Rubarubu #126
Critical Sustainability Sciences:
Meruntuhkan Menara Gading
Matahari pagi menyinari pegunungan Andes. Di sebuah desa di dataran tinggi Bolivia, para tetua Aymara masih melakukan ritual Pachamama setiap pagi. Mereka menuangkan sedikit minuman ke tanah sebelum menyesapnya sendiri, berbicara pada gunung dan sungai sebagai sesama makhluk hidup yang memiliki perasaan. Bagi mereka, alam bukan sumber daya yang bisa dieksploitasi, tetapi kerabat yang harus dijaga hubungan harmonisnya. Di sisi lain planet ini, ribuan kilometer jauhnya, di ruang-ruang seminar universitas Eropa, para ilmuwan berdebat tentang indikator keberlanjutan, target emisi, dan efisiensi sumber daya. Para ilmuwan di universitas-universitas itu berkutat dengan model-model pembangunan berkelanjutan yang mengukur, menghitung, dan mengkalkulasi emisi karbon, indeks kerentanan, dan target-target pembangunan. Dua dunia ini jarang bertemu, dan ketika bertemu, seringkali pengetahuan Aymara dianggap mitos, sementara sains modern dianggap kebenaran universal.
Dari kegelisahan akan jurang pemisah inilah lahir sebuah buku penting berjudul Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives yang disunting oleh Stephan Rist, Patrick Bottazzi, dan Johanna Jacobi, diterbitkan oleh Routledge pada tahun 2024 . Buku ini bukan sekadar tambahan lain dalam deretan panjang literatur keberlanjutan. Ia adalah sebuah manifesto. Sebuah upaya berani untuk membongkar fondasi ontologis yang selama ini mendasari ilmu keberlanjutan arus utama—yang disebut para editor sebagai “sains keberlanjutan” konvensional—dan membangun kerangka baru yang benar-benar emansipatoris dan interkultural. Lebih dari sekadar kritik, buku ini menawarkan jalan ketiga: sebuah ilmu yang tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi mau belajar dari dunia, terutama dari komunitas-komunitas yang selama ini dipinggirkan oleh narasi pembangunan.
Meruntuhkan Tembok Dualisme
Bagian awal buku, yang ditulis oleh para editor, dengan tajam membedah akar masalah utama: ontologi dualistik yang mewarisi filsafat Cartesian. Pemisahan tegas antara manusia dan alam, subjek dan objek, pikiran dan materi, jiwa dan raga, telah menciptakan cara pandang yang melihat alam sebagai objek mati yang siap dieksploitasi . Paradigma ini, yang menjadi fondasi modernitas dan kapitalisme, menurut para penulis, adalah penyebab utama krisis ekologis yang kita hadapi saat ini. Sains keberlanjutan arus utama, dengan segala indeks dan targetnya, seringkali tidak lebih dari upaya untuk mengelola kerusakan tanpa mengubah akar permasalahannya. Ia ibarat mencoba memperbaiki sebuah rumah yang fondasinya retak hanya dengan mengecat dindingnya.
Untuk membangun fondasi baru, buku ini kemudian mengajak pembaca berkelana ke berbagai penjuru dunia, menyaksikan bagaimana komunitas adat dan gerakan integratif telah lama mempraktikkan cara hidup yang relasional. Seperti yang dikemukakan dalam bab tentang pemikiran David Choquehuanca Céspedes, seorang intelektual Aymara, ada budaya yang memahami bahwa “segala sesuatu saling terkait, tidak ada yang terbagi, dan tidak ada yang berada di luar” . Ini adalah inti dari ontologi relasional: dunia dipahami sebagai jalinan hubungan, di mana keberadaan suatu entitas ditentukan oleh relasinya dengan entitas lain.
Gagasan ini bergema dalam berbagai tradisi pengetahuan di seluruh dunia. Dalam konteks Nusantara, misalnya, kita bisa melihatnya dalam kosmologi Bugis yang mengonsepkan Sulapa Eppa sebagai landasan etika lingkungan. Seperti ditulis Feby Triadi dan Petsy Jessy Ismoyo, kosmologi ini menawarkan pemahaman holistik dan siklik tentang hubungan Tuhan-Manusia-Alam, yang dipelihara melalui ritual dan peran Bissu dalam politik ekologi queer . Ini adalah bukti bahwa cara berpikir relasional bukanlah sesuatu yang eksotis atau primitif, melainkan sistem pengetahuan yang kompleks dan relevan untuk menjawab krisis kontemporer.
Fondasi Filosofis dan Praktik Konkret
Buku ini terbagi dalam tiga bagian besar yang saling terkait. Pertama, landasan filosofis yang dibangun dari dialog kritis dengan ontologi relasional dari berbagai tradisi. Bab-bab tentang Darshan Shankar memaparkan bagaimana ontologi relasional dalam praktik kesehatan di India, seperti pengobatan Ayurveda, tidak memisahkan tubuh dari pikiran, spiritualitas, dan lingkung-an. Kesehatan dipahami sebagai keseimbangan relasi, bukan sekadar ketiadaan penyakit.
Sementara itu, David Millar, Niagia F. Santuah, dan Maxwell Ba-an Tengolzor membawa kita pada kosmovisi masyarakat Dagara di Burkina Faso dan Ghana dengan konsep “Vurr”—sebuah energi vital yang mengalir dalam semua eksistensi . Di sini, alam bukanlah objek, melainkan subjek yang berkomunikasi dan berinteraksi. Jéssica Sepúlveda Pizarro kemudian memperkaya diskusi ini dengan gagasan cosmosophy dari gerakan integratif di Chile, yang menekankan kebijaksanaan dalam memahami alam semesta sebagai kesatuan yang hidup. Dari Eropa, Beat Dietschy menyerukan perlunya “aliansi dengan alam” yang didasari pemikiran ulang tentang keberlanjutan dalam kerangka relasionalitas, mengkritik pendekatan konservasi yang masih bersifat antroposentris . Seorang penyair dan aktivis lingkungan seperti Gary Snyderpernah berkata, “Nature is not a place to visit. It is home.” Kutipan ini menangkap esensi dari apa yang ingin dibangun kembali oleh buku ini: rasa betah di rumah sendiri, yang telah hilang akibat alienasi manusia dari alam.
Kedua, buku ini mengaplikasikan fondasi filosofis tersebut ke dalam ranah sosial-ekologis yang konkret. Nora Räthzel membahas potensi konflik dalam relasi masyarakat, kerja, dan alam. Alih-alih melihat konflik sebagai sesuatu yang negatif, ia membacanya sebagai ruang untuk negosiasi dan transformasi menuju relasi yang lebih adil . Patrick Bottazzi memperkenalkan konsep “kerja regeneratif” yang melampaui kerja sebagai komoditas kapitalis. Kerja dipahami kembali sebagai aksi kolektif yang bertujuan memulihkan dan merawat kehidupan, bukan sekadar menghasilkan nilai tukar .
Renato S. Maluf mengupas perdebatan tentang “makanan sejati” di Brasil, yang menentang dominasi agribisnis dan sistem pangan industrial. Baginya, kedaulatan pangan tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial dan ekologis . Selaras dengan itu, Florencia Spirito, Viviana Blanco, dan René Montalba Navarro memaparkan agroekologi sebagai pendekatan trans-formatif yang tidak hanya mengubah cara bertani, tetapi juga relasi kekuasaan dan pengetahu-an dalam sistem pangan . Dalam konteks pemikiran Islam, kita bisa merujuk pada konsep khalifah yang sering disalahartikan sebagai mandat untuk menguasai. Cendekiawan Muslim seperti Fazlun Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences, menafsirkan ulang konsep ini sebagai tanggung jawab untuk merawat (amanah), yang menuntut hubungan etis dan timbal balik dengan alam, bukan eksploitasi sepihak.
Ketiga, buku ini merefleksikan ulang metodologi dan produksi pengetahuan. Hugo Marcelo Zuninomenantang ilmuwan untuk “menembus tabir” dengan mengadopsi perspektif relasional dan partisipatif, di mana pengetahuan lahir dari dialog setara antara peneliti dan komunitas. Isis Brook dengan brilian menghidupkan kembali metode ilmiah Goethe, sebuah “jalan yang tidak diambil,” yang menekankan pengamatan halus, partisipasi, dan pemahaman kualitatif terhadap fenomena alam, sebagai alternatif dari metode reduksionis yang mendominasi sains modern . Alain Findeli, 15 tahun setelah kritik pertamanya, kembali mengupas model keberlanjutan tripolar dan menegaskan perlunya desain yang berorientasi pada kebaikan bersama dan kualitas hidup, bukan sekadar efisiensi ekonomi .
Vandana Shiva dan Suara dari Selatan
Kata pengantar yang ditulis oleh Vandana Shiva menjadi pembuka yang sangat kuat dan kontekstual. Sebagai seorang fisikawan yang kemudian menjadi aktivis ekofeminis dari India, Shiva adalah personifikasi dari perjalanan intelektual yang ingin ditempuh buku ini. Ia membuka dengan narasi yang dekat dengannya: kekerasan epistemik yang dialami petani dan komunitas adat di India ketika pengetahuan mereka tentang benih, hutan, dan air dinyatakan tidak sah oleh sains modern dan korporasi.
Shiva menghubungkan proyek Critical Sustainability Sciences ini dengan perjuangan panjangnya melawan revolusi hijau dan hak paten atas benih. Ia melihat buku ini sebagai alat penting untuk mendekolonisasi pengetahuan. Bagi Shiva, sains modern yang dominan tidaklah netral; ia lahir dari proyek kolonial dan kapitalis yang sama yang mengeksploitasi manusia dan alam. Pengetahuan adat dan petani, yang bersifat relasional dan holistik, adalah korban dari kekerasan epistemik ini.
Dalam pandangan Shiva, buku yang diedit oleh Rist, Bottazzi, dan Jacobi ini adalah undangan untuk membangun pluriversalitas pengetahuan. Ini adalah gagasan bahwa tidak ada satu cara universal untuk mengetahui dunia. Ada banyak dunia dalam dunia ini, dan masing-masing memiliki cara memahami dan berelasi yang sahih. Kata pengantarnya pasti akan menekankan bahwa keberlanjutan sejati tidak mungkin tercapai tanpa keadilan kognitif—pengakuan setara terhadap berbagai bentuk pengetahuan. Ia akan merayakan buku ini sebagai langkah penting untuk membawa suara-suara dari Global South ke pusat percakapan tentang masa depan planet ini.
Relevansi dan Prospek Masa Depan
Relevansi buku ini di masa kini sulit untuk dilebih-lebihkan. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, kegagalan pendekatan teknokratis dan pasar dalam mengatasinya menjadi semakin jelas. Konferensi iklim tahunan (COP) terus menghasilkan kesepakatan yang setengah hati, sementara emisi karbon terus naik. Di sinilah letak relevansi historis buku ini: ia menawarkan diagnosis yang lebih dalam. Krisis ini bukan hanya krisis teknis, tetapi krisis cara kita berada di dunia.
Gagasan tentang dekolonialisasi pengetahuan juga semakin menguat, termasuk di Indonesia. Diskusi tentang metodologi anti-kolonial dalam studi lingkungan, seperti yang diselenggarakan oleh UGM dengan narasumber Dr. Elena Burgos Martinez, menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk merefleksikan ulang posisionalitas peneliti dan kekerasan epistemik dalam produksi pengetahuan . Siti Sarah Muwahidah, dalam editorialnya, juga menegaskan bahwa pembongkaran dikotomi antara “agama-agama dunia” dan tradisi pribumi adalah esensial untuk memungkinkan dialog konstruktif dengan episteme lokal . Buku ini menjadi semacam kompas intelektual bagi gerakan-gerakan ini.
Ke depan, prospek Critical Sustainability Sciences sangat tergantung pada kemauan institusi akademik dan pembuat kebijakan untuk membuka diri terhadap pluralitas pengetahuan. Ini bukan berarti meninggalkan sains modern, tetapi menempatkannya dalam dialog yang setara dengan cara-cara mengetahui lainnya. Para editor dalam bab penutup mengidentifikasi tiga topik kunci: reorganisasi sosial untuk penentuan nasib sendiri yang emansipatoris, revitalisasi kerja dan commons, serta pengembangan paradigma ilmiah relasional yang baru . Tiga agenda ini adalah pekerjaan rumah besar bagi generasi mendatang.
Buku ini diakhiri dengan sebuah ajakan yang tidak bisa diabaikan: bahwa untuk menyelamatkan rumah kita bersama, pertama-tama kita harus belajar lagi bagaimana menjadi penghuni yang baik. Dan untuk itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan laboratorium dan model komputer. Kita harus duduk dan belajar dari mereka yang tidak pernah melupakan cara merawat—para petani kecil, masyarakat adat, nelayan tradisional, dan semua komunitas yang menjaga api relasionalitas tetap menyala. Seperti kata penyair sufi asal Persia, Hafiz: “Kamu telah mengikat simpul tali pengetahuan yang rumit. Sekarang, belajarlah untuk melepaskannya dengan cinta.” Critical Sustainability Sciences adalah undangan untuk melepaskan simpul-simpul itu dengan cinta, kebijaksanaan, dan keberanian.
Diagnosa Atas Kegagalan Epistemologis
Dalam bab pembuka “Why do we need critical sustainability sciences?” (hlm. 1-21) , Rist dan rekan-rekannya tidak langsung menawarkan jawaban, melainkan melakukan otopsi mendalam atas apa yang mereka sebut sebagai “sains keberlanjutan arus utama” . Dengan tajam mereka membedah akar penyakitnya: warisan epistemologis Cartesian yang memisahkan secara tegas antara manusia dan alam, subjek dan objek, pikiran dan materi. Dualisme ini, yang menjadi fondasi peradaban modern, telah menciptakan cara pandang instrumental terhadap alam sebagai sekadar objek mati yang siap dieksploitasi.
Para editor menulis dengan keprihatinan yang mendalam bahwa sains keberlanjutan konvensional, dengan segala indeks dan modelnya, seringkali tidak lebih dari upaya mengelola kerusakan tanpa menyentuh akar permasalahan. Mereka berargumen bahwa pendekatan yang terlalu teknokratis dan berorientasi pasar ini justru melanggengkan relasi kuasa yang timpang dan menjadi penyebab utama krisis ekologis yang kita hadapi. Ilmu pengetahuan, dalam kerangka ini, tidak netral—ia adalah anak kandung dari proyek kolonial dan kapitalisme yang sama yang menciptakan krisis itu sendiri. Para penulis dengan tegas menyatakan bahwa dibutuhkan lompatan paradigmatik: sebuah ilmu yang tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi berani belajar dari dunia.
Tiga Pilar Transformasi
Setelah menegakkan diagnosis, Rist, Bottazzi, dan Jacobi dalam bab “Key areas for critical sustainability sciences” (hlm. 22-38) mulai membangun kerangka baru. Mereka mengidentifi-kasi tiga wilayah kunci yang menjadi medan pergulatan bagi ilmu keberlanjutan yang kritis.
Pertama, persoalan penentuan nasib sendiri yang emansipatoris. Mereka melihat bahwa proyek-proyek pembangunan berkelanjutan seringkali justru merampas otonomi komunitas lokal dengan memaksakan standar dan target dari luar. Ilmu baru harus mampu membuka ruang bagi komunitas untuk menentukan sendiri visi kesejahteraan mereka. Kedua, revitalisasi kerja dan commons(sumber daya bersama). Dalam sistem kapitalis, kerja direduksi menjadi komoditas penghasil nilai tukar, sementara alam dilihat sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Pendekatan kritis mengajak kita membayangkan ulang kerja sebagai aktivitas regeneratif—sesuatu yang tidak hanya menghasilkan, tetapi juga memulihkan dan merawat kehidupan. Ketiga, pengembangan paradigma ilmiah baru yang bersifat relasional. Ini bukan sekadar metodologi, melainkan fondasi ontologis yang mengakui bahwa realitas terbangun dari jalinan relasi, bukan dari entitas-entitas terpisah.
Ketiga area ini saling terkait dan membentuk semacam bingkai bagi transformasi pengetahuan. Namun, bingkai ini tidak akan berarti tanpa isi. Dan isi itulah yang kemudian dihadirkan dalam bab-bab berikutnya, yang membawa pembaca berjumpa langsung dengan cara-cara menge-tahui yang selama ini dipinggirkan.
Bertutur dari Dunia Lain
Bab ketiga, “A culture that understands that everything is interrelated, that nothing is divided, and nothing is outside” (hlm. 39-58) , merupakan kompilasi dan terjemahan pemikiran David Choquehuanca Céspedes, seorang intelektual dan pemimpin Aymara dari Bolivia. Judulnya sendiri sudah merupakan pernyataan ontologis yang kuat. Choquehuanca memperkenalkan pembaca pada kosmovisi Aymara yang tidak mengenal pemisahan tegas antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Dalam tradisi ini, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan apu—makhluk hidup yang memiliki perasaan dan harus diajak bicara. Sungai bukan sekadar sumber air, melainkan urat nadi kehidupan yang harus dihormati. Choquehuanca menjelaskan bagaimana kosmovisi ini dihidupi dalam praktik sehari-hari, dalam ritual, dalam sistem pertanian, dalam cara masyarakat mengorganisasi diri. Yang menarik, ia tidak menyajikannya sebagai “kearifan lokal” yang eksotis, melainkan sebagai sistem pengetahuan yang utuh dan koheren—sebuah episteme yang setara dengan episteme ilmiah modern. Pernyataannya bahwa “segala sesuatu saling terkait, tidak ada yang terbagi, dan tidak ada yang berada di luar” adalah kritik langsung terhadap ontologi dualistik Barat.
Dialog ini kemudian diperluas oleh Darshan Shankar dalam bab “Relational ontologies in health sciences and practices in India” (hlm. 59-77) . Shankar, seorang pionir dalam advokasi pengobat-an tradisional India, membawa kita pada pemahaman bahwa kesehatan bukan sekadar ketiada-an penyakit. Dalam tradisi Ayurveda dan berbagai praktik pengobatan adat di India, kesehatan dipahami sebagai keseimbangan relasi—antara tubuh dan pikiran, antara individu dan komunitas, antara manusia dan lingkungan, serta antara material dan spiritual.
Shankar dengan cemerlang menunjukkan bagaimana pengobatan modern yang dominan, dengan pendekatannya yang mekanistik dan reduksionis, gagal menangkap dimensi relasional ini. Ia mencontohkan bagaimana seorang tabib tradisional tidak hanya bertanya tentang gejala fisik, tetapi juga tentang hubungan pasien dengan keluarganya, dengan alam sekitarnya, bahkan dengan leluhurnya. Penyakit dipahami sebagai gangguan dalam jalinan relasi, dan kesembuhan berarti memulihkan keseimbangan relasi tersebut. Di sinilah Shankar menawarkan tantangan epistemologis: bagaimana jika kita belajar dari sistem pengetahuan ini untuk membangun pendekatan kesehatan yang lebih holistik, tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk ekosistem?
Merajut Kembali Jalinan yang Putus
Jika kita menarik benang merah dari keempat bab ini, sebuah narasi besar muncul ke permukaan. Rist, Bottazzi, dan Jacobi membuka dengan diagnosis kritis atas kegagalan sains modern yang berakar pada ontologi dualistik . Mereka kemudian menawarkan peta jalan menuju transformasi melalui tiga area kunci yang emansipatoris . Namun, peta ini bukan ciptaan baru yang lahir dari ruang hampa. Choquehuanca dan Shankar kemudian mengisinya dengan pengalaman hidup masyarakat Aymara dan India yang selama berabad-abad telah mempraktikkan cara hidup dan pengetahuan yang bersifat relasional . Mereka adalah bukti hidup bahwa dunia lain tidak hanya mungkin, tetapi sudah ada dan terus bertahan.
Apa yang dilakukan buku ini sesungguhnya adalah upaya untuk merajut kembali jalinan yang putus. Jalinan antara manusia dan alam yang terpisah oleh dinding dualisme. Jalinan antara ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan adat yang terbelah oleh sejarah kolonialisme. Jalinan antara cara kita mengetahui dan cara kita hidup. Dalam proses merajut ini, tidak ada satu pihak yang lebih tinggi dari yang lain. Yang ada adalah dialog setara antara berbagai cara berada di dunia.
Rist dan rekan-rekannya mengingatkan bahwa ini bukan sekadar proyek intelektual, melainkan kebutuhan eksistensial. Di tengah krisis iklim yang semakin menghimpit, kegagalan pendekatan teknokratis menjadi semakin nyata. Kita tidak bisa terus memperbaiki rumah dengan mengecat dinding sementara fondasinya retak. Critical sustainability sciences adalah undangan untuk membongkar fondasi yang retak itu dan membangun kembali di atas tanah yang lebih kokoh—tanah yang mengakui bahwa kita adalah bagian dari alam, bukan penguasanya; bahwa penge-tahuan itu majemuk, bukan tunggal; dan bahwa keberlanjutan sejati tidak mungkin tercapai tanpa keadilan kognitif bagi semua cara mengetahui dunia.
Jika kita merenungkan kelima bab ini sebagai satu kesatuan, sebuah narasi besar tentang transformasi muncul dengan jelas. Räthzel membuka dengan menawarkan konflik sebagai ruang kemungkinan, sebagai pintu masuk untuk menegosiasikan ulang relasi sosial-ekologis
Bottazzi kemudian mengisi ruang itu dengan visi tentang kerja regeneratif—kerja yang tidak hanya menghasilkan tetapi memulihkan, tidak hanya individual tetapi kolektif Maluf membawa visi ini ke ranah pangan, menunjukkan bagaimana perdebatan tentang “makanan sejati” adalah pertarungan antara dua cara berelasi dengan tanah, benih, dan tubuh. Spirito, Blanco, dan Montalba Navarro menawarkan agroekologi sebagai jalan konkret untuk mewujudkan trans-formasi itu, menyatukan ilmu, praktik, dan gerakan. Dan Zunino menutup dengan refleksi epistemologis: transformasi tidak mungkin tanpa cara baru memproduksi pengetahuan, tanpa keberanian menembus tabir dan memasuki dialog setara dengan mereka yang selama ini hanya menjadi objek.
Di sinilah letak kekuatan buku ini. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan. Tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi juga belajar dari dunia. Tidak hanya meratapi keterpisah-an, tetapi juga merajut kembali jalinan yang putus—jalinan antara kerja dan kehidupan, antara pangan dan martabat, antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Seperti para petani di lembah Chile yang berkumpul di bawah pohon rindang, kita semua diundang untuk ikut serta dalam perajutan itu. Karena pada akhirnya, transformasi sejati tidak bisa diwariskan oleh para ahli atau dipaksakan oleh kebijakan. Ia lahir dari percakapan-percakapan kecil, dari praktik-praktik lokal, dari keberanian untuk membayangkan ulang apa yang selama ini kita anggap wajar. Dan buku ini, dengan segala kekayaan gagasannya, adalah undangan untuk memulai percakapan itu.
Energi yang Mengalir: Merayakan Kehidupan dalam Jalinan Relasi
Di sudut barat daya Burkina Faso dan barat laut Ghana, masyarakat Dagara hidup dengan pemahaman yang begitu dalam tentang alam, hingga mereka memiliki kata khusus untuk menyebut energi vital yang mengalir di seluruh semesta: Vurr. Bagi orang Dagara, Vurr bukan sekadar metafora puitis atau kepercayaan spiritual belaka—ia adalah realitas ontologis, fondasi dari segala yang ada.
Seperti ditulis David Millar, Niagia F. Santuah, dan Maxwell Ba-an Tengolzor dalam bab “Cosmovisions and critical sustainability sciences: an African ontology of ‘Vurr'” (hlm. 75-94) , Vurr adalah energi kehidupan yang meresapi semua eksistensi—manusia, hewan, tumbuhan, batu, sungai, bahkan roh leluhur. Tidak ada yang mati di alam semesta Dagara. Yang ada hanyalah kehidupan dalam berbagai bentuk dan frekuensi getarannya.
Pemahaman ini membawa konsekuensi etis yang mendalam. Jika semua makhluk memiliki Vurr, maka semua makhluk adalah subjek yang memiliki perasaan, kehendak, dan martabat. Se-batang pohon bukan sekadar biomassa yang bisa ditebang sesuka hati; ia adalah kerabat yang harus diajak berkomunikasi, dimintai izin, dan dihormati. Millar dan rekan-rekannya menjelas-kan bagaimana kosmovisi ini dihidupi dalam praktik sehari-hari masyarakat Dagara—dalam ritual, dalam sistem pertanian, dalam cara mereka menyembuhkan penyakit, dalam tata kelola sumber daya alam. Tidak ada pemisahan tegas antara yang sakral dan yang profan, antara spiritualitas dan ekonomi, antara manusia dan alam. Semua teranyam dalam jalinan Vurr yang satu.
Apa yang ditawarkan masyarakat Dagara sejatinya bukan sekadar “kearifan lokal” yang eksotis, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang utuh dan koheren—sebuah ontologi alternatif yang menantang fondasi sains modern. Jika sains modern memulai dengan memisah-misahkan realitas ke dalam kotak-kotak disiplin yang ketat, ontologi Vurr justru memulai dari pemahaman bahwa realitas adalah jalinan relasi yang tak terputuskan. Ilmu pengetahuan, dalam kerangka ini, bukan tentang menguasai dan mengendalikan alam, melainkan tentang belajar membaca tanda-tanda, mendengarkan bisikan Vurr, dan hidup selaras dengan alirannya.
Cosmosophy: Kebijaksanaan Merangkai Kembali Alam Semesta
Dari Afrika Barat, perjalanan kita beralih ke Chile, tempat Jéssica Sepúlveda Pizarro dalam bab “Contributions of the notion of cosmosophy to the formulation of critical sustainability sciences” (hlm. 95-114) memperkenalkan kita pada gagasan cosmosophy. Istilah ini, yang berasal dari tradisi pemikiran integratif di Amerika Latin, menawarkan cara pandang yang berbeda dari kosmologi—jika kosmologi adalah “pengetahuan tentang alam semesta” yang objektif dan terpisah, maka cosmosophy adalah “kebijaksanaan tentang alam semesta” yang partisipatif dan transformatif.
Sepúlveda Pizarro menjelaskan bahwa cosmosophy lahir dari gerakan-gerakan sosial dan spiritual yang menolak fragmentasi pengetahuan modern. Mereka yang berada dalam tradisi ini tidak puas hanya dengan memahami bagaimana alam semesta bekerja; mereka ingin belajar bagaimana hidup bijak di dalamnya. Cosmosophy menekankan bahwa pengetahuan sejati tidak bisa dipisahkan dari etika, dari rasa kagum, dari pengalaman langsung akan keindahan dan misteri alam. Ia adalah undangan untuk kembali merasakan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.
Yang menarik dari cosmosophy adalah penekanannya pada praktik. Ini bukan sekadar filsafat abstrak, melainkan cara hidup yang diwujudkan dalam ritual, dalam seni, dalam gerakan sosial, dalam cara bercocok tanam dan membangun komunitas. Sepúlveda Pizarro menunjukkan bagaimana gerakan-gerakan integratif di Chile, yang menggabungkan unsur-unsur spiritualitas adat, ekologi dalam, dan kritik sosial, telah mengembangkan praktik-praktik cosmosophic yang nyata. Mereka tidak hanya memprotes kerusakan lingkungan, tetapi juga menciptakan alternatif—komunitas yang hidup dengan prinsip saling ketergantungan, ekonomi yang berbasis pada sirkulasi kehidupan, bukan akumulasi kapital.
Dalam konteks ini, cosmosophy menjadi jembatan penting antara ontologi relasional seperti Vurr dan kebutuhan akan transformasi sosial-politik. Ia mengingatkan bahwa mengubah cara pandang saja tidak cukup; kita juga harus mengubah cara hidup. Dan untuk itu, kita mem-butuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar pengetahuan teknis.
Aliansi dengan Alam: Panggilan dari Eropa
Namun, jangan bayangkan bahwa wacana ini hanya milik “Selatan Global.” Dari jantung Eropa, Beat Dietschy dalam bab “Toward a ‘nature alliance’: why sustainability must be rethought in terms of relationality” (hlm. 115-132) menyerukan perlunya sebuah aliansi dengan alam. Dietschy, seorang teolog dan filsuf Swiss, membawa perspektif yang unik: ia berbicara dari dalam tradisi pemikiran Barat, tetapi dengan kesadaran kritis atas kegagalannya. Dietschy memulai dengan diagnosis yang tajam: gerakan lingkungan selama ini, meskipun berniat baik, seringkali masih terjebak dalam paradigma antroposentris. Kita ingin “menye-lamatkan alam” karena alam penting bagi manusia—untuk rekreasi, untuk kesehatan, untuk kelangsungan hidup generasi mendatang. Alam masih diposisikan sebagai objek yang perlu dikelola, bukan subjek yang memiliki hak dan martabat sendiri. Pendekatan konservasi se-macam ini, menurut Dietschy, tidak akan pernah cukup karena ia tidak mengubah relasi kuasa yang mendasar.
Maka ia menawarkan gagasan “aliansi”—sebuah kata yang dipilih dengan saksama. Aliansi mengandaikan dua pihak yang setara, yang masing-masing memiliki otonomi, yang bersepakat untuk bekerja sama demi kepentingan bersama. Ini bukan relasi penguasa-bawahan, bukan pelindung-yang dilindungi, melainkan kemitraan sejati. Dietschy menelusuri akar-akar pemikir-an ini dalam tradisi mistik Kristen, dalam filsafat alam Romantisisme Jerman, dan dalam etika lingkungan kontemporer yang menolak antroposentrisme. Ia juga merujuk pada pemikir-pemikir seperti Thomas Berry, seorang teolog dan sejarawan budaya yang menyerukan perlunya “impian baru bagi Bumi,” atau Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ yang berbicara tentang “ekologi integral” yang menyatukan kepedulian terhadap alam dan keadilan sosial.
Yang menarik dari Dietschy adalah keberaniannya untuk berbicara tentang “hak alam” dalam kerangka pemikiran Barat. Jika selama ini hak hanya diberikan kepada subjek yang rasional dan otonom (manusia), bagaimana mungkin alam yang tidak berkesadaran memiliki hak? Dietschy menjawab tantangan ini dengan mengajak kita merefleksikan ulang konsep subjektivitas itu sendiri. Mungkin, alih-alih bertanya apakah alam memiliki kesadaran seperti manusia, kita perlu bertanya: dalam jalinan relasi yang membentuk kita, tidakkah alam selalu sudah menjadi mitra dialog yang aktif? Bukankah gunung, sungai, hutan ikut membentuk siapa kita, sama seperti kita membentuk mereka? Dalam pengertian inilah, aliansi menjadi mungkin.
Merajut Tiga Narasi
Jika kita merenungkan ketiga bab ini bersama-sama, sebuah pola yang indah muncul. Millar, Santuah, dan Tengolzor memperkenalkan kita pada ontologi Vurr yang melihat alam semesta sebagai kesatuan hidup yang mengalir . Sepúlveda Pizarro membawa kita pada cosmosophy sebagai kebijaksanaan untuk hidup dalam kesatuan itu . Dan Dietschy menawarkan aliansi sebagai kerangka etis-politik untuk mewujudkan relasi baru dengan alam . Ketiganya, meskipun berasal dari konteks geografis dan tradisi yang berbeda, berbicara tentang hal yang sama: perlunya mengakhiri keterpisahan, perlunya memulihkan jalinan relasi yang putus, perlunya belajar lagi menjadi bagian dari komunitas kehidupan yang lebih besar.
Masyarakat Dagara di Afrika Barat, gerakan integratif di Chile, dan para pemikir kritis di Eropa—mereka semua, dengan bahasa dan praktiknya masing-masing, sedang menulis bab baru dalam kisah panjang hubungan manusia dengan alam. Mereka mengingatkan kita bahwa krisis eko-logis pada akhirnya adalah krisis spiritual dan krisis relasi. Kita tidak bisa menyelesaikannya hanya dengan teknologi atau kebijakan, selama kita masih memandang alam sebagai objek mati yang bisa dieksploitasi. Kita perlu transformasi yang lebih dalam: transformasi dalam cara kita mengetahui, cara kita merasakan, dan cara kita berada di dunia.
Di sinilah letak sumbangan penting dari Critical Sustainability Sciences. Buku ini tidak hanya mengkritik kegagalan sains modern, tetapi juga dengan murah hati membuka pintu bagi cara-cara mengetahui lain yang selama ini dipinggirkan. Ia mengundang kita untuk belajar dari Vurr, dari cosmosophy, dari gagasan aliansi—bukan untuk meromantisasi “yang tradisional,” tetapi untuk memperkaya perbendaharaan kita dalam membayangkan dan mewujudkan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. Seperti aliran Vurr yang tak terputus, seperti kebijaksanaan cosmosophy yang merangkai kembali yang tercerai-berai, seperti semangat aliansi yang meruntuhkan tembok pemisah—demikianlah ilmu keberlanjutan yang kritis ini bergerak: merayakan kehidupan dalam segala bentuknya, dan mengajak kita semua untuk ikut serta dalam perayaan itu.
Praktik Transformasi: Dari Kerja yang Teralienasi menuju Hidup yang Regeneratif
Di sebuah lembah di Chile, sekelompok petani berkumpul di bawah pohon rindang. Mereka tidak hanya berbicara tentang harga tomat atau jadwal tanam, tetapi tentang sesuatu yang lebih dalam: bagaimana kerja mereka selama ini telah direduksi menjadi sekadar komoditas, bagaimana tanah yang mereka garap diperlakukan sebagai mesin produksi, dan bagaimana mereka ingin memulihkan kembali jalinan yang putus antara keringat mereka, komunitas mereka, dan alam yang menghidupi. Pertemuan kecil ini adalah mikrokosmos dari pergulatan besar yang diurai dalam bagian keempat buku Critical Sustainability Sciences—sebuah eksplorasi tentang bagaimana kita bisa membayangkan ulang kerja, pangan, dan produksi pengetahuan dalam kerangka relasional dan emansipatoris.
Konflik sebagai Ruang Kemungkinan
Nora Räthzel membuka bagian ini dengan sebuah tawaran yang mungkin mengejutkan: dalam bab “Society–labor–nature: the potential of conflict” (hlm. 146-171) , ia mengajak kita untuk tidak lagi melihat konflik sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebagai ruang produktif untuk transformasi. Räthzel, seorang sosiolog yang lama berkutat dengan isu-isu perburuhan dan lingkungan, menantang asumsi umum bahwa konflik selalu destruktif. Sebaliknya, ia berargumen bahwa justru dalam ketegangan—antara kepentingan buruh dan tuntutan ekologis, antara logika kapital dan kebutuhan komunitas, antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam—terbuka kemungkinan untuk membayangkan ulang relasi yang lebih adil.
Räthzel mengembangkan analisisnya dengan cermat, menunjukkan bagaimana konflik tidak bisa direduksi menjadi sekadar pertentangan kepentingan yang mekanis. Ia mengutip penga-laman gerakan buruh di berbagai tempat yang mulai mengintegrasikan isu-isu lingkungan ke dalam perjuangan mereka, dan sebaliknya, gerakan lingkungan yang mulai menyadari bahwa keadilan ekologis tidak mungkin tanpa keadilan sosial. Konflik, dalam pandangan ini, adalah ruang dialog di mana identitas dan kepentingan tidak lagi dianggap tetap, tetapi terbuka untuk dinegosiasikan dan ditransformasi. “Potensi konflik,” tulis Räthzel, “terletak pada kemampuan-nya untuk membuka pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang bagaimana kita ingin hidup bersama, dan dengan alam.”
Dari sini, aliran pemikiran mengalir secara alami ke pertanyaan tentang kerja itu sendiri. Jika konflik membuka ruang negosiasi ulang, maka kerja adalah medan utama di mana negosiasi itu harus terjadi. Karena di dalam kerjalah, relasi kita dengan alam dan dengan sesama manusia paling intensif dijalani, tetapi juga paling sering teralienasi.
Memulihkan Makna Kerja
Patrick Bottazzi, salah seorang editor buku ini, dalam bab “Regenerative work: from commodity to collective action” (hlm. 172-184) , menawarkan konsep yang menjadi inti dari transformasi yang dibayangkan: kerja regeneratif. Ia memulai dengan diagnosis yang tajam tentang bagai-mana kapitalisme telah mereduksi kerja menjadi sekadar komoditas—sesuatu yang dijual untuk mendapatkan upah, dilepaskan dari makna sosial dan ekologisnya. Dalam logika ini, alam diperlakukan sebagai “sumber daya” yang dieksploitasi, sementara manusia diperlakukan sebagai “tenaga kerja” yang dihitung berdasarkan produktivitasnya.
Bottazzi mengajak kita membayangkan ulang kerja secara radikal. Kerja regeneratif, menurut-nya, adalah kerja yang tidak hanya menghasilkan barang atau jasa, tetapi juga memulihkan dan merawat kehidupan—baik kehidupan sosial komunitas maupun kehidupan ekologis alam. Ia memberikan contoh-contoh konkret: petani yang tidak hanya menanam padi tetapi juga memulihkan kesuburan tanah, membangun solidaritas dengan petani lain, dan melestarikan benih-benih lokal; komunitas yang mengelola hutan secara kolektif, tidak hanya untuk meng-ambil kayu tetapi untuk menjaga siklus air dan habitat satwa; para perajin yang tidak hanya membuat produk tetapi mewariskan pengetahuan dan memperkuat ikatan sosial. Yang menarik dari konsep Bottazzi adalah penekanannya pada dimensi kolektif. Kerja rege-neratif bukan sekadar pilihan individu untuk “bekerja dengan lebih bermakna.” Ia adalah aksi kolektif yang menuntut reorganisasi relasi produksi, redistribusi sumber daya, dan pengakuan atas pengetahuan-pengetahuan yang selama ini dipinggirkan. Dalam kerangka ini, kerja menjadi medan perjuangan sekaligus medan penciptaan alternatif.
Pangan sebagai Medan Pertarungan
Dari kerja regeneratif, pembaca secara alami diajak memasuki salah satu arena paling konkret di mana kerja itu diwujudkan: sistem pangan. Renato S. Maluf, dalam bab “Food, food systems, and sustainability: elements of the ‘real food’ debate in Brazil” (hlm. 185-199) , membawa kita ke jantung perdebatan tentang apa yang disebutnya “makanan sejati” di Brasil. Maluf, seorang ekonom dan pakar kebijakan pangan, melukiskan dengan gamblang pertarungan antara dua visi pangan yang saling bertabrakan.
Di satu sisi, ada sistem pangan industrial yang didominasi agribisnis, yang memandang pangan sebagai komoditas, tanah sebagai faktor produksi, dan petani sebagai penyedia tenaga kerja murah. Sistem ini, dengan logika efisiensi dan skala ekonomi, telah menghasilkan makanan yang melimpah secara kuantitatif tetapi miskin secara kualitatif—miskin nutrisi, miskin makna, miskin relasi. Di sisi lain, ada gerakan “makanan sejati” yang diperjuangkan oleh petani kecil, masyarakat adat, gerakan agroekologi, dan konsumen kritis. Bagi mereka, pangan bukan sekadar bahan bakar untuk tubuh, melainkan jalinan relasi—antara petani dan tanah, antara komunitas dan benih lokal, antara tradisi kuliner dan identitas budaya, antara kesehatan manusia dan kesehatan ekosistem.
Maluf menunjukkan bahwa perdebatan ini tidak bisa direduksi menjadi sekadar pilihan gaya hidup. Ia adalah pertarungan politik tentang bagaimana kita mengorganisasi produksi dan distribusi kebutuhan paling dasar manusia. “Makanan sejati,” tulisnya, “adalah makanan yang lahir dari kerja yang bermartabat, dari tanah yang dirawat, dari pengetahuan yang dihormati, dan dari relasi yang adil.” Konsep ini selaras dengan gagasan kerja regeneratif Bottazzi—keduanya menunjuk pada perlunya memulihkan dimensi relasional dalam aktivitas paling fundamental manusia.
Agroekologi sebagai Jalan Transformasi
Jika Maluf memberikan diagnosa dan visi, maka Florencia Spirito, Viviana Blanco, dan René Montalba Navarro dalam bab “Agroecology as a transformative approach to sustainable food systems” (hlm. 200-219) menawarkan jalan konkret: agroekologi. Namun, mereka dengan hati-hati membedakan agroekologi dari sekadar teknik bertani ramah lingkungan. Agroekologi, dalam pemahaman mereka, adalah pendekatan transformatif yang menyatukan tiga dimensi: ilmiah, praktis, dan politis.
Secara ilmiah, agroekologi menawarkan pemahaman tentang ekosistem pertanian sebagai sistem yang kompleks dan dinamis, di mana interaksi antarspesies, siklus nutrisi, dan aliran energi tidak bisa direduksi ke dalam rumus-rumus mekanistik. Secara praktis, ia adalah kumpulan teknik dan praktik yang dikembangkan petani selama berabad-abad—rotasi tanaman, polikultur, pengendalian hama alami, konservasi tanah dan air—yang terbukti mampu memproduksi pangan sambil memulihkan kesehatan ekosistem. Secara politis, ia adalah gerakan sosial yang menentang konsentrasi kekuasaan dalam sistem pangan industrial dan memperjuangkan kedaulatan pangan, keadilan bagi petani kecil, dan pengakuan atas pengetahuan lokal.
Spirito, Blanco, dan Montalba Navarro memberikan contoh-contoh inspiratif dari Amerika Latin, tempat agroekologi tidak hanya bertahan tetapi berkembang sebagai alternatif nyata terhadap agribisnis. Mereka menunjukkan bahwa transformasi sistem pangan bukan utopia; ia sedang terjadi, pelan-pelan, di ribuan lahan petani kecil, di pasar-pasar lokal, di jaringan solidaritas antara petani dan konsumen. Yang dibutuhkan adalah pengakuan, dukungan kebijakan, dan yang terpenting: perubahan cara pandang tentang apa itu pangan dan bagaimana ia diproduksi.
Menembus Tabir Pengetahuan
Namun, semua transformasi ini—dalam kerja, dalam pangan, dalam relasi sosial-ekologis—tidak akan mungkin tanpa transformasi dalam cara kita memproduksi pengetahuan. Hugo Marcelo Zunino dalam bab penutup bagian ini, “Through the veil: a relational and participatory perspective to knowledge production and sustainability” (hlm. 220-242) , mengajak kita merenungkan pertanyaan metodologis yang fundamental.
Zunino menggunakan metafora “menembus tabir” untuk menggambarkan apa yang harus dilakukan ilmuwan jika ingin benar-benar terlibat dalam transformasi emansipatoris. Tabir itu, menurutnya, adalah asumsi-asumsi tak sadar yang mewarisi tradisi Cartesian: pemisahan subjek-objek, klaim netralitas ilmuwan, keyakinan bahwa realitas bisa dipecah-pecah menjadi variabel-variabel terpisah. Selama ilmuwan masih bekerja di balik tabir ini, pengetahuan yang mereka hasilkan akan selalu bias—bias terhadap cara pandang tertentu, bias terhadap kepentingan tertentu, bias terhadap relasi kuasa yang ada.
Zunino menawarkan alternatif: pendekatan relasional dan partisipatif. Relasional berarti mengakui bahwa realitas yang kita pelajari terbangun dari jalinan relasi, bukan dari entitas-entitas terpisah. Partisipatif berarti melibatkan komunitas yang selama ini menjadi objek penelitian sebagai subjek yang ikut menentukan pertanyaan, metode, dan interpretasi. Ini bukan sekadar teknik pengumpulan data yang lebih baik, melainkan pergeseran epistemologis yang radikal. Ilmuwan tidak lagi berdiri di luar, mengamati dari kejauhan, melainkan masuk ke dalam jalinan relasi, belajar dari pengetahuan lokal, dan bersama-sama komunitas merumuskan pengetahuan baru yang relevan untuk transformasi.
Zunino mengingatkan bahwa pendekatan ini menuntut kerendahan hati dan keberanian. Kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan ilmiah hanyalah salah satu cara mengetahui, bukan yang tertinggi apalagi satu-satunya. Keberanian untuk melepaskan kendali, untuk membiarkan diri diubah oleh komunitas, untuk menerima bahwa pengetahuan sejati lahir dari dialog, bukan dari monolog.
Jalan Goethe: Mengetahui dengan Sepenuh Hati
Di sebuah laboratorium kecil di Jerman, sekitar dua abad lalu, Johann Wolfgang von Goethe duduk merenungkan setangkai tanaman. Ia bukan seorang ilmuwan dalam pengertian modern —ia adalah penyair, dramawan, novelis, sekaligus filsuf. Namun, ketika ia mengamati tanaman itu, ia melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang dilakukan para ilmuwan sezamannya. Ia tidak memotong, membedah, atau mengukur. Ia tidak mencoba mereduksi tanaman itu ke dalam komponen-komponen terkecilnya. Sebaliknya, ia duduk dengan sabar, mengamati, merasakan, membiarkan tanaman itu “berbicara” kepadanya. Ia berusaha memahami bentuk asli (Urphänomen) yang memanifestasikan dirinya dalam berbagai tahap pertumbuhan. Metode Goethe ini, seperti ditulis Isis Brook dalam bab “Goethe’s scientific method: the road not taken” (hlm. 233-255) , adalah jalan yang tidak pernah ditempuh oleh sains modern. Dan dua abad kemudian, di tengah krisis ekologis yang semakin dalam, jalan itu mungkin justru menjadi jalan yang paling kita butuhkan.
Brook, seorang filsuf lingkungan yang lama mendalami pemikitan Goethe, memaparkan dengan indah esensi metode Goethe: pengamatan halus (delicate empiricism). Goethe percaya bahwa untuk benar-benar memahami fenomena alam, ilmuwan tidak boleh berdiri di luar sebagai pengamat netral yang objektif. Sebaliknya, ia harus masuk ke dalam relasi dengan fenomena itu, membiarkan dirinya diubah olehnya, berpartisipasi dalam proses manifestasinya. Ini bukan berarti meninggalkan ketelitian atau presisi. Sebaliknya, ini adalah ketelitian yang berbeda—ketelitian dalam merasakan, dalam mengamati, dalam membiarkan fenomena menampakkan dirinya dalam kekayaan dan kompleksitasnya.
Brook menjelaskan bahwa metode Goethe berkembang sebagai kritik terhadap sains Newtonian yang mulai mendominasi Eropa. Newton, dengan pendekatan reduksionisnya, memisahkan cahaya menjadi spektrum warna dengan melewatkannya melalui prisma. Goethe tidak menolak temuan Newton, tetapi ia merasa ada sesuatu yang hilang. Bagi Goethe, warna bukan sekadar panjang gelombang yang bisa diukur. Warna adalah pengalaman, adalah kualitas, adalah cara cahaya berinteraksi dengan kegelapan, dengan mata yang melihat, dengan jiwa yang merasakan. Metode Goethe berusaha menangkap dimensi kualitatif ini tanpa meninggalkan ketelitian.
Yang menarik, Brook tidak menyajikan Goethe sebagai alternatif romantis yang anti-sains. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa metode Goethe justru melengkapi apa yang hilang dari sains modern. Sains modern unggul dalam menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja secara mekanis, tetapi ia bisu ketika ditanya apa maknanya. Sains modern bisa mengukur suhu bumi yang meningkat, konsentrasi karbon di atmosfer, laju kepunahan spesies. Namun, ia tidak memiliki bahasa untuk berbicara tentang kesedihan yang kita rasakan ketika hutan gundul, tentang keindahan yang hilang ketika seekor burung punah, tentang hubungan cinta yang mungkin terjalin antara manusia dan pohon selama berabad-abad. Metode Goethe menawarkan jalan untuk memulihkan dimensi ini—dimensi pengalaman, makna, dan kualitas—tanpa harus meninggalkan disiplin ilmiah.
Dalam konteks Critical Sustainability Sciences, tawaran Brook ini sangat relevan. Ilmu keberlanjutan yang kritis tidak bisa hanya mengandalkan data dan model. Ia harus mampu menyentuh hati, membangkitkan rasa kagum, membangun hubungan emosional dengan alam. Karena pada akhirnya, orang hanya akan melindungi apa yang mereka cintai, dan mereka hanya akan mencintai apa yang mereka kenal secara mendalam. Metode Goethe adalah salah satu cara untuk mengenal alam secara mendalam itu—bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang hidup dan berelasi.
Merancang untuk Kehidupan
Jika Brook mengajak kita merefleksikan ulang cara mengetahui, maka Alain Findeli dalam bab “Sustainable design: a critique of the tripolar sustainability model, 15 years later” (hlm. 256-284) mengajak kita merefleksikan ulang cara merancang. Findeli, seorang pionir dalam bidang desain berkelanjutan, kembali ke kritik yang ia luncurkan 15 tahun sebelumnya terhadap model keberlanjutan tripolar yang dominan—model yang membagi keberlanjutan ke dalam tiga pilar: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Findeli dengan tegas menyatakan bahwa model tripolar, meskipun populer, pada dasarnya cacat. Mengapa? Karena ia memisahkan apa yang seharusnya menyatu. Dengan menempatkan ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai tiga pilar yang terpisah, model ini secara tidak sadar melanggengkan ontologi dualistik yang menjadi akar masalah. Ekonomi diperlakukan sebagai ranah otonom dengan logikanya sendiri, yang kemudian harus “diseimbangkan” dengan pertimbangan sosial dan lingkungan. Padahal, dalam kenyataan, ekonomi tidak pernah terpisah dari sosial dan lingkungan—ia adalah sub-sistem dari keduanya.
Findeli menawarkan alternatif: pendekatan desain yang berorientasi pada kebaikan bersama dan kualitas hidup. Alih-alih bertanya “bagaimana merancang produk yang lebih efisien secara ekonomi, adil secara sosial, dan ramah lingkungan,” desainer harus bertanya “bagaimana merancang cara hidup yang baik, di dalam batas-batas planet ini, bersama dengan semua makhluk?” Pertanyaan ini menggeser fokus dari objek ke relasi, dari produk ke praktik, dari efisiensi ke kecukupan.
Yang menarik dari Findeli adalah penekanannya pada dimensi etis dan estetis desain. Desain, baginya, bukan sekadar pemecahan masalah teknis. Ia adalah aktivitas yang membentuk dunia, yang menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup bersama. Desainer, dengan demikian, memiliki tanggung jawab moral yang besar. Mereka tidak boleh hanya mengikuti permintaan pasar atau tren gaya. Mereka harus berani membayangkan alternatif, merancang objek dan sistem yang memfasilitasi relasi yang lebih baik—antara manusia, antara manusia dan alam, antara generasi sekarang dan masa depan.
Findeli menulis dengan nada yang agak getir, 15 tahun setelah kritik pertamanya. Ia melihat bahwa model tripolar masih mendominasi, bahwa desain berkelanjutan masih sering direduksi menjadi “desain hijau” yang hanya mengganti material atau meningkatkan efisiensi energi. Namun, ia tidak kehilangan harapan. Justru dengan menulis ulang kritiknya, ia ingin mengingat-kan bahwa transformasi sejati membutuhkan perubahan paradigma, bukan sekadar perbaikan teknis. Dan perubahan paradigma itu dimulai dari cara kita bertanya.
Catatan Akhir: Menatap ke Depan, Tiga Agenda Transformasi
Akhirnya, sampailah kita pada bab penutup yang ditulis oleh para editor bersama Beat Dietschy: “Outlook and key topics for the construction of critical sustainability sciences” (hlm. 285-308) . Bab ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan peta jalan ke depan—sebuah undangan untuk terus bergerak, terus bertanya, terus membangun.
Rist, Dietschy, Bottazzi, dan Jacobi mengidentifikasi tiga topik kunci yang akan menjadi medan pergulatan bagi ilmu keberlanjutan yang kritis di masa depan. Pertama, reorganisasi sosial untuk penentuan nasib sendiri yang emansipatoris. Ini adalah pertanyaan tentang demokrasi, tentang siapa yang berhak memutuskan, tentang bagaimana komunitas bisa mengambil kembali kendali atas hidup mereka dari cengkeraman korporasi dan birokrasi. Ilmu keber-lanjutan yang kritis harus mampu mendukung gerakan-gerakan yang memperjuangkan otonomi dan kedaulatan—kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan pengetahuan.
Kedua, revitalisasi kerja dan commons. Ini adalah tema yang telah dielaborasi Bottazzi dalam bab sebelumnya, tetapi di sini ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Para penulis menegaskan bahwa kerja tidak bisa terus dipahami sebagai komoditas yang dijual di pasar tenaga kerja. Kerja harus dipahami kembali sebagai aktivitas yang menghasilkan dan memulih-kan kehidupan. Demikian pula, commons—sumber daya yang dikelola bersama oleh komunitas —harus diakui sebagai alternatif penting terhadap kepemilikan privat dan negara. Ilmu keber-lanjutan yang kritis harus belajar dari komunitas-komunitas yang telah berhasil mengelola hutan, air, dan benih secara kolektif selama berabad-abad.
Ketiga, pengembangan paradigma ilmiah relasional. Ini adalah inti dari seluruh proyek buku ini. Para penulis menegaskan bahwa transformasi menuju keberlanjutan tidak mungkin terjadi selama ilmu pengetahuan masih terjebak dalam ontologi dualistik. Kita membutuhkan cara baru dalam mengetahui—cara yang mengakui bahwa realitas terbangun dari jalinan relasi, bahwa pengetahuan lahir dari dialog, bahwa objektivitas tidak berarti jarak tetapi keterlibatan yang penuh kesadaran. Di sinilah semua kontribusi dalam buku ini bertemu: ontologi Vurr dari Dagara, cosmosophy dari Chile, metode Goethe, desain yang berorientasi kebaikan bersama, semuanya menunjuk pada perlunya pergeseran paradigma ini.
Jika kita mundur sejenak dan merenungkan ketiga bab ini sebagai satu kesatuan, sebuah pola yang indah muncul. Brook membuka dengan mengingatkan kita pada jalan yang tidak pernah ditempuh—jalan Goethe yang menawarkan cara mengetahui yang partisipatif dan kualitatif. Findeli kemudian menunjukkan bagaimana jalan itu bisa diterapkan dalam praktik merancang dunia, dengan mengkritik model tripolar dan menawarkan pendekatan yang berorientasi kebaikan bersama . Dan para editor menutup dengan peta jalan ke depan, mengidentifikasi tiga area strategis di mana pergeseran paradigma ini harus diwujudkan.
Ketiganya, dengan cara masing-masing, merayakan keberanian untuk mengambil jalan yang berbeda. Jalan yang tidak ditempuh oleh sains arus utama, tidak dipilih oleh kebijakan pembangunan konvensional, tidak dirayakan oleh pasar. Jalan yang mungkin lebih sulit, lebih lambat, lebih menuntut. Tetapi jalan yang juga lebih kaya, lebih bermakna, lebih mungkin untuk membawa kita keluar dari krisis.
Seperti Goethe yang duduk merenungkan setangkai tanaman, seperti desainer yang berani membayangkan ulang dunia, seperti para penulis buku ini yang dengan sabar merajut kembali jalinan pengetahuan yang putus—kita semua diundang untuk mengambil jalan itu. Jalan yang tidak pernah ditempuh, tetapi selalu menanti untuk dijelajahi. Karena pada akhirnya, trans-formasi sejati tidak datang dari mengulangi apa yang sudah diketahui, tetapi dari keberanian untuk memasuki yang tidak diketahui, untuk membiarkan diri diubah oleh perjumpaan, untuk merayakan kehidupan dalam segala bentuknya yang kaya dan kompleks. Dan buku ini, dengan segala kebijaksanaan yang ditawarkannya, adalah kompas yang menuntun kita ke jalan itu.
Merayakan jalan yang berbeda
Bogor, 3 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Bottazzi, P. (2024). Regenerative work: from commodity to collective action. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives(pp. 172-184). Routledge.
Brook, I. (2024). Goethe’s scientific method: the road not taken. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 233-255). Routledge.
Choquehuanca Céspedes, D., & Rist, S. (Compilation & Translation). (2024). A culture that understands that everything is interrelated, that nothing is divided, and nothing is outside. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 39-58). Routledge.
Dietschy, B. (2024). Toward a “nature alliance”: why sustainability must be rethought in terms of relationality. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 115-132). Routledge.
Findeli, A. (2024). Sustainable design: a critique of the tripolar sustainability model, 15 years later. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 256-284). Routledge.
Maluf, R. S. (2024). Food, food systems, and sustainability: elements of the “real food” debate in Brazil. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 185-199). Routledge.
Millar, D., Santuah, N. F., & Tengolzor, M. B. (2024). Cosmovisions and critical sustainability sciences: an African ontology of “Vurr” (an energy) among the Dagara of Southwest Burkina Faso and Northwest Ghana. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 75-94). Routledge.
Muwahidah, S. S. (2025). Mendekolonisasi Agama: Melibatkan Pengetahuan Masyarakat Adat dan Praktik Teologi Transformatif di Tengah Ketidakstabilan Global. Societas Dei: Jurnal Agama Dan Masyarakat, 12(1). https://doi.org/10.33550/sd.v12i1.543
PolGov dan UP3M UGM. (2024, 27 Juni). PolGov dan UP3M Buka Perspektif Dekolonialisasi dalam Riset dan Pengetahuan. FISIPOL UGM. https://fisipol.ugm.ac.id/polgov-dan-up3m-buka-perspektif-dekolonialisasi-dalam-riset-dan-pengetahuan/
Räthzel, N. (2024). Society–labor–nature: the potential of conflict. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 146-171). Routledge.
Rist, S., Bottazzi, P., & Jacobi, J. (2024). Key areas for critical sustainability sciences. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 22-38). Routledge.
Rist, S., Bottazzi, P., & Jacobi, J. (2024). Why do we need critical sustainability sciences? In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 1-21). Routledge.
Rist, S., Bottazzi, P., & Jacobi, J. (Eds.). (2024). Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives. Routledge.
Rist, S., Dietschy, B., Bottazzi, P., & Jacobi, J. (2024). Outlook and key topics for the construction of critical sustainability sciences. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 285-308). Routledge.
Sepúlveda Pizarro, J. (2024). Contributions of the notion of cosmosophy to the formulation of critical sustainability sciences. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 95-114). Routledge.
Shankar, D. (2024). Relational ontologies in health sciences and practices in India. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 59-77). Routledge.
Spirito, F., Blanco, V., & Montalba Navarro, R. (2024). Agroecology as a transformative approach to sustainable food systems. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 200-219). Routledge.
Triadi, F., & Ismoyo, P. J. (2022). Sulapa Eppa: Bissu, Kosmologi Bugis, dan Politik Ekologi Queer. Jurnal Perempuan, 27(3), 52-73. https://doi.org/10.34309/jp.v27i3.718
Zunino, H. M. (2024). Through the veil: a relational and participatory perspective to knowledge production and sustainability. In S. Rist, P. Bottazzi, & J. Jacobi (Eds.), Critical Sustainability Sciences: Intercultural and Emancipatory Perspectives (pp. 220-242). Routledge.






