Rubarubu #246
The Art of Travel:
Ketika Dunia Belum Dijinakkan
Ada sesuatu yang menarik pada judul buku ini. Buku lama, terbit 1872. Tetapi tetap menarik untuk dibaca. Francis Galton tidak menamainya The Science of Travel, tidak pula A Guide to Exploration. Ia memilih kata art, seni. Dan subjudulnya lebih lucu lagi: shifts and contrivances, siasat dan akal-akalan, yang bisa dipakai di negeri-negeri liar, The Art of Travel; or, Shifts and Contrivances Available in Wild Countries
Pilihan kata itu menyimpan sebuah pandangan tentang perjalanan yang sudah jauh dari kebiasaan kita. Hari ini bepergian berarti memesan tiket, mengikuti titik biru di layar ponsel, dan tiba. Bagi Galton dan orang-orang sezamannya, bepergian ke tempat yang jauh berarti membaca medan, menimbang beban, menemukan air, menenangkan rombongan yang mulai saling membentak, menyeberangi sungai tanpa jembatan, dan tetap berpikir jernih ketika semua rencana gagal. Seni perjalanan, dalam pengertian itu, bukan seni untuk sampai. Ia adalah seni untuk bertahan, menyesuaikan diri, mengamati, dan pulang dengan selamat bersama catatan-catatannya.
Buku ini adalah himpunan kiat yang nyaris tak terbatas. Bagaimana mengukur lebar sungai tanpa menyeberanginya. Bagaimana membuat sundial dari sebatang tongkat dan seutas tali. Bagaimana menyeberangkan kuda dengan berpegangan pada ekornya. Sundial adalah jam matahari, yaitu alat sederhana untuk menunjukkan waktu dengan memanfaatkan posisi matahari dan bayangan yang dihasilkan oleh sebuah tongkat atau benda tegak. Cara kerjanya sederhana: sebuah tongkat dipasang tegak di permukaan tanah atau bidang datar. Ketika matahari bergerak melintasi langit, bayangan tongkat akan berubah arah dan panjang. Perubahan bayangan itulah yang digunakan untuk memperkirakan waktu.
Bagaimana mencegah kaki melepuh dengan menyabuni bagian dalam kaus kaki. Tetapi di balik daftar akal-akalan itu tersimpan sesuatu yang lebih besar: potret sebuah zaman ketika dunia sedang menyusut oleh mesin uap, sementara sebagian besar wilayahnya masih harus ditempuh dengan kaki, lembu, dan kesabaran. Dan, sebagaimana akan kita lihat, potret sebuah cara memandang manusia lain yang tidak boleh kita telan mentah-mentah.
Seorang Pemuda di Damaraland
Francis Galton lahir di Birmingham pada 1822 dalam keluarga Quaker yang kaya. Ia saudara sepupu tiri Charles Darwin, pernah belajar kedokteran, lalu matematika di Cambridge, dan tidak menyelesaikan keduanya dengan cemerlang. Kematian ayahnya meninggalkan warisan yang membebaskannya dari keharusan bekerja. Ia memakainya untuk bepergian.
Pada 1850 ia berlayar ke Afrika bagian barat daya, wilayah yang kini menjadi Namibia, dan selama hampir dua tahun menjelajahi daerah yang oleh orang Eropa disebut Damaraland dan Ovamboland, dengan pedati yang ditarik lembu, sejumlah pembantu, dan seorang rekan seperjalanan asal Swedia, Charles John Andersson. Catatannya terbit pada 1853 sebagai Narrative of an Explorer in Tropical South Africa, dan Royal Geographical Society menganugerahinya medali emas. Pemuda kaya yang belum menemukan jalannya itu tiba-tiba menjadi penjelajah terhormat.

Kemah sebuah rombongan ekspedisi abad ke-19: tenda, hewan angkut, dan kerja yang dilakukan banyak tangan. Ilustrasi grafis zaman itu (sumber: draf asli; atribusi perlu dilengkapi).
Di Afrika itulah gagasan buku ini lahir. Dalam prakatanya Galton menulis bahwa ide itu muncul ketika ia menjelajah pada 1850–51, saat ia merasakan betul betapa mustahilnya mendapatkan informasi praktis yang ia butuhkan. Sepulangnya ke Inggris, ia membongkar setumpuk karya geografi, menyurati para penjelajah ternama, dan, ini yang khas Galton, menguji ulang apa yang ia baca atau dengar setiap kali dirasa perlu. Tujuannya, katanya, adalah menghimpun pengalaman yang berserakan dari banyak orang, membandingkannya, menggali prinsip-prinsipnya, lalu menyimpulkan apa yang pantas disebut sebuah “seni perjalanan”. Pembaca yang ia bayangkan juga ia sebut terang-terangan: para penjelajah, emigran, misionaris, dan tentara.
Ada satu koreksi kecil yang penting. Tahun 1872 yang tercetak di halaman judul edisi yang paling banyak beredar bukanlah tahun kelahiran buku ini. Galton sendiri menyebut edisi pertamanya terbit pada 1854; halaman judulnya bertanggal 1855. Edisi-edisi berikutnya menyusul pada 1856, 1860, dan 1867, masing-masing lebih tebal dari yang sebelumnya, sampai edisi keempat harus dipotong-potong dan disusun ulang karena isinya telah melampaui sistem klasifikasi awal. Edisi kelima tahun 1872 adalah yang terakhir memuat bahan baru, dan inilah yang terus dicetak ulang sampai sekarang.
Prakata edisi itu juga menyimpan sebuah pertengkaran kecil yang lucu. Seorang pengulas menuduh Galton banyak menyalin dari The Prairie Traveller, buku panduan ekspedisi darat karya Kapten Randolph Marcy yang diterbitkan atas perintah Departemen Perang Amerika Serikat. Galton menjawab dengan dingin: buku Marcy baru terbit pada 1859, sedangkan bagian-bagian yang dipersoalkan semuanya diambil dari edisi keduanya tahun 1856. Yang menyalin, dengan kata lain, adalah Marcy. Di dunia kiat perjalanan, rupanya akal-akalan juga berpindah tangan tanpa permisi.
Dunia yang Sedang Menyusut
Untuk memahami mengapa buku semacam ini dibutuhkan, kita perlu membayangkan dunia tempat ia lahir. Antara 1830 dan 1870, cara orang bepergian berubah lebih cepat daripada di abad-abad sebelumnya. Lokomotif Rocket milik George Stephenson memenangkan uji coba Rainhill pada 1829. Kapal uap mulai melayani rute-rute laut dengan jadwal yang tidak lagi bergantung pada angin. Pada 1839 George Bradshaw menerbitkan jadwal kereta api pertamanya, dan sejak itu orang Inggris belajar sesuatu yang baru: merencanakan perjalanan dari meja makan, menghitung jam keberangkatan, dan menyambung satu moda ke moda lain. Telegraf yang dibentangkan di sepanjang rel mempercepat kabar. Penerbit John Murray, yang kelak menerbitkan buku Galton, sudah sejak 1836 memasarkan seri Handbooks for Travellers, buku panduan yang memberi tahu pelancong ke mana harus pergi, di mana menginap, dan apa yang layak dilihat.

Lokomotif Rocket (1829), lambang revolusi perjalanan yang membuat dunia terasa menyusut. Ukiran abad ke-19 (sumber: draf asli).
Tetapi revolusi itu punya batas yang tegas, dan batas itu bernama ujung rel. Seseorang bisa berangkat dari London dengan kereta, berganti kapal uap, lalu tiba di pelabuhan yang cukup modern di Cape Town atau Walvis Bay. Begitu ia turun dari kapal dan menghadap ke pedalaman, jadwal Bradshaw tidak ada gunanya lagi. Yang dibutuhkan sekarang adalah pengetahuan tentang air, rumput, lembu, tempat berteduh, arah, cuaca, dan orang-orang yang tinggal di sana. Kemajuan transportasi tidak menghapus kebutuhan akan kecakapan perjalanan. Ia justru mempertajam jurang antara dua dunia: dunia yang dijadwalkan dan dunia yang harus ditebak.
Di situlah Galton menempatkan bukunya. Buku panduan Murray menjawab pertanyaan ke mana harus pergi. Buku Galton menjawab pertanyaan yang lain sama sekali: apa yang harus dilakukan ketika jalan tidak ditemukan, penginapan tidak ada, kendaraan rusak, dan rencana harus diubah di tengah jalan.
Kitab Akal Sehat di Negeri Liar
Buku ini dibuka dengan nada seorang paman yang memberi nasihat kepada keponakannya. Jika engkau sehat, tulis Galton, punya hasrat besar akan petualangan, setidaknya harta yang cukup, dan bisa memusatkan hati pada satu tujuan yang menurut para pelancong berpengalaman tidak mustahil, maka bepergianlah, dengan segala cara. Ia menambahkan bahwa bagi seorang pemuda yang punya selera ilmiah, tidak ada karier di masa damai yang menawarkan keuntungan sebesar karier seorang penjelajah.
Kalimat-kalimat berikutnya mengejutkan karena kearifannya. Sebuah ekspedisi, kata Galton, setiap hari menghadapi rangkaian kecelakaan yang masing-masing bisa menghentikannya: lembu tersesat, mati, atau dicuri; air tidak ditemukan; seseorang jatuh sakit. Keberhasilan bergantung pada rantai kejadian yang setiap matanya harus berhasil. Maka jangan terburu-buru, terutama di awal. Beri waktu pada orang dan hewan untuk menyesuaikan diri. Jadikan semak belukar sebagai rumah. Jangan menatap akhir perjalanan dengan tak sabar. Jika rata-rata hanya tiga mil sehari, tulisnya, pada akhir tahun engkau akan telah menempuh sekitar seribu dua ratus mil, sebuah penjelajahan yang sangat berarti. Dongeng kura-kura dan kelinci, katanya, sangat cocok bagi para penjelajah. Lalu kalimat yang paling layak dikenang dari seluruh buku: adalah sebuah pencapaian yang sangat tinggi untuk menuntaskan penjelajahan panjang tanpa kehilangan kesehatan, catatan, atau bahkan kenyamanan.
Galton juga tahu bahwa perjalanan panjang menguji watak lebih dari otot. Orang-orang yang paling kuat, katanya, belum tentu penjelajah yang paling hebat; yang berhasil adalah mereka yang paling tertarik pada pekerjaannya. Ia mengutip seorang pemburu: hidunglah yang memberi kecepatan pada anjing pemburu. Tentang perangai ia menulis nasihat yang bisa dipajang di dinding kantor mana pun: perjalanan yang menjemukan membuat kawan seperjalanan mudah tersinggung; di saat sulit, pelancong yang paling baik menjalankan tugasnya adalah yang melipatgandakan keramahannya kepada orang-orang di sekitarnya, dan menerima kata-kata kasar dengan lembut tanpa membalas. Kesulitannya, tulis Galton, bukan memulai pertengkaran, melainkan menghindarinya.
Lalu ia turun ke perkara yang sering kita anggap remeh, dan di sinilah buku ini paling hidup. Setiap benda berguna, tetapi setiap benda juga menambah beban, dan beban memerlukan hewan, hewan memerlukan penggembala, penggembala memerlukan makanan. Galton menghitungnya dengan teliti: seekor keledai dalam perjalanan panjang jangan dibebani lebih dari sekitar 65 pon, bagal kecil 90, kuda 100, lembu 120, unta sampai 300. Hewan yang menarik kendaraan beroda di negeri liar mampu menghela sekitar dua setengah kali beban yang dapat dipikulnya. Ia bahkan meminjam rumus Euler untuk menghitung beban paling efisien: seekor hewan menghasilkan kerja harian terbesar bila membawa empat per sembilan dari beban maksimum yang masih bisa ia pikul sambil terhuyung, dan dalam keadaan itu ia akan menempuh sepertiga jarak yang bisa ditempuhnya tanpa beban. Seni perjalanan, dalam bab-bab ini, adalah seni memutuskan apa yang dibawa dan apa yang ditinggalkan.
Barang yang paling berat, ternyata, bukan makanan atau senapan, melainkan alat pembayaran. Galton menyebut hadiah dan barang tukar sebagai “uang” sang pelancong, dan mengingatkan bahwa adalah kekeliruan besar mengira orang di pedalaman akan menukar tenaga atau ternaknya dengan apa saja yang berkilau. Mereka punya kebutuhan dan mode sendiri, sama seperti orang Eropa. Manik-manik adalah perhiasan mereka, dan pilihan mereka sangat cerewet; manik-manik mahal yang dibawa sembarangan lebih mungkin gagal ketimbang berhasil. Ia menganjurkan membawa banyak manik-manik kecil yang murah berwarna putih kusam, biru tua, dan merah terang.
Ketidaktahuan tentang alat tukar yang berlaku di sebuah negeri, katanya, lebih dari sebab apa pun membatasi jauhnya seorang penjelajah bisa berjalan, karena tuntutan setiap kepala suku yang baru dijumpai menguras persediaannya.
Bab tentang obat-obatan membuka dengan peringatan yang terdengar sangat modern: para pelancong cenderung berharap terlalu banyak dari obat-obatan mereka. Galton menghibur yang jatuh sakit jauh dari pertolongan dengan sebuah pepatah: meski ada perbedaan besar antara dokter yang baik dan dokter yang buruk, perbedaan antara dokter yang baik dan tidak ada dokter sama sekali sangatlah kecil. Tetapi ia juga mencatat angka yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam ekspedisi Sungai Niger yang bernasib malang pada 1841, dari 62 awak Inggris di kapal Albert, 55 terserang demam dan 23 meninggal. Kina, tulisnya, adalah penemuan besar zaman itu karena mampu menangkal banyak jenis demam.
Di sela catatan suram itu ada pula nasihat yang jenaka dan praktis: menyabuni bagian dalam kaus kaki sebelum berjalan jauh, memecahkan sebutir telur mentah ke dalam sepatu bot yang keras untuk melunakkan kulitnya, dan menukar kaus kaki kiri dengan kanan ketika kaki mulai lecet.
Daftar isinya sendiri terbaca seperti kurikulum bertahan hidup: persiapan dan pengorganisasian ekspedisi, obat-obatan, instrumen survei, buku catatan, pengukuran, mendaki gunung, hewan ternak, pelana, kendaraan, berenang, rakit dan perahu, arungan dan jembatan, pakaian, alas tidur, bivak, pondok, tenda, api, makanan, air minum, senapan, berburu, memancing, sinyal, menentukan arah dengan kompas dan matahari, menemukan jalan, gudang perbekalan, lalu bab-bab tentang kayu, logam, kulit, tali, tanduk, tembikar, dan lilin. Ia tidak disusun sebagai kisah keberangkatan dan kepulangan, melainkan sebagai peta persoalan yang mungkin muncul di jalan.
Di sela-sela kerapian itu, buku ini penuh kejutan kecil yang memikat. Galton mencatat bahwa hampir setiap penjelajah yang terkenal karena kelengkapan dan ketelitian jurnalnya menulis dengan tulisan tangan yang sangat kecil tetapi jelas. Heinrich Barth, penjelajah Sahara, menulis semua catatannya dengan tinta Cina yang ia oleskan di sebuah piring kecil di saku, lalu ia basahi dengan ujung jari. Richard Burton menulis dalam gelap ketika berbaring tak bisa tidur, memakai papan bergaris timbul seperti yang dipakai orang buta.
Ketika arloji terakhir rusak, kata Galton, jangan putus asa: seutas tali dan sebuah batu yang diayun sepanjang tiga puluh sembilan inci akan berdetak hampir tepat satu detik. Pengamatan bujur danau-danau besar Afrika Timur setelah perjalanan pertama John Hanning Speke, tulisnya, diukur waktunya dengan tali dan batu semacam itu.

Rombongan pedati yang ditarik lembu, moda yang dipakai Galton di Afrika bagian barat daya. Ilustrasi abad ke-19 (sumber: draf asli).
Ada pula pengakuan yang jarang dibuat oleh penulis buku panduan. Galton bercerita tentang dateram, cara mengikat tali tenda di pasir yang paling gembur, yang menurutnya hanya dikenal di sebuah wilayah kecil di selatan Sahara sampai ia menuliskannya, dan yang ia ketahui sepenuhnya dari satu orang, Barth. Ia memakai contoh itu untuk menunjukkan betapa sempitnya wilayah tempat banyak akal-akalan berguna beredar. Pengetahuan perjalanan, dalam pandangannya, tersebar dan terkunci di tempat-tempat yang jauh; bukunya adalah upaya membuka kuncinya.
Perjalanan sebagai Pabrik Pengetahuan
Galton menulis pada masa ketika perjalanan semakin erat dengan produksi ilmu. Orang bepergian untuk memetakan, mengukur, mengumpulkan spesimen, mencatat geologi dan masyarakat, lalu membawa pulang semuanya ke pusat-pusat ilmu di Eropa. Sejarawan geografi Felix Driver menunjukkan bahwa otoritas ilmiah abad ke-19 bertumpu pada pengamatan yang teliti, instrumen yang tepat, pengumpulan yang sistematis, dan narasi tertulis yang membuat pengetahuan dari tempat jauh bisa dibagikan. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa jalur dari pengalaman lapangan ke klaim ilmiah selalu menyimpan soal ketepatan dan kepercayaan.
Galton berdiri tepat di tengah tradisi itu. Ia menyuruh calon pelancong bergabung dengan perhimpunan geografi dan etnologi, belajar memakai sekstan di sekolah-sekolah navigasi untuk perwira kapal dagang di London timur, dan membaca Hints to Travellers terbitan Royal Geographical Society, pamflet yang ikut ia susun. Ia mengeluhkan sistem pendidikan Inggris yang membuat anak-anak muda mengenal struktur dua bahasa mati tetapi tidak tahu apa-apa tentang struktur dunia yang hidup. Dan ia menekankan bahwa catatan harus bisa dipahami orang asing bertahun-tahun kemudian, sebab seorang penjelajah bisa meninggal dan karyanya ikut lenyap bersamanya. Perjalanan, bagi Galton, bukan hanya sesuatu yang dialami tubuh. Ia sesuatu yang harus dipersiapkan pikiran, dan dipertanggungjawabkan lewat tulisan.
Tabel 1. Dua jenis panduan perjalanan pada abad ke-19.
| Buku panduan biasa (seperti seri Murray) | The Art of Travel |
| Ke mana harus pergi? | Bagaimana melanjutkan perjalanan ketika jalan tidak ditemukan? |
| Di mana dapat bermalam? | Bagaimana membuat tempat berlindung bila tidak ada penginapan? |
| Sarana apa yang tersedia? | Bagaimana memperbaiki atau membuat sarana ketika yang ada tidak memadai? |
| Apa yang layak dikunjungi? | Bagaimana mengamati, mengukur, dan mencatat lingkungan? |
Siapa yang Sebenarnya Tahu Jalan?
Kalimat Galton tentang asal-usul gagasannya sebenarnya punya kelanjutan yang jarang dikutip. Penduduk asli negeri itu, tulisnya, memang mengajarinya banyak hal, tetapi jelas baginya bahwa pengetahuan mereka tentang semak belukar “sangat parsial dan terbatas”. Dalam satu kalimat ia mengakui utang sekaligus meremehkan pemberi pinjamannya. Pengetahuan lokal diterima sebagai bahan mentah; Galton-lah yang mengumpulkan, membandingkan, menguji, dan mengangkatnya menjadi “seni”.
Buku ini punya bab berjudul Savages, Management of, cara menangani orang-orang biadab, disusul bab tentang permusuhan. Di bab pembuka ia menenangkan pembacanya bahwa orang-orang “biadab” jarang membunuh pendatang baru, karena mereka takut senapan dan menaruh rasa segan yang takhayul terhadap kekuasaan orang kulit putih. Penerjemah yang baik, tulisnya, sulit dicari karena “kemiskinan pikiran dan bahasa” di kalangan rakyat biasa. Instrumen survei yang rapuh sebaiknya dititipkan kepada seorang tua pribumi yang terhormat, yang kelemahan tubuhnya memaksanya berjalan hati-hati. Dalam cerita tentang tali dan batu yang menggantikan arloji, yang bertugas melempar kerikil ke dalam kantong pada setiap ayunan adalah seorang pribumi yang diajari untuk itu. Ia ada dalam kalimat, tetapi tidak punya nama.
Cara memandang itu tampak lebih telanjang dalam catatan perjalanan Galton sebelumnya. Dalam Narrative of an Explorer in Tropical South Africa, ia bercerita dengan nada jenaka bagaimana ia mengukur lekuk tubuh seorang perempuan dari kejauhan memakai sekstan, alat navigasi untuk mengukur sudut bintang, karena tidak berani dan tidak bisa memintanya secara langsung. Anekdot itu dulu dibaca sebagai kelucuan seorang ilmuwan muda. Hari ini ia terbaca sebagai potret paling ringkas tentang tatapan kolonial: tubuh orang lain diperlakukan sebagai objek ukur, dari jarak aman, tanpa izin, dan diceritakan untuk menghibur pembaca di negeri asal.
Ironinya, buku ini sendiri sesekali membuka celah ke arah yang lain. Galton mengutip Samuel Hearne, penjelajah Kanada abad ke-18, yang ekspedisi pertamanya gagal karena atas perintah gubernurnya tidak membawa perempuan. Pemimpin rombongan pribumi menjelaskan kepada Hearne bahwa tanpa perempuan, yang memikul beban, mendirikan tenda, menjahit pakaian, dan menghangatkan malam, tidak ada perjalanan panjang yang mungkin di negeri itu. Galton menambahkan bahwa istri-istri para pembantu pribumi sangat berharga karena mereka memungut kabar dan desas-desus yang memberi petunjuk penting. Dalam paragraf tentang kemampuan perempuan, campuran antara penghargaan dan prasangka Victoria terasa begitu mencolok, sampai-sampai ia menyimpulkan bahwa sudah menjadi sifat perempuan untuk senang membawa barang berat. Tetapi di balik semua itu terlihat kenyataan yang tidak bisa ditutupi: perjalanan yang tercatat atas nama seorang penjelajah selalu bertumpu pada kerja dan pengetahuan banyak orang yang namanya tidak tercatat.
Mary Louise Pratt, dalam Imperial Eyes, menamai pola ini anti-conquest: strategi penggambaran yang membuat penjelajah Eropa tampak sebagai pengamat yang tak bersalah, justru pada saat yang sama ia menegaskan hegemoni Eropa. Buku Galton jarang berbicara tentang penaklukan; ia berbicara tentang tali, tenda, dan air. Tetapi keterampilan menemukan rute, menghitung jarak, memperoleh air, dan mengatur tenaga manusia bisa melayani ilmu pengetahuan dan bisa pula melayani pendudukan. Tidak kebetulan pembacanya yang dibayangkan mencakup tentara, dan bahwa seorang jenderal Inggris, Sir James Outram, menganjurkan agar prajurit diajari isi “buku kecil yang berguna” ini.
Satu fakta lagi tidak bisa dipisahkan dari bacaan kita. Dua dekade setelah buku ini pertama terbit, Galton beralih ke statistik keturunan, dan pada 1883 ia menciptakan istilah eugenics, gagasan tentang “perbaikan” ras manusia lewat pengaturan keturunan, yang kelak menjadi landasan kebijakan sterilisasi paksa dan ideologi rasial yang mengerikan di abad ke-20. Hierarki yang tersirat dalam cara ia memandang orang-orang yang membantunya di Afrika bukanlah selip lidah. Ia adalah benih dari pandangan yang kemudian ia rumuskan secara sistematis. Itu tidak membuat setiap kiat dalam bukunya kehilangan nilai, tetapi membuat kita wajib membacanya dengan mata terbuka: menghargai kecakapan praktisnya, sambil terus bertanya siapa yang menulis sejarahnya, siapa yang mendapat nama, dan siapa yang dihapus.
Di Jalan Raya Pos
Bila pembahasan ini kita bawa ke Nusantara, gambarnya menjadi lebih rumit dan lebih dekat. Pada 1808 Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memerintahkan pembangunan jalan yang membentang sekitar seribu kilometer dari Anyer sampai Panarukan di sepanjang pantai utara Jawa. Jalan Raya Pos itu memangkas waktu tempuh dari Batavia ke Surabaya dari berminggu-minggu menjadi hitungan hari, memperkuat pertahanan kolonial, dan menjadi urat nadi surat-menyurat. Tetapi ia dibangun di atas kerja paksa dalam kondisi yang sangat berat, dan ribuan orang mati karenanya. Sejarah transportasi di Jawa, sejak awal, adalah juga sejarah paksaan.
Rel kereta api pertama di Hindia Belanda, dari Semarang ke Tanggung, dibuka pada 1867, lima tahun sebelum edisi kelima buku Galton. Jaringan jalan, pos, kereta kuda, dan kemudian rel menghubungkan pusat administrasi, perkebunan, dan pelabuhan. Namun, seperti di Afrika, kemajuan itu berhenti di ujung jaringan. Di pedalaman dan antarpulau, orang tetap berjalan kaki, menunggang kuda, memikul, atau berlayar dengan perahu yang mengandalkan pengetahuan tentang musim, angin, dan arus, pengetahuan yang sudah berabad-abad hidup di kalangan pelaut Bugis, Makassar, Mandar, dan banyak lagi, jauh sebelum siapa pun di London menuliskannya.

Kereta kuda melintasi lanskap tropis; lukisan bergaya abad ke-19 (sumber: draf asli; atribusi perlu dilengkapi).
Sezaman dengan Galton, Alfred Russel Wallace menjelajahi kepulauan ini selama delapan tahun, dari 1854 sampai 1862, dan menuliskannya dalam The Malay Archipelago (1869). Wallace dikenang sebagai penemu bersama teori seleksi alam. Yang lebih jarang dikenang adalah Ali, pemuda Melayu dari Sarawak yang menjadi juru masak, pengumpul spesimen, pemburu, dan akhirnya kepala pembantu Wallace selama bertahun-tahun, yang menembak burung-burung cenderawasih dan mengemas ribuan spesimen yang kini tersimpan di museum-museum Eropa. Wallace menyebut namanya dan menghargainya, sesuatu yang tidak selalu dilakukan penjelajah zaman itu. Tetapi pertanyaan yang diajukan sejarah tetap sama: pengetahuan siapa yang membuat sebuah perjalanan menjadi mungkin, dan apakah pengetahuan itu diakui dengan adil?
Dari Penjelajah ke Turis
Dunia Galton sudah lama berlalu. Tidak ada lagi “negeri liar” dalam pengertian yang ia bayangkan, dan hampir tidak ada tempat di bumi yang tidak bisa dicapai dengan pesawat dan kendaraan bermotor. Tetapi sebagian logikanya bertahan dalam bentuk yang lain. Sosiolog Dean MacCannell, dalam The Tourist (1976), membaca pariwisata modern sebagai cara masyarakat industri memandang dunia, yaitu memburu “keaslian” di tempat lain sambil mengubahnya menjadi tontonan. Dalam banyak destinasi di Selatan, pola lamanya mudah dikenali: lanskap menjadi latar pengalaman, penduduk setempat menjadi penyedia layanan, budaya menjadi komoditas, risiko ditanggung warga lokal, dan keuntungan mengalir ke tempat lain.
Penulisan perjalanan pun berubah. Jika Galton menulis perjalanan sebagai persoalan kendali rasional, para penulis perjalanan modern, sejak Bruce Chatwin dengan In Patagonia (1977), lebih sering menulis tentang kerentanan, ketidaktahuan, dan ketergantungan pada orang lain. Rebecca Solnit menulis seluruh buku tentang seni tersesat, tentang keterbukaan pada yang tidak diketahui sebagai syarat untuk menemukan sesuatu. Kalimat yang sering dikutip dari Marcel Proust terasa sebagai antitesis yang pas bagi Galton: perjalanan penemuan yang sejati bukan mencari lanskap baru, melainkan memiliki mata yang baru.
Dan di zaman krisis iklim, pertanyaan tentang perjalanan menjadi pertanyaan etika. Galton mewakili cara pandang modern awal: alam sebagai rintangan, hewan sebagai alat angkut, lanskap sebagai jarak yang harus ditaklukkan. Filsuf Val Plumwood menyebut sikap semacam ini backgrounding, menjadikan alam latar belakang yang pasif bagi tindakan manusia. Satu generasi sebelum Plumwood, Henry David Thoreau sudah menulis dalam esainya Walking (1862) bahwa dalam keliaran terletak keselamatan dunia. Hari ini kita tahu bahwa mobilitas global meninggalkan jejak karbon yang besar, dan bahwa banyak “tempat liar” yang tersisa justru terancam oleh kerumunan orang yang ingin melihatnya. Ibnu Khaldun, lima abad sebelum Galton, mengingatkan bahwa ketidakadilan membawa kehancuran bagi peradaban. Perjalanan yang tidak adil kepada manusia dan alam ikut mempercepat kehancuran itu.
Catatan Akhir: Seni yang Masih Tersisa
Lalu apa yang masih bisa dipetik dari buku setua ini? Barangkali bukan kiat menyeberangkan kuda atau mengikat tali tenda di pasir, meski keduanya tetap menarik. Yang tersisa adalah sebuah sikap. Galton memperlakukan perjalanan sebagai kecakapan yang bisa dipelajari, bukan sekadar pengalaman yang dikonsumsi. Ia mengajarkan bahwa mengamati sama pentingnya dengan bergerak, bahwa ketidakpastian tidak bisa dihapus tetapi bisa dikelola, dan bahwa kemajuan yang lambat tetapi tekun sering lebih jauh daripada yang tergesa-gesa. Dan, tanpa sepenuhnya menyadarinya, ia memperlihatkan bahwa pengetahuan perjalanan selalu bersifat kolektif, dirajut dari banyak tangan yang kebanyakan tidak tercatat namanya.
Semakin maju teknologi perjalanan, semakin mudah kita berpindah tempat tanpa memahami apa pun tentang perjalanan itu sendiri. Kita mengikuti rute di layar tanpa membaca bentang alam, memesan penginapan tanpa tahu siapa yang membersihkannya, tiba di tujuan tanpa tahu apa yang memungkinkan kita sampai. Galton mengingatkan kita pada bentuk perjalanan yang menuntut keterlibatan lebih utuh: menguji tubuh sekaligus mendidik pikiran, membutuhkan alat tetapi tidak bisa sepenuhnya bergantung pada alat, menuntut rencana sekaligus kesediaan mengubahnya.
Di halaman awal bukunya, Galton menasihati pembacanya untuk tidak memandang kepulangan sebagai akhir dari penderitaan dan pelabuhan dari segala kesulitan, melainkan sebagai penutup dari sebuah kehidupan yang penuh petualangan dan menyenangkan. Kalimat itu bisa kita pinjam dengan satu tambahan yang tidak ditulisnya. Seni perjalanan bukan hanya kemampuan untuk sampai di suatu tempat dan pulang dengan selamat. Ia adalah kemampuan untuk memahami tempat itu, menghormati orang-orang yang tinggal di sana, dan pulang membawa pengetahuan yang lebih kaya serta hati yang lebih rendah daripada ketika kita berangkat. Dunia, ternyata, memang tidak pernah sepenuhnya bisa dijinakkan. Yang bisa kita jinakkan hanyalah cara kita berjalan di atasnya.
Bogor, 12 Agustus 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Chatwin, B. (1977). In Patagonia. Jonathan Cape.
Driver, F. (2004). Distance and disturbance: Travel, exploration and knowledge in the nineteenth century. Transactions of the Royal Historical Society, 14.
Galton, F. (1853). The narrative of an explorer in tropical South Africa. John Murray.
Galton, F. (1872). The art of travel; or, shifts and contrivances available in wild countries (Edisi ke-5). John Murray. https://www.gutenberg.org/ebooks/14681
Galton, F. (1883). Inquiries into human faculty and its development. Macmillan.
Goodwin, G., & Johnston, G. (2013). Guidebook publishing in the nineteenth century: John Murray’s Handbooks for Travellers. Studies in Travel Writing, 17(1), 43–61. https://doi.org/10.1080/13645145.2012.747791
Ibn Khaldun. (1967). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal, Penerj.; N. J. Dawood, Ed.). Princeton University Press. (Karya asli ditulis 1377)
MacCannell, D. (1976). The tourist: A new theory of the leisure class. Schocken Books.
Marcy, R. B. (1859). The prairie traveler: A hand-book for overland expeditions. Harper & Brothers.
Plumwood, V. (1993). Feminism and the mastery of nature. Routledge.
Pratt, M. L. (1992). Imperial eyes: Travel writing and transculturation. Routledge.
Solnit, R. (2005). A field guide to getting lost. Viking.
Thoreau, H. D. (1862). Walking. The Atlantic Monthly, 9(56), 657–674.
Wallace, A. R. (1869). The Malay Archipelago. Macmillan.






