Rubarubu #108
Social Sustainability in Unsustainable Society:
Merancang Keberlanjutan Manusiawi dan Berkeadilan Sosial
Modernitas tanpa Solidaritas
Bayangkan sebuah kota kecil di Denmark: rumah-sakit, panti jompo, sekolah dasar — tempat di mana pekerjaan ‘perawatan’ dan ‘pendidikan’ berlangsung sehari-hari. Seorang guru sekolah dasar, setelah pulang dari kelas, merasa lelah secara emosional; seorang perawat jompo, pulang dengan beban batin karena merawat banyak lansia sendirian; seseorang lansia merasa diabaikan karena sistem perawatan terlalu padat. Semua ini terjadi di tengah negara dengan sistem kesejahteraan modern — tetapi mereka menggambarkan apa yang menurut buku ini adalah “unsustainability sosial”: ketika struktur ekonomi dan institusi modern gagal mempertahankan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan keadilan sosial.
Buku ini hadir tepat pada saat demikian — untuk mempertanyakan: apakah “sustainability” dengan definisi hijau-ekonomi saja cukup, jika masyarakat tetap rapuh secara sosial? Bisakah kita mendesain ulang masyarakat agar keberlanjutan bukan sekadar lingkungan atau ekonomi, tetapi manusiawi dan kolektif?
Dalam buku Social Sustainability in Unsustainable Society (2023), “social sustainability” didefinisikan bukan sekadar sebagai salah satu pilar dari tiga pilar sustainability tradisional, tetapi sebagai dimensi yang selama ini paling diabaikan — padahal justru menjadi fondasi dari keberlanjutan itu sendiri.
Definisi Social Sustainability
Dalam bab-bab awal (terutama Bab 1 dan Bab 5), penulis menjelaskan bahwa: Social sustainability adalah kemampuan masyarakat untuk merawat, mempertahankan, dan mengembangkan hubungan sosial, solidaritas, rasa memiliki, kesejahteraan, dan agensi manusia dalam jangka panjang—dalam dunia yang terus berubah dan sering kali tidak bersahabat. Artinya, sosial sustainability bukan hanya “inisiasi CSR” atau “ekonomi yang inklusif”, melainkan kapasitas kolektif manusia untuk merawat kehidupan — baik secara emosional, relasional, budaya, etis, maupun politik.
Ini mencakup hal-hal seperti:
- care (perawatan antar manusia dan manusia-alam),
- solidaritas,
- kesejahteraan psikologis,
- keadilan sosial,
- rasa memiliki komunitas,
- agensi (kemampuan menentukan nasib sendiri),
- dan ruang bagi ekspresi/kreativitas manusia.
Mereka menekankan bahwa tanpa keberlanjutan sosial, keberlanjutan lingkungan dan ekonomi hanya akan menjadi slogan teknokratis — yang sering berujung pada greenwashing atau sekadar kalkulasi bisnis.
Bab pembuka Bab 1 — “Social Sustainability in Unsustainable Times: Introduction of One Book and Many Problems” oleh Luise Li Langergaard & Jo Krøjer berperan sebagai gerbang konseptual: ia mengajak pembaca berhenti sejenak dari debat kebijakan hijau, karbon, efisiensi ekonomi, dan menilik kembali pertanyaan fundamental — apa itu “keberlanjutan sosial”? Para penyunting menggarisbawahi bahwa dari ketiga pilar keberlanjutan — ekologi, ekonomi, dan sosial — pilar sosial paling sering dilupakan, paling kurang dirumuskan dengan jelas, dan paling jarang mendapat prioritas. PhilPapers+1
Mereka menunjukkan bahwa sejak istilah “sustainability” (keberlanjutan) dilegalkan secara internasional pada laporan klasik 1990-an, “sosial” selalu menjadi bayangan samar — sering dijadikan pelengkap, bukan inti. Akibatnya, banyak kebijakan dan model pembangunan global berorientasi pertumbuhan ekonomi atau efisiensi produksi, tanpa memedulikan aspek perawatan, solidaritas, relasi manusia, dan kesejahteraan emosional. Roskilde University Research+1
Dalam bab ini, Langergaard & Krøjer mengusulkan bahwa “social sustainability” harus difahami ulang — bukan sebagai tambahan kosmetik, melainkan sebagai fondasi kehidupan kolektif. Mereka mendorong penelitian dan praktik yang menekankan nilai seperti care, reciprocity, solidaritas, kehati-hatian terhadap alam dan manusia, kepekaan emosional, dan bentuk relasi manusia-alam yang regeneratif. PhilPapers+1 Dengan demikian, bab pertama membuka ruang refleksi luas: bahwa dunia modern, meskipun maju secara ekonomi dan teknologi, bisa sangat “unsustainable secara sosial” — jika relasi manusia, kesalingan, dan rasa tanggung jawab bersama diabaikan.
Social Sustainability in Unsustainable Society menolak pendekatan sempit terhadap keber-lanjutan yang hanya fokus pada aspek ekologis dan ekonomi. Alih-alih itu, buku ini mengusul-kan bahwa dimensi sosial — solidaritas, kesejahteraan, rasa tanggung jawab bersama, resiprositas — harus mendapat tempat utama dalam upaya membangun masa depan yang benar-benar berkelanjutan. forskning.ruc.dk+1
Sepanjang delapan bab, para penulis menyajikan analisis konseptual dan studi empiris: dari kondisi “impoverishment relational & emosional” di negara welfare modern; dinamika emosi dan relasi di sekolah dasar; praktik petani regeneratif yang berbasiskan reciprocity; hingga analisis mendalam soal subjek manusia — agensi dan subjektivitas — dalam kerangka keberlanjutan sosial. PhilPapers+3SpringerLink+3forskning.ruc.dk+3
Tema utamanya: keberlanjutan sosial tidak bisa hanya dicapai lewat regulasi, efisiensi, atau pertumbuhan ekonomi — melainkan lewat transformasi relasi manusia, budaya kolektif, etika, seni, dan bentuk kehidupan bersama yang menghargai kemanusiaan serta alam.
Mengapa Kita Perlu Berpikir Ulang Soal Sosial Sustainability
Bab pembuka menyodorkan fakta bahwa dari tiga pilar keberlanjutan klasik — ekologis, ekonomi, dan sosial — pilar sosial paling sering diabaikan. Meskipun istilah “social sustain-ability” telah digunakan sejak laporan Brundtland 1990-an, definisinya tetap kabur, dan prioritas global umumnya condong pada efisiensi, pertumbuhan, atau ecologi. PhilPapers+1
Para editor menegaskan bahwa jika masyarakat terus mengikuti logika ekonomi kapitalis — pertumbuhan, efisiensi, akumulasi — maka keberlanjutan sosial jadi korban: relasi melemah, solidaritas runtuh, kesejahteraan batin & komunitas terkikis. Buku ini hadir untuk menawarkan narasi tandingan: solidaritas, reciprocitas, keterikatan emosional dan tanggung jawab kolektif sebagai inti masyarakat berkelanjutan.
Salah satu bab paling menggugah menggambarkan bahwa di negara welfare pun — dengan asuransi sosial, tunjangan, layanan publik — pekerja perawatan dan welfare mengalami “kemiskinan emosional dan relasional.” Tekanan kerja, target efisiensi, overload, serta kurangnya dukungan sosial membuat mereka tak mampu memberi perawatan dengan empati. Ini menunjukkan bahwa sistem sosial modern bisa menghasilkan “unsustainability sosial” — bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena struktur dan logika institusional. forskning.ruc.dk Dengan demikian, buku ini menunjukkan bahwa “keadilan sosial” bukan otomatis terjamin oleh kebijakan welfare — melainkan perlu perhatian terhadap emosi, relasi, perasaan, dan kesejahteraan manusia.
Dalam bab tentang pendidikan dasar, penulis menyelidiki bagaimana emosi, relasi peer, dan lingkungan sekolah membentuk experience sosial siswa — dan bagaimana hal ini terkait dengan konsep keberlanjutan sosial. Jika lingkungan sekolah tidak mendukung empati, rasa hormat, dan interaksi yang sehat, maka generasi muda tumbuh dalam ketidakberdayaan sosial: individualisme, alienasi, dan ketidakpedulian. Ini adalah gambaran bahwa sekolah dan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tapi ruang krusial bagi pembangunan modal sosial & emosional. SpringerLink
Salah satu bab mengangkat kisah petani regeneratif yang mengorganisasi pertanian berdasar-kan prinsip reciprocity dan caring — tidak hanya memprioritaskan hasil produksi, tetapi juga keseimbangan alam, keadilan sosial, dan komunitas. Model seperti ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan alternatif ekonomi yang lebih manusiawi dan ekologis daripada model agraris ekstraktif dan kapitalis. forskning.ruc.dk+1 Ini memberikan bukti bahwa ekonomi bisa diredesain — bukan hanya efisiensi dan pertumbuhan, tetapi keberlanjutan sosial & ekologis secara simultan — melalui praktik nyata dan etika kolektif.
Dalam bab teoretis, penulis menyuarakan bahwa definisi sosial sustainability sering terjebak dalam pola pikir “rasional, utilitarian, dan ekonomi-sentrik.” Mereka mengajak kita untuk memperluas pengertian: memasukkan nilai seperti “care, solidaritas, resiprositas, emosi, estetika, dan keberlanjutan relasional.” PhilPapers+1 Dengan demikian, keberlanjutan sosial bukan soal indikator kuantitatif semata — tetapi soal kualitas hidup manusia secara kolektif, kepekaan etis, penghormatan terhadap keberagaman, dan relasi yang menghargai manusia dan alam.
Salah satu kontribusi penting buku ini adalah menekankan bahwa manusia bukan objek pasif — tetapi agen aktif di dalam transformasi sosial. Bab ini membahas bagaimana subjektivitas, identitas, dan keputusan moral individu/komunitas dapat berperan dalam menciptakan masyarakat yang berkelanjutan secara sosial. forskning.ruc.dk+1 Ini relevan untuk memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar kebijakan top-down — tetapi harus melibatkan partisipasi, kesadaran, dan tanggung jawab aktor sosial: masyarakat sipil, komunitas, pekerja, dan konsumen.
Gagasan dalam buku ini bisa dikuatkan dengan pandangan filosofis/etis: Dari pemikiran komunitarian atau sufistik: bahwa manusia adalah bagian dari jalinan sosial — “kita dibentuk oleh komunitas, dan komunitas dibentuk oleh etika bersama.” Dalam tradisi Muslim, ada konsep ukhuwah, keadilan, dan perikemanusiaan — bahwa individu dan komunitas harus saling menjaga, dalam harmoni dengan alam. Gagasan ini sejalan dengan urgensi social sustainability: relasi manusia, keadilan sosial dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Dari pemikir modern seperti Vandana Shiva: kritik terhadap ekonomi ekstraktif dan kemiskinan relasional sangat relevan — bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan komunitas dan alam.
Setelah memperkenalkan pentingnya sosial dalam keberlanjutan, Bab 5 — “Making Sense of Social Sustainability” oleh Kai Roland Green & Katia Dupret mengajak kita menyelam lebih dalam ke ranah epistemologis: bagaimana sebetulnya kita — secara teori, pengetahuan, dan persepsi — memahami “social sustainability”? Green & Dupret menyoroti bahwa banyak teori dan praktik saat ini masih dibayangi oleh paradigma Barat modern: rasional, visual, utilitarian — yang menekankan efisiensi, produktivitas, dan fungsi ekonomi. PhilPapers
Dalam bab ini, mereka mengkritik dominasi pengetahuan berbasis “penglihatan” (visual) dalam wacana sosial: data kuantitatif, statistik, metrik — sementara aspek relasi, emosi, intuisi, budaya, hikmah kolektif sering kali tidak tertangkap. Mereka menyebut bahwa keberlanjutan sosial membutuhkan pendekatan yang lebih multi-sensorial, lebih peka terhadap konteks lokal, sejarah budaya, dan perasaan manusia — bukan hanya indikator ekonomi. PhilPapers
Green & Dupret mengajak kita untuk meredefinisi ulang sosial sustainability sebagai sesuatu yang kompleks, plural, dan kontekstual: tempat di mana nilai-nilai seperti rasa memiliki bersama, tanggung jawab kolektif, estetika hidup, dan kehati-hatian interpersonal mendapat ruang — bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai inti. Bab ini membuka kemungkinan bahwa keberlanjutan sejati bisa terwujud ketika masyarakat membangun pemahaman bersama terhadap makna hidup, bukan sekadar target pertumbuhan atau produksi.
Bab 7 — “Sustainability Practice in a World at Risk” oleh Christine Revsbech membawa teori dan konsep ke wajah dunia nyata yang genting: dunia di mana krisis iklim, ketidaksetaraan, disrupsi ekonomi, dan keruntuhan sosial saling bersentuhan — menciptakan “masyarakat yang berada dalam risiko”. Dalam konteks demikian, Revsbech membahas bagaimana praktik keberlanjutan harus melampaui retorika dan menjadi tindakan yang sadar terhadap kerentanan manusia dan lingkungan. SpringerLink+1
Ia menekankan bahwa dalam situasi “world at risk”, aspek sosial — solidaritas, perawatan, keadilan — menjadi lebih krusial daripada sebelumnya. Keberlanjutan tidak lagi bisa dilihat semata dari emisi karbon atau efisiensi ekonomi; ia harus memasukkan elemen proteksi sosial, komunitas, saling membantu, dan adaptasi bersama. Praktik keberlanjutan harus bersifat inklusif, mendukung kelompok rentan, dan berbasis tanggung jawab kolektif, bukan eksklusif berdasarkan keuntungan atau pasar. Bab ini seolah menegaskan: ketika kita hidup di dunia yang rapuh, model bisnis dan pembangunan konvensional gagal — dan hanya pendekatan yang sadar sosial, empatik, dan berkeadilan yang bisa menjaga kelangsungan hidup manusia bersama.
Sementara itu pada Bab 8 — “Agency and Subjectivity in Social Sustainability” oleh Linda Lundgaard Andersen membawa kita pada tingkat yang paling personal dan eksistensial: bahwa social sustainability tidak hanya soal struktur, kebijakan, atau komunitas — tetapi juga soal subyek manusia: identitas, agensi, kesadaran diri, dan pilihan moral. Andersen menunjukkan bahwa setiap individu — pekerja, konsumen, warga, anggota komunitas — memiliki potensi dan tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan. PhilPapers+1 Ia menggarisbawahi bahwa dalam masyarakat modern yang sering memprioritaskan efisiensi, produktivitas, dan mekanisasi, sering terjadi alienasi: manusia diperlakukan sebagai komoditas atau unit ekonomi, bukan subyek dengan martabat, emosi, dan hak untuk memilih cara hidup yang humanis. Untuk itu, keberlanjutan sosial harus memberi ruang bagi ekspresi, refleksi, subjektivitas — bukan mereduksi manusia menjadi angka atau metrik.
Bab ini menegaskan bahwa perubahan sistemik pun akan sia-sia jika subyek manusia tidak diikutsertakan secara sadar. Kelestarian bukan hanya soal lingkungan atau ekonomi — tetapi soal bagaimana manusia membangun identitas, tanggung jawab, relasi, dan kebebasan untuk hidup dengan martabat dan solidaritas.
Apa Bedanya dengan Sustainability “versi klasik”?
Dalam “tiga pilar sustainability” yang umum (environment–economy–social), dimensi sosial biasanya hanya menjadi tambahan kosmetik. Buku ini mengkritik keras model tersebut, dan menyebutnya sebagai bentuk “reduksi sosial”.
Penulis menolak pandangan bahwa “sustainability = pengurangan karbon + efisiensi + pertumbuhan hijau”. Mereka mengajukan pertanyaan lebih fundamental: “Bisa kah manusia mencapai keberlanjutan jika relasi sosialnya rapuh, masyarakatnya penuh ketidakpercayaan, dan manusia merasa sendirian?”
| Sustainability (Mainstream) | Social Sustainability (Versi Buku) |
| Dilihat sebagai 3 pilar yang berdiri sendiri: ekonomi, lingkungan, sosial. | Sosial bukan pilar, tetapi fondasi bagi dua dimensi lainnya. |
| Fokus pada indikator kuantitatif: GDP hijau, produksi bersih, efisiensi. | Fokus pada kehidupan manusia: relasi, emosi, agensi, keadilan, sense of belonging. |
| Sosial sering direduksi menjadi CSR atau program kesejahteraan. | Sosial = struktur dan makna kehidupan manusia, etika hidup, solidaritas kolektif. |
| Dijalankan secara teknis–ekonomi, diukur lewat metrik. | Harus dipahami melalui konteks, narasi lokal, budaya, dan pengalaman hidup manusia. |
| Menjawab pertanyaan: “Bagaimana kita bertahan?” | Menjawab pertanyaan lebih dalam: “Bagaimana kita ingin hidup?” |
Maka, social sustainability dalam buku ini:
- bukan sekadar alat, tapi visi kehidupan.
- bukan hanya teknis, tetapi etis, emosional, politis, dan eksistensial.
- tidak bisa disederhanakan menjadi angka, indeks, atau CSR.
Seperti yang disimpulkan Linda Lundgaard Andersen (Bab 8): “Sustainability bukan hanya soal kelangsungan hidup; tetapi soal martabat manusia — kemampuan untuk menjadi subjek, bukan objek.”
Berikut perbandingan antara konsep Social Sustainability dalam buku Social Sustainability in Unsustainable Society(2023) dengan pendekatan SDGs (Sustainable Development Goals) – agar terlihat pergeseran paradigma, kritik, dan kemungkinan integrasi.
Perbandingan Social Sustainability (Buku) vs SDGs: Paradigma Dasar
| SDGs (Agenda Global) | Social Sustainability versi buku ini |
| Kerangka aksi global berbasis target terukur dan indikator. | Pendekatan kritis dan reflektif: melihat pengalaman manusia, agensi, relasi sosial, dan makna hidup. |
| Fokus pada pencapaian KPI keberlanjutan. | Fokus pada kualitas kehidupan manusia yang tak bisa selalu diukur dengan angka. |
| Mengatur “apa yang harus dilakukan”. | Mengajukan “bagaimana kita ingin hidup bersama?”. |
| Universal, terstandardisasi. | Kontekstual, relasional, dan sering bersifat lokal. |
Fokus & Metrik
Dalam SDGs, aspek sosial muncul terutama di:
- SDG 1: No Poverty
- SDG 3: Good Health and Well-being
- SDG 4: Quality Education
- SDG 5: Gender Equality
- SDG 8: Decent Work and Economic Growth
- SDG 10: Reduced Inequalities
- SDG 16: Peace, Justice, and Strong Institutions
Namun buku ini mengkritik bahwa: “SDGs sering mengukur sesuatu yang mudah diukur — bukan yang benar-benar penting.” Mereka menyoroti adanya data fetishism — obsesi pada kuantifikasi, sehingga dimensi sosial yang subtil dan emosional hilang dari radar kebijakan.
Contoh Kritik Utama:
- SDGs bisa dipenuhi tanpa menciptakan komunitas yang sehat secara sosial.
- Indikator SDGs tidak menyentuh rasa kesepian, kehilangan makna, alienasi sosial, kelelahan emosional — yang justru menjadi krisis modern.
- Problem sosial sering dianggap “efek samping” ekonomi, bukan fondasi keberlanjutan.
Dimensi Sosial Menurut Buku vs SDGs
| Dimensi Sosial | Dalam SDGs | Dalam Buku |
| Kesehatan sosial-emosional | Ada, tapi implisit. | Inti dari keberlanjutan. |
| Solidaritas & care | Hampir tidak dibahas. | Aspek etis utama. |
| Sense of belonging / komunitas | Tidak eksplisit. | Esensial untuk bertahan hidup sosial. |
| Agensi & subjektivitas | Kurang dibahas. | Fokus analisis teoretis (Bab 8). |
| Refleksi & narasi hidup | Tidak masuk indikator. | Disebut sebagai instrumen utama perubahan. |
| Struktur kekuasaan & ketidakadilan | Ada (SDG 10 & 16), tapi sering normatif. | Dikupas kritis — termasuk neoliberalisme & kapitalisme. |
Hubungan SDGs vs Konsep Buku:
Buku ini tentu saja tidak menolak SDGs — tetapi menganggap bahwa SDGs baru menyentuh permukaan dari masalah sosial. Ada blind spot besar: Bagaimana keberlanjutan berjalan jika manusia merasa terasing, kehilangan arah, dan tidak punya rasa memiliki terhadap komunitas atau dunia tempat mereka hidup?
Buku ini menekankan kualitas relasi manusia — bukan sekadar data sosial. Mengutip penulis: “Kita tidak dapat menjalankan keberlanjutan di masyarakat yang secara sosial telah pecah, terfragmentasi, dan kehilangan harapan.”
Maka penting untuk melihat implikasi untuk Indonesia & Dunia Bisnis. Banyak tantangan di Indonesia — ketimpangan sosial, ketidakadilan akses, marginalisasi komunitas, tekanan ekonomi, urbanisasi — yang membuat aspek sosial sangat penting. Gagasan reciprocity, welfare berbasis komunitas, dan etika perawatan bisa jadi landasan bagi model bisnis, kebijakan publik, dan pembangunan lokal yang lebih manusiawi. Dalam korporasi atau bisnis, buku ini mengingatkan bahwa ESG / sustainability tidak cukup dilihat sebagai laporan karbon atau efisiensi produksi — tetapi juga harus memasukkan aspek kesejahteraan pekerja, komunitas, keadilan, dan relasi sosial.
Dalam konteks pemerintahan & pembangunan, buku ini menawarkan kerangka baru: pembangunan berkelanjutan bukan hanya infrastruktur & ekonomi, tetapi perbaikan sosial, solidaritas, dan kualitas hidup manusia.
Integrasi dengan SDGs → Perlu lenas sosial yang lebih dalam:
- Tambahkan dimensi well-being emosional dan relasional dalam kebijakan SDGs.
- Kebijakan sosial jangan hanya diukur → tapi dihidupkan lewat komunitas.
- SDGs butuh pendekatan budaya lokal, narasi, dan agensi manusia (bukan sekadar laporan).
- Dunia bisnis yang mengikuti SDGs harus beralih dari CSR ke care economy dan community engagement.
- Perusahaan harus bertanya:
“Apakah yang kami lakukan sedang memperkuat kehidupan sosial — atau makanannya?”
Buku ini hadir di tengah saat dunia mulai sadar bahwa tantangan global — krisis iklim, kesenjangan sosial, disrupsi ekonomi — tidak bisa hanya diselesaikan lewat teknologi hijau atau efisiensi. Dimensi sosial menjadi krusial: solidaritas, keadilan, relasi manusia, dan etika kolektif harus menjadi bagian dari strategi keberlanjutan. Dengan memperkenalkan counter-narratives terhadap kapitalisme, pertumbuhan tanpa batas, dan dominasi ekonomi, buku ini membantu memperluas wacana sustainability ke arah ekonomi plural, solidaritas, dan regenerasi komunitas.
Catatan Akhir
Social sustainability dalam buku ini adalah “roh” keberlanjutan. Ia menanyakan cara manusia hidup, merasakan, berhubungan, dan berharap — bukan hanya cara manusia memproduksi dan menghitung. Dengan kata lain: Keberlanjutan sejati tidak hanya soal hidup terus — tapi tentang bagaimana menjalani hidup yang manusiawi.
Keberlanjutan tidak bisa diukur hanya lewat emisi, produk hijau, atau efisiensi industri; tetapi harus dimulai dari manusia — cara kita melihat, merasa, berhubungan, dan memilih hidup bersama. Buku ini menawarkan counter-narrative terhadap kapitalisme ekstraktif dan pembangunan modernisme: bahwa ekonomi dan environment tidak bisa dipisahkan dari sosial; bahwa manusia bukan objek, melainkan subjek; bahwa solidaritas, care, tanggung jawab bersama, dan estetika hidup harus menjadi bagian dari keberlanjutan. Dalam konteks dunia yang menghadapi krisis lingkungan, ketimpangan, disrupsi sosial — buku ini relevan secara global. Di Indonesia khususnya — dengan tantangan kemiskinan, ketidaksetaraan, kerentanan sosial, dan kerusakan lingkungan — gagasan social sustainability seperti ini bisa menjadi fondasi untuk model pembangunan alternatif: bukan semata pertumbuhan, tetapi kehidupan yang manusiawi, adil, dan berkelanjutan.
Di tengah krisis enviro-sosial — perubahan iklim, kesenjangan, krisis moral, disrupsi ekonomi — buku ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan sejati harus memperhatikan manusia dan komunitas, bukan hanya alam dan profit. Seperti dikatakan penyair Persia, Rumi:
“What you seek is seeking you.”
Buku ini menyerukan agar kita tidak hanya mencari “sustainability” dalam angka dan teknologi — tetapi dalam hubungan, keadilan, kepekaan, dan kemanusiaan. Dengan demikian, masa depan bisa dijalani bersama, adil, dan bermartabat. Bagi Indonesia — dengan kekayaan sosial, budaya, dan tantangan ekonomi — buku ini bisa menjadi pijakan penting untuk membangun model pembangunan yang mencintai manusia dan alam sekaligus.
Konsep social sustainability dalam buku ini bukan sekadar SDGs versi sosial, tetapi kritik terhadap cara SDGs bekerja selama ini. SDGs menciptakan kerangka tindakan, namun buku ini menuntut kerangka kehidupan. SDGs bertanya: “Apa yang harus dilakukan?” Buku ini bertanya: “Bagaimana kita ingin hidup — agar dunia tetap layak dihuni oleh manusia?”
Buku ini sangat penting dan relevan: memperluas definisi keberlanjutan ke aspek sosial — yang sering terabaikan dalam diskusi lingkungan atau ekonomi. Pendekatannya multidisipliner — mencampur sosiologi, ekologi, etika, ekonomi, psikologi — memberi gambaran holistik tentang tantangan dan kemungkinan. Dengan menampilkan studi empiris dan analisis teoretis, buku ini menjembatani teori dan praktik — membuatnya berguna untuk akademisi, pembuat kebijakan, aktivis, dan penggiat bisnis berkelanjutan.
Karena cakupannya sangat luas dan normatif, mungkin sulit diterjemahkan langsung ke kebijakan atau strategi bisnis konkret tanpa adaptasi lokal — khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Beberapa bab dengan pendekatan konseptual cukup abstrak — pembaca tanpa latar teori sosial bisa kesulitan menangkap subtansi ide.
Impresi bahwa “sustainability sosial” sering diasosiasikan dengan idealisme — sehingga risiko idealisasi bisa muncul. Tanpa sistem struktural (kebijakan, ekonomi), gagasan bisa sulit diwujudkan.
Cirebon, 1 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Andersen, L. L. (2023). Agency and subjectivity in social sustainability. In J. Krøjer & L. L. Langergaard (Eds.), Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives (pp. 127–137). Springer.
Green, K. R., & Dupret, K. (2023). Making sense of social sustainability. In J. Krøjer & L. L. Langergaard (Eds.), Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives (pp. 73–91). Springer.
Krøjer, J., & Ekman, S. (2023). Emotional and relational impoverishment: Social unsustainability in the welfare state. In J. Krøjer & L. L. Langergaard (Eds.), Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives (pp. 15–31). Springer.
Krøjer, J., & Langergaard, L. L. (Eds.). (2023). Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives. Springer.
Langergaard, L. L., & Krøjer, J. (2023). Social sustainability in unsustainable times: Introduction of one book and many problems. In J. Krøjer & L. L. Langergaard (Eds.), Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives (pp. 1–13). Springer.
Revsbech, C. (2023). Sustainability practice in a world at risk. In J. Krøjer & L. L. Langergaard (Eds.), Social Sustainability in Unsustainable Society: Concepts, Critiques and Counter-Narratives(pp. 107–125). Springer.






