halaman drm # 56
Rumah Puisi:
Kisah Huda Fakhreddine dan Rumah yang Hancur
Dwi R. Muhtaman
Hari ini, Jumat, 17 April 2026, The Guardian menurunkan foto-foto peristiwa kebrutalan zionis aparteid Israel di Lebanon Selatan.1 Gambar-gambar kerusakan dan kepedihan terpapar di depan mata kita.
Hampir satu juga penduduk telah mengungsi. Desa-desa diluluhlantakkan. Berdasarkan laporan terkini per April 2026, militer Israel melakukan penghancuran sistematis terhadap banyak desa dan bangunan di Lebanon Selatan untuk menciptakan zona penyangga keamanan. Berikut adalah beberapa lokasi yang terdampak parah:
- Odaise dan Kafkila: Desa-desa ini mengalami kehancuran total dengan puing-puing berserakan, terletak tepat di depan penghalang beton yang memisahkan Lebanon dari Israel Utara.
- Kfar Tebnit: Sebuah masjid tua dan sejumlah area di pusat desa ini hancur akibat serangan udara Israel.
- Nabatieh: Sebuah pasar di selatan kota ini dilaporkan hancur akibat serangan Israel.
- Al Khiam: Wilayah ini mengalami serangan udara intensif yang menghancurkan rumah-rumah dan pemukiman warga.
- Wilayah Perbatasan: Penghancuran sistematis juga terjadi di banyak desa lain di sepanjang perbatasan yang mengakibatkan gedung dan kawasan permukiman rata dengan tanah.
Konflik ini memanas dengan intensitas serangan yang tinggi, menargetkan wilayah padat penduduk dan menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur. Kebiadaban negara aparteid ini memang bukan yang pertama. Ia mau melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dilakukan terhadap Palestina.
Ini bukan cerita lama. Ini bukan kenangan dari tahun lalu. Ini adalah pagi ini, sore ini, saat Anda membaca kata-kata ini. Di luar sana, di seberang lautan, di negeri yang pernah disebut sebagai “Swiss-nya Timur Tengah,” langit tidak berwarna biru. Langit berwarna abu-abu oleh asap, merah oleh api, dan hitam oleh keputusasaan.
Maret 2026. April 2026. Bukan tahun lalu. Bukan peringatan. Ini adalah berita utama yang seharusnya Anda baca di The Guardian minggu ini, tetapi mungkin tenggelam oleh algoritma media sosial Anda, atau oleh kelelahan Anda terhadap berita buruk yang tak pernah berhenti. Namun biarlah kita berhenti sejenak. Biarlah kita benar-benar melihat.
Di Sidon, kota pesisir selatan Lebanon yang dulu ramai dengan pasar dan pelabuhan kecilnya, seorang gadis kecil berdiri di tengah rumahnya pada 30 Oktober. Tanggal itu memang tahun lalu. Tetapi cerita itu tidak berakhir di Oktober. Cerita itu berlanjut ke Maret, ke April, ke hari ini. Rumahnya hancur, dindingnya berlubang, atapnya lenyap. Namun ia masih berdiri di sana, mungkin karena ia belum mengerti bahwa tempat yang disebut “rumah” bisa dihapus dari peta hanya dalam hitungan detik oleh sebuah bom yang dijatuhkan dari pesawat yang pilotnya tidak akan pernah melihat wajahnya.
Pada 7 Maret 2026, asap membubung dari Tirus, kota pelabuhan kuno yang sejarahnya lebih tua dari Kekaisaran Romawi. Asap itu mengepul dari lokasi serangan udara Israel. Tirus, yang selamat dari pengepungan Alexander Agung, kini tidak bisa selamat dari jet-jet F-35. Beberapa hari sebelumnya, pada 4 Maret, pasukan pertahanan sipil berusaha memadamkan api di sebuah ladang surya dan fasilitas pembangkit listrik di Tirus yang sama. Mereka kalah. Api terlalu besar. Dan bahkan jika mereka berhasil memadamkannya, bom berikutnya akan jatuh besok, atau lusa, atau saat mereka sedang memeluk anak-anak mereka tidur.
Pada 6 Maret, di Sidon lagi, seorang fotografer membidik melalui lubang di jendela yang pecah. Di balik celah itu, petugas darurat dan pasukan keamanan bergegas, tandu di tangan, teriakan di udara. Lubang itu seperti sebuah mata yang tidak bisa berkedip, dipaksa untuk melihat kengerian yang terus berulang.
Sementara itu, di Beirut, stadion olahraga kota Camille Chamoun telah kehilangan semua tawanya. Pada 27 Maret, seorang wanita tua berdiri di samping sebuah tenda di dalam stadion yang kini menjadi kamp pengungsi bagi mereka yang rumahnya telah rata dengan tanah. Punggungnya bungkuk, bukan hanya oleh usia tetapi oleh beban perang yang keempat, kelima, atau keenam yang ia saksikan dalam hidupnya. Ia tidak menangis. Mungkin ia percaya bahwa air mata adalah kemewahan yang tidak bisa ia nikmati lagi.
Pada 8 April, hanya delapan hari yang lalu, sebuah gedung apartemen di Beirut dihantam. Seorang wanita ditemukan terperangkap di antara puing-puing, menunggu diselamatkan. Di lokasi yang sama, seorang wanita lain berdiri, mungkin menunggu kabar tentang suami atau anaknya. Di Tallet el-Khayyat, dekat Corniche al-Mazraa, tim penyelamat bergegas mengevakuasi korban. Tangan-tangan mereka berlumuran debu dan darah. Mereka tidak bertanya apakah korban itu pendukung Hizbullah atau bukan, Sunni atau Syiah, kaya atau miskin. Di bawah reruntuhan, semua perbedaan itu lenyap. Yang tersisa hanyalah daging dan tulang yang sama-sama rapuh.
Pada 11 April, hanya enam hari yang lalu, duka mencapai puncaknya. Di Sidon, 13 petugas keamanan negara tewas dalam serangan Israel. Mereka yang seharusnya melindungi justru menjadi sasaran. Di pemakaman itu, Mohammed, delapan tahun, berlutut di samping peti mati ayahnya, Hussein Makkah. Tubuh kecilnya gemetar. Air matanya mengalir. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya harus pergi. Yang ia tahu hanyalah bahwa ayahnya tidak akan pernah lagi menggendongnya, tidak akan pernah lagi mencium keningnya sebelum tidur.
Di pemakaman yang sama hari itu, peti mati keluarga Al-Jalib—para pengungsi Suriah yang melarikan diri dari satu neraka hanya untuk menemukan neraka lain di Lebanon—dibawa ke desa al-Sour di Deir al-Zour, Suriah timur laut. Mereka mati di Beirut. Mereka dikubur di Suriah. Kematian mereka, seperti kehidupan mereka, adalah pengungsian tanpa akhir.
Pada 30 Maret, di sebuah sekolah yang menjadi tempat penampungan di Tirus, Mustafa Ibrahim al-Sayyed, 50 tahun, dari Beit Lif, duduk di lantai yang dingin, memeluk putrinya. Wajahnya tampak hancur oleh kelelahan, tetapi tangannya tetap lembut membelai rambut putrinya. Ia tidak berbicara. Pelukan itu adalah satu-satunya bahasa yang masih ia kuasai: “Ayah masih di sini. Ayah belum meninggalkanmu. Ayah akan melindungimu selama ia masih bernapas.” Namun di matanya, ada pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan: berapa lama lagi?
Pada 10 April, hanya seminggu yang lalu, para demonstran turun ke jalan di Beirut. Di antara mereka, pendukung Hizbullah meneriakkan slogan-slogan menentang negosiasi antara Israel dan pemerintah Lebanon. Spanduk-spanduk berkibar, suara-suara meninggi, tetapi di balik semua kemarahan itu ada rasa takut yang tak terucapkan: bahwa dunia telah lelah mendengar, bahwa teriakan mereka hanya akan bergema di ruang hampa.
Dan di sekolah menengah Jaafareya di Beirut, pada 27 Maret, seorang wanita dari Majdal Zoun—sebuah desa di Lebanon selatan yang telah menjadi saksi bisu perputaran perang selama beberapa generasi—berdiri di antara tempat tidur darurat. Ia memegang sebuah kantong plastik kecil. Itu adalah semua yang tersisa dari hidupnya. Wajahnya tenang, tetapi matanya—matanya menjerit dengan suara yang tidak bisa didengar oleh mereka yang tidak mau mendengar.
Ini bukan cerita lama. Ini bukan dokumentasi sejarah. Ini adalah hari ini. Saat Anda duduk di kafe, di ruang tamu, di kereta menuju kantor, di saat yang sama di Lebanon, seorang ayah memeluk putrinya di sebuah sekolah yang dingin, seorang anak laki-laki menangis di samping peti mati, seorang wanita tua menatap tenda di stadion yang dulu penuh tawa.
The Guardian melaporkannya. Fotografer membidiknya. Jurnalis menulisnya. Tetapi laporan dan foto dan artikel tidak cukup untuk menghentikan bom berikutnya. Satu-satunya yang bisa menghentikan bom berikutnya adalah kita—kita yang masih bisa marah, kita yang masih bisa menolak untuk berpaling, kita yang masih percaya bahwa kehidupan seorang gadis kecil di Sidon sama berharganya dengan kehidupan siapa pun di mana pun.
Karena jika tidak, maka suatu hari nanti, anak-anak kita akan bertanya: “Di mana kalian ketika Lebanon terbakar pada 2026?” Dan kita harus siap menjawab, apakah dengan rasa malu atau dengan kebanggaan, tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini.
Huda Fakhreddine
Sementara kebiadaban Israel tak pernah jeda, The Key, sebuah publikasi daring baru yang berfokus pada analisis berkualitas tinggi, wawancara, esai, ulasan, dan liputan jurnalistik tentang Palestina, menurunkan artikel tentang rumah keluarga Huda Fakhreddine di Lebanon Selatan, di sebuah desa yang kini hidup di bawah teror bom Israel.2 Artikel yang berjudul A House of Poetry ini ditulis sendiri oleh Huda Fakhreddine.3
Menurut Redaksi edisi 16 April 2026 berfokus pada perluasan kampanye genosida Israel ke Lebanon melalui refleksi indah Huda Fakhreddine tentang rumah dan sejarah keluarganya: “Rumah kami yang dihilangkan di Lebanon Selatan pada musim gugur 2024 bukanlah sekadar rumah, melainkan mimpi tentang sebuah rumah.”
“Terakhir kali saya melihat rumah kami di Selatan adalah pada Juli 2025. Kami mengunjungi Lebanon sebentar dan melakukan perjalanan sehari untuk memeriksa pembangunan yang masih berlangsung. Orang tuaku sedang terburu-buru membangunnya kembali setelah rumah itu dihancurkan bagian dalamnya oleh dua roket Israel pada November 2024. Kami berjalan menaiki tangga melewati tengah rumah yang telah dilubangi itu. Semua dinding masih runtuh. Saat itu hari yang cerah. Kami semua berdiri di sekeliling. Tidak ada tempat untuk duduk. Kami tahu kunjungan itu harus singkat. Dengung drone melayang di atas kami.”
Huda J. Fakhreddine adalah seorang cendekiawan sastra Arab, penerjemah, penulis, dan aktivis politik Lebanon-Amerika yang dikenal atas karyanya dalam bidang puisi Arab modern.4 Saat ini ia menjabat sebagai Associate Professor of Arabic Literature di University of Pennsylvania.5 6
Fakhreddine lahir dan besar di Lebanon. Ia meraih gelar Bachelor of Arts dalam Sastra Inggris pada tahun 2002 dan gelar Master of Arts dalam Sastra Inggris pada tahun 2004 dari American University of Beirut. Ia kemudian menyelesaikan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam Near Eastern Languages and Cultures di Indiana University Bloomington pada tahun 2011. Disertasi doktoralnya berfokus pada metapoesis dalam tradisi sastra Arab.7
Ia melanjutkan menulis: “Putri saya yang berusia 13 tahun, Samaa, yang lahir di Vermont dan dibesarkan di Philadelphia, juga menganggap rumah desa itu sebagai rumahnya. Ia sangat terpukul oleh kehancuran itu. Saya berharap ini akan menjadi pengalaman terdekatnya dengan perang. Ia berjalan ke kebun. Saya melihatnya berbalik menghadap lembah dan menatap ke arah Palestina, tanah ayahnya. Ia hanya pernah ke sana sekali. Ia pernah dihentikan di perbatasan dan ditahan di pos pemeriksaan. Ia tahu apa artinya menjadi seorang Palestina.”
“Tiba-tiba, ia berteriak, “Bu! Tolong!” Kami berlari menghampirinya. Wajahnya pucat, dan ia memegang teleponnya di telapak tangan seolah tangannya terbakar. Layar itu menampilkan: “Selamat datang di Israel. Anda sekarang dapat menikmati data tanpa batas.” Hati kami tenggelam. Bumi seakan runtuh di bawah kaki kami. Kami berdiri membeku sampai Hasan, pemuda yang merawat kebun saat orang tuaku tidak ada, berkata, “Lihat di sana.” Ia menunjuk ke desanya di seberang bukit. “Kau lihat menara penerima itu? Mereka baru saja memasangnya baru-baru ini. Sekarang kami mendapatkan sinyal ponsel mereka. Pasti paket internetmu dari Amerika. Mereka mengambil tanah ini sejengkal demi sejengkal sementara kita tidur.” Hasan tahu bahwa pada akhirnya mereka akan datang untuk merebut tanah itu di siang bolong, seperti yang telah mereka lakukan berkali-kali sebelumnya. Kabar mengatakan desanya sekarang menjadi salah satu desa yang diratakan dengan tanah.”
“Wajah putri saya pada saat itu akan menghantui saya selamanya. Ia pikir ia ada di sana untuk menyaksikan pembangunan kembali rumah kakeknya, bukan untuk menyaksikan kengerian pendudukan secara langsung. Monster-monster itu datang lagi untuk rumah kakeknya. Mereka datang melalui teleponnya.”
Sebagai seorang spesialis sastra Arab, Fakhreddine telah menulis dan menyunting sejumlah buku. Karya pertamanya, Metapoesis in the Arabic Tradition (Brill, 2015), mengeksplorasi bagaimana penyair Arab secara historis merenungkan tentang puisi itu sendiri. Karya keduanya, The Arabic Prose Poem: Poetic Theory and Practice (Edinburgh University Press, 2021), menganalisis perkembangan puisi prosa Arab sebagai bentuk modernis.
Ia juga menjadi salah satu editor dari The Routledge Handbook of Arabic Poetry (2023).8 9 Selain karya akademisnya, Fakhreddine juga aktif sebagai penerjemah. Ia menerjemahkan sejumlah karya puisi, termasuk Lighthouse for the Drowning (2017) dan The Sky That Denied Me (2020), yang merupakan kumpulan puisi karya ayahnya, Jawdat Fakhreddine, seorang penyair dan profesor sastra Arab ternama. 10 11 Karya kreatifnya dalam bahasa Arab meliputi buku non-fiksi kreatif berjudul Zaman saghir taht shams thaniya (A Brief Time Under a Different Sun, 2019) dan kumpulan puisi berjudul Wa min thamma al-‘alam (And Then the World, 2025). 12 13
Ia juga menjabat sebagai salah satu pemimpin redaksi jurnal Middle Eastern Literatures dan editor untuk Library of Arabic Literature.14
“Rumah yang kami hilangkan di Lebanon Selatan pada musim gugur 2024 bukanlah sekadar rumah, melainkan mimpi tentang sebuah rumah,” tulisnya mengenang begitu dalam.
“Ia selalu dalam proses menjadi, tumbuh seperti pohon. Sejak orang tuaku pertama kali memimpikannya pada tahun 1985, ia naik dan turun ke mana pun arah angin perang bertiup. Ia terletak di tengah kebun ara kuno di atas tanah yang disebut penduduk desa sebagai “atap” (al-sath), sebuah lereng di bahu bukit. Ke mana pun kau memandang, langit terasa terjangkau, dan bukit-bukit Jabal Amil bergulung menjadi desa-desa yang tersebar, pohon-pohon ek tua, dan kebun-kebun zaitun. Kau bisa melihat sejauh mata memandang ke segala arah. Pemandangan terindah adalah ke tenggara, menuju Gunung Hermon, yang terbungkus jubah putihnya, saat angin sejuk yang segar membawa pandanganmu ke Palestina.”
Dan ke timur,
jauh di sana, di balik bukit dan desa,
tanah berakhir di Gunung Hermon.
Mereka berkata: Dialah Sang Syeikh. Ia tahu apa yang mengelilinginya.
Ia mengamati seperti seorang tetua, kepala yang telah beruban oleh tahun.
Di musim dingin, ia memakai mahkota saljunya. Di musim panas, ia meringankan
dan melonggarkan serbannya untuk memberi makan mata air-mata air.
Tanpa penutup kepala, ia muncul dari antara bukit dan desa.
Balkon kami menghadap Hermon sehingga pagi yang terbit di atas puncaknya
akan masuk ke rumah kami, sebuah fajar, putih seperti serban musim dinginnya.
Ia berlama-lama, dalam kebersamaan kami, dan teguh,
menghilang ke langit tanpa batas.
…dan Selatan kami mengarah ke Palestina.
Banyak balkon bersinar seperti kilat melintasi tahun-tahun:
satu untuk kenangan, satu untuk kekhawatiran,
satu untuk semua makna yang bermigrasi lalu kembali,
dan terus bermigrasi dan kembali…
dan di atas semuanya, hantu legenda-legenda,
terbawa bolak-balik oleh angin selatan.
— Dari “Geometri” (Geometry, 2021) karya Jawdat Fakhreddine 15
Fakhreddine dikenal sebagai aktivis yang vokal dalam mendukung hak-hak Palestina ini melanjutkan, “Orang tuaku, Latifa dan Jawdat, bertemu di pertengahan 1970-an, tepat setelah meletusnya perang saudara di Lebanon. Ia, seorang mahasiswa filsafat, dan ia, seorang penyair yang sedang berkembang, memulai karier di bidang pendidikan dan diangkat menjadi guru di sistem sekolah negeri Lebanon. Ketika mereka menikah pada tahun 1980, mereka menyewa sebuah apartemen di sebuah gedung di jalan yang dipohon-pohon di al-Rouwais, pinggiran selatan Beirut. Saat itu, kawasan itu bukanlah benteng siapa pun. Tidak ada prasangka yang muncul ketika kau menyebut nama jalan itu — tidak ada stereotip, tidak ada afiliasi. Itu adalah lingkungan yang sedang berkembang, dengan beberapa vila tua dan kebun yang terawat indah milik keluarga-keluarga ternama di daerah itu.”
“Apartemen itu berada di lantai enam,” katanya, “dan kau bisa melihat sampai ke Ba’abda, sebuah kota di bahu Gunung Lebanon. Di rumah inilah saya dibawa kembali ketika saya lahir pada tahun 1981. Saya tidak memiliki ingatan tentang apartemen itu. Kemudian saya diberi tahu bahwa saya memiliki sebuah kamar di sana, sebuah kamar bayi.”
“Tak lama setelah saya lahir, sebuah bom mobil meledak di jalan di bawah, dan banyak apartemen, termasuk apartemen kami, terbakar dan menjadi tidak layak huni. Beberapa bulan kemudian, sebuah roket jatuh di salah satu kamar tidur. Beruntung, Latifa dan Jawdat serta bayi mereka sedang mengunjungi keluarga di Selatan.”
“Mereka meninggalkan kehidupan singkat mereka di sana dan menghabiskan dekade berikutnya di rumah-rumah pinjaman: apartemen kerabat, dan waktu yang lama di rumah orang tua mereka — rumah ibunya di ‘Ankoun, di atas Saida, dan rumah ayahnya di Soultanieh, lebih jauh ke selatan. Adik laki-laki saya, Ali (lahir dua tahun setelah saya), dan saya bepergian bersama mereka melintasi Lebanon yang terbakar selama dekade pertama kehidupan kami.”
“Ketika perpecahan Timur–Barat mengeras pada 1980-an, orang tuaku memindahkan tugas mengajar mereka ke Selatan. Mereka tinggal di rumah kakek-nenek saya di al-Soultanieh. Ibuku mengajar di sekolah desa; ayahku di sebuah sekolah menengah di Tibneen, kota terdekat. Mereka hanya mampu tinggal jauh dari Beirut selama beberapa tahun. Pada akhirnya mereka kembali tinggal di rumah-rumah pinjaman dan mengajar di kota, tetapi mereka tahu bahwa desa akan selalu menjadi tempat pertama dan terakhir. Mereka membayangkan kehidupan sebagai sebuah lingkaran dan memutuskan untuk membangun sebuah rumah sebagai pusatnya. Pada tahun 1985, ayahku meminta sebidang tanah di puncak gunung kepada ayahnya, dan orang tuaku mulai — sangat lambat, sesuai kemampuan dua gaji guru negeri — membangun rumah itu.”
Mari kita mulai dengan awan yang lewat
dan biarkan naungannya menjadi sebuah tenda.
Makhluk-makhluk kebun akan mencari perlindungan di dalamnya,
dan ia akan terbentang luas. Tak apa jika ia robek.
Langit-langit kecil akan terbuka di atapnya.
Tenda itu bukan lagi tabir tetapi ruang,
ruang yang kita gambar,
yang tepinya kita tentukan dan kita pagari
dengan kesadaran kita yang bingung.
…
Kita menyediakan tempat untuk puisi di kamar-kamar dan jendela-jendela rumah kita:
semua jendela, semua kamar.
Namun puisi mengambil lebih banyak ruang daripada yang kita sediakan untuknya.
Ia mengajarkan kita bahwa makna berdiam itu abadi,
menjadi manis dan tumbuh luar biasa,
ketika berdiam, sebagiannya, adalah gairah.
— Dari “Geometri” (Geometry, 2021) karya Jawdat Fakhreddine 16
“Tumbuh besar di Lebanon di masa perang saudara, berpindah dari satu rumah pinjaman ke rumah pinjaman lainnya di Beirut, saya dan adikku Ali tidak terluka, atau begitulah kami pikir. Perasaan terus-menerus terusir tidak meresap (setidaknya tidak sampai jauh kemudian), karena hanya itu yang kami tahu. Kami merasa terhibur oleh gagasan bahwa kami memiliki sebuah rumah. Rumah itu belum ada, tetapi ia sedang menjadi, mengambil bentuk saat kami tidur, muncul dari dalam tanah, merentangkan balkon-balkon, menumbuhkan dinding-dinding, dan jendela-jendela yang tersenyum.”
“Kami tidak pernah terganggu oleh ruang-ruang sempit di mana kami berada — pakaian orang lain di lemari, lemari yang tidak boleh kami buka karena itu “bukan milik kami.” Kami tidak keberatan bahwa apartemen-apartemen tempat kami menghabiskan masa kecil semuanya sementara, karena kami memiliki sebuah rumah, milik kami sendiri, seluas mimpi-mimpi kami tentangnya. Kami menyebutnya “rumah atap” — bayt al-sath, rumah kami di desa.”
“Saat itu dini hari di bulan November 2024. Pasti sangat dini karena ibuku sedang mengalami jet lag dan cemas. Ia mungkin tidak tidur sama sekali, menunggu waktu yang tepat untuk menelepon. Latifa dan Jawdat mendapati diri mereka, hampir di luar kehendak mereka, di Philadelphia Barat. Dua tahun memasuki genosida di Gaza, Israel sedang menyelesaikan urusannya di Lebanon, meratakan pinggiran selatan Beirut dan meningkatkan agresinya di Selatan. Saat itu, orang tuaku telah selamat dari 15 tahun Perang Saudara Lebanon, invasi dan serbuan Israel yang tak terhitung jumlahnya, operasi skala besar dan skala kecil, naik turunnya sebuah negara yang berada dalam genggaman sejarah.”
“Pada awal 2000-an, mereka tinggal di sebuah apartemen di Hamra, dekat Universitas Amerika Beirut, tempat adik laki-lakiku Mohammad dan aku bersekolah, dan tempat ayahku, setelah pensiun dari Universitas Lebanon, mengajar paruh waktu. Mereka berhasil melawan segala rintangan — rintangan yang sama yang dihadapi setiap keluarga Lebanon — mereka berhasil membangun kehidupan dan membangunnya kembali lagi dan lagi.”
“Pada November 2024, saya dan saudara-saudaraku meyakinkan mereka untuk pergi sementara waktu. Mereka tidak berkemas untuk tinggal lama. Saya pikir mereka sengaja memastikan bahwa waktu mereka jauh dari Beirut akan terasa tidak nyaman — tidak mungkin dalam jangka panjang, pasti akan segera berakhir. Ia membawa obat hanya untuk seminggu. Ia jarang duduk, selalu mondar-mandir. Dan berita… Mereka selalu ingin mendengar berita.”
“Saat itu dini hari di Philadelphia, dan ibuku menunggu waktu yang tepat untuk menelepon. Malam sebelumnya, kami mendapat kabar bahwa rumah di Selatan telah terkena serangan. Saat itu, rumah itu akhirnya selesai sepenuhnya; sebelum genosida dimulai, Jawdat dan Latifa, yang keduanya sudah pensiun, mulai membayangkan tinggal di sana sepenuh waktu. Saya mencari-cari foto di akun media sosial kerabat. Ayahku akhirnya duduk. Ibuku mencoba menenangkan ketakutannya: “Rumah itu pernah terkena serangan sebelumnya. Mungkin kerusakannya kecil. Mungkin roketnya jatuh di kebun. Mungkin hanya kacanya. Lagipula kita sudah tahu tidak akan ada kaca.” Ia terus seperti ini. Saya tidak menemukan apa pun — tidak ada foto, tidak ada kabar. Kami memutuskan untuk bangun pagi dan menelepon penggembala, Mustafa. Dialah yang akan tahu.”
“November itu, semua orang kecuali Mustafa telah meninggalkan desa. Istri dan anak-anaknya juga telah pergi, tetapi ia tinggal bersama domba-dombanya. Ia juga memiliki beberapa kambing. Mustafa adalah penggembala desa; ayahnya juga penggembala sebelumnya. Di musim panas dan akhir pekan di desa, saya ingat hampir setiap sore melihatnya dari balkon kami, berjalan bersama kawanan ternak melintasi lembah. Ia tidak terburu-buru, kadang berseru ke belakang kepada seekor domba yang terpisah tanpa menoleh. Ia tahu bahwa begitu ia mulai berjalan, mereka akan mengikuti. Ia berjalan melintasi tanah, melompati dinding-dinding batu, dan membiarkan domba-domba itu mencari jalannya sendiri. Kambing-kambing itu selalu tahu apa yang harus dilakukan. Melihatnya dari balkon, saya pikir Mustafa tampak abadi, meskipun saya tahu usianya hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Saya memiliki kilasan bermain dengannya saat masih anak-anak, ketika orang tuaku tinggal di desa. Ibuku kadang meninggalkanku dengan ibunya. Semua kakak laki-lakinya adalah murid ibuku di sekolah desa. Saya tidak ingat banyak tentang kami saat kecil, kecuali ikal keriting keemasannya dan aroma tanah serta kotoran kambing yang tajam di halaman belakang rumah mereka.”
Mustafa memiliki ponsel yang kadang mendapatkan sinyal, meskipun tidak saat ia sedang bersama domba-dombanya. Kami menelepon sekali. Tidak ada jawaban. Kami menelepon lagi. Ia mengangkat telepon.
“Selamat pagi,” kataku. “Tuan Mustafa? Saya putri Jawdat Fakhreddine. Kami mendengar rumah itu terkena serangan. Apakah Bapak baru saja lewat?”
Ia belum tahu, tetapi ia berjanji akan memeriksanya lain kali ia keluar.
“Jika saya tidak mengangkat telepon,” katanya, “itu berarti saya tidak mendapatkan sinyal atau saya terlalu gugup untuk berbicara.”
Lalu ia menutup telepon.
“Dua hari kemudian, kami menerima empat foto: Foto pertama menunjukkan bagian depan rumah. Tampaknya masih utuh, kecuali pintu-pintu kaca yang hancur. Ibuku menghela napas. Lalu foto kedua dari samping — tidak ada yang aneh. Foto ketiga dan keempat menunjukkan sebuah rumah yang hancur bagian dalamnya. Dua roket telah menembusnya. Melintasinya. Fasadnya masih berdiri, tetapi segalanya telah runtuh. Hanya satu sudut ruang tamu lantai atas yang secara ajaib masih utuh: perpustakaan. Ia berdiri di tengah ketiadaan. Lantai di bawahnya tertahan oleh suatu keajaiban rekayasa; langit-langitnya kini terbuka ke angkasa.”
“Ini adalah perpustakaan kami yang sesungguhnya. Semua perpustakaan sementara lainnya di Beirut tidak pernah bisa menandinginya. Segala sesuatu yang dimaksudkan untuk dilindungi dari waktu dan perang telah dikirim ke sana: surat-surat, foto-foto, buku-buku yang lebih penting daripada buku-buku lainnya, dokumen keluarga, dan harta-harta kecil lainnya. Kini, di Philadelphia, orang tuaku dan aku memperbesar dan memperkecil foto-foto, memutar video maju dan mundur di ponsel kami, memeriksa puing-puing dari semua yang paling kami sayangi — puing-puing dari tempat yang kami kira akan selalu ada melawan Waktu.
Ketika gencatan senjata diumumkan di Lebanon pada 26 November 2024, orang tuaku sudah berada di pesawat kembali keesokan harinya. Tidak ada cara untuk meyakinkan mereka menunggu, tidak ada cara untuk mengingatkan mereka apa arti sebenarnya gencatan senjata dengan monster-monster. Mereka tidak bisa tinggal diam. Mereka memiliki reruntuhan yang harus mereka injak, mereka periksa, mereka ratapi sebentar, lalu mereka perbaiki kembali secepat mungkin.”
“Selama berbulan-bulan setelah itu, saat pesawat-pesawat tempur berputar-putar di atas desa-desa di Selatan, tumpukan puing yang kami cintai itu berubah menjadi lokasi konstruksi. Ayahku tidak bisa tidur sampai setidaknya satu langit-langit selesai dibangun. Rumah dua lantai itu akan menyusut. Ia akan berdiri lebih kecil dari sebelumnya, tetapi ia akan ada melawan segala rintangan. Orang tuaku, yang kehilangan semua tabungan mereka akibat keruntuhan perbankan di Lebanon, mengumpulkan semua yang mereka miliki — semua uang tunai yang diizinkan untuk mereka tarik sedikit demi sedikit dari ATM, semua uang yang mereka hasilkan dari mengajar paruh waktu ayahku di Universitas Amerika Beirut, semua uang tunai yang tersembunyi di antara buku-buku di perpustakaan di apartemen di Beirut dikeluarkan, dari laci-laci, dari koper-koper tua. Semuanya digunakan untuk membangun kembali apa yang mereka bisa. Setiap akhir pekan, melawan desakan kami dari AS dan melawan pertimbangan yang lebih baik, mereka mengemudi ke desa untuk memeriksa pekerjaan dan membayar tagihan, bahkan ketika serangan udara Israel terus membombardir jalan-jalan dan desa-desa.”
Fakhreddine adalah salah satu penyelenggara dan pembicara dalam Palestine Writes Literature Festival di Philadelphia, satu-satunya festival sastra di Amerika Utara yang didedikasikan untuk penulis dan seniman Palestina.
Tulisan-tulisannya sering kali memuat kritik tajam terhadap Israel, terutama dalam konteks Gaza dan Tepi Barat. Ia juga menyatakan solidaritas dengan gerakan perlawanan Palestina. 17
Fakhreddine menikah dengan Ahmad Almallah, seorang seniman yang menjadi artist in residence di University of Pennsylvania. Bersama putrinya, Samaa, dan suaminya, ia menerjemahkan dan menerbitkan Thirty Poems for Children (2021), sebuah kumpulan puisi karya ayahnya.18
“Orang-orang di desa kami mengatakan pohon ara tidak pernah mati. Sebelum pohon induknya benar-benar layu, setidaknya tiga atau empat tunas baru muncul di akarnya. Salah satunya pasti akan mengambil alih, tumbuh seperti induknya, batangnya membungkuk ke arah yang sama, cabang-cabangnya menelusuri cabang-cabang induknya di udara. Rumah kami pasti telah belajar cara pohon ara. Ia telah terkena serangan berkali-kali sebelumnya selama invasi Israel, baik besar maupun kecil, tetapi kerusakannya selalu relatif kecil: jendela, dinding, balkon yang runtuh, sumur yang rusak. Tetapi kali ini, rumah itu rata dengan tanah. Saya khawatir ia tidak akan punya waktu untuk merencanakan kebangkitannya. Saya khawatir udara di tempat ia berdiri akan melepaskan ingatannya sebelum orang tuaku memiliki cukup waktu dan sumber daya untuk membantunya berdiri lagi.”
Dan genosida di Gaza terus berkecamuk, dan dalam bayang-bayangnya, penghancuran sistematis Lebanon Selatan. Percakapan dengan keluarga yang tersebar di seluruh dunia — bibi, paman, dan sepupu di California, Texas, Kanada, dan Eropa — berubah menjadi putaran tawar-menawar yang absurd. Apakah mereka akan menyerang rumah yang sama dua kali? Apakah konstruksi yang terlihat akan menjadikannya sasaran? Apakah menulis tentangnya, memposting tentangnya, akan melakukan hal yang sama? Paranoia itu beralasan. Tentara Israel dibiarkan melakukan segala sesuatu di Gaza selama tiga tahun sekarang, dan di Lebanon, drone-drone jahat mereka menjelajah sepanjang dan selebar negara itu dan menargetkan siapa pun, di mana pun, dengan alasan yang jelas atau tidak. Namun, pada Januari 2026, rumah kami sudah memiliki dinding, langit-langit, jendela, dan pintu. Ia bangkit kembali. Kami masih percaya bahwa kami akan segera kembali.
Saya menelepon bibiku ketika ia melarikan diri dari desa. Fatima telah tinggal lebih dari 20 tahun di AS dan akhirnya kembali ke rumah dan membangun rumah yang indah dengan pemandangan yang luas dan kebun impiannya. Dari balkonnya, ia bisa melihat rumah kami — rumah kakak laki-lakinya — di seberang lembah. Seperti itulah kami membayangkan musim panas kami: berbulan-bulan yang lambat bersama di tempat yang mengenal kami seperti kami mengenal diri kami sendiri.
Ketika bom-bom Israel mulai jatuh terlalu dekat pada 2 Maret, Fatima dengan enggan masuk ke mobilnya dengan membawa pisang dan sebotol air dan mulai mengemudi ke utara menuju Beirut. Orang tuaku menunggunya di apartemen mereka di kota. Memeriksa kabar melalui pesan singkat dari Philadelphia, saya merasa lega ia telah pergi. Ia memperkirakan perjalanan mobil akan memakan waktu lebih lama dari biasanya dua jam karena banyak orang lain juga melarikan diri, tetapi tidak seorang pun dari kami membayangkan bahwa ia akan membutuhkan waktu 22 jam untuk sampai ke Saida. Ia menyerah 45 menit di selatan Beirut, bermalam di rumah seorang kerabat, dan menyelesaikan perjalanan keesokan harinya.
Sejak ia pergi, tidak ada yang tersisa di desa untuk memberi tahu kami tentang rumah itu. Kami mendengar bahwa bahkan Mustafa akhirnya pergi. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan kawanan ternaknya. Baru-baru ini saya melihat cerita tentang kawanan domba yang ditinggalkan yang berhasil sampai ke Saida. Itu pasti bukan kawanannya; desa kami terlalu jauh ke selatan — tetapi saya senang mereka memiliki naluri untuk bergerak ke arah yang benar.
Setiap hari sekarang, saat Israel melanjutkan amukan penghancurannya, genosidanya yang meluas, kami menonton dan menunggu. Lebanon Selatan telah terputus. Jembatan-jembatan telah runtuh. Desa-desa perbatasan diduduki. “Berapa kilometer yang kira-kira telah mereka ambil hari ini?” tanya saudaraku Ali kepadaku. “Apakah kita akan pernah bisa kembali?” Saya tidak tahu harus menjawab apa.
Saya memikirkan Gaza. Saya memikirkan kunci-kunci Palestina yang disimpan erat selama 78 tahun. Saya memikirkan pemuda-pemuda Palestina yang saya temui di kamp-kamp pengungsi di Lebanon yang masih membawa aksen kakek-nenek mereka yang diusir dari desa-desa — beberapa diduduki, beberapa dihapus seluruhnya. Saya memikirkan para pengungsi di Tepi Barat dan di seluruh Palestina bersejarah, para pengungsi di tanah mereka sendiri, yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah mereka, namun sejauh mungkin. Apakah kita akan pernah kembali?
Sejarah tangisan di atas reruntuhan telah memberi kita sebuah bahasa. Ia telah mengajarkan kita untuk mengubah tempat-tempat yang dicintai menjadi portal-portal dalam waktu. Ketika seorang penyair menangis, sebuah dunia diundang untuk hadir — sebuah dunia yang penuh dengan mereka yang telah pergi dan tempat-tempat yang tak lagi ada, tetapi itu adalah dunia yang memaksakan dirinya untuk ada. Begitu tangisan dimulai dalam bahasa, sesuatu terbentuk dan bergerak maju. Apakah itu sebuah kepulangan? Sebuah perjalanan ke arah baru? Sebuah lingkaran atau garis? Saya tidak tahu.
Aku kembali kepada “Puisi, Dirinya Sendiri,” sebuah puisi yang kudengar dibacakan ayahku di pembacaan puisi sejak kecil, sebuah puisi yang terus ia tulis, sebuah puisi yang terus aku kembali. Puisi itu dimulai seperti ini:
Kita kembali kepada puisi, dirinya sendiri,
puisi, yang takdir kita kepadanya.
Kita mandi dalam apinya, kita mengintip
lewat baris-barisnya, satu demi satu,
seolah-olah ia dibangun untuk melindungi kita
dari kobaran diri kita sendiri.
Kita kembali kepada puisi, puisi lagi,
dan kita menatap ke dalam kekosongan yang tak dapat diisi oleh apa pun,
tak dapat dinyalakan oleh apa pun.
Kita melepaskan bahasa yang terkubur,
melanggar perbendaharaan kesalehan,
dan berjalan menuju rahasia yang kita sebut hasrat kita,
rahasia tersembunyi yang menarik kita menuju kematian,
dan mengirim kita mengembara ke dalam kelupaan kenabian.
Gema apa yang kembali?
Apa yang mengguncang ikatan waktu yang terbelenggu?
Kilatan apa yang mengganggu kesadaran kita sejenak,
sehingga bumi yang dekat dan bumi yang jauh
bergetar di sekitar kita dan mengusir mimpi-mimpi kita yang terjaga?
Kita menemukan jalan kita dan kehilangan diri kita sendiri.
Inilah kita, lagi dan lagi:
sebuah kegelisahan yang dengannya kita mengguncang zaman,
mencabik-cabiknya menjadi kain-kain usang,
dan tetap menjadi benangnya,
sebuah kegelisahan yang membimbing kita
seolah-olah kita adalah kelelahan Waktu itu sendiri,
Waktu yang melelahkan dirinya, terbaring diam dan terbebani,
atau mengejutkan dirinya dan terbangun, menyapu bersih tahun-tahun kita,
anak-anaknya yang mati.
Inilah kita, lagi dan lagi.
Kita melawan. Kita berlindung dalam badai yang akan datang.
Kita terus melupakan kegagapan kita yang menderita,
berkobar di puncak-puncak zaman.
Kita melupakannya terbakar
di puncak-puncak zaman…
— Dari “Puisi, Dirinya Sendiri” (The Poem Itself, 1984) karya Jawdat Fakhreddine 19
“Selatan kami mengarah ke Palestina,” dan ia akan selalu begitu. Ia telah menjadi pintu masuknya, dan bagian dari jalannya, selama berabad-abad. Tanah tidak mengenal batas. Ada pohon-pohon Lebanon yang akar hidupnya masih di Palestina, dan batu-batu di Galilea yang mengingat tangan-tangan yang membawanya dari Lebanon Selatan. Mereka mengingat bukit-bukit Jabal Amil, ibu mereka. Tanah tidak mengenal batas dan tidak mengakui rencana Amerika. Kami akan selalu memiliki rumah kami di Selatan — sebuah rumah dan mimpi tentang sebuah rumah — selalu dalam proses menjadi, tumbuh seperti pohon. Ia memiliki balkon tempat Gunung Hermon datang berkunjung, dari mana kau dapat melihat sejauh pandanganmu, ke segala arah. Dan pemandangan terindah dari semuanya adalah ketika angin sejuk yang bebas dan segar membawamu ke Palestina.
Sejak Israel melanjutkan kampanye pemusnahannya di Lebanon Selatan pada 2 Maret, saya terus bertanya-tanya apa yang dilakukan seseorang dengan kawanan domba selama genosida, sampai ibuku meneruskan sebuah video WhatsApp. Video itu diberi label “diteruskan berkali-kali.” Satu seluruh desa membagikannya, memutarnya, dan memutarnya lagi.
Video itu direkam dari kursi penumpang sebuah truk yang mengikuti dua truk lainnya. Kau dapat melihat kawanan campuran kambing dan domba yang berdesakan, berenang di atas satu sama lain saat truk di depan bergoyang dan berayun. Seekor kambing putih kecil menyembulkan kepalanya dari samping.
Rekaman itu mengikuti iring-iringan truk dalam eksodusnya dari Soultanieh, melewati toko Bashir, tempat kami biasa membeli permen segala warna di musim panas, lalu melewati rumah bibi buyutku Yusra, pohon-pohon pinus tuanya mengintip di balik dinding batu. Truk-truk itu kemudian berbelok menuju baydar — dulu tempat perontokan desa dan kini menjadi taman umum. Lalu belok kiri ke jalan utama, tanjakan, melewati rumah Haji Ismail, rumah bibi buyutku yang lain, Umm Salah, rumah Umm Fady, lalu rumah walikota.
Di suatu tempat di sepanjang jalan itu, seekor anjing muncul, berlari di belakang truk yang sarat domba, seolah memohon untuk dibawa serta. Truk terus melaju dengan mantap. Anjing itu mengikuti, menyerah, namun berniat mengantar kawanan itu, terus membuntuti truk.
Sebelum iring-iringan itu berbelok lagi menuju jalan menuju Beirut, kambing kecil nakal yang tadi mengintip dari samping itu tergelincir dan jatuh. Tubuhnya membentur aspal dan meringkuk. Pria yang merekam berkata, “Itu sudah mati.” Pengemudi menjawab, “Orang-orang di belakang kita akan mengambilnya,” dan mereka terus melaju. Video itu terputus. Kambing di pinggir jalan. Anjing di belakang iring-iringan dalam keputusasaan.
Ini adalah adegan terakhir dari Soultanieh: Mustafa dan kawanannya, yang terakhir dari penduduk desa. Apakah kambing itu diambil? Akankah anjing itu menemukan penghiburan karena kenyataan bahwa ia tidak sendirian? Ia akan segera menyadari bahwa ia telah ditinggalkan; ia akan kelaparan di desa tanpa manusia. Apakah temannya mati atau hidup, pada saat itu tidak akan terlalu berarti.
Lumajang-Surabaya, 26 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
1 https://www.theguardian.com/world/gallery/2026/apr/17/lebanon-beirut-israel-airstrikes-images-photos-gallery-in-pictures
2 The Key akan meliput Palestina sebagaimana seharusnya: sebagai isu inti yang berada di jantung dunia modern.
The Key akan mengkaji dan mengungkap, minggu demi minggu, dampak global dari penjajahan yang terus berlangsung atas Palestina dan dukungan Barat terhadap Israel. The Key akan menerbitkan, mengulas, dan mengkritisi tulisan-tulisan penting terbaru yang berasal dari dan tentang Palestina. The Key, sepotong demi sepotong, akan memetakan dan menganalisis pertempuran yang terjadi di seluruh dunia atas nama Palestina: dari institusi budaya hingga sumber daya fisik, dari persaingan gagasan hingga penaklukan tanah.
The Key akan menjadi rumah bagi para jurnalis yang karya tulisnya ditolak (dicekal/dihentikan) di media-media arus utama. Jika Anda memiliki sebuah cerita, kirimkan surel kepada kami. The Key akan membayar para penulisnya, memesan karya-karya baru, dan menyunting dengan standar tertinggi. Jika Anda dapat berlangganan, silakan lakukan. Ada pemikiran, usulan, atau pertanyaan? Hubungi: thekey@palfest.org
3 Tulisan Huda Fakhreddine, A House of Poetry yang dimuat untuk The Key ini saya tulis ulang versi bahasa Indonesia. Tulisan terjemahan ini tanpa seijin Redaksi The Key.
4 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddinehttps:/
5 https:/en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
6 https://modernismmodernity.org/user/2379
7 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
8 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
9 https://modernismmodernity.org/user/2379
10 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
11 https://www.banipal.co.uk/contributors/1070/%20huda-fakhreddine
12 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
13 https://modernismmodernity.org/user/2379
14 https://gsws.sas.upenn.edu/people/huda-nodefield_middle_name-fakhreddine
15 Puisi ini diterjemahkan dengan bantuan AI, DeepSheek dengan editan penulis; versi bahasa Inggris berikut ini: And to the east,
far away, beyond the hills and villages,
the land ends at Mount Hermon.
They say: He is the Sheikh. He knows what surrounds him.
He watches like an elder, head turned gray with years.
In winter, he wears his snow crown. In summer, he lightens up
and loosens his turban to feed the springs.
Bareheaded, he emerges from among the hills and villages.
Our balcony turns to Hermon so the morning that breaks above his peak
would enter our house, a dawn, white like his winter turban.
He lingers, in our company, and steadfast,
vanishes into the endless sky.
…and our South leads to Palestine.
Many balconies flash like lightning across the years:
one for remembrance, one for apprehension,
one for all meanings that migrated then returned,
and keep migrating and returning…
and above all that, the specter of legends,
carried back and forth by the southern winds.
From Jawdat Fakhreddine’s “Geometry,” 2021
16 Puisi ini diterjemahkan dengan bantuan AI, DeepSheek dengan editan penulis; versi bahasa Inggris berikut ini:
Let us start with a passing cloud
and let its shade be a tent.
The garden’s creatures will seek refuge in it,
and it will stretch wide. No harm if it tears.
Little skies will open in its roof.
The tent is no longer a veil but a space,
a space that we draw,
whose edges we define and fence in
with our bewildered realizations.
…
We make for poetry in our house rooms and windows:
all the windows, all the rooms.
Yet poetry takes over more room than what we make for it.
It teaches us that the meaning of dwelling endures,
becomes sweet and grows immensely,
when dwelling, is in part, a passion.
From Jawdat Fakhreddine’s “Geometry,” 2021
17 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
18 https://en.wikipedia.org/wiki/Huda_Fakhreddine
19 Puisi ini diterjemahkan dengan bantuan AI, DeepSheek dengan editan penulis; versi bahasa Inggris berikut ini: We return to the poem, itself,
the poem, we are destined to.
We bathe in its fire, we peer
through its lines, one after another,
as though they were built to shelter us
from the blaze of ourselves.
We return to the poem, the poem again,
and we gaze into a void nothing else can fill,
nothing else can ignite.
We release a buried language,
violate the treasuries of piety,
and walk toward secrets we call our desires,
hidden secrets that draws us toward death,
and send us wandering into a prophetic oblivion.
What echo returns?
What shakes the bonds of shackled time?
What flash unsettles our wakefulness for a moment,
so that the nearby earth and the distant earth
tremble around us and ward off our waking dreams?
We find our way and lose ourselves.
This is us, again and again:
an agitation with which we rock the ages,
tear them into rags,
and remain their thread,
an agitation that guides us
as though we are the fatigue of Time itself,
Time that exhausts itself, lies still and burdened,
or startles itself and awakes, sweeping away our years,
its dead children.
This is us, again and again.
We resist. We take refuge in the storm that is to come.
We keep forgetting our anguished stumbling,
blazing on the summits of the ages.
We forget it burning
on the summits of the ages…
From Jawdat Fakhreddine’s “The Poem Itself,” 1984






