Rubarubu #164
The last tree on Easter Island:
Sebuah Pulau di Tengah Sunyi
Ini adalah kisah pohon terakhir di pulau paskah, sebuah peringatan dari Jared Diamond yang tak kunjung usang. Bayangkan Anda berdiri di tepi sebuah pulau terpencil di tengah Samudra Pasifik, berjarak lebih dari 3.500 kilometer dari daratan terdekat.
Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa bau garam dan debu. Di sekeliling Anda, padang rumput yang kering membentang hingga ke kaki langit, dan di sana-sini, berserakanlah patung-patung batu raksasa dengan wajah-wajah yang menatap kosong ke cakrawala. Patung-patung ini, yang disebut moai, adalah satu-satunya saksi bisu dari sebuah peradaban yang pernah makmur—dan yang kini telah lenyap.
Inilah Pulau Paskah, atau Rapa Nui dalam bahasa penduduk aslinya, tempat yang oleh Jared Diamond disebut sebagai “contoh terjelas dari masyarakat yang menghancurkan dirinya sendiri melalui eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.” Di sinilah, di ujung dunia yang sepi, sebuah kisah peringatan bagi seluruh umat manusia terukir dalam batu dan debu.
Buku The Last Tree on Easter Island adalah bagian dari seri Green Ideas yang diterbitkan oleh Penguin pada tahun 2021. Dalam edisi ringkas namun kuat ini, Diamond, profesor geografi di UCLA dan pemenang Pulitzer Prize untuk Guns, Germs, and Steel, menyaring bab “Twilight at Easter” dari bukunya yang monumental, Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed(2005), menjadi sebuah narasi yang ringkas namun menusuk.
Ia membawa kita dalam perjalanan ke pulau terpencil itu, bukan untuk sekadar mengagumi misteri patung-patung batu, tetapi untuk merenungkan pertanyaan yang paling mendesak di zaman kita: mengapa masyarakat runtuh, dan apa yang dapat kita pelajari dari kehancuran mereka?
Jared Diamond: Polimatik yang Membaca Riwayat Peradaban
Sebelum kita menyelami isi buku ini, mari kita kenali sejenak sosok di balik narasi yang menggugah ini. Jared Mason Diamond lahir di Boston pada tahun 1937. Ia bukanlah seorang sejarawan dalam pengertian tradisional, dan bukan pula seorang ahli lingkungan dalam pengertian sempit. Ia adalah seorang polimatik—seorang ilmuwan yang wilayah pengetahuan-nya melampaui batas-batas disiplin akademis.
Diamond meraih gelar B.A. dari Harvard dan Ph.D. dari Cambridge, dan ia adalah seorang profesor fisiologi di UCLA School of Medicine sebelum akhirnya bergabung dengan departemen geografi.
Ketenaran internasional Diamond meledak dengan terbitnya Guns, Germs, and Steel (1997), sebuah buku yang memenangkan Pulitzer Prize dan dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu buku non-fiksi terbaik sepanjang masa . Dalam buku itu, Diamond berusaha menjawab pertanyaan besar: mengapa peradaban Eurasia mampu menaklukkan dan menjajah belahan dunia lain, bukan sebaliknya? Jawabannya, ia berargumen, terletak pada faktor-faktor geografis dan lingkungan—bukan pada keunggulan genetik atau intelektual.
Buku Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed (2005) adalah kelanjutan dari proyek intelektual yang sama, tetapi dengan fokus yang berbeda: bukan mengapa masyarakat berhasil, tetapi mengapa mereka gagal. Dalam buku itu, Diamond meneliti sejumlah masyarakat dari masa lalu dan masa kini—dari Norse Greenland hingga Maya, dari Rwanda hingga Montana—dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan keruntuhan mereka.
Dan di jantung buku itu, sebagai bab yang paling menghantui dan paling sering dikutip, adalah kisah Pulau Paskah. The Last Tree on Easter Island adalah intisari dari bab itu. Ia adalah cerita yang dipadatkan menjadi sekitar 96 halaman, tetapi bobotnya tidak berkurang sedikit pun.
Negeri yang Dulu Hijau: Kejayaan Pulau Paskah
Cerita dimulai bukan dengan keruntuhan, tetapi dengan kejayaan.
Para pelaut Polinesia pertama kali tiba di Pulau Paskah sekitar tahun 900 Masehi, setelah berlayar ribuan mil melintasi samudra dengan perahu cadik yang rapuh . Apa yang mereka temukan adalah sebuah surga tersembunyi. Pulau itu, yang saat ini tampak gersang dan tandus, dulunya ditutupi oleh hutan subtropis yang lebat. Di antara pepohonan itu tumbuh palem raksasa yang merupakan kerabat dekat dari palem anggur Chili, yang tingginya dapat mencapai 25 meter dan diameter batangnya mencapai 1,8 meter.
Kayu pohon itu sangat kuat, cocok untuk membuat perahu, dan buahnya dapat dimakan. Ada juga pohon hauhau yang kulitnya dapat dipintal menjadi tali, dan pohon toromiro yang kayunya keras dan padat.
Hewan-hewan juga berlimpah. Pulau itu dipenuhi oleh koloni burung laut yang bersarang, dan di perairan sekitarnya, lumba-lumba dan mamalia laut lainnya berenang dalam jumlah besar. Para pendatang Polinesia membawa serta ayam, tikus, dan tanaman seperti ubi jalar, talas, dan tebu.
Penduduk pun berkembang biak. Pada puncak kejayaannya, sekitar abad ke-15, populasi Pulau Paskah diperkirakan mencapai antara 7.000 hingga 20.000 jiwa. Masyarakat yang kompleks pun terbentuk, terbagi dalam sekitar selusin klan yang bersaing satu sama lain. Dan dari persaingan itulah, lahirlah patung-patung raksasa yang membuat pulau ini terkenal.
Para kepala suku berlomba-lomba membangun moai yang semakin besar untuk menunjukkan kekuasaan dan prestise mereka. Mereka akan memahat patung-patung itu dari batu vulkanik di tambang Rano Raraku, lalu memindahkannya—beberapa di antaranya memiliki berat hingga 90 ton—sejauh beberapa kilometer ke peron upacara di tepi pantai . Bagaimana mereka memindahkan patung-patung ini tanpa roda, tanpa hewan beban, tanpa mesin? Mereka menggunakan kayu dan tali. Patung-patung itu kemungkinan besar digulingkan di atas rel kayu yang dilumuri lemak, atau digeser dengan sistem kereta luncur dan tali. Dan semua itu membutuhkan pohon. Banyak pohon.
Pohon Terakhir: Runtuhnya Ekosistem dan Peradaban
Dan di situlah letak tragedinya.
Selama berabad-abad, penduduk Pulau Paskah menebangi hutan untuk berbagai keperluan: untuk lahan pertanian, untuk kayu bakar, untuk perahu, untuk rumah, dan tentu saja, untuk memindahkan patung-patung raksasa itu. Proses ini tidak terjadi dalam semalam. Ia terjadi secara perlahan, dalam rentang beberapa generasi. Namun dampaknya terakumulasi.
Sekitar tahun 1400, sesuatu yang tidak dapat diubah terjadi: pohon palem raksasa yang terakhir ditebang.
Tidak ada lagi kayu besar yang tersisa. Tidak ada lagi batang pohon yang cukup panjang untuk membuat perahu samudra. Tidak ada lagi tali yang cukup kuat dari serat kulit pohon.
Keruntuhan terjadi dengan cepat setelah itu. Tanpa kayu untuk membuat perahu, orang tidak bisa lagi menangkap lumba-lumba, yang selama ini menjadi sumber protein utama mereka.
Tanpa pohon, tanah menjadi gundul dan erosi, kehilangan kesuburannya, sehingga hasil panen menurun drastis. Burung-burung menghilang karena sarang mereka hancur, dan telur-telur mereka dimakan oleh tikus yang dibawa manusia. Ikan-ikan di perairan dangkal juga habis karena penangkapan berlebihan.
Dalam kondisi kekurangan pangan yang parah, masyarakat pun terpecah belah. Persaingan antar klan yang tadinya sehat berubah menjadi perang saudara yang mematikan. Patung-patung moaiyang menjadi simbol kejayaan satu per satu dirobohkan, diruntuhkan oleh klan-klan yang saling bermusuhan. Agama dan struktur sosial yang lama runtuh. Dan dalam keputusasaan yang paling gelap, sumber protein yang tersisa hanyalah manusia itu sendiri. Kannibalisme pun terjadi.
Diamond mengutip sebuah kutipan yang paling mengerikan, sebuah hinaan yang mungkin pernah terlontar di antara para penyintas yang kelaparan itu: “The flesh of your mother sticks between my teeth” —”Daging ibumu terselip di antara gigiku.”
Ketika penjelajah Eropa pertama kali tiba pada tahun 1722 (tepat pada hari Paskah, dari situlah nama pulau itu berasal), mereka menemukan sebuah lanskap yang tandus, sebuah populasi yang hanya sekitar 2.000 hingga 3.000 jiwa, dan rakit-rakit yang “buruk dan rapuh” yang terbuat dari papan-papan kecil yang dijahit.
Peradaban yang pernah membangun patung-patung raksasa telah mereduksi dirinya menjadi bayangan yang kelaparan.
Pohon Terakhir dan Pertanyaan yang Menghantui
Dalam narasinya yang paling terkenal, Diamond mengajukan sebuah pertanyaan yang menggugah imajinasi setiap pembacanya: “What did the Easter Islander who cut down the last palm tree say while he was doing it?” —”Apa yang dikatakan oleh orang Pulau Paskah yang menebang pohon palem yang terakhir saat ia melakukannya?”
Apakah ia berteriak, “Pekerjaan, bukan pohon!” seperti para penebang kayu modern? Atau “Teknologi akan menyelesaikan masalah kita, jangan khawatir, kita akan menemukan pengganti kayu”? Atau “Kita tidak punya bukti bahwa tidak ada pohon palem di tempat lain di Pulau Paskah, kita butuh lebih banyak penelitian, larangan penebanganmu prematur dan didorong oleh ketakutan yang berlebihan”?
Setiap kalimat dalam paragraf retoris ini terdengar seperti gema dari perdebatan lingkungan hidup kita saat ini. Argumen yang sama, dengan kata-kata yang berbeda, masih kita dengar setiap hari.
Diamond menggunakan Pulau Paskah sebagai metafora untuk seluruh dunia modern. “Easter Island was as isolated in the Pacific Ocean as the Earth is today in space,” tulisnya. “When the Easter Islanders got into difficulties, there was nowhere to which they could flee, nor to which they could turn for help; nor shall we modern Earthlings have recourse elsewhere if our troubles increase.”
“The parallels between Easter Island and the whole modern world are chillingly obvious,” tegas Diamond. Berkat globalisasi, perdagangan internasional, pesawat jet, dan internet, semua negara di bumi saat ini berbagi sumber daya dan saling mempengaruhi, sama seperti selusin klan di Pulau Paskah.
Namun, satu perbedaan signifikan adalah bahwa di dunia modern, telah terjadi kolaborasi global untuk mengatasi masalah lingkungan. Tidak seperti klan yang terisolasi di pulau itu, negara-negara saat ini memiliki potensi untuk bertukar pengetahuan dan sumber daya.
Sebuah Catatan Kritis: Benarkah Itu yang Terjadi?
Namun, sebelum kita tenggelam terlalu dalam dalam analogi yang menghantui ini, ada sebuah catatan penting yang harus kita simak. Dalam beberapa tahun terakhir, narasi Diamond tentang “ekosida” Pulau Paskah—bahwa penduduk asli menghancurkan lingkungan mereka sendiri yang menyebabkan keruntuhan populasi mereka—telah ditentang secara serius oleh penelitian baru.
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada tahun 2024 menganalisis genom dari 15 individu yang hidup di Pulau Paskah antara tahun 1670 dan 1950 . Bukti genetik tidak mengungkapkan adanya penurunan populasi yang kuat sebelum kontak dengan Eropa. Sebaliknya, populasi menunjukkan pertumbuhan yang stabil sejak pemukiman hingga abad ke-19, dengan penurunan tajam yang baru terjadi setelah kedatangan orang Eropa—terutama akibat perbudakan dan penyakit.
Seperti yang dikatakan oleh Kathrin Nägele, seorang ahli arkeogenetika di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, kepada Nature, analisis itu “serves as the final nail in the coffin of this collapse narrative.”
Dengan kata lain, tidak ada ekosida. Tidak ada penurunan dramatis dari 15.000 menjadi 3.000 orang. Deforestasi memang terjadi, tetapi tidak menyebabkan keruntuhan pra-kontak. Sebaliknya, penyakit dan perbudakan yang dibawa oleh orang Eropa-lah yang hampir memusnahkan populasi Rapa Nui.
Para peneliti menemukan bahwa penduduk Rapa Nui mencapai puncak populasi sebelum kontak dengan Eropa. Namun, jumlah tersebut tidak mencapai 15.000 jiwa, dan mereka masih memiliki sumber daya yang cukup untuk mempertahankan kehidupan hingga akhirnya kontak dengan dunia luar menyebabkan kepunahan massal akibat wabah penyakit.
Mengapa hal ini penting untuk disebutkan dalam ringkasan buku ini? Bukan untuk mendiskreditkan Diamond secara keseluruhan—warisan intelektualnya tetap luar biasa. Namun, ini adalah pengingat bahwa sains itu dinamis, dan narasi yang kita anggap “benar” dapat berubah seiring dengan penemuan bukti-bukti baru. Ini juga menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dalam menggunakan sejarah sebagai metafora yang sederhana.
Hikmah dari Sebuah Metafora: Antara Peringatan dan Harapan
Terlepas dari perdebatan ilmiah tentang detail sejarah Pulau Paskah, kekuatan utama buku Diamond tidak terletak pada akurasi faktualnya semata, tetapi pada kekuatan naratifnya sebagai sebuah peringatan.
Diamond sendiri, dalam karya-karyanya, mengakui kompleksitas. Ia menulis bahwa sejarah itu rumit—baik sejarah maupun kehidupan bukanlah “an enterprise for those who seek simplicity and consistency” . Ada banyak faktor yang menyebabkan keruntuhan suatu masyarakat: kerusakan lingkungan, perubahan iklim, serangan musuh, hilangnya dukungan dari mitra dagang, dan yang terpenting, respons masyarakat itu sendiri terhadap masalah-masalah itu .
Ia mengidentifikasi dua jenis pilihan yang menurutnya sangat penting: perencanaan jangka panjang dan kesediaan untuk mempertimbangkan kembali nilai-nilai inti. “Two types of choices seem to me to have been crucial in tipping the outcomes [of the various societies’ histories] towards success or failure: long-term planning and willingness to reconsider core values” .
Dalam konteks Pulau Paskah, Diamond berargumen bahwa masyarakat terjebak dalam apa yang disebutnya “persaingan yang merusak”—para kepala suku berlomba-lomba mem-bangun moaiyang lebih besar dan lebih besar lagi, menguras sumber daya yang semakin langka, dan tidak ada yang mau berhenti terlebih dahulu karena itu akan dianggap lemah. Ini adalah analogi yang kuat untuk perlombaan senjata nuklir, atau perlombaan konsumsi di masyarakat modern.
Para pemimpin dan politisi di masa kini sering terjebak dalam siklus yang sama: mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek, memenangkan pemilu berikutnya, atau mempertahan-kan kekuasaan, sambil mengabaikan konsekuensi jangka panjang dari kebijakan mereka.
Diamond memperingatkan bahwa nilai-nilai yang dulu menjadi sumber kemenangan terbesar—seperti kompetisi dan akumulasi—dapat menjadi racun ketika kondisi berubah. “[T]he values to which people cling most stubbornly under inappropriate conditions are those values that were previously the source of their greatest triumphs.”
Relevansi untuk Dunia Saat Ini: Pohon Terakhir di Planet Biru
Di tahun 2026, ketika kita membaca ringkasan ini, dunia sedang berhadapan dengan krisis yang tidak kalah mendesaknya dengan yang dihadapi oleh penduduk Pulau Paskah. Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi plastik di lautan, deforestasi di Amazon dan Asia Tenggara—semua ini adalah bukti bahwa kita sedang menebang “pohon-pohon palem” kita sendiri.
Namun, ada satu perbedaan mendasar antara Pulau Paskah dan dunia modern, yang juga diakui oleh Diamond: globalisasi. Ketika klan di Pulau Paskah mengalami kesulitan, tidak ada tetangga yang dapat mereka mintai bantuan. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Sebaliknya, di dunia modern, kita memiliki kesempatan untuk berkolaborasi secara global. “Globalization makes it impossible for modern societies to collapse in isolation, as did Easter Island and the Greenland Norse in the past,” tulis Diamond. “For the first time in history, we face the risk of a global decline. But we also are the first to enjoy the opportunity of learning quickly from developments in societies anywhere else in the world today, and from what has unfolded in societies at any time in the past”.
Kesempatan ini adalah anugerah sekaligus kutukan. Anugerah karena kita memiliki akses ke pengetahuan dan sumber daya yang tidak dimiliki oleh masyarakat masa lalu. Kutukan karena jika kita gagal, kita semua akan gagal bersama-sama, di seluruh planet.
Apa yang dapat kita petik dari buku ini untuk masa depan?
Pertama, kita perlu berpikir jangka panjang. Diamond menekankan pentingnya “long-term planning”—perencanaan jangka panjang. Banyak kebijakan saat ini didorong oleh siklus pemilu atau keuntungan kuartalan. Kita perlu membangun institusi dan insentif yang mendorong pengambilan keputusan yang mempertimbangkan dampak hingga puluhan atau ratusan tahun ke depan.
Kedua, kita perlu berani mempertanyakan nilai-nilai inti kita. Apa yang kita hargai sebagai masyarakat? Apakah kita masih menganggap pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran kemajuan? Apakah kita masih menganggap konsumsi sebagai sumber kebahagiaan? Mungkin sudah waktunya untuk mengadopsi nilai-nilai baru: keberlanjutan, keadilan, kesejahteraan, dan hubungan yang sehat dengan alam.
Ketiga, kita harus mengakui bahwa sumber daya itu terbatas. Bumi adalah Pulau Paskah kita. Tidak ada Planet B untuk tujuan pindahan. Kesadaran bahwa kita hidup di dalam batas-batas ekologis adalah langkah pertama menuju pengelolaan yang bijaksana.
Keempat, kita perlu membangun solidaritas global. Tidak ada klan yang bisa selamat sendirian. Krisis lingkungan tidak mengenal batas negara. Kita perlu bekerja sama, berbagi teknologi, mentransfer sumber daya, dan membangun tata kelola global yang efektif.
Kelima, dan yang terakhir, kita harus menjaga kerendahan hati. Diamond menunjukkan bahwa bahkan masyarakat yang paling maju dan canggih sekalipun dapat runtuh jika mereka kehilangan kontak dengan realitas ekologis. Kesombongan adalah musuh keberlanjutan.
Hikmah dari Timur: Menjaga Keseimbangan dan Syukur
Dalam tradisi Islam, terdapat sebuah konsep yang sangat relevan dengan peringatan Diamond, yaitu Mīzān (keseimbangan) dan Khalifah (penjaga alam). Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam keseimbangan yang sempurna, dan manusia dilarang merusak keseimbangan itu. Dalam Surah Ar-Rahman (55:7-9), Allah berfirman: “Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia menciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”
Ketidakseimbangan yang terjadi di Pulau Paskah—penebangan pohon tanpa batas, persaingan yang merusak, eksploitasi sumber daya yang berlebihan—adalah pelanggaran terhadap prinsip mīzān ini. Manusia, sebagai khalifah, seharusnya menjadi pengelola yang bijaksana, bukan perusak yang rakus.
Penyair Sufi Persia, Jalaluddin Rumi, menulis tentang hubungan antara manusia dan alam dengan cara yang puitis namun mendalam:
“You are not a drop in the ocean; you are the entire ocean in a drop.”
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa setiap bagian dari alam mengandung keseluruhan. Setiap pohon yang ditebang, setiap spesies yang punah, adalah hilangnya sebagian dari keutuhan ciptaan. Merusak satu bagian berarti merusak keseluruhan.
Dari perspektif penyair Amerika, Wendell Berry, yang juga merupakan salah satu penulis dalam seri Green Ideas, menulis tentang pentingnya “the sense of the sacred” dalam hubungan kita dengan tanah. Tanpa rasa sakral, tanpa rasa hormat yang mendalam, kita akan memperlakukan alam sebagai komoditas belaka. Diamond, meskipun menulis dari perspektif ilmiah, sebenarnya menyuarakan hal yang sama: bahwa kita perlu mengubah cara kita memandang dunia, dari pandangan yang eksploitatif menjadi pandangan yang hormat dan penuh syukur.
“The whole modern world is in the situation of the Easter Islanders,” tulis Diamond dalam Collapse. “We are cutting down our trees, we are mining our soils, we are depleting our fisheries, we are using up our non-renewable resources, and we are filling our atmosphere and oceans with pollutants. But unlike the Easter Islanders, we have the opportunity to learn from their mistakes — and from the mistakes of other past societies. We have the opportunity to choose a different course” .
Catatan Akhir: Antara Pohon Terakhir dan Harapan
The Last Tree on Easter Island bukanlah buku yang mudah dibaca. Ia adalah buku yang mengganggu kenyamanan, yang merusak rasa puas kita dengan cara hidup modern. Namun ia juga bukan buku yang tanpa harapan. Dengan mengingatkan kita pada tragedi masa lalu, Diamond memberi kita kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda.
Pertanyaan yang diajukan Diamond—apa yang dikatakan oleh orang yang menebang pohon terakhir itu?—masih bergema hingga hari ini, menuntut jawaban dari kita semua. Apakah kita akan menjadi generasi yang menebang pohon terakhir, atau generasi yang memutuskan untuk berhenti sebelum semuanya terlambat?
Pilihan ada di tangan kita. Seperti yang ditulis Diamond, “We have the opportunity to learn from the past, but we must also have the will to act.”
Di tahun 2026, ketika krisis iklim semakin nyata, ketika keanekaragaman hayati terus menurun, ketika kita masih berdebat tentang batas-batas pertumbuhan, pesan Diamond tetap relevan: lihatlah Pulau Paskah. Lihatlah patung-patung batu yang bisu itu. Dan bertanyalah pada diri sendiri: apakah kita akan mengulangi kesalahan yang sama, atau akankah kita memilih untuk hidup secara berbeda di planet yang indah namun terbatas ini?
Seperti yang pernah dikatakan oleh Margaret Mead, seorang antropolog terkenal: “Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world; indeed, it’s the only thing that ever has.”
Kita adalah pohon terakhir. Atau kita adalah benih yang akan menumbuhkan hutan baru. Pilihan ada di tangan kita.
Cirebon, 20 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Diamond, J. (2021). The last tree on Easter Island. Penguin Publishing. (Original work published 2005)
Sumber kutipan dan analisis:
American Enterprise Institute. (2024, September 15). Degrowth: A shrinking argument. https://www.aei.org/articles/degrowth-a-shrinking-argument/
American Enterprise Institute. (2024, September 25). The myth of degrowth. https://www.aei.org/articles/the-myth-of-degrowth/
Bartleby.com. (n.d.). Collapse, by Jared Diamond. https://www.bartleby.com/essay/Collapse-By-Jared-Diamond-FKH78YECF99X
Collins Booksellers. (2021, August 31). Green Ideas slipcase. https://www.collinsbooks.com.au/p/philosophy-green-ideas-slipcase
Discover Magazine. (1995, August). Easter’s end (PDF). http://faculty.www.umb.edu/jose.martinez/Site/ANTH_106_files/jared%20diamond%20easters%20end.pdf
Goodreads. (n.d.). Collapse quotes. https://www.goodreads.com/work/quotes/1041106-collapse-how-societies-choose-to-fail-or-succeed
Google Books. (2021, August 25). The last tree on Easter Island. https://books.google.com/books?id=I4AhEAAAQBAJ
UCLA Library. (n.d.). The last tree on Easter Island [Catalog record]. https://ucca.ent.sirsidynix.net.uk/client/en_GB/default/search/detailnonmodal/ent:$002f$002fSD_ILS$002f0$002fSD_ILS:775618/one
Wilson Center. (2004, January 29). Pulitzer Prize winner Jared Diamond speaks on environment, population, and health. https://www.wilsoncenter.org/article/pulitzer-prize-winner-jared-diamond-speaks-environment-population-and-health






