Rubarubu #182
Big Rural:
Realitas Baru Pedesaan dan Pelajaran dari Appalachia
Tahun 1607. Kapal-kapal Inggris berlayar menuju Dunia Baru. Mereka dipimpin oleh Gubernur Ratcliffe yang terobsesi menemukan emas dan kekayaan. Di wilayah yang kini menjadi Virginia, mereka mendirikan koloni Jamestown. Di sisi lain hidup masyarakat Powhatan yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun. Mereka dipimpin oleh Chief Powhatan. Putrinya adalah Pocahontas. Masih ingat film animasi dengan judul itu: Pocahontas.
Disney menggambarkan Pocahontas sebagai perempuan muda yang bebas, bijaksana, dekat dengan alam, dan memiliki hubungan spiritual dengan lingkungan sekitarnya. Suatu hari ia bertemu John Smith, seorang petualang Inggris. Awalnya kedua kelompok saling curiga.
Namun Pocahontas dan Smith menjalin hubungan yang semakin dekat. Melalui Pocahontas, Smith belajar menghormati alam dan budaya masyarakat asli. Konflik memuncak ketika kedua komunitas hampir berperang.
Dalam adegan klimaks yang terkenal, Pocahontas menghentikan eksekusi John Smith dan berhasil mencegah pertumpahan darah. Film berakhir dengan perdamaian dan harapan.
Tokoh Pocahontas memang nyata. Namanya kemungkinan adalah Matoaka. “Pocahontas” hanyalah nama panggilan. Ia lahir sekitar tahun 1596 dan merupakan putri dari Wahunsenacawh (Chief Powhatan). Namun ketika John Smith tiba di Virginia pada 1607, Pocahontas kemungkinan masih berusia sekitar 10–12 tahun. Tidak ada bukti kuat bahwa hubungan romantis seperti yang digambarkan Disney pernah terjadi.
Bahkan banyak sejarawan meragukan kisah terkenal bahwa Pocahontas menyelamatkan nyawa John Smith. Beberapa ahli menganggapnya sebagai kesalahpahaman terhadap ritual adopsi Powhatan atau bahkan cerita yang dibesar-besarkan Smith bertahun-tahun kemudian.
Kisah nyata Pocahontas jauh lebih tragis. Dari putri hutan menjadi simbol kolonial. Pada 1613 ia diculik oleh kolonis Inggris. Ia ditahan sebagai sandera. Selama masa penahanan:
- ia dibaptis menjadi Kristen,
- diberi nama Rebecca,
- kemudian menikah dengan petani tembakau Inggris, John Rolfe.
Pernikahan itu sering dipromosikan sebagai simbol rekonsiliasi. Namun banyak sejarawan modern melihatnya sebagai bagian dari proses kolonialisasi dan asimilasi budaya. Pada 1616 ia dibawa ke Inggris.
Di sana ia dipamerkan kepada publik Inggris sebagai contoh “pribumi yang telah diperadabkan.”
Ia meninggal setahun kemudian pada usia sekitar 21 tahun.
Kini di lokasi yang sama mempunyai kisah yang pedih. Di lereng Appalachian yang diselimuti kabut, seorang mantan penambang batu bara bernama Atlas Charles duduk di beranda rumahnya yang lapuk. Matanya menatap jauh ke puncak bukit yang telah dipenggal oleh mesin-mesin raksasa. “Mereka bilang ini adalah kemajuan,” katanya pelan, suaranya nyaris tertiup angin. “Mereka bilang batu bara akan membawa cahaya ke rumah-rumah di kota-kota besar.
Dan benar, lampu-lampu di New York menyala terang berkat kegelapan yang kami tinggali.” Atlas tertawa pahit. “Tapi coba lihat sekarang. Tambang sudah tutup. Pemuda-pemuda pergi meninggalkan kampung. Dan kami yang tersisa hanya punya gunung yang telah dipenggal dan air yang tak lagi bisa diminum.” Kisah Atlas Charles bukanlah sekadar cerita tentang kemundur-an ekonomi di Appalachia. Ia adalah representasi dari apa yang disebut Crystal Cook Marshall sebagai “Big Rural” — ruang pedesaan yang tidak lagi liar dan tak tersentuh seperti yang sering diimajinasikan. Melainkan ruang yang telah direkayasa, diukur, dan dieksploitasi oleh sistem industri dan teknologi dengan cara yang sama intensifnya seperti kota-kota besar.
Dalam Foreword yang ditulis Alexander R. Thomas dan Gregory M. Fulkerson, pembaca segera dihadapkan pada kerangka konseptual yang akan membimbing perjalanan melalui halaman-halaman selanjutnya. Sebagai editor seri Studies in Urban-Rural Dynamics, Thomas dan Fulkerson menempatkan karya Cook Marshall dalam tradisi intelektual yang lebih luas tentang hubungan timbal-balik antara ruang urban dan rural. Mereka menekankan bahwa “Big Rural” bukanlah sekadar metafora puitis, melainkan sebuah konsep analitis yang menangkap realitas pedesaan sebagai tempat yang “seringkali menjadi sistem di antara sistem-sistem, yang dibentuk secara intensif oleh ilmuwan dan insinyur, baik dalam bentang alam maupun budayanya.”
Yang membedakan buku ini dari kajian pedesaan lainnya adalah penolakannya terhadap dikotomi sederhana antara kota yang “maju” dan desa yang “terbelakang.” Sebaliknya, Cook Marshall mengajak kita melihat bahwa pedesaan industri seperti kawasan batu bara Pocahontas di Virginia Barat adalah ruang yang sama terencananya, sama terintervensinya, dan sama kompleksnya dengan metropolis manapun. Seperti yang ditulis James Collier dalam ulasannya, Cook Marshall “tidak bisa menerima jawaban mudah. Ia berdiri, dalam cahaya kelabu fajar yang dingin itu, lelah namun penuh harap tentang Appalachia.” Mari kita bayangkan lanskap serupa di sebuah sudut pulau di Nusantara.
Bagian Preface: Mode of Inquiry menjadi pintu masuk metodologis yang penting. Cook Marshall dengan jujur mengungkapkan bagaimana ia mendekati subjek yang rumit ini. Ia menggabung-kan analisis kebijakan, studi ilmu pengetahuan dan teknologi (Science and Technology Studies/STS), wawancara mendalam dengan para penambang dan insinyur energi, serta “interlude” yang berisi kata-kata langsung dari individu-individu yang hidup di komunitas-komunitas ini — suara-suara yang “seringkali tidak hadir atau dikecualikan dari penelitian dan representasi.”
Pendekatan ini bukan sekadar metode, melainkan pernyataan politik epistemologis. Cook Marshall menolak tradisi akademik yang memperlakukan masyarakat pedesaan sebagai objek studi yang pasif. Sebaliknya, ia memberi ruang bagi mereka untuk berbicara, untuk menjelaskan dunia mereka dengan kata-kata mereka sendiri. Seperti yang ia tulis dalam pendahuluannya, tujuannya adalah untuk “mengungkap, mendefinisikan ulang, dan membangun kembali” — bukan hanya realitas material pedesaan industri, tetapi juga cara kita mengetahui dan membicarakannya.
Membongkar “Big Rural”
Big Rural adalah sebuah buku yang lahir dari keprihatinan mendalam tentang apa yang terjadi ketika kekuatan industri dan teknologi bertemu dengan komunitas pedesaan yang rentan. Fokus utamanya adalah kawasan batu bara Pocahontas di Virginia Barat — wilayah yang selama lebih dari seabad menjadi tulang punggung energi Amerika, namun kini terpuruk dalam kemiskinan, pengangguran, dan kerusakan lingkungan yang parah.
Tesis utama Cook Marshall sederhana namun mendalam: “kawasan ekstraksi bahan bakar fosil dan sumber daya alam lainnya” tidak hanya membentuk ekonomi lokal, tetapi juga “membentuk budaya dan ruang regional melalui mekanisme sains dan teknologi” . Para kapitalis yang absen — pemilik tambang yang berkedudukan jauh di New York atau London — menciptakan sistem yang mentransformasi ruang dan tempat pedesaan, dan menghasilkan “konsekuensi sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang parah, yang bisa sangat merusak dan merugikan” .
Salah satu kontribusi paling berharga dari buku ini adalah pembacaan kritisnya terhadap narasi “kemajuan” yang selama ini membenarkan eksploitasi pedesaan. Cook Marshall menunjukkan bagaimana janji-janji ilmiah dan teknologi — bahwa industrialisasi akan membawa kemakmuran, bahwa mekanisasi akan menciptakan efisiensi, bahwa otomatisasi adalah keniscayaan — ternyata adalah ilusi yang merusak. Dalam Bab 2, “Scientific Promises and Prosperity: Constructing the Rural Industrial Space”, ia mendokumentasikan bagaimana para insinyur dan perencana, dengan niat baik atau buruk, telah membangun sistem yang pada akhirnya membuat pekerja tambang kehilangan kendali atas hidup mereka sendiri .
Ancaman terhadap Demokrasi
Bagian yang paling menggugah dari buku ini mungkin adalah analisis Cook Marshall tentang bagaimana ekonomi sektor tunggal — di mana seluruh komunitas bergantung pada satu industri ekstraktif — mengancam kapasitas warga untuk mempraktikkan demokrasi. Ketika kekuatan terkonsolidasi di tangan segelintir pemilik modal, ketika pekerjaan diotomatisasi sehingga tenaga manusia tidak lagi dibutuhkan, ketika generasi muda terpaksa pergi karena tidak ada masa depan — apa artinya menjadi warga negara? Apa artinya berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik ketika keputusan-keputusan penting tentang hidup Anda dibuat di ruang-ruang rapat korporasi ribuan mil jauhnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan kita pada peringatan Wendell Berry, penyair dan petani Kentucky yang lama menyuarakan bahaya industrialisasi pertanian. Berry pernah menulis, “Tanah adalah satu-satunya hal di dunia yang bernilai untuk diperjuangkan, karena tanah adalah satu-satunya hal yang bertahan.” Dalam logika ekstraktif yang didokumentasikan Cook Marshall, tanah bukanlah warisan yang harus dipelihara, melainkan komoditas yang harus dieksploitasi hingga titik darah penghabisan — dan ketika tidak ada lagi yang bisa diambil, para pelaku industri pergi, meninggalkan komunitas yang hancur untuk menanggung sendiri konsekuensinya.
Dari perspektif Islam, tragedi ini mengandung pelajaran mendalam tentang prinsip keadilan dan amanah. Cendekiawan Muslim kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, dalam berbagai tulisannya tentang ekologi dan spiritualitas, mengingatkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi, bukan pemilik absolut. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan pemusatan kekayaan pada segelintir tangan adalah pelanggaran terhadap amanah Ilahi. Dalam bahasa Al-Qur’an, kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41) — sebuah ayat yang secara tragis tergambar dalam lanskap Appalachia yang hancur.
Suara-Suara dari Kegelapan
Salah satu kekuatan terbesar Big Rural adalah kehadiran “interlude” — sisipan-sisipan pendek yang memberi ruang bagi warga lokal untuk berbicara langsung. Selain Atlas Charles yang kita temui di awal, ada Jason Tartt, Sr., seorang mantan penambang yang kini menjadi aktivis lingkungan, dan Amelia Bandy, seorang guru sekolah yang menyaksikan generasi demi generasi muridnya meninggalkan kampung halaman. Suara-suara ini mengingatkan kita bahwa di balik statistik dan kebijakan, ada manusia-manusia nyata dengan mimpi, kekecewaan, dan harapan.
Ketika Tartt berbicara tentang bagaimana ia menyaksikan ayahnya meninggal karena penyakit paru-paru akibat debu batu bara, atau ketika Bandy menceritakan tentang murid-muridnya yang harus memilih antara tetap tinggal dalam kemiskinan atau pergi merantau dan mungkin tidak pernah kembali — kita dihadapkan pada biaya manusia dari “Big Rural” yang tak terhitung dalam laporan-laporan perusahaan .
Meskipun Big Rural berfokus pada Appalachia, relevansinya jauh melampaui batas-batas geografis Amerika Serikat. Fenomena yang didokumentasikan Cook Marshall — ekonomi sektor tunggal, ekstraksi sumber daya oleh kapital yang absen, janji-janji kemajuan yang tak terpenuhi, dan kehancuran demokrasi lokal — adalah pola yang dapat ditemukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Refleksi serupa muncul dari pengalaman Indonesia. Seperti dicatat dalam sebuah analisis dari Transnational Institute, “Indonesia terus mengejar model pertumbuhan berbasis eksploitasi sumber daya alam untuk ekspor, sementara upaya industrialisasi nasional gagal karena tidak adanya reforma agraria — fondasi kemandirian ekonomi” . Pola kolonial yang diwariskan sejak Agrarische Wet 1870, di mana Hindia Belanda dikembangkan sebagai laboratorium kapitalisme kolonial yang berpusat pada sektor perkebunan dan pertambangan berorientasi ekspor, masih bergema hingga hari ini .
Di Indonesia, kita menyaksikan bagaimana perusahaan kelapa sawit, tambang batu bara, dan industri ekstraktif lainnya mengakuisisi ribuan hektar lahan, seringkali dengan mengorbankan petani lokal dan hutan yang tersisa. Seperti di Appalachia, para kapitalis yang absen — pemilik perusahaan yang berkedudukan di Jakarta, Singapura, atau Kuala Lumpur — menuai keuntungan sementara komunitas lokal menanggung biaya lingkungan dan sosial. Dan seperti di Amerika, ketika sumber daya habis atau harga komoditas jatuh, perusahaan pergi, meninggalkan lubang raksasa di tanah dan lubang yang lebih dalam di jiwa masyarakat.
Dalam konteks ini, prospek masa depan yang ditawarkan Cook Marshall menjadi sangat relevan. Ia tidak hanya mendiagnosis masalah, tetapi juga menawarkan jalan keluar. Dalam Bab 4, “So, What of a National Rural Strategy?” dan Bab 5, “Toward a National Sustainable Agricultural Strategy”, ia mengusulkan serangkaian antidot terhadap ekstraksi dan destruksi “Big Rural”, baik dalam kehidupan material maupun dalam pengetahuan.
Strategi-strategi ini mencakup kebijakan nasional yang terkoordinasi untuk pedesaan — sesuatu yang selama ini tidak dimiliki Amerika Serikat — serta dukungan untuk pertanian berkelanjutan yang memberdayakan petani kecil alih-alih korporasi raksasa. Cook Marshall juga menekankan pentingnya penelitian yang partisipatif, di mana komunitas lokal bukan sekadar objek studi tetapi mitra dalam menciptakan pengetahuan dan solusi.
Sebagaimana dicatat dalam sebuah resensi akademis, Cook Marshall “menekankan pentingnya melestarikan pengetahuan lokal sebagai syarat pembangunan teritorial berkelanjutan” . Pada saat yang sama, buku ini mengandung “tesis-tesis deklaratif-aktivistis tentang perlawanan aktif terhadap depresi di wilayah Appalachian melalui kesadaran dan pengakuan peran dan tanggung jawab sains untuk pengembangan demokrasi akar rumput.”
Membuka Tabir “Big Rural”
Dalam Introduction, Cook Marshall meletakkan fondasi konseptual untuk seluruh argumennya. Ia memulai dengan pengamatan lapangan yang cermat—percakapan-percakapan akademik dan dengan para pemangku kepentingan yang “perlu terjadi” tetapi selama ini diabaikan. Pendekatannya menggabungkan analisis kebijakan, studi ilmu pengetahuan dan teknologi (Science and Technology Studies/STS), wawancara mendalam dengan para penambang dan insinyur energi, serta “interlude” yang berisi kata-kata langsung dari individu-individu yang hidup di komunitas-komunitas ini—suara-suara yang “seringkali tidak hadir atau dikecualikan dari penelitian dan representasi.”
Cook Marshall juga menyisipkan “jalan memutar” konseptual tentang apa yang dimaksud dengan “pedesaan” dan “Appalachia”—sebuah pengakuan bahwa istilah-istilah ini sarat dengan asumsi dan imajinasi yang perlu dibongkar sebelum analisis dapat dilanjutkan. Ia kemudian memperkenalkan gagasan tentang “membangun ruang industri”—bahwa ruang pedesaan industri seperti kawasan batu bara Pocahontas bukanlah entitas alami yang ditemukan, melainkan entitas yang sengaja dibangun melalui kebijakan, teknologi, dan investasi modal .
Teknologi dan Negara di Kawasan Batu Bara Pocahontas
Bab pertama, “Technology and the State of the State in the Pocahontas Coalfield”, adalah upaya Cook Marshall untuk mendiagnosis akar persisten kemiskinan di wilayah yang selama lebih dari seabad menjadi tulang punggung energi Amerika. Ia membuka dengan “Ikhtisar” yang me-negaskan bahwa “Kemiskinan yang Persisten Memiliki Akar dan Alasan”—bahwa kemiskinan di Appalachia bukanlah kebetulan atau akibat dari kemalasan penduduknya, melainkan hasil dari keputusan-keputusan struktural yang dibuat jauh dari wilayah tersebut .
Cook Marshall menelusuri sejarah panjang “Pergeseran Teknologi Agraris dan Isu Penebangan Kayu dan Ekstraksi yang Tersisa”—bagaimana teknologi yang awalnya dijanjikan akan mem-bawa kemajuan justru menjadi alat eksploitasi. Ia mendokumentasikan “Boom and Bust of Coal Demand and Employment”—siklus yang sudah dikenal di wilayah tambang di seluruh dunia, di mana ketika harga batu bara tinggi, perusahaan datang membawa pekerjaan, dan ketika harga jatuh, mereka pergi meninggalkan lubang menganga baik di tanah maupun di masyarakat .
Yang paling mencemaskan adalah analisisnya tentang “Defisit Demokrasi, Korupsi, dan Penurunan Modal Sosial”. Cook Marshall menunjukkan bagaimana ekonomi sektor tunggal—di mana seluruh komunitas bergantung pada satu industri ekstraktif—telah mengikis kapasitas warga untuk mempraktikkan demokrasi. Ketika kekuatan terkonsolidasi di tangan segelintir pemilik modal yang berkedudukan jauh di New York atau London, ketika pekerjaan diotomatisasi sehingga tenaga manusia tidak lagi dibutuhkan, ketika generasi muda terpaksa pergi karena tidak ada masa depan—apa artinya menjadi warga negara? Apa artinya berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik ketika keputusan-keputusan penting tentang hidup Anda dibuat di ruang-ruang rapat korporasi ribuan mil jauhnya? .
Ia juga menguji konsep “Kutukan Sumber Daya” (Resource Curse) dan menemukan keterbatasannya dalam menjelaskan realitas kompleks Pocahontas. Konsep itu mungkin berguna, tetapi tidak cukup untuk menangkap nuansa historis dan kultural yang membentuk wilayah ini. Yang paling mencolok dari temuannya adalah bahwa dari semua masalah yang dihadapi kawasan ini, “Masalah Sekarang, Namun Kurangnya Pemimpin Menduduki Peringkat Pertama”—sebuah pengakuan pahit bahwa kerusakan terbesar mungkin bukan pada infrastruktur fisik, tetapi pada infrastruktur kepemimpinan dan kapasitas kolektif untuk membayangkan masa depan yang berbeda.
Bab ini ditutup dengan “Kata-kata dan Pemikiran Para Grasstops di Kawasan Batu Bara Pocahontas”—suara-suara para pemikir lokal yang jarang didengar namun memiliki wawasan mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi di komunitas mereka. Mereka berbicara tentang kehilangan, tentang pengkhianatan, tetapi juga tentang kemungkinan-kemungkinan yang masih tersisa jika saja ada kemauan politik untuk melihatnya.
Interlude 1: Jason Tartt, Sr
Jika Jason Tartt, Sr Di sinilah kita mendengar langsung dari Jason Tartt, Sr., yang kisahnya membuka tulisan ini. Kesaksian Tartt tentang kematian ayahnya akibat penyakit paru-paru akibat debu batu bara adalah pengingat bahwa di balik statistik dan kebijakan, ada biaya manusia yang tak terhitung. Ia berbicara tentang bagaimana komunitasnya telah dikhianati oleh janji-janji kemakmuran yang tak pernah terwujud, tentang bagaimana generasi mudanya terpaksa pergi karena tidak ada pekerjaan, tentang bagaimana air yang dulu jernih kini tercemar limbah tambang. “Mereka mengambil batu bara kami,” katanya, “dan yang mereka tinggalkan hanyalah lubang dan penyakit” .
Janji-Janji Ilmiah dan Kemakmuran
Bab kedua, “Scientific Promises and Prosperity: Constructing the Rural Industrial Space”, adalah jantung intelektual dari argumen Cook Marshall. Ia membuka dengan “Ikhtisar” yang kemudian dielaborasi melalui serangkaian sub-bab yang membedah bagaimana sains dan teknologi telah digunakan sebagai alat untuk membangun ruang industri pedesaan.
Cook Marshall mendokumentasikan bagaimana “Mempromosikan Sains dan Data untuk Menjual Alam dan Rencana Patriotik untuk ‘Perbaikan'” telah menjadi strategi yang digunakan selama lebih dari seabad. Para insinyur, ilmuwan, dan perencana—dengan niat baik atau buruk—telah membangun narasi bahwa industrialisasi adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan, bahwa mekanisasi adalah keniscayaan, bahwa efisiensi adalah tujuan tertinggi. Mereka menjual alam sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, dan menjual patriotisme sebagai pembenaran untuk eksploitasi itu.
Sub-bab “A Fight for ‘Development'” menggambarkan bagaimana perjuangan untuk mendefinisikan apa itu “pembangunan” telah menjadi medan pertempuran ideologis. Siapa yang berhak mendefinisikan kemajuan? Siapa yang menentukan apa yang baik untuk masyarakat lokal? Dalam narasi dominan, pembangunan selalu berarti industrialisasi, selalu berarti pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan PDB, selalu berarti integrasi ke dalam pasar global. Suara-suara alternatif yang menawarkan definisi berbeda tentang kesejahteraan—yang menghargai otonomi lokal, kelestarian lingkungan, kohesi sosial—terpinggirkan dan dianggap “tidak ilmiah” atau “terbelakang.”
“Rational Rural and Patriotic Science” adalah konsep kunci yang diperkenalkan Cook Marshall untuk menangkap bagaimana sains telah digunakan untuk membenarkan kebijakan yang menguntungkan kapital yang absen dengan mengorbankan komunitas lokal. Sains yang “rasional” dan “patriotik” ini diklaim netral dan obyektif, padahal sarat dengan asumsi-asumsi ideologis tentang apa yang berharga dan apa yang tidak.
Sub-bab berikutnya menunjukkan bagaimana sains ini bekerja secara konkret: ia “Merasional-kan Lahan, Mengukur, Mengkuantifikasi, Membuat Alam Dapat Dipahami, dan Dengan Demikian, Mudah Dibentuk”. Dengan mengubah lahan menjadi angka-angka—ton batu bara per hektar, kaki kubik kayu per acre, nilai properti dalam dolar—sains membuat alam kehilangan makna kultural dan spiritualnya. Ia menjadi komoditas yang siap diperdagangkan.
“Meratakan Kawasan Batu Bara Pocahontas” (Flattening the Pocahontas Coalfield) adalah metafora yang kuat untuk proses ini—baik secara harfiah (penggalian gunung untuk tambang terbuka) maupun secara metaforis (penghapusan kompleksitas lokal demi data yang seragam dan mudah dikelola). “Meng-kotak-hitam-kan Kawasan Batu Bara Pocahontas” (Black-Boxing the Pocahontas Coalfield) menggambarkan bagaimana wilayah ini menjadi “kotak hitam”—input (batu bara) masuk, output (keuntungan) keluar, sementara proses sosial dan lingkungan di dalamnya diabaikan.
Setelah “Merefleksikan Kembali Big Rural”, Cook Marshall sampai pada pertanyaan etis: “Ilmuwan Mengambil Tanggung Jawab di Ruang Industri Pedesaan”. Jika sains telah menjadi alat eksploitasi, apa tanggung jawab para ilmuwan? Apakah mereka hanya pelayan kekuasaan, atau bisakah mereka menjadi agen perubahan yang membela komunitas lokal?
Lindytown dan Necropolitics
Bagian paling teoritis dan mendalam dari bab ini adalah analisis tentang “Sains dan Teknologi Korporat dan Defisit Demokrasi di Lindytown, Virginia Barat”. Cook Marshall menggunakan “Lindytown sebagai Dibaca Melalui ‘Nekropolitik’ Achille Mbembe”—sebuah kerangka teoretis yang biasanya digunakan untuk memahami kekerasan kolonial dan pascakolonial, tetapi ia terapkan secara provokatif pada komunitas pedesaan Amerika.
Konsep nekropolitik Mbembe—tentang kekuasaan untuk menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus mati—memberi Cook Marshall alat untuk menganalisis bagaimana korporasi dan negara telah secara sistematis membuat komunitas seperti Lindytown “mati secara sosial” bahkan ketika penduduknya masih bernapas. Ia mengelaborasi melalui lima “ekstensi” dari kerangka Mbembe:
“Ekstensi 1: Kedaulatan”—siapa yang benar-benar berdaulat di Lindytown? Negara bagian? Pemerintah federal? Atau korporasi yang memiliki tambang dan membuat keputusan tentang nasib ribuan pekerja?
“Ekstensi 2: Keadaan Pengecualian”—bagaimana Lindytown diperlakukan sebagai “keadaan pengecualian” di mana aturan normal tentang perlindungan lingkungan, hak pekerja, dan akuntabilitas korporasi tidak berlaku?
“Ekstensi 3: Politik sebagai Pekerjaan Kematian”—bagaimana kebijakan yang dibuat di ibu kota negara bagian dan Washington, D.C., secara efektif menjadi “pekerjaan kematian” bagi komunitas seperti Lindytown?
“Ekstensi 4: Perbudakan”—dalam arti metaforis, bagaimana ketergantungan ekonomi pada satu industri telah menciptakan bentuk baru perbudakan, di mana pekerja tidak punya pilihan selain menerima kondisi yang merusak kesehatan dan lingkungan mereka?
“Ekstensi 5: Sains sebagai Penciptaan Pengetahuan”—bagaimana sains, alih-alih membebaskan, justru menciptakan pengetahuan yang memungkinkan eksploitasi lebih efisien?
Melalui lima ekstensi ini, Cook Marshall membangun argumen yang kuat bahwa apa yang terjadi di Lindytown—dan oleh perluasan di ribuan komunitas pedesaan industri lainnya di Amerika—bukanlah kegagalan kebijakan yang tidak disengaja, melainkan konsekuensi logis dari sistem di mana kapital yang absen memiliki kedaulatan atas hidup dan mati komunitas lokal .
Interlude 2: Atlas Charles
Jika Jason Tartt, Sr., mewakili generasi yang mewarisi luka, Atlas Charles adalah suara dari mereka yang masih berjuang di tengah reruntuhan. Duduk di beranda rumahnya yang lapuk, Atlas menatap puncak bukit yang telah dipenggal oleh mesin-mesin raksasa. “Mereka bilang ini adalah kemajuan,” katanya pelan, suaranya nyaris tertiup angin. “Mereka bilang batu bara akan membawa cahaya ke rumah-rumah di kota-kota besar. Dan benar, lampu-lampu di New York menyala terang berkat kegelapan yang kami tinggali.” Ia tertawa pahit. “Tapi coba lihat sekarang. Tambang sudah tutup. Pemuda-pemuda pergi meninggalkan kampung. Dan kami yang tersisa hanya punya gunung yang telah dipenggal dan air yang tak lagi bisa diminum.”
Kesaksian Atlas Charles adalah pengingat bahwa di balik analisis teoretis yang rumit, ada pengalaman hidup yang nyata—pengalaman kehilangan, pengkhianatan, tetapi juga pengalaman bertahan dan menolak untuk menyerah. Ia berbicara tentang bagaimana komunitasnya dulu hidup dari tanah, bagaimana mereka mengenal setiap lereng bukit dan aliran sungai, dan bagaimana semua pengetahuan itu menjadi tidak berguna ketika gunung-gunung dipenggal dan sungai-sungai tercemar. Namun di matanya masih ada api—api kemarahan, tetapi juga api harapan bahwa sesuatu yang berbeda mungkin masih mungkin.
Membangun Pemahaman Baru tentang Pedesaan
Apa yang dilakukan Cook Marshall dalam Introduksi, Bab 1, Bab 2, dan dua interlude ini adalah membangun fondasi untuk pemahaman baru tentang pedesaan industri. Ia menunjukkan bahwa “Big Rural” bukanlah sekadar metafora puitis, melainkan sebuah konsep analitis yang menangkap realitas pedesaan sebagai tempat yang “seringkali menjadi sistem di antara sistem-sistem, yang dibentuk secara intensif oleh ilmuwan dan insinyur, baik dalam bentang alam maupun budayanya.”
Dengan menggabungkan analisis struktural yang cermat dengan suara-suara langsung dari warga seperti Jason Tartt, Sr., dan Atlas Charles, Cook Marshall melakukan apa yang jarang dilakukan dalam literatur akademik: ia memberi ruang bagi mereka yang biasanya menjadi objek studi untuk berbicara sebagai subjek, untuk menjelaskan dunia mereka dengan kata-kata mereka sendiri. Pendekatan ini bukan sekadar metode, melainkan pernyataan politik epistemologis—sebuah penolakan terhadap tradisi yang memperlakukan masyarakat pedesaan sebagai laboratorium bagi para peneliti dari luar.
Seperti yang ditulis James Collier dalam pengantarnya untuk buku ini, Cook Marshall “mendesak kita untuk mengamati, berpikir, dan berbicara dengan hati-hati dan imajinatif tentang ‘big rural’—ruang pedesaan yang menghubungkan kita semua dengan cara-cara vital dan teridentifikasi ke Appalachia dan ke Pocahontas Coalfield” . Ia membawa bersama dan mendengarkan dengan saksama berbagai pendapat dan kebijakan, penelitian ilmiah dan teknik, serta keinginan pribadi tentang Appalachia masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia berdiri, dalam cahaya kelabu fajar yang dingin itu, lelah namun penuh harap .
Bagi pembaca di Indonesia, analisis Cook Marshall tentang bagaimana sains dan teknologi digunakan untuk membangun ruang industri pedesaan yang mengeksploitasi komunitas lokal untuk keuntungan kapital yang absen, memiliki resonansi yang mendalam. Di Kalimantan, di Sumatra, di Papua, kita menyaksikan proses yang sama: perusahaan tambang dan perkebunan sawit datang dengan janji kemakmuran, membawa teknologi canggih dan data ilmiah untuk membenarkan eksploitasi, dan ketika sumber daya habis, mereka pergi meninggalkan lubang menganga dan komunitas yang hancur. Pertanyaannya sekarang: apakah kita akan belajar dari pengalaman pahit Appalachia, atau akankah kita mengulangi kesalahan yang sama di tanah sendiri?
Amelia Bandy duduk di ruang kelas yang hampir kosong, jari-jarinya menelusuri meja kayu yang usang. Tiga puluh tahun mengajar di sekolah yang sama, dan ia telah menyaksikan generasi demi generasi muridnya meninggalkan kampung halaman. “Awalnya hanya satu-dua yang pergi kuliah dan tidak kembali,” katanya, suaranya bergetar antara bangga dan sedih. “Lalu semakin banyak. Sekarang, ketika aku bertanya kepada murid-muridku apa cita-cita mereka, hampir semua menjawab ingin keluar dari sini. Bukan menjadi apa, tapi ke mana. Itu yang membuatku sedih—mereka tidak lagi bermimpi tentang masa depan, mereka hanya bermimpi tentang tempat lain.”
Kisah Amelia Bandy, yang didokumentasikan Crystal Cook Marshall dalam Big Rural, adalah jendela menuju bagian akhir buku ini—bagian yang tidak hanya mendiagnosis penyakit, tetapi juga menawarkan resep untuk penyembuhan. Setelah menghabiskan bagian awal untuk membedah bagaimana sains dan teknologi telah digunakan sebagai alat eksploitasi di kawasan batu bara Pocahontas, Cook Marshall kini beralih ke pertanyaan yang lebih mendesak: apa yang bisa dilakukan? Bagaimana komunitas yang hancur bisa bangkit kembali? Dan apa peran kebijakan nasional dalam proses itu?
Kemungkinan Demokratis di Big Rural
Bab ketiga, “Democratic Possibilities and Policies in Big Rural”, adalah upaya Cook Marshall untuk membayangkan kembali apa artinya berdemokrasi di ruang pedesaan industri. Ia membuka dengan “Pemikiran untuk Memulai,” sebuah pengakuan bahwa perubahan tidak akan datang dari atas—dari Washington atau dari ibu kota negara bagian—tetapi harus tumbuh dari akar rumput. Namun ia juga realistis: tanpa dukungan kebijakan yang memadai, inisiatif lokal akan tetap menjadi pulau-pulau kecil inovasi yang tidak pernah mencapai skala yang diperlukan untuk transformasi sejati .
Cook Marshall kemudian memperkenalkan kerangka yang ia sebut “Possibilities as Democratic Engagement”—sebuah cara berpikir tentang demokrasi yang tidak terbatas pada pemilu dan prosedur formal, tetapi mencakup partisipasi aktif warga dalam membentuk keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Ini adalah demokrasi sebagai praktik sehari-hari, bukan sebagai ritual lima tahunan .
Sub-bab “Democratic Localism” mengeksplorasi bagaimana komunitas lokal bisa mengambil kembali kendali atas nasib mereka. Namun Cook Marshall memperingatkan terhadap romantisisasi lokalitas yang naif: lokalisme tanpa dukungan struktural bisa dengan mudah menjadi jebakan di mana komunitas yang miskin dibiarkan berjuang sendiri sementara kekuatan-kekuatan besar terus beroperasi tanpa hambatan di tingkat nasional dan global .
Di sinilah konsep “Civic Science” menjadi sentral. Cook Marshall berargumen untuk transformasi radikal dalam cara sains dipraktikkan dan dikomunikasikan. Alih-alih sains yang dilakukan oleh para ahli di menara gading dan kemudian “disosialisasikan” kepada masyarakat, civic science adalah sains yang dilakukan bersama masyarakat, yang menghormati pengetahuan lokal, dan yang tujuannya adalah pemberdayaan, bukan sekadar produksi pengetahuan abstrak.
“Culturally Aware Research and Data Collection” adalah perpanjangan dari gagasan ini. Cook Marshall mengkritik tradisi penelitian yang memperlakukan komunitas pedesaan sebagai objek studi—dikunjungi oleh peneliti dari universitas jauh, diwawancarai, datanya diambil, dan kemudian ditinggalkan tanpa umpan balik atau manfaat. Penelitian yang sadar budaya, sebaliknya, melibatkan komunitas dalam setiap tahap proses, dari perumusan pertanyaan hingga penyebaran hasil.
Bab ini juga membahas “Strategic Planning in Extension and Outreach”—bagaimana institusi-institusi seperti layanan penyuluhan pertanian, yang secara tradisional menjadi saluran utama pengetahuan dari universitas ke pedesaan, bisa direformasi untuk menjadi lebih partisipatif dan memberdayakan. “Addressing Material Needs” adalah pengingat bahwa semua gagasan indah tentang demokrasi partisipatif tidak akan berarti apa-apa jika orang tidak memiliki akses ke kebutuhan dasar: makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan, pekerjaan yang layak.
Bab ditutup dengan “Imagining: What Could ‘Better’ Look Like?”—sebuah undangan untuk berimajinasi tentang masa depan yang berbeda. Cook Marshall tidak menawarkan cetak biru, tetapi serangkaian kemungkinan yang bisa dieksplorasi: koperasi energi yang dimiliki komunitas, pertanian berkelanjutan yang terintegrasi dengan ekonomi lokal, program pelatihan yang mempersiapkan pemuda untuk membangun masa depan di kampung halaman mereka alih-alih meninggalkannya.
Apa Kabar Strategi Pedesaan Nasional?
Bab keempat, “So, What of a National Rural Strategy?”, adalah pengakuan pahit bahwa Amerika Serikat—tidak seperti banyak negara maju lainnya—tidak pernah memiliki strategi pedesaan yang koheren dan komprehensif. Cook Marshall membuka dengan “A Bit of Context: Food Insecurity, Poverty, and Inequality in Rural America”—data yang mengejutkan tentang betapa parahnya krisis di pedesaan Amerika, jauh melampaui apa yang dilaporkan media arus utama.
Ia kemudian mengeksplorasi “Rural Definitions, Rural Policy, and Representation in Government”. Masalahnya dimulai dari definisi: apa itu “pedesaan”? Bagaimana kita mendefinisikan dan mengukur? Tanpa definisi yang jelas, kebijakan menjadi tidak fokus dan sumber daya tersebar tidak merata. Lebih parah lagi, representasi politik pedesaan di semua tingkat pemerintahan terus menurun, sehingga suara-suara pedesaan semakin tidak terdengar dalam pengambilan keputusan nasional.
“What Are Some Examples of Existing Rural Strategy or Rural Policy in the US?” adalah tinjauan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ada—program-program Departemen Pertanian, inisiatif pembangunan ekonomi, hibah untuk infrastruktur. Cook Marshall menemukan bahwa kebijakan-kebijakan ini seringkali terfragmentasi, saling bertentangan, dan lebih banyak menguntungkan korporasi besar daripada komunitas lokal.
Yang lebih parah lagi, banyak kebijakan yang diklaim sebagai “bantuan untuk pedesaan” sebenarnya adalah bentuk lain dari eksploitasi. “Rural Policy and Poverty as a Cash Cow” adalah bagian yang paling pedas: bagaimana kemiskinan pedesaan telah menjadi industri itu sendiri, dengan para kontraktor, konsultan, dan LSM yang hidup dari proyek-proyek “pemberdayaan” yang jarang memberdayakan siapa pun kecuali diri mereka sendiri.
Bab ini ditutup dengan seruan untuk “Better Representation”—bukan sekadar lebih banyak kursi di legislatif, tetapi representasi yang substantif, di mana kepentingan pedesaan benar-benar diperjuangkan, dan di mana warga pedesaan memiliki suara nyata dalam kebijakan yang mempengaruhi hidup mereka .
Interlude 3: Amelia Bandy
Di sinilah kita mendengar langsung dari Amelia Bandy, yang kisahnya membuka tulisan ini. Kesaksiannya tentang generasi muda yang kehilangan kemampuan untuk bermimpi adalah salah satu bagian paling mengharukan dalam buku ini. “Mereka tidak lagi bertanya ‘aku ingin menjadi apa’,” katanya. “Mereka bertanya ‘ke mana aku bisa pergi’. Itu perbedaan antara harapan dan keputusasaan.” Bandy berbicara tentang bagaimana sekolah, yang seharusnya menjadi tempat di mana mimpi dipupuk, telah berubah menjadi tempat di mana anak-anak belajar bahwa satu-satunya masa depan yang mungkin ada di tempat lain.
Menuju Strategi Pertanian Berkelanjutan Nasional
Bab kelima, “Toward a National Sustainable Agricultural Strategy”, adalah elaborasi lebih lanjut dari apa yang bisa dilakukan secara konkret. Cook Marshall membuka dengan “Pemikiran untuk Memulai” yang mengakui bahwa pertanian adalah jantung dari banyak komunitas pedesaan, dan bahwa transformasi pertanian adalah kunci untuk transformasi pedesaan yang
lebih luas.
“What Is Sustainable Agriculture?” adalah pertanyaan yang tampaknya sederhana tetapi sarat dengan perdebatan. Cook Marshall menelusuri berbagai definisi—dari yang teknis (praktik pertanian yang tidak merusak lingkungan) hingga yang politis (sistem pangan yang adil dan berkeadilan). Ia berargumen bahwa pertanian berkelanjutan tidak bisa hanya didefinisikan secara teknis, tetapi harus mencakup dimensi sosial dan ekonomi.
“Industrial Agriculture, and What the Dominance Means for Rural Communities” adalah analisis tentang bagaimana model pertanian industri—dengan skala besar, monokultur, ketergantung-an pada input kimia, dan integrasi vertikal oleh korporasi—telah menghancurkan komunitas pedesaan. Petani keluarga bangkrut, tanah terkonsentrasi di tangan segelintir korporasi, generasi muda meninggalkan pertanian, dan ekologi lokal hancur.
Cook Marshall kemudian mengajukan pertanyaan kunci: “How to Help Beginning Farmers and
Ranchers Build Resilience and Climate-Friendly Operations?”—sebuah pertanyaan yang menjadi semakin mendesak di era perubahan iklim. Ia menawarkan serangkaian rekomendasi kebijakan: akses ke lahan bagi petani pemula, pelatihan dalam praktik regeneratif, dukungan untuk pasar lokal dan regional, insentif untuk diversifikasi.
“Who Is Not at the Table When We Discuss Rural and Agricultural Policy?” adalah pengingat bahwa kebijakan pertanian selama ini dibuat oleh dan untuk kepentingan korporasi besar, sementara petani kecil, buruh tani, konsumen, dan komunitas lokal jarang diundang ke meja perundingan. Cook Marshall menyerukan reformasi radikal dalam proses pembuatan kebijakan, agar suara-suara yang selama ini terpinggirkan bisa didengar.
Interlude 4: A White Paper as a Community Act
Interlude keempat ini unik: sebuah “kertas putih” yang ditulis sebagai tindakan komunitas. Cook Marshall mendokumentasikan bagaimana sekelompok warga di salah satu komunitas yang ia teliti berkumpul untuk menulis dokumen kebijakan mereka sendiri—bukan sekadar daftar keluhan, tetapi proposal konkret tentang apa yang mereka butuhkan dan apa yang bisa dilakukan. Proses penulisan itu sendiri adalah tindakan politik: mengambil kembali hak untuk mendefinisikan masalah dan merumuskan solusi, yang selama ini dirampas oleh para ahli dari luar.
Catatan Akhir: Pelajaran dari Appalachia
Big Rural adalah buku yang lahir dari keprihatinan tetapi juga dari harapan. Crystal Cook Marshall tidak menawarkan optimisme palsu, tetapi ia juga tidak menyerah pada keputusasaan. Melalui wawancara dengan agen perubahan pedesaan, melalui penelitian yang cermat, dan melalui jalan lokal dan federal, ia menegaskan “jalan ke depan untuk pedesaan yang lebih adil dan berkeadilan.”
Seperti yang ditulis James Collier dalam pengantarnya, Cook Marshall “mendesak kita untuk mengamati, berpikir, dan berbicara dengan hati-hati dan imajinatif tentang ‘big rural’ — ruang pedesaan yang menghubungkan kita semua dengan cara-cara vital dan teridentifikasi ke Appalachia dan ke Pocahontas Coalfield” . Ia membawa bersama dan mendengarkan dengan saksama berbagai pendapat dan kebijakan, penelitian ilmiah dan teknik, serta keinginan pribadi tentang Appalachia masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Bagi pembaca di Indonesia, pesan Big Rural sangat gamblang: model pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek dengan mengorbankan komunitas lokal dan lingkungan adalah resep bunuh diri sosial. Ketika petani kehilangan tanahnya, ketika generasi muda meninggalkan desa karena tidak ada masa depan, ketika rantai pasok dikuasai segelintir korporasi raksasa, yang hancur bukan hanya ekonomi lokal, tetapi juga jalinan sosial, kesehatan mental, dan masa depan demokrasi itu sendiri.
Seperti yang dikatakan Atlas Charles di akhir wawancaranya dengan Cook Marshall, “Kami tidak ingin kembali ke masa lalu. Kami hanya ingin masa depan yang layak untuk anak-anak kami. Masa depan di mana mereka bisa tinggal di tanah leluhur mereka dan tetap hidup dengan martabat.” Harapan sederhana ini — harapan untuk martabat, untuk tempat berpijak, untuk masa depan — adalah inti dari pergulatan yang didokumentasikan dalam Big Rural. Dan pertanyaan bagi kita semua adalah: apakah kita akan membiarkan harapan itu padam, atau akankah kita membangun dunia di mana ia bisa tumbuh?
Mata Jason Tartt, Sr., menyipit menahan silau matahari sore yang memantul dari lubang tambang batu bara yang telah lama ditinggalkan. “Ayah saya meninggal karena penyakit paru-paru,” katanya, suarara serak bercampur debu dan kenangan. “Dia menghabiskan empat puluh tahun di bawah tanah, dan ketika keluar, paru-parunya sudah seperti batu bara yang dihancurkan.” Ia berhenti sejenak, menatap lubang hitam yang menganga di lereng bukit. “Mereka bilang batu bara membawa kemakmuran. Tapi lihat sekarang. Tambang tutup. Pemuda pergi. Yang tersisa hanya gunung yang dipenggal dan air yang tak layak minum. Ini bukan kemakmuran. Ini penjarahan dengan nama kemajuan.”
Kisah Jason Tartt, Sr., yang didokumentasikan Crystal Cook Marshall dalam bukunya Big Rural, bukanlah sekadar catatan pinggir tentang kemunduran ekonomi di Appalachia. Ia adalah pintu masuk ke dalam pemahaman yang lebih dalam tentang apa yang disebut Cook Marshall sebagai “Big Rural”—ruang pedesaan yang tidak liar dan tak tersentuh seperti yang sering diimajinasikan, melainkan ruang yang telah direkayasa, diukur, dan dieksploitasi oleh sistem industri dan teknologi dengan cara yang sama intensifnya seperti kota-kota besar .
Cook Marshall tidak menawarkan resolusi yang rapi—ia terlalu jujur untuk itu. Sebaliknya, ia menawarkan serangkaian kata kerja yang menangkap apa yang perlu dilakukan: meneliti dengan cara yang berbeda, memberdayakan komunitas dengan sumber daya yang mereka butuhkan, mengungkap kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan “pembangunan” dan “kemajuan”, dan akhirnya, membangun kembali—bukan kembali ke masa lalu yang romantis, tetapi ke masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Research, Resources, Revealing, Redefining, Remaking adalah pesan penting dari seluruh argumen buku ini.
Cook Marshall menekankan bahwa semua ini tidak bisa dilakukan oleh komunitas sendirian. Dibutuhkan kemauan politik di tingkat negara bagian dan nasional, dibutuhkan alokasi sumber daya yang memadai, dibutuhkan perubahan dalam cara sains dipraktikkan dan kebijakan dibuat. Namun ia juga menegaskan bahwa perubahan tidak akan datang dari atas tanpa tekanan dari bawah. Inilah dialektika yang harus dijalani: gerakan akar rumput yang mendorong perubahan kebijakan, dan kebijakan yang mendukung dan memperkuat gerakan akar rumput .
Seperti yang ditulisnya di halaman-halaman penutup: “Big Rural bukanlah takdir. Ia adalah konstruksi—dibangun oleh keputusan-keputusan yang dibuat selama lebih dari seabad. Dan apa yang dibangun oleh manusia, bisa diubah oleh manusia. Pertanyaannya bukan apakah kita bisa berubah, tetapi apakah kita memiliki kemauan untuk melakukannya.”
Cirebon, 22 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Cook Marshall, C. (2024). Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next. Lexington Books.
Collier, J. (2024). Advance praise for Big Rural. In C. Cook Marshall, Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next. Lexington Books.
Choice Reviews. (2024). Review of Big Rural. In C. Cook Marshall, Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next. Lexington Books.
Disney. (1995). Pocahontas [Animated Film].
Gleach, F. W. (1997). Powhatan’s World and Colonial Virginia. University of Nebraska Press.
Miami University Libraries. (n.d.). Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next[Library catalog record]. https://holmes.lib.miamioh.edu:443/search~S9?/aThomas%2C+Aiden%2C+author/athomas+aiden+author/-3%2C-1%2C0%2CB/frameset&FF=athomas+alexander+r&1%2C1%2C
Rountree, H. C. (1990). Pocahontas’s People: The Powhatan Indians of Virginia Through Four Centuries. University of Oklahoma Press.
Thomas, A. R., & Fulkerson, G. M. (2024). Foreword. In C. Cook Marshall, Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next. Lexington Books.
Tilton, R. S. (1994). Pocahontas: The Evolution of an American Narrative. Cambridge University Press.
Transnational Institute. (2026). Industrial politics from below: Reclaiming industrialization as a liberation agenda in Indonesia and beyond. https://www.tni.org/en/article/industrial-politics-from-below
RUDN University Scientific Periodicals Portal. (n.d.). Review of Big Rural. RUDN Journal of Sociology.
Townsend, C. (2004). Pocahontas and the Powhatan Dilemma. Hill and Wang.
Victoria University Library. (n.d.). Big rural: Rural industrial places, democracy, and what next[Library catalog record]. http://library.vu.edu.au/record=b8363825






