Rubarubu #190
Velopedia:
Tentang Bersepeda dalam 101 Infografik
Membaca buku ini seperti berjalan menyusuri sebuah galeri seni modern. Tetapi alih-alih lukisan abstrak atau patung kontroversial, dinding-dindingnya dipenuhi oleh fakta-fakta mencengangkan tentang dunia balap sepeda. Ada grafik tentang kumis paling ikonik di peleton, peta tentang serangan solo terpanjang dalam sejarah Tour de France, dan diagram yang menjelaskan berapa banyak pesepeda profesional yang dibutuhkan untuk menyalakan alat pemanggang roti (jawabannya: tiga orang, jika mereka mengayuh dengan kekuatan penuh). Inilah pengalaman membaca Velopedia: The Infographic Book of Cycling karya Robert Dineen, sebuah buku yang diterbitkan oleh Aurum Press pada tahun 2018. Ini bukan sekadar buku, melainkan sebuah galeri pengetahuan.
Robert Dineen bukanlah nama yang asing di dunia jurnalisme olahraga. Sebagai jurnalis Daily Telegraph, ia telah menulis buku-buku tentang legenda balap sepeda Inggris, Reg Harris, dan Kings of the Road yang masuk daftar panjang William Hill Sports Book of the Year . Namun dalam Velopedia, Dineen mengambil peran yang berbeda. Ia bukan lagi penulis naratif yang mengalunkan prosa panjang, melainkan seorang kurator—seorang pengumpul fakta-fakta unik, rekor-rekor aneh, dan cerita-cerita di balik layar yang kemudian ia sajikan dalam bentuk infografik yang penuh warna dan sangat mudah dicerna.
Kekuatan Visual: Ketika Angka dan Cerita Berpadu
Ada sebuah kebijaksanaan lama yang mengatakan bahwa “sebuah gambar bernilai seribu kata.” Dalam dunia bersepeda, yang seringkali penuh dengan statistik rumit, nama-nama asing, dan taktik yang membingungkan, klise itu menjadi kenyataan. Velopedia dengan cemerlang memanfaatkan kekuatan visual. Ia menyajikan data yang biasanya membosankan—seperti daftar pemenang Tour de France atau perbandingan detak jantung pesepeda saat istirahat dan saat berpacu—dalam bentuk diagram, grafik, dan ilustrasi yang menarik mata.
Apa yang membuat buku ini begitu istimewa adalah jangkauannya yang luas sekaligus mendetail. Ia membahas hampir setiap aspek balap sepeda jalan raya: sejarah, lanskap balapan, para bintang, perlombaan, dan teknologi. Dari era Victoria hingga masa modern, Dineen meliputnya dengan cakupan yang mengesankan.
Bayangkan membuka halaman yang didedikasikan untuk evolusi sepeda balap dari tahun 1868 hingga 2015. Anda tidak perlu membaca paragraf panjang tentang bagaimana rangka baja beralih ke aluminium lalu ke serat karbon. Cukup dengan melihat ilustrasi yang elegan, Anda bisa melihat bagaimana bentuk sepeda berubah, bagaimana posisi pengendara berubah, dan bagaimana teknologi perlahan-lahan mengubah olahraga ini.
Atau bayangkan Anda sedang membaca tentang Beryl Burton, seorang pembalap wanita asal Inggris yang prestasinya mungkin lebih impresif daripada kebanyakan bintang pria. Velopedia menyajikan grafik yang menunjukkan jumlah gelar nasional dan dunianya. Melihat deretan panjang kemenangan itu—ditampilkan secara visual—akan membuat Anda terdiam, kagum pada prestasi seorang wanita yang seharusnya jauh lebih terkenal dari saat ini.
Menguak Fakta yang Tidak Biasa
Dineen tidak hanya menyajikan statistik kering tentang kecepatan dan jarak. Ia menyelami sisi humaniora dari olahraga ini. Ada infografik tentang kumis dan potongan rambut peleton yang paling mencolok, tentang kostum tim yang paling aneh, dan tentang tato terbaik dan terburuk di dunia balap sepeda . Ada halaman yang membahas tentang “punch-up” terkenal—pertengkaran fisik antara pembalap yang menjadi legenda urban di kalangan penggemar. Ada juga bagian tentang julukan paling aneh di peleton, serta tentang pembalap tertua dan termuda yang pernah mengikuti Tour de France.
Velopedia mengajarkan kita bahwa olahraga bukan hanya tentang siapa yang tercepat, tetapi juga tentang siapa yang paling berwarna. Ini adalah pelajaran bahwa dalam mengejar kecepatan dan efisiensi, kita tidak boleh kehilangan sisi manusiawi kita—sisi yang suka tertawa, terkejut, dan kadang bingung dengan tingkah laku Idola kita.
Para pencipta buku ini juga memiliki selera humor yang cerdas. Siapa yang tidak akan menikmati grafik bagus yang didedikasikan untuk rambut wajah yang menonjol di peleton profesional? Kemudian ada spread yang menjawab pertanyaan yang tak terduga: berapa banyak pembalap pro yang dibutuhkan untuk menyalakan pemanggang roti (800 Watt)? Jawabannya: tiga. Anda juga bisa menghibur teman dengan fakta bahwa pengering pakaian membutuhkan energi dari sembilan pembalap pro untuk berfungsi.
Lebih dari Sekadar Hobi: Infografik sebagai Guru
Buku ini terdiri dari 192 halaman, penuh dengan peta, bagan, dan ilustrasi potret . Ada 101 infografik, yang masing-masing dapat dibaca secara independen. Anda bisa membuka halaman tentang Tanjung Fréjus, mempelajari tentang klasifikasi ras UCI, lalu melompat ke halaman tentang tim kontroversial, dan berakhir di halaman tentang “Stage Winners Who Never Wore Yellow.”
Velopedia adalah jenis buku yang sempurna untuk diletakkan di meja kopi. Seseorang yang tidak tertarik pada balap sepeda pun akan tertarik dengan desainnya yang indah. Seseorang yang baru mulai mengenal olahraga ini akan mendapatkan pelajaran singkat yang mudah diingat. Bahkan para penggemar berat—mereka yang bisa menyebutkan nama semua pemenang Tour de France sejak 1903—akan menemukan informasi baru, fakta-fakta dari sudut pandang yang terlupakan atau statistik yang jarang disorot.
Tentu ada kritik kecil. Ulasan di PezCycling News mencatat beberapa kesalahan teks minor, seperti menyebut penyelenggara Tour de France sebagai “ASOS” alih-alih ASO, atau mengklaim Maurice Garin sebagai pemenang Tour lima kali padahal ia hanya memenangkan edisi 1903. Namun kesalahan-kesalahan editorial kecil ini tidak mengurangi nilai luar biasa dari buku ini secara keseluruhan. Buku ini tetap menjadi “kesenangan luar biasa untuk sekadar dibaca-baca” (enormous pleasure to simply browse through).
Menemukan Sepeda: Dari Sejarah ke Masa Depan
Meskipun gaya penyajiannya ringan dan visual, Velopedia secara tidak langsung menyentuh narasi besar tentang perjalanan sepeda itu sendiri. Ia merayakan evolusi teknologi: dari sepeda “penny-farthing” beroda besar yang berbahaya, hingga sepeda balap modern dengan rangka serat karbon yang ringan bagaikan bulu . Ia mencatat bahwa sepeda adalah hasil dari proses panjang eksperimen manusia: pedal ditemukan pada tahun 1863, ban karet dikembangkan, dan perlahan-lahan, kendaraan sederhana ini menjadi mesin efisiensi yang sempurna.
Tahun 2026: Dunia Berputar di Atas Dua Roda
Di tahun 2026, ketika kita membaca buku ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang berkecamuk di Ukraina dan Gaza. Krisis energi global membuat harga BBM melambung tinggi. Polusi udara di kota-kota besar Jakarta, Delhi, dan Beijing, semakin mencekik. Dan di tengah semua kekacauan itu, suara mesin mobil listrik yang “ramah lingkungan” pun terdengar terlalu mahal dan rumit. Lalu, ke mana manusia kembali melirik?
Mereka kembali ke sepeda. Bukan karena nostalgia, tetapi karena kebutuhan. Seperti yang tercatat dalam laporan The Economist dan Kompas.id, pandemi Covid-19 menjadi titik balik besar. Ketika transportasi umum lumpuh dan orang-orang takut berkumpul di dalam ruangan, jutaan orang di seluruh dunia kembali mengayuh pedal. Kebiasaan yang lahir dari keterpaksaan itu ternyata bertahan. Di Montreal, jalan Saint Denis berubah menjadi sungai pesepeda. Di Paris, Wali Kota Anne Hidalgo secara radikal mengubah wajah kota dengan membangun jalur sepeda dan menyebutnya sebagai soal “keadilan ruang.” Di Beijing, sepeda listrik telah menggantikan mobil sebagai raja jalanan, dengan jarak tempuh harian yang setara dengan 300 kali putaran bumi.
Di Indonesia, meskipun tren bersepeda sempat meredup setelah pandemi, kesadaran akan potensinya sebagai solusi kemacetan dan polusi mulai menggeliat . Para aktivis dan pegiat perkotaan mendorong pemerintah untuk menyediakan infrastruktur yang aman, karena “jika jalur sepeda dibangun dengan baik dan sistemnya bisa bersaing dengan mobil, sepeda bisa menjadi solusi kemacetan.”
Di tengah “godaan serba cepat” dan mobilitas canggih, sepeda menawarkan sebuah narasi tandingan: narasi tentang slow living. Ini bukan lagi sekadar alat olahraga bagi para atlet dengan paha kekar yang digambarkan dalam Velopedia. Ini adalah alat perjuangan bagi warga kota yang ingin bernapas lega, bagi anak-anak yang ingin sekolah dengan selamat, dan bagi generasi muda yang ingin melawan krisis iklim.
Hikmah dari Halaman Infografik untuk Dunia yang Bergerak Cepat
Apa yang bisa kita petik dari buku yang penuh dengan kumis aneh dan fakta about alat pemanggang roti ini untuk kehidupan di 2026?
Pertama, bahwa “pengetahuan adalah kekuatan, tetapi visualisasi pengetahuan adalah akseleratornya.” Velopedia mengajarkan kita bahwa data yang rumit sekalipun bisa dipahami jika disajikan dengan sederhana dan menarik. Dalam dunia yang dibanjiri informasi, kemampuan untuk menyaring, merangkum, dan menyajikan data dengan jujur adalah keterampilan bertahan hidup.
Kedua, bahwa kebesaran sering hadir dalam bungkusan yang eksentrik. Dari kumis Djamolidin Abduzhaparov hingga julukan aneh para pembalap, buku ini merayakan keunikan. Ia mengingatkan kita bahwa di balik angka dan rekor, ada manusia-manusia dengan karakter dan cerita. Dalam mendesain kota atau kebijakan transportasi, kita tidak boleh melupakan “manusia” di balik “mobilitas”.
Ketiga, bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil. Albert Einstein, dalam sepucuk surat untuk putranya, pernah menuliskan sebuah analogi terkenal: “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving” (Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kamu harus terus bergerak) . Analogi ini bukan hanya tentang fisika. Ia adalah filosofi tentang ketahanan. Di tengah krisis, satu-satunya cara untuk tidak jatuh adalah dengan terus mengayuh, meskipun pelan, meskipun di tanjakan yang curam.
Velopedia, dalam gayanya yang ringan dan menghibur, sebenarnya adalah sebuah bukti bahwa perjalanan sepeda—baik sebagai olahraga, profesi, maupun mobilitas—adalah sebuah perayaan akan kemampuan manusia untuk bergerak, beradaptasi, dan bertahan. Ia merayakan teknologi, tetapi ia juga merayakan kegilaan dan hasrat.
Kembali ke quote Einstein tadi, dalam konteks tahun 2026, “bergerak” berarti beralih dari mobil ke sepeda. “Bergerak” berarti mendesak pemerintah untuk membangun jalur sepeda yang aman. “Bergerak” berarti memilih untuk tidak menyumbang pada kemacetan dan polusi.
Pada akhirnya, Velopedia adalah atlas bagi mereka yang ingin menjelajahi dunia balap sepeda. Namun, ia juga adalah buku mimpi bagi mereka yang percaya bahwa dunia bisa berubah—menjadi lebih lambat, lebih tenang, dan lebih ramah—hanya dengan mengayuh.
Ada sebuah adegan dalam sejarah yang mungkin sulit kita bayangkan sekarang: seorang pria dengan kumis tebal dan topi tinggi, duduk di atas roda depan yang tingginya hampir mencapai dadanya, sementara roda belakangnya hanya seukuran roda sepeda anak-anak. Ia berusaha menjaga keseimbangan, berharap tidak terjungkal ke depan saat ia mengayuh. Inilah penny farthing, nenek moyang sepeda modern yang paling berbahaya sekaligus paling ikonik. Dalam bagian “The Evolution of the Racing Bike,” Robert Dineen membawa kita menyaksikan perjalanan panjang transformasi sepeda—dari benda yang hampir tidak bisa dikendalikan hingga menjadi “model rekayasa aerodinamika” yang kita kenal sekarang.
Dineen tidak menulis paragraf panjang tentang sejarah teknologi. Sebagai gantinya, ia menyajikan ilustrasi yang elegan, yang menunjukkan bagaimana bentuk sepeda berubah dari tahun ke tahun. Kita melihat bagaimana pedal ditemukan pada tahun 1863, bagaimana ban karet dikembangkan, bagaimana rangka baja mulai digantikan oleh aluminium, dan pada akhirnya, bagaimana serat karbon—yang ringan bagaikan bulu tetapi kuat seperti baja—merevolusi olahraga balap . Setiap perubahan, dalam infografik Dineen, bukanlah sekadar inovasi teknis, tetapi juga perubahan dalam cara manusia bergerak, dalam cara pesepeda duduk, menunduk, dan memotong angin.
Dari penny farthing hingga sepeda balap modern, perjalanan ini adalah cerminan dari semangat manusia yang tidak pernah puas dengan kecepatan yang sudah ada, yang terus mencari cara untuk melesat lebih cepat dengan tenaga yang sama. Namun di balik semangat itu, ada juga ironi: semakin canggih sepeda, semakin jauh ia dari jangkauan orang biasa. Sepeda balap modern dengan rangka serat karbon harganya bisa setara dengan mobil bekas. Pertanyaannya kemudian: apakah kemajuan teknologi selalu berarti kemajuan aksesibilitas?
Tidak ada yang lebih identik dengan balap sepeda selain Tour de France. Namun tahukah Anda berapa banyak roti yang dikonsumsi peleton dalam satu Tour? Atau berapa banyak jersey kuning yang pernah berganti pemilik dalam satu edisi? Dalam “Tour de France by Numbers,” Dineen mengubah statistik yang biasanya membosankan menjadi sebuah permainan angka yang memukau (Dineen, 2018, “Tour de France by Numbers”).
Ia menyajikan grafik tentang jarak tempuh total, jumlah tanjakan, dan kecepatan rata-rata pemenang dari tahun ke tahun. Kita melihat bahwa balapan yang dulu ditempuh dengan kecepatan 25 km/jam kini melesat di atas 40 km/jam. Teknologi, latihan, dan nutrisi telah mengubah manusia biasa menjadi mesin pengayuh yang hampir tidak masuk akal. Namun Dineen juga menyoroti aspek manusiawi: berapa banyak pesepeda yang tidak pernah menyelesaikan Tour, berapa banyak yang jatuh, berapa banyak yang menangis di pinggir jalan karena kelelahan. Angka-angka itu tidak dingin; ia adalah cerita tentang penderitaan dan kemenangan yang sangat manusiawi (Dineen, 2018, “Tour de France by Numbers”).
Permainan Kekuatan: Berapa Banyak Pesepeda untuk Menyalakan Pengering Pakaian?
Salah satu infografik yang paling tidak biasa—dan paling menghibur—dalam buku ini adalah “Power Game.” Dineen bertanya: berapa banyak pesepeda profesional yang dibutuhkan untuk menyalakan alat-alat rumah tangga? Jawabannya, ternyata, lucu sekaligus mengagumkan. Sebuah pengering pakaian (800 watt) membutuhkan tiga pesepeda yang mengayuh dengan kekuatan penuh. Sebuah pemanggang roti (800-1500 watt) juga membutuhkan tiga hingga enam pesepeda. Dan jika Anda ingin menyalakan ketel listrik (2000-3000 watt), Anda perlu delapan hingga dua belas atlet yang sedang dalam performa terbaik mereka.
Infografik ini, meskipun terkesan main-main, sebenarnya menyentuh isu yang sangat serius: tentang energi, tentang efisiensi, dan tentang betapa borosnya kita sehari-hari. Tiga pesepeda elite—yang telah berlatih bertahun-tahun, yang paru-parunya seperti bellows, yang otot pahanya sebesar batang pohon—hanya bisa menghasilkan cukup energi untuk menyalakan sebuah alat yang kita gunakan tanpa berpikir setiap pagi. Infografik ini adalah pengingat yang halus namun kuat bahwa energi tidak datang dengan sendirinya, dan bahwa kita mungkin perlu lebih menghargai setiap kilowatt yang kita gunakan (Dineen, 2018, “Power Game”).
Rekor satu jam: balapan melawan waktu yang paling murni. Dalam “The Hour Record,” Dineen membahas salah satu disiplin balap sepeda yang paling sederhana namun paling brutal. Tidak ada lawan, tidak ada taktik tim, tidak ada bantuan angin dari peleton. Hanya satu pesepeda, satu lintasan, satu jam, dan pertanyaan: seberapa jauh ia bisa melaju? Rekor ini telah dipecahkan berkali-kali, tetapi yang menarik bagi Dineen bukanlah angkanya, melainkan cerita di balik angka itu. Ia bercerita tentang para pembalap yang jatuh pingsan setelah melewati garis finis, tentang mereka yang menangis karena gagal mencapai target, dan tentang mereka yang, meskipun telah mencapai rekor, merasa bahwa mereka bisa lebih baik.
Rekor satu jam adalah metafora untuk kehidupan itu sendiri. Kita tidak berlomba melawan orang lain; kita berlomba melawan waktu, melawan batasan kita sendiri, melawan suara di kepala yang berbisik bahwa kita sudah cukup dan boleh berhenti. Hanya mereka yang bisa mengabaikan bisikan itu yang mencapai keabadian.
Tim-Tim dunia, diet juara, dan ikon-ikon yang menginspirasi. Dineen kemudian memperkenal-kan kita kepada “The World Tour Teams“—tim-tim elite yang menghiasi balapan-balapan terbesar di dunia. Ia menyajikan infografik tentang logo, warna kostum, dan sponsor utama setiap tim. Bagi penggemar berat, ini adalah lembar contekan yang berguna. Namun bagi pembaca biasa, ini adalah pengingat bahwa balap sepeda adalah olahraga tim—bahwa di balik seorang pemenang yang mengangkat tangan di garis finis, ada delapan orang lain yang telah mengorbankan peluang mereka sendiri untuk membantunya mencapai sana.
Dalam “Diets of Champions,” ia membuka dapur para atlet. Apa yang dimakan oleh pesepeda yang harus membakar 6.000 kalori dalam sehari? Jawabannya: hampir apa saja, tetapi dengan perhitungan yang cermat. Dineen menyajikan grafik tentang karbohidrat, protein, lemak, dan waktu makan yang tepat. Ia juga menyertakan peringatan bahwa apa yang bekerja untuk atlet elite belum tentu baik untuk Anda dan saya yang hanya bersepeda santai di akhir pekan. Diet juara adalah tentang presisi, bukan tentang kelimpahan (Dineen, 2018, “Diets of Champions”) .
Kemudian ada “ICON: Beryl Burton”—sebuah penghormatan kepada pembalap wanita asal Inggris yang prestasinya mungkin lebih impresif daripada kebanyakan bintang pria (Dineen, 2018, “ICON: Beryl Burton”). Dineen menyajikan grafik yang menunjukkan jumlah gelar nasional dan dunianya, dan terkesima pada prestasi seorang wanita yang pada tahun 1967 memecahkan rekor 12 jam untuk pria sekaligus wanita. Ia adalah bukti bahwa kehebatan tidak mengenal gender.
Giro Italia dalam angka dan jambang paling terawat. Tidak hanya Tour de France yang mendapat perhatian. “Giro d’Italia by Numbers” adalah dedikasi untuk balapan besar Italia yang penuh dengan drama dan keindahan. Dineen menyajikan fakta-fakta tentang tanjakan-tanjakan ikonik, tentang para pemenang yang paling berwarna, dan tentang bagaimana Giro seringkali lebih sulit dan tidak terduga daripada Tour.
Kemudian, dalam bagian yang paling lucu sekaligus aneh, “A Cut Above” didedikasikan untuk kumis dan jambang peleton yang paling ikonik (Dineen, 2018, “A Cut Above”). Dari kumis tebal para pembalap era 1970-an hingga jambang rapi para bintang modern, Dineen dengan serius membahas facial hair dan menghubungkannya dengan kepribadian di baliknya. Ini adalah pengingat bahwa di balik angka dan rekor, ada manusia-manusia dengan selera humor dan gaya yang unik.
“The Height of Ambition” membawa kita ke puncak-puncak tertinggi Grand Tours (Dineen, 2018, “The Height of Ambition”). Dineen menyajikan peta dan grafik tentang tanjakan-tanjakan yang paling tinggi, paling curam, dan paling ditakuti. Ia tidak hanya menyebutkan namanya, tetapi juga menceritakan legenda di baliknya: tentang salju yang turun di bulan Juli, tentang pembalap yang menangis di puncak, dan tentang penonton yang berdesakan di pinggir jalan (Dineen, 2018, “The Height of Ambition”).
‘Major’ Taylor: sang ikonoklas pertama. Bagian ini ditutup dengan penghormatan kepada “Major Taylor,” sprinter Afrika-Amerika yang pada puncaknya menjadi salah satu pembalap paling terkenal di dunia, tetapi kemudian dilupakan karena warna kulitnya (Dineen, 2018, “‘Major’ Taylor”). Dineen menyajikan infografik tentang kariernya yang cemerlang, tentang rekor-rekor yang ia pecahkan, dan tentang rasisme yang ia hadapi setiap hari. Major Taylor adalah ikonoklas—ia menghancurkan patung-patung prasangka dengan kecepatan dan ketekunannya. Ceritanya adalah pengingat bahwa olahraga tidak pernah netral, bahwa ada politik dan ketidakadilan di balik setiap garis finis, dan bahwa para juara sejati adalah mereka yang tetap bertahan meskipun dunia menentang mereka (Dineen, 2018, “‘Major’ Taylor”).
Merangkai Kepingan: Sepeda sebagai Cermin Peradaban
Membaca bagian-bagian ini secara bersamaan, kita menyadari bahwa Velopedia bukanlah sekadar buku tentang balap sepeda. Ia adalah buku tentang peradaban manusia—tentang bagaimana kita bergerak, bagaimana kita mencatat waktu, bagaimana kita bekerja sama, dan bagaimana kita merayakan keunikan. Dineen, melalui infografik-infografiknya yang jenaka dan mendalam, menunjukkan bahwa di balik setiap angka, ada cerita. Di balik setiap rekor, ada penderitaan. Di balik setiap kemenangan, ada tim. Dan di balik setiap kumis, ada manusia dengan impian dan ketakutannya sendiri.
Dalam dunia yang semakin terobsesi dengan kecepatan dan efisiensi, Velopedia mengajak kita untuk melambat sejenak, untuk melihat ke bawah, ke sepeda yang mungkin teronggok di garasi, dan bertanya: apa cerita di balik kendaraan sederhana ini? Mungkin jawabannya adalah: ia adalah tentang kebebasan, tentang ketahanan, dan tentang perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Pelindung Kepala yang Berevolusi: Dari Topi Kulit hingga Cangkang Karbon
Bayangkan sejenak seorang pembalap di era 1920-an, mengenakan topi kulit tipis yang hanya berfungsi melindungi kepalanya dari sengatan matahari, bukan dari benturan. Ia melesat menuruni tanjakan curam dengan kecepatan 80 km/jam, tanpa sabuk pengaman, tanpa airbag, tanpa apa pun kecuali keberanian dan sedikit nasib. Inilah gambaran yang dilukiskan Robert Dineen dalam bagian “Head Cases,” di mana ia menelusuri evolusi helm sepeda dari awal abad ke-20 hingga saat ini (Dineen, 2018, “Head Cases”).
Dineen tidak hanya menyajikan gambar-gambar helm dari berbagai era. Ia menyelami filosofi di baliknya: mengapa helm baru menjadi wajib di Tour de France pada tahun 2003? Mengapa butuh waktu begitu lama bagi budaya keselamatan untuk merasuk ke dalam olahraga yang sangat berbahaya? Jawabannya, sebagian, adalah tentang maskulinitas dan persepsi tentang “keberanian.” Helm dianggap tidak keren, tidak pantas bagi para pahlawan yang seharusnya rela mati demi kemenangan.
Namun setelah serangkaian kecelakaan fatal—termasuk kematian Fabio Casartelli yang terjatuh di tanjakan Portet d’Aspet pada 1995—opini publik mulai berubah. Helm bukan lagi simbol pengecut, tetapi simbol kebijaksanaan. Evolusi helm, dalam narasi Dineen, adalah cerminan dari evolusi olahraga itu sendiri: dari arena para pemberani gila menjadi arena para atlet profesional yang menghargai umur panjang mereka (Dineen, 2018, “Head Cases”).
Apa yang Dipikirkan Para Pembalap Terbaik Ketika Menderita
Jika helm melindungi kepala dari benturan fisik, maka tidak ada yang bisa melindungi kepala dari benturan mental yang disebut rasa sakit. Dalam bagian “On Pain,” Dineen mengumpulkan kutipan-kutipan dari para pembalap terbaik tentang apa yang mereka pikirkan ketika kaki mereka terbakar, ketika paru-paru mereka sesak, ketika setiap serat tubuh mereka berteriak untuk berhenti.
Jawabannya beragam, tetapi semuanya mengarah pada satu kesimpulan: rasa sakit adalah teman, bukan musuh. Ada yang mengatakan bahwa mereka belajar untuk “mengunci” rasa sakit di dalam kotak di kepalanya, membiarkannya berteriak tetapi tidak membiarkannya mengendalikan. Ada yang mengatakan bahwa mereka memvisualisasikan lawan-lawan mereka yang juga sedang menderita, dan itu memberi mereka kekuatan untuk terus bertahan. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka tidak memikirkan apa pun—mereka hanya mengayuh, dan mengayuh, dan mengayuh, hingga tubuh mereka bergerak di luar kesadaran.
Dalam tradisi filsafat stoik, Seneca pernah menulis bahwa “rasa sakit itu ringan jika tidak ditambah oleh opini.” Maksudnya, seringkali penderitaan yang kita rasakan tidak separah yang kita bayangkan; yang membuatnya berat adalah ketakutan kita akan rasa sakit itu sendiri. Para pembalap dalam buku Dineen tampaknya telah menginternalisasi kebijaksanaan ini. Mereka tidak melawan rasa sakit; mereka menerimanya sebagai bagian dari tawar-menawar: jika mereka mau menderita, mereka akan mendapatkan kemenangan. Jika tidak, mereka akan pulang dengan tangan kosong (Dineen, 2018, “On Pain”).
Tanjakan Alpen yang Brutal dan Pertengkaran yang Legendaris
Setelah merenung tentang rasa sakit, Dineen membawa kita ke tempat di mana rasa sakit itu paling terasa: tanjakan-tanjakan Alpen dalam Tour de France. Dalam “Tour’s Great Alpine Climbs,” ia menyajikan data kunci tentang tanjakan-tanjakan yang paling ditakuti—Alpe d’Huez, Galibier, Madeleine. Setiap tanjakan memiliki panjang, kemiringan rata-rata, dan jumlah tikungan yang berbeda, tetapi satu kesamaan mereka: mereka adalah mesin penyiksa yang dirancang oleh alam.
Namun Dineen tidak hanya menyajikan angka dingin. Ia juga bercerita tentang drama-drama yang terjadi di tanjakan-tanjakan ini: tentang pembalap yang menangis sambil mengayuh, tentang yang jatuh dan bangun lagi, tentang yang disoraki dan yang dicemooh oleh penonton yang berdesakan di pinggir jalan. Tanjakan Alpen adalah panggung di mana drama manusia paling murni dipentaskan, tanpa skrip, tanpa sutradara, hanya dengan roda, aspal, dan keringat.
Dari alam, Dineen kemudian beralih ke drama antar manusia: “Grand Tour Flare-Ups,” bagian yang didedikasikan untuk pertengkaran, perkelahian, dan permusuhan yang terkenal dalam sejarah balap sepeda (Dineen, 2018, “Grand Tour Flare-Ups”). Ada cerita tentang dua pembalap yang bertengkar di tengah balapan karena masalah sepele lalu berakhir dengan saling dorong hingga jatuh. Ada cerita tentang tim yang memboikot balapan karena merasa diperlakukan tidak adil. Ada juga cerita tentang rivalitas pribadi yang berlangsung bertahun-tahun, yang memecah belah penggemar menjadi dua kubu.
Dalam olahraga yang penuh dengan penderitaan dan pengorbanan, emosi seringkali meluap. Yang membuat Dineen tertarik bukanlah kekerasannya, tetapi kemanusiaannya. Para pembalap yang kita kagumi sebagai pahlawan ternyata juga bisa marah, cemburu, dan dendam seperti kita semua. Mereka bukan dewa; mereka manusia yang rapuh.
Alberto Contador: Brilliant Spaniard dan Prestasinya yang Abadi
Di antara drama-drama manusia, Dineen menyisipkan penghormatan kepada salah satu pendaki terhebat dalam sejarah: Alberto Contador, “The Brilliant Spaniard” (Dineen, 2018, “ICON: Alberto Contador”). Infografik Dineen menyajikan statistik tentang kemenangan-kemenangannya di Tour de France (2007, 2009), Giro d’Italia (2008, 2015), dan Vuelta a España (2008, 2012, 2014). Namun yang membuat Contador istimewa bukanlah jumlah kemenangannya, tetapi gayanya. Ia tidak takut untuk menyerang di tanjakan paling curam, untuk mengambil risiko yang tidak diambil oleh pembalap lain. Ia adalah seorang petarung sejati, yang bahkan setelah diskors karena doping—skandal clembuterol yang hingga kini masih kontroversial—ia tetap kembali dan menang lagi. Kontroversi tidak mengurangi kehebatannya, tetapi menambah kompleksitas ceritanya (Dineen, 2018, “ICON: Alberto Contador”).
Kemudian Dineen beralih ke benda yang paling didambakan dalam olahraga ini: “The Yellow Jersey” (Dineen, 2018, “The Yellow Jersey”). Ia menyajikan panduan statistik tentang maillot jaune: siapa yang paling sering memakainya, siapa yang paling lama memakainya tanpa putus, dan berapa banyak detak jantung ekstra yang dihabiskan oleh seorang pembalap ketika ia menyadari bahwa besok ia harus mengenakan jersey kuning dan menjadi target semua orang. Jersey kuning adalah berkah sekaligus kutukan; ia memberi kebanggaan tetapi juga tekanan yang luar biasa. Hanya jiwa-jiwa terkuat yang bisa memakainya tanpa hancur.
Perempuan-perempuan Perintis yang Membuka Jalan
“Female Trailblazers” adalah bagian yang sangat penting, terutama di era di mana kesetaraan gender masih menjadi perjuangan (Dineen, 2018, “Female Trailblazers”). Dineen menyoroti nama-nama seperti Beryl Burton, Jeannie Longo, Marianne Vos, dan Nicole Cooke. Mereka bukan hanya pesepeda wanita yang hebat; mereka adalah perintis yang membuka jalan bagi generasi berikutnya.
Dineen menyajikan statistik tentang kemenangan mereka, tetapi juga tentang diskriminasi yang mereka hadapi: balapan yang lebih pendek, hadiah yang lebih kecil, dan pengakuan yang lebih sedikit. Namun mereka tidak menyerah. Mereka mengayuh lebih keras, membuktikan bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh gender. Berkat mereka, saat ini Tour de France Femmes bisa menjadi kenyataan. Mereka adalah pahlawan yang jarang disebut, tetapi pantas mendapatkan tempat di setiap museum olahraga.
Marco Pantani: Bangkit dan Jatuhnya Sang Pirate
Bagian “The Rise and Fall of Marco Pantani” adalah salah satu yang paling tragis dalam buku ini (Dineen, 2018, “The Rise and Fall of Marco Pantani”). Dineen menyajikan infografik karier Pantani—mulai dari seorang anak kurus dari Cesenatico hingga menjadi pemenang Giro-Tour ganda pada tahun 1998 yang fenomenal. Pantani adalah pembalap yang mengayuh dengan hati, bukan dengan kepala. Ia mendaki tanjakan seperti tarian, tubuhnya bergoyang di atas sepeda, matanya menyala, dan ia tidak pernah menyerah meskipun kakinya sudah keram.
Namun kemudian, ia jatuh. Doping, depresi, pengucilan dari dunia balap, dan pada akhirnya, kematian akibat overdosis kokain di sebuah hotel murah pada tahun 2004. Dineen tidak mencoba membela atau menghakimi Pantani. Ia hanya menyajikan fakta dan membiarkan pembaca merenung: bagaimana bisa seorang pahlawan jatuh begitu dalam? Jawabannya—tentang tekanan, tentang penyakit mental, tentang sistem yang mengorbankan atletnya—tidak sederhana. Namun satu hal yang pasti: Pantani akan selalu dikenang, bukan karena kesalahannya, tetapi karena keajaiban yang ia ciptakan di atas sepeda.
Tour of Flanders: Pesta di Negeri Gila Balap
“Monument #2, Tour of Flanders” membawa kita ke Belgia, ke sebuah balapan yang mungkin lebih keras daripada Tour de France (Dineen, 2018, “Monument #2, Tour of Flanders”). Dineen menjelaskan bahwa Flanders bukan hanya balapan; ia adalah agama. Jutaan orang berkumpul di pinggir jalan, minum bir, meneriakkan nama-nama pahlawan lokal, dan menyaksikan para pembalap berjuang melawan tanjakan berbatu dan jalanan sempit yang berliku.
Yang membuat Tour of Flanders istimewa adalah karakter lintasannya. Tidak ada tanjakan panjang di Alpen, tetapi ada banyak “hellingen”—tanjakan pendek yang sangat curam, seringkali dengan permukaan batu bulat yang licin. Di atas batu-batu itulah para pemenang sejati terlahir, dan para pengecut tersingkir.
Desain Ikonik dan Pahlawan Tragis
“Design Icons” adalah bagian yang merayakan sepeda-sepeda yang “memecahkan cetakan” (Dineen, 2018, “Design Icons”). Dineen menyajikan infografik tentang sepeda-sepeda revolusioner—dari sepeda balap kuno yang memenangkan Tour pertama hingga sepeda sepeda course waktu yang mirip pesawat ruang angkasa. Setiap sepeda memiliki cerita tentang keberanian teknologinya, tentang insinyur yang berani bermimpi, dan tentang para pembalap yang mempertaruhkan karier mereka pada desain yang belum teruji. Beberapa berhasil, beberapa gagal, tetapi semuanya menggerakkan batasan ke depan.
Namun di balik episode, ada juga bayang-bayang kesedihan. Dalam “Tragic Heroes,” Dineen mengenang para pembalap “berbakat luar biasa yang meninggal di masa jaya mereka” (Dineen, 2018, “Tragic Heroes”). Menyebut nama-nama seperti Tom Simpson yang meninggal di tanjakan Mont Ventoux pada tahun 1967, atau Fabio Casartelli yang tewas di tanjakan Portet d’Aspet pada 1995. Dineen tidak bermaksud mengeksploitasi kesedihan, tetapi untuk mengingatkan bahwa olahraga ini meminta korban. Setiap kemenangan yang kita rayakan adalah bayangan dari tragedi yang mungkin datang besok. Inilah mengapa para pesepeda layak disebut pahlawan: karena mereka tahu risikonya, tetapi mereka tetap mengayuh.
Modernitas dan Sang Raksasa Indurain
Di bagian penutup, Dineen membahas “The Modern Road and Track Bikes”—spesifikasi teknologi tinggi dari mesin balap masa kini (Dineen, 2018, “The Modern Road and Track Bikes”). Aerodinamika, serat karbon, komputer terintegrasi—semuanya dijelaskan dalam infografik yang mudah dipahami. Ini adalah pengakuan bahwa meskipun manusia tetap sama, alat mereka terus berkembang.
Dan buku ini diakhiri dengan “Icon: Miguel Indurain,” sang raksasa Spanyol yang mendominasi Tour de France pada awal 1990-an (Dineen, 2018, “ICON: Miguel Indurain”). Indurain adalah kebalikan dari Pantani. Ia tenang, tidak emosional, seperti mesin. Ia mengayuh dengan ritme yang sama dari awal hingga akhir, tidak terpengaruh oleh serangan musuh atau sorakan penonton. Ia memenangkan lima Tour berturut-turut, sebuah prestasi yang hanya disamai oleh segelintir orang. Namun di balik kalemnya, ia memiliki detak jantung istirahat hanya 28 denyut per menit—milik seorang atlet super. Ia adalah bukti bahwa ada banyak jalan menuju keabadian; tidak semua harus berdarah-darah di atas sepeda; kadang, cukup dengan menjadi sangat, sangat, sangat baik dalam apa yang Anda lakukan.
Merangkai Kepingan: Sepeda sebagai Cermin Jiwa Manusia
Membaca bagian-bagian ini secara bersamaan, kita menyadari bahwa Velopedia tidak hanya mencatat fakta, tetapi juga mendokumentasikan spektrum emosi manusia: dari rasa sakit brilian Pantani hingga ketenangan dingin Indurain, perempuan-perempuan yang berjuang mendapatkan pengakuan, dan helm yang berubah dari topi kulit menjadi cangkang karbon. Setiap infografik adalah jendela ke dalam jiwa olahraga ini, dan setiap jendela mengajarkan kita sesuatu tentang menjadi manusia.
Dalam dunia yang berputar cepat, buku ini mengingatkan kita untuk melambat dan menghargai perjuangan—perjuangan fisik yang brutal, perjuangan melawan ketidakadilan, dan perjuangan melawan diri sendiri. Sepeda, dalam semua bentuknya, adalah alat yang sempurna untuk merenungkan perjuangan itu. Dan bagi kita di tahun 2026, ketika krisis dan perang mengelilingi kita, mungkin kita perlu lebih sering naik sepeda—bukan untuk menjadi atlet, tetapi untuk mengingat bahwa, seperti para pahlawan tragis itu, satu-satunya cara untuk menjaga keseimbangan adalah terus bergerak maju, meskipun hujan dan angin dan tanjakan mencoba menghentikan kita.
Puncak Kecepatan, Kilasan Kacamata, dan Tragedi yang Tak Terlupakan
Ketika peleton melaju semakin cepat, dan kadang berhenti di puncak. Ada sebuah ironi yang menarik dalam sejarah Tour de France: semakin cepat para pembalap melaju, semakin lambat waktu terasa bagi mereka yang menderita di tanjakan. Robert Dineen, dalam bagian “Speed Peaks,” menyajikan grafik tentang naik turunnya kecepatan rata-rata Tour de France sejak edisi pertama hingga era modern (Dineen, 2018, “Speed Peaks”). Angka-angka itu tidak hanya mencatat kemajuan teknologi dan kebugaran; ia juga mencatat skandal. Kecepatan melonjak tajam di era doping darah (1990-an), lalu stagnan ketika pengawasan diperketat. Grafik tersebut adalah pengakuan diam-diam bahwa olahraga ini, seperti banyak hal lain dalam hidup, tidak pernah sepenuhnya bersih. Namun ia juga merupakan perayaan bahwa, bahkan tanpa bantuan kimia, para atlet masa kini tetap bisa melesat dengan kecepatan yang membuat kakek-nenek mereka ternganga.
Jika kecepatan rata-rata meningkat, tekanan pada pemimpin balapan juga meningkat. Dalam “Quit While You’re Ahead,” Dineen mendokumentasikan para pemimpin Tour yang mundur ketika masih mengenakan jersey kuning (Dineen, 2018, “Quit While You’re Ahead”). Ada yang mundur karena cedera, ada yang karena sakit, dan ada yang karena alasan yang tidak pernah sepenuhnya dijelaskan. Mundur dalam keadaan memimpin adalah keputusan yang sangat sulit—lebih sulit daripada kalah di garis finis. Ia membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa tubuh Anda telah mencapai batasnya, bahwa Anda tidak bisa memberikan lebih dari yang sudah Anda berikan. Para pembalap yang memilih untuk berhenti di puncak (atau hanya di bawah puncak) tidak layak dicemooh; mereka layak dihormati karena kejujuran mereka pada diri sendiri.
Dari mereka yang berhenti, Dineen kemudian beralih ke mereka yang terus mendaki, bahkan ketika bumi di bawah mereka terasa runtuh. “Kings of the Mountains” adalah penghormatan kepada sepuluh pendaki terhebat dalam sejarah balap sepeda (Dineen, 2018, “Kings of the Mountains”). Nama-nama seperti Bahamontes (El Aguila de Toledo), Federico, dan tentu saja, Pantani dan Contador, hadir dalam infografik yang membandingkan catatan waktu mereka di tanjakan-tanjakan legendaris. Dineen tidak hanya menyajikan angka; ia berusaha menangkap esensi dari setiap pendaki. Ada pendaki yang naik dengan tenang seperti mesin (Indurain), ada yang naik dengan emosi meledak-ledak (Pantani), dan ada yang naik dengan gigi yang dikencangkan dan hati yang penuh dendam (Armstrong, sebelum ia jatuh). Keberagaman gaya ini adalah bukti bahwa tidak ada satu jalan menuju puncak; setiap pendaki harus menemukan ritmenya sendiri (Dineen, 2018, “Kings of the Mountains”).
Kemenangan tersempit dan kacamata paling berkesan. Tidak semua kemenangan datang dengan keunggulan besar. Kadang, yang membedakan juara dari yang kedua adalah satu detik, bahkan sepersekian detik. Dalam “Marginal Gains,” Dineen menyajikan data tentang kemenangan tersempit dalam sejarah Tour de France (Dineen, 2018, “Marginal Gains”). Ada cerita tentang Greg LeMond yang mengalahkan Laurent Fignon dengan selisih delapan detik pada tahun 1989—selisih terkecil dalam sejarah Tour. Dineen menjelaskan bahwa kemenangan itu terjadi karena LeMond menggunakan aerodynamic handlebars (stang aerodinamis) yang revolusioner, sementara Fignon, yang keras kepala, menolak meninggalkan gaya lamanya. Dalam balap sepeda, yang ketinggalan zaman akan dihukum. Selisih delapan detik, yang dalam hidup sehari-hari tidak berarti apa-apa, dalam Tour de France adalah perbedaan antara keabadian dan keterlupaan (Dineen, 2018, “Marginal Gains”).
Dari kemenangan yang menentukan, Dineen kemudian beralih ke sesuatu yang lebih ringan tetapi tidak kalah menarik: “Visions of Glory,” tentang kacamata peleton yang paling berkesan (Dineen, 2018, “Visions of Glory”. Mulai dari kacamata hitam besar ala para pembalap tahun 80-an hingga kacamata futuristik yang dipakai para bintang masa kini, Dineen merayakan mode dan kepribadian. Karena, seperti yang ia tunjukkan, dalam olahraga di mana wajah sering tersembunyi di balik helm, kacamata adalah jendela menuju jiwa. Atau setidaknya, menuju gaya (Dineen, 2018, “Visions of Glory”).
Kemudian, dalam “Kings of the World,” Dineen menyajikan daftar pembalap paling sukses dalam Kejuaraan Dunia Road Race (Dineen, 2018, “Kings of the World”). Nama-nama seperti Eddy Merckx (tiga kali juara dunia) dan Rik Van Steenbergen berdiri di puncak. Ini adalah pengingat bahwa meskipun Tour de France adalah mahkotanya, balap sepeda memiliki mahkota lain yang sama berharganya (Dineen, 2018, “Kings of the World”).
Iblis dalam gaun dan sepatu yang terus berubah. Salah satu cerita paling aneh dalam buku ini—dan mungkin dalam semua balap sepeda—adalah “The Devil in a Dress,” tentang seorang wanita yang naik sepeda mengikuti Giro d’Italia pada tahun 1924, Alfonsina Strada (Dineen, 2018, “The Devil in a Dress”). Dineen menceritakan bagaimana Alfonsina adalah satu-satunya wanita yang lolos kualifikasi untuk Giro, dan meskipun ia sering disebut sebagai “dia dalam gaun” oleh media yang meremehkan, ia tetap bertahan dan menyelesaikan balapan. Ia adalah perintis yang membuktikan bahwa sepeda tidak mengenal gender, dan bahwa keberanian seorang wanita bisa mengalahkan prasangka ribuan pria.
Dari sepatu, Dineen beralih ke “Pedal Pushers,” evolusi sepatu bersepeda (Dineen, 2018, “Pedal Pushers”). Dari sepatu kulit yang sederhana hingga sepatu karbon yang mengunci kaki ke pedal dengan klip, Dineen menunjukkan bahwa setiap inovasi, sekecil apa pun, dapat mengubah performa seorang pembalap. Sepatu yang tepat dapat mentransfer setiap watt tenaga dari otot ke pedal, tanpa ada yang terbuang percuma. Ini adalah pelajaran tentang efisiensi, tentang bagaimana detail-detail kecil—yang sering diabaikan—adalah kunci menuju puncak (Dineen, 2018, “Pedal Pushers”).
Virenque: Raja Tanjangan yang Jatuh dari Kejayaan
Bagian “The Rollercoaster Life of Richard Virenque” adalah salah satu yang paling tragis sekaligus membingungkan dalam buku ini (Dineen, 2018, “The Rollercoaster Life of Richard Virenque”). Virenque adalah pendaki yang luar biasa, seorang pemenang polka dot jersey (raja tanjakan) berkali-kali, dan idola publik Prancis. Namun ia juga tokoh sentral dalam skandal doping Festina pada tahun 1998. Dineen menceritakan bagaimana Virenque pada awalnya menyangkal segalanya, lalu mengakui, lalu menjadi semacam martir bagi penggemar yang tetap mencintainya meskipun ia telah berbohong. Virenque adalah contoh bahwa dalam olahraga modern, bakat dan kecurangan seringkali berjalan beriringan, dan bahwa publik—setidaknya sebagian dari mereka—lebih memilih pahlawan yang jatuh daripada pahlawan yang sempurna namun membosankan (Dineen, 2018, “The Rollercoaster Life of Richard Virenque”).
Olimpiade, Lombardy, dan Marianne Vos
Dineen juga menyempatkan diri untuk melihat ke panggung global. Dalam “Cycling at the Olympics,” ia memberikan rincian tentang sejarah olahraga ini di Olimpiade (Dineen, 2018, “Cycling at the Olympics”). Dari nomor-nomor awal yang eksentrik hingga balapan jalan raya modern yang mendebarkan, infografik ini menunjukkan bahwa Olimpiade adalah tempat di mana para pembalap yang biasanya bersaing dalam tim, tiba-tiba harus berjuang untuk diri mereka sendiri, dan di mana kejutan sering terjadi (Dineen, 2018, “Cycling at the Olympics”).
Kemudian, dalam “Monument #5: Tour of Lombardy,” ia membahas Classic Italia yang memiliki “koneksi ilahi” (Dineen, 2018, “Monument #5: Tour of Lombardy”). Lombardy adalah balapan musim gugur yang indah, yang melintasi danau-danau dan bukit-bukit yang mempesona. Ini adalah balapan yang sering dimenangkan oleh para pendaki yang juga memiliki sentuhan akhir yang cepat, dan kemenangan di Lombardy sering menjadi mahkota yang manis setelah musim yang panjang (Dineen, 2018, “Monument #5: Tour of Lombardy”).
Dan dalam “ICON: Marianne Vos,” Dineen memberikan penghormatan yang pantas kepada pesepeda Belanda yang dijuluki yang terbaik dari generasinya (Dineen, 2018, “ICON: Marianne Vos”). Vos telah memenangkan hampir semua yang bisa dimenangkan: Olimpiade, Kejuaraan Dunia, jalan raya, trek, cyclo-cross. Ia adalah atlet yang langka—seorang petarung yang juga sportif, seorang pemenang yang rendah hati. Di era di mana pesepeda wanita masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan yang setara, Vos adalah mercusuar yang menunjukkan bahwa wanita bisa menjadi sama hebatnya, jika tidak lebih hebat, daripada rekan pria mereka (Dineen, 2018, “ICON: Marianne Vos”).
Tragedi Mont Ventoux, Cipollini yang Flamboyan, dan Pahlawan Media Sosial
Bagian “Cycling’s Greatest Tragedy” didedikasikan untuk hari ketika Tom Simpson meninggal di tanjakan Mont Ventoux pada tahun 1967 (Dineen, 2018, “Cycling’s Greatest Tragedy”). Simpson, seorang Inggris, adalah salah satu bintang terbesar pada zamannya. Ia jatuh karena panas, kelelahan, dan amfetamin. Dineen menceritakan bagaimana Simpson, sebelum jatuh untuk terakhir kalinya, sudah jatuh beberapa kali tetapi bangkit lagi, didorong oleh penonton yang berteriak “Allez, Tom.” Ia meninggal dalam pelarian. Tragedi Simpson adalah titik balik bagi olahraga ini, memicu perdebatan tentang doping dan keselamatan pembalap, tetapi juga menjadi mitos abadi tentang seorang pria yang mati karena tidak mau menyerah.
Dari tragedi, Dineen beralih ke sesuatu yang lebih ceria: “Cipollini’s Greatest Hits,” tentang kostum paling mencolok yang dikenakan oleh sprinter Italia yang flamboyan, Mario Cipollini (Dineen, 2018, “Cipollini’s Greatest Hits”). Cipollini dikenal bukan hanya karena kemenangan-nya, tetapi karena pakaiannya yang berwarna-warni, sepatu bermotif kulit macan tutul, dan sikapnya yang tidak pernah meminta maaf atas kevulgarannya. Ia adalah hiburan murni di tengah peleton yang kadang terlalu serius, dan Dineen merayakannya dengan tepat.
Memasuki era digital, Dineen membahas “The Cyclists’ Network: How Strava is Transforming the Sport” (Dineen, 2018, “The Cyclists’ Network”). Strava, aplikasi yang melacak aktivitas bersepeda, telah mengubah cara penggemar berinteraksi dengan olahraga dan cara para pembalap berlatih. Dineen menjelaskan bagaimana segmen-segmen Strava telah menciptakan kompetisi virtual yang sengit, memungkinkan pembalap amatir untuk membandingkan catatan waktu mereka dengan para profesional. Ini adalah demokratisasi data, dan bagi sebagian orang, obsesi yang tidak sehat (Dineen, 2018, “The Cyclists’ Network”).
Berkaitan dengan teknologi, Dineen kemudian menyoroti “Twitterati”—tokoh-tokoh terbaik balap sepeda di media sosial (Dineen, 2018, “Twitterati”). Beberapa pembalap menggunakan Twitter untuk membangun merek, yang lain untuk berbagi lelucon, dan yang lain untuk mengeluh. Dineen dengan jenaka mengomentari bahwa di dunia di mana kemenangan dan kekalahan terjadi dalam hitungan detik, Twitter menjadi wadah bagi kepribadian yang mungkin tidak pernah terlihat di TV (Dineen, 2018, “Twitterati”).
Chris Froome dan The Lanterne Rouge: Dua Ujung Spektrum
Sebagai penghormatan kepada era modern, “ICON: Chris Froome” menyajikan statistik tentang bagaimana pembalap Kenya kelahiran Inggris itu “telah menyapu semua yang ada di depannya” (Dineen, 2018, “ICON: Chris Froome”). Froome, dengan gaya mengayuh yang aneh (ia sering menunduk melihat meteran dayanya) dan kesukaannya pada tanjakan panjang, telah mendominasi Tour de France seperti halnya Indurain di masa lalu. Ia bukan pahlawan yang populer secara universal—banyak yang menganggapnya sebagai robot—tetapi angka berbicara. Ia adalah mesin kemenangan.
Akhirnya, Dineen mengakhiri bagian ini dengan sebuah penghormatan kepada mereka yang tidak pernah menang, tetapi dicintai karena kegigihan mereka: “The Lanterne Rouge” (Dineen, 2018, “The Lanterne Rouge”). Lanterne Rouge adalah sebutan bagi pembalap yang finis terakhir di Tour de France. Dineen menjelaskan mengapa para pembalap “merelakan finis terakhir”. Jawabannya: karena ia adalah sebuah prestasi. Menjadi yang terakhir di antara 150 pembalap terbaik di dunia berarti Anda masih lebih baik daripada jutaan orang lainnya. Ini juga merupakan pengakuan bahwa yang terakhir pun memiliki cerita—tentang penderitaan, cedera, dan tekad untuk tidak menyerah meskipun setiap serat tubuh mereka menjerit berhenti. Dalam dunia yang terobsesi pada pemenang, Dineen mengingatkan kita untuk menghargai mereka yang hanya ingin menyelesaikan apa yang mereka mulai (Dineen, 2018, “The Lanterne Rouge”).
Sepeda Sebagai Cermin Kehidupan yang Kontradiktif
Membaca bagian-bagian akhir Velopedia ini seperti menaiki rollercoaster emosi: dari kegembiraan kemenangan tipis, kekaguman pada seorang wanita perintis, simpati pada Virenque yang tersesat, hingga kesedihan mendalam atas kematian Simpson. Dineen tidak pernah mencoba untuk menyederhanakan; ia tahu bahwa balap sepeda, seperti kehidupan, penuh dengan kontradiksi. Ada kemenangan dan kecurangan, kejayaan dan kematian, kacamata konyol dan teknologi canggih.
Bagi kita di tahun 2026, buku ini adalah pengingat bahwa dunia tidak hitam-putih. Bahwa pahlawan bisa menjadi penjahat, dan sebaliknya. Bahwa kecepatan bukanlah segalanya, karena kadang, orang yang paling lambat—the Lanterne Rouge—adalah yang paling dikenang karena ketekunannya. Bahwa sepeda, dalam segala bentuknya, adalah alat yang sempurna untuk merenungkan kompleksitas ini. Dan bahwa, mungkin, satu-satunya cara untuk bertahan di dunia yang kacau adalah dengan terus mengayuh, memperhatikan kacamata dan sepatu kita, dan tidak pernah lupa untuk menghormati mereka yang telah jatuh di sepanjang jalan.
Bogor, 29 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Akron-Summit County Public Library. (2017). Velopedia: The infographic book of cycling [Katalog perpustakaan]. https://catalog.akronlibrary.org/search~S22?/cRSTCK+796.6+F75h/c796.6+f75++h/47%2C-1%2C0%2CE/marc&FF=c796.62+d583+v&1%2C1%2C
Dineen, R. (2018). Velopedia: The infographic book of cycling. Aurum Press.
Kompas.id. (2025, October 10). Bukan mobil listrik, kebangkitan sepeda mengubah wajah kota. https://www.kompas.id/artikel/bukan-mobil-listrik-kebangkitan-sepeda-mengubah-wajah-kota
PezCycling News. (2017, August 10). Velopedia: The infographic book of cycling. https://pezcyclingnews.com/features/velopedia-the-infographic-book-of-cycling/
SearchOhio. (2017). Velopedia: The infographic book of cycling [Katalog perpustakaan]. https://search-ohpir.searchohio.org/iii/encore/record/C__Rb6838794






