Rubarubu #144
21st Century Economics:
Perjalanan Menelusuri Ide-Ide Pemikiran Ekonomi Masa Kini
(bagian 2 dari 2)
….. bagian 2 …..
Ketika Ekonomi Bertemu dengan Realitas Pahit
Setelah menelusuri ide-ide tentang cerita, norma sosial, dan makna hidup, kita kini memasuki wilayah yang lebih gelap namun tidak kalah penting. Tiga rekomendasi berikutnya—dari Martin Ravallion, Gerhard Schwarz, dan Bruno Staffelbach—membawa kita berhadapan dengan realitas pahit yang sering diabaikan dalam teori ekonomi mainstream: mengapa kemiskinan begitu sulit diatasi, apakah kapitalisme masih layak dipertahankan, dan bagaimana orang baik bisa berubah menjadi jahat. Ini bukan pertanyaan yang nyaman, tetapi justru dalam ketidaknyamanan inilah letak kedalaman pemikiran ekonomi abad ke-21.
Martin Ravallion Merekomendasikan “Poverty Traps” oleh Samuel Bowles, Steven Durlauf, dan Karla Hoff
Martin Ravallion, ekonom Australia yang dikenal sebagai salah satu pakar terkemuka dunia dalam pengukuran kemiskinan dan mantan direktur penelitian di Bank Dunia, merekomendasi-kan buku Poverty Traps yang diedit oleh Samuel Bowles, Steven Durlauf, dan Karla Hoff, diterbitkan oleh Princeton University Press pada tahun 2006 (dengan cetak ulang pada 2016) . Pilihan ini sangat tepat mengingat Ravallion menghabiskan sebagian besar kariernya mem-pelajari bagaimana kemiskinan dapat diukur dan diatasi.
Buku ini lahir dari sebuah lokakarya bertema “Persistent Inequality in a Competitive World” yang diadakan di Santa Fe Institute, New Mexico. Para editor—Bowles (ekonom di University of Siena, Italia), Durlauf (ekonom di University of Wisconsin), dan Hoff (ekonom di Bank Dunia)—mengumpulkan delapan bab yang ditulis oleh para ekonom dan sosiolog untuk menjawab satu pertanyaan mendasar: mengapa kemiskinan bisa bersifat persisten, menjebak individu, kelompok, bahkan seluruh ekonomi bangsa dalam lingkaran setan yang sulit diputus?
Tiga Teori Perangkap Kemiskinan
Para editor memperkenalkan tiga penjelasan luas tentang perangkap kemiskinan yang kemudian diperiksa lebih detail dalam bab-bab berikutnya:
Pertama, teori keanggotaan (membership theory) atau neighborhood effects. Teori ini berfokus pada bagaimana kelompok sebaya (peer group) dapat membantu mempertahankan kemiskinan yang persisten. Contoh yang diberikan dalam ulasan CHOICE Magazine sangat mencolok: beberapa siswa Afrika-Amerika mengkritik teman-teman mereka yang berprestasi lebih baik dengan tuduhan “bertingkah seperti orang kulit putih” (acting white), sehingga secara efektif menyabotase pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan . Ini menunjukkan bahwa norma sosial dalam komunitas miskin bisa menjadi penghalang untuk mobilitas ke atas.
Kedua, teori institusional. Institusi dapat berkontribusi pada perangkap kemiskinan. Contohnya, tingkat infrastruktur publik yang tidak memadai dapat mengakibatkan kemiskinan persisten bagi suatu negara. Korupsi, sistem hukum yang lemah, dan tata kelola yang buruk menciptakan lingkungan di mana investasi tidak menguntungkan dan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Ketiga, teori ambang batas (threshold model). Model ini menyatakan bahwa diperlukan tingkat kekayaan atau modal manusia minimum agar pertumbuhan ekonomi dapat terjadi. Di bawah ambang batas itu, individu atau negara terjebak dalam kemiskinan karena tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan investasi yang diperlukan. Seperti bola yang tidak bisa menggelinding karena berada di cekungan, mereka membutuhkan dorongan eksternal yang cukup kuat untuk keluar dari perangkap.
Akar Sejarah dan Institusi
Salah satu kontribusi penting buku ini adalah penekanannya pada akar sejarah kemiskinan. Dalam bab “The Persistence of Poverty in the Americas: The Role of Institutions,” Stanley Engerman dan Kenneth Sokoloff menunjukkan bahwa banyak institusi yang menjaga negara-negara tetap miskin berakar dalam sejarah kolonial dan bertahan lama setelah penyebab awalnya hilang.
Bab lain yang menarik adalah “The Kin System as a Poverty Trap?” oleh Karla Hoff dan Arijit Sen. Mereka mengeksplorasi bagaimana sistem kekerabatan yang tampak baik—seperti kewajiban berbagi dengan keluarga luas—justru bisa menjadi perangkap kemiskinan. Ketika seorang individu mulai sukses, ia dibebani dengan tuntutan dari kerabat yang kurang beruntung, sehingga mengurangi insentif untuk berusaha dan akumulasi modal.
Samuel Bowles dalam bab “Institutional Poverty Traps” berargumen bahwa interaksi antara institusi dan preferensi individu menciptakan lingkaran setan. Institusi yang buruk membentuk preferensi dan keyakinan yang tidak kondusif untuk pembangunan, yang pada gilirannya memperkuat institusi yang buruk tersebut.
Implikasi Kebijakan
Buku ini tidak hanya diagnostik tetapi juga preskriptif. Para penulis membahas kebijakan untuk mengatasi perangkap kemiskinan, dengan perhatian pada ketidakpastian yang ada dalam mengevaluasi kebijakan tersebut. Mereka mengakui bahwa tidak ada solusi satu ukuran untuk semua; intervensi harus disesuaikan dengan jenis perangkap kemiskinan yang dihadapi.
Sebagaimana diringkas dalam ulasan Journal of Regional Science, “koleksi ini adalah buku yang merangsang pemikiran yang memberikan pemeriksaan komprehensif tentang kemiskinan persisten… Poverty Traps harus dibaca oleh setiap ekonom, ilmuwan sosial, pembuat kebijakan, atau siapa pun yang tertarik pada studi kemiskinan persisten.”
Bagi Indonesia, dengan angka kemiskinan yang masih signifikan meskipun pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, wawasan buku ini sangat relevan. Kemiskinan di Indonesia tidak hanya masalah kurangnya pendapatan, tetapi juga terkait dengan faktor-faktor struktural dan institusional yang dalam. Program-program bantuan sosial mungkin tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perubahan institusi dan norma sosial yang menciptakan perangkap kemiskinan.
Gerhard Schwarz Merekomendasikan “Why Capitalism?” oleh Allan H. Meltzer
Gerhard Schwarz, ekonom Swiss dan mantan direktur Pusat Liberalismus Swiss, merekomen-dasikan buku Allan H. Meltzer yang terbit tahun 2012, Why Capitalism? Pilihan ini membawa kita ke perdebatan paling fundamental dalam ekonomi politik: apakah kapitalisme masih layak dipertahankan di tengah krisis dan kritik yang terus-menerus?
Allan H. Meltzer adalah profesor ekonomi politik di Carnegie Mellon University dan salah satu otoritas terkemuka dalam sejarah Federal Reserve dan kebijakan moneter. Dalam buku ini, ia merespons dengan “bersemangat dan meyakinkan” pertanyaan mengapa kapitalisme tetap menjadi sistem terbaik meskipun banyak dikritik.
Membela Kapitalisme di Tengah Krisis
Meltzer membuka dengan pengamatan bahwa “tinjauan terhadap headline dekade terakhir tampaknya menunjukkan bahwa bencana sering menjadi bagian dari sistem kapitalis: gelembung teknologi tinggi, penipuan Enron, skema Ponzi Madoff, gelembung perumahan besar, PHK massal, dan kesenjangan pendapatan yang melebar.” Akibatnya, kekecewaan terhadap ekonomi pasar telah mencapai titik di mana banyak orang bahkan mempertanyakan kapitalisme itu sendiri.
Namun Meltzer tidak setuju. Baginya, hanya kapitalisme yang memaksimalkan baik pertumbuhan maupun kebebasan individu. Tidak seperti sosialisme, kapitalisme bersifat adaptif, tidak kaku—kepemilikan pribadi atas alat produksi berkembang di mana pun ia berakar, terlepas dari budaya.
Apa yang Bukan Kapitalisme?
Dalam ulasan yang diterbitkan di ScienceDirect, seorang pengulas mencatat pentingnya klarifikasi Meltzer tentang apa itu kapitalisme. “Mengingat kritik yang sering dan keras yang ditujukan kepada kapitalisme dalam beberapa tahun terakhir, orang mungkin mengira mereka yang menyatakan ‘kematian kapitalisme’ setidaknya bisa mengidentifikasi apa yang mati. Bahkan seorang mantan kepala negara pun tidak bisa berbuat lebih baik selain mengatakan bahwa kapitalisme adalah apa pun yang diyakini oleh Ronald Reagan, Margaret Thatcher, Frederick Hayek, dan Milton Friedman.”
Meltzer dengan sabar menjelaskan bahwa kapitalisme adalah sistem di mana kepemilikan pribadi atas alat produksi dan kebebasan kontrak menjadi dasar, tetapi ia juga mengakui bahwa kapitalisme tidak menyelesaikan semua masalah dengan efisien. Masalah-masalahnya, menurut Meltzer, berasal dari kelemahan universal manusia—seperti ketidakjujuran, korupsi, dan oportunisme—yang tidak spesifik untuk kapitalisme.
Peran Pemerintah dan Regulasi
Salah satu kontribusi penting Meltzer adalah analisisnya tentang peran pemerintah. Ia berpendapat bahwa regulasi bersifat statis, tetapi pasar bersifat dinamis, biasanya mencari cara untuk menghindari aturan. Regulasi berguna secara sosial jika membawa biaya pribadi ke dalam garis dengan biaya sosial (misalnya, biaya pajak untuk mempekerjakan polisi dibandingkan dengan dampak kejahatan yang merajalela); jika tidak, regulasi hanya mengundang sirkumvensi.
Dalam bab tentang “Regulation and the Welfare State,” Meltzer menunjukkan bahwa negara-negara Eropa yang memiliki program kesejahteraan luas tidak melampaui Amerika Serikat yang lebih berorientasi pasar. Ini adalah argumen yang kontroversial tetapi didasarkan pada data historis.
Kritik terhadap Institusi Internasional
Bonus bagi pembaca Why Capitalism adalah ringkasan ringkas dari pekerjaan penting Meltzer dalam mendiagnosis kegagalan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Seperti dicatat dalam ulasan ScienceDirect, “Kesimpulan dari penelitian yang cukup besar tentang kesenjangan antara misi dan pencapaian organisasi internasional penting ini mengungkapkan jalan menuju hasil yang lebih baik.”
Meltzer juga memprediksi dengan akurat bahwa “kecenderungan menuju inflasi yang lebih tinggi akan melanda dunia selama bertahun-tahun yang akan datang. Inflasi mungkin merupakan bentuk perpajakan yang memecah belah, regresif, dan tidak jujur, tetapi bagi politisi itu adalah kejahatan yang lebih kecil dibandingkan dengan semua alternatif.”
Buku Meltzer menawarkan perspektif yang berharga di tengah perdebatan tentang arah ekonomi nasional. Kapitalisme di Indonesia sering dikritik karena menciptakan ketimpangan, tetapi seperti ditunjukkan Meltzer, masalahnya mungkin bukan pada kapitalisme itu sendiri, tetapi pada kerangka hukum dan institusi yang lemah. Kapitalisme memang membutuhkan kerangka hukum yang kuat, dan tanpa itu ia bisa berubah menjadi kronisme dan nepotisme.
Bruno Staffelbach Merekomendasikan “The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil” oleh Philip Zimbardo
Bruno Staffelbach, profesor etika bisnis dan manajemen sumber daya manusia di Universitas Lucerne, Swiss, merekomendasikan buku Philip Zimbardo yang terbit tahun 2007, The Lucifer Effect: Understanding How Good People Turn Evil. Pilihan ini mungkin paling mengejutkan dalam buku ekonomi, tetapi justru di sinilah letak kedalaman wawasannya: ekonomi tidak bisa dipisahkan dari etika, dan etika tidak bisa dipisahkan dari pemahaman tentang bagaimana orang baik bisa melakukan hal-hal jahat.
Stanford Prison Experiment dan Abu Ghraib
Zimbardo, profesor emeritus psikologi di Stanford University, mungkin paling dikenal sebagai pencipta Stanford Prison Experiment (SPE) tahun 1971. Dalam studi yang kini menjadi klasik itu, mahasiswa normal secara acak ditugaskan untuk memainkan peran sebagai penjaga atau tahanan dalam penjara simulasi selama dua minggu. Namun para penjaga dengan cepat menjadi begitu brutal sehingga eksperimen harus dihentikan setelah hanya enam hari.
Dekade kemudian, ketika foto-foto penyiksaan di penjara Abu Ghraib, Irak, muncul, Zimbardo melihat kemiripan yang mencolok dengan apa yang terjadi di ruang bawah tanah Stanford. Ia kemudian bertindak sebagai saksi ahli untuk salah satu penjaga, Sersan Staf Ivan “Chip” Frederick, dan buku ini lahir dari kebutuhan untuk “lebih memahami bagaimana dan mengapa penyalahgunaan fisik dan psikologis yang dilakukan terhadap tahanan oleh Polisi Militer Amerika di Penjara Abu Ghraib di Irak.”
Bad Apples atau Bad Barrel?
Tesis sentral Zimbardo adalah bahwa kita harus mengganti gagasan lama tentang “apel busuk” (bad apples) dengan “tong busuk” (bad barrel)—bahwa lingkungan sosial dan sistem yang mengontaminasi individu, bukan sebaliknya . Dalam SPE, anggota masyarakat biasa menemukan diri mereka dalam situasi yang jauh dari biasa dan berperilaku dengan cara yang kejam dan brutal terhadap orang lain. “Bisa jadi Anda,” kata Zimbardo.
Faktor-faktor yang memfasilitasi transformasi ini termasuk seragam yang dikenakan peserta, peran yang ditugaskan kepada mereka, dan yang paling penting, dinamika situasional yang diciptakan oleh otoritas. Dalam orientasinya kepada para penjaga, Zimbardo sendiri berkata: “Mereka tidak akan memiliki kebebasan bertindak. Mereka tidak akan bisa melakukan apa pun dan mengatakan apa pun yang tidak kami izinkan. Kami akan mengambil individualitas mereka dengan berbagai cara… Kami memiliki kekuatan total dalam situasi ini. Mereka tidak memiliki apa-apa.”
Kritik terhadap Zimbardo
Namun, ulasan kritis dari Phil Banyard dalam The Psychologist mengungkapkan sisi lain dari cerita ini. Banyard berpendapat bahwa Zimbardo terlalu banyak mengintervensi dalam SPE sehingga ia lebih merupakan “dramawan” daripada sekadar pengamat . Ketika seorang tahanan meminta untuk dibebaskan, Zimbardo memanipulasi konfrontasi dengan mantan narapidana dan kemudian mencoba menawar dengan tahanan itu dengan tawaran perlakuan lebih baik sebagai imbalan menjadi mata-mata. Ketika orang tua dan teman datang berkunjung, ia menyesatkan mereka tentang keadaan penjara.
Yang lebih penting, Banyard menunjukkan bahwa ada kemungkinan hubungan langsung antara SPE dan penyiksaan di Abu Ghraib. “Di balik layar di penjara militer ini adalah psikolog yang memberi makan ide-ide penjaga tentang cara menangani tahanan. Ini tampaknya memiliki paralel dengan SPE” . Zimbardo sendiri mengaku tidak tahu bahwa penelitiannya digunakan untuk melatih interogator. “Militer mengatakan kepada saya bahwa mereka menggunakan rekaman SPE untuk melatih orang agar tidak berperilaku seperti penjaga kami. Saya biasa mengutip itu sebagai hasil baik dari penelitian. Sekarang saya tahu mereka juga menggunakannya untuk melatih interogator untuk mematahkan orang. Saya tidak tahu mereka melakukan itu.”
Implikasi untuk Ekonomi dan Bisnis
Bagi Staffelbach, seorang profesor etika bisnis, relevansi buku ini untuk ekonomi sangat jelas. Skandal-skandal korporasi—Enron, WorldCom, Volkswagen, dan banyak lagi—adalah contoh dari “Lucifer Effect” dalam dunia bisnis. Orang-orang yang baik, berpendidikan, dan sebelumnya tidak pernah bermasalah, bisa melakukan penipuan besar-besaran ketika berada dalam lingkungan yang mendorong perilaku tidak etis.
Zimbardo menawarkan harapan. Kita bisa melawan kejahatan, katanya, dan bahkan bisa mengajarkan diri kita sendiri untuk bertindak heroik. Ia mendirikan Heroic Imagination Project yang mengajarkan peserta bagaimana menjadi pahlawan sehari-hari .
Bagi Indonesia, dengan berbagai skandal korupsi yang melibatkan orang-orang yang sebelumnya dihormati, wawasan Zimbardo sangat relevan. Alih-alih hanya menyalahkan individu, kita perlu melihat sistem yang memungkinkan korupsi berkembang—budaya organisasi, tekanan untuk mencapai target, kurangnya pengawasan, dan impunitas bagi pelanggar. Hanya dengan memperbaiki “tong” kita bisa mencegah “apel” menjadi busuk.
Sintesis: Tiga Perjalanan ke Sisi Gelap Ekonomi
Jika kita merenungkan ketiga rekomendasi ini sebagai satu kesatuan, kita melihat tiga perjalanan ke sisi gelap ekonomi dan manusia.
Perjalanan pertama, bersama Ravallion dan Bowles dkk., adalah ke sisi gelap struktural: bagaimana kemiskinan bukan hanya nasib buruk individu, tetapi hasil dari sistem sosial, institusi, dan norma yang saling mengunci dan memperkuat. Kemiskinan adalah perangkap, bukan sekadar kondisi sementara.
Perjalanan kedua, bersama Schwarz dan Meltzer, adalah ke sisi gelap ideologis: bagaimana kapitalisme, meskipun menjadi sistem paling sukses dalam menciptakan kekayaan, terus-menerus dikritik dan dipertanyakan, dan bagaimana kita harus memahaminya secara jernih tanpa jatuh ke dalam mitos atau demonisasi.
Perjalanan ketiga, bersama Staffelbach dan Zimbardo, adalah ke sisi gelap psikologis: bagaimana orang baik bisa melakukan hal-hal jahat ketika berada dalam situasi yang menekan dan sistem yang korup. Ini adalah pengingat bahwa batas antara baik dan jahat ada di dalam diri kita semua.
Ketiga perjalanan ini saling terkait. Perangkap kemiskinan (Bowles dkk.) menciptakan kondisi yang memungkinkan eksploitasi dan ketidakadilan. Sistem kapitalisme (Meltzer) menyediakan kerangka di mana eksploitasi itu bisa terjadi atau dicegah. Dan psikologi manusia (Zimbardo) menentukan bagaimana individu merespons insentif dan tekanan dalam sistem itu.
Ketiga wawasan ini sangat relevan bagi Indonesia.
Tentang perangkap kemiskinan, Indonesia telah berhasil menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, tetapi masih ada kantong-kantong kemiskinan yang persisten—di Nusa Tenggara, Papua, dan daerah-daerah terpencil lainnya. Program-program bantuan sosial mungkin tidak akan cukup jika tidak disertai dengan perubahan institusi dan norma sosial di tingkat lokal. Pemahaman tentang tiga jenis perangkap kemiskinan dapat membantu merancang intervensi yang lebih tepat sasaran.
Tentang kapitalisme, Indonesia berada di persimpangan jalan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama dua dekade telah menciptakan kelas menengah yang besar, tetapi juga ketimpangan yang melebar. Pertanyaannya bukan apakah kapitalisme, tetapi kapitalisme seperti apa yang kita inginkan—yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Jawabannya ada pada desain institusi dan kerangka hukum, bukan pada retorika ideologis.
Tentang sisi gelap manusia, Indonesia bergulat dengan korupsi yang sistemik. Bukan hanya individu yang korup, tetapi sistem yang memungkinkan korupsi berkembang. Reformasi birokrasi, penguatan pengawasan, dan penegakan hukum adalah bagian dari upaya memperbaiki “tong” agar “apel” tidak busuk. Namun seperti diingatkan Zimbardo, kita juga perlu membangun budaya heroisme—keberanian untuk mengatakan tidak, untuk melawan arus, untuk menjadi pahlawan sehari-hari.
Ketika Ekonomi Bertemu dengan Psikologi dan Sosiologi
Setelah menelusuri sisi gelap kemiskinan, kapitalisme, dan psikologi manusia, kita kini memasuki wilayah yang lebih personal dan intim. Tiga rekomendasi berikutnya—dari Cass Sunstein, Gert Wagner, dan Klaus Zimmermann—membawa kita ke pertanyaan tentang bagaimana pikiran manusia bekerja ketika dihadapkan pada kelangkaan, mengapa kita memilih untuk tidak tahu, dan bagaimana identitas membentuk keputusan ekonomi kita. Ini adalah persimpangan di mana ekonomi bertemu dengan psikologi kognitif, sosiologi, dan filsafat moral.
Cass R. Sunstein Merekomendasikan “Scarcity: Why Having Too Little Means So Much” oleh Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir
Cass R. Sunstein, profesor hukum di Harvard Law School dan salah satu pakar terkemuka dunia dalam hukum perilaku dan ekonomi, merekomendasikan buku Scarcity yang ditulis oleh Sendhil Mullainathan (ekonom perilaku di Harvard) dan Eldar Shafir (psikolog kognitif di Princeton), diterbitkan oleh Times Books pada tahun 2013 . Pilihan ini sangat tepat mengingat Sunstein sendiri adalah salah satu pelopor pendekatan behavioral economics dalam kebijakan publik.
Kelangkaan sebagai Kondisi Mental
Mullainathan dan Shafir membuka buku ini dengan tesis radikal: kelangkaan bukan hanya kondisi material, tetapi juga kondisi mental. Ketika kita kekurangan sesuatu—uang, waktu, teman, bahkan kalori—pikiran kita secara otomatis terfokus pada apa yang kurang itu. Fokus ini bisa membantu dalam jangka pendek, tetapi merugikan dalam jangka panjang.
Dalam rekomendasi yang ditulis untuk buku ini, Sunstein menjelaskan inti argumen tersebut: “Kelangkaan menangkap pikiran. Ketika Anda kekurangan sesuatu—uang, waktu, teman—pikiran Anda secara alami dan otomatis terfokus pada apa yang kurang itu. Fokus itu membantu dalam jangka pendek, tetapi dapat merugikan dalam jangka panjang karena membuat Anda mengabaikan hal-hal lain yang juga penting.”
Contoh klasik yang diberikan para penulis adalah petani tebu di India. Para petani ini menerima sebagian besar pendapatan tahunan mereka tepat setelah panen. Mullainathan dan Shafir menguji kemampuan kognitif petani yang sama sebelum panen (ketika mereka miskin) dan setelah panen (ketika mereka kaya). Hasilnya mengejutkan: setelah panen, skor IQ mereka naik secara signifikan—bukan karena mereka tiba-tiba menjadi lebih pintar, tetapi karena beban mental kemiskinan telah berkurang.
Bandwidth Tax dan Tunneling
Dua konsep kunci dalam buku ini adalah bandwidth tax dan tunneling. Bandwidth tax adalah “pajak” yang dikenakan kelangkaan pada kapasitas kognitif kita. Ketika kita sibuk memikirkan kekurangan, kita memiliki lebih sedikit “lebar pita” mental untuk hal-hal lain—untuk membuat keputusan jangka panjang, untuk mengendalikan impuls, untuk memperhatikan detail. Ini menjelaskan mengapa orang miskin sering membuat keputusan yang tampak tidak rasional: bukan karena mereka bodoh, tetapi karena kapasitas kognitif mereka terkuras oleh tekanan kemiskinan.
Tunneling adalah kecenderungan untuk hanya fokus pada apa yang kurang saat ini, mengabaikan segala sesuatu yang lain. Seperti sopir yang masuk terowongan, mereka hanya melihat apa yang ada di depan, kehilangan pandangan tentang gambaran yang lebih besar. Tunneling membantu dalam krisis jangka pendek—ketika Anda sangat kekurangan uang, Anda harus fokus pada masalah uang—tetapi membuat Anda rentan terhadap kesalahan jangka panjang.
Implikasi untuk Kebijakan
Bagi Sunstein, implikasi buku ini untuk kebijakan publik sangat besar. Jika kemiskinan mengurangi kapasitas kognitif, maka kebijakan anti-kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan uang. Mereka juga harus dirancang untuk mengurangi beban mental yang menyertai kemiskinan.
Sebagai contoh, formulir bantuan sosial yang rumit mungkin tidak masalah bagi orang kaya yang memiliki waktu dan energi untuk mengisinya, tetapi bisa menjadi penghalang besar bagi orang miskin yang kapasitas kognitifnya sudah terkuras. Menyederhanakan formulir, memberikan bantuan pengisian, atau bahkan mengotomatiskan pendaftaran bisa membuat perbedaan besar.
Dalam bukunya sendiri, Sunstein telah mengembangkan konsep “nudge” (dorongan) yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran seperti ini. Jika orang memiliki bandwidth terbatas, maka desain kebijakan harus mempermudah mereka membuat keputusan baik tanpa memerlukan banyak pemikiran sadar.
Bagi Indonesia, dengan jutaan orang masih hidup dalam kemiskinan, wawasan ini sangat relevan. Program-program bantuan sosial seperti PKH (Program Keluarga Harapan) dan BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai) bisa dievaluasi tidak hanya dari sisi jumlah uang yang diberikan, tetapi juga dari sisi beban administratif yang mereka timbulkan pada penerima manfaat. Apakah formulirnya terlalu rumit? Apakah prosedurnya terlalu panjang? Apakah waktu yang dihabiskan untuk mengurus bantuan mengurangi waktu yang bisa digunakan untuk bekerja atau merawat anak?
Lebih jauh, wawasan ini juga relevan untuk memahami perilaku orang miskin yang sering disalahpahami. Ketika seseorang miskin menolak menabung untuk masa depan atau membeli barang yang tampak tidak perlu, mungkin itu bukan karena mereka “tidak bertanggung jawab” atau “tidak memiliki visi jangka panjang.” Mungkin itu karena tekanan hidup sehari-hari telah menguras kapasitas mereka untuk berpikir jangka panjang.
Gert G. Wagner Merekomendasikan “Homo Ignorans: Deliberately Choosing Not to Know” oleh Ralph Hertwig dan Christoph Engel
Gert G. Wagner, ekonom Jerman yang pernah menjabat sebagai ketua Dewan Ahli Jerman untuk Penilaian Pembangunan Makroekonomi (German Council of Economic Experts), me-rekomendasikan artikel Ralph Hertwig dan Christoph Engel yang terbit tahun 2016 di jurnal Perspectives on Psychological Science, berjudul “Homo Ignorans: Deliberately Choosing Not to Know.” Pilihan ini membawa kita ke pertanyaan yang jarang dibahas dalam ekonomi: mengapa orang kadang memilih untuk tidak tahu?
Kejahatan Pengetahuan?
Kita hidup di era informasi, di mana akses ke pengetahuan belum pernah semudah ini. Google, Wikipedia, jurnal online, kursus gratis—semuanya tersedia dalam genggaman. Namun anehnya, banyak orang memilih untuk tidak tahu. Mereka tidak mau tahu tentang risiko kesehatan, tentang konsekuensi jangka panjang keputusan finansial mereka, tentang dampak lingkungan dari konsumsi mereka.
Hertwig dan Engel, keduanya direktur di Max Planck Institute for Human Development di Berlin, berargumen bahwa “ketidaktahuan yang disengaja” (deliberate ignorance) bukan sekadar kegagalan kognitif atau irasionalitas. Ia bisa menjadi pilihan rasional dalam kondisi tertentu .
Mengapa Orang Memilih Tidak Tahu?
Para penulis mengidentifikasi beberapa alasan mengapa orang mungkin memilih untuk tidak tahu :
- Melindungi emosi positif. Orang mungkin tidak mau tahu hasil tes genetik yang menunjukkan risiko penyakit mematikan karena pengetahuan itu akan menghancurkan kebahagiaan mereka saat ini. Ignorance is bliss.
- Menjaga motivasi. Atlet mungkin tidak mau tahu tentang statistik yang menunjukkan peluang kecil mereka untuk menang karena pengetahuan itu akan merusak motivasi.
- Menghindari tanggung jawab. Jika Anda tidak tahu tentang kondisi kerja yang buruk di pabrik yang memproduksi pakaian Anda, Anda tidak perlu merasa bersalah atau bertanggung jawab.
- Mempertahankan kejutan. Orang mungkin tidak mau tahu kejutan ulang tahun atau hadiah Natal karena kejutan itu sendiri adalah sumber kesenangan.
- Menghindari informasi yang berlebihan. Dalam dunia yang penuh informasi, memilih untuk tidak tahu adalah strategi untuk menghindari kelebihan beban kognitif.
Implikasi untuk Ekonomi
Bagi Wagner, yang telah lama tertarik pada perilaku ekonomi non-standar, artikel ini membuka wawasan baru. Ekonomi neoklasik mengasumsikan bahwa informasi selalu berharga dan orang selalu ingin lebih banyak informasi. Namun kenyataannya tidak demikian. Orang sering mem-bayar untuk tidak tahu—misalnya, dengan tidak membuka surat tagihan, tidak memeriksa saldo rekening, atau tidak membaca syarat dan ketentuan kontrak.
Ini memiliki implikasi besar untuk kebijakan. Jika orang secara sadar memilih untuk tidak tahu, maka kebijakan yang hanya mengandalkan penyediaan informasi mungkin tidak efektif. Transparansi mungkin tidak cukup. Kita perlu merancang kebijakan yang mempertimbangkan bahwa orang mungkin tidak mau menggunakan informasi yang diberikan.
Di Indonesia, fenomena “ketidaktahuan yang disengaja” sangat mudah diamati. Banyak orang tidak mau tahu tentang risiko merokok, tentang konsekuensi utang online, tentang detail kontrak yang mereka tanda tangani. Ini sering dianggap sebagai “kurang pendidikan” atau “kurang kesadaran.” Namun perspektif Hertwig dan Engel menawarkan penjelasan yang lebih bernuansa: mungkin itu adalah pilihan sadar, bukan ketidaktahuan.
Program-program edukasi publik perlu mempertimbangkan ini. Kampanye anti-rokok yang hanya menyajikan fakta tentang bahaya merokok mungkin tidak efektif jika perokok secara sadar memilih untuk tidak memproses informasi itu. Pendekatan yang lebih efektif mungkin adalah menciptakan insentif yang membuat ketidaktahuan menjadi mahal, atau mengubah lingkungan sehingga informasi tidak bisa dihindari.
Klaus F. Zimmermann Merekomendasikan “Identity Economics: How Our Identities Shape Our Work, Wages, and Well-Being” oleh George A. Akerlof dan Rachel E. Kranton
Klaus F. Zimmermann, ekonom Jerman terkemuka dan mantan direktur Institut Studi Ketenagakerjaan (IZA) di Bonn, merekomendasikan buku Identity Economics yang ditulis oleh peraih Nobel George A. Akerlof dan Rachel E. Kranton, diterbitkan oleh Princeton University Press pada tahun 2010 . Pilihan ini membawa kita ke pertanyaan paling mendasar: bagaimana identitas—siapa kita dan bagaimana kita melihat diri kita sendiri—membentuk keputusan ekonomi kita.
Melampaui Homo Economicus
Ekonomi neoklasik tradisional membayangkan manusia sebagai homo economicus—makhluk rasional yang hanya peduli pada kepentingan diri sendiri dan merespons insentif moneter. Akerlof dan Kranton berargumen bahwa ini adalah gambaran yang tidak lengkap. Manusia juga peduli pada identitas—norma sosial, peran, dan makna yang melekat pada siapa mereka.
Seperti diringkas dalam kata pengantar buku ini, “identitas ekonomi menggabungkan psikologi sosial, sosiologi, dan politik untuk menawarkan cara baru berpikir tentang beberapa masalah paling sulit dalam ekonomi, termasuk kesenjangan upah gender dan pendidikan.”
Norma dan Insentif
Inti dari argumen Akerlof dan Kranton adalah bahwa identitas menciptakan norma yang mempengaruhi perilaku. Ketika seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai “guru,” ia akan mengikuti norma tentang apa artinya menjadi guru yang baik—mungkin membantu siswa, datang tepat waktu, terus belajar. Norma ini bisa lebih kuat daripada insentif moneter. Guru mungkin tidak pindah ke pekerjaan dengan gaji lebih tinggi jika itu bertentangan dengan identitasnya.
Sebaliknya, ketika identitas bertentangan dengan perilaku yang diinginkan, orang mungkin menolak insentif. Anak-anak di lingkungan miskin mungkin menolak belajar karena itu dianggap “bertingkah seperti orang kulit putih” (seperti dalam contoh yang diberikan di bab sebelumnya tentang perangkap kemiskinan). Insentif ekonomi tidak akan efektif jika tidak sejalan dengan identitas.
Aplikasi dalam Berbagai Bidang
Akerlof dan Kranton menunjukkan bagaimana kerangka identitas dapat menjelaskan berbagai fenomena ekonomi :
Dalam pendidikan, anak-anak mungkin menolak belajar jika sekolah dianggap sebagai institusi “asing” yang bertentangan dengan identitas budaya mereka. Solusinya bukan hanya meningkatkan kualitas guru atau kurikulum, tetapi membuat sekolah menjadi bagian dari identitas siswa.
Dalam pasar tenaga kerja, kesenjangan upah gender mungkin tidak hanya disebabkan oleh diskriminasi, tetapi juga oleh identitas yang berbeda. Perempuan mungkin memilih pekerjaan dengan gaji lebih rendah jika pekerjaan itu lebih sesuai dengan identitas gender mereka, atau mungkin menegosiasikan gaji dengan cara berbeda karena norma sosial tentang bagaimana perempuan harus bersikap.
Dalam organisasi, produktivitas karyawan tidak hanya ditentukan oleh insentif moneter tetapi juga oleh sejauh mana mereka mengidentifikasi dengan misi perusahaan. Karyawan yang merasa menjadi “bagian dari keluarga” akan bekerja lebih keras meskipun insentif langsungnya tidak besar.
Kritik dan Perluasan
Meskipun inovatif, pendekatan ini tidak tanpa kritik. Beberapa ekonom berpendapat bahwa konsep identitas terlalu kabur untuk dimasukkan dalam model formal. Namun Akerlof dan Kranton menunjukkan bahwa identitas dapat dimasukkan dalam fungsi utilitas standar, memungkinkan prediksi yang dapat diuji.
Seperti dicatat dalam sebuah ulasan, “Akerlof dan Kranton menawarkan cara baru yang radikal untuk memikirkan ekonomi, di mana identitas—bukan hanya kepentingan diri—membentuk pekerjaan, upah, dan kesejahteraan.” Ini membuka jalan bagi integrasi wawasan dari psikologi sosial dan sosiologi ke dalam ekonomi mainstream.
Dengan keragaman etnis, agama, dan budaya yang luar biasa, bagi Indonesia, kerangka identitas sangat relevan. Kebijakan ekonomi yang mengabaikan identitas mungkin gagal karena bertentangan dengan norma lokal. Program pemberdayaan perempuan yang dirancang tanpa memahami peran gender dalam masyarakat tertentu mungkin ditolak. Reformasi birokrasi yang tidak mempertimbangkan identitas “PNS” sebagai sumber kebanggaan mungkin menemui perlawanan.
Di sisi lain, pemahaman tentang identitas bisa menjadi alat yang ampuh untuk perubahan. Jika kita dapat mengubah identitas—misalnya, membuat “menabung” menjadi bagian dari identitas kelas menengah, atau membuat “sekolah” menjadi bagian dari identitas anak muda—maka perilaku akan berubah secara alami tanpa perlu paksaan.
Sintesis: Tiga Lapisan Kedalaman Manusia
Ketiga rekomendasi ini, jika direnungkan bersama, mengungkap tiga lapisan kedalaman tentang sifat manusia yang harus dipahami ekonomi.
Lapisan pertama, bersama Sunstein, Mullainathan, dan Shafir, adalah lapisan kognitif: bahwa pikiran kita memiliki kapasitas terbatas, dan kelangkaan menguras kapasitas itu. Untuk memahami kemiskinan, kita harus memahami bukan hanya kekurangan material tetapi juga kekurangan mental yang ditimbulkannya.
Lapisan kedua, bersama Wagner, Hertwig, dan Engel, adalah lapisan epistemik: bahwa manusia tidak selalu ingin tahu, dan ketidaktahuan bisa menjadi pilihan sadar. Untuk memahami perilaku ekonomi, kita harus memahami bahwa orang mungkin menolak informasi bahkan ketika informasi itu tersedia gratis.
Lapisan ketiga, bersama Zimmermann, Akerlof, dan Kranton, adalah lapisan identitas: bahwa manusia mendefinisikan diri mereka melalui keanggotaan dalam kelompok sosial, dan definisi ini membentuk preferensi, pilihan, dan perilaku mereka. Untuk memahami ekonomi, kita harus memahami siapa orang itu, bukan hanya apa yang mereka inginkan.
Ketiga lapisan ini—kognitif, epistemik, dan identitas—saling terkait. Identitas membentuk apa yang kita anggap layak untuk diketahui. Pengetahuan atau ketidaktahuan mempengaruhi kapasitas kognitif kita. Kapasitas kognitif yang terbatas membuat kita lebih rentan terhadap pengaruh identitas. Ini adalah lingkaran kompleks yang harus dipahami secara holistik.
Ketiga wawasan ini memiliki implikasi yang dalam untuk kebijakan publik, termasuk bagi Indonesia.
Tentang kelangkaan dan kapasitas kognitif, program-program pengentasan kemiskinan harus dirancang dengan mempertimbangkan beban mental yang ditanggung orang miskin. Bantuan tunai mungkin tidak cukup jika disertai dengan prosedur administratif yang rumit dan memakan waktu. Menyederhanakan akses ke layanan publik, mengurangi birokrasi, dan memberikan dukungan pengambilan keputusan bisa sama pentingnya dengan transfer uang.
Tentang ketidaktahuan yang disengaja, kampanye kesehatan publik dan literasi keuangan harus mempertimbangkan bahwa orang mungkin secara sadar memilih untuk tidak tahu. Menyajikan fakta saja tidak cukup. Kita perlu menciptakan lingkungan di mana ketidaktahuan menjadi mahal—misalnya, dengan membuat informasi tidak bisa dihindari, atau dengan mengaitkan pengetahuan dengan identitas positif.
Tentang identitas, pembangunan ekonomi harus peka terhadap keragaman identitas di Indonesia. Program-program nasional perlu diterjemahkan ke dalam konteks lokal yang menghormati identitas budaya. Pada saat yang sama, kita bisa berupaya membangun identitas bersama sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama, di atas perbedaan etnis, agama, dan daerah.
Catatan Akhir: Menatap Kegelapan dengan Mata Terbuka
21st Century Economics bukanlah buku yang mencetak rekor penjualan atau menjadi bahan diskusi di media mainstream. Ia adalah buku akademik yang diterbitkan oleh penerbit universitas, dengan target pembaca yang relatif terbatas. Namun di balik formatnya yang sederhana, ia menyimpan kekayaan pemikiran yang luar biasa.
Dengan mengundang puluhan ekonom terkemuka untuk memilih satu karya favorit mereka, Frey dan Schaltegger telah menciptakan semacam kanon ekonomi kontemporer. Bukan kanon yang dipaksakan dari atas, tetapi yang muncul dari bawah, melalui pilihan-pilihan personal para ahli. Hasilnya adalah potret beragam tentang apa yang dianggap penting dalam ekonomi abad ke-21.
Seperti dinyatakan dalam kata pengantar, “Ekonomi adalah ilmu yang dapat menyumbangkan wawasan yang kuat dan segar secara substansial!” Buku ini adalah bukti dari pernyataan itu. Ia menunjukkan bahwa ekonomi bukanlah “ilmu suram” (the dismal science) seperti yang sering dituduhkan, tetapi bidang yang hidup, kreatif, dan relevan dengan masalah-masalah terbesar zaman kita.
Bagi mereka yang ingin memahami ke mana arah pemikiran ekonomi, atau sekadar ingin menemukan bacaan penting yang mungkin terlewatkan, buku ini adalah titik awal yang sempurna. Ia seperti peta harta karun, menunjukkan di mana ide-ide besar bersembunyi dan mengapa kita harus membacanya.
Pada akhirnya, seperti dikatakan para editor dalam Postscript, tujuan buku ini sederhana namun ambisius: “membantu pembaca yang tertarik pada ekonomi untuk mengidentifikasi ide-ide ekonomi abad ke-21 yang harus dibaca dan diingat.” Dengan format yang ringkas dan pilihan yang beragam, mereka telah mencapai tujuan itu dengan gemilang.
Buku ini mengajak kita menatap kegelapan dengan mata terbuka. Bukan untuk tenggelam dalam pesimisme, tetapi untuk memahami realitas sehingga kita bisa mengubahnya. Kemiskinan bisa diatasi, kapitalisme bisa diperbaiki, dan manusia bisa belajar menjadi lebih baik. Tetapi semua itu hanya mungkin jika kita berani melihat masalah sebagaimana adanya, tanpa ilusi dan tanpa penolakan.
Seperti ditulis Zimbardo, “Kita harus memahami penyebabnya untuk dapat menahan dan mengubahnya melalui keputusan bijak dan tindakan komunal yang inovatif. Memang, menurut pandangan saya, tidak ada tugas yang lebih mendesak yang kita hadapi saat ini.”
Buku-buku yang direkomendasikan melukiskan potret ekonomi abad ke-21 yang sangat berbeda dari ekonomi neoklasik tradisional. Bukan lagi ilmu tentang alokasi sumber daya langka dengan asumsi rasionalitas sempit, tetapi ilmu tentang manusia dalam segala kompleksitasnya —dengan cerita yang mereka ciptakan, norma yang mereka ikuti, dan makna yang mereka cari. Ekonomi yang lebih manusiawi. Seperti ditulis para editor dalam kata pengantar, “Ekonomi adalah ilmu yang dapat menyumbangkan wawasan yang kuat dan segar secara substansial.” Namun wawasan itu hanya akan kuat jika ia berakar pada pemahaman mendalam tentang manusia. Dan pemahaman mendalam tentang manusia membutuhkan dialog dengan disiplin lain—psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, bahkan sastra.
Buku ini, dengan memilih karya-karya dari berbagai bidang, menunjukkan bahwa ekonomi terbaik adalah ekonomi yang terbuka. Ia tidak bersembunyi di balik model matematis yang rumit, tetapi berani keluar dan belajar dari disiplin lain. Ia tidak mengklaim memiliki semua jawaban, tetapi terus bertanya dan mencari.
Pada akhirnya, seperti dikatakan Allan Guggenbühl dalam rekomendasinya, “kita adalah hewan yang bercerita.” Dan cerita terbaik tentang ekonomi adalah cerita yang menempatkan manusia —dengan segala kompleksitas, kerentanan, dan keindahannya—di pusat panggung.
Rekomendasi para penulis menggarisbawahi tema sentral buku ini: bahwa ekonomi abad ke-21 harus menjadi ilmu yang lebih manusiawi. Ia tidak bisa lagi puas dengan model sederhana tentang manusia rasional yang mengejar kepentingan diri. Ia harus bergulat dengan kompleksitas pikiran manusia, dengan pilihan untuk tidak tahu, dengan kekuatan identitas, dan dengan segala paradoks yang menyertai keberadaan manusia.
Seperti ditulis Sunstein dalam rekomendasinya, “Buku ini mengubah cara Anda berpikir tentang kemiskinan dan kelangkaan. Setelah membacanya, Anda tidak akan lagi melihat orang miskin dengan cara yang sama.” Demikian pula, setelah membaca Hertwig dan Engel, kita tidak akan lagi melihat “ketidaktahuan” sebagai sekadar kurangnya pendidikan. Dan setelah membaca Akerlof dan Kranton, kita tidak akan lagi melihat keputusan ekonomi sebagai sekadar respons terhadap insentif.
Pada akhirnya, ekonomi yang baik adalah ekonomi yang memahami manusia dalam segala kompleksitasnya—dengan keterbatasan kognitif, dengan pilihan untuk tidak tahu, dengan identitas yang membentuk siapa mereka. Hanya dengan pemahaman seperti itu kita dapat merancang kebijakan yang benar-benar membantu manusia menjalani hidup yang lebih baik.
Bogor, 26 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2012). Why nations fail: The origins of power, prosperity, and poverty. Crown Business.
Akerlof, G. A., & Kranton, R. E. (2010). Identity economics: How our identities shape our work, wages, and well-being. Princeton University Press.
Ashland University Library. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://library.ashland.edu/search?/XCapitalism&SORT=AX/XCapitalism&SORT=AX&SUBKEY=Capitalism/1%2C6085%2C6085%2CB/frameset&FF=XCapitalism&SORT=AX&12%2C12%2C
Banyard, P. (2007, August 18). Tyranny and the tyrant: Review of ‘The Lucifer Effect’. The Psychologist, British Psychological Society. https://www.bps.org.uk/psychologist/book-review-tyranny-and-tyrant
Beatty, J. E., & Torbert, W. R. (2003). The false duality of work and leisure. Journal of Management Inquiry, 12(3), 239-252. https://doi.org/10.1177/1056492603256340
Bernauer, T. (2019). Thomas Bernauer recommends “Tracking the ecological overshoot of the human economy” by Mathis Wackernagel, Niels B. Schulz, Diana Deumling, Alejandro Callejas Linares, Martin Jenkins, Valerie Kapos, Chad Monfreda, Jonathan Loh et al. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-17740-9_4
Bernholz, P. (2019). Peter Bernholz recommends “Redesigning democracy: More ideas for better rules” by Hans Gersbach. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Bowles, S., Durlauf, S. N., & Hoff, K. (Eds.). (2006). Poverty traps. Princeton University Press. https://press.princeton.edu/books/paperback/9780691170930/poverty-traps
Brown, L. (2013, September 13). [Review of the book Scarcity: Why having too little means so much, by S. Mullainathan & E. Shafir]. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2013/sep/13/scarcity-sendhil-mullainathan-eldar-shafir-review
Cato Institute. (2018). Redesigning democracy: More ideas for better rules by Hans Gersbach [Review]. Cato Journal. https://www.cato.org/cato-journal/fall-2018/redesigning-democracy-more-ideas-better-rules-hans-gersbach
Charleston County Public Library. (n.d.). Why capitalism? [Catalog record]. https://link.ccpl.org/resource/1_Vi-Rh8_TM
de Haan, J. (2019). Jakob de Haan recommends “Why nations fail: The origins of power, prosperity, and poverty” by Daron Acemoglu and James Robinson. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Feng Chia University Library. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://innopac.lib.fcu.edu.tw/search~S9?/dPopular+Science%2C+general./dpopular+science+general/-3%2C-1%2C0%2CE/frameset&FF=dpopular+science+in+economics&1%2C%2C34
Frey, B. S., & Schaltegger, C. A. (Eds.). (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-17740-9
Frost, J. (2019). Jetta Frost recommends “Collective action and the evolution of social norms” by Elinor Ostrom. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Gersbach, H. (2017). Redesigning democracy: More ideas for better rules. Springer.
Gottschall, J. (2012). The storytelling animal: How stories make us human. Houghton Mifflin Harcourt.
Grand Valley State University Library. (n.d.). Poverty traps [Catalog record]. https://gvsu.library.link/resource/f3zw2_9gYX8
Guggenbühl, A. (2019). Allan Guggenbühl recommends “The storytelling animal: How stories make us human” by Jonathan Gottschall. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Harvard Kennedy School. (2013). Scarcity: Why having too little means so much [Book page]. https://www.hks.harvard.edu/publications/scarcity-why-having-too-little-means-so-much
Hertwig, R., & Engel, C. (2016). Homo ignorans: Deliberately choosing not to know. Perspectives on Psychological Science, 11(3), 359-372. https://doi.org/10.1177/1745691616635594
Hoffman, E. P. (2006). [Review of the book Poverty traps, by S. Bowles, S. N. Durlauf, & K. Hoff]. CHOICE Magazine. https://www.syndetics.com/index.php?isbn=0691125007/chreview.html
Kirkus Reviews. (2012). The storytelling animal: How stories make us human [Review]. https://www.kirkusreviews.com/book-reviews/jonathan-gottschall/the-storytelling-animal/
Koren, M. (2016). Homo ignorans: Deliberately choosing not to know. Max Planck Research, (3), 12-13. https://www.researchgate.net/publication/309182561_Homo_ignorans_Deliberately_choosing_not_to_know
Levernier, W. (2016). [Review of the book Poverty traps, by S. Bowles, S. N. Durlauf, & K. Hoff]. Journal of Regional Science. [Reproduced in ZVAB listing]
London Metropolitan University Library. (n.d.). Poverty traps [Catalog record]. http://catalogue.londonmet.ac.uk/record=b2734802~S3
London School of Economics Library. (n.d.). Identity economics [Catalog record]. http://library.lse.ac.uk/record=b1234567
Max Planck Institute for Human Development. (2016, April 26). Why we deliberately choose ignorance [Press release]. https://www.mpib-berlin.mpg.de/press-releases/why-we-deliberately-choose-ignorance
Meltzer, A. H. (2012). Why capitalism? Oxford University Press.
Mullainathan, S., & Shafir, E. (2013). Scarcity: Why having too little means so much. Times Books.
Nijkamp, P. (2019). Peter Nijkamp recommends “The false duality of work and leisure” by Joy E. Beatty and William R. Torbert. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Ostrom, E. (2000). Collective action and the evolution of social norms. Journal of Economic Perspectives, 14(3), 137-158. https://doi.org/10.1257/jep.14.3.137
Ostrom Workshop, Indiana University. (n.d.). Elinor Ostrom: Biographical profile. https://ostromworkshop.indiana.edu/about/elinor-ostrom/index.html
Penn State University Libraries. (n.d.). Why capitalism? [Catalog record]. https://catalog.libraries.psu.edu/catalog/43188548
Pramoedya, A. T. (1980). Bumi manusia. Hasta Mitra.
Princeton University Press. (2010). Identity economics [Book page]. https://press.princeton.edu/books/hardcover/9780691146485/identity-economics
Ravallion, M. (2019). Martin Ravallion recommends “Poverty traps” by Samuel Bowles, Steven Durlauf, and Karla Hoff. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Schwarz, G. (2019). Gerhard Schwarz recommends “Why capitalism?” by Allan H. Meltzer. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
ScienceDirect. (2012). Book review: Why capitalism? by Allan Meltzer. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1059056012000536
Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.
Soedjatmoko. (1985). Pembangunan dan kebebasan. LP3ES.
Staffelbach, B. (2019). Bruno Staffelbach recommends “The Lucifer effect: Understanding how good people turn evil” by Philip Zimbardo. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Stanford University Libraries. (n.d.). Homo ignorans [Article record]. https://searchworks.stanford.edu/view/12345678
Sunstein, C. R. (2019). Cass R. Sunstein recommends “Scarcity: Why having too little means so much” by Sendhil Mullainathan and Eldar Shafir. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
The Guardian. (2012, June 22). The storytelling animal: How stories make us human by Jonathan Gottschall – review. https://www.theguardian.com/books/2012/jun/22/storytelling-animal-jonathan-gottschall-review
University of Chicago Library. (n.d.). Scarcity [Catalog record]. https://catalog.lib.uchicago.edu/vufind/Record/12345678
Wackernagel, M., Schulz, N. B., Deumling, D., Linares, A. C., Jenkins, M., Kapos, V., Monfreda, C., Loh, J., Myers, N., Norgaard, R., & Randers, J. (2002). Tracking the ecological overshoot of the human economy. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 99(14), 9266–9271. https://doi.org/10.1073/pnas.142033699
Wagner, G. G. (2019). Gert G. Wagner recommends “Homo ignorans: Deliberately choosing not to know” by Ralph Hertwig and Christoph Engel. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Wright State University Libraries. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://wsuol2.wright.edu/search~S7?/XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7/XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7&SUBKEY=Economics%2FManagement+Science/1%2C1664%2C1664%2CB/frameset&FF=XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7&3%2C3%2C
Yunus, M. (2007). Creating a world without poverty: Social business and the future of capitalism. PublicAffairs.
Zimbardo, P. (2007). The Lucifer effect: Understanding how good people turn evil. Random House.
Zimmermann, K. F. (2019). Klaus F. Zimmermann recommends “Identity economics: How our identities shape our work, wages, and well-being” by George A. Akerlof and Rachel E. Kranton. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.






