halaman drm # 55
Tiga Orang Asing untuk Satu Kemenangan
Dwi R. Muhtaman
Setiap orang ingin menjadi yang terbaik. Setiap kompetisi adalah ajang perebutan menjadi pemenang.
Tidak bagi Aaron Beggs dan Robson De Oliveira. Mereka menghadapi perebutan yang berbeda.
Perebutan keputusan dalam hati nurani.
Setelah hampir tiga jam terus berlari dan garis finis sudah di depan mata, dua pelari rela mengorbankan catatan waktu terbaik pribadi mereka demi menolong seorang peserta yang kelelahan di Boston Marathon.
Aaron Beggs menjadi orang pertama yang berhenti untuk membantu Ajay Haridasse bangkit dari tanah setelah ia terjatuh dan tidak mampu berdiri.
Ketika Haridasse masih kesulitan menjaga keseimbangan, pelari lain, Robson De Oliveira, ikut membantu. Keduanya merangkul Haridasse dan menuntunnya melewati garis finis.
Beggs merupakan anggota North Down Athletic Club di Irlandia Utara. “Benar-benar seorang pria terhormat! Atlet yang luar biasa. Aaron Beggs kami,” tulis klub tersebut dalam unggahan di media sosial.
Dunia belakangan ini terasa begitu sempit.
Setiap pagi, gawai kita menyemburkan kabar buruk seperti air bah yang tak terbendung —perang yang tak kunjung usai, politikus yang saling menghujat, bumi yang semakin panas, dan ketidakpedulian yang merayap seperti api di padang rumput.
Kita nyaris lupa bahwa di sela-sela semua kekacauan itu, masih ada kelembutan yang tersisa. Lalu, ketika kita hampir kehilangan harapan, Boston mengirimkan pengingat: ada setitik cahaya, meski hanya sekilas, setelah badai terburuk sekalipun.
Ajang maraton ini bukanlah ajang biasa. Boston Marathon ke-130 adalah perlombaan lari tertua di dunia yang usianya telah melewati tiga abad.
Pada 20 April itu, kota Boston bagaikan sebuah panggung raksasa. Jutaan pasang mata tertuju pada garis aspal sepanjang 42 kilometer yang membentang dari desa Hopkinton hingga Boylston Street.
Dalam lomba sejauh ini, waktu adalah raja.
Para pelari menghitung setiap detak jantung, setiap hentakan kaki, dan setiap tegukan napas. Target pribadi dipasang tinggi. Impian untuk mencapai garis finis dengan kepala tegak adalah mahkota yang hanya bisa diraih oleh kaki-kaki terkuat.
Namun, takdir berkata lain pada seorang pemuda.
Namanya Ajay Haridasse. Usianya baru 21 tahun.
Sebagai mahasiswa Northeastern University dan penduduk asli Massachusetts, baginya, berlari di Boston bukan sekadar olahraga, itu adalah ziarah pulang. Ini adalah bumi kelahirannya.
Namun, tanpa diduga, sekitar 300 meter dari gerbang surga—tepatnya di tanjakan terakhir menuju Boylston Street—realita berubah menjadi mimpi buruk. Haridasse terjatuh tak lama setelah mencapai jarak 26 mil (41,8 km). Garis finish sudah di depan mata.
Kakinya seperti dicabut dari rongganya. Oksigen terasa menipis. Dan ia pun terjatuh. Berulang kali mencoba bangkit sementara orang-orang di sekitarnya memberi semangat.
Ia mencoba bangkit lagi. Lagi. Dan lagi.
Namun, tubuhnya bagaikan layar perahu yang koyak diterjang angin topan. Setiap kali lututnya menyentuh aspal, dunia di sekelilingnya terus bergerak. Puluhan, bahkan ratusan pasang kaki dari berbagai negara terus melaju, melewati tubuh mungilnya yang tergeletak, mungkin ada yang memandang sekilas, tetapi momentum tidak bisa dihentikan untuk seorang yang jatuh.
“Setelah jatuh untuk keempat kalinya,” kata Ajay kemudian kepada wartawan, “saya pasrah. Saya bersiap untuk merangkak.”
Dia sudah pasrah. Di matanya, mungkin marathon-nya sudah berakhir.
Namun, di detik yang sama ketika dunia seolah menarik garis akhir untuknya, sebuah titik cahaya mulai bergerak dari kejauhan.
Di tengah riuhnya sorak sorai penonton yang tidak melihat apa yang terjadi di balik tikungan, Aaron Beggs sedang berjuang. Pria 40 tahun asal Bangor, County Down, Irlandia Utara ini adalah mantan kopral Angkatan Darat.
Sejak kilometer 20, tubuhnya sendiri sudah berteriak minta ampun. Mual dan kelelahan menyergapnya. Namun, pikirannya melayang pada rekan-rekannya di klub lari North Down Athletic Club yang mungkin tidak akan pernah merasakan kerasnya aspal Boston. Pikiran itulah yang memacunya terus.
Sampai kemudian dia membelok ke Boylston Street.
Saat itulah matanya menangkap sesosok tubuh yang jatuh. Di tengah gemuruh penonton yang memekakkan telinga, Aaron Beggs melakukan sesuatu yang di luar naluri seorang pemburu rekor.
Dia berhenti.
“Saya melihat arloji saya, saya melihat Ajay, dan naluri alami saya hanya satu: angkat dia,” kenang Aaron kepada Al Jazeera.
Dia meraih Ajay, menariknya berdiri, mencoba menstabilkan tubuh yang sudah kehilangan seluruh energinya.
Namun, meski tubuhnya kekar, seorang diri saja tidak cukup. Pemuda itu terlalu lemah.
Saat Aaron mulai sedikit kewalahan, dari belakang, seorang pelari lain mendekat. Ia adalah Robson De Oliveira, warga Brasil. Dunia mungkin tidak akan pernah tahu waktu persis yang dia relakan.
Namun, catatan internal tubuhnya tahu persis: saat itu, dia sedang berada di jalur untuk mencatatkan waktu tercepat dalam kariernya.
Dia melihat Ajay jatuh. Dia melihat Aaron berhenti.
“Saat itu, saya berpikir dalam hati, ‘Tuhan, jika seseorang berhenti, aku juga akan berhenti dan menolongnya’,” tulis Robson kemudian di Instagram.
Dan lihatlah, Tuhan seolah menjawab. Beggs berhenti. Robson pun menghentikan langkahnya.
“Dua orang lebih kuat dari satu,” katanya.
Robson merapat, menyelipkan pundaknya di bawah lengan Ajay. Sebuah aliansi aneh terbentuk: seorang Irlandia Utara di kiri, seorang Brasil di kanan, dan seorang Amerika yang limbung di tengah.
Garis Akhir yang Tak Terlupakan
Mereka bertiga berjalan.
Bukan berlari.
Perlahan, seperti kapal yang kandas di tengah badai, namun tetap berusaha berlabuh. 200 meter. 100 meter. 50 meter.
Saat rombongan kecil ini terlihat oleh tribun penonton, suara gemuruh tidak lagi hanya untuk para pemenang. Sorak-sorai berubah menjadi teriakan penyemangat yang menggema di seluruh jalanan Boston.
Langit Boston yang kelabu sore itu seolah tersinari oleh aksi tiga manusia asing yang memilih untuk menjadi keluarga di garis akhir.
Mereka melewati garis finis bersama.
Di balik garis itu, sementara Ajay langsung ditangani tim medis, Aaron yang tengah diwawancarai hanya tersenyum. Waktu tempuhnya hancur. Target 2 jam 40 menit sirna sudah.
Namun, ia baru saja memenangkan sesuatu yang tidak akan pernah terpampang di papan peringkat mana pun.
“Senang rasanya berbuat baik”
Berbicara dari rumahnya di Bangor pada hari Rabu (22 April), Aaron Beggs mengatakan bahwa dalam sebuah maraton, “ini adalah perjalanan bersama—saling membantu dan saling mendukung.”
“Hal seperti yang saya lakukan kemarin, itu sering terjadi… ini bukan kejadian sekali saja,” lanjutnya begitu rendah hati.
Beggs menambahkan bahwa ia merasakan “kepuasan besar karena bisa menyelesaikan salah satu ajang maraton dunia sekaligus membantu orang lain di sepanjang perjalanan.”
Ia juga menjelaskan bahwa olahraga menyatukan orang, dan apa yang ia lakukan adalah “sesuatu yang sangat sederhana—ini sama sekali bukan hal besar.”
Beggs kemudian mengingat momen ikonik di Triathlon World Series 2016, ketika Alistair Brownlee membantu saudaranya, Jonny Brownlee, melewati garis finis.
Ketika ditanya mengapa dia rela mengorbankan segalanya, Aaron Beggs memberikan jawaban yang—di era media sosial yang penuh kebencian ini—terdengar revolusioner dalam kesederhanaannya.
“Ini naluri bertarung atau lari. Saya memilih bertarung.”
“Ini bukan tentang mengalahkan orang lain. Dalam maraton, kita saling mendukung.”
“Dan senang rasanya berbuat baik.” (“It’s nice to be nice.”)
Begitulah.
Frasa yang sederhana.
Bahkan terdengar norak di telinga yang sudah terbiasa dengan kebencian dan sinisme. Namun, dari situlah kekuatannya berasal.
Dalam sebuah dunia yang hampir tenggelam dalam kepahitan, Ajay Haridasse selamat dari rasa malu karena merangkak sendirian. Robson De Oliveira akan bercerita kepada cucunya di Brasil tentang waktu tercepat yang tidak jadi ia raih.
Dan Aaron Beggs, mantan tentara Irlandia Utara itu, memberikan sebuah luka baru yang indah pada ruh olahraga: sebuah garis finis yang tidak dicapai sendirian.
Kita selalu berteriak ingin melihat keajaiban.
Ternyata, terkadang, keajaiban itu hanya sebuah tangan yang terulur di tengah keramaian yang sibuk.
Seperti oase di gurun pasir berita buruk, momen ini adalah bukti bahwa meski kekacauan terlihat begitu berkuasa, kemanusiaan masih punya satu atau dua pukulan tersisa.
Dan pukulan itu, sayangnya untuk mereka yang suka menyebar kebencian, sungguh sangat mematikan bagi keputusasaan.
Lumajang, 25 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman






