang terancam krisis ekologis dan sosial, big teaming bukan hanya strategi inovasi, melainkan praktik moral global: cara kita memilih untuk hidup dan bekerja bersama di planet yang rapuh ini. Bagi siapa pun yang tengah merancang kolaborasi lintas lembaga untuk isu keberlanjutan, forestri sosial, atau transisi energi, buku ini menawarkan bukan resep instan, melainkan peta moral bagi dunia yang sedang belajar membangun ulang dirinya sendiri.
Bogor, 12 Agustus 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Edmondson, A. C., & Reynolds, S. S. (2016). Building the future: Big teaming for audacious innovation. Berrett-Koehler Publishers.
Edmondson, A. C. (2018). The fearless organization: Creating psychological safety in the workplace for learning, innovation, and growth. Wiley.
Eccles, R. G., Edmondson, A. C., Thyne, S., & Zuzul, T. (2010). Living PlanIT (Harvard Business School Case No. 9-410-081). Harvard Business School Publishing.
Hong, J. (2020). Building the future: Big teaming for audacious innovation [Book review]. The Learning Organization, 27(5), 473–474. https://doi.org/10.1108/TLO-07-2020-257
Capra, F., & Luisi, P. L. (2014). The systems view of life: A unifying vision. Cambridge University Press.
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge University Press.
Senge, P. M. (2006). The fifth discipline: The art & practice of the learning organization. Doubleday.
Townsend, A. M. (2013). Smart cities: Big data, civic hackers, and the quest for a new utopia. W. W. Norton & Company.
Arendt, H. (1958). The human condition. University of Chicago Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Continuum.
Dewey, J. (1938). Experience and education. Kappa Delta Pi.






