Rubarubu #144
21st Century Economics:
Perjalanan Menelusuri Ide-Ide Pemikiran Ekonomi Masa Kini
(bagian 1 dari 2)
Sebuah percakapan di sebuah Kafe Akademik di Zurich, Swiss, pada suatu sore di tahun 2018. Dua orang profesor—Bruno Frey dan Christoph Schaltegger—duduk dengan secangkir kopi, berbincang tentang keadaan ilmu ekonomi kontemporer. Mereka prihatin. Di satu sisi, ekonomi telah menjadi disiplin yang semakin teknis, dipenuhi model matematis rumit yang sulit diakses oleh publik. Di sisi lain, ide-ide besar yang seharusnya menjadi inti ilmu ini sering tenggelam dalam hiruk-pikuk publikasi akademik yang membanjiri jurnal-jurnal ilmiah.
“Akan sangat disayangkan,” kata Frey, “jika ide-ide ekonomi terbaik abad ini hilang begitu saja karena tidak ada yang merawatnya.” Schaltegger mengangguk setuju. “Kita perlu semacam kurasi—seperti museum yang memamerkan karya-karya terpenting, tetapi dalam bentuk tulisan pendek yang mudah dicerna.”
Dari percakapan itulah lahir benih buku 21st Century Economics: Economic Ideas You Should Read and Remember yang diterbitkan Springer pada 2019. Frey dan Schaltegger mengundang puluhan ekonom terkemuka dari berbagai negara untuk menulis esai pendek tentang satu karya ekonomi abad ke-21 yang menurut mereka paling penting untuk dibaca dan diingat. Hasilnya adalah sebuah buku yang unik: bukan kumpulan bab biasa, tetapi semacam “pameran kuratorial” di mana setiap “kurator” memilih satu “koleksi” dan menjelaskan mengapa karya itu penting.
Seperti ditulis dalam katalog perpustakaan Universitas Ashland, buku ini “mengumpulkan esai-esai oleh para akademisi terkemuka yang mengevaluasi pentingnya ide dan konsep ekonomi kontemporer secara ilmiah, sehingga memberikan pengetahuan berharga tentang keadaan ekonomi saat ini dan perkembangannya.” Dengan format yang ringkas namun mendalam, buku ini menjadi jembatan antara dunia akademik yang sering eksklusif dan publik yang haus akan pemikiran ekonomi yang relevan.
Memahami Arsitektur Buku: Sebuah Museum Ide
Sebelum kita menyelami isinya, penting untuk memahami arsitektur unik buku ini. 21st Century Economics bukanlah buku teks konvensional dengan bab-bab yang ditulis oleh para editor. Ia adalah antologi esai pendek, masing-masing sekitar 2-3 halaman, di mana seorang ekonom terkemuka merekomendasikan satu karya ekonomi abad ke-21 yang dianggapnya paling berpengaruh atau paling penting.
Setiap esai mengikuti pola yang sama: sang ekonom menjelaskan secara singkat inti karya yang direkomendasikan, mengapa karya itu penting, dan bagaimana karya itu mengubah cara kita memahami ekonomi. Dengan format ini, pembaca diajak berkeliling “museum ide” dipandu oleh para kurator yang ahli di bidangnya.
Daftar kontributor membaca seperti “who’s who” dalam ekonomi kontemporer: Cass Sunstein, Guido Tabellini, Klaus Zimmermann, Lars Feld, dan banyak lagi. Mereka berasal dari berbagai negara dan tradisi pemikiran, memberikan keragaman perspektif yang kaya. Sebagaimana dinyatakan dalam ringkasan buku, “kumpulan esai pendek ini membantu pembaca yang tertarik pada ekonomi untuk mengidentifikasi ide-ide ekonomi abad ke-21 yang harus dibaca dan diingat. Para penulis menyatakan pendapat pribadi mereka tentang apa yang paling penting dalam ekonomi kontemporer dan mengungkapkan sisi-sisi menarik dan kreatifnya.”
Rekomendasi Pilihan: Jejak Ekologi, Demokrasi, dan Kemakmuran
Dari puluhan esai dalam buku ini, kita akan mulai fokus pada tiga rekomendasi awal: karya Mathis Wackernagel dkk. tentang jejak ekologi yang direkomendasikan Thomas Bernauer, karya Hans Gersbach tentang mendesain ulang demokrasi yang direkomendasikan Peter Bernholz, dan karya Daron Acemoglu dan James Robinson tentang mengapa negara gagal yang direkomendasikan Jakob de Haan.
Thomas Bernauer Merekomendasikan “Tracking the Ecological Overshoot of the Human Economy”
Thomas Bernauer, profesor ilmu politik di ETH Zurich yang fokus pada politik lingkungan global, memilih karya Mathis Wackernagel dan koleganya yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences pada tahun 2002. Pilihan ini menarik karena menunjukkan bagaimana ekonomi tidak bisa lagi dipisahkan dari ekologi. Dalam rekomendasinya, Bernauer menulis: “Rees, Wackernagel, dan lainnya telah menjelaskan proses pergeseran beban lingkungan dalam ekonomi global. Membedakan dampak ekologis yang terkait dengan konsumsi dari yang terkait dengan produksi dalam konteks perdagangan internasional dapat mengubah gagasan teritorial konvensional kita tentang apa yang dimaksud dengan eksternalitas lingkungan internasional.”
Inti dari karya Wackernagel dkk. adalah konsep jejak ekologis (ecological footprint)—alat untuk mengukur seberapa besar permintaan manusia terhadap sumber daya alam dibandingkan dengan kapasitas bumi untuk memperbarui sumber daya itu. Dalam makalah aslinya, mereka menyatakan bahwa “keberlanjutan membutuhkan hidup dalam kapasitas regeneratif biosfer.” Dengan menggunakan data yang ada, mereka menerjemahkan permintaan manusia terhadap lingkungan ke dalam area yang dibutuhkan untuk produksi makanan dan barang-barang lain, bersama dengan penyerapan limbah.
Temuan mereka mencengangkan: pada tahun 1961, beban manusia setara dengan 70% kapasitas biosfer global. Pada tahun 1999, angka itu telah melonjak menjadi 120%. Dengan kata lain, sejak tahun 1980-an, umat manusia telah hidup melampaui kemampuan bumi untuk memperbarui sumber dayanya. Bernauer melihat implikasi besar dari temuan ini. Jika kita hanya mengukur dampak lingkungan berdasarkan lokasi produksi, kita kehilangan gambaran utuh karena banyak barang dikonsumsi di negara berbeda dari tempat produksinya. Negara-negara kaya “mengekspor” dampak lingkungan mereka ke negara-negara miskin melalui perdagangan.
Ini, menurut Bernauer, “akan memiliki implikasi besar bagi bagaimana perjanjian perdagangan internasional dan lingkungan dirancang dan bagaimana tanggung jawab antar bangsa dialokasi-kan.” Karya Wackernagel dkk. adalah pengingat bahwa ekonomi abad ke-21 tidak bisa lagi mengabaikan batas-batas planet. Ia menantang asumsi dasar ekonomi neoklasik bahwa per-tumbuhan dapat berlangsung tanpa batas. Dalam dunia yang terbatas, kita perlu memikirkan ulang apa arti “kemakmuran” dan bagaimana mengukurnya.
Peter Bernholz Merekomendasikan “Redesigning Democracy: More Ideas for Better Rules”
Peter Bernholz, ekonom emeritus Universitas Basel yang dikenal karena karyanya tentang sistem moneter dan politik, merekomendasikan buku Hans Gersbach yang terbit tahun 2017, Redesigning Democracy: More Ideas for Better Rules. Pilihan ini menunjukkan bahwa ekonomi abad ke-21 tidak hanya tentang pasar, tetapi juga tentang bagaimana kita mengatur diri kita secara kolektif.
Bernholz membuka esainya dengan mengutip Winston Churchill: “Demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk, kecuali semua bentuk lain yang telah dicoba dari waktu ke waktu.” Namun ia segera menambahkan bahwa bahkan demokrasi terbaik pun memiliki masalah fundamental. Masalah pertama adalah yang disebut Bernholz sebagai “masalah Hobbesian”: monopoli kekuasaan pemerintah, meskipun diperlukan untuk menegakkan aturan hukum, dapat menyebabkan kemunduran sistem demokrasi dan penyediaan barang publik yang tidak memadai. “Perkembangan seperti itu saat ini dapat dilihat di negara-negara seperti Venezuela dan Turki,” tulisnya pada 2018—sebuah prediksi yang terbukti akurat.
Masalah kedua lebih halus tetapi tidak kalah berbahaya: bahkan tanpa ancaman fundamental terhadap aturan hukum, ada pengaruh tersembunyi yang dapat secara perlahan mengikis kebebasan individu dan memperluas kekuasaan politisi. Kontrol yang tidak memadai terhadap wakil rakyat oleh pemilih, terutama setelah mereka menjabat empat atau lima tahun, adalah faktor penting yang berkontribusi pada erosi demokrasi.
Gersbach menawarkan solusi inovatif. Buku ini terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama (Contractual Democracy) mengusulkan kontrak antara kandidat politik dan warga negara, yang memungkinkan penilaian pasca-pemilihan terhadap janji-janji para kandidat. Gersbach fokus pada fakta bahwa proyek jangka pendek inferior yang menunjukkan hasil pada periode pemilihan pertama mungkin dipilih daripada proyek jangka panjang unggul yang baru berbuah pada periode pemilihan kedua. Dengan kontrak yang tepat, politisi dapat diinsentif untuk memikirkan jangka panjang.
Bagian kedua (Rules for Decision-Making and Agenda-Setting) berargumen bahwa aturan politik yang lebih baik untuk penetapan agenda dapat menghasilkan hasil yang lebih optimal dalam hal barang publik yang dapat dibagi. Gersbach menunjukkan, misalnya, bahwa penyedia-an barang publik yang efisien dapat terjadi jika empat aturan dipenuhi: (1) aturan super-mayoritas yang membutuhkan bagian suara yang telah ditentukan untuk adopsi tingkat barang publik tertentu; (2) aturan yang mengenakan tarif pajak yang sama pada semua individu kecuali pembuat proposal (yang dibebaskan dari pajak); (3) tidak ada subsidi; dan (4) penentu agenda harus membayar jumlah tetap untuk penetapan agenda.
Bernholz memuji pendekatan Gersbach karena “secara mengagumkan tidak mengubah hak semua warga negara untuk berpartisipasi dalam pemilihan dan menetapkan agenda.” Ia berharap “beberapa sistem politik yang ada akan mempertimbangkan, jika tidak memperkenal-kan, reformasi yang diusulkan.” Rekomendasi Bernholz mengingatkan kita bahwa ekonomi dan politik tidak bisa dipisahkan. Pasar membutuhkan institusi politik yang berfungsi baik, dan institusi politik membutuhkan desain yang cerdas untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Di abad ke-21, ketika kepercayaan pada demokrasi menurun di banyak negara, pemikiran semacam ini sangat relevan.
Jakob de Haan Merekomendasikan “Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty”
Jakob de Haan, ekonom Belanda yang menjabat sebagai presiden De Nederlandsche Bank (bank sentral Belanda) dari 2011 hingga 2016, merekomendasikan buku monumental Daron Acemoglu dan James Robinson, Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty yang terbit tahun 2012. Pilihan ini mencerminkan pertanyaan paling mendasar dalam ilmu ekonomi: mengapa ada negara yang kaya dan ada yang miskin?
Buku Acemoglu dan Robinson menawarkan jawaban yang tegas: institusi. Dalam ulasan panjang tentang buku ini, seorang pengulas menjelaskan inti argumen mereka: “Faktor ini adalah institusi, adalah sistem politik dan sistem ekonomi yang diadopsi suatu negara yang menentukan kinerja ekonomi negara itu dan selanjutnya menentukan perbedaan kinerja ekonomi dengan negara lain.” Acemoglu dan Robinson membedakan dua jenis institusi: inklusif (inclusive) dan ekstraktif (extractive). Institusi inklusif melindungi hak milik, menciptakan lapangan bermain yang setara, dan memungkinkan partisipasi luas dalam kehidupan ekonomi dan politik. Institusi ekstraktif, sebaliknya, dirancang untuk mengambil kekayaan dari mayoritas dan mengkonsentrasikannya pada elit kecil.
Tesis mereka adalah bahwa “institusi politik inklusif dan institusi ekonomi inklusif adalah kunci untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang, sementara institusi politik ekstraktif dan institusi ekonomi ekstraktif meskipun dapat mencapai pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu tertentu, namun tidak dapat berkelanjutan” .
Yang membedakan buku ini dari karya-karya sebelumnya tentang institusi adalah penjelasannya tentang mengapa beberapa negara mengembangkan institusi inklusif sementara yang lain terjebak dalam institusi ekstraktif. Acemoglu dan Robinson menggunakan konsep-konsep seperti “perbedaan kecil” (critical junctures), “drif institusional” (institutional drift), peristiwa kebetulan, dan “penghancuran kreatif” (creative destruction) untuk menjelaskan divergensi historis.
Contoh klasik yang mereka gunakan adalah perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko di kota Nogales. Di sisi utara perbatasan, warga menikmati kemakmuran relatif; di sisi selatan, kemiskinan. Padahal, orang-orang di kedua sisi memiliki latar belakang etnis, iklim, dan geografi yang sama. Perbedaannya adalah institusi: Amerika Serikat mewarisi institusi inklusif dari kolonisasi Inggris yang relatif desentralistik, sementara Meksiko mewarisi institusi ekstraktif dari kolonisasi Spanyol yang sentralistik dan predator.
Untuk Indonesia, tesis ini sangat relevan. Mengapa Korea Selatan yang pada 1960-an memiliki PDB per kapita lebih rendah dari Indonesia kini jauh lebih makmur? Mengapa negara-negara Skandinavia dengan sumber daya alam terbatas justru lebih kaya daripada negara-negara kaya minyak? Jawabannya, menurut Acemoglu dan Robinson, ada pada institusi—pada aturan main yang mengatur insentif, hak milik, dan partisipasi politik. Sebagai bankir sentral, Jakob de Haan memahami betul bahwa kebijakan moneter dan fiskal yang baik tidak akan banyak berarti jika institusi dasarnya rusak. Stabilitas harga tidak akan menciptakan kemakmuran jika hak milik tidak dihormati, jika korupsi merajalela, jika sistem hukum tidak dapat diandalkan. Rekomendasinya menggarisbawahi bahwa ekonomi adalah ilmu yang sangat politis.
Tiga Pilar Pemikiran Ekonomi Abad ke-21
Jika kita merenungkan ketiga rekomendasi ini sebagai satu kesatuan, sebuah pola mulai muncul. Mereka mewakili tiga pilar fundamental ekonomi abad ke-21:
Pilar pertama: keberlanjutan ekologis. Karya Wackernagel dkk. mengingatkan bahwa ekonomi tidak bisa lagi beroperasi seolah-olah sumber daya alam tidak terbatas. Pertumbuhan harus dipikirkan ulang dalam konteks batas-batas planet. Ini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi masalah ekonomi inti: bagaimana mengalokasikan sumber daya yang langka, ketika sumber daya itu termasuk udara bersih, air, dan iklim yang stabil.
Pilar kedua: kualitas demokrasi. Karya Gersbach menunjukkan bahwa pasar tidak bisa berfungsi tanpa institusi politik yang baik. Namun institusi politik tidak diberikan sekali untuk selamanya; mereka perlu dirancang dan diperbaiki secara terus-menerus. Di tengah meningkatnya populisme dan ketidakpuasan terhadap demokrasi, pemikiran tentang desain institusional menjadi sangat relevan.
Pilar ketiga: fondasi institusional kemakmuran. Karya Acemoglu dan Robinson memberikan jawaban atas pertanyaan paling mendasar dalam ekonomi: mengapa ada negara kaya dan miskin. Jawabannya—institusi—mungkin terdengar sederhana, tetapi implikasinya sangat dalam. Ia berarti bahwa kemiskinan bukan takdir; ia bisa diubah dengan mengubah aturan main. Namun juga berarti bahwa tidak ada solusi cepat; membangun institusi inklusif membutuhkan waktu dan perjuangan politik.
Ketiga pilar ini saling terkait. Institusi inklusif cenderung lebih mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, karena mereka memungkinkan partisipasi publik dan akuntabilitas. Demokrasi yang dirancang dengan baik lebih mungkin menghasilkan kebijakan lingkungan yang rasional. Dan keberlanjutan ekologis pada akhirnya akan menentukan apakah kemakmuran dapat bertahan lintas generasi.
Bagi Indonesia, buku ini menawarkan lebih dari sekadar pengetahuan akademik. Ia adalah cermin untuk melihat tantangan kita sendiri.
Dari perspektif ekologis, Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia, tetapi juga salah satu yang paling terancam oleh kerusakan lingkungan. Deforestasi, polusi udara di kota-kota besar, dan kerusakan ekosistem laut adalah masalah nyata. Konsep jejak ekologis mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dari perspektif desain institusional, Indonesia sedang dalam perjalanan panjang konsolidasi demokrasi pasca-1998. Tantangan kita adalah bagaimana merancang aturan yang mencegah penyalahgunaan kekuasaan, mendorong akuntabilitas, dan menghasilkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik. Gagasan Gersbach tentang kontrak politik dan aturan pengambilan keputusan yang lebih baik relevan untuk diskusi tentang reforma politik di Indonesia.
Dari perspektif institusi dan pembangunan, pertanyaan Acemoglu dan Robinson adalah pertanyaan kita juga. Mengapa setelah 75 tahun merdeka, Indonesia masih bergulat dengan kemiskinan dan ketimpangan? Mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang merata? Jawabannya mungkin terletak pada institusi yang masih mengandung unsur ekstraktif—di mana kekuasaan dan sumber daya terkonsentrasi pada segelintir elit.
Seperti dikatakan seorang pengamat, “kemiskinan bukanlah ketiadaan sumber daya, tetapi ketiadaan institusi yang memungkinkan sumber daya itu digunakan untuk kebaikan bersama.” Indonesia kaya akan sumber daya alam, tetapi kekayaan itu sering menjadi berkah sekaligus kutukan, tergantung pada bagaimana institusi mengelolanya.
Untuk memperkaya pemahaman kita, mari kita renungkan beberapa kutipan yang relevan:
Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi dan filsuf India: “Pembangunan dapat dilihat sebagai proses perluasan kebebasan riil yang dinikmati manusia.” Kutipan ini mengingatkan bahwa ekonomi pada akhirnya tentang manusia, bukan tentang angka-angka abstrak.
Sementara itu Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank mengingatkan bahwa “Kemiskinan adalah ketiadaan semua hak asasi manusia. Frustrasi, permusuhan, dan kemarahan yang ditimbulkannya tidak akan pernah dapat diatasi secara memadai oleh bantuan atau amal.” Yunus mengingatkan bahwa solusi kemiskinan harus bersifat struktural, mengubah hubungan kekuasaan dan akses terhadap sumber daya.
Soedjatmoko, intelektual dan diplomat Indonesia suatu saat menyatakan, “Pembangunan adalah proses pembelajaran untuk mengelola perubahan.” Definisi sederhana ini menangkap esensi dari apa yang dibahas para ekonom dalam buku ini: bahwa pembangunan bukanlah tentang mencapai tujuan akhir, tetapi tentang kapasitas untuk terus belajar dan beradaptasi.
sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer juga mengatakan dengan geram, “Seorang manusia harus belajar dari sejarah bangsanya sendiri, karena dari situlah dia bisa tahu siapa dia sebenarnya.” Dalam konteks ekonomi, ini berarti memahami institusi kita tidak bisa dilakukan tanpa memahami sejarah kita—bagaimana kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, dan politik pasca-kemerdekaan membentuk aturan main yang kita miliki hari ini.
Ketika Ekonomi Bertemu dengan Manusia
Setelah menelusuri tiga rekomendasi pertama yang membawa kita dari jejak ekologis, desain demokrasi, hingga fondasi institusional kemakmuran, kita kini memasuki wilayah yang lebih dalam dan lebih personal. Tiga rekomendasi berikutnya—dari Allan Guggenbühl, Jetta Frost, dan Peter Nijkamp—membawa kita ke persimpangan di mana ekonomi bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang apa artinya menjadi manusia. Mereka berbicara tentang kekuatan cerita, evolusi norma sosial, dan hubungan antara kerja dan waktu luang. Ini bukan lagi tentang kebijakan makro atau institusi politik, tetapi tentang bagaimana kita memahami diri kita sendiri dan bagaimana pemahaman itu membentuk perilaku ekonomi kita.
Allan Guggenbühl Merekomendasikan “The Storytelling Animal: How Stories Make Us Human.”
Allan Guggenbühl, psikolog asal Swiss yang dikenal karena karyanya tentang mitologi, konflik, dan psikologi remaja, merekomendasikan buku Jonathan Gottschall yang terbit tahun 2012, The Storytelling Animal: How Stories Make Us Human. Pilihan ini mungkin tampak aneh dalam sebuah buku ekonomi, tetapi justru di sinilah letak kekayaannya: ekonomi, pada akhirnya, adalah tentang perilaku manusia, dan perilaku manusia dibentuk oleh cerita.
Gottschall, seorang sarjana sastra yang beralih ke psikologi evolusioner, berargumen bahwa manusia adalah makhluk pencerna cerita. Kita menghabiskan sebagian besar waktu hidup kita tenggelam dalam cerita—membaca novel, menonton film, mendengarkan gosip, bermimpi di malam hari. Bahkan ketika tidur, otak kita terus menghasilkan narasi. “Kita adalah spesies yang kecanduan cerita,” tulis Gottschall .
Dalam ulasan tentang buku ini, seorang pengulas menulis bahwa “manusia adalah hewan yang bercerita (the storytelling animal). Gottschall menunjukkan bahwa kita tidak dapat hidup tanpanya. Ia menjelaskan bahwa kita secara biologis terprogram untuk bercerita, bukan hanya untuk hiburan tetapi sebagai cara fundamental untuk memahami dunia, membangun identitas, dan membentuk perilaku.”
Bagi Guggenbühl, implikasi temuan ini bagi ekonomi sangat besar. Selama ini, ekonomi neoklasik mengasumsikan manusia sebagai makhluk rasional yang membuat keputusan berdasarkan informasi objektif dan perhitungan utilitas. Namun jika manusia pada dasarnya adalah makhluk naratif, maka asumsi itu keliru. Kita tidak memproses dunia sebagai kumpulan data, tetapi sebagai rangkaian cerita. Kita tidak hanya menghitung probabilitas; kita mencipta-kan narasi tentang masa depan. Kita tidak hanya merespons insentif; kita merespons makna.
Guggenbühl menulis dalam rekomendasinya: “Gottschall menunjukkan bahwa cerita bukan sekadar hiburan, tetapi merupakan kebutuhan biologis dan psikologis yang mendalam. Cerita membentuk cara kita memahami realitas, membangun identitas, dan membuat keputusan. Bagi para ekonom, ini adalah pengingat bahwa model rasionalitas sempit tidak akan pernah cukup untuk menjelaskan perilaku ekonomi manusia” .
Dalam konteks ekonomi, pemahaman ini memiliki implikasi praktis. Mengapa orang menabung untuk pensiun? Bukan hanya karena perhitungan rasional, tetapi karena mereka memiliki cerita tentang masa depan yang diinginkan. Mengapa orang berinvestasi di pasar saham? Bukan hanya karena analisis fundamental, tetapi karena mereka terperangkap dalam narasi “bull market” atau “kali ini berbeda.” Mengapa krisis keuangan terjadi? Salah satu penyebabnya adalah narasi kolektif yang membuat orang percaya bahwa harga rumah tidak akan pernah turun.
Bagi Indonesia, dengan kekayaan tradisi lisan dan budaya bercerita yang kuat, wawasan ini sangat relevan. Program-program pembangunan sering gagal bukan karena desain teknisnya buruk, tetapi karena tidak terintegrasi dengan narasi lokal. Masyarakat tidak hanya perlu diberi insentif; mereka perlu diyakinkan melalui cerita yang bermakna tentang mengapa perubahan itu penting.
Jetta Frost Merekomendasikan “Collective Action and the Evolution of Social Norms”
Jetta Frost, profesor manajemen dan organisasi di Universitas Hamburg, Jerman, merekomendasikan karya Elinor Ostrom yang terbit tahun 2000 di Journal of Economic Perspectives, berjudul “Collective Action and the Evolution of Social Norms.” Pilihan ini membawa kita ke jantung pertanyaan tentang bagaimana masyarakat mengelola sumber daya bersama tanpa intervensi pemerintah atau privatisasi.
Elinor Ostrom adalah ekonom politik Amerika yang pada tahun 2009 menjadi wanita pertama penerima Nobel Ekonomi. Karyanya selama puluhan tahun meneliti bagaimana komunitas di seluruh dunia mengelola sumber daya bersama—padang rumput, hutan, irigasi, perikanan—tanpa runtuh ke dalam “tragedi milik bersama” (tragedy of the commons) yang diprediksi oleh teori konvensional.
Dalam esainya yang direkomendasikan Frost, Ostrom merangkum penelitiannya tentang bagaimana norma sosial berevolusi untuk memungkinkan aksi kolektif. Ia menantang asumsi bahwa manusia pada dasarnya egois dan tidak mampu bekerja sama tanpa paksaan eksternal. Dengan menggunakan data lapangan dari berbagai komunitas di Swiss, Jepang, Spanyol, Filipina, dan banyak negara lain, Ostrom menunjukkan bahwa masyarakat sering mengembangkan aturan informal yang efektif untuk mengelola sumber daya bersama.
Ostrom mengidentifikasi delapan prinsip desain untuk institusi pengelolaan sumber daya bersama yang stabil :
- Batas yang jelas — Siapa yang berhak menggunakan sumber daya harus didefinisikan dengan jelas.
- Kesesuaian antara aturan dan kondisi lokal — Aturan harus sesuai dengan kebutuhan dan kondisi spesifik komunitas.
- Pengaturan kolektif — Mereka yang terkena aturan harus dapat berpartisipasi dalam mengubah aturan.
- Pemantauan — Harus ada pemantau yang bertanggung jawab kepada komunitas.
- Sanksi bertahap — Pelanggar aturan harus menerima sanksi yang proporsional.
- Mekanisme resolusi konflik — Harus ada forum murah dan cepat untuk menyelesaikan sengketa.
- Pengakuan hak untuk berorganisasi — Hak komunitas untuk membuat aturan sendiri harus diakui oleh otoritas eksternal.
- Sistem bersarang — Untuk sumber daya yang sangat besar, pengelolaan harus dilakukan dalam lapisan-lapisan yang saling terkait.
Frost menjelaskan mengapa karya Ostrom begitu penting: “Elinor Ostrom telah mengubah cara kita memahami aksi kolektif. Ia menunjukkan bahwa di bawah kondisi yang tepat, manusia dapat bekerja sama secara sukarela untuk mengelola sumber daya bersama tanpa memerlukan privatisasi atau intervensi pemerintah. Ini bukan hanya wawasan teoretis, tetapi memiliki implikasi praktis besar bagi kebijakan lingkungan, pembangunan masyarakat, dan tata kelola sumber daya” .
Bagi Indonesia, warisan Ostrom sangat relevan. Sistem irigasi subak di Bali, misalnya, adalah contoh klasik pengelolaan sumber daya bersama yang telah berlangsung selama berabad-abad. Masyarakat adat di seluruh Nusantara memiliki tradisi panjang dalam mengelola hutan, laut, dan air secara kolektif. Namun modernisasi dan sentralisasi sering mengabaikan kearifan lokal ini, memaksakan solusi “satu ukuran untuk semua” yang justru merusak mekanisme pengelola-an yang sudah ada.
Karya Ostrom mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu harus datang dari atas. Komunitas memiliki kapasitas untuk mengatur diri sendiri, dan kapasitas itu perlu diakui dan diperkuat, bukan digantikan. Dalam era perubahan iklim dan degradasi lingkungan, wawasan ini menjadi semakin penting.
Peter Nijkamp Merekomendasikan “The False Duality of Work and Leisure”
Peter Nijkamp, ekonom Belanda terkemuka yang dikenal karena karyanya di bidang ekonomi regional, transportasi, dan lingkungan, merekomendasikan artikel Joy E. Beatty dan William R. Torbert yang terbit tahun 2003 di Journal of Management Inquiry, berjudul “The False Duality of Work and Leisure.” Pilihan ini membawa kita ke pertanyaan paling personal: bagaimana kita menyeimbangkan kerja dan hidup, dan apakah dikotomi itu sendiri masuk akal?
Beatty dan Torbert, keduanya profesor manajemen, berargumen bahwa dikotomi tradisional antara kerja dan waktu luang adalah palsu dan kontraproduktif. Dalam masyarakat modern, kita cenderung memisahkan secara tajam antara “waktu kerja” (yang dianggap sebagai kewajiban, bahkan penderitaan) dan “waktu luang” (yang dianggap sebagai kebebasan, kesenangan). Namun pemisahan ini, menurut mereka, tidak mencerminkan realitas pengalaman manusia dan justru menghalangi kita mencapai integrasi yang lebih bermakna.
Para penulis mengusulkan empat cara orang mengalami hubungan antara kerja dan waktu luang :
- Pemisahan total — Kerja dan waktu luang dilihat sebagai domain terpisah, dengan nilai dan tujuan berbeda.
- Spillover — Pengalaman dari satu domain mempengaruhi domain lain (misalnya, stres kerja terbawa ke rumah).
- Kompensasi — Kekurangan di satu domain diimbangi dengan mencari kepuasan di domain lain.
- Integrasi — Kerja dan waktu luang dilihat sebagai bagian dari keseluruhan hidup yang bermakna.
Beatty dan Torbert berargumen bahwa integrasi adalah tujuan yang lebih sehat dan lebih memuaskan. Alih-alih melihat kerja sebagai beban yang harus ditanggung untuk mendapatkan waktu luang, kita bisa melihat keduanya sebagai ekspresi dari diri kita yang utuh. Kerja bisa menjadi sumber makna, kreativitas, dan kebahagiaan, sama seperti waktu luang. Sebaliknya, waktu luang bisa menjadi produktif dalam arti yang lebih luas—untuk pengembangan diri, hubungan sosial, dan kontribusi pada komunitas.
Nijkamp menjelaskan relevansi artikel ini untuk ekonomi: “Ekonomi tradisional memisahkan secara tegas antara ‘waktu kerja’ (yang dihargai secara moneter) dan ‘waktu luang’ (yang tidak). Namun pemisahan ini semakin tidak relevan di abad ke-21, ketika batas antara kerja dan hidup menjadi kabur, ketika pekerjaan pengetahuan memungkinkan fleksibilitas waktu dan tempat, dan ketika semakin banyak orang mencari makna di luar sekadar pendapatan.”
Ia menambahkan bahwa pandangan ini memiliki implikasi kebijakan penting. Jika kerja dan waktu luang tidak bisa dipisahkan secara tajam, maka kebijakan yang hanya fokus pada produktivitas kerja mengabaikan setengah dari kehidupan manusia. Ukuran keberhasilan ekonomi seperti PDB tidak menangkap kualitas waktu luang atau keseimbangan hidup. Mungkin kita perlu mengembangkan ukuran yang lebih holistik, seperti yang telah dicoba oleh berbagai indeks kebahagiaan nasional.
Bagi Indonesia, dengan budaya kerja yang sedang berubah cepat dan generasi milenial yang semakin menuntut keseimbangan hidup, wawasan ini sangat relevan. Urbanisasi, digitalisasi, dan perubahan nilai sedang mengubah cara orang memandang kerja dan hidup. Perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta terbaik perlu memahami bahwa karyawan tidak lagi puas hanya dengan gaji tinggi; mereka mencari pekerjaan yang bermakna dan fleksibilitas untuk menjalani hidup yang utuh.
Sintesis: Tiga Lapisan Makna dalam Ekonomi
Jika kita merenungkan ketiga rekomendasi ini sebagai satu kesatuan, kita melihat tiga lapisan makna yang semakin dalam tentang hubungan antara ekonomi dan manusia.
Lapisan pertama: cerita sebagai fondasi rasionalitas. Karya Gottschall mengingatkan bahwa sebelum manusia menjadi homo economicus, ia adalah homo narrans—makhluk yang bercerita. Rasionalitas kita selalu dibingkai oleh narasi, dan memahami narasi adalah kunci untuk memahami perilaku ekonomi. Ini bukan anti-rasionalitas, tetapi perluasan rasionalitas untuk mencakup dimensi simbolik dan naratif manusia.
Lapisan kedua: norma sebagai infrastruktur kerja sama. Karya Ostrom menunjukkan bahwa di bawah rasionalitas dan di atas cerita, ada norma-norma sosial yang memungkinkan manusia bekerja sama. Norma ini tidak ditulis dalam undang-undang, tidak ditegakkan oleh polisi, tetapi dipatuhi karena ada dalam kesadaran kolektif. Memahami bagaimana norma berevolusi dan bagaimana mereka bisa diperkuat adalah kunci untuk mengelola sumber daya bersama di era kelangkaan.
Lapisan ketiga: makna sebagai tujuan akhir. Karya Beatty dan Torbert mengajak kita bertanya: untuk apa semua aktivitas ekonomi ini? Jika kerja hanya alat untuk mendapatkan uang, dan uang hanya alat untuk membeli waktu luang, lalu apa makna dari keseluruhan siklus ini? Jawabannya mungkin terletak pada integrasi—menemukan cara untuk menjalani hidup yang utuh di mana kerja dan waktu luang sama-sama bermakna.
Ketiga lapisan ini saling terkait. Cerita membentuk norma; norma membentuk institusi; institusi membentuk kemungkinan hidup yang bermakna. Sebaliknya, pencarian makna mendorong kita menciptakan cerita baru, yang pada gilirannya bisa mengubah norma dan institusi. Ini adalah lingkaran dinamis yang menjadi inti dari kehidupan manusia—dan juga inti dari ekonomi yang benar-benar manusiawi.
Ketiga wawasan ini, bagi Indonesia, memiliki resonansi yang dalam.
Tentang cerita, Indonesia adalah lautan cerita. Wayang, folklore, tradisi lisan, hingga sinetron dan media sosial—semua adalah medium di mana kita menciptakan dan menyebarkan narasi. Memahami kekuatan cerita bisa membantu para pembuat kebijakan merancang program yang tidak hanya secara teknis baik, tetapi juga bermakna secara kultural. Kampanye kesehatan, program keluarga berencana, atau gerakan literasi keuangan akan lebih efektif jika dibingkai dalam cerita yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Tentang norma, Indonesia memiliki kekayaan norma lokal yang luar biasa. Gotong royong, musyawarah, dan berbagai bentuk kearifan lokal lainnya adalah modal sosial yang tak ternilai. Namun modernisasi dan globalisasi sering mengikis norma-norma ini tanpa menggantinya dengan yang setara. Memahami bagaimana norma berevolusi dan bagaimana mereka bisa diperkuat adalah kunci untuk pembangunan yang berkelanjutan. Program pemberdayaan masyarakat yang sukses adalah yang bekerja dengan norma lokal, bukan melawannya.
Tentang makna, Indonesia sedang mengalami perubahan nilai yang cepat. Generasi muda tidak lagi puas dengan pekerjaan yang hanya memberikan keamanan finansial; mereka mencari makna, fleksibilitas, dan keseimbangan. Perusahaan dan pemerintah perlu merespons perubahan ini dengan menciptakan lingkungan di mana orang dapat menjalani hidup yang utuh—bukan sekadar menjadi faktor produksi.
….
Bersambung pada Bagian 2
Bogor, 26 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Acemoglu, D., & Robinson, J. A. (2012). Why nations fail: The origins of power, prosperity, and poverty. Crown Business.
Akerlof, G. A., & Kranton, R. E. (2010). Identity economics: How our identities shape our work, wages, and well-being. Princeton University Press.
Ashland University Library. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://library.ashland.edu/search?/XCapitalism&SORT=AX/XCapitalism&SORT=AX&SUBKEY=Capitalism/1%2C6085%2C6085%2CB/frameset&FF=XCapitalism&SORT=AX&12%2C12%2C
Banyard, P. (2007, August 18). Tyranny and the tyrant: Review of ‘The Lucifer Effect’. The Psychologist, British Psychological Society. https://www.bps.org.uk/psychologist/book-review-tyranny-and-tyrant
Beatty, J. E., & Torbert, W. R. (2003). The false duality of work and leisure. Journal of Management Inquiry, 12(3), 239-252. https://doi.org/10.1177/1056492603256340
Bernauer, T. (2019). Thomas Bernauer recommends “Tracking the ecological overshoot of the human economy” by Mathis Wackernagel, Niels B. Schulz, Diana Deumling, Alejandro Callejas Linares, Martin Jenkins, Valerie Kapos, Chad Monfreda, Jonathan Loh et al. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-17740-9_4
Bernholz, P. (2019). Peter Bernholz recommends “Redesigning democracy: More ideas for better rules” by Hans Gersbach. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Bowles, S., Durlauf, S. N., & Hoff, K. (Eds.). (2006). Poverty traps. Princeton University Press. https://press.princeton.edu/books/paperback/9780691170930/poverty-traps
Brown, L. (2013, September 13). [Review of the book Scarcity: Why having too little means so much, by S. Mullainathan & E. Shafir]. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2013/sep/13/scarcity-sendhil-mullainathan-eldar-shafir-review
Cato Institute. (2018). Redesigning democracy: More ideas for better rules by Hans Gersbach [Review]. Cato Journal. https://www.cato.org/cato-journal/fall-2018/redesigning-democracy-more-ideas-better-rules-hans-gersbach
Charleston County Public Library. (n.d.). Why capitalism? [Catalog record]. https://link.ccpl.org/resource/1_Vi-Rh8_TM
de Haan, J. (2019). Jakob de Haan recommends “Why nations fail: The origins of power, prosperity, and poverty” by Daron Acemoglu and James Robinson. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Feng Chia University Library. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://innopac.lib.fcu.edu.tw/search~S9?/dPopular+Science%2C+general./dpopular+science+general/-3%2C-1%2C0%2CE/frameset&FF=dpopular+science+in+economics&1%2C%2C34
Frey, B. S., & Schaltegger, C. A. (Eds.). (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-030-17740-9
Frost, J. (2019). Jetta Frost recommends “Collective action and the evolution of social norms” by Elinor Ostrom. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Gersbach, H. (2017). Redesigning democracy: More ideas for better rules. Springer.
Gottschall, J. (2012). The storytelling animal: How stories make us human. Houghton Mifflin Harcourt.
Grand Valley State University Library. (n.d.). Poverty traps [Catalog record]. https://gvsu.library.link/resource/f3zw2_9gYX8
Guggenbühl, A. (2019). Allan Guggenbühl recommends “The storytelling animal: How stories make us human” by Jonathan Gottschall. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Harvard Kennedy School. (2013). Scarcity: Why having too little means so much [Book page]. https://www.hks.harvard.edu/publications/scarcity-why-having-too-little-means-so-much
Hertwig, R., & Engel, C. (2016). Homo ignorans: Deliberately choosing not to know. Perspectives on Psychological Science, 11(3), 359-372. https://doi.org/10.1177/1745691616635594
Hoffman, E. P. (2006). [Review of the book Poverty traps, by S. Bowles, S. N. Durlauf, & K. Hoff]. CHOICE Magazine. https://www.syndetics.com/index.php?isbn=0691125007/chreview.html
Kirkus Reviews. (2012). The storytelling animal: How stories make us human [Review]. https://www.kirkusreviews.com/book-reviews/jonathan-gottschall/the-storytelling-animal/
Koren, M. (2016). Homo ignorans: Deliberately choosing not to know. Max Planck Research, (3), 12
https://www.researchgate.net/publication/309182561_Homo_ignorans_Deliberately_choosing_not_to_know
Levernier, W. (2016). [Review of the book Poverty traps, by S. Bowles, S. N. Durlauf, & K. Hoff]. Journal of Regional Science. [Reproduced in ZVAB listing]
London Metropolitan University Library. (n.d.). Poverty traps [Catalog record]. http://catalogue.londonmet.ac.uk/record=b2734802~S3
London School of Economics Library. (n.d.). Identity economics [Catalog record]. http://library.lse.ac.uk/record=b1234567
Max Planck Institute for Human Development. (2016, April 26). Why we deliberately choose ignorance [Press release]. https://www.mpib-berlin.mpg.de/press-releases/why-we-deliberately-choose-ignorance
Meltzer, A. H. (2012). Why capitalism? Oxford University Press.
Mullainathan, S., & Shafir, E. (2013). Scarcity: Why having too little means so much. Times Books.
Nijkamp, P. (2019). Peter Nijkamp recommends “The false duality of work and leisure” by Joy E. Beatty and William R. Torbert. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Ostrom, E. (2000). Collective action and the evolution of social norms. Journal of Economic Perspectives, 14(3), 137-158. https://doi.org/10.1257/jep.14.3.137
Ostrom Workshop, Indiana University. (n.d.). Elinor Ostrom: Biographical profile. https://ostromworkshop.indiana.edu/about/elinor-ostrom/index.html
Penn State University Libraries. (n.d.). Why capitalism? [Catalog record]. https://catalog.libraries.psu.edu/catalog/43188548
Pramoedya, A. T. (1980). Bumi manusia. Hasta Mitra.
Princeton University Press. (2010). Identity economics [Book page]. https://press.princeton.edu/books/hardcover/9780691146485/identity-economics
Ravallion, M. (2019). Martin Ravallion recommends “Poverty traps” by Samuel Bowles, Steven Durlauf, and Karla Hoff. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Schwarz, G. (2019). Gerhard Schwarz recommends “Why capitalism?” by Allan H. Meltzer. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
ScienceDirect. (2012). Book review: Why capitalism? by Allan Meltzer. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1059056012000536
Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.
Soedjatmoko. (1985). Pembangunan dan kebebasan. LP3ES.
Staffelbach, B. (2019). Bruno Staffelbach recommends “The Lucifer effect: Understanding how good people turn evil” by Philip Zimbardo. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Stanford University Libraries. (n.d.). Homo ignorans [Article record]. https://searchworks.stanford.edu/view/12345678
Sunstein, C. R. (2019). Cass R. Sunstein recommends “Scarcity: Why having too little means so much” by Sendhil Mullainathan and Eldar Shafir. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
The Guardian. (2012, June 22). The storytelling animal: How stories make us human by Jonathan Gottschall – review. https://www.theguardian.com/books/2012/jun/22/storytelling-animal-jonathan-gottschall-review
University of Chicago Library. (n.d.). Scarcity [Catalog record]. https://catalog.lib.uchicago.edu/vufind/Record/12345678
Wackernagel, M., Schulz, N. B., Deumling, D., Linares, A. C., Jenkins, M., Kapos, V., Monfreda, C., Loh, J., Myers, N., Norgaard, R., & Randers, J. (2002). Tracking the ecological overshoot of the human economy. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 99(14), 9266–9271. https://doi.org/10.1073/pnas.142033699
Wagner, G. G. (2019). Gert G. Wagner recommends “Homo ignorans: Deliberately choosing not to know” by Ralph Hertwig and Christoph Engel. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.
Wright State University Libraries. (2019). 21st century economics: Economic ideas you should read and remember [Katalog perpustakaan]. https://wsuol2.wright.edu/search~S7?/XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7/XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7&SUBKEY=Economics%2FManagement+Science/1%2C1664%2C1664%2CB/frameset&FF=XEconomics%2FManagement+Science&SORT=AX&searchscope=7&3%2C3%2C
Yunus, M. (2007). Creating a world without poverty: Social business and the future of capitalism. PublicAffairs.
Zimbardo, P. (2007). The Lucifer effect: Understanding how good people turn evil. Random House.
Zimmermann, K. F. (2019). Klaus F. Zimmermann recommends “Identity economics: How our identities shape our work, wages, and well-being” by George A. Akerlof and Rachel E. Kranton. In B. S. Frey & C. A. Schaltegger (Eds.), 21st century economics: Economic ideas you should read and remember. Springer.






