Rubarubu #180
The Bicycle in Wartime:
Roda yang Tak Pernah Berhenti Berputar
(Bagian 2 dari 2)
Merangkai Roda yang Tercecer
Jika kita membaca dua bab awal Fitzpatrick ini, kita akan menyadari bahwa Fitzpatrick tidak sedang menulis buku tentang sepeda. Ia sedang menulis tentang kegigihan manusia, tentang kemampuan beradaptasi di tengah tekanan. Para prajurit yang mengendarai sepeda di medan perang adalah orang-orang yang sering diolok-olok oleh rekan mereka yang menunggang kuda. Namun mereka tidak menyerah. Mereka terus mengayuh, terus mencari celah, terus membuktikan bahwa keheningan dan kecepatan memiliki tempatnya sendiri dalam ilmu peperangan.
Dalam tradisi intelektual Islam, konsep stratijiyyah ghayr as-simtriyyah (peperangan asimetris) sering dikaitkan dengan kemampuan pihak yang lemah untuk memanfaatkan alat-alat yang tidak biasa untuk melawan pihak yang kuat. Sepeda dalam Perang Boer adalah contoh sempurna: pihak Boer yang kalah jumlah dan teknologi, menggunakan sepeda untuk mengimbangi mobilitas pasukan Inggris yang lebih besar. Ini adalah pelajaran yang mungkin masih relevan bagi mereka yang berjuang melawan penjajahan atau pendudukan militer hingga hari ini.
Di ujung bagian ini, Fitzpatrick meninggalkan kita dengan rasa ingin tahu yang besar. Eksperimen dan ujian pertama telah selesai. Sepeda telah membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan, meskipun banyak yang meragukan. Namun pertempuran terbesar masih akan datang—di parit-parit Perang Dunia, di hutan Vietnam, di jalur pendakian yang mustahil. Fitzpatrick, seperti seorang komandan yang bijak, sedang mempersiapkan kita untuk perjalanan yang lebih jauh dan lebih berdarah.
Bab ketujuh, “The Home Front: World War II,” membawa kita keluar dari medan pertempuran dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari warga sipil yang terjebak dalam pusaran perang. Fitzpatrick menunjukkan bahwa ketika bahan bakar menjadi komoditas langka dan sistem transportasi umum hancur akibat pengeboman, sepeda menjadi penyelamat bagi jutaan orang di Eropa, Australia, dan Amerika (Fitzpatrick, 1998, Chapter 7).
Di Prancis yang diduduki Nazi, sepeda menjadi alat utama Résistance (gerakan perlawanan). Para kurir perlawanan mengayuh sepeda mereka di malam hari, melewati pos-pos pemeriksaan Jerman, membawa pesan rahasia, senjata kecil, dan kadang-kadang, bahkan orang-orang Yahudi yang melarikan diri ke Swiss . Fitzpatrick mengisahkan seorang kurir wanita, Lucie Aubrac, yang menggunakan sepeda lipat untuk menyelundupkan dokumen-dokumen penting melewati blokade Jerman di Lyon. Keheningan sepeda dan penampilannya yang tidak mencolok membuatnya luput dari perhatian (Fitzpatrick, 1998, Chapter 7).
Di Inggris yang terancam invasi, Home Guard (Pasukan Pertahanan Dalam Negeri) melatih ribuan anggotanya menggunakan sepeda untuk patroli pantai dan lapangan terbang . Mereka dijuluki “Dad’s Army” (Pasukan Kakek), tetapi Fitzpatrick tidak meremehkan mereka. Sepeda memungkinkan para lansia dan remaja yang tidak layak dinas militer reguler untuk berkontribusi dalam pertahanan pulau, memeriksa apakah ada tentara Jerman yang mendarat di teluk-teluk terpencil (Fitzpatrick, 1998, Chapter 7).
Di Australia, pabrik-pabrik sepeda beralih ke produksi perang, merakit ribuan “sepeda militer standar” yang kokoh dan sederhana untuk dikirim ke pasukan Sekutu di Pasifik . Dan di Amerika, pemerintah memberlakukan penjatahan bensin dan karet, sehingga warga sipil terpaksa mengandalkan sepeda untuk mobilitas sehari-hari. Fitzpatrick menyebut fenomena ini sebagai “demokratisasi paksa sepeda”—sebuah ironi bahwa perang yang menghancurkan justru mempercepat adopsi sepeda di negara yang paling tergila-gila pada mobil (Fitzpatrick, 1998, Chapter 7).
Ketika Sejarah Berbicara: Sepeda antara Usang dan Abadi
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin bersembunyi di benak setiap pembaca yang telah mengikuti perjalanan panjang sepeda dalam peperangan, dari medan perang Boer hingga hutan Vietnam yang lebat. Pertanyaan itu sederhana namun mengganggu: di era jet tempur, rudal hipersonik, dan drone otonom, apakah sepeda masih relevan? Apakah ia tidak telah menjadi fosil yang tertinggal oleh waktu, sebuah kenangan nostalgia dari masa lalu ketika perang masih “sederhana”? Jim Fitzpatrick, dalam bab kesembilan dan terakhir bukunya yang berjudul “History, Obsolescence, and Perceptions,” tidak menghindari pertanyaan ini. Justru, ia menyambutnya dengan tangan terbuka, mengajak pembaca untuk menyelami hubungan yang rumit antara sejarah, teknologi, dan cara kita memandang sebuah alat (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Bab ini bukanlah kesimpulan biasa. Ia adalah sebuah meditasi reflektif—sebuah ruang hening di akhir perjalanan yang bising, di mana Fitzpatrick mundur selangkah dari narasi peristiwa untuk bertanya tentang makna yang lebih dalam. Ia menelusuri bagaimana persepsi tentang sepeda dalam konteks militer telah berubah secara dramatis dari waktu ke waktu, dari puncak kejayaan hingga jurang keterlupaan, dan kadang-kadang, kembali lagi ke permukaan ketika krisis menuntutnya.
Fitzpatrick memulai dengan membedah kata “obsolesensi” (ketidakgunaan). Dalam dunia militer, sebuah alat dianggap usang ketika ia tidak lagi mampu melakukan tugasnya di medan perang modern (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Tank Mark IV dari Perang Dunia I, misalnya, jelas usang di era perang elektronik saat ini. Pesawat tempur biplan dari tahun 1930-an tidak akan bertahan sedetik pun di langit Ukraina tahun 2026. Namun, apakah sepeda termasuk dalam kategori itu?
Fitzpatrick berpendapat bahwa jawabannya tidak sederhana. Sepeda tidak pernah benar-benar “usang” dalam arti kata yang sebenarnya. Ia tidak pernah digantikan secara penuh oleh kendaraan bermotor karena ia memiliki keunggulan unik yang tidak dimiliki oleh kendaraan lain (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Keheningannya, kemandiriannya dari bahan bakar, kemudahannya untuk diperbaiki dengan alat seadanya, dan ketidakmampuannya untuk dideteksi oleh radar atau sensor panas—semua atribut ini tidak pernah kehilangan nilainya. Yang berubah hanyalah konteks di mana atribut-atribut itu dianggap penting.
Fitzpatrick mengutip seorang perwira logistik Angkatan Darat Amerika yang pernah berkata kepadanya, “Kami tidak menganggap sepeda usang. Kami hanya menganggapnya sebagai alat untuk situasi tertentu. Dan situasi tertentu itu selalu ada—di hutan, di pegunungan, di kota yang hancur, di mana pun kendaraan bermotor tidak bisa masuk” (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Pernyataan ini merangkum inti argumen Fitzpatrick: bahwa sebuah alat tidak menjadi usang karena ia tua; ia menjadi usang karena tidak ada lagi situasi yang membutuhkannya. Dan selama masih ada konflik di medan yang sulit, selama masih ada blokade yang memutus pasokan bahan bakar, selama masih ada perlawanan asimetris melawan kekuatan yang lebih besar, sepeda akan selalu dibutuhkan (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Perubahan Persepsi: Dari Kebanggaan Menjadi Keterpaksaan
Salah satu aspek paling menarik yang diangkat Fitzpatrick adalah bagaimana persepsi tentang sepeda telah berubah secara kultural (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Pada awal abad ke-20, unit sepeda adalah kebanggaan—simbol modernitas, kecepatan, dan kecerdasan. Para prajurit yang mengendarai sepeda dipandang sebagai elite yang gesit dan canggih. Namun setelah Perang Dunia II, dengan dominasi mobil dan tank yang semakin mutlak, sepeda mulai dipandang sebagai alat bagi mereka yang tidak mampu membeli kendaraan bermotor. Sebuah perubahan persepsi yang halus namun destruktif terjadi: sepeda menjadi simbol keterpaksaan, bukan pilihan cerdas (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Fitzpatrick menggambarkan bagaimana di negara-negara berkembang, tentara yang menggunakan sepeda sering dianggap “terbelakang” oleh pengamat Barat. Padahal, dalam banyak situasi, sepeda adalah keputusan yang paling rasional. Di Afrika, misalnya, pasukan penjaga perdamaian PBB sering menggunakan sepeda untuk patroli di daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau kendaraan roda empat karena jembatan yang rusak atau jalan yang hanyut. Namun citra mereka di media internasional sering digambarkan sebagai “pasukan sepeda yang lucu.” Fitzpatrick menyesalkan ini sebagai bentuk bias teknologi—asumsi bahwa yang lebih mahal dan lebih rumit selalu lebih baik.
Persepsi ini, menurut Fitzpatrick, juga dipengaruhi oleh industri persenjataan yang terus mendorong narasi bahwa perang modern membutuhkan teknologi tinggi (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Perusahaan-perusahaan kontraktor pertahanan tidak akan mendapat untung dari menjual sepeda. Mereka mendapat untung dari menjual jet tempur, rudal, dan sistem radar. Maka narasi publik terus digerakkan bahwa untuk menjadi negara yang kuat, Anda harus memiliki persenjataan canggih. Sepeda, dalam narasi ini, ditempatkan sebagai mainan anak-anak atau alat olahraga, bukan alat militer yang serius (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Sejarah yang Berulang: Sepeda Bangkit di Saat Tak Terduga
Fitzpatrick kemudian mengajak pembaca untuk melihat siklus sejarah (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Berulang kali, ketika para jenderal telah melupakan sepeda dan menganggapnya usang, tiba-tiba sebuah krisis muncul yang memaksanya kembali ke panggung. Perang Korea (1950-1953) melihat penggunaan sepeda secara besar-besaran oleh pasukan Tiongkok untuk mengangkut logistik melewati pegunungan yang curam. Perang Soviet-Afghanistan (1979-1989) menyaksikan para mujahidin menggunakan sepeda untuk menyelinap melewati pos-pos pemeriksaan Soviet di malam hari. Konflik di Balkan pada tahun 1990-an melihat para pengungsi menggunakan sepeda untuk melarikan diri dari zona perang ketika semua kendaraan bermotor kehabisan bahan bakar atau disita oleh milisi.
Fitzpatrick menyebut fenomena ini sebagai “hukum ketidakkekalan perang” (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Perang tidak pernah statis. Setiap kali sebuah teknologi baru dianggap telah “mengakhiri sejarah” peperangan, medan perang yang sesungguhnya selalu menemukan cara untuk membuktikan sebaliknya. Tank dianggap telah membuat kavaleri kuda usang, tetapi kuda tetap digunakan di Afghanistan hingga abad ke-21 karena medannya yang tidak bisa dilalui tank. Helikopter dianggap telah membuat sepeda usang, tetapi di hutan Vietnam, helikopter justru menjadi sasaran empuk bagi peluru kendali sementara sepeda meluncur senyap di bawah kanopi pohon.
“Ketika dunia menjadi terlalu rumit,” tulis Fitzpatrick, “manusia kembali ke kesederhanaan. Sepeda adalah kesederhanaan yang berotot—tidak ada yang bisa Anda tambahkan atau kurangi tanpa merusak fungsinya. Ia adalah purwarupa akhir dari teknologi transportasi manusia.” (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Memori Kolektif dan Amnesia Militer
Fitzpatrick juga membahas fenomena “amnesia militer”—kecenderungan lembaga-lembaga pertahanan untuk melupakan pelajaran dari perang sebelumnya, terutama jika pelajaran itu tidak sesuai dengan narasi yang ingin mereka pertahankan (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Setiap kali perang usai, laporan-laporan pascakonflik seringkali mengabaikan peran alat-alat sederhana seperti sepeda, karena mereka tidak “seksi” atau tidak sesuai dengan citra militer yang modern dan berteknologi tinggi. Akibatnya, generasi perwira baru tumbuh tanpa pernah belajar tentang kejeniusan logistik di Dien Bien Phu atau kampanye Malaya.
Fitzpatrick mengutip sebuah studi internal Pentagon yang mengakui bahwa “sepeda telah diabaikan dalam perencanaan logistik kami selama beberapa dekade, dan kami membayar harga mahal untuk kelalaian ini di medan perang yang sebenarnya” (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Namun, pengakuan ini jarang sekali diterjemahkan ke dalam perubahan kebijakan yang berarti. Anggaran untuk penelitian sepeda militer tetap sangat kecil dibandingkan dengan anggaran untuk jet tempur atau kapal induk.
Di sinilah Fitzpatrick menyelipkan kritiknya terhadap budaya militer modern yang cenderung elitis dan teknokratis (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Para jenderal lebih suka membeli mainan mahal dari kontraktor pertahanan daripada melatih pasukan mereka menggunakan alat sederhana yang mungkin lebih efektif dalam situasi tertentu. Ada sebuah ego dalam mengoperasikan tank yang tidak ada dalam mengendarai sepeda. Dan ego, seperti yang diketahui Fitzpatrick, sering menjadi musuh terbesar dari efektivitas militer (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Sepeda di Masa Depan: Antara Mitigasi Bencana dan Perang Asimetris
Pada bagian akhir bab ini, Fitzpatrick mencoba menerawang masa depan peran sepeda dalam konflik bersenjata (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Ia tidak mengklaim memiliki bola kristal, tetapi ia mengidentifikasi beberapa tren yang kemungkinan akan terus membuat sepeda relevan. Pertama, perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana alam. Ketika badai, banjir, atau gempa bumi melanda, infrastruktur jalan sering hancur dan pasokan bahan bakar terputus. Dalam situasi seperti itu, sepeda—yang tidak membutuhkan bensin dan dapat melewati puing-puing—menjadi alat yang vital bagi tim penyelamat dan para pengungsi.
Kedua, urbanisasi dan peperangan di kota. Seperti yang diprediksi oleh para ahli strategi militer, perang masa depan akan semakin banyak terjadi di lingkungan perkotaan yang padat. Di gang-gang sempit dan jalan-jalan kecil yang tidak bisa dilalui tank atau humvee, sepeda adalah raja. Sepeda memungkinkan pasukan bergerak dengan cepat, masuk dan keluar dari situasi tanpa menarik perhatian, dan melarikan diri melalui rute-rute yang tidak terduga.
Ketiga, proliferasi konflik asimetris dan pemberontakan. Selama masih ada kelompok yang tidak memiliki akses ke persenjataan canggih tetapi memiliki semangat perlawanan yang besar, sepeda akan terus menjadi pilihan utama mereka. Fitzpatrick mencatat bahwa di Suriah, di Libya, dan di Ukraina timur, foto-foto pejuang dengan sepeda telah muncul kembali—sebuah pengulangan dari apa yang terjadi di Vietnam dan Malaya setengah abad sebelumnya.
“Sepeda,” tulis Fitzpatrick di akhir bab ini, “adalah bukti hidup bahwa sebuah ide yang baik tidak akan pernah mati. Ia mungkin dipinggirkan, diolok-olok, dilupakan untuk sementara waktu. Tetapi ketika kondisi membutuhkannya, ia akan kembali—tidak sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai solusi masa depan.” (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Catatan Akhir: Kerendahan Hati dari Roda Berkarat
Apa yang bisa kita petik dari buku Fitzpatrick ini? Mungkin, yang paling utama adalah sebuah pelajaran tentang kerendahan hati (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9). Dalam dunia yang terus berlomba menciptakan teknologi baru yang lebih canggih, kita sering lupa bahwa alat-alat lama yang telah teruji oleh waktu seringkali lebih andal, lebih mudah dirawat, dan lebih sesuai untuk situasi-situasi tertentu. Kita terhipnotis oleh kilauan teknologi mutakhir, sementara di sudut gudang yang berdebu, sebuah sepeda tua yang setia menunggu untuk kembali dipanggil.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep istikhlāf—prinsip bahwa Allah menciptakan manusia sebagai pengelola bumi, bukan sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Pengelolaan yang baik adalah pengelolaan yang bijaksana, yang tidak boros, dan yang tidak meninggikan diri di atas ciptaan lain. Sepeda, dengan kesederhanaannya, mengajarkan kita tentang istikhlāf yang sejati: kita tidak perlu mengeruk sumber daya alam untuk membuat mesin-mesin raksasa yang menghancurkan; kita cukup menggunakan alat sederhana yang sudah ada, merawatnya dengan baik, dan menggunakannya dengan bijak untuk melayani kemanusiaan.
Penyair Iran, Sohrab Sepehri, pernah menulis: “Aku harus pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, ke tempat yang tidak ada suara mesin, ke tempat yang angin bebas berbisik di telinga.” Sepeda, dalam kesunyiannya, adalah kendaraan menuju tempat itu—bahkan di tengah perang sekalipun. Dan mungkin, di situlah harapan terakhir bagi umat manusia yang lelah dengan deru mesin dan bom: untuk kembali ke keheningan, kembali ke roda yang berputar perlahan, dan kembali mengingat bahwa kita hanyalah makhluk kecil yang berbagi bumi dengan makhluk-makhluk lain.
Pada akhirnya, Fitzpatrick tidak memberikan jawaban pasti tentang masa depan sepeda. Ia hanya memberikan keyakinan: bahwa selama manusia masih berperang, selama manusia masih bertahan hidup di tengah reruntuhan, selama manusia masih membutuhkan mobilitas tanpa ketergantungan pada sistem yang rapuh, sepeda akan tetap ada. Apakah itu menjadikannya abadi? Mungkin tidak. Tetapi ia akan selalu menjadi salah satu alat yang paling manusiawi dalam gudang senjata kemanusiaan—tidak untuk membunuh, tetapi untuk menyelamatkan; tidak untuk menaklukkan, tetapi untuk bertahan (Fitzpatrick, 1998, Chapter 9).
Jika kita membaca keenam bab ini secara berurutan, kita akan tersadar bahwa Fitzpatrick sedang menulis sebuah epik tentang ketahanan manusia. Dari parit-parit Perang Dunia I yang berlumpur hingga hutan Vietnam yang lebat, sepeda terus berulang kali membuktikan bahwa teknologi sederhana seringkali lebih bertahan lama daripada teknologi canggih. Sepeda tidak membutuhkan bensin yang langka, tidak bisa dideteksi oleh radar, tidak menimbulkan suara yang mengundang tembakan, dan jika rusak, ia bisa diperbaiki dengan kawat dan bambu.
Dalam situasi dunia saat ini, di mana perang terus berkecamuk di Ukraina, Palestina, Sudan, dan Myanmar, pelajaran dari Fitzpatrick masih sangat relevan. Di Gaza yang terkepung, dengan bahan bakar yang hampir tidak ada dan jalanan yang hancur dibom, sepeda masih menjadi alat utama untuk mengangkut air bersih, obat-obatan, dan kadang-kadang, anggota keluarga yang terluka ke tempat yang lebih aman. Sementara jet-jet tempur F-35 dan tank-tank Merkava berputar-putar di medan perang dengan biaya miliaran dolar, sepeda yang harganya beberapa ratus ribu rupiah adalah garis hidup bagi rakyat biasa.
Dalam perang asimetris, di mana kekuatan besar berhadapan dengan gerilyawan yang tidak memiliki persenjataan sebanding, sepeda adalah alat yang menyamakan kedudukan. Ia tidak membutuhkan pangkalan udara, tidak membutuhkan konvoi logistik yang rumit, tidak membutuhkan pelatihan bertahun-tahun. Ia hanya membutuhkan tekad yang membaja. Seperti yang dikatakan oleh Ho Chi Minh ketika ditanya tentang senjata rahasia Viet Minh: “Senjata kami ada di kaki kami dan di hati kami” .
Dalam tradisi intelektual Islam, konsep jihad sering disalahpahami sebagai perang fisik semata. Padahal, jihad yang lebih besar adalah jihad al-nafs—perjuangan melawan hawa nafsu, ego, dan keputusasaan. Sepeda, dalam konteks perang yang adil (apapun bentuknya), bisa dianggap sebagai alat jihad dalam arti yang lebih luas: ia adalah alat untuk bertahan hidup, untuk mempertahankan martabat, dan untuk terus berjuang ketika segala sesuatu tampak mustahil.
Pada akhirnya, Fitzpatrick mengajarkan kita bahwa perang bukan hanya tentang senjata tercanggih, tetapi juga tentang kelangsungan hidup yang paling dasar. Dan di situlah sepeda, dengan segala kesederhanaannya, menjadi pahlawan yang tidak pernah diakui. Ia mungkin tidak mengubah keseimbangan kekuatan global. Namun ia mengubah nasib jutaan manusia yang tidak memiliki pilihan lain kecuali mengayuh—dan terus mengayuh, sampai perdamaian yang dicita-citakan akhirnya tiba atau sampai napas terakhir di ujung jalan yang gelap.
Buku Fitzpatrick diterbitkan pada tahun 1998, lebih dari seperempat abad yang lalu . Namun relevansinya hari ini, di tengah dunia yang terus dilanda konflik berkepanjangan, justru semakin terang benderang. Kita hidup di era perang tanpa henti: Ukraina, Palestina, Sudan, Myanmar, dan puluhan titik api lainnya. Mobilitas militer saat ini sudah sangat canggih—drone, jet tempur siluman, rudal hipersonik, tank tempur utama yang lapis baja. Namun di Gaza yang terkepung, di mana jalanan hancur dibom dan bahan bakar untuk kendaraan militer (atau bahkan ambulans) menjadi komoditas yang sangat langka, sepeda kembali menunjukkan pentingnya.
Foto-foto dari Palestina menunjukkan anak-anak dan orang dewasa mengayuh sepeda di antara reruntuhan, mengangkut air bersih, makanan, dan kadang-kadang, anggota keluarga yang terluka ke rumah sakit terdekat. Di dunia yang semakin berteknologi tinggi, sepeda justru menjadi alat yang paling demokratis dan paling tahan banting. Ia tidak membutuhkan bengkel komputer untuk diperbaiki. Ia tidak membutuhkan bahan bakar yang harus dikirim dari seberang lautan. Ia hanya membutuhkan dua tangan yang mau bekerja, dua kaki yang mau mengayuh, dan satu tekad yang tidak mau menyerah.
Bahkan dalam arena yang lebih simbolis, sepeda masih menjadi medan pertarungan. Pada tahun 2025, gelaran balap sepeda Vuelta a España menjadi ajang protes pro-Palestina yang dramatis. Ratusan demonstran mengibarkan bendera Palestina di sepanjang rute, memaksa beberapa etape dipersingkat, bahkan sempat mengganggu jalannya lomba . Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyatakan “bangga” dengan aksi tersebut, menyebutnya sebagai sebuah “mobilisasi untuk tujuan yang adil” . Sepeda, yang dulu menjadi alat logistik perang, kini menjadi alat diplomasi publik untuk menyuarakan penderitaan rakyat yang dijajah.
Filosofi di Balik Roda Berputar
Apa yang bisa kita petik dari buku Fitzpatrick untuk masa depan yang lebih baik? Ada beberapa hikmah yang melampaui ranah militer dan masuk ke dalam esensi kemanusiaan. Pertama, kesederhanaan adalah kekuatan. Di dunia yang semakin kompleks, di mana kita terjebak dalam hiruk-pikuk teknologi mutakhir yang cepat usang, sepeda mengajarkan bahwa alat yang paling sederhana, yang paling mudah diperbaiki, dan yang paling tidak tergantung pada rantai pasok global, adalah alat yang paling bertahan lama. Fitzpatrick menunjukkan bahwa sepeda dapat berfungsi di tengah hujan bom dan lumpur parit, sementara tank canggih seringkali mogok di tengah jalan karena kekurangan satu suku cadang kecil.
Kedua, ketahanan bukan tentang teknologi, tetapi tentang manusia. Sepeda di tangan petani Vietnam atau pejuang kemerdekaan di berbagai belahan dunia bukanlah senjata ajaib. Ia hanyalah sepotong logam dan karet. Yang membuatnya ajaib adalah kemauan manusia yang mengayuhnya. Fitzpatrick menulis dengan penuh hormat tentang “the overlanders”—para pengendara sepeda jarak jauh yang melintasi benua untuk misi militer atau kemanusiaan. Mereka tidak memiliki kompas canggih atau GPS; mereka hanya memiliki peta kertas dan tekad baja .
Seorang filsuf dan aktivis lingkungan asal Perancis, Daniel Behrman, pernah menulis: “Sepeda adalah kendaraan revolusi. Ia dapat menghancurkan tirani mobil sebagaimana mesin cetak meruntuhkan para despot berdaging dan berdarah.” Fitzpatrick menunjukkan bahwa Behrman benar—tetapi ia juga menunjukkan bahwa sepeda dapat menghancurkan tirani fisik yang lebih langsung: blokade militer, pendudukan, dan kolonialisme.
Dalam tradisi Islam, konsep i’zhām al-mawāhib fī al-basāṭah—keagungan dalam kesederhanaan—mungkin relevan untuk direnungkan. Seringkali, Allah memberikan kemenangan kepada orang-orang yang lemah dan menggunakan alat-alat yang sederhana untuk mengalahkan kekuatan yang besar dan sombong. Bukankah kisah Daud yang mengalahkan Jalut dengan ketapel dan batu adalah cerminan dari semangat yang sama? Fitzpatrick, tanpa bermaksud teologis, telah menulis sebuah dokumentasi tentang bagaimana yang lemah, dengan alat yang sederhana, bisa berdiri tegak.
The Bicycle in Wartime bukanlah buku yang mudah dilupakan. Setelah menutup halaman terakhirnya, Anda tidak akan pernah memandang sepeda dengan cara yang sama. Sepeda yang teronggok di garasi atau bersandar di teras bukan lagi sekadar alat olahraga atau transportasi sehari-hari. Ia adalah sebuah artefak sejarah, sebuah mesin perlawanan, sebuah saksi bisu dari penderitaan dan kemenangan manusia.
Fitzpatrick mengakhiri bukunya dengan sebuah perenungan yang mendalam. Ia mencatat bahwa meskipun sepeda secara perlahan digantikan oleh kendaraan bermotor dalam doktrin militer modern, ia tidak akan pernah benar-benar hilang . Selama masih ada konflik, selama masih ada orang yang membutuhkan mobilitas di medan yang tidak bisa dijangkau truk atau helikopter, sepeda akan tetap ada. Selama masih ada rakyat yang dijajah dan diblokade, sepeda akan menjadi garis hidup mereka.
Pada tahun 2026, ketika perang di Gaza dan Ukraina terus berkecamuk, ketika krisis energi global memaksa kita mempertanyakan kembali ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan ketika kota-kota besar di Indonesia mulai menyadari pentingnya mobilitas berkelanjutan, buku Fitzpatrick adalah pengingat yang sangat tepat waktu. Sepeda bukanlah teknologi masa lalu yang usang. Ia adalah teknologi masa depan yang abadi.
Dan pada akhirnya, mungkin pesan terbesar dari buku ini adalah tentang martabat. Ketika segala sesuatu yang modern dan mewah runtuh—ketika internet padam, ketika pom bensin kosong, ketika jalan raya hancur—yang tersisa hanyalah tenaga manusia dan alat-alat sederhana yang setia. Sepeda adalah salah satu dari alat-alat itu. Ia tidak berisik, tidak sombong, tetapi ia akan membawa Anda pulang—atau membawa Anda menuju kemenangan—selama Anda masih bersedia mengayuh.
*** Selesai ***
Bogor, 12 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
CNN Indonesia. (2025, September 14). PM Spanyol ‘bangga’ dengan aksi pro-Palestina di balap sepeda Vuelta. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20250914200818-134-1273617/pm-spanyol-bangga-dengan-aksi-pro-palestina-di-balap-sepeda-vuelta
Fitzpatrick, J. (1998). The bicycle in wartime: An illustrated history. Brassey’s.
Kompas.id. (2025, September 13). Medan pertempuran diplomatik di ajang balap sepeda. https://www.kompas.id/artikel/medan-pertempuran-diplomatik-di-balap-sepeda
Quotlr. (n.d.). Daniel Behrman quotes. https://quotlr.com/author/daniel-behrman
The Voice of Vietnam. (2024, April 12). Sepeda beban: Simbol semangat dan tekad dalam kemenangan Dien Bien Phu. https://vovworld.vn/id-ID/reportase-hari-sabtu/sepeda-beban-simbol-semangat-dan-tekad-dalam-kemenangan-dien-bien-phu-1285027.vov
Time Magazine. (1980, September 22). Time essay: The great bicycle wars. https://time.com/archive/6698559/time-essay-the-great-bicycle-wars/
Wikipedia. (n.d.). Sepeda militer. https://id.wikipedia.org/wiki/Sepeda_militer






