Rubarubu #127
Rewild your mind:
Dokter, Pohon, dan Resep yang Terlupakan
Nick Goldsmith, seorang dokter umum di Inggris, menggambarkan sebuah momen yang mengubah praktiknya. Seorang pasien datang dengan keluhan kecemasan dan insomnia kronis yang tak kunjung membaik dengan pengobatan konvensional.
Alih-alih mengeluarkan resep lagi, Goldsmith melakukan hal yang tak terduga. Dia bertanya, “Kapan terakhir kali Anda menghabiskan waktu di bawah kanopi pepohonan, tanpa agenda, hanya untuk berada di sana?” Pasien itu terdiam, lalu mengaku sudah bertahun-tahun tidak melakukannya.
Dari percakapan itulah lahir resep yang tidak biasa: “Saya ingin Anda pergi ke hutan terdekat, dua kali seminggu, selama satu jam. Jangan lari. Jangan pakai headphone. Cukup berjalan, atau duduk saja.
Perhatikan apa yang terjadi. “Beberapa bulan kemudian, pasien itu kembali dengan perubahan yang mencolok. Tidurnya membaik, kecemasannya mereda, dan dia berkata, “Saya merasa seperti kembali menjadi diri sendiri.” (Goldsmith, 2023, p. 15).
Kisah inilah yang menjadi jantung dari Rewild Your Mind. Buku ini berargumen bahwa banyak penderitaan mental modern kita berasal dari suatu bentuk “penawanan”—kita telah terpisah dari lingkungan alami tempat kita berevolusi. “Rewilding” pikiran bukan tentang meninggalkan peradaban, tetapi tentang menjalin kembali hubungan yang hilang dengan alam sebagai panduan utama untuk ketenangan, ketahanan, dan kebahagiaan. “We are not suffering from a chemical imbalance in our brains as much as we are suffering from an ecological imbalance in our lives,” tulis Goldsmith, p. 45 tentang diagnosisnya.
Buku Goldsmith dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh—dari psikologi lingkungan dan epigenetik hingga neurosains—tetapi disampaikan dengan bahasa yang puitis dan sangat personal. Premis utamanya adalah “Hipotesis Biofilia” yang dicetuskan oleh biolog Edward O. Wilson: bahwa manusia memiliki kecenderungan genetik bawaan untuk mencari hubungan dengan alam dan bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Ketika kita mengabaikan kecenderungan ini, kita menderita “defisit alam,” sebuah istilah yang dipopulerkan oleh penulis Richard Louv, yang dikaitkan dengan peningkatan stres, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan terasing.
Rewild Your Mind berjalan melalui sebuah proses transformatif yang terstruktur seperti perjalanan pulang. Bagian pertama mendiagnosis “Penjara Modern”: dinding-dinding (kantor, rumah), layar-layar yang selalu menyala, jadwal yang terlalu padat, dan kebisingan konstan yang memutus sirkuit saraf ketenangan alami kita. Goldsmith menggambarkan keadaan ini sebagai “kesibukan yang steril,” yang membuat pikiran kita seperti hewan liar yang dikurung di kandang sempit—gelisah, stereotipis, dan tidak sehat.
Bagian kedua dan inti buku ini adalah serangkaian “Praktik Rewilding” yang konkret dan dapat diakses, masing-masing terinspirasi oleh kualitas alam:
- Keheningan seperti Hutan: Belajar dari cara hutan yang hening namun sangat waspada. Praktik: “Duduk diam” di alam, mengamati tanpa menghakimi, untuk menjinakkan “pikiran monyet” yang selalu bergerak.
- Ketahanan seperti Aliran Air: Belajar dari sungai yang mengalir mengatasi rintangan. Praktik: Menggunakan metafora air untuk menghadapi emosi sulit—mengakui, membiarkan mengalir, dan melepaskannya, alih-alih membendungnya.
- Adaptasi seperti Musim: Menerima siklus alami produktivitas dan istirahat. Praktik: Menghormati “musim dingin” internal kita (masa kelelahan atau kesedihan) sebagai waktu untuk pemulihan yang dalam, bukan sebagai kegagalan.
- Koneksi seperti Jaringan Jamur (Mycelium): Memahami bahwa kita adalah bagian dari jaringan yang saling bergantung. Praktik: Membangun komunitas yang bermakna dan melihat tindakan kebaikan sebagai nutrisi untuk jaringan sosial kita, seperti mycelium yang menghubungkan dan menopang hutan.
Bagi Goldsmith, “Rewilding is not about adding another task to your to-do list. It is about subtraction: stripping away the noise, the clutter, and the unnecessary complexity to reveal the calm, resilient core that has always been there.”
Salah satu konsep terdalam dalam buku ini adalah “Pikiran Ekosistem”—sebuah paradigma untuk berpindah dari pemikiran yang terisolasi dan linier (khas budaya “pencapaian” modern) menuju pemikiran yang melihat segala sesuatu sebagai bagian dari sistem yang saling ber-hubungan, siklus, dan regeneratif. Ini mengingatkan pada filosofi “Deep Ecology” Arne Naess, yang melihat nilai intrinsik pada semua makhluk hidup. “Your mind is not a machine to be optimized,” tulis Goldsmith menegaskan, “it is an ecosystem to be tended.”
Dalam tradisi Islam, konsep ini beresonansi dengan pandangan alam sebagai “ayat” (tanda-tanda) kekuasaan Allah. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk merenungkan ciptaan-Nya: “Sesungguhnya dalam penc-iptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”(QS Ali ‘Imran: 190). Rewild Your Mind mengajak kita untuk tidak hanya merenungkan tanda-tanda ini secara teologis, tetapi juga secara psikologis dan fisiologis, sebagai obat bagi jiwa yang terasing.
Buku ini juga membahas “Rewilding dalam Kehidupan Sehari-hari” bagi mereka yang tinggal di kota. Ini bukan tentang pindah ke pedesaan, tetapi tentang membawa kualitas alam ke dalam rutinitas kita: menanam sesuatu di jendela, mengatur ruang kerja dengan elemen alami (kayu, batu, tanaman), atau sekadar secara sadar merasakan sinar matahari dan angin di kulit saat berjalan kaki.
Pada akhirnya, Rewild Your Mind adalah sebuah seruan untuk kerendahan hati dan partisipasi. Goldsmith menyimpulkan bahwa kita bukanlah pengamat alam yang terpisah; kita adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Kesehatan mental kita terjalin dengan kesehatan planet. Dengan merawat hubungan kita dengan alam, kita tidak hanya menyembuhkan diri sendiri, tetapi juga mengembangkan rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melindungi dunia alami yang menopang kita. “Rewilding adalah perjalanan pulang. Pulang ke tubuh kita, ke indra kita, dan ke jaringan kehidupan yang lebih luas yang selalu menjadi rumah kita.” (Goldsmith, 2023, p. 220).
Buku ini menggambarkan perjalanan penulis sendiri, Nick Goldsmith, dari dokter konvensional menjadi advokat kesehatan alam, dan menyoroti paradoks zaman kita: semakin banyak kemajuan teknologi, semakin dalam penderitaan psikologis kita. Pesannya adalah: solusi yang kita cari tidak selalu ada dalam botol pil atau aplikasi terbaru, tetapi mungkin telah berada di luar pintu kita sepanjang waktu. Kata Pengantar ini mengajak pembaca untuk membuka pikiran dan bersiap untuk sebuah perjalanan yang sederhana namun mendalam. Ia menempat-kan praktik “rewilding pikiran” bukan sebagai tren New Age yang sembrono, tetapi sebagai sebuah respons yang masuk akal, mendesak, dan berbasis ilmu pengetahuan terhadap krisis kesehatan mental modern.
Goldsmith mengajak kita duduk bersama dia seperti seorang pasien di ruang konsultasinya. Dia menceritakan kisah pasiennya yang mengalami kecemasan dan resep “mandi hutan”-nya yang tak biasa. Momen inilah yang menjadi titik balik, yang menyadarkannya bahwa ilmu kedokteran telah mengabaikan “pasien” yang paling mendasar: hubungan kita dengan alam. Pendahuluan ini memperkenalkan konsep kunci “Defisit Alam” dan “Hipotesis Biofilia”, tetapi dengan bahasa yang personal. Dia menggambarkan buku ini sebagai “peta jalan untuk pulang”—bukan ke tempat geografis, tetapi ke keadaan psikologis dan fisiologis yang lebih selaras di mana kita merasa tenang, terhubung, dan hidup. Pendahuluan menetapkan nada yang empatik dan membumi, meyakinkan pembaca bahwa “rewilding” adalah untuk semua orang, di mana pun mereka tinggal, dan dimulai dengan langkah-langkah kecil yang sederhana.
Buku ini memberi fondasi praktis dari filosofi rewilding. Fokusnya adalah pada pembongkaran stres akut dan pengisian kembali “baterai” sistem saraf kita melalui pengalaman sensorik langsung dengan alam. Ini adalah obat penawar pertama bagi kelelahan dan kecemasan modern.
Goldsmith tidak bicara tentang hiking atau olahraga. Ia memaparkan “Mandi Hutan” (Forest Bathing). Ia dengan hati-hati membedakan Shinrin-yoku (mandi hutan) dari aktivitas berbasis pencapaian. Ini adalah seni “mandi” dalam atmosfer hutan dengan seluruh indra. Dia memandu pembaca untuk memperlambat langkah, menyentuh kulit pohon yang kasar, menghirup aroma tanah dan daun yang lembap, mendengarkan simfoni burung dan desau angin, dan menyaksikan permainan cahaya melalui daun-daun. Kuncinya adalah kehadiran penuh.
Dia menjelaskan sains di baliknya: bagaimana phytoncides (minyak esensial alami dari pohon) meningkatkan sel pembunuh alami (NK cells) dalam sistem kekebalan tubuh kita, dan bagaimana pemandangan yang “lembut” (soft fascination) di hutan memungkinkan korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir berat dan khawatir—untuk akhirnya beristirahat. Bab ini adalah undangan untuk menjadi bagian dari hutan, bukan hanya pengunjung yang lewat.
Pada bagian lain diuraikan tentang “Menjadi Liar Setiap Hari” (Go Wild Every Day). Memahami bahwa tidak semua orang bisa pergi ke hutan setiap hari, bab ini adalah tentang membingkai ulang apa itu “liar” dan menemukannya dalam kesempatan mikro sehari-hari. “Menjadi liar” di sini berarti melarikan diri dari lingkungan buatan manusia, meski hanya sesaat. Goldsmith menawarkan saran-saran seperti:
- Komuter Liar: Turun dari bus atau kereta satu halte lebih awal dan berjalanlah melalui taman atau jalan yang dipenuhi pepohonan.
- Makan Siang Liar: Membawa makan siang ke taman terdekat, melepas sepatu, dan merasakan rumput di kaki.
- Pengamatan Langit: Menghabiskan beberapa menit setiap hari untuk benar-benar melihat langit—bentuk awan, pergeseran warna saat senja.
Pesan bab ini adalah bahwa dosis mikro keterlibatan alam secara konsisten lebih kuat daripada satu pengalaman besar yang jarang terjadi. Ini tentang membangun “ritual liar” ke dalam arus hidup kita.
Untuk saat-saat ketika kita benar-benar tidak bisa keluar, Goldsmith menuliskan tentang Membawa Alam ke Dalam Rumah (Bring Nature into Your Home). Ia mengajak kita untuk menciptakan oasis alam di dalam ruangan. Ini lebih dari sekadar dekorasi; ini tentang desain biophilic yang aktif mendukung kesejahteraan mental. Goldsmith membahas:
- Kekuatan Tanaman: Bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai makhluk hidup yang kita rawat. Ritual menyiram dan mengamati pertumbuhhan dapat menjadi meditasi.
- Material Alam: Mengelilingi diri dengan kayu, batu, dan kain alami (kapas, wol) untuk memberikan isyarat sensorik yang menenangkan.
- Suara dan Cahaya: Memainkan rekaman suara hujan atau aliran sungai, memaksimalkan cahaya alami, dan mengurangi cahaya biru buatan di malam hari.
- “Sudut Rewilding”: Menciptakan sebuah sudut kecil dengan tanaman, batu favorit, dan mungkin gambar pemandangan alam, sebagai tempat untuk menarik napas dan berlabuh.
Bab ini adalah tentang membuat rumah kita menjadi tempat perlindungan yang aktif memulihkan, bukan hanya tempat berteduh yang pasif.
Bagian yang tidak kalah menarik adalah Berenang Liar (Wild Swimming)–kegiatan yang tidak mudah bagi warga urban yang sungainya tak mungkin digunakan untuk mandi. Tetapi wild swimming memang harus pergi ke sungai yang kita bayangkan di desa di sudut kampung di tepi hutan atau pegunungan. Goldsmith membahas pengalaman alam yang lebih intens dan membangkit-kan semangat: berendam dalam air dingin di alam terbuka—sungai, danau, atau laut. Goldsmith mengakui bahwa ini mungkin terdapat menakutkan, tetapi justru di situlah kekuatannya sering kali berada.
Dia menjelaskan manfaat ganda dari praktik ini:
- Manfaat Fisik: Kejutan air dingin memicu respons anti-inflamasi, meningkatkan sirkulasi, dan memberikan ledakan energi dan kewaspadaan yang alami.
- Manfaat Psikologis: Ini adalah latihan dalam keberanian dan penyerahan. Melepaskan kendali dan membiarkan diri didukung oleh elemen alam yang besar adalah metafora yang kuat untuk menghadapi ketakutan dan kekhawatiran dalam hidup.
Goldsmith menekankan keamanan dan pentingnya memulai dengan perlahan (bahkan hanya membasuh muka dengan air dingin) dan selalu bersama teman. Bab ini adalah tentang menemukan kegembiraan yang liar dan pembebasan—perasaan menjadi hidup dan bagian dari sesuatu yang lebih besar, yang tertinggal jauh setelah kita keluar dari air dan merasa hangat dari dalam. Ini adalah penyempurnaan dari proses relaksasi dan penyegaran yang dimulai dengan keheningan hutan.
Jika Bagian Satu seperti dipaparkan di atas berfokus pada menenangkan dan mengisi ulang sistem saraf, Bagian Dua membawa kita lebih dalam. Tujuannya bukan lagi sekadar relaksasi, tetapi penemuan kembali—menghidupkan kembali keterampilan, kesadaran, dan koneksi yang telah tertidur dalam diri kita. Bagian ini adalah tentang bergerak dari menjadi pengamat alam pasif menjadi partisipan aktif dalam ritme dan hadiahnya. Di sini, “rewilding” menjadi sebuah praktik yang melibatkan kreativitas, rasa ingin tahu, dan hubungan timbal balik dengan dunia alami.
Bayangkan ritual minum teh pagi Anda. Sekarang, bayangkan setiap langkahnya terhubung langsung dengan bumi: air dari mata air setempat, daun yang Anda keringkan sendiri dari tanaman di pekarangan, dan madu dari sarang lebat di ujung jalan. Bab ini adalah tentang transformasi sebuah rutinitas sehari-hari menjadi sebuah upacara kesadaran dan rasa syukur yang mendalam. Menikmati Secangkir Teh Liar.
Goldsmith tidak hanya membicarakan teh herbal. Dia membicarakan tentang “memetik dengan niat”—mengumpulkan sejumput mint liar, bunga chamomile, atau daun blackberry dengan kesadaran penuh akan dari mana mereka datang. Proses mengeringkan, menyimpan, dan kemudian menyeduhnya menjadi sebuah meditasi tentang kesabaran, siklus musim, dan ketergantungan kita pada alam. Secangkir teh liar menjadi lebih dari sekadar minuman; ia adalah sebuah cerita yang dapat diminum, pengingat akan hubungan kita dengan tempat tertentu dan waktu tertentu. Ini adalah praktik menemukan kembali kemewahan yang sesungguhnya: bukan yang mahal, tetapi yang penuh makna dan hadir secara penuh.
Dalam dunia di mana kita mengunci diri di dalam kotak yang terisolasi dengan tirai blackout, bab ini mengajak kita pada sebuah petualangan yang radikal: tidur di luar ruangan. Bukan sekadar berkemah dengan tenda yang nyaman, tetapi tidur dengan atap terbuka—di halaman belakang, di bivak sederhana, atau di hamparan. Goldsmith menjelaskan bagaimana tindakan sederhana ini mengatur ulang ritme sirkadian kita yang rusak oleh cahaya buatan.
Lebih dari itu, ini adalah pengalaman yang merendahkan hati dan menghubungkan. Berbaring dan menyaksi-kan kanopi bintang yang tak terhitung jumlahnya mengingatkan kita pada skala kosmik dan tempat kita di dalamnya. Mendengarkan simfoni malam—jangkrik, burung hantu, angin—bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai pengantar tidur yang paling alami. Ini adalah peng-alaman menemukan kembali rasa aman yang primal bukan di balik kunci dan alarm, tetapi di bawah langit terbuka yang luas. Tidur seperti ini seringkali lebih dalam dan memulihkan, meninggalkan perasaan segar dan “di-reset” yang sulit dijelaskan.
Mencari Makanan (Foraging) adalah bab tentang mengubah hubungan kita dengan tanah dari hubungan yang abstrak menjadi hubungan yang langsung, sensual, dan saling memberi. Foraging (mencari makanan liar) bukan sekadar tentang makan gratis; ini adalah pendidikan pengamatan yang mendalam. Goldsmith menekankan keamanan dan pentingnya memulai dengan beberapa spesies yang mudah dikenali dan aman, seperti blackberry, dandelion, atau wild garlic.
Prosesnya—membungkuk untuk memeriksa daun, merasakan teksturnya, mencium aromanya—memaksa kita untuk memperlambat dan memperhatikan detail yang biasanya terlewatkan. Ini melatih pola pikir seorang pemburu-pengumpul modern: kesadaran akan musim, cuaca, dan ekosistem lokal.
Saat Anda memetik segenggam beri yang matang sempurna, Anda merasakan kepuasan yang berbeda dari membelinya di supermarket—sebuah kepuasan yang penuh dengan pencapaian, hubungan, dan rasa terima kasih. Foraging adalah cara menemukan kembali bahwa kita adalah makhluk yang dapat memberi makan diri sendiri dari bumi, sebuah pengetahuan yang membangkitkan kepercayaan diri dan rasa memiliki.
Setelah mengumpulkan dan mengalami, bab ini mengajak kita untuk memberi bentuk, Mengukir & Menciptakan. Mengukir sebatang kayu yang ditemukan, menenangkan keranjang dari rumput liar, atau bahkan sekadar membuat mandala dari batu, kerucut pinus, dan daun adalah tindakan “berbicara” kembali kepada alam dengan tangan kita. Goldsmith berargumen bahwa tindakan mencipta dengan bahan alami memiliki efek magis pada pikiran:
- Ia mengalirkan kecemasan: Fokus yang dibutuhkan untuk mengukir atau menenun adalah bentuk meditasi aktif yang mengusir kekhawatiran.
- Ia memulihkan rasa agensi: Di dunia digital di mana kita hanya mengeklik dan menggesek, menciptakan sesuatu yang fisik dari awal memberikan kepuasan yang mendalam dan nyata.
- Ia memperkuat hubungan: Sebuah sendok kayu yang Anda ukir dari cabang yang jatuh akan selalu lebih dari sekadar sendok. Itu adalah kenangan akan sebuah pohon, sebuah sore, dan sebuah keterampilan yang tumbuh.
Bab ini adalah tentang menemukan kembali manusia sebagai pembuat (homo faber), tetapi bukan dalam konteks pabrik, melainkan dalam konteks hubungan yang intim dan pribadi dengan materi dunia. Ini adalah penyempurnaan dari proses rewilding: dari relaksasi, ke partisipasi, dan akhirnya menjadi penciptaan bersama alam.
Bagian terakhir buku ini, Menyambung Kembali, membawa perjalanan rewilding ke lingkupnya yang paling luas dan mendalam: hubungan manusia. Setelah merilekskan sistem saraf kita (Bagian I) dan menemukan kembali kemampuan individu kita untuk terlibat dengan alam (Bagian II), Bagian III berfokus pada bagaimana pengalaman alam yang telah kita peroleh ini dapat menjadi jembatan untuk menyambung kembali dengan orang lain dan dengan komunitas yang lebih luas. Di sini, api unggun bukan hanya metafora, tetapi titik pusat yang nyata.
Dalam bab yang kuat dan puitis ini, Goldsmith menjadikan api unggun sebagai simbol akhir dari proses rewilding, Menyambung Kembali di Sekitar Api. Api bukan hanya sumber kehangatan dan cahaya; ia adalah katalis psikologis dan sosial purba yang telah mempertemukan manusia selama ribuan tahun. Bab ini berargumen bahwa di dunia kita yang terfragmentasi dan individualistis, kita telah kehilangan ruang bersama yang sakral dan non-transaksional—ruang di mana cerita diceritakan, keheningan dibagikan, dan ikatan diperkuat tanpa gangguan layar.
Goldsmith menggambarkan pengalaman mengumpulkan kayu, menyalakan api, dan duduk di sekelilingnya sebagai sebuah ritual yang memiliki kekuatan transformatif:
- Api Menuntut Perhatian Penuh: Ia tidak dapat diabaikan. Nyala dan bunyi gemerisiknya menarik indra kita, menciptakan “kehadiran kolektif yang terpaksa” di mana percakapan dangkal perlahan mereda.
- Api Menyamakan Kedudukan: Dalam cahayanya yang berkedip, hierarki sosial memudar. Wajah-wajah diterangi secara setara, menciptakan ruang untuk kerentanan dan keaslian.
- Api Memicu Narasi: Ada alasan mengapa cerita-cerita terbaik diceritakan di sekitar api. Ia membangkitkan imajinasi, mengingatkan kita pada warisan bersama sebagai makhluk pencerita.
- Api sebagai Pengingat Siklus: Dari kayu mati muncul panas dan cahaya yang memberi kehidupan. Ini adalah metafora yang hidup untuk transformasi, ketahanan, dan bagaimana komunitas dapat menemukan kekuatan baru dari pengalaman bersama, bahkan yang sulit.
Bab ini adalah seruan untuk membuat ruang untuk api, secara harfiah dan kiasan—untuk mengadakan pertemuan di sekitar perapian, api unggun di taman, atau bahkan lilin bersama. Ini adalah praktik menyambung kembali bukan hanya dengan alam, tetapi dengan komunitas manusia kita, dengan sejarah kita yang panjang sebagai makhluk sosial yang berkumpul dalam lingkaran, dan dengan bagian diri kita yang tahu bahwa kita paling utuh ketika terhubung dengan orang lain.
Catatan Akhir: Membangkitkan Pikiran Ekosistem
Di bagian penutupnya, Goldsmith tidak sekadar merangkum poin-poin. Dia melakukan sebuah refleksi integratif yang mengajak pembaca untuk melihat perjalanan lengkap mereka. Dia mengakui bahwa rewilding bukanlah tujuan akhir atau daftar aktivitas yang harus dicentang. Ini adalah sebuah perubahan orientasi hidup yang berkelanjutan—pergeseran dari melihat alam sebagai latar belakang atau sumber daya, menjadi menganggapnya sebagai mitra, guru, dan bagian mendasar dari identitas kita yang sehat.
Dia menyoroti bahwa manfaat terbesar dari rewilding pikiran mungkin adalah perkembangan “Pikiran Ekosistem”—kemampuan untuk melihat diri kita sendiri, komunitas kita, dan planet kita sebagai sebuah jaringan kehidupan yang saling bergantung yang kompleks dan indah. Dari sudut pandang ini, merawat kesehatan mental kita tidak dapat dipisahkan dari merawat kesehatan tanah, air, dan udara.
Goldsmith menutup dengan nada harapan dan ajakan bertindak yang lembut. Dia meyakinkan pembaca bahwa setiap upaya kecil untuk terhubung—setiap catatan, setiap napas dalam-dalam di udara segar, setiap momen mengamati burung—adalah sebuah benih yang ditanam. Buku ini, katanya, hanyalah awal. Perjalanan sebenarnya dimulai ketika kita menutup halamannya dan membuka pintu.
Pesan terakhirnya adalah tentang belas kasih dan kesinambungan. Rewilding pikiran kita adalah praktik seumur hidup yang penuh dengan awal yang baru, keheningan yang disambut kembali, dan koneksi yang diperbarui. Ini adalah jalan pulang yang selalu terbuka, menunggu kita untuk melangkah masuk.
Jika kamu ingin belajar dengan efektif, kamu perlu merangkul kegagalan. “Belajar dari kesalahanmu,” tulisnya. Alam telah mengajarkan itu. Jika kamu gagal, kamu sedang belajar—asalkan kamu bersedia menerima bahwa kamu telah gagal dan siap untuk membedah dan benar-benar memahami di mana kamu salah dan bagaimana kamu bisa membuatnya berhasil pada kesempatan berikutnya.
Goldsmith sendiri selalu mengingat ketika gagal karena tidak memperhatikan jenis kayu yang di kumpulkan untuk api unggun. Dia tanpa sengaja mengumpulkan banyak kayu lunak, yang terbakar sangat cepat, sehingga pada pukul 3 pagi api padam dan dia tiba-tiba terbangun oleh hawa dingin yang menggigit di malam musim dingin. Ia harus mengenakan headlamp dan pergi mencari kayu bakar. Itu bukan pengalaman yang nyaman, tetapi Ia belajar darinya, dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi.
Dari membakar diri sendiri hingga menempatkan api di tempat yang salah dan mendapatkan begitu banyak asap di wajahnya sampai mata memerah, Ia telah gagal berkali-kali di alam. Tetapi ia selalu berusaha memastikan bahwa Ia belajar dari kesalahan. Percobaan pertama kali kamu mencoba menyalakan api, atau melakukan hal lain yang disarankan dalam buku ini, mungkin tidak berhasil—tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Orang-orang dari segala usia takut akan kegagalan, yang berarti mereka tidak akan mencoba sesuatu.
Ketika Ia berbicara dengan orang-orang tentang tujuan dan manfaat rewilding, Ia mendorong mereka untuk merangkul kegagalan, untuk menerima bahwa kecil kemungkinan mereka akan langsung menguasai sesuatu, tetapi untuk tahu bahwa pada akhirnya mereka akan berhasil. Goldsmith selalu memiliki keyakinan yang tenang, namun tahu bahwa terkadang akan gagal. Dan itu tidak apa-apa, karena itu hanya mengkonfirmasi bahwa kita masih belajar.
Meskipun Ia mungkin telah membagikan sebagian keahlian di halaman-halaman buku ini, “..kamu dan saya tidak terlalu berbeda; kita masih memiliki begitu banyak lagi yang harus dipelajari tentang alam dan tentang rewilding. Hanya memikirkan hal itu membuat saya sangat bahagia.”
Bogor, 12 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Goldsmith, N. (2023). Rewild your mind: Use nature as your guide to a happier, healthier life. Welbeck.






