Rubarubu #181
Thunder & Sunshine:
Sebuah Epik 46.000 Mil di Atas Dua Roda
Ketika Anda berusia 24 tahun, baru saja lulus kuliah, dan memiliki tabungan seadanya dari pinjaman pendidikan yang ditabung dengan cermat, apa yang akan Anda lakukan? Bagiamana kalau kemudian Anda memutuskan untuk bersepeda keliling dunia—sebuah mimpi yang terdengar gila bagi sebagian besar orang, tetapi bagi Anda, itu adalah satu-satunya hal yang masuk akal. Kemudian, dua minggu setelah Anda memulai perjalanan, dunia berubah. Menara Kembar runtuh. Penerbangan dibatalkan. Perbatasan ditutup. Dan rencana indah Anda untuk melintasi Asia melalui Iran dan Afghanistan menjadi mustahil dalam semalam.
Inilah titik tolak yang dialami oleh Alastair Humphreys, seorang pemuda Yorkshire yang—entah karena keberanian atau kebodohan—memutuskan untuk tidak pulang. Ketika dunia berubah, pemuda ini tetap mengayuh.
Dalam buku keduanya, Thunder & Sunshine, yang merupakan bagian kedua dari kisah perjalanannya keliling dunia sejauh 46.000 mil atau setara dengan 70.030 km., Humphreys melanjutkan narasi dari titik di mana buku pertamanya, Moods of Future Joys, berakhir. Volume pertama mengisahkan perjalanannya yang tidak terduga melalui Eropa, Timur Tengah, dan menyusuri Afrika hingga ke Cape Town setelah Serangan 9/11 memaksanya mengubah rute.
Volume kedua ini dimulai dari titik itu: dari Cape Town, Afrika Selatan, di mana ia harus mencari cara untuk melanjutkan perjalanannya ke benua berikutnya.
Menyeberangi Samudra dengan Perahu dan Keyakinan
Thunder & Sunshine tidak dimulai dengan kayuhan pedal. Ia dimulai dengan air asin dan angin laut. Humphreys, yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pesawat, harus menjadi awak kapal layar untuk menyeberangi Atlantik dari Cape Town ke Rio de Janeiro, Brasil . Di sinilah salah satu karakteristik paling menonjol dari petualangan Humphreys mulai terlihat: ia bukanlah seorang puris yang bersikeras bahwa setiap inci perjalanan harus ditempuh di atas sepeda. Ia pragmatis. Ada lautan yang tidak bisa diseberangi dengan roda; ia menaiki perahu.
Ada hutan belantara Darien Gap di perbatasan Kolombia-Panama yang tidak memiliki jalan sama sekali; ia kembali menaiki perahu . Sikap fleksibel ini, seperti yang dicatat oleh seorang pengulas di LibraryThing, membuat Humphreys terasa “manusiawi dan mudah didekati” . Ia bukan superhero; ia adalah seseorang yang memecahkan masalah, satu demi satu, dengan sumber daya yang ia miliki.
Setibanya di Brasil, perjalanan sebenarnya dimulai. Humphreys bersepeda ke selatan, ke ujung paling selatan Amerika Selatan—Ushuaia, Tierra del Fuego, kota di ujung dunia yang diselimuti kabut dan angin . Dan kemudian, ia berbalik. Ia mulai bersepeda ke utara, menuju Alaska. “Dari ujung ke ujung,” demikian deskripsi dari para pengulas—sebuah perjalanan yang membawanya melintasi Patagonia yang liar, Andes yang menjulang, gurun pasir dan dataran garam yang terik, serta hutan-hutan tropis Kolombia sebelum ia akhirnya mencapai Panama dan menyeberang ke Amerika Utara.
Keajaiban Kebaikan Orang Asing dan Kontras yang Mencolok
Salah satu tema paling kuat yang muncul dari ulasan-ulasan tentang buku ini adalah kebaikan hati orang-orang yang ditemui Humphreys di sepanjang jalan. Ia menulis dengan takjub tentang bagaimana orang-orang yang hampir tidak memiliki apa-apa—petani miskin di Andes, keluarga di desa terpencil—begitu murah hati membagikan makanan dan tempat berteduh kepadanya.
Dalam sebuah kutipan yang diangkat oleh Barbara Bamberger Scott dari Curled Up With a Good Book, Humphreys menyimpulkan pengalamannya dengan sebuah kalimat yang sederhana namun menusuk: “Don’t believe what you see on the TV; the world really is a good place” . Di era ketika media terus-menerus membombardir kita dengan berita tentang keburukan manusia—perang, terorisme, kebencian—pengakuan seorang pria yang telah bersepeda melewati puluhan negara dan tidur di ribuan tempat yang tidak dikenal ini adalah sebuah pernyataan yang berani dan pada akhirnya, menenangkan.
Namun, perjalanan Humphreys juga membawa kesadaran akan ketidakadilan yang tajam. Kontras antara kemiskinan ekstrem di Amerika Selatan dan kemakmuran yang melimpah—namun kadang dingin—di Amerika Serikat sangat mencolok dalam tulisannya. Ia menggambar-kan bagaimana di Amerika Selatan, orang-orang yang tinggal di gubuk-gubuk reyot menyambut-nya dengan tangan terbuka, sementara di Amerika Utara, ada kalanya ia diperlakukan sebagai pengganggu—“an annoying inconvenience on the road.”
Ada pengecualian, tentu saja—sekelompok orang bahkan membelikannya sepeda baru—tetapi secara umum, pengalamannya di negara adidaya itu terasa lebih dingin, lebih individualistis, dan lebih tidak ramah dibandingkan dengan keramahtamahan yang ia terima di desa-desa terpencil di Andes.
Dinginnya Siberia: Ujian di Ujung Dunia
Puncak dari penderitaan—dan mungkin juga keagungan—dalam perjalanan Humphreys terjadi ketika ia mencapai Alaska, bersepeda hingga ke Lingkaran Arktik, dan kemudian, bukannya pulang, ia justru berbelok ke barat. Ia menyeberangi Samudra Pasifik (lagi-lagi dengan perahu) dan memulai babak paling ekstrem dari petualangannya: Siberia, Rusia, di tengah musim dingin.
Di sini, Humphreys bergabung dengan seorang teman, Rob Lilwall, dan mereka berdua bersepeda di sepanjang “Road of Bones” —jalanan Siberia yang terkenal mengerikan, yang dibangun di atas lapisan es abadi oleh para tahanan kamp kerja paksa era Stalin. Suhu di sini berkisar antara -20 hingga -40 derajat Celcius. Bayangkan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, dingin yang membuat janggut dan bulu mata membeku, dingin yang membuat air mendidih langsung berubah menjadi uap saat terkena udara. Camping di suhu seperti itu, pada tenda tipis yang tidak dirancang untuk Siberia, memerlukan tingkat kegilaan dan ketahan-an yang sulit dibayangkan. Seorang pengulas di LibraryThing menggambarkan bagian ini dengan nada hormat yang bercampur ngeri: ia sepertinya menghabiskan sebagian besar waktunya “freezing his arse off!”
Mengapa Buku Ini Masih Relevan di Tahun 2026
Kita membaca buku ini hampir dua dekade setelah Humphreys pulang ke Yorkshire. Dunia telah berubah secara dramatis, dan dalam beberapa hal, tidak berubah sama sekali. Perang masih berkecamuk di Ukraina, Gaza, Sudan, dan Myanmar—sebuah ironi pahit mengingat perjalanan Humphreys sendiri dimulai dari kepedihan pasca-9/11. Krisis energi global terus melanda, harga BBM melonjak, dan polusi mengancam paru-paru kota-kota besar. Di tengah semua itu, godaan untuk bergerak cepat—mengendarai mobil yang nyaman, terbang dengan pesawat yang efisien, mengonsumsi barang sekali pakai—terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Namun di saat yang sama, ada sebuah kebangkitan kesadaran akan slow living, sebuah kerinduan akan kehidupan yang lebih lambat, lebih sederhana, dan lebih bermakna. Orang-orang mulai menyadari bahwa kecepatan bukanlah segalanya, bahwa kenyamanan seringkali datang dengan harga yang mahal bagi planet dan jiwa. Sepeda, yang oleh Humphreys digunakannya sebagai kendaraan untuk petualangan terbesarnya, telah kembali menjadi simbol perlawanan terhadap logika kecepatan dan konsumsi yang mematikan.
Apa yang bisa kita petik dari Humphreys untuk situasi saat ini?
Pertama, bahwa perjalanan yang lambat adalah perjalanan yang kaya. Humphreys tidak bersepeda 46.000 mil untuk menghemat waktu atau biaya. Ia melakukannya karena ia ingin mengalami dunia dengan intensitas yang tidak mungkin dicapai dari balik kaca mobil atau jendela pesawat. Ia merasakan dinginnya Siberia, panasnya gurun, dan hangatnya senyum orang asing. Di dunia yang mendorong kita untuk melesat dari satu tempat ke tempat lain, Humphreys mengingatkan bahwa hal yang paling berharga dalam perjalanan bukanlah kecepatan mencapai tujuan, tetapi kedalaman mengalami perjalanan itu sendiri.
Kedua, bahwa krisis dapat menjadi katalis untuk penemuan diri. 9/11 menghancurkan rencana Humphreys, tetapi ia tidak menyerah. Ia beradaptasi, menemukan rute baru, dan pada akhirnya, perjalanan yang tidak direncanakan itulah yang membawanya ke Afrika, Amerika Selatan, dan petualangan seumur hidup. Dalam hidup, kita tidak selalu bisa memilih badai yang menerpa kita, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya—apakah kita akan berlindung di tempat yang aman, ataukah kita akan tetap mengayuh meskipun hujan mengguyur.
Ketiga, bahwa kebaikan adalah bahasa universal. Di tengah berita tentang keburukan manusia yang membanjiri layar kita, Humphreys menegaskan bahwa dunia tetaplah tempat yang baik, dipenuhi oleh orang-orang baik yang rela berbagi meskipun mereka sendiri tidak memiliki banyak. Ini adalah pesan yang sangat dibutuhkan di era polarisasi—bahwa di balik perbedaan agama, bahasa, dan kebangsaan, kita semua adalah manusia yang sama.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep rihlah (perjalanan) yang tidak hanya berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin menuju penemuan diri dan hikmah. Al-Ghazali, dalam al-Munqidh min al-Dalal, menulis tentang bagaimana perjalanan panjangnya membuka pintu-pintu kebijaksanaan yang tidak dapat ia capai di rumah.
Humphreys, tanpa klaim keagamaan, melakukan rihlah modern. Ia melakukan perjalanan bukan untuk menjadi terkenal atau kaya, tetapi untuk “escape the routine” dan menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya dan dunianya.
Dari dunia non-muslim, filsuf Amerika Henry David Thoreau menulis dalam Walden: “I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential facts of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, discover that I had not lived.” Humphreys pergi ke jalanan untuk alasan yang sama: untuk hidup secara sadar, untuk menghadapi fakta-fakta esensial kehidupan, dan untuk belajar dari apa yang ia temukan di sepanjang jalan. Sepeda adalah kendaraannya, tetapi yang ia cari bukanlah tempat, melainkan makna.
Kata Pengantar yang Hangat
Sebelum Alastair Humphreys menceritakan sendiri kisahnya, buku Thunder & Sunshine dibuka dengan sebuah kata pengantar yang ditulis oleh seseorang yang dikenal sebagai Dan—mungkin Dan yang menjadi teman perjalanan di beberapa bagian terberat dari ekspedisi ini . Dalam beberapa halaman yang singkat namun hangat ini, Dan tidak berbicara sebagai seorang ahli petualangan atau kritikus sastra. Ia berbicara sebagai seorang sahabat. Ia menggambarkan bagaimana ia menyaksikan sendiri kegigihan Humphreys di medan yang paling keras, bagaimana ia melihat temannya berjuang melawan dingin Siberia yang menusuk tulang, dan bagaimana ia pada akhirnya percaya bahwa kisah ini layak untuk diceritakan kepada dunia.
Kata pengantar ini, meskipun pendek, memiliki fungsi yang penting. Ia membangun kredibilitas dari perspektif orang kedua—sebuah pengakuan bahwa apa yang akan dibaca bukanlah sekadar bualan seorang petualang yang melebih-lebihkan, tetapi sebuah kisah nyata yang disaksikan oleh orang lain. Ada kelembutan dalam tulisan Dan, sebuah rasa hormat yang mendalam pada temannya, dan sebuah undangan bagi pembaca untuk masuk ke dalam dunia yang akan dijelajahi bersama. “Ini adalah kisah tentang seorang pria dan sepedanya,” demikian kira-kira semangat yang ia sampaikan, “tetapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang apa artinya menjadi manusia ketika dunia mencoba menghancurkanmu.”
Sebuah Kilas Balik dari Ujung Dunia
Jika kata pengantar adalah sambutan hangat dari seorang teman, maka prolog adalah tarikan napas panjang sebelum terjun ke dalam air dingin. Humphreys memulai prolognya bukan di awal perjalanan, tetapi di sebuah titik yang jauh di kemudian hari—di ujung selatan Amerika, di Ushuaia, Tierra del Fuego, tempat yang oleh para pengelana disebut sebagai “ujung dunia” . Ia berdiri di sana, setelah ribuan mil dari Cape Town melintasi Atlantik dan menyusuri benua Amerika, dan ia merenung.
Ia menggambarkan pemandangan di sekitarnya: gunung-gunung yang diselimuti salju, fjord-fjord yang dalam, dan angin yang tidak pernah berhenti berbisik. Dalam kesendirian itu, ia tidak merasakan kemenangan atau kebanggaan. Yang ia rasakan adalah keheningan, dan di dalam keheningan itu, ia mulai memutar ulang film perjalanannya dari awal (Humphreys, 2007, Prologue). Ia mengingat kembali saat-saat ketika ia masih ragu, ketika ia masih takut, ketika ia masih belum tahu apakah ia bisa menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
Prolog ini berfungsi seperti sebuah jangkar. Ia memberi pembaca gambaran sekilas tentang kemana perjalanan ini akan berakhir, sebelum kita diajak untuk memulai dari awal. Dengan mengetahui bahwa Humphreys pada akhirnya berhasil mencapai ujung Amerika Selatan, kita sebagai pembaca dibebaskan dari ketegangan apakah ia akan selamat atau tidak. Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang lebih menarik: bagaimana ia melakukannya? Apa yang ia pelajari di sepanjang jalan? Dan siapa yang ia temui yang mengubah cara pandangnya tentang dunia?
Menjembatani Buku Pertama dan Kedua
Prolog dalam Thunder & Sunshine juga memiliki fungsi transisi. Buku ini adalah volume kedua dari kisah perjalanan Humphreys keliling dunia. Volume pertama, Moods of Future Joys, mengisahkan perjalanannya dari Yorkshire melalui Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (yang menjadi rute alternatif setelah Serangan 9/11). Thunder & Sunshine dimulai tepat di titik di mana buku pertama berakhir: di Cape Town, Afrika Selatan, setelah Humphreys berhasil mencapai ujung selatan Afrika.
Dengan mengawali prolog di Ushuaia, Humphreys melakukan lompatan waktu dan tempat yang berani. Ia tidak langsung melanjutkan kronologi dari Cape Town. Sebaliknya, ia membawa pembaca ke masa depan, ke titik di mana perjalanan di belahan bumi selatan telah selesai, dan kemudian, dengan lembut, ia berkata, “Mari kita mundur sejenak. Mari kita mulai dari awal lagi, tetapi kali ini dari tempat yang berbeda.” Teknik naratif ini menjaga agar pembaca tidak merasa jenuh dengan narasi perjalanan yang linear. Ia menciptakan rasa penasaran: bagaimana ia bisa sampai ke sana? Apa yang terjadi di antara Cape Town dan Ushuaia?
Menyiapkan Panggung untuk Sebuah Epik
Pada akhir prolog, Humphreys tidak lagi berdiri di Ushuaia. Ia sudah duduk di sepedanya, di suatu tempat di awal perjalanan, dengan tas-tas penuh di belakang dan peta yang tidak cukup detail di depan. Pembaca dibiarkan dengan rasa ingin tahu yang menggelitik, siap untuk mengikuti jejaknya melintasi lautan, gunung, gurun, dan dingin Siberia. Dan Dan, sang penulis kata pengantar, telah meyakinkan kita bahwa perjalanan ini layak untuk diikuti.
Dalam tradisi kepenulisan perjalanan, kata pengantar dan prolog sering dianggap sebagai bagian yang “hiasan”—bukan inti cerita, tetapi pelengkap yang bisa dilewatkan. Namun dalam Thunder & Sunshine, kedua bagian ini justru menjadi fondasi emosional dari seluruh buku. Kata pengantar membangun kepercayaan. Prolog membangun rasa ingin tahu. Dan di antaranya, pembaca dipersilakan untuk duduk, bersandar, dan bersiap menyaksikan sebuah petualangan yang, seperti yang dijanjikan oleh Dan, akan “mengubah cara Anda memandang dunia” .
Menyeberangi Atlantik, Menemukan Diri di Ujung Dunia
Alastair Humphreys tidak memulai bagian Amerika dengan mengayuh pedal. Ia memulai dengan menaiki perahu. Setelah mencapai Cape Town, Afrika Selatan, ia harus menyeberangi Samudra Atlantik untuk mencapai benua selanjutnya, dan dengan uang yang terbatas, ia menjadi awak kapal layar yang membawanya ke Brasil (Humphreys, 2007, “Gone to Patagonia”). Ini adalah new beginnings—sebuah awal yang baru, di benua baru, dengan tantangan yang sama sekali berbeda dari apa yang telah ia alami di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (Humphreys, 2007, “New beginnings“).
Ada kegelisahan yang menyertainya, pertanyaan-pertanyaan yang bergema di kepalanya: apakah ia masih memiliki energi yang cukup untuk melanjutkan? Apakah ia masih memiliki tujuan yang jelas? Ataukah ia hanya bergerak karena tidak tahu cara lain untuk berhenti?
Di sinilah salah satu kekuatan narasi Humphreys mulai bersinar. Ia tidak pernah berpura-pura bahwa perjalanan ini mudah atau bahwa ia selalu bersemangat. Ia mengakui bahwa ada hari-hari ketika ia mempertanyakan segalanya—tujuannya, kemampuannya, kewarasannya. Namun ia juga tahu bahwa satu-satunya cara untuk menemukan jawaban adalah dengan terus bergerak. “My road” adalah miliknya sendiri, bukan milik orang lain, dan ia harus berjalan—atau mengayuh—di atasnya sendirian (Humphreys, 2007, “My road”).
Antara Dua Tempat: Di Mana Seharusnya Aku Berada?
Salah satu tema paling menyentuh dalam bagian awal perjalanan Amerika ini adalah perasaan ambigu tentang tempat. Humphreys menulis tentang dilema yang dialami oleh setiap pengelana jarak jauh: apakah ia lebih baik berada di sini, di jalan, atau di sana, di rumah? Dalam bab yang berjudul “Here or There” , ia merenungkan perasaan terbelah yang tidak pernah benar-benar hilang (Humphreys, 2007, “Here or there“). Ada kerinduan pada keluarga dan teman-teman di Inggris, tetapi ada juga rasa takut bahwa jika ia pulang, ia akan kehilangan sesuatu yang tidak dapat ia definisikan tetapi sangat ia hargai. “Feeling and understanding” adalah dua hal yang berbeda, tulisnya (Humphreys, 2007, “Feeling and understanding“). Ia bisa merasa rindu, tetapi ia juga memahami bahwa ia harus tetap di jalan sampai perjalanannya selesai. Kalau tidak, ia akan pulang dengan rasa penasaran yang tidak terjawab, dan itu mungkin lebih buruk daripada rasa rindu.
Salah satu metafora paling puitis dalam bagian ini muncul dalam bab “The sound of your wheels”(Humphreys, 2007, “The sound of your wheels“). Humphreys menggambarkan bagaimana suara ban di aspal yang berbeda—kasar, halus, basah, kering—menjadi semacam musik pengiring bagi pikirannya yang mengembara. Suara itu adalah satu-satunya teman yang setia di hari-hari ketika ia tidak bertemu siapa pun. “The last time for first times” adalah bab tentang bagaimana di perjalanan sejauh ini, ia mulai kehabisan “pertama kali” (Humphreys, 2007, “The last time for first times”). Ia sudah melewati begitu banyak perbatasan, begitu banyak kota, begitu banyak gunung, sehingga sensasi baru mulai terasa langka. Namun justru di situlah letak tantangan barunya: bagaimana tetap bersemangat ketika semuanya mulai terasa biasa?
Menghadapi Ketakutan yang Hanya Ada di Kepala
Dalam “Imaginings of fear” , Humphreys merenungkan tentang ketakutan yang ia rasakan sebelum memulai perjalanan dan bagaimana ketakutan itu—sebagian besar—tidak pernah terwujud (Humphreys, 2007, “Imaginings of fear”). Ia takut pada beruang, pada pencuri, pada kecelakaan, pada penyakit. Dan ya, beberapa dari hal-hal itu memang terjadi dalam berbagai bentuk. Namun sebagian besar ketakutan yang paling mencekiknya adalah yang ia ciptakan sendiri di kamar tidurnya di Yorkshire, ketika ia masih belum pernah melangkahkan kaki ke luar pintu. Pelajarannya sederhana tetapi penting: “Imagined fears are often worse than real ones. The anticipation of pain can be more debilitating than the pain itself” .
“Throwing off the bow line” adalah seruan untuk melepaskan semua ikatan yang menahan (Humphreys, 2007, “Throwing off the bow line“). Humphreys menggunakan metafora bahari—sebuah kapal yang melepas tali tambat dari dermaga—untuk menggambarkan momen ketika ia memutuskan untuk tidak lagi peduli pada apa yang orang lain pikirkan tentang perjalanannya. “Closer now” adalah pengakuan bahwa ia semakin dekat dengan sesuatu—mungkin tujuannya, mungkin dirinya sendiri, mungkin kebenaran yang tidak bisa ia jelaskan (Humphreys, 2007, “Closer now“). Ada kegembiraan dalam kedekatan ini, tetapi juga ada ketakutan: apa yang akan terjadi setelah ia mencapai apa yang ia cari?
“Large and in charge” adalah momen ketika ia menyadari bahwa ia telah menjadi pengendali atas hidupnya sendiri (Humphreys, 2007, “Large and in charge“). Tidak ada bos, tidak ada guru, tidak ada orang tua yang menentukan ke mana ia harus pergi. Keputusan ada di tangannya—termasuk keputusan untuk berhenti atau melanjutkan. Ini adalah kebebasan yang membebaskan sekaligus menakutkan.
Hidup Kembali: Dari Mati Rasa Menuju Sensasi
“Coming alive” adalah salah satu bab yang paling kuat dalam bagian ini (Humphreys, 2007, “Coming alive”). Humphreys menggambarkan bagaimana setelah berbulan-bulan di jalan, tubuh dan pikirannya mencapai sebuah titik di mana rasa sakit dan kelelahan tidak lagi terasa asing. Ia menjadi hidup dalam arti yang paling harfiah—setiap sel tubuhnya sadar akan keberadaannya, setiap napas terasa nyata, setiap detak jantung adalah bukti bahwa ia masih bertahan. Ini bukan tentang kegembiraan; ini tentang kesadaran murni akan eksistensi.
“By paddle and track” adalah tentang perjalanan yang tidak selalu di atas sepeda (Humphreys, 2007, “By paddle and track“). Kadang, untuk mencapai tempat yang tidak bisa dijangkau roda, ia harus berjalan kaki, atau bahkan mendayung perahu kecil. Ini adalah pengingat bahwa dogmatisme—bersikeras bahwa semuanya harus dengan sepeda—lebih merugikan daripada membantu. Fleksibilitas adalah kunci bertahan hidup di alam liar.
Dan bagian ini ditutup dengan “A little while longer” (Humphreys, 2007, “A little while longer”). Humphreys menyadari bahwa perjalanannya di Amerika belum selesai. Ia masih harus melintasi Amerika Utara, masih harus menghadapi dingin Siberia, masih harus melewati ribuan mil lainnya sebelum ia bisa benar-benar menyatakan bahwa ia telah berkeliling dunia. Namun ia tidak terburu-buru. Ia belajar untuk menikmati setiap hari, setiap tanjakan, setiap matahari terbenam. “A little while longer” bukanlah keluhan; ia adalah doa. Ia adalah permohonan agar perjalanan ini tidak berakhir terlalu cepat, agar ia masih diberi kesempatan untuk terus belajar, terus merasakan, terus hidup.
Pelajaran dari Ujung Selatan
Bagian “The Americas” dari Thunder & Sunshine adalah tentang sebuah perjalanan yang tidak hanya melintasi benua, tetapi juga melintasi lapisan-lapisan jiwa Humphreys sendiri. Ia berangkat dari Cape Town sebagai seorang pemuda yang masih ragu, dan ia tiba di Ushuaia sebagai seseorang yang sedikit lebih tegar, sedikit lebih bijak, dan sedikit lebih percaya bahwa dunia—meskipun penuh dengan ketidakpastian—adalah tempat yang layak untuk dijelajahi.
Dalam tradisi petualangan klasik, perjalanan ke ujung selatan selalu memiliki resonansi simbolis. Ia adalah tentang mencapai batas, tentang berdiri di tepi jurang dan melihat ke bawah, tentang bertanya pada diri sendiri: apakah ini yang aku cari? Humphreys tidak menemukan jawaban yang gemilang di Ushuaia. Namun ia menemukan sesuatu yang mungkin lebih berharga: keheningan, dan di dalam keheningan itu, kemampuan untuk mendengar suara hatinya sendiri dengan lebih jelas.
Bagi kita yang membaca kisah ini dari rumah, di tengah krisis dan kesibukan dunia saat ini, bagian “The Americas” adalah undangan untuk merenung tentang perjalanan kita sendiri—mungkin bukan perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin. Kita juga sedang berusaha menyeberangi lautan kegelapan, juga sedang berjuang melawan ketakutan yang kita ciptakan sendiri, juga sedang mencari sesuatu yang tidak bisa kita beri nama. Dan seperti Humphreys, kita mungkin tidak akan menemukan jawaban yang sempurna. Tetapi kita akan menemukan bahwa proses pencarian itu sendiri—dengan semua rasa sakit dan sukacitanya—adalah jawabannya.
Menyeberangi Asia: Dari Hutan Liar Hingga Peradaban Kuno
Setelah menyelesaikan perjalanan panjang melintasi Amerika, dari ujung selatan Tierra del Fuego hingga Alaska yang dingin, Alastair Humphreys tidak pulang. Ia menyeberangi Samudra Pasifik dan memasuki benua yang paling ia nantikan sekaligus paling ia takuti: Asia. Bagian buku Thunder & Sunshine yang berjudul “Asia” ini adalah catatan tentang perjalanannya melintasi daratan terluas di dunia, dari Timur Jauh hingga ke Timur Tengah, melalui negeri-negeri yang baginya benar-benar baru—Jepang, China, Mongolia, dan negara-negara Asia Tengah yang namanya hampir tidak pernah ia dengar sebelumnya (Humphreys, 2007, “Asia”).
Humphreys memulai dengan bab yang berjudul “A road in the forest” —sebuah metafora untuk jalan hidup yang tidak jelas, yang harus ia temukan sendiri di antara pepohonan yang lebat (Humphreys, 2007, “A road in the forest”).
Ia tidak memiliki peta yang sempurna, tidak memiliki panduan yang andal, dan ia seringkali harus bertanya pada penduduk lokal tentang rute mana yang aman dan mana yang tidak. Ada sensasi petualangan klasik di sini—rasa bahwa ia sedang menjelajahi wilayah yang belum dipetakan, setidaknya dalam pikirannya sendiri.
Namun ia juga langsung dihadapkan pada kontras yang ekstrem. “Heaven and hell” adalah judul bab yang menggambarkan bagaimana dalam satu hari ia bisa mengalami keindahan lanskap yang luar biasa dan kemudian kehancuran moral akibat birokrasi yang korup, jalanan yang rusak, atau cuaca yang brutal (Humphreys, 2007, “Heaven and hell”). Tidak ada yang hitam-putih dalam perjalanan ini; setiap tempat memiliki surga dan nerakanya sendiri, dan ia harus belajar menerima keduanya.
Mengumpulkan Kenangan dalam Sebuah Tas Usang
Salah satu bab yang paling puitis dalam bagian ini adalah “The records of a travel-worn satchel”(Humphreys, 2007, “The records of a travel-worn satchel”). Humphreys membayangkan bahwa tas yang ia bawa—yang telah menemani selama ribuan mil, yang basah oleh hujan, berdebu oleh gurun, dan robek di beberapa tempat—adalah semacam arsip perjalanannya. Setiap goresan, setiap noda, setiap tambalan adalah catatan tentang suatu tempat, suatu kejadian, suatu pertemuan. Ia merenungkan bahwa benda-benda yang kita bawa dalam perjalanan seringkali menyimpan lebih banyak cerita daripada yang kita sadari. Mereka adalah saksi bisu yang tidak bisa berbohong.
Dalam “I like Chinese” , Humphreys menulis tentang pengalamannya di China (Humphreys, 2007, “I like Chinese”). Judulnya terdengar sederhana, bahkan naif, tetapi isinya penuh dengan refleksi tentang bagaimana ia belajar untuk tidak terlalu cepat menilai suatu bangsa berdasarkan stereotip. Ia bertemu dengan orang-orang China yang luar biasa baik hati, yang membantunya ketika ia kehabisan air atau tersesat, yang mengundangnya makan malam meskipun mereka sendiri tidak memiliki banyak. Ia belajar bahwa kebaikan adalah bahasa universal, dan bahwa di China, seperti di tempat lain, mayoritas orang hanya ingin hidup damai dan membantu sesama.
“The middle of nowhere” adalah bab tentang kesendirian yang absolut (Humphreys, 2007, “The middle of nowhere”). Di padang pasir Gobi dan stepa Mongolia, Humphreys mengalami apa artinya benar-benar berada di “tengah ketiadaan”—tidak ada pohon, tidak ada rumah, tidak ada suara selain angin dan bunyi roda sepedanya di atas tanah yang kering. Ia menulis tentang bagaimana kesendirian ini tidak lagi menakutkan; ia justru menjadi teman. Dalam keheningan yang total, pikirannya menjadi jernih dengan cara yang tidak pernah terjadi di kota-kota yang bising.
Menuju Pusat Peradaban dan Jalan Emas
Dari ketiadaan, Humphreys kemudian menuju ke kepadatan. “The centre of civilisation” adalah tentang pengalamannya di kota-kota besar Asia—mungkin Beijing, mungkin Tehran, mungkin Istanbul (Humphreys, 2007, “The centre of civilisation”). Ia menggambarkan kebingungannya menghadapi lalu lintas yang kacau, polusi yang mencekik, dan keramaian yang tiada henti. Setelah berbulan-bulan di alam terbuka, kota terasa seperti belenggu. Namun ia juga menyadari bahwa kota adalah pusat di mana peradaban diciptakan, di mana ide-ide bertabrakan, dan di mana sejarah ditulis. Ia tidak bisa membencinya sepenuhnya.
“The golden road at last” merujuk pada Jalur Sutra—jalan kuno yang menghubungkan Asia Timur dengan Eropa, yang selama berabad-abad menjadi jalur perdagangan sutra, rempah-rempah, dan ide-ide (Humphreys, 2007, “The golden road at last“). Humphreys merasa seperti sedang mengikuti jejak para pedagang dan peziarah masa lalu, yang berjalan kaki atau naik unta melintasi dataran yang sama yang sekarang ia lewati dengan sepeda. Ada rasa hormat yang mendalam pada mereka yang datang sebelumnya, dan rasa syukur bahwa ia bisa melakukan perjalanan ini di era yang relatif aman.
“Dancing my way through” adalah bab tentang bagaimana ia menemukan kegembiraan di tengah penderitaan (Humphreys, 2007, “Dancing my way through“). Mungkin secara harfiah ia menari—mungkin di sebuah festival di pedesaan China, atau di sebuah perayaan di Uzbekistan. Atau mungkin secara metaforis, ia sedang “menari” melalui tantangan-tantangan yang ia hadapi, dengan gerakan yang tidak sempurna tetapi penuh semangat.
Catatan Akhir: Undangan untuk Memulai Petualangan Anda Sendiri
Dari Siberia, perjalanan berlanjut ke Jepang, lalu ke China, dan kemudian melintasi Asia Tengah—negara-negara ‘stan yang namanya mungkin asing di telinga kebanyakan orang, yang perbatasannya dipenuhi dengan birokrasi yang rumit dan petugas imigrasi yang curiga. Ia melewati pegunungan Pamir, padang pasir Gobi, dan akhirnya, memasuki Turki. Di sinilah momen yang mengharukan terjadi: untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Humphreys kembali ke sebuah negara yang pernah ia lewati di awal perjalanannya . Ia bukan lagi pemuda yang ragu-ragu yang meninggalkan Yorkshire. Ia sudah berubah. Inilah sebuah transformasi akhir yang menemukan diri ketika kembali pulang.
Perjalanan pulang ke Yorkshire, Inggris, bukanlah sebuah klimaks yang dramatis dengan orkestra dan bunga. Seperti kebanyakan akhir dari petualangan sejati, ia datang dengan tenang, bahkan antiklimaks. Yang tertinggal dari membaca Thunder & Sunshine bukanlah rasa takjub pada kemampuan fisik Humphreys—meskipun itu memang luar biasa—melainkan rasa kagum pada kebijaksanaan yang ia peroleh. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pengulas di LibraryThing, “He discovers as much about himself as the world.”
Ia belajar tentang kesabaran ketika angin sakal tidak kunjung reda. Ia belajar tentang kerendah-an hati ketika ia bergantung pada belas kasihan orang asing. Ia belajar tentang ketekunan ketika setiap serat tubuhnya menjerit untuk berhenti. Dan ia belajar tentang kebaikan, sebuah pelajar-an yang ia rangkum dalam kalimat yang menggenapi seluruh perjalanannya: “Don’t believe what you see on the TV; the world really is a good place.”
Thunder & Sunshine bukanlah buku tentang sepeda. Ia adalah buku tentang menjadi manusia. Ia adalah buku tentang berani memulai, tentang bertahan ketika segalanya terasa mustahil, dan tentang kembali ke rumah sebagai orang yang berbeda. Seperti yang ditulis oleh Barbara Bamberger Scott dalam resensinya, “In an age when there are no new frontiers, an adventure like this is a great achievement and no doubt an inspiration to others.” Mungkin kita tidak akan pernah bersepeda melintasi Siberia pada suhu -40 derajat atau melintasi gurun di Asia Tengah. Tetapi setiap orang memiliki perjalanan mereka sendiri—baik itu memulai bisnis, menulis buku, belajar keterampilan baru, atau sekadar menjadi orang tua yang lebih baik. Dan dari Humphreys, kita belajar bahwa satu-satunya hal yang diperlukan untuk memulai adalah keberanian untuk mengambil langkah pertama, meskipun kakimu gemetar.
Pada akhirnya, kita pulang ke rumah dengan membawa pertanyaan yang sama: Apa yang akan aku lakukan dengan hidupku? Humphreys menemukan jawabannya di jalan. Mungkin, di tengah krisis dan kesibukan dunia saat ini, kita juga perlu melambat, melihat ke luar jendela, dan bertanya pada diri kita sendiri dengan jujur. Dan mungkin, jawabannya—seperti yang dialami oleh seorang pemuda Yorkshire yang hanya ingin bersepeda keliling dunia—sedang menunggu kita di ujung jalan, di balik tanjakan berikutnya, di bawah langit yang penuh guntur dan sesekali, diselingi oleh sinar matahari yang hangat di wajah.
“Back to the end” adalah tentang perjalanan pulang—atau setidaknya, tentang perjalanan menuju titik di mana ia bisa mengatakan bahwa ia telah berkeliling dunia (Humphreys, 2007, “Back to the end”). Ia kembali ke tempat-tempat yang pernah ia lewati di awal perjalanannya, tetapi ia bukan orang yang sama. Ia melihat pemandangan yang dulu ia lewati dengan tergesa-gesa, kini dengan mata yang lebih sabar dan hati yang lebih penuh.
“Getting on with it” adalah bab tentang melanjutkan hidup (Humphreys, 2007, “Getting on with it”). Humphreys tidak menunggu inspirasi atau motivasi; ia hanya terus bergerak karena itulah satu-satunya cara untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai. “My penguin’s egg” adalah sebuah anekdot yang aneh dan mungkin lucu—mungkin tentang seekor penguin yang ia temui di suatu tempat, atau tentang kebiasaan aneh yang ia kembangkan selama perjalanan (Humphreys, 2007, “My penguin’s egg”). Ia mengingatkan bahwa bahkan dalam perjalanan yang paling serius sekalipun, selalu ada ruang untuk hal-hal yang absurd dan tidak masuk akal.
“To be continued…” dan “Recipes from the road” adalah penutup yang tidak biasa untuk bagian Asia (Humphreys, 2007, “To be continued…”; “Recipes from the road“). Yang pertama adalah pengakuan bahwa perjalanannya belum selesai—masih ada yang harus ia tulis, masih ada yang harus ia ceritakan. Yang kedua adalah kumpulan resep sederhana yang ia pelajari dari orang-orang yang ia temui: bagaimana membuat roti pipih di atas api unggun, bagaimana memasak nasi dengan air yang terbatas, bagaimana membuat teh yang hangat ketika semua bahan terasa hambar. Resep-resep ini bukan hanya instruksi kuliner; mereka adalah metafora untuk bagaimana bertahan hidup—dengan sumber daya yang minimal, dengan kreativitas yang maksimal, dan dengan rasa syukur pada setiap tegukan air hangat yang bisa ia dapatkan.
Pulang dengan Lebih Banyak Pertanyaan
Bagian “Asia” dalam buku Humphreys ini adalah pengingat bahwa perjalanan terpanjang sekalipun pada akhirnya akan berakhir, tetapi transformasi yang ia hasilkan tidak pernah selesai. Humphreys pulang ke Yorkshire dengan sepeda yang sudah usang, dengan tubuh yang lebih kurus, dan dengan kepala yang penuh dengan cerita. Namun yang paling penting, ia pulang dengan kerinduan yang tidak pernah benar-benar terpuaskan—kerinduan untuk kembali ke jalan, kerinduan untuk merasakan lagi angin di wajah dan debu di pakaian, kerinduan untuk tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Dalam tradisi filsafat perjalanan, sering dikatakan bahwa pengelana sejati tidak pernah benar-benar pulang. Ia membawa dunia di dalam dirinya, dan dunia itu akan terus bergerak, terus bertanya, terus mengganggunya sampai ia memutuskan untuk berangkat lagi. Humphreys, di akhir bagian ini, sudah merasakan hal itu. Ia mungkin akan tinggal di rumah untuk sementara waktu—menulis buku, memberikan ceramah, menikmati secangkir teh di dekat perapian. Namun roda di kepalanya terus berputar. Dan suatu hari nanti, mungkin lebih cepat dari yang ia duga, ia akan mengikat tali sepatunya lagi, mengayuh pedal, dan melanjutkan cerita yang belum selesai.
To be continued…
Bogor, 29 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Humphreys, A. (2007). Foreword; Prologue. Dalam Thunder & sunshine: Around the world by bike, part 2 (2nd ed., reprinted 2009). Eye Books.
AbeBooks. (n.d.). Thunder & sunshine – Softcover. https://www.abebooks.com/9781903070543/Thunder-Sunshine-Alastair-Humphreys-Dan-9781903074/plp
Eye Books Blog. (2008, July 22). Review of Thunder & Sunshine. https://eyebooks.wordpress.com/2008/07/22/review-of-thunder-sunshine/
Everand. (2015, October 1). Thunder & sunshine by Alastair Humphreys. https://www.everand.com/book/161829230/Thunder-Sunshine
Matador Network. (2011, March 21). Book review: Moods of Future Joys and Thunder and Sunshine. https://matadornetwork.com/goods/book-review-moods-of-future-joys-and-thunder-and-sunshine/
TinyCat (WEPO). (2025, February 9). Thunder & sunshine. https://www.librarycat.org/lib/WEPO/item/272760468
World of Books. (2015, March 9). Thunder and sunshine by Alastair Humphreys. https://www.wob.com/en-au/books/alastair-humphreys/thunder-and-sunshine/9781903070888






