Rubarubu #120
Culture and Sustainability:
Kestabilan dan Perubahan
Saat ini, dunia menghadapi salah satu tantangan terbesar dalam sejarah umat manusia: menggeser sistem sosial, ekonomi, dan teknologi yang telah berakar dalam untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan dalam batas-batas biogeofisik planet ini, sekaligus adil dan tahan lama. Namun, seperti yang ditegaskan oleh Janet Stephenson, perubahan sistemik semacam itu tidak akan tercapai tanpa perubahan budaya yang luas. Kalimat “kita perlu perubahan budaya” sering muncul dalam retorika pembangunan berkelanjutan, tetapi pertanyaannya adalah: apa arti perubahan budaya secara riil dan bagaimana cara memahami-nya secara analitis? Culture and Sustainability: Exploring Stability and Transformation with the Cultures Framework oleh Janet Stephenson (Palgrave Macmillan, 2023) menjawab pertanyaan itu dengan kerangka analitis yang distinctive, yang disebut cultures framework, untuk menjelaskan hubungan antara budaya dan hasil-hasil keberlanjutan. SpringerLink+1
Budaya dan Krisis Keberlanjutan
Dalam bab pendahuluan, Stephenson membuka dengan refleksi tentang bagaimana budaya sering menjadi bagian dari akar persoalan krisis keberlanjutan karena ideologi konsumsi berlebihan, kapitalisme yang tak terkendali, dan warisan kolonialisme. Budaya bukan hanya latar belakang yang pasif; ia membentuk keyakinan, praktik, dan ekspektasi material yang dapat menghambat perubahan bahkan ketika fakta ilmiah sudah jelas. Budaya sering dipahami secara berbeda dalam berbagai disiplin ilmu, sehingga tanpa definisi yang jelas tujuan yang sama dapat dibicarakan secara berbeda oleh para peneliti dan pembuat kebijakan. Untuk itu, Stephenson mengajak pembaca memikirkan budaya melalui lensa yang relevan dengan perubahan berkelanjutan. SpringerLink
Dalam konteks ini, krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, dan kerusakan ekosistem tidak hanya masalah teknis tetapi juga sosial-budaya: mereka berakar pada narasi dan pola perilaku yang telah lama dipraktikkan. Ini mengingatkan pada pemikiran Marshall Sahlins yang menyatakan bahwa “budaya adalah perangkat makna dan simbol” yang membentuk perilaku manusia secara keseluruhan — bukan sekadar kebiasaan atau adat istiadat. Ketika budaya menguatkan pola konsumsi berlebihan, itu menjadi hambatan terhadap transisi berkelanjutan. Dengan melihat budaya secara mendalam, Stephenson menegaskan bahwa transformasi keberlanjutan memerlukan pemahaman tentang bagaimana budaya menstabilkan perilaku dan bagaimana ia berubah. SpringerLink
Divergensi dan Konvergensi Budaya
Stephenson memulai eksplorasi dengan membedah divergensi budaya — bahwa budaya memiliki banyak makna yang berbeda tergantung pada konteks sosial, sejarah, dan geografis-nya. Budaya bisa dipahami sebagai sistem simbol, pola perilaku, struktur sosial, dan sebagainya. Karena sifatnya yang sangat kompleks dan multidimensional, memahami peran budaya dalam keberlanjutan memerlukan pendekatan yang memotong disiplin ilmu. SpringerLink
Namun setelah menjelaskan perbedaan pandangan tersebut, Stephenson bergerak menuju konvergensi: mencari elemen-elemen budaya yang umum di berbagai interpretasi, seperti keyakinan, nilai, norma, praktik, dan struktur relasional. Elemen ini kemudian menjadi dasar bagi apa yang ia sebut sebagai cultures framework, kerangka analitis yang membantu menjelaskan bagaimana budaya berkontribusi terhadap hasil-hasil keberlanjutan. SpringerLink
Inti buku ini berada pada Cultures Framework, yang dirancang untuk membuat budaya menjadi konsep yang dapat dianalisis secara praktis. Berbeda dengan definisi budaya yang abstrak dan sulit dioperasionalkan, framework ini menyusun budaya sebagai kumpulan elemen yang saling berkaitan yang memengaruhi perilaku individu, rumah tangga, komunitas, organisasi, dan sektor dalam konteks keberlanjutan. SpringerLink
Framework ini terdiri dari tiga komponen utama yang membentuk apa yang disebut cultural ensemble:
- Motivators: mencakup norma, ide, pengetahuan, dan nilai yang mendorong atau menghambat perilaku;
- Activities: praktik, rutinitas, ritual, dan tindakan yang secara langsung memengaruhi dampak ekologis;
- Materiality: obyek fisik dan digital, teknologi, serta konsumsi yang mencerminkan dan memperkuat motivator dan aktivitas. SpringerLink
Dengan memadukan ketiga elemen ini, framework menghasilkan gambaran yang lebih lengkap tentang mengapa sesuatu tidak berubah — karena motivator dan aktivitas sering diperkuat oleh ekspektasi material yang mapan. Konsep ini sejalan dengan cara berpikir Pierre Bourdieu tentang habitus — struktur mental dan disposisi yang membentuk tindakan sosial dan kemudian diproduksi kembali melalui praktik sehari-hari. Stephenson juga menunjukkan bahwa framework ini bukan sekadar teori; ia telah diuji dalam studi empiris yang beragam, membantu para peneliti memahami hubungan antar budaya dan hasil keberlanjutan di berbagai konteks, seperti energi, transportasi, dan komunitas lokal. SpringerLink
Budaya sebagai Kestabilan dan Perubahan
Setelah membangun kerangka pemahaman, buku ini menjelajahi dua dinamika budaya utama dalam konteks keberlanjutan: stabilitas budaya dan perubahan budaya.
Budaya Stabil
Stephenson menjelaskan bahwa banyak budaya memiliki stabilitas yang internal, yakni bagaimana nilai-nilai dan praktik yang lama tetap dipertahankan karena:
- konsensus sosial yang kuat,
- rasa identitas kolektif,
- dan tekanan sosial untuk mempertahankan status quo.
Stabilitas budaya semacam ini penting untuk menjaga ketertiban sosial, tetapi di sisi lain dapat menjadi hambatanterhadap inovasi dan transisi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.
Contohnya, masyarakat yang kuat dalam tradisi konsumsi energi fosil atau pola konsumsi tertentu mungkin menolak perubahan meskipun ada bukti ilmiah terkait dampak ekologisnya. Dalam konteks ini, pergeseran budaya bukan sekadar perubahan perilaku praktis, tetapi perubahan dalam norma, nilai, dan struktur identitas. SpringerLink
Budaya Perubahan
Stephenson menindaklanjuti dengan membahas bagaimana budaya berubah — baik secara evolusioner maupun revolusioner. Ia menunjukkan melalui contoh-contoh di seluruh dunia bagaimana budaya telah berubah sebagai respons terhadap tekanan internal dan eksternal. Tekanan tersebut dapat berupa: krisis ekologis yang nyata, tekanan sosial dari generasi muda,
perubahan teknologi, atau kebijakan publik yang mendukung praktik berkelanjutan.
Transformasi budaya juga dapat terjadi melalui praktik inovatif dan kolaboratif yang meng-gabungkan pengetahuan lokal dengan pengetahuan ilmiah — konsep yang mirip dengan epistemic pluralism dalam filsafat ilmu, yaitu pengakuan akan berbagai cara me-ngetahui sebagai kekuatan dalam menangani kompleksitas sosial-ekologis. Dalam konteks ini, Stephenson menyiratkan bahwa perubahan budaya bukan sekadar mengubah apa yang orang lakukan, tetapi mengubah apa yang mereka anggap penting dan wajar. SpringerLink
Buku ini tidak berhenti pada teori. Stephenson secara konkret menunjukkan bagaimana cultures framework dapat digunakan untuk: menganalisis kebijakan publik yang mendukung keberlanjutan, mendesain intervensi sosial-kultural, dan melakukan penelitian lintas disiplin dengan basis teoritis yang kuat.
Dalam bab tentang kebijakan, misalnya, ia menerangkan bagaimana framework ini dapat membantu pembuat kebijakan memahami kekuatan motivator budaya sebelum merancang pendekatan regulasi yang efektif. Ini penting karena kebijakan yang tidak mempertimbangkan budaya dapat gagal atau bahkan memicu resistensi sosial yang tidak diinginkan. Dalam konteks penelitian, framework ini membuka ruang bagi integrasi metodologi kualitatif dan kuantitatif, serta integrasi pengetahuan dari berbagai disiplin — sesuatu yang penting ketika menangani tantangan keberlanjutan yang instrinsik kompleks. SpringerLink
Pada akhirnya, Stephenson menyimpulkan bahwa tanpa perubahan budaya yang mendasar, transisi menuju keberlanjutan yang adil dan tahan lama tidak dapat dicapai. Budaya bukan sekadar lapisan permukaan, tetapi struktur yang mentenun motivasi, aktivitas, dan materialitas.
Sebagaimana disarankan oleh UNESCO, “budaya adalah pendorong dan enabler pembangunan berkelanjutan” — bukan sekadar variabel tambahan, melainkan unsur yang tak terpisahkan dari pemahaman dan tindakan kolektif manusia dalam menghadapi krisis global. Independent Social Research Foundation
Untuk memperkaya refleksi tersebut, kita dapat mengutip filsuf Al-Farabi yang menekankan bahwa masyarakat yang baik bergerak bersama nilai dan praktik yang harmonis, serta pemikir kontemporer Arne Naess yang menekankan pentingnya ekosentrisme etis dalam hubungan manusia-alam. Ini menunjukkan bahwa perubahan budaya dalam keberlanjutan tidak hanya bersifat teknis tetapi juga moral dan filosofis.
Why Culture Matters for Sustainability
Bab pembuka meletakkan fondasi konseptual buku dengan menegaskan bahwa krisis keberlanjutan global—perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, ketimpangan sosial—tidak dapat dipahami atau diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis dan ekonomi. Janet Stephenson menunjukkan bahwa di balik kegagalan banyak kebijakan dan intervensi keberlanjutan terdapat faktor budaya yang sering diabaikan atau disederhanakan. Budaya memengaruhi apa yang dianggap normal, diinginkan, masuk akal, dan sah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, budaya berfungsi sebagai sistem penstabil yang kuat sekaligus potensi sumber transformasi.
Stephenson mengkritik kecenderungan diskursus keberlanjutan yang menggunakan istilah “perubahan budaya” secara longgar, seolah budaya adalah sesuatu yang mudah diubah melalui kampanye atau insentif perilaku. Ia menegaskan bahwa budaya bukan sekadar sikap individu, melainkan konfigurasi kompleks dari nilai, norma, praktik, relasi sosial, dan materialitas. Bab ini juga memperkenalkan argumen utama buku: bahwa memahami bagaimana budaya menstabilkan praktik tidak berkelanjutan sama pentingnya dengan memahami bagaimana budaya dapat diubah untuk mendukung keberlanjutan.
Stephenson membahas secara mendalam keragaman definisi budaya dalam ilmu sosial, humaniora, dan studi keberlanjutan (Bab 2 – What Do We Mean by Culture?). Penulis menelusuri bagaimana budaya dipahami sebagai sistem simbol, pola makna, praktik sosial, maupun cara hidup yang diwariskan. Ia menunjukkan bahwa perbedaan definisi ini sering menimbulkan kebingungan konseptual dan menghambat dialog lintas disiplin. Alih-alih memilih satu definisi tunggal, Stephenson mengidentifikasi unsur-unsur kunci yang berulang dalam berbagai pendekatan budaya. Ia menekankan bahwa budaya selalu bersifat kolektif, dipelajari, dan diwujudkan dalam praktik nyata. Bab ini berfungsi sebagai jembatan teoritis: dari keragaman pemahaman budaya menuju kebutuhan akan kerangka kerja yang lebih operasional untuk menganalisis hubungan budaya dan keberlanjutan.
Pada Bab 3 – Culture and Sustainability: Existing Approaches Stephenson meninjau pendekatan-pendekatan yang telah digunakan untuk mengaitkan budaya dan keberlanjutan, termasuk pendekatan perilaku, pendekatan nilai, dan pendekatan praktik sosial. Ia mengakui kontribusi penting pendekatan-pendekatan tersebut, tetapi juga menyoroti keterbatasannya—terutama kecenderungan untuk memisahkan individu dari konteks sosial dan material yang lebih luas.
Stephenson menunjukkan bahwa banyak intervensi keberlanjutan gagal karena terlalu fokus pada perubahan sikap individu tanpa memperhitungkan struktur budaya yang menopang perilaku tersebut. Bab ini secara implisit menyiapkan pembaca untuk menerima kebutuhan akan kerangka analitis baru yang mampu mengintegrasikan motivasi, praktik, dan materialitas dalam satu kesatuan.
Bab 4 – The Cultures Framework merupakan inti teoritis buku. Stephenson memperkenalkan Cultures Framework sebagai alat analitis untuk memahami bagaimana budaya berkontribusi pada stabilitas dan perubahan dalam konteks keberlanjutan. Kerangka ini terdiri dari tiga komponen utama: motivators (nilai, norma, keyakinan, pengetahuan), activities (praktik, rutinitas, tindakan), dan materiality (objek, teknologi, infrastruktur). Ketiga komponen ini membentuk apa yang disebut cultural ensemble—konfigurasi budaya yang relatif stabil dan saling memperkuat. Stephenson menekankan bahwa perubahan berkelanjutan hanya dapat terjadi jika intervensi menyentuh lebih dari satu komponen sekaligus. Mengubah nilai tanpa mengubah praktik atau materialitas sering kali tidak cukup. Bab ini memberikan dasar konseptual yang kuat untuk analisis empiris pada bab-bab selanjutnya.
Bab 4 adalah jantung konseptual dari seluruh buku Culture and Sustainability. Sebab sangat penting memahami budaya sebagai sistem yang menstabilkan dan mengubah praktik keberlanjutan. Di sinilah Janet Stephenson memperkenalkan dan merinci Cultures Framework, sebuah kerangka analitis yang dirancang untuk menjawab pertanyaan mendasar: Mengapa praktik yang tidak berkelanjutan begitu sulit diubah, bahkan ketika pengetahuan dan niat untuk berubah sudah ada?
Jawaban Stephenson adalah: karena praktik tersebut ditopang oleh konfigurasi budaya yang stabil, bukan oleh pilihan individual semata.
Stephenson mengembangkan Cultures Framework untuk mengatasi tiga kelemahan utama dalam pendekatan keberlanjutan sebelumnya:
- Reduksi budaya menjadi sikap atau nilai individu
- Pemisahan perilaku dari konteks sosial dan material
- Kegagalan menjelaskan stabilitas budaya jangka panjang
Cultures Framework bertujuan: membuat “budaya” dapat dianalisis secara konkret,
menjembatani teori sosial dan praktik kebijakan, serta menjelaskan stabilitas dan perubahan dalam satu model yang sama.
Budaya, dalam kerangka ini, bukan sesuatu yang kabur atau abstrak, melainkan konfigurasi nyata yang dapat dipetakan dan dianalisis.
Konsep kunci yang ditawarkan adalah Cultural Ensemble yang didefinisikan sebagai: konfigurasi unsur budaya yang saling terkait dan saling memperkuat, yang bersama-sama membentuk cara berpikir, bertindak, dan menggunakan dunia material.
Cultural ensemble terdiri dari tiga komponen utama:
- Motivators
- Activities
- Materiality
Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk lingkaran penguatan (mutual reinforcement).
Komponen Pertama: Motivators. Apa itu Motivators? Motivators mencakup: nilai (values), norma sosial, keyakinan, pengetahuan, makna simbolik.
Ini adalah unsur budaya yang memberi alasan mengapa suatu praktik dianggap masuk akal, benar, atau diinginkan. Contoh dari buku: Dalam riset Stephenson tentang penggunaan energi rumah tangga, ia menunjukkan bahwa: kenyamanan termal sering dimaknai sebagai hak dasar, rumah yang hangat diasosiasikan dengan kesehatan, kepedulian, dan status, penggunaan energi tinggi sering dinormalisasi sebagai tanda kehidupan modern.
Nilai-nilai ini berfungsi sebagai motivator yang membenarkan konsumsi energi tinggi, bahkan ketika individu sadar akan dampak lingkungan. Poin penting: Perubahan perilaku tidak akan bertahan lama jika motivators budaya tetap tidak berubah.
Komponen Kedua: Activities. Apa itu Activities? Activities adalah: praktik sehari-hari,
rutinitas, kebiasaan sosial, pola tindakan yang diulang.
Stephenson menekankan bahwa budaya hidup dalam praktik, bukan hanya dalam pikiran.
Contoh dari buku. Dalam studi komunitas energi: orang menyalakan pemanas pada jam-jam tertentu tanpa berpikir, rutinitas pagi dan malam menciptakan pola konsumsi energi yang stabil, praktik ini diwariskan secara sosial (keluarga, tetangga, media).
Bahkan ketika orang ingin menghemat energi, rutinitas sosial membuat perubahan terasa merepotkan atau “tidak normal”. Poin penting: Activities menjelaskan mengapa niat baik sering gagal diterjemahkan menjadi tindakan.
Komponen Ketiga: Materiality. Apa itu Materiality? Materiality mencakup: teknologi,
infrastruktur, benda fisik, desain ruang, sistem ekonomi-material.
Stephenson secara tegas menolak pendekatan budaya yang mengabaikan dimensi material.
Contoh dari buku: Dalam konteks energi rumah tangga: desain rumah, jenis sistem pemanas, harga dan ketersediaan energi, peralatan listrik, semuanya mengunci praktik tertentu. Sebagai contoh: rumah yang dirancang tanpa ventilasi alami mendorong ketergantungan pada pendingin udara, sistem energi terpusat membatasi pilihan individu untuk beralih ke energi terbarukan.
Poin penting: Materiality membuat budaya bersifat keras dan tahan lama, bukan sekadar ide.
Hubungan Timbal Balik: Mengapa Budaya Stabil
Bab 4 menekankan bahwa stabilitas budaya muncul karena ketiga komponen saling memperkuat:
- Motivators memberi makna dan legitimasi,
- Activities mewujudkan makna itu dalam praktik,
- Materiality membuat praktik tersebut mudah, nyaman, dan “normal”.
Stephenson menggambarkan ini sebagai sistem umpan balik positif.
Contoh konkret: Konsumsi energi tinggi bertahan karena: dianggap normal dan pantas (motivators), dilakukan setiap hari tanpa refleksi (activities), difasilitasi oleh teknologi dan infrastruktur (materiality). Mengubah satu unsur saja tidak cukup.
Implikasi Kritis: Mengapa Banyak Intervensi Gagal
Bab ini secara implisit mengkritik: kampanye perubahan perilaku, edukasi publik semata, kebijakan berbasis insentif ekonomi saja.
Karena intervensi tersebut: sering hanya menyasar motivators, mengabaikan praktik sosial,
dan tidak menyentuh struktur material. Stephenson menunjukkan bahwa: perubahan yang bertahan lama membutuhkan rekonfigurasi cultural ensemble, bukan sekadar koreksi sikap.
Cultures Framework sebagai Alat Analitis
Bab 4 juga menjelaskan bagaimana framework ini digunakan: untuk mendiagnosis masalah keberlanjutan, untuk mendesain intervensi kebijakan, untuk membandingkan konteks budaya yang berbeda, dan untuk menilai potensi resistensi terhadap perubahan.
Framework ini tidak normatif secara sempit; ia deskriptif dan reflektif, memungkinkan peneliti dan pembuat kebijakan memahami apa yang ada sebelum menentukan apa yang harus diubah.
Secara intelektual, Bab 4: beresonansi dengan Practice Theory (Shove), bersinggungan dengan habitus Bourdieu, dan melengkapi pendekatan socio-technical transitions. Namun keunikan Stephenson adalah: menggabungkan ketiganya dalam satu kerangka yang eksplisit berorientasi pada keberlanjutan.
Keberlanjutan bukan persoalan mengubah individu, tetapi mengubah konfigurasi budaya yang menstabilkan praktik.
Cultures Framework memberi kita: bahasa analitis, struktur konseptual, dan alat reflektif,
untuk memahami mengapa perubahan begitu sulit—dan bagaimana ia mungkin terjadi.
Cultures Framework – Diagram Visual & Perbandingan Teoretis
Cultures Framework – Diagram Visual dan Perbandingan Teori
Diagram Visual: Cultures Framework (Janet Stephenson)
Diagram berikut menggambarkan Cultures Framework sebagai cultural ensemble—konfigurasi unsur budaya yang saling memperkuat dan menjelaskan stabilitas maupun perubahan praktik keberlanjutan.

Contoh Konkret (dari buku): Konsumsi Energi Rumah Tangga
- Motivators: Kenyamanan sebagai hak, rumah hangat = kepedulian & kesehatan
- Activities: Menyalakan pemanas secara rutin tanpa refleksi
- Materiality: Desain rumah tertutup, sistem pemanas sentral, energi murah

Fitur-Fitur Motivator, Aktivitas, Materialitas, dan Vektor (Stephenson)
Ketiganya membentuk lock-in budaya konsumsi energi tinggi. Perubahan berkelanjutan mensyaratkan intervensi pada lebih dari satu komponen.
Perbandingan: Cultures Framework vs Practice Theory vs Transition Theory
Tabel Perbandingan Konseptual
| Aspek Kunci | Cultures Framework (Stephenson) | Practice Theory (Shove et al.) | Transition Theory (MLP – Geels) |
| Fokus utama | Budaya sebagai konfigurasi motivasi–praktik–material | Praktik sosial sebagai unit analisis | Transisi sistemik jangka panjang |
| Unit analisis | Cultural ensemble | Social practices | Socio-technical systems |
| Unsur inti | Motivators, Activities, Materiality | Meanings, Competences, Materials | Niche – Regime – Landscape |
| Pandangan tentang stabilitas | Stabilitas muncul dari penguatan antar unsur budaya | Praktik stabil karena rutinitas & material | Stabilitas rezim karena kekuasaan & institusi |
| Pandangan tentang perubahan | Rekonfigurasi cultural ensemble | Rebundling / reconfiguring practices | Breakthrough niche & regime shift |
| Peran nilai & norma | Eksplisit dan sentral | Implisit (dalam meanings) | Sekunder, sering struktural |
| Orientasi kebijakan | Diagnostik & reflektif | Terbatas (analitis) | Strategis & makro |
Penjelasan Relasional Antar Teori
a. Cultures Framework dan Practice Theory
- Practice Theory menekankan bahwa perubahan terjadi melalui praktik, bukan individu.
- Cultures Framework memperluas ini dengan:
- memasukkan nilai dan norma secara eksplisit (motivators),
- menekankan budaya sebagai stabilising system, bukan sekadar kumpulan praktik.
Cultures Framework dapat dipahami sebagai practice theory yang diberi kedalaman budaya dan orientasi kebijakan.
b. Cultures Framework dan Transition Theory (MLP)
- Transition Theory bekerja di level makro-struktural (energi, transportasi, industri).
- Cultures Framework bekerja di level meso–mikro budaya sehari-hari.
Keduanya komplementer:
- MLP menjelaskan kapan dan di mana perubahan sistem mungkin terjadi,
- Cultures Framework menjelaskan mengapa perubahan sering gagal atau bertahan.
Contoh:
- Transisi energi (MLP) membutuhkan teknologi baru,
- tetapi tanpa perubahan budaya konsumsi (Cultures Framework), teknologi tidak diadopsi atau disalahgunakan.
Sintesis Singkat
- Practice Theory: bagaimana praktik bekerja
- Transition Theory: bagaimana sistem berubah
- Cultures Framework: mengapa budaya menstabilkan atau menghambat perubahan
Bersama-sama, ketiganya membentuk arsitektur teori keberlanjutan yang utuh:
- mikro (praktik),
- meso (budaya),
- makro (sistem).
Cultures Framework berperan sebagai jembatan kunci antara perubahan perilaku sehari-hari dan transformasi sistemik jangka panjang.
Cultural Stability: Why Change Is So Hard
Bab Cultural Stability: Why Change Is So Hard ini mengeksplorasi mengapa budaya cenderung stabil dan resisten terhadap perubahan. Stephenson menjelaskan bahwa stabilitas budaya bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari penguatan timbal balik antara motivasi, praktik, dan materialitas. Norma sosial, identitas kolektif, dan ekspektasi material menciptakan tekanan untuk mempertahankan status quo.
Melalui contoh-contoh empiris, Stephenson menunjukkan bagaimana praktik tidak berkelanjutan dapat terus berlangsung meskipun ada kesadaran akan dampak negatifnya. Bab ini membantu pembaca memahami bahwa kegagalan perubahan sering kali bukan akibat kurangnya informasi, melainkan karena kekuatan budaya yang menstabilkan praktik tersebut.
Berbeda dengan bab sebelumnya, bab Cultural Change and Transformation berfokus pada dinamika perubahan budaya. Stephenson membedakan antara perubahan inkremental dan transformasi budaya yang lebih mendalam. Ia menunjukkan bahwa perubahan budaya sering dipicu oleh krisis, inovasi, atau tekanan eksternal, tetapi keberlanjutannya bergantung pada bagaimana perubahan tersebut diintegrasikan ke dalam cultural ensemble. Stephenson menekankan pentingnya agen perubahan, praktik alternatif, dan narasi baru dalam mendorong transformasi. Bab ini juga membahas bagaimana perubahan budaya dapat bersifat tidak merata dan penuh ketegangan, mencerminkan konflik nilai dan kepentingan yang ada dalam masyarakat.
Stephenson memberikan contoh penerapan kerangka ini dalam berbagai konteks, seperti energi, transportasi, dan komunitas lokal. Bab Applying the Cultures Framework ini menunjukkan bagaimana Cultures Framework dapat digunakan dalam penelitian dan praktik kebijakan. Ia menunjukkan bagaimana kerangka ini membantu mengidentifikasi titik-titik intervensi yang lebih efektif.
Ia menekankan nilai kerangka tersebut dalam penelitian lintas disiplin, karena menyediakan bahasa bersama untuk membahas budaya dan keberlanjutan. Dengan demikian, Cultures Framework berfungsi sebagai alat diagnostik sekaligus alat perencanaan.
Bab penutup Implications for Policy, Research, and Practice mensintesis temuan buku dan membahas implikasinya bagi kebijakan publik, penelitian, dan praktik keberlanjutan. Stephenson menegaskan bahwa kebijakan yang mengabaikan dimensi budaya berisiko gagal atau menimbulkan resistensi sosial. Ia mendorong pendekatan yang lebih reflektif dan partisipatif dalam merancang intervensi keberlanjutan. Bab ini menutup dengan refleksi normatif: bahwa keberlanjutan bukan hanya proyek teknis, tetapi juga proyek budaya dan etis. Transformasi menuju masa depan berkelanjutan memerlukan perubahan dalam cara manusia memahami diri mereka, masyarakat, dan hubungan mereka dengan alam.
Merancang Kebijakan Keberlanjutan yang Peka Budaya
Dalam bagian ini, Janet Stephenson secara eksplisit membawa Cultures Framework keluar dari ranah teori dan masuk ke wilayah desain kebijakan publik. Ia memulai dengan satu pengakuan penting: banyak kebijakan keberlanjutan gagal bukan karena tujuannya keliru, melainkan karena tidak selaras dengan konfigurasi budaya yang ada. Kebijakan sering diasumsikan sebagai instrumen rasional-teknis, padahal pada kenyataannya ia selalu berinteraksi dengan nilai, norma, praktik, dan ekspektasi material yang telah lama mapan dalam masyarakat.
Stephenson menegaskan bahwa kebijakan bukanlah intervensi di ruang kosong. Setiap kebijakan memasuki “cultural landscape” yang sudah dihuni oleh cara berpikir tertentu tentang apa yang dianggap normal, pantas, efisien, adil, atau mungkin. Karena itu, Cultures Framework ditawarkan sebagai alat diagnostik untuk memahami lanskap tersebut sebelum kebijakan dirancang, diimplementasikan, dan dievaluasi.
Mengapa kebijakan membutuhkan pendekatan budaya? Stephenson menunjukkan bahwa pendekatan kebijakan konvensional sering terlalu sempit karena: berfokus pada perubahan perilaku individu, mengandalkan insentif ekonomi atau regulasi formal, dan mengasumsikan bahwa informasi dan rasionalitas cukup untuk mendorong perubahan.
Pendekatan semacam ini mengabaikan fakta bahwa perilaku berkelanjutan atau tidak berkelanjutan tertanam dalam cultural ensemble—yakni keterkaitan antara:
- motivators (nilai, norma, keyakinan, pengetahuan),
- activities (praktik sehari-hari, rutinitas sosial),
- materiality (infrastruktur, teknologi, benda-benda).
Kebijakan yang hanya menargetkan satu unsur (misalnya memberi informasi atau subsidi) sering kali gagal karena dua unsur lainnya tetap memperkuat status quo. Oleh sebab itu, Stephenson menekankan bahwa desain kebijakan harus mempertimbangkan interaksi ketiga komponen tersebut secara bersamaan.
Bagiamana langkah-langkah menggunakan cultures framework dalam desain kebijakan? Menurut Stephenson memang Cultures Framework dapat digunakan secara sistematis dalam proses kebijakan. Stephenson tidak menyajikannya sebagai resep teknokratis, melainkan sebagai cara berpikir reflektif bagi pembuat kebijakan.
Langkah awal adalah memetakan budaya yang relevan dengan isu kebijakan tertentu. Ini berarti mengidentifikasi: nilai dan norma dominan yang memengaruhi isu tersebut, praktik sosial yang sudah mengakar, serta kondisi material yang menopang praktik tersebut.
Misalnya, dalam kebijakan transisi energi, bukan hanya preferensi individu terhadap energi terbarukan yang perlu dipahami, tetapi juga: norma sosial tentang kenyamanan dan status,rutinitas penggunaan energi di rumah tangga, serta infrastruktur dan teknologi yang tersedia.
Selanjutnya, Stephenson menekankan pentingnya mengidentifikasi titik-titik stabilitas budaya—yakni aspek-aspek budaya yang membuat perubahan menjadi sulit. Ini bisa berupa identitas kolektif, rasa aman terhadap cara hidup tertentu, atau investasi material jangka panjang yang menciptakan ketergantungan. Dengan memahami sumber stabilitas ini, kebijakan dapat dirancang untuk menghindari resistensi yang tidak perlu atau secara sadar menantang stabilitas tersebut dengan pendekatan bertahap.
Stephenson kemudian membahas bagaimana Cultures Framework membantu pembuat kebijakan memilih jenis intervensi yang tepat. Ia menekankan bahwa kebijakan yang efektif sering kali: tidak secara frontal menyerang nilai-nilai yang ada, tetapi bekerja melalui praktik alternatif dan penyesuaian material yang perlahan mengubah makna sosial.
Sebagai contoh, alih-alih menuntut perubahan nilai secara langsung, kebijakan dapat: menciptakan kondisi material baru (misalnya infrastruktur ramah lingkungan), mendorong praktik baru yang mudah diadopsi, dan memungkinkan nilai serta norma baru tumbuh dari pengalaman tersebut.
Dengan cara ini, perubahan budaya tidak dipaksakan, melainkan dihasilkan melalui pengalaman kolektif. Stephenson melihat kebijakan sebagai bagian dari proses pembelajaran sosial, bukan sekadar instrumen kontrol.
Aspek penting lain dalam panduan ini adalah penekanan pada partisipasi dan refleksivitas. Stephenson berargumen bahwa pembuat kebijakan tidak dapat mengasumsikan pemahaman budaya dari luar. Sebaliknya, mereka perlu: melibatkan aktor lokal, mendengarkan narasi dan pengalaman masyarakat, serta merefleksikan posisi dan asumsi mereka sendiri.
Cultures Framework mendorong pembuat kebijakan untuk bersikap rendah hati secara epistemik—mengakui bahwa budaya bersifat dinamis dan kontekstual. Kebijakan yang berhasil adalah kebijakan yang adaptif, mampu belajar dari implementasi awal, dan terbuka terhadap revisi ketika konteks budaya berubah.
Catatan Akhir: Implikasi Etis dan Politik
Di bagian akhir, Stephenson secara implisit menyinggung dimensi etis dari desain kebijakan berbasis budaya. Menggunakan Cultures Framework berarti mengakui bahwa kebijakan selalu memengaruhi:
- identitas,
- cara hidup,
- dan relasi kekuasaan.
Karena itu, desain kebijakan harus mempertimbangkan pertanyaan keadilan: budaya siapa yang diperkuat, budaya siapa yang terpinggirkan, dan siapa yang menanggung beban perubahan. Dengan demikian, panduan ini bukan hanya teknis, tetapi juga normatif, menempatkan keberlanjutan sebagai proyek sosial dan moral, bukan sekadar administratif.
Bagian “A Guide to Using the Cultures Framework for Policy Design” menunjukkan bahwa Cultures Framework adalah: alat analisis budaya, panduan reflektif untuk desain kebijakan,
dan jembatan antara teori keberlanjutan dan praktik pemerintahan.
Stephenson menutup dengan pesan kuat: kebijakan keberlanjutan yang mengabaikan budaya hampir pasti akan rapuh, sedangkan kebijakan yang memahami dan bekerja bersama budaya memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan yang tahan lama dan bermakna.
Cirebon, 20 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Stephenson, J. (2023). Culture and sustainability: Exploring stability and transformation with the cultures framework. Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1007/978-3-031-25515-1 SpringerLink
UNESCO. (2012). Culture: A driver and enabler of sustainable development. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Independent Social Research Foundation






