Rubarubu #114
Developing Sustainability in Organizations:
Sebuah Pendekatan Praktis
Di sebuah pabrik tekstil di Surabaya, seorang manajer produksi pulang larut malam sambil menatap lembar target yang tak pernah habis. Di ruang rapat, tim HR bicara soal turnover tinggi dan kelelahan karyawan; tim CSR sedang menyiapkan laporan hijau agar pemegang saham senang; sementara engineer sibuk menekan biaya. Mereka semua tahu soal “sustainability” — tapi masing-masing melihatnya dari sudut berbeda: lingkungan, finansial, kepatuhan. Lalu seorang tamu dari universitas menanyakan: “Bagaimana kalau kita mulai dari nilai — mengapa kita bekerja bersama, apa tujuan yang lebih besar selain laba, dan bagaimana organisasi merawat orang yang membuat bantuan itu memungkinkan?” Percikan itu adalah awal dari perubahan kecil: workshop nilai bersama, redesign proses kerja, dan perencanaan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja sekaligus efisiensi energi.
Kisah kecil itu merangkum inti buku Developing Sustainability in Organizations: A Values-Based Approach (Marco Tavanti, 2023): bahwa pembangunan berkelanjutan di organisasi paling efektif bila dimulai dari nilai, purpose, dan etos kepemimpinan, bukan sekadar metrik atau program terpisah. SpringerLink
Marco Tavanti menulis sebuah peta praktik dan refleksi: bagaimana organisasi — perusahaan, NGO, institusi publik — dapat mengembangkan keberlanjutan yang nyata bila menanamkan nilai-nilai sebagai fondasi strategi, kepemimpinan, manajemen, inovasi, dan dampak. Buku tersusun menjadi empat bagian besar: Sustainability Leadership, Sustainability Management, Sustainability Innovation, dan Sustainability Impact. Di setiap bagian Tavanti menggabungkan teori, prinsip nilai, praktik manajerial, studi kasus, dan alat-alat praktis untuk mengintegrasikan sustainability menjadi “cara organisasi hidup”, bukan aktivitas sampingan. SpringerLink+1
Tavanti mengusung pendekatan values-based — artinya, sustainability tidak dieksekusi hanya lewat KPI atau kepatuhan, melainkan dimulai dari: (1) identifikasi nilai dan higher purpose organisasi, (2) menumbuhkan mindset pemimpin dan budaya yang mendukung nilai-nilai tersebut, (3) menata struktur manajerial dan proses supaya nilai dapat dioperasionalisasikan, (4) menggerakkan inovasi yang berlandaskan etik dan manfaat sosial-lingkungan, dan (5) mengukur impact bukan hanya output ekonomi tetapi juga resilience, interconnectedness, dan kualitas hidup. Tavanti menekankan pentingnya systems thinking dan sustainability consciousness—kesadaran yang menyatukan tujuan personal, organisasi, dan planet. SpringerLink
Era untuk Sustainability
Di bab pembuka, Tavanti mengajak kita menyadari bahwa kita berada di “era sustainability” — bukan semata sebagai tren, tetapi sebagai keharusan historis dan eksistensial. Dunia meng-hadapi krisis keanekaragaman biologi, perubahan iklim, ketidaksetaraan sosial, tekanan finansial, disrupsi teknologi — semua itu menuntut organisasi (perusahaan, institusi, pemerintahan) untuk berubah, bukan hanya secara teknis, tetapi secara struktural dan nilai. SpringerLink+1
Tavanti menyatakan bahwa banyak organisasi mencoba “mengekor” tuntutan sustainability lewat program CSR, pelaporan ESG, atau efisiensi energi — tetapi sering gagal menyentuh inti: nilai, etika, dan tujuan bersama. Buku ini kemudian menawarkan pendekatan berbeda: sustainability sebagai bagian dari “cara hidup organisasi” — bukan sebagai lampiran. Di sinilah urgensi values-based approach muncul: agar organisasi tidak hanya bertahan, tapi berkembang secara bermakna, adil, dan berkelanjutan. SpringerLink+1
Dengan pembuka ini, pembaca disiapkan untuk melihat sustainability bukan hanya sebagai tanggung jawab eksternal — lingkungan atau regulasi — melainkan tanggung jawab moral dan eksistensial terhadap manusia, komunitas, dan planet.
Buku dibuka dengan konteks historis: perkembangan konsep sustainability, keterbatasan pendekatan teknis/indikator, dan kebutuhan untuk merangkul dimensi nilai dan etika. Tavanti menempatkan argumen bahwa kita berada pada “era sustainability” yang menuntut perubahan pola pikir organisasi — dari orientasi singkat pada laba menuju tanggung jawab jangka panjang terhadap manusia dan ekosistem. SpringerLink. Kemudian dijelaskan tentang Sustainability Leadership (nilai & etos pemimpin). Bagian ini terdiri dari beberapa bab yang sangat praktis: nilai dan prinsip leadership, higher purpose dalam pemimpin sustainability, mindset yang perlu dikembangkan, serta etos kepemimpinan. Tavanti membahas: bagaimana pemimpin membangun legitimasi moral (purpose yang kredibel), bagaimana nilai pribadi dan organisasi diperdalam menjadi norma kerja, dan bagaimana pembelajaran reflektif memelihara integritas. Konsep kunci: pemimpin sebagai penjaga nilai (values steward) yang menerjemahkan ideal menjadi kebijakan dan praktik sehari-hari. SpringerLink.
Bagian pertama buku ini mengupas peran dan karakter pemimpin (Sustainability Leadership) dalam membumikan sustainability. Tavanti berargumen bahwa tanpa kepemimpinan yang berlandaskan nilai, perubahan struktur atau kebijakan saja tidak akan cukup. Ia mendesain empat bab dalam bagian ini untuk membentuk “arsitektur moral dan psikologis” bagi pemimpin sustainable. SpringerLink+1
Dalam bab Values and Principles for Sustainability Leadership ini, Tavanti menguraikan nilai dan prinsip fundamental yang harus dipegang pemimpin sustainability: integritas, keadilan, tanggung jawab terhadap manusia dan alam, transparansi, empati, kepekaan terhadap generasi mendatang, dan keinginan untuk kebaikan bersama — bukan sekadar keuntungan. SpringerLink+1
Nilai-nilai tersebut bukan deklaratif saja — mereka harus diinternalisasi. Artinya pemimpin harus hidup sesuai nilai: keputusan, prioritas, kebijakan, budaya organisasi semuanya harus mencerminkan prinsip moral ini. Tavanti mengingatkan bahwa tanpa internalisasi nilai, sustainability berisiko menjadi “lip service” — label kosong.
Bab ini membahas pentingnya visi besar atau purpose (Higher Purpose in Sustainability Leaders) — bukan sekadar target bisnis atau ESG, tetapi why we exist beyond profit. Tavanti menyebut bahwa organisasi yang sehat secara keberlanjutan memiliki “higher purpose” yang jelas: bisa berkaitan dengan komunitas, planet, keadilan, keberlanjutan generasi masa depan. SpringerLink+1 Higher purpose ini berfungsi sebagai kompas moral dan motivasi jangka panjang — baik bagi pemimpin maupun seluruh anggota organisasi. Dengan purpose itu, pilihan sulit (misalnya investasi berkelanjutan yang mahal, upah layak bagi pekerja, transparansi) menjadi lebih mudah diambil karena ada referensi nilai.
Tavanti kemudian menggambarkan mindset yang dibutuhkan: berpikir jangka panjang, berpikir sistemik, kesadaran ekologis & sosial, fleksibilitas, keberanian untuk berubah, dan rasa tang-gung jawab kolektif (Mindsets for Sustainability Leadership). Ini berbeda jauh dari mindset tradisional yang mungkin hanya fokus pada efisiensi, keuntungan, dan target jangka pendek. SpringerLink+1 Mindset ini memungkinkan pemimpin untuk melihat organisasi bukan sebagai mesin keuntungan semata, tetapi sebagai komunitas manusia — bagian dari sistem sosial-ekologis — sehingga setiap keputusan mempertimbangkan dampak luas: manusia, masyarakat, alam, masa depan.
Ethos di sini adalah jiwa, karakter, dan gaya kepemimpinan (Ethos of Sustainability Leadership). Tavanti menekankan bahwa pemimpin sustainable perlu membangun kultur organisasi yang konsisten dengan nilai/ purpose — melalui praktik sehari-hari, komunikasi, tata kelola, pengambilan keputusan, dan contoh pribadi. SpringerLink+1 Ethos ini harus menjangkau seluruh level organisasi, dari manajemen atas sampai staf, agar sustainability menjadi bagian dari identitas kolektif — bukan proyek terpisah.
Tavanti tidak berhenti tentang kepemimpinan. Aspek penting lainnya Sustainability Management (mengoperasionalkan nilai) juga menjadi bagian perhatiannya. Di bagian manajemen Tavanti memaparkan pendekatan praktis untuk memasukkan nilai ke dalam struktur organisasi: governance ESG yang beretika, pengambilan keputusan berbasis nilai, kebijakan SDM yang mendukung kesejahteraan, tata kelola rantai pasok yang adil, serta mekanisme pelaporan yang jujur. Buku membandingkan pendekatan manajemen tradisional (efisiensi/biaya) versus pendekatan berorientasi nilai (kepedulian & tanggung jawab). Tavanti menawarkan alat untuk “translating values into processes” — mis. decision frameworks, value audits, dan scorecard yang memperhitungkan quality of life. SpringerLink
Tavanti tidak melihat inovasi hanya sebagai teknologi; dalam Sustainability Innovation (nilai sebagai sumber inovasi) inovasi harus terarah oleh nilai. Bab-bab di sini memperlihatkan bagaimana social & environmental entrepreneurship, circular business models, dan desain produk/layanan yang etis muncul ketika organisasi menggunakan nilai sebagai kompas inovasi. Contoh praktik: inovasi layanan yang mengurangi eksklusi sosial, produk yang dirancang untuk daur ulang, atau model bisnis berbasis komunitas. Tavanti juga menggarisbawahi peran kolaborasi lintas sektor (public-private/community) untuk meningkatkan skala dampak. SpringerLink. Terakhir Tavanti menguraikan tentang pentingnya Sustainability Impact (mengukur & memperluas dampak). Bagian akhir fokus pada impact: bagaimana organisasi mengukur nilai, resilience, dan kualitas hidup—bukan hanya pendapatan. Tavanti memper-kenalkan konsep sustainability impact yang melampaui metrik standar ESG: ia memasukkan dimensi psikologis, sosial, kultural, dan ekologis. Penekanan pada longitudinal measurement, sistem umpan balik, dan pembelajaran organisasi. Konsep penting: mengukur efek pada manusia dan ekosistem (kesejahteraan, ketahanan komunitas, restorasi ekologis). SpringerLink
Nilai-nilai inti yang diusulkan
- Purpose & meaning — organisasi harus punya tujuan yang lebih besar daripada keuntungan.
- Care & justice — perhatian pada kesejahteraan pekerja, komunitas, dan lingkungan.
- Resilience — bangun kemampuan beradaptasi dan pulih.
- Systems thinking & interconnectedness — keputusan organisasi disadari efeknya pada sistem lebih luas.
- Ethical leadership & integrity — kepemimpinan yang konsisten dengan nilai. SpringerLink
Buku Tavanti cocok dengan tren yang semakin menuntut organisasi untuk bertindak etis di era krisis iklim, ketimpangan sosial, dan disrupsi ekonomi. Pendekatan values-based membantu perusahaan tidak terjebak pada greenwashing karena melakukan perubahan struktural (budaya, proses, produk) yang menyatu dengan tujuan. Hal ini relevan untuk investor, regulator, dan konsumen yang menuntut akuntabilitas dan transparansi. ignited.global+1
Buku ini sangat aplikatif: banyak perusahaan Indonesia (BUMN, korporasi besar, UMKM) meng-hadapi dilema antara tekanan biaya dan tuntutan sosial-lingkungan. Pendekatan Tavanti me-nyarankan langkah-langkah nyata: memformalkan higher purpose yang relevan lokal (mis. pemberdayaan komunitas nelayan, agroforestry berkelanjutan), menata HR & supply chain untuk kesejahteraan pekerja & pemasok kecil, memprioritaskan inovasi produk yang konteks-tual (mis. kemasan lokal recyclable), dan mengadopsi metrik impact jangka panjang yang menggabungkan aspek sosial & budaya.
Di Indonesia, di mana jaringan keluarga, komunitas, dan norma lokal kuat, model values-based bisa merangkul pendekatan budaya (gotong royong, musyawarah) untuk memperkuat keberlanjutan. Tavanti memberikan peta untuk mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke praktik korporat modern. SpringerLink
Banyak pengulas memuji kombinasi teori dan praktik Tavanti — terutama cara ia menggabung-kan leadership, manajemen, inovasi, dan impact dalam kerangka nilai yang operasional. Hal ini membuat buku berguna untuk akademisi dan praktisi. ignited.global+1
Namun beberapa pembaca menganggap pendekatan berbasis-nilai menuntut perubahan budaya yang sulit dioperasikan tanpa kebijakan dan insentif eksternal—mis. regulasi yang kuat atau tekanan pasar. Artinya, buku ini memberi peta, tetapi realisasi mensyaratkan political will dan dukungan institusional. Juga, bagi organisasi dengan model bisnis margin tipis, menemukan ruang untuk investasi nilai jangka panjang bisa menantang. nonprofit-academic-centers-council.org
Sustainability Management
Setelah membangun pondasi leadership, bagian ini membahas bagaimana organisasi mener-jemahkan nilai dan purpose itu ke dalam manajemen operasional, struktural, dan kebijakan. Tavanti mengakui bahwa banyak tantangan: kompleksitas bisnis, tekanan pasar, regulasi, keberagaman sektor — sehingga manajemen sustainability membutuhkan kerangka dan pendekatan sistematis. marcotavanti.com+1
Di bab Approaches to Managing Sustainability ini (Bab 6) Tavanti mengeksplorasi berbagai pendekatan manajerial terhadap sustainability: dari compliance (mematuhi regulasi), efficiency (mengurangi biaya/limbah), risk management, sampai strategi proaktif yang mengutamakan nilai dan reputasi. Ia mengajak pemimpin/manajer melihat sustainability bukan sebagai beban, tetapi sebagai peluang — inovasi, diferensiasi, dan daya tarik keberlanjutan jangka panjang. marcotavanti.com+1 Tavanti juga menganjurkan pendekatan manajemen holistik: menyatukan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (governance) — bukan dipisah-pisah — agar organisasi bisa berfungsi sebagai sistem yang koheren dan resilient.
Tak lupa Ia juga membahas tentang, EESG Organizational Sustainability Management. Bab 7 ini memperkenalkan pendekatan EESG (Environmental, Ethical, Social, Governance) — sebagai perluasan dari ESG tradisional — di mana aspek “ethical / nilai” ditegaskan secara eksplisit. Tavanti menyajikan bahwa manajemen yang berorientasi EESG mempertimbangkan keber-lanjutan lingkungan, kesejahteraan stakeholder, tanggung jawab etis, dan tata kelola yang transparan. marcotavanti.com+1 EESG menjadi kerangka manajemen yang meng-gabungkan nilai dan efektivitas: kebijakan HR yang adil, supply chain yang etis, governance yang akuntabel, dan kesejahteraan stakeholder sebagai bagian dari tujuan utama, bukan sekadar biaya.
Tavanti tidak membatasi diskusi pada perusahaan profit saja. Di sini ia menunjukkan bagaimana manajemen sustainability bisa diterapkan di berbagai sektor (Sustainability Management Across Sectors): pemerintahan, layanan publik, nirlaba, akademik, kesehatan, teknologi, dsb. Setiap sektor memiliki tantangan khas, tetapi nilai dan prinsip tetap bisa menjadi panduan umum. marcotavanti.com+1 Dengan demikian, sustainability management bukan monopoli dunia bisnis besar atau Western corporate, melainkan relevan lintas sektor dan konteks.
Dalam bab Sustainable Management Effective Practices Tavanti mengumpulkan praktik terbaik: stakeholder management, manajemen rantai pasok (supply chain), pengelolaan SDM, strategi keuangan berkelanjutan, negosiasi, pelaporan keberlanjutan, dan desain struktur organisasi alternatif. Intinya: manajemen sustainability harus operasional — bukan sekadar deklarasi. SpringerLink+1 Bab ini sangat berguna sebagai panduan praktis — bagi manajer, direktur, HR, supply-chain, CSR — bagaimana menerjemahkan nilai ke kebijakan nyata.
Tavanti menutup bagian manajemen dengan refleksi dan prospek: The Future of Sustainability Management. Ia menyatakan bahwa masa depan sustainability membutuhkan manajemen adaptif, kesadaran sistemik, kolaborasi lintas sektor, inovasi terus-menerus, dan keterbukaan terhadap transformasi nilai. Organisasi harus siap menghadapi ketidakpastian — perubahan iklim, disrupsi ekonomi, regulasi, dan ekspektasi masyarakat — dengan pondasi nilai dan governance yang kuat. SpringerLink+1 Dengan demikian, sustainability management bukan proyek sekali jalan — tetapi proses dinamis yang tumbuh bersama evolusi dunia.
Sustainability Innovation
Inovasi—bagi Tavanti—bukan sekadar “mencari hal baru”, tetapi cara merancang masa depan yang bertanggung jawab. Ia menyebut bahwa banyak organisasi bicara inovasi, namun gagal menjadikan inovasi sebagai kekuatan etik dan sosial. Karena itu, sustainability innovation harus berpijak pada satu prinsip: kita tidak sedang membuat produk, tetapi menciptakan masa depan.
Karena itu Tavanti menjelaskan bahwa inovasi keberlanjutan lahir dari kesadaran sistemik—bukan dari teknologi semata. Tavanti menekankan bahwa sebelum inovasi muncul, organisasi harus memahami konteks sosial-ekologis yang rumit: rantai pasok, ketidakadilan, eksploitasi sumber daya, risiko iklim, dan ketimpangan sosial. Inovasi, dalam kerangka ini, adalah respons terhadap penderitaan. Ia mengingatkan: “Innovation that does not listen to the world’s pain is merely an ego exercise.” Pendekatan Tavanti mirip dengan konsep “compassionate innovation” yang dikembangkan oleh Muhammad Yunus (pemenang Nobel Perdamaian) dalam gagasan social business—bisnis yang “tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, tetapi untuk meng-atasi masalah sosial.”
Tavanti menunjukkan bahwa wirausaha (entrepreneurship) tradisional sering berorientasi pada pertumbuhan dan skala, namun wirausaha keberlanjutan memiliki DNA berbeda: value creation yang berdampak pada manusia & ekologi. Ia mengembangkan model yang mirip dengan triple bottom line, namun dengan dimensi etika yang lebih kuat: Economic viability, Social relevance, Ecological responsibility, dan Ethical grounding.
Wirausaha berkelanjutan digambarkan sebagai “agent of system change”, bukan sekadar “business opportunity seeker”. Dalam konteks Indonesia—model ini sangat potensial untuk UMKM, ekonomi desa, petani, pengelolaan hutan sosial, hingga startup agritech atau cleantech.
Seperti yang dikatakan WS Rendra: “Ketika pasar tidak lagi mendengar jeritan manusia, maka puisi harus menjadi saksi.” Gagasan Tavanti seakan menjawab puisi itu—bahwa bisnis perlu mendengar jeritan manusia.
Dari aspek technology innovations untuk SDGs Tavanti menjelaskan bahwa teknologi dapat mempercepat pencapaian SDGs, tetapi peringatan penting diberikan: teknologi tidak netral. Ia membawa bias sosial, nilai budaya, dan kekuasaan ekonomi. Maka pertanyaannya bukan: “Teknologi apa yang kita butuhkan?” Tetapi: “Siapa yang akan diuntungkan, siapa yang akan dirugikan?” Ia memberi contoh teknologi mapping untuk memantau deforestasi (SDG 13: Climate Action), digital farmers assistant (SDG 2: Zero Hunger), fintech etis untuk pangsa pasar unbanked (SDG 1: No Poverty). Namun Tavanti mengingatkan—SDGs bukan checklist teknis. SDGs adalah “moral imagination for the world we want to inhabit.” (menggemakan ide filosof Ernst Bloch tentang the principle of hope).
Bab Design Thinking for Sustainable Innovation menghadirkan jembatan antara metode praktis dan visi etis. Design Thinking—yang sering dipakai korporasi—diberi arah baru: bukan hanya mencari solusi, tapi mendefinisikan ulang masalah dengan kesadaran sosial-ekologis.
Tavanti mengusulkan 5 tahap Design Thinking versi sustainable:
- Empathize with stakeholders & ecosystems (dengar yang tak bisa bersuara).
- Define systemic problems (bukan gejala permukaan).
- Ideate value-based solutions
- Prototype ethically (uji dampak sosial & ekologis).
- Implement with accountability (ukur, dengar umpan balik).
Konsep ini mengingatkan kita pada QS. Al-An’am 6:165 — “Dia menjadikan kamu khalifah di bumi dan meninggikan sebagian dari kamu atas yang lain… untuk mengujimu.” Desain inovasi, menurut Tavanti, adalah bagian dari “ujian” itu.
Sustainability Impact
Bagian ini mengajak pembaca bergeser dari ide ke pengaruh nyata. Tavanti bertanya:
“Bagaimana kita tahu bahwa keberlanjutan benar-benar terjadi, bukan hanya diklaim?” Pada bab The Impact Challenge for Global Sustainability, Tavanti menyebut adanya “paradoks dampak”: Banyak perusahaan melaporkan keberlanjutan, tapi sedikit yang mengalami perubahan nyata. Ia mengutip riset bahwa sebagian besar sustainability report adalah cosmetic compliance—terutama pada industri ekstraktif dan manufaktur.
Maka tantangan global bukan hanya producing impact, tetapi discerning real impact.
Apa saja dimensi dampak keberlanjutan? Tavanti menjelaskan dalam The Dimensions of Sustainability Impact. Dampak keberlanjutan menurut Tavanti harus diukur pada lima dimensi:
- Lingkungan — dampak terhadap sumber daya & ekosistem
- Sosial — kesejahteraan & kesehatan komunitas
- Ekonomi — keberlangsungan bisnis & distribusi nilai
- Governance — transparansi regulasi & akuntabilitas
- Etis/Spiritual — integritas, makna, dan keadilan
Dimensi kelima inilah yang membedakan bukunya dari teori-teori manajemen lain. Tavanti percaya, tanpa dimensi etis, keberlanjutan akan selalu bersifat kosmetik. Seperti kata penyair Mahmoud Darwish: “In the absence of justice, what is sustainability but another mask?”
Bagiamana mengukurnya? Bab Assessing and Measuring Sustainability Impact ini lebih teknis: Tavanti menjelaskan model pengukuran seperti:
- Social Return on Investment (SROI)
- Integrated Reporting (IIRC)
- B Corp Assessment
- EESG Metrics
Namun ia memperingatkan: “Metrics must not replace moral thinking.” Data penting, tetapi data harus mendukung keputusan etis, bukan menggantikannya.
Catatan Akhir: The Future of Sustainable Impact
Bab terakhir ini bercorak reflektif. Tavanti mengajak pembaca bertanya: How will future generations judge the world we are building today? Ia menyebut bahwa keberlanjutan sejati adalah legacy — bukan program kerja.
Arah masa depan menurutnya:
- kolaborasi lintas sektor
- keadilan sosial sebagai fondasi
- teknologi yang berpihak pada yang rentan
- spiritualitas yang mengakar pada tanggung jawab ekologis
- keberlanjutan sebagai cara kita hidup bersama di bumi
Bagi Indonesia, bab ini relevan untuk masa depan:
- transisi energi
- tata kelola sawit & nikel
- ekonomi masyarakat adat
- kedaulatan pangan
- urbanisasi & kota inklusif
Tavanti seakan menggemakan puisi Sapardi: “Pada akhirnya yang tinggal hanya jejak. Maka berjalanlah dengan hati-hati.”
Developing Sustainability in Organizations adalah undangan: untuk membawa nilai-nilai manusiawi kembali ke pusat organisasi. Tavanti memberi alat, bahasa, dan contoh untuk menjadikan sustainability sesuatu yang hidup—termasuk leadership yang beretika, manajemen yang menerjemahkan nilai menjadi praktik, inovasi yang memperhatikan manusia dan planet, serta metrik yang mengutamakan dampak. Bagi pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis, buku ini bukan hanya bacaan — ia adalah manual transformasi nilai yang praktis dan reflektif.
Berikut ini alasan penting mengapa pendekatan buku ini penting.
- Mengisi kekurangan ESG/CSR tradisional — Banyak organisasi melakukan ESG/CSR sebagai pelengkap atau kewajiban eksternal; Tavanti menawarkan internalisasi nilai, sehingga sustainability menjadi bagian inti identitas dan strategi. Ia memperluas ESG — dengan menempatkan nilai dan etika sebagai pusat keberlanjutan
- Relevan bagi berbagai sektor & konteks — Karena manajemen dan leadership dibahas secara umum, model ini bisa diadaptasi di korporasi, pemerintahan, NGO, maupun usaha kecil-menengah, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Modelnya adaptable — termasuk bagi Indonesia, UMKM, BUMN, perguruan tinggi, dan NGO
- Menggabungkan etika dan efektivitas — Nilai dan profitabilitas tidak diposisikan sebagai bertentangan: melainkan integratif. Ini memberi landasan bagi model bisnis yang adil, manusiawi, dan bertanggung jawab.
- Menjawab tuntutan zaman — Di tengah disrupsi iklim, keadilan sosial, dan tekanan global, organisasi dengan nilai dan manajemen berkelanjutan lebih tangguh dan kredibel. Ia menjawab kekosongan: ketika sustainability sering menjadi jargon, Tavanti menghadirkan jiwa di balik praktik
Bogor, 11 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Tavanti, M. (2023). Developing Sustainability in Organizations: A Values-Based Approach. Palgrave Macmillan / Springer. https://link.springer.com/book/10.1007/978-3-031-36907-0. SpringerLink+1
Nonprofit Academic Centers Council. (2023, November 20). Developing Sustainability in Organizations: A Values-Based Approach. Review.
IgnitEd. (2023, August 15). Developing Sustainability in Organizations – Summary.
Sumber pendukung & ringkasan online:
- ResearchGate / author upload (preview chapters). ResearchGate
- Series entry / synopsis (Springer Professional). Springer Professional
- Nonprofit & academic centers commentary. nonprofit-academic-centers-council.org






